HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 37 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Tipologi Ruang Terbuka Hijau Jenis ruang terbuka hijau yang dijumpai di kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung yaitu: pekarangan, jalur hijau jalan (tepi jalan, median jalan, dan pulau jalan), ruang terbuka hijau pada fasilitas umum dan fasilitas sosial, bantaran sungai, bantaran rel kereta api, dan pemakaman. Berikut ini adalah tipologi dari masing-masing ruang terbuka hijau yang ditampilkan pada Tabel 15. Tabel 15 Tipologi Ruang Terbuka Hijau Jenis RTH Luas (m 2 ) Fisik Kepemilikan Bentuk Fungsi Pekarangan Sempit Sedang Luas Non alami Privat Area Produksi, sosial budaya, estetika, ekologi Jalur hijau jalan Tepi jalan Separator jalan Pulau jalan RTH Fasum dan Fasos 800 Non alami Non alami Non alami Publik Publik Publik Jalur Jalur Area Estetika, ekologi Non alami Publik Area Sosial budaya, estetika, ekologi Bantaran sungai Alami Publik Jalur Ekologi, produksi Bantaran rel Non alami Publik Jalur Ekologi, estetika Pemakaman Non alami Publik Area Sosial budaya, ekologi

2

3 Klasifikasi RTH berdasarkan kepemilikan, fungsi, dan bentuk Pekarangan Pekarangan atau halaman rumah merupakan salah satu area ruang terbuka hijau privat. Luas pekarangan adalah sisa dari luas kavling dikurangi dengan luas ruang terbangun. Rumah penduduk di kawasan ini tersebar di seluruh area penelitian. Menurut Arifin (2009), pekarangan berdasarkan luasan dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu: (i) kecil, pekarangan dengan luas kurang dari 120 m 2 (ii) sedang, pekarangan dengan luas m 2 (iii) besar, pekarangan dengan luas m 2 (iv) sangat besar, pekarangan dengan luas lebih dari 1000 m 2 Masing-masing RT pada kawasan ini terdiri atas sekitar 50 rumah. Dengan asumsi bahwa skala penelitian adalah kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung, maka jumlah sampel yang diambil adalah jumlah rumah pada kawasan tersebut yang dianggap sebagai jumlah populasi (N) sebanyak 700 rumah. Dalam situasi ini derajat kecermatan yang diambil 10%, yang menunjukkan bahwa tingkat kecermatan studi dikategorikan cermat untuk tingkat kepercayaan 90%. 88 Maka berdasarkan perhitungan, jumlah sampel pekarangan yang akan diambil adalah 88 secara random atau acak untuk mewakili 700 rumah yang terdapat pada tapak. Dari hasil perhitungan terhadap hasil pengamatan 88 rumah pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung terdapat 8,70% rumah dengan pekarangan berukuran luas, 10,87% pekarangan berukuran sedang, dan 80,43% berukuran sempit, seperti yang tertera pada Gambar 9 berikut:

4 40 4% 7% besar sedang kecil 89% Gambar 8Gambar 9 Presentase Pekarangan berdasarkan Ukuran Pada proses pengamatan, sampel masing-masing pekarangan dipilih secara acak yang diharapkan dapat mewakili pemanfaatan untuk ukuran yang berbedabeda. Dari gambar dapat terlihat bahwa pada umumnya terdiri dari pekarangan sempit yang menunjukkan semakin terbatasnya upaya penyediaan RTH di area rumah. Kriteria penanaman vegetasi untuk berbagai ukuran kavling berbeda-beda satu sama lain. Hal ini terkait dengan presentase kebutuhan terhadap ruang terbuka hijau berdasarkan luas area yaitu sebesar 10% pada RTH privat serta kondisi eksisting masing-masing pekarangan. Kriteria penanaman vegetasi dapat dilihat pada Tabel 16 di bawah ini. Tabel 16 Syarat Penanaman Vegetasi pada Pekarangan Ukuran Jenis Kavling Syarat/Kewajiban Penanaman Minimal Komposisi Jenis yang Cukup dengan < 120 m 2 Satu pohon pelindung, semak Penutup tanah/rumput dan perdu m 2 Dua pohon pelindung, semak Penutup tanah/rumput dan perdu m 2 Tiga pohon pelindung, semak Penutup tanah/rumput dan perdu > 1000 m 2 Lebih dari tiga pohon Penutup tanah/rumput pelindung, semak dan perdu Relatif sempit Pot dan tanaman gantung Memanfaatkan ruang di atas saluran drainase Adapun Gambar 10, 11, dan 12 berikut adalah contoh layout pekarangan dengan berbagai ukuran:

5 Gambar 10 Penataan Pekarangan Ukuran Sempit 41

6 42 Keterangan gambar: Pohon Peneduh Semak Penutup Tanah Tabel 17 Syarat Penanaman pada Sampel Pekarangan Sempit Sampel Satu Pohon Semak dan Perdu Penutup Tanah - Keterangan: = ada Pada pekarangan sempit, ataupun tanpa lahan tersisa di halaman rumah, kondisi penanaman yang dijumpai adalah penggunaan pot yang ditata di atas perkerasan, digantung, ditempel pada tembok, maupun disusun vertikal. Lokasi penataan adalah pada bagian depan rumah. Sebagian besar memilih penutup tanah berupa perkerasan dibandingkan dengan vegetasi. Hal ini disebabkan oleh pemeliharaan elemen softcape dianggap lebih intensif daripada elemen hardscape. Pada rumah yang masih memiliki sisa halaman, hampir seluruhnya dapat dijumpai penanaman pohon yang mengindikasikan bahwa keberadaan pohon dapat menghasilkan manfaat yang lebih besar dibandingkan semak ataupun ground cover.

7 Gambar 11 Penataan Pekarangan Ukuran Sedang 43

8 44 Keterangan gambar: Pohon Peneduh Semak Penutup Tanah Tabel 18 Syarat Penanaman pada Sampel Pekarangan Sedang Sampel Dua Pohon Semak dan Perdu - Penutup Tanah - - Keterangan: = ada Pada pekarangan berukuran sedang, masih dijumpai penggunaan penutup tanah berupa perkerasan dan tanah. Pada tipe ukuran ini, perkerasan pada pekarangan dimanfaatkan sebagai area parkir kendaraan bagi pemilik rumah. Penataan pekarangan ini juga berlokasi di halaman rumah bagian depan, seperti pada pekarangan berukuran sempit. Selain itu terdapat beberapa macam tanaman yang ditata dalam pot sehingga mudah untuk dipindahkan sewaktu-waktu apabila lahan pekarangan akan digunakan untuk keperluan tertentu. Penanaman pohon dapat dijumpai di seluruh pekarangan berukuran sedang.

9 45 Gambar 12 Penataan Pekarangan Ukuran Luas Keterangan gambar: Pohon Peneduh Semak Penutup Tanah

10 46 Tabel 19 Syarat Penanaman pada Sampel Pekarangan Luas Sampel 1 2 Tiga Pohon Semak dan Perdu Penutup Tanah Sumber: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, 2008 Keterangan: = ada Pekarangan berukuran luas masih jarang ditemui pada kawasan ini, namun pemanfaatan pekarangan pada sampel yang diamati telah memenuhi kriteria penanaman vegetasi. Hal ini terkait dengan potensi luasan pekarangan yang memungkinkan adanya variasi penataan lebih baik dibandingkan dengan ukuran pekarangan lain yang lebih sempit. Penataan pekarangan pada tipe ukuran ini memiliki berbagai variasi lokasi, baik pada bagain depan, samping, maupun pada area dalam dan belakang rumah. Beberapa sampel yang diamati, terdapat beberapa ragam pemanfaatan pekarangan. Kebutuhan dan selera pemilik rumah merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penggunaan dan penataan elemen taman. Di bawah ini merupakan beberapa foto dari pekarangan yang diamati. a b c Gambar 13 Contoh Ukuran Pekarangan a) Sempit, b) Sedang, dan c) Luas Banyaknya rumah dengan pekarangan sempit membuktikan bahwa ruang terbuka hijau pada lahan privat juga rawan untuk dikonversi menjadi fungsi lahan terbangun. Pekarangan belum mendapat perhatian pada pembangunan rumah, terutama pada permukiman padat penduduk. Namun di sisi lain, penyediaan ruang terbuka hijau pada lahan privat seperti halaman atau pekarangan bangunan berpotensi besar menyumbangkan manfaat bagi ruang terbuka hijau kota.

11 47 Fungsi yang dimiliki oleh pekarangan terkait erat dengan elemen penyusunnya. Elemen yang terdapat pada suatu tapak akan menciptakan karakter tapak itu. Fungsi produksi pekarangan dapat muncul dari keberadaan elemenelemen yang berfungsi sebagai sarana pembudidayaan atau perkembangbiakan dan menghasilkan pendapatan bagi rumah tangga, seperti pembudidayaan tanaman pada kebun ataupun di dalam pot, serta adanya kandang binatang untuk perkembangbiakan. Fungsi ekologi diwujudkan dari peran vegetasi dalam merekayasa iklim mikro di sekitar halaman rumah. Fungsi sosial budaya muncul dari pemakaian elemen-elemen taman yang mengakomodasi kebutuhan penggunanya untuk bersosialisasi ataupun elemen yang mencerminkan kebiasaan dan budaya setempat, seperti adanya bangku taman ataupun ruang-ruang yang disediakan untuk penggunaan bersama. Sedangkan fungsi estetika akan terpenuhi apabila terdapat pemilihan dan penataan elemen-elemen taman secara menarik sehingga menciptakan nilai visual yang tinggi. Elemen Lanskap Pekarangan Hardscape Elemen keras atau hardscape pada taman maupun pekarangan berfungsi sebagai pengisi lahan untuk tujuan tertentu. Pada lokasi penelitian ini, elemen hardscape yang paling banyak digunakan adalah pot. Gambar 14 berikut ini adalah contoh elemen taman yang pada umumnya berada di pekarangan dan juga terdapat di pekarangan warga RW 08 Kelurahan Lenteng Agung:

12 48 (%) Gambar 14 Grafik Presentase Kepemilikan Hardscape di Pekarangan Berdasarkan pengamatan di lapang mengenai elemen-elemen keras atau hardscape, maka dilakukan perbandingan jumlah keberadaan masing-masing elemen terhadap jumlah keseluruhannya dengan hasil seperti yang ditampilkan pada Gambar 15 sebagai berikut: Pagar 25,00 Pergola 1,70 Sculpture 0,46 Lampu 4,63 Gazebo 0,93 Kandang 4,17 Paving 25,62 Pot gantung 2,47 Tempat sampah 5,56 Kolam 1,54 Pot 27,93 Gambar 15 Presentase Preferensi Hardscape di Pekarangan Penjelasan dari masing-masing hardscape di pekarangan akan diuraikan seperti berikut: a. Pot Elemen yang paling banyak dimiliki warga di pekarangan adalah pot, yaitu sebanyak 90,05 %. Hal ini dikarenakan banyaknya rumah warga yang memiliki

13 49 sisa ruang terbuka sempit atau bahkan tidak ada. Salah satu strategi penghijauan yang digunakan agar lingkungan rumah tetap hijau adalah dengan menggunakan tanaman dalam pot sehingga preferensi pemanfaatan lahan rata-rata oleh masingmasing pemilik rumah di RW 08 Kelurahan Lenteng Agung tertinggi juga adalah untuk memiliki pot tanaman di pekarangan, yaitu sejumlah 27,93 %. Pot yang digunakan terdiri atas berbagai bahan dan ukuran sesuai dengan selera, luas lahan yang tersedia, dan jenis tanaman yang dipakai. Peletakannya adalah di tepi halaman, sapanjang garis bangunan, maupun diletakkan di lahan atap bangunan. Pot yang ditata dengan rapih dan teratur menghasilkan fungsi estetika yang tinggi. b. Pavement Elemen yang banyak digunakan selanjutnya dalah paving atau perkerasan yaitu sebanyak 82,59 %. Sebagian besar rumah warga memiliki ruang terbuka yang didominasi oleh perkerasan dengan pemanfaatan beragam, antara lain: sebagai carport atau ruang meletakkan kendaraan, ruang tempat menjemur, maupun untuk meletakkan barang-barang yang tidak terpakai. Keterbatasan lahan hijau di pekarangan menyebabkan tingginya suhu pada siang hari serta menimbulkan genangan air pada saat hujan karena air tidak dapat meresap ke permukaan paving. Pilihan penggunaan perkerasan pada pekarangan secara ratarata adalah sebesar 25,62 % dibandingkan elemen hardscape lainnya. c. Pagar Pemanfaatan pagar adalah sebagai pembatas dan panghalang pandang dari arah luar menuju ke rumah ataupun sebaliknya. Berdasarkan pengamatan, pagar di pekarangan warga berupa pagar alami, yaitu menggunakan tanaman dan nonalami, yaitu menggunakan bahan kayu, semen, dan besi. Dari hasil pengamatan, terdapat 80,60 % rumah yang memiliki pagar di pekarangannya dan pilihan untuk memiliki pagar dibandingkan elemen yang lain adalah sebesar 25 %. d. Tempat Sampah Tempat sampah terdapat di dalam maupun luar pekarangan. Tempat sampah yang dijumpai pada pengamatan sebanyak 17,91 % dari rumah warga berupa keranjang sampah dan bak sampah permanen yang berfungsi untuk

14 50 menampung kotoran dan sisa-sisa keperluan rumah tangga yang sudah tidak digunakan. Tujuan penggunaan tempat sampah di area pekarangan adalah untuk menghindari bau dan kotor dalam rumah, serta memudahkan pengangkutan oleh petugas sampah setempat. Sebagian penduduk telah menggunakan tempat sampah komposter, yaitu sejenis wadah sampah yang sekaligus berfungsi untuk membusukkan sampah organik rumah tangga hingga menjadi kompos sehingga dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman maupun dijual. Preferensi penggunaan elemen tempat sampah di pekarangan adalah sebesar 5,56 % dibandingkan elemen lainnya. e. Lampu Taman Sebanyak 14,93 % rumah yang diamati telah memanfaatkan lampu di pekarangan. Fungsinya adalah sebagai penerangan di malam hari. Namun sebagian besar pekarangan tidak dilengkapi lampu terkait luasan lahan yang terbatas sehingga dianggap tidak memerlukan penerangan untuk pekarangan. Keberadaan lampu taman sesuai dengan fungsi estetika pekarangan. Elemen ini memiliki nilai preferensi oleh pemilik pekarangan sebesar 4,63 %. f. Kandang Fungsi produksi pada pekarangan dapat dipenuhi melalui perkebunan dan peternakan sederhana dengan memanfaatkan lahan yang ada. Sebanyak 3,69 % rumah warga terdapat kandang binatang sebagai perkembangbiakan binatang maupun sekedar mengembangkan hobi. Binatang yang menjadi pilihan untuk dipelihara antara lain ayam, burung, dan ikan. g. Pot Gantung Selain pot di permukaan tanah, pot gantung merupakan alternatif untuk penghijauan pada lahan-lahan privat dengan luas terbatas. Sebanyak 7,96 % dari rumah warga menggunakan elemen pot gantung pada pekarangan. Pot juga dapat disusun menempel di permukaan dinding. Hal ini sesuai dengan fungsi ekologi dan estetika pekarangan, yaitu dapat merekayasa iklim mikro sekaligus memberi keindahan pekarangan. Berdasarkan pengamatan, pot gantung ditempatkan di sekitar teras rumah ataupun menggantung di percabangan pohon. Apabila

15 51 dibandingkan dengan elemen hardscape lain di pekarangan, maka elemen pot gantung memiliki nilai preferensi sebesar 2,47 %. h. Pergola Sebanyak 5,47 % dari jumlah rumah pengamatan memiliki pergola di pekarangannya, yaitu berupa pergola alami dan buatan. Pergola alami menggunakan tanaman sebagai kanopinya, sedangkan pergola nonalami menggunakan penutup dari seng atau plastik fiber. Pergola dimanfaatkan sebagai kanopi di depan pintu masuk ataupun pintu pagar untuk memberi kesan teduh dan nyaman terutama saat siang hari, dan mereduksi basah kepada objek-objek di bawahnya ketika hujan. Pengaturan pergola yang baik menciptakan nilai keunikan dan keindahan tersendiri. Hal ini sesuai dengan fungsi estetika dan fungsi ekologi pekarangan. Nilai preferensi elemen pergola memiliki perbandingan 1,70 % terhadap elemen-elemen lain. i. Kolam Unsur air pada kolam dimanfaatkan sebagai penyejuk pekarangan, di mana suara gemericik air menciptakan akustik alami. Selain itu, kolam digunakan sebagai habitat tumbuhan dan satwa air sehingga memenuhi fungsi estetika dan ekologi pekarangan. Sebanyak 4,98 % dari jumlah pengamatan mempunyai kolam di pekarangan. Faktor yang mempengaruhi sedikitnya jumlah pemilik kolam adalah pembuatan dan pengelolaan yang tinggi, serta keterbatasan lahan yang tersedia. Beberapa pemilik rumah membuat kolam di pekarangan depan, dan sebagian ada pula yang membuat kolam di pekarangan samping maupun belakang. Nilai preferensi masyarakat terhadap elemen kolam dibandingkan dengan elemen-elemen lain adalah 1,54 %. j. Gazebo Fungsi utama gazebo adalah sebagai tempat berkumpul di ruang luar. Dari beberapa rumah yang diamati, sebanyak 2,99 % memiliki gazebo di pekarangannya. Selain fungsi sosial yang tinggi, gazebo juga mempunyai peran dalam meningkatkan nilai estetika. Faktor yang mempengaruhi kepemilikan gazebo adalah luasan lahan, biaya, dan letak penempatan yang baik, sehingga gazebo hanya terdapat di sebagian rumah saja. Preferensi masyarakat untuk

16 52 memilih gazebo di pekarangan dibandingkan elemen-elemen lain adalah sebesar 0,93 %. k. Sculpture Sculpture merupakan elemen tambahan di pekarangan. Fungsinya utamanya adalah sebagai estetika taman. Pada pengamatan, terdapat 1,49 % dari jumlah pekarangan yang memiliki sculpture dan sebagian besar menggunakan batu sebagai bahannya. Pada pekarangan gaya Bali, sculpture dimanfaatkan untuk proses ibadah. Nilai preferensi masyarakat terhadap kepemilikan sculpture di pekarangan dibandingkan elemen-elemen lain adalah sebesar 0,46 %. Gambar 16 di bawah in merupakan contoh elemen hardscape yang dijumpai pada pekarangan di lokasi penelitian. Gambar 16 Penggunaan Elemen Hardscape di Pekarangan Softscape Struktur ruang terbuka hijau yang dijumpai di halaman rumah pada kawasan ini dikelompokkan menjadi empat, yaitu pohon, semak, ground cover, dan tanaman

17 53 merambat. Gambar 17 berikut adalah perbandingan kepemilikan masing-masing struktur pada rumah warga RW 08 Kelurahan Lenteng Agung: Gambar 17 Grafik Presentase Kepemilikan Softscape di Pekarangan Gambar 18 Presentase Keberadaan Softscape di Pekarangan Peran vegetasi pada bangunan rumah sangat penting dalam memenuhi kebutuhan ruang terbuka hijau privat. Rumah dengan pekarangan luas memungkinkan penanaman beberapa batang pohon, namun berbeda dengan pekarangan sempit atau bahkan tanpa pekarangan akan memiliki tantangan dalam mempertahankan keberadaan area hijau di dalamnya. Berdasarkan hasil pengamatan pada rumah-rumah sampel, elemen softscape yang peling banyak dimiliki adalah semak, baik yang ditanam langsung maupun ditanam pada pot, sedangkan elemen yang paling sedikit dijumpai adalah tanaman rambat. Hal ini kemungkinan diakibatkan karena kurangnya pengetahuan warga mengenai jenis dan peran tanaman rambat terutama untuk memanfaatkan lahan yang terbatas.

18 Jalur Hijau Jalan Pemanfaatan ruang terbuka hijau jalur jalan pada jalur lalu lintas adalah ruang terbuka hijau yang dibangun dan disediakan pada bagian jalan yang direncanakan khusus untuk jalur kendaraan, parkir maupun kendaraan berhenti. Jalur hijau yang seharusnya tersedia pada perkotaan banyak mengalami okupasi oleh penggunaan jalan kendaraan dan bangunan-bangunan di sepanjang jalan terutama pada kawasan dengan intensitas penggunaan tinggi. Peran utama jalur jalan adalah menyediakan rasa aman bagi siapapun yang memanfaatkannya. Sedangkan penghijauan merupakan salah satu cara untuk menciptakan kenyamanan guna mendukung pemanfaatan jalur jalan. Lokasi jalur hijau jalan pada kawasan penelitian dapat dilihat pada Gambar 19 di bawah ini. Gambar 19 Lokasi Jalur Hijau Jalan Pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung terdapat bentuk pemanfaatan ruang terbuka hijau pada jalur tepi jalan, separator jalan, serta pulau jalan dengan pembahasan sebagai berikut:

19 55 a. Tepi Jalan Jalur hijau tepi jalan yang menjadi topik pembahasan pada penelitian ini merupakan jalur yang terdapat di tepi jalan utama, yaitu jalur jalan yang memiliki intensitas penggunaan oleh kendaraan dan pejalan kaki yang tinggi, serta merupakan penghubung antar wilayah kota. Berdasarkan peraturan pembangunan yang umum berlaku, suatu perpetakan akan memiliki garis sempadan bangunan yang merupakan batasan daerah terbangun. Bagian dari perpetakan di antara garis sempadan jalan dan garis sempadan bangunan adalah daerah terbuka tanpa bangunan. Pada bagian ini daerah hijau menjadi penting karena selain memiliki fungsi ekologis, juga merupakan elemen estetis yang secara visual dapat langsung dinikmati dari arah jalan. Pola pemanfaatan ruang terbuka hijau pada sepanjang jalan utama ini membentuk pola linier yang memanjang dikarenakan bentukan ruang-ruang di tepi jalan ini merupakan suatu jalur penghubung secara linier antaraktivitas atau bangunan rumah maupun bangunan-bangunan perdagangan sehingga menimbulkan sejumlah akumulasi pengunjung yang tinggi secara periodik berdasarkan waktu berlangsungnya aktivitas sepanjang jalur sirkulasi jalan utama. Adanya beberapa bangunan dengan aktivitas perdagangan dan jasa yang terletak berdekatan satu sama lain dalam kawasan ini, maka dengan sendirinya akan menjadi daya tarik yang kuat untuk menjadi tempat pemberhentian sedangkan pengguna jalan yang memiliki intensitas tinggi adalah kendaraan satu arah dan pejalan kaki. Ruang terbuka hijau pada tepi jalan terbentuk secara binaan atau dibuat secara sengaja untuk memenuhi tujuan tertentu dan akan terus berkembang sesuai dengan kemajuan kebutuhan transportasi. Jalur jalan dimanfaatkan oleh kendaraan pribadi, angkutan umum, sepeda, dan pejalan kaki. Penggunaan yang didominasi oleh kendaraan bermotor dengan satu arah menyebabkan arus kendaraan memiliki kecepatan cenderung tinggi. Hal ini tidak didukung oleh penyediaan ruang yang aman bagi pejalan kaki maupun kendaraan tidak bermotor lainnya. Terdapat dua ruas jalan utama berbeda pada kawasan ini yang terbagi berdasarkan perbedaan tujuan perjalanan, ruas jalan pertama terletak di antara bangunan-bangunan utama dan ruas jalan kedua terletak di antara bangunan dengan bantaran rel kereta api.

20 56 Ruas pertama Ruas jalan pertama terletak di antara bangunan-bangunan berupa perumahan maupun bangunan umum yang menghubungkan secara satu arah dari Lenteng Agung menuju Depok. Pola pembagian ruang pada jalan ini secara garis besar terdiri atas jalan kendaraan, saluran drainase, dan ruang utilitas. Jalan kendaraan memiliki lebar sekitar 6 meter dan pada tepinya berbatasan dengan ruang utilitas yang digunakan untuk perangkat jalan seperti tiang listrik, lampu jalan, papan penunjuk arah, serta sekaligus sebagai akses pejalan kaki. Kemudian terdapat saluran drainase terbuka di sepanjang tepinya, juga drainase tertutup pada beberapa titik. Gambar 20 Lokasi RTH Tepi Jalan Ruas Pertama Pola tepi jalan pertama secara umum dapat dilihat pada gambar berikut ini. Gambar 21 Ilustrasi Pola Tepi Jalan pada Ruas Pertama

21 57 Saluran drainase terletak di sisi kiri dan kanan jalan dengan lebar meter. Jarak antara batas badan jalan dengan saluran drainase adalah sekitar 1 meter, sedangkan 1 meter setelah batas saluran drainase merupakan batas bangunan. Selain permukaan yang terbuka, terdapat pula saluran drainase tertutup terutama pada bagian depan setiap pintu gerbang bangunan sepanjang tepi jalan sebagai akses bagi pemiliknya. Kondisi tersebut dapat dilihat pada Gambar 22 ini. Gambar 22 Kondisi Saluran Drainase di Ruas Jalan Pertama Shelter bus terletak di depan SMAN 38, yaitu pada ruas jalan bagian awal. Shelter ini merupakan fasilitas yang disediakan bagi pelajar di sekitarnya untuk memudahkan penggunaan sarana transportasi bus, namun pada kenyataan di lapang, pengguna paling intensif yang berada di tapak adalah pedagang kaki lima. Jalur pedestrian juga hanya terdapat di depan SMAN 38, yaitu selebar 3 meter, yang dilengkapi dengan beberapa pohon peneduh yang menjadikan pedestrian merasa nyaman. Selain di lokasi tersebut, jalur pedestrian kurang mendapat perhatian yang dibuktikan dengan tidak tersedianya ruang yang cukup untuk berjalan dengan nyaman dan aman (Gambar 23). Rata-rata lebar ruang yang tersedia untuk berjalan kaki tidak lebih dari 80 cm, atau lebih kecil dari standar jalan untuk satu orang. Selain itu, jalan bagi pejalan kaki sering digunakan oleh sepeda motor yang bergerak melawan arus sehingga kebutuhan ruang bagi pejalan kaki semakin tidak terpenuhi.

22 58 Gambar 23 Kondisi Jalur Pedestrian pada Ruas Jalan Pertama Di sepanjang ruas jalan utama terdapat baberapa papan penunjuk arah dan penunjuk tempat yang terletak pada hampir setiap persimpangan gang di mana terdapat lokasi-lokasi penting di dalamnya seperti kantor kelurahan dan sekolah. Selain itu, setiap jarak meter terdapat lampu jalan dan tiang listrik di sisi kiri dan kanan jalan. Lampu dan tiang listrik berada pada bahu jalan, yaitu tepat di depan batas bangunan. Peranan vegetasi sebagai peneduh maupun pengarah tidak tersedia di tepi jalan utama. Sebagian besar pohon maupun semak yang terlihat adalah milik rumah-rumah yang terletak di tepi jalan. Jarak antara garis sempadan bangunan dan garis sempadan jalan sangat sempit sehingga tidak tersedia ruang yang cukup untuk penanaman. Hal ini menjadi salah satu penyebab ketidaknyamanan ketika memanfaatkan jalan akibat teriknya suasana di sekitar jalan terutama pada siang hari. Titik yang paling nyaman berada di depan SMAN 38 di mana selain memiliki jalur pedestrian lebar dan shelter bus, juga terdapat tiga pohon peneduh untuk memberi naungan kepada masyarakat yang memanfaatkan ruang di sekitarnya. Ruas kedua Ruas jalan kedua berada di antara permukiman RW 08 Kelurahan Lenteng Aguung dan jalur rel kereta api. Jalan kedua meruapakan jalur satu arah yang mengakomodasikan kendaraan bermotor dari arah Lenteng Agung untuk memutar arah balik dengan memotong jalur kereta. Berbeda dengan ruas jalur pertama, jalur ini memiliki fasilitas jalan yang lebih baik seperti jalur pejalan kaki dan vegetasi peneduh. Gambar 24 di bawah ini menunjukkan lokasi ruas jalan kedua.

23 59 Gambar 24 Lokasi RTH Tepi Jalan Ruas Kedua Penggunaan ruang pada ruas jalan kedua dapat dilihat pada Gambar 26 berikut ini. Gambar 25 Ilustrasi Pola Tepi Jalan pada Ruas Kedua Lebar jalan utama ini adalah sekitar 8 meter dan dilengkapi dengan jalur pejalan kaki sebesar 1,7 meter yang nyaman karena terdapat pohon peneduh di sepanjang jalan. Saluran drainase terletak pada sisi luar jalan setelah jalur pedetrian dengan lebar 1 meter. Jenis pohon yang mendominasi penanaman di sepanjang ruas jalan ini adalah kenari, petai cina, lamtoro, mengkudu, dan kecrutan. Selain pohon, pada beberapa bagian tepi jalan juga ditanami dengan semak seperti pandan dan teh-tehan seperti pada contoh Gambat 26 berikut.

24 60 Gambar 26 Kondisi Tepi Jalan Ruas Kedua Elemem Lanskap Ruas jalan pertama dan kedua memiliki elemen hardscape yang serupa, namun sangat berbeda pada elemen softscape. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 20 dan 21 di bawah ini. Tabel 20 Elemen Hardscape pada Tepi Jalan Ruas Pertama Ruas Kedua - Pot tanaman - Jalur pedestrian - Saluran drainase - Pot tanaman - Lampu jalan - Saluran drainase - Lampu jalan Sumber: Hasil pengamatan lapang Tabel 21 Elemen Softscape pada Tepi Jalan Klasifikasi Nama Latin Nama Lokal Semak Acalipha macrophyla Teh-tehan Pandanus pygmaeus Pandan Pohon Eugenia aquea Jambu air Leucaena glauca Lamtoro Leucaena leucocephala Petai cina Morinda citrifolia Mengkudu Plumeria rubra Kamboja Spathodea campanulata Kecrutan Sumber: Hasil pengamatan lapang Penutupan lahan oleh vegetasi sepanjang ruas jalan pertama adalah sebesar 5% dari total panjang ruas tepi jalan, sedangkan pada ruas jalan kedua vegetasi menutupi 48% dari total panjang ruas tepi jalan.

25

26 63

27 Gambar 27 Gambar b. Separator Jalan Separator jalan adalah bagian dari jalan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan, dengan bentuk memanjang sejajar jalan dimaksudkan untuk memisahkan jalur. Separator jalan berada sepanjang 120 meter dan hanya terdapat pada ruas kedua jalan utama di RW 08 Kelurahan Lenteng Agung. Separator jalan ini memisahkan antara jalur cepat dan jalur lambat di depan stasiun Universitas Pancasila. Dengan lebar 3 meter, separator ini mimiliki jalur pedestrian selebar 1,5 meter, saluran drainase sebesar 0,5 dan sisanya sebagai tempat penanaman pohon dan ground cover (Gambar 29). Secara keseluruhan, lokasi separator jalan berada pada tapak dengan kemiringan datar. Gambar 29 Penggunaan Ruang Separator Jalan Adanya separator jalan selain berfungsi sebagai pembatas antara jalur cepat dan jalur lambat kendaraan, juga berfungsi untuk meningkatkan keamanan bagi pejalan kaki yaitu sebagai tempat tunggu bagi penyeberang jalan. Pengguna yang memiliki intensitas pemanfaatan tertinggi adalah mahasiswa, dengan aktivitas menyebrang dan menunggu kendaraan umum terjadi dari pagi hingga malam hari. Untuk fasilitas penyeberangan jalan, telah tersedia jembatan penyeberangan, namun sebagian besar pejalan kaki memilih untuk menyeberang dengan singgah melalui median jalan karena jembatan penyeberangan dianggap kurang efisien. Separator jalan ini juga dapat dimanfaatkan yaitu dengan adanya ruang bagi penanaman vegetasi sebesar 1 meter.

28 65 Vegetasi yang terdapat pada median jalan ini berupa pohon-pohon untuk peneduh sekaligus sebagai penyerap polusi yang diakibatkan oleh intensitas kendaraan bermotor sekitar yang tinggi seperti kersen dan kenari, serta ground cover berupa rumput sebagai penyerap air dan menutupi permukaan tanah (Gambar 30). Gambar 30 Kondisi Separator Jalan Elemem Lanskap Separator jalan ini memiliki elemen hardscape berupa saluran drainase dan jalur pedestrian di sepanjang jalur separator. Sedangkan elemen softscape yang dapat dijumpai adalah dua jenis pohon yaitu kersen (Muntingia calabura) dan kenari (Canarium sp.). Tanaman ini memenuhi fungsi ekologi untuk menyerap polutan, menyerap bising, dan menahan angin. Gambar 31 memeperlihatkan tampak potongan pengunaan ruang pada separator jalan.

29

30 67 c. Pulau Jalan Selain pada tepidan separator, bagian dari jalur hijau jalan yaitu pulau jalan atau traffic island. Terdapat dua buah pulau jalan di RW 08 Kelurahan Lenteng Agung yang terletak di awal dan akhir persimpangan jalan utama dengan bentuk segitiga. Masing-masing pulau jalan memiliki luas 420 dan 480 m 2. Pulau jalan merupakan salah satu ruang terbuka hijau binaan yang dirancang untuk memenuhi fungsi utamanya sebagai pengatur lalu lintas dan pembatas jalan. Pulau jalan ini juga dimanfaatkan sebagai sarana penunjuk arah, di mana terdapat papanpapan penunjuk arah sarta beberapa media publikasi. Lokasi kedua pulau jalan ditunjukkan pada Gambar 32 berikut ini. Gambar 31 Gambar 32 Lokasi RTH Pulau Jalan Pulau jalan yang terdapat di kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung umumnya memiliki lahan yang relatif sempit dan berisi vegetasi berupa semak dan ground cover agar tidak menghalangi pandangan bagi pengemudi kendaraan. c.1. Pulau Jalan 1 Pulau jalan ini memiliki luas sebesar 420 m 2 dan terletak di awal perpecahan jalan yang memisahkan ruas jalan utama menjadi dua bagian. Terdapat pagar yang mengelilingi tapak untuk mencegah penggunaan di dalamnya. Lokasi pulau jalan yang berada pada persimpangan banyak

31 68 dimanfaatkan sebagai tempat menaruh papan-papan penunjuk arah dan penunjuk tempat. Penataan penanaman vegetasi memenuhi aspek fungsional namun kurang memperhatikan fungsi estetika. Pemilihan vegetasi kurang semarak dan penataannya kurang teratur, berbanding terbalik dengan potensi pulau jalan sebagai identitas kawasan di mana seharusmya dapat dirancang agar memiliki daya tarik sekaligus simbol kawasan. Gambar 33 di bawah ini merupakan kondisi RTH pulau jalan pertama. GGambar 33 Kondisi Pulau Jalan Pertama c.2. Pulau Jalan 2 Pulau jalan kedua terletak di akhir persimpangan jalan yang menyatukan kembali dua ruas jalan yang berbeda dan keberadaannya sekaligus sebagai batas wilayah RW 08 Kelurahan Lenteng Agung. Pulau jalan ini lebih besar dibandingkan dengan pulau jalan pertama, yaitu seluas 480 m 2 dan memiliki variasi vegetasi yang lebih beragam seperti: spider lily, dracaena, dan lili paris. Terdapat pagar yang mengelilingi pulau jalan ini, namun ada celah pada salah satu sisinya yang tidak berpagar untuk sirkulasi pengelolaan. Penataan ruang terbuka hijau pada pulau jalan kedua penting sebagai pintu keluar kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung. Kondisi pemanfaatan eksisting pada saat ini selain ditanami oleh berbagai vegetasi juga sebagai tempat menaruh papan iklan. Kondisi RTH pulau jalan kedua dapat dilihat pada Gambar 34 berikut.

32 69 Elemen Lanskap Gambar 34 Kondisi Pulau Jalan Kedua Keberadaan elemen lanskap pada kedua pulau jalan dapat dilihat pada Tabel 22 dan 23 di bawah ini. Tabel 22 Elemen Hardscape pada RTH Pulau Jalan Pulau Jalan Pertama Pulau Jalan Kedua - Papan penunjuk arah dan tempat - Billboard iklan - Pagar pembatas - Pagar pembatas - Tugu batas wilayah - Jalur sirkulasi pejalan kaki Sumber: Hasil pengamatan lapang Tabel 23 Elemen Softscape pada Tepi Jalan Klasifikasi Nama Latin Nama Lokal Ground cover Axonopus compressus Rumput paetan Chlorophytum comosum Lili paris Imperata cylindrica Ilalang Semak Aerva sanguinolenta Bayam merah Hibiscus sabdariffa Spider lily Dracaena marginata Tricolor Dracaena Sumber: Hasil pengamatan lapang Penataan elemen lanskap pada pulau jalan ini berfungsi untuk memenuhi fungsi estetika agar menambah nilai visual bagi pengendara yang melintasi.selain itu RTH pulau jalan ini juga memiliki fungsi ekologi untuk menyerap polutan. Layout kedua pulau jalan disajikan pada Gambar 35 dan 36 berikut.

33

34 70

35 Gambar 35 Gambar RTH pada Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial Ruang terbuka hijau publik atau kepemilikan bersama merupakan fasilitas yang harus diperhatikan sebagai pemenuhan salah satu kebutuhan sosial masyarakat. Ruang terbuka hijau publik dapat berupa taman, lapangan olahraga, lapangan bermain, dan sebagainya. Fasilitas umum dan fasilitas sosial yang terdapat di kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung terbagi atas ruang terbuka hijau berupa taman lingkungan, halaman sekolah, serta halaman fasilitas lainnya seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 37 ini. Gambar 37 Lokasi RTH pada Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial a. Taman Lingkungan Pada lokasi penelitian, taman lingkungan yang dapat dijumpai sebagian besar adalah taman olahraga. Terdapat beberapa area yang memiliki taman olehraga tingkat rukun tetangga (RT). Wujud taman lingkungan berupa taman olahraga disebabkan salah satunya adalah keterbatasan lahan yang tersisa untuk ruang terbuka hijau publik sehingga dengan adanya taman olahraga yang didominasi oleh rumput maupun tanah diharapkan dapat menghasilkan fungsi yang beragam (multifungsi). Taman ini selain dimanfaatkan oleh warga setempat untuk berolahraga, juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan lainnya seperti bermain bagi anak-anak dan event-event pada akhir pekan.

36 73 Karena taman lingkungan di kawasan ini ditujukan untuk menampung aktivitas olahraga warga setempat, maka penutupan lahan didominasi oleh tanah ataupun perkerasan. Seluruh taman lingkungan terletak dikelilingi oleh permukiman warga. Pada tepi taman dibatasi oleh bebrapa pohon penaung, semak, serta beberapa groundcover. Terdapat 6 lokasi taman lingkungan, dan hanya 4 di antaranya yang sering dimanfaatkan warga dengan intensitas penggunaan cukup tinggi. Lokasi-lokasi tersebut dapat dilihat pada gambar sebelumnya. Jenis olahraga yang menjadi standar dalam pemanfaatan tamantaman ini adalah badminton, beberapa yang lain adalah voli. Masing-masing taman olahraga ini memiliki luas rata-rata 350 m 2. Pemanfaatan oleh warga terutama anak-anak terjadi pada sore hari. pada siang hari suasana di masing-masing lokasi taman dirasa sangat terik karena penataan vegetasi yang sedemikian rupa sehingga jarang terjadi aktivitas siang hari (Gambar 38). Sedangkan pada akhir pekan, pemanfaatan RTH taman olahraga ini juga terjadi pada pagi hari oleh orang dewasa dan anak-anak. Gambar 38 Kondisi RTH Taman Lingkungan

37 74 Elemen Lanskap Keberadaan elemen lanskap pada RTH taman lingkungan pada kawasan penelitian ini terdiri atas hardscape berupa conblock, lampu sorot, serta bebatuan. Sementara itu, elemen softscape dapat dilihat pada Tabel 24 berikut. Tabel 24 Elemen Softscape pada RTH taman lingkungan Klasifikasi Nama Latin Nama Lokal Semak Bismarckia nobilis Palem bismark Cordyline fruticosa Hanjuang merah Dracaena sp. Dracaena Heliconia sp. Pisang hias Sansiviera sp. Lidah mertua Pohon Averrhoa pentandra Belimbing Carica papaya Pepaya Eugenia aquea Jambu air Mangifera indica Mangga Muntingia calabura Kersen Nephelium lappaceum Rambutan Sumber: Hasil pengamatan lapang RTH taman lingkungan pada dasarnya merupakan area untuk memenuhi kebutuhan sosial dan budaya penduduk yaitu dengan memanfaatkannya sebagai tempat berkumpul dan beraktivitas. Selain itu, penataan RTH dapat menciptakan fungsi estetika sehingga pengguna taman mendapatkan merasakan keindahan dan kenyamanan. Contoh layout taman lingkungan pada lokasi penelitian ini disajiakan pada Gambar 39 dan 40 di bawah ini.

38

39 74

40 77 b. Sekolah Terdapat tujuh buah sekolah pada lokasi ini yaitu SMA 38, SMP 98, MAN 13, SMK 62, SMP 242, SMP YPM, dan SD N 07 Pagi. Masing-masing sekolah memiliki luasan dan penggunaan ruang yang bervariasi. Ruang terbuka hijau merupakan salah satu bagian yang mengisi ruang terbuka, luasan RTH yang dijumpai mulai dari 158 m 2 hingga 1233 m 2. Rata-rata luasan RTH pada semua sekolah yaitu 526 m 2. Ruang terbuka hijau di sekolah dapat berupa kebun, taman sekolah, jalur hijau, lapangan rumput, hutan sekolah, atau taman tanaman obat keluarga (TOGA). Sedangkan ruang terbuka terbangun merupakan ruang terbuka yang berisi elemen keras penunjang kegiatan outdoor. Elemen keras tersebut dapat berupa tempat parkir, shelter, area duduk-duduk, lapangan olahraga, dan lain sebagainya. Gambar 41 menunjukkan kondisi RTH pada beberapa sekolah. Penggunaan ruang terbuka terbangun memiliki tingkat aktivitas yang cenderung lebih tinggi dibandingkan pada ruang terbuka hijau. Hal ini disebabkan oleh tingkat mobilitas yang tinggi pada setiap aktivitas yang dilakukan sehingga pergerakan di atas perkerasan dirasa lebih mudah dilakukan daripada di atas rumput atau groundcover. Namun adanya ruang terbuka hijau memeberikan kenyamanan tersendiri terutama untuk aktivitas pasif seperti duduk-duduk serta memiliki nilai visual tinggi dalam memecah kemotononan bangunan yang terkesan kaku. Tabel 25 berikut menampilkan perbandingan luas area sekolah dan penggunaannya. Tabel 25 Luasan Ruang dalam Lingkungan Sekolah Sekolah Luas (m 2 ) Ruang Terbuka (m 2 ) Ruang Terbuka Hijau (m 2 ) Ruang Terbuka Terbangun (m 2 ) Ruang Terbangun (m 2 ) Koefisien Dasar Bangunan (%) SMA % SMP % MAN % SMK % SMP % SMP YPM % SD % Rataan % Sumber: Survey dan Data Sekolah

41 78 a b c d Gambar 39 Gambar 40 Gambar 41 Kondisi Ruang Terbuka Hijau di Halaman Sekolah (a) SMPN 242 (b) SMKN 62 (c) SMAN 38 (d) SMPN 98 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa koefisien dasar bangunan secara rata-rata masih di atas 50% atau lebih besar daripada luas ruang terbuka. Sedangkan ruang terbuka hijau sendiri hanya sebesar 15% dari luas masingmasing sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau di sekolah belum dapat memenuhi kebutuhan ruang bagi aktivitas siswa dibandingkan.dengan di dalam bangunan. Secara umum, tapak berbentuk segi empat baik beraturan maupun tak beraturan. Lapangan olahraga sebagai tempat aktivitas outdoor utama terletak di tengah-tengah bangunan berbentuk letter U. Posisi ini ditemukan hampir pada semua sekolah di kawasan ini, di mana sebagian besar beralaskan perkerasan atau paving. Pada bagian depan koridor kelas biasanya dibuat planter box atau bak tanaman yang umumnya disusun berjajar. Bak tanaman tersebut diisi oleh tanaman hias seperti perdu maupun groundcover. Pada beberapa sekolah juga menggunakan tanaman dalam pot ataupun pot gantung untuk memberikan suasana hijau dan indah karena keterbatasan lahan.

42 79 Gambar 42 Planter Box dan Tanaman dalam Pot di Sekolah Menurut Sari (2006), luasan ruang terbangun yang ideal bagi sebuah sekolah adalah sebesar 40%, sedangkan luasan ruang terbuka sebesar 60% dari luasan total tanah yang ada. Dengan komposisi ruang terbuka terbangun masksimal sebesar 37% dan ruang terbuka hijau minimal sebesar 23% serta koefisien dasar bangunan maksimal 40%, maka Tabel 26 berikut ini adalah luasan masing-masing ruang ideal pada sekolah. Tabel 26 Luasan Ruang dalam Lingkungan Sekolah Sekolah Luas Ruang Terbangun (m 2 Ruang Terbuka Hijau Ruang Terbuka ) (m 2 ) Terbangun (m 2 ) Seharusnya Seharusnya Seharusnya Eksisting Eksisting Eksisting (maks 40%) (min 23%) (maks 37%) SMA SMP MAN SMK SMP SMP YPM SD Sumber: Survey dan Data Sekolah, Penggunaan ruang-ruang pada sekolah terlihat belum memenuhi standar ideal secara luas area. Hal ini terlihat dari hampir seluruh sekolah memiliki selisih perbandingan antara luas ideal dan eksisting yang cukup tinggi. Keberadaan ruang terbuka hijau belum mendapat perhatian yang optimal sehingga perlu adanya penataan dan pengelolaan ruang terbuka untuk memaksimalkan fungsi-fungsi yang masih dapat dimanfaatkan.

43 80 Elemen Lanskap Elemen hardscape pada sekolah memiliki banyak variasi, antara lain pot tanaman, pot gantung, pagar taman, kolam, planter box, batu hias, serta sculpture. Elemen softscape juga terdiri atas berbagai jenis tanaman yang disajikan pada Tabel 27 di bawah ini. Tabel 27 Elemen Softscape pada RTH Sekolah Klasifikasi Nama Latin Nama Lokal Ground cover Axonopus compressus Rumput paetan Duranta erecta Duranta Sansiviera sp. Lidah mertua Semak Adenium abesum Adenium Bougenvillea sp. Bugenvil Cordyline fruticosa Hanjuang merah Dracaena sp. Dracaena Heliconia sp. Pisang hias Hiibiscus rosasinensis Kembang sepatu Ixora sp. Soka Pohon Acras zapota Sawo Araucaria heterophyla Cemara norflok Cinnamomum burmanii Kayu manis Crysalidocarpus lutescense Palem kuning Ficus lyrata Biola cantik Mangifera indica Mangga Muntingia calabura Kersen Nephelium lappaceum Rambutan Merambat dan epifit Asplenium nidus Kadaka Piper betle Sirih Sumber: Hasil pengamatan lapang Fungsi ruang bergantung pada aktivtas yang ada di dalamnya. Secara garis besar, aktivitas di sekolah dapat dibagi menjadi fungsi edukatif dan fungsi non edukatif. Ruang edukatif adalah ruang yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sedangkan ruang non edukatif adalah ruang yang digunakan untuk menunjang kegiatan selain belajar mengajar. Tanaman yang ada di lingkungan sekolah terdiri atas pohon, semak, atau perdu, penutup tanah, dan tanaman merambat. Struktur ruang terbuka hijau ini dapat memiliki fungsi produksi, ekologi, sosial budaya, serta estetika. Fungsi yang paling dirasakan adalah fungsi ekologi. Adanya berbagai vegetasi pada sekolah dimanfaatkan untuk menurunkan suhu, mengontrol angin, peredam bising, dan penyerap polutan sehingga dapat menunjang berbagai aktivitas di sekolah dan

44 81 membuat suasana menjadi nyaman. Fungsi estetika muncul pada penataan vegetasi pada tempat-tempat tertentu untuk menghasilkan visual menarik, seperti pada area masuk dan taman-taman di depan kelas. Penataan vegetasi juga memiliki peran sebagai pembentuk identitas sekolah,oleh karena itu nilai estetika sangat dipengaruhi oleh ruang terbuka hijau yang baik. Fungsi sosial budaya berkaitan erat dengan aktivitas di dalam sekolah, keberadaan ruang terbuka hijau dapat mengakomodasi kenyamanan berbagai kegiatan. Sedangkan fungsi produksi dihasilkan oleh penggunaan ruang terbuka hijau sebagai area edukasi yang dapat menghasilkan pendapatan bagi sekolah seperti kegiatan pembudidayaan tanaman oleh siswa. Sebagai contoh, dari tujuh buah sekolah, masing-masing sekolah telah memenuhi fungsi ekologi pada RTHnya, maka fungsi ekologi tersebut bernilai 100%. Sedangkan fungsi produksi hanya dipenuhi satu dari tujuh sekolah, maka fungsi tersebut bernilai 14,3%. Nilai untuk masing-masing fungsi dapat dilihat pada Gambar 43. % ,0 71,4 85, ,3 produksi ekologi sosial budaya estetika Gambar 43 Fungsi Ruang Terbuka Hijau pada Sekolah Gambar 44 berikut ini merupakan salah satu contoh layout dari pemanfaatan ruang terbuka hijau di SMP 242 Jakarta.

45

46 Gambar c. Fasilitas Lainnya Bentuk ruang terbuka pada fasilitas umum dan fasilitas sosial yang akan dibahas pada bagian ini adalah RTH pada masjid dan puskesmas. Masjid Nurul Huda merupakan masjid utama yang sering digunakan oleh sebagian besar masyarakat pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung. Masjid ini terletak tepat di tepi jalan utama sehingga banyak digunakan pula oleh kendaraan yang melintas. Luas total area masjid adalah 1060 m 2 dengan luas bangunan sebesar 520 m 2. Artinya, masjid ini memiliki ruang terbangun sebesar 49 %, sedangkan ruang terbuka terbangun sebesar 45 % dan ruang terbuka hijau 6 %. Pembangunan masjid yang belum sepenuhnya selesai tidak mengganggu pemanfaatannya sebagai tempat ibadah, namun ruang terbuka yang belum tertata mengakibatkan kurang nyamannya aktivitas di luar masjid. Saat ini ruang terbuka yang ada dimanfaatkan sebagai lahan parkir bagi pengunjung masjid dan tempat bermain bagi anak-anak sekitar pada sore hari. Pada siang hari, suasana sekitar masjid dirasa sangat terik akibat halaman yang gersang sehingga pengunjung tidak nyaman berada terlalu lama di luar bangunan masjid. Dengan adanya ruang terbuka hijau dapat meningkatkan fungsi ekologi dan estetikanya yang akan mendukung karakter dari masjid itu sendiri. Vegetasi yang terdapat pada tapak adalah beberapa pohon di tepi pagar sekitarnya. Gambar 45 Kondisi RTH Halaman Masjid

47 84 Contoh fasitas umum lainnya yaitu puskesmas. Di bagian depan pintu masuk terdapat sebah taman kecil yang terdiri atas semak dan groundcover seluas 35 m 2. Penataan pada RTH ini memiliki fungsi estetika cukup baik, letaknya yang lebiih tinggi dari permukaan tanah bertujuan untuk pemanfaatan secara pasif. Gambar 46 Kondisi RTH Halaman Puskesmas Elemen Lanskap Pada kedua jenis RTH ini, tidak banyak elemen hardscape yang dapat dijumpai, yaitu papan penunjuk tempat serta conblock sebagaisirkulasi kendaraan dan pejalan kaki. Jenis elemen softscape dapat dilihat pada Tabel 28 di bawah ini. Tabel 28 Elemen Softscape pada RTH Halaman Fasilitas Umum Klasifikasi Nama Latin Nama Lokal Ground cover Axonopus compressus Rumput paetan Rhoeo discolor Adam hawa Semak Canna sp. Kana Pohon Carica papaya Pepaya Mangifera indica Mangga Muntingia calabura Kersen Sumber: Hasil pengamatan lapang Penataan RTH pada halaman fasilitas umum ini lebih menonjolkan pemenuhan fungsi estetika dengan penggunaan beberapa tanaman lanskap hias. Selain itu terdapat fungsi ekologi sebagai pengontrol suhu udara di sekitarnya. Gambar 48 dan 49 di bawah ini menunjukkan layout RTH pada halaman fasilitas umum.

48

49 84

50 Gambar 48 Gambar Bantaran Sungai Lokasi RW 08 Lenteng Agung dilewati oleh aliran Sungai Ciliwung, sehingga salah satu ruang terbuka hijau penting yang dimiliki oleh kawasan ini adalah ruang terbuka hijau bantaran sungai. Fungsi utama ruang terbuka hijau ini adalah fungsi ekologi yaitu melindungi sungai dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya. Bantaran sungai pada kawasan ini termasuk pada sungai tidak bertanggul yang terletak di pinggiran kota. Berdasarkan alur sungai, aliran yang melewati kawasan penelitian ini merupakan aliran sungai utama dari DAS Ciliwung bagian hilir. Gambar 49 Lokasi RTH Bantaran Sungai Bantaran sungai ini merupakan salah satu bentuk ruang terbuka hijau alami berupa jalur atau koridor yang membentang sepanjang 750 meter dan memiliki lebar rata-rata sebesar 30 meter. Kondisi bantaran sungai hampir seluruhnya ternaungi oleh pepohonan besar seperti rambutan, mangga, bambu, durian, serta berbagai semak liar. dan menjadikan bantaran sungai ini berbada dari ruang-ruang terbuka hijau lainnya di kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung (Gambar 50).

51 88 Gambar 50 Kondisi Bantaran Sungai Malanson (1993) merangkum beberapa nilai potensial dari ekosistem di bantaran sungai yang terdiri dari nilai biologi (ekologi), ekonomi (produksi) dan sosial pada Tabel 29 sebagai berikut: Tabel 29 Nilai Potensial Ekosistem Bantaran Sungai Fungsi Ideal Eksisting Ekologi Habitat bagi keanekaragaman spesies vegetasi dan satwa Terdapat berbagai macam jenis vegetasi dan satwa Ekonomi Penghasil kayu yang besar Vegetasi di sekitar bantaran Mengurangi resiko banjir di bagian hilir sungai produktif memiliki yang nilai dapat Mendukung produktivitas menghasilkan kayu maupun sekunder pada pertanian dan buah Sosial peternakan Natural heritage Rekreasi Laboratorium alami untuk pendidikan dan penelitian Sumber: Malanson (1993) dan hasil pengamatan Fungsi sosial budaya belum terpenuhi karena kondisi eksisting ini belum mendapat pengelolaan untuk memungkinkan dilakukan pemanfaatan sosial secara optimum Bantaran sungai memiliki fungsi ekologi yang tinggi. Menurut Fabos, Ahern, dan Lindult (1993) dalam Rosita Sari (2001), jalur hijau sungai memiliki dua fungsi ekologi yaitu: 1. Meningkatkan, menyimpan, dan memelihara keanekaragaman hayati vegetasi dan satwa 2. Mengendalikan kualitas lingkungan, pola aliran (streamline) dan daerah banjir (wetland) melakui sistem buffering (daerah penyangga hijau).

52 89 Kedua fungsi ekologi ini telah terpenuhi oleh bantaran sungai yang terdapat pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya keragaman vegetasi, bahkan beberapa tanaman seperti durian dan kecapi yang dahulu banyak tumbuh namun sekarang semakin hilang, keberadaanya masih dapat dijumpai pada bantaran sungai tersebut. Melalui variasi vegetasi, selain berfungsi sebagai habitat berbagai satwa, juga memiliki peran dalam mengendalikan kualitas lingkkungan dengan mencegah dampak dari kemungkinan bencana alam dan mempengaruhi iklim mikro di sekitarnya. Selain memiliki fungsi ekologi, pemanfaatan bantaran sungai juga berpotensi untuk menghasilkan fungsi ekonomi/produksi. Beberapa bagian ruang terbuka hijau pada bantaran sungai yang terlah dimanfaatkan oleh warga untuk ditanami vegetasi, hasilnya dapat menjadi pemasukan atau penghasilan tambahan. Jalur hijau sungai mempunyai faktor-faktor daya tarik yang juga terdapat pada jalur hijau sungai yang melintasi kawasan ini yang ditunjukkan pada Tabel 30 berikut: Tabel 30 Daya Tarik Jalur Hijau Sungai Daya Tarik Sungai menurut Green dan Tunstall Daya tarik vegetasi dan satwa liar yang ada di dalam dan sekitar sungai Daya tarik jalur hijau sengai sebagai tempat berjalan atau sekedar dudukduduk Daya tarik suara aliran sungai Sumber: Green dan Tunstall dalam Rosita Sari, Daya Tarik Jalur Hijau Sungai pada Lokasi Penelitian Terdapat berbagai macam vegetasi namun tidak ada satwa liar khusus pada kawasan bantaran sungai Tidak terdapat lokasi yang nyaman untuk tempat berjalan maupun duduk Suara aliran sungai cukup terdengan dari batas terluar bantaran Dapat terlihat bahwa untuk menjadi sebuah objek wisata, bantaran sungai pada kawasan ini belum cukup dapat menyediakan atraksi menarik bagi pengunjung. Meskipun memiliki potensi wisata, namun perlu adanya pengelolaan yang baik untuk dapat mewujudkan bantaran sungai ini menjadi area rekreasi. Menurut Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, untuk bantaran sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan, penetapan garis sempadan minimal 50 meter. Namun rata-rata ruang

53 90 terbuka hijau yang tersisa hanya 30 meter, sisanya sebagian besar terokupasi oleh permukiman penduduk. Selain itu beberapa bagian terdapat lokasi pembuangan sampah ilegal oleh warga. Banyak warga yang tinggal di sekitar area ini sebagai tempat membuang sampah rumah tangga karena dianggap lebih mudah dan tidak perlu mengeluarkan biaya daripada membuang di tempat-tempat pembuangan sampah yang telah disediakan. Selain itu beberapa rumah masih dapat dijumpai pada bagian-bagian yang seharusnya bebas dari pembangunan. Hal ini menimbulkan bahaya bagi keselamatan warga yang tinggal dekat dari badan air sungai serta bagi kelestarian sungai itu sendiri. Belakangan ini telah diadakan kembali perbaikan terhadap kualitas bantaran sungai, di mana pembuangan sampah mulai diperhatikan dan dikelola oleh penduduk setempat serta pemanfaatan beberapa titik sebagai lokasi penanaman berbagai vegetasi. Elemen Lanskap Pada kawasan bantaran sungai, tidak dijumpai keberadaan elemen hardscape karena sifat fisiknya alami. Namun terdapat banyak jenis elemen softscape antara lain dapat dilihat pada Tabel 31 Tabel 31 Elemen Softscape pada RTH Bantaran Sungai Klasifikasi Nama Latin Nama Lokal Ground cover dan Semak Duranta erecta Nephrolepis exaltata Duranta Paku jejer Ortosipon aristatus Kumis kucing Pohon Bambusa vulgaris Bambu Jathropa podakrica Jarak Mangifera indica Mangga Musa paradisiaca Pisang Nephelium lappaceum Rambutan Samanea saman Ki Hujan Tectona grandis Jati Sumber: Hasil pengamatan lapang Menurut Waryono (2010), bantaran sungai adalah lahan pada kanan dan kiri badan sungai yang ditumbuhi oleh vegetasi alami spesifik (riparian) dan dipengaruhi oleh batuan dasar sebagai bagian dari struktur sungai. Riparian adalah bagian dari sungai yang secara langsung ataupun tidak langsung masih dipengaruhi oleh proses sungai itu (Malanson,1993). Vegetasi riparian sangat berperan dalam: mencegah erosi pada tepi sungai, menstabilkan saluran sungai,

54 91 dan menjaga kualitas air sungai. Pada bantaran sungai di kawasan ini, terdapat berbagai jenis vegetasi riparian dangan distribusi acak atau menyebar, keberadaan vegetasi ini memberi manfaat sesuai sebagaimana mestinya, namun adanya aliran air sungai yang membawa sampah menyebabkan kualitas air menjadi buruk dan tingkat pencemaran air yang cukup tinggi ini tidak dapat tertangani oleh vegetasi Bantaran Rel Kereta Bantaran rel kereta merupakan ruang terbuka hijau berbentuk jalur atau koridor yang sengaja direncanakan dan dirancang untuk kepentingan keamanan. Jalur ini membentang sepanjang 1,13 kilometer di sebelah timur rel kereta dan memiliki lebar rata-rata 5 meter yang dimanfaatkan untuk bangunan kios perdagangan di stasiun dan daerah hijau. Lokasi bantaran rel kereta disajikan pada Gambar 51 berikut ini. Gambar 51 Lokasi Bantaran Rel Kereta Sebesar 19,17% dari panjang tepi lintasan kereta digunakan sebagai bangunan-bangunan perdagangan dan jasa selain fiisilitas pendukung sistem transportasi kereta. Penggunaan lahan di kawasan tepian lintas kereta tanpa izin ini bertentangan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah DKI Jakarta. Arah dan pola pembangunan kota Jakarta yang berjalan dan terjadi saat ini diselenggarakan berdasarkan kebijakan pembangunan jangka panjang, yaitu Rencana Tata Ruang

55 92 dan Wilayah 2010 Propinsi DKI Jakarta, sebagai tindak lanjut dari Undang- Undang Nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Ruwasja kereta yang mencapai jarak meter dari batas kiri dan kanan rel kereta merupakan daerah yang harus dikosongkan dari segala bentuk bangunan selain fasilitas pendukung sistem transportasi kereta. Ditinjau dari Peraturan No. 69 Tahun 1998, penggunaan lahan diizinkan selama tidak mengganggu sistem transportasi kereta. Kelemahan penegakan peraturan dan kemudahan pemberian izin sewa oleh pemerintah pada akhirnya menyebabkan semakin bertambahnya bangunan liar dengan berbagai orientasi kepentingan tanpa mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan lingkungan sekitar (Artitya dkk, 2010). Penggunaan Lahan Bantaran rel kereta api pada RW 08 Kelurahan Lenteng Agung ini terdiri atas 3 meter daerah hijau, 1 meter saluran drainase, dan 1 meter jalur pedestrian pada sisi luar, sedangkan pada sisi dalam yang berbatasan langsung dengan rel kereta api merupakan hamparan batu dan kerikil. Daerah hijau terdapat di sepanjang bantaran rel kereta api kecuali sekitar 35 meter yang digunakan untuk bangunan kios. Sedangkan saluran drainase berfungsi sebagai tempat limpahan air hujan sekaligus pembatas antara derah hijau dengan jalur pejalan kaki. Jalur pejalan kaki di sepanjang bantaran rel tidak banyak digunakan karena terlalu terik pada siang hari, hembusan angin yang sangat kuat, dan tidak ada objek tujuan yang dihubungkan oleh jalur tersebut. Pada beberapa titik terdapat jalan setapak melintasi rel yang digunakan pejalan kaki untuk menyeberang tanpa melewati jembatan penyeberangan. Gambar 52 Batas Area Bantaran Rel Kereta Vegetasi pada Bantaran Rel Kereta Gangguan yang disebabkan oleh transportasi kereta bagi masyarakat dan pengguna lahan di kawasan tepian adalah gangguan kebisingan, getaran dan debu.

56 93 Kebisingan yang dialami suatu areal yang terletak dekat dengan kereta diakibatkan oleh suara mesin, pertambahan kecepatan sehingga pertumbukan antar sambungan gerbong lebih jelas terdengar, serta getaran dari rel kereta tersebut. Getaran dapat dirasakan hingga mencapai jarak 10 meter, demikian pula debu yang berterbangan yang dapat dirasakan di sekitar daerah perlintasan. Getaran, yang merupakan gerak suatu struktur atau setiap benda padat lain disebabkan adanya beberapa gaya bolak-balik, tidak terlalu berpengaruh bagi keselamatan masyarakat tetapi cukup berpengaruh terhadap kenyamanan beraktivitas di kawasan tepian. Bising dan getaran dapat diredam melalui penanaman vegetasi penutup tanah ataupun perdu. Debu dilihat tidak terlalu berpengaruh bagi masyarakat karena tidak banyak aktivitas yang saat ini dilakukan di sekitar tepian rel oleh manusia, namun apabila gangguan oleh debu tersebut terjadi dalam intensitas waktu yang lama maka akan mengakibatkan terganggunya kesehatan saluran pernafasan. Pencemaran debu dapat diatasi dengan menggunakan vegetasi penjerap yang efektif, karena dapat menjaring butiran debu yang terangkat melalui udara. Jenis vegetasi yang terdapat di sepanjang bantaran rel pada kawasan ini didominasi pepohonan antara lain tabebuia, bambu, kamboja, kapuk, dan pagoda. Penanaman masing-masing pohon dilakukan secara berjajar berkelompok dan bermanfaat sebagai penghalang pandang serta penyerap debu dan bising. Adanya RTH pada bantaran rel ini juga memiliki manfaat untuk mereduksi dampak bagi area sekitarnya apabila terjadi kecelakaan kereta. Kualitas visual merupakan aspek yang tidak kalah penting yang dapat dinikmati masyarakat selama perjalanan, juga bagi masyarakat yang berada di sekitar tepian lintas kereta. Ketertiban, kebersihan, dan keamanan adalah beberapa faktor yang apabila dipenuhi akan mendukung kenyamanan visual. Penataan jalur hijau dapat membantu terciptanya keindahan visual dan melalui tajuknya dapat menjadi penghalang bagi visual yang tidak diinginkan. Kondisi RTH bantaran sungai ditunjukkan pada Gambar 53 berikut ini.

57 94 Gambar 53 Kondisi Bantaran Rel dengan Pagar dan Vegetasi Pola tata ruang eksisting bantaran rel kereta api di sisi timur rel kawasan ini dapat dilihat pada Gambar 54 di bawah ini. Gambar 54 Penggunaan Ruang Bantaran Rel Berdasarkan pembagian ruang, bantaran rel ini terdiri atas ruang utilitas, ruang penyangga, dan ruang penggunaan lahan (Artitya, 2010). Ruang utilitas adalah area sekitar jalur kereta yang merupakan tempat segala perangkat untuk mendukung lintasan kereta. Pada lokasi ini ruang utilitas berisi batu dan kerikil yang berfungsi antara lain sebagai: - Bantalan pemberat; dengan adanya lapisan batu kerikil ini rel dapat berdiri dengan stabil.

58 95 - Penyerap getaran; megurangi goncangan yang terjadi ketika kereta api melintas. - Penahan dan memperlancar aliran air di saat hujan; mencegah terjadinya pengikisan tanah atau erosi pada tanah di sekitar rel. - Penghambat pertumbuhan rerumputan; mencegah penggemburan tanah yang diakibatkan pertumbuhan rumput agar tanah tetap stabil. Pada ruang penyangga terdapat berbagai vegetasi yang berfungsi sebagai penyerap polusi, pereduksi bising, dan penghalang pandang. Ruang ini juga dipertimbangkan sebagai ruang yang aman bagi kereta dan kawasan tepian apabila terjadi kecelakaan. Sedangkan ruang penggunaan lahan adalah area di mana terdapat pemanfaatan secara umum di luar aktivitas perkeretaapian. Pada bantaran ini tidak terdapat ruang transisi antara ruang bebas lintas kereta dengan ruang penggunaan lahan yang kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan lahan di perkotaan. Elemen Lanskap Elemen hardscape yang terdapat di sepanjang RTH bantaran rel kereta di lokasi penelitian antara lain pagar pembatas, batu kerikil, conblock sebagai jalur sirkulasi pejalan kaki, serta saluran drainase. Sementara itu elemen softscape dapat dilihat pada Tabel 32 berikut ini.

59 96 Tabel 32 Elemen Softscape pada RTH Bantaran Rel Kereta Klasifikasi Nama Latin Nama Lokal Ground cover dan Semak Curcuma domestica Euphorbia tirucali Kunyit Patah tulang Ortosipon aristatus Kumis kucing Pohon Actocarpus heterophyllus Nangka Bambusa vulgaris Bambu Ceiba pentandra Kapuk Chrysapyllum cainito Sawo duren Clerodendrum paniculatum Pagoda Erythirina variegate Dadap kuning Erythrina crytagali Dadap merah Eugenia aquea Jambu air Leucaena leucocephala Petai cina Plumeria alba Kamboja Pterocarpus indicus Angsana Tabebuia sp. Tabebuia Tectonia grandis Jati Sumber: Hasil pengamatan lapang Pemanfaatan bantaran rel kereta api pada kawasan ini dapat ditampilkan secara praktis pada tabel perbandingan antara pemanfaatan ideal dan eksistingnya sebagai berikut: Tabel 33 Pemanfaatan RTH Bantaran Rel Kereta Pemanfaatan Ideal Terdapat saluran drainase Melarang segala bentuk pendirian bangunan di sepanjang bantaran rel Terdapat ruang utilitas, penyangga, dan transisi sebelum bertemu oleh ruang penggunaan lahan Terdapat vegetasi penyerap bising, getaran, dan debu Melakukan pengaturan peletakan posisi tanaman Pemanfaatan Eksisting Telah terdapat saluran drainase Sebanyak 28% area bantaran rel berupa bangunan selain pendukung sistem transportasi kereta Tidak terdapat ruang penyangga karena keterbatasan lahan Telah terdapat vegetasi penyerap bising, polusi, dan penghalang pandang Vegetasi di sepanjang rel tertata secara teratur dan berpola

60

61 Gambar Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman di samping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenazah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air, tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi, pencipta iklim mikro, serta tempat hidup berbagai satwa. Selain itu pemakaman memiliki fungsi sosial bagi masyarakat sekitar. Petak makam yang berada pada tapak sangat beragam dan bervariasi dengan pola tidak teratur. Petak makam memiliki bentuk dan karakteristik yang berbeda karena adanya penggunaan elemen yang beragam mulai dari kayu, beton, marmer, ataupun hanya menggunakan rumput saja. Lokasi RTH pemakaman dapat dilihat pada Gambar 56 di bawah ini. Gambar 56 Lokasi RTH Pemakaman Pemakaman di kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung memiliki luas sekitar 5.800m 2 yang terletak pada koordinat 6 20' 18''S ' 21''S dan ' 16'' T ' 20'' T. Lokasi pemakaman ini dikelilingi permukiman warga dan pada sisi barat dibatasi oleh jalur jalan. Pemakaman ini dapet diakses melalui sebuah pintu utama, juga melalui dua buah jalan pintas dari rumah warga. Dengan topografi yang relatif datar, kemungkinan terjadinya erosi atau pengikisan tanah sangat kecil karena kemampuan tanah yang tahan terhadap erosi serta mempunyai drainase yang baik.

62 99 Gambar 57 Kondisi Sekitar RTH Pemakaman Lokasi ini sehari-harinya dimanfaatkan warga sebagai tempat penguburan dan ziarah. Beberapa warga yang tinggal di sekitar lokasi juga melintasi area pemakaman ini sebagai jalan alternatif menuju ke jalan lingkungan terdekat. Secara umum, penutupan lahan pada pemakaman terdiri atas perkerasan pada masing-masing kuburan dan vegetasi pada bagian-bagian yang tersisa. Selain penggunaan hard material, tanaman merupakan salah satu elemen penyusun utama di dalam pemakaman. Pada tapak, terdapat tanaman yang dibiarkan tumbuh liar dan ada pula yang sengaja ditanam. Fungsi tanaman tersebut adalah untuk memberikan kesan kesatuan dengan alam sekitarnya, juga menurunkan iklim mikro sebagai fungsi konservasi lingkungan, jenis tanaman yang ditemukan pada tapak cukup beragam dengan klasifikasi penggunaan yang berbeda pula. Pada umumnya tanaman yang ditemukan pada tapak merupakan jenis pohon, semak, dan ground cover (Gambar 58). Gambar 58 Kondisi RTH Pemakaman

63 100 Penampakan dari tanaman-tanaman tersebut secara keseluruhan kurang indah karena belum tertata dengan baik dan kurang terawat. Pada beberapa blok makam, tanaman terlihat rimbun dan rapat sehingga menimbulkan kesan gelap dan seram, sedangkan pada blok makam lainnya terlihat gersang tanpa tanaman peneduh (Gambar 59). Gambar 59 Perbandingan Kondisi Visual oleh Tutupan Vegetasi Pemanfaatan ruang terbuka hijau pada kawasan pemakaman ditetapkan bahwa luas koefisien dasar hijau sebesar 50% dari luas kawasan harus dihijaukan, dengan tingkat liputan vegetasi daerah hijau yang harus ditanami minimal 80% dari luas koefisien dasar hijau dan 20% sisanya dapat dibangun dengan perkerasan menggunakan beton atau paving yang dapat dimanfaatkan untuk jalur pejalan kaki bagi pengunjung serta dapat menjadi pembatas antara area makam dengan area sirkulasi. Hal ini menunjukkan bahwa luasan ruang terbuka hijau pada area pemakaman kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung telah/belum memenuhi standar menurut pedoman penyediaan ruang terbuka hijau perkotaan. Selain luasan yang harus dipenuhi, pemanfaatan ruang terbuka hijau pemakaman ditunjang dengan peningkatan kualitas dengan penyeragaman bentuk dan ukuran makam. Pada lokasi penelitian, bentuk dan ukuran makam bervariasi sesuai dengan keinginan pihak yang bersangkutan. Pola letak makam tidak beraturan, pada satu sisi berposisi vertikal dan pada sisi lain dengan posisi horizontal. Zonasi makam diperlukan dalam pengaturan pemakaman meskipun tidak semua pemakaman memperhatikan, pembatasan blok dimaksudkan untuk memberikan pengarah dan batas yang jelas antara zona pemakaman yang dibedakan atas kepercayaan dan agama orang yang dimakamkan, misalnya zona

64 101 untuk muslim dan nasrani. Pada area pemakaman di lokasi penelitian terdapat pemanfaatan pribadi oleh warga yang tinggal di sekitarnya, seperti menjemur pakaian dan memelihara hewan ternak, namun tidak melanggar kriteria yang melarang penempatan bangunan masif pada area pemakaman. Gambar 60 Penyalahgunaan Pemanfaatan Pemakaman oleh Warga Untuk mencapai luasan ruang terbuka hijau pada pemakaman,dapat dicapai dengan upaya pemenuhan aspek-aspek pada Tabel 34 sebagai berikut: Tabel 34 Perbandingan Kondisi Eksisting Pemakaman dengan Standar Aspek Kriteria Eksisting Sirkulasi Batas antarblok pemakaman berupa jalur pedestrian dengan lebar cm Batas Tapak Batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi dengan pagar buatan Jalur pedestrian terdistribusi secara acak Batas terluar pemakaman dengan pagar buatan, pada beberapa sisi tidak terdapat batas tapak yang jelas Makam Ukuran makam 1 x 2 meter Ukuran makam bervariasi Tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan Ada makam yang dilakukan penembokan Jarak Jarak antar makam minimal 0,5 meter Jarak antarmakam bervariasi Zonasi Pemakaman dibagi dalam beberapa blok sesuai dengan kondisi setempat Tidak ada pembagian blok Elemen Lanskap Penggunaan hardscape pada pemakaman di kawasan penelitian ini didominasi oleh keramik dan batu sabagai nisan dari masing-masing makam.

65 102 Selain itu terdapat pagar dan tembuk pembatas yang terdapat di salah satu sisi pemakaman, yaitu sisi depan yang menghadap ke jalan. Adanya kandang ternak yang dijumpai di lokasi ini merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan oleh warga setempat. Macam-macam tanaman pengisi elemen softscape dapat dilihat pada tabel 35 di bawah ini. Tabel 35 Elemen Softscape pada RTH Pemakaman Klasifikasi Nama Latin Nama Lokal Ground cover dan Semak Adenium sp. Codiaeum sp. Adenium Puring Euphorbia tirucali Patah tulang Impatiens sp. Pacar air Jasminium sambac Melati Pachira aquatica Pacira Pleomele angustifolia Suji Pohon Artocarpus communis Sukun Artocarpus heterophyllus Nangka Felicium decipiens Kerai payung Jathropa podakrica Jarak Mangifera indica Mangga Nephelium lappaceum Rambutan Plumeria rubra Kamboja Sumber: Hasil pengamatan lapang Penataan RTH di pemakaman selain bertujuan mengurangi terik pada siang hari, juga menjaga meningkatkan nilai estetika untuk mengurangi kesan menakutkan. Jenis tanaman yang mendominasi merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung Kualitas Ruang Terbuka Hijau Penutupan Lahan oleh Vegetasi Secara garis besar, daerah hijau pada perpetakan dapat diwujudkan dalam tiga kelompok besar, berdasarkan jenis atau wujud tanaman, yaitu: hjau rumput atau pengalas, hijau perdu atau semak, dan hijau pepohonan. Ketiga kelompok tersebut memiliki peran masing-masing sesuai posisi dalam rencana lanskap. Joga dan Ismaun (2011) membagi lima kelas kualitas RTH berdasarkan komponen struktur dan tingkat kerapatan vegetasi dalam satuan lahan yang dapat

66 103 menjalankan proses ekologis pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung, yaitu seperti pada Tabel 36 di bawah ini. Tabel 36 Kualitas RTH berdasarkan Tingkat Penutupan oleh Vegetasi Jenis Ruang Terbuka Hijau Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 Kelas 4 Kelas 5 Pekarangan RTH pada Fasum dan Fasos Pemakaman Jalur Hijau Bantaran Sungai Bantaran Rel KA Keterangan: Kelas 1: Sangat Rendah (hamparan rumput/penutup tanah) Kelas 2: Rendah (rumput/penutup tanah dan semak) Kelas 3: Sedang (penutup tanah dan pohon) Kelas 4: Tinggi (semak dan pohon) Kelas 5: Sangat tinggi (penutup tanah, semak, dan pohon membentuk kerapatan tinggi) Gambar 61 Kondisi Penutupan Lahan oleh Vegetasi dari Kelas 1 5

67 104 Dari tabel terlihat bahwa kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung didominasi oleh ruang terbuka hijau kelas 3. Daerah hijau tidak selalu harus berupa taman atau kebun yang pasif yang tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari. Daerah hijau dapat berupa taman aktif, seperti tempat bermain anak-anak atau sarana olahraga ruang luar. Lahan Kelas 1 yang berfungsi sebagai lahan aktif yang dimanfaatkan dengan intensitas tinggi. Vegetasi pada lahan kelas 1 didominasi oleh ground cover berupa rumput sehingga selain sebagai pendukung aktivitas juga dapat berfungsi sebagai area hijau. Sebagian besar fasilitas di RW 08 Kelurahan Lenteng Agung milik bersama, berupa lapangan olahraga maupun halaman sekolah dan masjid, menggunakan perkerasan dan hamparan rumput. Lahan Kelas 2 memiliki struktur berupa penutup tanah dan semak. Pada kawasan ini, lahan kelas 2 dapat dijumpai dalam bentuk pekarangan dan pulau jalan. Sedangkan lahan kelas 3 hampir serupa dengan kelas 2, namun mulai dijumpai pohon. Keberadaan pohon yang tertata akan menjadikan suatu area memiliki kualitas ekologi yang cukup tinggi. Pada lokasi peneitian, lahan ini dapat berwujud pekarangan, halaman gedung, taman olahraga, jalur hijau, serta bantaran sungai. Lahan kelas 4 merupakan tingkat ekologi yang tinggi karena terdiri atas semak dan pepohonan. Lahan kelas ini dapat dijumpai dalam bentuk pekarangan, pemakaman, dan beberapa titikjalur hijau. Lahan Kelas 5 pada bantaran sungai dengan kerapatan tinggi memiliki nilai ekologis tinggi, terutama pemanfaatan energi matahari oleh tanaman semakin efisien, dan semakin besar nilai penutupan kanopi oleh vegetasi berarti semakin dapat mengontrol bahaya terjadinya erosi Berdasarkan jenis vegetasi, terdapat perbedaan antara lahan ruang terbuka hijau yang dimanfaatkan untuk aktivitas bersifat pasif dan aktif. Pemanfaatan lahan oleh aktivitas aktif cenderung didominasi oleh tanaman ground cover di mana memberikan kemudahan bagi pengguna untuk berpindah-pindah tempat atau melakukan kegiatan yang membutuhkan pergerakan tinggi. Sedangkan lahan dengan tujuan pemanfaatan aktivitas pasif mementingkan fungsi estetika yang tinggi berupa vista/good view agar dapat dinikmati oleh pengguna seperti pada beberapa pekarangan, atau menonjolkan fungsi ekologi untuk memberi manfaat

68 105 bagi alam seperti pada bantaran sungai. Rekapitulasi vegetasi yang terdapat pada lokasi penelitian dapat dilihat pada lampiran (Tabel 49) Pengaruh Vegetasi terhadap Ameliorasi Iklim Mikro Laurie (1986) mengungkapkan standar kelembaban bagi kenyamanan manusia dalam beraktivitas berkisar antara 40% 75%. Pada daerah tropis, kondisi kenyamanan dirasakan manusia bila berada pada suhu 27 C - 28 C. Menurut Munandar (2010) pada umumnya daerah yang bervegetasi yang tumbuh baik mampu menekan suhu rata-rata tahunan sebesar 1 C hingga 2 C. Fluktuasi suhu harian di daerah yang bervegetasi sangat rapat akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan daerah terbuka. Tajuk vegetasi yang rapat akan menahan atau bahkan menurunkan efek peningkatan radiasi sinar matahari dan menahan turunnya suhu minimum pada malam hari. menurut Griffits (1976) dalam Munandar (2010) pada musim panas, suhu di bawah tegakan vegetasi akan lebih rendah dibandingkan daerah terbuka, sebab tajuk pohon mempunyai kemampuan menyerap sebagian besar radiasi matahari. Temperature Humidity Index (THI) adalah indeks yang menunjukkan tingkat kenyamanan suatu area secara kuantitatif berdasarkan nilai suhu dan kelembaban udara relatif. Dalam penelitian ini sampel suhu diambil pada waktu pagi, siang, dan sore hari, masing-masing di dua tempat yang berbeda yaitu dengan naungan pohon dan tanpa naungan pohon. Dengan menggunakan THI dapat diketahui tingkat kenyamanan dari masing-masing ruang terbuka hijau, apabila nilai THI di antara 21 hingga 27 maka dikatakan nyaman. Menurut Fandeli (2009) THI dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Keterangan: THI = Temperature Humidity Index T = Suhu udara rata-rata ( C) RH = Relative Humidity rata-rata (%)

69 106 Nilai rata-rata suhu udara (T) harian dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Sedangkan nilai rata-rata kelembaban relatif (RH) harian dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Dengan menggunakan perhitungan rumus di atas, dapat diketahui bahwa Termal Humidity Index rata-rata dari keseluruhan jenis ruang terbuka hijau sampel di atas batas kenyamanan, yaitu sebesar 28,9. Bredasarkan posisi pengambilan data, adanya naungan pohon memiliki nilai THI yang lebiih kecil dibandingkan dengan tanpa naungan.. Artinya keberadaan vegetasi yang memberikan naungan pada ruang terbuka hijau terbukti dapat meningkatkan kenyamanan dengan memperbaiki nilai THI. Data mengenai suhu, kelembaban, dan nilai THI dapat dilihat pada Tabel 37 berikut ini.

70 Tabel 37 Daftar Suhu, Kelembaban, dan THI Jenis RTH Posisi Suhu ( C) Kelembaban (%) Pagi Siang Sore Rataan Pagi Siang Sore Rataan THI Naungan pohon , ,3 27,3 Pekarangan Tanpa naungan pohon , ,0 29,3 Naungan pohon , ,3 28,6 Tepi dan separator Tanpa naungan , ,7 30,7 jalan pohon Naungan pohon , ,3 29,8 Pulau jalan Tanpa naungan , ,3 30,6 pohon Naungan pohon , ,3 27,2 Fasum dan Fasos Tanpa naungan , ,7 29,9 pohon Naungan pohon , ,0 25,9 Bantaran sungai Tanpa naungan , ,3 26,1 pohon Naungan pohon , ,7 28,9 Bantaran rel KA Tanpa naungan , ,0 31,2 pohon Naungan pohon , ,7 27,4 Pemakaman Tanpa naungan , ,7 31,5 pohon Rataan 28,3 38,1 31,9 31,6 69,1 48,4 55,5 57,7 28,9

71 Kuantitas Ruang Terbuka Hijau Kebutuhan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan didasarkan pada kebutuhan manusia untuk memenuhi aktivitas sosialnya. Penyediaan ruang terbuka hijau publik salah satunya dapat dihitung melalui pendekatan parsial (Dahlan, 2004) yaitu menyisihkan sebagian luasan kota untuk kawasan ruang terbuka hijau yang akan diterapkan pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung ini dengan dua cara: 1) persen luas area dan 2) luasan per kapita Berdasarkan persen luas Terdapat banyak undang-undang yang mengatur tentang ruang terbuka hijau dan berbagai peraturan lainnya yang menyatakan keragaman presentase untuk penyediaan ruang terbuka hijau. UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang menyatakan bahwa luasan ruang terbuka hijau kota minimal sebaesar 30% dengan 20% milik publik dan 10% privat. Proses perhitungan dilakukan melalui analisis citra dengan mengidentifikasi penutupan lahan oleh bangunan dan vegetasi. Penutupan lahan oleh vegetasi diasumsikan sebagai RTH. Untuk RTH publik, perhitungan luas telah didapatkan dari hasil identifikasi sebelumnya. Sedangkan selisih antara hasil perhitungan analisis citra dan identifikasi RTH publik merupakan RTH privat. Dengan mengacu pada undang-undang dan analisis tersebut maka didapat perhitungan RTH pada RW 08 Kelurahan Lenteng Agung sebagai berikut. Tabel 38 Luas Ruang Terbangun dan Ruang Terbuka Hijau Ruang Terbangun (m 2 Ruang Terbuka Hijau Ruang Terbuka Hijau ) Luas Publik (m 2 ) Privat (m 2 ) (m 2 ) Standar Standar Eksisting Standar Eksisting Eksisting (maks 70%) (min 20%) (min 10%) Dari perhitungan luas RTH publik di lokasi penelitian, diperoleh luas RTH publik sebesar 11,16% dan RTH privat sebesar 15,92%. Apabila dibandingkan dengan standar minimum penyediaan RTH, maka dapat disimpulkan bahwa secara persen luas, kebutuhan RTH publik masih belum terpenuhi. Banyaknya ruang terbangun saat ini juga melebihi standar yang telah ditetapkan, yaitu

72 109 mencapai nilai 70,98%. Persebaran penutupan lahan dapat dilihat pada Gambar 62 di bawah ini. Gambar 62 Peta Penutupan Lahan berdasarkan Analisis Citra (Sumber: gambar olahan berdasarkan Google Earth 2010)

73 Berdasarkan luasan per kapita Menurut Dahlan (2004), pendekatan yang kedua yaitu penentuan luasan runag terbuka hijau publik berdasarkan jumlah penduduk. Ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan dalam rangka memenuhi aktivitas sosial masyarakat perlu memperhatikan jumlah penduduk setempat sebagai pengguna utamanya. Pada pendekatan ini juga terdapat variasi standar yang harus dipenuhi, namun perhitungan yang diterapkan pada perhitungan kebutuhan ruang terbuka hijau pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung ini akan mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Kebutuhan masyarakat terhadap ruang terbuka hijau untuk memenuhi aktivitas sosial memiliki kapasitas yang berbeda pada setiap cakupan wilayah. Pada tingkat rukun tetangga (RT), kebutuhan warga terhadap ruang terbuka hijau adalah 1 m 2 /jiwa. Sedangkan pada tingkat rukun warga (RW) dibutuhkan 0.5 m 2 /jiwa penduduk. Rata-rata penduduk per RT di RW 08 Kelurahan Lenteng Agung yaitu 385 jiwa, maka dengan syarat luas per kapita kebutuhan ruang terbuka hijau yang telah ditetapkan, perlu adanya penyediaan ruang terbuka hijau di tingkat RT masing-masing seluas 385 m 2 dan di tingkat RW seluas 2705 m 2. Adapun perhitungan kebutuhan RTH disajikan pada Tabel 39 berikut ini. Tabel 39 Kebutuhan RTH di Berdasarkan Jumlah Penduduk RT Jumlah Penduduk Kebutuhan RTH Aktual (jiwa) (m 2 ) (m 2 ) Jumlah RW

74 111 Kebutuhan RTH pada tingkat RT berdasarkan luas per kapita adalah m 2 dan pada tingkat RW dibutuhkan RTH sebesar m 2. Saat ini, pada lokasi penelitian terdapat ruang terbuka hijau tingkat lingkungan yang dapat dimanfaatkan oleh publik hanya memiliki luas total m 2, maka terlihat bahwa pada tingkat RT, masih belum memenuhi stardar kebutuhan RTH berdasarkan luasan per kapita. Sedangkan pada tingkat RW yang seharusnya tersedia m 2, pada kenyataannya belum tersedia RTH untuk pemanfaatan publik Rekomendasi Pengendalian Ruang Terbuka Hijau Penentuan strategi pengendalian kondisi ruang terbuka hijau di kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung baik kualitas maupun kuantitasnya adalah dengan menggunakan analisis SWOT. Caranya adalah dengan menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang dimiliki oleh ruang terbuka hijau di lokasi tersebut, hasil diskusi dengan beberapa warga setempat, serta hasil pengamatan. Faktor internal terdiri atas kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), sedangkan faktor eksternal terdiri atas peluang (opportunities) dan ancaman (threats) Identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman Kekuatan (Strength) a. Jenis ruang terbuka hijau beragam Jenis ruang terbuka hijau yang terdapat pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung sangat bervariasi. Keragamannya dapat terlihat dari hasil pengamatan berupa ruang terbuka hijau pekarangan hingga pemakaman. Hal ini merupakan kekuatan besar yang berguna untuk kawasan ini sendiri dan untuk penyumbang ruang terbuka hijau kota. b. Terdapat kelompok masyarakat peduli lingkungan Kelompok peduli lingkungan bermula dari pemimpin RW yang kemudian mulai menyebar di kalangan masyarakat. Perhatian utama kelompok ini adalah kelestarian sungai, kebersihan rumah tangga, dan penghijauan pada permukiman.

75 112 c. Terdapat tempat pengolahan sampah rumah tangga Pada kawasan RW 08 ini telah terdapat satu pusat pengolahan sampah rumah tangga organik untuk mengurangi pembuangan sampah ke tingkat daerah. Sampah organik diolah untuk menjadi pupuk kompos yang kemudian dijual dan dipakai kembali untuk penghijauan setempat. Sedangkan sampah nonorganik dikumpulkan untuk dijual sehingga kedua-duanya berguna untuk menciptakan lapangan pekerjaan serta menghasilkan pendapatan tambahan bagi kawasan tersebut. d. Pemanfaatan pot pada lahan terbatas Pemanfaatan pot merupakan salah satu cara menghijaukan lahan-lahan dengan luasan terbatas dan juga berguna untuk penghijauan dalam ruangan. Kondisi perkotaan dengan kepadatan bangunan tinggi yang menyebabkan terbatasnya jumlah lahan terbuka dapat diatasi dengan menghijaukan ruang-ruang yang tersisa semaksimal mungkin dengan penanaman pada pot. Pada permukiman warga di kawasan ini telah banyak terdapat pemanfaatan pot pada permukiman dan bangunanbangunan lain. Hal ini menjadi bukti bahwa banyak warga kota yang menyadari kebutuhan terhadap ruang terbuka hijau. e. Penghijauan telah dilakukan pada fasilitas umum dan fasilitas sosial Penyediaan ruang terbuka hijau pada bangunan sekolah, masjid, lapangan terbuka, dan sebagainya telah mendapat perhatian dari masyarakat. Upaya ini menjadi salah satu bentuk kepedulian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memenuhi kebutuhan sosial manusia melalui keberadaan ruang terbuka hijau. Kelemahan (Weakness) a. Terlalu banyak pelaku pengelolaan Berbagai bentuk ruang terbuka hijau mendapat pengelolaan yang berbeda oleh pihak yang berbeda pula. Pengelolaan yang tidak terorganisir dalam satu kawasan menyebabkan ketidakseragaman lanskap pada kawasan yang bersangkutan dan terjadi kesimpangsiuran dalam pelaksanaannya sehingga pada beberapa ruang terbuka hijau justru kurang mendapat perhatian.

76 113 b. Dominasi oleh bengunann permukiman yang cukup padat Kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung didominasi oleh bangunan permukiman. Ruang terbuka yang tersisa merupakan ruang-ruang yang siap dijadikan ruang terbangun oleh pemiliknya. Sebagian besar ruang yang telah ada merupakan ruang terbangun sehingga menyisakan sedikit ruang terbuka terutama ruang terbuka hijau. c. Bantaran sungai sebagai tempat pembuangan sampah ilegal Ruang terbuka hijau yang memiliki luasan besar pada kawasan ini adalah bantaran sungai. Selain itu, bantaran sungai memiliki peran yang sangat besar bagi kelestarian ekosistem di sekitarnya. Gangguan yang terjadi terhadap bantaran sungai dapat berakibat buruk bagi banyak pihak. Pada beberapa titik masih terdapat lokasi pembuangan sampah rumah tangga oleh warga karena dianggap lebih praktis dan dengan biaya yang lebih kecil darpipada iuran pengelolaan sampah yang legal. d. Kurangnya inisiatif warga untuk peduli pada penghijauan Masalah penghijauan kurang mendapat perhatian dari warga karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi. Maskipun banyak aktivitas lingkungan yang telah dijalankan secara bersama-sama namun partisipasi yang terlihat tidak antusias. Pengelolaan terhadap lingkungan hanya dilakukan oleh kelompok tertentu yang bersedia terlibat secara sukarela. e. Tidak ada perhatian terhadap jalur hijau jalan Jalur hijau jalan merupakan sarana pembentuk wajah atau identitas kawasan setempat yang dapat dilihat secara langsung bagi pengguna yang melintas, namun kondisinya saat ini kurang mendapat perhatian dari warga baik pada penyediaan kelengkapannya maupun pengelolaan elemen-elemen pembentuk yang telah ada. f. Ketidaksesuaian jumlah ruang terbuka hijau terhadap kebutuhan Penyediaan ruang terbuka hijau publik merupakan sarana untuk menampung aktivitas sosial masyarakat yang ketentuan luasannya telah ditetapkan pada undang-undang. Kondisi aktual di berbagai bagian kota, termasuk pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung, ruang

77 114 terbuka hijau yang ada belum memenuhi kebutuhan berdasarkan jumlah penduduk sehingga akivitas sosial masyarakat tidak dapat ditampung oleh ruan terbuka hijau yang ada. Peluang (Opportunities) a. Bantuan penghijauan oleh banyak pihak Aktivitas kepedulian lingkungan yang telah dilakukan oleh warga RW 08 Kelurahan Lenteng Agung mendapat sambutan positif oleh berbagai kalangan baik pemerintahan maupun pihak swasta. Banyak bantuan yang ditawarkan berupa sarana dan prasarana penghijauan serta dukungan kerjasama dari berbagai pihak. b. Ruang terbuka hijau pada lahan privat menyumbang peran cukup besar Proporsi ruang terbangun dan ruang terbuka pada bangunan privat yang terdapat pada kawasan ini secara aktual lebih besar daripada jumlah yang telah ditetapkan oleh undang-undang. Secara luasan keseluruhan, kondisi ini dapat mendukung kebutuhan ruang terbuka hijau kota berdasarkan ketetapan yang ada. c. Fungsi Jakarta Selatan sebagai catchment area Kelurahan Lenteng Agung merupakan bagian dari Kecamatan Jagakarsa, yaitu salah satu kecamatan yang memiliki luasan ruang terbuka lebih besar daripada ruang terbangun di Provinsi DKI Jakarta. Hal ini dapat mendukung fungsi Jakarta Selatan sebagai catchment area dengan mempertahankan dan mengoptimalkan fungsi dari runag terbuka hijau yang saat ini terdapat pada kawasan RW 08. Ancaman (Threats) a. Pembangunan di perkotaan yang semakin berkembang Pertumbuhan penduduk dan perpindahan penduduk ke kota mengakibatkan peningkatan kebutuhan terhadap tempat tinggal yang pada akhirnya membutuhkan konversi ruang-ruang terbuka hijau menjadi ruang terbangun. b. Tingginya harga tanah di perkotaan Mahalnya harga tanah menjadikan para pengembang dan pemilik tanah lainnya memanfaatkannya untuk membangun sesuatu yang

78 115 menghasilkan keuntungan besar secara ekonomi daripada mempertahankan dalam bentuk ruang terbuka hijau. c. Bencana alam Terjadinya siklus banjir di Jakarta dan bencana alam lainnya merupakan faktor yang mempengruhi eksostem kota, termasuk di antaranya mengganggu keberadaan ruang terbuka hijau Penilaian Faktor Internal dan Eksternal Sebelum melakukan pembobotan faktor internal dan eksternal, terlebih dahulu ditentukan tingkat kepentingan dari masing-masing faktor tersebut. Setiap faktor internal dan eksternal diberi nilai berdasarkan tingkat kepentingannya. Setelah memperoleh tingkat kepentingan dari setiap faktor internal dan eksternal (Tabel 40 dan 41), selanjutnya dilakukan pembobotan. Tabel 40 Tingkat Kepentingan Faktor Internal RTH pada RW 08 Kelurahan Lenteng Agung Simbol Faktor Kekuatan (Strength) Tingkat Kepentngan S1 Jenis ruang terbuka hijau beragam Kekuatan yang sangat besar S2 Terdapat kelompok masyarakat peduli Kekuatan yang besar lingkungan S3 Terdapat tempat pengolahan sampah Kekuatan yang besar rumah tangga S4 Pemanfaatan pot pada lahan terbatas Kekuatan yang sangat besar S5 Penghijauan telah dilakukan pada Kekuatan yang besar fasilitas umum dan fasilitas sosial Simbol Faktor Kelemahan (Weakness) Tingkat Kepentingan W1 Terlalu banyak pelaku pengelolaan Kelemahan yang sangat berarti W2 Dominasi oleh bengunann permukiman yang cukup padat Kelemahan yang sangat berarti W3 Bantaran sungai sebagai tempat Kelemahan yang berarti pembuangan sampah ilegal W4 Kurangnya inisiatif warga untuk peduli Kelemahan yang berarti pada penghijauan W5 Tidak ada perhatian terhadap jalur hijau Kelemahan yang berarti jalan W6 Ketidaksesuaian jumlah ruang terbuka hijau terhadap kebutuhan Kelemahan yang sangat berarti

79 116 Tabel 41 Tingkat kepentingan faktor eksternal RTH pada RW 08 Kelurahan Lenteng Agung Simbol Faktor Peluang (Opportunities) Tingkat Kepentngan O1 Bantuan penghijauan oleh banyak pihak Peluang yang sangat tinggi O2 Ruang terbuka hijau pada lahan privat menyumbang peran cukup besar Peluang yang sangat tinggi O3 Fungsi Jakarta Selatan sebagai Peluang yang sedang catchment area Simbol Faktor Ancaman (Threats) Tingkat Kepentingan T1 Pembangunan di perkotaan yang Ancaman yang sangat besar semakin berkembang T2 Tingginya harga tanah di perkotaan Ancaman yang besar T3 Bencana alam Ancaman yang sedang Setelah diperoleh bobot dari masing-masing faktor strategis internal dan eksternal, selanjutnya dilakukan penentuan peringkat (rating) yaitu Tabel 42 dan 43. Kemudian rating tiap faktor tersebut dikali dengan bobot untuk memperoleh skor pembobotan yang tercantum dalam matriks IFE dan EFE (Tabel 44 dan 45). Tabel 42 Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal RTH Kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung Simbol S1 S2 S3 S4 S5 W1 W2 W3 W4 W5 W6 Total Bobot S ,13 S ,07 S ,07 S ,12 S ,07 W ,12 W ,12 W ,07 W ,07 W ,07 W ,07 Total 220 1,00

80 117 Tabel 43 Penilaian Bobot Faktor Strategis Eksternal RTH Kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung Simbol O1 O2 O3 T1 T2 T3 Total Bobot O ,22 O ,22 O ,10 T ,22 T ,15 T ,10 Total 60 1,00 Tabel 44 Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) RTH kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung Faktor strategis internal Bobot Rating Skor Kekuatan Jenis ruang terbuka hijau beragam 0,13 4 0,51 Terdapat kelompok masyarakat peduli lingkungan 0,07 3 0,22 Terdapat tempat pengolahan sampah rumah tangga 0,07 3 0,22 Pemanfaatan pot pada lahan terbatas 0,12 4 0,47 Penghijauan telah dilakukan pada fasilitas umum dan 0,07 3 0,22 fasilitas sosial Kelemahan Terlalu banyak pelaku pengelolaan 0,12 1 0,12 Dominasi oleh bengunan permukiman yang cukup padat 0,12 1 0,12 Bantaran sungai sebagai tempat pembuangan sampah ilegal 0,07 2 0,15 Kurangnya inisiatif warga untuk peduli pada 0,07 2 0,15 penghijauan Tidak ada perhatian terhadap jalur hijau jalan 0,07 2 0,15 Ketidaksesuaian jumlah ruang terbuka hijau 0,07 2 0,15 Total 1, ,46 Tabel 45 Matriks External Factor Evaluation (EFE) RTH Kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung Faktor strategis eksternal Bobot Rating Skor Peluang Bantuan penghijauan oleh banyak pihak 0,22 4 0,87 Ruang terbuka hijau pada lahan privat menyumbang 4 0,87 peran cukup besar 0,22 Fungsi Jakarta Selatan sebagai catchment area 0,10 2 0,20 Ancaman Pembangunan di perkotaan yang semakin berkembang 0,22 1 0,22 Tingginya harga tanah di perkotaan 0,15 2 0,30 Bencana alam 0,10 3 0,30 Total 1, ,75

81 118 Menurut David (2008), jika nilai total skor IFE dan EFE lebih dari 2,5 makan nilai tersebut menunjukkan kondisi yang kuat. Berdasarkan perhitungan IFE dan EFE yang ditampilkan pada tabel, kondisi internal RTH pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung lemah karena memiliki nilai di bawah 2,5 yaitu 2,46, namun kondisi eksternalnya kuat karena memiliki nilai 2,75. Dari skor yang didapat dari pembobotan rangking di atas, akan diketahui posisi RTH kawasan pada kuadran tertentu yang dapat menyatakan kekuatan dan kelemahannya melalui matriks internal-eksternal (IE). Matriks IE didasarkan pada dua dimensi kunci yaitu skot total matriks IFE pada sumbu x dan skor total matriks EFE pada sumbu y. Total skor metriks IFE adalah 2,46 dan total skor matriks EFE adalah 2,75. Hasil pemetaan matriks IFE dan EFE untuk RTH kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung dapat dilihat pada Gambar 63 berikut: Gambar 63 Matriks Internal-Eksternal (IE) RTH kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung Berdasarkan nilai total skor IFE dan EFE, kondisi ruang terbuka hijau pada kawasan RW 08 Kelurahan Lenteng Agung berada di kuadran V. Kuadran V menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau ini berada pada posisi hold and maintain. Strategi yang sesuai adalah strategi seperti pengembangan produk, dalam hal ini program optimalisasi fungsi dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang telah ada Matriks SWOT Setelah melakukan identifikasi faktor internal dan eksternal, kemudian akan dianalisis ke dalam matriks SWOT untuk mendapatkan langkah-langkah

82 119 pengendalian ruang terbuka hijau yang sesuai. Matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel 46 berikut ini. Tabel 46 Matriks SWOT RTH RW 08 Kelurahan Lenteng Agung Ekternal Opportunities (Peluang) Threats (Ancaman) 1. Bantuan penghijauan oleh banyak pihak 2. Ruang terbuka hijau pada lahan privat menyumbang peran cukup besar 1. Pembangunan di perkotaan yang semakin berkembang 2. Tingginya harga tanah di perkotaan 3. Fungsi Jakarta Selatan 3. Bencana alam Internal sebagai catchment area Strength (Kekuatan) Strategi SO Strategi ST 1. Jenis ruang terbuka hijau beragam 2. Terdapat kelompok masyarakat peduli lingkungan 3. Terdapat tempat pengolahan sampah rumah tangga 4. Pemanfaatan pot pada lahan terbatas 5. Penghijauan telah dilakukan pada fasilitas umum dan fasilitas sosial 1. Membentuk komunitas peduli lingkungan beserta kelengkapannya untuk menghasilkan keuntungan secara ekonomi dan ekologi 2. Penerapan sistem insentif dan disinsentif bagi pihakpihak yang berpartisipasi dalam mengelola RTH 3. Variasi ragam penanaman dari material atau alat-alat yang telah dimiliki warga Weakness (Kelemahan) Strategi WO Strategi WT 1. Terlalu banyak pelaku pengelolaan 2. Dominasi oleh bengunan permukiman yang cukup padat 3. Bantaran sungai sebagai tempat pembuangan sampah ilegal 4. Kurangnya inisiatif warga untuk peduli pada penghijauan 5. Tidak ada perhatian terhadap jalur hijau jalan 6. Ketidaksesuaian jumlah ruang terbuka hijau terhadap kebutuhan 4. Penetapan pengelola RTH yang jelas dan terintegrasi 5. Peningkatan proporsi RTH privat agar memiliki peran lebih besar dalam memenuhi standar RTH kota 6. Penegakan peratuhan mengenai koefisien dasar hijau pada setiap RTH terutama pada permukiman dan bangunan lain 7. Optimalisasi pemanfaatan RTH yang memiliki nilai ekologi tinggi agar tidak terokupasi oleh masyarakat dan memiliki fungsi produksi untuk tambahan pendapatan warga

83 Pembuatan Tabel Rangking Alternatif Strategi Penentuan alternatif strategi untuk pengendalian kondisi ruang terbuka hijau pada kawasan RW 08 Kelurahan Lentang Agung dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor internal dan eksternal yang saling terkait. Tabel 47 di bawah ini menunjukkan perangkingan dari alternatif strategi pengelolaan yang diperoleh dari matriks SWOT. Tabel 47 Perangkingan alternatif strategi RTH RW 08 Kelurahan Lenteng Agung No Alternatif strategi 1 Membentuk komunitas peduli lingkkungan beserta kelengkapannya untuk menghasilkan keuntungan secara ekonomi dan ekologi 2 Penerapan sistem insentif dan disinsentif bagi pihak-pihak yang berpartisipasi dalam mengelola RTH 3 Peningkatan proporsi RTH privat agar memiliki peran lebih besar dalam memenuhi standar RTH kota 4 Penetapan pengelola RTH yang jelas dan terintegrasi 5 Optimalisasi pemanfaatan RTH yang memiliki nilai ekologi tinggi agar tidak terokupasi oleh masyarakat dan optimalisasi fungsi produksi untuk tambahan pendapatan warga 6 Variasi ragam penanaman dari material atau alat-alat yang telah dimiliki warga 7 Penegakan peraturan mengenai koefisien dasar hijau pada setiap RTH terutama pada permukiman dan bangunan lain Keterkaitan dengan unsur SWOT Skor Rangking S1, S2, S3, S4, O1 2,28 1 S1, S2, S3, S5, O1 2,03 2 W2, W6, O1, O2 2,00 3 W1, W2, W3, W5, O1, O3 W2, W3, W4, T2, T3 1,60 4 1,01 5 S2, S4, T2 0,99 6 W2, W6, T1, T2 0,78 7 Tabel di atas adalah hasil rekomendasi dari rumusan permasalahan yang ada untuk mempertahankan dan mengoptimalkan fungsi serta pemanfaatan RTH di kawasan penelitian ini. Masing-masing strategi memiliki peringkat kepentingan

84 121 yang telah diurutkan, di mana peringkat 1 adalah strategi yang paling diunggulkan, sedangkan peringkat 2 hingga 7 adalah strategi yang dapat dilaksanakan setelahnya Rekomendasi Penggunaan Lahan Berdasarkan analisis, maka didapat rumusan permasalahan utama pada RTH di lokasi ini antara lain: - semakin berkurangnya area terbuka publik akibat konversi lahan, - belum terpenuhinya kebutuhan RTH publik berdasarkan persen luas dan luas per kapita. - kualitas RTH berdasarkan tingkat kerapatan penutupan oleh vegetasi pada beberapa tipe RTH belum optimal Kondisi perkembangan pembangunan akan mengancam keberadaan ruangruang terbuka hijau sehingga perlu perhatian untuk mempertahankan luasan dan kondisi RTH di kawasan perkotaan. Untuk menjaga keberadaan RTH, perlu ditentukan area-area yang tidak diperbolehkan dibangun. Rekomendasi ini berdasarkan ketentuan penggunaan lahan untuk ruang terbuka hijau sesuai dengan kebutuhan dan peran masing-masing tipe RTH sehingga secara umum area di dalam kawasan ini akan dibagi menjadi area tanpa pembangunan, area semi-bangunan, dan area bangunan, di mana masing-masing area memiliki porsi RTH yang berbeda-beda. Selain itu terdapat pula titik-titik lokasi ideal taman publik berdasarkan kebutuhan per kapita untuk masing-masing wilayah dalam kawasan. Penjelasan untuk masing-masing ruang dapat dilihat di bawah ini:

85 122 - Area tanpa pembangunan Tujuan dari area pembangunan atau dapat disebut dengan wilayah limit adalah mempertahankan keberadaan ruang terbuka hijau yang memiliki fungsi dan pengaruh yang tinggi bagi keberlangsungan ekosistem sekitarnya. Peruntukan area ini hanya untuk menjaga kualitas alam, sedangkan keberadaan kawasan terbangun tidak dapat ditolerir (Sujarto, 1991) karena adanya pembangunan dikhawatirkan akan menimbulkan dampak merugikan. Termasuk dalam area ini yaitu bantaran sungai dan bantaran rel kereta api (Gambar 64). Gambar 64 Area Tanpa Pembangunan - Area semi-pembangunan Maksud dari area semi pembangunan atau wilayah kendala adalah ruangruang terbuka milik publik yang keberadaannya menunjang aktivitas seharihari masyarakat. Pada area ini, pengembangan kawasan terbangun dapat dilakukan secara terbatas dengan memperhatikan kelestarian lingkungan (Sujarto, 1991) serta selama masih sesuai dengan ketentuan atau kebutuhan dan tidak mendominasi lebih dari RTH yang ada. Pemakaman, jalur hijau jalan, serta taman lingkungan merupakan RTH yang termasuk dalam kelompok area semi-bangunan yang terdapat dalam lokasi penelitian (Gambar 65).

86 123 Gambar 65 Area Semi Pembangunan - Area pembangunan Maksud dari area pembangunan atau wilayah pengembangan adalah area di mana kawasan terbangun dapat dikembangkan secara optimal (Sujarto, 1991). Ruang-ruang bersifat privat yang dapat akan dibangun maupun telah terbangun menyediakan RTH minimal sebesar 10% dari luas area sebagai ketentuan minimal Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan RTH kawasan perkotaan sekaligus bermanfaat bagi kenyamanan lingkungan sekitar bangunan. Gambar 66 Area Pembangunan

87 124 Persebaran penutupan lahan eksisting secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 67 berikut. Gambar 67 Persebaran Penutupan Lahan Penentuan area pada peta adalah berdasarkan RTH esisting yang kemudian disesuaikan dengan standar atau ketentuan yang telah dibahas pada masingmasing subbab sebelumnya, yang akan dijelaskan secara singkat pada Tabel 48 di bawah ini. Tabel 48 Rekomendasi Penggunaan Lahan Jenis RTH Ketentuan Potensi RTH (m 2 ) Pekarangan Minimal 10% dari luas kavling - Jalur hijau jalan Tepi jalan Separator jalan Pulau jalan RTH Fasum dan Fasos Taman lingkungan Halaman sekolah Fasilitas lainnya 20-30% dari RUMIJA Eksisting Eksisting Berdasarkan jumlah penduduk Minimal 23% dari luas kavling Minimal 10% dari luas kavling Bantaran sungai Jarak minimal 50 m dari badan air Bantaran rel RUMIJA rel kereta min 6 m Pemakaman Sesuai eksisting Total

88 125 Penjelasan mengenai potensi masing-masing ruang terbuka hijau berdasarkan regulasi yang berlaku akan dijelaskan sebagai berikut. - Pekarangan dan halaman bangunan Pekarangan dan halaman bangunan merupakan RTH privat, sehingga berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, minimal tersedia RTH sebasar 10% dari luas wilayah. - Jalur hijau jalan Berdasarkan Peraturn Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008 tentang pedoman penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan, untuk jalur hijau jalan, RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20-30% dari ruang milik jalan sesuai dengan kelas jalan. Panjang jalan utama pada kawasan penelitian ini adalah 1000 meter dan terdapat dua ruas jalan yang sama panjang. Rata-rata lebar ruang milik jalan pada kedua ruas adalah 11 meter sehingga dengan penyediaan RTH sesuai dengan syarat yang ditetapkan, jalur hijau jalan memiliki peran penyumbang luas RTH sebesar m 2. Sementara itu, kawasan ini juga memiliki dua buah pulau jalan mesing-masing dengan luas 480 m 2 dan 420 m 2. - Taman Lingkungan Taman publik yang terdapat di kawasan penelitian ini merupakan area untuk memfasilitasi kebutuhan penduduk di tingkat rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW). Taman RT ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT. Berdasarkan standar kebutuhan ruang penduduk, luas minimal RTH yang harus disediakan adalah 1 m 2 per penduduk dan berada pada radius kurang dari 300 meter dari rumah-rumah yang dilayani dengan mempertimbangkan jarak tempuh pejalan kaki (Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan, 2008). Dari jumlah penduduk total, yaitu 5409 jiwa, maka perlu penyediaan taman sebesar 5409 m 2 yang terdistribusi di masing-masing RT dengan luas berbeda-beda menurut jumlah penduduk bersangkutan.

89 meter Gambar 68 Penyediaan RTH Taman RT Taman rukun warga (RW) memiliki luas minimal 0,5 m 2 per penduduk dan berada pada radius kurang dari 1000 meter dari rumahrumah penduduk yang dilayaninya (Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan, 2008). Untuk memenuhi kebutuhan penduduk tingkat RW, maka luas taman yang perlu disediakan adalah 2700 m meter Gambar 69 Ilustrasi Penyediaan RTH Taman RW - Bantaran sungai Menurut Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, untuk bantaran sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan, penetapan garis sempadan minimal 50 meter (Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan, 2008). Dengan jalur hijau ini membentang sepanjang 750 meter, maka diperkirakan kawasan ini memiliki potensi RTH sebasar 3,75 ha.

90 Gambar 71 Peta Rekomendasi Penggunaan Lahan 127 area penggunaan lahan jarak minimum 50 meter sungai Gambar 70 Ilustrasi Penyediaan RTH pada Bantaran Sungai - Bantaran rel kereta Berdasarkan PP No. 69 Tahun 1998, Rumija untuk jalan rel yang terletak di permukan tanah adalah sebidang tanah atau bidang lain di kiri dan kanannya yang digunakan untuk pengamanan konstruksi rel. Dengan memanfaatkan Rumija rel kereta sebagai RTH, yaitu 6 meter dari Rumaja, dan membentang sepanjang meter sesuai eksisting maka bantaran rel memiliki potensi RTH sebesar m 2. Apabila dijumlahkan, RTH publik yang terdapat di RW 08 Kelurahan Lenteng Agung yang mencakup jalur hijau jalan, taman lingkungan, bantaran sungai, bantaran rel kereta, dan pemakaman, adalah m 2. Atau sebesar 13,5,% dari luas wilayah RW 08. Meskipun belum memenuhi standar 20% menurut peraturan tentang RTH publik, namun terdapat peningkatan dari RTH sebelumnya. Peta perbandingan eksisting dan rekomendasi area-area penggunaan lahan dapat dilihat pada Gambar 71 dan 72 berikut ini.

91

92 125

Gambar 26. Material Bangunan dan Pelengkap Jalan.

Gambar 26. Material Bangunan dan Pelengkap Jalan. KONSEP Konsep Dasar Street furniture berfungsi sebagai pemberi informasi tentang fasilitas kampus, rambu-rambu jalan, dan pelayanan kepada pengguna kampus. Bentuk street furniture ditampilkan memberikan

Lebih terperinci

VII. PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

VII. PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 46 VII. PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 7.1. Perencanaan Alokasi Ruang Konsep ruang diterjemahkan ke tapak dalam ruang-ruang yang lebih sempit (Tabel 3). Kemudian, ruang-ruang tersebut dialokasikan ke dalam

Lebih terperinci

VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar 6.2. Konsep Pengembangan Fungsi Pendidikan

VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar 6.2. Konsep Pengembangan Fungsi Pendidikan 116 VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar Konsep dasar perencanaan adalah mengembangkan laboratorium lapang PPDF sebagai tempat praktikum santri sesuai dengan mata pelajaran yang diberikan dan juga dikembangkan

Lebih terperinci

VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET

VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET 42 VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET Pengembangan konsep dalam studi perencanaan kawasan ini akan terbagi ke dalam empat sub konsep, yaitu perencanaan lanskap pedestrian shopping street,

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Eksisting dan Evaluasi Ruang Terbuka Hijau Kecamatan Jepara Jenis ruang terbuka hijau yang dikembangkan di pusat kota diarahkan untuk mengakomodasi tidak hanya fungsi

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS SINTESIS

BAB V ANALISIS SINTESIS BAB V ANALISIS SINTESIS 5.1 Aspek Fisik dan Biofisik 5.1.1 Letak, Luas, dan Batas Tapak Tapak terletak di bagian Timur kompleks sekolah dan berdekatan dengan pintu keluar sekolah, bangunan kolam renang,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya

II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Lingkup Arsitektur Lansekap Lansekap sebagai gabungan antara seni dan ilmu yang berhubungan dengan desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya merupakan

Lebih terperinci

sekitarnya serta ketersediaannya yang belum optimal (pada perbatasan tertentu tidak terdapat elemen gate). d. Elemen nodes dan landmark yang

sekitarnya serta ketersediaannya yang belum optimal (pada perbatasan tertentu tidak terdapat elemen gate). d. Elemen nodes dan landmark yang BAB 5 KESIMPULAN 1. Berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian secara subyektif (oleh peneliti) dan obyektif (pendapat responden) maka elemen identitas fisik yang membentuk dan memperkuat karakter (ciri

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini merupakan hasil temuan dan hasil analisa terhadap kawasan Kampung Sindurejan yang berada di bantaran sungai

Lebih terperinci

BAB VII PERENCANAAN a Konsep Ruang

BAB VII PERENCANAAN a Konsep Ruang 62 BAB VII PERENCANAAN 7.1 KONSEP PERENCANAAN 7.1.1 Konsep Dasar Perencanaan Penelitian mengenai perencanaan lanskap pasca bencana Situ Gintung ini didasarkan pada tujuan mengembalikan fungsi situ mendekati

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada

Lebih terperinci

Gambar 23. Ilustrasi Konsep (Image reference) Sumber : (1) ; (2) (3)

Gambar 23. Ilustrasi Konsep (Image reference) Sumber : (1)  ; (2)  (3) 48 PERENCANAAN LANSKAP Konsep dan Pengembangannya Konsep dasar pada perencanaan lanskap bantaran KBT ini adalah menjadikan bantaran yang memiliki fungsi untuk : (1) upaya perlindungan fungsi kanal dan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas

IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas 42 IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas Secara geografis, perumahan Bukit Cimanggu City (BCC) terletak pada 06.53 LS-06.56 LS dan 106.78 BT sedangkan perumahan Taman Yasmin terletak pada

Lebih terperinci

V. KONSEP Konsep Dasar Pengembangan Konsep

V. KONSEP Konsep Dasar Pengembangan Konsep 37 V. KONSEP Konsep Dasar Konsep dasar dalam perencanaan ini adalah merencanakan suatu lanskap pedestrian shopping streets yang dapat mengakomodasi segala aktivitas yang terjadi di dalamnya, khususnya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah suatu bentuk ruang terbuka di kota (urban

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah suatu bentuk ruang terbuka di kota (urban II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ruang Terbuka Hijau Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah suatu bentuk ruang terbuka di kota (urban space) dengan unsur vegetasi yang dominan. Perancangan ruang hijau kota harus memperhatikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Ruang Terbuka Ruang terbuka merupakan suatu tempat atau area yang dapat menampung aktivitas tertentu manusia, baik secara individu atau secara kelompok (Hakim,1993).

Lebih terperinci

ANALISIS DAN SINTESIS

ANALISIS DAN SINTESIS 55 ANALISIS DAN SINTESIS Lokasi Lokasi PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills yang terlalu dekat dengan pemukiman penduduk dikhawatirkan dapat berakibat buruk bagi masyarakat di sekitar kawasan industri PT

Lebih terperinci

METODOLOGI 3.1 Lokasi dan waktu

METODOLOGI 3.1 Lokasi dan waktu 19 METODOLOGI 3.1 Lokasi dan waktu Lokasi penelitian adalah Kelurahan Lenteng Agung RW 08. Waktu sejak pelaksanaan studi hingga pembuatan laporan hasil studi berlangsung selama 10 bulan (Maret 2011- Januari

Lebih terperinci

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN 2.1 Lokasi Proyek Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi Campuran Perumahan Flat Sederhana. Tema besar yang mengikuti judul proyek

Lebih terperinci

VI. PERENCANAAN HUTAN KOTA

VI. PERENCANAAN HUTAN KOTA VI. PERENCANAAN HUTAN KOTA 6.1. Konsep Hutan Kota Perencanaan hutan kota ini didasarkan pada konsep hutan kota yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat kota Banjarmasin terhadap ruang publik. Hal ini sejalan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap dan Lanskap Kota Lanskap adalah suatu bagian dari muka bumi dengan berbagai karakter lahan/tapak dan dengan segala sesuatu yang ada di atasnya baik bersifat alami maupun

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. alami maupun buatan manusia, yang merupakan total dari bagian hidup manusia

II. TINJAUAN PUSTAKA. alami maupun buatan manusia, yang merupakan total dari bagian hidup manusia II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap dan Lanskap Kota Lanskap merupakan suatu bagian dari muka bumi dengan berbagai karakter lahan/tapak dan dengan segala sesuatu yang ada di atasnya baik bersifat alami maupun

Lebih terperinci

Evaluasi Tingkat Kenyamanan Penghuni Pasca Perubahan Fungsi Taman Parang Kusumo Semarang

Evaluasi Tingkat Kenyamanan Penghuni Pasca Perubahan Fungsi Taman Parang Kusumo Semarang TEMU ILMIAH IPLBI 2017 Evaluasi Tingkat Kenyamanan Penghuni Pasca Perubahan Fungsi Taman Parang Kusumo Semarang Desti Rahmiati [email protected] Arsitektur, Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Rumusan konsep ini merupakan dasar yang digunakan sebagai acuan pada desain studio akhir. Konsep ini disusun dari hasil analisis penulis dari tinjauan pustaka

Lebih terperinci

BAB V PERENCANAAN LANSKAP ANCOL ECOPARK

BAB V PERENCANAAN LANSKAP ANCOL ECOPARK 26 BAB V PERENCANAAN LANSKAP ANCOL ECOPARK 5.1 Konsep Pengembangan Ancol Ecopark Hingga saat ini Ancol Ecopark masih terus mengalami pengembangan dalam proses pembangunannya. Dalam pembentukan konsep awal,

Lebih terperinci

Kebutuhan Masyarakat akan Ruang Terbuka Hijau pada Kawasan Pusat Kota Ponorogo

Kebutuhan Masyarakat akan Ruang Terbuka Hijau pada Kawasan Pusat Kota Ponorogo Kebutuhan Masyarakat akan Ruang Terbuka Hijau pada Kawasan Pusat Kota Ponorogo Fungsi Ekologis Terciptanya Iklim Mikro 81% responden menyatakan telah mendapat manfaat RTH sebagai pengatur iklim mikro.

Lebih terperinci

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa BAB VII RENCANA 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa 7.1.1 Tahapan Pembangunan Rusunawa Agar perencanaan rumah susun berjalan dengan baik, maka harus disusun tahapan pembangunan yang baik pula, dimulai dari

Lebih terperinci

REKOMENDASI Peredam Kebisingan

REKOMENDASI Peredam Kebisingan 83 REKOMENDASI Dari hasil analisis dan evaluasi berdasarkan penilaian, maka telah disimpulkan bahwa keragaman vegetasi di cluster BGH memiliki fungsi ekologis yang berbeda-beda berdasarkan keragaman kriteria

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM. Gambar Peta Dasar TPU Tanah Kusir (Sumber: Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, 2011) Perumahan Warga

BAB IV KONDISI UMUM. Gambar Peta Dasar TPU Tanah Kusir (Sumber: Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, 2011) Perumahan Warga 19 BAB IV KONDISI UMUM 4.1. Letak, Batas, dan Luas Tapak TPU Tanah Kusir merupakan pemakaman umum yang dikelola oleh Suku Dinas Pemakaman Jakarta Selatan di bawah Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kota Jakarta sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat perbankan dan pusat perindustrian menuntut adanya kemajuan teknologi melalui pembangunan

Lebih terperinci

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi 3.2 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis dan kamera digital. Dalam pengolahan data menggunakan software AutoCAD, Adobe Photoshop, dan ArcView 3.2 serta menggunakan hardware

Lebih terperinci

VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perencanaan kebun agrowisata Sindang Barang adalah kebun produksi tanaman budidaya IPB untuk

VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perencanaan kebun agrowisata Sindang Barang adalah kebun produksi tanaman budidaya IPB untuk VI. KONSEP 6.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perencanaan kebun agrowisata Sindang Barang adalah kebun produksi tanaman budidaya IPB untuk ditunjukkan pada pengunjung sekaligus sebagai pusat produksi

Lebih terperinci

BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Tujuan Perencanaan dan Perancangan Perencanaan dan perancangan Penataan PKL Sebagai Pasar Loak di Sempadan Sungai Kali Gelis Kabupaten Kudus

Lebih terperinci

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini akan menjawab sasaran yang ada pada bab pendahuluan. Makam merupakan salah satu elemen penting pembentuk sebuah

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini akan menjawab sasaran yang ada pada bab pendahuluan. Makam merupakan salah satu elemen penting pembentuk sebuah BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini akan menjawab sasaran yang ada pada bab pendahuluan. Makam merupakan salah satu elemen penting pembentuk sebuah kota, sebagai untuk mengebumikan jenazah makam juga

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Perencanaan Hutan Kota Arti kata perencanaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Fak. Ilmu Komputer UI 2008) adalah proses, perbuatan, cara merencanakan (merancangkan).

Lebih terperinci

Disajikan oleh: LIA MAULIDA, SH., MSi. (Kabag PUU II, Biro Hukum, Kemen PU)

Disajikan oleh: LIA MAULIDA, SH., MSi. (Kabag PUU II, Biro Hukum, Kemen PU) PENGADAAN TANAH UNTUK RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN Disajikan oleh: LIA MAULIDA, SH., MSi. (Kabag PUU II, Biro Hukum, Kemen PU) Sekilas RTH Di dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG

PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG PEMERINTAH KABUPATEN JOMBANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN RUANG TERBUKA HIJAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JOMBANG, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan tingginya kepadatan penduduk dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen

Lebih terperinci

VIII. RANCANGAN TAPAK

VIII. RANCANGAN TAPAK VIII. RANCANGAN TAPAK Perancangan adalah tahapan terakhir dari proses studi penelitian ini. Perancangan merupakan pengembangan dari konsep dan perencanaan dari tahapan sebelumnya. Perancangan pada tapak

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG RUANG TERBUKA DI KELURAHAN TAMANSARI

BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG RUANG TERBUKA DI KELURAHAN TAMANSARI 62 b a BAB IV ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG RUANG TERBUKA DI KELURAHAN TAMANSARI Bahasan analisis mengenai persepsi masyarakat tentang identifikasi kondisi eksisting ruang terbuka di Kelurahan Tamansari,

Lebih terperinci

BAB 4 PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN TAMAN LINGKUNGAN

BAB 4 PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN TAMAN LINGKUNGAN BAB 4 PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN TAMAN LINGKUNGAN 4.1 Temuan Studi Berdasarkan hasil analisis, terdapat beberapa temuan studi, yaitu: Secara normatif, terdapat kriteria-kriteria atau aspek-aspek yang

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH 56 ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH Berdasarkan hasil inventarisasi maka dari faktor-faktor yang mewakili kondisi tapak dianalisis sehingga diketahui permasalahan yang ada kemudian dicari solusinya sebagai

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP PERENCANAAN

BAB VI KONSEP PERENCANAAN BAB VI KONSEP PERENCANAAN VI.1 KONSEP BANGUNAN VI.1.1 Konsep Massa Bangunan Pada konsep terminal dan stasiun kereta api senen ditetapkan memakai masa gubahan tunggal memanjang atau linier. Hal ini dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. secara alami. Pengertian alami disini bukan berarti hutan tumbuh menjadi hutan. besar atau rimba melainkan tidak terlalu diatur.

TINJAUAN PUSTAKA. secara alami. Pengertian alami disini bukan berarti hutan tumbuh menjadi hutan. besar atau rimba melainkan tidak terlalu diatur. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Hutan Kota Hutan dalam Undang-Undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi

Lebih terperinci

BAB I. Persiapan Matang untuk Desain yang Spektakuler

BAB I. Persiapan Matang untuk Desain yang Spektakuler BAB I Persiapan Matang untuk Desain yang Spektakuler Kampung Hamdan merupakan salah satu daerah di Kota Medan yang termasuk sebagai daerah kumuh. Hal ini dilihat dari ketidak beraturannya permukiman warga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pesat di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan-pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pesat di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan-pembangunan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses pembangunan yang terjadi di wilayah perkotaan sedang mengalami perkembangan pesat di seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan-pembangunan yang terjadi lebih banyak

Lebih terperinci

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN Daerah pemukiman perkotaan yang dikategorikan kumuh di Indonesia terus meningkat dengan pesat setiap tahunnya. Jumlah daerah kumuh ini bertambah dengan kecepatan sekitar

Lebih terperinci

III. RUANG DAN FUNGSI TANAMAN LANSKAP KOTA

III. RUANG DAN FUNGSI TANAMAN LANSKAP KOTA Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) III. RUANG DAN FUNGSI TANAMAN LANSKAP KOTA Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Siti Nurul Rofiqo Irwan, S.P., MAgr, PhD. Tujuan Memahami bentuk-bentuk ruang dengan tanaman

Lebih terperinci

PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT

PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT DESKRIPSI OBJEK RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) Definisi : Konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai

Lebih terperinci

INFORMASI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI PROVINSI JAMBI

INFORMASI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI PROVINSI JAMBI INFORMASI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI PROVINSI JAMBI Saat ini banyak kota besar yang kekurangan ruang terbuka hijau atau yang sering disingkat sebagai RTH. Padahal, RTH ini memiliki beberapa manfaat penting

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA CIMAHI TAHUN

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA CIMAHI TAHUN PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA CIMAHI TAHUN 2012-2032 I. UMUM Ruang dilihat sebagai wadah dimana keseluruhan interaksi sistem sosial

Lebih terperinci

MATA KULIAH PRASARANA WILAYAH DAN KOTA I (PW ) Jur. Perencanaan Wilayah dan Kota FTSP INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

MATA KULIAH PRASARANA WILAYAH DAN KOTA I (PW ) Jur. Perencanaan Wilayah dan Kota FTSP INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA MATA KULIAH PRASARANA WILAYAH DAN KOTA I (PW 09-1303) RUANG TERBUKA HIJAU 7 Oleh Dr.Ir.Rimadewi S,MIP J P Wil h d K t Jur. Perencanaan Wilayah dan Kota FTSP INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

Lebih terperinci

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Gambar simulasi rancangan 5.30 : Area makan lantai satu bangunan komersial di boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan 5.6.3 Jalur Pedestrian Jalur

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. dalam perancangan yaitu dengan menggunakan konsep perancangan yang mengacu

BAB VI HASIL RANCANGAN. dalam perancangan yaitu dengan menggunakan konsep perancangan yang mengacu 153 BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Dasar Rancangan Di dalam perancangan Sekolah Seni Pertunjukan Tradisi Bugis terdapat beberapa input yang dijadikan dalam acuan perancangan. Aplikasi yang diterapkan dalam

Lebih terperinci

REKOMENDASI KONSEP TATA HIJAU

REKOMENDASI KONSEP TATA HIJAU 85 REKOMENDASI KONSEP TATA HIJAU Penanaman lanskap harus dapat memberikan fungsi yang dapat mendukung keberlanjutan aktivitas yang ada dalam lanskap tersebut. Fungsi arsitektural penting dalam penataan

Lebih terperinci

Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA. Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD.

Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA. Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD. Lanskap Perkotaan (Urban Landscape) HUTAN KOTA Dr. Ir. Ahmad Sarwadi, MEng. Ir. Siti Nurul Rofiqo Irwan, MAgr, PhD. Tujuan Memahami makna dan manfaat hutan kota pada penerapannya untuk Lanskap Kota. Memiliki

Lebih terperinci

BAB I KONDISI PINGGIRAN SUNGAI DELI

BAB I KONDISI PINGGIRAN SUNGAI DELI BAB I KONDISI PINGGIRAN SUNGAI DELI Keadaan sungai Deli yang sekarang sangat berbeda dengan keadaan sungai Deli yang dahulu. Dahulu, sungai ini menjadi primadona di tengah kota Medan karena sungai ini

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. 1. Kondisi kenyamanan thermal hasil simulasi eksisting: Kondisi eksisting penggal 1,2,3 titik terendah dan tertinggi pagi

BAB VI PENUTUP. 1. Kondisi kenyamanan thermal hasil simulasi eksisting: Kondisi eksisting penggal 1,2,3 titik terendah dan tertinggi pagi BAB VI PENUTUP VI.1. Kesimpulan 1. Kondisi kenyamanan thermal hasil simulasi eksisting: Kondisi eksisting penggal 1,2,3 titik terendah dan tertinggi pagi (07.00) secara keseluruhan dalam kondisi nyaman.

Lebih terperinci

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU BAB IV PENGAMATAN PERILAKU 3.1 Studi Banding Pola Perilaku Pengguna Ruang Publik Berupa Ruang Terbuka Pengamatan terhadap pola perilaku di ruang publik berupa ruang terbuka yang dianggap berhasil dan mewakili

Lebih terperinci

PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KELURAHAN WAWOMBALATA KOTA KENDARI TUGAS AKHIR

PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KELURAHAN WAWOMBALATA KOTA KENDARI TUGAS AKHIR PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KELURAHAN WAWOMBALATA KOTA KENDARI TUGAS AKHIR Oleh : RIAS ASRIATI ASIF L2D 005 394 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Lebih terperinci

KONDISI UMUM 4.1. DKI Jakarta

KONDISI UMUM 4.1. DKI Jakarta 30 KONDISI UMUM 4.1. DKI Jakarta Kota Jakarta sebagai ibukota negara merupakan kota yang dinamis. Setiap waktu fisik kota tampak berubah oleh kegiatan pembangunan sarana dan prasarana kota seiring pertambahan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. waktu tidak tertentu. Ruang terbuka itu sendiri bisa berbentuk jalan, trotoar, ruang

TINJAUAN PUSTAKA. waktu tidak tertentu. Ruang terbuka itu sendiri bisa berbentuk jalan, trotoar, ruang TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka adalah ruang yang bisa diakses oleh masyarakat baik secara langsung dalam kurun waktu terbatas maupun secara tidak langsung dalam kurun waktu

Lebih terperinci

VII. RENCANA TAPAK. Tabel 15. Matriks Rencana Pembagian Ruang, Jenis Aktivitas dan Fasilitas (Chiara dan Koppelman, 1990 dan Akmal, 2004)

VII. RENCANA TAPAK. Tabel 15. Matriks Rencana Pembagian Ruang, Jenis Aktivitas dan Fasilitas (Chiara dan Koppelman, 1990 dan Akmal, 2004) VII. RENCANA TAPAK Tahap perencanaan ini adalah pengembangan dari konsep menjadi rencana yang dapat mengakomodasi aktivitas, fungsi, dan fasilitas bagi pengguna dan juga makhluk hidup yang lain (vegetasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN 4.1. Deskripsi Lokasi Perumahan Taman Nirwana terletak di pinggir kota Klaten. Untuk mencapai lokasi dapat dilalui dengan kendaraan bermotor sedang,

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Struktur Pekarangan

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Struktur Pekarangan BAB V PEMBAHASAN 5.1 Struktur Pekarangan Dari 9 pekarangan dengan masing-masing 3 pekarangan di setiap bagiannya diketahui bahwa luasan rata-rata pekarangan pada bagian pertama 303 m 2, pada bagian ke-dua

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. 18% dari luas wilayah DIY, terbentang di antara 110 o dan 110 o 33 00

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. 18% dari luas wilayah DIY, terbentang di antara 110 o dan 110 o 33 00 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Indonesia. Luas wilayah Kabupaten Sleman 7574,82 Km 2 atau 18% dari luas wilayah DIY,

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum

BAB V KONSEP. marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum BAB V KONSEP 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan sentra industri batu marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum dalam Three Dimension Sustainability:

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN BAB VI HASIL PERANCANGAN Hasil perancangan merupakan aplikasi dari konsep ekowisata pada pengembangan kawasan agrowisata sondokoro yang meliputi bebera aspek, diantaranya: 6.1. Dasar Pengembangan Dasar

Lebih terperinci

BAB V. KONSEP PERANCANGAN

BAB V. KONSEP PERANCANGAN BAB V. KONSEP PERANCANGAN A. KONSEP MAKRO 1. Youth Community Center as a Place for Socialization and Self-Improvement Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota pendidikan tentunya tercermin dari banyaknya

Lebih terperinci

RENCANA PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA, SERTA PRASARANA DAN SARANA UMUM

RENCANA PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA, SERTA PRASARANA DAN SARANA UMUM RENCANA PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA, SERTA PRASARANA DAN SARANA UMUM 6 6.1 Rencana Penyediaan Ruang Terbuka Tipologi Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung berdasarkan kepemilikannya terbagi

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP DAN PERENCANAAN

BAB VI KONSEP DAN PERENCANAAN BAB VI KONSEP DAN PERENCANAAN 6.1 Konsep Dasar Konsep dasar perencanaan lanskap di desa Gedongjetis adalah menjadikan kawasan sebagai tempat wisata pertanian dengan obyek wisata utamanya kebun rambutan,

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep dasar pada perancangan Fashion Design & Modeling Center di Jakarta ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah EKSPRESI BENTUK dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perencanaan Lanskap Simonds (1983) menyatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses penyusunan kebijaksanaan atau merumuskan apa yang harus dilakukan, untuk memperbaiki keadaan

Lebih terperinci

V. KONSEP Konsep Dasar Perencanaan Tapak

V. KONSEP Konsep Dasar Perencanaan Tapak V. KONSEP 5.1. Konsep Dasar Perencanaan Tapak Konsep perencanaan pada tapak merupakan Konsep Wisata Sejarah Perkampungan Portugis di Kampung Tugu. Konsep ini dimaksudkan untuk membantu aktivitas interpretasi

Lebih terperinci

BAB V DATA DAN ANALISIS

BAB V DATA DAN ANALISIS 37 BAB V DATA DAN ANALISIS 5.1 Kondisi Umum Pine Forest Pine Forest merupakan salah satu kluster di Sentul City yang lokasinya di bagian barat Sentul City. Salah satu konsep pembangunan kluster ini adalah

Lebih terperinci

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. produksi gula untuk mempermudah proses produksi. Ditambah dengan

BAB VI HASIL RANCANGAN. produksi gula untuk mempermudah proses produksi. Ditambah dengan BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Hasil Rancangan Kawasan Revitalisasi Kawasan Pabrik Gula Krebet ini dibagi menjadi 3 yaitu bangunan primer, sekunder dan penunjang yang kemudian membentuk zoning sesuai fungsi,

Lebih terperinci

KONSEP THE CITY OF PEDESTRIAN. Supriyanto. Dosen Tetap Prodi Teknik Arsitektur FT UNRIKA Batam

KONSEP THE CITY OF PEDESTRIAN. Supriyanto. Dosen Tetap Prodi Teknik Arsitektur FT UNRIKA Batam KONSEP THE CITY OF PEDESTRIAN Supriyanto Dosen Tetap Prodi Teknik Arsitektur FT UNRIKA Batam Kalau kita berjalan kaki di suatu kawasan atau daerah, kita mempunyai tempat untuk mengekspresikan diri ( yaitu

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis

BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis 185 BAB VI HASIL PERANCANGAN Bab enam ini akan menjelaskan tentang desain akhir perancangan apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis tapak dan objek. 6.1 Tata Massa

Lebih terperinci

PENJELASAN I ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PROGRAM ADIPURA

PENJELASAN I ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PROGRAM ADIPURA PENJELASAN I ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PROGRAM ADIPURA Perumahan menengah : meliputi kompleks perumahan atau dan sederhana permukiman Perumahan pasang surut : meliputi perumahan yang berada di daerah

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang BAB 5 KONSEP PERANCANGAN Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo di Kabupaten Trenggalek menggunakan tema Organik yang merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP TAPAK DAN RUANG LUAR IV.1.1 Pengolahan Tapak dan Ruang Luar Mempertahankan daerah tapak sebagai daerah resapan air. Mempertahankan pohon-pohon besar yang ada disekitar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran

HASIL DAN PEMBAHASAN. Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran 29 HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran 1. Tata Guna Lahan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan BAB 6 HASIL RANCANGAN 6.1 Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan 6.1.1 Bentuk Tata Massa Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo pada uraian bab sebelumnya didasarkan pada sebuah

Lebih terperinci

BAB III: GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI

BAB III: GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI BAB III: GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI Wilayah studi dalam penelitian ini adalah Area Taman Ayodia, Jalan Barito, Jakarta Selatan. Gambaran umum terhadap wilayah studi pada awalnya akan dipaparkan gambaran

Lebih terperinci

Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara

Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara Kuisioner Responden yang terhormat, Agrowisata Salatiga merupakan salah satu agrowisata yang banyak diminati oleh pengunjung. Welcome area yang ada di agrowisata

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan Pusat Studi dan Budidaya Tanaman Hidroponik ini adalah Arsitektur Ekologis. Adapun beberapa nilai-nilai Arsitektur Ekologis

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari. II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Permukiman Manusia membutuhkan tempat bermukim untuk memudahkan aktivtias seharihari. Permukiman perlu ditata agar dapat berkelanjutan dan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA)

BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA) BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA) 5.1 Sirkulasi Kendaraan Pribadi Pembuatan akses baru menuju jalan yang selama ini belum berfungsi secara optimal, bertujuan untuk mengurangi kepadatan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI I. UMUM Di dalam undang-undang no 26 Tahun 2007 tentang penataan Ruang, dijelaskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perbukitan rendah dan dataran tinggi, tersebar pada ketinggian M di

BAB I PENDAHULUAN. perbukitan rendah dan dataran tinggi, tersebar pada ketinggian M di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Gorontalo sebagian besar wilayahnya berbentuk dataran, perbukitan rendah dan dataran tinggi, tersebar pada ketinggian 0 2000 M di atas permukaan laut. Luas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. heterogen serta coraknya yang materialistis (Bintarto,1983:27). Kota akan selalu

I. PENDAHULUAN. heterogen serta coraknya yang materialistis (Bintarto,1983:27). Kota akan selalu 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota adalah sebuah sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomis yang heterogen

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan

BAB VI HASIL RANCANGAN. Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan BAB VI HASIL RANCANGAN Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan perancangan. Batasan-batasan perancangan tersebut seperti: sirkulasi kedaraan dan manusia, Ruang Terbuka Hijau (RTH),

Lebih terperinci

PEDOMAN PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN (Permen PU 06/2007)

PEDOMAN PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN (Permen PU 06/2007) PEDOMAN PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN (Permen PU 06/2007) pengertian Penataan bangunan dan lingkungan : adalah kegiatan pembangunan untuk merencanakan, melaksanakan, memperbaiki,mengembangkan atau melestarikan

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB III: DATA DAN ANALISA BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 2.1.1. Data Fisik Lokasi Luas Lahan Kategori Proyek Pemilik RTH Sifat Proyek KLB KDB RTH Ketinggian Maks Fasilitas : Jl. Stasiun Lama No. 1 Kelurahan

Lebih terperinci

Hasil Observasi Karakter Gang di Kawasan Kampung Kota Bantaran Sungai di Babakan Ciamis, Bandung

Hasil Observasi Karakter Gang di Kawasan Kampung Kota Bantaran Sungai di Babakan Ciamis, Bandung TEMU ILMIAH IPLBI 2015 Hasil Observasi Karakter Gang di Kawasan Kampung Kota Bantaran Sungai di Babakan Ciamis, Bandung Binar T. Cesarin Magister Rancang Kota, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan

Lebih terperinci

STUDIO 3 PERENCANAAN & PENGEMBANGAN WILAYAH KELURAHAN GANDUS 1

STUDIO 3 PERENCANAAN & PENGEMBANGAN WILAYAH KELURAHAN GANDUS 1 STUDIO 3 PERENCANAAN & PENGEMBANGAN WILAYAH Raghanu Yudhaji 2014280001 Retno Kartika Sari 2014280003 Resty Juwita 2014280021 Antya Franika 2014280013 Aprido Pratama 2014280024 Khoirurozi Ramadhan G 2014280005

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan 118 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Objek wisata Curug Orok yang terletak di Desa Cikandang Kecamatan

Lebih terperinci