LAPORAN PENELITIAN MADYA BIDANG ILMU
|
|
|
- Iwan Sudirman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAPORAN PENELITIAN MADYA BIDANG ILMU DETEKSI PENYAKIT SISTEMIK CITRUS VEIN PHLOEM DEGENERATION (CVPD) PADA CALON INDUKAN JERUK KEPROK TAWANGMANGU (Citrus reticulata Blanco ssp Tawangmangu) MENGGUNAKAN TEKNIK PCR Einstivina Nuryandani, M.Si Drs. Sumarno, M.Pd. UPBJJ-UT SEMARANG UNIVERSITAS TERBUKA 2012
2 LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PENELITIAN MADYA BIDANG ILMU LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS TERBUKA 1. a. Judul Penelitian : Deteksi Penyakit Sistemik Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) Pada Calon Indukan Jeruk Keprok Tawangmangu (Citrus Reticulata Blanco ssp. Tawangmangu) menggunakan teknik PCR b. Bidang Penelitian : Keilmuan c. Klasifikasi Penelitian : Madya 2. Ketua Peneliti a. Nama Lengkap dan Gelar : Einstivina Nuryandani, S.Si., M.Si b. NIP : c. Golongan kepangkatan : IIIa/Penata Muda d. Jabatan Akademik : Asisten Ahli Fakultas dan Unit Kerja e. Program Studi : Biologi/FMIPA 3. Anggota Peneliti a. Jumlah anggota : 1 orang b. Nama anggota dan unit kerja : Drs. Sumarno, M.Pd.(UPBJJ-UT Semarang) c. Program Studi : PGSD/FKIP 4. a. Periode Penelitian : 2012 b. Lama Penelitian : 9 bulan 5. Biaya penelitian : Rp ,- 6. Sumber biaya : LPPM UNIVERSITAS TERBUKA 7. Pemanfaatan Hasil Penelitian : a. Seminar Nasional/Regional : Seminar regional b. Jurnal UT/Nasional : Jurnal nasional Mengetahui Kepala UPBJJ Ketua Peneliti, Purwaningdyah, M.W., S.H., M.Hum NIP Einstivina Nuryandani, S.Si., M.Si NIP Menyetujui, Ketua LPPM Menyetujui, Kepala Pusat Keilmuan Dra. Dewi Artati Padmo P., M.A., Ph.D. NIP Dra. Endang Nugraheni M.Ed., M.Si NIP ii
3 KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah, serta curahan kasih sayang-nya semata penulis dapat menyajikan laporan penelitian keilmuan madya yang berjudul Deteksi Penyakit Sistemik Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) pada Calon Indukan Jeruk Keprok Tawangmangu (Citrus reticulata Blanco ssp. Tawangmangu) menggunakan Teknik PCR. Di dalam tulisan ini, disajikan upaya untuk mengetahui kesiapan calon induk jeruk keprok Tawangmangu dari segi kesehatan tanaman tersebut. Nilai penting penelitian ini adalah dapat memberikan informasi tentang kondisi kesehatan calon induk jeruk keprok Tawangmangu dari segi ada atau tidaknya penyakit sistemik pada calon indukan tersebut sehingga dapat dipergunakan sebagai acuan dalam program penyediaan bibit tanaman jeruk keprok Tawangmangu yang sehat. Disadari bahwa dengan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki penulis, penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran yang membangun agar tulisan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan. Semarang, 30 November 2012 Penulis, Einstivina Nuryandani iii
4 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... ABSTRACT... ABSTRAK... ii iii iv vi vii viii ix BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Perumusan Masalah... 4 C. Tujuan Penelitian... 5 D. Manfaat Penelitian... 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 6 A. Biologi Jeruk Keprok Tawangmangu... 6 A.1. Klasifikasi Jeruk Keprok Tawangmangu... 6 A.2. Morfologi Jeruk Keprok Tawangmangu (Citrus reticulata Blanco spp Tawangmangu)... 7 A.3. Persyaratan Tumbuh Jeruk Tawangmangu... 8 A.4. Sejarah Perkembangan Jeruk Tawangmangu A.5. Upaya Rehabilitasi Jeruk Tawangmangu B. Tehnik PCR C. Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) iv
5 D. Deteksi infeksi CVPD menggunakan sistem PCR BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian B. Bahan dan Alat C. Prosedur Penelitian C.1. Pengumpulan Sampel C.2. Ekstraksi DNA C.3. Amplifikasi DNA C.4. Elektroforesis dan Pewarnaan D. Analisis Data BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengambilan Sampel B. Pengujian Sampel Menggunakan Tehnik PCR BAB V KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA v
6 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Denah lokasi pengambilan sampel di Desa Ngargoyoso Gambar 2. Denah lokasi pengambilan sampel di Desa Gondosuli dan Blumbang Gambar 3. Penampakan morfologi (a) Sampel 1 (Asesi TN1), (b) Sampel 2 (Asesi TN2), (c) Sampel 3 (Asesi TN3), (d) Sampel 4 (TN4), dan (e) Sampel 5 (TG2) Gambar 4. Penampakan morfologi (a) Sampel 6 (Asesi TG3), (b) Sampel 7 (Asesi TG4), (c) Sampel 8 (Asesi TG5), (d) Sampel 9 (Asesi TG6), dan (e) Sampel 10 (Asesi TG7) Gambar 5. Penampakan morfologi (a) Sampel 11 (Asesi TG8), (b) Sampel 12 (Asesi TG9), (c) Sampel 13 (Asesi TG10), (d) Sampel 14 ( Asesi TB21), dan (e) Sampel 15 (Asesi TB2) Gambar 6. Penampakan morfologi (a) Sampel 16 (Asesi TB23), (b) Sampel 17 (Asesi TB3), (c) Sampel 18 (Asesi TB4), (d) Sampel 19 (Asesi TB1), dan (e) Sampel 20 (Asesi TB5) Gambar 7. Penampakan morfologi (a) Sampel 21 (Asesi TB6) dan Sampel 22 (Asesi TB7), (b) Sampel 23 (Asesi TB19), (c) Sampel 24 (Asesi TB20), dan (d) Sampel 25 (Asesi TB18) Gambar 8. Daun dari asesi (a)tn1, (b) TN2, (c) TN3, (d) TN4, (e) TG2 (f) TG3, (g) TG4, (h) TG5, (i) TG6, (j) TG7, (k) TG8, (l) TG9, (m) TG10, (n) TB21, (o) TB2, (p) TB23, (q) TB3, (r) TB4, (s) TB1, (t) TB5, (u) TB6, (v) TB7, (w) TB19, (x) TB20, dan (y)tb Gambar 9. Penampakan daun dari tanaman jeruk keprok Tawangmangu yang tidak menderita CVPD Gambar 10. Visualisasi hasil PCR menggunakan elektroforesis, M menunjukkan marker atau DNA ladder, PC menunjukkan kontrol positif/sampel yang terkena CVPD, dan kode angka menunjukkan urutan sampel yang menunjukkan asesi, yaitu (1)TN1, (2) TN2, (3) TN3, (4) TN4, (5) TG2, (6) TG3, (7) TG4, (8) TG5, (9) TG6, (10) TG7, (11) TG8, (12) TG9, (13) TG10, (14) TB21, (15) TB2, (16) TB23, (17) TB3, (18) TB4, (19) TB1,(20) TB5, (21) TB6, (22) TB7, (23) TB19, (24)TB20, dan (25)TB18. Sampel dikatakan positif jika terdapat pita (band) pada 1160 bp vi
7 DAFTAR TABEL Tabel 1. Data 33 sampel yang diambil sampel daunnya untuk deteksi penyakit CVPD Tabel 2. Dua puluh lima sampel yang diuji untuk deteksi penyakit CVPD vii
8 DETECTION OF CITRUS SYSTEMIC DISEASE, CITRUS VEIN PHLOEM DEGENERATION (CVPD) FROM TAWANGMANGU CITRUS PARENT CANDIDATE (Citrus reticulata Blanco ssp Tawangmangu) USING PCR TECHNIQUE Einstivina Nuryandani 1) Sumarno 2) 1) Biological Studies Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Open University Of Indonesia 2) Faculty of Teaching and Education, Open University Of Indonesia ABSTRACT Original accession of Citrus reticulata Blanco ssp Tawangmangu is a potential plant to be developed as a parent plants candidate. However, breeding programs and development Citrus reticulata Blanco ssp Tawangmangu need accurate information about the health condition of parent plants used. CVPD is an important disease of Tawangmangu citrus tangerine that can destroy crops. Therefore CVPD disease detection through PCR technique is very important to ensure the health of the parent plants used. Twenty-five accession collected from Tawangmangu and Ngargoyoso district. Analysis using PCR techniques performed in Balitjestro, Tlekung, Malang. The result of PCR then visualized in gel electrophoresis and compared with DNA Marker and positive samples that infected by CVPD disease. The results showed that there is a bright ribbon (band) on a DNA sample from positive samples that infected by CVPD disease for the 1160 bp when juxtaposed with DNA Marker. However, the DNA sample of twenty-five samples of prospective parent of Tawangmangu original tangerine does not found band on the size 1160 bp. This shows that the twenty-five samples tested are not infected by the CVPD disease. Keywords: Tawangmangu indigenous tangerine Parent plants, PCR, CVPD viii
9 DETEKSI PENYAKIT SISTEMIK CITRUS VEIN PHLOEM DEGENERATION (CVPD) PADA CALON INDUKAN JERUK KEPROK TAWANGMANGU (Citrus reticulata Blanco ssp Tawangmangu) MENGGUNAKAN TEKNIK PCR Einstivina Nuryandani 1) Sumarno 2) 1) Program Studi Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Terbuka 2) Fakultas FKIP, Universitas Terbuka ABSTRAK Asesi tanaman jeruk keprok asli Tawangmangu merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan sebagai indukan. Namun program pemuliaan dan pengembangan jeruk keprok Tawangmangu (Citrus reticulata Blanco ssp Tawangmangu) membutuhkan informasi yang akurat mengenai kondisi kesehatan tanaman induk yang digunakan. CVPD merupakan penyakit penting tanaman jeruk keprok Tawangmangu yang dapat menghancurkan tanaman ini. Oleh karena itu deteksi penyakit CVPD melalui teknik PCR sangat penting untuk menjamin kesehatan tanaman induk yang digunakan. Penelitian dilakukan di kecamatan Tawangmangu dan Ngargoyoso untuk pengambilan 25 sampel asesi dan proses analisis menggunakan teknik PCR dilakukan di Balitjestro, Tlekung, Malang. Hasil PCR kemudian divisualisasikan dalam gel elektroforesis dan dibandingkan dengan Marker DNA dan contoh sampel yang positif menderita penyakit CVPD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pita terang pada DNA contoh sampel yang positif terkena CVPD pada 1160 bp jika disandingkan dengan Marker DNA. Namun pada contoh DNA dari dua puluh lima sampel calon induk jeruk keprok asli Tawangmangu tidak didapati pita pada besaran 1160 bp. Hal ini menunjukkan bahwa kedua puluh lima sampel yang diuji tidak terinfeksi oleh penyakit CVPD. Kata Kunci : Induk jeruk keprok asli Tawangmangu, PCR, CVPD ix
10 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah jeruk merupakan salah satu jenis buah yang memiliki citarasa, aroma, kesegaran, dan sumber vitamin bagi tubuh, sehingga buah jeruk sangat digemari masyarakat. Konsumsi buah jeruk penduduk Indonesia pada tahun 2005 mencapai 2,6 kg per kapita per tahun (Shanti, 2007). Namun sebagian besar kebutuhan jeruk dalam negeri ini dipenuhi dari impor. Balitbang Pertanian (2005) mengemukakan bahwa Indonesia termasuk negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah Malaysia, dengan volume impor mencapai ton. Penelitian oleh Shanti (2007) yang melakukan analisis keputusan konsumen dalam mengkonsumsi jeruk memperlihatkan bahwa 85% responden mengkonsumsi buah jeruk impor dan hanya 15% nya yang mengkonsumsi jeruk lokal. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap keputusan mengkonsumsi jeruk lokal dan jeruk impor ada empat variabel, yaitu rasa buah jeruk, penampilan buah jeruk, jenis kelamin, dan pendapatan. Konsumsi terbesar buah jeruk ini didominasi oleh jeruk keprok. Hal ini patut disayangkan, mengingat Indonesia juga memiliki potensi jeruk lokal yang sangat bagus. Indonesia memiliki luasan areal pertanaman jeruk yang tersebar di sentra-sentra produksi jeruk. Saat ini sentra produksi jeruk keprok banyak dijumpai di Jawa Timur khususnya di daerah Batu, Jember, dan Banyuwangi, Jawa Barat di daerah Garut, NTT di daerah Timor Timur Selatan, dan Bali. Di samping daerah tersebut, ada beberapa sentra areal jeruk yang berpotensi dikembangkan 1
11 seperti Berastagi (Sumatera Utara), Kerinci (Jambi), dan Kepulauan Selayar (Sulawesi Selatan), serta Kalimantan Timur (Hardiyanto, 2012). Selain luasan areal pertanian, potensi jeruk keprok di Indonesia juga didukung oleh tingginya jenis plasma nutfah jeruk keprok di Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya asesi atau varietas yang telah dikoleksi di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Batu, Jawa Timur yang berasal dari hasil eksplorasi maupun hasil introduksi. Koleksi plasmanutfah jeruk di Balitjestro sampai saat ini berjumlah 211 asesi dan merupakan koleksi terlengkap di Indonesia. Diantara koleksi yang ada, terdapat 85 asesi atau varietas jeruk keprok yang dapat digunakan sebagai materi seleksi dan perakitan varietas yang nantinya dapat dikembangkan menjadi jeruk keprok unggulan nasional (Hardiyanto, 2012). Saat ini, Indonesia memiliki beberapa varietas unggul jeruk keprok yang kualitasnya dapat menandingi jeruk impor. Beberapa varietas jeruk keprok komersial hasil seleksi Balitjestro maupun dari Pemerintah Daerah yang sudah dilepas oleh Kementrian Pertanian dengan kualitas buah yang tidak kalah dengan jeruk impor antara lain Keprok Batu 55 berasal; dari Batu, Jawa Timur, keprok Garut dari Jawa Barat, keprok Pulung dari Jawa Timur, keprok Tawangmangu dari Jawa Tengah, dan keprok SOE dari NTT. Jenis keprok lainnya, seperti keprok Tejakula (Bali), keprok Madura, keprok Borneo Prima (Kaltim), dan keprok Trigas (Kalbar) tampaknya juga dapat berpotensi untuk dikembangkan di masa mendatang khususnya untuk dataran rendah (Hardiyanto, 2012 dan Menteri Pertanian Republik Indonesia, 2003). Jeruk keprok Tawangmangu mengalami masa-masa kejayaan sekitar tahun Namun masa kejayaan tersebut berakhir sekitar tahun 1984 dengan adanya serangan Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) (Giyanti, 2001). Hampir 2
12 seluruh tanaman jeruk Tawangmangu mati karena serangan penyakit tersebut, bahkan dewasa ini dapat dikatakan punah (Wahyuningsih, 2009). Namun ternyata tidak semua tanaman induk jeruk keprok Tawangmangu tersebut telah punah. Balai Penelitian Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) memiliki koleksi asesi jeruk keprok Tawangmangu (Hardiyanto, 2012). Penelitian Nuryandani (2012) juga menemukan 22 asesi tanaman induk jeruk keprok Tawangmangu yang ditanam pada pekarangan warga di daerah Tawangmangu. Asesi-asesi tersebut potensial untuk dikembangkan sebagai tanaman induk bagi pengembangan jeruk keprok Tawangmangu di masa datang. Penelitian untuk mengembalikan Tawangmangu sebagai sentra jeruk Tawangmangu mulai dilakukan sekitar tahun 1996 (Hermawan et al., 2002). Namun, program rehabilitasi ini masih mengalami berbagai kendala. Program rehabilitasi sudah dilaksanakan namun penyakit ini masih menginfeksi ulang karena sumbersumber penyakit masih terdapat di daerah sentra (Endarto et al., 2006). Strategi pengendalian hama dan penyakit di kebun jeruk telah diformulasikan dalam Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS). Salah satu faktor penting untuk melaksanakan PTKJS adalah ketersediaan bibit tanaman bebas penyakit (Endarto et al., 2006). Ketersediaan bibit yang bebas penyakit tidak luput dari kualitas indukan yang bebas penyakit. Selama ini indukan berasal dari Balitjestro Malang yang telah dikembangkan di Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar. Adanya penemuan 22 asesi pohon induk lain di luar pohon induk dari Balitjestro Malang (Nuryandani, 2012) membuka kemungkinan lebih jauh untuk mengembangkan tanaman ini. Namun kendalanya adalah pohon indukan ini belum dapat dipastikan bebas dari penyakit sistemik CVPD. 3
13 Penyakit CVPD sulit untuk dideteksi karena keberadaannya dan penyebarannya pada tubuh tumbuhan yang cukup sedikit dan tidak merata. Penyakit ini sulit untuk dideteksi dengan metode konvensional seperti menggunakan mikroskop elektron, bioassay, maupun dengan teknik ELISA (Hung et al., 1999.) Beberapa teknik baru yang dikembangkan untuk mendeteksi penyakit CVPD antara lain menggunakan DNA Probe dan teknik PCR. Proses deteksi menggunakan hibridisasi titik menggunakan DNA Probe memakan waktu dua hari sedangkan menggunakan teknik PCR, hanya memerlukan waktu sekitar 6 jam. Teknik PCR lebih efektif dan efisien untuk mendeteksi penyakit CVPD pada tanaman jeruk (Hung et al., 1999). Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian menggunakan teknik PCR untuk mendeteksi infeksi CVPD dan memastikan bahwa asesi-asesi tanaman yang ditemukan dapat digunakan sebagai calon indukan yang potensial untuk pengembangan tanaman jeruk keprok Tawangmangu. B. Perumusan Masalah 1. Adanya keterbatasan jumlah pohon induk jeruk keprok Tawangmangu karena serangan CVPD. 2. Adanya indikasi asesi-asesi calon pohon induk yang terinfeksi CVPD. 4
14 C. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melakukan identifikasi infeksi penyakit CVPD melalui teknik PCR pada asesi-asesi calon pohon induk jeruk keprok Tawangmangu yang ditemukan. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mempersiapkan calon indukan tanaman jeruk keprok yang bebas penyakit sistemik CVPD. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat: 1. Memberikan manfaat dalam usaha penyediaan pohon induk jeruk keprok Tawangmangu. 2. Memberikan kontribusi dalam pengembangan jeruk keprok Tawangmangu. 3. Menjaga kelestarian plasma nutfah jeruk keprok Tawangmangu. 5
15 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Biologi Jeruk Keprok Tawangmangu Jeruk keprok Tawangmangu merupakan salah satu jeruk lokal komersial selain jeruk keprok Garut (Jawa Barat), Batu 55 (Jawa Timur), Pulung (Ponorogo), Madura (Pulau Madura), dan Tejakula (Bali). Berikut merupakan karakteristik jeruk keprok Tawangmangu (Hardiyanto et al., 2007). A.1. Klasifikasi Jeruk Keprok Tawangmangu Klasifikasi botani tanaman jeruk Tawangmangu menurut Verheij dancoronel (1992) dan Van Steenis (1975) adalah sebagai berikut. Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Rutales Keluarga : Rutaceae Genus : Citrus Spesies : Citrus nobilis Lour. Sub Spesies : Tawangmangu Sinonim : Citrus reticulata L., Citrus reticulata Blanco, Citrus deliciosa, Citrus chrysocarpa. Nama daerah : Jeruk Keprok (Melayu dan Jawa, Jeruk Jepun (Sunda dan Sumatra), dan Jeruk Maseh 6
16 A.2. Morfologi Jeruk Keprok Tawangmangu (Citrus reticulata Blanco spp Tawangmangu) Jeruk keprok Tawangmangu merupakan tumbuhan jenis pohon dengan tinggi mencapai 2-8 meter (Van Steenis, 1975). Penelitian Giyanti (2001) menyebutkan bahwa tinggi pohon jeruk keprok Tawangmangu berkisar antara 4,86 8,97 m. Sedangkan penelitian oleh Nuryandani (2012) menemukan bahwa pohon ini dapat mencapai ketinggian 9,24 meter. Pohon ini memiliki ranting yang tidak berduri (Van Steenis, 1975 dan Giyanti, 2001). Diameter batangnya antara 8,27 24,82 cm (Giyanti, 2001). Penelitian oleh Nuryandani (2012) menyebutkan bahwa diameter batang tanaman ini dapat mencapai 30,57 cm. Tajuk tanaman 95%-nya memiliki bentuk tidak beraturan, hanya 5% yang mempunyai bentuk payung. Sedangkan bentuk percabangan semua menunjukkan asimetris (Giyanti, 2001). Van Steenis (1975) menjelaskan bahwa tangkai daun bersayap sangat sempit sampai boleh dikatakan tidak bersayap, panjangnya 0,5-1,5 cm. Helaian daun tanaman ini berbentuk bulat telur memanjang, elliptis atau berbentuk lanset dengan ujung tumpul, melekuk ke dalam sedikit, tepinya bergerigi beringgit sangat lemah dengan panjang 3,5-8 cm. Tangkai daunnya selebar 1-1,5 mm. Bunganya mempunyai diameter 1,5-2,5 cm, berkelamin dua, dan daun mahkotanya berwarna putih. Warna kulit buah jeruk keprok Tawangmangu dari hijau sampai kuning tua, hal ini tergantung dari umur buah. Berat buah rata-rata jeruk keprok asli Tawangmangu 62,98 gram. Buah jeruk keprok asli Tawangmangu mempunyai aroma dan bau yang tajam, serta bentuk dari buah terdapat 7
17 tonjolan, seperti pusar, tekstur lembut, dan lunak. Buah yang masak sempurna rasanya manis dengan aroma yang tajam (Giyanti, 2001). Menurut Van Steenis (1975) buah jeruk keprok berbentuk bola tertekan dengan tebal kulitnya 0,2-0,3 cm. Warna daging buah oranye (Van Steenis, 1975 dan Giyanti, 2001) dengan rata-rata jumlah juring 10,5 (Giyanti, 2001). Diameter buah rata-rata adalah 5,19 cm (Giyanti, 2001) atau 5-8 cm (Van Steenis, 1975) dengan bentuk buah bulat berlekuk dan di dalamnya terdapat rongga udara yang cukup lebar (Giyanti, 2001). Bentuk biji buah jeruk keprok Tawangmangu adalah bulat pipih dengan warna biji krem/coklat muda (Giyanti, 2001). Biji jeruk keprok Tawangmangu bersifat poliembrional, artinya dalam 1 biji terdapat lebih dari 1 embrio yang dapat tumbuh. Embrio yang berasal dari hasil pembuahan disebut embrio genetik, sedangkan embrio yang bukan berasal dari hasil pembuahan disebut embrio somatik. Embrio somatik mempunyai sifat sama dengan induknya (Utama, 2002). A.3. Persyaratan Tumbuh Jeruk Tawangmangu Jeruk keprok seperti Batu, Garut, dan Tawangmangu sangat baik diusahakan di tempat-tempat yang ketinggiannya meter di atas permukaan laut (Sarwono,1993). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jeruk Tawangmangu yang ditanam pada ketinggian lebih dari m dpl pada Tanah Acrudoxin Hapludands dengan curah hujan rata-rata sebesar mm/tahun mempunyai kualitas internal yang lebih baik dibandingkan dengan jeruk Tawangmangu yang ditanam pada ketinggian kurang dari m dpl pada tanah Typic Dystrudepts dengan curah hujan rata-rata sebesar mm/tahun (Apriyana et al., 2009). 8
18 Menurut Apriyana et al. (2009), jeruk keprok Tawangmangu dengan kualitas yang baik menghendaki suhu sekitar 19 0 C pada saat pembungaan, serta suhu yang lebih tinggi dan stabil sekitar C dan radiasi sekitar 400 kal/cm 2 saat memasuki fase pembentukan buah sampai dengan pematangan buah. Pada ketinggian lebih dari m dpl total padatan terlarut dan angka asam nyata dipengaruhi oleh sebagian unsur makro, seperti N, P, K dan unsur mikro, seperti Fe, B, dan Cu, serta beberapa unsur mineral pasir, seperti Opak, Gelas Vulkanis, dan Labradorit. Pada ketinggian kurang dari m dpl total padatan terlarut nyata dipengaruhi oleh KTK (Kapasitas Tukar Kation), Al (Alumunium), bahan organik, unsur mikro, serta mineral Opak, Gelas Vulkanis, dan Labradorit. Untuk angka asam nyata dipengaruhi oleh unsurunsur makro. Sedangkan kandungan gula nyata dipengaruhi oleh ketersediaan Hornblende, Augit, dan Hiperstin. Dengan demikian jeruk Tawangmangu lebih cocok bila dibudidayakan pada tanah Typic Dystrudepts (tanah dengan tekstur berlempung liat berpasir) dengan ketinggian lebih dari m dpl (Apriyana et al., 2009). Lahan ideal untuk menanam jeruk keprok yaitu lahan yang memiliki lapisan tanah yang dalam, hingga kedalaman 150 cm tidak ada lapisan kedap air, kedalaman air tanah ± 75 cm, tekstur lempung berpasir, dan ph ± 6. Jika ph tanah dibawah 5, unsur mikro dapat meracuni tanaman dan sebaliknya tanaman akan kekurangan jika ph di atas 7 (Sutopo, 2011). Lokasi yang cocok untuk budidaya jeruk keprok Tawangmangu, meliputi wilayah Kecamatan Karangpandan, Ngargoyoso, Tawangmangu, Jatiyoso, Jenawi, serta Matesih (Ernawati, 2007). 9
19 A.4. Sejarah Perkembangan Jeruk Tawangmangu Tawangmangu merupakan sentra buah jeruk asli Tawangmangu dan sempat mengalami kejayaan pada tahun (Giyanti, 2001). Pada awal dekade 1980-an (Ernawati, 2007) atau pada tahun 1984 menurut Giyanti (2001), serangan Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) telah memusnahkan ratusan ribu batang tanaman jeruk keprok produktif yang dibudidayakan di wilayah Karanganyar. Namun, tanaman tidak dapat langsung ditanam ulang di lokasi yang sama. Karena membutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun untuk menghilangkan pengaruh CVPD yang sudah merambah ke lahan yang semula ditanami jeruk keprok. Sejak saat itu, produksi jeruk keprok Tawangmangu hampir terhenti total (Ernawati, 2007). A. 5. Upaya Rehabilitasi Jeruk Tawangmangu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran sejak 1996/ /2000 telah melaksanakan penelitian untuk mengembalikan sentra produksi jeruk keprok Tawangmangu. Penelitian dilaksanakan di Desa Sepanjang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar (Hermawan, et al., 2002). Rehabilitasi jeruk keprok Tawangmangu secara besar-besaran juga telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu yang dimotori Dinas Pertanian (Dispertan) Jateng. Sedikitnya batang induk jeruk keprok setiap tahun didistribusikan kepada para petani di berbagai wilayah, khususnya di Bumi Intanpari. Kendati demikian, hasilnya belum optimal karena virus CVPD masih mengancam. Obat pemberantas CVPD hingga saat ini belum 10
20 ditemukan. Upaya menghindari penyebaran CVPD dapat dilakukan dengan karantina dan membakar tanaman yang menunjukkan gejala terserang (Ernawati, 2007). Endarto et al., (2006) menyatakan bahwa penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) merupakan penyakit penting yang sangat merugikan dalam budidaya tanaman jeruk. Program rehabilitasi sudah dilaksanakan namun penyakit ini masih menginfeksi ulang karena sumber-sumber penyakit masih terdapat di daerah sentra. Strategi pengendalian hama dan penyakit di kebun jeruk telah diformulasikan dalam Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS). B. Tehnik PCR Teknik PCR ditemukan pertama kali oleh Kary Mullis pada pertengahan tahun Penemuan ini mengakibatkan perubahan sangat cepat di bidang genetika molekuler dan kemungkinan pendekatan baru dalam mempelajari analisis gen (Watson et al, 1992). PCR merupakan teknik laboratorium yang relatif maju, karena teknik tersebut sangat beraneka ragam dan aplikasinya sangat luas. Materi awal PCR adalah DNA yang mengandung rangkaian yang telah diamplifikasi. Jumlah DNA yang diperlukan untuk PCR sangat sedikit. DNA untuk PCR sudah merupakan total DNA dari sel-sel. PCR tidak memerlukan pemurnian DNA dan DNA yang diekstraksi dengan pemanasan sel dapat digunakan langsung tanpa pemurnian. PCR juga dapat digunakan untuk studi pola ekspresi gen: mrna dikonversi menjadi cdna memerlukan enzim reverse transkriptase dan cdna kemudian dipakai sebagai template PCR. Rangkaian DNA harus tidak diisolasi 11
21 sebelum diamplifikasi oleh PCR karena spesifikasi dari reaksi ditentukan oleh primer (Watson et.al, 1992). Beberapa tahapan dalam PCR menurut Sambrook dan Russell (2001), antara lain. 1. Tahap denaturasi Pada tahap ini, temperatur dinaikkan pada suhu mendekati titik didih. Hal ini dilakukan dengan tujuan double strand DNA akan terpisah menjadi single strand DNA, yang nantinya berfungsi untuk menyisipkan primer. 2. Tahap annealing (penempelan primer) Ketika suhu diturunkan di sekitar suhu C, DNA mulai berikatan kembali. Pada saat inilah kesempatan dari primer untuk menempati posisinya sesuai dengan susunan basa pada DNA, sehingga akan terbatasi jumlah penempelan dari DNA awal. Suhu annealing ini berbeda-beda untuk masing-masing proses PCR, ini bergantung pada Tm masing-masing primer yang digunakan. 3. Tahap ekstensi Tahap ini disebut juga tahap perpanjangan. Dengan bantuan enzim taq Polymerase, DNA baru disusun dengan menggunakan dntp sebagai bahan baku dan DNA template sebagai cetakan. C. Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) Penyakit CVPD merupakan penyakit terpenting tanaman jeruk (Yuniti, 2001). Penyakit CVPD disebut juga sebagai penyakit Hualungbin atau Greening Disease (Triwiratno et al., 1999.) Penyakit ini disebabkan oleh organisme mirip bakteri yang belum dapat dikulturkan yaitu Liberobacter sp. Organisme yang menyerang tanaman jeruk di Indonesia umumnya adalah Liberobacter asiaticum. Liberobacter asiaticum 12
22 merusak bagian floem dari tanaman jeruk. Infeksi ini ditularkan oleh serangga Diaphorina citri (Yuniti, 2001; Wahyuningsih, 2009; dan Triwiratno et al., 1999). Penyakit ganas pada jeruk pertama-tama diketahui terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sekarang penyakit ini telah didapatkan pula di Sumatra (Wahyuningsih, 2009). Dewasa ini jeruk Garut dapat dikatakan punah karena CVPD, demikian juga dengan jeruk Tawangmangu. Di beberapa lokasi penyakit sedemikian meluasnya sehingga tempat-tempat ini dianggap sebagai daerah endemis yaitu Gumilia (Cilacap), Junggo dan Punten (Batu), Pulung dan Plaosan (Magetan), Wonorejo/Karangpawitan (Garut), Kutoarjo, Ogan Komering Ilir dan beberapa lokasi di Lampung. Di Pulaupulau lain penyakit ini ditemukan di Pontianak, Ujung Pandang, Banteng, dan Jeneponto (Tirtawidjaya, 1983). Tanaman yang terinfeksi CVPD memiliki beberapa gejala. Gejala tersebut secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu gejala luar dan gejala dalam. Gejala luar, antara lain daun dewasa berwarna kekuning-kuningan pada daun dewasa, seperti halnya kekurangan unsur Zn, Mn, dan Fe. Tulang-tulang daun halus berwarna lebih hijau daripada jaringan helaian daunnya (Wahyuningsih, 2009). Apabila penyakit telah sampai pada stadium lanjut daun menjadi lebih kecil, kaku, lebih tebal, menjadi kuning pada sebagian atau seluruh tajuk, dan sering pula berbercak-bercak klorosis. Gejala ini mirip dengan gejala kelaparan seng (Zn). Pada daun-daun dewasa yang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, tulang-tulang daun yang halus berwarna lebih gelap sehingga kontras dengan daging daun yang berwarna kuning. Sedang gejala dalam, apabila dibuat irisan melintang dari ibu tulang daun atau tangkai daun yang helaian daunnya memperlihatkan gejala, akan terlihat kelainan pada floemnya. Jaringan floem daun dewasa memperlihatkan gejala yang 13
23 khas yaitu jauh lebih tebal daripada jaringan floem daun yang berwarna hijau (Wahyuningsih, 2009). D. Deteksi infeksi CVPD menggunakan sistem PCR Keberadaan Liberobacter asiaticum sebagai penyebab penyakit CVPD sulit untuk dideteksi keberadaannya karena belum dapat dikulturkan sehingga sulit untuk menentukan tanaman yang sehat dan yang telah terinfeksi dengan prosedur umum (Yuniti, 2001; Wahyuningsih, 2009; dan Triwiratno et al., 1999). Selain itu, hal ini juga disebabkan oleh rendahnya jumlah bakteri tersebut dalam tubuh inang dan distribusinya yang tidak merata dalam tubuh inang (Hung et al., 1999). Salah satu metode yang secara tepat dan cepat dapat mendeteksi keberadaan agen penyebab penyakit CVPD ini adalah dengan menggunakan teknik PCR. Yuniti (2007) yang melakukan deteksi penyakit CVPD pada tanaman jeruk dengan menggunakan teknik PCR mendapati bahwa bakteri Liberobacter asiaticum terdeteksi hanya pada bagian tanaman yang menunjukkan gejala pada tanaman yang baru sedikit menunjukkan gejala infeksi dan dapat mendeteksi pada seluruh bagian tanaman pada tanaman yang telah terserang berat. Penelitian oleh Hung et. al, (1999) menggunakan satu set primer yang diberi nama 226-primer pair untuk mendeteksi adanya infeksi pada 10 jenis tanaman jeruk dari seluruh Asia mendapatkan bahwa teknik ini secara cepat dan efektif dapat mendeteksi infeksi CVPD dalam waktu 6 jam. Senada dengan hal ini, penelitian oleh Triwiratno et. A,. (1999) yang mencoba mendeteksi penyakit ini menggunakan primer spesifik dan primer universal berhasil mendeteksi penyakit tersebut. Penelitian ini juga mendapati bahwa primer yang spesifik (OI1, OI2, OA1) lebih efektif dan spesifik dalam mendeteksi penyakit ini dibandingkan primer universal (fd1/rpi). Sedangkan 14
24 Li et. Al, (2006) juga berhasil mendeteksi CVPD pada jeruk manis menggunakan teknik PCR. 15
25 BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai November 2012 di wilayah sekitar Kecamatan Tawangmangu dan Ngargoyoso, Karanganyar, Jateng, laboratorium Balitjestro, Tlekung, Malang, dan UPBJJ-UT Semarang. B. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang daun jeruk sebanyak 0,5 gram dari 25 sampel daun tanaman jeruk keprok yang memiliki gejala terinfeksi seperti vein banding, intervenal chlorosis, maupun blotching. Bahan lainnya adalah tabung eppendorf, 1% -merkaptoetanol, CIAA, isopropanol, alkohol 70%, buffer TE, 1 l template DNA, primer forward, primer reverse, MMR, 1% dalam 40 ml (w/v) gel agarosa, etidium bromide, DNA contoh yang positif terinfeksi CVPD, dan DNA ladder. Alat yang digunakan adalah tabung mortar, pistil, Ependorf, mikropipet, sentrifuse, alat elektroforesis, ph meter, UV transluminator, penangas air/waterbath, mesin PCR, kamera digital, timbangan digital, mortar, dan microwave. C. Prosedur Penelitian C.1. Pengumpulan Sampel Daun muda yang telah berkembang sempurna, yang menunjukkan satu dari lima gejala khas daun seperti terinfeksi CVPD yaitu belang-belang (tipe I), klorosis sedang dengan tulang daun hijau (tipe II), klorosis keras dengan tulang daun hijau (tipe III), klorosis dengan tulang daun kuning (tipe IV) dan tulang daun mengeras (tipe V) dikoleksi, kemudian diambil tulang daunnya sebanyak 0,5 gram. 16
26 C.2. Ekstraksi DNA Tulang daun dipotong kecil-kecil (0,2-0,5 gram). Sampel dimasukkan kedalam eppendorf yang berisi 1500 µl buffer isolasi DNA + 30 µl merkaptoetanol, kemudian dicampur rata. Kemudian diinkubasi pada suhu 65 o C selama menit. Selanjutnya sampel disentrifuge pada kecepatan 6000 rpm selama 5 menit. Hasil dari proses sentrifuse akan memperlihatkan dua buah fase, yaitu pelet atau endapan di bagian bawah eppendorf dan supernatan atau cairan di bagian atas. Kemudian supernatannya diambil sebanyak ± 750 µl. Supernatan ini kemudian ditambah dengan larutan 1 ml Chloroform : Isoamylalkohol (CIAA) dengan perbandingan (24:1) kemudian dicampur rata dengan cara dikocok dengan kuat. Hasilnya kemudian disentrifuge pada kecepatan rpm selama 10 menit. Supernatan sebanyak ± 600 µl diambil, kemudian ditambah isopropanol dingin sebanyak jumlah supernatannya kemudian dibolak-balik pelan hingga tercampur. Hasilnya kemudian disentrifuge selama rpm selama 10 menit. Endapan yang merupakan DNA dicuci dengan alkohol 70% sebanyak 750 µl sambil dibolak-balik pelan kemudian disentrifuse pada kecepatan rpm selama 3 menit, supernatan dibuang dan pelet dikeringkan pada suhu ruangan sekitar 1 jam dengan cara membalik tabung Ependorf. Selanjutnya endapan DNA contoh yang diperoleh dilarutkan dalam 100 µl bufer TE (Tris-HCl 10mM ph 7,5; 10mM EDTA) dan disimpan pada freezer dengan suhu 0 o C. C.3. Amplifikasi DNA Proses amplifikasi DNA dilakukan dengan primer yang didesain untuk mengamplifikasi 16S rdna dari bakteri, dengan urutan basa forward primer (OI 1 ) : 5 - GCG CGT ATG CAA TAC GAG CGG CA-3, dan reverse primer (OI2c ) : 5-17
27 GCC TCG CGA CTT CGC AAC CCA T-3 (Jagoeuix et al., 1996). Campuran untuk PCR dalam 20 l berisi MMR 10 µl, Primer forward = 1 µl, Primer reverse = 1 µl, H2O 7 µl, dan DNA sampel 1 µl. Suhu yang digunakan pada saat PCR adalah denaturasi awal (Pre- treatment) pada suhu 92º C selama 30 detik (1 siklus), diikuti dengan 40 siklus yang terdiri dari 92 o C selama 60 detik (denaturasi), 60 o C selama 60 detik (annealing), dan 72 o C selama 90 detik (ekstensi/pemanjangan) dengan siklus terakhir (post ekstension) 72 o C selama 10 menit. C.4. Elektroforesis dan Pewarnaan Produk hasil amplifikasi sebanyak 5-8 l dianalisis menggunakan gel agarosa 1% dalam 40 ml (w/v) dan dideteksi menggunakan pewarnaan dengan etidium bromida (EtBr), dan difoto menggunakan gel-doc untuk mendokumentasikannya di atas UV Transiluminator. Sampel yang dikatakan positif terinfeksi CVPD akan terlihat sebagai pita terang dengan ukuran potongan sampel pada 1160 bp ketika dibandingkan dengan Ladder (Marker DNA). Tahapan-tahapan pengumpulan data dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 1. Proses pengumpulan sampel daun terinfeksi (a) (b) (c) (d) (e) Gambar 2. Proses ekstraksi DNA (a) proses penggerusan sampel (b) proses sentrifugasi, (c) penambahan merkaptoetanol, dan (e) pengeringan DNA 18
28 D. Analisis Data Data hasil elektroforesis dari 25 sampel yang diuji akan menunjukkan hasil positif jika didapati pita pada sampel saat di PCR pada 1160 bp jika dibandingkan dengan marker DNA, jika tidak terdapat pita, berarti tanaman tersebut tidak terinfeksi. Pita yang terang (positif) akan diberi tanda +, semakin terang pita, semakin tinggi tingkat infeksinya. 19
29 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengambilan Sampel Proses pengumpulan sampel yang akan diuji pada calon indukan pohon jeruk keprok Tawangmangu dilakukan secara sederhana. Pertama-tama tanaman diamati daun muda yang memiliki ciri-ciri terkena penyakit CVPD, kemudian daun ini dipetik dan dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk sampel, yang telah diberi kapas basah, kemudian ditutup dan disegel agar kelembapannya terjaga. Karena beberapa pohon jeruk keprok Tawangmangu memiliki habitus berupa pohon dengan ketinggian 3 hingga belasan meter. Untuk beberapa pohon sampel yang memiliki ketinggian lebih dari 4 meter, sampel daun muda tidak dapat dipetik secara manual, sehingga harus menggunakan alat bantu berupa tangga ataupun galah. Terdapat tiga puluh tiga sampel yang diambil daunnya dari tiga lokasi desa di dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Tawangmangu dan Kecamatan Ngargoyoso, yaitu Desa Blumbang dan Gondosuli di Kecamatan Tawangmangu, dan Desa Ngargoyoso di Kecamatan Ngargoyoso. 20
30 Data ketiga puluh tiga sampel tanaman yang diambil pada tiga desa tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 1. Data 33 sampel yang diambil sampel daunnya untuk deteksi penyakit CVPD. NO KODE ASESI LOKASI PENANAMAN 1 TN1 Ngargoyoso 2 TN2 Ngargoyoso 3 TN3 Ngargoyoso 4 TN4 Ngargoyoso 5 TN5 Ngargoyoso 6 TN6 Ngargoyoso 7 TG1 Gondosuli 8 TG2 Gondosuli 9 TG3 Gondosuli 10 TG4 Gondosuli 11 TG5 Gondosuli 12 TG6 Gondosuli 13 TG7 Gondosuli 14 TG8 Gondosuli 15 TG9 Gondosuli 16 TG10 Gondosuli 17 TB21 Blumbang 18 TB2 Blumbang 19 TB3 Blumbang 20 TB4 Blumbang 21 TB5 Blumbang 22 TB6 Blumbang 23 TB7 Blumbang 24 TB8 Blumbang 25 TB9 Blumbang 26 TB18 Blumbang 27 TB19 Blumbang 28 TB20 Blumbang 29 TB21 Blumbang 30 TB23 Blumbang 31 TB24 Blumbang 32 TB25 Blumbang 33 TB26 Blumbang Keterangan kode asesi : TN adalah pohon jeruk keprok Tawangmangu yang diambil dari Desa Ngargoyoso, TG adalah pohon jeruk keprok Tawangmangu yang diambil dari Desa, dan TB adalah pohon jeruk keprok Tawangmangu yang diambil dari Desa Blumbang. 21
31 Ketiga puluh tiga sampel yang diambil memiliki umur yang beragam antara satu tahun hingga sekitar tiga puluh tahun. Meskipun memiliki perawakan yang berbeda-beda, dari wawancara dengan pemilik tanaman, sampel-sampel tanaman ini merupakan tanaman jeruk keprok asli Tawangmangu. Lokasi sampel yang diambil tersebar di beberapa rumah penduduk. Terdapat rumah yang memiliki hanya satu buah sampel tanaman, namun ada juga rumah yang memiliki beberapa sampel tanaman yang hendak diuji. Persebaran lokasi sampel yang diambil dari Desa Ngargoyoso, Desa Gondosuli, dan Desa Blumbang dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 1. Denah lokasi pengambilan sampel di Desa Ngargoyoso. 22
32 Gambar 2. Denah lokasi pengambilan sampel di Desa Gondosuli dan Blumbang. 23
33 Ketiga puluh tiga sampel ini kemudian dipilih dua puluh lima sampel yang paling baik untuk diuji untuk dideteksi terinfeksi CVPD atau tidak. Kedua puluh lima sampel tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 2. Dua puluh lima sampel yang diuji untuk deteksi penyakit CVPD NO KODE SAMPEL KODE ASESI LOKASI PENANAMAN 1 1 TN1 Ngargoyoso 2 2 TN2 Ngargoyoso 3 3 TN3 Ngargoyoso 4 4 TN4 Ngargoyoso 5 5 TG2 Gondosuli 6 6 TG3 Gondosuli 7 7 TG4 Gondosuli 8 8 TG5 Gondosuli 9 9 TG6 Gondosuli TG7 Gondosuli TG8 Gondosuli TG9 Gondosuli TG10 Gondosuli TB21 Blumbang TB2 Blumbang TB23 Blumbang TB3 Blumbang TB4 Blumbang TB1 Blumbang TB5 Blumbang TB6 Blumbang TB7 Blumbang TB19 Blumbang TB20 Blumbang TB18 Blumbang 24
34 Dua puluh lima asesi yang digunakan memiliki ukuran, umur, dan penampakan morfologi yang berbeda-beda. Penampakan morfologi kedua puluh lima sampel yang diuji tersebut adalah sebagai berikut : (a) (b) (c) (d) (e) Gambar 3. Penampakan morfologi (a) Sampel 1 (Asesi TN1), (b) Sampel 2 (Asesi TN2), (c) Sampel 3 (Asesi TN3), (d) Sampel 4 (TN4), dan (e) Sampel 5 (TG2). (a) (b) (c) (d) (e) Gambar 4. Penampakan morfologi (a) Sampel 6 (Asesi TG3), (b) Sampel 7 (Asesi TG4), (c) Sampel 8 (Asesi TG5), (d) Sampel 9 (Asesi TG6), dan (e) Sampel 10 (Asesi TG7). 25
35 (a) (b) (c) (d) (e) Gambar 5. Penampakan morfologi (a) Sampel 11 (Asesi TG8), (b) Sampel 12 (Asesi TG9), (c) Sampel 13 (Asesi TG10), (d) Sampel 14 ( Asesi TB21), dan (e) Sampel 15 (Asesi TB2). (a) (b) (c) (d) (e) Gambar 6. Penampakan morfologi (a) Sampel 16 (Asesi TB23), (b) Sampel 17 (Asesi TB3), (c) Sampel 18 (Asesi TB4), (d) Sampel 19 (Asesi TB1), dan (e) Sampel 20 (Asesi TB5). (a) (b) (c) (d) Gambar 7. Penampakan morfologi (a) Sampel 21 (Asesi TB6) dan Sampel 22 (Asesi TB7), (b) Sampel 23 (Asesi TB19), (c) Sampel 24 (Asesi TB20), dan (d) Sampel 25 (Asesi TB18) 26
36 Gambar berikut merupakan penampakan daun pada pohon yang diambil sebagai sampel yang diuji. Daun-daun ini menunjukkan gejala/symptom daun yang terkena CVPD. (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i) (j) (k) (l) (m) (n) (o) (p) (q) (r) (s) (t) (u) (v) (w) (x) (y) Gambar 8. Daun dari asesi (a)tn1, (b) TN2, (c) TN3, (d) TN4, (e) TG2 (f) TG3, (g) TG4, (h) TG5, (i) TG6, (j) TG7, (k) TG8, (l) TG9, (m) TG10, (n) TB21, (o) TB2, (p) TB23, (q) TB3, (r) TB4, (s) TB1, (t) TB5, (u) TB6, (v) TB7, (w) TB19, (x) TB20, dan (y)tb18. Gambar-gambar di atas dapat dibandingkan dengan daun dari tanaman sehat yang berasal dari tanaman jeruk keprok Tawangmangu yang bibitnya berasal dari dinas Pertanian Kecamatan Tawangmangu pada Gambar 9 berikut. Gambar 9. Penampakan daun dari tanaman jeruk keprok Tawangmangu yang tidak menderita CVPD. 27
37 Daun-daun jeruk keprok Tawangmangu yang digunakan sebagai sampel pada pengujian penyakit CVPD memiliki ciri-ciri antara lain daun dewasa berwarna kekuning-kuningan, tulang-tulang daun berwarna hijau kontras dengan warna daging daun yang menguning, dan pada beberapa daun pada beberapa daun mengalami bercak-bercak kuning/mengalami gejala seperti klorosis (blotching). Hal ini senada dengan pernyataan Wahyuningsih (2009) dimana gejala luar yang ditimbulkan penyakit CVPD antara lain daun dewasa berwarna kekuning-kuningan pada daun dewasa, seperti halnya kekurangan unsur Zn, Mn, dan Fe serta tulang-tulang daun halus berwarna lebih hijau daripada jaringan helaian daunnya (Wahyuningsih, 2009). Hal ini berbeda dengan penampakan morfologi daun yang tidak terkena CVPD dari jeruk keprok Tawangmangu yang ada pada Gambar 9 di atas. Daun tampak berkembang dengan baik dan berwarna hijau merata. Tidak terdapat perbedaan warna yang mencolok antara tulang daun dengan daging daunnya. B. Pengujian Sampel Menggunakan Tehnik PCR Sampel daun yang telah didapatkan kemudian diuji di laboratorium untuk mendeteksi adanya infeksi penyakit CVPD pada tanaman tersebut. Pengujian ini melibatkan sampel tanaman yang positif terkena penyakit CVPD dan ladder atau marker untuk mengetahui besaran DNA yang teramplifikasi sebagai pembanding. Sekuen spesifik pada fragmen 16SrDNA hasil PCR dari sampel tanaman sakit menggunakan primer OI1 (forward) dan OI2 (reverse) untuk strain Asia akan mengamplifikasi DNA sekitar 1160 bp (Jagoeuix et.al., 1994). Fragmen DNA ini akan menunjukkan pita terang setelah divisualisasikan pada gel elektroforesis. 28
38 M PC bp 1160 bp M PC Gambar 10. Visualisasi hasil PCR menggunakan elektroforesis, M menunjukkan marker atau DNA ladder, PC menunjukkan kontrol positif/sampel yang terkena CVPD, dan kode angka menunjukkan urutan sampel yang menunjukkan asesi, yaitu (1)TN1, (2) TN2, (3) TN3, (4) TN4, (5) TG2, (6) TG3, (7) TG4, (8) TG5, (9) TG6, (10) TG7, (11) TG8, (12) TG9, (13) TG10, (14) TB21, (15) TB2, (16) TB23, (17) TB3, (18) TB4, (19) TB1, (20) TB5, (21) TB6, (22) TB7, (23) TB19, (24)TB20, dan (25)TB18. Sampel dikatakan positif jika terdapat pita (band) pada 1160 bp. Kontrol positif menunjukkan pita terang pada ukuran 1160 bp, hal ini berarti bahwa kontrol positif dapat digunakan sebagai pembanding bagi dua puluh lima sampel lainnya karena kontrol positif melalui proses ekstraksi, PCR, dan elektroforesis yang sama dengan yang digunakan pada dua puluh lima sampel yang diuji. Sekuen spesifik pada fragmen 16SrDNA hasil PCR dari sampel tanaman sakit menggunakan primer OI1 (forward) dan OI2 (reverse) untuk strain Asia akan mengamplifikasi DNA sekitar 1160 bp (Jagoeuix et.al., 1994). 29
39 Jadi, pita DNA atau band dari sampel yang menunjukkan suatu sampel terinfeksi oleh virus CVPD akan terlihat pada ukuran sekitar 1160 bp bila dibandingkan oleh marker DNA dan sejajar dengan pita dari hasil kontrol positif. Dua puluh lima buah sampel yang diuji tidak terlihat pita DNA pada ukuran 1160 bp yang berarti bahwa seluruh sampel calon tanaman indukan ini tidak terjangkit oleh penyakit CVPD. Gejala yang diamati pada sampel daun jeruk keprok Tawangmangu seperti ciri-ciri daun dewasa berwarna kekuning-kuningan, tulang-tulang daun berwarna hijau kontras dengan warna daging daun yang menguning mirip dengan gejala defisiensi Zn dan Fe. Dwiastuti et.al. (2003) yang meneliti hubungan antara gejala blotching, defisiensi Zn dan Fe dengan hasil deteksi penyakit CVPD jeruk dengan PCR mendapati bahwa sampel yang memiliki gejala defisiensi Zn (vein banding) dan gejala defisiensi Fe (intervenal chlorosis) tidak membentuk pita pada gel agarose. Dwiastuti et.al. (2003) juga menyimpulkan bahwa gejala defisiensi Zn dan Fe tidak mempunyai gejala khas CVPD. Hal ini berarti bahwa kemungkinan gejala yang timbul pada dua puluh lima sampel yang diuji bukan merupakan gejala khas CVPD dan ditimbulkan oleh sebab lain seperti defisiensi Fe dan Zn. 30
40 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dua puluh lima sampel tanaman calon indukan jeruk keprok Tawangmangu yang diuji secara keseluruhan tidak terinfeksi oleh penyakit CVPD. Gejala yang ditimbulkan berasal dari sebab lain seperti defisiensi Zn dan Fe. Namun, untuk dapat dijadikan indukan masih perlu dilakukan serangkaian pengujian terhadap beberapa penyakit sistemik lain yang seringkali terdapat pada jeruk seperti sporosis, exocortis, CTV, dan beberapa penyakit sistemik lain. 31
41 DAFTAR PUSTAKA Apriyana, Y., Haryono, dan Suciantini. (2009). Analisis Peubah Iklim dan Tanah Sebagai Faktor Penentu Mutu Internal Jeruk Keprok Tawangmangu. J. Tanah dan Iklim no 29. Balitbang Pertanian. (2005). Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk. Jakarta: Departemen Pertanian. Dwiastuti, M.E., A. Triwiratno, dan U.N. Taflikah Hubungan Gejala Blotching, Defisiensi Zn dan Fe dengan Hasil Deteksi Penyakit CVPD Jeruk dengan Polymerase Chain reaction. J. Hort 13 (2) : Endarto, O. Supriyanto, A.; Wuryantini, S.; Triwiratno, A. (2006). Evaluasi Penerapan Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) Pada Daerah Endemis CVPD. Prosiding Seminar Nasional Jeruk Tropika Indonesia Batu, Juli 2005 : Ernawati, R. (2007). Jeruk Keprok Tawangmangu, Dulu, Kini, dan Esok. Diakses tanggal 12 Desember Giyanti, N. (2001). Inventarisasi dan Identifikasi Jeruk Keprok (Citrus reticulata Blanco) Asli Tawangmangu di Kecamatan Tawangmangu. [Skripsi]. Surakarta: Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Hardiyanto. (2012). Mampukah Jeruk Keprok Nasional Kita Menggeser Jeruk Impor? dari Diakses tanggal 14 Maret Hardiyanto, E. Mujiarto, & E.S.Sulasmi. (2007). Kekerabatan Genetik Beberapa Spesies Jeruk Berdasarkan Taksonometri. J. Hortikultura 17 (3): Hermawan, A., Juanda, D., & Samijan. (2002). Pola penataan pertanaman jeruk berwawasan usaha tani konservasi di lahan kering. Prosiding Seminar Nasional Membangun Sistem Produksi Tanaman Pangan Berwawasan Lingkungan. Pati, 7 November Soejitno, J; Sasa, I.J. ; Hermanto (eds). Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Hung, T.H., M.L. Wu, dan H.J. Su. (1999). Development of A rapid Method for the diagnosis of Citrus greening Disease using the Polymerase Chain Reaction. J. Phytopathology 147:
42 Jagoeuix, S, Bove, JM, & Garnier, M. (1994). The phloem-limited bacterium of greening disease of citrus is a member of the a subdivision of the Protobacteria.Int.J.Syst. Bacteriol.44: Jagoeuix, S, Bove, JM, & Garnier, M. (1996). PCR detection of two Candidatus Liberobacter species associated with greening disease of citrus : Molecular and Celuler Probes 10 : Li, W., J. S. Hartung, & L. Levy. (2006). Quantitative real-time PCR for detection and identification of Candidatus Liberibacter species associated with citrus huanglongbing. Journal of Microbiological Methods 66: Nuryandani, E. (2012). Persebaran Dan Karakterisasi Induk Jeruk Keprok Tawangmangu Asli (Citrus reticulata Blanco ssp Tawangmangu). J. Matematika, Sains, dan Teknologi 13 (1): Menteri Pertanian Republik Indonesia. (2003). Keputusan Menteri Pertanian Nomor 456/Kpts/PD.210/9/2003 tanggal 15 September 2003 tentang Pelepasan Jeruk Keprok Tawangmangu sebagai Varietas Unggul. Sambrook, J., & Russell, D. W., (2001). Molecular Cloning, A Laboratory Manual 3rd edition, New York: Cold Spring Harbor Laboratory Press. Sarwono, B. (1993). Jeruk dan Kerabatnya. Jakarta: Penebar Swadaya. Shanti, S. I. (2007). Analisis keputusan konsumen dalam mengkonsumsi jeruk lokal dan jeruk impor di ritel modern (Kasus Konsumen Giant Botani Square Bogor). [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Sutopo. (2011). Panduan Budidaya Tanaman Jeruk. Artikel. html. Diakses tanggal 11 Desember Tirtawidjaya, S. (1983). Citrus Vein Phloem Degeneration Virus : Penyebab citrus chlorosis di Jawa. [Disertasi]. Bogor: Intitut Pertanian Bogor. Triwinanto, A., M.E. Dwiastuti, dan A. Supriyanto. (1999). Quick detection of citrus greening by PCR method with spesific and universal primers. Indonesian Journal of Biotechnology: Utama, D.S. (2002). Pengaruh Pemberian Ekstrak Tauge dan Air Kelapa terhadap Multiplikasi Jeruk Keprok Tawangmangu [Skripsi]. Surakarta : Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. 33
43 Van Steenis, C.G., (1975). Flora Voor de Scholen in Indonesie, diterjemahkan oleh Sorjowinoto, M., edisi VI, Jakarta: PT. Pradnya Paramitha. Verheij, E. W. dan R. E. Coronel. (1992). Prosea Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang Dapat Dimakan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Wahyuningsih, E. (2009). CVPD Pada Jeruk (Citrus spp.) dan Upaya Pengendaliannnya. Vis Vitalis: Watson JD, Gilman M, & Witkowsky J. (1992). Recombinant DNA. 2 nd edition. New York: Freeman. Yuniti, I. G.A. D. (2007). Penyebaran bakteri Liberobacter asiaticum pada tanaman jeruk dalam beberapa tingkat gejala serangan penyakit CVPD. Widyanata 2 (2):
44 35
LEMBAR PERSETUJUAN ARTIKEL PENELITIAN
LEMBAR PERSETUJUAN ARTIKEL PENELITIAN Tahun Penelitian : 2012 Judul Artikel Penelitian : DETEKSI PENYAKIT SISTEMIK CITRUS VEIN PHLOEM DEGENERATION (CVPD) MENGGUNAKAN TEKNIK PCR PADA CALON INDUKAN JERUK
PERSEBARAN DAN KARAKTERISASI INDUK JERUK KEPROK TAWANGMANGU ASLI (Citrus reticulata Blanco ssp Tawangmangu)
PERSEBARAN DAN KARAKTERISASI INDUK JERUK KEPROK TAWANGMANGU ASLI (Citrus reticulata Blanco ssp Tawangmangu) Einstivina Nuryandani ([email protected]) Program Studi Biologi, FMIPA-UT ABSTRAK Informasi
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat
12 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Survei penyakit klorosis dan koleksi sampel tanaman tomat sakit dilakukan di sentra produksi tomat di daerah Cianjur, Cipanas, Lembang, dan Garut. Deteksi
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN. HALAMAN PERNYATAAN... PRAKATA iv DAFTAR GAMBAR... DAFTAR SINGKATAN... INTISARI... BAB I. PENGANTAR...
DAFTAR ISI halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN. HALAMAN PERNYATAAN... i ii iii PRAKATA iv DAFTAR ISI DAFTAR TABEL. DAFTAR GAMBAR... DAFTAR SINGKATAN... INTISARI... ABSTRACT... vii xii xiv xvi xvii
I. PENDAHULUAN. Jeruk merupakan komoditas buah-buahan yang menjanjikan bagi bidang pertanian
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jeruk merupakan komoditas buah-buahan yang menjanjikan bagi bidang pertanian di Indonesia. Indonesia menempati urutan ke sebelas untuk produsen jeruk dunia pada tahun
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dasar dengan metode B. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah sampel DNA koleksi hasil
Deteksi Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) dengan Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) pada Tanaman Jeruk di Bali
Deteksi Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) dengan Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) pada Tanaman Jeruk di Bali NI PUTU SWARI MEITAYANI WAYAN ADIARTAYASA*) I NYOMAN WIJAYA Program Study
BAB I. PENGANTAR. A. Latar Belakang. kurang dari 7 ton/ha/tahun atau kira-kira 6,8 ton/ha/tahun, sedangkan di negara
BAB I. PENGANTAR A. Latar Belakang Jeruk merupakan komoditas buah unggulan nomor 1 untuk dikembangkan di Indonesia. Produksi buah jeruk pernah mencapai 547.322 ton dari luas lahan 95.569 ha pada tahun
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini terdapat lima tahapan penelitian yang dilakukan yaitu
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada penelitian ini terdapat lima tahapan penelitian yang dilakukan yaitu pengumpulan sampel berupa akar rambut, ekstraksi mtdna melalui proses lisis akar rambut, amplifikasi
FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI
ISOLASI TOTAL DNA TUMBUHAN DENGAN KIT EKSTRAKSI DNA PHYTOPURE Halaman : 1 dari 5 1. RUANG LINGKUP Metode ini digunakan untuk mengisolasi DNA dari sampel jaringan tumbuhan, dapat dari daun, akar, batang,
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Pertanian merupakan salah
E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika ISSN: Vol. 5, No. 4, Oktober 2016
Deteksi Keberadaan Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) dengan Teknik PCR (Polymerase Chain Reaction) di Dusun Untalan Desa Jungutan Kecamatan Bebandem Kabupaten Karangasem I KADEK PURNAWIRAWAN
Prosiding Seminar Nasional PERHORTI 2014, Malang 5-7 November 2014 ISBN
EVALUASI KERAGAAN PERTUMBUHAN BENIH JERUK 15 VARIETAS KEPROK DAN 7 VARIETAS MANIS DI DUA KETINGGIAN (KEBUN PERCOBAAN TLEKUNG 950 M DPL DAN KEBUN PERCOBAAN BANJARSARI 2 M DPL) Emi Budiyati* dan Jati Balai
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Autentikasi Bahan Baku Ikan Tuna (Thunnus sp.) dalam Rangka Peningkatan Keamanan Pangan dengan Metode Berbasis DNA dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan
MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi. Tabel 1. Jumah Sampel Darah Ternak Sapi Indonesia Ternak n Asal Sapi Bali 2 4
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler Ternak, Bagian Pemuliaan dan Genetika Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. penelitian ini
E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika ISSN: Vol. 5, No. 4, Oktober 2016
Deteksi Keberadaan Penyebab Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) secara Molekuler pada Tanaman Jeruk Siam (Citrus nobilis Lour var. microcarpa Hassk) berdasarkan Variasi Gejala Klorosis IKA
LAPORAN PRAKTIKUM REKAYASA GENETIKA
LAPORAN PRAKTIKUM REKAYASA GENETIKA LAPORAN II (ISOLASI DNA GENOM) KHAIRUL ANAM P051090031/BTK BIOTEKNOLOGI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010 0 ISOLASI DAN IDENTIFIKASI DNA SEL MUKOSA
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Pengambilan sampel. Penyiapan templat mtdna dengan metode lisis sel
16 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN Bab ini menggambarkan tahapan penelitian yang terdiri dari pengambilan sampel, penyiapan templat mtdna dengan metode lisis sel, amplifikasi D-loop mtdna dengan teknik
bio.unsoed.ac.id METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian
III. METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian 1.1. Peralatan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah botol sampel, beaker glass, cool box, labu
E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika ISSN: Vol. 2, No. 2, April 2013
Aplikasi Teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) Terhadap Variasi Gejala Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) pada Beberapa Jenis Daun Tanaman Jeruk GUSTI PUTU DINTYA PUTRA*) WAYAN ADIARTAYASA
DAFTAR ISI... SAMPUL DALAM... PRASYARAT GELAR MAGISTER... LEMBAR PERSETUJUAN... PENETAPAN PANITIA PENGUJI... SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT...
DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... PRASYARAT GELAR MAGISTER... LEMBAR PERSETUJUAN... PENETAPAN PANITIA PENGUJI... SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT... UCAPAN TERIMA KASIH... ABSTRAK... ABSTRACT... RINGKASAN...
BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini dilakukan lima tahap utama yang meliputi tahap
BAB III METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini dilakukan lima tahap utama yang meliputi tahap penyiapan templat mtdna, amplifikasi fragmen mtdna pada daerah D-loop mtdna manusia dengan teknik PCR, deteksi
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 7 sampel dari 7
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 7 sampel dari 7 individu udang Jari yang diambil dari Segara Anakan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.
MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler, Bagian Pemuliaan dan Genetika Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan,
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB dan Laboratorium Terpadu,
VISUALISASI HASIL PCR DENGAN METODE PCR LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG PADA SAMPEL BAKTERI Pseudomonas fluorescens dan Ralstonia solanacearum
VISUALISASI HASIL PCR DENGAN METODE PCR LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG PADA SAMPEL BAKTERI Pseudomonas fluorescens dan Ralstonia solanacearum Pendahuluan Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu teknik
METODOLOGI PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat Penelitian
14 METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Unit Pelayanan Mikrobiologi Terpadu, Bagian Mikrobiologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan
MATERI DAN METODE. Kota Padang Sumatera Barat pada bulan Oktober Amplifikasi gen Growth
III. MATERI DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Pengambilan sampel darah domba dilakukan di Kecamatan Koto Tengah Kota Padang Sumatera Barat pada bulan Oktober 2012. Amplifikasi gen Growth Hormone menggunakan
MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 1. Sampel Darah Sapi Perah dan Sapi Pedaging yang Digunakan No. Bangsa Sapi Jenis Kelamin
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Genetika Molekuler Ternak, Bagian Pemuliaan dan Genetika, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini berlangsung
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang mengangkat fenomena alam sebagai salah satu masalah dalam penelitian, sehingga dapat menerangkan arti
ANALISIS KERAGAMAN GENETIK MUTAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) HASIL PERLAKUAN MUTAGEN KOLKISIN BERDASARKAN PENANDA MOLEKULER RAPD
ANALISIS KERAGAMAN GENETIK MUTAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) HASIL PERLAKUAN MUTAGEN KOLKISIN BERDASARKAN PENANDA MOLEKULER RAPD Herdiyana Fitriani Dosen Program Studi Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP
BAB III BAHAN DAN METODE
9 BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2011 sampai dengan Juli 2012. Kegiatan ekstraksi DNA sampai PCR-RFLP dilakukan di laboratorium Analisis
BAB III METODE PENELITIAN. Secara garis besar langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini
BAB III METODE PENELITIAN Secara garis besar langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: pengumpulan sampel; lisis terhadap sampel mtdna yang telah diperoleh; amplifikasi daerah D-loop
II. MATERI DAN METODE. Tempat pengambilan sampel daun jati (Tectona grandis Linn. f.) dilakukan di
II. MATERI DAN METODE 2.1 Waktu dan Tempat Penelitian Tempat pengambilan sampel daun jati (Tectona grandis Linn. f.) dilakukan di enam desa yaitu tiga desa di Kecamatan Grokgak dan tiga desa di Kecamatan
3. METODE PENELITIAN
19 3. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2010 di Laboratorium Mikrobiologi, Biokimia dan Bioteknologi Hasil Perairan Departemen Teknologi Hasil
TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Sifat Botani
3 TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul dan Penyebaran Geografis Pepaya (Carica papaya) merupakan tanaman buah-buahan tropika. Pepaya merupakan tanaman asli Amerika Tengah, tetapi kini telah menyebar ke seluruh dunia
BAB III METODE PENELITIAN Bagan Alir Penelitian ini secara umum dapat digambarkan pada skema berikut:
BAB III METODE PENELITIAN Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: pengumpulan sampel, lisis terhadap sampel mtdna yang telah diperoleh, amplifikasi daerah HVI mtdna sampel dengan menggunakan
Deteksi Keberadaan Liberobacter asiaticum Pada Tanaman Jeruk Yang Terserang Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) Dengan Gejala Parsial
Deteksi Keberadaan Liberobacter asiaticum Pada Tanaman Jeruk Yang Terserang Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) Dengan Gejala Parsial VANI SILVANA I NYOMAN WIJAYA *) I GEDE PUTU WIRAWAN Program Studi
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae, kelas monocotyledonae,
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Tanaman bawang merah diklasifikasikan sebagai berikut, divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae, kelas monocotyledonae, ordo liliales,
BAB III METODE PENELITIAN. amplifikasi daerah HVI mtdna sampel dengan menggunakan teknik PCR;
BAB III METODE PENELITIAN Secara garis besar, langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: pengumpulan sampel; lisis terhadap sampel mtdna yang telah diperoleh; amplifikasi daerah HVI mtdna
4.1. Alat dan Bahan Penelitian a. Alat Penelitian. No. URAIAN ALAT. A. Pengambilan sampel
7 IV. METODE PENELITIAN Ikan Lais diperoleh dari hasil penangkapan ikan oleh nelayan dari sungaisungai di Propinsi Riau yaitu S. Kampar dan S. Indragiri. Identifikasi jenis sampel dilakukan dengan menggunakan
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Genetika Molekuler Ternak, Bagian Pemuliaan dan Genetik Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan,
TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang
17 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang cukup lengkap untuk mempertahankan kesehatan tubuh. Komposisi zat-zat makanan yang terkandung dalam
II. BAHAN DAN METODE
II. BAHAN DAN METODE 2.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus sampai September tahun 2011. Sampel ikan berasal dari 3 lokasi yaitu Jawa (Jawa Barat), Sumatera (Jambi),
METODE PENELITIAN. Survei dan Pendataan
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Kegiatan identifikasi penyebab penyakit umbi bercabang pada wortel dilakukan di Laboratorium Nematologi dan Laboratorium Virologi Departemen Proteksi Tanaman
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium BIORIN (Biotechnology Research Indonesian - The Netherlands) Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB. Penelitian
KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 307/Kpts/SR.120/4/2006 TENTANG PELEPASAN JERUK KEPROK BATU 55 SEBAGAI VARIETAS UNGGUL
KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 307/Kpts/SR.120/4/2006 TENTANG PELEPASAN JERUK KEPROK BATU 55 SEBAGAI VARIETAS UNGGUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang Mengingat : a. bahwa
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Secara umum kerabat durian (Durio spp.) merupakan tanaman buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Jangkauan pasarnya sangat luas dan beragam mulai dari pasar
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
20 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif cross sectional molekuler. Data yang diperoleh berasal dari pemeriksaan langsung yang dilakukan peneliti sebanyak
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang mengangkat fenomena alam sebagai salah satu masalah dalam penelitian. Penelitian ini dapat menerangkan
METODE PENELITIAN. Tabel 1 Sampel yang digunakan dalam penelitian
12 METODE PEELITIA Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan April 2010, bertempat di Bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI
Halaman : 1 dari 5 ISOLASI TOTAL DNA HEWAN DENGAN KIT EKSTRAKSI DNA 1. RUANG LINGKUP Metode ini digunakan untuk mengisolasi DNA dari sampel jaringan hewan, dapat dari insang, otot, darah atau jaringan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juli 2012, yang bertempat di Laboratorium Genetika dan Biologi Molekuler Jurusan Biologi
LAPORAN PRAKTIKUM REKAYASA GENETIKA
LAPORAN PRAKTIKUM REKAYASA GENETIKA LAPORAN IV (ISOLASI RNA DARI TANAMAN) KHAIRUL ANAM P051090031/BTK BIOTEKNOLOGI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010 0 ISOLASI RNA DARI TANAMAN TUJUAN Tujuan
LAPORAN PENELITIAN DOSEN PEMULA
Kode/Nama Rumpun Ilmu : 113/ BIOLOGI LAPORAN PENELITIAN DOSEN PEMULA KARAKTERISASI KERAGAMAN CALON INDUKAN JERUK KEPROK TAWANGMANGU (Citrus Reticulata BLANCO ssp. TAWANGMANGU) BERDASARKAN ANALISIS INTER
LAMPIRAN. Lampiran 1. Deskripsi Pembuatan Larutan Stok dan Buffer
LAMPIRAN Lampiran 1. Deskripsi Pembuatan Larutan Stok dan Buffer 1. Pembuatan Larutan Stok a. CTAB 5 % Larutan dibuat dengan melarutkan : - NaCl : 2.0 gr - CTAB : 5.0 gr - Aquades : 100 ml b. Tris HCl
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut :
II. TINJAUAN PUSTAKA.1 Kacang Panjang.1.1 Klasifikasi Tanaman Kacang Panjang Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut : Kerajaan Divisi Kelas Sub kelas Ordo Famili Genus : Plantae : Spermatophyta
IDENTIFIKASI VARIETAS JERUK
IDENTIFIKASI VARIETAS JERUK 1. DNA 2. MORFOLOGI Hadi Mulyanto IDENTIFIKASI VARIETAS JERUK Sub genera Citrus( 7 spesies ) Citrus sinensis Osbeck (jeruk manis), Citrus reticulatablanco (jeruk keprok), Citrus
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Metode Penelitian Pengambilan Sampel Kutukebul dan Tanaman Tomat Sumber TICV
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Kegiatan survei dan pengambilan sampel kutukebul dilakukan di sentra produksi tomat di Kecamatan Cikajang (kabupaten Garut), Kecamatan Pacet (Kabupaten Cianjur), Kecamatan
TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Buah Naga Buah naga ( Dragon Fruit) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang baru dibudidayakan di Indonesia dengan warna buah merah yang menyala dan bersisik hijau
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jeruk merupakan salah satu tanaman buah yang penting dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jeruk merupakan salah satu tanaman buah yang penting dan dibudidayakan secara luas di Indonesia. Hal ini terlihat dari total produksi jeruk di Indonesia menduduki peringkat
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Sampel Pengambilan Sampel Ekstraksi DNA Primer
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Nopember 2010. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetik Molekuler, Bagian Pemuliaan dan Genetik Ternak,
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang mempunyai iklim tropis, berpeluang besar bagi pengembangan budidaya tanaman buah-buahan, terutama buah-buahan tropika.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian tentang Pengaruh Suhu Annealing pada Program PCR terhadap Keberhasilan Amplifikasi DNA Udang Jari (Metapenaeus elegans) Laguna Segara Anakan
SKRIPSI. untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian. Oleh. I Kadek Purnawirawan Putra NIM KONSENTRASI PERLINDUNGAN TANAMAN
DETEKSI KEBERADAAN PENYAKIT CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) DENGAN TEKNIK PCR (Polymerase Chain Reaction) DI DUSUN UNTALAN DESA JUNGUTAN KECAMATAN BEBANDEM KABUPATEN KARANGASEM SKRIPSI Skripsi ini
Asam Asetat Glacial = 5,7 ml EDTA 0,5 M ph 8.0 = 10 ml Aquades ditambahkan hingga volume larutan 100 ml
36 Lampiran 1. Pembuatan Larutan Stok dan Buffer A. Pembuatan Larutan Stok Tris HCL 1 M ph 8.0 (100 ml) : Timbang Tris sebanyak 12,114 g. Masukkan Tris ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan 80 ml aquades.
Pengujian DNA, Prinsip Umum
Pengujian DNA, Prinsip Umum Pengujian berbasis DNA dalam pengujian mutu benih memang saat ini belum diregulasikan sebagai salah satu standar kelulusan benih dalam proses sertifikasi. Dalam ISTA Rules,
TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai
3 TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Cabai ditemukan pertama kali oleh Columbus pada saat menjelajahi Dunia Baru. Tanaman cabai hidup pada daerah tropis dan wilayah yang bersuhu hangat. Selang beberapa
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian akan diawali dengan preparasi alat dan bahan untuk sampling
16 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian akan diawali dengan preparasi alat dan bahan untuk sampling sel folikel akar rambut. Sampel kemudian dilisis, diamplifikasi dan disekuensing dengan metode dideoksi
ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI
1 ANALISA HASIL TRANSFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PCR KOLONI DAN RESTRIKSI PENDAHULUAN Polimerase Chain Reaction (PCR) PCR adalah suatu reaksi invitro untuk menggandakan jumlah molekul DNA pada target tertentu
DETEKSI KEBERADAAN CITRUS VEIN PHLOEM DEGENERATION (CVPD) DENGAN TEKNIK PCR (POLYMERASE CHAIN REACTION) DI SULAWESI TENGGARA
J. Taufik HPT et Tropika. al. ISSN 1411-7525 Deteksi Keberadaan CVPD dengan PCR 73 Vol. 10, No. 1: 73 79, Maret 2010 DETEKSI KEBERADAAN CITRUS VEIN PHLOEM DEGENERATION (CVPD) DENGAN TEKNIK PCR (POLYMERASE
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Mentimun Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam : Divisi :
PRAKATA. Alhamdulillah syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah swt., atas
PRAKATA Alhamdulillah syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah swt., atas segala nikmat dan karunia-nya, penulisan Tugas Akhir dengan judul Keragaman Genetik Abalon (Haliotis asinina) Selat Lombok
II. TINJAUAN PUSTAKA. beraturan, banyak bercabang, rindang, berdahan pendek, permukaan atas daun
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Jeruk Jeruk merupakan famili Rutaceae, jenis ini hampir selalu berupa semak atau pohon, dengan daun tunggal atau majemuk yang duduknya tersebar atau berhadapan, tanpa
I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Ekspor Buah-Buahan Indonesia Tahun Volume (Kg) Nilai (US $) Volume (Kg)
I. PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki potensi yang besar dalam menghasilkan produksi pertanian. Hortikultura merupakan salah satu sub sektor pertanian yang
II. TINJAUAN PUSTAKA. Tjitrosoepomo (2002) adalah sebagai berikut: : Citrus. : Citrus spp.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Tanaman Jeruk Kedudukan tanaman jeruk dalam sistem klasifikasi tumbuhan menurut Tjitrosoepomo (2002) adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Subdivisi Class Ordo Famili
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian mempunyai peranan penting pada negara berkembang seperti di Indonesia. Kontribusi sektor pertanian saat ini sangat berpengaruh untuk pembangunan negara. Hal
SKRIPSI. Oleh Octa Fransisca Sitorus NIM KONSENTRASI PERLINDUNGAN TANAMAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
DETEKSI KEBERADAAN PENYEBAB PENYAKIT Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) PADA TANAMAN JERUK DENGAN GEJALA MENYELURUH MENGGUNAKAN TEKNIK Polymerase Chain Reaction (PCR) SKRIPSI Skripsi ini diajukan sebagai
II. TINJAUAN PUSTAKA A.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Durian 1. Karakteristik tanaman durian Durian (Durio zibethinus Murr.) merupakan salah satu tanaman hasil perkebunan yang telah lama dikenal oleh masyarakat yang pada umumnya
II. TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol (Gladiolus hybridus) berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti
7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani dan Morfologi Tanaman Gladiol Gladiol (Gladiolus hybridus) berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti pedang sesuai dengan bentuk daunnya yang meruncing dan memanjang.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian murni yang dilakukan dengan metode deskriptif, yaitu suatu metode penelitian untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
29 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik isolat bakteri dari ikan tuna dan cakalang 4.1.1 Morfologi isolat bakteri Secara alamiah, mikroba terdapat dalam bentuk campuran dari berbagai jenis. Untuk
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang bertujuan untuk
27 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang bertujuan untuk mengamplifikasi Gen STX1A. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penularan Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) oleh Diaphorina citri Kuwayama (Homoptera: Psyllidae) pada Tanaman Jeruk Siam
Agritrop, Vol. 26 (4) 26, : 140 No. - 146 4 (2007) issn : 0215 8620 C Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar Bali - Indonesia Penularan Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) oleh Diaphorina
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. diikuti oleh akar-akar samping. Pada saat tanaman berumur antara 6 sampai
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Pada saat jagung berkecambah, akar tumbuh dari calon akar yang berada dekat ujung biji yang menempel pada janggel, kemudian memanjang dengan diikuti oleh akar-akar samping.
III. MATERI DAN METODE. Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim
III. MATERI DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru
II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Manggis dan Syarat Tumbuh Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah berupa pohon yang banyak tumbuh secara alami pada hutan tropis di kawasan
DETEKSI KEBERADAAN PENYEBAB PENYAKIT
DETEKSI KEBERADAAN PENYEBAB PENYAKIT Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) SECARA MOLEKULER PADA TANAMAN JERUK SIAM (Citrus nobilis Lour var. microcarpa Hassk) BERDASARKAN VARIASI GEJALA KLOROSIS SKRIPSI
TINJAUAN PUSTAKA. Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat
TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Dephut, 1998): Kingdom : Plantae Divisio : Spematophyta
MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Analisis Polymerase Chain Reaction (PCR) serta analisis penciri Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) dilaksanakan di Laboratorium
LAMPIRAN. Lampiran 1. Pembuatan Larutan Stok dan Buffer
LAMPIRAN Lampiran 1. Pembuatan Larutan Stok dan Buffer A. LARUTAN STOK CTAB 5 % (100 ml) - Ditimbang NaCl sebanyak 2.0 gram - Ditimbang CTAB sebanyak 5.0 gram. - Dimasukkan bahan kimia ke dalam erlenmeyer
PROSIDING SEMINAR NASIONAL DUKUNGAN INOVASI TEKNOLOGI DALAM AKSELERASI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS INDUSTRIAL PEDESAAN. Malang, 13 Desember 2005
PROSIDING SEMINAR NASIONAL DUKUNGAN INOVASI TEKNOLOGI DALAM AKSELERASI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS INDUSTRIAL PEDESAAN Malang, 13 Desember 2005 BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN BALAI BESAR PENGKAJIAN
SINTESIS cdna DAN DETEKSI FRAGMEN GEN EF1-a1 PADA BUNGA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
SINTESIS cdna DAN DETEKSI FRAGMEN GEN EF1-a1 PADA BUNGA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai derajat Sarjana Sains (S.Si) pada Jurusan Biologi
METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu
10 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2015 sampai Februari 2016. Isolasi dan visualisasi RNA Colletrotichum dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit
II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio:
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio: Spermatophyta; Sub divisio: Angiospermae; Kelas : Dikotyledonae;
TINJAUAN PUSTAKA Jeruk Keprok Garut
TINJAUAN PUSTAKA Jeruk Keprok Garut Tanaman jeruk secara garis besar terdiri atas 2 jenis yaitu eucitrus dan papeda. Jenis eucitrus paling banyak dan paling luas dibudidayakan karena buahnya enak dimakan,
MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU
PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO DINAS PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN JL. RAYA DRINGU 81 TELPON 0335-420517 PROBOLINGGO 67271 MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU Oleh
BAB 4. METODE PENELITIAN
BAB 4. METODE PENELITIAN Penelitian penanda genetik spesifik dilakukan terhadap jenis-jenis ikan endemik sungai paparan banjir Riau yaitu dari Genus Kryptopterus dan Ompok. Penelitian ini bertujuan untuk
Karakterisasi Patogen CVPD pada Tanaman Jeruk dan Vektor CVPD Menggunakan Teknik Polymerase Chain Reaction
J. Hort. 16(4):327-335, 2006 Karakterisasi Patogen CVPD pada Tanaman Jeruk dan Vektor CVPD Menggunakan Teknik Polymerase Chain Reaction Asaad, M. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan Jl.
