TUGAS NARASI FILSAFAT ILMU

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TUGAS NARASI FILSAFAT ILMU"

Transkripsi

1 TUGAS NARASI FILSAFAT ILMU Kelompok IA Ketua : Khoirul Fatihin Sekretaris : Nikken Larasati Bendahara I : Zahra Wanisa Bendahara II : Dilah Puspa Sari Bendahara III : Achmad Ardiansyah S.P Bendahara IV : Yovana Riken Keiky Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga

2 SURAT PERNYATAAN Dengan ini kami kelompok IA menyatakan tidak melakukan plagiat dalam penulisan narasi ini. Dalam mengerjakannya semua anggota aktif untuk memberi masukan dan ide penulisan, dan bagi yang tidak aktif dalam pengerjaan narasi ini tidak diperbolehkan untuk bertandatangan. Yang bertanda tangan dibawah ini : Ketua : Khoirul Fatihin ( ) Sekretaris : Nikken Larasati ( ) Bendahara I : Zahra Wanisa ( ) Bendahara II : Dilah Puspa Sari ( ) Bendahara III : Achmad Ardiansyah S.P ( ) Bendahara IV : Yovana Riken Keiky ( ) Ketua Sekretaris Bendahara I Khoirul Fatihin Nikken Larasati Zahra Wanisa NIM NIM NIM Bendahara II Bendahara III Bendahara IV Dilah Puspa Sari Achmad Ardiansyah S.P Yovana Riken Keiky NIM NIM NIM

3 Menata Pernyataan Cerdas dengan Logika Silogisme Manusia dalam kehidupan sehari-hari dan disegala aktivitasnya tidak pernah lepas dari proses berfikir dimana didalamnya ada proses berfikir secara logis. Dalam berfikir/bernalar manusia selalu mengeksplisitkan apa yang mereka pikirkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan atau bahasa yang juga dapat disebut dengan Logika. Ilmu Logika ini mempelajari mengenai kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Berpikir secara logis adalah berpikir secara rasional atau masuk akal yang dinyatakan dalam pernyataan-pernyataan tertentu dan diwujudkan kedalam suatu tindakan. Dalam Ilmu Logika ada yang dinamakan dengan Silogisme. Silogisme adalah suatu bentuk penarikan konklusi secara deduktif tak langsung yang konklusinya ditarik dari premis yang disediakan serentak. Oleh karena Silogisme adalah penarikan konklusi yang sifatnya deduktif, maka konklusinya tidak dapat mempunyai sifat yang lebih umum dari pada premisnya. Selanjutnya, materi mengenai Silogisme ini akan dijelaskan lebih lanjut pada presentasi mata kuliah Filsafat Ilmu. Seperti biasa pada hari selasa tepatnya tanggal 21 Mei 2013, mahasiswa selalu disambut dengan mata kuliah Filsafat Ilmu khususnya dengan dosen yang fenomenal yang tak lain adalah Pak Adib. Kata-kata yang tidak pernah lupa beliau ucapkan yaitu beliau selalu tidak sabar untuk melakukan diskusi dengan mahasiswa cerdas Universitas Airlangga terutama mahasiswa prodi Ilmu Administrasi Negara. Perkuliahaan yang selalu dimulai tepat jam 10 pagi, namun masih ada beberapa mahasiswa yang datang terlambat dan Pak Adib mempersilahkan mahasiswa yang terlambat untuk duduk dikursi kehormatan tepatnya duduk dikursi paling depan. Sebelum memulai perkuliahan dengan presentasi mengenai Silogisme/Penalaran Tidak Langsung, beliau mengatakan bahwa mahasiswa Universitas Airlangga adalah mahasiswa yang cerdas-cerdas. Beliau membuktikan salah satu faktornya yaitu sebagian besar mahasiswa AN memiliki smartphone, dan memang terbukti bahwa 50 % bahkan lebih memiliki smartphone bahkan ipad. Selain itu beliau mengatakan bahwa manusia dimuka bumi ini pasti memiliki angka nomer satu pada dirinya. Sebagai contoh mahasiswa yang ratarata kelahiran tahun 1994 kemudian pada tahun 2011 berusia 17 tahun maka 94 ditambah 17 hasilnya 111. Setelah menerangkan itu, beliau membuka perkuliahan dengan berdoa bersama agar diskusi yang dilakukan dapat memberikan manfaat bagi semua mahasiswa. Kemudian Pak Adib mempersilahkan kelompok 8A untuk memulai presentasi mengenai Pola Penalaran Tidak Langsung Silogisme dan kelompok 8B sebagai pembanding. Dalam Penalaran Silogisme, kesimpulannya pasti benar asalkan syarat dan ketentuan berlaku. Pada penalaran silogisme, konklusinya ditarik secara tidak langsung dari dua proposisi yang diletakkan sekaligus. Silogisme adalah suatu bentuk penarikan konklusi secara deduktif tak langsung yang konklusinya ditarik dari premis yang disediakan serentak. Oleh karena silogisme adalah penarikan konklusi yang sifatnya deduktif, maka konklusinya tidak dapat mempunyai sifat yang lebih umum daripada premisnya; oleh karena silogisme merupakan penarikan konklusi

4 secara tak langsung, konklusi ditarik dua premis, tidak dari satu premis saja sebagaimana halnya pada penarikan konklusi secara langsung. Misalnya: Semua mahasiswa adalah anak pintar Dina adalah mahasiswa Dina adalah anak pintar Ciri-ciri silogisme yang membedakannya dari jenis penarikan konklusi lainnya adalah: 1. Konklusi dalam silogisme ditarik dari dua premis yang serentak disediakan, bukan dari salah satu premisnya saja. Konklusinya tidaklah merupakan penjumlahan premis-premis itu, tetapi merupakan sesuatu yang dapat diperoleh bila kedua premis itu diletakkan serentak. Ciri-ciri ini membedakan silogisme dari bentuk-bentuk penarikan konklusi langsung dan bentuk-bentuk penarikan konklusi tak langsung lainnya. 2. Konklusi dari suatu silogisme tidak dapat mempunyai sifat yang lebih umum daripada premis-premisnya. Silogisme adalah suatu jenis penarikan konklusi secara deduktif dan penarikan konklusi secara deduktif konklusinya tidak ada yang lebih umum dari premispremis yang disediakan itu. Pada contoh di atas, konklusi : Dina adalah anak pintar walaupun umum sifatnya, namun lebih sempit pengertiannya dari premis-premisnya, karena term Dina mengandung pengertian yang lebih sempit daripada mahasiswa. Ciri ini membedakan silogisme daripada bentuk-bentuk penarikan konklusi secara induktif yang konklusinya selalu lebih umum daripada premisnya. 3. Konklusinya benar, bila dilengkapi dengan premis-premis yang benar. Suatu hal yang penting, pada silogisme dan pada bentuk-bentuk inferensi deduktif yang lain, persoalan kebenaran dan ketidak benaran pada premis-premis tak pernah timbul, karena premis-premis selalu diambil yang benar; akibatnya konklusi sudah diperlengkapi dengan hal-hal yang benar. Dengan kata lain, silogisme tinggal hanya mempersoalkan kebenaran formal (kebenaran bentuk) dan tidak lagi mempersoalkan kebenaran material (kebenaran isinya). Sebuah silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu dua buah proposisi yang diberikan dan sebuah proposisi yang ditarik dari dua buah proposisi yang diberikan itu. Proposisi yang ditarik itu dinamai konklusi dan dua proposisi yang diberikan itu dinamai premis. Tiap-tiap proposisi terdiri atas dua term dan karena itu silogisme mesti mempunyai enam term. Silogisme sebenarnya mempunyai tiga term yang mempunyai nama-nama tertentu. Predikat konklusi dinamai term mayor, subyek konklusi dinamai term minor, dan term yang sama-sama terdapat pada kedua proposisi itu disebut term penengah.

5 Term penengah menetapkan hubungan antara term mayor dan term minor dan dengan demikian konklusi dapat ditarik dari kedua premis itu. Jika antara term mayor dan term minor tidak terdapat hubungan, konklusi tidak dapat ditarik. Premis yang di dalamnya terdapat term mayor dinamai premis mayor, dan premis yang di dalamnya terdapat term minor dinamai premis minor. Dalam bentuk silogisme logika yang sesungguhnya, premis mayor diberikan mula-mula dan sudah itu diikuti oleh premis minor. Perlu diingat bahwa dalam silogisme lambang M dipakai untuk menunjukkan term penengah, S menunjukkan term minor dan P untuk term mayor. Jenis-jenis silogisme: Silogisme Murni Campuran kategoris hipotetis disjunktif Kategoris hipotetis dilemma Kategoris disjunktif Silogisme dibagi menjadi silogisme murni dan silogisme campuran. Silogisme murni juga dapat dibagi lagi menjadi tiga yaitu silogisme murni kategoris, silogisme murni hipotesis, dan silogisme disjunktif. Silogisme campuran juga dapat dibagi lagi menjadi tiga yaitu silogisme campuran kategoris hipotesis, silogisme campuran kategoris disjunktif, dan silogisme campuran dilemma. Penjelasan dari tiga jenis silogisme campuran: 1. Hipotetis kategoris. Dalam silogisme ini premis mayor hipotetis, premis minor kategoris dan konklusi kategoris. 2. Disjunktif kategoris. Dalam silogisme ini premis mayor disjunktif, premis minor kategoris dan konklusi kategoris. 3. Dilemma. Dalam dilemma: premis mayor hipotetis, premis minor disjunktif dan konklusi kategoris atau disjunktif.

6 Bentuk Silogisme Silogisme dibedakan menurut bentuknya, berdasarkan pada kedudukan term tengah (M) di dalam proposisi. Terdapat empat bentuk silogisme, yaitu: Bentuk I, Bentuk II, Bentuk III, dan Bentuk IV. 1. Bentuk I Term tengah (M) berkedudukan sebagai subyek di dalam premis mayor, dan berkedudukan sebagai predikat dalam premis minor. Maka bentuknya adalah : Bentuk I : M P S M S P JIKA : S : Term Mayor P : Term Minor M : Term Tengah dengan model Misal : Kantor Pajak Misal : Pelayan Publik Misal : birokrasi Misal Premis Mayor (M-P): Semua birokrasi adalah pelayan publik Premis Minor (S-M): Kantor pajak adalah birokrasi Silogisme (S-P): Kantor pajak adalah pelayan publik 2. Bentuk II : Term tengah (M) berkedudukan sebagai predikat baik, di dalam premis mayor maupun di dalam premis minor. Maka bentuknya adalah : P M dengan model S M S P Misal Premis Mayor (P-M): Semua pelayan public adalah aparatur birokrat Premis Minor (S-M):Zahra adalah aparatur birokrat Silogisme (S-P): Zahra adalah pelayan publik 3. Bentuk III : Term tengah (M) berkedudukan sebagai subyek, baik di dalam premis mayor maupun di dalam premis minor.

7 Maka bentuknya adalah : M S dengan model M P S P Misal Premis Mayor (M-S): Pembuat kebijakan adalah administrator publik Premis Minor (M-P): Pembuat kebijakan adalah pelayan publik Silogisme (S-P): Administrator public adalah pelayan publik 4. Bentuk IV : Term tengah (M) berkedudukan sebagai predikat di dalam premis mayor, dan berkedudukan sebagai subyek dalam premis minor. Maka bentuknya adalah : S M dengan model M P S P Misal Premis Mayor (S-M): semua koruptor adalah orang tidak beretika. Premis Minor (M-P): orang yang tidak beretika adalah pelaku kejahatan publik Silogisme (S-P):semua koruptor adalah pelaku kejahatan publik Mood Silogisme Kata Mood mempunyai beberapa pengertian. Yang Pertama : Mood dipergunakan untuk menyatakan bentuk sejenis silogisme yang ditentukan oleh kualitas dan kuantitas premis-premis yang membentuknya. Yang Kedua : Mood dipergunakan dalam pengertian yang lebih luas, untuk menyatakan bentuk silogisme yang ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ketiga proposisi yang membentuknya. Jadi tidak saja mengenai dua premisnya, tetapi juga mengenai konklusi. Yang Ketiga : Ada beberapa ahli logika yang mengemukakan mood dalam pengertian yang sangat terbatas, yaitu hanya untuk menyatakan mood yang valid saja, yaitu semua gabungan yang menghasilkan konklusi yang valid. Bila kita hitung ketiga proposisi yang membentuknya, akan kita dapati 24 mood yang valid, yaitu : Bentuk I : AAA AAI EAE EAO AII EIO Bentuk II : EAE EAO AEE AEO EIO AOO Bentuk III : AAI IAI AII EAO OAO EIO Bentuk IV : AAI AEE AEO IAI EAO EIO

8 Contoh : Bentuk I A : Semua birokrat bisa menetapkan kebijakan A : Semua anggota DPR itu adalah birokrat A : Semua anggota DPR bisa menetapkan kebijakan Mood ini disebut Barbara (AAA) E : Tak satu pun pegawai pemerintahan anti korupsi A : Semua administrator public adalah pegawai pemerintahan E : tak satupun administrator public anti korupsi Mood ini disebut Celarent (EAE) A : Semua yang berakuntabilitas disenangi I : Sebagian walikota berakuntabilitas I : Sebagian walikota disenangi Mood ini disebut Darii (AII) E : Tak satu pun koriptor adalah jujur I : Sebagian anggota DPR adalah koruptor O : Sebagian anggota DPR tidak jujur Mood ini disebut Ferio (EIO) Bentuk II Middel adalah predikat premis mayor dan premis minor. Dan ketentuan khususnya adalah: 1. Premis mayor harus universal 2. Premis minor kualitasnya harus berbeda dengan premis mayor Bentuk yang sah dari figur ini adalah E : Tidak satu pun koruptor jujur A : Semua administrator public jujur E : Tidak satu pun administrator public adalah koruptor Mood ini disebut Cecare (EAE) A : Semua pegawai pajak adalah administrator negara E : Tidak satu pun mahasiswa adalah administrator publik E : Tidak satu pun mahasiswa adalah pegawai pajak Mood ini disebut Camestres (AEE) E : Tidak ada birokrat yang beretika anti korupsi I : Sebagian birokrat anti korupsi O : sebagian birokrat adalah beretika Mood ini disebut Festino (EIO) A : Semua peraturan untuk public bersifat dinamis O : Sebagian peraturan tidak bersifat dinamis

9 O : Sebagian peraturan tidak untuk publik Mood ini disebut Baroco (AOO) Bentuk III Medium adalah subyek premis mayor dan subyek premis minor. Peraturan khususnya adalah premis minor harus afirmatif dan konklusi harus partikuler. Bentuk yang sah dari figur ini adalah A : Semua koruptor adalah tersangka A : Semua koruptor memakan uang rakyat I : Sebagian yang memakan uang rakyat adalah tersangka Mood ini disebut Darapti (AAI) A : semua anggota DPR bependidikan I : sebagian anggota DPR tidak jujur I : sebagian yag tidak jujur berpendidikan Mood ini disebut Datisi (AII) I : beberapa administrator beretika A : semua administrator bisa membuat kebijakan I : beberapa yang bisa membuat kebijakan beretika Mood ini disebut Disamis (IAI) E : tak seorang pun koruptor bermoral A : semua koruptor adalah manusia O : sebagian manusia tidak bermoral Mood ini disebut Felapton (EAO) O : Sebagian pejabat tidak korupsi A : Semua pejabat terdidik O : Sebagian yang terdidik tidak korupsi Mood ini disebut Bocardo (OAO) E : tidak satupun pejabat publik adalah pengangguran I : Sebagian pejabat publik bermoral baik O : Sebagian yang bermoral baik bukan pengangguran Mood ini disebut Ferison (EIO) Bentuk IV Middel adalah predikat premis mayor dan subyek premis minor. Peraturan khususnya adalah: 1. Bila premis mayor afirmatif maka premis minor harus universal 2. Bila premis minor negatif maka premis mayor universal Bentuk yang sah dari figur ini adalah A : Semua administrator public menggunakan kewenangannya A : Semua yang menggunakan kewenangnannya mempunyai etika I : Sebagian yang mempunyai etika adalah administrator publik Mood ini disebut Bramantip (AAI) A : Semua administrator public mempunyai etika

10 E : Tak satu pun yang mempunyai etika salah dalam bersikap E : Tak satu pun yang salah dalam bersikap adalah administrator publik Mood ini disebut Camenes (AEE) I : Beberapa politikus menguasai beberapa bahasa A : Semua yang menguasai beberapa bahasa rajin membaca I : Sebagian yang rajin membaca adalah politikus Mood ini disebut Dimaris (IAI) E : Tidak ada koruptor yang disenangi A : Semua yang disenangi adalah pelayan publik O : Sebagian pelayan publik adalah bukan koruptor Mood ini disebut Fesapo (EAO) E : Tidak ada koruptor beretika I : Sebagian yang mempunyai etika merupakan administrator publik O : Sebagian administrator public buan koruptor Mood ini disebut Fresion (EIO) Penentuan mood yang valid Bila dengan mood itu yang kita maksudkan suatu bentuk silogisme sebagaimana yang ditentukan oleh kualitas dan kuantitas premis-premis yang membentuknya, maka ada 16 mood pada tiap-tiap silogisme, yaitu : AA EA IA OA AE EE IE OE AI EI II IO AO EO IO OO Dari 16 mood di atas, EE, EO, OE, dan OO tidak menghasilkan suatu konklusi yang valid dalam setiap bentuk itu karena premis-premisnya negative. Begitu pula II, IO, OI, tidak menghasilkan kata konklusi yang valid karena kedua premisnya khusus. IE tidak menghasilkan sesuatu apapun sesuai dengan aturan X. Akan tetapi, masih ada 8 mood yang dapat menghasilkan konklusi dalam bentuk I,II,III,IV. Mood yang valid dari bentuk I Dalam bentuk I, middle adalah subyek premis mayor dan predikat premis minor. (1.) AA A semua M adalah P A semua S adalah M A semua S adalah P Dengan mengambil proposisi A sebagai konklusi, kita dapat melanggar aturan silogisme, karena minor yang tersebar dalam premis. Karena itu dalam bentuk I, AA memberikan A dalam konklusi. Mood ini valid dan disebut BARBARA Contoh : A Semua barang yang dijual di toko top shop mahal A Semua rancangan Yongki dijual di toko top shop A Semua rancangan Yongki mahal (2.) AE A Semua M adalah P E tak satupun S adalah M

11 Dari mood ini tak ada konklusi yang dapat ditarik oleh karena konklusi harus negatif debab satu premisnya negatif dan akibatnya predikat konklusi akan tersebar sedang dalam premis mayor ia tak tersebar. Oleh karena itu dalam bentuk I, AE tidak menghasilkan konklusi. Contoh : A Semua penghuni kosan adalah laki-laki E Tak satupun wanita yang menghuni kosan (3.) AI A Semua M adalah P I Sebagian S adalah M I Sebagian S adalah P Oleh karena di sisi kedua premisnya afirmatif, konklusi juga afirmatif, dan karena satu premisnya kkhusus, konklusi mestilah juga khusus yaitu konklusi mestilah juga proposisi I. Middle tersebar dalam premis mayor dan dalam konklusi tak ada term yang tersebar karena tak ada term yang tersebar dalam premis. Oleh karena itu AI memberikan I dalam bentuk I dan mood ini disebut DARII. Contoh : A Semua materi kuliah adalah penting I Sebagian isi buku K. Berten adalah materi kuliah I Sebagian isi buku K. Berten adalah penting (4.) AO A Semua M adalah P O Sebagian S tidaklah M Dalam mood ini tidak ada konklusi yang dapat ditarik oleh karena setiap usaha untuk menarik konklusi akan menimbulkan kesalahan illicit mayor. Contoh: A Semua mahasiswa rajin O Sebagian pengangguran tidaklah mahasiswa (5.) EA E Tak satu pun S adalah M A Semua M adalah P E Tak satu pun S adalah P Mood ini valid. Oleh karena satu premisnya negatif, konklusi juga negatif. Middle term tersebar dalam premis mayor. S dan P yang tersebar dalam konklusi juga tersebar dalam premis dan dengan demikian mood ini adalah valid. Mood EA memberikan E dalam konklusi, dan mood ini disebut CELARENT. Contoh : E Tak satu pun mahasiswa adalah pemalas A Semua pemalas adalah orang bodoh E Tak satu pun mahasiswa adalah orang bodoh (6.) EI E Tak satu pun S adalah M I Sebagian S adalah M O Sebagian S tidaklah M Ini juga suatu mood yang valid, sebab konklusi negatif khusus sedangkan premisnya satu negatif dan satu khusus. Term middle tersebar dalam premis mayor. Oleh karena dalam premis tidak ada term yang tersebar, dalam konklusi tidak ada pula term yang tersebar. Oleh karena itu EI memberikan O sebagai konklusi. Mood ini disebut FERIO. Contoh : E Tak satu pun mahasiswa adalah buruh

12 I Sebagian mahasiswa adalah buruh O Sebagian mahasiswa tidaklah buruh (7.) IA I Sebagian S adalah M A Semua M adalah P Mood ini tidak merupakan mood yang valid oleh karena middle term tak tersebar dan dengan demikian tak ada konklusi yang dapat diambil. Contoh : I Sebagian wiraswasta adalah sarjana Administrasi Negara A Semua sarjana Administrasi Negara adalah pegawai negri (8.) OA O Sebagian S tidaklah M A Semua M adalah P Contoh : O Sebagian komik tidaklah karangan J.K. Rowling A Semua karangan J.K. Rowling adalah novel Juga mood ini tidak valid oleh karena middle term tak tersebar dan akibatnya konklusi tak dapat ditarik. Dengan demikian dalam silogisme bentuk I hanya empat gabungan yang menghasilkan mood yang valid, yaitu : AA (Barbara), EA (Celarent), AI (Darii) dan EI (Ferio) Mood yang valid dari bentuk II Dalam bentuk II, term middle adalah predikat dari kedua premisnya. Dari delapan kombinasi itu AA, AI, dan IA tidak menghasilkan apa-apa karena term middlenya tak ada yang tersebar. Pada kombinasi OA setiap usaha menarik konklusi akan menimbulkan kesalahan middle yang tak tersebar karena jika ada konklusi pastilah mempunyai bentuk khusus dan negatif oleh karena salah satu premisnya negative khusus. Konklusi yang negative akan menyebarkan predikat, sedangkan term mayor tidak tersebar dalam premis. Karena itu empat kombinasi yang dinyatakan di atas dalam silogisme bentuk II ini tidak memberikan suatu konklusi. Kombinasi yang lainnya akan memberikan hasil tanpa menimbulkan kesalahan-kesalahan. (1.) AE A Semua P adalah M E Tak satu pun S adalah M E Tak satu pun S adalah P Mood ini adalah valid oleh karena term S dan P yang tersebar dalam konklusi, juga tersebar dalam premis dan term middle tersebar dalam premis minor. Oleh karena itu AE memberikan E sebagai konklusi dalam silogisme bentuk II. Mood ini disebut CAMESTRES. Contoh : A Semua karbohidrat adalah mengenyangkan E Tak satu pun cemilan adalah mengenyangkan E Tak satu pun cemilan adalah karbohidrat (2.) AO A Semua P adalah M O Sebagian S tidaklah M O Sebagian S tidaklah P

13 Mood ini juga valid oleh karena term middle tersebar dalam premis minor dan term mayor yang tersebar dalam konklusi juga tersebar dalam premis mayor. Oleh karena itu AO memberikan O sebagai konklusi dalam silogisme bentuk II. Mood ini disebut BAROCO. Contoh : A Semua buah adalah vitamin O Sebagian minuman tidaklah vitamin O Sebagian minuman tidaklah buah (3.) EA E Tak satu pun P adalah M A Semua S adalah M E Tak satu pun S adalah P Mood ini valid karena term middle tersebar dalam premis mayor dan term S dan P juga tersebar dalam premis. Oleh karena itu EA memberikan E sebagai konklusi dalam silogisme bentuk II. Mood ini disebut dengan CESARE. Contoh : E Tak satu pun mahasiswa adalah pemalas A Semua pengangguran adalah pemalas E Tak satu pun pengangguran adalah mahasiswa (4.) EI E Tak satu pun P adalah M I Sebagian S adalah M O Sebagian S tidaklah P Oleh karena satu premisnya negatif dan yang satu lagi khusus, konklusi mestilah negatif khusus. Dalam menarik proposisi O kita tidak melanggar aturan silogisme. Term middle tersebar dalam premis mayor dan begitu pula term mayor. Oleh karena itu EI memberikan O sebagian konklusi dalam silogisme bentuk II dan mood ini disebut FESTINO. Contoh : E Tak satupun pengemis adalah sarjana I Sebagian pegawai adalah sarjana O Sebagian pegawai tidaklah pengemis Dengan demikian dalam bentuk II hanya ada empat mood valid yang kita peroleh dari empat kombinasi, yaitu EA (Cesare), AE (Camestres), EI (Festino) dan AO (Baroco). Mood yang valid dari bentuk III Dalam silogisme bentuk III, term middle adalah subyek dari kedua premisnya. Oleh karena itu dari delapan kombinasi, AE dan AO tidak akan memberikan konklusi oleh karena kedua kombinasi itu satu premisnya negatif dan akibatnya konklusi juga negatif, sedangkan konklusi yang negatif akan menyebarkan predikat, dan term mayor yang tak tersebar dalam premis mayor, tersebar dalam proposisi A. Semua kombinasi yang lainnya akan memberikan konklusi. (1.) AA A Semua M adalah P A Semua M adalah S I Semua S adalah P Mood ini valid karena term middle tersebar, sedangkan dalam premis tidak ada term yang tersebar. Haruslah kita ingat bahwa dari kombinasi AA pada bentuk II kita tidak dapat menarik A sebagai konklusi oleh karena kalau kita ambil A sebagai konklusi, kita akan

14 berbuat kesalahan minor yang tak tersebar. Dengan demikian AA memberikan I sebagai konklusi dalam bentuk III ini. Mood ini disebut DARAPATI. Contoh : A Semua roti adalah karbohidrat A Semua roti adalah tepung I Semua tepung adalah karbohidrat (2.) AI A Semua M adalah P I Sebagian M adalah S I Sebagian S adalah P Mood ini juga valid oleh karena term middle tersebar dan dalam konklusi termtermnya juga tersebar. Dengan demikian AI memberikan I sebagai konklusi dalam bentuk III. Mood ini disebut DATISI. Contoh : A Semua buku etika adalah penting I Sebagian buku etika adalah penelitian ilmiah I Sebagian penelitian ilmiah adalah penting (3.) EA E Tak satu pun M adalah P A Semua M adalah S O Sebagian S tidaklah P Mood ini juga adalah mood yang valid oleh karena term middle tersebar dan term mayor yang terdapat dalam konklusi tersebar, juga tersebar dalam premis mayor dan karena itu sewaktu menari proposisi O untuk konklusi tak ada aturan yang kita langgar. Mood ini disebut FELAPTON. Contoh : E Tak satupun penghuni kontrakan adalah wanita A Semua penghuni kontrakan adalah pria O Sebagian pria tidaklah wanita (4.) EI E Tak satu pun M adalah P I Sebagian M adalah S O Sebagian S tidaklah P Mood ini valid oleh karena term middle tersebar dan term mayor tersebar pula dalam premis mayor. Tak ada aturan silogisme yang kita langgar. Mood ini dinamai PERISON. Contoh : E Tak satupun mahasiswa adalah pemalas I Sebagian mahasiswa adalah rajin O Sebagian orang rajin tidaklah pemalas (5.) IA I Sebagian M adalah P A Semua M adalah S I Sebagian S adalah P Mood ini valid oleh karena term middle tersebar dan tak ada penyebaran term yang tak terdapat dalam konklusi. Mood ini dinamai DISAMIS. Contoh : I Sebagian pengemis adalah pengangguran A Semua pengemis adalah orang dewasa I Sebagian orang dewasa adalah penganggura

15 (6.) OA O Sebagian M tidaklah P A Semua M adalah S O Sebagian S tidaklah P Mood ini juga valid. Term middle tersebar dalam premis minor dan term mayor yang tersebar dalam konklusi juga tersebar dalam premis mayor. Mood ini dinamai BOCARDO. Contoh : O Sebagian sarjana admnistrasi negara tidaklah wiraswasta A Semua sarjana Administrasi Negara adalah pegawai O Sebagian pegawai tidaklah wiraswasta Denag demikian dalam silogisme bentuk III enam kombinasi menghasilkan konklusi, yaitu AA (Darapti), IA (Disamis), AI (Datisi), EA (Felapton), OA (Bocardo), dan EI (Perison). Mood yang valid dari bentuk IV Dalam silogisme bentuk IV, term middleadalah predikat premis mayor dan subyek premis minor. Dalam mood ini kombinasi AI, AO dan OA tidak akan menghasilkan konklusi. IA dan AO tidak akan menghasilkan konklusi oleh karena term middle tidak tersebar, sedangkan pada OA penarikan konklusi akan menimbulkan kesalahan illicit mayor disebabkan oleh karena satu premisnya negatif, maka konklusi juga negatif, dan ini berarti bahwa term mayor akan tersebar sedangkan dalam premis mayor ia tak tersebar. Term mayor adalah subyek dari proposisi O yang hanya menyebarkan predikat. (1.) AA A Semua P adalah M A Semua M adalah S I Sebagian S adalah P Konklusi ini valid oleh karena tidak ada aturan yang dilanggar. Mood ini dinamai BRAMANTIP. Contoh : A Semua barang import adalah barang mahal A Semua barang mahal adalah mewah I Semua barang mewah adalah barang import (2.) EA E Tak satu pun P adalah M A Semua M adalah S O Semua S tidaklah P Mood ini dinamai FESAPO. Contoh : E Tak satu pun guru adalah pemalas A Semua pemalas adalah pengangguran O Semua pengangguran tidak lah P (3.) EI E Tak satu pun P adalah M I Sebagian M adalah S O Sebagian S tidaklah P Mood ini dinamai FRESISON Contoh : E Tak satu pun buruh adalah sarjana I Sebagian sarjana adalah pegawai negri O Sebagian pegawai tidaklah buruh

16 (4.) IA I Sebagian P adalah M A Semua M adalah S I Sebagian S adalah P Mood ini dinamai DIMARIS Contoh : I Sebagian makanan adalah karbohidrat A Semua karbohidrat adalah energi I Sebagian energy adalah makanan (5.) AE A Semua P adalah M E Tak satu pun P adalah S E tak satu pun S adalah P Mood ini dinamai CAMENES. Contoh : A Semua guru adalah sarjana E tak satu pun guru adalah lulusan SMA E Tak satu pun lulusan SMA adalah guru Aturan yang berlaku bagi tiap-tiap bentuk mood. Bentuk I : (1). Premis mayor mesti universal. (2). Premis minor mesti afirmatif. Bentuk II : (1). Premis mayor mesti universal. (2). Salah satu premisnya mesti negatif. Bentuk III : (1). Premis minor mesti afirmatif. (2). Konklusi mesti khusus. Bentuk IV : (1). Jika premis mayor afirmatif, premis minor mesti universal. (2). Jika premis minor afirmatif, konklusi mesti khusus. (3). Jika salah satu premisnya negatif, premis mayor mesti universal. RELEVANSI POLA PENALARAN TIDAK LANGSUNG: SILOGISME, DENGAN ADMINISTRASI NEGARA Dalam administrasi negara, birokrat dituntut untuk membuat kebijakan-kebijakan publik yang dapat diterima oleh masyarakat dan berguna bagi masyarakat. Membuat kebijakan publik perlu pemikiran yang logis dan rasional. Birokrat tidak akan sembarangan merumuskan suatu kebijakan karena setiap kebijakan pasti ada pro dan kontra. Proses membuat kebijakan sendiri adalah menganalisa masalah-masalah yang ada di sekitar dengan melihat fenomena umum kemudian ditarik kesimpulan dan dijabarkan ke dalam kesimpulan yang bersifat khusus. Masalah-masalah yang ada akan diolah secara rasional, kritis, metodis, dan koheren agar dapat dirumuskan kebijakan apa yang sesuai dengan masalah-masalah tersebut. Dalam membuat kebijakan, birokrat harus mampu berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif terhadap rumusan kebijakan agar kebijakan tersebut dapat diterapkan di masyarakat. Suatu kebijakan harus disusun dengan asas sitematis agar dapat dijelaskan dan disosialisasikan kepada masyarakat dengan mudah. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan ketika kebijakan tersebut sudah diterapkan tetapi hasilnya tidak maksimal.

BENTUK SILOGISME S - M S - P

BENTUK SILOGISME S - M S - P Dalil Silogisme berbeda dengan aksioma silogisme karena dalil harus dibuktikan berdasarkan aksioma sedangkan aksioma sendiri dijabarkan dari definisi silogisme. Dari penjelasan diatas, maka pembuktian

Lebih terperinci

Tes Potensi Akademik (TPA)

Tes Potensi Akademik (TPA) Rangkuman Materi SBMPTN 2013 SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI Disertai Teori Ringkas dan Pembahasan Soal Tes Potensi Akademik (TPA) Disusun Oleh : Pak Anang Kumpulan SMART SOLUTION dan TRIK

Lebih terperinci

MAKALAH FILSAFAT ILMU Silogisme dan Proposisi Kategoris. Disusun oleh : Nama : NPM :

MAKALAH FILSAFAT ILMU Silogisme dan Proposisi Kategoris. Disusun oleh : Nama : NPM : MAKALAH FILSAFAT ILMU Silogisme dan Proposisi Kategoris Disusun oleh : Nama : NPM : Program Studi Fakultas Universitas 2015/2016 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Manusia dalam kehidupan sehari-hari

Lebih terperinci

Nama Mata Kuliah LOGIKA FORMAL. Masyhar, MA. Fakultas Psikologi. Modul ke: Fakultas. Program Studi Program Studi.

Nama Mata Kuliah LOGIKA FORMAL. Masyhar, MA. Fakultas Psikologi. Modul ke: Fakultas. Program Studi Program Studi. Nama Mata Kuliah Modul ke: LOGIKA FORMAL Fakultas Fakultas Psikologi Masyhar, MA Program Studi Program Studi www.mercubuana.ac.id Penalaran Merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan.

Lebih terperinci

ANALISIS LOGIKA BAHASA: TINJAUAN SILOGISME DALAM BENTUK SATUAN LINGUAL COPYWRITING IKLAN DI SWALAYAN KOTA SOLO BULAN AGUSTUS 2005 SKRIPSI

ANALISIS LOGIKA BAHASA: TINJAUAN SILOGISME DALAM BENTUK SATUAN LINGUAL COPYWRITING IKLAN DI SWALAYAN KOTA SOLO BULAN AGUSTUS 2005 SKRIPSI ANALISIS LOGIKA BAHASA: TINJAUAN SILOGISME DALAM BENTUK SATUAN LINGUAL COPYWRITING IKLAN DI SWALAYAN KOTA SOLO BULAN AGUSTUS 2005 SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana

Lebih terperinci

MODUL 3: DEDUKSI TRADITIONAL

MODUL 3: DEDUKSI TRADITIONAL MODUL 3: DEDUKSI TRADITIONAL Pembelajaran Hari Ini Peta Inferensi INFERENSI DEDUKTIF Inferensi Langsung Oposisi Inversi Konversi Obversi Dibahas 3 sesi: Deduksi Tradisional dan Modern Kontraposisi Inferensi

Lebih terperinci

PERTEMUAN VIII-IX SILOGISME KATEGORIS

PERTEMUAN VIII-IX SILOGISME KATEGORIS PERTEMUAN VIII-IX SILOGISME KATEGORIS 1. Silogisme adalah setiap penyimpulan, di mana dari dua keputusan (premis-premis) disimpulkan suatu keputusan yang baru (kesimpulan). Keputusan yang baru itu berhubungan

Lebih terperinci

LATIHAN PRA UJIAN AKHIR SEMESTER DASAR DASAR LOGIKA. Pilih dan tulislah A, B, C, D atau E untuk jawaban-jawaban yang benar di bawah ini!

LATIHAN PRA UJIAN AKHIR SEMESTER DASAR DASAR LOGIKA. Pilih dan tulislah A, B, C, D atau E untuk jawaban-jawaban yang benar di bawah ini! Pertemuan ke-14 LATIHAN PRA UJIAN AKHIR SEMESTER DASAR DASAR LOGIKA SOAL Pilih dan tulislah A, B, C, D atau E untuk jawaban-jawaban yang benar di bawah ini! Tidak ada harimau yang memakan anaknya sendiri.

Lebih terperinci

MODUL PERKULIAHAN DASAR-DASAR LOGIKA. Modul ini berisi langkahlangkah. memahami prinsip-prinsip logis dalam bernalar.

MODUL PERKULIAHAN DASAR-DASAR LOGIKA. Modul ini berisi langkahlangkah. memahami prinsip-prinsip logis dalam bernalar. MODUL PERKULIAHAN DASAR-DASAR LOGIKA Modul ini berisi langkahlangkah awal untuk memahami prinsip-prinsip logis dalam bernalar. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ilmu Komunikasi Hubungan

Lebih terperinci

BAB V PENALARAN DAN SILOGISME. 30/03/2015 Hand Out Power Point Logika/Yusuf Siswantara, SS., M. Hum.

BAB V PENALARAN DAN SILOGISME. 30/03/2015 Hand Out Power Point Logika/Yusuf Siswantara, SS., M. Hum. BAB V PENALARAN DAN SILOGISME 30/03/2015 Hand Out Power Point Logika/Yusuf Siswantara, SS., M. Hum. 1 PENALARAN 1. KEGIATAN AKAL BUDI TINGKAT III 2. AKAL BUDI MELIHAT DAN MEMAHAMI SEBUAH ATAU SEJUMLAH

Lebih terperinci

TUGAS NARASI MINGGU KE-12 FILSAFAT ILMU KELOMPOK 9B

TUGAS NARASI MINGGU KE-12 FILSAFAT ILMU KELOMPOK 9B TUGAS NARASI MINGGU KE-12 FILSAFAT ILMU KELOMPOK 9B NAMA ANGGOTA KELOMPOK : Karina Surya Permatasari (071211131021) Dian Indrawati (071211132011) Nailun Ni mah (071211133056) Maylina Nurwindiarti (071211131011)

Lebih terperinci

PENALARAN HUKUM: Antara Nalar Deduktif dan Nalar Induktif

PENALARAN HUKUM: Antara Nalar Deduktif dan Nalar Induktif PENALARAN HUKUM: Antara Nalar Deduktif dan Nalar Induktif R. Herlambang Perdana Wiratraman Fakultas Hukum Universitas Airlangga dan Anggota HuMa Catatan Pengantar untuk Pendidikan Hukum Kritis HuMa-Mahkamah

Lebih terperinci

PENGERTIAN LOGIKA BAHAN SATU DASAR-DASAR LOGIKA SEMESTER I

PENGERTIAN LOGIKA BAHAN SATU DASAR-DASAR LOGIKA SEMESTER I PENGERTIAN LOGIKA BAHAN SATU DASAR-DASAR LOGIKA SEMESTER I http://herwanp.staff.fisip.uns.ac.id 1 Sebagai ilmu, logika disebut logike episteme, yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat,

Lebih terperinci

PENELITIAN DAN METODE ILMIAH. BY: EKO BUDI SULISTIO

PENELITIAN DAN METODE ILMIAH. BY: EKO BUDI SULISTIO PENELITIAN DAN METODE ILMIAH BY: EKO BUDI SULISTIO Email: [email protected] PENELITIAN Bhs Inggris : Research re kembali ; search mencari. Secara bahasa berarti mencari kembali Penelitian dapat

Lebih terperinci

II. KAJIAN PUSTAKA. untuk menggunakan unsur-unsur bahasa untuk menyampaikan maksud atau pesan

II. KAJIAN PUSTAKA. untuk menggunakan unsur-unsur bahasa untuk menyampaikan maksud atau pesan 25 II. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Kemampuan Berlogika Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan, kita berusaha dengan diri sendiri (KBBI, 1991: 623). Selain itu, kemampuan juga merupakan kesanggupan

Lebih terperinci

MATERI DASAR-DASAR LOGIKA PERTEMUAN 13

MATERI DASAR-DASAR LOGIKA PERTEMUAN 13 MATERI DASAR-DASAR LOGIKA PERTEMUAN 13 Pengertian Silogisme Silogisme kategorik (disebut juga silogisme saja) adalah suatu bentuk formal dari deduksi yang terdiri atas proposisi-proposisi kategorik. Deduksi

Lebih terperinci

PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA

PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA P a g e 1 PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA 1. Pendahuluan a. Definisi logika Logika berasal dari bahasa Yunani logos. Logika adalah: ilmu untuk berpikir dan menalar dengan benar ilmu pengetahuan yang mempelajari

Lebih terperinci

2. Darimana kita tahu dalam enthymema tersebut ternyata ada premis yang belum disebut?

2. Darimana kita tahu dalam enthymema tersebut ternyata ada premis yang belum disebut? orang membutuhkan biaya banyak. ernyataan tersebut hanya terdiri dari dua proposisi tetapi merupakan bentuk silogisme karena ada premis yang tidak atau belum disebut. 2. Darimana kita tahu dalam enthymema

Lebih terperinci

METODE INFERENSI (1)

METODE INFERENSI (1) METODE INFERENSI (1) Tree (Pohon) dan Graph - Tree (pohon) adalah suatu hierarki struktur yang terdiri dari Node (simpul/veteks) yang menyimpan informasi atau pengetahuan dan cabang (link/edge) yang menghubungkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Pengertian Logika. B. Tujuan Penulisan

BAB I PENDAHULUAN. A. Pengertian Logika. B. Tujuan Penulisan BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Logika Logika berasal dari kata Logos yaitu akal, jika didefinisikan Logika adalah sesuatu yang masuk akal dan fakta, atau Logika sebagai istilah berarti suatu metode atau

Lebih terperinci

BERPIKIR (PENALARAN) DEDUKTIF

BERPIKIR (PENALARAN) DEDUKTIF UNIVERSITAS GUNADARMA NAMA : SRI SETIAWATY NPM : 18211261 KELAS : 3EA27 BERPIKIR (PENALARAN) DEDUKTIF A. DEFINISI BERPIKIR (PENALARAN) Berpikir (Penalaran) adalah sebuah pemikiran untuk dapat menghasilkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kemampuan Penalaran Matematis. Menurut Majid (2014) penalaran adalah proses berpikir yang

BAB II KAJIAN TEORI. A. Kemampuan Penalaran Matematis. Menurut Majid (2014) penalaran adalah proses berpikir yang BAB II KAJIAN TEORI A. Kemampuan Penalaran Matematis Menurut Majid (2014) penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta yang empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh

Lebih terperinci

SILOGISME DAN ENTIMEN

SILOGISME DAN ENTIMEN SILOGISME DAN ENTIMEN 1 DEFINISI SILOGISME Bentuk Penalaran dengan cara menghubunghubungkan dua pernyataan yang berlainan untuk dapat ditarik simpulannya. Silogisme termasuk dalam penalaran deduktif. Deduktif

Lebih terperinci

D. BENTUK SILOGISME E. CORAK SILOGISME F. VALIDITAS SILOGISME G. DICTUM DE OMNI ET NULLO H. POLISILOGISME I.INDUKSI

D. BENTUK SILOGISME E. CORAK SILOGISME F. VALIDITAS SILOGISME G. DICTUM DE OMNI ET NULLO H. POLISILOGISME I.INDUKSI A. PENGERTIAN INFERENSI B. INFERENSI LANGSUNG: KONVERSI DAN OBVERSI C. INFERENSI TIDAK LANGSUNG: SILOGISME D. BENTUK SILOGISME E. CORAK SILOGISME F. VALIDITAS SILOGISME G. DICTUM DE OMNI ET NULLO H. POLISILOGISME

Lebih terperinci

METODE INFERENSI. Level 2. Level 3. Level 4

METODE INFERENSI. Level 2. Level 3. Level 4 METODE INFERENSI Tree (Pohon) dan Graph - Tree (pohon) adalah suatu hierarki struktur yang terdiri dari Node (simpul/veteks) yang menyimpan informasi atau pengetahuan dan cabang (link/edge) yang menghubungkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Logika merupakan ilmu yang mempelajari metode-metode dan hukumhukum

BAB I PENDAHULUAN. Logika merupakan ilmu yang mempelajari metode-metode dan hukumhukum BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Logika merupakan ilmu yang mempelajari metode-metode dan hukumhukum yang digunakan untuk membedakan antara penalaran yang benar dan penalaran yang salah (Copi,

Lebih terperinci

Logika Matematika BAGUS PRIAMBODO. Silogisme Silogisme Hipotesis Penambahan Disjungsi Penyederhanaan Konjungsi. Modul ke: Fakultas FASILKOM

Logika Matematika BAGUS PRIAMBODO. Silogisme Silogisme Hipotesis Penambahan Disjungsi Penyederhanaan Konjungsi. Modul ke: Fakultas FASILKOM Modul ke: 7 Fakultas FASILKOM Logika Matematika Silogisme Silogisme Hipotesis Penambahan Disjungsi Penyederhanaan Konjungsi BAGUS PRIAMBODO Program Studi SISTEM INFORMASI http://www.mercubuana.ac.id Kemampuan

Lebih terperinci

Nantia Rena Dewi Munggaran

Nantia Rena Dewi Munggaran Nantia Rena Dewi Munggaran Suatu proses berpikir manusia untuk menghubunghubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan. Data Kalimat Pernyataan PROPOSISI Term adalah kata atau

Lebih terperinci

DASAR-DASAR LOGIKA. Ruang Lingkup Logika. Sujanti, M.Ikom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Program Studi Hubungan Masyarakat

DASAR-DASAR LOGIKA. Ruang Lingkup Logika. Sujanti, M.Ikom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Program Studi Hubungan Masyarakat Modul ke: 01 Ety Fakultas ILMU KOMUNIKASI DASAR-DASAR LOGIKA Ruang Lingkup Logika Sujanti, M.Ikom. Program Studi Hubungan Masyarakat Dasar-dasar Logika Ruang Lingkup Logika 1. Pengantar 2. Pengertian Logika

Lebih terperinci

A. A B. E C. I D. O E. S

A. A B. E C. I D. O E. S A. A B. E C. I D. O E. S 14. Term predikat yang terdapat dalam proposisi pada soal no. 11 adalah : A. bersalah B. pernah bersalah C. tidak pernah bersalah D. tidak merasa pernah bersalah E. pernah merasa

Lebih terperinci

Filsafat Ilmu dan Logika

Filsafat Ilmu dan Logika Filsafat Ilmu dan Logika Modul ke: METODE-METODE FILSAFAT Fakultas Psikologi Masyhar Zainuddin, MA Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pengantar metode filsafat bukanlah metode ketergantungan

Lebih terperinci

Logika Predikat 1. Kita akan memulai bagian ini dengan dua argumen.

Logika Predikat 1. Kita akan memulai bagian ini dengan dua argumen. Logika Predikat 1 III. Logika Predikat Kita akan memulai bagian ini dengan dua argumen. Premis Konklusi Premis Konklusi A: Semua orang menyukai Ali. B: Budi menyukai Ali. C: Cecep menyukai Ali. D: Seseorang

Lebih terperinci

MAKALAH FILSAFAT ILMU. Penalaran Induktif dan Penalaran Deduktif. Patricia M D Mantiri Pend. Teknik Informatika. Tema: Disusun oleh:

MAKALAH FILSAFAT ILMU. Penalaran Induktif dan Penalaran Deduktif. Patricia M D Mantiri Pend. Teknik Informatika. Tema: Disusun oleh: MAKALAH FILSAFAT ILMU Tema: Penalaran Induktif dan Penalaran Deduktif Disusun oleh: Patricia M D Mantiri 10 312 633 Pend. Teknik Informatika I. Latar Belakang Masalah Sebelum membahas tentang penalaran

Lebih terperinci

6.1 PRINSIP-PRINSIP DASAR BERPIKIR KRITIS/LOGIS

6.1 PRINSIP-PRINSIP DASAR BERPIKIR KRITIS/LOGIS PENGANTAR SAP 6 Mata Kuliah Critical and Creative Thinking 6.1 PRINSIP-PRINSIP DASAR BERPIKIR KRITIS/LOGIS 6.2 ARGUMENTASI : STRUKTUR DASAR 6.3 PENALARAN INDUKTIF & BENTUK-BENTUKNYA 6.4 PENALARAN DEDUKTIF

Lebih terperinci

Metodologi Penelitian Kuantitatif

Metodologi Penelitian Kuantitatif Modul ke: Metodologi Penelitian Kuantitatif Pengertian dan Ruang Lingkup Penelitian Ilmiah (Lanjutan) Fakultas ILMU KOMUNIKASI Finy F. Basarah, M.Si Program Studi Penyiaran www.mercubuana.ac.id Pengertian

Lebih terperinci

Logika Deduktif & Sylogisme

Logika Deduktif & Sylogisme Metode Inferensi Logika Deduktif & Sylogisme Pertemuan 10 Umum Salah satu dari banyak metode yang paling sering digunakan untuk menggambarkan inferensi adalah deduktive logic (logika deduktif), yang digunakan

Lebih terperinci

HAND OUT V KEPUTUSAN atau PROPOSISI

HAND OUT V KEPUTUSAN atau PROPOSISI Pengertian bagian dari Keputusan: HAND OUT V KEPUTUSAN atau PROPOSISI 1. Keputusan adalah suatu perbuatan tertentu dari manusia. Dalam dan dengan perbuatan itu ia mengakui atau memungkiri kesatuan atau

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN UNSUR-UNSUR PEMIKIRAN

BAB VI KESIMPULAN UNSUR-UNSUR PEMIKIRAN BAB V KSMPULAN UNSUR-UNSUR PMKRAN. UNSUR-UNSUR PMKRAN Bujur sangkar pertentangan (Square of oposition) Langkah-langkah pemutaran dan pembalikan 1. Konversi 1. nduksi dan deduksi 2. bversi 2. Silogisme

Lebih terperinci

ESSAY PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SEMANGAT KEBANGSAAN DEMI MASA DEPAN CEMERLANG

ESSAY PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SEMANGAT KEBANGSAAN DEMI MASA DEPAN CEMERLANG ESSAY PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SEMANGAT KEBANGSAAN DEMI MASA DEPAN CEMERLANG DISUSUN OLEH : AMALIA GHASSANI W. ( 071211531031 ) ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Catt: kedua kalimat pertama dapat dibuktikan kebenarannya. Kedua kalimat terakhir dapat ditolak karena fakta yang menentang kebenarannya.

Catt: kedua kalimat pertama dapat dibuktikan kebenarannya. Kedua kalimat terakhir dapat ditolak karena fakta yang menentang kebenarannya. Bahasa Indonesia 2 Proposisi ( reasoning ): suatu proses berfikir yang berusaha menghubungkan fakta/ evidensi yang diketahui menuju ke pada suatu kesimpulan. Proposisi dapat dibatasi sebagai pernyataan

Lebih terperinci

FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS

FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS FAKULTAS KOMUNIKASI DAN BISNIS Program Studi ILMU KOMUNIKASI/ ADMINISTRASI BISNIS RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER Mata Kuliah : Dasar-Dasar Logika Kode Mata Kuliah : Semester : 5/6 SKS : 2 SKS Prasyarat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari proses berpikir. Berpikir merupakan suatu proses mempertimbangkan,

BAB I PENDAHULUAN. dari proses berpikir. Berpikir merupakan suatu proses mempertimbangkan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam setiap rangkaian kehidupan manusia pastilah tidak akan lepas dari proses berpikir. Berpikir merupakan suatu proses mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis,

Lebih terperinci

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF Unit 6 PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF Wahyudi Pendahuluan U nit ini membahas tentang penalaran induktif dan deduktif yang berisi penarikan kesimpulan dan penalaran indukti deduktif. Dalam penalaran induktif

Lebih terperinci

TUGAS RESUME PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN PERTEMUAN KE-12 AKAL TAK SEKALI TIBA STOP...!!! SAY NO CORRUPTION.

TUGAS RESUME PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN PERTEMUAN KE-12 AKAL TAK SEKALI TIBA STOP...!!! SAY NO CORRUPTION. TUGAS RESUME PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN PERTEMUAN KE-12 AKAL TAK SEKALI TIBA STOP...!!! SAY NO CORRUPTION Disusun Oleh : 1. BINTANG ARIAN DIMITRA (071211633041) 2. NOVILIA ZENI ANDRIANI (071211632006)

Lebih terperinci

POLA BERFIKIR DALAM METODE ILMIAH SECARA SISTEMATIS DAN PRAGMATIS

POLA BERFIKIR DALAM METODE ILMIAH SECARA SISTEMATIS DAN PRAGMATIS POL BERFIKIR DLM METODE ILMIH SECR SISTEMTIS DN PRGMTIS ILLI SELDON MGFIROH KULIH X METODE ILMIH PROGRM STUDI GRIBISNIS, UNIVERSITS JEMBER 2017 1. da unsur logis di dalamnya Tiap bentuk berpikir mempunyai

Lebih terperinci

Modul Ilmu Mantiq/Logika. Dosen: Ahmad Taufiq MA

Modul Ilmu Mantiq/Logika. Dosen: Ahmad Taufiq MA Modul Ilmu Mantiq/Logika Dosen: Ahmad Taufiq MA C. PROPOSISI Unsur Dasar Proposisi Proposisi kategorik adalah suatu pernyataan yang terdiri atas hubungan 2 term sebagai subjek dan predikat serta dapat

Lebih terperinci

Logika Matematika. Rukmono Budi Utomo Pengampu: Prof. Dr. Taufiq Hidayat. March 16, 2016

Logika Matematika. Rukmono Budi Utomo Pengampu: Prof. Dr. Taufiq Hidayat. March 16, 2016 Logika Matematika Rukmono Budi Utomo 30115301 Pengampu: Prof. Dr. Taufiq Hidayat March 16, 2016 1 Logika Logika berasal dari kata Yunani kuno (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Analisis. Analisis diuraikan secara singkat memiliki arti penyederhanaan data.

BAB II KAJIAN TEORI. A. Analisis. Analisis diuraikan secara singkat memiliki arti penyederhanaan data. 6 BAB II KAJIAN TEORI A. Analisis Analisis diuraikan secara singkat memiliki arti penyederhanaan data. Secara umum analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yaitu: (1) reduksi data merupakan proses pemilihan

Lebih terperinci

Disusun Oleh : DIAN NOVITASARI DEPARTEMEN KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA SEMESTER GANJIL 2012 / 2013

Disusun Oleh : DIAN NOVITASARI DEPARTEMEN KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA SEMESTER GANJIL 2012 / 2013 PENDIDIKAN PANCASILA Dan KEWARGANEGARAAN DOSEN PJMK : Muhammad Adib, Drs,. M.Si TUGAS ESSAY : MENGHINDARI TINDAKAN PLAGIAT dan KORUPSI DIMULAI DARI DIRI SENDIRI Disusun Oleh : DIAN NOVITASARI 071211532022

Lebih terperinci

Ilmu Penalaran atau Logika

Ilmu Penalaran atau Logika Ilmu Penalaran atau Logika Logika adalah Ilmu dan Kecakapan Menalar; Berpikir dengan Tepat (the science and art of correct thinking berpikir dimaksudkan kegiatan akal untuk "mengolah" pengetahuan yang

Lebih terperinci

Resume Materi Perkuliahan Dasar-Dasar MIPA

Resume Materi Perkuliahan Dasar-Dasar MIPA Resume Materi Perkuliahan Dasar-Dasar MIPA Pertemuan ke-1 s/d ke-7 (Tanggal: 10 September 22 Oktober 2012) Oleh: Afillia Gizca Mardiani Rukmana F03111035 Pendidikan Fisika Dalam proses mendapatkan informasi

Lebih terperinci

Unit 5 PENALARAN/LOGIKA MATEMATIKA. Wahyudi. Pendahuluan

Unit 5 PENALARAN/LOGIKA MATEMATIKA. Wahyudi. Pendahuluan Unit 5 PENALARAN/LOGIKA MATEMATIKA Wahyudi Pendahuluan D alam menyelesaikan permasalahan matematika, penalaran matematis sangat diperlukan. Penalaran matematika menjadi pedoman atau tuntunan sah atau tidaknya

Lebih terperinci

TUGAS REVIEW JURNAL EXPERIMENTAL PHILOSOPHY AND PHILOSOPHICAL INTUITION MATAKULIAH FILSAFAT ILMU

TUGAS REVIEW JURNAL EXPERIMENTAL PHILOSOPHY AND PHILOSOPHICAL INTUITION MATAKULIAH FILSAFAT ILMU TUGAS REVIEW JURNAL EXPERIMENTAL PHILOSOPHY AND PHILOSOPHICAL INTUITION MATAKULIAH FILSAFAT ILMU KELOMPOK 1 A : Ketua : Khoirul Fatihin 071211132001 Sekretaris : Nikken Larasati 071211133064 Bendahara

Lebih terperinci

: Tiga Asas Luhur dalam Kehidupan Manusia Terdiri dari 2 kegiatan belajar. 1. Asas Keutuhan Watak dan Asas Kesusilaan 2. Asas Keadilan.

: Tiga Asas Luhur dalam Kehidupan Manusia Terdiri dari 2 kegiatan belajar. 1. Asas Keutuhan Watak dan Asas Kesusilaan 2. Asas Keadilan. ix M Tinjauan Mata Kuliah ata kuliah Etika Administrasi Pemerintahan merupakan penggabungan dari 2 bidang pengetahuan, yaitu filsafat dan ilmu administrasi publik. Kedua bidang pengetahuan itu cukup sulit

Lebih terperinci

Silabus. Pengantar Logika Informatika Logika Proposisi Logika Predikat UTS

Silabus. Pengantar Logika Informatika Logika Proposisi Logika Predikat UTS Logika Informatika Silabus Pengantar Logika Informatika Logika Proposisi Logika Predikat UTS Silabus (2) Himpunan Relasi dan Fungsi Bagian Aljabar Boolean UAS Referensi Nolt, John, 1990, Schaum's Outline

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Kemampuan Penalaran Matematis. a. Pengertian Penalaran Matematis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Kemampuan Penalaran Matematis. a. Pengertian Penalaran Matematis 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Konseptual 1. Kemampuan Penalaran Matematis a. Pengertian Penalaran Matematis Penalaran matematika dan pokok bahasan matematika merupakan satu kesatuan yang tidak

Lebih terperinci

BAGIAN I ARTI PENTING LOGIKA

BAGIAN I ARTI PENTING LOGIKA Pertemuan ke-1 BAGIAN I ARTI PENTING LOGIKA Apakah arti penting Logika? Mengapa kita perlu belajar Logika? Logika (logike; logos; manifestasi pikiran manusia) adalah Ilmu yang mempelajari sistematika berpikir

Lebih terperinci

Ruang Lingkup Penelitian Ilmiah

Ruang Lingkup Penelitian Ilmiah Modul ke: Ruang Lingkup Penelitian Ilmiah PENGERTIAN PENELITIAN ILMIAH, METODOLOGI PENELITIAN, DAN LOGIKA BERPIKIR ILMIAH Fakultas Ilmu Komunikasi Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom Program Studi S1 Brodcasting

Lebih terperinci

BAB II. Kajian Teoretis

BAB II. Kajian Teoretis BAB II Kajian Teoretis A. Kajian Teori 1. Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) Menurut Slavin (Rahayu 2011, hlm. 9), Missouri Mathematics Project (MMP) adalah suatu program yang dirancang

Lebih terperinci

Metode Ilmiah. Sudarko S.P.,M.Si. PS. Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember

Metode Ilmiah. Sudarko S.P.,M.Si. PS. Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember Metode Ilmiah Sudarko S.P.,M.Si. PS. Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember Kebenaran Ilmiah Ilmu pengetahuan itu secara teratur dan tersusun hingga memberikan pengertian tentang hakikat, kebenaran

Lebih terperinci

MODUL 1 PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA

MODUL 1 PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA STMIK STIKOM BALIKPAPAN 1 MODUL 1 PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA A. TEMA DAN TUJUAN KEGIATAN PEMBELAJARAN 1. Tema : Pengantar 2. Fokus Pembahasan Materi Pokok : 1. Sejarah 2. Arti 3. Manfaat 3. Tujuan Kegiatan

Lebih terperinci

Logika Matematika. Rukmono Budi Utomo March 14, Prodi S3 Matematika FMIPA-ITB

Logika Matematika. Rukmono Budi Utomo March 14, Prodi S3 Matematika FMIPA-ITB Logika Asal-Usul Logika Manfaat Berfikir Secara Logika Pernyataan Dalam Ekuivale Rukmono Budi Utomo 30115301 Prodi S3 Matematika FMIPA-ITB March 14, 2016 Logika Asal-Usul Logika Manfaat Berfikir Secara

Lebih terperinci

Silabus. Pengantar Logika Informatika Logika Proposisi Logika Predikat UTS Himpunan Relasi & Fungsi Bagian Aljabar Boolean UAs

Silabus. Pengantar Logika Informatika Logika Proposisi Logika Predikat UTS Himpunan Relasi & Fungsi Bagian Aljabar Boolean UAs LOGIKA INFORMATIKA Silabus Pengantar Logika Informatika Logika Proposisi Logika Predikat UTS Himpunan Relasi & Fungsi Bagian Aljabar Boolean UAs Referensi Buku Teks. Edmund Burke and Eric Foxley, 1996

Lebih terperinci

TUGAS REVIEW FILSAFAT ILMU. Ilmu pengetahuan bagaikan cahaya dan nyawa kehidupan

TUGAS REVIEW FILSAFAT ILMU. Ilmu pengetahuan bagaikan cahaya dan nyawa kehidupan TUGAS REVIEW FILSAFAT ILMU Ilmu pengetahuan bagaikan cahaya dan nyawa kehidupan ANGGOTA KELOMPOK 4A PUJI RAHAYU 071211133062 DELLA MEKAWATI S 071211132004 ANASTASYA MUSTIKA RANI 071211133043 FARIDAH FITRIYAH

Lebih terperinci

ALAM PIKIRAN MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA

ALAM PIKIRAN MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA ALAM PIKIRAN MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA Isti Yunita, M. Sc [email protected] FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2015 1 Ciri makhluk hidup (manusia) 2 Sifat keingintahuan Manusia

Lebih terperinci

Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA.

Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA. M.MA., MA. M.MA., MA. 09/01/2016 1 Manusia mencari kebenaran dengan menggunakan akal sehat (common sense) dan dengan ilmu pengetahuan. Ada empat hal pokok yang membedakan antara ilmu dan akal sehat. 1)

Lebih terperinci

JENIS-JENIS PENALARAN DI DUNIA BARAT (DEDUKTIF, INDUKTIF, ABDUKTIF)

JENIS-JENIS PENALARAN DI DUNIA BARAT (DEDUKTIF, INDUKTIF, ABDUKTIF) JENIS-JENIS PENALARAN DI DUNIA BARAT (DEDUKTIF, INDUKTIF, ABDUKTIF) Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah FILSAFAT ILMU Dosen Pengampu: Dr. Usman SS, M.Ag Disusun oleh : Moh. Edi Komara NIM.

Lebih terperinci

TUGAS PPKN. BY : Deanty Chandra Pertiwi ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA

TUGAS PPKN. BY : Deanty Chandra Pertiwi ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA TUGAS PPKN Plagiarisme dan Korupsi yang berakibat buruk bagi Masa Depan Indonesia BY : Deanty Chandra Pertiwi 071211533004 ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA 2012

Lebih terperinci

PENGENALAN LOGIKA MATEMATIKA

PENGENALAN LOGIKA MATEMATIKA LOGIKA MATEMATIKA By Faradillah [email protected] Sumber : Logika Matematika untuk Ilmu Komputer, F. Soesianto dan Djoni Dwijono, Penerbit Andi ofset PENGENALAN LOGIKA MATEMATIKA Pendahuluan Logika

Lebih terperinci

SIL/PKP241/01 Revisi : 00 Hal. 1 dari 5 Gasal Judul praktek: - Jam: SILABUS. Menjelaskan epistemologi sebagai bagian dari cabangcabang

SIL/PKP241/01 Revisi : 00 Hal. 1 dari 5 Gasal Judul praktek: - Jam: SILABUS. Menjelaskan epistemologi sebagai bagian dari cabangcabang SIL/PKP241/01 Revisi : 00 Hal. 1 dari 5 SILABUS Nama Mata Kuliah : EPISTEMOLOGI & LOGIKA PENDIDIKAN Kode Mata Kuliah : IPF 203 SKS : 2 (Teori) Dosen : Priyoyuwono Program Studi : Semua Program Studi di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika berfungsi sebagai ilmu atau pengetahuan, dan tentunya pembelajaran matematika disekolah mampu menunjukkan bahwa matematika selalu mencari kebenaran,

Lebih terperinci

PETA PERKULIAHAN MATA KULIAH : LOGIKA MATEMATIKA KODE MATA KULIAH : GD 321. SEMESTER : GANJIL (5) DOSEN : MAULANA, S.Pd., M.Pd.

PETA PERKULIAHAN MATA KULIAH : LOGIKA MATEMATIKA KODE MATA KULIAH : GD 321. SEMESTER : GANJIL (5) DOSEN : MAULANA, S.Pd., M.Pd. Doc Logika Matematika PGSD Maulana 1 PETA PERKULIAHAN MATA KULIAH : LOGIKA MATEMATIKA KODE MATA KULIAH : GD 321 BOBOT SKS : 2 (DUA) TAHUN AKADEMIK : 2007/2008 PROGRAM : PGSD S-1 KELAS SEMESTER : GANJIL

Lebih terperinci

Logika Proposisi 1. Definisi 1. (Proposisi) Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah, tetapi tidak keduanya sekaligus.

Logika Proposisi 1. Definisi 1. (Proposisi) Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah, tetapi tidak keduanya sekaligus. Logika Proposisi 1 I. Logika Proposisi Logika adalah bagian dari matematika, tetapi pada saat yang sama juga merupakan bahasa matematika. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ada kepercayaan bahwa

Lebih terperinci

DASAR-DASAR LOGIKA. Pemetaan Dasar. Sujanti, M.Ikom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Program Studi Hubungan Masyarakat

DASAR-DASAR LOGIKA. Pemetaan Dasar. Sujanti, M.Ikom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Program Studi Hubungan Masyarakat Modul ke: 05 Ety Fakultas ILMU KOMUNIKASI DASAR-DASAR LOGIKA Pemetaan Dasar Sujanti, M.Ikom. Program Studi Hubungan Masyarakat Dasar-dasar Logika Pemetaan Dasar 1. Argumentasi 2. Menguji Suatu Penalaran

Lebih terperinci

Dasar Dasar Logika. Oleh: Novy Setya Yunas. Pertemuan 1 dan 2

Dasar Dasar Logika. Oleh: Novy Setya Yunas. Pertemuan 1 dan 2 Pertemuan 1 dan 2 Dasar Dasar Logika Oleh: Novy Setya Yunas Phone: [+62 8564 9967 841] Email: [email protected] Online Course: https://independent.academia.edu/yunaszone Konsep.. Konsep bentuk logis

Lebih terperinci

ANALISIS KARANGAN ARGUMENTASI SISWA KELAS XI SMKN 12 MALANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

ANALISIS KARANGAN ARGUMENTASI SISWA KELAS XI SMKN 12 MALANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 ANALISIS KARANGAN ARGUMENTASI SISWA KELAS XI SMKN 12 MALANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Faridatul Umami Sunaryo Moch. Syahri E-mail: Faridatul [email protected] Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indoensia Universitas

Lebih terperinci

DASAR-DASAR LOGIKA. Katakan Maksud Anda (1) Sujanti, M.Ikom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Program Studi Hubungan Masyarakat

DASAR-DASAR LOGIKA. Katakan Maksud Anda (1) Sujanti, M.Ikom. Modul ke: Fakultas ILMU KOMUNIKASI. Program Studi Hubungan Masyarakat Modul ke: 03 Ety Fakultas ILMU KOMUNIKASI DASAR-DASAR LOGIKA Katakan Maksud Anda (1) Sujanti, M.Ikom. Program Studi Hubungan Masyarakat Dasar-Dasar Logika Katakan Maksud Anda (1) 1. Memahami Kesesatan

Lebih terperinci

PPKn. Dosen PJMK : Mohammad Adib. Artikel Ilmiah Populer/Essay Bebas. Pendidikan Anti Korupsi. Kelas D

PPKn. Dosen PJMK : Mohammad Adib. Artikel Ilmiah Populer/Essay Bebas. Pendidikan Anti Korupsi. Kelas D PPKn Dosen PJMK : Mohammad Adib Artikel Ilmiah Populer/Essay Bebas Pendidikan Anti Korupsi Kelas D Disusun Oleh: Maylani Fitri Nur Imami 071211533044 Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan

Lebih terperinci

Ilmu Alamiah Dasar. Oleh : Dini Rohmawati

Ilmu Alamiah Dasar. Oleh : Dini Rohmawati Ilmu Alamiah Dasar Oleh : Dini Rohmawati [email protected] Ciri makhluk hidup (manusia) Rasa ingin tahu Sejarah perkembangan pola pikir manusia Perkembangan Pola Pikir Manusia Ciri Makhluk Hidup

Lebih terperinci

Bab 2 Penalaran Ilmiah

Bab 2 Penalaran Ilmiah Bab 2 Penalaran Ilmiah 2.1 Definisi P enalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang

Lebih terperinci

A. LOGIKA DALAM FILSAFAT ILMU

A. LOGIKA DALAM FILSAFAT ILMU KELOMPOK 8 A. LOGIKA DALAM FILSAFAT ILMU Logika berasal dari kata yunani logos yang berarti ucapan, kata, akal budi, dan ilmu. Logika sebagai ilmu merupakan elemen dasar setiap ilmu pengetahuan. Logika

Lebih terperinci

RESUME TENTANG LOGIKA HUKUM

RESUME TENTANG LOGIKA HUKUM PENALARAN DAN ARGUMENTASI HUKUM RESUME TENTANG LOGIKA HUKUM ANAK AGUNG GEDE ROMI ANTIKA 1416051179 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2017 1. Logika Secara Umum Logika adalah hasil pertimbangan

Lebih terperinci

BAB-IX MEMBANGUN PEMIKIRAN LOGIS

BAB-IX MEMBANGUN PEMIKIRAN LOGIS BAB-IX MEMBANGUN PEMIKIRAN LOGIS Perdebatan antar aliran filsafat tentang pengetahuan yang sudah berlangsung lama, sejak era klasik dan berlanjut pada era modern bahkan sampai era pasca modern abad dewasa

Lebih terperinci

Struktur Ilmu Pengetahuan Modern & Cara Memperoleh Pengetahuan Ilmiah: Penalaran (Scientific Reasoning) Kamis, 21 Mei 2015

Struktur Ilmu Pengetahuan Modern & Cara Memperoleh Pengetahuan Ilmiah: Penalaran (Scientific Reasoning) Kamis, 21 Mei 2015 Struktur Ilmu Pengetahuan Modern & Cara Memperoleh Pengetahuan Ilmiah: Penalaran (Scientific Reasoning) Kamis, 21 Mei 2015 Yang harus diingat... Apa itu ilmu pengetahuan? Sejarah Ilmu Pengetahuan Konstruksi

Lebih terperinci

Proposisi Kompositif. Proposisi Konjuntif

Proposisi Kompositif. Proposisi Konjuntif cara untuk menguji atau memberi analisis terhadap pernyataan-pernyataan yang ada dalam bentuk proposisi majemuk. Harap diingat, bahwa dalam logika kebenaran yang diuji adalah kebenaran yang berkaitan dengan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil penelitian Ilmu hukum kemasyarakatan terdapat di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo. Di Fakultas Ilmu Sosial terdapat beberapa jurusan yaitu

Lebih terperinci

Logika Matematika. Logika Matematika. Jurusan Informatika FMIPA Unsyiah. September 26, 2012

Logika Matematika. Logika Matematika. Jurusan Informatika FMIPA Unsyiah. September 26, 2012 Jurusan Informatika FMIPA Unsyiah September 26, 2012 Cara menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk dengan menggunakan tabel kebenaran, yaitu dengan membagi beberapa bagian (kolom). Nilai kebenarannya

Lebih terperinci

Argumen 1. Contoh 1. Saya akan pergi bekerja hari ini atau besok. Saya tidak keluar rumah hari ini. Jadi, saya akan pergi bekerja besok.

Argumen 1. Contoh 1. Saya akan pergi bekerja hari ini atau besok. Saya tidak keluar rumah hari ini. Jadi, saya akan pergi bekerja besok. Argumen 1 II. Argumen dan Kevalidannya 1 Pengertian Argumen Pembuktian memegang peranan penting dalam matematika dan sebagian besar didasarkan pada penalaran deduktif, yaitu kesimpulan yang bersifat khusus

Lebih terperinci

FILSAFAT ILMU OLEH SYIHABUDDIN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

FILSAFAT ILMU OLEH SYIHABUDDIN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA FILSAFAT ILMU OLEH SYIHABUDDIN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA FILSAFAT ILMU Filsafat: upaya sungguh-sungguh dlm menyingkapkan segala sesuatu, sehingga pelakunya menemukan inti dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan tidak dapat berjalan baik, tanpa adanya kerja sama dengan berbagai

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan tidak dapat berjalan baik, tanpa adanya kerja sama dengan berbagai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah pendidikan merupakan bidang garapan yang menyangkut kepentingan segenap kalangan masyarakat yang lebih diprioritaskan untuk masa depan bangsa. Oleh

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian yang Relevan Sejauh pengetahuan peneliti kajian tentang Bentuk Penalaran dalam Skripsi Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Kemasyarakatan Universitas Negeri Gorontalo belum pernah

Lebih terperinci

Unit 7 PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF. Clara Ika Sari Budhayanti. Pendahuluan. Selamat belajar dan tetap bersemangat, semoga Anda sukses.

Unit 7 PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF. Clara Ika Sari Budhayanti. Pendahuluan. Selamat belajar dan tetap bersemangat, semoga Anda sukses. Unit 7 PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF Pendahuluan Clara Ika Sari Budhayanti U nit penalaran induktif dan deduktif ini akan membahas mengenai penarikan kesimpulan dan penalaran indukti deduktif. Dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memungkinkan objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol

BAB I PENDAHULUAN. memungkinkan objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa adalah media manusia berpikir secara abstrak yang memungkinkan objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol abstrak. Sebagai makhluk sosial,

Lebih terperinci

2/24/2011

2/24/2011 1. Penalaran 2. Metode Penalaran 3. Kekeliruan penalaran hukum 4. Pemecahan masalah hukum ETIMOLOGIS Dari kata NALAR yang berarti: 1. Pertimbangan ttg baik, buruk, dsb: akal budi; misal: setiap keputusan

Lebih terperinci

Sistem Pakar Metode Inferensi 1. Kelas A & B Jonh Fredrik Ulysses, ST

Sistem Pakar Metode Inferensi 1. Kelas A & B Jonh Fredrik Ulysses, ST Sistem Pakar Metode Inferensi 1 Kelas A & B Jonh Fredrik Ulysses, ST [email protected] Pengantar Bab ini akan mendiskusikan berbagai macam metode penalaran atau inferensi. Topik ini merupakan topik

Lebih terperinci

Oleh: DUSKI SAMAD. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol

Oleh: DUSKI SAMAD. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol Oleh: DUSKI SAMAD Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak yang sudah berjalan proses saat ini adalah sarana demokrasi untuk melahirkan pemimpin

Lebih terperinci

STMIK Banjarbaru LOGIKA PROPOSISIONAL. 9/24/2012 H. Fitriyadi & F. Soesianto

STMIK Banjarbaru LOGIKA PROPOSISIONAL. 9/24/2012 H. Fitriyadi & F. Soesianto 1 LOGIKA PROPOSISIONAL PENDAHULUAN STMIK Banjarbaru 2 Logika adalah pernyataan-pernyataan, yang berarti suatu kalimat yang memiliki arti tertentu dan memiliki nilai benar atau salah. Dilihat dari bentuk

Lebih terperinci

BAB V METODE-METODE KEILMUAN

BAB V METODE-METODE KEILMUAN BAB V METODE-METODE KEILMUAN Untuk hidupnya, binatang hanya mempunyai satu tujuan yang terlintas dalam otaknya yaitu pemenuhan kebutuhan untuk makan. Manusia dalam sejarah perkembangannya yang paling primitifpun

Lebih terperinci