PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Proses Penentuan Harga

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Proses Penentuan Harga"

Transkripsi

1 SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Proses Penentuan Harga Prof. Ir. Ratya Anindita, MSc., Ph.D Lab. Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya [email protected] 1. PENDAHULUAN 1.1 Pengantar 1.2 Tujuan 2. NEGOISASI SECARA INDIVIDU 3. PASAR YANG TERORGANISASI 3.1 Perdagangan Komoditi 3.2 Pasar Lelang (Auction Market) 3.3 Terminal Perdagangan 4. BARGAINING SECARA KOLEKTIF 5. HARGA YANG DIATUR (ADMINISTRATED PRICE) MODUL 6 1. PENDAHULUAN 1.1 Pengantar Pada topik sebelumnya telah dijelaskan bagaimana kekuatan penawaran dan permintaan menghasilkan tingkat harga dan output. Pembahasan tersebut selanjutnya memunculkan satu pertanyaan penting yaitu bagaimana proses penentuan harga yang sebenarnya, yang kemudian diterjemahkan ke dalam transaksi. Berbagai macam teknik digunakan untuk menentukan harga produk di dalam transaksi secara individu atau untuk menemukan harga keseimbangan pasar. Tomek dan Robinson (1981) menyebut proses penentuan harga sebagai mekanisme atau penemuan harga. Mekanisme itu mereka bagi menjadi lima kategori, yaitu harga menurut negosiasi secara individu, pasar yang terorganisir, rumus penentuan harga, bargaining secara kelompok atau kolektif, dan harga yang dikendalikan Tujuan Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan akan dapat: Menjelaskan macam-macam bentuk proses penentuan harga untuk kasus produk pertanian Menjelaskan bagaimana konsep dari masing-masing bentuk mekanisme penentuan harga, baik (1) harga melalui negosiasi secara individu, (2) harga melalui pasar yang terorganisir, (3) harga menurut rumus penentuan harga, (4) harga menurut bargaining secara kelompok atau kolektif, dan (5) harga yang dikendalikan.

2 2. NEGOISASI SECARA INDIVIDU Negosiasi secara individu adalah bargaining yang sederhana antara pembeli secara individu dan penjual untuk setiap transaksi. Pada bentuk aslinya dengan kekuatan pasar yang sama dan informasi yang sama perlu dimiliki oleh para partisipan. Mekanisme ini adalah prosedur implisit dari bentuk pasar kompetitif. Aturan yang formal pada dasarnya tidak tampak. Informasi pada kondisi penawaran dan permintaan secara umum dari suatu produk akan mempengaruhi harga dari negosiasi. Harga pada transaksi sebelumnya dan penilaian pada kemungkinan perubahan pada penawaran dan permintaan menjadi pertimbangan secara eksplisit atau intuitif. Lebih lanjut, partisipan mempunyai informasi yang lebih baik tentang kondisi pasar ke partisipan yang lain sehingga transaksi harga bisa dapat lebih tinggi atau lebih rendah tergantung bagaimana kedua partisipan mempunyai informasi yang cukup. Negosiasi secara individu sebagai satu-satunya sarana untuk penentuan harga produk yang diperdagangkan secara luas akan mungkin menjadi mahal, jika setiap pembeli dan penjual perlu mendapatkan informasi yang terbaik tentang kondisi persediaan dan permintaan secara detil, dan bagi partisipan adalah menguntungkan untuk merahasiakan informasi itu. Pada kasus seperti itu, pembeli atau penjual berada pada lingkungan yang optimal untuk mengeksploitasi partisipan lainnya. Oleh karena itu, kelemahan dari metode ini adalah bagi partisipan yang mempunyai informasi kurang lengkap sehingga partisipan tersebut tidak dapat secara baik menentukan harga yang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Di samping itu, asimetri informasi dapat terjadi karena adanya moral hazard ataupun adverse selection. Bagaimanapun juga, di Negara berkembang seperti Indonesia, bargaining secara individu di antara pembeli dan penjual masih merupakan cara yang paling umum untuk menentukan harga produk pertanian. Sebagaian besar penjualan sayursayuran dan buah-buahan di Amerika juga dilakukan dengan cara ini. 3. PASAR YANG TERORGANISASI Ketika transaksi semakin banyak, kegiatan tawar-menawar diantara para pembeli dan penjual menjadi sangat tidak praktis, terlalu banyak makan waktu dan terlalu mahal. Oleh karena itu, di sepanjang sejarah perdagangan dan pada perekonomian tradisional di negara yang berkembang, pasar local dan fair market (pasar musiman) pada pusat kelembagaan dan fungsi perdagangan dan penentuan harga. Pasar yang terorganisir, seperti pelelangan atau pertukaran komoditi, secara perlahan menggantikan transaksi secara individu. Kelebihan utama dari pasar komoditi yang terorganisir berada pada ketetapan yang tidak pandang bulu (siapa saja dapat melakukan), metode penentuan harga dengan biaya yang murah dan tidak di kontrol oleh pembeli ataupun penjual. Pasar ini melaksanakan fungsi penting dalam penentuan harga dengan menyamakan permintaan dan penawaran jangka pendek. Harga yang ditetapkan di pasar dengan memperkirakan harga keseimbangan melalui beberapa kondisi yaitu (a) jumlah Page 2 of 8

3 transaksinya besar, (b) kualitas produk yang dijual pada pertukaran adalah merupakan wakil dari produksi keseluruhan, (c) jumlah pembeli dan penjualnya banyak dan tidak ada satupun partisipan yang mampu memanipulasi harga, (d) informasi yang lengkap dan tidak bias (unbiased) sesuai dengan karakteristik penawaran dan permintaan dari komoditasnya, dan (e) pemerintah bukan merupakan faktor utama dalam penentuan harga. Namun, ada beberapa kritik terhadap pasar komoditi. Salah satunya adalah bahwa harga cenderung berfluktuasi secara berlebihan dan pada saat tertentu secara tidak rasional memberikan respon terhadap rumor atau psikologi massa. Sebagai contoh, cuaca yang tidak disukai dapat membawa pada pembelian sebagai antisipasi atas naiknya harga. Hal ini dapat menarik perhatian para pembeli lain yang ingin menanamkan modal pada pasar yang sedang naik. Kebalikannya mungkin terjadi di dalam pasar yang sedang jatuh. Permasalahan lain muncul ketika penjualan komoditi secara langsung menjadi lebih dominan akan memperumit proses penentuan dan pelaporan harga. Di samping itu, para pembeli dan pejual tidak lagi bersama-sama di dalam satua atau beberapa tempat. Penetapan harga yang mewakili (a representative price) menjadi lebih sulit untuk dicapai karena berasal dari sejumlah besar pasar yang decentralized dibandingkan jika pasar dapat disentralisasikan. Karena volume yang terjual melalui pasar sentral menjadi lebih kecil, dikarenakan perkembangan tersebut (banyak yang terjual di luar pasar), maka harga yang ditetapkan pada pasar tersebut akan lebih berfluktuasi dan mencerminkan kualitas yang terjual berbeda dibandingkan dengan rata-rata dari output keseluruahan. Paling tidak ada tiga macam pasar yang terorganisir, antara lain: 3.1. Perdagangan Komoditi - Perdagangan komoditi membutuhkan suatu lokasi untuk terjadinya perdagangan di bawah aturan tertentu. Walaupun belum sepenuhnya dilaksanakan diberbagai negara, sejumlah komoditi yang diperdagangkan secara internasional seperti gula, minyak kelapa dan emas ditentukan harganya dengan cara ini di pasar dunia. - Dua jenis perdagangan komoditi yang terjadi, yaitu (1) pasar spot atau cash market (pasar kontan) yang melibatkan perdagangan komoditi yang ada, yang biasanya didasarkan atas sample dan (2) future contracts atau future trading (perdagangan berjangka) didasarkan atas ketentuan kualitas minimum atau grade tertentu yang harus dikirim sebagai pemenuhan kontrak pada suatu tanggal di masa depan. - Di pasar, di mana kedua jenis perdagangan terjadi, harga dijangka pendek (near future price) berlaku sebagai dasar untuk pembayaran harga tunai untuk sejumlah tertentu dari komoditi yang diperdagangkan. Pembeli dan penjual menegosiasikan harga tunai dengan potongan atau premi untuk jangka pendek berdasarkan perbedaan tingkat kualitas, kandungan kelembaban, dll, dari sejumlah komoditi tertentu. Bahkan ketika transaksi kontan (cash transaction) tidak terjadi di pusat pasar, near future price (harga patokan jangka pendek) selalu menggunakan a reference price (harga patokan). Mekanisme perdagangan berjangka (future trading) dilakukan karena berkaitan dengan alokasi Page 3 of 8

4 penawaran dari ketersediaan komoditi sepanjang waktu dan usaha untuk menghindari resiko dengan komoditi yang diperdagangkan. - Sedangkan di negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat perdagangan pada pasar spot relatif menurun, sebaliknya perdagangan berjangka atau future contracts meningkat Pasar Lelang (Auction Market) - Untuk komoditi yang sulit di standarkan, pasar lelang memberikan jawabannya. Pasar lelang muncul sebagai pasar yang paling banyak digunakan secara luas di mana pemeriksaan kualitas dari produk yang diinginkan terjadi pada saat transaksi. Di bawah sistem lelang, para pembeli mampu mengamati setiap hewan atau setiap produk di pasar tempat transaksi atau lelang. Harga kemudian ditentukan dengan menawar untuk setiap transaksi yang dibuat melalui teriakan di publik. - Sejumlah variasi dari pelelangan tradisional tidaklah berpengaruh. Ada beberapa prosedur dalam perdagangan di pasar lelang, yaitu : a. Ducth Auction adalah salah satu alternatif dari contoh pasar lelang yang paling berkembang. Harga lelang mulai dari harga ekpektasi yang paling tinggi kemudian diturunkan sampai pembeli mau menerima. Landasan di balik sistem ini adalah bahwa produk dijual kepada pembeli pada harga maksimal yang mau dibayar oleh pembeli. Model ini banyak digunakan di Eropa dan Canadian auction. b. English Auction. Model ini banyak digunakan di Amerika, di mana penawaran dilakukan mulai dari harga ekspektasi terendah dan kemudian terus bertambah sampai salah satu pembeli menerima harga tertinggi. Menurut Schaffner, Schroder dan Earle (1998), english auction lebih lambat tetapi lebih efisien dan menghasilkan harga lebih rendah dibandingkan deng ducth auction. c. Japanese Auction. Model ini terjadi di pasar ikan di Jepang. Cara pelelangan diperlukan melalui penawaran dari seluruh pembeli. Setiap pembeli memasukkan harga lamaran pada sejumlah ikan pada waktu yang sama. Harga penawaran tertinggi sebagai pembeli. d. Traditional Action. Jenis pasar lelang yang lebih tradisional adalah fasilitas yang dimiliki publik atau swasta di mana para penjual membawa produk mereka ke tempat penjualan. Komoditi-komoditi yang akan diperdagangkan, ditempatkan sedemikian rupa di suatu lokasi tertentu, penjualan melalui pasar lelang dapat memakan waktu yang lama dan lebih memakan biaya daripada pembeli atau penjualan secara langsung. Contoh pasar lelang di Indonesia adalah pasar lelang ikan di Muncar dan beberapa tempat lain. - Pasar lelang mempunyai keuntungan karena seluruh penawaran dan permintaan dibawa dalam suatu lokasi melalui proses terbuka dan kompetitif sampai terjadi harga. Keuntungan lain, karena komoditi yang diperdagangkan diletakkan secara terbuka memungkinkan pembeli untuk memeriksa komoditi secara detail sebelum terjadi transaksi. Page 4 of 8

5 3.3. Terminal Perdagangan - Prosedur penjualan melalui terminal perdagangan bercirikan adanya standardisasi atau grading. Di terminal perdagangan ternak (terminal livestock exchange), produsen ternak mengirimkan hewannya ke pedagang/agen komisi atau perantara yang berwenang di terminal. Pedagang/agen perantara yang berwenang mencari pembeli ternak tersebut dan menegosiasikan harga yang paling mungkin dan terbaik, kemudian mengumpulkan pembayaran dan mengurangi biaya tempat serta mengembalikan sisanya ke penjual. Harga yang terjadi dilaporkan ke terminal pertukaran dan media. - Saat ini di Kanada oleh Ontario Pork Producers Marketing Boards dan di Australia oleh Computer Assisted Livestock Marketing telah dilakukan terminal perdagangan melalui elektronik, di mana penjual mempertunjukkan seluruh kegiatan melalui video ataupun alat elektronik lain. Model ini dianggap lebih baik dan efisien karena dapat meningkatkan persaingan di antara penjual dan meningkatkan kemampuan dan ketepatan informasi pasar yang lebih baik dan memperbaiki akses pasar bagi pedagang kecil dan secara geografis terpencil. - Di Filipina, pasar terminal yang paling popular beradi di Tagung, Metro Manila di mana tidak hanya ternak yang diperdagangkan tetapi juga bua-buahan dan sayur-sayuran. Di Jawa Timur akan dibuka terminal agribisnis tetapi nampaknya konsepnya perlu diperjelas terutama bagaimana prosedur pelaksanaannya. 4. RUMUS PENENTUAN HARGA (FORMULA PRICING) Formula Pricing atau penentuan harga komoditi pertanian dengan rumus tertentu banyak dilakukan di Amerika Serikat, seperti penentuan harga telur, susu, dan daging. Penentuan harga ini dilakukan berdasarkan laporan harga yang dicatat dari pusat pasar atau harga yang dibayarkan kepada produsen di tempat lain. Penentuan harga untuk susu di Amerika lebih komplek karena diperhitungkan pula persentase pengantaran susu (percentage of deliveries sold as fluid milk) dan angka indeks yang menggambarkan tingkat perubahan harga, biaya atau permintaan. Dari sudut pandang perusahaan swasta, penentuan harga ini bebas dari negosiasi dan model ini cukup menarik untuk kontrak jangka panjang dengan menggunakan rumus yang mengikat berdasarkan harga yang tercatat. Di Indonesia pernah dilakukan penentuan harga dasar gabah dengan rumus tani di mana harga gabah adalah setengah dari harga pupuk. Saat ini harga gabah masih ditentukan oleh pemerintah tetapi rumus yang digunakan tidak dipublikasikan. 5. BARGAINING SECARA KOLEKTIF Ketidakpuasan dengan tingkat harga dan nilai tukar lain yang ditentukan di pasar yang kompetitif membawa para petani kedalam bentuk asosiasi bargaining atau Page 5 of 8

6 koperasi yang dapat menegosiasikan harga yang lebih tinggi. Melalui usaha bersama, para petani berharap untuk mencapai hasil yang hampir sama dengan hasil yang diperoleh oleh suksesnya serikat pekerja dalam menuntut kenaikan upah. Saat ini ada beberapa produsen dari beberapa produk pertanian yang telah mengorganisasikan diri mereka sendiri sampai sedemikian rupa sehingga mereka secara kolektif mampu melakukan bargaining dengan pembeli produk mereka. Di Indonesia, penjualan secara kolektif nampaknya telah dilakukan oleh petani tebu, tetapi dalam penentuan harga tebu oleh pabrik gula posisi petani masih lemah. Sejumlah kondisi diperlukan agar bargaining secara kolektif dapat efektif, yaitu : 1. Agen bargaining harus mempunyai control penuh terhadap harga sehingga orang luar tidak dapat menawarkan harga yang lebih rendah untuk produk tersebut. Pada kenyataannya, mungkin perlu juga bagi asosiasi bargaining untuk meminta produsen mengatur atau membatasi produk dalam rangka mendapatkan harga yang lebih tinggi. 2. Suksesnya bargaining secara kolektif tidak hanya bagaimana mengontrol produksi anggota asosiasi tetapi juga karakteristik industri, di mana jumlah perusahaan yang banyak di industri tersebut cenderung akan membeli dengan harga murah. Pengalaman serikat pekerja menunjukkan bahwa mereka lebih mudah memperoleh kenaikan upah pada industri yang jumlahnya sedikit. Oleh sebab itu, bargaining secara kolektif dapat efektif apabila menjual hanya ke perusahaan yang jumlahnya terbatas sebagai perusahaan dominant. 3. Elastisitas harga terhadap permintaan produk yang diproses di tingkat eceran tidak elastic (karena dengan tidak elastic berarti naiknya harga di tingkat eceran tidak mengurangi banyak ketersediaan jumlah yang dijual). Hal ini berarti pengusahaan pengolahan dapat menambah bahan baku tanpa mempengaruhi harga jual dari produk yang diproses. Di samping itu, lebih menguntungkan bagi perusahaan pengolahan yang mempunyai alternatif sumber bahan baku yang hanya sedikit mempengaruhi permintaan bahan baku dan mempunyai control terhadap kualitas, jadwal pengiriman yang dapat mengurangi biaya dan resiko dalam pengadaan bahan baku. 6. HARGA YANG DIATUR (ADMINISTRATED PRICING) Kebanyakan produk pertanian dijual di bawah situasi tidak adanya pasar sentral. Negosiasi secara individu juga tidak dapat dipraktekkan agar menguntungkan mereka. Relatif mahalnya proses negosiasi membuat petani tidak mempunyai kesempatan mengontrol harga. Dalam situasi dan kondisi yang demikian, administrated price atau harga yang diatur merupakan alternatif yang paling baik dilakukan. Pada umumnya, harga komoditi ditentukan secara administratif oleh pemerintah, misalnya, harga dasar gabah atau harga beli oleh bulog yang diumumkan oleh pemerintah. Dalam kaitan dengan hal tersebut, perekonomian sektor pertanian sangat berbeda dengan perekonomian sektor industri. Harga di sektor pertanian yang dikendalikan hamper secara khusus dilakukan sebagai fungsi pemerintah. Tujuannya adalah untuk memberikan harga dasar untuk tanaman pangan dengan tujuan untuk meminimalkan fluktuasi harga dan untuk Page 6 of 8

7 memberikan insentif dalam rangka peningkatan produksi. Seperti pada beras atau gabah untuk memastikan harga yang adil atau sesuai untuk para petani. Di sektor non-pertanian, keputusan seperti itu sering kali dibuat oleh perusahaan swasta. Para petani secara individu, tidak banyak perusahaan yang memproduksi barangbarang non-pertanian, mempunyai sedikit kesempatan untuk mengontrol atau mengendalikan harga. Kesempatan untuk melakukan hal seperti itu dibatasi oleh perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk khusus atau produk yang berbeda, atau selain itu memiliki kekuatan monopoli (yaitu, perusahaan harus menghadapi kurva permintaan yang tidak elastis sempurna). Perusahaanperusahaan yang memproduksi produk yang berbeda mempunyai beberapa keleluasaan dalam menentukan untuk menjual pada harga berapa, tetapi pada kenyataan kasus, daerah keleluasaan dalam penentuan harga cukup sempit. Marjin yang lebih tinggi ditentukan oleh harga yang ditawarkan oleh pesaing untuk produk yang hamper sama. Sebuah perusahaan yang berusaha terlalu meningkatkan harga, posisi pasarnya akan dirusak oleh persaingan dari produk yang ada ataupun oleh perkembangan produk pengganti serta oleh masukknya perusahaan baru. Sifat kompetitif dari pasar produk pertanian menyulitkan para petani atau bahkan siapapun yang memasarkan produk pertanian untuk mengendalikan harga, dan khususnya untuk mempertahankannya secara substansial berada di atas tingkat keseimbangan kompetitif tanpa dukungan pemerintah. Jika harganya dinaikkan, para petani dan perusahaan pemroses harus menerima usaha pengendalian terhadap produksi. Satu-satunya alternatif terhadap pembatasan produksi adalah mengembangkan outlet sekunder untuk komoditi yang memiliki surplus atau meminta pemerintah untuk membeli kuantitas apapun yang tidak dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. (*) REFERENSI Anindita, Ratya Pemasaran Hasil Pertanian. Papyrus. Surabaya. Kohls, R.L. dan Joseph N. Uhl Marketing of Agricultural Product. Fifth Edition. John Willey and Sons, Macmillan Publishing Co-Inc., New York. Tomek, WG dan K L Robinson Agricultural Product Prices. Ithaca and London Cornel University Press. PROPAGASI Tugas dan Penilaian Individu 1. Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari proses penentuan harga melalui negoisasi secara individu? Page 7 of 8

8 2. Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari proses penentuan harga melalui pasar yang terorganisasi? 3. Sebutkan dan jelaskan 3 macam bentuk penentuan harga pada pasar yang terorganisir! 4. Jelaskan bagaimana mekanisme/proses penentuan harga menurut rumus penentuan harga (formula pricing)? 5. Sebutkan apa saja syarat kondisi yang diperlukan agar proses penentuan harga menurut bargaining secara kolektif dapat berjalan efektif? 6. Jelaskan alasan/rasionalisasi yang mendasari perlunya alternatif mekanisme penentuan harga berdasarkan harga yang diatur (administrated price)? Page 8 of 8

PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Aplikasi Penawaran dan Permintaan

PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Aplikasi Penawaran dan Permintaan SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Aplikasi Penawaran dan Permintaan Prof. Ir. Ratya Anindita, MSc., Ph.D. Lab. Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas

Lebih terperinci

PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Perilaku Harga Produk Pertanian

PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Perilaku Harga Produk Pertanian SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT PEMASARAN HASIL PERTANIAN: Perilaku Harga Produk Pertanian Prof. Ir. Ratya Anindita, MSc., Ph.D Lab. Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas

Lebih terperinci

PEMASARAN HASIL PERTANIAN:

PEMASARAN HASIL PERTANIAN: SELF-PROPGTIG ETREPREEURIL EDUCTIO DEVELOPMET PEMSR HSIL PERTI: simetri Informasi Prof. Ir. Ratya nindita, MSc., Ph.D Lab. Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Email : [email protected]

Lebih terperinci

TATANIAGA PERTANIAN OLEH : NOVINDRA DEP. EKONOMI SUMBERDAYA & LINGKUNGAN

TATANIAGA PERTANIAN OLEH : NOVINDRA DEP. EKONOMI SUMBERDAYA & LINGKUNGAN TATANIAGA PERTANIAN OLEH : NOVINDRA DEP. EKONOMI SUMBERDAYA & LINGKUNGAN TATANIAGA PERTANIAN Tataniaga Pertanian atau Pemasaran Produk-Produk Pertanian (Marketing of Agricultural), pengertiannya berbeda

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Dasar Perdagangan Internasional Teori perdagangan internasional adalah teori yang menganalisis dasardasar terjadinya perdagangan internasional

Lebih terperinci

VII. ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, DAN KERAGAAN PASAR RUMPUT LAUT

VII. ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, DAN KERAGAAN PASAR RUMPUT LAUT 55 VII. ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, DAN KERAGAAN PASAR RUMPUT LAUT Bab ini membahas sistem pemasaran rumput laut dengan menggunakan pendekatan structure, conduct, dan performance (SCP). Struktur pasar

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Produk Hasil Perikanan Tangkap Penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dibudidayakan dengan alat atau cara apapun. Produk hasil perikanan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan rangkaian teori-teori yang digunakan dalam penelitian untuk menjawab tujuan penelitian. Teori-teori yang digunakan

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RKPS)

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RKPS) RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RKPS) 1 Mata Kuliah Kode/SKS Fakultas/Program Studi Dosen Pengasuh : PEMASARAN HASIL PERTANIAN : PTE101006 / 3 sks : PERTANIAN / S1-AGRIBISNIS : 1. Prof. Ir. Ratya,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Tataniaga Menurut Hanafiah dan Saefudin (2006), istilah tataniaga dan pemasaran merupakan terjemahan dari marketing, selanjutnya tataniaga

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Tataniaga Menurut Hanafiah dan Saefudin (2006) tataniaga dapat didefinisikan sebagai tindakan atau kegiatan yang berhubungan dengan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN A.

BAB I. PENDAHULUAN A. BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman pangan yang sampai saat ini dianggap sebagai komoditi terpenting dan strategis bagi perekonomian adalah padi, karena selain merupakan tanaman pokok bagi sebagian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Perkembangan Jagung Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. peran yang sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Di sisi lain

I. PENDAHULUAN. peran yang sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Di sisi lain I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan produksi dan distribusi komoditi pertanian khususnya komoditi pertanian segar seperti sayur mayur, buah, ikan dan daging memiliki peran yang sangat strategis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perekonomian sekarang ini, sebagian besar produsen tidak langsung

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perekonomian sekarang ini, sebagian besar produsen tidak langsung BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam perekonomian sekarang ini, sebagian besar produsen tidak langsung menjual barang mereka kepada pemakai akhir. Di antara produsen dan pemakai terdapat

Lebih terperinci

PERMASALAHAN DALAM EKONOMI PERTANIAN DI INDONESIA. 1. Karakteristik Produk Pertanian 2. Permasalahan Pertanian

PERMASALAHAN DALAM EKONOMI PERTANIAN DI INDONESIA. 1. Karakteristik Produk Pertanian 2. Permasalahan Pertanian PERMASALAHAN DALAM EKONOMI PERTANIAN DI INDONESIA 1. Karakteristik Produk Pertanian 2. Permasalahan Pertanian TINJAUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS: MAHASISWA DIHARAPKAN MAMPU MENJELASKAN & MEMECAHKAN PERMASALAHAN

Lebih terperinci

ANALISIS TERHADAP KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG PANGAN

ANALISIS TERHADAP KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG PANGAN ANALISIS TERHAAP KEBIJAKAN PEMERINTAH I BIANG PANGAN (AplikasiTeori Permintaan dan Penawaran Pangan) By : Suyatno, Ir. MKes Office : ept. of Public Health Nutrition, Faculty of Public Health iponegoro

Lebih terperinci

KAJIAN PENGEMBANGAN KONTRAK BERJANGKA CPO

KAJIAN PENGEMBANGAN KONTRAK BERJANGKA CPO KAJIAN PENGEMBANGAN KONTRAK BERJANGKA CPO Widiastuti *) Kepala Bagian Pengembangan Pasar, BAPPEBTI Pengantar redaksi: Tahun 2010, lalu, Biro Analisa Pasar, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi

Lebih terperinci

SISTEM PEMASARAN AGRIBISNIS Sessi 4

SISTEM PEMASARAN AGRIBISNIS Sessi 4 SISTEM PEMASARAN AGRIBISNIS Sessi 4 Pemasaran Aliran produk secara fisis dan ekonomik dari produsen melalui pedagang perantara ke konsumen. Suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu/kelompok

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN. individu dan kelompok dalam mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN. individu dan kelompok dalam mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Konseptual 3.1.1 Konsep Tataniaga Pemasaran adalah suatu proses sosial yang di dalamnya melibatkan individu dan kelompok dalam mendapatkan apa yang mereka

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. barangnya ke pemakai akhir. Perusahaan biasanya bekerja sama dengan perantara untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. barangnya ke pemakai akhir. Perusahaan biasanya bekerja sama dengan perantara untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Saluran Distribusi Pada perekonomian sekarang ini, sebagian besar produsen tidak langsung menjual barangnya ke pemakai akhir. Perusahaan biasanya bekerja sama dengan

Lebih terperinci

ANALISIS TARGET PASAR

ANALISIS TARGET PASAR SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT Manajemen Pemasaran dalam Rancangan Usaha Agribisnis Wisynu Ari Gutama, SP. MMA Lab of Agribusiness Analysis and Management, Faculty of Agriculture,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Selama beberapa dekade terakhir sektor pertanian masih menjadi tumpuan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Selama beberapa dekade terakhir sektor pertanian masih menjadi tumpuan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Selama beberapa dekade terakhir sektor pertanian masih menjadi tumpuan dalam pembangunan Indonesia, namun tidak selamanya sektor pertanian akan mampu menjadi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Pustaka Tanaman bawang merah diyakini berasal dari daerah Asia Tengah, yakni sekitar Bangladesh, India, dan Pakistan. Bawang merah dapat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pupuk Bersubsidi Pupuk bersubsidi ialah pupuk yang pengadaanya dan penyalurannya mendapat subsidi dari pemerintah untuk kebtuhan petani yang dilaksanakan atas dasar program

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Pada penelitian tentang penawaran ekspor karet alam, ada beberapa teori yang dijadikan kerangka berpikir. Teori-teori tersebut adalah : teori

Lebih terperinci

III. LEMBAGA, SALURAN DAN FUNGSI PEMASARAN DALAM TATANIAGA AGROPRODUK. Tujuan Pembelajaran:

III. LEMBAGA, SALURAN DAN FUNGSI PEMASARAN DALAM TATANIAGA AGROPRODUK. Tujuan Pembelajaran: III. LEMBAGA, SALURAN DAN FUNGSI PEMASARAN DALAM TATANIAGA AGROPRODUK Tujuan Pembelajaran: Setelah mempelajari materi ini mahasiswa diharapkan akan dapat: 1. Menyebutkan jenis-jenis lembaga pemasaran dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Sistem dan Pola Saluran Pemasaran Bawang Merah Pola saluran pemasaran bawang merah di Kelurahan Brebes terbentuk dari beberapa komponen lembaga pemasaran, yaitu pedagang pengumpul,

Lebih terperinci

Pengantar Ekonomi Makro. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

Pengantar Ekonomi Makro. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Pengantar Ekonomi Makro Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Pengertian Ilmu Ekonomi Adalah studi mengenai cara-cara yang ditempuh oleh masyarakat untuk menggunakan sumber daya yang langka guna memproduksi komoditas

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN. terhadap barang dan jasa sehingga dapat berpindah dari tangan produsen ke

KERANGKA PEMIKIRAN. terhadap barang dan jasa sehingga dapat berpindah dari tangan produsen ke III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual 3.1.1. Konsep Pemasaran Definisi tentang pemasaran telah banyak dikemukakan oleh para ahli ekonomi, pada hakekatnya bahwa pemasaran merupakan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam mengambil sampel responden dalam penelitian ini

III. METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam mengambil sampel responden dalam penelitian ini 33 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Metode yang digunakan dalam mengambil sampel responden dalam penelitian ini menggunakan metode sensus. Pengertian sensus dalam penelitian

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. mall, plaza, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya; Pasar Tradisional adalah

TINJAUAN PUSTAKA. mall, plaza, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya; Pasar Tradisional adalah TINJAUAN PUSTAKA Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plaza, pusat perdagangan

Lebih terperinci

KERANGKA PENDEKATAN TEORI. Melinjo (Gnetum gnemon, L.) termasuk tumbuhan berbiji terbuka

KERANGKA PENDEKATAN TEORI. Melinjo (Gnetum gnemon, L.) termasuk tumbuhan berbiji terbuka II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI A. Tinjuan Pustaka 1. Tanaman Melinjo Melinjo (Gnetum gnemon, L.) termasuk tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae), dengan tanda-tanda : bijinya tidak terbungkus daging tetapi

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Berlian Porter Dayasaing diidentikkan dengan produktivitas atau tingkat output yang dihasilkan untuk setiap input yang digunakan.

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini didasari oleh teori-teori mengenai konsep sistem tataniaga; konsep fungsi tataniaga; konsep saluran dan

Lebih terperinci

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. di Indonesia. Selain sebagai sumber pendapatan masyarakat tani pekebun,

I. PENDAHULUAN. di Indonesia. Selain sebagai sumber pendapatan masyarakat tani pekebun, 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karet merupakan komoditas perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Selain sebagai sumber pendapatan masyarakat tani pekebun, komoditas ini juga memberikan

Lebih terperinci

Nilai Tukar Petani Kabupaten Ponorogo Tahun 2013

Nilai Tukar Petani Kabupaten Ponorogo Tahun 2013 iv Nilai Tukar Petani Kabupaten Ponorogo Tahun 2013 Nilai Tukar Petani Kabupaten Ponorogo Tahun 2013 KATA PENGANTAR Penghitungan dan Penyusunan Publikasi Nilai Tukar Petani Kabupaten Ponorogo Tahun 2013

Lebih terperinci

EKONOMI KELEMBAGAAN (8)

EKONOMI KELEMBAGAAN (8) Dr. Ir. Teguh Kismantoroadji, M.Si. teguhfp.wordpress.com Pandangan NEOKLASIK menganggap pasar berjalan secara sempurna tanpa biaya apapun karena pembeli (consumers( consumers) ) memiliki informasi yang

Lebih terperinci

memberikan multiple effect terhadap usaha agribisnis lainnya terutama peternakan. Kenaikan harga pakan ternak akibat bahan baku jagung yang harus

memberikan multiple effect terhadap usaha agribisnis lainnya terutama peternakan. Kenaikan harga pakan ternak akibat bahan baku jagung yang harus I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan agribisnis nasional diarahkan untuk meningkatkan kemandirian perekonomian dan pemantapan struktur industri nasional terutama untuk mendukung berkembangnya

Lebih terperinci

KEBIJAKAN HARGA. Kebijakan Yang Mempengaruhi Insentif Bagi Produsen : Kebijakan Harga_2. Julian Adam Ridjal, SP., MP.

KEBIJAKAN HARGA. Kebijakan Yang Mempengaruhi Insentif Bagi Produsen : Kebijakan Harga_2. Julian Adam Ridjal, SP., MP. KEBIJAKAN HARGA Kebijakan Yang Mempengaruhi Insentif Bagi Produsen : Kebijakan Harga_2 Julian Adam Ridjal, SP., MP. Disampaikan pada Kuliah Kebijakan dan Peraturan Bidang Pertanian EMPAT KOMPONEN KERANGKA

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI SALURAN PEMASARAN SALAK PONDOH (Studi Kasus di Desa Sigaluh Kecamatan Sigaluh Banjarnegara) ABSTRAK

ANALISIS EFISIENSI SALURAN PEMASARAN SALAK PONDOH (Studi Kasus di Desa Sigaluh Kecamatan Sigaluh Banjarnegara) ABSTRAK 94 ANALISIS EFISIENSI SALURAN PEMASARAN SALAK PONDOH (Studi Kasus di Desa Sigaluh Kecamatan Sigaluh Banjarnegara) Sulistyani Budiningsih dan Pujiati Utami Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Nilai Tambah Nilai tambah merupakan pertambahan nilai suatu komoditas karena mengalami proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Pustaka Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian

Lebih terperinci

Secara geografis letak Kabupaten Langkat berada antara dan. Sumatera Utara. Kabupaten Langkat berada pada ketinggian m di atas

Secara geografis letak Kabupaten Langkat berada antara dan. Sumatera Utara. Kabupaten Langkat berada pada ketinggian m di atas Geografi Kabupaten Langkat a. Geografi Secara geografis letak Kabupaten Langkat berada antara 3 0 14 00 dan 4 0 13 00 Lintang Utara dan antara 97 0 52 00 dan 98 0 45 00 Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Provinsi Lampung khususnya di PTPN VII UU

METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Provinsi Lampung khususnya di PTPN VII UU IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Provinsi Lampung khususnya di PTPN VII UU Bungamayang, Kabupaten Lampung Utara. Lokasi dipilih secara purposive karena PTPN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang)

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang) 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Meningkatnya jumlah penduduk dan adanya perubahan pola konsumsi serta selera masyarakat telah menyebabkan konsumsi daging ayam ras (broiler) secara nasional cenderung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertaniannya langsung kepada pedagang pengecer dan konsumen. Di dalam

I. PENDAHULUAN. pertaniannya langsung kepada pedagang pengecer dan konsumen. Di dalam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Petani produsen di Indonesia tidak biasa memasarkan produk hasil pertaniannya langsung kepada pedagang pengecer dan konsumen. Di dalam sistem agribisnis di Indonesia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan perkembangan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan sektor pertanian

Lebih terperinci

JURNAL EKONOMI Volume 22, Nomor 1 Maret 2014 ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU. Toti Indrawati dan Indri Yovita

JURNAL EKONOMI Volume 22, Nomor 1 Maret 2014 ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU. Toti Indrawati dan Indri Yovita ANALISIS SUMBER MODAL PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DI KOTA PEKANBARU Toti Indrawati dan Indri Yovita Jurusan Ilmu Ekonomi Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Riau Kampus Bina Widya Km

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian diartikan sebagai rangkaian berbagai upaya untuk meningkatkan pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan, memantapkan

Lebih terperinci

V FUNGSI PERUSAHAAN 5.3. PEMASARAN

V FUNGSI PERUSAHAAN 5.3. PEMASARAN V FUNGSI PERUSAHAAN 5.3. PEMASARAN Pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. Menurut Joesron dan Fathorozzi (2003) produksi adalah berkaitan dengan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. Menurut Joesron dan Fathorozzi (2003) produksi adalah berkaitan dengan BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Teori Produksi Menurut Joesron dan Fathorozzi (2003) produksi adalah berkaitan dengan bagaimana sumber daya (input) digunakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Di sektor produksi barang-barang dan jasa dihasilkan sedangkan di sektor

TINJAUAN PUSTAKA. Di sektor produksi barang-barang dan jasa dihasilkan sedangkan di sektor TINJAUAN PUSTAKA Saluran dan Lembaga Tataniaga Di sektor produksi barang-barang dan jasa dihasilkan sedangkan di sektor konsumsi barang-barang dan jasa dikonsumsi oleh para konsumen. Jarak antara kedua

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis digunakan untuk memberikan gambaran atau batasan-batasan teori yang akan digunakan sebagai landasan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia modern sekarang suatu negara sulit untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri tanpa kerjasama dengan negara lain. Dengan kemajuan teknologi yang sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian memegang peranan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian memegang peranan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian memegang peranan penting pada perekonomian nasional. Untuk mengimbangi semakin pesatnya laju pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa negara Indonesia adalah negara agraris yang harus melibatkan

Lebih terperinci

Indikator Inflasi Beberapa indeks yang sering digunakan untuk mengukur inflasi seperti;.

Indikator Inflasi Beberapa indeks yang sering digunakan untuk mengukur inflasi seperti;. Bab V INFLASI Jika kita perhatikan dan rasakan dari masa lampau sampai sekarang, harga barang barang dan jasa kebutuhan kita harganya terus menaik, dan nilai tukar uang selalu turun dibandingkan nilai

Lebih terperinci

Harga Saham Bursa Efek Indonesia, 2010). Pada akhir tahun 1994, IHSG. mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Pada bulan Oktober 2012 IHSG

Harga Saham Bursa Efek Indonesia, 2010). Pada akhir tahun 1994, IHSG. mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Pada bulan Oktober 2012 IHSG " BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Situasi perekonomian Indonesia yang semakin kondustif memberikan dampak positif terhadap pasar modal di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan indeks

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebutuhan manusia adalah makanan dan minuman, kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu kebutuhan manusia adalah makanan dan minuman, kebutuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PENELITIAN Salah satu kebutuhan manusia adalah makanan dan minuman, kebutuhan ini sangat beraneka ragam baik jenisnya maupun bentuk serta ukurannya. Dimana perusahaan

Lebih terperinci

ANALISIS KERAGAAN PASAR PEMBENIHAN DAN PENDEDERAN IKAN GURAMI (Oshpronemus Gouramy) DI KELURAHAN DUREN MEKAR DAN DUREN SERIBU DEPOK JAWA BARAT

ANALISIS KERAGAAN PASAR PEMBENIHAN DAN PENDEDERAN IKAN GURAMI (Oshpronemus Gouramy) DI KELURAHAN DUREN MEKAR DAN DUREN SERIBU DEPOK JAWA BARAT ANALISIS KERAGAAN PASAR PEMBENIHAN DAN PENDEDERAN IKAN GURAMI (Oshpronemus Gouramy) DI KELURAHAN DUREN MEKAR DAN DUREN SERIBU DEPOK JAWA BARAT Adida 1, Kukuh Nirmala 2, Sri Harijati 3 1 Alumni Program

Lebih terperinci

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI DI KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU MARZUKI HUSEIN Dinas Peternakan Provinsi RIAU Jl. Pattimura No 2 Pekanbaru ABSTRAK Sebagai usaha sampingan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Badak, dan kilang Tangguh. Ketiga kilang tersebut tersebar di berbagai pulau

IV. GAMBARAN UMUM. Badak, dan kilang Tangguh. Ketiga kilang tersebut tersebar di berbagai pulau IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Perkembangan Produksi Liquefied Natural Gas (LNG) LNG Indonesia diproduksi dari tiga kilang utama, yaitu kilang Arun, kilang Badak, dan kilang Tangguh. Ketiga kilang tersebut tersebar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia, dimana sektor

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia, dimana sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia, dimana sektor pertanian masih menjadi mata pencaharian umum dari masyarakat Indonesia. Baik di sektor hulu seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beli masyarakat. Sapi potong merupakan komoditas unggulan di sektor

BAB I PENDAHULUAN. beli masyarakat. Sapi potong merupakan komoditas unggulan di sektor 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu sumber protein hewani semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Hewan Desa Suka Kecamatan. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang bersifat

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Hewan Desa Suka Kecamatan. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang bersifat METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Hewan Desa Suka Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2017 sampai April 2017.

Lebih terperinci

Peranan Pertanian di Dalam Pembangunan Ekonomi. Perekonomian Indonesia

Peranan Pertanian di Dalam Pembangunan Ekonomi. Perekonomian Indonesia Peranan Pertanian di Dalam Pembangunan Ekonomi Perekonomian Indonesia Peran Pertanian pada pembangunan: Kontribusi Sektor Pertanian: Sektor Pertanian dalam Pembangunan Ekonomi Pemasok bahan pangan Fungsi

Lebih terperinci

Kosep Dasar: Saham Arum H. Primandari

Kosep Dasar: Saham Arum H. Primandari Kosep Dasar: Saham Arum H. Primandari Investasi Investasi Investasi: pada hakikatnya merupakan kegiatan menempatkan sejumlah dana yang dimiliki saat ini dengan harapan akan memperoleh keuntungan di masa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Kepiting adalah binatang crustacea. Hewan yang dikelompokkan ke dalam Filum Athropoda, Sub Filum Crustacea, Kelas Malacostraca, Ordo Decapoda, Suborder Pleocyemata

Lebih terperinci

Boks 2. Ketahanan Pangan dan Tata Niaga Beras di Sulawesi Tengah

Boks 2. Ketahanan Pangan dan Tata Niaga Beras di Sulawesi Tengah Boks 2. Ketahanan Pangan dan Tata Niaga Beras di Sulawesi Tengah Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk Sulawesi Tengah dengan padi, kakao, kelapa, cengkeh dan ikan laut sebagai komoditi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian saat ini masih tetap menjadi prioritas utama dalam pembangunan perekonomian di Indonesia. Hal ini didasarkan pada peningkatan peran sektor pertanian

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PERDAGANGAN GULA KRISTAL RAFINASI MELALUI PASAR LELANG KOMODITAS DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

RESEARCH. Ricky Herdiyansyah SP, MSc. Ricky Sp., MSi/Pemasaran Agribisnis. rikky Herdiyansyah SP., MSi. Dasar-dasar Bisnis DIII

RESEARCH. Ricky Herdiyansyah SP, MSc. Ricky Sp., MSi/Pemasaran Agribisnis. rikky Herdiyansyah SP., MSi. Dasar-dasar Bisnis DIII RESEARCH BY Ricky Herdiyansyah SP, MSc Ricky Herdiyansyah SP., MSc rikky Herdiyansyah SP., MSi. Dasar-dasar Bisnis DIII PEMASARAN : Aliran produk secara fisis dan ekonomik dari produsen melalui pedagang

Lebih terperinci

Kosep Dasar: Saham Aru A m ru H. H Prim Pri andar m i andar

Kosep Dasar: Saham Aru A m ru H. H Prim Pri andar m i andar Kosep Dasar: Saham Arum H. Primandari Investasi Investasi Investasi: pada hakikatnya merupakan kegiatan menempatkan sejumlah dana yang dimiliki saat ini dengan harapan akan memperoleh keuntungan di masa

Lebih terperinci

Ali Ridho,SE. M.Si.

Ali Ridho,SE. M.Si. MODUL PERKULIAHAN SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN HARGA TRANFER PENGERTIAN DAN TUJUAN HARGA TRANSFER, METODE HARGA TRANSFER, PENETAPAN HARGA SERVICE DARI KANTOR PUSAT, DAN ADMINISTRASI HARGA TRANSFER Fakultas

Lebih terperinci

Pemasaran Hasil Pertanian/Peternakan

Pemasaran Hasil Pertanian/Peternakan Pemasaran Hasil Pertanian/Peternakan 1 Definisi Pemasaran didefinisikan sebagai suatu runtutan kegiatan atau jasa yang dilakukan untuk memindahkan suatu produk dari titik produsen ke titik konsumen. Ada

Lebih terperinci

DASAR-DASAR MANAJEMEN PEMASARAN

DASAR-DASAR MANAJEMEN PEMASARAN Modul ke: DASAR-DASAR MANAJEMEN PEMASARAN PRICING PRODUCT Fakultas FIKOM Dra. Tri Diah Cahyowati, Msi. Program Studi Marcomm & Advertising http://www.mercubuana.ac.id Definisi Harga dapat didefinisikan

Lebih terperinci

AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI

AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI PENGERTIAN AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI Agribisnis adalah segala bentuk kegiatan bisnis yang berkaitan dengan usaha tani (kegiatan pertanian) sampai dengan pemasaran komoditi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mengelola faktor-faktor produksi alam, tenaga kerja, dan modal yang

III. METODE PENELITIAN. untuk mengelola faktor-faktor produksi alam, tenaga kerja, dan modal yang 46 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

KOMPONEN AGRIBISNIS. Rikky Herdiyansyah SP., MSc

KOMPONEN AGRIBISNIS. Rikky Herdiyansyah SP., MSc KOMPONEN AGRIBISNIS Rikky Herdiyansyah SP., MSc KOMPONEN AGRIBISNIS Tujuan Instruksional Umum: Mahasiswa mengetahui tentang komponen agribisnis Tujuan Instruksional Khusus: Setelah menyelesaikan pembahasan

Lebih terperinci

Kebijakan dan Peraturan Bidang Pertanian

Kebijakan dan Peraturan Bidang Pertanian Kebijakan dan Peraturan Bidang Pertanian Kebijakan Yang Mempengaruhi Insentif Bagi Produsen : Kebijakan Harga_1 Julian Adam Ridjal, SP., MP. PS Agribisnis UNEJ website : adamjulian.net Kebijakan Yang Mempengaruhi

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Tataniaga Tataniaga atau pemasaran memiliki banyak definisi. Menurut Hanafiah dan Saefuddin (2006) istilah tataniaga dan pemasaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional, terutama dalam aspek-aspek seperti: peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional, terutama dalam aspek-aspek seperti: peningkatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan usaha kecil di Indonesia memang diakui sangat penting dalam perekonomian nasional, terutama dalam aspek-aspek seperti: peningkatan kesempatan kerja; pemerataan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 04/04/Th. XV, 2 April 2012 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI BULAN MARET 2012 SEBESAR 97,86 PERSEN NTP Provinsi Sulawesi Tengah (NTP-Gabungan) bulan Maret 2012 sebesar 97,86 persen,

Lebih terperinci

2. Pasar Perdana. A. Proses Perdagangan pada Pasar Perdana

2. Pasar Perdana. A. Proses Perdagangan pada Pasar Perdana B. Pasar Sekunder adalah pasar di mana efek-efek yang telah dicatatkan di Bursa diperjual-belikan. Pasar Sekunder memberikan kesempatan kepada para investor untuk membeli atau menjual efek-efek yang tercatat

Lebih terperinci

ANALISIS KESEJAHTERAAN PETANI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2013

ANALISIS KESEJAHTERAAN PETANI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2013 ANALISIS KESEJAHTERAAN PETANI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2013 ANALISIS KESEJAHTERAAN PETANI KALIMANTAN TENGAH TAHUN 2013 ISSN : Nomor Publikasi : Ukuran Buku Jumlah Halaman : 15 x 21 cm : viii + 32 halaman

Lebih terperinci

Rangkuman Bab 14. Mengembangkan Strategi dan Program Penetapan Harga

Rangkuman Bab 14. Mengembangkan Strategi dan Program Penetapan Harga Rangkuman Bab 14 Mengembangkan Strategi dan Program Penetapan Harga A. Memahami Penetapan Harga Harga adalah salah satu unsur bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan; unsur-unsur lainnya menghasilkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (costless) karena pembeli (costumer) memiliki informasi yang sempurna dan

BAB 1 PENDAHULUAN. (costless) karena pembeli (costumer) memiliki informasi yang sempurna dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Biaya transaksi muncul akibat kegagalan pasar (Yeager, 1999: 29-30). Menurut Stone et al. (1996: 97), pasar yang selalu berjalan tanpa biaya apapun (costless) karena

Lebih terperinci

MEKANISME PASAR A. Pengertian dan Bentuk Pasar PRODUKSI 1. Fungsi-fungsi Produksi

MEKANISME PASAR A. Pengertian dan Bentuk Pasar PRODUKSI 1. Fungsi-fungsi Produksi MEKANISME PASAR A. Pengertian dan Bentuk Pasar Dalam memajukan perekonomian suatu negara, pasar memiliki peranan yang sangat penting. Melalui aktifitas pasar, produksi dapat sampai ke tangan konsumen yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Tanaman kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang sangat cocok ditanam didaerah tropis

Lebih terperinci

Matrik Keterkaitan Dukungan Kelembagaan Dalam Pembangunan Pertanian

Matrik Keterkaitan Dukungan Kelembagaan Dalam Pembangunan Pertanian Matrik Keterkaitan Dukungan Kelembagaan Dalam Pembangunan Pertanian Menko Kesra BI Deptan, Dephut, Kelautan /Kan KLH/ BPN No Kebijakan Menko Perekonomian Depkes, BSN Karantina Kem- Ristek/ BPPT /LIPI 1

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. komoditas pertanian tersebut karena belum berjalan secara efisien. Suatu sistem

II. TINJAUAN PUSTAKA. komoditas pertanian tersebut karena belum berjalan secara efisien. Suatu sistem II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Teoritis Secara umum sistem pemasaran komoditas pertanian termasuk hortikultura masih menjadi bagian yang lemah dari aliran komoditas. Masih lemahnya pemasaran komoditas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dari sudut pandang investor, diversifikasi internasional merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. Dari sudut pandang investor, diversifikasi internasional merupakan suatu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dari sudut pandang investor, diversifikasi internasional merupakan suatu cara yang dilakukan dengan tujuan untuk meminimalkan risiko dengan cara membentuk suatu

Lebih terperinci

Karakteristik Produk Hasil Pertanian

Karakteristik Produk Hasil Pertanian Karakteristik Produk Hasil Pertanian Teknologi Penanganan dan Pengolahan Hasil Pertanian Mas ud Effendi Klasifikasi Produk Hasil Pertanian Tanaman Tanaman Pangan : Padi dan palawija Tanaman hortikultura

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didominasi oleh usaha tani kecil yang dilaksanakan oleh berjuta-juta petani yang

BAB I PENDAHULUAN. didominasi oleh usaha tani kecil yang dilaksanakan oleh berjuta-juta petani yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tantangan pembangunan pertanian di Indonesia dalam menghadapi era agribisnis adalah adanya kenyataan bahwa pertanian di Indonesia masih didominasi oleh usaha tani

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran),

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Penetapan Harga Pada dasarnya, ada 2 kekuatan besar yang berpengaruh pada pembentukan

Lebih terperinci