Hasil Persilangan dan Pertumbuhan Beberapa Genotipe Salak
|
|
|
- Sukarno Sudjarwadi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Hasil Persilangan dan Pertumbuhan Beberapa Genotipe Salak Sri Hadiati, Agus Susiloadi, dan Tri Budiyanti Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok 26 ABSTRACT The objective of this research were to form breeding populations of salacca resulted from crossing of some sallaca genotypes and to know their growth at tropical seedling phase. The research was conducted at Indonesian Tropical Fruit Research Institute in January-December The crossing process was done at Padang Sidempuan, Solok, Bogor, and Yogyakarta. Material breeding consisted of female parents, namely: Sidempuan, Pondoh, and Mawar salacca, and as male parents, namely: Mawar, Sanjung Pondoh, Java, Affinis, and Sidempuan salacca. Their seeds were germinated in Solok until ready to be transplanted in the field. To know the growth of seedlings, the experiment was arranged in Block Randomized Design, 19 treatments (19 genotypes) and three replications. The result showed that percentage of crossing successfulness and percentage of growth were varied, i.e % and % respectively.the genotypes which were from S. Sumatrana (Sidempuan salacca) in general had bigger plant size (i.e. plant height, peduncle length, and tip leaves blade width), but their leaf number were less than the other genotypes. The growth of some salacca genotypes in the nursery can be used to estimate their growth in the field. Key words: Salacca sp., crossing, growth, genotype. ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk membentuk populasi pemuliaan salak hasil persilangan dari beberapa genotipe dan mengetahui respon pertumbuhan persilangan tersebut selama di pembibitan. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, pada bulan Januari-Desember Persilangan dilakukan di Padang Sidempuan, Solok, Bogor, dan Yogyakarta. Tetua betina yang digunakan adalah salak Sidempuan Putih dan Merah, Pondoh, Mawar, dan tetua jantan adalah salak Mawar, Sanjung Pondoh, Jawa, Affinis, dan Sidempuan. Biji-biji hasil persilangan tersebut dikecambahkan dan dipelihara di Solok sampai siap tanam di lapang. Untuk mengetahui pertumbuhan bibit selama di pembibitan rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 19 perlakuan (genotipe) dan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase silangan jadi dan persentase tumbuh genotipe yang diamati berkisar antara 21,8-59,1% dan 3,6-98,4%. Genotipe yang berasal dari S. sumatrana (salak Sidempuan) mempunyai ukuran tanaman yang lebih besar (tinggi tanaman, panjang tangkai, dan lebar pucuk anak daun), tetapi jumlah daunnya relatif sedikit dibandingkan dengan genotipe lainnya. Pertumbuhan beberapa genotipe salak selama di pembibitan ini diharapkan dapat digunakan untuk mengestimasi pertumbuhan tanaman salak di lapang. Kata kunci: Salacca sp., persilangan, pertumbuhan, genotipe. PENDAHULUAN Salak merupakan salah satu tanaman buah asli Indonesia yang banyak digemari masyarakat, karena rasanya manis, masir, enak, dan mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi. Setiap 100 g buah salak mengandung 77 kalori, 0,5 g protein, 20,9 g karbohidrat, 28 mg kalsium, 18 mg fosfor, 4,2 mg besi, 0,04 mg vitamin B1, dan 2 mg vitamin C (Kusumo et al. 1995). Produksi, luas panen, dan produktivitas salak dalam periode mengalami peningkatan yang cukup tajam, yaitu produksi dari t menjadi t, luas panen dari ha menjadi ha, dan produktivitas dari 132,08 ku/ha menjadi 207,16 ku/ha (BPS 2003). Di Indonesia, salak mempunyai ragam genetik yang tinggi yang tersebar hampir di setiap provinsi. Dari hasil eksplorasi telah ditemukan 13 spesies salak yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan, tiga di antaranya enak dimakan, yaitu Salacca zalacca, S. sumatrana, dan S. affinis (Mogea 1973). Di Indonesia, salak mempunyai keunggulan spesifik dibandingkan dengan buah-buahan lainnya, buah dapat dipanen 2-3 kali dalam setahun apabila pengelolaannya baik. Sementara itu permintaan buah salak dari negara lain cukup tinggi, yang juga tidak pernah dapat dipenuhi, sebab untuk memenuhi konsumsi dalam negeri saja masih kurang. Pada umumnya, konsumen menyukai buah salak yang berdaging tebal, citarasa manis sedikit rasa sepet, dan sisik pada kulit buah tidak berduri (Sunaryono 1988). Untuk menggabungkan karakterkarakter tersebut ke dalam satu individu dapat di-
2 lakukan melalui persilangan, sehingga dihasilkan varietas unggul baru. Dalam merakit varietas unggul diperlukan tetua yang mempunyai variabilitas genetik luas. Untuk itu telah dilakukan penelitian tentang distribusi varietas dan pengumpulan plasma nutfah salak di Indonesia (Sudaryono et al. 1993, Purnomo et al. 2002). Dari informasi tersebut diketahui tetua yang mempunyai karakter unggul, antara lain daging buah tebal dimiliki oleh salak Bali, rasa manis tanpa sepet dimiliki oleh salak Pondoh, dan sisik buah tanpa duri dimiliki oleh Affinis (Sudaryono et al. 1993, Purnomo 1994), jumlah tongkol banyak dimiliki oleh salak Sidempuan dan Sanjung. Tetua yang menampilkan daya gabung umum baik menjadi fenomena heterosis di dalam suatu persilangan, sehingga penampilan keturunan generasi pertama (F 1 ) lebih baik dari kedua tetuanya (Borojevic 1990). Persilangan antara Kelapa x Gula Pasir menunjukkan nilai heterosis tetua tertinggi sebesar 37,3% untuk sifat aktivitas enzim RuBPkarboksilase dan persilangan Gondok x Gula Pasir menunjukkan nilai heterosis tetua tertinggi sebesar 27,9% untuk karakter tanin daun (Purnomo dan Dzanuri 1996). Penelitian lainnya yang telah dilakukan antara lain adalah susunan dan sifat morfologi kromosom salak, yaitu 2n = 28 = 11 m + 1 m (SAT) + 2 sm (Hadi et al. 2002, Parjanto et al. 2003). Murti et al. (2002) menyatakan bahwa panjang dan tanaman salak. Thothok adalah anak daun yang terletak di ujung pelepah daun. Hasil penelitian Nandariyah et al. (2000) menunjukkan bahwa dalam persilangan salak terdapat pengaruh nyata tetua jantan terhadap sejumlah karakter buah, yaitu bobot buah, volume buah, tebal daging buah, kadar tanin, kadar asam, dan kadar air buah. Penelitian ini bertujuan untuk membentuk populasi pemuliaan salak hasil persilangan beberapa genotipe salak sebagai kandidat genotipe salak yang mempunyai ciri buah manis dan berdaging buah tebal, atau manis dan kulit buah gundul/tidak berduri, atau manis dan mempunyai jumlah tongkol banyak serta mengetahui respon pertumbuhan hasil persilangan tersebut selama di pembibitan. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari- Desember Persilangan dilakukan di Padang Sidempuan, Solok, Bogor, dan Yogyakarta. Bahan yang digunakan terdiri dari tetua betina (salak Sidempuan Putih dan Merah, salak Pondoh, dan salak Mawar), tetua jantan (salak Mawar, Sanjung, Pondoh, Jawa, Affinis, dan Sidempuan), serta beberapa varietas lokal sebagai pembanding. Karena jumlah tanaman tetua yang digunakan sangat terbatas dan lokasinya saling berjauhan, maka persilangan tidak menggunakan rancangan perkawinan. Tanaman yang digunakan untuk persilangan dirawat, dengan memangkas pelepah daun yang kering dan rusak, mengurangi jumlah anakan, dan pemupukan. Persiapan bunga betina dilakukan dengan cara membersihkan seludang yang menutupi mayang agar memudahkan dalam persilangan, kemudian bunga dibungkus dengan kertas minyak sampai bunga siap diserbuki untuk menghindari kontaminasi dengan tepung sari lain/serangga polinator. Penyiapan pejantan, mayang yang seludangnya baru membelah diambil dengan memotong tangkainya hingga lepas dari induk, kemudian tepung sari dikumpulkan dalam cawan petri. Persilangan dilakukan dua hari setelah bunga betina mekar, sebelum pukul WIB. Bunga yang telah diserbuki ditutup dengan kertas selama +3-4 hari untuk menghindari kontaminasi dengan tepung sari lain. Buah siap dipanen 6-7 bulan setelah persilangan, kemudian dibawa ke Balitbu untuk dikecambahkan. Biji-biji salak dibersihkan dari daging buahnya, kemudian dicuci dengan air mengalir. Setelah bersih, biji kemudian dikecambahkan dalam kantong plastik dengan menambahkan sedikit air, 2-3 minggu kemudian biji sudah berkecambah. Biji-biji yang telah berkecambah dengan panjang +1-2 cm dipindahkan ke polibag (ukuran 20 cm x 30 cm) yang berisi campuran tanah : pupuk kandang (2 : 1) dan diletakkan di tempat ternaung/paranet. Bibit siap tanam di lapang jika telah memiliki daun minimal lima pelepah. Pemeliharaan semaian meliputi penyiraman, pengendalian hama/penyakit, penyiangan, dan pemupukan. Pemupukan dilakukan setiap bulan dengan NPK ( ) sebanyak 7,5 g/tanaman. 27
3 Untuk mengetahui respon pertumbuhan genotipe hasil persilangan, penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 19 perlakuan (SDP- SJ, SDS-SJ, SDM-SJ, PH-SJ, SJG, PH-K, PH-MJ, PH-M, PH-MW, SDP-MW, SDS-MW, SDM-MW, MW-SDP, MW-AFN, MWR, SDP, SDS, SDM, SBGP) dan diulang tiga kali. Setiap unit perlakuan terdiri atas 10 tanaman. Data pertumbuhan yang diperoleh diuji menggunakan uji F dan uji lanjut Scott-Knott pada taraf 5%. Peubah yang diamati meliputi persentase silangan jadi, persentase tumbuh, pertumbuhan bibit (tinggi tanaman, jumlah pelepah daun, jumlah anak daun, panjang dan lebar anak daun pucuk, panjang tangkai daun, saat pecah anak daun) selama di pembibitan. Persentase silangan jadi dihitung dari jumlah buah yang jadi per tongkol dibagi dengan jumlah bunga betina per tongkol. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari penelitian ini diperoleh 19 populasi salak yang terdiri atas 13 hibrid baru hasil persilangan antara salak Sidempuan x Mawar, Sidempuan x Sanjung, Pondoh x Sanjung, Pondoh x Mawar, Pondoh x Jawa, Mawar x Sidempuan, Mawar x Affinis, dua hibrid lama, yaitu salak Mawar dan salak Sanjung, serta empat varietas lokal sebagai pembanding, yaitu salak Sidempuan Merah, Semburat, dan Sidempuan Putih, dan salak Gula Pasir (Tabel 1). Persentase silangan jadi untuk setiap genotipe salak rendah, berkisar antara 21,8-59,1% (Tabel 1). Hal ini disebabkan antara lain (1) dalam satu tongkol saat mekar bunga betina tidak bersamaan. Biasanya bunga yang terletak pada bagian pangkal dan tengah lebih awal membuka daripada bagian ujung tongkol, sehingga bagian ujung bunganya belum siap untuk diserbuki, (2) saat mekar antara tanaman betina dan jantan kadang-kadang tidak bersamaan atau tanaman betina dan jantan terletak pada lokasi yang berbeda, sehingga tepung sari disimpan dahulu selama menunggu bunga betina mekar. Selama penyimpanan dan transportasi, viabilitas tepung sari lebih rendah dibandingkan dengan tepung sari yang masih segar dan langsung digunakan sebagai sumber pejantan. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil persilangan PH x MJ dan PH x M. Kedua tanaman jantan tersebut, yaitu MJ dan M, terletak pada satu Tabel 1. Persentase silangan jadi, persentase tumbuh bibit, lokasi persilangan, dan asal biji beberapa genotipe salak. Genotipe Silangan jadi (%) Persentase tumbuh (%) Lokasi persilangan dan asal biji SDP x SJG 46,22 93,89 Sidempuan SDS x SJG 45,21 79,13 Sidempuan SDM x SJG 49,31 79,31 Sidempuan PH x SJG 29,55 73,19 Solok PH x MWR 21,82 90,90 Yogya PH x K 39,08 84,92 Solok PH x MJ 51,29 74,67 Solok PH x M 59,09 81,93 Solok SDP x MWR - 80,33 Sidempuan SDS x MWR - 3,64 Sidempuan SDM x MWR - 56,72 Sidempuan MWR x SDP - 94,42 Bogor MWR x AFN - 66,34 Bogor Tetua: MWR - 85,23 Bogor SJG - 72,00 Sijunjung SDP - 85,51 Sidempuan SDS - 84,15 Sidempuan SDM - 93,61 Sidempuan SBGP - 98,38 Bali SDP = Sidempuan Putih, SJG = Sanjung, SDS = Sidempuan Semburat, SDM = Sidempuan Merah, PH = Pondoh, MWR = Mawar, AFN = Affinis, SBGP = Gula Pasir, - = persentase silangan jadi tidak diamati. 28
4 lokasi dengan tanaman betina, dan jumlah kedua tanaman jantan tersebut banyak, sehingga sewaktuwaktu ada bunga betina mekar dapat langsung diserbuki oleh tepung sari yang segar atau disimpan dalam waktu relatif pendek, (3) musim hujan menyebabkan bunga yang telah diserbuki banyak yang busuk. Menurut Mahfud et al. (1993) busuk bunga salak sekurang-kurangnya disebabkan oleh dua jenis jamur, yaitu Fusarium dan Marasmius. Hasil penelitian Baswarsiati et al. (1993) menunjukkan bahwa pada musim hujan produksi atau jumlah buah salak lebih sedikit dibandingkan dengan musim kemarau, (4) gangguan hama, yaitu beberapa buah muda banyak dimakan tikus. Pada genotipe SDP x MWR, SDS x MWR, SDM x MWR, persentase silangan jadi tidak dapat dihitung karena jumlah bunga dalam satu tongkol tidak dihitung, sedangkan pada genotipe MWR x SDP dan MWR x AFN persilangan dilakukan oleh pihak mitra kerja sama dan hasil persilangan yang dikirim ke Solok sudah berbentuk biji dan tidak diketahui berapa jumlah bunga maupun buah per tongkol asal dari biji tersebut, sehingga persentase silangan jadinya pun tidak dapat dihitung. Persentase tumbuh setiap genotipe berkisar antara 3,6-98,4% (Tabel 1). Persentase tumbuh yang rendah sebagian besar disebabkan oleh gagalnya biji berkecambah akibat terserang jamur dan akhirnya membusuk. Hal ini antara lain disebabkan karena pada biji masih tersisa daging buah dan adanya beberapa buah yang busuk dalam satu tandan. Setelah biji direndam beberapa hari, apabila pada biji-biji tersebut terdapat bercak/lapisan berwarna putih, maka kemungkinan besar biji sudah tidak dapat tumbuh walaupun bercak tersebut sudah dibersihkan. Pertumbuhan beberapa genotipe pada umur 8 bulan setelah semai relatif beragam (Tabel 2). Tinggi tanaman bervariasi antara cm. Dari hasil uji Scott-Knott pada genotipe yang diamati, tinggi tanaman dikelompokkan menjadi dua, yaitu genotipe dengan tanaman rendah (SDP x MW, SDS x MW, SDM x MW, SDP x SJG, SDS x SJG, SDM x SJG, MWR, SJG, dan SBGP), dan tinggi (SDP, SDS, SDM, PH x SJG, PH x MW, PH x K, PH x MJ, PH x M, MWR x SDP, MWR x AFN). Aksesi yang berasal dari persilangan yang menggunakan salak Sidempuan sebagai tetua betina (SDP x MW, Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anak daun, dan saat pecah anak daun beberapa genotipe salak pada umur 8 bulan. Genotipe Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun Jumlah anak daun Saat pecah anak daun SDP x SJG 85,06 a 5,40 b 10,80 b 11,0 c SDS x SJG 76,11 a 5,57 b 11,13 b 11,0 c SDM x SJG 84,67 a 6,20 c 12,40 b 11,0 c PH x SJG 91,07 b 5,87 b 18,33 c 5,0 a SJG 73,92 a 5,67 b 11,40 b 9,0 b PH x K 93,40 b 6,40 c 21,67 c 6,0 a PH x MJ 93,27 b 6,87 c 23,20 c 6,0 a PH x M 88,43 b 6,87 c 19,40 c 6,0 a PH x MWR 97,42 b 6,60 c 19,20 c 7,0 a SDP x MW 79,83 a 4,34 a 8,56 a 13,0 c SDS x MW 67,33 a 5,00 a 9,96 a 13,0 c SDM x MW 83,53 a 5,31 b 10,49 a 12,0 c MWR x SDP 100,80 b 5,80 b 19,27 c 6,5 a MWR x AFN 100,70 b 6,47 c 21,33 c 6,5 a MWR 85,92 a 5,60 b 11,60 b 9,0 b SDP 92,06 b 5,93 b 11,87 b 10,5 c SDS 91,01 b 5,87 b 11,73 b 10,5 c SDM 91,56 b 5,53 b 11,07 b 11,0 c SBGP 77,67 a 5,60 b 12,47 b 9,0 b Angka dalam satu kolom yang diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji Scott-Knott taraf 5%. SDP = Sidempuan Putih, SJG = Sanjung, SDS = Sidempuan Semburat, SDM = Sidempuan Merah, PH = Pondoh, MWR = Mawar, AFN = Affinis, SBGP = Gula Pasir. 29
5 SDS x MW, SDM x MW, SDP x SJG, SDS x SJG, SDM x SJG) lebih rendah dibandingkan dengan tetua betinanya (SDP, SDS, SDM). Tampaknya, persilangan tersebut mempunyai karakter yang sama dengan tetua jantannya (MWR, SJG), yaitu tanaman rendah. Tanaman dari persilangan yang menggunakan salak Pondoh sebagai tetua betina (PH x SJG, PH x MW, PH x K, PH x MJ, PH x M) umurnya tinggi. Jumlah daun berkisar 5-7 pelepah. Dari hasil uji Scoot-Knoot, jumlah daun dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu genotipe yang mempunyai jumlah daun sedikit (SDP x MW, SDS x MW), jumlah daun sedang (SDM x MW, SDP x SJG, SDS x SJG, MWR, SJG, SDP, SDS, SDM, PH x SJG, MWR x SDP, SBGP), dan jumlah daun banyak (SDM x SJG, PS x MWR, PH x K, PH x MJ, PH x M, MWR x AFN). Jumlah anak daun antar genotipe juga beragam, berkisar antara 9-23 helai. Jumlah anak daun dari genotipe yang diamati dikelompokkan menjadi tiga, yaitu jumlah anak daun sedikit (SDP x MW, SDS x MW, SDM x MW), jumlah anak daun sedang (SDP x SJG, SDS x SJG, SDM x SJG, MWR, SJG, SDP, SDS, SDM, SBGP), dan jumlah anak daun banyak (PH x SJG, PS x MWR, PH x K, PH x MJ, Ph x M, MWR x SDP, dan MWR x AFN). Persilangan yang melibatkan salak Pondoh dan Mawar sebagai tetua betina umumnya mempunyai jumlah anak daun yang banyak. Persilangan tersebut mempunyai saat pecah anak yang lebih cepat, yaitu 5-7 bulan. Terdapat korelasi antara jumlah anak daun dan saat pecah anak (r = -0.89**), semakin cepat anak daun pecah, semakin banyak jumlah anak daunnya. Saat pecah anak daun dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu genotipe yang mempunyai saat pecah anak daun cepat (5-7 bulan) (PH x SJG, PH x K, PH x MJ, PH x M, PH x MWR, MWR x SDP, MWR x AFN), sedang (9-10 bulan) (SJG, MWR, SBGP), dan lambat, (10,5-13 bulan) (Tabel 2). Genotipe yang mempunyai saat pecah anak daun lambat berasal dari salak Sidempuan dan persilangan yang tetua betinanya berasal dari salak Sidempuan Panjang anak daun pucuk genotipe yang diamati berkisar antara cm dan tidak berbeda nyata menurut uji Scott-Knott (Tabel 3). Hal ini menunjukkan bahwa panjang anak daun pucuk salak yang diamati kurang dipengaruhi oleh genotipe. Tabel 3. Rata-rata panjang anak daun pucuk, lebar anak daun pucuk, dan panjang tangkai beberapa genotipe salak pada umur 8 bulan. Genotipe Panjang anak daun pucuk (cm) Lebar anak daun pucuk (cm) Panjang tangkai (cm) SDP x SJG 22,90 ns 11,02 c 45,78 a SDS x SJG 22,60 10,94 c 40,31 a SDM x SJG 23,10 11,51 c 40,89 a PH x SJG 23,87 7,15 a 47,47 b SJG 21,60 7,44 a 42,81 a PH x K 24,90 9,18 b 44,61 a PH x MJ 22,83 9,46 b 50,43 b PH x M 22,97 8,47 b 48,33 b PH x MWR 23,04 11,32 c 52,14 b SDP x MW 24,40 10,56 c 40,78 a SDS x MW 22,33 8,78 b 40,67 a SDM x MW 24,50 8,08 b 37,92 a MWR x SDP 23,20 7,33 a 59,33 b MWR x AFN 23,57 5,59 a 53,27 b MWR 22,33 7,11 a 50,56 b SDP 23,75 13,24 c 51,17 b SDS 22,60 12,36 c 51,33 b SDM 25,80 10,17 c 47,92 b SBGP 20,60 6,85 a 44,40 a Angka dalam satu kolom yang diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji Scott-Knott taraf 5%. ns = non significant, SDP = Sidempuan Putih, SJG = Sanjung, SDS = Sidempuan Semburat, SDM = Sidempuan Merah, PH = Pondoh, MWR = Mawar, AFN = Affinis, SBGP = Gula Pasir. 30
6 (a) (b) SDP SDP-MW PH-M SBGP Gambar 1. Ukuran anak daun pucuk (a) dan anak daun (b) pada beberapa genotipe salak. Lebar anak daun pucuk genotipe dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu genotipe yang mempunyai lebar anak daun pucuk sempit (MWR, SJG, PH x SJG, MWR x SDP, MWR x AFN, SBGP), lebar anak daun pucuk sedang (SDS x MW, SDM x MW, PH x K, PH x MJ, PH x M), dan lebar anak daun pucuk besar (SDP x MW, SDP x SJG, SDS x SJG, SDM x SJG, SDP, SDS, SDM, PS x MW). Persilangan yang melibatkan salak Mawar sebagai tetua betina mempunyai lebar anak daun pucuk yang sempit. Karakter lebar anak daun pucuk yang sempit pada salak Mawar kemungkinan pewarisan dari salak Bali, karena salak Mawar adalah hibrid dari silang ganda antara salak Pondoh, Bali, dan Sidempuan. Lebar anak daun pucuk dapat digunakan sebagai penciri khusus varietas. Biasanya salak Bali mempunyai lebar anak daun pucuk yang lebih kecil dibandingkan dengan salak Pondoh dan S. sumatrana (salak Sidempuan) (Gambar 1). Menurut Murti et al. (2002), panjang dan lebar anak daun pucuk dapat digunakan sebagai pembeda antartanaman salak. Panjang tangkai daun dari genotipe yang diamati berkisar antara 37,9-59,3 cm dan dari hasil uji Scott-Knott dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu genotipe yang mempunyai tangkai daun pendek (SDP x MW, SDS x MW, SDM x MW, SDP x SJG, SDS x SJG, SDM x SJG, SJG, PH x K, dan SBGP), sedangkan genotipe lainnya termasuk dalam kelompok bertangkai daun panjang (Tabel 3). Secara umum, salak S. sumatrana (SDP, SDS, dan SDM) mempunyai fenotipe yang tinggi dan besar, sedangkan salak SBGP mempunyai karakter tanaman yang rendah sehingga panjang tangkainya juga lebih pendek. KESIMPULAN Persentase silangan jadi dan persentase tumbuh genotipe yang diamati bervariasi, berturut-turut berkisar antara 21,8-59,1% dan 3,6-98,4%. Genotipe yang berasal dari salak S. Sumatrana (salak Sidempuan) umumnya ukuran lebih besar (tinggi tanaman, panjang tangkai, dan lebar anak daun pucuk), tetapi jumlah daun relatif sedikit dibandingkan dengan genotipe lainnya. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bapak Dr. Greg. Hambali yang telah menyediakan sebagian tetua salak untuk persilangan dan Anang Wahyudi yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Baswarsiati, L. Rosmahani, dan L. Setyobudi Kajian serangga polinator pada persarian salak. Penelitian Hortikultura 5(2): Borojevic, S Principles and Methods of Plant Breeding. Development in Crop Science 17. Elsevier. Amsterdam. 368 p. Badan Pusat Statistik Statistik Pertanian. Badan Pusat Statistik. Jakarta. hlm Hadi, P.S., Purwantoro, dan D. Prajitno Identifikasi kromosom dalam penentuan jenis kelamin salak (Salacca zalacca). Agrosains 15(1): Kusumo, S., F.A. Bahar., S. Sulihanti, Y. Krisnawati, Suhardjo, dan T. Sudaryono Teknologi Produksi Salak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Jakarta. 62 hlm. 31
7 Mahfud, M.C., L. Rosmahani, dan N.I. Sidik Identifikasi dan potensi pengendali hama serta penyakit salak. Penelitian Hortikultura 5(2): Mogea, J.P Three new species of Salacca (PALMAE) from the Malay Peninsular. Federation Museums J. 29. New Series. Museums Dept. Peninsular Malaysia, Kuala Lumpu. p Murti, R.H., D. Prajitno, A. Purwantoro, dan Tamrin Keragaman genotip salak lokal Sleman. J. Habitat 13(1): Nandariyah, E. Purwanto, Sukaya, dan S. Kurniadi Pengaruh tetua jantan dalam persilangan terhadap produksi dan kandungan kimiawi buah salak Pondoh Super. Zuriat 11(1): Parjanto, S. Moeljopawiro, W.T. Artama, dan Aziz Purwantoro Karyotipe kromosom salak. J. Ilmu Pertanian 10(1):1-8. Purnomo, S., Suharto, Sudjijo, dan S. Hosni Eksplorasi dan konservasi sumber daya genetik. Buletin Plasma Nutfah 8(1):6-15. Purnomo, S Kaitan aktivitas beberapa enzim dengan sifat buah dan pola pewarisannya pada persilangan dialil salak Bali dan Pondoh. Disertasi Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung. (Tidak dipublikasi). Purnomo, S. dan Dzanuri Analisis heterosis dan teknik produksi benih hibrida F 1 persilangan antar salak Bali dengan salak Pondoh. Jurnal Hortikultura 6(3): Sudaryono, T., S. Purnomo, dan M. Soleh Distribusi kultivar dan prakiraan wilayah pengembangan salak. Penelitian Hortikultura 5(2):1-14. Sunaryono, H Perkembangan Salak. Ilmu Produksi Tanaman Buah-buahan. Sinar Baru, Bandung. 151 hlm. 32
PERTUMBUHAN POPULASI PEMULIAAN SALAK DI KABUPATEN KAMPAR. The growth of snake fruit breeding populations in Kampar district
PERTUMBUHAN POPULASI PEMULIAAN SALAK DI KABUPATEN KAMPAR The growth of snake fruit breeding populations in Kampar district Oleh: Sri Hadiati, Agus Susiloadi dan Tri Budiyanti Balai Penelitian Tanaman Buah
PERAKITAN VARIETAS SALAK :
PERAKITAN VARIETAS SALAK : SARI INTAN 48 : SK Mentan No.3510/Kpts/SR.120/10/2009 SARI INTAN 541 : SK Mentan No.3511/Kpts/SR.120/10/2009 SARI INTAN 295 : SK Mentan No.2082/Kpts/SR.120/5/2010 KERJASAMA ANTARA
Perakitan Varietas Salak Sari Intan 48
Perakitan Varietas Salak Sari Intan 48 Sri Hadiati*, Agus Susiloadi, dan Tri Budiyanti Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Jl. Raya Solok-Aripan Km. 8, Solok 27301 Telp. (0755) 20137; Faks. (0755) 20592;
LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 3511/Kpts/SR.120/10/2009 TANGGAL : 12 Oktober 2009 DESKRIPSI SALAK VARIETAS SARI INTAN 541
LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 3511/Kpts/SR.120/10/2009 TANGGAL : 12 Oktober 2009 DESKRIPSI SALAK VARIETAS SARI INTAN 541 Asal : Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Silsilah : Gondok x
Karakterisasi dan Evaluasi 10 Aksesi Salak di Sijunjung Sumatera Barat
Karakterisasi dan Evaluasi 10 Aksesi Salak di Sijunjung Sumatera Barat Sudjijo Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika ABSTRACT The study was conducted at the farmer s field in Ujung Batu Sijunjung, West
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian Tanaman salak yang digunakan pada penelitian ini adalah salak pondoh yang ditanam di Desa Tapansari Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman Yogyakarta.
III. METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian
III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2015 sampai bulan Januari 2016 di kebun salak Tapansari, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Luas
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI MALANG 2012
MAKALAH PEMULIAAN TANAMAN MENYERBUK SILANG HIBRIDISASI SALAK PONDOH DENGAN SALAK BALI OLEH: AstritiaRizky A. 115070200111154 Arisyidita Muslim Indallah 115040201111137 FebrinaDwi P. 115040201111140 AminatusSholikah
III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan pada bulan Mei sampai bulan Desember 2015 di kebun salak Tapansari, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Salak yang
EVALUASI HASIL BEBERAPA AKSESI SALAK HIBRIDA DAN SALAK LOKAL. Yield Evaluation of Several Hybrids and Local Salak Accessions
Sri Hadiati, dan Tri Budiyanti EVALUASI HASIL BEBERAPA AKSESI SALAK HIBRIDA DAN SALAK LOKAL Yield Evaluation of Several Hybrids and Local Salak Accessions Sri Hadiati 1) dan Tri Budiyanti 1) 1 Balai Penelitian
KERAGAMAN GENOTIP SALAK LOKAL SLEMAN GENOTYPE VARIATION OF SNAKE FRUIT LAND RACE IN SLEMAN
J. Habitat 00. Vol XIII(1) KERAGAMAN GENOTIP SALAK LOKAL SLEMAN GENOTYPE VARIATION OF SNAKE FRUIT LAND RACE IN SLEMAN Rudi Hari Murti 1, Djoko Prajitno 1, Aziz Purwantoro 1, Tamrin Abstract In this paper
PERBAIKAN MUTU BUAH SIRSAK MELALUI PENYERBUKAN
iptek hortikultura PERBAIKAN MUTU BUAH SIRSAK MELALUI PENYERBUKAN Sebagai buah subtropis yang telah lama beradaptasi di Indonesia, Sirsak (Annona muricata L.) merupakan salah satu buah yang banyak digemari
Teknologi Praktis : Agar Populasi Tanaman Pepaya Bisa 100 Persen Berkelamin Sempurna (Hermaprodit) dan Seragam
iptek hortikultura Teknologi Praktis : Agar Populasi Tanaman Pepaya Bisa 100 Persen Berkelamin Sempurna (Hermaprodit) dan Seragam Buah pepaya telah menjadi buah trend setter sejak beredarnya beberapa varietas
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lahan Kebun salak dalam penelitian ini terletak di Desa Tapansari, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Umur pohon salak yang digunakan sekitar 2 tahun
TINJAUAN PUSTAKA. Salak dapat diklasifikasikan sebagai berikut: ordo : Spadiciflorae, Famili :
4 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Salak dapat diklasifikasikan sebagai berikut: ordo : Spadiciflorae, Famili : Palmae, genus : Salacca, spesies : Salacca edulis. Menurut Mogea (1991) spesies salak Sumatera
HASIL DAN PEMBAHASAN
17 HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kualitatif Karakter kualitatif yang diamati pada penelitian ini adalah warna petiol dan penampilan daun. Kedua karakter ini merupakan karakter yang secara kualitatif berbeda
PENGARUH AKSESI GULMA Echinochloa crus-galli TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI
PENGARUH AKSESI GULMA Echinochloa crus-galli TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI ABSTRAK Aksesi gulma E. crus-galli dari beberapa habitat padi sawah di Jawa Barat diduga memiliki potensi yang berbeda
I. PENDAHULUAN. Tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman sayuran yang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia yang digunakan sebagai sayuran maupun
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas
24 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan September 2012 sampai bulan Januari 2013. 3.2 Bahan
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung pada bulan Juni November 2014. 3.2 Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Dasar Teori 1. Salak Tanaman salak dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Dasar Teori 1. Salak Tanaman salak dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Klas : Monocotyledoneae Ordo : Principes Familia : Palmae
Varietas Unggul Baru Mangga Hibrid Agri Gardina 45
Varietas Unggul Baru Mangga Hibrid Agri Gardina 45 Hingga saat ini varietas unggul mangga di Indonesia yang telah dilepas sebanyak 32 varietas. Dari 32 varietas unggul tersebut, 14 varietas berasal dari
BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat. Bahan dan Alat
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Pengembangan Teknologi Lahan Kering Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Waktu pelaksanaan penelitian mulai
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum
13 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Curah hujan harian di wilayah Kebun Percobaan PKBT IPB Tajur 1 dan 2 pada Februari sampai Juni 2009 berkisar 76-151 mm. Kelembaban udara harian rata-rata kebun tersebut
VI.SISTEM PRODUKSI BENIH
VI.SISTEM PRODUKSI BENIH UNTUK PRODUKSI BENIH MAKA HARUS TERSEDIA POHON INDUK POPULASI DURA TERPILIH POPULASI PISIFERA TERPILIH SISTEM REPRODUKSI TANAMAN POLINASI BUATAN UNTUK PRODUKSI BENIH PERSIAPAN
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan
Mangga Hibrid Agri Gardina 45 Genjah dan Unik
Mangga Hibrid Agri Gardina 45 Genjah dan Unik Agri Gardina 45 merupakan mangga hibrid yang terdaftar sebagai varietas unggul baru melalui SK Mentan No: 125/Kpts /SR.120/D.2.7/3/2014. Mangga ini dihasilkan
METODE MAGANG. Tempat dan Waktu
10 METODE MAGANG Tempat dan Waktu Kegiatan magang dilaksanakan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Unit Usaha Marihat, Provinsi Sumatera Utara selama 4 bulan yang dimulai dari tanggal 1 Maret 2010
I. PENDAHULUAN UMUM Latar Belakang
I. PENDAHULUAN UMUM Latar Belakang Pepaya merupakan salah satu komoditi buah penting dalam perekonomian Indonesia. Produksi buah pepaya nasional pada tahun 2006 mencapai 9.76% dari total produksi buah
I. TINJAUAN PUSTAKA. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman palawija jenis
I. TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Botani Kacang Tanah Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu tanaman palawija jenis Leguminosa yang memiliki kandungan gizi sangat tinggi. Kacang tanah merupakan
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan Kebun Percobaan BPTP Natar,
17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan Kebun Percobaan BPTP Natar, Lampung Selatan mulai Maret 2013 sampai dengan Maret 2014. 3.2 Bahan dan
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BEBERAPA GENOTIPE UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz.) SKRIPSI OLEH : RIA ARTA JUNISTIA AET PEMULIAAN TANAMAN
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BEBERAPA GENOTIPE UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz.) SKRIPSI OLEH : RIA ARTA JUNISTIA 120301005 AET PEMULIAAN TANAMAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai 3 Juni Juli 2016 di Green House
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai 3 Juni 2016-15 Juli 2016 di Green House Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. B. Bahan dan Alat
TINJAUAN PUSTAKA. Morfologi dan Fisiologi Tanaman Jagung (Zea mays L.)
4 TINJAUAN PUSTAKA Morfologi dan Fisiologi Tanaman Jagung (Zea mays L.) Setelah perkecambahan, akar primer awal memulai pertumbuhan tanaman. Sekelompok akar sekunder berkembang pada buku-buku pangkal batang
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat
8 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di lahan petani di Dusun Pabuaran, Kelurahan Cilendek Timur, Kecamatan Cimanggu, Kotamadya Bogor. Adapun penimbangan bobot tongkol dan biji dilakukan
I. PENDAHULUAN. Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman semusim yang menjalar
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman semusim yang menjalar dan banyak dimanfaatkan oleh manusia. Tanaman ini dapat dikonsumsi segar sebagai
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2011 sampai dengan panen sekitar
PENGUKURAN KARAKTER VEGETATIF DAN GENERATIF TETUA SELFING BEBERAPA VARIETAS JAGUNG ( Zea mays L.)
PENGUKURAN KARAKTER VEGETATIF DAN GENERATIF TETUA SELFING BEBERAPA VARIETAS JAGUNG ( Zea mays L.) SKRIPSI Oleh : FIDELIA MELISSA J. S. 040307013 / BDP PET PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN DEPARTEMEN BUDIDAYA
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt L.) Sekelompok akar sekunder berkembang pada buku-buku pangkal batang dan
17 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt L.) Akar primer awal memulai pertumbuhan tanaman setelah perkecambahan. Sekelompok akar sekunder berkembang pada buku-buku pangkal
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) berasal dari negara Afrika.
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengenalan Tanaman Sorgum Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) berasal dari negara Afrika. Tanaman ini sudah lama dikenal manusia sebagai penghasil pangan, dibudidayakan
I. PENDAHULUAN. Tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan salah satu tanaman
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanaman kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang memiliki potensi bagus untuk dikembangkan setelah kedelai dan
PERSILANGAN BUATAN PADA TANAMAN KACANG HIJAU (VIGNA RADIATA (L.) WILCZEK)
PERSILANGAN BUATAN PADA TANAMAN KACANG HIJAU (VIGNA RADIATA (L.) WILCZEK) AGUS SUPENO Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Jalan Raya Kendalpayak, Kotak Pos 66, Malang RINGKASAN Persilangan
I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten
I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,
II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Botani Tanaman Kacang Panjang. Menurut Tim Karya Tani Mandiri (2011), susunan klasifikasi kacang panjang
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Botani Tanaman Kacang Panjang Menurut Tim Karya Tani Mandiri (2011), susunan klasifikasi kacang panjang secara lengkap adalah sebagai berikut Divisi Kelas Sub kelas
I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Suka Banjar Kecamatan Gedong Tataan
I. BAHAN DAN METODE 1.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Suka Banjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran pada bulan Mei sampai September 2011. 1.2 Bahan dan Alat
Pertumbuhan Vegetatif dan Kadar Gula Biji Jagung Manis (Zea mays saccharata, Sturt) di Pekanbaru
Pertumbuhan Vegetatif dan Kadar Gula Biji Jagung Sturt) di Pekanbaru oleh: Surtinah, dan Seprita Lidar Fakultas Pertanian Universitas Lancang Kuning - Pekanbaru Abstrak Research conducted an experiment
MORPHOLOGICAL IDENTIFICATION OF NORTH SUMATRA SALAK (Salacca sumatrana Becc.) AT SOUTH TAPANULI REGION
833. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1, No.3, Juni 2013 ISSN No. 2337-6597 IDENTIFIKASI KARAKTER MORFOLOGIS SALAK SUMATERA UTARA (Salacca sumatrana Becc.) DI BEBERAPA DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu pembibitan di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor, dan penanaman dilakukan di
Oleh: Totok Agung Dwi Haryanto Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto (Diterima: 25 Agustus 2004, disetujui: 27 September 2004)
PERTUMBUHAN, HASIL, DAN MUTU BERAS GENOTIPE F5 DARI PERSILANGAN PADI MENTIK WANGI X POSO DALAM RANGKA PERAKITAN PADI GOGO AROMATIK GROWTH, YIELD, AND RICE QUALITY OF F5 GENOTYPES PROGENY OF CROSSING BETWEEN
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Agustus 2013 sampai Oktober
TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Botani Cabai
3 TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Botani Cabai Cabai merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan. Cabai dikenal di Eropa pada abad ke-16, setelah diintroduksi oleh Colombus saat perjalanan pulang
II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Agroekologi Tanaman Kacang Panjang. Kacang panjang merupakan tanaman sayuran polong yang hasilnya dipanen
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Agroekologi Tanaman Kacang Panjang Kacang panjang merupakan tanaman sayuran polong yang hasilnya dipanen dalam bentuk polong muda. Kacang panjang banyak ditanam di
Keanekaragaman Kultivar Salak Pondoh di Banjarnegara Cultivar Diversity of Salak Pondoh in Banjarnegara
Keanekaragaman Kultivar Salak Pondoh di Banjarnegara Cultivar Diversity of Salak Pondoh in Banjarnegara Annisaurrohmah, Wiwik Herawati, dan Pudji Widodo Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman
BAHAN DAN METODE. Galur Cabai Besar. Pembentukan Populasi F1, F1R, F2, BCP1 dan BCP2 (Hibridisasi / Persilangan Biparental) Analisis Data
17 BAHAN DAN METODE Studi pewarisan ini terdiri dari dua penelitian yang menggunakan galur persilangan berbeda yaitu (1) studi pewarisan persilangan antara cabai besar dengan cabai rawit, (2) studi pewarisan
LAMPIRAN. Lampiran 1. Layout Penelitian
LAMPIRAN Lampiran 1. Layout Penelitian P1(a) P4 (2) P3 (a) P1 (b) P5 (a) P4 (b) P3 (1) P3 (a) P5 (a) P4 (1) P2 (2) P3 (2) P1 (a) P4 (a) P2 (1) P4 (a) P1 (2) P3 (1) P4 (1) P3 (2) P4 (b) P2 (b) P4 (2) P2
I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.) merupakan jagung yang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.) merupakan jagung yang terbentuk akibat jagung biasa yang mengalami mutasi secara alami. Terdapat gen utama
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum
16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Keadaan tanaman cabai selama di persemaian secara umum tergolong cukup baik. Serangan hama dan penyakit pada tanaman di semaian tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa
III. METODOLOGI PENELITIAN. Hajimena, Lampung Selatan pada bulan September 2009 sampai bulan Januari
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Politeknik Negeri Lampung, Desa Hajimena, Lampung Selatan pada bulan September 009 sampai bulan
DESKRIPSI VARIETAS BARU
PERMOHONAN HAK PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN DESKRIPSI VARIETAS BARU Kepada Yth.: Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman Kantor Pusat Deprtemen Pertanian, Gd. E, Lt. 3 Jl. Harsono RM No. 3, Ragunan,
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut :
II. TINJAUAN PUSTAKA.1 Kacang Panjang.1.1 Klasifikasi Tanaman Kacang Panjang Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut : Kerajaan Divisi Kelas Sub kelas Ordo Famili Genus : Plantae : Spermatophyta
PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9
PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9 Benih Inovasi IPB Teknik Penanaman Benih Pepaya - Sebelum benih disemai, rendam dahulu benih selama 24 jam mengunakan air hangat. - Media tanam untuk pembibitan adalah
Mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Unsrat Manado, )
BEBERAPA KARAKTER MORFOLOGIS TANAMAN SALAK (Salacca zalacca (Gaert) Voss) DI KAMPUNG BAWOLEU, KECAMATAN TAGULANDANG UTARA, KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO SOME MORPHOLOGICAL CHARACTERS OF BARK
EVALUASI KARAKTER TANAMAN KEDELAI HASIL RADIASI SINAR GAMMA PADA GENERASI M 2
EVALUASI KARAKTER TANAMAN KEDELAI HASIL RADIASI SINAR GAMMA PADA GENERASI M 2 HENRY ARDIANSYAH SIPAHUTAR 060307024 DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum
17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian dimulai bulan November 2009 sampai dengan bulan Mei 2010. Kondisi curah hujan selama penelitian berlangsung berada pada interval 42.9 mm sampai dengan 460.7
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lahan pertanian milik masyarakat Jl. Swadaya. Desa Sidodadi, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra
HASIL DAN PEMBAHASAN
13 HASIL DAN PEMBAHASAN Perkecambahan Benih Penanaman benih pepaya dilakukan pada tray semai dengan campuran media tanam yang berbeda sesuai dengan perlakuan. Kondisi kecambah pertama muncul tidak seragam,
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan
12 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan lapangan dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 hingga Maret 2010 di kebun percobaan Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB, Tajur dengan elevasi 250-300 m dpl
Benih kelapa dalam (Cocos nucifera L. var. Typica)
Standar Nasional Indonesia Benih kelapa dalam (Cocos nucifera L. var. Typica) ICS 65.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi...
I. PENDAHULUAN. Tanaman melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman semusim yang saat ini
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanaman melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman semusim yang saat ini banyak dibudidayakan di Indonesia. Buah melon banyak digemari oleh masyarakat karena
BEBERAPA SIFAT PENTING UNTUK PERBAIKAN VARIETAS UNGGUL TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)
BEBERAPA SIFAT PENTING UNTUK PERBAIKAN VARIETAS UNGGUL TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) Rr. Sri Hartati Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor ABSTRAK Sebagaimana halnya komoditas
I. PENDAHULUAN. secara signifikan. Melalui proses seleksi tanaman yang diikuti dengan penyilangan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemuliaan tanaman telah menghasilkan bibit unggul yang meningkatkan hasil pertanian secara signifikan. Melalui proses seleksi tanaman yang diikuti dengan penyilangan dihasilkan
I. PENDAHULUAN. unggulan, baik untuk tujuan ekspor mau pun kebutuhan dalam negeri. Ditinjau
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Durian ( Durio zibethinus, Murr.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki prospek cukup cerah untuk menjadi komoditas unggulan, baik untuk tujuan ekspor
PENGARUH BERBAGAI MACAM BOBOT UMBI BIBIT BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) YANG BERASAL DARI GENERASI KE SATU TERHADAP PRODUKSI
PENGARUH BERBAGAI MACAM BOBOT UMBI BIBIT BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) YANG BERASAL DARI GENERASI KE SATU TERHADAP PRODUKSI Effects of Various Weight of Shallot Bulb Derived from First Generation
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan sentra pertanaman kacang panjang yang mempunyai
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan sentra pertanaman kacang panjang yang mempunyai keanekaragaman genetik yang luas (Deanon dan Soriana 1967). Kacang panjang memiliki banyak kegunaan
ANALISIS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK
ANALISIS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK FEBRIANI BANGUN 060307025 DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS
Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Tanaman Salak
Sudjijo: Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi J. Hort. 18(4):373-379, 2008 Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Sudjijo Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Jl Raya Solok-Aripan Km 8, Solok
I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.
I. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 sampai dengan panen sekitar
SKRIPSI OLEH : MUTIA RAHMAH AET-PEMULIAAN TANAMAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
SELEKSI INDIVIDU TERPILIH PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine maxl.merrill) GENERASI M 5 BERDASARKAN KARAKTER PRODUKSI TINGGI DAN TOLERAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG Athelia rolfsii(curzi) SKRIPSI OLEH : MUTIA
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. diikuti oleh akar-akar samping. Pada saat tanaman berumur antara 6 sampai
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Pada saat jagung berkecambah, akar tumbuh dari calon akar yang berada dekat ujung biji yang menempel pada janggel, kemudian memanjang dengan diikuti oleh akar-akar samping.
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian
10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Arecaceae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur yang berasal
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT SALAK VARIETAS GULA PASIR (Salacca edulis) PADA PERLAKUAN MEDIA TANAM ORGANIK YANG BERBEDA
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT SALAK VARIETAS GULA PASIR (Salacca edulis) PADA PERLAKUAN MEDIA TANAM ORGANIK YANG BERBEDA I Nyoman Adijaya dan Esty Asriyana Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali Jalan
Tinggi tongkol : cm : Menutup tongkol cukup baik
42 Lampiran 1. Deskripsi Varietas Jagung Hibrida BISI-18 Nama varietas : BISI-18 Tanggal dilepas : 12 Oktober 2004 Asal : F1 silang tunggal antara galur murni FS46 sebagai induk betina dan galur murni
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2011 Maret 2012. Persemaian dilakukan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian,
Kebutuhan pupuk kandang perpolibag = Kebutuhan Pupuk Kandang/polibag = 2000 kg /ha. 10 kg kg /ha. 2 kg =
LAMPIRAN 1 Perhitungan Kebutuhan Pupuk Kebutuhan pupuk kandang/ha = 2 ton Kebutuhan pupuk kandang/polibag Bobot tanah /polybag = Dosis Anjuran Massa Tanah Kebutuhan Pupuk Kandang/polibag = 2000 kg /ha
I. PENDAHULUAN. Pemuliaan tanaman adalah suatu metode yang secara sistematik merakit
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pemuliaan tanaman adalah suatu metode yang secara sistematik merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (Makmur,
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Januari sampai Maret B. Penyiapan Bahan Bio-slurry
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Green house Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Januari sampai Maret 2016. B. Penyiapan
TEKNIK PERSILANGAN BUATAN
MODUL II TEKNIK PERSILANGAN BUATAN 2.1 Latar Belakang Keragaman genetik merupakan potensi awal di dalam perbaikan sifat. Salah satu upaya untuk memperluas keragaman genetik ialah melalui persilangan buatan
Lampiran 1. Deskripsi Tanaman Kacang Hijau Varietas Vima 1
Lampiran 1. Deskripsi Tanaman Kacang Hijau Varietas Vima 1 Dilepas tahun : 2008 Nama galur : MMC 157d-Kp-1 Asal : Persilangan buatan tahun 1996 Tetua jantan : VC 1973 A Tetua betina : VC 2750A Potensi
Gambar 1. Beberapa varietas talas Bogor
II. TINJAUAN PUSTAKA A. TALAS Talas Bogor (Colocasia esculenta (L.) Schott) termasuk famili dari Araceae yang dapat tumbuh di daerah beriklim tropis, subtropis, dan sedang. Beberapa kultivarnya dapat beradaptasi
HUBUNGAN ANTARA LAMA SIMPAN SERBUK SARI DENGAN PRODUKSI BUAH DAN VIABlLlTAS BENlH. SALAK PONDOH (Salacca zalacca (Gaertner) Voss var.
HUBUNGAN ANTARA LAMA SIMPAN SERBUK SARI DENGAN PRODUKSI BUAH DAN VIABlLlTAS BENlH. SALAK PONDOH (Salacca zalacca (Gaertner) Voss var. zalacca) OIeh ENDAH SRIWAHYUNI A.31.1624 JURUSAN BUD1 DAYA PERTANIAN
HUBUNGAN ANTARA LAMA SIMPAN SERBUK SARI DENGAN PRODUKSI BUAH DAN VIABlLlTAS BENlH. SALAK PONDOH (Salacca zalacca (Gaertner) Voss var.
HUBUNGAN ANTARA LAMA SIMPAN SERBUK SARI DENGAN PRODUKSI BUAH DAN VIABlLlTAS BENlH. SALAK PONDOH (Salacca zalacca (Gaertner) Voss var. zalacca) OIeh ENDAH SRIWAHYUNI A.31.1624 JURUSAN BUD1 DAYA PERTANIAN
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 Wahyu Asrining Cahyowati, A.Md (PBT Terampil Pelaksana) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan Tanaman kakao merupakan
III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca Gedung Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai
II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2007), benih padi hibrida secara
8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengembangan Padi Inbrida di Indonesia Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2007), benih padi hibrida secara definitif merupakan turunan pertama (F1) dari persilangan
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas
17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung mulai
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai dengan Januari
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2011 sampai dengan Januari 2012 di Jalan Palapa VI, Bandar Lampung. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan
KARAKTERISASI BEBERAPA GALUR INBRIDA JAGUNG PAKAN (Zea mays L.)
KARAKTERISASI BEBERAPA GALUR INBRIDA JAGUNG PAKAN (Zea mays L.) CHARACTERIZATION ON SOME INBRED LINES OF YELLOW CORN (Zea mays L.) Anini Siswati *), Nur Basuki dan Arifin Noor Sugiharto Jurusan Budidaya
