1. Lapisan Rangkap Listrik

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "1. Lapisan Rangkap Listrik"

Transkripsi

1 1. Lapisan Rangkap Listrik Permukaan logam yang kontak dengan larutan elektrolit akan memiliki muatan listrik melalui 4 cara: o o o o diberi perbedaan potensial listrik dari luar. absorbsi ion pada permukaan logam atau arbsopsi daripermukaan koloidnya. adanya perpindahan elektron antara konduktor logam dengan elektrolitnya. pada, misel, makromolekul biologi dan membran, muatan listrik diperoleh akibat ionisasi dari gugus fungsional seperti karboksilat, fosfat atau amina. Daerah antarmuka yang terletak di larutan dikenal sebagai daerah lapis ganda elektrolit electrolyte double layer region sedangkan daerah antarmuka pada daerah padat/logam dikenal sebagai daerah muatanruang space-charge region. Rentang daerah pada logam lebih tipis. Gambar 1.1. Illustrasi skematik antarmuka elektroda-larutan

2 3.1 Lapisan Ganda Rangkap Listrik. Bila permukaan logam yang bermuatan listrik kontak dengan larutan elektrolit, permukaan tersebut akan menarik muatan yang berlawanan dan menolak muatan yang sejenis. Akan terbentuk lapisan ganda muatan listrik, yaitu lapisan pada permukaan logam dan lapisan pada permukaan dekat logam yang memiliki muatan yang berbeda. Beberapa model Lapisan-ganda Rangkap Listrik dikemukakan oleh Helmhotz, Gouy-Chapman, dan Stern. Model Helmhozt, beda potensial antara titik tertentu di LRL dgn fasa ruah adalah linear, semakin jauh dari elektroda semakin kecil hingga mencapai nol. Gouy Chapman, memperhitungkan adanya gerakan termal dari ion-ion. Stren, gabungan dari Helmholzt dan Guy-Chapman; 2 Gambar 1.2. Beberapa model lapis rangkap listrik.

3 3 Gambar 1.3. Generall representation of the double layer formed at the metal-electrolyte interface. ( f?sgwid= p ) 3.2 Lapis ganda listrik : Tegangan permukaan, kerapatan muatan dan kapasitas Daerah antarmuka pada suatu larutan adalah daerah yang memiliki harga potensial listrik,, yang berbeda dibandingkan dengan fasa ruahnya. Terdapat penataan muatan positif dan negatif dimulai dari permukaan elektroda hingga ke fasa ruah. Kapasitas lapis ganda adalah kontanta perbandingan antara potensial yang diberikan dengan muatan terhadap spesi dalam daerah antarmuka. Besarnya kapasitas lapis ganda pada berbagai potensial dapat dilakukan dengan teknik impendasi atau pengukuran elektrokapilaritas. Metoda ini diperkenalkan oleh Lippmann.

4 4 Gambar 1.4. Skematis alat pengukuran tegangan permukaan air raksa dengan metoda Lippmann. Gambar 1.5. Example of the influence of an electric field on a liquid structure. The water flowing from the tap in a bathroom is deviated by the electric field produced by a plastic hair-brush electrostatically

5 5 charged by friction on a sweater.( Gambar 1.6. The electrowetting effect. The contact angle of a conducting drop on an insulated conducting substrate is modulated by an applied voltage. ( Prinsip utama dalam pengukuran ini adalah kolom kapiler yang diisi dengan air raksa hingga tinggi h di beri beda potensial akan berada pada ketinggian yang sama. Pada kondisi ini tegangan permukaan akan diimbangi dengan gaya gravitasi, sehingga: 2 r c cos = r c 2 Hg h g (1.1) dengan r c = jari-jari kapiler; = sudut kontak; = tegangan permukaan; Hg = rapat massa air raksa. Aluran terhadap E dikenal sebagai kurva elektrokapiler. (Lihat Gambar 1.7.a). Fluks massa untuk percobaan ini adalah m 1 = r 2 c Hg h dengan adalah waktu hidup tetes (drop lifetime). (1.2) Substitusi persamaan 1.2 ke dalam persamaan 1.1 akan memberikan 2 r c = m 1 g t (1.3) Aluran terhadap E akan memberikan Gambar 1.7.a. Sedangkan konversi menjadi kapasitas diperoleh dengan penurunan ganda terhadap perbedaan potensial,, antara logam/elektroda, M dengan larutan, S. Turunan pertama akan memberikan muatan pada permukaan yang dikenal sebagai persamaan Lippmann = M= S (1.4)

6 6 dengan M = muatan pada logam (charge on metal) dan S = muatan pada larutan. Dan M S =0. Gambar 1.7. Aluran skematik pada daerah rangkap. (a) tegangan permukaan vs potensial) (b) kerapatan muatan elektroda vs potensial (c ) kapasitas diferensial terhadap potensial. Bila diambil potensial pembanding sembarang dan potensial yang berhubungan dengan potensial pembanding tersebut adalah E maka ~ E dan E = M Persamaan Lippmann merupakan persamaan differensial dari elektrokapilaritas menunjukkan bahma muatan M bernilai nol saat (1.5)

7 7 kemiringan kurva elektrokapilaritas adalah nol. Potensial dititik ini disebut sebagai titik muatan nol, E Z. Turunan kedua dari kurva elektrokapilaritas akan memberikan nilai kapasitas diferensial, yaitu kapasitas diferensial, C d, dan kapasitas integral C i : C d = M E (1.6) Kapasitas integral diperoleh dari C i = M E E z (1.7) E C d de E = z E de E z (1.8) 3.3 Medan Listrik dan Kapasitas listrik (Electric fields and capacitance) Bila pada dua buah konduktor yang dipisahkan satu sama lain diberikan potensial listrik, maka akan terbentuk suatu medan listrik pada daerah yang memisahkan kedua konduktor tersebut. Walau medan listrik ini sulit untuk dibayangkan adanya. Medan ini sama dengan medan magnet yang sifatnya tidak terlihat namun pengaruhnya dapat dirasakan. Pada medan listrik terdapat 2 hal yang penting yaitu : Kekuatan medan (field force) dan fluks medan (field flux). Field Force = kekuatan dari medan pada jarak tertentu. (the amount of push that a field exerts over a certain distance) Field Flux = jumlah total atau pengaruh medan dalam ruang (the total quantity, or effect, of the field through space). Analogi dengan gaya listrik VOLTAGE (push) dan CURRENT (flow)

8 8 Gambar 1.8. Medan listrik yang muncul saat 2 buah konduktor diberi suatu potensial. Secara matematika, akan berlaku hubungan Hukum Ohm untuk kapasitor: i=c dv dt dengan i besarnya arus yang melalui suatu kapasitor; C adalah capasitansi dalam Farad; dv adalah perubahan potensial persatuan dt waktu. Faktor yang mempengaruhi kapasitansi: Luas Jarak Jenis Material dielektrik

9 9 Besarnya kapasitas untuks suatu konduktor mengikuti rumus C= A d dengan C adalah kapasitansi dalam Farad; permisivitas (absolut); A luas permukaan plat dalam m 2 ; d jarak antara plat dalam m. Material Relative permittivity (dielectric constant) ============================================================ Vacuum Air PTFE, FEP ("Teflon") Polypropylene to 2.28 ABS resin to 3.2 Polystyrene to 4.0 Waxed paper Transformer oil to 4 Hard Rubber to 4.80 Wood (Oak) Silicones to 4.3 Bakelite to 6.0 Quartz, fused Wood (Maple) Glass to 7.5 Castor oil Wood (Birch) Mica, muscovite to 8.7 Glass-bonded mica to 9.3 Porcelain, Steatite Alumina to 10.0 Distilled water Barium-strontium-titanite Kapasitor serial dan parallel

10 10 Kapasitor dalam disusun secara seri C 1 total= c 1 c 2 c 3 Kapasitor disusun secara paralel c total =c 1 c 2 c Model Helmholtz (1879) Model ini memodelkan ada keteraturan dalam penataan muatan positif dan negatif pada kedua sisi dari antarmuka elektroda. Model ini mirip dengan menggambarkan keadaan suatu kapasitor plat paralel dengan permukaan elektroda sebagai salah satu plat dan sisi plat lain terbentuk dari ion-ion yang menempel pada permukaan elektroda.

11 11 Gambar 1.9. Lapis rangkap listrik yang mirip dengan kapasitor elektrik yang terbentuk dari 2 plat yang berbeda muatan yang dipisahkan dengan jarak tertentu. Model ini mirip dengan model LRL Helmholzt. Gambar Model Helmholtz untuk lapis rangkap listrik. (a) penataan ion secara kaku. (b) Variasi potensial elektrostatik sebagai fungsi dari jarak (c) variasi C d terhadap potensial yang di berikan. Besarnya harga kapasitas (capacity) adalah C d, H = r 0 x H (1.9) dengan x H merupakan jarak antara titik terdekat dari muatan, dan r adalah permisivitas relatif (relative permittivity) dan 0 = permisivitas vakum (permittivity of vacuum). Nilai r biasanya adalah 6-7, sehingga C d, H =10 F cm -2. Turunnya potensial dari M ke S bersifat linier, dan C d, H bukan merupakan fungsi potensial yang diterapkan pada elektroda

12 Kekurangan dari model Helmholtz adalah.pada model ini interaksi ionion yang terletak lebih jauh tidak diperhitungkan dan faktor konsentrasi tidak ikut diperhitungkan juga. 3.5 Model Gouy-Chapman ( ). Model ini dikembangkan secara terpisah oleh Gouy dan Chapman dengan memperhatikan besarnya potensial yang diberikan pada elektroda dan konsentrasi dari larutan. Pada model ini lapisan rangkap listrik tidak akan kompak/padat seperti pada LRL Helmholtz, tetapi ion bebas bergerak, lapisan ini dikenal sebagai lapis rangkap baur (diffuse double layer). Tebal lapis rangkap ini juga tidak kompak namun mempunyai ketebalan yang bervariasi. Lihat Gambar 1.11.a 12 Gambar Lapis rangkap listrik model Gouy-Chapman. (a) Penataan ion pada permukaan berlangsung dengan model difusi. (b) Variasi potensial elektrostatik terhadap jarak.(c) Variasi C d terhadap jarak,

13 13 Pada model ini distribusi dari spesi ion terhadap jarak dari permukaan elektroda akan mengikuti hukum distribusi Boltzmann n i =n i 0 exp[ z ie k B T ] (1.10) dengan = S dan n i 0 merupakan konsentrasi numerik dari ion i dalam fasa ruah. Dengan membagi larutan menjadi ketebalan dx maka pada jarak x dari permukaan elektroda kerapatan muatan (charge density) untuk semua ion i adalah : x = n i z i e (1.11) i = i n i 0 z i eexp[ z ie k B T ] (1.12) Persamaan Poisson yang menghubungkan antara potensial dengan distribusi muatan adalah 2 x x 2 x = (1.13) r 0 Dengan menggabungkan 1.12 dengan 1.13 maka akan diperoleh persamaan Poisson-Boltzmann 2 x x 2 = e n 0 r i z i 0 exp z i e (1.14) i k B T Persamaan ini sama dengan perlakuan interaksi ion pada larutan elektrolit encer yang diberikan oleh Debye-Huckel, dengan x sebagai ion pusat. Pada kasus Debye-Huckel, ion pusat adalah kecil dan bernilai kecil maka akan dapat dibuat pendekatan e /k B T 2 1, dan dengan menggunakan suku pertama dari ekspansi ekponensial. Untuk suatu elektroda yang memiliki dimensi yang jauh lebih besar dibandingkan ion, pendekatan linear tidak bisa diterapkan. Untuk menyelesaikan 1.14 maka digunakan sifat dari turunan,

14 2 x x 2 = 1 2 x 2 (1.15) Dengan cara ini maka persamaan Poisson-Boltzmann dapat disusun ulang menjadi 2 = 2e n 0 x r i z i 0 exp z i c i k B T d (1.16) Integrasi dilakukan dengan menggunakan kondisi batas berikut: x=0 =,0 x 0 / x =0 akan diperoleh, 2 = 2k BT x r 0 Untuk elektrolit z:z x i n i 0 [ (1.17) exp z i e k B T 1 ] (1.18) = 8 k T n 0 1/2 i r 0 sinh z e (1.19) 2 kt Persamaan 1.19 dapat diintegrasi jika ditulis dalam bentuk [ d, 0 sinh z e 2 k B T ]= 8 0 1/2 k BT ni x r 0 dx 0 Hasil integrasinya adalah 2k b T z e ] tanh z e,0 / 4 k B T = 8 k 0 BT n i ln [ tanh z e /4 k B T r 0 1/2 (1.20) x (1.21) Yang dapat disusun ulang menjadi [ tanh z e /4 k B T ] tanh z e, 0 / 4 k B T =exp [ x / x DL ] (1.22) dengan x DL adalah jarak karakteristik dari tebal lapis difusi 14

15 15 = x r 0 k B T 1/2 DL 2 n 0 i z 2 e 2 (1.23) Untuk air r =78 pada 298 K, x DL = z -1 c -1/2 cm Besarnya nilai C d diperoleh dari Kerapatan muatan (charge density) dari lapisan baur adalah M = r 0 x x=0 = 8 k T r 0 n i 0 1/2 sinh z e, 0 2 k B T setelah dilakukan dideferensiasi C d, GC = M,0 = 2 z 2 e 2 0 1/2 r 0 n i k B T cosh z e, 0 2 k B T Nilai cosh memberikan kenaikkan pada variasi dalam kapasitas dengan bentuk potensial yang terlihat pada Gambar Puncak minimum dari kurva di indentifikasi sebagai titik muatan nol, E z dan bentuk kurva akan simetri sekitar E z Untuk larutan encer pada suhu K C d, GC = 228 z c 1 /2 cosh 19.5 z,0 F cm 2 Model ini lebih baik dibandingkan dengan model kapasitor plat paralel, namun model ini hanya berlaku untuk harga E yang dekat ke E z. Harus diingat bahwa pada permukaan konsentrasi adalah tinggi.

16 3.6 Kelemahan teori Gouy-Chapman. Dari Persamaan 1.11 dapat disusun ulang menjadi n i n =exp z i e 0 i kt, Bila dikonversi ke satuan molar dan e/k=f / R maka persamaan Boltmann ini menjadi C i C =exp z i F 0 (1.12) i RT Pada kasus larutan NaCl 1 M yang mengalami kontak dengan permukaan yang memiliki potensial a =0.1V. Maka berdasarkan persamaan 1.11, konsenstrasi ion klorida pada permukaan (di luar lapisan Helmholtz) akan sebesar 49M!! Kira-kira 30 ion klorida per nanometer kubik. Tolakkan antar ion pada struktur seperti diatas akan jauh lebih besar dari gaya tarik elektrostatik yang ada. Sehingga pada kasus ini pendekatan yang dilakukan tidak tepat, karena saat kita melakukan pendekatan interaksi elektrostatik antar ion di larutan permukaan di perhitungkan tetapi interaksi antar ion di larutan di lupakan. Pendekatan yang dilakukan akurat untuk larutan encer namun tidak untuk larutan yang pekat. Asumsi bahwa kerapatan muatan bersifat fungsi yang kontinu dari jarak ke permukaan adalah tidak 100% pada tingkar makroskopik. Tapi pendekatan ini dibenarkan jika fungsi waktu juga ikut diperhitungkan, yaitu karena adanya gerakkan termal dari ion. Penggunaan konstanta dielektrik larutan untuk gaya-gaya elektrostatik jarak pendek tidak pas, karena pada jarak pendek momen dipol air terorientasi di sekitar ion atau pada permukaan bermuatan, sehingga sifat-sifat dielektrik di dekat permukaan tentunya berbeda dengan yang di dalam larutan dalam/ruah (bulk). Pendekatan Gouy-Chapman ini sebaiknya di gunakan untuk mengamati sifat kualitatif atau semi kuantitatif dari sistem lapisan listrik ganda bukan aspek kuantitatifnya. Karena pendekatan kualitatifnya adalah akurat. 16

17 3.7 Model Stern (1924) Model Stern menggabungkan model Helmholtz untuk potensial yang memiliki besar yang jauh dari E z dan model Gouy-Chapman untuk nilai potensial yang dekat dengan E z. Lapis rangkap listrik yang kompak/padat terbentuk oleh lapisan ion pada lapis pertama yang dekat dengan elektroda dan kemudian diikuti dengan lapisan yang baur hingga fasa ruah dari larutan. 17 Gambar Model lapis rangkap lisrik menurut Stern. (a) Pengaturan ion yang kompak dan diikuti dengan lapis yang baur. (b) Variasi potensial elektrostatik terhadap jarak dari elektroda. (c ) Variasi C d dengan potensial. Secara fisik pada potensial yang jauh dari E z elektroda menarik ion-ion dengan kuat sehingga ion tersebut terikat secara kuat, sedangkan pada potensial yang dekat dengan E z ion tersusun secara baur. Dalam bentuk matematika model ini mirip dengan dua buah kapasitor yang disusun secara seri, sehingga.

18 18 1 = 1 1 (1.24) C d c H C GC = x H r r 0 z 2 e 2 n i 0 / k B T 1/2 cosh z e,0 /2 k bt (1.14) Bidang yang memisahkan antara kedua zone (Helmholtz vs Gouy- Chapman) disebut sebagai Outer Helmholzt Plane (OHP). 3.8 Model Grahame (1947) Pada model ini ditambahkan faktor adsorpsi spesifik. Gambar 1.15 Gambar Model Grahame untuk lapis rangkap listrik (untuk elektroda merkuri). Adsorpsi spesifik : ion adsorpsi spesifik yang kehilangan solvasinya yang mendekati permukaan elektroda. Ion ini dapat memiliki muatan yang sama maupun berlawanan dari elektroda.

19 3.9 Model Bockris, Devanathan dan Muller (1963) Pada model ini faktor pelarut yang bersifat polar (dipolar), misal seperti air. Pada pelarut yang bersifat polar ini interaksi antara elektroda dengan dipolnya harus juga ikut diperhitungkan. Hal ini sangat penting, meningat bahwa konsentrasi pelarut adalah jauh lebih besar dari konsentrasi zat terlarut. Sebagai contoh air murni memiliki konsentrasi 55.5 mol dm Gambar Model Lapis Rangkap Listrik Bockris dkk. >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> *********************** 3.10 Adsorpsi Spesifik Berdasarkan model lapis rangkap listrik Grahame adsorpsi spesifik adalah adsorpsi ion pada permukaan elektroda setelah ion tersebut kehilangan sebagian atau seluruh proses solvasinya. Muatan ion yang teradsorpi dapat sama dengan muatan elektroda namun bisa juga berbeda. Menurut IUPAC, Solvasi adalah interaksi antara zat terlarut dengan pelarut yang akan meningkatkan kestabilan zat terlarut dalam larutannya.

20 20 Gambar Gambar solvasi ion natrium dalam air. Adanya adsorpsi spesifik diperlihatkan oleh karakteristik kurva elektrokapilaritas untuk elektroda merkuri dapat berbeda bila elektrolit yang di gunakan berbeda pada konsentrasi yang sama. Gambar Kurva elektrokapilaritas untuk merkuri yang kontak dengan berbagai jenis elektrolit.

21 Dari kurva pada Gambar 1.18 terlihat bahwa untuk Na-Halida dan K- halida perbedaan mulai muncul pada nilai potensial positif untuk E Z, dan ini diduga karena interaksi yang terjadi adalah dengan anionnya. Pengaruhnya bertambah besar bila jari-jari anion bertambah kecil. Besarnya adsorpsi spesifik juga berkorelasi dengan konsentrasi elektrolit, seperti halnya akan terjadi perubahan pada titik nol muatan yang dikarenakan oleh spesisfik adsorpsi dari muatan. Hal ini dikenal sebagai efek Esin-Markov, yang besarnya adalah; = 1 RT E Z ln a M = E Z M (1.25) Turunan ini bernilai nol bila adsorpsi spesifik tidak ada. Untuk adsorpsi anion, dengan rapat muatan yang konstan, titik muatan nol bergeser ke arah negatif sehingga terjadi kesetimbangan kembali akibat adanya adsorpsi. Untuk kation, E Z bergerak ke arah yang positif. Dalam larutan yang encer, adsorsi spesifik hanya terjadi untuk daerah yang dekat pada E Z. Percobaan menunjukkan bahwa adsorpsi spesifik lebih sering terjadi pada anion dibandingkan pada kation. Hal ini dapat difahami melalui model antarmuka permukaan. Karena kisi logam merupakan kisi kation dalam lautan elektron yang bergerak dengan bebas, sehingga akan lebih menarik anion yang berada dalam larutan. Besarnya adsorpsi bergantung pada konsentrasi elektrolit. Besarnya area penutupan untuk suatu permukaan oleh adsorpsi spesifik dapat diungkapkan sebagai lapisan monolayer isoterm adsorpsi. Terdapat 3 jenis isoterm adsorpsi yaitu; Isoterm Langmuir. Dianggap tidak terjadi interaksi antara spesi yang teradsorpsi, permukaan merupakan permukaan yang licin/halus sehingga dapat terjadi kejenuhan pada permukaan. Jika adalah fraksi yang menutupi permukaan maka, 1 = i a i, 21

22 22 Dengan β i adalah koefisien proporsionalisasi dan ai, adalah aktifitas spesi ke-i pada fasa ruah. Gambar Kurva isoterm Langmuir Isoterm Temkin Pada isoterm Temkin energi adsorpsi merupakan fungsi dari area tertutup yang bernilai, i = RT 2g ln i a i, Dengan i adalah spesi i yang berlebih, dan g adalah parameter interaksi energi antara spesi teradsorpsi yang nilai nya bergantung pada area yang tertutup.

23 23 Gambar Kurva Isoterm Temkin Isoterm Frumkin Interaksi pada isoterm Frumkin mengikuti persamaan; Atau i i a i, = s i exp 2g i RT i = RT 2g i a i, ' ' ln s i i Dengan s adalah maximum surface excess. g adalah parameter interaksi, bila bernilai positif maka terjadi gaya atraktif sedangkan negatif adalah gaya tolakkan. Bila g=0 dan Γ i sγ θ maka akan diperoleh isoterm Langmuir. Sedangkan isoterm Temkin dapat diperoleh bila Γ Γ 0.5= i s

24 24 Gambar 1.1. Kurva Isoterm Frumkin. Adsorpsi dapat dipelajari dengan berbagai macam metoda elektrokimia, termasuk didalamnya kinetika dari adsorpsinya Elektroda logam padat Merkuri tidak bersifat seperti elektroda padat yang umum. Merkuri bersifat cair sehingga atom merkuri selalu bergerak. Lebih-lebih atom yang terletak pada permukaan elektroda yang kontak dengan larutan. Elektroda logam padat memiliki struktur yang jelas, dapat berupa suatu polikristalin atau monokristalin. Pada elektroda logam padat proses konduktansi merupakan proses elektronik yang utama. Konduktansi terjadi karena terdapat elektron valensi yang dapat bergerak bebas pada daerah yang dikenal sebagai daerah tingkat Fermi, E F. Dengan adanya elektron yang bergerak pada tingkat Fermi ini, maka distribusi elektonik dari atom menjadi meningkat. Untuk suatu logam, tingkat kehunian dari tingkat elektronik yang dekat pada E F diberikan dalam ungkapan f = 1 1 exp E E f k B T (1.26)

25 Dengan f merupakan kebolehjadian tingkat kehunian dari tingkat energi E dan k B merupakan konstanta Boltzman, f =0.50 saat E=E F. Energi Fermi adalah potensial kimia dari elektron pada elektroda logam. Jika E=E F k B T maka f =0.27 dan jika E=E F k B T maka f =0.73. Gambar 1.21 menggambarkan aluran dari persamaan 1.26; dan pada suhu nol kerapatan elektron pada daerah Fermi turun dengan tajam, tapi pada suhu yang lebih tinggi kebolehjadian penempatan ini menjadi lebih baur/kabur. 25 Gambar Kerapatan elektron yang menempati daerah fermi pada logam. Untuk logam hanya elektron dengan energi k B T dari E F dapat berpindah tempat. Struktur antarmuka dari suatu elektroda logam tergantung pada berbagai faktor. Jarak antar atom sangat bergantung pada bentuk kristalografi dan besarnya energi interaksinya.

26 Antara kristal pada suatu meteri poli-kristalin tredapat 'patahan' dalam struktur yang memunculkan defek satu dimensi maupun dua dimensi seperti 'screw dislocation'. Variasi elektrostatik sebagai fungsi jarak ditunjukkan pada Gambar 1.22 dan Gambar Variasi potensial elektrostatik sebagai fungsi elektroda metalik untuk model klasik. Gambar Variasi potensial elektrostatik sebagai fungsi elektroda materi untuk model jellium.

27 27 Gambar Variasi potensial terhadap jarak untuk elektroda logam yang dipisahkan dari larutan elektrolit tanpa memodifikasi muatan. Adalah besarnya potensial saat distribusi muatan relatif terhadap elektroda dan larutan. Model ini berkorelasi dengan model kimia, dan menggambarkan keadaan bahwa elektron pada elektroda padat akan berpenetasi di daerah yang sempit pada area larutan. Hal ini terjadi karena adanya sifat gelombang dari elekron. Pada model ini Potensial Galvani atau potensial listrik dalam,, berkaitan dengan E F dan Potensial Volta, potensial listrik luar,, adalah merupakan potensial di luar distribusi elektronik dari elektroda, kira-kira terletah diluar IHP, 10 5 cm dari permukaan. Selisih antar kedua potensial ini dikenal sebagai potensial permukaan, Elektroda semikonduktor. Pada elektroda semikonduktor, tingkat elektronik yang dapat di gunakan lebih terbatas. Pada semikonduktor terdapat pemisahan antara pita valensi yang terisi dengan pita kondutansi yang kosong. Bila besarnya

28 pemisahan ini lebih dari 3 V. maka benda tersebut dikatakan sebagai isolator. Promosi elektron dari valensi ke kondukansi akan mengakibatkan timbulnya lubang/hole (kekurangan elektron), area yang ini akan bermuatan positif. Lubang/hole ini dapat yang dapat bergerak melalui kristal. Akibatnya konduktansi terjadi karena terdapat pergerakkan elektron pada pita konduktansi dan pergerakkan lubang pada pita valensi. 28 Gambar Model pita untuk suatu semikonduktor. Pada model ini pita valensi akan terisi secara penuh oleh elektron dan pita konduktansi akan kosong. Konduktansi terjadi karena adanya elektron yang dipromosikan dari E ke E. Promosi elektron pada semikonduktor dari pita valensi ke pita hantaran dapat terjadi akibat eksitasi secara termal atau foton. Letak tingkat energi Fermi adalah ditengah tengah gap-pita. Besarnya adalah E F ~ E v E c =E 2 v E g 2 v c

29 Dengan syarat bahwa besarnya E F diperoleh dari probabilitas kehuniannya mencapai 0.5. Dengan ungkapan dalam energi band gap, E g, dengan mensubsitusi E=E C, dan E g kt banyaknya elektronyang dapat tereksitasi adalah. n exp E g 2k b T 29 Tabel 1.1 Bandgap energy, E g, dan panjang gelombang g dari beberapa semikonduktor. Keadaan elektronik lain yang akan ada pada sebuah permukaan semikonduktor adalah karena teradsorpsinya suatu spesi atau terjadi reorganisasi permukaan. Keadaan ini juga dapat membuat terjadi transfer elektron antara elektroda dengan larutan. Bila semikonduktor merupakan padatan ionik. Maka konduktansi dapat merupakan konduktansi elektronik atau ionik. Konduktansi ionik terbentuk karena adanya defek pada kristal yang dapat mengalami pergerakkan. Jenis defek yang bersifat sepertin ini adalah Defek Frenkel dan Defek Schotty.

30 Untuk memudahkan dalam pengamatan, dan karena mayoritas semikonduktor bersifat tidak ionik maka yang diperhatikan adalah faktor konduktor elektronik. Karena elektron sulit bergerak pada semikonduktor, saat keadaan steady state tercapai, akan tercipta daerah variasi potensial yang terletak pada space charge region. Pada suatu semikonduktor intrinsik (kristal yang murni), hal ini tidak banyak bermanfaat. 30 Gambar 1.26 Daerah space-change region pada suatu semikonduktor. Lebih umum dipakai semikonduktor yang di kotori (doped), proses doping ini dilakukan secara eksternal. Pada semikonduktor tipe-n, doping ini dilakukan dengan cara memasukkan atom yang ukurannya sama dengan atom dalam kisinya namun memiliki elektron yang lebih banyak. Misalnya silikon di doping dengan menggunakan fosfor atau arsenik Dengan cara ini maka atom akan menempati posisi kristal dan akan mensupply elektron yang dapat bergerak melalui kisi kristal. Energi dari

31 elektron ini lebih kecil sedikit dari E c. Konduktansi elektronik dapat dilakukan dengan cara eksitasi termal dari pita yang tidak murni ke pita konduktansi. Pada semikonduktor tipe-p, maka proses doping dilakukan dengan memasukkan atom yang memiliki defisiensi elektron dibandingkan dengan atom semikonduktornya. Energi atom ini lebih tinggi sedikit dari E v, lubang konduktansi pada pita valensi terjadi akibat promosi elektron dari E v ke pita yg kosong. Dengan cara doping, sangat mungkin untuk merubah suatu senyawa padat yang bersifat insulator (karena bandgap lebar), menjadi suatu konduktor. Dalam elektrokimia proses doping ini dilakukan dengan cara membuat E F dekat ke E c (tipe-n), atau dekat ke E v (tipe-p) 31 Gambar Semikonduktor: (a) tipe-n; (b) tipe-p. Modus konduktansi elektron ditunjukkan oleh arah anak panah.

32 32 Grafik 1.28 Jenis daerah -space charge region pada semikonduktor tipe-n, tergantung pada potensial yang di kenakan pada potensial pita U fb, U adalah potensial (V) dan E c sur adalah potensial yang berhubungan E c dekat ke permukaan.

33 33 Gambar Karena daerah space-charge region, hampir semua drop potensial dapat terjadi. Sehingga kapasitasnya dapat dicari, C sc, dan darinya dapat dihitung E fb dengan menggunakan persamaan Mott-Schotty. C 2 2 sc = e r 0 N [ U U fb k BT ] D e dengan N D adalah kerapatan dari atom donor. Setelah E fb diketahui, dapat dihitung E v dan E c dari persamaan E v = E fb k B T ln N D N v semikonduktor tipe p E c =E fb k B T ln N D N c semikonduktor tipe n

1. Lapisan Rangkap Listrik

1. Lapisan Rangkap Listrik 1. Lapisan Rangkap Listrik Permukaan lgam yang kntak dengan larutan elektrlit akan memiliki muatan listrik melalui 4 cara: diberi perbedaan ptensial listrik dari luar. absrbsi in pada permukaan lgam atau

Lebih terperinci

FENOMENA LISTRIK PADA PERMUKAAN. 1. Lapis rangkap listrik 2. Potensial Zeta 3. Jenis potensial

FENOMENA LISTRIK PADA PERMUKAAN. 1. Lapis rangkap listrik 2. Potensial Zeta 3. Jenis potensial FENOMENA LISTRIK PADA PERMUKAAN 1. Lapis rangkap listrik. Potensial Zeta 3. Jenis potensial LAPIS RANGKAP LISTRIK Suatu permukaan dengan kerapatan muatan homogen (mis. bermuatan positif) kontak dengan

Lebih terperinci

Hal ini akan memberikan kestabilan terhadap sistem koloid.

Hal ini akan memberikan kestabilan terhadap sistem koloid. 1.1 Fenomena Elektrokinetik dan sistem koloid Sistem koloid dibentuk dari suspensi fasa terdispersi dalam suatu sistem pendispersi, dalam sistem ini kedua fasa tidak terpisah. Koloid yang umum adalah suatu

Lebih terperinci

MODUL 1 KULIAH SEMIKONDUKTOR

MODUL 1 KULIAH SEMIKONDUKTOR MODUL 1 KULIAH SMIKONDUKTOR I.1. LOGAM, ISOLATOR dan SMIKONDUKTOR. Suatu bahan zat padat apabila dikaitkan dengan kemampuannya dalam menghantarkan arus listrik, maka bahan zat padat dibedakan menjadi tiga

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 12. Hubungan Tegangan Membran terhadap Variasi Suhu pada Konsentrasi 100 mm Larutan NaCl, MgCl 2 dan AlCl 3

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 12. Hubungan Tegangan Membran terhadap Variasi Suhu pada Konsentrasi 100 mm Larutan NaCl, MgCl 2 dan AlCl 3 9 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Perlakuan Pasif untuk Tegangan Membran 1.1 Tinjauan Perlakuan Variasi Konsentrasi Gambar 11 memperlihatkan grafik tegangan membran telur terhadap variasi konsentrasi larutan

Lebih terperinci

Semikonduktor. Sifat. (ohm.m) Tembaga 1,7 x 10-8 Konduktor Silikon pd 300 o K 2,3 x 10 3 Semikonduktor Gelas 7,0 x 10 6 Isolator

Semikonduktor. Sifat. (ohm.m) Tembaga 1,7 x 10-8 Konduktor Silikon pd 300 o K 2,3 x 10 3 Semikonduktor Gelas 7,0 x 10 6 Isolator Semikonduktor Definisi I: Bahan yang memiliki nilai hambatan jenis (ρ) antara konduktor dan isolator yakni sebesar 10 6 s.d. 10 4 ohm.m Perbandingan hambatan jenis konduktor, semikonduktor, dan isolator:

Lebih terperinci

C w : konsentrasi uap air dalam kesetimbangan, v f dan f w menyatakan laju penguapan dengan dan tanpa film di permukaan

C w : konsentrasi uap air dalam kesetimbangan, v f dan f w menyatakan laju penguapan dengan dan tanpa film di permukaan Adanya film monomolekuler menyebabkan laju penguapan substrat berkurang, sedangkan kesetimbangan tekanan uap tidak dipengaruhi Laju penguapan dinyatakan sebagai v = m/t A (g.det -1.cm -2 ) Tahanan jenis

Lebih terperinci

1. Jenis kristal ion 2. Elektrolit zat padat 3. Pengukuran konduktifitas 4. Aplikasi elektrolit zat padat

1. Jenis kristal ion 2. Elektrolit zat padat 3. Pengukuran konduktifitas 4. Aplikasi elektrolit zat padat 1. Jenis kristal ion 2. Elektrolit zat padat 3. Pengukuran konduktifitas 4. Aplikasi elektrolit zat padat Alkali halida Dalam alkali halida (mis. NaCl), kation lebih mobil drpd anion. Ion Na + dapat berpindah

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC) 39 HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC) Hasil karakterisasi dengan Difraksi Sinar-X (XRD) dilakukan untuk mengetahui jenis material yang dihasilkan disamping menentukan

Lebih terperinci

Karakterisasi XRD. Pengukuran

Karakterisasi XRD. Pengukuran 11 Karakterisasi XRD Pengukuran XRD menggunakan alat XRD7000, kemudian dihubungkan dengan program dikomputer. Puncakpuncak yang didapatkan dari data pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi

Lebih terperinci

Film adalah lapisan suatu zat yang menyebar melalui permukaan dengan ketebalan sangat kecil, dan pengaruh gravitasi dapat diabaikan.

Film adalah lapisan suatu zat yang menyebar melalui permukaan dengan ketebalan sangat kecil, dan pengaruh gravitasi dapat diabaikan. Jika suatu zat yang memiliki kelarutan dalam zat cair sangat rendah ditempatkan pada antarmuka cairan-udara, maka bolehjadi akan menyebar (spread out) membentuk suatu selaput (film) sangat tipis atau umumnya

Lebih terperinci

ELEKTRONIKA. Bab 2. Semikonduktor

ELEKTRONIKA. Bab 2. Semikonduktor ELEKTRONIKA Bab 2. Semikonduktor DR. JUSAK Konduktor Konduktor adalah sebuah bahan/elemen yang mempunyai kemampuan menghantarkan listrik. Salah satu contoh bahan koduktor adalah tembaga. Nukleus atom tembaga

Lebih terperinci

BENDA WUJUD, SIFAT DAN KEGUNAANNYA

BENDA WUJUD, SIFAT DAN KEGUNAANNYA BENDA WUJUD, SIFAT DAN KEGUNAANNYA Benda = Materi = bahan Wujud benda : 1) Padat 2) Cair 3) Gas Benda Padat 1. Mekanis kuat (tegar), sukar berubah bentuk, keras 2. Titik leleh tinggi 3. Sebagian konduktor

Lebih terperinci

MAKALAH PITA ENERGI. Di susun oleh, Pradita Ajeng Wiguna ( ) Rombel 1. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisika dan Teknologi Semikonduktor

MAKALAH PITA ENERGI. Di susun oleh, Pradita Ajeng Wiguna ( ) Rombel 1. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisika dan Teknologi Semikonduktor MAKALAH PITA ENERGI Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisika dan Teknologi Semikonduktor Di susun oleh, Pradita Ajeng Wiguna (4211412011) Rombel 1 JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

STRUKTUR CRISTAL SILIKON

STRUKTUR CRISTAL SILIKON BANDGAP TABEL PERIODIK STRUKTUR CRISTAL SILIKON PITA ENERGI Pita yang ditempati oleh elektron valensi disebut Pita Valensi Pita yang kosong pertama disebut : Pita Konduksi ISOLATOR, KONDUKTOR DAN SEMIKONDUKTOR

Lebih terperinci

KERAMIK Mimin Sukarmin, S.Si., M.Pd.

KERAMIK Mimin Sukarmin, S.Si., M.Pd. KERAMIK Mimin Sukarmin, S.Si., M.Pd. [email protected] A. Keramik Bahan keramik merupakan senyawa antara logam dan bukan logam. Senyawa ini mempunyai ikatan ionik dan atau ikatan kovalen. Jadi sifat-sifatnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapasitor Kapasitor banyak digunakan dalam sirkuit elektronik dan mengerjakan berbagai fungsi. Pada dasarnya kapasitor merupakan alat penyimpan muatan listrik yang dibentuk

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Voltametri

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Voltametri 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Voltametri Voltametri merupakan salah satu teknik elektroanalitik dengan prinsip dasar elektrolisis. Elektroanalisis merupakan suatu teknik yang berfokus pada hubungan antara besaran

Lebih terperinci

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1)

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1) Sudaryatno Sudirham ing Utari Mengenal Sifat-Sifat Material (1) 15-2 Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1) BAB 15 Difusi Difusi adalah peristiwa di mana terjadi tranfer materi melalui

Lebih terperinci

MIKROELEKTRONIKA. Gejala Transport dalam Semikonduktor. D3 Teknik Komputer Universitas Gunadarma

MIKROELEKTRONIKA. Gejala Transport dalam Semikonduktor. D3 Teknik Komputer Universitas Gunadarma MIKROELEKTRONIKA Gejala Transport dalam Semikonduktor D3 Teknik Komputer Universitas Gunadarma MOBILITAS & KONDUKTIVITAS Gambaran gas elektron dari logam Bagian yang gelap menyatakan bagian yang mempunyai

Lebih terperinci

ANALISIS LANJUTAN. Tingkat Energi & Orbit Elektron. Pita Energi Semikonduktor Intrinsik. Pita Energi Pada Semikonduktor Ter-Doping

ANALISIS LANJUTAN. Tingkat Energi & Orbit Elektron. Pita Energi Semikonduktor Intrinsik. Pita Energi Pada Semikonduktor Ter-Doping Tingkat Energi & Orbit Elektron ANALISIS LANJUTAN Pita Energi Semikonduktor Intrinsik Pita Energi Pada Semikonduktor Ter-Doping Elektronika 1 23 Irwan Arifin 2004 P-N Junction Elektronika 1 24 Irwan Arifin

Lebih terperinci

Yang akan dibahas: 1. Kristal dan Ikatan pada zat Padat 2. Teori Pita Zat Padat

Yang akan dibahas: 1. Kristal dan Ikatan pada zat Padat 2. Teori Pita Zat Padat ZAT PADAT Yang akan dibahas: 1. Kristal dan Ikatan pada zat Padat 2. Teori Pita Zat Padat ZAT PADAT Sifat sifat zat padat bergantung pada: Jenis atom penyusunnya Struktur materialnya Berdasarkan struktur

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Di dalam modul ini Anda akan mempelajari Kristal Semikonduktor yang mencakup:

PENDAHULUAN. Di dalam modul ini Anda akan mempelajari Kristal Semikonduktor yang mencakup: PENDAHULUAN Di dalam modul ini Anda akan mempelajari Kristal Semikonduktor yang mencakup: kristal semikonduktor intrinsik dan kristal semikonduktor ekstrinsik. Oleh karena itu, sebelum mempelajari modul

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Padatan TiO 2 Amorf Proses sintesis padatan TiO 2 amorf ini dimulai dengan melarutkan titanium isopropoksida (TTIP) ke dalam pelarut etanol. Pelarut etanol yang digunakan

Lebih terperinci

Elektroda Cu (katoda): o 2. o 2

Elektroda Cu (katoda): o 2. o 2 Bab IV Pembahasan Atom seng (Zn) memiliki kemampuan memberi elektron lebih besar dibandingkan atom tembaga (Cu). Jika menempatkan lempeng tembaga dan lempeng seng pada larutan elektrolit kemudian dihubungkan

Lebih terperinci

DETEKTOR RADIASI INTI. Sulistyani, M.Si.

DETEKTOR RADIASI INTI. Sulistyani, M.Si. DETEKTOR RADIASI INTI Sulistyani, M.Si. Email: [email protected] Konsep Dasar Alat deteksi sinar radioaktif atau sistem pencacah radiasi dinamakan detektor radiasi. Prinsip: Mengubah radiasi menjadi

Lebih terperinci

DASAR PENGUKURAN LISTRIK

DASAR PENGUKURAN LISTRIK DASAR PENGUKURAN LISTRIK OUTLINE 1. Objektif 2. Teori 3. Contoh 4. Simpulan Objektif Teori Contoh Simpulan Tujuan Pembelajaran Mahasiswa mampu: Menjelaskan dengan benar mengenai energi panas dan temperatur.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konstanta dielektrik adalah perbandingan nilai kapasitansi kapasitor pada bahan dielektrik dengan nilai kapasitansi di ruang hampa. Konstanta dielektrik atau permitivitas

Lebih terperinci

ELEKTROKIMIA Konsep Dasar Reaksi Elektrokimia

ELEKTROKIMIA Konsep Dasar Reaksi Elektrokimia Departemen Kimia - FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) ELEKTROKIMIA Konsep Dasar Reaksi Elektrokimia Drs. Iqmal Tahir, M.Si. Laboratorium Kimia Fisika, Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Lebih terperinci

Gaya Antarmolekul dan Cairan dan Padatan

Gaya Antarmolekul dan Cairan dan Padatan Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi dimodifikasi oleh Dr. Indriana Kartini Bab V Gaya Antarmolekul dan Cairan dan Padatan Fasa merupakan bagian homogen suatu sistem

Lebih terperinci

Bagian 4 Karakteristik Junction Dioda

Bagian 4 Karakteristik Junction Dioda Bagian 4 Karakteristik Junction Dioda Junction Diode Switching Times Pada saat keadaan dioda berubah dari kondisi reverse-biased ke kondisi forward-biased, terdapat transien (proses peralihan) pada respon

Lebih terperinci

ELEKTROKIMIA Dr. Ivandini Tribidasari A.

ELEKTROKIMIA Dr. Ivandini Tribidasari A. [email protected] ELEKTROKIMIA Dr. Ivandini Tribidasari A. Bab Minggu ke- Judul 1 1 Pendahuluan dan Overview of Electrode Process 2 2 Potential dan Termodinamika Sel 3 3 Kinetika Reaksi Elektroda

Lebih terperinci

SEMIKONDUKTOR oleh: Ichwan Yelfianhar dirangkum dari berbagai sumber

SEMIKONDUKTOR oleh: Ichwan Yelfianhar dirangkum dari berbagai sumber SEMIKONDUKTOR oleh: Ichwan Yelfianhar dirangkum dari berbagai sumber Pengertian Umum Bahan semikonduktor adalah bahan yang bersifat setengah konduktor karena celah energi yang dibentuk oleh struktur bahan

Lebih terperinci

MOLEKUL, ZAT PADAT DAN PITA ENERGI MOLEKUL ZAT PADAT PITA ENERGI

MOLEKUL, ZAT PADAT DAN PITA ENERGI MOLEKUL ZAT PADAT PITA ENERGI MOLEKUL, ZAT PADAT DAN PITA ENERGI MOLEKUL ZAT PADAT PITA ENERGI edy wiyono 2004 PENDAHULUAN Pada umumnya atom tunggal tidak memiliki konfigurasi elektron yang stabil seperti gas mulia, maka atom atom

Lebih terperinci

Eksperimen HASIL DAN PEMBAHASAN Pengambilan data

Eksperimen HASIL DAN PEMBAHASAN Pengambilan data 7 jam dan disonikasi selama jam agar membran yang dihasilkan homogen. Langkah selanjutnya, membran dituangkan ke permukaan kaca yang kedua sisi kanan dan kiri telah diisolasi. Selanjutnya membran direndam

Lebih terperinci

Bab 6. Elektron Dalam Zat Padat (Teori Pita Energi)

Bab 6. Elektron Dalam Zat Padat (Teori Pita Energi) Bab 6 Elektron Dalam Zat Padat (Teori Pita Energi) Teori Pita Energi Untuk Zat Padat (Model Untuk Teori Pita Energi) Berdasarkan daya hantar listrik, zat padat dibedakan menjadi tiga jenis : Logam dan

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN & ANALSIS HASIL KARAKTERISASI XRD, EDS DAN PENGUKURAN I-V MSM

BAB IV PERHITUNGAN & ANALSIS HASIL KARAKTERISASI XRD, EDS DAN PENGUKURAN I-V MSM BAB IV PERHITUNGAN & ANALSIS HASIL KARAKTERISASI XRD, EDS DAN PENGUKURAN I-V MSM Pada bab sebelumnya telah diperlihatkan hasil karakterisasi struktur kristal, morfologi permukaan, dan komposisi lapisan.

Lebih terperinci

TUGAS MATA KULIAH ILMU MATERIAL UMUM THERMAL PROPERTIES

TUGAS MATA KULIAH ILMU MATERIAL UMUM THERMAL PROPERTIES TUGAS MATA KULIAH ILMU MATERIAL UMUM THERMAL PROPERTIES Nama Kelompok: 1. Diah Ayu Suci Kinasih (24040115130099) 2. Alfiyan Hernowo (24040115140114) Mata Kuliah Dosen Pengampu : Ilmu Material Umum : Dr.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Material semikonduktor adalah material yang memiliki konduktivitas listrik diantara konduktor dan isolator (10-8 S/cm < σ < 10 4 S/cm), σ adalah konduktivitas. Konduktivitas material

Lebih terperinci

ARUS LISTRIK. Di dalam konduktor / penghantar terdapat elektron bebas (muatan negatif) yang bergerak dalam arah sembarang (random motion)

ARUS LISTRIK. Di dalam konduktor / penghantar terdapat elektron bebas (muatan negatif) yang bergerak dalam arah sembarang (random motion) ARUS LISTRIK Di dalam konduktor / penghantar terdapat elektron bebas (muatan negatif) yang bergerak dalam arah sembarang (random motion) Konduktor terisolasi Elektron-elektron tersebut tidak mempunyai

Lebih terperinci

PERTEMUAN 2 TEORI DASAR (DIODA)

PERTEMUAN 2 TEORI DASAR (DIODA) PERTEMUAN 2 TEORI DASAR (DIODA) PENGERTIAN DIODA Dioda merupakan komponenelektronikayang mempunyai dua elektroda(terminal), dapat berfungsi sebagai penyearah arus listrik. Dioda merupakanjunction ( pertemuan

Lebih terperinci

Pertambahan arus ΔI yang melalui pertambahan permukaan ΔS yang normal pada rapatan arus ialah

Pertambahan arus ΔI yang melalui pertambahan permukaan ΔS yang normal pada rapatan arus ialah KONDUKTOR DIELEKTRIK DAN KAPASITANSI Muatan listrik yang bergerak membentuk arus. Satuan arus ialah ampere (A) yang didefinisikan sebagai laju aliran muatan yang melalui titik acuan sebesar satu coulomb

Lebih terperinci

Bahan Listrik. Sifat Listrik Bahan

Bahan Listrik. Sifat Listrik Bahan Bahan Listrik Sifat Listrik Bahan Jenis Bahan / Material: 1.Murni unsur - logam (Fe, Hg) - nonlogam [C (grafit, intan), Si, S] 2.Senyawa - oksida / keramik (tanah liat, SiO 2 ) - polimer (kayu, karet,

Lebih terperinci

Arus Listrik dan Resistansi

Arus Listrik dan Resistansi TOPIK 5 Arus Listrik dan Resistansi Kuliah Fisika Dasar II TIP,TP, UGM 2009 Ikhsan Setiawan, M.Si. Jurusan Fisika FMIPA UGM [email protected] Arus Listrik (Electric Current) Lambang : i atau I. Yaitu:

Lebih terperinci

INFORMASI PENTING. m e = 9, kg Besar muatan electron. Massa electron. e = 1, C Bilangan Avogadro

INFORMASI PENTING. m e = 9, kg Besar muatan electron. Massa electron. e = 1, C Bilangan Avogadro PETUNJUK UMUM 1. Tuliskan NAMA dan ID peserta di setiap lembar jawaban dan lembar kerja. 2. Tuliskan jawaban akhir di kotak yang disediakan untuk di lembar Jawaban. Lembar kerja dapat digunakan untuk melakukan

Lebih terperinci

Karakteristik dan Rangkaian Dioda. Rudi Susanto

Karakteristik dan Rangkaian Dioda. Rudi Susanto Karakteristik dan Rangkaian Dioda Rudi Susanto 1 Pengantar tentang Dioda Resistor merupakan sebuah piranti linier karena arus berbanding terhadap tegangan. Dalam bentuk grafik, grafik arus terhadap tegangan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME... ii. HALAMAN PENGESAHAN... iii. HALAMAN TUGAS... iv. HALAMAN PERSEMBAHAN... v. HALAMAN MOTO...

DAFTAR ISI. PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME... ii. HALAMAN PENGESAHAN... iii. HALAMAN TUGAS... iv. HALAMAN PERSEMBAHAN... v. HALAMAN MOTO... ix DAFTAR ISI PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN TUGAS... iv HALAMAN PERSEMBAHAN... v HALAMAN MOTO... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL... xiii DAFTAR

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA DALAM BAHAN

IKATAN KIMIA DALAM BAHAN IKATAN KIMIA DALAM BAHAN Sifat Atom dan Ikatan Kimia Suatu partikel baik berupa ion bermuatan, inti atom dan elektron, dimana diantara mereka, akan membentuk ikatan kimia yang akan menurunkan energi potensial

Lebih terperinci

Skala ph dan Penggunaan Indikator

Skala ph dan Penggunaan Indikator Skala ph dan Penggunaan Indikator NAMA : ENDRI BAMBANG SUPRAJA MANURUNG NIM : 4113111011 KELAS PRODI : DIK A : PENDIDIKAN JURUSAN : MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Bab 1. Semi Konduktor

Bab 1. Semi Konduktor Bab 1. Semi Konduktor Operasi komponen elektronika benda padat seperti dioda, LED, Transistor Bipolar dan FET serta Op-Amp atau rangkaian terpadu lainnya didasarkan atas sifat-sifat semikonduktor. Semikonduktor

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV. 1 Analisis Hasil Pengujian Metalografi dan Spektrometri Sampel Baja Karbon Dari hasil uji material pipa pengalir hard water (Lampiran A.1), pipa tersebut terbuat dari baja

Lebih terperinci

02 03 : CACAT KRISTAL LOGAM

02 03 : CACAT KRISTAL LOGAM 02 03 : CACAT KRISTAL LOGAM 2.1. Cacat Kristal Diperlukan berjuta-juta atom untuk membentuk satu kristal. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila terdapat cacat atau ketidakteraturan dalam tubuh kristal.

Lebih terperinci

Modul - 4 SEMIKONDUKTOR

Modul - 4 SEMIKONDUKTOR Modul - 4 SEMIKONDUKTOR Disusun Sebagai Materi Pelatihan Guru-Guru SMA/MA Provinsi Nangro Aceh Darussalam Disusun oleh: Dr. Agus Setiawan, M.Si Dr. Dadi Rusdiana, M.Si Dr. Ida Hamidah, M.Si Dra. Ida Kaniawati,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dielektrik.gambar 2.1 merupakan gambar sederhana struktur kapasitor. Bahan-bahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dielektrik.gambar 2.1 merupakan gambar sederhana struktur kapasitor. Bahan-bahan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapasitor Kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan

Lebih terperinci

Atom silikon dan germanium masingmempunyai empat elektron valensi. Oleh karena itu baik atom silikon maupun atom germanium disebut juga dengan atom

Atom silikon dan germanium masingmempunyai empat elektron valensi. Oleh karena itu baik atom silikon maupun atom germanium disebut juga dengan atom Mata Kuliah Pertemuaan Pokok Bahasan Waktu : Elektronika Analog : I : Bahan Semikonduktor : 2x55 menit Berdasarkan sifat hantantaran listrik bahan dapat dibagi atas 3 jenis yaitu: bahan yang tidak dapat

Lebih terperinci

BAB III KETIDAKSEMPURNAAN BAHAN PADAT

BAB III KETIDAKSEMPURNAAN BAHAN PADAT BAB III KETIDAKSEMPURNAAN BAHAN PADAT Susunan yang sempurna ada di keseluruhan material kristal pada skala atom tidaklah ada. Semua bahan padat mengandung sejumlah besar cacat atau ketaksempurnaan. 3.1

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAYA HANTAR LISTRIK

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAYA HANTAR LISTRIK Nama : Ririn Vidiastuti NIM : 06111010015 Shift : A Kelompok : 5 (Lima) FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAYA HANTAR LISTRIK A. Jumlah Ion yang Ada Daya hantar listrik larutan elektrolit dipengaruhi oleh banyaknya

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Surfaktan Gemini 12-2-12 Sintesis surfaktan gemini dilakukan dengan metode konvensional, yaitu dengan metode termal. Reaksi yang terjadi adalah reaksi substitusi bimolekular

Lebih terperinci

Uji Kekerasan Material dengan Metode Rockwell

Uji Kekerasan Material dengan Metode Rockwell Uji Kekerasan Material dengan Metode Rockwell 1 Ika Wahyuni, 2 Ahmad Barkati Rojul, 3 Erlin Nasocha, 4 Nindia Fauzia Rosyi, 5 Nurul Khusnia, 6 Oktaviana Retna Ningsih Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan

Lebih terperinci

Energetika dalam sistem kimia

Energetika dalam sistem kimia Thermodinamika - kajian sainstifik tentang panas dan kerja. Energetika dalam sistem kimia Drs. Iqmal Tahir, M.Si. [email protected] I. Energi: prinsip dasar A. Energi Kapasitas untuk melakukan kerja Ada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebagaimana yang telah dipaparkan pada latar belakang, material nano seperti nanowire, nanotube, nanosheet, dsb. tidak terlepas dari peranan penting katalis yang berfungsi sebagai

Lebih terperinci

Teori Semikonduktor. Elektronika (TKE 4012) Eka Maulana. maulana.lecture.ub.ac.id

Teori Semikonduktor. Elektronika (TKE 4012) Eka Maulana. maulana.lecture.ub.ac.id Teori Semikonduktor Elektronika (TKE 4012) Eka Maulana maulana.lecture.ub.ac.id Content Konduktor Semikonduktor Kristal silikon Semikonduktor Intrinsik Jenis aliran Doping semikonduktor Doping ekstrinsik

Lebih terperinci

BAB III TEGANGAN GAGAL DAN PENGARUH KELEMBABAN UDARA

BAB III TEGANGAN GAGAL DAN PENGARUH KELEMBABAN UDARA BAB III TEGANGAN GAGAL DAN PENGARUH KELEMBABAN UDARA 3.1. Pendahuluan Setiap bahan isolasi mempunyai kemampuan menahan tegangan yang terbatas. Keterbatasan kemampuan tegangan ini karena bahan isolasi bukanlah

Lebih terperinci

Bab 1 ZAT PADAT IKATAN ATOMIK DALAM KRISTAL

Bab 1 ZAT PADAT IKATAN ATOMIK DALAM KRISTAL Bab 1 ZAT PADAT IKATAN ATOMIK DALAM KRISTAL Kekristalan Zat Padat Zat padat dapat dibedakan menjadi: Kristal yaitu bila atom atau molekul penyusun tersusun dalam bentuk pengulangan kontinu untuk rentang

Lebih terperinci

MATERI II TINGKAT TENAGA DAN PITA TENAGA

MATERI II TINGKAT TENAGA DAN PITA TENAGA MATERI II TINGKAT TENAGA DAN PITA TENAGA A. Tujuan 1. Tujuan Umum Mahasiswa memahami konsep tingkat tenaga dan pita tenaga untuk menerangkan perbedaan daya hantar listrik.. Tujuan Khusus a. Mahasiswa dapat

Lebih terperinci

2016 PEMODELAN ARUS TEROBOSAN PADA TRANSISTOR DWIKUTUB N-P-N ARMCHAIR GRAPHENE NANORIBBON (AGNR) MENGGUNAKAN METODE MATRIKS TRANSFER

2016 PEMODELAN ARUS TEROBOSAN PADA TRANSISTOR DWIKUTUB N-P-N ARMCHAIR GRAPHENE NANORIBBON (AGNR) MENGGUNAKAN METODE MATRIKS TRANSFER BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Alat-alat elektronik sudah menjadi pelengkap kehidupan manusia. Di dalamnya terdapat berbagai macam divais elektronik yang tersusun sehingga memiliki fungsinya tersendiri.

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA BAB 3. Pada pelajaran bab tiga ini akan dipelajari tentang ikatan ion, ikatan kovalen, dan ikatan logam.

IKATAN KIMIA BAB 3. Pada pelajaran bab tiga ini akan dipelajari tentang ikatan ion, ikatan kovalen, dan ikatan logam. BAB 3 IKATAN KIMIA Gambar 3.1 Kisi Kristal Senyawa NaCl. Sumber: amparan Dunia Ilmu Time life Pada pelajaran bab tiga ini akan dipelajari tentang ikatan ion, ikatan kovalen, dan ikatan logam. Ikatan Kimia

Lebih terperinci

Dioda Semikonduktor dan Rangkaiannya

Dioda Semikonduktor dan Rangkaiannya - 2 Dioda Semikonduktor dan Rangkaiannya Missa Lamsani Hal 1 SAP Semikonduktor tipe P dan tipe N, pembawa mayoritas dan pembawa minoritas pada kedua jenis bahan tersebut. Sambungan P-N, daerah deplesi

Lebih terperinci

BAB III KETIDAKSEMPURNAAN BAHAN PADAT

BAB III KETIDAKSEMPURNAAN BAHAN PADAT BAB III KETIDAKSEMPURNAAN BAHAN PADAT Susunan yang sempurna ada di keseluruhan material kristal pada skala atom tidaklah ada. Semua bahan padat mengandung sejumlah besar cacat atau ketaksempurnaan. CACAT

Lebih terperinci

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan teknologi membran saat ini telah meluas pada berbagai kalangan, baik kalangan akademis maupun industri. Salah satu aplikasi teknologi membran adalah teknologi pemisahan

Lebih terperinci

BAB III SISTEM DAN PERSAMAAN KEADAAN

BAB III SISTEM DAN PERSAMAAN KEADAAN BAB III SISTEM DAN PERSAMAAN KEADAAN 3.1 Keadaan keseimbangan dan persamaannya 3.2 Perubahan infinit pada keadaan keseimbangan 3.3 Mencari persamaan keadaan 3.1 KEADAAN KESEIMBANGAN DAN PERSAMAANNYA Keadaan

Lebih terperinci

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i. KATA PENGANTAR... ii. UCAPAN TERIMA KASIH... iii. DAFTAR ISI... v. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG...

DAFTAR ISI. ABSTRAK... i. KATA PENGANTAR... ii. UCAPAN TERIMA KASIH... iii. DAFTAR ISI... v. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG... DAFTAR ISI ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan

Lebih terperinci

I. Pendahuluan Listrik Magnet Listrik berkaitan dengan teknologi modern: komputer, motor dsb. Bukan hanya itu

I. Pendahuluan Listrik Magnet Listrik berkaitan dengan teknologi modern: komputer, motor dsb. Bukan hanya itu I. Pendahuluan Listrik Magnet Listrik berkaitan dengan teknologi modern: komputer, motor dsb. Bukan hanya itu 1 Muatan Listrik Contoh klassik: Penggaris digosok-gosok pada kain kering tarik-menarik dengan

Lebih terperinci

Elektrokimia. Tim Kimia FTP

Elektrokimia. Tim Kimia FTP Elektrokimia Tim Kimia FTP KONSEP ELEKTROKIMIA Dalam arti yang sempit elektrokimia adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam sel elektrokimia. Sel jenis ini merupakan

Lebih terperinci

Perkuliahan PLPG Fisika tahun D.E Tarigan Drs MSi Jurusan Fisika FPMIPA UPI 1

Perkuliahan PLPG Fisika tahun D.E Tarigan Drs MSi Jurusan Fisika FPMIPA UPI 1 Perkuliahan PLPG Fisika tahun 2009 Jurusan Fisika FPMIPA UPI 1 Muatan Listrik Dua jenis muatan listrik: positif dan negatif Satuan muatan adalah coulomb [C] Muatan elektron (negatif) atau proton (positif)

Lebih terperinci

PERCOBAAN POTENSIOMETRI (PENGUKURAN ph)

PERCOBAAN POTENSIOMETRI (PENGUKURAN ph) PERCOBAAN POTENSIOMETRI (PENGUKURAN ph) I. Tujuan. Membuat kurva hubungan ph - volume pentiter 2. Menentukan titik akhir titrasi 3. Menghitung kadar zat II. Prinsip Prinsip potensiometri didasarkan pada

Lebih terperinci

Rudi Susanto

Rudi Susanto LISTRIK STATIS Rudi Susanto http://rudist.wordpress.com Tujuan Instruksional Dapat menentukan gaya, medan, energi dan potensial listrik yang berasal dari muatanmuatan statik serta menentukan kapasitansi

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK PERCOBAAN H-3 SOL LIOFIL

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK PERCOBAAN H-3 SOL LIOFIL LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK PERCOBAAN H-3 SOL LIOFIL Nama : Winda Amelia NIM : 90516008 Kelompok : 02 Tanggal Praktikum : 11 Oktober 2017 Tanggal Pengumpulan : 18 Oktober 2017 Asisten : LABORATORIUM

Lebih terperinci

Keramik. Ikatan atom pada keramik. Sifat-sifat bahan keramik 04/10/2016. Lukhi mulia s

Keramik. Ikatan atom pada keramik. Sifat-sifat bahan keramik 04/10/2016. Lukhi mulia s Ikatan atom pada keramik Keramik Lukhi mulia s O Ikatan ion O Ikatan kovalen O Ikatan logam O Ikatan dipol O Ikatan antar atom dan sifat-sifat kristal 1 3 1438 1438 3 3 Pendahuluan O Keramik merupakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Di dalam modul ini Anda akan mempelajari Gas elektron bebas yang mencakup: Elektron

PENDAHULUAN. Di dalam modul ini Anda akan mempelajari Gas elektron bebas yang mencakup: Elektron PENDAHUUAN Di dalam modul ini Anda akan mempelajari Gas elektron bebas yang mencakup: Elektron bebas dalam satu dimensi dan elektron bebas dalam tiga dimensi. Oleh karena itu, sebelum mempelajari modul

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. penyamakan kulit dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS Mini

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. penyamakan kulit dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS Mini 43 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Proses elektrokoagulasi terhadap sampel air limbah penyamakan kulit dilakukan dengan bertahap, yaitu pengukuran treatment pada sampel air limbah penyamakan kulit dengan menggunakan

Lebih terperinci

Bab V Ikatan Kimia. B. Struktur Lewis Antar unsur saling berinteraksi dengan menerima dan melepaskan elektron di kulit terluarnya. Gambaran terjadinya

Bab V Ikatan Kimia. B. Struktur Lewis Antar unsur saling berinteraksi dengan menerima dan melepaskan elektron di kulit terluarnya. Gambaran terjadinya Bab V Ikatan Kimia Sebagian besar unsur yang ada di alam mempunyai kecenderungan untuk berinteraksi (berikatan) dengan unsur lain. Hal itu dilakukan karena unsur tersebut ingin mencapai kestabilan. Cara

Lebih terperinci

KIMIA. Sesi KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA. a. Sifat Umum

KIMIA. Sesi KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA. a. Sifat Umum KIMIA KELAS XII IPA - KURIKULUM GABUNGAN 12 Sesi NGAN KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA Keteraturan sifat keperiodikan unsur dalam satu periode dapat diamati pada unsur-unsur periode

Lebih terperinci

Elektron Bebas. 1. Teori Drude Tentang Elektron Dalam Logam

Elektron Bebas. 1. Teori Drude Tentang Elektron Dalam Logam Elektron Bebas Beberapa teori tentang panas jenis zat padat yang telah dibahas dapat dengan baik menjelaskan sifat-sfat panas jenis zat padat yang tergolong non logam, akan tetapi untuk golongan logam

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi

BAB II DASAR TEORI. FeO. CO Fe CO 2. Fe 3 O 4. Fe 2 O 3. Gambar 2.1. Skema arah pergerakan gas CO dan reduksi BAB II DASAR TEORI Pengujian reduksi langsung ini didasari oleh beberapa teori yang mendukungnya. Berikut ini adalah dasar-dasar teori mengenai reduksi langsung yang mendasari penelitian ini. 2.1. ADSORPSI

Lebih terperinci

Conductor dan Dielektrik

Conductor dan Dielektrik Conductor dan Dielektrik Pendahuluan Sebuah kapasitor adalah perangkat yang menyimpan muatan listrik. Kapasitor bervariasi dalam bentuk dan ukuran, tetapi konfigurasi dasar adalah dua konduktor yang membawa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Barium Stronsium Titanat (Ba x Sr 1-x TiO 3 ) BST merupakan kombinasi dua material perovskit barium titanat (BaTiO) dan stronsium titanat (SrTiO). Pada kedudukan A, kisi ABO

Lebih terperinci

WUJUD ZAT. SP-Pertemuan 1

WUJUD ZAT. SP-Pertemuan 1 WUJUD ZAT SP-Pertemuan 1 WUJUD ZAT (PADATAN) SP-Pertemuan 1 Padatan: Suatu susunan satuan (atom atau molekul) yang tersusun sangat teratur dan diikat oleh gaya tertentu Tergantung sifat gaya: Ikatan kovalen:

Lebih terperinci

PARTIKEL DALAM BOX. Bentuk umum persamaan orde dua adalah: ay" + b Y' + cy = 0

PARTIKEL DALAM BOX. Bentuk umum persamaan orde dua adalah: ay + b Y' + cy = 0 1 PARTIKEL DALAM BOX Elektron dalam atom dan molekul dapat dibayangkan mirip partikel dalam box. daerah di dalam box tempat partikel tersebut bergerak berpotensial nol, sedang daerah diluar box berpotensial

Lebih terperinci

GEOFISIKA EKSPLORASI. [Metode Geolistrik] Anggota kelompok : Maya Vergentina Budi Atmadhi Andi Sutriawan Wiranata

GEOFISIKA EKSPLORASI. [Metode Geolistrik] Anggota kelompok : Maya Vergentina Budi Atmadhi Andi Sutriawan Wiranata GEOFISIKA EKSPLORASI [Metode Geolistrik] Anggota kelompok : Maya Vergentina Budi Atmadhi Andi Sutriawan Wiranata PENDAHULUAN Metoda geofisika merupakan salah satu metoda yang umum digunakan dalam eksplorasi

Lebih terperinci

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Teknik Voltametri dan Modifikasi Elektroda

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Teknik Voltametri dan Modifikasi Elektroda 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Teknik Voltametri dan Modifikasi Elektroda Teknik elektrometri telah dikenal luas sebagai salah satu jenis teknik analisis. Jenis teknik elektrometri yang sering digunakan untuk

Lebih terperinci

Struktur atom merupakan satuan dasar materi yang terdiri dari inti atom beserta awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya.

Struktur atom merupakan satuan dasar materi yang terdiri dari inti atom beserta awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya. Struktur atom merupakan satuan dasar materi yang terdiri dari inti atom beserta awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya. Inti atom mengandung campuran proton (bermuatan positif) dan neutron

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN BaTiO 3 merupakan senyawa oksida keramik yang dapat disintesis dari senyawaan titanium (IV) dan barium (II). Proses sintesis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, tekanan,

Lebih terperinci

Potensial membran adalah tegangan yang melintasi suatu membran sel yang berkisar dari sekitar -50 hingga -200 milivolt (tanda minus menunjukkan bahwa

Potensial membran adalah tegangan yang melintasi suatu membran sel yang berkisar dari sekitar -50 hingga -200 milivolt (tanda minus menunjukkan bahwa Potensial membran adalah tegangan yang melintasi suatu membran sel yang berkisar dari sekitar -50 hingga -200 milivolt (tanda minus menunjukkan bahwa di dalam sel bersifat negatif dibandingkan dengan di

Lebih terperinci

struktur dua dimensi kristal Silikon

struktur dua dimensi kristal Silikon PRINSIP DASAR Semikonduktor merupakan elemen dasar dari komponen elektronika seperti dioda, transistor dan sebuah IC (integrated circuit). Disebut semi atau setengah konduktor, karena bahan ini memang

Lebih terperinci

KAPASITOR MINGGU KE-5

KAPASITOR MINGGU KE-5 KAPASITOR MINGGU KE-5 Kapasitor: Penyimpan Muatan & Energi Listrik Kapasitor: dua konduktor terisolasi dengan muatan yang sama Q dan berbeda tanda dan beda potensial ΔV diantaranya. Satuan: Coulomb/Volt

Lebih terperinci

steady/tunak ( 0 ) tidak dipengaruhi waktu unsteady/tidak tunak ( 0) dipengaruhi waktu

steady/tunak ( 0 ) tidak dipengaruhi waktu unsteady/tidak tunak ( 0) dipengaruhi waktu Konduksi Tunak-Tak Tunak, Persamaan Fourier, Konduktivitas Termal, Sistem Konduksi-Konveksi dan Koefisien Perpindahan Kalor Menyeluruh Marina, 006773263, Kelompok Kalor dapat berpindah dari satu tempat

Lebih terperinci

a. Lattice Constant = a 4r = 2a 2 a = 4 R = 2 2 R = 2,8284 x 0,143 nm = 0,4045 nm 2

a. Lattice Constant = a 4r = 2a 2 a = 4 R = 2 2 R = 2,8284 x 0,143 nm = 0,4045 nm 2 SOUSI UJIAN TENGAH SEMESTER E-32 MATERIA TEKNIK EEKTRO Semester I 23/24, Selasa 2 Nopember 22 Waktu : 7: 9: (2menit)- Closed Book SEKOAH TEKNIK EEKTRO DAN INFORMATIKA - INSTITUT TEKNOOGI BANDUNG Dosen

Lebih terperinci