SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) XI A.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) XI A."

Transkripsi

1 SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) XI A. 1. Pokok Bahasan : Proses pembentukan telur A.2. Pertemuan minggu ke : 14 dan 15 (4 jam) B. Sub Pokok Bahasan : 1. Struktur telur 2. Bagian-bagian telur dan vitelogeni 3. Ovulasi 4. Pembentukan putih telur dan plumping 5. Pembentukan kerabang telur 6. Mekanisme peneluran C. Tujuan: Menjelaskan proses pembentukan telur dan struktur telur serta vitelogeni. Mampu menjelaskan terjadinya ovulasi, peranan hormon dan perkembangan folikel. Mampu menerangkan pembentukan putih telur dan mekanisme plumping. Mampu menerangkan proses pembentukan kerabang telur dan akhirnya mengetahui pula mekanisme peneluran (cluth, laying squence dan oviposition) D. Uraian Bahasan Proses Pembentukan Telur 1. Struktur telur Telur tersusun dari kuning telur (yolk), putih telur (albumen), kerabang tipis dan kerabang telur serta beberapa bagian lain yang cukup komplek (gambar 19). Sebutir telur dengan berat 60 g mempunyai garis tengah (lingkaran ekuator) 4,2-5,8 cm dan lingkaran membujur cm. Isi telur 55 cm 3 dengan luas permukaan 70 cm 2

2 Gambar 19. Potongan melintang telur (SumberCard dan Nesheim, 1982) 3. Ovulasi Sebutir telur terbentuk terbentuk selama jam. Ovulasi kuning telur teriadi menit setelah peneluran (ovipositiori). Oleh karena itu ovulasi tidak akan terjadi apabila telur masih berada di dalam oviduk. Terhambatnya peneluran ini disebabkan karena jam peneluran jatuh pada sore atau malani hari, akibatnya terjadilah seri peneluran secara suksesif dari setiap individu. Hirarkis dari ovum yang distimulasikan oleh hormon steroid menyebabkan ovulasi teriadi secara berkesinambungan. Gambar 20. Proses terjadinya ovulasi (Sumber: Bahr dan Johnson, 1991) Ovum pada fase perkembangan cepat akan mensekresikan estrogen sementara itu theka interna mensekresikan testosteron. Sekresi progesteron oleh granulosa dari folikel yang sudah masak teriadi sehari setelah ovulasi. Kronologi terjadinya ovulasi merupakan dua ritme, pertama karena pengaruh hormon yang dilepaskan oleh hipofisis yang dipengamhi oleh pengaturan cahaya. Kedua tergantung dari ritme pemasakan ovum di ovarium. Luteinizing Hormon (LH) yang diproduksi oleh hipofisis disekresikan 6 jam sebelum ovulasi di bawah kontrol dari sekresi progesteron dari granulosa folikel. Produksi progesteron sendiri sebetuhiya juga tergantung dari sekresi LH. Asosiasi ini menyebabkan terjadinya sinkronisasi antara derajat masaknya folikel dan terjadinya ovulasi. Hasil ini merupakan implikasi progresif dan umpan balik dari sekresi progesteron dari folikel dan LH dari hipofisis. Umpan balik positif ini tidak

3 mungkin terjadi selama periode 4-11 jam setelah penerangan. Lama (bulan) Diameter (mm) Herat (g) JumlahOvum Warna Disekresikan Disekresikan Tabel 7. Perkembangan folikel telur Fase Perkembangan Lambat Medium Cepat ,5 < ,001 0,01-0,3 20 > Putih Kuning Pucat Kuning Protein Protein Protein dan lemak Kelambatan ovulasi dan oviposition (peneluran) merupakan konsekuensi dari perbedaan antara ritme gelap saat terjadinya sekresi LH dari hipotamamus-hipofisis dengan ritme endogen pemasakan folikel selama lebih dari 24 jam. Selama desinkronisasi sudah melewati waktu tersebut maka ovulasi akan terhenti dan pemasakan ovum dilanjutkan pada hari berikutnya sehingga terjadi seri peneluran. Ovulasi ditandai dengan robeknya lapisan folikel dan keluarnya kuning telur masuk ke dalam infundibulum (gambar 48). Lapisan folikel yang terdiri dari kolagen dan serin protease (proteoglikan) ini diaktifkan oleh plasminogen yang kaya akan sulfat terutama pada daerah stigma folikel. Produksi plasminogen ini tergantung dari tempat lapisan folikel, robeknya lapisan folikel terjadi di daerah diskus germinalis berkembang yaitu pada stigma folikel 4. Pembentukan Putih Telur dan Mekanisme Plumping Kuning telur melakukan penetrasi ke dalam magnum menit setelah ovulasi. Selama waktu tersebut dimungkinkan terjadinya pembuahan karena spermatozoids tersimpan pada daerah glandula spermatik yaitu pada zona radiata dan lapisan perivitelin dari leher infundibulum. Dari infundibulum kuning telur mengalami penetrasi ke magnum dan kuning telur berada di bagian ini selama 3,5 jam. Selama waktu tersebut maka kuning telur terbungkus oleh putih telur. Putih telur terdiri dari 88% air, protein (90% bahan kering atau kurang lebih 4 g protein/telur), mineral (6% bahan kering), glukosa bebas (3,5% bahan kering) dan

4 sama sekali tidak terdapat lipida. Putih telur merupakan sumber protein dan tersekresikan serta terakumulasi di dalam sel epithelium dan tubuler. Keberadaan telur di magnum ini merupakan stimulasi dari saluran reproduksi untuk mensekresikan putih telur tersebut. Sintesa protein ini terjadi karena konsentrasi RNA dan kecepatan sintesa putih telur dari glandula tubuler meningkat pada saat pembentukan telur. Protein putih telur yang berupa ovalbumin, ovotransverin, ovomucoid dan lysosome disinthesa oleh glandula tubuler, sementara itu avidin dan ovomucin disintesa oleh sel gobelet. Putih telur yang dibentuk berbentuk kental berupa gel yang tipis yang mengandung kurang lebih 15 g air atau separuh dari jumlah air keseluruhan. Selama 6-7 jam pertama telur berada di magnum maka kandungan air putih telur meningkat dua kali sehingga mencapai 3,5-7 g air setiap gram protein. Mekanisme penyerapan air bersama-sama dengan protein di dalam proses pembentukan putih telur ini dinamakan plumping. Perbedaan struktur dari putih telur, tebaltipisnya putih telur, terjadinya putih telur tipis dan tebal interna dan eksterna serta chalaza terbentuk pada saat ini. Chalaza merupakan protein yang terakumulasi akibat adanya rotasi dan tekanan pada saat pembentukan putih telur sehingga membebaskan ikatan protein dari putih telur. Chalaza ini berperanan untuk mempertahankan posisi kuning telur agar stabil di tengah dan juga diduga sebagai penyebaran panas pada saat penetasan. Putih telur merupakan sumber protein utama dalam telur yang terdiri dari ovalbumin (merupakan protein utama), globulin dan lisosom, ovomusin, avidin, flavoprotein dan ovomukoid. Semua protein telur berbentuk glikoprotein kecuali avidin dan lisosom. 5. Pembentukan Kerabang Telur Kerabang telur terdiri dari dua bagian yaitu kerabang tipis (membran) baik luar dan dalam yang dihasilkan oleh ithmus dan kerabang telur keras. Tebal kerabang telur 300 mm. Komposisi dari kerabang telur dapat digambarkan sebagai berikut: Kerabang telur terdiri dari Bahan kering 98,4% dan air 1,6%. Bahan kering terdiri dari protein 3,3% dan mineral 95,1%. Diantara mineral yang paling banyak terdapat di kerabang telur adalah CaCO3<98,43%). MgCO 3 (0,84%) dan Ca 3 (PO 4 ) 2 (0,75%). Persentase berat mineral/berat total dari kerabang telur serta berat absolut/berat kerabang telur seperti pada tabel berikut ini. Kerabang telur terdiri dari beberapa lapisan yaitu:

5 a. Kutikula b. Membran Palissadik c. Membran cone (cone layer) d. Membran mamiler e. Membran kerabang dalam Gambar 21. Struktur kerabang telur (Sumber: Card dan Nesheim, 1982) a. Membran kerabang telur Membran kerabang telur ini terdiri dari dua bagian yaitu luar dan dalam. membran ini tersususn dari protein yang berbentuk serat dan berikatan dengan keratin tetapi juga terdapat kolagen yang mengandung hydroksiprolin dan hydroksilisin serta elastin. Struktur ikatan dari protein membran kerabang telur ini belum jelas namun diduga merupakan rantai peptida. b. Kerabang telur Secara umum kerabang telur terdiri dari air 1,6%, protein 3,3% dan Bahan kering terutama mineral yaitu 93,6% berupa CaCO 3 sisanya MgCO 3 dan Cas(PO4). Susunan kimiawi dari kerabang telur adalah:

6 1. Membran mamiler, membran ini terikat dengan membran kerabang dalam dan tersusun dari cone dasar dan membran cone (cone layer), membran mamiler mengandung muko polisakarida dan glikoprotein. 2. Cone dasar tersususn dari membran yang merupakan perkembangan dari membran kerabang bagian luar. 3. Membran palisadik. Lapisan ini mengandung kapur berupa kalsium karbonat yang berikatan dengan 3% bahan organik. Bahan organik utama terdiri dari 11% polisakarida dan 70% protein yang berbentuk ikatan glikoprotein atau komplek protein-polisakarida. 4. Kutikula merupakan bagian paling luar dari kerabang telur yang tersusun dari protein (90%), gula (4%) dan 3% lipida serta 3,5% abu. Pada kutikula ini terdapat pula zat wama kerabang telur, misalnya warna coklat dari akumulasi protoporpirin. 5. Pigmen kerabang telur, warna kerabang telur ditentukan oleh beberapa zat antara lain melanin, karotenoid dan porpirin. Warna melanin diambil dari sintesa melanin pada kulit dan migrasi dari melanosit dari lapisan layer epidermis kulit. Warna kerabang telur pada unggas liar sebenarnya digunakan sebagai perlindungan terhadap predator. Biosintesa porpirin dimulai dari pembentukan 4 cincin pirole yang dihubungkan oleh metiline dan karakteristik porpirin adalah terbentuknya komplek ion metal seperti hemoglobin dan kloropil yang bertintikan ion besi dan magnesium. Komplek metaloporpirin ini akan membentuk sitokrom, katalase dan substansi yang lain. Suksinat dan glisin merupakan starter dari biosintesis porphobilinogen yang kemudian ditransfer secara enzimatik menjadi uroporpirin. Dekarboksilase dari uroporpirin menghasilkan coproporpirin dan dekarboksilasi untuk terbentuk protoporpirinogen serta secara autooksidasi akan terbentuk protoporpirin. Hasil akhir dari sintesa porpirinogen ini adalah porpirin yang merupakan zat warna pada kerabang telur coklat. Ketika tidak ada telur dalam oviduk temyata level asam delta aminolevulinic (ALA) dan ALA dehidratase lebih tinggi dan nyata lebih tinggi pada uterus ayam RIR dibandingkan ayam SCWL. Aktivitas ALA dehidratase meningkat ketika diketemukan telur di uterus. Variasi warna pada kerabang telur ini meskipun secara tidak nyata berpengaruh terhadap harga telur, tetapi dapat digunakan sebagai salah satu

7 kriteria untuk menentukan tingkat kesenangan konsumen. Warna kerabang telur tidak selalu berhubungan dengan kualitas kerabang telur. Oviduk khususnya pada uterus merupakan tempat untuk mendistribusikan zat warna untuk kerabang telur khususnya terjadi saat mineralisasi kerabang telur di uterus. Warna kerabang telur ini memudar sejalan dengan meningkatnya umur ayam dan menurunnya resistensi kerabang terhadap keretakan. Juga tidak terdapat hubungan dengan seri bertelur, tetapi variasi inter dan intra individu cukup bbesar pengaruhnya terhadap warna kerabang telur. Pigmentasi kerabang telur berhubungan dengan kamuflase dan berperanan pada regulasi temperatur tubuh, tetapi efeknya terhadap kekuatan retak masih merupakan perdebatan yang belum selesai. 5. Pembentukan Kerabang Telur Pembentukan kerabang telur dimulai dari istmus kira-kira 4,5 jam setelah ovulasi dan berakhir 1,5 jam sebelum peneluran. Lapisan pertama yang dideposisikan adalah membran kerabang tipis bagian luar dan inti mamiler. Gambar 22. Mekanisme pembentukan kerabang telur (Sumber:Sauveur, 1988) Mineralisasi dari kalsium karbonat kemudian dilakukan di dalam uterus pada 10 jam setelah ovulasi, kemudian secara cepat terbentuklah cone yang bersama-sama dengan yang berbentuk silindris dan mengandung lapisan palisadik. Kalsium dideposisikan sebanyak 0,33 mg/jam selama jam setelah ovulasi, dan ovulasi berikumya terjadi 30 menit setelah peneluran. Akhirnya kalsifikasi terhenti setelah CaCOs dalam bentuk kristalin. Kutikula dibentuk 1,5 jam sebelum peneluran. Sebelum terjadi kalsifikasi kerabang telur, kalsium (Ca) tidak disimpan dalam uterus tetapi terdapat pada plasma darah dalam bentuk ion kalsium. Deposisi Ca plasma darah pada kerabang telur mi terjadi sangat cepat terutama pada saat mineralisasi kerabang telur yaitu 2 g Ca yang setara dengan konsumsi

8 total kalsium plasmatik setiap 12 menit. Mobilisasi kalsium dari tulang meduler terjadi apabila kekurangan kalsium dalam pakan. Ayam mampu memobilisasikan kalsium sebanyak 58% dari tulang meduler di bawah kontrol dari hormon estrogen dan testosteron. Saat terjadi absorpsi kalsium permukaan sel tulang meduler mengembang 9 kali, namun dengan adanya aktivitas osteoblastik maka rekonstruksi tulang meduler akan terjadi kembali sehingga tetap menjadi tulang yang kompak. Kandungan kalsium pakan memegang peranan penting pada proses kalsifikasi kerabang telur. Peningkatan sekresi asam dan air melalui proventrikulus meningkatkan solubilitas kalsium karbonat pakan dan meningkatkan retensi kalsium intestinum selama kalsifikasi kerabang telur. Kapasitas absorpsi kalsium meningkat 6 kali pada ayam dewasa. Penetrasi kalsium dalam uterus bersifat aktif. Transfer kalsium kemudian menurun dengan kehadiran ion Na atau enzim karbonik anhidrase yang merupakan penyebab produksi bikarbonat. Transfet kalsium berasosiasi dengan sintesis protein sitosolik, calbindin (Calsium binding protein) merupakan afinitas dari sintesis ini. Calbindin diketemukan dalam glandula tubuler yang menjamin terjadinya transpor kalsium bersama dengan kehadiran enzim Ca ATPase di uterus. Enzim ini merupakan fasilitator dalam absorpsi kalsium dalam cairan uterus. 6. Mekanisme Peneluran (Ovipositiori) Keluarnya telur dari oviduk (oviposition) merupakan hasil kerja bersama yang dikoordinasi oleh faktor fisiologis antara lain kontraksi otot uterus dan relaksasi vagina untuk melepaskan telur. Pada unggas aktivitas kontraksi uterus meningkat setiap terjadi peneluran baik itu peneluran normal atau peneluran prematur. Regulasi peneluran tergantung dari hormon arginin vasotosin (oksitosin) yang disekresikan hormon hipifisis posterior, dan hormon prostaglandin yang diproduksi oleh ovarium dan uterus. Ovarium berperanan penting pada sebelum dan sesudah pemasakan ovum, karena ovulasi tidak akan terjadi sebelum terjadinya oviposisi. Peneluran reguler I I I. I I I. I I I. dst.

9 Peneluran irreguler I I. I I I.. I. dst. Sebagai contoh peneluran seekor ayam. Hari dst Peneluran I I I - I I I - - Laying Squence Cluth Berhenti bertelur Laying squence dan cluth tergantung dari genetik ayam, cara peneliharaan dan faktor lingkungan terutama lama pencahayaan. Gambar 23. Seri bertelur (SumberBahr dan Johnson, 1991) Hormon arginin vasotosin (oksitosin) bersama dengan prostaglandin menyebabkan kontraksi uterus dan ekspulsi telur. Injeksi prostaglandin E dan F meyebabkan kontraksi uterus dan relaksasi vagina sehingga terjadi ovipisisi prematur. Konsentrasi prostaglandin tipe F (PGF) dan tipe E (PGE) plasma darah meningkat selama oviposisi. Sementara itu prostaglandin yang diproduksi ovarium hanya tipe F saja yang meningkat akibat dari stimulasi arginin vasotosin. Hal ini jelas bahwa kombinasi antara arginin vasotosin dengan prostaglandin dari ovarium maupun uterus sebagai penyebab ekspulsinya telur (ovipositiori). Seri peneluran pada unggas dinamakan laying squence dan jumlah telur dari setiap laying squence dinamakan cluth. Terdapat beberapa seri peneluran antara lain kontinyu, regular dan irreguler (gambar 23).

10 Beberapa data mengenai berat telur, persentase kuning telur, putih telur dan kerabang telur dari berbagai unggas seperti pada Tabel 8. Tabel 8. Berat dan persentase bagian-bagian telur Jenis unggas Berat telur Persentase (g) Kuning telur Putih telur Kerabang telur Angsa Itik Pekin Kalkun Itik Manila Ayam Leghorn Burung Mutiara Phesant Merpati Burung Puyuh , ,5 8,5-10, , ,5-10, Apabila diperhatikan bahwa berat telur terkecil dari bangsa unggas piaraan adalah telur burung puyuh, sedangkan yang terbesar adalah telur angsa (Burung Unta (ostrich) mempunyai berat telur g). Burung merpati mempunyai persentase putih telur terbesar, sedangkan itik Manila menghasilkan kuning telur paling besar (33-37%). 7. Kualitas Telur Telur merupakan bahan pangan yang berkualitas tinggi bagi manusia dan khususnya merupakan sumber pakan embrio ayam. Produsen telur konsumsi lebih tertarik kepada berat telur karena berat telur merupakan faktor pertama dari harga. Disamping itu produsen juga menyukai telur dengan kualitas kerabang telur yang tinggi. Untuk para pembibit, karena telur akan ditetaskan maka mereka mementingkan kualitas telur yang ideal. Jumlah bakteri dan porositas dari kerabang telur merupakan pertimbangan sehingga untuk pertukaran gas di dalam telur selama penetasan berjalan lancar. Sedangkan telur untuk dikonsumsi yang paling diutamakan adalah kesegaran, besar telur kemudian barulah harga. Tidak kalah pentingnya adalah

11 warna kerabang telur dan kekuningan dari kuning telur. Telur yang cacat dan retak tidak akan dijual dalam bentuk unite, tetapi masih dapat digunakan untuk kue di pabrik roti. Industri agro alimentaire mengutamakan telur yang mudah untuk memisahkan antara putih dan kuning telur, anti kristalin, emulsi, stabilitas persentase protein dan kebersihan telur. Untuk mengukur nilai dari kuning telur dilakukan dengan menggunakan indeks kuning telur yaitu perbandingan antara tinggi dengan diameter kuning telur. Pengukuran indeks kuning telur ini relatif lebih mudah dibanding dengan putih telur hal ini karena bentuk kuning telur relatif lebih stabil dibanding dengan putih telur. Daya tahan membran vitelina dari kuning telur terhadap pecahnya kuning telur juga penting artinya untuk menyatakan kualitas kuning telur. Wama dari kuning telur menjadi kriteria utama terhadap konsumen. Untuk memberi warna kuning sesuai dengan permintaan konsumen merukana hal yang sangat komplek. Secara laboratorium, kuning telur ini diukur dari sampel telur dengan menggunakan kipas Roche pada tempat yang terang, tidak buta warna. Warna kuning telur ini ditentukan oleh kandungan B karotin yang terdapat pada kuning telur. Dengan mengggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 450 nm dengan materi standard B karotin atau kalium bikromat dapat diketahui pula apakah warna kuning telur berasal dari lutein (luzerna) atau zeaxanthin (jagung kuning). Di samping itu sering terdapat pula bintik darah pada kuning telur. Karakter yang lebih spesifik terhadap putih telur adalah kandungan protein (lysozyme), yang berperanan terhadap kualitas putih telur yang digambarkan pada kekentalan putih telur yang meliputi putih telur kental dan encer yang merupakan pembungkus dari kuning telur. Ketika telur dipecah pada kaca, maka terlihat bahwa putih telur kental melekat pada kuning telur dan menutupi semua permukaan kuning telur. Cara pengukuran putih telur yang lazim digunakan adalah: - proporsi putih telur kental dan encer khususnya tinggi atau ketebalan putih telur setelah telur dipecah. - indeks albumen yaitu perbandingan antara tinggi albumen dengan pankang albumen encer. perbandingan secara visual antara telur yang sudah dipecah pada kaca tersebut dengan standard yang telah dikeluarkan oleh USDA dari Amerika Haugh Unit, yaitu satuan nilai dari putih telur yang dikemukakan oleh Haugh pada tahun 1939, yaitu dengan cara menghitung secara logaritma terhadap tinggi albumen kental

12 dan kemudian ditransformasikan ke dalam nilai koreksi dari fungsi berat telur: Haugh Unit = log 100 (H-1,7P 0,37 + 7,57) H = tinggi putih telur kental (mm) P = berat telur (g) untuk mengukur nilai HU ini ada beberapa ketentuan: 1. telur tidak boleh disimpan pada temeratur kurang dari 12 C 2. pecahlah telur secara hati-hati, putih telur tidak boleh rusak 3. ukurlah segera tinggi albumen kental yaitu pada jarak 8 mm dari perbatasan dengan kuning telur, janganlah menunda pengukuran apabila temperatur lingkungan tinggi. 4. pengukuran dengan menggunakan depth mikrometer berkaki tiga dengan kepekaan 1/10 mm akan lebih akurat apabila titik pengukuran terhadap tinggi albumen dilakukan lebih dari satu kali, dengan demikian hasihiya dibuat rata-rata. Biasanya nilai HU bervariasai antara dan telur yang baik antara Di Amerika Serikat nilai dari HU ini kemudian digunakan sebagai indikator terhadap kualitas isi telur dan diklasifikasikan ke dalam 4 klas yaitu: Klas AA A B C HU U> 79 79>U>55 55>U>31 U<31 Selain nilai HU ada juga cara untuk mengukur kualitas putih telur yaitu dengan mengetahui viskositas dari putih telur, tetapi metode ini sangat sulit dilaksanakan karena harus menggunakan alat viskometer untuk mengetahui rheologi dari kerekatan pseudoplastik dan interpretasi dari hasilnya. Pengukuran iini membutuhkan ph lingkungan yang stabil dengan temperatur 20 C dan harus selesai paling lama 4 menit. Untuk mengetahui kualitas kerabang telur maka dapat dilakukan beberapa pengujian meliputi bentuk, soliditas, warna dan porositas dari kerabang telur. Bentuk telur dinyatakan dengan indeks telur yaitu perbandingan antara diameter lebar dengan diameter panjang telur yang dinyatalkan dalam persen. Nilai indeks telur bervariasai antara % dan yang ideal adalah 70-75%. Indeks telur ini tidak dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan jenis kelamin anak ayam dari telur tetas yang ditetaskan. Nilai indeks telur ini sangat bervariasi antara individu dalam suatu kelompok dan peneluran dari satu seri

13 peneluran. Penyebab terjadinya variasi indeks telur ini belum dapat diterangakan secara jelas namun diduga sebagai akibat dari perputaran telur di dalam alat reproduksi, karena ritme tekanan dari alat reproduksi atau ditentukan oleh diameter lumen alat reproduksi. Indeks telur ini tidak dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan jenis kelamin anak dari telur tetas yang ditetaskan seperti yang pernah dilaporkan oleh Tri Yuwanta(1981). Kerabang telur diukur dengan cara menimbang kerabang telur setelah dicuci dan dikeringkan pada panas matahari atau dikeringkan pada pengering 100 C selama kurang lebih 6 jam. Kerabang telur yang diukur di sini termasuk di dalamnya kerabang tipis sebab tidak mudah untuk dilepaskan. Pengukuran berat kerabang telur dilakukan pada 3 butir telur dari siklus 28 hari. Hasil berat yang diperoleh kemudian dikonversikan ke dalam luas permukaan telur yang kemudian dinyatakan dalam indeks kerabang telur. Jadi indeks kerabang telur adalah perbandingan antara berat kerabang telur dengan luas permukaan kerabang telur: C I = x 100 S I = Indeks kerabang telur (g/cm 2 ) C = Berat kerabang telur (g) S = Luas permukaan kerabang telur (cm 2 ) Luas permukaan kerabang telur dihitung berdasarkan berat telur menurut rumus Mongin(1965) sebagai berikut: S = 3,978 W 0,7056 dimana W adalah berat telur Tabe 9. Gizi telur yang dapat dikonsuma bang telur 60 g (%) Material Komplit Putih Telur Kuning Telur Total Air Bahan Kering Protein Lemak Jenuh Tidakjenuh Kolesterol 53, ,5-41, ,5 6,4-7,0 6,1-6,9 2,3-2,5 3,5-4,0 0,24-0, ,^4.5 3, ,5 8-9,2 8,7-10 2,7-3,2 6,0-6,8 2,1-2,4 3,3-3,8 0,24-0,27

14 Glukosa 0,15-0,2 0,12-0,16 0,03-0,05 Abu 0,45-0,55 0,16-0,24 0,2-0,3 Kalori Catalan: Berat kerabang telur 10-11%, untuk berat 100 g angka tersebut perlu dikonversikan Berat telur merupakan kriteria pertama dalam pemasaran telur. Berat ideal telur konsumsi yang diinginkan oleh konsumen bervariasi antara g. Problem yang sering timbul adalah berat telur yangtahk sesuai dengan yang dinginkan yaitu ringan atau terlalu berat, namun kandungab gin rebtif sama (label 9) E. Pemahaman 1. Gambar potongan melintang sebunr telur daa berilah namanya! 2. Terangkan proses vitelogeni lengkap dengan perkembangan cepat dan lambat! 3. Terangkan proses terj adinya ovulasi! 4. Hormon apa saja yang berperanan dalam ovulasi? 5. Terangkan kharakteristik perkembangan folikel! 6. Dimana putih telur dibentuk, hormon apa saja yang mempengaruhinya 7. Terangkan proses plumping dan gambarkan grafiknya! 8. Sebutkan bahan penyusun putih telur? 9. Sebutkan susunan kimia kerabang lelur? 10. Terangkan biosintesis warna kerabang telur! 11. Jelaskan proses pembentukan keiabang telur! 12. Apa yang saudara ketahui tentang calbmdin? 13. Apa yang saudara ketahui tentang opposition? 14. Jelaskan seri bertelur pada ayam! 15. Apa yang saudara ketahui tentang laying squence dan cluth? 16. Buatlah perhitungan persentase bagian-bagian telur dari berbagai unggas!

D. Uraian Pembahasan. Sistem Regulasi Hormonal 1. Tempat produksinya hormone

D. Uraian Pembahasan. Sistem Regulasi Hormonal 1. Tempat produksinya hormone SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) IX A. 1. Pokok Bahasan : Sistem Regulasi Hormonal A.2. Pertemuan minggu ke : 12 (2 jam) B. Sub Pokok Bahasan: 1. Tempat produksi hormone 2. Kelenjar indokrin dan produksi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Selama penelitian pada masa adaptasi terjadi kematian delapan ekor puyuh. Faktor perbedaan cuaca dan jenis pakan serta stres transportasi mungkin menjadi penyebab kematian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Ketersediaan telur yang tidak mengenal musim, keunggulan gizi dari telur dan

I. PENDAHULUAN. Ketersediaan telur yang tidak mengenal musim, keunggulan gizi dari telur dan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Ketersediaan telur yang tidak mengenal musim, keunggulan gizi dari telur dan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia yang diikuti dengan tingginya kesadaran

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. gizi yang lengkap bagi pertumbuhan makhluk hidup baru. Menurut Whitaker and

TINJAUAN PUSTAKA. gizi yang lengkap bagi pertumbuhan makhluk hidup baru. Menurut Whitaker and II. TINJAUAN PUSTAKA.1. Telur dan Komposisi Telur Telur merupakan bahan pangan yang sempurna, karena mengandung zat-zat gizi yang lengkap bagi pertumbuhan makhluk hidup baru. Menurut Whitaker and Tannenbaum

Lebih terperinci

TEKNOLOGI TELUR. Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu :

TEKNOLOGI TELUR. Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu : TEKNOLOGI TELUR STRUKTUR UMUM TELUR Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu : Kulit Telur Mengandung Ca = 98.2 % Mg = 0.9 % ( menentukan kekerasan cangkang/kulit); P = 0.9%. Ketebalan yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. unggas yang lain. Itik mampu mempertahankan produksi telur lebih lama

I. PENDAHULUAN. unggas yang lain. Itik mampu mempertahankan produksi telur lebih lama 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Itik adalah salah satu jenis unggas yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan unggas yang lain. Itik mampu mempertahankan produksi telur lebih lama dibandingkan

Lebih terperinci

STRUKTUR, KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI TELUR

STRUKTUR, KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI TELUR STRUKTUR, KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI TELUR Kuliah Minggu ke 5 Kelas B Materi kuliah Ilmu Pascapanen Peternakan, Fakultas Peternakan UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Telur sebagai produk hasil ternak lebih

Lebih terperinci

ACARA PENGAJARAN (SAP) X A.

ACARA PENGAJARAN (SAP) X A. SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) X A. 1. Pokok Bahasan : Sistem reproduksi ayam jantan dan betina A.2. Pertemuan minggu ke : 13 (2 jam) B. Sub Pokok Bahasan : 1. Sistem reproduksi ayam j antan 2. Mekanisme

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Konsumsi Minum Data hasil pengamatan dan analisis rata-rata konsumsi air minum selama penelitian disajikan pada Tabel 3. Tabel 1. Rata-rata konsumsi air minum (ml/ekor/minggu)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. tercapainya kecukupan gizi masyarakat (Sudaryani, 2003). Telur sebagai sumber

II. TINJAUAN PUSTAKA. tercapainya kecukupan gizi masyarakat (Sudaryani, 2003). Telur sebagai sumber 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Telur Itik Tegal Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat (Sudaryani, 2003). Telur sebagai sumber

Lebih terperinci

Struktur Telur. Suhardi, S.Pt.,MP Universitas Mulawarman

Struktur Telur. Suhardi, S.Pt.,MP Universitas Mulawarman Struktur Telur Suhardi, S.Pt.,MP Universitas Mulawarman Struktur dan komposisi telur 1.Kuning telur (yolk) 2.Putih telur (albumen) 3.Membrane shell 4.Kerabang telur Kuning Telur (31%): 1. Latebra : Pertautan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Puyuh

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Puyuh II. TINJAUAN PUSTAKA A. Puyuh Puyuh (Coturnix coturnix japonica) merupakan salah satu ternak unggas yang mempunyai potensi besar untuk dibudidayakan karena dalam pemeliharaannya tidak membutuhkan area

Lebih terperinci

Telur. Titis Sari Kusuma. Ilmu Bahan Makanan-Telur

Telur. Titis Sari Kusuma. Ilmu Bahan Makanan-Telur Telur Titis Sari Kusuma Ilmu Bahan Makanan-Telur 1 MACAM TELUR Ilmu Bahan Makanan-Telur 2 TELUR Nilai gizi telur sangat lengkap, sumber protein yang baik, kadarnya sekitar 14%, >> tiap butir telur akan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 56 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Tepung Kaki Ayam Broiler sebagai Subtitusi Tepung ikan di dalam Ransum terhadap Produksi Telur Ayam Arab (Gallus turcicus) Berdasarkan hasil penelitian

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING (lanjutan)

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING (lanjutan) KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING (lanjutan) ILMU PASCA PANEN PETERNAKAN (Kuliah TM 5) normal DFD Gambar daging sapi yang memiliki DIA normal dan daging yang memiliki DIA tinggi sehingga tampak gelap

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang disertai dengan perkembangan pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi menyebabkan terjadinya

Lebih terperinci

Gambar 3. Kondisi Kandang yang Digunakan pada Pemeliharaan Puyuh

Gambar 3. Kondisi Kandang yang Digunakan pada Pemeliharaan Puyuh HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Lingkungan Tempat Penelitian Pemeliharaan puyuh dilakukan pada kandang battery koloni yang terdiri dari sembilan petak dengan ukuran panjang 62 cm, lebar 50 cm, dan tinggi

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik lokal di Indonesia merupakan plasma nutfah yang perlu dilestarikan dan

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik lokal di Indonesia merupakan plasma nutfah yang perlu dilestarikan dan PENGANTAR Latar Belakang Itik lokal di Indonesia merupakan plasma nutfah yang perlu dilestarikan dan ditingkatkan produktivitasnya untuk meningkatkan pendapatan peternak. Produktivitas itik lokal sangat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Suhu Lingkungan Setiap makhluk hidup memiliki suatu zona fisiologis yang disebut zona homeostasis (Noor dan Seminar, 2009). Apabila terjadi stress, maka zona homeostasis ini

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. mempunyai potensi yang cukup besar sebagai penghasil telur karena

PENDAHULUAN. mempunyai potensi yang cukup besar sebagai penghasil telur karena 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) merupakan jenis unggas darat yang mempunyai potensi yang cukup besar sebagai penghasil telur karena produktivitasnya cukup tinggi.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. (Gallus gallus gallus) dan Ayam Hutan Merah Jawa ( Gallus gallus javanicus).

TINJAUAN PUSTAKA. (Gallus gallus gallus) dan Ayam Hutan Merah Jawa ( Gallus gallus javanicus). II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Kampung Menurut Mansjoer (1985) bahwa ayam kampung mempunyai jarak genetik yang paling dekat dengan Ayam Hutan Merah yaitu Ayam Hutan Merah Sumatra (Gallus gallus gallus)

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Puyuh

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Puyuh TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Puyuh Puyuh merupakan salah satu komoditi unggas sebagai penghasil telur dan daging yang mendukung ketersediaan protein hewani yang murah serta mudah didapat (Permentan,

Lebih terperinci

11/10/2017. Telur. Titis Sari Kusuma. Ilmu Bahan Makanan-Telur MACAM TELUR

11/10/2017. Telur. Titis Sari Kusuma. Ilmu Bahan Makanan-Telur MACAM TELUR Telur Titis Sari Kusuma 1 MACAM TELUR 2 1 TELUR Nilai gizi telur sangat lengkap, sumber protein yang baik, kadarnya sekitar 14%, >> tiap butir telur akan diperoleh sekitar 8 gram protein. Kandungan asam

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Rataan performa produksi meliputi produksi telur, bobot telur, dan konversi pakan) Coturnix-coturnix japonica dengan penambahan Omega-3 dalam pakan ditampilkan pada Tabel 4. Tabel

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dengan susunan asam amino lengkap. Secara umum telur ayam ras merupakan

I. PENDAHULUAN. dengan susunan asam amino lengkap. Secara umum telur ayam ras merupakan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Telur ayam ras merupakan bahan pangan yang mengandung protein cukup tinggi dengan susunan asam amino lengkap. Secara umum telur ayam ras merupakan pangan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Telur. telur dihasilkan bobot telur berkisar antara 55,73-62,58 gram.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Telur. telur dihasilkan bobot telur berkisar antara 55,73-62,58 gram. IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh terhadap Bobot Telur Hasil penelitian mengenai penggunaan grit dan efeknya terhadap bobot telur dihasilkan bobot telur berkisar antara 55,73-62,58 gram. Hasil rataan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus

PENDAHULUAN. Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus 1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Ayam tipe petelur berperan penting sebagai sumber protein. Sasaran sub sektor

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUTAKA

BAB II TINJAUAN PUTAKA BAB II TINJAUAN PUTAKA A. SIFAT FISIK TELUR Struktur Telur 1) Struktur telur ayam buras / kampung ayam buras / kampung Gambar 1.1 Struktur telur Kuning telur terbungkus oleh selaput tipis yang dinamakan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Telur itik adalah salah satu pilihan sumber protein hewani yang memiliki rasa

1. PENDAHULUAN. Telur itik adalah salah satu pilihan sumber protein hewani yang memiliki rasa 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Telur itik adalah salah satu pilihan sumber protein hewani yang memiliki rasa yang lezat, mudah dicerna, bergizi tinggi, dan harganya relatif murah sehingga

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Telur Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memiliki rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya

Lebih terperinci

Gambar 1. Struktur Telur (Romanoff dan Romanoff, 1963)

Gambar 1. Struktur Telur (Romanoff dan Romanoff, 1963) TINJAUAN PUSTAKA Struktur dan Komposisi Telur Telur merupakan bahan pangan yang sempurna, karena mengandung zat-zat gizi yang lengkap bagi pertumbuhan mahluk hidup baru. Protein yang terdapat pada telur

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011 hingga Februari 2012. Pemeliharaan puyuh dilakukan di Laboratorium Lapang Blok B, Unit Unggas, Fakultas Peternakan,

Lebih terperinci

ACARA III PEMBUATAN PRODUK DAN UJI KUALITAS PRODUK TELUR A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Telur merupakan salah satu dari beberapa produk yang di

ACARA III PEMBUATAN PRODUK DAN UJI KUALITAS PRODUK TELUR A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Telur merupakan salah satu dari beberapa produk yang di ACARA III PEMBUATAN PRODUK DAN UJI KUALITAS PRODUK TELUR A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Telur merupakan salah satu dari beberapa produk yang di hasilkan dari unggas.telur merupakan salah satu produk

Lebih terperinci

KAJIAN KEPUSTAKAAN. dengan menggunakan bahan pakan sumber kalsium (ISA, 2009). kerabang maka kalsium dapat diserap sampai 72% (Oderkirk, 2001).

KAJIAN KEPUSTAKAAN. dengan menggunakan bahan pakan sumber kalsium (ISA, 2009). kerabang maka kalsium dapat diserap sampai 72% (Oderkirk, 2001). II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1. Deskripsi Mineral 2.1.1. Kalsium Kalsium merupakan golongan mineral yang dibutuhkan oleh ayam petelur untuk pembentukan kerabang telur dan pemenuhan akan zat ini tidak cukup

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Burung puyuh dalam istilah asing disebut quail yang merupakan bangsa

TINJAUAN PUSTAKA. Burung puyuh dalam istilah asing disebut quail yang merupakan bangsa II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Burung Puyuh Burung puyuh dalam istilah asing disebut quail yang merupakan bangsa burung liar yang mengalami proses domestikasi. Ciri khas yang membedakan burung

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. dan negatif. Dampak positif yaitu meningkatkan perekonomian dan mengurangi

PENGANTAR. Latar Belakang. dan negatif. Dampak positif yaitu meningkatkan perekonomian dan mengurangi PENGANTAR Latar Belakang Perkembangan industri perunggasan di Indonesia memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif yaitu meningkatkan perekonomian dan mengurangi pengangguran, sedangkan dampak

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. sangat lezat, mudah dicerna dan bergizi tinggi. Telur itik umumnya berukuran

II. TINJAUAN PUSTAKA. sangat lezat, mudah dicerna dan bergizi tinggi. Telur itik umumnya berukuran 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Telur Itik Telur itik merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki rasa yang sangat lezat, mudah dicerna dan bergizi tinggi. Telur itik umumnya berukuran

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. telur sehingga produktivitas telurnya melebihi dari produktivitas ayam lainnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA. telur sehingga produktivitas telurnya melebihi dari produktivitas ayam lainnya. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Umum Ayam Ras Petelur Ayam ras petelur merupakan tipe ayam yang secara khusus menghasilkan telur sehingga produktivitas telurnya melebihi dari produktivitas ayam lainnya.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Itik adalah salah satu jenis ungags air ( water fawls) yang termasuk dalam

TINJAUAN PUSTAKA. Itik adalah salah satu jenis ungags air ( water fawls) yang termasuk dalam II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Itik Itik adalah salah satu jenis ungags air ( water fawls) yang termasuk dalam kelas Aves, ordo Anseriformes, Family Anatidae, Sub family Anatinae, Tribus anatini dan Genus Anas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

I. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang disertai dengan perkembangan pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi menyebabkan terjadinya

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2015 bertempat di Desa Tegal Sari,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2015 bertempat di Desa Tegal Sari, 19 III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada April 2015 bertempat di Desa Tegal Sari, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, di Peternakan Ayam Petelur

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan tipe ringan. Tipe medium umumnya bertelur dengan warna kerabang cokelat

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan tipe ringan. Tipe medium umumnya bertelur dengan warna kerabang cokelat 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Ayam Petelur Ayam petelur adalah ayam yang khusus dibudidayakan untuk menghasilkan telur secara komersil. Saat ini terdapat dua kelompok ayam petelur yaitu tipe medium

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi menyebabkan

I. PENDAHULUAN. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi menyebabkan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi menyebabkan peningkatan permintaan protein hewani seperti telur, susu, dan daging. Telur merupakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil penelitian berupa konsumsi pakan, produksi telur, konversi pakan serta konsumsi lemak, protein, serat dan vitamin A ayam petelur pada tiap perlakuan tecantum dalam Tabel

Lebih terperinci

A. KOMPOSISI DAN KUALITAS TELUR

A. KOMPOSISI DAN KUALITAS TELUR A. KOMPOSISI DAN KUALITAS TELUR 1. Pengantar Dalam pokok bahasan Ilmu dan Teknologi Pengolahan Telur dipelajari tentang telur unggas, yang didalamnya akan dibicarakan mengenai komposisi fisik, komposisi

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Puyuh

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Puyuh I. TINJAUAN PUSTAKA A. Puyuh Coturnix coturnix japonica merupakan jenis puyuh yang populer dan banyak diternakkan di Indonesia. Puyuh jenis ini memiliki ciri kepala, punggung dan sayap berwarna coklat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu usaha yang mutlak dibutuhkan untuk mengembangkan budi daya ikan adalah penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah yang memadai dan waktu yang tepat. Selama ini

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian produksi telur ayam Arab dilaksanakan di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Blok B), sedangkan penelitian kualitas internal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ciri khas burung puyuh ( Coturnix-Coturnix Japonica ) adalah bentuk badannya relatif

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ciri khas burung puyuh ( Coturnix-Coturnix Japonica ) adalah bentuk badannya relatif BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Burung Puyuh Ciri khas burung puyuh ( Coturnix-Coturnix Japonica ) adalah bentuk badannya relatif lebih besar dari jenis burung-burung puyuh lainnya. Burung puyuh ini memiliki

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kualitas Telur

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kualitas Telur Kedalaman Kantung Udara HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Telur Pembesaran kantung udara telur ayam ras dengan pengolesan minyak kelapa dapat ditekan sampai umur simpan 35 hari (Tabel 6). Kedalaman kantung

Lebih terperinci

Bab 2 TERNAK ITIK 43

Bab 2 TERNAK ITIK 43 Bab 2 TERNAK ITIK 43 KULIAH ke: 8 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS: Setelah mengikuti pertemuan ini mahasiswa akan dapat: 1. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan zat makanan pada ternak itik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. vitamin dan mineral, sayuran juga menambah ragam, rasa, warna dan tekstur

BAB I PENDAHULUAN. vitamin dan mineral, sayuran juga menambah ragam, rasa, warna dan tekstur BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sayuran segar adalah bahan pangan yang banyak mengandung vitamin dan mineral yang penting untuk tubuh (Ayu, 2002). Di samping sebagai sumber gizi, vitamin dan mineral,

Lebih terperinci

disusun oleh: Willyan Djaja

disusun oleh: Willyan Djaja disusun oleh: Willyan Djaja 0 PENDAHULUAN Produksi sapi perah dipengaruhi oleh factor genetic, lingkungan, dan interaksi genetic dan lingkungan. Factor genetic berpengaruh sebesar 30 % dan lingkungan 70

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Telur ayam ras merupakan telur yang paling populer dan paling banyak

II. TINJAUAN PUSTAKA. Telur ayam ras merupakan telur yang paling populer dan paling banyak 6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Telur Ayam Ras Telur ayam ras merupakan telur yang paling populer dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Telur ayam ras adalah salah satu sumber pangan protein

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE KERJA. Penelitian ini dilaksanakan pada 25 September--09 Oktober 2013 bertempat di

III. BAHAN DAN METODE KERJA. Penelitian ini dilaksanakan pada 25 September--09 Oktober 2013 bertempat di III. BAHAN DAN METODE KERJA A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada 25 September--09 Oktober 2013 bertempat di Laboratorium Produksi dan Reproduksi Ternak, Jurusan Peternakan, Fakultas

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking TINJAUAN PUSTAKA Itik Peking Itik peking adalah itik yang berasal dari daerah China. Setelah mengalami perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking dapat dipelihara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) ada juga yang menyebut siput

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) ada juga yang menyebut siput BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teoritis 1. Keong Mas Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) ada juga yang menyebut siput murbei merupakan salah satu jenis keong air tawar yang berasal dari Benua Amerika,

Lebih terperinci

ACARA PENGAJARAN (SAP) IV A.

ACARA PENGAJARAN (SAP) IV A. SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) IV A. 1. Pokok Bahasan : Jenis dan tipe ayam komersial A.2. Pertemuan minggu ke : 6 (2 jam) B. Sub Pokok Bahasan: 1. Ayam tipe petelur 2. Ayam tipe pedaging 3. Ayam tipe dwiguna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, mempertahankan sistem

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, mempertahankan sistem BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Estrogen merupakan hormon steroid yang dihasilkan oleh sel granulosa dan sel teka dari folikel de Graaf pada ovarium (Hardjopranjoto, 1995). Estrogen berkaitan dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Burung puyuh merupakan sebangsa burung liar. Burung puyuh merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. Burung puyuh merupakan sebangsa burung liar. Burung puyuh merupakan TINJAUAN PUSTAKA Burung Puyuh Burung puyuh merupakan sebangsa burung liar. Burung puyuh merupakan salah satu jenis burung yang tidak dapat terbang, memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil, memiliki kaki

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bolu Kukus Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan telur dan gula. Terdapat banyak macam kue bolu, misalnya kue tart yang biasa dihidangkan

Lebih terperinci

KAJIAN KEPUSTAKAAN. tubuhnya relatif kecil dan berkaki pendek. Puyuh merupakan burung liar yang

KAJIAN KEPUSTAKAAN. tubuhnya relatif kecil dan berkaki pendek. Puyuh merupakan burung liar yang II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Burung Puyuh Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang tinggi, ukuran tubuhnya relatif kecil dan berkaki pendek. Puyuh merupakan burung liar yang pertama kali diternakkan

Lebih terperinci

[PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG TELUR]

[PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG TELUR] 2014 Program Studi Peternakan MATA KULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH DAN SISA HASIL TERNAK Dr.Hj.Jamila S.Pt, M.P [PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG TELUR] Limbah cangkang telur yang ada bukan hanya berasal

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Total jumlah itik yang dipelihara secara minim air sebanyak 48 ekor

HASIL DAN PEMBAHASAN. Total jumlah itik yang dipelihara secara minim air sebanyak 48 ekor 29 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Telur Tetas Itik Rambon Total jumlah itik yang dipelihara secara minim air sebanyak 48 ekor dengan jumlah itik betina 42 ekor dan itik jantan 6 ekor. Sex ratio

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Indonesia pada tahun 2014 telah mencapai 12,692,213 ekor atau meningkat. sebesar 1,11 persen dibandingkan dengan tahun 2012.

PENDAHULUAN. Indonesia pada tahun 2014 telah mencapai 12,692,213 ekor atau meningkat. sebesar 1,11 persen dibandingkan dengan tahun 2012. I 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Peternakan puyuh di Indonesia saat ini cukup berkembang, hal ini karena semakin banyaknya usaha peternakan puyuh baik sebagai usaha sampingan maupun usaha utama untuk memenuhi

Lebih terperinci

4 Telur biasanya juga mengandung semua vitamin yang sangat dibutuhkan kecuali vitamin C. Vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), vitamin yang larut air

4 Telur biasanya juga mengandung semua vitamin yang sangat dibutuhkan kecuali vitamin C. Vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), vitamin yang larut air TINJAUAN PUSTAKA Telur Telur merupakan bahan pangan asal hewan yang mempunyai daya pengawet alamiah yang paling baik, karena memiliki suatu pelindung kimia dan fisis terhadap infeksi mikroba. Mekanisme

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu unggas yang sangat efisien dalam menghasilkan daging dan digemari oleh masyarakat Indonesia

Lebih terperinci

PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA SUSU, TELUR DAN DAGING PASCA PANEN

PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA SUSU, TELUR DAN DAGING PASCA PANEN PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA SUSU, TELUR DAN DAGING PASCA PANEN Pertemuan Minggu ke 6 Kelas B Juni Sumarmono & Kusuma Widayaka ILMU PASCAPANEN PETERNAKAN 2017 Kualitas Baik Edible (dapat dimakan)

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh Analisis terhadap kandungan kolesterol daging, hati dan telur dilakukan saat puyuh berumur 14 minggu, diperlihatkan pada Tabel 5 dan

Lebih terperinci

PROFIL HORMON TESTOSTERON DAN ESTROGEN WALET LINCHI SELAMA PERIODE 12 BULAN

PROFIL HORMON TESTOSTERON DAN ESTROGEN WALET LINCHI SELAMA PERIODE 12 BULAN Pendahuluan 5. PROFIL HORMON TESTOSTERON DAN ESTROGEN WALET LINCHI SELAMA PERIODE 12 BULAN Hormon steroid merupakan derivat dari kolesterol, molekulnya kecil bersifat lipofilik (larut dalam lemak) dan

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan di Pusat Pembibitan Puyuh Fakultas Peternakan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan di Pusat Pembibitan Puyuh Fakultas Peternakan IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Breeding Center Puyuh Penelitian ini dilakukan di Pusat Pembibitan Puyuh Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaranyang terletak di lingkungan Kampus Universitas

Lebih terperinci

BAB I RPKPS (RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER)

BAB I RPKPS (RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER) BAB I RPKPS (RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER) 1. Judul mata kuliah : DASAR TERRNAK UNGGAS 2. Nomor dan Kode : PTD. 250 3. Prasarat : - 4. Status Matakuliah : Wajib 5. Deskripsi singkat:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Telur adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi oleh sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. Telur adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi oleh sebagian besar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telur adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat dan merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret 2014 di Peternakan Eko Jaya dan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret 2014 di Peternakan Eko Jaya dan III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada 11--25 Maret 2014 di Peternakan Eko Jaya dan Laboratorium Produksi dan Reproduksi Ternak, Jurusan Peternakan, Fakultas

Lebih terperinci

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. berkembang hingga ke penjuru dunia, dikenal dengan nama Bob White Quail dan

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. berkembang hingga ke penjuru dunia, dikenal dengan nama Bob White Quail dan II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1. Deskripsi Puyuh Puyuh pertama kali di domestikasi di Amerika Serikat dan terus berkembang hingga ke penjuru dunia, dikenal dengan nama Bob White Quail dan Colinus virgianus (Tetty,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aaaaapuyuh secara ilmiah dikelompokkan dalam kelas Aves, ordo Galliformes,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aaaaapuyuh secara ilmiah dikelompokkan dalam kelas Aves, ordo Galliformes, 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Puyuh Jantan aaaaapuyuh secara ilmiah dikelompokkan dalam kelas Aves, ordo Galliformes, sub ordo Phasianoide, famili Phasianidae, sub famili Phasianinae, genus Coturnix,

Lebih terperinci

TELUR ASIN PENDAHULUAN

TELUR ASIN PENDAHULUAN TELUR ASIN PENDAHULUAN Telur asin,merupakan telur itik olahan yang berkalsium tinggi. Selain itu juga mengandung hampir semua unsur gizi dan mineral. Oleh karena itu, telur asin baik dikonsumsi oleh bayi

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE di Laboratorium Teknologi Pasca Panen, Ilmu Nutrisi dan Kimia Fakultas

MATERI DAN METODE di Laboratorium Teknologi Pasca Panen, Ilmu Nutrisi dan Kimia Fakultas III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini sudah dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2014 di Laboratorium Teknologi Pasca Panen, Ilmu Nutrisi dan Kimia Fakultas Pertanian dan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan sumber protein. Di Indonesia terdapat bermacam-macam

PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan sumber protein. Di Indonesia terdapat bermacam-macam 1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Itik merupakan salah satu ternak unggas yang memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan sumber protein. Di Indonesia terdapat bermacam-macam jenis itik lokal dengan karakteristik

Lebih terperinci

PENURUNAN KUALITAS TELUR AYAM RAS DENGAN INTENSITAS WARNA COKLAT KERABANG BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN

PENURUNAN KUALITAS TELUR AYAM RAS DENGAN INTENSITAS WARNA COKLAT KERABANG BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN Research Note PENURUNAN KUALITAS TELUR AYAM RAS DENGAN INTENSITAS WARNA COKLAT KERABANG BERBEDA SELAMA PENYIMPANAN N. Jazil, A. Hintono, S. Mulyani ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan

Lebih terperinci

Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan

Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan PROSES PEMBUATAN TELUR ASIN SEBAGAI PELUANG USAHA Oleh : Andi Mulia, Staff Pengajar di UIN Alauddin Makassar Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mampu mencerna serat kasar yang tinggi (Nugraha dkk., 2012). Itik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mampu mencerna serat kasar yang tinggi (Nugraha dkk., 2012). Itik 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Itik Tegal Itik merupakan unggas air yang tahan penyakit, pertumbuhan cepat serta mampu mencerna serat kasar yang tinggi (Nugraha dkk., 2012). Itik diklasifikasikan dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ayam petelur merupakan ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ayam petelur merupakan ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Ras Petelur Tipe Medium Ayam petelur merupakan ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Jenis ayam ini merupakan spesies Gallus domesticus.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Protein Kasar Tercerna Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara tingkat kepadatan kandang dengan suplementasi vitamin C terhadap nilai protein kasar tercerna

Lebih terperinci

Tilatang Kamang Kabupaten Agam meliputi Nagari Koto Tangah sebanyak , Gadut dan Kapau dengan total keseluruhan sebanyak 36.

Tilatang Kamang Kabupaten Agam meliputi Nagari Koto Tangah sebanyak , Gadut dan Kapau dengan total keseluruhan sebanyak 36. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan merupakan sektor yang memiliki peluang sangat besar untuk dikembangkan sebagai usaha di masa depan. Kebutuhan masyarakat akan produkproduk peternakan akan semakin

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kreatinin Kreatinin adalah produk akhir metabolisme kreatin.keratin sebagai besar dijumpai di otot rangka, tempat zat terlibat dalam penyimpanan energy sebagai keratin fosfat.dalam

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September - Desember 2015 di

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September - Desember 2015 di 15 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September - Desember 2015 di Kandang Digesti Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan, dan di Laboratorium Teknologi dan Rekayasa Pangan,

Lebih terperinci

Gambar 1. Cara penggunaan alat pemeras madu. Gambar 2. Alat Pemeras madu. Gambar 3. Alat Penyaring madu Gambar 4. Ruang pengolahan madu 70 %

Gambar 1. Cara penggunaan alat pemeras madu. Gambar 2. Alat Pemeras madu. Gambar 3. Alat Penyaring madu Gambar 4. Ruang pengolahan madu 70 % BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian yang telah dilakukan yaitu pembuatan alat pemeras madu (Gambar 1 & 2) dan penyaring madu (Gambar 3). Pelaksanaan pembuatan ruang khusus pengolahan madu (Gambar

Lebih terperinci

Gb. 5.12. STRUKTUR FOSPOLIPID (Campbell, 1999:72)

Gb. 5.12. STRUKTUR FOSPOLIPID (Campbell, 1999:72) Gb. 5.12. STRUKTUR FOSPOLIPID (Campbell, 1999:72) Rumus Umum Asam Amino (Campbell, 1999: 73) H H O N C C H R OH GUGUS AMINO GUGUS KARBOKSIL Tabel 5.1 Gambaran Umum Fungsi Protein (Campbell, 1999: 74) JENIS

Lebih terperinci

Anatomi sistem endokrin. Kerja hipotalamus dan hubungannya dengan kelenjar hormon Mekanisme umpan balik hormon Hormon yang

Anatomi sistem endokrin. Kerja hipotalamus dan hubungannya dengan kelenjar hormon Mekanisme umpan balik hormon Hormon yang Anatomi sistem endokrin Kelenjar hipofisis Kelenjar tiroid dan paratiroid Kelenjar pankreas Testis dan ovum Kelenjar endokrin dan hormon yang berhubungan dengan sistem reproduksi wanita Kerja hipotalamus

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pemikiran,(6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

I PENDAHULUAN. Pemikiran,(6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian. I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran,(6) Hipotesis Penelitian, dan

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dengan nilai gizi yang tinggi dan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa

I. PENDAHULUAN. dengan nilai gizi yang tinggi dan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Telur puyuh adalah produk utama yang dihasilkan oleh ternak puyuh dengan nilai gizi yang tinggi dan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa serta harga relatif murah.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh pencekokan ekstrak rimpang rumput teki terhadap diameter oosit

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengaruh pencekokan ekstrak rimpang rumput teki terhadap diameter oosit 40 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Oosit Pada Stadia Folikel Primer Pengaruh pencekokan ekstrak rimpang rumput teki terhadap diameter oosit pada stadia folikel primer dapat dilihat pada gambar 10.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 9. Rataan Tebal Cangkang telur puyuh.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 9. Rataan Tebal Cangkang telur puyuh. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tebal Cangkang Rataan hasil pengamatan tebal cangkang telur puyuh selama penelitian disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Rataan Tebal Cangkang telur puyuh. Ulangan Perlakuan

Lebih terperinci

SISTEM REPRODUKSI UNGGAS BETINA Oleh : Setyo Utomo Pada umumnya sistem reproduksi ternak betina terdiri atas ovarium dan sistem duktus (saluran),

SISTEM REPRODUKSI UNGGAS BETINA Oleh : Setyo Utomo Pada umumnya sistem reproduksi ternak betina terdiri atas ovarium dan sistem duktus (saluran), SISTEM REPRODUKSI UNGGAS BETINA Oleh : Setyo Utomo Pada umumnya sistem reproduksi ternak betina terdiri atas ovarium dan sistem duktus (saluran), demikian halnya pada burung atau unggas. Sistem tersebut

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pemberian Kombinasi Tepung Kayambang (Salvinia molesta) dan Limbah Udang Terfermentasi dalam Ransum Terhadap Ketebalan Kerabang Telur Itik Berdasarkan hasil penelitian

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai daging ayam karena. Sebagai sumber pangan, daging ayam mempunyai beberapa kelebihan lainnya

PENDAHULUAN. Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai daging ayam karena. Sebagai sumber pangan, daging ayam mempunyai beberapa kelebihan lainnya I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai daging ayam karena dagingnya selain rasanya enak juga merupakan bahan pangan sumber protein yang memiliki kandungan gizi lengkap

Lebih terperinci