MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I
|
|
|
- Glenna Agusalim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I i
2 Penulis: 1. Dr. Suwarjo, M.Si, , 2. Dr. Naharus Surur, M. Pd, , Penelaah: 1. Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., , [email protected] 2. Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M. Pd., Kons., , [email protected] 3. Prof. Uman Suherman, M.Pd., , [email protected] 4. Dr. Nandang Rusmana, M.Pd., , [email protected] Ilustrator: Lukmana Yuda Adi Pramana, S. Sos Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ii
3 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I KATA SAMBUTAN Peran guru professional dalam pembelajaran sangat penting sebagai kunci keberhasilan belajar siswa. Guru professional adalah guru yang kompeten membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru. Pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar (GP) merupakan upaya peningkatan kompetensi untuk semua guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui uji kompetensi guru (UKG) untuk kompetensi pedagogik dan professional pada akhir tahun Hasil UKG menunjukan peta kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam penguasaan pengetahuan. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG melalui program Guru Pembelajar. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program Guru Pembelajar dilaksanakan melalui tatap muka, daring (on line) kombinasi dan campuran (blended) tatap muka dengan daring (on line) Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK KPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis dilingkungan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut adalah modul untuk program Guru Pembelajar (GP) tatap muka, daring kombinasi dan GP daring untuk semua mata pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program GP memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan kualitas kompetensi guru. Mari kita sukseskan program GP ini untuk mewujudkan Guru Mulia Karena Karya. Jakarta, Februari 2016 iii
4 KATA PENGANTAR Dalam rangka mendukung pencapaian visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong serta untuk merealisasikan misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewujudkan pelaku pendidikan dan kebudayaan yang kuat dan pembelajaran yang bermutu, PPPPTK Penjas dan BK tahun telah merancang berbagai program dan kegiatan peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan lainnya. Salah satu upaya PPPPTK Penjas dan BK dalam merealisasikan program peningkatan kompetensi Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) dan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) adalah melaksanakan kegiatan Program Guru Pembelajar (GP) yang bahan ajarnya dikembangkan dalam bentuk modul berdasarkan standar kompetensi guru. Sesuai fungsinya bahan pembelajaran yang didesain dalam bentuk modul agar dapat dipelajari secara mandiri oleh para peserta diklat. Beberapa karakteristik yang khas dari bahan pembelajaran tersebut adalah: (1) lengkap (self-contained), artinya seluruh materi yang diperlukan peserta diklat untuk mencapai kompetensi tertentu tersedia secara memadai; (2) menjelaskan diri sendiri (self-explanatory), maksudnya penjelasan dalam paket bahan pembelajaran memungkinkan peserta diklat dapat mempelajari dan menguasai kompetensi secara mandiri; serta (3) mampu membelajarkan peserta diklat (self-instructional), yakni sajian dalam paket bahan pembelajaran ditata sedemikian rupa sehingga dapat memicu peserta diklat untuk secara aktif melakukan interaksi belajar, bahkan menilai sendiri kemampuan belajar yang dicapainya. Modul ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran utama dalam Guru Pembelajar PJOK dan guru BK sebagai tindak lanjut dari Uji Kompetensi Guru (UKG). Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi serta penghargaan setinggi-tingginya kepada tim penyusun, baik penulis, tim pengembang teknologi pembelajaran, pengetik, tim editor, maupun tim pakar yang telah mencurahkan iv
5 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I pemikiran, meluangkan waktu untuk bekerja keras secara kolaboratif dalam mewujudkan modul ini. Semoga apa yang telah kita hasilkan memiliki makna strategis dan mampu memberikan kontribusi dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan terutama dalam bidang PJOK dan BK yang akan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan nasional. v
6 DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN... iii KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... viii PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan... 2 C. Peta Kompetensi D. Ruang Lingkup... 3 E. Cara Penggunaan Modul... 3 KEGIATAN PEMBELAJARAN : PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM SATUAN JENJANG PENDIDIKAN A. Tujuan B. Indikator Keberhasilan C. Uraian Materi Pentingnya Bimbingan dan Konseling dalam Satuan jenjang Pendidikan Bimbingan dan Konseling pada Berbagai Jenjang Pendidikan...,,.6 3. Tujuan Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan Fungsi Layanan Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan Asas Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan Prinsip Pelayanan Bimb9ngan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan Komponen Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan.17 D. Aktifitas Pembelajaran E. Latihan Tugas F. Rangkuman vi
7 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I G. Evaluasi Formatif H. Kunci Jawaban I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut PENUTUP A. Evaluasi Kegiatan Belajar B. Umpan Balik dan Tindak Lanjut GLOSARIUM DAFTAR PUSTAKA vii
8 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran viii
9 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan memberlakukan kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang telah melaksanakan kurikulum 2013 mulai tahun Perubahan kurikulum 2013 didorong oleh semangat untuk terwujudnya Generasi Emas Indonesia di Tahun Generasi emas merupakan sosok generasi yang diamanatkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 1, yakni generasi yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam mewujudkan cita-cita luhur tersebut, pendidikan berupaya memfasilitasinya melalui tiga anatomi pendidikan. Pertama, kepemimpinan melalui pelaksanaan manajemen pendidikan yang proaktif dan fasilitatif terutama diselenggarakan oleh Kepala Sekolah beserta staf. Kedua, pembelajaran yang mendidik yang diselenggarakan oleh guru mata pelajaran. Ketiga, pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan yang diselenggarakan konselor atau guru bimbingan dan konseling. Ini berarti bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan Indonesia. Sebagai bagian integral dari sistem pendidikan Indonesia, bimbingan dan konseling merupakan layanan ahli yang diampu oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling. Sebagai layanan ahli, bimbingan dan konseling memfasilitasi peserta didik untuk berkembang optimal melalui learning to be, learning to learn, learning to work/to earn, dan learning to live together. Proses learning to be diarahkan agar peserta didik menjadi pribadi yang efektif yang dapat difasilitasi melalui layanan bimbingan dan konseling bidang pribadi. Proses learning to learn diarahkan agar belajar hari saat ini menjadi dasar untuk pembelajaran berikutnya sehingga menjadi pembelajar sepanjang hayat yang dapat difasilitasi melalui layanan bimbingan dan konseling bidang belajar. Proses learning to work/to earn diarahkan agar peserta didik dapat bekerja atau mencari kehidupan yang layak sehingga menjadi insan produktif yang dapat difasilitasi melalui layanan bimbingan dan konseling bidang karir. Proses learning to live together diarahkan agar peserta didik dapat hidup harmonis dalam keberagaman yang dapat difasilitasi melalui layanan bimbingan dan konseling bidang sosial. PPPPTK Penjas dan BK 1
10 Semuanya ini perlu dibingkai dengan paradigma bimbingan dan konseling multibudaya sebagai salah satu arah perkembangan profesi bimbingan dan konseling di Indonesia khususnya, dunia pada umumnya. Melihat pentingnya peranan konselor atau guru bimbingan dan konseling, maka semua konselor atau guru bimbingan dan konseling dituntut untuk mengembangan keprofesionalannya secara berkelanjutan sehingga menjadi guru pembelajar, yaitu guru yang ingin terus menerus untuk meningkatkan profesionalitasnya. Melalui upaya tersebut diharapkan konselor atau guru bimbingan dan konseling dapat memenuhi seluruh kompetensi yang dituntut sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. Salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki konselor atau guru bimbingan dan konseling adalah menguasahi esensi pelayanan bimbingan dan konseling. Berkaitan dengan kompetensi tersebut, maka konselor atau guru bimbingan dan konseling dituntut mampu mendeskripsikan esensi pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan menengah. B. Tujuan Secara umum modul ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam mendeskripsikan esensi pelayanan bimbingan dan konseling guna pengembangan kemampuan penguasaan pedagogik khususnya pada jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK). Secara khusus, setelah mengikuti pembelajaran modul ini, konselor atau Guru bimbingan dan konseling diharapkan memiliki kemampuan dalam : 1. Mendeskripsikan esensi pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan di TK/RA, SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK. 2. Memahami dan membedakan ruang lingkup dan pendekatan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan di TK/RA, SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK. C. Peta Kompetensi Kompetensi yang diharapkan dicapai melalui pembelajaran modul ini adalah konselor atau guru bimbingan dan konseling memiliki kecakapan menjelaskan PPPPTK Penjas dan BK 2
11 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I esensi pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. D. Ruang Lingkup Modul ini terdiri atas satu materi pembelajaran, yaitu Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan. E. Cara Penggunaan Modul Agar menguasai kompetensi pada modul ini, seyogianya perhatikan betul cara penggunaan modul ini, sebagai berikut. 1. Terlebih dahulu baca dan pahami uraian dalam pendahuluan modul ini karena latar belakang penulisan modul diyakini akan memberikan gambaran tentang pentingnya modul ini dipelajari. 2. Pahami tujuan dan kompetensi pembelajaran yang ada pada pendahuluan modul ini. 3. Pahami tujuan dan peta kompetensi serta kompetensi setiap kegiatan pembelajaran pada modul ini sebelum mengkaji secara detail materimaterinya. 4. Kajilah materi modul ini dan catatlah materi yang dianggap penting atau esensial. Jika perlu lakukan validasi isi materi modul dengan rujukan lain yang relevan. 5. Kerjakan latihan/tugas yang diberikan, lalu sesuaikan dengan materi yang ada pada uraian materi. 6. Kerjakan atau Jawab soal-soal yang diberikan dan setelah mengerjakan latihan/tugas periksalah jawaban sesuai dengan kunci jawaban. 7. Tentukan tingkat keberhasilan kegiatan pembelajaran Anda sesuai dengan petunjuk yang tersedia pada bagian akhir modul ini. 8. Lakukan refleksi mendalam sehingga Anda mampu melakukan autokritik terhadap penguasaan kompetensi pada kegiatan pembelajaran. 9. Tentukan tindak lanjut sesuai nilai yang Anda diperoleh serta berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan. 10. Jika modul ini digunakan sesuai langkah penggunaannya, sudah semestinya Anda berhasil menguasa kompetensi yang diharapkan. PPPPTK Penjas dan BK 3
12 KEGIATAN PEMBELAJARAN : PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM SATUAN JENJANG PENDIDIKAN A. Tujuan Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu memahamani esensi pelayanan bimbingan dan konseling pada jenjang pendidikan baik pendidikan usia dini (TK/RA), pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs), pendidikan menengah (SMA/MA dan SMK/MAK) dan pendidikan tinggi (PT) B. Indikator Keberhasilan Guru Bimbingan dan Konseling atau konselor dapat mendeskirpsikan esensi pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs), pendidikan menengah (SMA/MA dan SMK/MAK) dan pendidikan tinggi (PT). C. Uraian Materi 1. Pentingnya Bimbingan dan Konseling dalam Satuan jenjang Pendidikan Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari istilah guidance dan counseling dalam bahasa Inggris. Secara harfiah istilah guidance berasal dari akar kata guide yang berarti : (1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to pilot), (3) mengelola (to manage), dan (4) menyetir (to steer) sedangkan counseling menurut Shertzer dan Stone (1980) disimpulkan Counseling is an interaction process which facilitates meaningful understanding of self and environment and result in the establishment and/or clarification of goals and values of future behavior (Syamsu Yusuf, 2006) Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru Bimbingan dan Konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta PPPPTK Penjas dan BK 4
13 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I didik/konseli untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya (pasal 1 ayat 1 Permendikbud nomor 111 Tahun 2014). Pelayanan bimbingan dan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan bimbingan dan konseling ini juga membantu peserta didik mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi. Dasar pemikiran penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling dalam setiap satuan jenjang pendidikan bukan semata-mata terletak adanya hukum (perundang-undangan) yang berlaku, tetapi yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek fisik, emosi, sosial, intelektual, dan moral spiritual. Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling. Di samping itu terdapat keniscayaan bahwa proses perkembangan tidak selalu berjalan mulus dan bebas dari masalah. Kesuksesan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada suatu masa, akan berpengaruh terhadap kesusksesan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan selanjutnya. Demikian pula dalam kaitannya dengan pendidikan, keberhasilan menuntaskan tugas-tugas pada suatu jenjang pendidikan tertentu akan menentukan keberhasilan mereka menyelesaian tugas-tugas pada suatu jenjang pendidikan berikutnya. Terkait dengan peran bimbingan dan konseling yaitu memfasilitasi optimalisasi perkembangan peserta didik, maka kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam satuan jenjang pendidikan adalah penting. Sesuai dengan tingkat perkembangannya yang berda-beda, titik tekan layanan bimbingan dan konseling di suatu jenjang pendidikan tidak-lah sama. Hal ini tampak misalnya pada alokasi waktu layanan yang disiapkan antara kegiatan pelayanan dasar, layanan responsif, layanan peminatan dan perencanaan individual, dan dukungan sistem. Perbedaan tersebut dapat digambarkan seperti pada tabel berikut. PPPPTK Penjas dan BK 5
14 Program SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK/MAK Layanan Dasar 45 55% 35 45% 25 35% Layanan Peminatan dan Perencanaan Individual 5 10% 15 25% 25 35% Layanan Responsif 20 30% 25 35% 15 25% Dukungan Sistem 10 15% 10 15% 10 15% 2. Bimbingan dan Konseling pada Berbagai Jenjang Pendidikan a. Bimbingan dan Konseling di Taman Kanak-Kanak Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 mengamanatkan pentingnya layanan bimbingan dan konseling di Taman Kanak-kanak. Meskipun demikian, saat ini pada jenjang Taman Kanak-kanak di tanah air belum ditemukan posisi struktural bagi konselor atau guru bimbingan dan konseling karena layanan bimbingan dan konseling menyatu dalam layanan pembelajaran. Di Taman Kanak-kanak fungsi bimbingan dan konseling lebih bersifat preventif dan developmental. Kegiatan layanan bimbingan dan konseling lebih diarahkan pada tumbuhnya dasar-dasar kepribadian peserta didik melalui proses pembelajaran yang mendidik. Dengan demikian komponen layanan dasar membutuhkan alokasi waktu yang lebih besar dibandingkan dengan yang dibutuhkan oleh peserta didik pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebaliknya, komponen perencanaan individual student planning (yang terdiri dari: pelayanan appraisal, advicement transition planning) dan pelayanan responsive (yang berupa pelayanan konseling dan konsultasi) memerlukan alokasi waktu yang lebih kecil. Kegiatan konselor atau guru bimbingan dan konseling di jenjang Taman Kanak-kanak dalam komponen responsive services, dilaksanakan terutama untuk memberikan layanan konsultasi kepada guru dan orang tua dalam mengatasi perilaku-perilaku mengganggu (disruptive) (Dikti Depdiknas, 2007). Pendidikan di Taman Kanak-kanak/Raudatul Athfal (TK/RA) pada hakikatnya merupakan wadah bagi perkembangan seluruh aspek kepribadian anak usia 4-6 tahun. Tujuan pendidikan di Taman Kanak-kanak adalah membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri di lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Agar PPPPTK Penjas dan BK 6
15 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I hal tersebut dapat tercapai secara optimal diperlukan upaya pelayanan bimbingan dan konseling yang memadai. Usia anak TK/RA adalah usia individu yang sedang menjalani suatu proses pertumbuhan dan perkembangan sangat pesat dan sangat fundamental bagi proses selanjutnya. Usia TK/RA adalah usia pra sekolah yang merupakan fase kehidupan manusia. Pada masa ini individu mempunyai keunikan dan dunia sendiri. Anak usia ini berbeda dari orang dewasa tidak secara fisik saja, melainkan secara menyeluruh. Bermain adalah dunianya, bermain merupakan gejala yang melekat langsung pada kodratnya. Apabila anak enggan bermain, kemungkinan anak mengalami hambatan, seperti sakit, kelainan atau hambatan lainnya. Secara singkat, gambaran perkembangan anak usia TK/RA adalah sebagai berikut : 1) Perkembangan Anak Usia 4 5 tahun Anak usia 4-5 tahun sangat aktif dan energik. Kebanyakan waktunya dihabiskan untuk bermain, misalnya berlari, melompat dan memanjat. Anak juga suka bermain peran, misalnya menjadi dokter-dokteran, ibu sedang memasak, berjualan dan sebagainya. Pada usia ini ide-ide anak juga mulai berkembang, mulai bisa berteman, dapat memahami pendapat teman dan ada keinginan bergabung dengan kelompok lain. 2) Perkembangan Anak Usia 5 6 tahun Anak usia 5-6 tahun adalah anak yang periang dan imajinatif. Mereka tiada hentinya bergerak dan berbuat sesuatu menggunakan gerakan tubuhnya secara kreatif, terutama dalam menggunakan kedua belah tangannya. Bermain merupakan gejala alamiah pada anak dan dapat kita amati di lingkungan dan budaya manapun anak berada. Terkait dengan aktivitas bermain yang mendominasi kehidupan kanak-kanak, layanan bimbingan dan konseling untuk anak usia TK/RA bisa memanfaatkan teknik-teknik dan aktivitas bermain sebagai metode layanannya. Peserta didik usia TK/RA menunjukkan kepekaan-kepekaan tertentu, yang bila dirangsang dan dibina pada saatnya niscaya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. PPPPTK Penjas dan BK 7
16 b. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar Dikti Depdiknas (2007) menegaskan bahwa sampai saat ini, di jenjang Sekolah Dasar-pun juga tidak ditemukan posisi struktural untuk konselor atau guru bimbingan dan konseling. Namun demikian sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik usia sekolah dasar, kebutuhan akan pelayanan bimbingan dan konseling bukannya tidak ada. Meskipun demikian tentu saja layanan bimbingan dan konseling di SD/MI berbeda dengan bimbingan dan konseling di jenjang sekolah menengah dan jenjang perguruan tinggi. Bimbingan dan konseling di SD/MI lebih difokuskan pada usaha-usaha preventif-developmental aspek-aspek positif peserta didik yang dalam implementasinya terintegrasikan dalam pembelajaran yang mendidik yang dilakukan guru kelas. Konselor atau guru bimbingan dan konseling berperan secara produktif di jenjang sekolah dasar bukan dengan memposisikan diri sebagai fasilitator pengembangan diri peserta didik yang tidak jelas posisinya, melainkan dengan memposisikan diri sebagai Konselor Kunjung yang membantu guru kelas di sekolah dasar mengatasi perilaku menganggu (disruptive behavior), antara lain dengan pendekatan direct behavioral consultation. Pada setiap gugus sekolah dasar diangkat 2 (dua) atau 3 (tiga) konselor untuk memberikan pelayanan bimbingan dan konseling (Dikti Depdiknas, 2007). Pendidikan di SD/MI bertujuan untuk menyiapkan peserta didik memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Peserta didik usia SD/MI berada dalam rentang 6 12 tahun. Pada usia 6 tahun peserta didik memasuki jenjang pendidikan SD/MI dengan atau tanpa melalui pendidikan TK/RA. Perencanaan bimbingan dan konseling pada tingkat SD/MI ditujukan pada penyiapan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan SMP/MTs. Pelayanan bimbingan dan konseling ini mencakup juga bimbingan dan konseling bagi peserta didik yang memiliki kemauan dan kecerdasan luar biasa. Bentuk konkret pelayanan bimbingan dan konseling bidang belajar adalah bantuan yang diberikan oleh guru kelas dan/atau guru BK atau konselor kepada peserta didik yang membutuhkan pengajaran remedial atau pendampingan khusus karena kemampuan intelektualnya yang luar biasa. Terdapat tiga pandangan dasar mengenai bimbingan dan konseling di SD/MI, yaitu bimbingan dan konseling terbatas pada pengajaran yang baik PPPPTK Penjas dan BK 8
17 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I (instructional guidance); bimbingan dan konseling hanya diberikan pada peserta didik yang menunjukkan gejala penyimpangan dari laju perkembangan yang normal; dan pelayanan bimbingan dan konseling tersedia untuk semua peserta didik agar proses perkembangannya berjalan lebih lancar. Pandangan yang ke tiga dewasa ini diakui sebagai pandangan dasar yang paling tepat, meskipun suatu unsur pelayanan bimbingan dan konseling yang mengacu pada pandangan pertama dan kedua tidak bisa diabaikan. Berkaitan dengan perkembangan, tugas perkembangan yang ingin dicapai pada tahap perkembangan usia SD/MI ini adalah : 1) Memiliki kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2) Mengembangkan ketrampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung. 3) Mengembangkan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehari-hari. 4) Belajar bergaul dan bekerja dengan kelompok sebaya. 5) Belajar menjadi pribadi yang mandiri 6) Mempelajari ketrampilan fisik sederhana yang diperlukan baik untuk permainan maupun kehidupan. 7) Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai sebagai pedoman perilaku. 8) Membina hidup sehat, untuk diri sendiri, dan lingkungan serta keindahan. 9) Belajar memahami diri sendiri dan orang lain sesuai dengan jenis kelaminnya dan menjalankan peran tanpa membedakan jenis kelamin. 10) Mengembangkan sikap terhadap kelompok, lembaga sosial, serta tanah air bangsa dan Negara. Mengembangkan pemahaman dan sikap awal untuk perencanaan masa depan. c. Bimbingan Dan Konseling di SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK Pada jenjang SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK, secara hukum posisi bimbingan dan konseling telah ada sejak tahun 1975, yaitu sejak diberlakukannya kurikulum bimbingan dan konseling (Buku 3C). Dalam sistem pendidikan Indonesia, konselor atau guru bimbingan dan konseling di sekolah menengah mendapat peran dan posisi/tempat yang jelas. Peran konselor atau guru bimbingan dan konseling, sebagai salah satu komponen student support PPPPTK Penjas dan BK 9
18 services, adalah men-suport perkembangan aspek-aspek pribadi, sosial, karier, dan akademik peserta didik, melalui pengembangan menu program bimbingan dan konseling pembantuan kepada peserta didik dalam individual student planning, pemberian pelayanan responsive, dan pengembangan system support. Pada jenjang ini, konselor menjalankan semua fungsi bimbingan dan konseling. Setiap sekolah menengah idealnya diangkat konselor atau guru bimbingan dan konseling dengan perbandingan 1 : 150 (Dikti Depdiknas, 2007). Perkembangan anak usia SMP/MTs ada pada rentang usia tahun. Usia ini ada pada masa remaja awal. Perpindahan dari SD/MI ke SMP/MTs ini merupakan langkah yang cukup berarti dalam kehidupan peserta didik, baik karena tambahan tuntutan belajar bagi peserta didik lebih berat, maupun karena peserta didik akan mengalami banyak perubahan dalam diri sendiri. Oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling di SMP/MTs harus bercorak lain pula. Program bimbingan dan konseling pada SMP/MTs kiranya tidak hanya sekedar sebagai lanjutan dari program bimbingan dan konseling untuk SD/MI tanpa perubahan dan penyesuaian seperlunya. Pada tingkat pendidikan SMP/MTs ini semakin tegas dibedakan antara administrasi sekolah, bidang pengajaran, dan bidang pembinaan peserta didik. Bidang pembinaan peserta didik sendiri semakin menunjukkan keanekaragaman, termasuk pelayanan bimbingan sebagai subbidang dalam bidang pembinaan peserta didik. Berkaitan dengan perkembangan, tugas perkembangan yang ingin dicapai pada tahap perkembangan usia SMP/MTs, yaitu: 1) Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2) Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. 3) Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. 4) Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan yang lebih luas. 5) Mengenal kemampuan, bakat, dan minat serta arah kecenderungan karir dan apresiasi seni. PPPPTK Penjas dan BK 10
19 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I 6) Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan/atau mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan di masyarakat. 7) Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi. 8) Mengenal sistem etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara. Perkembangan anak usia SMA/MA/SMK/MAK ada pada rentang usia tahun. Usia ini ada pada masa remaja akhir. Memasuki jenjang SMA/MA/SMK/MAK pelayanan bimbingan dan konseling harus lebih intensif dan lebih lengkap dibandingkan dengan pelayanan bimbingan dan konseling disatuan pendidikan dibawahnya. Pada jenjang pendidikan SMA/MA/SMK/MAK ini secara tegas dibedakan antara bidang administrasi sekolah, bidang pengajaran dan bidang pembinaan peserta didik. Berkaitan dengan perkembangan, tugas perkembangan yang ingin dicapai pada tahap perkembangan usia SMA/MA/SMK/MAK, yaitu: 1) Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2) Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam peranannya sebagai pria atau wanita. 3) Mencapai kematangan pertumbuhan fisik yang sehat. 4) Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan seni sesuai dengan program kurikulum dan persiapan karir atau melanjutkan pendidikan tinggi, serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. 5) Mencapai kematangan dalam pilihan karir. 6) Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi. 7) Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 8) Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual, serta apresiasi seni. 9) Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. PPPPTK Penjas dan BK 11
20 Tugas perkembangan peserta didik usia SMA/MA/SMK/MAK adalah sama, hanya karena orientasi pendidikannya adalah berbeda, maka SMK yang merupakan sekolah berbasis kejuruan, pelayanan bimbingan dan konseling untuk bidang karir mendapatkan prioritas lebih dibandingkan yang lainnya. d. BK di Satuan Jenjang Perguruan Tinggi Panda jenjang Perguruan Tinggi, meskipun secara struktural posisi konselor Perguruan Tinggi belum tercantum dalam sistem pendidikan di tanah air, namun bimbingan dan konseling dalam rangka men- support perkembangan personal, sosial akademik, dan karier mahasiswa dibutuhkan. Sama dengan konselor pada jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, konselor di Perguruan Tinggi juga harus mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum pelayanan dasar bimbingan dan konseling, individual student planning, responsive services, serta system support. Namun, alokasi waktu konselor di perguruan tinggi lebih banyak pada pemberian bantuan individual student career planning dan penyelenggaraan responsive services. Setiap perguruan tinggi menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling melalui suatu unit yang ditetapkan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan. 3. Tujuan Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan Tujuan merupakan pernyataan yang menggambarkan hasil yang diharapkan, atau sesuatu yang ingin dicapai melalui berbagai kegiatan yang diprogramkan. Tujuan bimbingan dan konseling merupakan pernyataan yang menggambarkan kualitas perilaku atau pribadi peserta didik yang diharapkan berkembang melalui berbagai strategi layanan kegiatan yang diberikan. Tujuan umum layanan bimbingan dan konseling adalah membantu peserta didik/konseli agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal. Tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling adalah membantu peserta didik/konseli agar mampu: (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya; (2) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, PPPPTK Penjas dan BK 12
21 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I perkembangan karir dan kehidupannya di masa yang akan datang; (3) mengembangkan potensinya seoptimal mungkin; (4) menyesuaikan diri dengan lingkungannya; (5) mengatasi hambatan atau kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya dan (6) mengaktualiasikan dirinya secara bertanggung jawab (Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014). Untuk masing-masing jenjang pendidikan secara umum adalah sama, hanya karena tahap dan tugas perkembangannya berbeda, maka tujuan spesifik tujuan bimbingan dan konseling berdasarkan perkembangan peserta didik dimungkinkan berbeda. Misal tujuan bimbingan dan konseling di TK/RA adalah membantu anak didik agar dapat mengenal dirinya dan lingkungan terdekatnya sehingga dapat menyesuaikan diri melalui tahap peralihan dari kehidupan di rumah ke kehidupan di sekolah dan di masyarakat sekitar anak. Dengan layanan bimbingan dan konseling di TK/RA tersebut diharapkan dapat : a. Membantu anak lebih mengenal dirinya, kemampuannya, sifatnya, kebiasaannya dan kesenangannya. b. Membantu anak agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. c. Membantu anak untuk mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. d. Membantu menyiapkan perkembangan mental dan sosial anak untuk masuk kel lembaga pendidikan selanjutnya e. Membantu oarng tua agar mengerti, memahami dan menerima anak sebagai individu. f. Membantu orang tua dalam mengatasi gangguan emosi anak yang ada hubungannya dengan situasi keluarga di rumah. g. Membantu orang tua mengambil keputusan memilih sekolah bagi anaknya yang sesuai dengan taraf kemampuan kecerdasan, fisik dan inderanya. h. Memberikan informasi pada orang tua untuk memecahkan masalah kesehatan anak. 4. Fungsi Layanan Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan PPPPTK Penjas dan BK 13
22 Pada satuan pendidikan, bimbingan dan konseling memiliki fungsi-fungsi sebagaimana digariskan dalam Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 sebagai berikut. a. Pemahaman yaitu membantu konseliagar memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, budaya, dan norma agama). b. Fasilitasi yaitu memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek pribadinya. c. Penyesuaian yaitu membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri dan dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. d. Penyaluran yaitu membantu konseli merencanakan pendidikan, pekerjaan dan karir masa depan, termasuk juga memilih program peminatan, yang sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadiannya. e. Adaptasi yaitu membantu para pelaksana pendidikan termasuk kepala satuan pendidikan, staf administrasi, dan guru mata pelajaran atau guru kelas untuk menyesuaikan program dan aktivitas pendidikan dengan latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik/konseli. f. Pencegahan yaitu membantu peserta didik/konseli dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan timbulnya masalah dan berupaya untuk mencegahnya, supaya peserta didik/konseli tidak mengalami masalah dalam kehidupannya. g. Perbaikan dan Penyembuhan yaitu membantu peserta didik/konseli yang bermasalah agar dapat memperbaiki kekeliruan berfikir, berperasaan, berkehendak, dan bertindak. Konselor atau guru bimbingan dan konseling melakukan memberikan perlakuan terhadap konseli supaya memiliki pola fikir yang rasional dan memiliki perasaan yang tepat, sehingga konseli berkehendak merencanakan dan melaksanakan tindakan yang produktif dan normatif. h. Pemeliharaan yaitu membantu peserta didik/konseli supaya dapat menjaga kondisi pribadi yang sehat-normal dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. PPPPTK Penjas dan BK 14
23 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I i. Pengembangan yaitu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli melalui pembangunan jejaring yang bersifat kolaboratif. j. Advokasi yaitu membantu peserta didik/konseli berupa pembelaan terhadap hak-hak konseli yang mengalami perlakuan diskriminatif. 5. Asas Layanan Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 menegaskan bahwa bimbingan dan konseling di sekolah didasarkan pada asas-asas berikut. a. Kerahasiaan yaitu asas layanan yang menuntut konselor atau guru bimbingan dan konseling merahasiakan segenap data dan keterangan tentang peserta didik/konseli, sebagaimana diatur dalam kode etik bimbingan dan konseling. b. Kesukarelaan, yaitu asas kesukaan dan kerelaan peserta didik/konseli mengikuti layanan yang diperlukannya. c. Keterbukaan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang bersifat terbuka dan tidak berpura-pura dalam memberikan dan menerima informasi. d. Keaktifan yaitu asas layanankonselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli memerlukan keaktifan dari keduabelah pihak. e. Kemandirian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang merujuk pada tujuan agar peserta didik/konseli mampu mengambil keputusan pribadi, sosial, belajar, dan karir secara mandiri. f. Kekinian yaitu asas layanankonselor atau guru bimbingan dan konseling yang berorientasi pada perubahan situasi dan kondisi masyarakat di tingkat lokal, nasional dan global yang berpengaruh kuat terhadap kehidupan peserta didik/konseli. g. Kedinamisan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berkembang dan berkelanjutan dalam memandang tentang hakikat manusia, kondisi-kondisi perubahan perilaku, serta proses dan teknik bimbingan dan konseling sejalan perkembangan ilmu bimbingan dan konseling. h. Keterpaduan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang terpadu antara tunjuan bimbingan dan konseling dengan PPPPTK Penjas dan BK 15
24 tujuan pendidikan dan nilai nilai luhur yang dijunjung tinggi dan dilestarikan oleh masyarakat. i. Keharmonisan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang selaras dengan visi dan misi sekolah, nilai dan norma kehidupan yang berlaku di masyarakat. j. Keahlian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling berdasarkan atas kaidah-kaidah akademik dan etika profesional, dimana layanan bimbingan dan konseling hanya dapat diampu oleh tenaga ahli bimbingan dan konseling. k. Tut wuri handayani yaitu suatu asas pendidikan yang mengandung makna bahwa konselor atau guru bimbingan dan konseling sebagai pendidik harus memfasilitasi setiap peserta didik/konseli untuk mencapai tingkat perkembangan yang utuh dan optimal. 6. Prinsip-prinsip Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan Prinsip-prinsip pelayanan bimbingan dan konseling pada pendidikan formal dipandang sebagai fondasi atau landasan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 menegaskan bahwa bimbingan dan konseling di sekolah diselenggarakan dengan berpegang pada prinsip-prinsip berikut. a. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua peserta didik/konseli dan tidak diskriminatif. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua peserta didik/konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa tanpa diskriminatif. b. Bimbingan dan konseling sebagai proses individualisasi. Setiap peserta didik bersifat unik (berbeda satu sama lainnya) dan dinamis, dan melalui bimbingan peserta didik/konseli dibantu untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh. c. Bimbingan dan konseling menekankan nilai-nilai positif. Bimbingan dan konseling merupakan upaya memberikan bantuan kepada konseli untuk membangun pandangan positif dan mengembangkan nilai-nilai positif yang ada pada dirinya dan lingkungannya. d. Bimbingan dan konseling merupakan tanggung jawab bersama. Bimbingan PPPPTK Penjas dan BK 16
25 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I dan konseling bukan hanya tanggung jawab konselor atau guru bimbingan dan konseling, tetapi tanggung jawab guru-guru dan pimpinan satuan pendidikan sesuai dengan tugas dan kewenangan serta peran masingmasing. e. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk membantu peserta didik/konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan serta merealisasikan keputusannya secara bertanggungjawab. f. Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya berlangsung pada satuan pendidikan, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. g. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan. Penyelenggaraan bimbingan dan konseling tidak terlepas dari upaya mewujudkan tujuanpendidikan nasional. h. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam bingkai budaya Indonesia. Interaksi antar guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan peserta didik harus senantiasa selaras dan serasi dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh kebudayaan dimana layanan itu dilaksanakan. i. Bimbingan dan konseling bersifat fleksibel dan adaptif serta berkelanjutan. Layanan bimbingan dan konseling harus mempertimbangkan situasi dan kondisi serta daya dukung sarana dan prasarana yang tersedia. j. Bimbingan dan konseling diselenggarakan oleh tenaga profesional dan kompeten.layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh tenaga pendidik profesional yaitu konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/ Konselor dari Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan yang terakreditasi. k. Program bimbingan dan konseling disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik/konseli dalam berbagai aspek perkembangan. l. Program bimbingan dan konseling dievaluasi untuk mengetahui keberhasilan layanan dan pengembangan program lebih lanjut. PPPPTK Penjas dan BK 17
26 7. Komponen Bimbingan dan Konseling pada Satuan Jenjang Pendidikan Layanan bimbingan dan konseling sebagai layanan profesional yang diselenggarakan pada satuan pendidikan mencakup komponen program, bidang layanan, struktur dan program layanan, kegiatan dan alokasi waktu layanan. Komponen program meliputi layanan dasar, layanan peminatan dan perencanaan individual, layanan responsif, dan dukungan sistem, sedangkan bidang layanan terdiri atas bidang layanan pribadi, sosial, belajar, dan karir. Komponen program dan bidang layanan dituangkan ke dalam program tahunan dan semesteran dengan mempertimbangkan komposisi, proporsi dan alokasi waktu layanan, baik di dalam maupun di luar kelas. Program kerja layanan bimbingan dan konseling disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik/konseli dan struktur program dengan menggunakan sistematika minimal meliputi: rasional, visi dan misi, deskripsi kebutuhan, komponen program, bidang layanan, rencana operasional, pengembangan tema/topik, pengembangan RPLBK, evaluasi-pelaporan-tindak lanjut, dan anggaran biaya. a. Komponen Program Layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan secara keseluruhan dikemas dalam empat komponen layanan, yaitu komponen: (a) layanan dasar, (b) layanan peminatan dan perencanaan individual, (c) layanan responsif,dan(d) dukungan sistem. 1) Layanan Dasar a) Pengertian Layanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dalam rangka mengembangkan kemampuan penyesuaian diri yang efektif sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian). b) Tujuan Layanan dasar bertujuan membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan hidup, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas PPPPTK Penjas dan BK 18
27 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I perkembangannya secara optimal. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan mampu mengatasi masalahnya sendiri, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dalam komponen layanan dasar antara lain; asesmen kebutuhan, bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, pengelolaan media informasi, dan layanan bimbingan dan konseling lainnya. c) Fokus Pengembangan Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus pengembangan kegiatan yang dilakukan diarahkan pada perkembangan aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu peserta didik/konseli dalam upaya mencapai tugas-tugas perkembangandan tercapainya kemandirian dalam kehidupannya. 2) Layanan Peminatan dan Perencanaan Individual a) Pengertian Peminatan adalah program kurikuler yang disediakan untuk mengakomodasi pilihan minat, bakat dan/atau kemampuan peserta didik/konseli dengan orientasi pemusatan, perluasan, dan/atau pendalaman mata pelajaran dan/atau muatan kejuruan.peminatan peserta didik dalam Kurikulum 2013 mengandung makna: (1) suatu pembelajaran berbasis minat peserta didik sesuai kesempatan belajar yang ada dalam satuan pendidikan; (2) suatu proses pemilihan dan penetapan peminatan belajar yang ditawarkan oleh satuan pendidikan; (3) merupakan suatu proses pengambilan pilihan dan keputusan oleh peserta didik tentang peminatan belajar PPPPTK Penjas dan BK 19
28 yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan pilihan yang tersedia pada satuan pendidikan serta prospek peminatannya; (4)merupakan proses yang berkesinambungan untuk memfasilitasi peserta didik mencapai keberhasilan proses dan hasil belajar serta perkembangan optimal dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional; dan (5) layanan peminatan peserta didik merupakan wilayah garapan profesi bimbingan dan konseling, yang tercakup pada layanan perencanaan individual.layanan Perencanaan individual adalah bantuan kepada peserta didik/konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas-aktivitas sistematik yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman terhadap peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman konseli secara mendalam, penafsiran hasil asesmen, dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi yang dimiliki konseli amat diperlukan sehingga peserta didik/konseli mampu memilih dan mengambil keputusan yang tepat di dalam mengembangkan potensinya secara optimal, termasuk keberbakatan dan kebutuhan khusus peserta didik/konseli. b) Tujuan Peminatan dan perencanaan individual secara umum bertujuan untuk membantu konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya. Tujuan peminatan dan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi peserta didik/konseli untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan pribadisosial oleh dirinya sendiri. Isi layanan perencanaan individual meliputi memahami secara khusus tentang potensi dan keunikan perkembangan dirinya sendiri. PPPPTK Penjas dan BK 20
29 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I Dengan demikian meskipun peminatan dan perencanaan individual ditujukan untuk seluruh peserta didik/konseli, layanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan, tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masingmasing peserta didik/konseli. Layanan peminatan peserta didik secara khusus ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilanpeserta didik sesuai dengan minat, bakat dan/atau kemampuan akademik dalam sekelompok mata pelajaran keilmuan, maupun kemampuan dalam bidang keahlian, program keahlian, dan paket keahlian. c) Fokus Pengembangan Fokus pengembangan layanan peminatan peserta didik diarahkan pada kegiatanmeliputi; (1) pemberian informasi program peminatan; (2)melakukan pemetaan dan penetapan peminatan peserta didik (pengumpulan data, analisis data, interpretasi hasil analisis data dan penetapan peminatan peserta didik); (3) layanan lintas minat; (4) layanan pendalaman minat; (5)layanan pindah minat; (6) pendampingan dilakukan melalui bimbingan klasikal, bimbingankelompok, konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi, (7) pengembangan dan penyaluran; (8) evaluasi dan tindak lanjut. Konselor atau guru bimbingan dan konseling berperan penting dalam layanan peminatan peserta didik dalam implementasi kurikulum 2013 dengan cara merealisasikan 8 (delapan) kegiatan tersebut. Dalam penetapan peminatan peserta didik/konseli SMA memperhatikan data tentang nilai rapor SMP/MTs atau yang sederajat, nilai Ujian Nasional SMP/MTs atau yang sederajat, minat peserta didik dengan persetujuan orang tua/wali, dan rekomendasi guru bimbingan dan konseling/konselor SMP/MTs atau yang sederajat. Untuk menuju peminatan peserta didik/konseli yang tepat memerlukan arahan semenjak usia dini, dan secara sistematis dapat dimulai sejak peserta didik di Taman Kanak-kanak. Fokus perencanaan individual berkaitan erat dengan pengembangan aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Secara rinci PPPPTK Penjas dan BK 21
30 cakupan fokus tersebut antara lain mencakup pengembangan aspek : (1) pribadi yaitu tercapainya pemahaman diri dan pengembangan konsep diri yang positif, (2) sosial yaitu tercapainya pemahaman lingkungan dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif, (3) belajar yaitu tercapainya efisiensi dan efektivitas belajar, keterampilan belajar, dan peminatan peserta didik/konseli secara tepat, dan (4) karir yaitu tercapainya kemampuan mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif. 3) Layanan Responsif a) Pengertian Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik/konseli yang menghadapi masalah dan memerlukan pertolongan dengan segera, agar peserta didik/konseli tidak mengalami hambatan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Strategi layanan responsif diantaranya konseling individual, konseling kelompok, konsultasi, kolaborasi, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus (referral). b) Tujuan Layanan responsif bertujuan untuk membantu peserta didik/konseli yang sedang mengalami masalah tertentu menyangkut perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir. Bantuan yang diberikan bersifat segera, karena dikhawatirkan dapat menghambat perkembangan dirinya dan berlanjut ke tingkat yang lebih serius. Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling hendaknya membantu peserta didik/konseli untuk memahami hakikat dan ruang lingkup masalah, mengeksplorasi dan menentukan alternatif pemecahan masalah yang terbaik melalui proses interaksi yang unik. Hasil dari layanan ini, peserta didik/konseli diharapkan dapat mengalami perubahan pikiran, perasaan, kehendak, atau perilaku yang terkait dengan perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir. PPPPTK Penjas dan BK 22
31 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I c) Fokus Pengembangan Fokus layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik/konseli yang secara nyata mengalami masalah yang mengganggu perkembangan diri dan secara potensial menghadapi masalah tertentu namun dia tidak menyadari bahwa dirinya memiliki masalah. Masalah yang dihadapi dapat menyangkut ranah pribadi, sosial, belajar, atau karir. Jika tidak mendapatkan layanan segera dari Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling maka dapat menyebabkan peserta didik/konseli mengalami penderitaan, kegagalan, bahkan mengalami gangguan yang lebih serius atau lebih kompleks. Masalah peserta didik/konseli dapat berkaitan dengan berbagai hal yang dirasakan mengganggu kenyamanan hidup atau menghambat perkembangan diri konseli, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangan. Untuk memahami kebutuhan dan masalah peserta didik/konseli dapat diperoleh melalui asesmen kebutuhan dan analisis perkembangan peserta didik/konseli, dengan menggunakan berbagai instrumen, misalnya angket konseli, pedoman wawancara, pedoman observasi, angket sosiometri, daftar hadir peserta didik/konseli, leger, inventori tugas-tugas perkembangan (ITP), psikotes dan alat ungkap masalah (AUM). 4) Dukungan Sistem a) Pengertian Ketiga komponen program (layanan dasar, layanan peminatan dan perencanan individual, dan responsif) sebagaimana telah disebutkan sebelumnya merupakan pemberian layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infrastruktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor atau guru bimbingan dan konseling secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik/konseli atau PPPPTK Penjas dan BK 23
32 memfasilitasi kelancaran perkembangan peserta didik/konseli dan mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. b) Tujuan Komponen program dukungan sistem bertujuan memberikan dukungan kepada konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam memperlancar penyelenggaraan komponen-komponen layanan sebelumnya dan mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling.sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan pada satuan pendidikan. Dukungan sistem meliputi kegiatan pengembangan jejaring, kegiatan manajemen, pengembangan keprofesian secara berkelanjutan. c) Fokus Pengembangan Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang meliputi (1) konsultasi, (2) menyelenggarakan program kerjasama, (3) berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan satuan pendidikan, (4) melakukan penelitian dan pengembangan.suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan terselenggara dan tujuannya tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan secara utuh diarahkan untuk memberikan kesempatan kepada konselor atau guru bimbingan dan konseling untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi melalui serangkaian pendidikan dan pelatihan dalam jabatan maupun kegiatan-kegiatan pengembangan dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling, baik di tingkat pusat, daerah, dan kelompok Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling. Melalui kegiatan tersebut, peningkatan kapasitas dan kompetensi konselor atau guru bimbingan dan konseling dapat mendorong meningkatnya kualitas layanan bimbingan dan konseling. PPPPTK Penjas dan BK 24
33 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I b. Bidang Layanan Bimbingan dan Konseling Bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan mencakup empat bidang layanan, yaitu bidang layanan yang memfasilitasi perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir. Pada hakikatnya perkembangan tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dalam setiap diri individu peserta didik/konseli. 1) Bidang Pribadi a) Pengertian Suatu proses pemberian bantuan dari konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab tentang perkembangan aspek pribadinya, sehingga dapat mencapai perkembangan pribadinya secara optimal dan mencapai kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan dalam kehidupannya. b) Tujuan Bimbingan dan konseling bidang pribadi dimaksudkan untuk membantu peserta didik/konseli agar mampu (1) memahami potensi diri dan memahami kelebihan dan kelemahannya, baik kondisi fisik maupun psikis, (2) mengembangkan potensi untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupannya, (3) menerima kelemahan kondisi diri dan mengatasinya secara baik, (4) mencapai keselarasan perkembangan antara cipta-rasa-karsa, (5) mencapai kematangan/kedewasaan cipta-rasa-karsa secara tepat dalam kehidupanya sesuai nilai-nilai luhur, dan (6) mengakualisasikan dirinya sesuai dengan potensi diri secara optimal berdasarkan nilai-nilai luhur budaya dan agama. c) Ruang Lingkup Secara garis besar, lingkup materi bimbingan dan konseling bidang pribadi meliputi pemahaman diri, pengembangan kelebihan diri, pengentasan kelemahan diri, keselarasan perkembangan PPPPTK Penjas dan BK 25
34 cipta-rasa-karsa, kematangan/kedewasaan cipta-rasa-karsa, dan aktualiasi diri secara bertanggung jawab. Materi bimbingan dan konseling bidang pribadi tersebut dapat dirumuskan berdasarkan analisis kebutuhan pengembangan diri peserta didik, kebijakan pendidikan yang diberlakukan, dan kajian pustaka. 2) Bidang Sosial a) Pengertian Suatu proses pemberian bantuan dari konselor kepada peserta didik/konseli untuk memahami lingkungannya dan dapat melakukan interaksi sosial secara positif, terampil berinteraksi sosial, mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang dialaminya, mampu menyesuaikan diri dan memiliki keserasian hubungan dengan lingkungan sosialnya sehingga mencapai kebahagiaan dan kebermaknaan dalam kehidupannya. b) Tujuan Bimbingan dan konseling bidang sosial bertujuan untuk membantu peserta didik/konseli agar mampu (1) berempati terhadap kondisi orang lain, (2) memahami keragaman latar sosial budaya, (3) menghormati dan menghargai orang lain, (4) menyesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku, (5) berinteraksi sosial yang efektif, (6) bekerjasama dengan orang lain secara bertanggung jawab, dan (8) mengatasi konflik dengan orang lain berdasarkan prinsip yang saling menguntungkan. c) Ruang Lingkup Secara umum, lingkup materi bimbingan dan konseling bidang sosial meliputi pemahaman keragaman budaya, nilai-nilai dan norma sosial, sikap sosial positif (empati, altruistis, toleran, peduli, dan kerjasama), keterampilan penyelesaian konflik secara produktif, dan keterampilan hubungan sosial yang efektif. 3) Bidang Belajar a) Pengertian Proses pemberian bantuan konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/ konseli dalam mengenali potensi diri untuk belajar, memiliki sikap dan keterampilan belajar, terampil PPPPTK Penjas dan BK 26
35 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I merencanakan pendidikan, memiliki kesiapan menghadapi ujian, memiliki kebiasaan belajar teratur dan mencapai hasil belajar secara optimal sehingga dapat mencapai kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dalam kehidupannya. b) Tujuan Bimbingan dan konseling bidang belajar bertujuan membantu peserta didik untuk (1) menyadari potensi diri dalam aspek belajar dan memahami berbagai hambatan belajar; (2) memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif; (3) memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat; (4) memiliki keterampilan belajar yang efektif; (5) memiliki keterampilan perencanaan dan penetapan pendidikan selanjutnya; dan (6) memiliki kesiapan menghadapi ujian. c) Ruang Lingkup Lingkup bimbingan dan konseling bidang belajar terdiri atas sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang menunjang efisiensi dan keefektivan belajar pada satuan pendidikan dan sepanjang kehidupannya; menyelesaikan studi pada satuan pendidikan, memilih studi lanjut, dan makna prestasi akademik dan non akademik dalam pendidikan, dunia kerja dan kehidupan masyarakat. 4) Bidang Karir a) Pengertian Proses pemberian bantuan konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/ konseli untuk mengalami pertumbuhan, perkembangan, eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan karir sepanjang rentang hidupnya secara rasional dan realistis berdasar informasi potensi diri dan kesempatan yang tersedia di lingkungan hidupnya sehingga mencapai kesuksesan dalam kehidupannya. b) Tujuan Bimbingan dan konseling bidang karir bertujuan menfasilitasi perkembangan, eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan karir sepanjang rentang hidup peserta didik/konseli. Dengan demikian, peserta didik akan (1) memiliki pemahaman diri PPPPTK Penjas dan BK 27
36 (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan; (2) memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir; (3) memiliki sikap positif terhadap dunia kerja; (4) memahami relevansi kemampuan menguasai pelajaran dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi citacita karirnya masa depan; (5) memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, persyaratan kemampuan yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja; memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peranperan yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi; membentuk pola-pola karir; mengenal keterampilan, kemampuan dan minat; memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. c) Ruang Lingkup Ruang lingkup bimbingan bidang karir terdiri atas pengembangan sikap positif terhadap pekerjaan, pengembangan keterampilan menempuh masa transisi secara positif dari masa bersekolah ke masa bekerja, pengembangan kesadaran terhadap berbagai pilihan karir, informasi pekerjaan, ketentuan sekolah dan pelatihan kerja, kesadaran akan hubungan beragam tujuan hidup dengan nilai, bakat, minat, kecakapan, dan kepribadian masing-masing. Untuk itu secara berurutan dan berkesinambungan, kompetensi karir peserta didik difasilitasi bimbingan dan konseling dalam setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah. D. Aktifitas Pembelajaran Untuk pencapaian tujuan pembelajaran modul esensi pelayanan bimbingan pada jenjang satuan pendidikan ini, maka aktifitas pembelajaran dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Peserta membaca dan berusaha memahami materi PPPPTK Penjas dan BK 28
37 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I 2. Peserta menandai kata, kalimat dan/atau penjelasan yang dianggap penting dan/atau yang dianggap masih membingungkan dan perlu penjelasan. 3. Peserta mengajukan pertanyaan 4. Peserta bersama fasilitator dan peserta lain membahas materi 5. Peserta mengerjakan tugas latihan 6. Peserta menjawab evaluasi formatif 7. Peserta menganalisis hasil evaluasi formatif dan melakukan evaluasi diri E. Latihan Tugas Untuk mengetahui sejauhmana pemahaman Anda mengenai materi yang telah dipelajari, kerjakan soal-soal berikut ini. 1. Jelaskan arti pentingnya pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. 2. Bandingkan dan cari kekhasan dari pelayanan bimbingan dan konseling untuk masing-masing satuan jenjang pendidikan. 3. Deskripsikan esensi pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan F. Rangkuman Uraian materi Bab II dapat dirangkum sebagai berikut : 1. Pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan penting untuk dilakukan. Pelayanan bimbingan dan konseling membantu peserta didik untuk mencapai tugas perkembangan. 2. Karakteristik perkembangan untuk masing-masing jenjang adalah berbeda, hal tersebut disebabkan tahap perkembangan peserta didik untuk masingmasing jenjang pendidikan adalah berbeda. 3. Tujuan umum layanan bimbingan dan konseling adalah membantu peserta didik/konseli agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal. 4. Layanan bimbingan dan konseling bagi peserta didik/konseli pada satuan pendidikan memiliki fungsi: a) pemahaman diri dan lingkungan, b) fasilitasi PPPPTK Penjas dan BK 29
38 pertumbuhan dan perkembangan, c) penyesuaian diri dengan diri sendiri dan lingkungan, d) penyaluran pilihan pendidikan, pekerjaan, dan karir, e) pencegahan timbulnya masalah, f) perbaikan dan penyembuhan, g) pemeliharaan kondisi pribadi dan situasi yang kondusif untuk perkembangan diri Konseli, h) pengembangan potensi optimal, i) advokasi diri terhadap perlakuan diskriminatif; dan j) membangun adaptasi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap program dan aktivitas pendidikan sesuai dengan latar belakang pendidikan, bakat, minat, kemampuan, kecepatan belajar, dan kebutuhan Konseli. 5. Komponen layanan Bimbingan dan Konseling memiliki 4 (empat) program yang mencakup: a) layanan dasar, b) layanan peminatan dan perencanaan individual, c) layanan responsif; dan d) layanan dukungan sistem. 6. Bidang layanan bimbingan dan konseling mencakup: a) bidang pribadi, b) bidang belajar, c) bidang sosial; dan d) bidang karir. G. Evaluasi Formatif Untuk mengukur pencapaian tujuan pembelajaran kegiatan ini, dlaksanakan kegiatan evaluasi formatif yang berbentuk pilihan tunggal. Kerjakanlah item-item tes ini dengan memberi tanda silang (X) pada jawaban pertanyaan yang paling tepat di antara pilihan jawaban yang telah disediakan! 1. Hal berikut ini bukan merupakan kekhasan layanan bimbingan dan konseling di Taman Kanak-Kanak yang membedakan dengan layanan bimbingan dan konseling pada jenjang lainnya. A. Layanan bimbingan dan konseling menyatu ke dalam layanan pendidikan yang dilakukan oleh guru kelas. B. Layanan bimbingan dan konseling disesuaikan dengan masa kanakkanak yang menjadikan bermain sebagai bagian dari aktivitas hidupnya. C. Konselor kunjung (moving counselor) bisa dilakukan untuk melayani beberapa TK oleh seorang konselor atau guru bimbingan dan konseling. D. Layanan bimbingan dan konseling hanya boleh dilakukan oleh tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu konselor. 2. Alokasi waktu untuk layanan dasar bimbingan dan konseling dilihat dari jenjang pendidikan adalah sebagai berikut. PPPPTK Penjas dan BK 30
39 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I A. Pada jenjang SMA/SMK alokasi waktu untuk layanan dasar lebih banyak dari pada layanan responsif. B. Pada jenjang TK dan SD alokasi waktu untuk layanan dasar lebih banyak dari pada komponen layanan lainnya. C. Pada jenjang SMP/MTs, alokasi waktu untuk layanan dasar lebih sedikit dari pada alokasi waktu untuk dukungan sistem. D. Pada jenjang SMP/MTs alokasi waktu untuk layanan dasar sama dengan alokasi layanan dasar untuk SMA/SMK 3. Pernyataan berikut manakah yang benar terkait dengan layanan responsif layanan bimbingan dan konseling. A. Layanan responsif di SMP/MTs memiliki alokasi waktu terbanyak jika dibandingkan layanan responsif untuk SD/MI dan SMA/SMK B. Layanan responsif memiliki alokasi yang sama persis untuk semua jenjang pendidikan. C. Layanan responsif tidak diperlukan bagi siswa-siswa TK/PAUD. D. Layanan responsif memiliki alokasi waktu yang paling sedikit diantara komponen-komponen program lainnya. 4. Salah satu implementasi azas kerahasiaan dalam bimbingan dan konseling adalah: A. Menyimpan rahasia konseli yang hamil di luar nikah, termasuk kepada orang tua siswa. B. Melaporkan semua proses dan hasil konseling individual kepada kepala sekolah. C. Tidak menyampaikan isi dan proses konseling kepada keluarga di rumah. D. Mendiskusikan kasus dengan kolega sambil memaparkan identitas konseli agar cepat mendapatkan bantuan. 5. Salah satu alasan pentingnya pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan menengah adalah : A. Bervariasinya usia peserta didik B. Setiap individu tidak dapat berdiri sendiri, sehingga perlu bantuan orang lain. C. Kecenderungan masalah yang dihadapi peserta didik pada usia remaja dan menyiapkan diri pada usia dewasa awal. PPPPTK Penjas dan BK 31
40 D. Setiap individu peserta didik pasti bermasalah 6. Pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah dan belajar secara mandiri. Pelayanan bimbingan dan konseling tersebut masuk dalam bidang : A. Kehidupan pribadi B. Kemampuan belajar C. Kehidupan sosial D. Pemahaman diri 7. Berikut salah satu yang bukan termasuk prinsip pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan dasar adalah : A. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua peserta didik. B. Bimbingan dan konseling menekankan hal yang positif C. Bimbingan dan konseling merupakan usaha bersama D. Bimbingan dan konseling sebagai proses sosialisasi 8. Pendekatan pelayanan bimbingan dan konseling yang lebih cocok pada satuan jenjang pendidikan dasar berorientasi pada : A. Ketercapaian tugas perkembangan B. Tahap perkembangan C. Pemecahan Masalah D. Tujuan pelayanan 9. Berikut adalah karakteristik perkembangan peserta didik pada satuan jenjang pendidikan di TK/RA, kecuali : A. Peserta didik dalam usia yang relatif sama. B. Peserta didik umumnya tidak merasa terganggu dengan masalah yang dihadapi C. Kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik D. Peserta didik berada pada usia emas yang sangat menentukan perkembangan selanjutnya. 10. Berikut salah satu yang bukan termasuk prinsip pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan memengah adalah : A. Bimbingan dan konseling membantu peserta didik mencapai perkembangan optimal B. Bimbingan dan konseling sebagai proses individualisasi PPPPTK Penjas dan BK 32
41 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I C. Bimbingan dan konseling disesuaikan dengan kondisi peserta didik D. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi peserta didik yang bermasalah H. Kunci Jawaban No. Jawaban Benar 1. D 2. B 3. A 4. C 5. C 6. B 7. D 8. A 9. B 10. D I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Cocokkan jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat dibagian akhir materi pembelajaran ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi pembelaran ini. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100 % 10 Interpretasi tingkat penguasaan yang Anda capai adalah: 90% % = baik sekali 80% - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup <70 % = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, itu berarti Anda telah mencapai kompetensi yang diharapkan untuk materi pembelajaran ini dengan baik. Anda dapat meneruskan dengan materi selanjutnya. Namun sebaliknya, apabila tingkat penguasaan Anda terhadap materi ini masih di PPPPTK Penjas dan BK 33
42 bawah 80 %, Anda perlu mengulang kembali materi pembelajaran, terutama sub pokok bahasan yang belum Anda kuasai. PPPPTK Penjas dan BK 34
43 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I PENUTUP A. Evaluasi Kegiatan Belajar Evaluasi kegiatan belajar dilakukan setelah kegiatan pembelajaran dilakukan. Evaluasi kegiatan belajar mencakup evaluasi proses dan hasil belajar. Evaluasi proses mencakup keaktifan, keterlibatan, antusiasisme peserta dalam kegiatan belajar dan evaluasi hasil mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki peserta setelah kegiatan belajar berlangsung. B. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah mengerjakan seluruh soal evaluasi pada modul ini (akhir babmateri pokok), Anda melakukan koreksi jawaban dengan menggunakan kunci jawaban yang tersedia dalam modul ini. Jika Anda dapat menjawab 100 % benar, maka Anda dianggap memenuhi ketuntasan dalam menguasai materi modul ini. Jika Anda menjawab kurang dari 100% benar, berarti Anda perlu mempelajari kembali modul ini dengan lebih baik. PPPPTK Penjas dan BK 35
44 GLOSARIUM BK Diklat Guru BK Jenjang Pendidikan Konselor Pelayanan BK Pendidikan Peserta didik Peserta Diklat PKB : Bimbingan dan Konseling : Pendidikan dan pelatihan adalah penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka dalam rangka mengingkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil (PNS). : Guru yang mendapatkan tugas melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah. : Tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. : Salah satu jenis pendidik yang berkualifikasi akademik S1 Bimbingan dan Konseling dan Berpendidikan Profesi Konselor yang bertugas melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah. : usaha sistematis, obyektif, logis dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor/guru BK untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli untuk mencapai kemandirian, dalam wujud kemampuan memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan diri secara bertanggung jawab sehingga mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupannya. : Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. : Anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. : Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor yang menjadi sasaran diklat : Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan PPPPTK Penjas dan BK 36
45 MODUL PROGRAM GURU PEMBELAJAR BK SMP KELOMPOK KOMPETENSI PEDAGOGIK I PKB Siswa/Peserta Didik SMA/MA SD/MI SMK/MAK SMP/MTs TK/RA : Kegiatan pengembangan keprofesian yang dilakukan secara berkelanjutan yang meliputi kegiatan pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif. : Individu yang menjadi sasaran pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah : Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah : Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah : Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan : Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah : Taman Kanak-kanak/Raudatul Athfal PPPPTK Penjas dan BK 37
46 DAFTAR PUSTAKA Ditjen Dikti (2008) Rambu-Rambu Penataan Profesional Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. PPPPTK Penjas dan BK 38
1. Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., ,
Penulis: 1. Dr. Suwarjo, M.Si, 081578065690, [email protected] 2. Dr. Naharus Surur, M. Pd, 08176331607, e-mail: [email protected] Penelaah: 1. Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., 0811214047, e-mail
ESENSI PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA SATUAN JENJANG PENDIDIKAN
MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BIMBINGAN DAN KONSELING (BK) SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER KELOMPOK KOMPETENSI I PEDAGOGIK: ESENSI PELAYANAN BIMBINGAN
Posisi Bimbingan dan Konseling dalam Kerangka Ilmu Pendidikan. Siti Fatimah, S.Psi., M.Pd
Posisi Bimbingan dan Konseling dalam Kerangka Ilmu Pendidikan Siti Fatimah, S.Psi., M.Pd Pendahuluan Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan hidup peserta didik. Melalui pendidikan, peserta
PERTEMUAN 13 PENYELENGGARAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA JALUR PENDIDIKAN
PERTEMUAN 13 PENYELENGGARAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA JALUR PENDIDIKAN FORMAL RAMBU-RAMBU PENYELENGGARAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM JALUR PENDIDIKAN FORMAL DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN
KONTEKS TUGAS DAN EKSPEKTASI KINERJA KONSELOR
RAMBU-RAMBU PENYELENGGARAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM JALUR PENDIDIKAN FORMAL DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2008 KONTEKS TUGAS
MODUL GURU PEMBELAJAR
MODUL GURU PEMBELAJAR Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Atas / Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) Kelompok Kompetensi H Pedagogik: Esensi Pelayanan BK pada Jalur Pendidikan Direktorat Jenderal
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2014 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2014 TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN JASMANI DAN BIMBINGAN KONSELING
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN JASMANI DAN BIMBINGAN KONSELING Assalammualaikum Wr.Wb. Dalam rangka mendukung pencapaian visi Kementerian
Kemandirian sebagai tujuan Bimbingan dan Konseling Kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah k
FOKUS LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING Dr. Suherman, M.Pd. Kemandirian sebagai tujuan Bimbingan dan Konseling Kompetensi peserta didik yang harus dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling adalah
PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DAN PERSIAPAN PEMINATAN DIREKTORAT P2TK DIKDAS 2014
PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DAN PERSIAPAN PEMINATAN DIREKTORAT P2TK DIKDAS 2014 PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DAN PERSIAPAN PEMINATAN 3.JB (135Menit) 10 Menit PENDAHULUAN Petunjuk
DEFINSI MODEL PERANGKAT ASUMSI, PROPORSI, ATAU PRINSIP YANG TERVERIFIKASI SECARA
DEFINSI MODEL PERANGKAT ASUMSI, PROPORSI, ATAU PRINSIP YANG TERVERIFIKASI SECARA EMPIRIK, DIORGANISASIKAN KEDALAM SEBUAH STRUKTUR (KERJA) UNTUK MENJELASKAN, MEMPREDIKASI DAN MENGENDALIKAN PERILAKU ATAU
FUNGSI DAN PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING
PPG DALAM JABATAN Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi 2018 Hak cipta Direktorat Pembelajaran, Dit Belmawa, Kemenristekdikti RI, 2018 FUNGSI DAN PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING Dr. Catharina
KELOMPOK KOMPETENSI C PROFESIONAL: PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BIMBINGAN DAN KONSELING (BK) SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER KELOMPOK KOMPETENSI C PROFESIONAL: PROGRAM BIMBINGAN
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER KELOMPOK KOMPETENSI H PEDAGOGIK ESENSI PELAYANAN BIMBINGAN
PERAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA SATUAN JALUR PENDIDIKAN FORMAL DALAM KURIKULUM 2013
PERAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA SATUAN JALUR PENDIDIKAN FORMAL DALAM KURIKULUM 2013 OLEH : Drs. Minto Tulus Praktisi Pendidikan Pengurus MGBK Kab.Sidoarjo Pengurus Cab. ABKIN Kab. Sidoarjo Makalah:
PEDOMAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 2016
PEDOMAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 2016 i P e d o m a n B i m b i n g a n d a n K o n s e l i n g ii
PEDOMAN BIMBINGAN DAN KONSELING
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2014 TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELINGPADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH. PEDOMAN BIMBINGAN DAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,
Kemandirian sebagai Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling Kompetensi SISWA yang dikembangkan melalui layanan bimbingan dan konseling adalah kompetens
BIMBINGAN DAN KONSELING SEBAGAI LAYANAN PENGEMBANGAN PRIBADI MAHASISWA Dr. Suherman, M.Pd. Universitas Pendidikan Indonesia Kemandirian sebagai Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling Kompetensi SISWA yang
MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd
MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd A. PENDAHULUAN Banyak pertanyaan dari mahasiswa tentang, bagaimana menjadi konselor professional? Apa yang harus disiapkan
MODUL GURU PEMBELAJAR
MODUL GURU PEMBELAJAR Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kelompok Kompetensi C Profesional: Program Bimbingan dan Konseling Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian
1. PENDAHULUAN. Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembentukan generasi muda penerus bangsa yang
1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembentukan generasi muda penerus bangsa yang berkemampuan, cerdas, dan handal dalam pelaksanaan pembangunan
BIMBINGAN DAN KONSELING DAN PENELUSURAN MINAT DI SMP DALAM KURIKULUM 2013
BIMBINGAN DAN KONSELING DAN PENELUSURAN MINAT DI SMP DALAM KURIKULUM 2013 Hak Cipta 2014 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
KEDUDUKAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM SITEM PENDIDIKAN NASIONAL BERORIENTASIKAN BUDAYA
KEDUDUKAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM SITEM PENDIDIKAN NASIONAL BERORIENTASIKAN BUDAYA DI SUSUN OLEH : SURANTO HARIYO H RIAN DWI S YUNITA SETIA U YUYUN DESMITA S FITRA VIDIA SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN
ASSALAMU ALAIKUM WR.WB.
ASSALAMU ALAIKUM WR.WB. PENDIDIKAN BERMUTU efektif atau ideal harus mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergis, yaitu (1) bidang administratif dan kepemimpinan, (2) bidang instruksional
KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING. By: Asroful Kadafi
KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING By: Asroful Kadafi Kelima belas kekeliruan pemahaman itu adalah: 1. Bimbingan dan Konseling Disamakan atau Dipisahkan Sama Sekali dari Pendidikan 2. Menyamakan Pekerjaan
PANDUAN BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR
PANDUAN BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA 2014 KATA PENGANTAR Sejak
BAB II KAJIAN TEORETIS
BAB II KAJIAN TEORETIS A. Hakikat Bimbingan dan Konseling Bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang penting dalam proses pendidikan sebagai suatu sistem. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.174, 2014 PENDIDIKAN. Pelatihan. Penyuluhan. Perikanan. Penyelenggaraan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5564) PERATURAN PEMERINTAH
PROFESIONALITAS GURU BIMBINGAN DAN KONSELING OLEH: DRA. WIRDA HANIM M.PSI
PROFESIONALITAS GURU BIMBINGAN DAN KONSELING OLEH: DRA. WIRDA HANIM M.PSI PARADIGMA BIMBINGAN DAN KONSELING Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling Layanan bimbingan dan konseling komprehensif pencapaian
VIII. RUBRIK PENILAIAN KINERJA GURU BK/KONSELOR
VIII. RUBRIK PENILAIAN KINERJA GURU BK/KONSELOR PETUNJUK 1. Kumpulkan dokumen perangkat pelayanan BK dari guru BK/Konselor sebelum pengamatan pembelajaran, cacatan hasil pengamatan selama dan sesudah pelayanan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
RESUME PRESENTASI KULIAH BIMBINGAN DAN KONSELING. #1: Keterkaitan, Keunikan, Tugas Guru dan Konselor
Nama : Nella Andriyani NIM : 1002423 Kelas : Biologi B 2010 RESUME PRESENTASI KULIAH BIMBINGAN DAN KONSELING #1: Keterkaitan, Keunikan, Tugas Guru dan Konselor Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan
Oleh : Sugiyatno, M.Pd
Oleh : Sugiyatno, M.Pd Dosen PPB/BK- FIP- UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA [email protected] Sugiyatno. MPd Jln. Kaliurang 17 Ds. Balong, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta Hp. 08156009227 Beriman
Membentuk Karakter Cerdas Melalui Bimbingan Dan Konseling Perkembangan Untuk Menghadapi MEA
Membentuk Karakter Cerdas Melalui Bimbingan Dan Konseling Perkembangan Untuk Menghadapi MEA Dewi Mariana 1) 1) Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia E-mail: [email protected] Abstrak.
KODE ETIK GURU INDONESIA PEMBUKAAN
KODE ETIK GURU INDONESIA PEMBUKAAN Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa guru Indonesia menyadari bahwa jabatan guru adalah suatu profesi yang terhormat dan mulia. Guru mengabdikan diri dan berbakti untuk
BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar Pengertian Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar 2.1.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar Bimbingan dan Konseling di sekolah dasar adalah suatu bentuk penerapan Bimbingan
KTSP DAN IMPLEMENTASINYA
KTSP DAN IMPLEMENTASINYA Disampaikan pada WORKSHOP KURIKULUM KTSP SMA MUHAMMADIYAH PAKEM, SLEMAN, YOGYAKARTA Tanggal 4-5 Agustus 2006 Oleh : Drs. Marsigit MA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA KTSP DAN
Sigit Sanyata
#3 Sigit Sanyata [email protected] Komitmen kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/ Madrasah,
Landasan Pendidikan. PENDIDIKAN : Bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan.
Landasan Pendidikan Bimbingan dan Penyuluhan PENDIDIKAN : Bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan. Konsep dasar bimbingan Upaya bantuan untuk membantu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Iding Tarsidi, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang mandiri... (UURI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
KAJIAN BIMBINGAN DAN KONSELING
KAJIAN BIMBINGAN DAN KONSELING Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling Dosen pengampu Arie Rakhmat Riyadi, M.Pd. Oleh : Aulia Nur Farhah 1607921 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KESETARAAN PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C DENGAN RAHMAT TUHAN
KODE ETIK GURU INDONESIA. Drs. H. Asep Herry Hernawan, M.Pd. Laksmi Dewi, M.Pd.
KODE ETIK GURU INDONESIA Drs. H. Asep Herry Hernawan, M.Pd. Laksmi Dewi, M.Pd. MUKADIMAH Guru Indonesia tampil secara profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
Sigit Sanyata
#2 Sigit Sanyata [email protected] upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut
BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi dan informasi yang membawa perubahan begitu cepat di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi dan informasi yang membawa perubahan begitu cepat di bidang sosial, budaya, dan ekonomi mengakibatkan meningkatnya konflik dan kecemasan dalam
KISI KISI UKG 2015 GURU BK/KONSELOR
KISI KISI UKG 2015 GURU BK/KONSELOR No 1. Pedagogik 1 Menguasai teori dan praksis pendidikan 1.1 Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya 1.1.1 Guru BK atau konselor dapat mengaplikasikan ilmu
Wawasan Bimbingan Konseling di Sekolah. Meliputi : pengertian, tujuan, landasan & urgensi BK, fungsi, sifat, ruang lingkup, prinsipprinsip,
Wawasan Bimbingan Konseling di Sekolah Meliputi : pengertian, tujuan, landasan & urgensi BK, fungsi, sifat, ruang lingkup, prinsipprinsip, asas-asas Definisi Bimbingan Konseling Definisi bimbingan : 1.
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No. 957, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDIKBUD. Tingkat Satuan Pendidikan. Dasar. Menengah. Kurikulum. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN
MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN
MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER KELOMPOK KOMPETENSI B PROFESIONAL KERANGKA TEORETIK DAN PRAKSIS
Sigit Sanyata
#1 Sigit Sanyata [email protected] Pengantar Secara yuridis keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru,
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang : a. bahwa bidang pendidikan merupakan
RAMBU-RAMBU PENYELENGGARAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM JALUR PENDIDIKAN FORMAL BAHAN SOSIALISASI UNTUK GURU BK DEDI HERDIANA HAFID
RAMBU-RAMBU PENYELENGGARAAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM JALUR PENDIDIKAN FORMAL BAHAN SOSIALISASI UNTUK GURU BK DEDI HERDIANA HAFID KONTEKS TUGAS DAN EKSPEKTASI KINERJA KONSELOR A. Penegasan Konteks
KAJIAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SD
Nama : Deawishal Wardjonyputri NIM : 1600201 Kelas : 2A-PGSD Dosen Pengampu : Arie Rakhmat Riyadi M.Pd. KAJIAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SD Moh surya (1988:12) mengartikan bimbingan sebagai suatu proses
BAB I PENDAHULUAN. terus diupayakan melalui pendidikan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan media dalam membangun kecerdasan dan kepribadian anak atau peserta didik menjadi manusia yang lebih baik. Oleh karena itu, pendidikan secara terus
2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.71, 2013 PENDIDIKAN. Standar Nasional Pendidikan. Warga Negara. Masyarakat. Pemerintah. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
MODUL PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER KELOMPOK KOMPETENSI J PEDAGOGIK: ESENSI PELAYANAN BIMBINGAN
Sigit Sanyata
#6 Sigit Sanyata [email protected] School guidance curriculum Individual student planning Responsive servise System support proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli penyiapan pengalaman terstruktur
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013
IMPELEMENTASI BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM KURIKULUM 2013 Disampaikan bagi Koordinator Bimbingan dan Konseling DKI Jakarta, 4 Juni 2013 Oleh Prof. Dr. Uman Suherman AS., M.Pd UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL I. UMUM Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat
KODE ETIK GURU INDONESIA
KODE ETIK GURU INDONESIA MUKADIMAH Guru Indonesia tampil secara profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
BIMBINGAN BELAJAR BAGI MAHASISWA
BIMBINGAN BELAJAR BAGI MAHASISWA Dra. Gantina Komalasari, M.Psi Email : [email protected] Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta I. Pendahaluan Meskipun
BIMBI B N I GA G N K ONSE S LI L N I G DI SD ( S 1 - PGSD ) APR P I R LI L A T INA L
BIMBINGAN KONSELING DI SD ( S1 - PGSD ) APRILIA TINA L HAKEKAT BK (SD) LATAR BELAKANG Mengembangkan manusia Indonesia sesuai dg hakikat kemanusiaannya (individualitas, sosial, moralitas, dan keberagamaan)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian peranan menurut Soejono Soekanto (2002;234) adalah sebagai berikut:
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Peranan Pengertian peranan menurut Soejono Soekanto (2002;234) adalah sebagai berikut: Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan
Sebuah Rekonseptualisasi Yang Dilatarbelakangi Oleh Sebuah Fakta
Sebuah Rekonseptualisasi Yang Dilatarbelakangi Oleh Sebuah Fakta 1. BK Komprehensif muncul berdasar evaluasi thp sistim sebelumnya 2. Sistem yang lama berorientasi tradisional/konselor 3. Sistim yang lama
BIMBINGAN DAN KONSELING
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN BIMBINGAN DAN KONSELING BAB I ESENSI BIMBINGAN DAN KONSELING PADA SATUAN JALUR, JENIS, DAN JENJANG PENDIDIKAN M. RAMLI NUR HIDAYAH ELIA
BAB I PENDAHULUAN. memandang latar belakang maupun kondisi yang ada pada mereka. Meskipun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peran yang amat menentukan, tidak hanya bagi perkembangan dan perwujudan diri individu tetapi juga bagi pembangunan suatu bangsa dan negara.
MODUL GURU PEMBELAJAR
MODUL GURU PEMBELAJAR Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kelompok Kompetensi G Profesional: Penilaian dalam BK Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan
PENGERTIAN KTSP DAN PENGEMBANGAN SILABUS DALAM KTSP. Oleh Dr. Jumadi
PENGERTIAN KTSP DAN PENGEMBANGAN SILABUS DALAM KTSP Makalah disampaikan pada Pelatihan dan Pendampingan Implementasi KTSP di SD Wedomartani Oleh Dr. Jumadi A. Pendahuluan Menurut ketentuan dalam Peraturan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
STANDAR KOMPETENSI MATA PELAJARAN PJOK
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN BAB IV STANDAR KOMPETENSI MATA PELAJARAN PJOK DR. IMRAN AKHMAD, M.PD KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL
PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN I. PENDAHULUAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG SISTEM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN BADUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG SISTEM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN BADUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa pendidikan harus
BAB IV STANDAR KOMPETENSI GURU. Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan memahami standar
Profesi Keguruan Rulam Ahmadi BAB IV STANDAR KOMPETENSI GURU A. Kompetensi Dasar Setelah membaca materi ini mahasiswa diharapkan memahami standar kompetensi guru yang meliputi guru PAUD/TK/RA, guru SD/MI,
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG
SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses esensial untuk mencapai tujuan dan cita-cita pribadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan proses esensial untuk mencapai tujuan dan cita-cita pribadi individu. Secara filosofis dan historis pendidikan menggambarkan suatu proses yang melibatkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia.
12 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Layanan Bimbingan dan Konseling 1. Pengertian Bimbingan dan Konseling Pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia. Dari manusia artinya pelayanan
TUGAS PERKEMBANGAN SISWA VISI DAN MISI BIMBINGAN KONSELING
TUGAS PERKEMBANGAN SISWA 1. Mencapai kematangan dalam beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmani dan rohani yang sehat 3. Mencapai kematangan dalam hubungan
BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. Sebelum dikaji tentang pengertian bimbingan dan konseling Terlebih dahulu diuraikan
BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS 2.I Kajian Teori 2.1.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling Sebelum dikaji tentang pengertian bimbingan dan konseling Terlebih dahulu diuraikan tentang pengertian bimbingan
Sebuah Rekonseptualisasi Yang Dilatarbelakangi Oleh Sebuah Fakta
Sebuah Rekonseptualisasi Yang Dilatarbelakangi Oleh Sebuah Fakta 1. BK Komprehensif muncul berdasar evaluasi thp sistem sebelumnya 2. Sistem yang lama berorientasi tradisional/konselor 3. Sistim yang lama
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA
BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU, Menimbang : a. bahwa tujuan pendidikan
PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENDIDIKAN DINIYAH DI KOTA TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENDIDIKAN DINIYAH DI KOTA TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA, Menimbang : a. bahwa tujuan pendidikan keagamaan
ARAH PENGEMBANGAN MATERI KURIKULUM : Program Pendidikan Sarjana (S-1) BK Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK)
ARAH PENGEMBANGAN MATERI KURIKULUM : Program Pendidikan Sarjana (S-1) BK Program Pendidikan Profesi Konselor (PPK) PENGANTAR Perkembangan dunia di tanah air mendapat momentum yang amat menentukan, yaitu
BAB I PENDAHULUAN. norma-norma yang berlaku. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana secara etis,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah hal terpenting dalam kehidupan seseorang. Melalui pendidikan, seseorang dapat dipandang terhormat, memiliki karir yang baik serta dapat bertingkah
EKSISTENSI PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING DI BALIK UU SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
EKSISTENSI PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING DI BALIK UU SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL (Telaah Yuridis-Akademik Dalam Penegasan Kebijakan Dasar Profesionalisasi Bimbingan dan Konseling) Sunaryo Kartadinata
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 09 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN TANGERANG DENGAN RAHMAT TUHAN
Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling
Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling Diana Septi Purnama, M.Pd Email : [email protected] Konsep Bimbingan Dan Konseling 5. - 1. PENGERTIAN BIMBINGAN KONSELING Suatu proses bantuan psikologis yang
PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN KEMAMPUAN PROFESIONAL PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN KEMAMPUAN PROFESIONAL PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINJAI, Menimbang : a. bahwa
KOMPETENSI KONSELOR. Kompetensi Konselor Sub Kompetensi Konselor A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani
KOMPETENSI KONSELOR Kompetensi Konselor Sub Kompetensi Konselor A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. Menghargai dan menjunjung tinggi 1.1. Mengaplikasikan pandangan positif nilai-nilai
BAB III METODE PENELITIAN
44 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di seluruh Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) kota Cimahi pada tahun ajaran 2012/2013.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling Oleh Sugiyatno, M.Pd Prodi Bimbingan dan Konseling FIP UNY
Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling Oleh Sugiyatno, M.Pd [email protected] Prodi Bimbingan dan Konseling FIP UNY Nasehat..? Pasif Reseptif.? Konseling? Teacher Centered Learning Perkembangan Optimum
LAMPIRAN 2 INSTRUMEN PK GURU BIMBINGAN DAN KONSELING/KONSELOR
LAMPIRAN INSTRUMEN PK GURU BIMBINGAN DAN KONSELING/KONSELOR 90 Lampiran B LAPORAN DAN EVALUASI PENILAIAN KINERJA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING/KONSELOR Nama Guru NIP/Nomor Seri Karpeg Pangkat /Golongan
