INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN
|
|
|
- Glenna Gunardi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN BAB 6-1 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN DAFTAR ISI Informasi Umum Kebersihan dan Perawatan Informasi Umum Perawatan Mesin Hal-Hal yang Harus Diperhatikan pada Sistim Bahan Bakar Membuang Tekanan Bahan Bakar Memeriksa Kebocoran Bahan Bakar Diagnosa Uraian Umum Diagnosa Mesin Uraian Sistim Diagnosa On-Board Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Mendiagnosa Mesin Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi Form Pemeriksaan Masalah Customer (Contoh) Memeriksa Lampu Check Engine (MIL) Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC) Menghapus Diagnostic Trouble Code (DTC) Tabel Diagnostic Trouble Code (DTC) Table Fail-safe Memeriksa Secara Visual Dasar Pemeriksaan Mesin Diagnosa Gejala Pada Mesin Data Scan Tool Memeriksa ECM dan Sirkuitnya Tabel A-1 Memeriksa Sirkuit Lampu Check Engine Lampu Tidak Menyala saat Kunci Kontak ON (Mesin Mati) Tabel A-2 Memeriksa Sirkuit Lampu Check Engine Lampu Menyala Terus Setelah Mesin Hidup Tabel A-3 Memeriksa Sirkuit Power dan Ground ECM MIL Tidak Menyala saat Kunci Kontak ON dan Mesin Tidak Hidup saat Distarter DTC P0031 Sirkuit HO2S Heater Control Rendah (Bank 1, Sensor 1) DTC P0032 Sirkuit HO2S Heater Control Tinggi (Bank 1, Sensor 1) DTC P0107 Input Sirkuit Manifold Absolute Pressure Rendah DTC P0108 Input Sirkuit Manifold Absolute Pressure Tinggi DTC P0112 Input Sirkuit Intake Air Temperature Sensor 1 Rendah DTC P0113 Input Sirkuit Intake Air Temperature Sensor 1 Tinggi DTC P0117 Sirkuit Engine Coolant Temperature Rendah DTC P0118 Sirkuit Engine Coolant Temperature Tinggi DTC P0122 Sirkuit Throttle Position Sensor A Rendah DTC P0123 Sirkuit Throttle Position Sensor A Tinggi DTC P0134 Terdeteksi Tidak Ada Aktivitas O2 Sensor (HO2S) (Bank 1, Sensor 1) DTC P0335 Sirkuit Crankshaft Position Sensor A DTC P0340 Sirkuit Camshaft Position Sensor A (Bank 1) DTC P0500 Vehicle Speed Sensor A DTC P0601/P0602 Internal Control Module Memory Check Sum Error / Control Module Programming Error Table B-1 Memeriksa Sirkuit Fuel Injector Table B-2 Memeriksa Fuel Pump dan Sirkuitnya Table B-3 Memeriksa Tekanan Bahan Bakar Table B-4 Memeriksa Idle Air Control System Table B-5 Memeriksa Sirkuit Sinyal A/C (Kendaraan dengan Sistim A/C) Table B-6 Memeriksa Sirkuit Sinyal Electric Load Special Tool
2 6-1-2 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Informasi Umum Kebersihan dan Perawatan Mesin pada kendaraan merupakan susunan komponenkomponen yang mempunyai ukuran sangat presisi dengan toleransi hingga 1/1.000 milimeter, sehingga diperlukan kecermatan dan kebersihan saat melakukan perawatan. Dalam bagian ini ada hal-hal yang harus diperhatikan saat perawatan di bagian mesin, terutama bagian yang harus mendapat pelumasan. Di bawah ini dijelaskan prosedur perawatan pada bagian mesin : Saat memasang, gunakan oli yang bersih untuk melumasi komponen yang bergesekan. Komponen seperti valve, piston, piston ring, connecting rod, rod bearing dan crankshaft journal bearing saat dilepas harus sesuai dengan urutan pada prosedur melepas dan dikembalikan ke posisi semula saat memasang. Kabel terminal battery harus dilepas sebelum melakukan perbaikan pada mesin. Pada buku pedoman perbaikan ini keempat cylinder mesin diberi nomor : No.1 (1), No.2 (2), No.3 (3) dan No.4 (4) mulai dari sisi pulley crankshaft ke arah sisi flywheel. Informasi Umum Perawatan Mesin Informasi mengenai perawatan mesin ini harus diperhatikan dengan baik untuk mencegah kerusakan yang dapat mempengaruhi kemampuan mesin. Saat mengangkat mesin untuk perbaikan, jangan mendongkrak di bagian oil pan, hal ini dapat menyebabkan oil pan penyok sehingga menghambat jalannya pelumasan oli ke bagian mesin lainnya. Sistem kelistrikan mesin adalah 12 Volt, jika terjadi hubungan singkat (koslet) dapat mengakibatkan kerusakan komponen. Untuk mencegah hal tersebut, lepas kabel negatif battery sebelum melakukan perbaikan. Ketika melepas air cleaner, air intake hose, throttle body, atau Intake manifold, tutuplah lubang intake manifold. Hal ini untuk mencegah masuknya benda/kotoran kecil yang dapat mengakibatkan kerusakan fatal saat mesin dihidupkan.
3 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Hal-Hal yang Harus Diperhatikan pada Sistim Bahan Bakar Lihat Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan di Bab 6C. 1 Membuang Tekanan Bahan Bakar Setelah kondisi mesin dingin, lakukan langkah berikut ini untuk membuang tekanan bahan bakar. 1) Tuas transmisi pada posisi Netral tarik rem tangan dan ganjal roda. 2) Lepaskan cover bagian dalam glove box. 3) Lepaskan braket ECM. 4) Lepaskan relay fuel pump (1) dari main relay assy. 5) Buka tutup tangki bahan bakar untuk membuang tekanan dalam tangki dan kemudian pasang kembali. 6) Hidupkan mesin dan biarkan hingga mati dengan sendirinya (hingga bahan bakar habis). Kemudian, starter mesin 2-3 kali selama 3 detik untuk membuang tekanan yang terdapat di saluran. Seluruh sambungan bahan bakar kini aman untuk perbaikan. 7) Selesai perbaikan, pasang kembali relay fuel pump. Memeriksa Kebocoran Bahan Bakar Setelah melakukan perbaikan pada sistim bahan bakar, periksa untuk kebocoran, sbb.: 1) ON-kan kunci kontak selama 3 detik (untuk mengoperasikan fuel pump), kemudian putar ke posisi OFF. 2) Ulangi Langkah 1) sebanyak 3 atau 4 kali hingga terasa tekanan pada saluran bahan bakar, dengan cara memegang selang. 3) Pada kondisi ini, periksa kebocoran bahan bakar pada komponen atau sistim bahan bakar.
4 6-1-4 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Uraian Umum Diagnosa Mesin Diagnosa Kendaraan ini dilengkapi dengan sistim kontrol mesin dan emisi yang dikontrol oleh ECM. Sistim kontrol mesin dan emisi pada kendaraan ini dikontrol oleh ECM. ECM memiliki sistim On-Board Diagnostic yang mendeteksi tidak berfungsinya sistim dan ketidak-normalan pada komponen emisi gas buang mesin. Ketika mendiagnosa masalah pada mesin, perhatikan Diagnosa Sistim On-Board dan Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Mendiagnosa Masalah dan lakukan diagnosa sebagaimana pada Memeriksa Sistim Mesin dan Kontrol Emisi. Terdapat hubungan antara mekanisme mesin, sistim pendingin mesin, sistim pengapian, sistim gas buang, dll. dengan sistim kontrol mesin dan emisi pada struktur dan cara kerjanya. Jika terjadi masalah pada mesin, meskipun lampu check engine tidak ON, lakukan diagnosa sesuai Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. Uraian Sistim Diagnosa On-Board ECM mendiagnosa masalah yang dapat terjadi pada komponen berikut saat kunci kontak ON serta mesin hidup dan menunjukkan hasilnya melalui nyala lampu check engine (1). Heated oxygen sensor ECT Sensor TP Sensor IAT Sensor MAP Sensor CMP Sensor CKP Sensor VSS CPU (Central Processing Unit) ECM ECM dan lampu check engine bekerja sebagai berikut. Lampu check engine menyala ketika kunci kontak diputar ke posisi ON (mesin dalam keadaan mati) dengan kondisi terminal switch diagnosa tidak digroundkan tanpa memperhatikan mesin dan sistim kontrol emisi. Hal ini hanya untuk memeriksa lampu check engine dan sirkuitnya. Jika mesin dan sistim kontrol emisi bebas dari masalah setelah mesin hidup (saat mesin hidup), lampu check engine akan OFF. Ketika ECM mendeteksi adanya masalah pada kedua sistim di atas, lampu check engine akan ON saat mesin hidup untuk mengingatkan pengemudi. (Jika ECM mendeteksi adanya 3 driving cycle yang berkelanjutan hal itu berarti normal, akan tetapi, lampu check engine (1) akan tetap OFF meskipun DTC tersimpan dalam memori ECM.) Selama ada yang mengaktifkan (ON) lampu check engine (1) saat kerusakan terdeteksi, 2 driving cycle detection logic digunakan untuk mencegah pendeteksian yang keliru untuk beberapa DTC.
5 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Saat ECM mendeteksi adanya kerusakan diagnostic trouble code (DTC) akan disimpan dalam memori ECM. DTC dapat diperiksa dengan menggunakan SUZUKI scan tool (2). Untuk penjelasan yang lebih rinci mengenai prosedur memeriksa DTC, lihat Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC). Untuk menghapus DTC, lihat petunjuk pada Menghapus Diagnostic Trouble Code (DTC). Warm-up Cycle Warm up cycle artinya pengoperasian kendaraan dari suhu coolant mencapai minimal 22 C (40 F) saat mesin mulai hidup hingga mencapai suhu coolant minimal 71 C (160 F). Driving Cycle Satu Driving Cycle adalah satu periode mulai dari mesin dihidupkan sampai mesin dimatikan. 2 Driving Cycle Detection Logic Kerusakan yang terdeteksi pada driving cycle pertama disimpan dalam memory ECM (dalam bentuk pending DTC) tetapi lampu check engine tidak langsung menyala pada saat ini. Baru menyala saat kerusakan yang sama terdeteksi kedua kalinya pada driving cycle berikutnya. Pending DTC Pending DTC artinya DTC terdeteksi dan disimpan sementara selama 1 driving cycle dan terdeteksi kembali pada 2 driving cycle detection logic. Freeze Frame Data ECM menyimpan data kondisi mesin dan pengendaraan (dalam bentuk data seperti pada gambar) di dalam memory ECM saat kerusakan terdeteksi. Data seperti itu disebut Freeze frame data. Oleh karena itu, mudah sekali untuk melihat kondisi mesin dan pengendaraan (misalnya, apakah mesin sudah cukup panas atau belum, apakah kendaraan berhenti atau jalan, apakah campuran bahan bakar kaya/kurus) saat kerusakan terdeteksi dengan cara melihat freeze frame data. ECM juga dapat menyimpan freeze frame data dari 3 kerusakan berbeda yang terdeteksi. Dengan menggunakan fungsi ini, jumlah kerusakan yang terdeteksi bisa diketahui. Hal tersebut sangat membantu dalam mendiagnosa masalah. Menghapus Freeze Frame Data Freeze frame data akan terhapus bersamaan dengan terhapusnya DTC.
6 6-1-6 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Data Link Connector (DLC) DLC (1) terletak di bagian bawah panel instrumen tempat duduk pengemudi. Serial data line (K line ISO 9141) (3) digunakan SUZUKI scan tool (Tech 2) untuk berkomunikasi dengan ECM. 2. B + (terminal positif battery) 4. ECM ground (Signal Ground) 5. Vehicle body ground (Chassis Ground)
7 Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Mendiagnosa Mesin INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Jangan melepas socket dari ECM, kabel battery, kabel ground ECM dari mesin atau main fuse sebelum mencatat informasi diagnosa (DTC, freeze frame data, dll.) yang tersimpan dalam memori ECM. Dengan melakukan pemutusan tersebut akan menghapus informasi dalam memori ECM. Waktu yang dibutuhkan untuk menghapus DTC: Temperatur luar Di atas 0 C (32 F) Di bawah 0 C (32 F) Waktu untuk memutus power ke ECM 30 detik atau lebih Tidak tercatat. Cari tempat yang temperaturnya lebih tinggi dari 0 C (32 F). Informasi diagnosa yang tersimpan dalam memori ECM dapat dihapus dengan menggunakan SUZUKI scan tool, sama halnya seperti untuk memeriksa. Sebelum menggunakan scan tool, baca buku petunjuk pemakaiannya dengan seksama untuk mendapatkan pemahaman mengenai fungsi yang tersedia dan bagaimana menggunakannya. Baca dengan seksama Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Perbaikan Sirkuit Kelistrikan pada Bab 0A sebelum memeriksa dan amati apa yang tertulis di Bab itu. Penggantian ECM Ketika mengganti ECM, periksa kondisi berikut ini. Mengabaikan pemeriksaan tersebut akan menyebabkan kerusakan pada ECM. Besarnya tahanan semua relay, actuator harus sesuai spesifikasi. MAP sensor dan TP sensor dalam kondisi baik dan tidak ada sirkuit power sensor-sensor ini yang short ke ground.
8 6-1-8 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi Lihat halaman berikut untuk masing-masing langkah. Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Analisa Keluhan Customer 1) Lakukan analisa keluhan customer sesuai Analisa Keluhan Customer. Apakah analisa keluhan customer telah dilakukan? Lanjut Ke langkah 2. Lakukan analisa keluhan customer 2 Memeriksa, Menyimpan dan Menghapus Diagnostic Trouble Code (DTC) 1) Periksa DTC sesuai Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC). Apakah muncul DTC? 3 Memeriksa Secara Visual 1) Lakukan memeriksa secara visual sesuai Memeriksa Secara Visual. Apakah kondisinya rusak? 4 Memeriksa Secara Visual 1) Lakukan memeriksa secara visual sesuai Memeriksa Secara Visual. Apakah kondisinya rusak? 5 Konfirmasi Gejala Masalah 1) Konfirmasikan gejala masalah sesuai Konfirmasi Gejala Masalah. Apakah gejalanya dapat diikenali? 6 Periksa Kembali dan Simpan DTC 1) Periksa kembali DTC sesuai Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC). Apakah muncul DTC? 7 Periksa Kembali dan Simpan DTC 1) Periksa kembali DTC sesuai Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC). Apakah muncul DTC? 8 Dasar Pemeriksaan Mesin dan Tabel Diagnosa Mesin 1) Periksa dan perbaiki sesuai Dasar Pemeriksaan Mesin dan Diagnosa Gejala Mesin. Apakah pemeriksaan dan perbaikan selesai? 9 Perbaikan DTC 1) Periksa dan perbaiki sesuai tabel flow diagnosa DTC, Apakah pemeriksaan dan perbaikan selesai? 10 Pemeriksaan Masalah Sesaat (Terkadang Muncul) 1) Periksa masalah sesaat sesuai Memeriksa Masalah Sesaat. Apakah kondisinya rusak? Print DTC atau catat dan hapus, lihat Menghapus Diagnostic Trouble Code (DTC), dan kemudian lanjut ke langkah 3. Perbaiki atau ganti komponen yang rusak, dan kemudian lanjut ke langkah 11. Lanjut ke langkah 4. Lanjut ke langkah 5. Lanjut ke langkah 8. Lanjut ke langkah 6. Lanjut ke langkah 7. Lanjut ke langkah 9. Lanjut ke langkah 8. Lanjut ke langkah 11. Perbaiki atau ganti komponen yang rusak, kemudian lanjut ke langkah 11. Lanjut ke langkah 10. Periksa dan perbaiki komponen yang rusak, kemudian lanjut ke langkah 11. Lanjut ke langkah 11.
9 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Langkah Tindakan Ya Tidak 11 Tes Akhir 1) Hapus DTC jika ada. 2) Lakukan tes akhir, lihat Tes Akhir. Apakah muncul gejala masalah, DTC atau kondisi tidak normal? Lanjut ke langkah 6. Selesai Langkah 1. Analisa Keluhan Customer Catat data masalah (kerusakan, keluhan) dan kronologis kejadiannya sesuai pembicaraan dengan customer. Untuk ini, gunakan form pemeriksaan untuk mengumpulkan informasi dan hal-hal penting yang diperlukan untuk analisa dan diagnosa yang akurat. Langkah 2. Memeriksa, Menyimpan dan Menghapus Diagnostic Trouble Code (DTC) Pertama-tama, periksa DTC sesuai Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC). Jika DTC muncul, cetak atau catat dan kemudian hapus sesuai Menghapus Diagnostic Trouble Code (DTC). DTC menunjukkan kerusakan pada sistim tetapi tidak menunjukkan waktu kejadiannya, apakah terjadi baru saja atau terjadi beberapa waktu lalu dan kondisi telah kembali normal. Untuk menentukan masalah yang terjadi, periksa gejala yang terjadi sesuai langkah 4 dan cocokkan dengan DTC yang muncul sesuai langkah 5. Lakukan diagnosa sesuai DTC yang muncul, kesalahan menghapus DTC pada langkah ini akan mengaburkan hasil diagnosa, atau kesulitan dalam melakukan perbaikan. Langkah 3. dan 4. Memeriksa Secara Visual Sebagai langkah awal, lakukan memeriksa bagian-bagian yang berhubungan dengan fungsi mesin. Langkah 5. Konfirmasi Gejala Masalah Berdasarkan informasi pada Langkah 1. Analisa Keluhan Customer dan Langkah 2. Memeriksa, Menyimpan dan Menghapus Diagnostic Trouble Code (DTC), konfirmasikan gejala masalah. Dan juga, konfirmasikan DTC sesuai Prosedur Konfirmasi DTC dari masing-masing DTC. Langkah 6. dan 7. Periksa Kembali dan Simpan DTC Lihat Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC) untuk prosedur memeriksa. Langkah 8. Dasar Pemeriksaan Mesin dan Tabel Diagnosa Mesin Lakukan pemeriksaan berdasarkan Dasar Pemeriksaan Mesin. Pertama setelah didapatkan flow table, periksa komponen kemungkinan penyebab kerusakan lihat Diagnosis Masalah Mesin dan berdasarkan gejala yang ada pada kendaraan (keluhan customer, analisa keluhan, identifikasi masalah, dasar pemeriksaan mesin) dan perbaiki atau ganti komponen yang rusak. Langkah 9. Perbaikan DTC (Lihat Tabel Flow masing-masing DTC Diagnosa) Berdasarkan DTC yang muncul pada langkah 5 lihat tabel flow diagnosa DTC, tentukan penyebab masalahnya, misalnyaa sensor, switch, wire harness, konektor, actuator, ECM atau komponen lain dan perbaiki atau ganti komponen yang rusak. Langkah 10. Pemeriksaan Masalah Sesaat (Terkadang Muncul) Periksa komponen yang mudah sekali terjadi masalah sesaat (terkadang muncul) (seperti, wire harness, konektor, dll.), lihat Masalah Masalah Sesaat (Terkadang Muncul) dan Sambungan yang Kendur di Bab 0A dan sirkuit yang berhubungan dengan DTC yang tersimpan di langkah 2. Langkah 11. Tes Akhir Konfirmasikan gejala masalah yang telah diperbaiki dan mesin telah bebas dari kondsi abnormal. Jika muncul DTC masalah yang telah diperbaiki, hapus DTC segera, lakukan prosedur konfirmasi DTC dan pastikan DTC yang sama tidak muncul lagi.
10 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Form Pemeriksaan Masalah Customer (Contoh) Nama: Tgl. Terbit: Model: No. Rangka: Tgl. Pencatatan: Tgl. Masalah: Km.: Sulit dihidupkan Tidak dapat Di-crank Tidak ada pengapian awal Tidak ada pengapian Sulit dihidupkan pada saat: ( Dingin Hangat Selalu) Lain - lain Tidak dapat idle Tidak dapat fast idle Putaran idle tidak normal ( Tinggi Rendah) ( rpm.) Tidak stabil Menyendat ( rpm. hingga rpm.) Lain-lain Pengendaraan tidak nyaman Percepatan kurang Pengapian cepat / Pengapian lambat Tidak bertenaga Menyentak Bunyi tidak normal Lain - lain Mesin Mati saat: Segera setelah di-start Pedal gas ditekan Pedal gas dilepas Ada beban A/C Kelistrikan P/S Lain-lain Lain-lain LAIN-LAIN: KONDISI LINGKUNGAN / KENDARAAN SAAT TERJADI MASALAH Kondisi Lingkungan Cuaca Suhu Frekwensi Jalan Biasa Berawan Hujan Salju Selalu Lain-lain Panas Hangat Sejuk Dingin ( F/ C) Selalu Selalu Terkadang ( kali/ hari,bulan) Hanya Sekali Pada kondisi tertentu Kota Desa Jalan Tol Pegunungan ( Turun / Naik) Jalan Aspal Kerikil Lain-lain Kondisi Kendaraan Kondisi Mesin Kondisi Kendaraan Dingin Pemanasan Panas Selalu Selain saat start Segera setelah start Dipacu tanpa beban Putaran Mesin ( rpm.) Selama pengendaraan: Kecepatan tetap Percepatan Perlambatan Berbelok ke kanan Berbelok ke kiri Saat pindah gigi (posisi ) Berhenti Kecepatan kendaraan ( Km/jam) Lain-lain Kondisi Lampu Cek Engine Selalu ON Terkadang ON Selalu OFF Kondisi baik DTC Pemeriksaan pertama Pemeriksaan kedua : Tidak ada Kode Normal DTC Kode Masalah ( ) : Tidak ada Kode Normal DTC Kode Masalah ( ) CATATAN: Diatas adalah contoh form standar. Lakukan modifikasi sesuai kondisi dan karakteristik masingmasing daerah.
11 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Memeriksa Lampu Check Engine (MIL) 1 1) ON-kan kunci kontak (kondisi mesin mati) dan periksa lampu check engine (1). Jika lampu check engine tidak menyala, lanjut ke Tabel Flow Diagnosa A-1. 2) Hidupkan mesin dan pastikan lampu check engine mati. 3) Jika lampu check engine menyala dan tidak ada DTC pada ECM, lanjut ke Tabel Flow Diagnostic A-2. Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC) 1) Siapkan SUZUKI scan tool. 2) Dengan kunci kontak OFF, hubungkan ke data link connector (DLC) (1) di bagian bawah instrument panel pengemudi. Special tool (A): SUZUKI scan tool (A) 1 3) Putar kunci kontak ke posisi ON dan pastikan lampu check engine menyala. 4) Perhatikan DTC yang muncul kemudian cetak atau catat. Lihat buku petunjuk scan tool untuk lebih jelasnya. Jika komunikasi antara scan tool dan ECM tidak ada, periksa scan tool dengan menghubungkannya ke ECM pada kendaraan lain. Jika komunikasi baik, berarti scan tool dalam kondisi baik. Kemudian, periksa data link connector dan serial data line (sirkuit) pada kendaraan dimana scan tool tidak dapat berkomunikasi. 5) Selesai memeriksa, putar kunci kontak ke posisi OFF dan lepas scan tool dari data link connector.
12 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Menghapus Diagnostic Trouble Code (DTC) 1) Hubungkan SUZUKI scan tool ke data link connector dengan cara yang sama saat melakukan pemeriksaan DTC. 2) Kunci kontak pada posisi ON. 3) Hapus DTC. 4) Selesai menghapus DTC, putar kunci kontak ke posisi OFF dan lepas scan tool dari data link connector. CATATAN: DTC yang tersimpan di dalam memory ECM akan terhapus pada kondisi berikut. Hati-hati jangan mengapus DTC yang belum dicatat. Ketika power ECM terputus (dengan melepas kabel battery, melepas fuse atau melepas connector ECM) Ketika kerusakan yang sama (DTC) tidak dideteksi setelah 40 putaran engine. Waktu yang diperlukan untuk menghapus DTC: Suhu ruang Di atas 0 C (32 F) Di bawah 0 C (32 F) Waktu untuk memutus power ECM 30 detik atau lebih Tidak spesifik. lakukan di daerah dengan suhu di atas 0 C (32 F). Tabel Diagnostic Trouble Code (DTC) No. DTC P0031 P0032 P0107 P0108 P0112 Bagian Sirkuit HO2S Heater Control Rendah (Bank 1, Sensor 1) Sirkuit HO2S Heater Control Tinggi (Bank 1, Sensor 1) Input Sirkuit Manifold Absolute Pressure Rendah Input Sirkuit Manifold Absolute Pressure Tinggi Sirkuit Intake Air Temperature Sensor 1 Rendah Kondisi Kerusakan (DTC akan muncul saat mendeteksi:) Tegangan output HO2S-1 heater lebih kecil dari spesifikasi untuk jangka waktu tertentu saat HO2S-1 bekerja. (1 driving cycle detection logic) Tegangan output HO2S-1 heater lebih besar dari spesifikasi untuk jangka waktu tertentu saat HO2S-1 bekerja. (1 driving cycle detection logic) Tegangan output MAP sensor lebih kecil dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Tegangan output MAP sensor lebih besar dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Tegangan output IAT sensor lebih kecil dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) DTC 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle MIL 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle
13 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN No. DTC P0113 P0117 P0118 P0122 P0123 P0134 P0335 P0340 Sirkuit Intake Air Temperature Sensor 1 Tinggi Sirkuit Engine Coolant Temperature Rendah Sirkuit Engine Coolant Temperature Tinggi Sirkuit Throttle Position Sensor A Rendah Sirkuit Throttle Position Sensor A Tinggi Terdeteksi Tidak Ada Aktivitas pada Sirkuit O2 Sensor (Bank 1, Sensor 1) Sirkuit Crankshaft Position Sensor A Sirkuit Camshaft Position Sensor A (Bank 1) P0500 Vehicle speed sensor A P0601 P0602 Bagian Internal Control Module Memory Check Sum Error Control Module Programming Error Kondisi Kerusakan (DTC akan muncul saat mendeteksi:) Tegangan output IAT sensor lebih besar dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Tegangan output ECT sensor lebih kecil dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Tegangan output ECT sensor lebih besar dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Tegangan output TP sensor lebih kecil dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Tegangan output TP sensor lebih besar dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Tegangan output HO2S kurang dari 0.4V selama 40 detik setelah warming up mesin. (2 driving cycle detection logic) Sinyal output CKP sensor tidak masuk selama 2 detik meskipun sinyal motor starter masuk saat mesin distarter. (1 driving cycle detection logic) Jumlah pulsa sinyal output CMP sensor kurang atau sama dengan 3 selama 6 putaran crankshaft. Sinyal output CMP sensor tidak masuk di antara 75 BTDC dan 5 BTDC sudut crankshaft sebelum langkah kompresi selama 6 putaran crankshaft. (1 driving cycle detection logic) Sinyal speedometer tidak masuk selama 4 detik meskipun kendaraan berjalan dengan fuel cut saat deselerasi. (1 driving cycle detection logic) Data write error atau check sum error (1 driving cycle detection logic, monitoring sekali / 1 driving cycle) Data programming error (1 driving cycle detection logic tetapi MIL tidak menyala) DTC 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 2 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle MIL 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 2 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle 1 driving cycle Tidak ada
14 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Table Fail-safe Saat DTC di bawah ini terdeteksi, ECM memasuki mode fail-safe selama kerusakan berlangsung dan berakhir saat ECM mendeteksi keadaan telah normal kembali. No. DTC Bagian yang Terdeteksi Cara Kerja Fail-Safe P0107 Input sirkuit manifold absolute rendah P0108 P0112 P0113 P0117 P0118 P0122 P0123 Input sirkuit manifold absolute pressure tinggi Input sirkuit intake air temperature rendah Input sirkuit intake air temperature sensor tinggi Input sirkuit engine coolant temperature rendah Input sirkuit engine coolant temperature tinggi Input sirkuit throttle position sensor rendah Input sirkuit throttle position sensor tinggi Engine control bekerja pada tekanan barometric 101 kpa. Engine control bekerja berdasarkan tekanan pada manifold absolute pressure sesuai pembukaan throttle dan putaran mesin. ECM menghentikan IAC feed back control. Engine control bekerja pada suhu IAT 20 C (68 F). ECM menghentikan IAC feed back control. Engine control is sudah dilakukan on the basis of 80 C (176 F) engine coolant temperature. Radiator cooling fan operates continuously. ECM menghentikan IAC feed back control. Engine control bekerja pada posisi throttle 20. P0335 Sirkuit crankshaft position sensor Engine control bekerja dengan hanya menggunakan CMP sensor. Fuel cut bekerja saat putaran mesin lebih dari 4000 r/min. P0340 Sirkuit camshaft position sensor Engine control bekerja dengan hanya menggunakan CKP sensor. Fuel cut bekerja saat putaran mesin lebih dari 4000 r/min. P0500 Vehicle speed sensor ECM menghentikan IAC feed back control
15 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Memeriksa Secara Visual Periksa secara visual komponen dan sistim berikut. Pemeriksaan Bab Referensi Oli mesin jumlah, kebocoran Bab 0B Engine coolant jumlah, kebocoran Bab 0B Bahan bakar jumlah, kebocoran Bab 0B Filter udara kotor, tersumbat Bab 0B Battery jumlah, karat pada terminal Bab 0B Water pump belt tension, rusak Bab 0B Kabel throttle play, memasang Bab 6E-1 Selang vacuum air intake system lepas, kendur, rusak, bengkok Sambungan kabel/harness lepas, gesek Fuse terbakar Bab 8 Komponen memasang Baut kendur Komponen rusak Komponen lain yang dapat diperiksa secara langsung Periksa juga hal-hal berikut saat mesin hidup, jika mungkin Lampu check engine tidak berfungsi cara kerja Bab 6-1 Lampu pengisian battery cara kerja Bab 6H Lampu peringatan tekanan oli cara kerja Bab 8 (Bab 6-1 untuk pemeriksaan) Engine coolant temp. meter cara kerja Bab 8 Fuel level meter cara kerja Bab 8 Udara masuk dari sistim air intake Sistim exhaust kebocoran gas buang, bunyi tidak normal Komponen lain yang dapat diperiksa secara visual
16 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Dasar Pemeriksaan Mesin Pemeriksaan ini sangat penting untuk melakukan perbaikan ketika ECM tidak mendeteksi adanya DTC dan adanya kejanggalan saat memeriksa langsung. Perhatikan tabel flow berikut ini dengan seksama. Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Lanjut ke langkah 2. Lanjut ke Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Periksa apakah tegangan. battery Lanjut ke langkah 3. Charge atau ganti battery. 11 V atau lebih? 3 Apakah mesin bisa distarter? Lanjut ke langkah 4. Lanjut ke Diagnosa di Bab 6G. 4 Apakah mesin bisa hidup? Lanjut ke langkah 5. Lanjut ke langkah 7. 5 Periksa idle speed/iac duty mesin sesuai Memeriksa Idle Speed/Idle Air Control (IAC) Duty di Bab 6E11. Apakah sesuai spesifikasi? 6 Memeriksa ignition timing sesuai Memeriksa dan Penyetelan Ignition Timing di Bab 6F. Apakah hasil memeriksa sesuai spesifikasi? 7 Periksa supply bahan bakar berikut. 1) Periksa apakah jumlah bahan bakar pada tangki cukup?. 2) Putar kunci kontak ke posisi ON selama 2 detik dan kemudian OFF. Apakah tekanan balik (suara) dapat dirasakan pada selang bahan bakar saat kunci kontak di-onkan? 8 Periksa kerja fuel pump. 1) Apakah suara fuel pump terdengar dari lubang pengisian bahan bakar sekitar 2 detik setelah kunci kontak ON dan kemudian berhenti? 9 Memeriksa pengapian busi lihat Tes Pengapian Busi di Bab 6F. Apakah kondisinya baik? 10 Periksa fungsi fuel injector lihat Memeriksa Fuel Injector di Bab 6E1. Apakah kondisinya baik? Lanjut ke langkah 6. Lanjut ke Diagnosa Gejala Mesin. Lanjut ke Diagnosa Gejala Pada Mesin. Periksa komponen yang terhubung dengan ignition control, lihat Bab 6F. Lanjut ke langkah 9. Lanjut ke langkah 8. Lanjut ke Tabel B-3 Memeriksa Tekanan Bahan Bakar. Lanjut ke langkah 10. Lanjut ke Diagnosa Gejala Mesin. Lanjut ke Tabel B-2 Memeriksa Fuel Pump dan Sirkuitnya. Lanjut ke Diagnosa di Bab 6F. Lanjut ke Tabel B-1 Memeriksa Sirkuit Fuel Injector.
17 Diagnosa Gejala Pada Mesin INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Lakukan perbaikan dengan melihat petunjuk pada tabel berikut bila ECM tidak dapat mendeteksi DTC dan tidak ada kerusakan ditemui pada pemeriksaan langsung (visual) dan dasar pemeriksaan mesin sebelumnya. Kondisi Kemungkinan Penyebab Referensi Mesin susah hidup (Mesin bisa Busi rusak Melepas dan Memasang Busi di Bab 6F. distarter) Kabel busi bocor Melepas dan Memasang Kabel Busi di Bab 6F. Sambungan kabel busi kendur atau lepas Melepas dan Memasang Kabel Busi di Bab 6F. Ignition coil rusak Memeriksa Ignition Coil Assy. (termasuk Ignitor) di Bab 6F. Selang atau pipa bahan bakar tersumbat Tabel Flow Diagnosa B-3. Fuel pump tidak berfungsi Tabel Flow Diagnosa B-3. Air masuk dari gasket intake manifold atau gasket throttle body Melepas dan Memasang Throttle Body dan Intake Manifold di Bab 6A. Sistim idle air control rusak Tabel Flow Diagnosa B-4. Sensor ECT atau MAP rusak Engine Coolant Temperature (ECT) Sensor Memeriksa atau Manifold Absolute Pressure (MAP) Sensor Memeriksa di Bab 6E-1. ECM rusak Kompresi rendah Periksa Kompresi di Bab 6A. Busi kendur atau rusak Melepas danmpemasang Busi di Bab 6F. Kompresi bocor dari dudukan valve Memeriksa Cylinder Head dan Valve di Bab 6A. Valve stem bengkok Memeriksa Cylinder Head dan Valve di Bab 6A. Valve spring lemah atau rusak Memeriksa Cylinder Head dan Valve di Bab 6A. Kompresi bocor dari gasket cylinder head Memeriksa Cylinder Head dan Valve di Bab 6A. Ring piston bengkok atau rusak Memeriksa Pistons, Piston rings, Connecting Rods dan Cylinders di Bab 6A. Piston, ring atau cylinder aus Memeriksa Pistons, Piston rings, Connecting Rods dan Cylinders di Bab 6A. PCV valve tidak berfungsi Memeriksa SIstim PCV di Bab 6E-1. Fuel injector rusak Memeriksa Fuel Injector di Bab 6E-1. Crankshaft timing belt pulley rusak Melepas dan Memeriksa Timing Belt dan Tensioner di Bab 6A. Sensor CMP sensing rotor rusak Komponen Rocker Arm, Rocker Arm Shaft dan Camshaft di Bab 6A.
18 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Kondisi Kemungkinan Penyebab Referensi Tekanan oli rendah Viskositas oli tidak standar Penggantian Oli Mesin dan Oil Filter di Bab 0B. Oil strainer tersumbat Membersihkan Oil Pan dan Oil Pump Strainer di Bab 6A. Fungsi oil pump terganggu Membersihkan Oil Pan dan Oil Pump Strainer di Bab 6A. Oil pump relief valve aus Membersihkan Oil Pan dan Oil Pump Strainer di Bab 6A. Celah antar komponen terlalu besar Bunyi tidak normal pada mesin Valve lash tidak tepat Memeriksa Valve dan Cylinder Head di Bab 6A. Catatan: Sebelum memeriksa bunyi Valve stem dan guide aus Memeriksa Valve dan Cylinder Head di Bab 6A. pada bagian mekanik, pastikan: Valve spring lemah atau patah Memeriksa Valve dan Cylinder Head di Bab 6A. busi dan bahan bakar yang Valve tertekuk atau terlipat Memeriksa Valve dan Cylinder Head di Bab 6A. digunakan sesuai spesifikasi. Piston, ring dan cylinder bore aus Memeriksa dan Membersihkan Piston, Piston ring, Connecting Rod dan Cylinder di Bab 6A. Bearing rod aus Memeriksa dan Membersihkan Piston, Piston ring, Connecting Rod dan Cylinder di Bab 6A. Starter pin aus Memeriksa dan Membersihkan Piston, Piston ring, Connecting Rod dan Cylinder di Bab 6A. Mur-mur rod kendur Memeriksa dan Membersihkan Piston, Piston ring, Connecting Rod dan Cylinder di Bab 6A. Tekanan oli rendah Tekanan Oli Rendah pada tabel Bearing aus Memeriksa Main Bearing di Bab 6A. Crankshaft journal aus Memeriksa Crankshaft di Bab 6A. Baut bearing cap kendur Memeriksa Main bearing di Bab 6A Crankshaft thrust play terlalu besar Memeriksa Crankshaft di Bab 6A. Mesin overheat Thermostat tidak berfungsi Memeriksa Thermostat di Bab 6B. Water pump tidak berfungsi dengan baik Memeriksa Water Pump di Bab 6B. Radiator bocor atau tersumbat Memeriksa Radiator di Bab 6B. Grade oli mesin tidak standar Penggantian Oli Mesin dan Oil Filter di Bab 0B. Oil filter atau oil strainer tersumbat Memeriksa Tekanan Oli di Bab 6A. Oil pump tidak berfungsi dengan baik Memeriksa Oil Pressure di Bab 6A. Kontrol sistim radiator fan rusak Tabel Flow Diagnosa B-7. Rem bergesekan Tabel Diagnosa di Bab 5. Clutch selip Tabel Diagnosa di Bab 7C. Gasket cylinder head rusak Memeriksa Valve dan Cylinder Head di Bab 6A.
19 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Kondisi Kemungkinan Penyebab Referensi Bahan bakar boros Sambungan kabel busi bocor atau kendur Melepas dan Memasang Kabel Busi di Bab 6F. Busi rusak (celah tidak standar, timbunan karbon terlalu banyak dan elektroda hangus, Melepas dan Memasang Busi di Bab 6F. dll.) Putaran idle tinggi Putaran idle atau mesin tidak dapat idle pada tabel ini. Kerja sensor TP, ECT atau MAP kendur Memeriksa Throttle Position (TP) Sensor, Memeriksa Sensor Engine Coolant Temperature (ECT) atau Memeriksa Sensor Manifold Absolute Pressure (MAP) di Bab 6E-1. Fuel injector rusak Tabel Flow Diagnosa B-1. ECM rusak Tekanan rendah Tekanan Rendah pada tabel. Dudukan valve kendur Memeriksa Valve dan Cylinder Head di Bab 6A. Rem bergesekan Tabel Diagnosa di Bab 5. Clutch selip Tabel Diagnosa di Bab 7C. Thermostat tidak berfungsi dengan baik Memeriksa Thermostat di Bab 6B. Tekanan ban tidak sesuai Perawatan Ban di Bab 3F. Oli sangat boros Gasket cylinder head rusak Memeriksa Valve dan Cylinder Head di Bab 6A. Oil seal camshaft bocor Melepas dan Memasang Rocker Arm, Rocker Arm Shaft dan Camshaft di Bab 6A. Piston ring lengket Memeriksa dan Membersihkan Piston, Piston ring, Connecting Rod dan Cylinder di Bab 6A. Piston dan cylinder aus Memeriksa dan Membersihkan Piston, Piston ring, Connecting Rod dan Cylinder di Bab 6A. Piston ring groove dan ring aus Memeriksa dan Membersihkan Piston, Piston ring, Connecting Rod dan Cylinder di Bab 6A. Lokasi piston ring gap tidak tepat Memeriksa dan Membersihkan Piston, Piston ring, Connecting Rod dan Cylinder di Bab 6A. Valve stem seal aus atau rusak Membongkar dan Merakit Valve dan Cylinder Head di Bab 6A. Valve stem aus Memeriksa Valve dan Cylinder Head di Bab 6A.
20 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Kondisi Kemungkinan Penyebab Referensi Mesin tersendatsendat Busi rusak atau celah busi tidak standar Melepas dan Memasang Busi di Bab 6F. (Terkadang tidak ada respon saat Kabel busi bocor Melepas dan Memasang Kabel Busi di Bab 6F. pedal gas ditekan di Tekanan bahan bakar tidak sesuai spesifkasi Tabel Flow Diagnosa B-3. semua kecepatan. Seringkali saat pertama kali kendaraan akan berjalan dari kondisi Kerja sensor TP, ECT atau MAP kendur Memeriksa Sensor Throttle Position (TP), Memeriksa Sensor Engine Coolant Temperature (ECT atau Memeriksa Sensor Manifold Absolute Pressure (MAP) di Bab 6E-1. berhenti) Fuel injector rusak Tabel Flow Diagnosa B-1. Rusak ECM Mesin overheat Mesin overheat pada tabel ini. Tekanan rendah Tekanan Rendah pada tabel ini. Hentakan (Tenaga mesin berubah-ubah tanpa ada perubahan tekanan pada pedal gas) Ada ledakan (Pada mesin terjadi letupan saat pembukaan throttle) Kabel busi bocor atau kendur Busi rusak (timbunan carbon, gap dan elektroda terbakar dll.) Variable fuel pressure Selang bahan bakar terjepit atau rusak Fuel pump rusak (fuel filter tersumbat) Sensor MAP tidak berfungsi Fuel injector rusak ECM rusak Busi rusak Kabel busi kendur Engine overheat Fuel filter atau salurannya tersumbat Intake manifold atau gasket throttle body bocor Sensor ECT atau MAP tidak berfungsi Fuel injector rusak ECM rusak Timbunan karbon terlalu banyak Melepas dan memasang Kabel Busi di Bab 6F. Melepas dan Memasang Busi di Bab 6F. Tabel Flow Diagnosa B-3. Memeriksa Sensor Manifold Absolute Pressure (MAP) di Bab 6E-1. Tabel Flow Diagnosa B-1. Melepas dan Memasang Busi di Bab 6F. Melepas dan Memasang Kabel Busi di Bab 6F. Overheat di tabel ini. Tabel Flow Diagnosa B-1 atau Tabel Flow Diagnosa B-2. Melepas dan Memasang Throttle Body dan Intake Manifold di Bab 6A. Memeriksa Sensor Engine Coolant Temperature (ECT) atau Memeriksa Sensor Manifold Absolute Pressure (MAP) di Bab 6E-1. Tabel Flow Diagnosa B-1. Memeriksa dan Membersihkan Piston, Piston ring, Connecting Rod dan Cylinder di Bab 6A.
21 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Kondisi Kemungkinan Penyebab Referensi Mesin tidak bertenaga Busi rusak Melepas dan Memasang Busi di Bab 6F. Ignition coil dengan ignitor rusak Memeriksa Ignition Coil Assy. (termasuk Ignitor) di Bab 6F. Kabel busi kendur atau lepas Melepas dan Memasang Kabel Busi di Bab 6F. Selang atau pipa tersumbat Tabel Flow Diagnosa B-3 Fuel pump tidak berfungsi Tabel Flow Diagnosa B-2 Udara masuk dari gasket intake manifold atau gasket throttle body Melepas dan Memasang Throttle Body dan Intake Manifold di Bab 6A. Mesin overheat Mesin overheat pada tabel ini. Penyetelan kabel gas tidak tepat Penyetelan Kabel Gas di Bab 6E-1. TPS, ECT atau MAP tidak berfunsi Memeriksa Sensor Throttle Position (TP), Memeriksa Sensor Engine Coolant Temperature (ECT) atau Meme-riksa Sensor Manifold Absolute Pressure (MAP di Bab 6E-1. Fuel injector rusak Tabel Flow Diagnosa B-1. ECM rusak Rem bergesekan Tabel Diagnosa di Bab 5. Kopling selip Tabel Diagnosa di Bab 7C. Tekanan rendah Memeriksa Rendah di Bab 6A. Tekanan bahan bakar tidak sesuai spesifikasi Tabel Flow Diagnosa B-3. Putaran idle mesin tidak standar Busi rusak Melepas dan Memasang Busi di Bab 6F. Kabel busi bocor Melepas dan Memasang Kabel Busi di Bab 6F. Ignition coil dengan ignitor rusak Memeriksa Ignition Coil Assy. (termasuk Ignitor) di Bab 6F. Tekanan bahan bakar tidak sesuai spesifikasi Tabel Flow Diagnosa B-3. Gasket Manifold, throttle body, atau cylinder head bocor Sistim idle air control rusak Tabel Flow Diagnosa B-4. Fuel injector rusak Tabel Flow Diagnosa B-1. Sensor ECT, TP atau MAP tidak bekerja Memeriksa Sensor Throttle Position (TP), Memeriksa Sensor Engine Coolant Temperature (ECT) atau Memeriksa Sensor Manifold Absolute Pressure (MAP) di Bab 6E-1. ECM rusak Sambungan selang vacuum kendur PCV valve tidak berfungsi Memeriksa Sistim PCV di Bab 6E-1. Mesin overheat Mesin overheat pada tabel ini. Tekanan rendah Memeriksa Tekanan di Bab 6A.
22 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Kondisi Kemungkinan Penyebab Referensi Emisi hydrocarbon (HC) atau carbon Busi rusak Melepas dan Memasang Busi di Bab 6F. monoxide (CO) berlebihan Kabel busi bocor Melepas dan Memasang Kabel Busi di Bab 6F. Ignition coil dengan ignitor rusak Memeriksa Ignition Coil Assy. (termasuk Ignitor) di Bab 6F. Kompresi rendah Memeriksa Kompresi di Bab 6A. Catalytic converter terkontaminasi timbal Periksa dari kemungkinan tidak adanya filler neck restrictor. Sistim evaporative emission control rusak Memeriksa Sistim Evaporative Emission Control di Bab 6E-1. Tekanan bahan bakar tidak sesuai spesifikasi Tabel Flow Diagnosa B-3. Closed loop system (A/F feed back compensation) gagal TP sensor rusak Throttle Position (TP) Sensor Inspection di Bab 6E-1. ECT sensor atau MAP sensor lemah Memeriksa ECT Sensor atau Memeriksa Manifold Absolute Pressure (MAP) Sensor di Bab 6E-1. Injector rusak Tabel Flow Diagnosa B-1. ECM rusak Mesin tidak pada temperatur kerja normal Saringan udara tersumbat Vacuum bocor Emisi nitrogen oxides (NOx) berlebihan Ignition timing tidak tepat Memeriksa Ignition Timing di Bab 6F. Catalytic converter terkontaminasi timbal Periksa dari kemungkinan tidak adanya filler neck restrictor. Tekanan bahan bakar tidak sesuai spesifikasi Tabel Flow Diagnosa B-3. Closed loop system (A/F feed back compensation) gagal TP sensor rusak Throttle Position (TP) Sensor Inspection di Bab 6E-1. ECT sensor atau MAP sensor lemah Memeriksa ECT Sensor atau Memeriksa Manifold Absolute Pressure (MAP) Sensor di Bab 6E-1. Injector rusak Tabel Flow Diagnosa B-1. ECM rusak
23 Data Scan Tool INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Data di bawah ini adalah nilai standar pada kondisi pengendaraan normal dengan menggunakan SUZUKI scan tool, yang dapat digunakan sebagai referensi. Meski kendaraan dalam kondisi baik, dalam beberapa kasus hasil pemeriksaaan mungkin tidak sesuai dengan spesifikasi. Karenanya, kondisi abnormal kendaraan tidak dapat didasarkan hanya pada data ini semata. Kondisi pada tabel di bawah ini dapat diperiksa dengan menggunakan scan tool yang dideteksi oleh ECM dan output dari ECM berupa perintah-perintah dan pada beberapa kasus dimana mesin atau actuator tidak beroperasi sebagaimana ditunjukkan oleh scan tool. Gunakan timing light untuk memeriksa waktu pengapian. CATATAN: Ketika memeriksa data dengan kondisi mesin pada putaran idle atau tinggi, pindahkan tuas transmisi (M/T) ke posisi netral dan tarik rem tangan secara penuh. Jika mengindikasikan tidak ada beban, matikan A/C (jika dilengkapi), semua beban kelistrikan dan switch lainnya. Data Scan Tool COOLANT TEMP (ENGINE COOLANT TEMP.) INTAKE AIR TEMP Kondisi Kendaraan Pada putaran idle sesuai spesifikasi setelah pemanasan Pada putaran idle sesuai spesifikasi setelah pemanasan Kondisi Normal / Nilai Standar C, F 5 C (23 F) + suhu di sekitar hingga 40 C (104 F) + suhu di sekitar. Desired idle speed ±50 r/min ENGINE SPEED Pada putaran idle tanpa beban setelah pemanasan DESIRED IDLE Pada putaran idle dan semua komponen (DESIRED IDLE SPEED) kelistrikan OFF setelah pemanasan 750 r/min IAC FLOW DUTY Pada putaran idle dan tanpa beban setelah (IDLE AIR CONTROL pemanasan FLOW DUTY) 5 30% IGNITION ADVANCE (IGNITION TIMING Pada putaran idle sesuai spesifikasi tanpa beban ADVANCE FOR NO.1 setelah pemanasan 8 16 BTDC CYLINDER) Pada putaran idle sesuai spesifikasi tanpa beban INJ PULSE WIDTH msec setelah pemanasan (FUEL INJECTION PULSE Pada putaran mesin 2500 r/min tanpa beban WIDTH) msec setelah pemanasan BATTERY VOLTAGE Kunci kontak ON/mesin mati V THROTTLE POSITION Kunci kontak ON/ Pedal gas tidak ditekan 4 19% (ABSOLUTE THROTTLE setelah panas POSITION) mesin dimatikan Pedal gas ditekan penuh 60 90% TP SENSOR VOLT (THROTTLE POSITION SENSOR OUTPUT VOLTAGE) SHORT FT B1 (SHORT TERM FUEL TRIM) LONG FT B1 (LONG TERM FUEL TRIM) Kunci kontak ON/ setelah panas mesin dimatikan Pedal gas tidak ditekan Pedal gas ditekan penuh Pada putaran idle sesuai spesifikasi setelah pemanasan Pada putaran idle sesuai spesifikasi setelah pemanasan V Kurang dari 4.8 V % %
24 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN MAP (INTAKE MANIFOLD ABSOLUTE PRESSURE) Pada putaran idle sesuai spesifikasi tanpa beban setelah pemanasan, sistim A/C tidak bekerja kpa VEHICLE SPEED Kendaraan dalam keadaan diam 0 km/h O2S B1 S1 (HEATED Pada putaran idle sesuai spesifikasi setelah OXYGEN SENSOR-1) pemanasan V O2S B1 S1 ACT Pada putaran idle sesuai spesifikasi setelah (HEATED OXYGEN pemanasan SENSOR-1 SIGNAL) ACTIVE BAROMETRIC PRES Menampilkan barometric pressure TOTAL FUEL TRIM B1 Pada putaran idle sesuai spesifikasi setelah pemanasan % CANIST PRG DUTY (EVAP CANISTER PURGE FLOW DUTY) FUEL SYSTEM (FUEL SYSTEM STATUS) FUEL PUMP FUEL CUT Data Scan Tool CLOSED THROTTLE POS (CLOSED THROTTLE POSITION) A/C SWITCH (jika dilengkapi A/C) A/C MAG CLUTCH (jika dilengkapi A/C) A/C COND FAN (A/C CONDENSER COOLING FAN CONTROL RELAY) (jika dilengkapi A/C) BLOWER FAN STARTER SW (STARTER SWITCH) Kondisi Kendaraan Pada putaran idle sesuai spesifikasi setelah pemanasan, sistim A/C tidak bekerja Pada putaran idle sesuai spesifikasi setelah pemanasan Selama 2 detik setelah kunci kontak ON atau mesin hidup Mesin mati dan kunci kontak ON Saat mesin dalam kondisi fuel cut Selain kondisi fuel cut Throttle valve pada posisi idle Throttle valve terbuka lebih besar dari posisi idle Mesin hidup setelah pemanasan, sistim A/C tidak bekerja Mesin hidup setelah pemanasan, sistim A/C bekerja Switch A/C dan switch motor blower ON Mesin hidup Switch A/C dan switch motor blower OFF Swich blower fan ON dan switch A/C atau defroster ON saat mesin hidup. Mesin hidup Swich blower fan dan/atau switch A/C atau defroster OFF. Swich blower fan pada Kunci kontak ON posisi 1 atau lebih Swich blower fan OFF Kunci kontak pada posisi START (mesin distarter) Kunci kontak pada posisi selain START Kondisi Normal / Nilai Standar 0% CLSD ON OFF ON OFF ON OFF OFF ON ON OFF ON OFF ON OFF ON OFF
25 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Data Scan Tool ELECTRIC LOAD BRAKE SWITCH Kondisi Kendaraan Kunci kontak ON/lampu besar, clearance light dan/atau motor blower OFF Kunci kontak ON/lampu besar dan/atau clearance light ON Pedal rem tidak diinjak Kunci kontak ON Pedal rem diinjak Kondisi Normal / Nilai Standar OFF ON OFF ON Definisi Data Scan Tool COOLANT TEMP (ENGINE COOLANT TEMPERATURE, C, F) Dideteksi oleh engine coolant temp. sensor. INTAKE AIR TEMP ( C, F) Dideteksi oleh intake air temp. sensor. ENGINE SPEED (rpm) Komputerisasi berdasarkan pulsa dari crankshaft position sensor. DESIRED IDLE (DESIRED IDLE SPEED, rpm) Desired Idle Speed adalah putaran idle sesuai parameter internal ECM yang menunjukkan putaran idle yang diinginkan ECM. Jika mesin tidak hidup, besarannya tidak valid. IAC FLOW DUTY (IDLE AIR (SPEED) CONTROL DUTY, %) Parameter ini menunjukkan besar arus pada putaran IAC valve (rata-rata pembukaan valve) yang mengontrol jumlah udara langsung (bypass) (putaran idle). IGNITION ADVANCE (IGNITION TIMING ADVANCE FOR NO.1 CYLINDER, ) Waktu pengapian cylinder No.1 berdasarkan perintah dari ECM. Waktu pengapian secara aktual harus diperiksa dengan menggunakan timing light. INJ PULSE WIDTH (FUEL INJECTION PULSE WIDTH, msec) Menunjukkan waktu injector drive (pembukaan valve) berdasarkan pulsa dari ECM (tetapi waktu injector drive cylinder NO.1 untuk multiport fuel injection). BATTERY VOLTAGE (V) Parameter ini menunjukkan tegangan positif battery yang masuk dari main relay ke ECM. THROTTLE POS (ABSOLUTE THROTTLE POSITION, %) Saat posisi TP sensor tertutup penuh, pembukaan throttle mengindikasikan 4 19% dan 60 90% pada posisi terbuka penuh. TP SENSOR VOLT (THROTTLE POSITION SENSOR OUTPUT VOLTAGE, V) TP Sensor membaca informasi pembukaan throttle valve dalam bentuk voltage. SHORT FT B1 (SHORT TERM FUEL TRIM, %) Pengurangan jumlah bahan bakar sebagai koreksi pemasukan campuran udara/bahan bakar dalam waktu yang pendek. Nilai 0 menunjukkan tidak adanya koreksi, lebih dari 0 menunjukkan adanya koreksi pengayaan, dan kurang dari 0 menunjukkan koreksi pengurangan. LONG FT B1 (LONG TERM FUEL TRIM, %) Pengurangan jumlah bahan bakar sebagai koreksi pemasukan campuran udara/bahan bakar dalam waktu yang panjang. Nilai 0 menunjukkan tidak adanya koreksi, lebih dari 0 menunjukkan adanya koreksi pengayaan, dan kurang dari 0 menunjukkan koreksi pengurangan.
26 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN MAP (MANIFOLD ABSOLUTE PRESSURE, mmhg, kpa) Nilai yang menunjukkan berapa banyak koreksi yang dibutuhkan untuk menjaga campuran bahan bakar/udara (sesuai pembacaan C.O tester). Hal tersebut dideteksi oleh MAP sensor. VEHICLE SPEED (km/h) Berdasarkam komputerisasi dari sinyal pulsa combination meter. O2S SENSOR B1 S1 (HEATED OXYGEN SENSOR-1, V) Mengindikasikan tegangan output HO2S-1 yang terpasang pada exhaust manifold (sebelum catalyst). O2S B1 S1 ACT (HEATED OXYGEN SENSOR-1 SIGNAL BANK 1, SENSOR 1, ACTIVE / INACTIVE) Parameter ini menunjukkan kondisi aktivasi HO2S-2 AKTIF: Aktivasi INACTIVE: Pemanasan atau stop. BAROMETRIC PRESS (kpa, in.hg) Parameter ini menunjukkan pengukuran tekanan udara barometric dan digunakan untuk koreksi jumlah penginjeksian bahan bakar dan IAC valve control. TOTAL FUEL TRIM B1 (%) Total pengurangan bahan bakar berdasarkan penghitungan pengurangan jumlah bahan bakar dalam waktu pendek (Short Term Fuel Trim) dan pengurangan jumlah bahan bakar dalam waktu panjang (Long Term Fuel Trim). Jumlah tersebut menunjukkan seberapa banyak koreksi yang dibutuhkan untuk menjaga campuran udara/bahan bakar sesuai stoichiometric. CANIST PRG DUTY (EVAP CANISTER PURGE FLOW DUTY, %) Parameter ini menunjukkan waktu rata-rata saat valve ON (valve membuka) sesuai putaran EVAP canister purge valve yang mengontrol jumlah EVAP purge. FUEL SYSTEM (FUEL SYSTEM STATUS, OPEN / CLSD / OP DC / OP SF / CL O2) Air/fuel ratio feedback loop status ditampilkan berikut ini. OPEN: Open-loop belum mencapai kondisi close loop. CLSD (CLOSED): Close-loop menggunakan oxygen sensor sebagai feedback fuel control. OP DC (OPEN-DRIVE CONDITION): Open-loop sesuai kondisi pengendaraan (Power enrichment, dll.). OP SF (OPEN SYSTEM FAULT): Open-loop terdeteksi kerusakan sistim. CL O2 (CLOSED-ONE HO2S): Closed loop, tetapi gagal dengan setidaknya satu oxygen sensor-atau menggunakan single oxygen sensor untuk fuel control. FUEL PUMP (ON/OFF) ON terdisplay saat ECM mengaktifkan fuel pump melalui fuel pump relay switch. FUEL CUT (ON/OFF) ON: Bahan bakar terputus (output signal ke injector dihentikan) OFF: Bahan bakar tidak terputus CLOSED THROTTLE POSITION (ON/OFF) Parameter ini membaca ON saat throttle valve menutup penuh, atau OFF saat tidak menutup penuh. A/C SWITCH (ON/OFF) ON: Perintah untuk menghidupkan A/C dikirim dari ECM ke A/C amplifier. OFF: Perintah untuk menghidupkan A/C tidak dikirim. A/C MAG SWITCH (A/C COMPRESSOR RELAY, ON/OFF) Parameter ini menunjukkan berfungsinya A/C switch. A/C COND FAN (A/C CONDENSER COOLING FAN CONTROL RELAY, ON / OFF) ON: Perintah ON dikeluarkan ke A/C condenser cooling fan relay. OFF: Tidak ada perintah yang dikeluarkan.
27 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN BLOWER FAN (ON/OFF) Parameter ini menunjukkan berfungsinya blower motor switch. STARTER SW (STARTER SWITCH, ON / OFF) Parameter ini menunjukkan kondisi output starting motor relay. ON: Starting motor relay ON OFF: Starting motor relay OFF ELECTRIC LOAD (ON/OFF) ON: Sinyal ON lampu besar, clearance light, dan/atau rear defogger. OFF: Semua beban kelistrikan di atas OFF. BRAKE SW (ON/OFF) Parameter ini menunjukkan berfungsinya switch lampu rem.
28 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Memeriksa ECM dan Sirkuitnya ECM dan sirkuitnya dapat diperiksa melalui konektor kabel ECM dengan mengukur tegangan, pulse signal dan resistan. PERHATIAN: ECM tidak dapat diperiksa secara langsung. Jangan menghubungkan voltmeter atau ohmmeter ke ECM dengan soket dilepas. Memeriksa tegangan 1 1) Lepas ECM (1) dari bodi kendaraan sesuai Melepas dan Memasang Engine Control Module (ECM) di Bab 6E1. 2) Periksa tegangan dan sinyal pulsa pada masing-masing terminal soket (2) yang terhubung, menggunakan voltmeter (3) dan oscilloscope (4). CATATAN: Tegangan masing-masing terminal sesuai tegangan battery, besarnya 11 V atau lebih saat kunci kontak ON. Pulse signal tidak bisa diperiksa dengan voltmeter. Periksalah dengan oscilloscope jika perlu. [A] 1 C01 C02 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 1. ECM
29 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Nomor Terminal C01 Sirkuit 1 Sinyal starter mesin 2 Fuel injector No.4 3 Fuel injector No.3 4 Fuel injector No.2 5 Fuel injector No.1 Tegangan Kondisi Normal 6 12 V Saat menstarter mesin 0 1 V Selain kondisi di atas Lihat Referensi bentuk gelombang No.4, No.5, No.6 & No.16. Lihat Referensi bentuk gelombang No.4, No.5, No.7 & No.16. Lihat Referensi bentuk gelombang No.4, No.5, No.8 & No.16. Lihat Referensi bentuk gelombang No.4, No.5, No.9 & No Ground Di bawah 0.3 V Kunci kontak ON 7 Ground Di bawah 0.3 V Kunci kontak ON 8 IAC valve Lihat Referensi bentuk gelombang No Fuel pump relay 0 1 V Selama 2 detik dari kunci kontak dionkan V Setelah 2 detik dari kunci kontak dionkan 11 Condenser fan relay (jika V Mesin hidup, A/C tidak bekerja dilengkapi) 0 1 V Mesin hidup, A/C bekerja 12 A/C compressor relay (jika dilengkapi) V Mesin hidup, A/C tidak bekerja 0 1 V Mesin hidup, A/C bekerja Main relay V Kunci kontak OFF V Kunci kontak ON Ignition coil assembly (untuk busi No.2 dan No.3) Lihat Referensi bentuk gelombang No Ignition coil assembly (untuk busi No.1 dan No.4) Lihat Referensi bentuk gelombang No.3 dan No
30 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Nomor Tegangan Sirkuit Terminal Normal Kondisi 1 Ground Di bawah 0.3 V Kunci kontak ON 2 Power source V Kunci kontak ON 3 Power source V Kunci kontak ON 4 5 Shield wire ground CKP sensor Di bawah 0.3 V Kunci kontak ON 6 7 Heater HO2S-1 Lihat Referensi bentuk gelombang No.18 dan No Power source MAP sensor V Kunci kontak ON 9 Power source sensor-sensor V Kunci kontak ON MAP sensor signal Lihat Referensi bentuk gelombang No TP sensor signal V Kunci kontak ON dan throttle valve pada posisi idle (mesin pada temp. kerja) V Kunci kontak ON dan throttle valve terbuka penuh 13 Heated oxygen sensor-1 Lihat Referensi bentuk gelombang No.18 dan No V Kunci kontak ON, ECT pada 20 C (68 F) V Kunci kontak ON, ECT pada 80 C (176 F) 15 ECT sensor signal Kunci kontak ON, ECT pada 110 C V (230 F) C V Kunci kontak ON, IAT pada 20 C (68 F) 16 IAT sensor signal 0.52 V Kunci kontak ON, IAT pada 80 C (176 F) 0.20 V Kunci kontak ON, IAT pada 120 C (248 F) 17 CKP sensor signal (+) Lihat Referensi bentuk gelombang No.10 dan No EVAP canister purge valve (jika dilengkapi) Lihat Referensi bentuk gelombang No Sensor ground Di bawah 0.3 V Kunci kontak ON 29 Sensor ground Di bawah 0.3 V Kunci kontak ON CMP sensor signal Lihat Referensi bentuk gelombang No.10 dan No CKP sensor signal ( ) Lihat Referensi bentuk gelombang No.10 dan No VSS signal/reed switch Lihat Referensi No
31 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Nomor Tegangan Sirkuit Terminal Normal Kondisi 1 2 Blower fan switch V Kunci kontak ON, blower fan selector OFF 0 1 V Kunci kontak ON, blower fan selector pada posisi 1 atau lebih 3 4 Switch lampu rem 0 1 V Kunci kontak ON, switch lampu rem OFF V Kunci kontak ON, switch lampu rem ON 5 Kunci kontak V Kunci kontak ON 6 7 Power source for back-up V Setiap saat 8 A/C evap. temperature sensor V Mesin hidup, A/C tidak bekerja 0 1 V Mesin hidup, A/C bekerja 9 10 Kunci kontak ON, tekanan refrigerant A/C 0 1 V A/C pressure switch (jika di bawah 1500 kpa (15 kg/cm 2, 218 psi) dilengkapi) Kunci kontak ON, tekanan refrigerant A/C V 1500 kpa (15 kg/cm 2, 218 psi) atau lebih 11 Lighting switch signal 0 1 V Kunci kontak ON, position lamp OFF V Kunci kontak ON, position lamp ON 12 E Tacho signal output (jika dilengkapi) Lihat Referensi bentuk gelombang No.14 dan No Malfunction indicator lamp 0 1 V Kunci kontak ON, mesin OFF V Mesin hidup 17 Serial communication line pada data link connector V Kunci kontak ON Ground (jika dilengkapi sistim A/C) Dibawah 0.3 V kunci kontak ON
32 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Referensi bentuk gelombang No.1 IAC valve signal: Output signal berupa active low duty pulse. Duty ratio ditentukan oleh beban mesin dan desired idle speed. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C01-8 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV TIME: 4 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal Referensi bentuk gelombang No.2 Sinyal ignition coil No.2 dan No.3 (2): Output signal berupa active high pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C01-31 ke C02-1 CH1: 2 V/DIV, CH2: 2 V/DIV TIME: 40 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal 1. Cylinder reference signal (CMP reference signal) Referensi bentuk gelombang No.3 Sinyal ignition coil No.1 dan No.4 (2): Output signal berupa active high pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C01-32 ke C02-1 CH1: 2 V/DIV, CH2: 2 V/DIV TIME: 40 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal 1. Cylinder reference signal (CMP reference signal)
33 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Referensi bentuk gelombang No.4 Fuel injector (2) dan CMP sensor (1) signals: Output signal is active low pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C01-4 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV, CH2: 20 V/DIV TIME: 4 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal a. Fuel injection pulse width: 2 4 msec. Referensi bentuk gelombang No.5 Sinyal fuel injector (2) dan CMP sensor (1): Output signal berupa active low pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C01-4 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV, CH2: 20 V/DIV TIME: 10 ms/div Saat mesin distarter setelah warm up 3. Injection pulse width: 6 12 msec. Referensi bentuk gelombang No.6 Sinyal fuel injector No.4 (2): Output signal berupa active low pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C01-2 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV, CH2: 20 V/DIV TIME: 40 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal 1. Cylinder reference signal (CMP reference signal)
34 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Referensi bentuk gelombang No.7 Sinyal fuel injector No.3 (2): Output signal berupa active low pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C01-3 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV, CH2: 20 V/DIV TIME: 40 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal 1. Cylinder reference signal (CMP reference signal) Referensi bentuk gelombang No.8 Sinyal fuel injector No.2 (2): Output signal berupa active low pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C01-4 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV, CH2: 20 V/DIV TIME: 40 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal 1. Cylinder reference signal (CMP reference signal) Referensi bentuk gelombang No.9 Sinyal fuel injector No.1 (2): Output signal berupa active low pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C01-5 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV, CH2: 20 V/DIV TIME: 40 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal 1. Cylinder reference signal (CMP reference signal)
35 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Referensi bentuk gelombang No.10 Sinyal CMP sensor (1) dan CKP sensor (2) : Sinyal CMP sensor berupa pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. 2 pulse dihasilkan oleh 1 putaran camshaft. Sinyal CKP sensor berupa gelombang sinusoidal. Frequency gelombang bervariasi tergantung dari putaran mesin. 30 pulse dihasilkan oleh 1 putaran crankshaft. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C02-17 ke C02-33 CH1: 2 V/DIV, CH2: 1 V/DIV TIME: 40 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal Referensi bentuk gelombang No.11 Sinyal CMP sensor (1) dan CKP sensor (2) : Sinyal CMP sensor berupa pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. 2 pulse dihasilkan oleh 1 putaran camshaft. Sinyal CKP sensor berupa gelombang sinusoidal. Frequency gelombang bervariasi tergantung dari putaran mesin. 30 pulse dihasilkan oleh 1 putaran crankshaft. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: C02-17 ke C02-33 CH1: 2 V/DIV, CH2: 1 V/DIV TIME: 20 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal Referensi bentuk gelombang No.12 Sinyal MAP sensor (1) dan TP sensor (2) : Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-11 ke C02-28 CH2: C02-12 ke C02-28 CH1: 2 V/DIV, CH2: 2 V/DIV TIME: 200 ms/div Mesin digas setelah warm up Barometric pressure pada 100 kpa (760 mm Hg)
36 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Referensi No.13 Sinyal kecepatan kendaraan (1): Sinyal berupa pulse dengan frequency bervariasi tergantung dari kecepatan kendaraan. Terminal yang diukur Hasil pengukuran C02-34 ke C02-1 Kendaraan berhenti : 0V Kendaraan berjalan : 1 5V Referensi bentuk gelombang No.14 Sinyal ignition pulse (putaran mesin) (2): Output signal berupa pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. 2 pulse dihasilkan oleh 1 putaran crankshaft. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: E01-15 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV, CH2: 5 V/DIV TIME: 40 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal 1. Cylinder reference signal (CMP reference signal) Referensi bentuk gelombang No.15 Sinyal ignition pulse (putaran mesin) (2): Output signal berupa pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. 2 pulse dihasilkan oleh 1 putaran crankshaft. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-32 ke C02-1 CH2: E01-15 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV, CH2: 5 V/DIV TIME: 10 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal 1. Cylinder reference signal (CMP reference signal)
37 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Referensi bentuk gelombang No.16 Sinyal ignition coil (1), fuel injector (2), CMP sensor (3) dan motor starter (4) : Sinyal ignition coil berupa active high pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Sinyal fuel injector berupa active low pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. Sinyal CMP sensor berupa pulse. Pulse frequency bervariasi tergantung dari putaran mesin. 2 pulse dihasilkan oleh 1 putaran camshaft. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C01-32 ke C02-1 CH2: C01-5 ke C02-1 CH3: C02-32 ke C02-1 CH4: C01-1 ke C02-1 CH1: 5 V/DIV, CH2: 50 V/DIV CH3: 5 V/DIV, CH4: 10 V/DIV TIME: 100 ms/div Saat mesin distarter.
38 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Referensi bentuk gelombang No.18 Sinyal heated oxygen sensor-1 (1) dan heated oxygen sensor-1 heater (2) : Output signal berupa active low duty pulse. Duty ratio bervariasi tergantung dari kondisi mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-13 ke C02-1 CH2: C02-7 ke C02-1 CH1: 500 mv/div, CH2: 10 V/DIV TIME: 1 s/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal Referensi bentuk gelombang No.19 Sinyal heated oxygen sensor-1 (1) dan heated oxygen sensor-1 heater (2) : Output signal berupa active low duty pulse. Duty ratio bervariasi tergantung dari kondisi mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-13 ke C02-1 CH2: C02-7 ke C02-1 CH1: 500 mv/div, CH2: 10 V/DIV TIME: 200 ms/div Mesin pada putaran idle dan pada suhu kerja normal Referensi bentuk gelombang No.21 Sinyal EVAP canister purge valve : Output signal berupa 10 Hz duty pulse. Duty ratio bervariasi tergantung dari kondisi mesin. Terminal yang diukur Setelan oscilloscope Kondisi pengukuran CH1: C02-18 ke C02-1 CH1: 20 V/DIV TIME: 40 ms/div Mesin hidup pada putaran idle setelah warm up Setel EVAP canister purge valve pada 52% dengan menggunakan MISC. Test pada SUZUKI scan tool
39 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Memeriksa Resistan 1) Lepaskan ECM couplers (1) dari ECM saat kunci kontak OFF. PERHATIAN: Jangan menyentuh langsung terminal ECM atau menghubungkan dengan voltmeter atau ohmmeter (2). 2) Periksa resistan setiap pasang terminal dari konektor yang dilepas seperti tabel di bawah.. PERHATIAN: Hubungkan ohmmeter probe melalui sisi wire harness dari konektor. OFF-kan kunci kontak selama pemeriksaan. Resistan pada tabel di bawah adalah kondisi dimana suhu komponen pada 20 C (68 F). Terminal Sirkuit Standard Resistan Kondisi C01-5 ke C02-2/3 Fuel injector No Ω C01-4 ke C02-2/3 Fuel injector No Ω C01-3 ke C02-2/3 Fuel injector No Ω C01-2 ke C02-2/3 Fuel injector No Ω C02-7 ke C02-2/3 HO2S-1 heater Ω C02-18 ke C02-2/3 EVAP canister purge valve Ω C01-10 ke E01-5 Fuel pump relay Ω C01-15 ke E01-7 Main relay Ω Battery dilepas C02-1 ke Body ground Ground Terhubung C01-6 ke Body ground Ground Terhubung C01-7 ke Body ground Ground Terhubung
40 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Tabel A-1 Memeriksa Sirkuit Lampu Check Engine Lampu Tidak Menyala saat Kunci Kontak ON (Mesin Mati) Wiring Diagram [A] 7 BLK/WHT [B] BLK/WHT PPL 5 PPL E01-16 GRN 4 BLK/WHT E WHT/BLU YEL/BLK BLK/ORN C01-15 BLK/RED C A 60A 15A BLK/RED C02-3 C01-6 BLK/YEL C01-7 BLK/YEL C02-1 BLK 1 [C] 7 C01 C02 E [A]: Kendaraan dengan tachometer 2. Relay/fuse box 6. Main relay [B]: Kendaraan tanpa tachometer 3. Kunci kontak 7. ECM [C]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 4. Sirkuit fuse 1. Battery 5. Lampu check engine (MIL) Uraian Sirkuit Ketika kunci kontak ON, ECM mengaktifkan main relay untuk ON (contact point menutup). Dengan demikian ECM mempunyai power untuk menyalakan (ON) lampu check engine (MIL). Ketika mesin mulai hidup dan tidak terdeteksi adaya kerusakan pada sistim, lampu tersebut akan OFF tetapi jika dideteksi adanya kerusakan, MIL akan ON meski mesin hidup.
41 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Memeriksa power supply MIL Ke langkah 4. Ke langkah 2. 1) ON-kan kunci kontak. Apakah lampu peringatan yang lain ON? 2 Memeriksa fuse sirkuit 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Periksa fuse dari kemungkinan putus pada sirkuit fuse. Apakah sirkuit fuse untuk combination meter dalam kondisi baik? Ke langkah 3. Ganti fuse sirkuit dan periksa dari kemungkinan konslet. 3 Memeriksa power supply MIL 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Lepas combination meter sesuai petunjuk Melepas dan Memasang Combination Meter pada Bab 9C. 3) Periksa kondisi sambungan pada konektor combination meter terminal BLK/WHT. 4) Jika baik, lalu ON-kan kunci kontak dan ukur tegangan antara konektor combination meter terminal BLK/WHT dan body ground. Apakah tegangan V? 4 Memeriksa power supply MIL 1) Lepaskan konektor ECM E01. 2) Periksa kondisi sambungan konektor ECM pada terminal E ) Jika baik, ukur tegangan antara terminal E01-16 dan body ground saat Kunci kontak ON. Apakah tegangan V? 5 Memeriksa power supply MIL 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Ganti combination meter sesuai petunjuk Melepas dan Memasang Combination Meter pada Bab 9C. 3) Periksa kondisi sambungan konektor combination meter pada terminal PPL. 4) Jika baik, ukur resistan antara kabel terminal PPL combination meter dan terminal E01-16 pada konektor ECM. Apakah resistan 2 Ω atau kurang? 6 Memeriksa sirkuit power dan ground ECM 1) Pasang konektor combination meter. 2) Gunakan service wire, ground-kan terminal C01-7 dari konektor ECM yang dilepas. Apakah MIL hidup saat kunci kontak ON? Ganti combination meter. Sirkuit kabel BLK/WHT putus. Jika baik, periksa sirkuit power supply combination meter. Ke langkah 6. Ke langkah 5. Periksa kondisi bohlam MIL (kendaraan tanpa tachometer). Jika baik, ganti combination meter. Periksa sirkuit power dan ground ECM sesuai petunjuk Tabel Flow Diagnosa A-5. Jika baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Sirkuit kabel PPL putus atau konslet. Periksa kondisi bohlam MIL (kendaraan tanpa tachometer). Jika baik, ganti combination meter.
42 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Tabel A-2 Memeriksa Sirkuit Lampu Check Engine Lampu Menyala Terus Setelah Mesin Hidup Wiring Diagram/Uraian Sirkuit Lihat Tabel A-1 Memeriksa Sirkuit Lampu Check Engine Lampu Tidak Menyala saat Kunci Kontak ON (Mesin Mati). Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC) 1) Periksa DTC sesuai petunjuk Memeriksa Diagnostic Trouble Code (DTC). Apakah ada DTC yang lain? Ke langkah 2 pada Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. Ke langkah 2. 2 Memeriksa sirkuit MIL 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Lepaskan konektor dari ECM. Apakah MIL ON saat kunci kontak ON? Sirkuit kabel PPL konslet ke ground. Jika baik, ganti combination meter. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali.
43 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Tabel A-3 Memeriksa Sirkuit Power dan Ground ECM MIL Tidak Menyala saat Kunci Kontak ON dan Mesin Tidak Hidup saat Distarter Wiring Diagram Lihat Tabel A-1 Memeriksa Sirkuit Lampu Check Engine Lampu Tidak Menyala saat Kunci Kontak ON (Mesin Mati). Uraian Sirkuit Saat kunci kontak dion-kan, main relay akan ON (contact point tertutup) dan main power disupply ke ECM. Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Memeriksa fuse 1) Lepaskan konektor dari ECM saat kunci kontak OFF sesuai petunjuk Melepas dan Memasang Engine Control Module (ECM) pada Bab 6E1. Ke langkah 2. Ganti fuse yang putus, dan periksa dari kemungkinan konslet pada sirkuit yang fusenya putus. 2) Periksa sambungan kabel pada konektor ECM terminal E01-5, C01-15, C02-2, C02-3, C01-6, C01-7 dan C ) Jika baik, periksa fuse terkait dari kemungkinan putus. Apakah semuanya dalam kondisi baik? 2 Memeriksa main relay 1) Periksa main relay sesuai petunjuk Memeriksa Main Relay, Fuel Pump Relay dan Radiator Fan Relay pada Bab 6E1. Apakah dalam kondisi baik? Ke langkah 3. Ganti main relay. 3 Memeriksa sirkuit sinyal ignition 1) ON-kan kunci kontak. 2) Ukur tegangan antara terminal E01-5 pada konektor ECM dan ground. Apakah tegangan V? 4 Memeriksa sirkuit main relay 1) Saat kunci kontak ON, ukur tegangan antara terminal C01-15 pada konektor ECM dan ground. Apakah tegangan V? 5 Memeriksa sirkuit main relay 1) Lepaskan ECM dari kendaraan. 2) Pasang konektor ke ECM. 3) Saat kontak pada ON, ukur tegangan antara terminal C01-15 pada konektor ECM dan ground. Apakah tegangan 0 1 V? Ke langkah 4. Sirkuit kabel BLK/WHT atau GRN putus. Ke langkah 5. Ke langkah 9. Ke langkah 7. Ke langkah 6.
44 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Langkah Tindakan Ya Tidak 6 Memeriksa sirkuit ground ECM 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Lepaskan konektor dari ECM. 3) Ukur resistan antara terminal C01-6, C01-7 dan C02-1 pada konektor ECM dan ground. Apakah resistan 1 Ω atau kurang? Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. 7 Memeriksa sirkuit main relay Ganti ECM dengan Ke langkah 8. 1) OFF-kan kunci kontak. yang baik dan periksa 2) Lepaskan konektor dari ECM. kembali. 3) Gunakan service wire, ground-kan terminal C01-15 pada konektor ECM. 4) Ukur tegangan antara terminal C02-2 dan C02-3 pada konektor ECM dan ground. Apakah tegangannya V? 8 Memeriksa sirkuit main relay Ke langkah 9. 1) Lepaskan main relay dari relay/fuse box. 2) Periksa sambungan kabel pada konektor main relay pada terminal YEL/BLK dan BLK/RED. 3) Jika baik, ukur resistan antara terminal C02-2 dan C02-3 pada konektor ECM dan terminal BLK/RED pada konektor main relay. Apakah resistan 1 Ω atau kurang? 9 Memeriksa sirkuit main relay 1) Lepaskan main relay dari relay/fuse box. 2) Ukur tegangan antara kabel terminal YEL/ BLK pada konektor main relay dan ground. Apakah tegangan V? Sirkuit kabel BLK/ORN putus atau resistannya tinggi. Jika baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Sirkuit kabel BLK/YEL atau BLK putus atau resistannya tinggi. Sirkuit kabel BLK/RED putus atau resistannya tinggi. Sirkuit kabel YEL/BLK putus.
45 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN DTC P0031 Sirkuit HO2S Heater Control Rendah (Bank 1, Sensor 1) DTC P0032 Sirkuit HO2S Heater Control Tinggi (Bank 1, Sensor 1) Wiring Diagram WHT 3 4 GRN BLK/WHT E YEL/BLK BLK/ORN C01-15 YEL/BLK BLK/RED BLK/RED C BLK/RED BLK/RED BLU ORN/BLU WHT/BLU C02-3 C02-7 C02-13 C02-29 [A] C01 C02 8 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 3. Kunci kontak 6. HO2S-1 1. Relay/fuse box 4. Circuit fuse box 7. Heater 2. Shield wire 5. Main relay 8. ECM Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC DTC P0031: Tegangan output HO2S-1 heater kurang dari spesifikasi untuk jangka waktu tertentu saat HO2S-1 bekerja (1 driving cycle detection logic) DTC P0032: Tegangan output HO2S-1 heater melebihi spesifikasi untuk jangka waktu tertentu saat HO2S-1 bekerja (1 driving cycle detection logic) Area Masalah HO2S-1 heater Sirkuit HO2S-1 heater ECM Prosedur Menentukan DTC 1) Saat kunci kontak OFF, pasang scan tool. 2) ON-kan kunci kontak dan hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin dan biarkan hingga mencapai temperature kerja. 4) Biarkan mesin hidup pada putaran idle selama 1 menit atau lebih. 5) Periksa DTC.
46 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN DTC Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lakukan Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Memeriksa resistan HO2S-1 heater 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Periksa kondisi sambungan pada: Semua kabel terminal konektor HO2S-1 Terminal C02-7 pada konektor ECM 3) Jika baik, periksa resistan HO2S-1 heater sesuai petunjuk Memeriksa Heated Oxygen Sensor (HO2S-1) Heater pada Bab 6E1. Apakah dalam kondisi baik? Ke langkah 3. Ganti HO2S-1. 3 Memeriksa sirkuit HO2S-1 1) Periksa dari kemungkinan konslet dan putus pada sirkuit HO2S-1 heater. Apakah dalam kondisi baik? Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Perbaiki sirkuit.
47 DTC P0107 Input Sirkuit Manifold Absolute Pressure Rendah DTC P0108 Input Sirkuit Manifold Absolute Pressure Tinggi Wiring Diagram INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN PNK/BLU C02-8 5V 5V AMP YEL/GRN C02-11 BLU/YEL C02-5 [A] 3 C01 C02 2 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. ECM 1. MAP sensor 3. Manifold pressure Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC DTC P0107: Tegangan output MAP sensor lebih kecil dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) DTC P0108: Tegangan output MAP sensor lebih besar dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Area Masalah MAP sensor dan/atau sirkuitnya Saluran vacuum MAP sensor ECM Prosedur Menentukan DTC 1) Pasang SUZUKI scan tool pada DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak, dan hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin, dan biarkan pada putaran idle selama 1 menit. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool.
48 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Memeriksa sinyal MAP sensor 1) Lepaskan ECM dari kendaraan dan hubungkan konektor ke ECM. 2) Ukur tegangan antara terminal C02-11 dan C02-5 pada konektor ECM pada kondisi berikut. Kunci kontak pada posisi ON dan mesin mati: sekitar 3.6 V Mesin pada putaran idling: sekitar 1.6 V Apakah hasil pemeriksaan memuaskan? 3 Memeriksa sirkuit MAP sensor 1) Lepaskan konektor MAP sensor dan ECM saat kunci kontak OFF. 2) Periksa kondisi sambungan pada setiap terminal MAP sensor. 3) Periksa dari kemungkinan konslet dan putus pada kabel PNK/BLU, YEL/GRN dan BLU/YEL. Apakah setiap kabel normal? 4 Memeriksa MAP sensor 1) Periksa kinerja MAP sensor sesuai petunjuk Memeriksa Manifold Absolute Pressure (MAP) Sensor pada Bab 6E1. Apakah hasilnya baik? Masalah yang terkadang muncul atau ECM rusak. Periksa sesuai petunjuk Masalah yang Terkadang Muncul dan Sambungan Kendur pada Bab 0A. Ke langkah 4. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Ke langkah 3. Perbaiki kabel yang rusak. Ganti MAP sensor.
49 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN DTC P0112 Input Sirkuit Intake Air Temperature Sensor 1 Rendah Wiring Diagram 1 2 5V LT GRN/BLK C02-16 BLU/YEL C02-5 [A] C01 C02 2 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. ECM 1. IAT sensor Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Tegangan output IAT sensor lebih kecil dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Area Masalah Sirkuit IAT sensor IAT sensor ECM Prosedur Menentukan DTC 1) Pasang SUZUKI scan tool pada DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak, dan hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin, dan biarkan pada putaran idle selama 1 menit. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool.
50 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Memeriksa IAT sensor dan sirkuitnya 1) Pasang SUZUKI scan tool saat kunci kontak OFF. 2) Periksa kondisi sambungan pada: Terminal kabel LT GRN/BLK dan BLU/YEL pada konektor IAT sensor Terminal C02-16 dan C02-5 konektor ECM 3) Jika baik, ON-kan kunci kontak. 4) Periksa intake air temp. yang muncul pada scan tool. Apakah menunjukkan 119 C (246 F)? 3 Memeriksa sirkuit IAT sensor 1) Lepaskan konektor IAT sensor saat kunci kontak OFF. 2) Periksa intake air temp. yang muncul pada scan tool. Apakah menunjukkan 40 C ( 40 F)? 4 Memeriksa IAT sensor 1) Periksa IAT sensor sesuai petunjuk Memeriksa Intake Air Temperature (IAT) Sensor di Bab 6E-1. Apakah hasil pemeriksaan memuaskan? Ke langkah 3. Ke langkah 4. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Masalah yang terkadang muncul atau ECM rusak. Periksa sesuai petunjuk Masalah yang Terkadang Muncul dan Sambungan Kendur pada Bab 0A. Sirkuit LT GRN/BLK konslet ke ground. Jika kabel baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Ganti IAT sensor.
51 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN DTC P0113 Input Sirkuit Intake Air Temperature Sensor 1 Tinggi Wiring Diagram 2 1 5V LT GRN/BLK C02-16 BLU/YEL C02-5 [A] C01 C02 2 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. ECM 1. IAT sensor Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Tegangan output IAT sensor lebih besar dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Area Masalah Sirkuit IAT sensor IAT sensor ECM Prosedur Menentukan DTC 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak, kemudian hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin, kemudian biarkan pada putaran idle selama 1 menit. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool.
52 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Memeriksa IAT sensor dan sirkuitnya 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) Periksa kondisi sambungan pada: Terminal kabel LT GRN/BLK dan BLU/YEL konektor IAT sensor Terminal C02-16 dan C02-5 pada konektor ECM 3) Jika baik, ON-kan kunci kontak. 4) Periksa intake air temp. yang muncul pada scan tool. Apakah menunjukkan 40 C ( 40 F)? 3 Memeriksa wire harness 1) Lepaskan konektor IAT sensor saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak. 3) Ukur tegangan antara terminal kabel LT GRN/BLK konektor IAT sensor dan engine ground. Apakah tegangan 4 6 V? 4 Memeriksa wire harness 1) Gunakan service wire untuk menghubungkan terminal-terminal pada konektor IAT sensor. 2) ON-kan kunci kontak dan periksa intake air temp. yang muncul pada scan tool. Apakah menunjukkan 119 C (246 F)? 5 Memeriksa IAT sensor Periksa IAT sensor sesuai Memeriksa Intake Air Temperature (IAT) Sensor di Bab 6E-1. Apakah hasil pemeriksaan memuaskan? Ke langkah 3. Ke langkah 4. Ke langkah 5. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Masalah yang terkadang muncul atau ECM rusak. Periksa sesuai petunjuk Masalah yang Terkadang Muncul dan Sambungan Kendur pada Bab 0A. Sirkuit kabel LT GRN/BLK putus, resistannya tinggi atau konslet dengan power supply. Jika kabel dan sambungannya baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Sirkuit BLU/YEL putus atau resistannya tinggi. Jika baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Ganti IAT sensor.
53 DTC P0117 Sirkuit Engine Coolant Temperature Rendah Wiring Diagram INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN V WHT/GRN C02-15 BLU/YEL C02-5 [A] C01 C02 2 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. ECM 1. ECT sensor Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Tegangan output ECT sensor kurang dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Area Masalah Sirkuit ECT sensor ECT sensor ECM Prosedur Menentukan DTC 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak, kemudian hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin, kemudian biarkan pada putaran idle selama 1 menit. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool.
54 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Memeriksa ECT sensor dan sirkuitnya 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) Periksa kondisi sambungan pada: Terminal kabel WHT/GRN dan BLU/YEL pada konektor ECT sensor Terminal C02-15 dan C02-5 konektor ECM 3) Jika baik, ON-kan kunci kontak. 4) Periksa engine coolant temp. yang muncul pada scan tool. Apakah menunjukkan 119 C (246 F)? 3 Memeriksa wire harness 1) Lepaskan konektor ECT sensor saat kunci kontak OFF. 2) Periksa engine coolant temp. yang muncul pada scan tool. Apakah menunjukkan 40 C ( 40 F)? 4 ECT sensor check 1) Periksa ECT sensor sesuai Memeriksa Engine Coolant Temperature (ECT) Sensor di Bab 6E-1. Apakah hasil pemeriksaan memuaskan? Ke langkah 3. Ke langkah 4. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Masalah yang terkadang muncul atau ECM rusak. Periksa sesuai petunjuk Masalah yang Terkadang Muncul dan Sambungan Kendur pada Bab 0A. Sirkuit WHT/GRN konslet ke ground. Jika kabel baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Ganti ECT sensor.
55 DTC P0118 Sirkuit Engine Coolant Temperature Tinggi Wiring Diagram INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN V WHT/GRN C02-15 BLU/YEL C02-5 [A] C01 C02 2 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. ECM 1. ECT sensor Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Tegangan output ECT sensor lebih besar dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Area Masalah Sirkuit ECT sensor ECT sensor ECM Prosedur Menentukan DTC 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak, kemudian hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin, kemudian biarkan pada putaran idle selama 1 menit. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool.
56 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 ECT sensor dan its memeriksa sirkuit 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) Periksa kondisi sambungan pada: Terminal kabel WHT/GRN dan BLU/YEL pada konektor ECT sensor Terminal C02-15 dan C02-5 konektor ECM 3) Jika baik, ON-kan kunci kontak. 4) Periksa engine coolant temp. yang muncul pada scan tool. Apakah menunjukkan 40 C ( 40 F)? 3 Memeriksa wire harness 1) Lepaskan konektor ECT sensor saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak. 3) Ukur tegangan antara terminal kabel WHT/GRN pada konektor ECT sensor dan engine ground. Apakah tegangan 4 6 V? 4 Memeriksa wire harness 1) Gunakan service wire untuk menghubungkan terminal-terminal pada konektor ECT sensor. 2) ON-kan kunci kontak dan periksa engine coolant temp. yang muncul pada scan tool. Apakah menunjukkan 119 C (246 F)? 5 Memeriksa ECT sensor 1) Check ECT sensor sesuai Memeriksa Engine Coolant Temperature (ECT) Sensor di Bab 6E-1. Apakah hasil pemeriksaan memuaskan? Ke langkah 3. Ke langkah 4. Ke langkah 5. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Masalah yang terkadang muncul atau ECM rusak. Periksa sesuai petunjuk Masalah yang Terkadang Muncul dan Sambungan Kendur pada Bab 0A. Sirkuit WHT/GRN putus, resistannya tinggi atau konslet dengan power supply. Jika kabel dan sambungannya baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Sirkuit BLU/YEL putus atau resistannya tinggi. Jika kabel dan sambungannya baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Ganti ECT sensor.
57 DTC P0122 Sirkuit Throttle Position Sensor A Rendah Wiring Diagram INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN YEL/BLK C02-9 5V 2 5V GRN/WHT C02-12 BLU/YEL C02-5 [A] C01 C02 2 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. ECM 1. TP sensor Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Tegangan output TP sensor kurang dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Area Masalah Sirkuit TP sensor TP sensor ECM Prosedur Menentukan DTC 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak, kemudian hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin, kemudian biarkan pada putaran idle selama 1 menit. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool.
58 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Memeriksa TP sensor dan sirkuitnya 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) Periksa kondisi sambungan pada: Terminal kabel YEL/BLK, GRN/WHT dan BLU/YEL pada konektor TP sensor Terminal C02-9, C02-12 dan C02-5 konektor ECM 3) Jika baik, ON-kan kunci kontak. 4) Periksa prosentase pembukaan throttle valve yang muncul pada scan tool saat throttle valve membuka. Apakah menunjukkan 0%? 3 Memeriksa wire harness 1) Lepaskan konektor TP sensor saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak. 3) Ukur tegangan antara terminal kabel GRN/ WHT dari konektor yang dilepas dan ground. Apakah tegangan sekitar 4 6 V? 4 Memeriksa wire harness 1) Saat kunci kontak ON, ukur tegangan antara terminal kabel YEL/BLK dari konektor yang dilepas dan ground. Apakah tegangan sekitar 4 6 V? 5 Memeriksa TP sensor 1) Pereiksa TP sensor sesuai Memeriksa Throttle Position (TP) Sensor di Bab 6E-1. Apakah hasil pemeriksaan memuaskan? Ke langkah 3. Ke langkah 4. Ke langkah 5. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Masalah yang terkadang muncul atau ECM rusak. Periksa sesuai petunjuk Masalah yang Terkadang Muncul dan Sambungan Kendur pada Bab 0A. GRN/WHT circuit konslet ke ground. Jika baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Sirkuit YEL/BLK putus atau resistannya tinggi. Jika baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Ganti TP sensor.
59 DTC P0123 Sirkuit Throttle Position Sensor A Tinggi Wiring Diagram INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN YEL/BLK C02-9 5V 2 5V GRN/WHT C02-12 BLU/YEL C02-5 [A] C01 C02 2 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. ECM 1. TP sensor Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Tegangan output TP sensor lebih besar dari spesifikasi selama 0.5 detik (1 driving cycle detection logic) Area Masalah Sirkuit TP sensor TP sensor ECM Prosedur Menentukan DTC 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak, kemudian hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin, kemudian biarkan pada putaran idle selama 1 menit. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool.
60 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Memeriksa TP sensor dan sirkuitnya 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) Periksa kondisi sambungan pada: Terminal kabel YEL/BLK, GRN/WHT dan BLU/YEL pada konektor TP sensor Terminal C02-9, C02-12 dan C02-5 konektor ECM 3) Jika baik, ON-kan kunci kontak. 4) Periksa prosentase pembukaan throttle valve yang muncul pada scan tool saat throttle valve membuka. Apakah menunjukkan 99.6%? 3 Memeriksa wire harness 1) Lepaskan konektor TP sensor saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak. 3) Ukur tegangan antara terminal kabel GRN/ WHT konektor TP sensor dan ground. Apakah tegangan sekitar 4 6 V? 4 Memeriksa wire harness 1) Saat kunci kontak OFF, lepaskan konektor dari ECM sesuai Melepas dan Memasang Engine Control Module (ECM) di Bab 6E-1. 2) Periksa kabel YEL/BLK, GRN/WHT dan BLU/WHT dari kemungkinan putus dan konslet. Apakah kondisi semua kabel normal? 5 Memeriksa TP sensor 1) Periksa TP sensor sesuai Memeriksa Throttle Position (TP) Sensor di Bab 6E-1. Apakah hasil pemeriksaan memuaskan? Ke langkah 3. Ke langkah 4. Ke langkah 5. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Masalah yang terkadang muncul atau ECM rusak. Periksa sesuai petunjuk Masalah yang Terkadang Muncul dan Sambungan Kendur pada Bab 0A. Sirkuit GRN/WHT putus, resistannya tinggi atau konslet dengan power supply. Perbaiki kabel yang rusak. Ganti TP sensor.
61 DTC P0134 Terdeteksi Tidak Ada Aktivitas O2 Sensor (HO2S) (Bank 1, Sensor 1) Wiring Diagram INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN WHT 3 4 GRN BLK/WHT E YEL/BLK BLK/ORN C01-15 YEL/BLK BLK/RED BLK/RED C BLK/RED BLK/RED BLU ORN/BLU WHT/BLU C02-3 C02-7 C02-13 C02-29 [A] C01 C02 8 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 3. Kunci kontak 6. HO2S-1 1. Relay / fuse box 4. Circuit fuse box 7. Heater 2. Shield wire 5. Main relay 8. ECM Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Tegangan output HO2S kurang dari 0.4V selama 40 detik setelah mesin dipanaskan. (2 driving cycle detection logic) Area Masalah HO2S-1 Sirkuit HO2S-1 Fuel system Kebocoran exhaust gas ECM Fuel shortage Air intake system Prosedur Menentukan DTC PERINGATAN: Saat melakukan test jalan, pilih tempat yang tidak ada kemacetan atau yang ada kemungkinan terjadinya kecelakaan dan hati-hatilah selama pengetesan untuk menghindari kecelakaan. Test jalan sebaiknya dilakukan oleh 2 orang, pengemudi dan penguji, pada jalan yang rata.
62 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN CATATAN: Pastikan kondisi berikut terpenuhi ketika melakukan Prosedur Menentukan DTC Temperatur intake air saat mesin mulai berjalan: 10 C (14 F) hingga 80 C (176 F) Temperatur Intake air: 10 C (14 F) hingga 70 C (158 F) Temperatur engine coolant: 70 C (158 F) hingga 150 C (302 F) Ketinggian/altitude (tekanan barometric): 2400 m, 8000 ft atau kurang (560 mmhg, 75 kpa atau lebih) DTC berikut tidak terdeteksi: ECT sensor, IAT sensor dan barometric pressure sensor 1) Saat kunci kontak OFF, pasang scan tool. 2) ON-kan kunci kontak dan hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin dan biarkan hingga mencapai temperatur kerja. 4) Jalankan kendaraan pada 40 mph (60 km/h) atau lebih. (putaran mesin: r/min.) 5) Jalankan pada kecepatan tersebut selama 6 menit atau lebih (pertahankan pembukaan throttle valve pada langkah ini). 6) Lepas injakan pedal gas dan biarkan engine brake bekerja dan kendaraan meluncur (fuel cut selama 3 detik atau lebih) kemudian hentikan kendaraan. 7) Pastikan DTC dan pending DTC muncul pada scan tool. Jika tidak, pastikan oxygen sensor monitoring test sudah dilakukan menggunakan scan tool. Jika tidak pada kedua tes di atas (misalnya, tidak ada DTC dan pending DTC dan oxygen sensor monitoring test belum dilakukan), periksa kondisi kendaraan (yang berhubungan dengan lingkungan) dan ulangi langkah 3) sampai 6) dari Prosedur Menentukan DTC. Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi di bab ini. 2 Apakah terdapat DTC selain HO2S-1 (DTC P0134)? Lihat DTC terkait pada tabel flow diagnosa. Ganti HO2S-1.
63 DTC P0335 Sirkuit Crankshaft Position Sensor A Wiring Diagram INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN RED/BLU C02-17 WHT C02-33 C02-28 [A] C01 C02 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 3. Shield wire 1. Crankshaft position sensor sensing rotor 4. ECM 2. Crank position sensor Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Sinyal output CKP sensor tidak masuk selama 2 detik meskipun sinyal motor starter masuk saat mesin distarter. (1 driving cycle detection logic) Area Masalah Sirkuit CKP sensor Signal teeth CKP sensor ECM Prosedur Menentukan DTC 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak dan hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Starter mesin selama lebih dari 2 detik. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool. Perbaikan CATATAN: Jika sirkuit starter putus (sirkuit sinyal starter baik tetapi tidak bisa menstarter), DTC akan disimpan pada memory saat switch starter ON, meskipun CKP sensor dalam kondisi baik. Saat motor starter tidak berputar dan DTC ini muncul, periksa sirkuit starter terlebih dulu.
64 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Apakah mesin bisa distarter? Ke langkah 3. Lihat Diagnosa Gejala Sistim Starter di Bab 6G. 3 Memeriksa sirkuit CKP sensor 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Lepaskan konektor dari ECM. 3) Lepaskan konektor CKP sensor. 4) Periksa kabel RED/BLU dan WHT dari kemungkinan putus, resistannya tinggi dan konslet. Apakah kondisi setiap kabel normal? 4 Memeriksa resistan CKP sensor 1) Periksa kondisi sambungan CKP sensor pada terminal kabel RED/BLU dan WHT. 2) Jika baik, ukur resistan antar terminal sensor. Lihat Gambar 1. Resistan CKP sensor : Ω at 20 C, 68 F 3) Ukur resistan antara setiap terminal dan ground. Resistan insulator: 1 MΩ atau lebih. Apakah hasil pengukuran resistan pada langkah 2) dan 3) sesuai spesifikasi? 5 Memeriksa secara visual CKP sensor dan pulley Lihat Gambar 2. Kerusakan Tidak ada kotoran atau benda asing. Pemasangan yang benar. Apakah kondisinya baik? Ke langkah 4. Ke langkah 5. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Perbaiki kabel yang rusak. Ganti CKP sensor. Bersihkan, perbaiki atau ganti. [A] [B] [A]: Gambar 1 untuk Langkah 4 [B]: Gambar 2 untuk Langkah 5
65 DTC P0340 Sirkuit Camshaft Position Sensor A (Bank 1) Wiring Diagram INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN BLK/RED +B 5V BRN C02-32 BLK [A] C01 C02 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. ECM 1. Camshaft position (CMP) sensor Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Jumlah pulsa sinyal output CMP sensor kurang atau sama dengan 3 selama 6 putaran crankshaft. Sinyal output CMP sensor tidak masuk di antara 75 BTDC dan 5 BTDC sudut crankshaft sebelum langkah kompresi selama 6 putaran crankshaft. (1 driving cycle detection logic) Area Masalah CMP sensor circuit Signal rotor teeth CMP sensor ECM Prosedur Menentukan DTC CATATAN: Pastikan kondisi berikut terpenuhi ketika melakukan Prosedur Menentukan DTC DTC yang berhubungan dengan komponen berikut tidak terdeteksi : CKP sensor. 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak, kemudian hapus DTC menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin, kemudian biarkan pada putaran idle selama 1 menit. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool.
66 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi. 2 Memeriksa kondisi pemasangan CMP sensor Ke langkah 3. Perbaiki. dan konektornya. Apakah CMP sensor dan konektornya terpasang dengan benar? 3 Memeriksa wire harness dan sambungan 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Lepaskan konektor CMP sensor. 3) Periksa kondisi sambungan CMP sensor pada setiap terminal. 4) Jika baik, ON-kan kunci kontak dan periksa tegangan pada tiap terminal konektor sensor dan ground. Terminal kabel BLK/RED : V Terminal kabel BRN : 4 5 V Terminal kabel BLK : 0 V Apakah hasil pemeriksaan memuaskan? Ke langkah 5. Ke langkah 4. 4 Memeriksa sirkuit CMP sensor 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Lepaskan konektor dari ECM. 3) Periksa kabel BLK/RED, BRN dan BLK dari kemungkinan putus, resistannya tinggi dan konslet. Apakah kondisi setiap kabel normal? 5 Memeriksa sirkuit ground 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Periksa resistan antara terminal kabel BLK dari konektor CMP sensor dan engine ground. Apakah resistan di bawah 2 Ω? 6 Memeriksa CMP sensor 1) Periksa CMP sensor sesuai Memerksa Camshaft Position (CMP) Sensor di Bab 6E- 1. Apakah hasil pemeriksaan memuaskan? 7 Periksa signal rotor dari kemungkinan. Kerusakan Adanya kotoran Apakah kondisinya baik? Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Ke langkah 6. Ke langkah 7. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Perbaiki kabel yang rusak. Sirkuit kabel BLK putus atau resistannya tinggi. Ganti CMP sensor. Ganti atau bersihkan gigi rotor.
67 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN DTC P0500 Vehicle Speed Sensor A Wiring Diagram BLK/YEL 2 5V YEL WHT BRN YEL E01-14 BRN E B [A] C01 C02 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. ECM 4. Sirkuit speedometer & odometer 1. Combination meter 3. Tachometer (jika dilengkapi) Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC Sinyal speedometer tidak masuk selama 4 detik meskipun kendaraan berjalan dengan fuel cut saat deselerasi. (1 driving cycle detection logic) Area Masalah Sirkuit sinyal speedometer Speedometer ECM Prosedur Menentukan DTC PERINGATAN: Saat melakukan test jalan, pilih tempat yang tidak ada kemacetan atau yang ada kemungkinan terjadinya kecelakaan dan hati-hatilah selama pengetesan untuk menghindari kecelakaan. Test jalan sebaiknya dilakukan oleh 2 orang, pengemudi dan penguji, pada jalan yang rata.
68 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak dan hapus DTC menggunakan SUZUKI scan tool. 3) Jalankan kendaraan pada kecepatan 60 km/h (37 mph) dengan gigi 4 sambil melihat kecepatan kendaraan pada SUZUKI scan tool. 4) Lepas injakan pedal gas sehingga engine brake bekerja dan biarkan kendaraan meluncur selama 5 detik. 5) Periksa DTC menggunakan SUZUKI scan tool. Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah Memeriksa Sistim Kontrol Mesin dan Emisi sudah dilakukan? Ke langkah 2. Lihat Memeriksa Sistim Kontrol Mesin & Emisi 2 Apakah kabel speedometer putus? Ganti kabel Ke Langkah 3. speedometer 3 Memeriksa sinyal kecepatan kendaraan Ke langkah 4. Ke langkah 5. 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) Periksa kondisi sambungan pada: Terminal kabel BRN, WHT, YEL dan BLK/YEL pada combination meter Terminal E01-15 dan C02-34 konektor ECM 3) Jika baik, periksa kecepatan kendaraan pada SUZUKI scan tool. Apakah kecepatan kendaraan muncul pada SUZUKI scan tool di Langkah 3) dan 4) Prosedur Menentukan DTC? 4 Memeriksa sinyal kecepatan kendaraan Apakah speedometer menunjukkan kecepatan kendaraan? 5 Memeriksa sirkuit speedometer 1) Saat kunci kontak OFF, lepas konektor VSS. 2) ON-kan kunci kontak tanpa menghidupkan mesin. 3) Ukur tegangan antara terminal kabel BLK/ YEL dan YEL pada combination meter. Apakah tegangan antara V? 6 Memeriksa sirkuit combination meter 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Lepaskan konektor E01 ECM. 3) Saat kunci kontak ON, ukur tegangan antara terminal kabel E01-14 pada konektor ECM dan ground. Apakah tegangan 4 6 V untuk kendaraan dengan tachometer atau V untuk kendaraan tanpa tachometer? Masalah yang terkadang muncul atau ECM rusak. Periksa sesuai petunjuk Masalah yang Terkadang Muncul dan Sambungan Kendur pada Bab 0A. Ke langkah 6. Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Sirkuit kabel YEL antara combination meter dan ECM putus atau resistannya tinggi. Jika baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Kabel BLK/YEL atau YEL putus atau konslet. Sirkuit kabel YEL antara combination meter dan ECM putus atau konslet. Jika baik, ganti combination meter.
69 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN DTC P0601/P0602 Internal Control Module Memory Check Sum Error / Control Module Programming Error Uraian Sistim Internal control module terpsaang di dalam ECM. Kondisi Pendeteksian DTC dan Area Masalah Kondisi Pendeteksian DTC DTC P0601: Data write error atau check sum error (1 driving cycle detection logic, monitoring sekali / 1 driving cycle) DTC P0602: Data programming error (1 driving cycle detection logic tetapi MIL tidak menyala) Prosedur Menentukan DTC 1) Pasang SUZUKI scan tool ke DLC saat kunci kontak OFF. 2) ON-kan kunci kontak dan hapus DTC, dan freeze frame data menggunakan scan tool. 3) Hidupkan mesin, dan biarkan sebisa mungkin pada putaran idle. 4) Periksa DTC menggunakan scan tool. Perbaikan DTC P0601/P0602. ECM power & ground OK ganti ECM. Area Masalah Sirkuit power supply ECM dan/atau sirkuit ground ECM
70 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Table B-1 Memeriksa Sirkuit Fuel Injector Wiring Diagram 9 WHT 7 8 GRN BLK/WHT E YEL/BLK BLK/ORN C01-15 YEL/BLK BLK/RED BLK/RED C02-2 BLK/RED C BLK/RED LT GRN C BLK/RED BRN C BLK/RED BRN/WHT C BLK/RED BRN/YEL C [A] C01 C02 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 3. Fuel injector No.3 6. Main relay 9. Relay / fuse box 1. Fuel injector No.1 4. Fuel injector No.4 7. Kunci kontak 2. Fuel injector No.2 5. ECM 8. Sirkuit fuse box Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Memeriksa suara bekerjanya injector Gunakan sound scope, periksa suara bekerjanya tiap injector saat mesin distarter. Apakah terdengar suara bekerjanya keempat injector? Sirkuit fuel injector dalam kondisi baik. Ke langkah 2. 2 Apakah ada dari 4 injector yang tidak mengeluarkan suara pada Langkah 1? 3 Memeriksa sirkuit power injector Apakah normal? Ke langkah 3. Periksa resistan masingmasing ke-4 injector. Jika baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Periksa sambungan konektor dan wire harness pada injector yang tidak mengeluarkan suara dan periksa injector bersangkutan sesuai petunjuk Memeriksa Fuel Injector pada Bab 6F. Sirkuit power putus atau konslet.
71 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Table B-2 Memeriksa Fuel Pump dan Sirkuitnya Wiring Diagram 6 8 WHT 3 GRN YEL/BLK 4 BLK/WHT 5 BLK/RED PNK PNK/BLK 7 BLK BLK/WHT BLK/ORN C01-10 E01-5 C BLK/RED C02-2 C01-6 BLK/YEL 1 BLK/RED C02-3 C01-7 C02-1 BLK/YEL BLK [A] C01 C02 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 3. Kunci kontak 6. Fuel pump relay 1. Battery 4. Circuit fuse box 7. Fuel pump 2. Relay/fuse box 5. Main relay 8. ECM Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Memeriksa kinerja sistim kontrol fuel pump 1) Pastikan terdengar suara bekerjanya fuel pump selama 2 detik setelah kunci kontak ON? Lihat Gambar 1. Apakah terdengar adanya suara? Sirkuit fuel pump dalam kondisi baik. Ke langkah 2. 2 Memeriksa fuse 1) Periksa apakah ada fuse yang putus. Apakah kondisinya normal? 3 Memeriksa fuel pump relay 1) Periksa fuel pump relay sesuai petunjuk Memeriksa Main Relay, Fuel Pump Relay dan Radiator Fan Relay pada Bab 6E1. Apakah kondisinya normal? 4 Memeriksa sirkuit sistim 1) Periksa kabel BLK/RED, BLK/WHT, PNK, PNK/BLK dan BLK dari kemungkinan putus dan konslet. Apakah kondisi kabel normal? Ke langkah 3. Ke langkah 4. Ke langkah 5. Periksa kabel yang fusenya putus dari kemungkinan konslet. Ganti fuel pump relay. Perbaiki kabel yang rusak.
72 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Langkah Tindakan Ya Tidak 5 Fuel pump operation check 1) Periksa kinerja fuel pump sesuai petunjuk Memeriksa Fuel Pump pada Kendaraan pada Bab 6E1. Apakah hasilnya baik? Ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. Ganti fuel pump sesuai petunjuk Melepas dan Memasang Fuel Pump Assembly pada Bab 6C. [A] [A]: Gambar 1 untuk Langkah 2
73 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Table B-3 Memeriksa Tekanan Bahan Bakar Wiring Diagram (A) (C) 4 (B) 1. Fuel injector 4. Fuel pump (C): 3 way joint 2. Delivery pipe (A): Fuel pressure gauge (B): Fuel pressure hose 3. Fuel pressure regulator (B): Fuel pressure hose Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Memeriksa tekanan bahan bakar Ke langkah 2. Ke langkah 4. (Lihat Bab 6E1 untuk lebih jelasnya) 1) Buang tekanan dari fuel feed line. 2) Pasang fuel pressure gauge. 3) Periksa tekanan dengan memutar kunci kontak ON dan OFF. Lihat Gambar 1. Apakah tekanan bahan bakar kpa ( kg/cm 2, psi)? 2 Apakah tekanan bertahan pada 200 kpa (2.0 Tekanan normal. Ke langkah 3. kg/cm 2, 28.4 psi) atau lebih selama 1 menit setelah fuel pump berhenti pada Langkah 1? 3 Apakah terdapat kebocoran pada selang, pipa atau sambungan fuel feed line? Terdapat kebocoran pada selang, pipa atau sambungan. Fuel pressure regulator rusak. 4 Apakah tekanan melebihi spesifikasi pada Langkah 1? Fuel return hose tersumbat atau fuel pressure regulator rusak. Fuel filter tersumbat, fuel feed hose atau pipa rusak, fuel pump rusak atau sambungan selang pada tangki bocor.
74 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN [A]: Gambar 1 untuk Langkah 1 1. Fuel pressure gauge 2. Fuel pressure hose 3. 3 way joint & tool Special tool (A): (B): (C):
75 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Table B-4 Memeriksa Idle Air Control System Wiring Diagram 2 WHT 3 4 GRN BLK/WHT E YEL/BLK BLK/ORN C01-15 YEL/BLK BLK/RED BLK/RED C02-2 BLK/RED C BLK/RED 6 BLK ORN C01-8 [A] C01 C02 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 3. Kunci kontak 6. Idle air control (IAC) valve 1. Battery 4. Circuit fuse box 7. ECM 2. Relay/fuse box 5. Main relay Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Periksa idle speed dan IAC duty sesuai Ke langkah 2. Ke langkah 5. petunjuk Memeriksa Idle Speed/Idle Air Control (IAC) Duty pada Bab 6E1. Apakah idle speed sesuai spesifikasi? 2 Apakah IAC duty sesuai spesifikasi pada Langkah 1? Ke langkah 3. Periksa hal berikut. Kebocoran vacuum Sistim EVAP canister purge control Saluran udara IAC tersumbat Beban accessoris mesin Posisi throttle tertutup PCV valve tersumbat 3 Apakah idle speed stabil saat lampu dinyalakan? Sistim dalam kondisi baik. Ke langkah 4.
76 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Langkah Tindakan Ya Tidak 4 Idle air control system check Masalah yang terkadang Ke langkah 8. 1) Pasang SUZUKI scan tool pada DLC saat kunci kontak OFF, tarik tuas rem tangan dan ganjal roda. 2) Hidupkan mesin hingga mencapai temperatur kerja. 3) Hapus DTC dan pilih mode MISC TEST pada SUZUKI scan tool. Apakah bisa menaikkan dan menurunkan idle speed menggunakan SUZUKI scan tool? muncul atau ECM rusak. Periksa sesuai petunjuk Masalah yang Terkadang Muncul dan Sambungan Kendur pada Bab 0A. 5 Apakah idle speed lebih besar dari spesifikasi Ke langkah 6. Ke langkah 8. pada Langkah 1? 6 Apakah IAC duty kurang dari 3% (atau lebih dari ± 97% untuk OFF duty meter) pada Langkah 1? 7 Periksa sirkuit sinyal (input) A/C sesuai Tabel B-5 Memeriksa Sirkuit Sinyal A/C (Kendaraan dengan Sistim A/C) pada Bab ini. Apakah dalam kondisi baik? 8 Memeriksa wire harness dari kemungkinan putus atau konslet 1) OFF-kan kunci kontak. 2) Lepaskan konektor IAC valve. 3) Periksa kondisi sambungan IAC valve pada setiap terminal. 4) Jika normal, lepaskan konektor ECM. 5) Periksa kondisi sambungan ECM pada terminal C ) Jika normal, periksa sirkuit BLK/RED, ORN dan BLK dari kemungkinan putus dan konslet. Apakah kondisinya baik? Periksa kebocoran udara pada intake system, PCV system dan sistim EVAP canister purge control. Ke langkah 8. Ganti IAC valve dan periksa kembali. Periksa kinerja TP sensor (posisi tertutup) dan ECT sensor. Jika kondisinya normal, ganti ECM dengan yang baik. Perbaiki atau ganti sirkuit sinyal A/C atau sistim A/C. Perbaiki atau ganti.
77 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Table B-5 Memeriksa Sirkuit Sinyal A/C (Kendaraan dengan Sistim A/C) Wiring Diagram 1 2 WHT 3 4 GRN BLK/WHT E YEL/BLK BLK/ORN C01-15 YEL/BLK BLK/RED BLK/RED C02-2 BLK YEL/BLK YEL BLK/RED C02-3 BLK/RED RED C01-11 BLU/BLK BLK/RED 9 GRN C01-12 PNK RED/WHT BLK YEL E01-8 BLU/YEL E01-26 M PNK/BLU WHT GRN WHT 15 BLK M WHT/BLK PNK/BLU GRN/BLK E [A] C01 C02 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 6. Condenser fan motor 12. A/C compressor 1. Battery 7. ECM 13. Blower fan motor 2. Relay/fuse box 8. Condenser fan motor relay 14. EVAP thermistor 3. Ignition key 9. A/C compressor relay 15. Blower fan switch 4. Circuit fuse box 10. Blower relay 16. Pressure switch 5. Main relay 11. Blower resistor
78 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 1) Lepaskan blower fan switch dari instrument panel sesuai Melepas dan Memasang Blower Fan Switch di Bab 1B. 2) Lepaskan konektor dari blower fan switch. 3) Saat kunci kontak ON, ukur tegangan antara terminal kabel BRN/WHT pada konektor blower fan switch dan ground. Apakah tegangan V? Ke langkah 2. Sambungan kendur pada terminal kabel E01-10 konektor ECM connector atau kabel BRN/WHT putus atau konslet ke ground. Jika kabel dan sambungannya baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali. 2 1) Pasang konektor ECM. 2) Hidupkan mesin. 3) Ukur tegangan antara terminal kabel E01-12 ECM dan ground. Apakah tegangan 0 V saat switch A/C OFF dan V saat switch A/C ON? Sirkuit sinyal sistim A/C dalam kondisi baik. Sambungan kendur pada terminal kabel E01-12 konektor ECM atau ground ECM rusak. Jika sambungan dan ground baik, ganti ECM dengan yang baik dan periksa kembali.
79 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Table B-6 Memeriksa Sirkuit Sinyal Electric Load Wiring Diagram 3 +BB 1 RED/YEL E [A] C01 C02 E [A]: Konektor ECM (dilihat dari sisi harness) 2. Clearance light 1. Clearance light switch 3. ECM Perbaikan Langkah Tindakan Ya Tidak 1 Apakah tersedia SUZUKI scan tool? Ke langkah 2. Ke langkah 3. 2 Memeriksa sirkuit sinyal electric load 1) Pasang SUZUKI scan tool pada DLC saat kunci kontak OFF. 2) Hidupkan mesin dan pilih mode DATA LIST pada SUZUKI scan tool. 3) Periksa sinyal electric load dengan kondisi sebagai berikut. Sinyal electric load Lampu besar dan lampu jarak dion-kan: ON Lampu besar dan lampu jarak dioff-kan: OFF Apakah hasilnya baik? Sirkuit sinyal electric load dalam kondisi baik. Sirkuit kabel RED/ WHT, RED/YEL dan/ atau PNK/BLU putus atau konslet, atau masing-masing sirkuit electric load tidak berfungsi. 3 Memeriksa sirkuit sinyal electric load ON-kan kunci kontak. Periksa tegangan pada terminal E01-1, E01-2 dan E Voltage pada terminal E01-1 Rear defogger ON: V Rear defogger OFF: 0 1 V Voltage pada terminal E01-11 Lampu jarak ON: V Lampu jarak OFF: 0 1 V Apakah hasilnya baik? Sirkuit sinyal electric load Sirkuit kabel RED/ WHT, RED/YEL dan/ atau PNK/BLU putus atau konslet, atau masing-masing sirkuit electric load tidak berfungsi.
80 INFORMASI UMUM DAN DIAGNOSA MESIN Special Tool Fuel pressure gauge Fuel pressure hose 3-way joint & tool Tech 2 kit (SUZUKI scan tool) See NOTE below. CATATAN: Tech-2 kit terdiri dari. 1. Tech 2, 2. PCMCIA card, 3 DLC cable, 4. SAE 16/19 adapter, 5. Cigarette cable, 6. DLC loopback adapter, 7. Battery power cable, 8. RS232 cable, 9. RS232 adapter, 10. RS232 loopback connector, 11. Storage case, 12. Power supply
ELECTRONIC CONTROL SYSTEM AGUS DWI PPUTRA ARI YUGA ASWARA ASTRI DAMAYANTI
ELECTRONIC CONTROL SYSTEM AGUS DWI PPUTRA ARI YUGA ASWARA ASTRI DAMAYANTI ECU/ECM berfungsi untuk mengontrol besarnya penginjeksian bensin dan mengontrol seluruh aktifitas elektronik. Pada mesin terdapat
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
No. JST/OTO/OTO410/14 Revisi : 02 Tgl : 6 Februari 2014 Hal 1 dari 10 I. Kompetensi : Setelah melaksanakan praktik, mahasiswa diharapkan dapat : 1. Mengidentifikasi komponen sistem bahan bakar, kontrol
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
No. JST/OTO/OTO410/13 Revisi: 03 Tgl: 22 Agustus 2016 Hal 1 dari 10 I. Kompetensi: Setelah melaksanakan praktik, mahasiswa diharapkan dapat: 1. Mengidentifikasi komponen sistem bahan bakar, kontrol udara
BAB III PROSES ANALISIS SISTEM EFI YAMAHA VIXION. Mulai. Pembuatan Engine Stand. Proses Perbaikan. Pengujian Engine Stand.
BAB III PROSES ANALISIS SISTEM EFI YAMAHA VIXION 3.1. Tempat Pelaksanaan Tugas Akhir Proses analisis sistem EFI Yamaha Vixion ini dilakukan di Lab. Mesin, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.. 3.2. Diagram
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Proses Analisis Sistem EFI Yamaha Vixion.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Proses Analisis Sistem EFI Yamaha Vixion. Setelah melakukan Proses Analisis dilakukan dengan membongkar komponen-komponen dari sistem EFI, mengindentifikasi kerusakan,
Sistem PGM-FI A. Latar Belakang
Sistem PGM-FI A. Latar Belakang 1. Lingkungan dan Regulasi Emisi a. Lingkungan: i. Perubahan lingkungan saat ini semakin membahayakan kehidupan ii. Volume CO meningkat ozon rusak pemanasan global iii.
LAYOUT ENGINE DAN KOMPONENNYA
LAYOUT ENGINE DAN KOMPONENNYA SELF-DIAGNOSIS (diagnosa sendiri) Informasi Umum ECM (engine control module) dilengkapi dengan fungsi diagnosa sendiri MIL (malfunction indicator lamp) akan menyala jika ada
1. EMISI GAS BUANG EURO2
1. EMISI GAS BUANG EURO2 b c a Kendaraan Anda menggunakan mesin spesifikasi Euro2, didukung oleh: a. Turbocharger 4J 4H Turbocharger mensuplai udara dalam jumlah yang besar ke dalam cylinder sehingga output
TEST KEMAMPUAN AUTOMATIC TRANSMISSION
TEST KEMAMPUAN AUTOMATIC TRANSMISSION Tes Jalan Berfungsi untuk memeriksa tingkat kecepatan yang digunakan pada posisi L, 2 atau D saat sistem pengontrolan perpindahkan gigi tidak berfungsi. Lakukan tes
PEMANFAATAN ON BOARD DIAGNOSTIC (OBD) PADA KENDARAAN BERBASIS ENGINE MANAGEMENT SYSTEM. Oleh : Sutiman Otomotif, FT UNY
1 PEMANFAATAN ON BOARD DIAGNOSTIC (OBD) PADA KENDARAAN BERBASIS ENGINE MANAGEMENT SYSTEM Oleh : Sutiman Otomotif, FT UNY Pendahuluan Elektronik Control Unit (ECU) atau Electronic Control Modul (ECM) pada
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
No. JST/OTO/OTO410/14 Revisi: 03 Tgl: 22 Agustus 2016 Hal 1 dari 9 I. Kompetensi: Setelah melaksanakan praktek, mahasiswa diharapkan dapat: 1. Menggunakan Carman Hi-Scan Pro dengan prosedur yang benar.
Teknologi Injeksi Pada Sepeda Motor (Konstruksi Dasar Injection Suzuki Fl 125 FI)
Teknologi Injeksi Pada Sepeda Motor (Konstruksi Dasar Injection Suzuki Fl 125 FI) Sepeda motor Suzuki di Indonesia memulai teknologi fuel injection sesuai dengan perkembanganya maka faktor yang menentukan
DuFI (Durux Fuel Injection)
DuFI (Durux Fuel Injection) created at: april 28 2017 by sugiarto Tentang DuFI DuFI adalah sebuah ECU (Electronic Control Unit) experimental yang digunakan untuk mengatur sistem bahan bakar kendaraan secara
BAB III METODE PENELITIAN. Lab Pratikum Teknik Mesin Vokasi, Universitas Muhammadiyah. Tempat Pengambilan Data dan Pengujian :
36 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Waktu dan tempat untuk pelaksanaan pengujian dan analisis proyek akhir sebagai berikut : 1. Tempat Analisis dan Trobleshooting Mesin : Lab
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. memperbaiki kerusakan pada Honda Beat PGM-FI. Adapun diperoleh hasil
59 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Proses Analisis Sistem EFI Honda Beat. Setelah melakukan proses analisis dilakukan dengan membongkar komponen-komponen dari sistem EFI mengidentifikasi kerusakan
KONTROL SISTEM BAHAN BAKAR PADA ELECTRONIC FUEL INJECTION (EFI) Oleh Sutiman, M.T
KONTROL SISTEM BAHAN BAKAR PADA ELECTRONIC FUEL INJECTION (EFI) Oleh Sutiman, M.T Pendahuluan Tujuan dari penggunaan sistem kontrol pada engine adalah untuk menyajikan dan memberikan daya mesin yang optimal
PERANGKAT UJI KOMPETENSI ENGINE MANAGEMENT SYSTEM dan gdi Disiapkan Oleh : Eko Winarso,S.Pd.M.M
PEKAN UJI PRODUKTIF TEKNIK OTOMOTIF PERANGKAT UJI KOMPETENSI ENGINE MANAGEMENT SYSTEM dan gdi Disiapkan Oleh : Eko Winarso,S.Pd.M.M TEKNIK OTOMOTIF 2015 Lembar : Peserta Kualifika Spesifik Nama si Engine
Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875.
ABSIC ENGINE Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875. Pada pertengahan era 30-an, Volvo menggunakan engine yang serupa dengan engine Diesel. Yaitu engine
Engine Tune Up Engine Conventional
Kualifikasi Tipe Mobil Spesifik Engine Tune Up Nama No. Reg TUK Tanggal Lembar : Peserta Engine Tune Up Engine Conventional OTO.KR-01-001.01 Pelaksanaan pemeliharaan/service komponen OTO.KR-01-009.01 Pembacaan
Letak sensor EFI pada toyota Avanza dan Daihatsu Xenia tak sensor pada Avanza/ Xenia tak Sensor dan Injektor Mesin Avanza/xenia
Letak sensor EFI pada toyota Avanza dan Daihatsu Xenia Letak sensor pada Avanza/ Xenia 1. Vacuum switching Valve (EVAP) 2. Sensor Tekanan Absolut Manifold 3. Pompa nahan Bakar 4. Sensor oksigen (sensor
SISTEM BAHAN BAKAR INJEKSI PADA SEPEDA MOTOR HONDA (HONDA PGM-FI)
SISTEM BAHAN BAKAR INJEKSI PADA SEPEDA MOTOR HONDA (HONDA PGM-FI) Gambar Komponen sistem EFI pada sepeda mesin Honda Supra X 125 A. Sistem Bahan Bakar Komponen-komponen yang digunakan untuk menyalurkan
TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA
TURBOCHARGER URAIAN Dalam merancang suatu mesin, harus diperhatikan keseimbangan antara besarnya tenaga dengan ukuran berat mesin, salah satu caranya adalah melengkapi mesin dengan turbocharger yang memungkinkan
Mesin Diesel. Mesin Diesel
Mesin Diesel Mesin Diesel Mesin diesel menggunakan bahan bakar diesel. Ia membangkitkan tenaga yang tinggi pada kecepatan rendah dan memiliki konstruksi yang solid. Efisiensi bahan bakarnya lebih baik
PEMERINTAH PROVINSI BALI DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA PANITIA PELAKSANA LOMBA KOMPETENSI SISWA SEKRETARIAT : SMK NEGERI 1 DENPASAR
TUGAS : ENGINE TUNE UP NO ASPEK PENILAIAN YES NO ACTUAL COMMENT 1 PERSIAPAN 1.1 Periksa semua perlengkapan yang ada 10 0 1.2 Periksa semua instruksi 10 0 1.3 Pilih peralatan pengetesan yang benar 20 0
PEMERINTAH KOTA DENPASAR DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA PANITIA PELAKSANA LOMBA KOMPETENSI SISWA SEKRETARIAT : SMK NEGERI 1 DENPASAR
TUGAS : ENGINE TUNE UP NO ASPEK PENILAIAN YES NO ACTUAL COMMENT 1 PERSIAPAN 1.1 Periksa semua perlengkapan yang ada 10 0 1.2 Periksa semua instruksi 10 0 1.3 Pilih peralatan pengetesan yang benar 20 0
MODUL PRAKTEK SISTEM KELISTRIKAN BODI
2010 MODUL PRAKTEK SISTEM KELISTRIKAN BODI 1 P a g e Budi Waluyo, ST MESIN OTOMOTIF FT UM MAGELANG 1/1/2010 BAB I PENDAHULUAN Modul praktek ini merupakan salah satu materi pengajaran praktek kelistrikan
ELEKTRONIC FUEL INJECTION
ELEKTRONIC FUEL INJECTION 1 Pada zaman dahulu sistim supply bahan bakar pada mesin masih convensional (manual) yang dikenal dengan sistim Carburator, kemudian setelah tahun 1960-an ditemukan Electronic
AUTOMOBILE TECHNOLOGY TINGKAT PROVINSI
KISI KISI LOMBA KETERAMPILAN SISWA AUTOMOBILE TECHNOLOGY TINGKAT PROVINSI TAHUN 2012 TUGAS A : TUNE UP MOTOR BENSIN WAKTU : 1. Persiapan ( 5 Menit) Tune Up Motor bensin pada kendaran Kijang 7K tahun 2007
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan membahas semua teori yang bisa dijadikan dasar teori pengujian injektor kendaraan Grand Livina Nissan 1500cc tahun 2010 yang telah dilengkapi
Informasi Pendiagnosaan Sendiri Sistem EFI atau PGM-FI
Informasi Pendiagnosaan Sendiri Sistem EFI atau PGM-FI Prosedur Pendiagnosaan Sendiri (Self Diagnosis) a. Letakkan sepeda motor pada standar utamanya. Catatan: Malfunction indicataor lamp (MIL) akan berkedip-kedip
BAB 12 INSTRUMEN DAN SISTEM PERINGATAN
BAB 12 INSTRUMEN DAN SISTEM PERINGATAN 12.1. Pendahuluan Bab ini berisi sistem kelistrikan bodi yang berhubungan dengan suatu pengukur bagi pengemudi yang sebagian atau keseluruhannya berada pada panel
SISTEM ELECTRONIC FUEL INJECTION (EFI) SMK MUH 2 AJIBARANG 2009/2010
SISTEM ELECTRONIC FUEL INJECTION (EFI) SMK MUH 2 AJIBARANG 2009/2010 Pengantar Praktek Disampaikan Oleh: Panut Widiyono, S.Pd EFI SISTEM ELECTRONIC FUEL INJECTION (EFI) TIPE SISTEM EFI Sistem D-EFI (Tipe
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Penelitian Untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai maka dalam penelitian ini akan digunakan metode penelitian eksperimental yaitu metode yang dapat dipakai untuk menguji
ELECTRONIC FUEL INJECTION
ELECTRONIC FUEL INJECTION KOMPONEN KOMPONEN SISTIM EFI TYPE TYPE INJECTION YANG DIKONTROL SECARA ELECTRONIC D Jetronic ( Druck Jetronic ) L Jetronic ( Luft Jetronic ) TYPE TYPE INJECTION YANG DIKONTROL
Gambar 3. Posisi katup ISC pada engine
ANALISA SISTEM KERJA EMS (ENGINE MANAGEMENT SYSTEM) DENGAN VARIASI TEMPERATUR AIR PENDINGIN DAN BEBAN KERJA PADA KONDISI STASIONER (ISC) KENDARAAN DAIHATSU XENIA Waluyo Abstrak EMS adalah sistem pengaturan
BAB IV PERAWATAN REM CAKRAM TIPE ABS
BAB IV PERAWATAN REM CAKRAM TIPE ABS 4.1. Tujuan Perawatan Perawatan dan perbaikan merupakan suatu hal yang sangat penting agar suatu alat atau mesin dapat bekerja dengan baik. Karena dengan sistem perawatan
KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR
JPTM FPTK 2006 KONSENTRASI OTOMOTIF JURUSAN PENDIDIKAN TEKIK MOTOR FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BAHAN AJAR NO 2 Motor TANGGAL : KOMPETENSI Komponen Utama
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. 125 pada tahun 2005 untuk menggantikan Honda Karisma. Honda Supra X
BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN 4.1. HONDA SUPRA X 125 PGM-FI Honda Supra X adalah salah satu merk dagang sepeda motor bebek yang di produksi oleh Astra Honda Motor. Sepeda motor ini diluncurkan
STANDAR LATIHAN KERJA DAFTAR MODUL
STANDAR LATIHAN KERJA DAFTAR MODUL NO. KODE JUDUL 1. WLO 01 ETIKA PROFESI DAN ETOS KERJA 2. WLO 02 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) 3. WLO 03 STRUKTUR DAN FUNGSI WHEEL LOADER 4. WLO 04 PEMELIHARAAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan untuk mengetahui fenomena yang terjadi pada mesin Otto dengan penggunaan bahan bakar yang ditambahkan aditif dengan variasi komposisi
BAB III METODOLOGI PENGUJIAN
BAB III METODOLOGI PENGUJIAN Percobaan yang dilakukan adalah percobaan dengan kondisi bukan gas penuh dan pengeraman dilakukan bertahap sehingga menyebabkan putaran mesin menjadi berkurang, sehingga nilai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Dalam tugas akhir yang berjudul troubleshooting sistem EPI (Electronic
7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Dalam tugas akhir yang berjudul troubleshooting sistem EPI (Electronic Petrol Injection) pada mesin Suzuki Carry Futura 1.5 G15A menjelaskan
TUGAS AKHIR TROUBLESHOOTING SISTEM EPI ( ELECTRONIC PETROL INJECTION ) PADA MESIN SUZUKI CARRY FUTURA 1.5 G15A
TUGAS AKHIR TROUBLESHOOTING SISTEM EPI ( ELECTRONIC PETROL INJECTION ) PADA MESIN SUZUKI CARRY FUTURA 1.5 G15A Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Program Diploma 3 untuk Menyandang Sebutan Ahli
BAB II LANDASAN TEORI
4 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Peneliti Terdahulu Wardika (2007) telah melakukan penelitian dengan objek penelitian mesin dengan volume silinder 1500 cc dengan sistem injeksi. Latar belakang penelitian yang
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
15 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 PENDAHULUAN Mesin diesel FAW FD 280 CG (Cargo) merupakan jenis mesin diesel empat langkah berkapasitas 280 Hp keluaran pabrik FAW yang menggunakan teknologi mesin diesel
2.3.1.PERBAIKAN BAGIAN ATAS MESIN. (TOP OVERHAUL)
BAB VII 2.3.1.PERBAIKAN BAGIAN ATAS MESIN. (TOP OVERHAUL) Perbaikan bagian atas adalah yang meliputi bagian. atas dari motor Diesel, yaitu seluruh bagian pada kepala silinder (Cylinder head) atau seluruh
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. tegangan dari Batteray, kemudian ECU memberi tegangan kepada sesmor sesuai
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Rangkaian Engine Management System Rangkaian pada Engine Management System yaitu ECU mendapat tegangan dari Batteray, kemudian ECU memberi tegangan kepada sesmor sesuai
LUBRICATING SYSTEM. Fungsi Pelumas Pada Engine: 1. Sebagai Pelumas ( Lubricant )
LUBRICATING SYSTEM Adalah sistim pada engine diesel yang dapat merawat kerja diesel engine agar dapat berumur panjang, dengan memberikan pelumasan pada bagian-bagian engine yang saling bergerak/mengalami
BAB III ANALISIS PERANCANGAN SISTEM
BAB III ANALISIS PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisis Masalah Tahap analisis masalah akan memberikan data dan opini atas permasalahan yang dibidik dan dicarikan solusinya. Pada tahap ini kita melibatkan beberapa
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Mesin Bensin Nissan HR15DE dengan ECCS Mesin bensin HR15DE merupakan jenis mesin bensin empat langkah berkapasitas 1500cc keluaran pabrikan Nissan yang dengan dilengkapi teknologi
BAB II TINJAUAN LITERATUR
BAB II TINJAUAN LITERATUR Motor bakar merupakan motor penggerak yang banyak digunakan untuk menggerakan kendaraan-kendaraan bermotor di jalan raya. Motor bakar adalah suatu mesin yang mengubah energi panas
BAB III PROSEDUR PENGUJIAN STUDI PUSTAKA KONDISI MESIN DALAM KEADAAN BAIK KESIMPULAN. Gambar 3.1. Diagram alir metodologi pengujian
BAB III PROSEDUR PENGUJIAN 3.1 Diagram alir Metodologi Pengujian STUDI PUSTAKA PERSIAPAN MESIN UJI DYNO TEST DYNOJET PEMERIKSAAN DAN PENGETESAN MESIN SERVICE MESIN UJI KONDISI MESIN DALAM KEADAAN BAIK
SISTIM PENGAPIAN. Jadi sistim pengapian berfungsi untuk campuran udara dan bensin di dalam ruang bakar pada.
SISTIM PENGAPIAN Pada motor bensin, campuran bahan bakar dan udara yang dikompresikan di dalam silinder harus untuk menghasilkan tenaga. Jadi sistim pengapian berfungsi untuk campuran udara dan bensin
BAB III PROSES OVERHAUL ENGINE YAMAHA VIXION. Proses Overhoul Engine Yamaha Vixion ini dilakukan di Lab. Mesin,
BAB III PROSES OVERHAUL ENGINE YAMAHA VIXION 3.1. Tempat Pelaksanaan Tugas Akhir Proses Overhoul Engine Yamaha Vixion ini dilakukan di Lab. Mesin, Politenik Muhammadiyah Yogyakarta. Pelaksanaan dilakukan
BAB I PENDAHULUAN...1
DAFTAR ISI Halaman Judul...i Lembar Nomor Persoalan...ii Lembar Pengesahan...iii Lembar Pernyataan...iv Lembar Persembahan...v Motto...vi Kata Pengantar...vii Abstract...ix Intisari...x Daftar Isi...xi
LAMPIRAN A Pohon Keputusan
72 LAMPIRAN A Pohon Keputusan Identifikasi Kerusakan pada motor Yamaha V-ixion B010 B020 B030 B040 B050 B060 B070 B080 B090 B100 B110 B120 B130 B140 B010 B020 B030 B040 B050 B060 B070 B080 B090 B100 B110
IDENTIFIKASI SYSTEM EFI. Electronic Fuel Injection. M. Azam Sakhson SMKN3 Jombang
IDENTIFIKASI SYSTEM EFI Electronic Fuel Injection M. Azam Sakhson SMKN3 Jombang LAYOUT DAN KOMPONEN ENGINE SOLUNA 1,2,4 CMP,CKP,Distributor 3 DLC 5 ECM-belakang box 6 Engine control relay 7 ECT sensor
D. LANGKAH KERJA a. Langkah awal sebelum melakukan Engine Tune Up Mobil Bensin 4 Tak 4 silinder
JOB SHEET DASAR TEKNOLOGI A. TUJUAN : Setelah menyelesaikan praktek ini diharapkan siswa dapat : 1. Dapat menjelaskan prosedur tune up 2. Dapat melakukan prosedur tune up dengan benar 3. Dapat melakukan
- 1 - (1/1) Komponen. Lokasi
Garis Besar Garis Besar 1. Sistem Auto A/C (Air Conditioner) Sistem auto A/C bekerja dengan mengaktifkan pengaturan temperatur udara yang dikehendaki, dengan selektor temperatur dan menekan switch AUTO.
BAB III PROSEDUR PENGUJIAN
BAB III PROSEDUR PENGUJIAN Pengambilan sampel pelumas yang sudah terpakai secara periodik akan menghasilkan laporan tentang pola kecepatan keausan dan pola kecepatan terjadinya kontaminasi. Jadi sangat
TWIN Tips. Technical & Warranty Information Tips Mengatur Engine Speed Idle. Edisi XIII Juli 2015
Daftar Isi Mengatur Engine Speed Idle...hal 1 Penggantian Servo Clutch Model Baru.hal 2 Proses Pemasangan Servo Clutch Model Baru..hal 2 Air di Housing Filter Cartridge adalah Normal..hal 3 Information
BAB II KAJIAN TEORI. Ali Imron (2013) dalam tugas akhir yang berjudul troubleshooting sistem
BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Kajian Pustaka Ali Imron (2013) dalam tugas akhir yang berjudul troubleshooting sistem EPI (Electronic Petrol Injection) pada mesin Suzuki Carry Futura 1.5 G15A menjelaskan prinsip
Fungsi katup Katup masuk Katup buang
MEKANISME KATUP FUNGSI KATUP Fungsi katup Secara umum fungsi katup pada motor otto 4 langkah adalah untuk mengatur masuknya campuran bahan bakar dan udara dan mengatur keluarnya gas sisa pembakaran. Pada
BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA
BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA 9.1. MESIN PENGGERAK UTAMA KAPAL PERIKANAN Mesin penggerak utama harus dalam kondisi yang prima apabila kapal perikanan akan memulai perjalanannya. Konstruksi
CASE BY CASE DIAGNOSTIC & OUTPUT ERROR CODE PROBLEM PADA SCANNER ELECTRONIC CONTROL UNIT KENDARAAN
CASE BY CASE DIAGNOSTIC & OUTPUT ERROR CODE PROBLEM PADA SCANNER ELECTRONIC CONTROL UNIT KENDARAAN Ian Hardianto Siahaan, Doddy H Sinambela, Ninuk Jonoadji, Adi Kumala Wijaya Prodi Teknik Mesin Universitas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Motor Bakar Motor bakar adalah mesin atau peswat tenaga yang merupakan mesin kalor dengan menggunakan energi thermal dan potensial untuk melakukan kerja mekanik dengan
BAB IV PEMBAHASAN. Dalam proses pengambilan data pada media Engine Stand Toyota Great
BAB IV PEMBAHASAN.. Proses Pengambilan Data Dalam proses pengambilan data pada media Engine Stand Toyota Great Corolla tipe A-FE tahun 99 ini, meliputi beberapa tahapan yakni pengambilan data sebelum dilakukan
COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan )
COOLING SYSTEM ( Sistim Pendinginan ) Adalah sistim dalam engine diesel yang berfungsi: 1. Mendinginkan engine untuk mencegah Over Heating.. 2. Memelihara suhu kerja engine. 3. Mempercepat dan meratakan
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER Di susun oleh : Cahya Hurip B.W 11504244016 Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta 2012 Dasar
MAKALAH PENERAPAN OPEN LOOP DAN CLOSE LOOP SYSTEM OLEH: JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
MAKALAH PENERAPAN OPEN LOOP DAN CLOSE LOOP SYSTEM OLEH: JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Penerapan Close loop system A. Close loop System (sistem loop tertutup) Sistem loop
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alur Penelitian Dalam bab ini menguraikan tentang alur jalannya penelitian dari perbandingan hasil nilai CO (Karbon Monoksida) dan CO2 (karbon dioksida) dari beberapa
ECS (Engine Control System) TROOT024 B3
ECS (Engine Control System) TROOT024 B3 Diagnosa Ignition Control Sistem Tujuan Umum : Peserta dapat mengidentifikasi fungsi, konstruksi, cara kerja sistem control ngine Peserta dapat mendiagnosa dan memperbaiki
CAR AIR CONDITIONER PT. HANINDO AUTOMOTIVE CONSULTANT
CAR AIR CONDITIONER PT. HANINDO AUTOMOTIVE CONSULTANT Fungsi Air Conditioner adalah untuk : 1. Mengatur suhu udara 2. Mengatur sirkulasi udara 3. Mengatur kelembaban udara 4. Mengatur Kebersihan udara
BAB III ANALISIS SISTEM KONTROL ELEKTRONIK
BAB III ANALISIS SISTEM KONTROL ELEKTRONIK 3.1. KronologisPermasalahan Kondisi dari suatu mobil tidak selamanya baik, seiring dengan waktu dan cara pemakaian, prosedur perawatan berkala maupun kesalahan
LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN Lampiran 1. Scope Pemeliharaan P1 P8 Scope Pemeliharaan P1 & P2 (Pemeliharaan Harian) PLTD Titi Kuning meliputi: 1. Membersihkan mesin, peralatan-peralatan bantu serta lantai lokasi mesin dari
BAB III METODE PENELITIAN
75 BAB III METODE PENELITIAN Pada penelitian ini penulis meneliti tentang Analisa BBM Pertamina pada Yamaha Mio M3 dengan membandingkan 3 jenis BBM pertamina yaitu : Premium (RON 88), Pertalite (RON 90),
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN Jl. Dr. Setiabudhi No. 207 Bandung UJIAN TEORI PRAKTEK ENGINE
WAITING FOR CONNECTING. MODE STANDAR Pada mode ini nyalakan kunci kontak, kemudian di layar akan muncuk sbb : 0 RPM 105 F
A. SYSTEM INJEKSI YAMAHA VERSI 1 1. Hub kabel positif (+) dan negative (-) ke kutub aki 2. Hub kabel K-LINE ke kabel warna HIJAU atau PUTIH B. SYSTEM INJEKSI YAMAHA VERSI 2 (TAHUN 2015 KE ATAS) Hubungkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Engine Managemenet System mobil Toyota Great Corolla
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Engine Managemenet System mobil Toyota Great Corolla analisa sensor dan aktuator pada simulator engine management system Toyota great corolla 4A FE pada tahun 1992 seperti
SISTEM BAHAN BAKAR. Injektor membuat injeksi bahan bakar ke dalam intake manifold sesuai dengan sinyal yang diberikan oleh komputer.
SISTEM BAHAN BAKAR Kegunaan dari sistem injeksi bahan bakar secara akurat adalah untuk memasok sejumlah bahan bakar pada waktu yang tepat. Berdasarkan pada sinyal-sinyal masukan, ECM akan memprogram setiap
Gambar struktur fungsi solenoid valve pneumatic
A. PNEUMATIK 1. Prinsip Kerja Peralatan Pneumatik Prinsip kerja dari solenoid valve/katup (valve) solenoida yaitu katup listrik yang mempunyai koil sebagai penggeraknya dimana ketika koil mendapat supply
DASAR-DASAR MESIN & SISTEM BAHAN BAKAR
ASTRA HONDA TRAINING CENTRE DASAR-DASAR MESIN & SISTEM BAHAN BAKAR PELATIHAN MEKANIK TINGKAT - I Tujuan Materi : Peserta memahami prinsip kerja motor bakar Peserta memahami perbedaan motor 4 tak dan 2
BAB II DASAR TEORI. Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses
BAB II DASAR TEORI 2.1. Definisi Motor Bakar Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses pembakaran. Ditinjau dari cara memperoleh energi termal ini mesin kalor dibagi menjadi 2
Berikut adalah istilah-istilah pada mesin dan bagian-bagian mesin yang dirasa perlu kita ketahui :
Mengenal Bagian-Bagian Sensor sensor pada Mesin EFI Mesin mobil adalah sebuah sistem yang cukup kompleks, semua parts bekerjasama untuk menghasilkan tenaga yang akan dikonversi menjadi daya gerak mobil
Petunjuk : Berilah Tanda Silang (X) pada salah satu jawaban yang paling tepat
Petunjuk : Berilah Tanda Silang (X) pada salah satu jawaban yang paling tepat 1. Menurut gambar di bawah ini jaket air (water jacket) ditunjukkan oleh 1 5 7 2 8 9 6 3 4 a. No. 1 b. No. 2 c. No. 3 d. No.
Periksa apakah laju aliran oksigen di setiap outlet sudah tepat. Nyalakan mesin dan periksa apakah terdapat kebocoran oli
Periksa apakah ada pertukaran udara yang cukup 4 Periksa fungsionalitas dari setiap outlet 0V 5 Periksa fungsionalitas dari setiap outlet V 6 Periksa sambungan ground pada semua sirkuit Periksa dan amankan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II PENDAHULUAN BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Motor Bakar Bensin Motor bakar bensin adalah mesin untuk membangkitkan tenaga. Motor bakar bensin berfungsi untuk mengubah energi kimia yang diperoleh dari
BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA
BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA 3.1 Metode Pengujian 3.1.1 Pengujian Dual Fuel Proses pembakaran di dalam ruang silinder pada motor diesel menggunakan sistem injeksi langsung.
VARIABLE VALVE TIMING inteligent ( VVT i ) OLEH TC DAIHATSU - WILAYAH JAWA BARAT
VARIABLE VALVE TIMING inteligent ( VVT i ) OLEH TC DAIHATSU - WILAYAH JAWA BARAT VARIABLE VALVE TIMING - inteligent VVT-i adalah sebuah sistim yang mampu mengatur waktu kerja katup untuk mencapai kondisi
Program pemeliharaan. Laporan pemeliharaan
17 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 PROSES KERJA PEMERIKSAAN DAN PEMELIHARAAN Berikut diagram alir proses perawatan dan pemeliharaan Jadwal pemeliharaan Program pemeliharaan Pemeliharaan Mingguan
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 PENDAHULUAN Sistem Engine Brake dan Exhaust Brake telah menjadi trend saat ini, terutama pada sektor heavy duty. Semua jenis kendaraan heavy duty terbaru sudah menggunakan
SISTEM PAKAR ANALISA KERUSAKAN KOMPONEN MESIN PADA MOBIL NISSAN GRAND LIVINA. Dosen Pengampu : Betha Nurina Sari, M. Kom.
SISTEM PAKAR ANALISA KERUSAKAN KOMPONEN MESIN PADA MOBIL NISSAN GRAND LIVINA Dosen Pengampu : Betha Nurina Sari, M. Kom Di Susun Oleh : Angga Fajar Lesmana Hidayat 1441177004233 Redy Kurniawan 1441177004188
BAB II. LANDASAN TEORI
BAB II. LANDASAN TEORI 2.1. Mengenal Motor Diesel Motor diesel merupakan salah satu tipe dari motor bakar, sedangkan tipe yang lainnya adalah motor bensin. Secara sederhana prinsip pembakaran pada motor
BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
41 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN Start Alat berat masuk ke Workshop Pengecekan sistem hidrolik secara keseluruhan komponen Maintenance Service kerusakan Ganti oli Ganti filter oli Ganti hose hidrolik
BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN. Persiapan Alat Dan Bahan. Persiapan satu Unit kendaraan. Pengecekan. Pembongkaran Evaporator.
25 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 ALUR PROSES Persiapan Alat Dan Bahan Persiapan satu Unit kendaraan Pengecekan Pembongkaran Evaporator Kondisi baik tidak Perawatan Korektif ya Perawatan Preventif
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
NO. JST/OTO/304/14 Revisi: 03 Tgl.: 24 Agustus 2016 Hal 1 dari 5 I. Kompetensi: Setelah melaksanakan praktik, mahasiswa diharapkan dapat menggunakan Carman Hi-Scan Pro dengan prosedur yang benar. II. III.
BAB IV PERAWATAN KOMPRESOR AC PADA TOYOTA FORTUNER
Laporan Kerja Praktek 34 BAB IV PERAWATAN KOMPRESOR AC PADA TOYOTA FORTUNER 4.1 Tahapan-Tahapan Perawatan Sebelum mobil diberikan perawatan, mobil tersebut terlebih dahulu harus diperiksa di WO ( Working
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 MOTOR DIESEL Motor diesel adalah motor pembakaran dalam (internal combustion engine) yang beroperasi dengan menggunakan minyak gas atau minyak berat sebagai bahan bakar dengan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Setelang melakukan proses overhoul cylinder head berdasarkan standar dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Proses Overhoul Engine Yamaha Vixion. Setelang melakukan proses overhoul cylinder head berdasarkan standar dan spesifikasi yamaha diperoleh hasil pengukuran dan indentifikasi
TROUBLE SHOOTING SISTEM INJEKSI MESIN DIESEL MITSUBISHI L300 DAN CARA MENGATASINYA
TROUBLE SHOOTING SISTEM INJEKSI MESIN DIESEL MITSUBISHI L300 DAN CARA MENGATASINYA Suprihadi Agus Program Studi D III Teknik Mesin Politeknik Harapan Bersama Jln. Mataram No. 09 Tegal Telp/Fax (0283) 352000
