PENGEMBANGAN ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION (CSO) UNTUK KLASIFIKASI
|
|
|
- Suparman Indradjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENGEMBANGAN ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION (CSO) UNTUK KLASIFIKASI Nalendra Dhanasaputra, Budi Santosa Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya Abstrak Baru-baru ini ditemukan satu algoritma baru dalam teknik optimasi yang meniru perilaku hewan. Algoritma baru ini diusulkan oleh Shu Chuan Chu (2006) dan diberi nama Cat Swarm Optimization (CSO). Algoritma ini memiliki sejumlah kelebihan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan optimasi dibandingkan dengan teknik-teknik yang terdahulu seperti Particle Swarm Optimization (PSO) dan PSO with Weighting Factor. Dalam penelitian ini, CSO diterapkan dalam data mining, khususnya untuk kasus klasifikasi. Teknik klasifikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan Multiple Regression Linear Model (MRLM). Dalam klasifikasi menggunakan pendekatan MRLM, CSO diterapkan untuk mengestimasi koefisien dari MRLM. Algoritma CSO dapat menghasilkan klasifikasi yang lebih baik dalam hal jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk mencapai titik optimal dan memiliki tingkat akurasi yang lebih baik dibanding metode yang ada sebelumnya. Kata kunci: Cat Swarm Optimization, Klasifikasi, Multiple Regression Linear Model. Abstract Recently found a new algorithm optimization technique that mimics animal behavior. This new algorithm is proposed by Shu Chuan Chu (2006) and given the name Cat Swarm Optimization (CSO). This algorithm has a number of advantages in solving the problems of optimization techniques with tools such as Particle Swarm Optimization (PSO) and PSO with Weighting Factor. In this research, CSO is applied in data mining, particularly in the case of classification. Classification technique used in this research is Multiple Linear Regression Model (MRLM) approach. In the classification MRLM approach, CSO is applied to estimate coefficients of MRLM. With the CSO developed algorithm, which can produce better classification in terms of the number of iterations required to reach the optimal point and have a better level of accuracy than the previous method. Keywords: Cat Swarm Optimization, Classification, Multiple Regression Linear Model. 1. Pendahuluan Baru-baru ini ditemukan satu algoritma baru dalam teknik optimasi yang meniru perilaku hewan. Algoritma baru ini diusulkan oleh Shu Chuan Chu (2006) dan diberi nama Cat Swarm Optimization (CSO). Algoritma ini memiliki sejumlah kelebihan dalam menyelesaikan permasalahanpermasalahan optimasi dibandingkan dengan teknik-teknik yang terdahulu seperti Particle Swarm Optimization (PSO) dan PSO with Weighting Factor. Selama ini, algoritma tersebut masih digunakan untuk unconstrained minimization problem dan belum pernah diaplikasikan di bidang lain. Akan menjadi sesuatu yang baru dan menarik jika penerapan CSO bisa diterapkan dalam data mining, khususnya untuk kasus klasifikasi. Konsep data mining semakin populer sebagai alat manajemen informasi dimana diharapkan dapat mengungkap struktur pengetahuan yang bisa menuntun pengambilan keputusan. Jika jumlah atribut meningkat dan juga jumlah data bertambah banyak maka tugas pengambilan keputusan ini tidak bisa dilakukan secara manual atau sangat sulit dilakukan secara manual. Sehingga, alasan ongkos dan akurasi menjadi penting sehingga kita perlu mengembangkan metoda supervised learning ini dan menjalankannya lewat program komputer (Santosa,2006). Dengan dikembangkannya algoritma CSO, diharapkan dapat menghasilkan klasifikasi yang lebih cepat dan memiliki tingkat akurasi yang lebih baik dibanding metode yang ada sebelumnya. Klasifikasi bertujuan menempatkan data baru ke dalam kelas yang telah tersedia sebelumnya. Misalnya, sebuah bank ingin memprediksi apakah nasabah yang ingin meminjam uang patut untuk diberikan pinjaman. Pihak bank bisa memutuskan akan memberi
2 pinjaman dengan melihat data-data yang dimiliki oleh nasabah, seperti data gaji, pengeluaran, lokasi tempat tinggal, jenis pekerjaan, umur nasabah, dan sebagainya. Dalam data mining, data-data tersebut dinamakan variabel. Permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini adalah bagaimana mengembangkan algoritma Cat Swarm Optimization sehingga dapat digunakan dalam kasus klasifikasi. Kemudian, untuk mengevaluasi hasilnya akan digunakan pendekatan lain sebagai pembanding. Dalam penelitian ini performansi algoritma CSO akan dilihat apakah dapat memberikan hasil yang baik untuk kasus klasifikasi seperti halnya performansi algoritma CSO yang diterapkan pada kasus unconstrained minimization problem. Penelitian ini menggunakan data nyata yang telah umum digunakan dalam penelitianpenelitian seperti data Iris, data Breast Cancer, dan lain-lain. Laporan Tugas Akhir ini terdiri atas enam bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut. Pendahuluan berisi tentang hal-hal yang mendasari dilakukannya penelitian serta pengidentifikasian masalah penelitian. Tinjauan pustaka menguraikan teori, temuan, dan bahan penelitian lain yang diperoleh dari acuan. Tinjauan pustaka akan menjadi landasan untuk melakukan kegiatan penelitian tugas akhir. Bab pengembangan model menguraikan metodologi penelitian yang dilakukan serta tahapan pengembangan model Cat Swarm Optimization untuk klasifikasi dua kelas. Pada bab pengujian model akan ditampilkan uji coba contoh numerik, data pengujian, serta bagaimana pengujian model dilakukan sesuai dengan kerangka penelitian yang telah dibuat. Bab analisis dan pembahasan akan dilakukan analisis terhadap hasil uji coba model. Analisis berisi uraian mengenai bagaimana model yang dikembangkan dapat memberikan perbaikan ataupun kelebihan terhadap model klasifikasi yang telah ada sebelumnya. Bab terakhir adalah kesimpulan dan sara yang berisi tentang kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran yang berkaitan dengan penelitian selanjutnya. 2. Tinjauan pustaka Tinjauan pustaka menguraikan teori, temuan, dan bahan penelitian lain yang diperoleh dari acuan yang akan dijadikan landasan untuk melakukan kegiatan penelitian tugas akhir. 2.1 Heuristic Mengutip dari situs whatis.techtarget.com, heuristic sebagai kata sifat adalah proses menggali pengetahuan atau hasil yang diinginkan dengan terkaan cerdas, bukan dengan mengikuti formula yang tetap. Heuristic memiliki 2 kegunaan: 1. Menjelaskan pendekatan untuk belajar dengan mencoba tanpa perlu memiliki hipotesis atau cara pembuktian bahwa hasil yang diperoleh akan menerima ataupun menolak hipotesis. Dengan kata lain, pembelajaran secara trial and error. 2. Menyinggung pada penggunaan pengetahuan umum yang diperoleh melalui pengalaman. Misalnya pemain catur menggunakan pendekatan heuristic. Sebagai kata benda, heuristic adalah aturan spesifik atau argumen yang diturunkan dari pengalaman. 2.2 Data Mining Pengenalan pola adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana kita mengelompokkan obyek ke berbagai kelas dan bagaimana dari data bisa kita temukan kecenderungannya. Data mining adalah kegiatan yang meliputi pengumpulan, pemakaian data historis untuk menemukan keteraturan, pola atau hubungan dalam set data berukuran besar (Santosa, 2006). Beberapa alasan pentingnya menggunakan data mining, diantaranya adalah: Jumlah data yang sangat besar, dimana dari data tersebut dapat diperoleh informasi yang dapat dipergunakan untuk menemukan pola tersembunyi. Dan pattern ini dapat digunakan dalam menentukan strategi bisnis. Persaingan yang semakin meningkat. Perusahaan menghadapi global competition, dimana kunci suksesnya adalah dengan mempertahankan existing customer dan meningkatkan value-nya. Teknologi yang semakin berkembang, sehingga algoritma data mining digunakan dalam suatu program komputer sehingga perhitungannya menjadi lebih cepat dan akurat, serta dapat digunakan pada data yang kompleks sekalipun. Menurut Olson (2008), classification adalah metode yang dibuat untuk mempelajari fungsi-fungsi yang memetakan tiap item data ke
3 dalam kelas yang telah ditentukan. Dengan adanya set kelas, jumlah atribut, dan set pembelajaran (learning set), metode klasifikasi dapat secara otomatis memprediksi kelas dari data baru yang belum terklasifikasi. Hal mendasar yang membedakan antara teknik klasifikasi dengan teknik klastering. Teknik klastering bertujuan mengelompokkan data yang belum memiliki label menjadi sejumlah K kelompok. Teknik klastering akan mengelompokkan data berdasarkan kemiripan. Semakin mirip satu data dengan yang lain, maka akan dijadikan satu klaster atau kelompok. Sedangkan teknik klasifikasi bertujuan menempatkan data baru ke dalam kelas yang telah tersedia sebelumnya. Gambar 2. 1 Klasifikasi Dua Set Obyek Dari Dua Kelas (sumber: Santosa, 2006) Klasifikasi dua kelas dapat dilihat seperti pada gambar 2.1. Misalkan kita memiliki set data training (x, y) yang terdiri dua kelas, yaitu +1 dan -1. Tujuan dari klasifikasi dua kelas yaitu menemukan suatu fungsi keputusan f(x) yang secara akurat memprediksi kelas dari data test (x, y) yang berasal dari fungsi distribusi yang sama dengan data untuk training. Contoh kasus klasifikasi multi kelas adalah pada klasifikasi suku daerah. Misalnya kita ingin melakukan klasifikasi terhadap mahasiswa baru menurut suku daerahnya. Diumpamakan ada empat suku daerah, yaitu Jawa, Batak, Bali, dan Ambon. Kita akan mengklasifikasi mahasiswa baru berdasarkan ciri-ciri fisik dan non fisik yang dimiliki masing-masing mahasiswa, seperti bentuk rambut, warna rambut, bentuk rahang, bentuk hidung, bentuk bibir, warna kulit, dan dialek bahasa. Empat suku daerah yang dimisalkan di atas dinamakan label atau kelas data. Ciri-ciri fisik dan non-fisik yang dimiliki disebut atribut data. Dengan menggunakan Teknik klastering, kita mampu memprediksi apakah mahasiswa baru termasuk dalam suku Jawa, Batak, Bali, atau Ambon. Untuk melakukan hal tersebut, diperlukan pembelajaran terhadap data-data yang telah terkumpul sebelumnya. Misalnya sebelumnya kita memiliki 200 buah data cirriciri mahasiswa beserta labelnya. Hasil pembelajaran ini adalah sebuah fungsi pemisah yang akan mampu memasukkan data baru ke dalam kelas yang seharusnya. 2.3 Particle Swarm Optimization Particle Swarm optimization (PSO) adalah algoritma swarm intelligence yang berdasarkan populasi. PSO ditemukan oleh Kennedy dan Eberhart pada Ide dasar PSO adalah meniru perilaku individu dari kawanan ikan atau sekelompok burung camar yang terbang bersama-sama dalam mencari makanan atau sarang. PSO memiliki kemampuan dalam mencapai titik global maupun optimal. Karena kemudahan dalam penerapan kode dan performa yang konsisten, PSO terbukti merupakan algoritma yang baik dan efektif untuk permasalahan optimasi. Algoritma PSO diawali dengan inisialisasi sekelompok parikel. Posisi dari tiap individu, atau disebut partikel, direpresentasikan dengan vektor berukuran m-dimensi. Kemudian posisi tiap partikel dievalusi dengan fitness function yang telah ditentukan sebelumnya. Kecepatan tiap partikel berubah-ubah tergantung posisinya. Dalam PSO terdapat pertukaran informasi antar partikel. Pertukaran informasi ini tampak dalam persamaan kecepatan berikut. v ( t + 1) = vi ( t) + c1rand2( pi si ( t)) + c2rand2( pg si ( t)) (pers. 1) i Tiap partikel akan merubah kecepatan terbangnya dengan mempertimbangkan posisi terbaik yang pernah dilaluinya. Ini ditunjukkan dengan p i, yang berarti best position partikel i. Selain itu, kecepatan juga dipengaruhi oleh posisi terbaik diantara seluruh partikel. Ini dinotasikan dengan p g, yang berarti global best position. V i adalah kecepatan original yang dimiliki masing-masing partikel. Sedangkan si adalah posisi partikel pada saat sekarang. c 1 dan c 2 adalah koefisien percepatan. Umumnya masing-masing bernilai 2. Rand 1 dan rand 2 adalah bilangan random. Langkah-langkah algoritma PSO original adalah sebagai berikut: langkah 1. Inisialisasi: tentukan jumlah populasi 3
4 langkah 2. Bangkitkan populasi secara acak langkah 3. Bangkitkan kecepatan awal. langkah 4. Evaluasi fitness function langkah 5. Simpan partikel yang memiliki nilai fitness function paling optimal langkah 6. Selama terminating condition belum terpenuhi, lakukan langkah langkah 7. Hitung kecepatan tiap partikel langkah 8. Hitung posisi baru tiap partikel langkah 9. Evaluasi fitness function yang baru langkah 10. Update solusi optimal langkah 11. Update partikel terbaik langkah 12. Partikel terbaik adalah yang menjadi solusi. 2.3 Cat Swarm Optimization Menurut Shu (2006), computational intelligence adalah riset penelitian yang marak dibicarakan belakangan ini di bidang optimasi dan telah ditemukan beberapa algoritma. Yang termasuk computational intelligence diantaranya adalah Genetic Algorithm (GA), Ant Colony Optimization (ACO), Particle Swarm Optimization (PSO), dan Simulated Annealing (SA). GA dan SA merupakan kelompok area evolutionary algorithm, sedangkan ACO dan PSO berada di bawah naungan swarm intelligence. Algoritma yang diusulkan oleh Shu (2006), yaitu Cat Swarm Optimization, adalah juga merupakan algoritma yang berada di bawah bagian swarm intelligence. Evolutionary algorithm (EA) adalah algoritma optimasi metaheuristic yang berdasar pada populasi secara umum. EA menggunakan mekanismemekanisme yang diinspirasi oleh evolusi biologis: reproduksi, mutasi, rekombinasi, dan seleksi (wikipedia, 2009). Sedangkan swarm intelligence adalah teknik kecerdasan buatan yang berdasarkan pada studi dari perilaku sekelompok sistem yang tersebar dan terorganisir (Wilamowsk, Bodgan M., 2008). Menurut Liu dan Kevin M. Passino (2000), swarm intelligence adalah kecerdasan kolektif yang muncul dari sekelompok agent atau individu mahluk hidup. Contoh dari swarm intelligence yang ada di alam adalah koloni semut, kawanan burung, penggembalaan, dan kawanan ikan. Dari contoh-contoh tersebut, setiap kawanan tidak memiliki kontrol terpusat yang mengendalikan mereka. Namun, interaksi lokal antar agent di dalamnya seringkali mengarah pada kemunculan perilaku global. Cat Swarm Optimization adalah algoritma yang diusulkan oleh Shu-Chuan Chu dan Pei-Wei Tsai pada tahun 2006, yang didapat melalui pengamatan terhadap perilaku sekumpulan kucing. Dalam ACO semut digunakan sebagai agent, dan jalur yang dilalui oleh semut-semut tersebut adalah set solusinya. Dalam PSO, posisi-posisi dari kawanan burung digunakan untuk menggambarkan set solusinya. Sedangkan, dalam CSO, sekumpulan kucing dan model perilakunya digunakan untuk menyelesaikan permasalahan optimasi Algoritma CSO Chu et al. (2006) membagi algortima CSO ke dalam dua sub model yang berdasar dari dua perilaku utama kucing. Yaitu seeking mode dan tracing mode. Untuk lebih jelasnya langkah-langkah algoritma CSO seperti yang disampaikan Chu et al. (2006) dalam penelitiannya akan dijabarkan dalam sub bab berikutnya Set Solusi dalam Model Bagaimanapun bentuk algortima optimasi, set solusi (hasil) harus ditampilkan dalam suatu cara tertentu. Misalnya dalam Ant Colony Optimization (ACO) semut disimulasikan sebagai agen, dan jalur yang dibentuk oleh semut menunjukkan set solusinya. Dalam CSO, digunakan kucing dan model perilaku kucing untuk menyelesaikan permasalahan optimasi. Dengan kata lain kucing digunakan untuk menggambarkan set solusi. Tahap pertama dalam CSO adalah menentukan berapa banyak kucing akan digunakan dalam iterasi, kemudian menggunakan kucing dalam CSO untuk menyelesaikan permasalahan. Setiap kucing masing-masing memiliki posisi yang tersusun dalam dimensi D, kecepatan untuk setiap dimensi, nilai kecocokan yang menunjukkan penyesuaian kucing dengan fungsi kecocokan, dan bendera untuk mengetahui apakah kucing berada dalam seeking mode atau tracing mode. Solusi akhir adalah posisi terbaik dari salah satu kucing. CSO akan menyimpan solusi terbaik hingga akhir iterasi. Seeking Mode Sub model ini digunakan untuk memodelkan situasi kucing ketika dalam keadaan beristirahat, melihat sekeliling dan mencari posisi berikutnya untuk bergerak. Dalam seeking mode, didefinisikan empat faktor penting: seeking memory pool (SMP), seeking range of the selected dimension (SRD) atau mencari rentang dimensi terpilih, counts of dimension to change (CDC) atau menghitung dimensi yang akan berubah, dan self-position considering (SPC) atau mempertimbangkan posisi.
5 SMP digunakan untuk mendefinisikan ukuran memori pencarian untuk masing-masing kucing, yang mengindikasikan titik-titik yang telah dicoba oleh kucing. Kucing tersebut kemudian akan memilih titik dari kelompok memori berdasarkan aturan yang akan dijelaskan kemudian. SRD menyatakan rentang perpindahan dalam dimensi terpilih. Dalam seeking mode, jika suatu dimensi diputuskan berpindah, selisih antara nilai baru dengan yang lama tidak boleh melebihi suatu rentang, yaitu rentang yang didefinisikan oleh SRD. CDC memperlihatkan berapa besar dimensi yang akan berubah. Keseluruhan faktor inilah yang memegang peran penting dalam seeking mode. SPC merupakan variabel Boolean (bernilai benar atau salah), untuk memutuskan apakah suatu titik, yang pernah menjadi posisi kucing, akan menjadi kandidat posisi untuk bergerak. Bagaimanapun nilai SPC, entah benar ataupun salah, nilai SMP tidak akan terpengaruh. Langkah-langkah seeking mode dapat dideskripsikan dalam 5 tahap. Langkah 1: Bangkitkan j tiruan dari posisi saat ini kucing k, di mana j = SMP. Jika nilai SPC benar, maka j = (SMP 1), kemudian pertahankan posisi saat ini sebagai salah satu kandidat. Langkah 2: Untuk setiap tiruan, disesuaikan dengan CDC, tambahkan atau kurangkan SRD persen dari nilai saat ini secara acak dan gantikan nilai yang sebelumnya. Langkah 3: Hitung nilai kecocokan (FS) untuk semua titik kandidat. Langkah 4: Jika semua FS tidak benarbenar sama, hitung probabilitas terpilih masingmasing titik kandidat dengan menggunakan (pers.2), sebaliknya atur probabilitas terpilih untuk semua titik sama dengan 1. Langkah 5: secara acak pilih titik untuk bergerak dari titik-titik kandidat, dan pindahkan posisi kucing k. FSi FSb pi =, dimana 0 < i <j (pers.2) FS max FS min Jika tujuan fungsi kecocokan adalah untuk menemukan solusi minimal, FS b = FS max, sebaliknya FS b = FS min. Tracing Mode Tracing mode adalah sub model yang menggambarkan keadaan ketika kucing sedang mengikuti jejak targetnya. Sekali kucing memasuki tracing mode, kucing tersebut akan bergerak sesuai dengan kecepatannya untuk tiap dimensi. Tahapan tracing mode dapat dijabarkan dalam 3 langkah sebagai berikut: Langkah 1: Perbarui nilai kecepatan untuk setiap dimensi (v k,d ) berdasarkan (pers.3). Langkah 2: Periksa apakah kecepatan berada dalam rentang kecepatan maksimum. Jika kecepatan yang beru melebihi rentang, tetapkan nilai sama dengan batas. Langkah 3: Perbarui posisi kucing k berdasarkan (pers.4). vk, d = vk, d + r1 c1 ( xbest, d xk, d ), dimana d = 1,2,...,M (pers.3) x best, d adalah posisi kucing yang memiliki nilai kecocokan terbesar; x k, d adalah posisi kucing k. c 1 adalah konstanta dan r 1 adalah nilai acak dalam rentang [0,1]. x k, d xk, d + vk, d = (pers.4) Inti Algoritma CSO Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, CSO terdiri dari dua sub model. Untuk mengkombinasikan kedua mode dalam satu algoritma, perlu didefinisikan rasio campuran/mixture ratio (MR) untuk menggabungkan seeking mode dan tracing mode. Dengan mengamati perilaku kucing, dapat diketahui bahwa kucing menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beristirahat. Selama beristirahat, kucing mengubah posisinya perlahan dan berhati-hati, terkadang bahkan tetap pada tempatnya. Untuk menerapkan perilaku ini ke dalam CSO, digunakan seeking mode. Perilaku mengejar target dipalikasikan dalam tracing mode. Karena itu maka MR harus bernilai kecil untuk memastikan bahwa kucing menghabiskan sebagian besar waktu dalam seeking mode, seperti di kehidupan nyatanya. Proses CSO dapat digambarkan dalam 6 langkah sebagai berikut: Langkah 1: Bangkitkan N kucing dalam proses. Langkah 2: Sebarkan kucing secara acak dalam ruang solusi berdimensi D dan secara acak pula pilih nilai dalam rentang kecepatan maksimum untuk menjadi kecepatan kucing. Kemudian pilih sejumlah kucing secara sembarang dan masukkan dalam tracing mode sesuai MR, sisanya dimasukkan dalam seeking mode. 5
6 Langkah 3: Hitung nilai kecocokan masingmasing kucing dengan memasukkan nilai posisi kucing ke dalam fungsi kecocokan, yang menunjukkan kriteria tujuan, dan simpan kucing terbaik dalam memori. Perlu diingat bahwa yang perlu disimpan adalah posisi kucing terbaik ( x best ) karena kucing terbaik sejauh ini mewakili solusi terbaik. Langkah 4: Pindahkan kucing sesuai benderanya, jika kucing k berada dalam seeking mode, perlakukan sesuai proses seeking mode, sebaliknya perlakukan sesuai tracing mode. Proses masing-masing telah dijelaskan sebelumnya. Langkah 5: Pilih lagi sejumlah kucing dan masukkan dalam tracing mode sesuai MR, sisanya masukkan ke dalam seeking mode. Langkah 6: Perhatikan terminating condition-nya. Jika telah memuaskan, hentikan program. Sebaliknya ulangi langkah 3 hingga 5. Gambaran algoritma Cat Swarm Optimization pada kasus unconstrained minimization problem dapat dilihat pada urutan gambar 2.2 di halaman berikut. Misal untuk menyelesaikan permasalahan unconstrained minimization digunakan populasi berukuran 5 kucing. Mixture Ratio yang digunakan adalah 20%. SMP berukuran 3, yang berarti digunakan 3 kucing tiruan. 2.5 Multiple Regression Linear Model Multiple Regression Linear Model (MRLM) adalah pengembangan dari regresi linear yang menyertakan lebih dari 1 variabel prediksi. MRLM berusaha memodelkan hubungan antara dua atau lebih variabel bebas dan sebuah variabel respon dengan cara mencocokkan persamaan linear. Setiap nilai variabel bebas X dihubungkan dengan nilai variabel tak bebas Y. Populasi dari sejumlah P variabel bebas X didefinisikan sebagai berikut: Y = c0 + c1x 1 + c2x2 + c3x c p x p (pers. 5) Dalam penelitian ini, x 1, x 2,,x p merepresentasikan atribut set data dan Y adalah kelas atau label dari data terkait. Langkah-langkah klasifikasi dengan pendekatan MRLM adalah sebagai berikut (Satapathy,2008): 1. Set data disajikan dalam matriks seperti tampak berikut ini. Gambar 2. 2 Bagan Cat Swarm Optimization (sumber: Chu, 2006) x11 x12... x1 m y1 x21 x22... x2m y xn1 xn2... xnm yn 2. Hubungan antara variabel bebas dan tak bebas pada data di atas diekspresikan dalam MRLM seperti berikut. y1 = c0 + c1x11 + c2x cmx1 m y2 = c0 + c1x21 + c2x cmx2m... yn = c0 + c1xn 1 + c2xn cmxnm 3. Fitness function yang digunakan adalah meminimasi banyaknya error yang terjadi antara nilai yang diestimasi dengan label aslinya. d i = yi sgn( c0 + c1x1 + c2x cm xm ) n = i = 1 di (pers.6) 2.6 Ukuran Performansi Metode untuk mengukur perfomansi model adalah dengan menggunakan Training Set dan Test Set seperti dijelaskan oleh (Olson,
7 2008), (Bramer, 2007), dan (Santosa, 2006). Untuk metode train and test ini, data dipisah menjadi 2 bagian yang masing-masing disebut training set dan test set. Training set digunakan untuk membangun fungsi pemisah. Fungsi pemisah ini ini kemudian digunakan untuk memprediksi klasifikasi pada test set. Jika terdapat sejumlah N data yang diuji, dan sebesar C data yang benar, maka keakurasian prediksi dari fungsi pemisah tersebut adalah p = C / N (pers.7) Gambar 2. 3 Train and Test (Sumber: Santosa, 2006) 3. Pengembangan Model Bab ini menguraikan metodologi penelitian dan pengembangan metode klasifikasi CSO dengan pendekatan MRLM Metodologi Penelitian Metodologi penelitian pengembangan model dilakukan dengan empat tahapan utama, yaitu tahap awal, tahap pengembangan model, tahap analisa, serta tahap penarikan kesimpulan Tahap Awal Dalam tahap ini peneliti melakukan upaya identifikasi permasalahan yang terjadi pada objek penelitian melalui observasi yang dilakukan serta kemudian melakukan perumusan masalah tersebut. Identifikasi Permasalahan Pada langkah ini dilakukan proses identifikasi atas perkembangan teknik baru dalam kasus optimasi. Observasi awal objek penelitian secara langsung dilakukan untuk mengetahui kondisi yang terjadi serta permasalahan yang kiranya dapat dicarikan alaternatif pemecahannya melalui penelitian yang akan dilakukan sesuai dengan tema dan batasan penelitian. Perumusan Masalah dan Penetapan Tujuan Penelitian Setelah melakukan identifikasi permasalahan melalui observasi awal langkah selanjutnya adalah merumuskan permasalahan yang terjadi di objek penelitian serta menetapkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian yang akan dilakukan. Penetapan tujuan dilakukan agar penelitian yang dilakukan memiliki arah yang jelas. Studi Pustaka Langkah ini merupakan tahap pendalaman materi tentang permasalahan yang akan diangkat, guna mendukung pelaksanaan penelitian dengan memberikan wawasan yang cukup seputar metode CSO untuk optimasi, metode klasifikasi, dan metode klasifikasi dengan teknik-teknik heuristik. Observasi dan Analisa Algoritma CSO Bersamaan dengan tahapan studi pustaka dan literatur maka juga dilakukan observasi lanjutan untuk mendapatkan penjelasan secara lebih mendalam melalui analisa algoritma CSO Tahap Pengembangan Model Merupakan tahap dilakukan pengembangan model untuk klasifikasi. Algoritma Cat Swarm Optimization yang selama ini digunakan untuk menemukan solusi kasus optimasi akan dikembangkan, dimodifikasi, diberi penyesuaian sehingga bisa digunakan dalam kasus klasifikasi. Pengumpulan dan Pengolahan Data Dalam pengembangan model untuk penelitian Tugas Akhir ini, diperlukan sejumlah set data yang berfungsi untuk pembelajaran maupun pengujian validasi dari model yang dikembangkan. Data yang digunakan adalah data yang sudah umum digunakan dalam kasus Data mining, seperti data Iris, data Breast Cancer, dan sebagainya. Pengolahan data yang dilakukan adalah data pre-processing dan data cleaning. Setelah data terkumpul, data perlu diseleksi dan dibersihkan. Mungkin juga terdapat sejumlah variabel dari data yang dilakukan transformasi menjadi bentuk yang diinginkan. Pengembangan Model Setelah data terkumpul dan diolah, maka dilanjutkan dengan pengembangan model. Model CSO yang asal mulanya digunakan untuk menyelesaikan atau mencari nilai optimal, dikembangkan sehingga bisa digunakan dalam kasus klasifikasi. Model CSO klasifikasi dalam penelitian ini menggunakan pendekatan MRLM. Untuk mengembangkan model digunakan software MATLAB Jumlah keseluruhan model yang dibangun dalam penelitian ini 7
8 sebanyak 4 buah model klasifikasi, yaitu PSO- MRLM, CSO-MRLM No Modification, CSO- MRLM with inertia, dan CSO-MRLM steady flag. Validasi Model CSO Tahap ini merupakan tahap evaluasi model, dimana model diuji apakah model telah mampu memberikan hasil klasifikasi yang sesuai dengan label aslinya. Model yang valid adalah model yang mampu menghasilkan akurasi yang baik. Perbandingan dengan Metode Lain Setelah model selesai dikembangkan, model diterapkan untuk set data baru. Hasil klasifikasi ini nanti akan dianalisa. Performansi diukur dari tingkat akurasi dan kecepatan komputasi. Performansi dari model CSO untuk klasifikasi kemudian dibandingkan dengan metode lain. Metode lain yang digunakan sebagai pembanding adalah model PSO klasifikasi dengan pendekatan MRLM Tahap Analisis Pada tahap ini, hasil yang diperoleh dari implementasi model dan dari perbandingan dengan metode lain akan dianalisa secara mendalam sehingga dapat diambil kesimpulan di akhir penelitian ini. Pada tahap ini dilakukan analisis dan perbandingan antara PSO klasifikasi dan CSO klasifikasi secara keseluruhan serta perbandingan modifikasi antar CSO klasifikasi Tahap Penarikan Kesimpulan Kesimpulan dan saran diberikan setelah tahap analisa dilakukan. Kesimpulan yang diberikan merupakan intisari dari penelitian yang dilakukan, mengenai perbandingan Teknik klasifikasi dengan CSO dan teknik klasifikasi pembanding. Saran yang akan diberikan adalah saran untuk peneliti yang akan melakukan penelitian lebih lanjut menggunakan Cat Swarm Optimization Pengembangan Model Dalam sub bab ini akan dipaparkan pengembangan model maupun modifikasi dari algoritma CSO. CSO dikembangkan dengan menggunakan pendekatan Multiple Regression Linear Model CSO pendekatan MRLM Penjelasan dari pengembangan model yang dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat dari flow chart maupun dari langkahlangkah algoritma berikut. langkah 1. Bangkitkan sejumlah N kucing. Setiap kucing merepresentasikan set solusi awal, yaitu nilai-nilai koefisian persamaan MRLM. Jika data training berjumlah ntraining, maka ukuran matriks kucing memiliki dimensi sebesar N x ntraining. langkah 2. Inisialisasi posisi kucing, kecepatan, dan bendera kucing. Kucing berada pada bendera seeking sesuai rasio MR yang telah ditentukan sebelumnya. langkah 3. Hitung fungsi tujuan CSO MRLM, yaitu d i = yi sgn( c0 + c1x1 + c2x cm xm ) n = (pers.7) i = 1 di langkah 4. Perbaharui kucing sesuai benderanya. langkah 4.1. Untuk kucing dengan bendera seeking, bangkitkan tiruan sebanyak SMP yang telah ditetapkan. Jika SPC bernilai benar, maka pertahankan posisi saat ini sebagai salah satu kandidat. langkah 4.2. Untuk setiap tiruan, tambahkan atau kurangkan sebesar SRD persen dari nilai saat ini. langkah 4.3. Hitung nilai kecocokan untuk semua titik kandidat seperti pada langkah 3. langkah 4.4. Jika nilai kecocokan tidak benarbenar sama, hitung probabilitas terpilihnya masing-masing kandidat. langkah 4.5. Secara acak pilih titik untuk bergerak dari titik-titik kandidat, lal pindahkan posisi kucing. langkah 4.6. Untuk kucing dalam bendera tracing, perbarui kecepatan. vk d = vk, d + r1 c1 ( xbest, d xk,, dimana d = 1,2,...,M (pers.8) langkah 4.7. Perbarui posisi kucing. langkah 5. Pilih lagi sejumlah kucing dan masukkan dalam tracing mode sesuai MR, sisanya masukkan ke dalam seeking mode. langkah 6. Perhatikan terminating conditionnya. Jika telah memuaskan, hentikan program. Sebaliknya ulangi langkah 3 hingga 5., d )
9 Terminating yang digunakan berupa maksimum jumlah misclassification (%). tiga buah variasi CSO-MRLM ditampilkan dalam penelitian ini untuk melihat mana yang paling baik diantara modifikasi CSO. CSO- MRLM No Modification adalah algoritma CSO tanpa modifikasi. Pada CSO-MRLM with inertia, modifikasi dilakukan yaitu dengan tidak melakukan perubahan bendera seeking dan tracing. Kucing yang sejak awal memiliki bendera seeking akan terus berada pada bendera seeking hingga titik optimal ditemukan. Demikian halnya pada kucing yang sejak awal memiliki bendera tracing. Selain itu, pada CSO- MRLM with inertia ini juga ditambahkan modifikasi berupa nilai inersia w yang nilainya berubah secara acak. Sehingga persamaan update kecepatan menjadi (pers. 10). Modifikasi pada CSOsf hampir sama dengan Csi, hanya saja pada CSOsf diberikan nilai inersia w yang konstan, yaitu 1. v k, d k, d 1 1 ( best, d k, d = w v + r c x x ), dimana d = 1,2,...,M (pers.10) Gambar 3. 1 Algoritma CSO Klasifikasi langkah 7. Kucing yang terpilih adalah kucing yang memiliki koefisien MRLM optimal. langkah 8. Klasifikasi data testing dengan menggunakan persamaan MRLM optimal yang telah didapat. Kalikan matriks data testing dengan persamaan MRLM (pers.9). Kemudian cocokkan hasil data testing dengan label testing. Hitung jumlah titik yang tidak sama dengan label aslinya. x11 x12 x21 x xn1 x 1n2 x... 1m x 2m x nm c1 c2 c 3 (pers.9) Modifikasi CSO Sepuluh set data diuji dengan empat metode yang masing-masing dinamakan PSO- MRLM, CSO-MRLM No Modification, CSO- MRLM with inertia, dan CSO-MRLM steady flag. PSO-MRLM digunakan sebagai pembanding performa CSO-MRLM. Sedangkan 4. Pengujian Model Model yang telah dibuat kemudian diuji kemampuannya dengan set data sederhana sebelum digunakan dengan set data set yang lebih besar. Set data sederhana yang digunakan adalah data permasalahan AND, yang digunakan sebagai validasi dan juga sebagai contoh perhitungan. Set data yang lebih besar diantaranya adalah data iris, breast cancer, Wisconsin Diagnostic Breast Cancer (WDBC), pima, credit approval, spline, Haberman s Survival, hepatitis, sonar, dan ionosphere. Sepuluh set data yang telah disebutkan digunakan untuk melihat kinerja CSO klasifikasi dan perbandingannya dengan PSO klasifikasi Deskripsi Data Uji Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah set data kasus nyata yang telah umum digunakan dalam kasus Data mining. Dalam sub-bab ini akan dijelaskan karakteristik dari set data yang digunakan Data permasalahan AND Problem AND adalah klasifikasi dua kelas dengan empat data. Kelas pertama ditunjukkan dengan 1, sedangkan kelas kedua ditunjukkan dengan -1. Tabel 4. 1 Permasalahan AND X1 X2 Y
10 Data Iris Data iris asli memiliki tiga kelas jenis bunga dengan total data sebanyak 150. Untuk uji klasifikasi pada penelitian ini, data yang digunakan dibatasi sebanyak dua kelas, karena itu dilakukan penghapusan data dari kelas ketiga. Data iris yang yang tersisa dapat dijelaskan sebagai berikut: Jumlah data : 100 Jumlah atribut : 5 Penyesuaian : Penghapusan kelas ketiga Data Breast Cancer Data Breast Cancer digunakan untuk memprediksi diagnosis kanker payudara, apakah jinak atau ganas. Data Breast Cancer asli memiliki 699 data dimana terdapat beberapa data yang masih memiliki missing value. Sebelum diproses, dilakukan preprocessing data berupa data cleaning yaitu menghapus data-data yang masih memiliki missing value. Data Breast Cancer yang akan diuji dapat dijelaskan sebagai berikut: Jumlah data : 683 Jumlah atribut : 10 Penyesuaian : Penghapusan data dengan missing value Data Wisconsin Diagnostic Breast Cancer (WDBC) Data WDBC berbeda dengan data Breast Cancer, meskipun sama-sama memprediksi diagnosis kanker payudara. Data WDBC memiliki 569 data dengan jumlah atribut yang lebih banyak daripada data Breast Cancer. Seluruh atribut data telah merupakan data numerik, sehingga tidak perlu dilakukan penyesuaian. Data WDBC yang akan diuji dapat dijelaskan sebagai berikut: Jumlah data : 569 Jumlah atribut : 31 Penyesuaian : tidak ada Data Pima Data Pima digunakan untuk memprediksi diagnosis apakah pasien menunjukkan tanda-tanda diabetes atau tidak, jika merujuk pada kriteria World Health Organization (WHO). Data WDBC memiliki 768 data dengan seluruh atribut data telah merupakan data numerik, sehingga tidak perlu dilakukan penyesuaian. Data Pima yang akan diuji dapat dijelaskan sebagai berikut: Jumlah data : 768 Jumlah atribut : 9 Penyesuaian : tidak ada Data Credit Approval Data Credit Approval asli terdiri dari 690 data dengan 16 atribut yang terdiri dari beragam jenis data, yaitu data kontinu dan nominal. Data nominal diubah ke dalam bentuk numeris agar dapat diolah pada pengujian data. Data ini memiliki range yang beragam antar atribut. Setelah data yang mengandung missing value dihapus, data Credit Approval dapat dijelaskan sebagai berikut. Jumlah data : 653 Jumlah atribut : 16 Penyesuaian : Penghapusan data dengan missing value, pengubahan data kategorial menjadi numeris Data Splice Data Splice asli terdiri dari data. Karena data masih mengandung kelas yang tidak termasuk ke dalam dua kelas yang telah ditentukan, dilakukan penghapusan data untuk data dengan kelas selain +1 dan -1. Kegiatan preprocessing berikutnya yaitu mengubah jenis data dari kategorial menjadi numeris. Data yang akan diuji setelah preprocessing dapat dijelaskan sebagai berikut: Jumlah data : 1527 Jumlah atribut : 61 Penyesuaian : Penghapusan data dengan missing value, penghapusan data dari kelas ketiga, pengubahan data kategorial menjadi numeris Data Haberman s Survival Data Haberman s Survival digunakan untuk memprediksi apakah seorang pasien yang telah menjalani operasi kanker payudara akan bertahan hidup atau tidak. Kelas +1 berarti seorang pasien mampu bertahan hidup lebih dari lima tahun, sedangkan kelas -1 menandakan pasien akan meninggal dalam kurun waktu kurang dari lima tahun. Data Haberman s Survival dapat dijelaskan sebagai berikut. Jumlah data : 306 Jumlah atribut : 4
11 Penyesuaian : tidak ada Data Hepatitis Data Hepatitis digunakan untuk memprediksi apakah seorang pasien hepatitis akan meninggal atau selamat berdasarkan atribut yang dimilikinya seperti usia, jenis kelamin, ada tidaknya varises, dan lainnya. Dataset Hepatitis asli terdiri atas 155 data, namun masih terdapat missing value yang perlu dihilangkan untuk memudahkan pengolahan data. Setelah missing value dihapus, data yang tersisa adalah sebagai berikut. Jumlah data : 80 Jumlah atribut : 20 Penyesuaian : Penghapusan data dengan missing value, pengubahan data kategorial menjadi numeris Data Sonar Data Sonar digunakan untuk memprediksi apakah pantulan dari sinyal sonar berasal dari partikel batu atau besi. Jumlah data : 206 Jumlah atribut : 60 Penyesuaian : Penghapusan data dengan missing value, pengubahan data kategorial menjadi numeris Data Ionosphere Data Ionosphere digunakan untuk memprediksi apakah lapisan ionosfer baik atau buruk berdasarkan elektron-elektron di ionosfer. Dataset Ionosphere asli terdiri atas 351 data, namun masih terdapat missing value yang perlu dihilangkan untuk memudahkan pengolahan data. Setelah missing value dihapus, data yang tersisa adalah sebagai berikut. Jumlah data : 122 Jumlah atribut : 35 Penyesuaian : Penghapusan data dengan missing value, pengubahan data kategorial menjadi numeris 4.2. Pengujian permasalahan AND Set data permasalahan AND adalah data sederhana yang terdiri atas dua atribut. Gambaran yang lebih jelas mengenai data permasalahan AND dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut ini diikuti dengan langkahlangkah penyelesaian menggunakan CSO klasifikasi. Gambar 4. 1 Ilustrasi Permasalahan AND (sumber: Santosa,2006) Pendekatan MRLM membutuhkan adanya tambahan variabel pada kolom yang paling awal. Variabel ini digunakan sebagai pengali agar persamaan MRLM memiliki konstanta c 0. Sehingga tabel permasalahan AND menjadi seperti pada tabel berikut. Tabel 4. 2 Permasalahan AND dengan MRLM X0 X1 X2 Y langkah 1. Bangkitkan N=5 kucing. Setiap kucing merepresentasikan set solusi. Ukuran matriks kucing memiliki dimensi 5 x 3. langkah 2. Inisialisasi posisi kucing, x = kecepatan, v = dan bendera kucing, Ntrac = round(n*mr) = 1 Nseek = N Ntrac = 4 langkah 3. Hitung fungsi tujuan CSO MRLM, d i = yi sgn( c + c1x1 + c2 x c n = i = 1 di untuk tiap x: 0 m m 11 x )
12 hreg(i) = dttrn * x(i,:)' hreg(i) = Hlabel(i) = sign(hreg) 1 Hlabel(i) = Abs(d(i)) = 1 1 = Sehingga didapat fitness function d, yaitu 3 d = langkah 4. Perbaharui kucing sesuai benderanya. Untuk tiap x(i) lakukan langkah 4.1 langkah 4.7: langkah 4.1. Untuk kucing dengan bendera seeking, bangkitkan tiruan sebanyak SMP (3 kucing tiruan). SPC = 0, maka posisi awal tidak menjadi kandidat. langkah 4.2. Untuk setiap tiruan, tambahkan atau kurangkan sebesar SRD persen dari nilai saat ini. xseekcop = langkah 4.3. Hitung nilai kecocokan untuk semua titik kandidat seperti pada langkah 3. FScopy = langkah 4.4. Jika nilai kecocokan tidak benarbenar sama, hitung probabilitas terpilihnya masing-masing kandidat. Selain itu, hitung probabilitas masing-masing kucing tiruan. cumprob = langkah 4.5. Secara acak pilih titik untuk bergerak dari titik-titik kandidat, lalu pindahkan posisi kucing. Hasilnya adalah: xseek = langkah 4.6. Untuk kucing dalam bendera tracing, perbarui kecepatan. vel = langkah 4.7. Perbarui posisi kucing. xtrac = langkah 5. Pilih lagi kucing dan masukkan dalam tracing mode sesuai MR, sisanya masukkan ke dalam seeking mode. langkah 6. Perhatikan terminating conditionnya. Jika telah memuaskan, hentikan program. Sebaliknya ulangi langkah 3 hingga 5. Terminating yang digunakan berupa maksimum jumlah misclassification (%). Dalam permasalahan AND, batas misclassification adalah nol persen. Setelah dihitung fitness function, ternyata terminating condition terpenuhi. langkah 7. Kucing yang terpilih adalah kucing yang memiliki koefisien MRLM optimal, yaitu: x(i) = langkah 8. Setelah diperoleh solusi optimal, klasifikasi data testing dengan menggunakan persamaan MRLM optimal yang telah didapat. Kalikan matriks data testing dengan persamaan MRLM. Kemudian cocokkan hasil data testing dengan label testing. Hitung jumlah titik yang tidak sama dengan label aslinya. hregtst = dttrn * x(i,:)'
13 hregtst= hregtst = Hlabeltst = Semua label telah terklasifikasi dengan tepat Pengujian 10 Set Data Sepuluh set data diuji dengan empat metode yang masing-masing dinamakan PSO- MRLM, CSO-MRLM No Modification, CSO- MRLM with inertia, dan CSO-MRLM steady flag. Dalam sub bab ini, nama masing-masing model disingkat untuk alasan penyajian tabel. PSO-MRLM disingkat menjadi PSO, CSO- MRLM No Modification disingkat menjadi CSOnm, CSO-MRLM with inertia disingkat menjadi CSOi, dan CSO-MRLM steady flag disingkat menjadi CSOsf Data Iris Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 70 yang dipilih secara acak, dan data testing sebanyak 30 yang diambil dari data selain data training. Hasil rata-rata banyaknya iterasi, waktu komputasi, dan misklasifikasi dari sepuluh kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada Tabel 4.2. Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Tabel 4. 3 Klasifikasi Data Iris CSOn m % CSOi % CSOsf % Data Breast Cancer Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 70 persen dari total data dan dipilih secara acak, dan data testing diambil dari data selain data training. Hasil rata-rata banyaknya iterasi, waktu komputasi, dan misklasifikasi dari sepuluh kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada tabel 4.3. Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Tabel 4. 4 Klasifikiasi Data Breast Cancer Metode Iterasi Waktu (detik) Misklasifikasi PSO % CSOn m % CSOi % CSOsf % Data Wisconsin Diagnostic Breast Cancer (WDBC) Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 398 yang dipilih secara acak, dan data testing sebanyak 171yang diambil dari data selain data training. Hasil rata-rata banyaknya iterasi, waktu komputasi, dan misklasifikasi dari sepuluh kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada tabel 4.4. Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Waktu Metode Iterasi (detik) Misklasifikasi PSO % 13
14 Tabel 4. 5 Klasifikasi Data WDBC kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada tabel 4.6. Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Tabel 4. 7 Klasifikasi Data Credit Approval Metode Iterasi Waktu (detik) Misklasifikasi PSO % CSOn m % CSOi % CSOsf % Data Pima Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 538 yang dipilih secara acak, dan data testing sebanyak 230 yang diambil dari data selain data training. Hasil rata-rata banyaknya iterasi, waktu komputasi, dan misklasifikasi dari sepuluh kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada tabel 4.5. Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Tabel 4. 6 Klasifikasi Data Pima Metode Iterasi Waktu (detik) Misklasifikasi PSO % CSOn m % CSOi % CSOsf % Data Splice Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 1069 yang dipilih secara acak, dan data testing sebanyak 458 yang diambil dari data selain data training. Hasil dari sepuluh kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada tabel 4.7 Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Tabel 4. 8 Klasifikasi Data Splice Metode Iterasi Waktu (detik) Misklasifikasi PSO % CSOn m % CSOi % CSOsf % Data Credit Approval Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 457 yang dipilih secara acak, dan data testing sebanyak 196 yang diambil dari data selain data training. Hasil rata-rata banyaknya iterasi, waktu komputasi, dan misklasifikasi dari sepuluh Metode Iterasi Waktu (detik) Misklasifikasi PSO 899,5 11,11 8,1% CSOn 2596, 130,38 8,9% m 9 CSOi 627,5 25,31 9,3% CSOsf ,13 9,3% Data Haberman s Survival
15 Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 204 yang dipilih secara acak, dan data testing sebanyak 102 yang diambil dari data selain data training. Hasil dari sepuluh kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada tabel 4.8 Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Tabel 4. 9 Klasifikasi Data Haberman s Survival Data Sonar Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 146 yang dipilih secara acak, dan data testing sebanyak 60 yang diambil dari data selain data training. Hasil dari sepuluh kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada tabel 4.10 Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Tabel Klasifikasi Data Sonar Metode Iterasi Waktu (detik) Misklasifikasi PSO 7,7 0,07 11,76% CSOn m 12,3 0,18 11,72% CSOi 6,4 0,08 11,34% CSOsf 7,6 0,11 11,90% Data Hepatitis Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 60 yang dipilih secara acak, dan data testing sebanyak 20 yang diambil dari data selain data training. Hasil dari sepuluh kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada tabel 4.9 Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Tabel Klasifikasi Data Hepatitis Metode Iterasi Waktu (detik) Misklasifikasi PSO 61,8 0,58 21,5% CSOn m 317,6 3,87 22,0% CSOi 659,1 7,13 21,5% CSOsf 363,9 4,36 21,5% 15
16 Metode Iterasi Waktu (detik) Misklasifikasi PSO 1376,9 16,74 28,5% CSOn m 440,9 7,89 25,2% CSOi 673,6 10,14 31,3% CSOsf 2345,8 41,76 32,5% Data Ionosphere Pengujian dilakukan dengan data training sebanyak 85 yang dipilih secara acak, dan data testing sebanyak 37 yang diambil dari data selain data training. Hasil dari sepuluh kali percobaan untuk tiap metode ditunjukkan pada tabel Adapun nilai minimum untuk waktu komputasi dan kesalahan klasifikasi tiap metode diperjelas dengan huruf bercetak tebal. Ditinjau dari banyaknya misklasifikasi, CSO-MRLM with inertia menghasilkan misklasifikasi paling kecil. Banyaknya misklasifikasi dipengaruhi oleh kemampuan model dalam mencari titik optimal. CSO-MRLM with inertia mengalami modifikasi dalam mencari titik optimal. Dalam update kecepatan di CSO-MRLM with inertia, penulis menambahkan nilai inersia w yang nilainya acak antara 0 hingga 1. Dengan nilai inersia yang acak, kucing dapat bergerak dengan halus yaitu manakala nilai inersia bernilai kecil. Tabel 5. 1 Rata-rata Iterasi 10 Set Data Tabel Klasifikasi Data Ionosphere Metode Iterasi Waktu (detik) Misklasifikasi PSO 113,9 1,18 25,68% CSOn m 37 0,51 28,11% CSOi 2910, 7 35,05 26,49% CSOsf 133,1 1,79 27,03% 5. Analisis Dan Pembahasan 5.1. Analisis Performansi Keseluruhan Model CSO Dari 10 set data yang dilakukan uji klasifikasi, 9 diantaranya dilakukan dengan baik oleh CSO regresi. Diantara 3 macam variasi CSO regresi, CSO-MRLM steady flag memiliki performa yang paling baik dalam hal jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk mencapai titik optimal. Hal ini sesuai dengan jurnal yang ditulis oleh Chu et al, bahwa kelebihan dari CSO adalah CSO hanya membutuhkan iterasi yang lebih sedikit dibandingkan PSO maupun PSO with Weighting Factor. Nilai inersia w yang semakin kecil akan memberikan dampak pada perpindahahan posisi yang lebih halus. Kecepatan akan lebih dipengaruhi oleh pertukaran informasi dengan kucing yang memiliki posisi terbaik (x best ). Kucing akan semakin memperdalam pencarian solusi optimalnya. Dalam beberapa jurnal, hal ini disebut eksploitasi. Sedangkan nilai w yang mendekati 1 akan berdampak pada pencarian titik solusi baru. Perilaku ini disebut eksplorasi Analisis Performansi Dan Karakteristik Data Model CSO-MRLM steady flag (CSOf) digunakan untuk analisis performansi dan karakteristik data. Model ini digunakan karena memberikan hasil yang paling baik diantara 3 model CSO klasifikasi yang diteliti pada penelitian ini. Hal tersebut merujuk pada tabel 5.1 dimana CSOf memiliki rata-rata jumlah iterasi yang paling sedikit diantara model lainnya. Performa model klasifikasi berbedabeda untuk kesepuluh set data yang diuji. Masing-masing set data memiliki karakteristik yang berbeda, meliputi jumlah data, jumlah atribut, maupun nilai atribut. Karakteristik tiap set data telah dijelaskan pada sub bab 4.1. Di bawah ini akan disajikan secara ringkas kesepuluh set data yang diuji.
17 Tabel 5. 2 Jumlah Data & Atribut 10 Set Data No. Set data Jumlah Data Jumlah Atribut 1 iris breast cancer WDBC pima credit approval spline Haberman s Survival hepatitis sonar ionosphere Hubungan antara banyak iterasi yang dibutuhkan dengan jumlah data dapat dilihat pada gambar 5.1. Pada gambar grafik tersebut terlihat bahwa jumlah data tidak banyak mempengaruhi jumlah iterasi yang dibutuhkan algoritma CSO untuk men-training data. Misalnya pada gambar 5.1 grafik melonjak naik pada data yang memiliki jumlah data 206 lalu turun kembali pada data berjumlah 306. Set data yang memiliki jumlah data sebesar 206 adalah data Sonar. Set Data sonar memiliki jumlah atribut yang relatif besar. Kenaikan grafik juga terjadi pada set data berjumlah 1527 data, yaitu data splice. Data splice memiliki jumlah atribut yang juga besar, yaitu 60 atribut. Grafik mengalami kenaikan, namun kembali menurun pada set data berjumlah atribut 30. Hubungan antara jumlah atribut dengan jumlah kebutuhan iterasi yang tidak berbanding lurus mengindikasikan bahwa ada faktor lain yang lebih mempengaruhi performa model dalam melakukan klasifikasi. Selain jumlah atribut dan jumlah data terdapat karakteristik lain yang dimiliki oleh set data, yaitu kemampuan data untuk dipisahkan secara linear. Data yang memiliki jumlah atribut banyak memiliki dimensi yang tinggi. Data seperti itu sulit untuk dilihat apakah linearly separable atau tidak. Karakteristik inilah yang tidak mampu diselesaikan dengan baik oleh pendekatan Multiple Regression Linear Model (MRLM) dalam penelitian ini. Gambar 5. 2 Grafik Jumlah Atribut Dengan Iterasi Gambar 5. 1 Grafik Jumlah Data Dengan Iterasi Hubungan antara banyak iterasi dengan jumlah atribut disajikan pada gambar 5.2. Semakin banyak jumlah atribut berdampak pada semakin banyak iterasi yang dibutuhkan untuk men-training data. Pada gambar 5.2. terlihat bahwa grafik tidak berbanding lurus. Pada data berjumlah atribut 9 model PSO membutuhkan iterasi yang banyak. Namun pada data berjumlah atribut 15, grafik model PSO kembali menurun. Hal yang serupa juga terjadi pada CSOsf saat model diterapkan pada set data berjumlah atribut Kesimpulan dan Saran 6.1. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Dalam penelitian ini telah berhasil dikembangkan Cat Swarm Optimization untuk kasus klasifikasi dua kelas. 2. CSO klasifikasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Multiple Regression Linear Model (MRLM). 3. Pada pengujian 10 set data, antara lain data iris, breast cancer, Wisconsin Diagnostic Breast Cancer (WDBC), pima, credit approval, spline, Haberman s Survival, hepatitis, sonar, dan ionosphere, model CSO klasifikasi memiliki performa yang lebih baik dibandingkan PSO klasifikasi. 4. CSO klasifikasi pada model CSOsf memiliki performa yang lebih baik 17
18 dibandingkan PSO klasifikasi ditinjau dari banyaknya jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk melatih data training hingga tercapai persentase misklasifikasi yang kecil. 5. Algoritma CSOsf yang diterapkan pada permasalahan klasifikasi memiliki performansi yang unggul seperti halnya pada saat diterapkan dalam permasalahan unconstrained minimization problem. StatSoft, Inc Data Mining Techniques.< statsoft.com/textbook/stdatmin.html> Veeramachaneni, Kalyan, Weizhong Yan, Kai Goebel, Lisa Osadciw Improving Classifier Fusion Using Particle Swarm Optimization.USA: Syracuse University Wilamowski, Bodgan M Swarm intelligence. Power point slide show of Neural Networks Lecture Saran Penelitian selanjutnya bisa dilakukan untuk kasus klasifikasi multi kelas serta dengan pendekatan lain yang mampu memberikan jumlah misklasifikasi yang lebih kecil. 7. Daftar Pustaka Bramer, Max Principles of Data Mining.London: Springer-Verlag Chu, Shu-Chuan, Pei-Wei Tsai & Jeng-Shyang Pan Computational intelligence based on the behavior of cats. International Journal of innovative Computing, Information and Control. Chu, Shu-Chuan, Pei-Wei Tsai & Jeng-Shyang Pan Cat Swarm Optimization. Proceedings of the 9th Pacific Rim International Conference on Artificial Intelligence LNAI 4099 Gwern, M2Ys4U, Sinebot, et al.2009.evolutionary Algorithm. ary_algorithm Holden, Nicholas & Alex A. Freitas A Hybrid PSO/ACO Algorithm for Discovering Classification Rules in Data Mining.Unitede Kingdom: University of Kent. Liu, Yang and Kevin M. Passino Swarm intelligence: Literature Overview. Department of Electrical Engineering: The Ohio State University. TechTarget.2008.Heuristics.< arget.com /definition/0,,sid9_gci212246,00.html > Olson, David L.& Dursun Delen 2008.Advanced Data MiningTechniques. USA: Springer- Verlag Berlin Heidelberg Santosa, Budi Data Mining Teknik Pengenalan Pola: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Job shop scheduling problem (JSSP) adalah permasalahan optimasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Job Shop Scheduling Problem (JSSP) Job shop scheduling problem (JSSP) adalah permasalahan optimasi kombinatorial. Misalkan terdapat n buah job atau pekerjaan, yaitu J 1, J 2,,
IMPLEMENTASI ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION DALAM MENYELESAIKAN JOB SHOP SCHEDULING PROBLEM (JSSP)
E-Jurnal Matematika Vol. 5 (3), Agustus 2016, pp. 90-97 ISSN: 2303-1751 IMPLEMENTASI ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION DALAM MENYELESAIKAN JOB SHOP SCHEDULING PROBLEM (JSSP) I Wayan Radika Apriana 1, Ni
SWARM GENETIC ALGORITHM, SUATU HIBRIDA DARI ALGORITMA GENETIKA DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION. Taufan Mahardhika 1
SWARM GENETIC ALGORITHM, SUATU HIBRIDA DARI ALGORITMA GENETIKA DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION Taufan Mahardhika 1 1 Prodi S1 Kimia, Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih 1 [email protected] Abstrak Swarm
1.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian tenaga listrik dapat naik turun sebanding dengan besar kecilnya kegiatan dilakukan oleh manusia dalam periode tertentu. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang
OPTIMASI PENCAPAIAN TARGET PADA SIMULASI PERENCANAAN JALUR ROBOT BERGERAK DI LINGKUNGAN DINAMIS
OPTIMASI PENCAPAIAN TARGET PADA SIMULASI PERENCANAAN JALUR ROBOT BERGERAK DI LINGKUNGAN DINAMIS Yisti Vita Via Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
IMPLEMENTASI METODE ANT COLONY OPTIMIZATION UNTUK PEMILIHAN FITUR PADA KATEGORISASI DOKUMEN TEKS
IMPLEMENTASI METODE ANT COLONY OPTIMIZATION UNTUK PEMILIHAN FITUR PADA KATEGORISASI DOKUMEN TEKS Yudis Anggara Putra Chastine Fatichah Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut
PERBANDINGAN ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION DAN REGRESI PADA PERAMALAN WAKTU BEBAN PUNCAK
Jurnal POROS TEKNIK, Volume 6, No. 2, Desember 2014 : 55-10 PERBANDINGAN ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION DAN REGRESI PADA PERAMALAN WAKTU BEBAN PUNCAK Nurmahaludin (1) (1) Staff Pengajar Jurusan
PENERAPAN ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION (CSO) UNTUK MENYELESAIKAN MULTI - DEPOT VEHICLE ROUTING PROBLEM (MDVRP) SKRIPSI
PENERAPAN ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION (CSO) UNTUK MENYELESAIKAN MULTI - DEPOT VEHICLE ROUTING PROBLEM (MDVRP) SKRIPSI FATIMATUS ZAHRO PROGRAM STUDI S-1 MATEMATIKA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS
1BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Clustering merupakan sebuah teknik pemrosesan data yang digunakan untuk menemukan pola-pola tersembunyi pada kumpulan data (Žalik, 2008). Clustering telah
MENEMUKAN AKAR PERSAMAAN POLINOMIAL MENGGUNAKAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION
MENEMUKAN AKAR PERSAMAAN POLINOMIAL MENGGUNAKAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION Oei,EdwinWicaksonoDarmawan, Suyanto Edward Antonius, Ir., M.Sc, Program Studi Teknik Informatika Universitas Katolik Soegijapranata
ANALISIS PERBANDINGAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN REGRESI LINEAR BERGANDA PADA PRAKIRAAN CUACA
ANALISIS PERBANDINGAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN REGRESI LINEAR BERGANDA PADA PRAKIRAAN CUACA Nurmahaludin (1) (1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Banjarmasin Ringkasan Kebutuhan
DOSEN PEMBIMBING Chastine Fatichah, S.Kom, M.Kom MAHASISWA Yudis Anggara P. ( )
Sidang Tugas Akhir September 2009 Implementasi Metode Ant Colony Optimization untuk Pemilihan Fitur pada Kategorisasi Dokumen Teks DOSEN PEMBIMBING Chastine Fatichah, S.Kom, M.Kom MAHASISWA Yudis Anggara
Jaringan Syaraf Tiruan dengan Pembelajaran Algoritma Genetika dan Diversitas untuk Deteksi Kelas Penyakit
Jaringan Syaraf Tiruan dengan Pembelajaran Algoritma Genetika dan Diversitas untuk Deteksi Kelas Penyakit Abidatul Izzah 1), Ratih Kartika Dewi 2) 1)2) Jurusan Teknik Informatika ITS Surabaya Jl. Teknik
PERANCANGAN ALGORITMA BELAJAR JARINGAN SYARAF TIRUAN MENGGUNAKAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO)
Jurnal POROS TEKNIK, Volume 5, No. 1, Juni 2013 : 18-23 PERANCANGAN ALGORITMA BELAJAR JARINGAN SYARAF TIRUAN MENGGUNAKAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO) Nurmahaludin (1) (1) Staf Pengajar Jurusan Teknik
Rancang Bangun Aplikasi Prediksi Jumlah Penumpang Kereta Api Menggunakan Algoritma Genetika
1 Rancang Bangun Aplikasi Prediksi Jumlah Penumpang Kereta Api Menggunakan Algoritma Genetika Annisti Nurul Fajriyah Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
PENYELESAIAN PERMASALAHAN MULTI-OBJECTIVE HYBRID FLOW SHOP SCHEDULING DENGAN ALGORITMA MODIFIED PARTICLE SWARM OPTIMIZATION
PENYELESAIAN PERMASALAHAN MULTI-OBJECTIVE HYBRID FLOW SHOP SCHEDULING DENGAN ALGORITMA MODIFIED PARTICLE SWARM OPTIMIZATION Fiqihesa Putamawa 1), Budi Santosa 2) dan Nurhadi Siswanto 3) 1) Program Pascasarjana
PENENTUAN JALUR TERPENDEK PADA APLIKASI OJEK ONLINE GO-JEK DENGAN PROBABILISTIC NEURAL NETWORK (PNN) DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO)
PENENTUAN JALUR TERPENDEK PADA APLIKASI OJEK ONLINE GO-JEK DENGAN PROBABILISTIC NEURAL NETWORK (PNN) DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO) Levina Fitri Rahmawati, Isnandar Slamet, dan Diari Indriati Program
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 2 NO. 1 SEPTEMBER 2010
PERBANDINGAN METODE K-NEAREST NEIGHBOR (KNN) dan METODE NEAREST CLUSTER CLASSIFIER (NCC) DALAM PENGKLASIFIKASIAN KUALITAS BATIK TULIS Nesi Syafitri 1 ABSTRACT Various problem that are related to classification
Presentasi Tugas Akhir
Presentasi Tugas Akhir OPTIMASI KONTROLER PID BERBASIS ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION UNTUK PENGENDALIAN KECEPATAN MOTOR INDUKSI TIGA FASE Oleh: Suhartono (2209 105 008) Pembimbing: Ir. Ali Fatoni,
Bab IV Simulasi dan Pembahasan
Bab IV Simulasi dan Pembahasan IV.1 Gambaran Umum Simulasi Untuk menganalisis program pemodelan network flow analysis yang telah dirancang maka perlu dilakukan simulasi program tersebut. Dalam penelitian
PENERAPAN ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION (CSO) UNTUK MENYELESAIKAN QUADRATIC ASSIGNMENT PROBLEM (QAP)
S K R I P S I PROGRAM STUDI S-1 MATEMATIKA DEPARTEMEN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA 2015 i PENERAPAN ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZANON (CSO} UNTUK MENYELESAIKAN SUADRATTC,
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Travelling Salesman Problem (TSP) Travelling Salesmen Problem (TSP) termasuk ke dalam kelas NP hard yang pada umumnya menggunakan pendekatan heuristik untuk mencari solusinya.
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Dyah Ayu Puspitasari. 2018. Hybrid Algoritma Cat Swarm Optimization (CSO) dan Simulated Annealing (SA) untuk Permasalahan Land Allocation. Skripsi ini dibawah bimbingan Dr. Herry Suprajitno, M.Si dan Auli
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai beberapa hal seputar penelitian yang dilakukan, antara lain: latar belakang penelitian, perumusan masalah, batasan masalah, keaslian penelitian, manfaat
KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE
KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE Warih Maharani Fakultas
PREDIKSI TIME SERIES TINGKAT INFLASI INDONESIA MENGGUNAKAN EVOLUTION STRATEGIES
PREDIKSI TIME SERIES TINGKAT INFLASI INDONESIA MENGGUNAKAN EVOLUTION STRATEGIES Universitas Telkom Jl.Telekomunikasi No. 1, Terusan Buah Batu, Bandung [email protected] Abstrak Prediksi tingkat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fuzzy Local Binary Pattern (FLBP) Fuzzifikasi pada pendekatan LBP meliputi transformasi variabel input menjadi variabel fuzzy, berdasarkan pada sekumpulan fuzzy rule. Dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bagian pada bagian ini akan diuraikan tentang tinjauan pustaka dan landaran teori yang sesuai dengan ACO dan AG. 2.1 Algoritma Ant Colony Optimization Secara umum pencarian
1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Riset di bidang sistem pengenalan ucapan otomatis (Automatic Speech Recognition) merupakan salah satu riset yang banyak ditekuni dan terus dikembangkan hingga saat
PENERAPAN ALGORITMA HARMONY SEARCH DALAM PENYELESAIAN RESOURCE-CONSTRAINED PROJECT SCHEDULING PROBLEM
PENERAPAN ALGORITMA HARMONY SEARCH DALAM PENYELESAIAN RESOURCE-CONSTRAINED PROJECT SCHEDULING PROBLEM Peneliti Dosen Pembimbing : Achmad Setiawan NRP. 2506100136 : Ir. Budi Santosa, M.Sc., Ph.D NIP. 132
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI.1. Penelitian Terdahulu Archetti et al. (009) menggunakan sebuah metode eksak yaitu branch-and-price scheme dan dua metode metaheuristics yaitu algoritma Variable Neighborhood
Penyelesaian Masalah Travelling Salesman Problem Menggunakan Ant Colony Optimization (ACO)
Penyelesaian Masalah Travelling Salesman Problem Menggunakan Ant Colony Optimization (ACO) Anna Maria 1, Elfira Yolanda Sinaga 2, Maria Helena Iwo 3 Laboratorium Ilmu dan Rekayasa Komputasi Departemen
APLIKASI UNTUK PREDIKSI JUMLAH MAHASISWA PENGAMBIL MATAKULIAH DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA, STUDI KASUS DI JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA ITS
APLIKASI UNTUK PREDIKSI JUMLAH MAHASISWA PENGAMBIL MATAKULIAH DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA, STUDI KASUS DI JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA ITS Hafid Hazaki 1, Joko Lianto Buliali 2, Anny Yuniarti 2
BAB IV PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI PERANGKAT LUNAK
BAB IV PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI PERANGKAT LUNAK Bab ini menjelaskan perancangan dan implementasi yang dilakukan. Tahap pertama dimulai dengan merancang beberapa classifier yaitu jaringan saraf tiruan
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA
DETEKSI MAHASISWA BERPRESTASI DAN BERMASALAH DENGAN METODE K- MEANS KLASTERING YANG DIOPTIMASI DENGAN ALGORITMA GENETIKA Akmal Hidayat 1) & Entin Martiana 2) 1) Teknik Elektro Politeknik Bengkalis Jl.
BAB 3 PENGENALAN WAJAH
28 BAB 3 PENGENALAN WAJAH DENGAN PENGENALAN DIMENSION WAJAH BASED DENGAN FNLVQ DIMENSION BASED FNLVQ Bab ini menjelaskan tentang pemodelan data masukan yang diterapkan dalam sistem, algoritma FNLVQ secara
Rekonfigurasi jaring distribusi untuk meningkatkan indeks keandalan dengan mengurangi rugi daya nyata pada sistem distribusi Surabaya.
Rekonfigurasi jaring distribusi untuk meningkatkan indeks keandalan dengan mengurangi rugi daya nyata pada sistem distribusi Surabaya. RIZKIANANTO WARDANA M Misbach Fachri 2207100038 Sistem Tenaga Listrik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Data Mining 2.1.1 Pengertian Data Mining Dengan semakin besarnya jumlah data dan kebutuhan akan analisis data yang akurat maka dibutuhkan metode analisis yang tepat. Data mining
Penjadwalan Job Shop pada Empat Mesin Identik dengan Menggunakan Metode Shortest Processing Time dan Genetic Algorithm
Jurnal Telematika, vol.9 no.1, Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung ISSN: 1858-251 Penjadwalan Job Shop pada Empat Mesin Identik dengan Menggunakan Metode Shortest Processing Time dan Genetic Algorithm
Dynamic Optimal Power Flow dengan kurva biaya pembangkitan tidak mulus menggunakan Particle Swarm Optimization
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 1, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-24 Dynamic Optimal Power Flow dengan kurva biaya pembangkitan tidak mulus menggunakan Particle Swarm Optimization Afif Nur
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
40 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 DESAIN PENELITIAN Dalam melakukan penelitian, dibutuhkan desain penelitian agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan dengan baik. Berikut ini merupakan desain penelitian
SEGMENTASI CITRA BERBASIS CLUSTERING MENGGUNAKAN ALGORITMA FUZZY C-MEANS DAN CAT SWARM OPTIMIZATION
TESIS SEGMENTASI CITRA BERBASIS CLUSTERING MENGGUNAKAN ALGORITMA FUZZY C-MEANS DAN CAT SWARM OPTIMIZATION I MADE BUDI ADNYANA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2015 TESIS SEGMENTASI CITRA
2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Peringkasan Teks
4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peringkasan Teks Peringkasan teks adalah proses pemampatan teks sumber ke dalam versi lebih pendek namun tetap mempertahankan informasi yang terkandung didalamnya (Barzilay & Elhadad
UJI KINERJA DAN SIMULASI PENENTUAN JARAK TERPENDEK DENGAN SIMULATED ANNEALING PADA SUHU TETAP DAN SUHU BERUBAH
UJI KINERJA DAN SIMULASI PENENTUAN JARAK TERPENDEK DENGAN SIMULATED ANNEALING PADA SUHU TETAP DAN SUHU BERUBAH Dian Savitri, S.Si, M.Si Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unesa [email protected]
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN TATA LETAK MESIN
APLIKASI ALGORITMA GENETIKA UNTUK PENENTUAN TATA LETAK MESIN Hari Purnomo, Sri Kusumadewi Teknik Industri, Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km 4,5 Yogyakarta [email protected],
Desain Rute Terpendek untuk Distribusi Koran Dengan Algoritma Ant Colony System
Desain Rute Terpendek untuk Distribusi Koran Dengan Algoritma Ant Colony System Jan Alif Kreshna, Satria Perdana Arifin, ST, MTI., Rika Perdana Sari, ST, M.Eng. Politeknik Caltex Riau Jl. Umbansari 1 Rumbai,
1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi sekarang ini semakin pesat. Kebutuhan akan informasi dan komunikasi bertambah. Telah ditemukan berbagai perangkat teknologi yang memudahkan manusia
BAB III ALGORITMA ANT DISPERSION ROUTING (ADR)
BAB III ALGORITMA ANT DISPERSION ROUTING (ADR) Pada permasalahan pencarian rute optimal dalam rangka penyebaran rute lalu lintas untuk mencapai keseimbangan jaringan lalu lintas sebagai upaya untuk mengurangi
Bab II Konsep Algoritma Genetik
Bab II Konsep Algoritma Genetik II. Algoritma Genetik Metoda algoritma genetik adalah salah satu teknik optimasi global yang diinspirasikan oleh proses seleksi alam untuk menghasilkan individu atau solusi
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK TRAVELING SALESMAN PROBLEM DENGAN MENGGUNAKAN METODE ORDER CROSSOVER DAN INSERTION MUTATION Samuel Lukas 1, Toni Anwar 1, Willi Yuliani 2 1) Dosen Teknik Informatika,
ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION UNTUK MENYELESAIKAN TEAM ORIENTEERING PROBLEM WITH TIME WINDOWS
ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION UNTUK MENYELESAIKAN TEAM ORIENTEERING PROBLEM WITH TIME WINDOWS SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Teknik Industri Oleh
PENERAPAN DATA MINING UNTUK EVALUASI KINERJA AKADEMIK MAHASISWA MENGGUNAKAN ALGORITMA NAÏVE BAYES CLASSIFIER
PENERAPAN DATA MINING UNTUK EVALUASI KINERJA AKADEMIK MAHASISWA MENGGUNAKAN ALGORITMA NAÏVE BAYES CLASSIFIER I. PENDAHULUAN Mahasiswa merupakan salah satu aspek penting dalam evaluasi keberhasilan penyelenggaraan
OPTIMASI NAÏVE BAYES CLASSIFIER DENGAN MENGGUNAKAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION PADA DATA IRIS
Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) p-issn: 2355-7699 Vol. 4, No. 3, September 2017, hlm. 180-184 e-issn: 2528-6579 OPTIMASI NAÏVE BAYES CLASSIFIER DENGAN MENGGUNAKAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION
BAB I PENDAHULUAN. jumlah ketersediaan yang semakin menipis dan semakin mahal, membuat biaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangkit Listrik di Indonesia pada umumnya merupakan pembangkit listrik thermal. Kebutuhan pembangkit thermal terhadap bahan bakar fosil dengan jumlah ketersediaan
BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI
27 BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI 3.1 Analisis Pada subbab ini akan diuraikan tentang analisis kebutuhan untuk menyelesaikan masalah jalur terpendek yang dirancang dengan menggunakan algoritma
FUNGSI ACKLEY DAN PENCARIAN NILAI OPTIMUMNYA MENGGUNAKAN ALGORITMA STROBERI. Muhamad Fadilah Universitas Jenderal Soedirman
Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Terapannya 06 p-issn : 550-0384; e-issn : 550-039 FUNGSI ACKLEY DAN PENCARIAN NILAI OPTIMUMNYA MENGGUNAKAN ALGORITMA STROBERI Muhamad Fadilah Universitas Jenderal
SKRIPSI HYBRID ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION (CSO) DAN TABU SEARCH (TS) UNTUK PENYELESAIAN PERMUTATION FLOWSHOP SCHEDULING PROBLEM (PFSP)
SKRIPSI HYBRID ALGORITMA CAT SWARM OPTIMIZATION (CSO) DAN TABU SEARCH (TS) UNTUK PENYELESAIAN PERMUTATION FLOWSHOP SCHEDULING PROBLEM (PFSP) QORIMA EMILA PUSPARANI PROGRAM STUDI S1 MATEMATIKA DEPARTEMEN
Tutorial Particle Swarm Optimization
Tutorial Particle Swarm Optimization Budi Santosa Teknik Industri, ITS Kampus ITS, Sukolilo Surabaya E-mails: budi [email protected] 1 Pahuluan Particle swarm optimization, disingkat sebagai PSO, didasarkan
METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Pemikiran Perusahaan dalam era globalisasi pada saat ini, banyak tumbuh dan berkembang, baik dalam bidang perdagangan, jasa maupun industri manufaktur. Perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Motor DC (Direct Current) Brushless atau disebut dengan Motor BLDC (Brushless Direct Current Motor) sangat banyak digunakan dalam berbagai macam aplikasi industri saat
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Klasifikasi Klasifikasi merupakan suatu pekerjaan menilai objek data untuk memasukkannya ke dalam kelas tertentu dari sejumlah kelas yang tersedia. Dalam klasifikasi ada dua pekerjaan
PRESENTASI TUGAS AKHIR IMPLEMENTASI PENGGABUNGAN ALGORITMA SUPPORT VECTOR MACHINE DAN SIMULATED ANNEALING PADA PERMASALAHAN KLASIFIKASI POLA
PRESENTASI TUGAS AKHIR IMPLEMENTASI PENGGABUNGAN ALGORITMA SUPPORT VECTOR MACHINE DAN SIMULATED ANNEALING PADA PERMASALAHAN KLASIFIKASI POLA Penyusun Tugas Akhir : Astris Dyah Perwita (NRP : 5110.100.178)
PENERAPAN TEKNIK KLASIFIKASI PADA SISTEM REKOMENDASI MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
PENERAPAN TEKNIK KLASIFIKASI PADA SISTEM REKOMENDASI MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Rita Rismala 1, Mahmud Dwi Sulistiyo 2 Program Studi S1 Teknik Informatika, Fakultas Informatika Universitas Telkom 1,
BAB 2 LANDASAN TEORI. fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses
8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Neuro Fuzzy Neuro-fuzzy sebenarnya merupakan penggabungan dari dua studi utama yaitu fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Data Mining Data Mining adalah proses yang mempekerjakan satu atau lebih teknik pembelajaran komputer (machine learning) untuk menganalisis dan mengekstraksi pengetahuan (knowledge)
Jl. A. Yani Km 36 Banjarbaru, Kalimantan selatan Abstract
ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO) UNTUK OPTIMASI NILAI CENTER RADIAL BASIS PROBABILISTIC NEURAL NETWORK (RBPNN) PADA KLASIFIKASI DATA BREAST CANCER Ela Nurmalasari 1, Oni Soesanto 2, Fatma Indriani
ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION DAN TERAPANNYA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH PEMOTONGAN ROL KERTAS MAKALAH
ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION DAN TERAPANNYA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH PEMOTONGAN ROL KERTAS MAKALAH Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Vehicle Routing Problem Vehicle Routing Problem merupakan permasalahan distribusi yang mencari serangkaian rute untuk sejumlah kendaraan dengan kapasitas tertentu
BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengenalan suara (voice recognition) dibagi menjadi dua jenis, yaitu
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan Suara. Pengenalan suara (voice recognition) dibagi menjadi dua jenis, yaitu speech recognition dan speaker recognition. Speech recognition adalah proses yang dilakukan
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Fokus dalam bidang teknologi saat ini tidak hanya berada pada proses pengembangan yang disesuaikan dengan permasalahan yang dapat membantu manusia
PENCOCOKAN KATA SECARA ACAK DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL
Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 2 Hal. 1 9 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PENCOCOKAN KATA SECARA ACAK DENGAN METODE ALGORITMA GENETIKA MENGGUNAKAN PROGRAM PASCAL MULIA AFRIANI KARTIKA
ABSTRAK. Job shop scheduling problem merupakan salah satu masalah. penjadwalan yang memiliki kendala urutan pemrosesan tugas.
ABSTRAK Job shop scheduling problem merupakan salah satu masalah penjadwalan yang memiliki kendala urutan pemrosesan tugas. Pada skripsi ini, metode yang akan digunakan untuk menyelesaikan job shop scheduling
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Dalam beberapa tahun terakhir ini, peranan algoritma genetika terutama untuk masalah optimisasi, berkembang dengan pesat. Masalah optimisasi ini beraneka ragam tergantung dari bidangnya. Dalam
PERANCANGAN PARAMETER TERBAIK UNTUK PREDIKSI PRODUKSI BAN GT3 MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN RESILIENT PROPAGATION
PERANCANGAN PARAMETER TERBAIK UNTUK PREDIKSI PRODUKSI BAN GT3 MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN RESILIENT PROPAGATION Fitrisia, Adiwijaya, dan Andrian Rakhmatsyah Program Studi S1 Teknik Informatika,
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Data Yang Digunakan Dalam melakukan penelitian ini, penulis membutuhkan data input dalam proses jaringan saraf tiruan backpropagation. Data tersebut akan digunakan sebagai
Perbandingan Kombinasi Genetic Algorithm Simulated Annealing dengan Particle Swarm Optimization pada Permasalahan Tata Letak Fasilitas
Jurnal Teknik Industri, Vol. 12, No. 2, Desember 2010, 119-124 ISSN 1411-2485 Perbandingan Kombinasi Genetic Algorithm Simulated Annealing dengan Particle Swarm Optimization pada Permasalahan Tata Letak
PENERAPAN ALGORITMA NAÏVE BAYES UNTUK DETEKSI BAKTERI E-COLI
PENERAPAN ALGORITMA NAÏVE BAYES UNTUK DETEKSI BAKTERI E-COLI Laily Hermawanti Program Studi Teknik informatika Fakultas Teknik Universitas Sultan Fatah (UNISFAT) Jl. Diponegoro 1B Jogoloyo Demak Telpon
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T
PENERAPAN ALGORITMA GENETIKA PADA PERENCANAAN LINTASAN KENDARAAN Achmad Hidayatno Darjat Hendry H L T Abstrak : Algoritma genetika adalah algoritma pencarian heuristik yang didasarkan atas mekanisme evolusi
Abidah Elcholiqi, Beta Noranita, Indra Waspada
Abidah Elcholiqi, Beta Noranita, Indra Waspada PENENTUAN BESAR PINJAMAN DI KOPERASI SIMPAN PINJAM DENGAN ALGORITMA K-NEAREST NEIGHBOR (Studi Kasus di Koperasi Simpan Pinjam BMT Bina Insani Pringapus) Abidah
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Listrik pada abad ini sudah merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa tergantikan. Karena pentingnya listrik ini, sistem yang menyuplai dan mengalirkan listrik ini
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Dasar Penelitian Penelitian ini dilakukan berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya yaitu untuk mengklasifikasikan kelayakan kredit calon debitur
BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejalan dengan tuntutan persaingan bisnis, banyak perusahaan menyadari bahwa keunggulan teknologi dan produk yang dihasilkan semata tidak lagi dapat diandalkan menjadi
Pemilihan Jalur Evakuasi Dalam Keadaan Darurat Menggunakan Algoritma Quantum Ant-Colony
Pemilihan Jalur Evakuasi Dalam Keadaan Darurat Menggunakan Algoritma Quantum Ant-Colony Path Selection In Emergency Evacuation Using Quantum Ant- Colony Algorithm Fransisca Arvevia I A 1, Jondri 2, Anditya
SISTEM ALOKASI PENYIMPANAN BARANG PADA GUDANG
SISTEM ALOKASI PENYIMPANAN BARANG PADA GUDANG Achmad Hambali Jurusan Teknik Informatika PENS-ITS Kampus PENS-ITS Keputih Sukolilo Surabaya 60 Telp (+6)3-59780, 596, Fax. (+6)3-596 Email : [email protected]
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
12 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah penjadwalan secara umum adalah aktifitas penugasan yang berhubungan dengan sejumlah kendala, sejumlah kejadian yang dapat terjadi pada suatu periode waktu
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN Pada proses penelitian ini dilakukan beberapa tahapan mulai dari tahap awal yaitu tahap inisiasi, pengembangan model, dan tahap terakhir pengembangan prototipe. Dalam tahapan inisiasi
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika
Optimasi Multi Travelling Salesman Problem (M-TSP) Menggunakan Algoritma Genetika Wayan Firdaus Mahmudy ([email protected]) Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia Abstrak.
BAB III ANALISA MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM
BAB III ANALISA MASALAH DAN RANCANGAN PROGRAM III.1. Analisa Masalah Perkembangan game dari skala kecil maupun besar sangat bervariasi yang dapat dimainkan oleh siapa saja tanpa memandang umur, dari anak
DIAGNOSIS PENYAKIT KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN METODE NAIVE BAYES BERBASIS DESKTOP
1 DIAGNOSIS PENYAKIT KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN METODE NAIVE BAYES BERBASIS DESKTOP Achmad Ramadhan Safutra 1, Dwi Wahyu Prabowo 1 1 Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Darwan
Keoptimalan Naïve Bayes Dalam Klasifikasi
Keoptimalan Naïve Bayes Dalam Klasifikasi M. Ammar Shadiq Program Ilmu Komputer FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia [email protected] Abstrak Naïve Bayes adalah salah satu algoritma pembelajaran
PERBANDINGAN KINERJA METODE K-HARMONIC MEANS DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION UNTUK KLASTERISASI DATA
PERBANDINGAN KINERJA METODE K-HARMONIC MEANS DAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION UNTUK KLASTERISASI DATA Ahmad Saikhu, Yoke Okta 2 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi
ISSN: X 77 IMPUTASI MISSING DATA DENGAN K-NEAREST NEIGHBOR DANALGORITMA GENETIKA
ISSN: 2088-687X 77 IMPUTASI MISSING DATA DENGAN K-NEAREST NEIGHBOR DANALGORITMA GENETIKA Ucik Mawarsari Badan Pusat Statistik Jl. Dr. Sutomo 6-8 Jakarta, [email protected] ABSTRAK Permasalahan yang sering
PENINGKATAN KINERJA ALGORITMA K-MEANS DENGAN FUNGSI KERNEL POLYNOMIAL UNTUK KLASTERISASI OBJEK DATA
PENINGKATAN KINERJA ALGORITMA K-MEANS DENGAN FUNGSI KERNEL POLYNOMIAL UNTUK KLASTERISASI OBJEK DATA Heri Awalul Ilhamsah Jurusan Teknik Industri Universitas Trunojoyo Madura Kampus Universitas Trunojoyo
PEMROGRAMAN KOMPUTER KODE MODUL: TIN 202 MODUL III LINEAR PROGRAMMING DAN VISUALISASI
PEMROGRAMAN KOMPUTER KODE MODUL: TIN 202 MODUL III LINEAR PROGRAMMING DAN VISUALISASI LABORATORIUM TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013 MODUL II LINEAR PROGRAMMING DAN
OPTIMASI PERSEDIAAN BAJU MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA
OPTIMASI PERSEDIAAN BAJU MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA andra Aditya 1), Wayan Firdaus Mahmudy 2) 1) Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer Malang Jl. Veteran, Malang 65145, Indonesia
BAB 2 LANDASAN TEORI
8 BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas beberapa konsep dasar dan beberapa definisi yang akan digunakan sebagai landasan berpikir dalam melakukan penelitian ini sehingga mempermudah penulis untuk
PENGGUNAAN METODE PENGKLASTERAN UNTUK MENENTUKAN BIDANG TUGAS AKHIR MAHASISWA TEKNIK INFORMATIKA PENS BERDASARKAN NILAI
PENGGUNAAN PENGKLASTERAN UNTUK MENENTUKAN BIDANG TUGAS AKHIR MAHASISWA TEKNIK INFORMATIKA PENS BERDASARKAN NILAI Entin Martiana S.Kom,M.Kom, Nur Rosyid Mubtada i S. Kom, Edi Purnomo Jurusan Teknik Informatika
OPTIMISASI TOTAL TEMPUH NPC PADA RTS GAME MENGGUNAKAN HARMONY SEARCH ALGORITHM. Herti Miawarni 1* Jl. A. Yani 114, Surabaya 60231, Telp.
OPTIMISASI TOTAL TEMPUH NPC PADA RTS GAME MENGGUNAKAN HARMONY SEARCH ALGORITHM Herti Miawarni 1* 1 Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Bhayangkara Surabaya Jl. A. Yani 114, Surabaya
