Bab IV Akuisisi, Pengolahan dan Interpretasi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab IV Akuisisi, Pengolahan dan Interpretasi"

Transkripsi

1 Bab IV Akuisisi, Pengolahan dan Interpretasi IV.1 Data Resistivitas Pengukuran resistivity sounding dilakukan di lokasi Brumbung dan Pulau Sapeken (Gambar IV.1), dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger. Pengukuran sounding di Brumbung (Gambar IV.1a) terdiri dari 4 titik pengukuran yakni S6, S7, S8 dan S9. Sedangkan pengukuran di Pulau Sapeken (Gambar IV.1b) terdiri dari 5 titik sounding yakni S1, S2, S3, S4 dan S5. Akuisisi dari pengukuran resistivity sounding dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger ini, dilakukan menurut skema yang ditunjukkan pada Gambar IV.2. Seluruh pengukuran sounding dimulai dari panjang AB/2 = 1 meter pada MN/2 = 0,25 meter sampai dengan panjang bentangan (AB/2) maksimum, yaitu antara meter pada MN/2 = 20 meter, untuk target kedalaman sekitar meter. Pengolahan data resistivity sounding dalam penelitian ini (contoh data pada Lampiran 1), dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak IPI2Win versi 2.0. Gambar IV.1 Lokasi pengukuran geolistrik, (a) Brumbung dan (b) Pulau Sapeken 28

2 Gambar IV.2 Skema akuisisi resistivity sounding menggunakan konfigurasi Schlumberger Pengukuran resistivity imaging hanya dilakukan di Pulau Sapeken (Gambar IV.1b) dengan menggunakan konfigurasi Wenner-Schlumberger, sebanyak 4 lintasan pengukuran, yaitu C-D (P1), E-F (P2), S-T (P3) dan X-Y (P4). Akuisisi pengukuran resistivity imaging dengan menggunakan konfigurasii Wenner- Schlumberger, dilakukan menurut skema yang ditunjukkan pada Gambar IV.3, dengan panjang bentangan 100 meter untuk target kedalaman sekitar 20 meter. Pengolahan data resistivity imaging (contoh data pada Lampiran 2) dengan menggunakan software komputer RES2DINV. dilakukan Gambar IV.3 Skema akuisisi resistivity imagingg menggunakan konfigurasi Wenner- Schlumberger (Loke, 2004) 29

3 Hasil inversi data resistivity sounding di Pulau Sapeken (S1, S2, S3, S4, S5), diperoleh kurva sounding sebagaimana ditunjukkan pada Gambar IV.4 berikut: Gambar IV.4 Hasil inversi dari data pengukuran resistivity sounding di Pulau Sapeken untuk titik sounding S1, S2, S3, S4 dan S5. Dari Gambar IV.4, terlihat bahwa kurva sounding S1 (dekat laut) menunjukkan pola kurva yang smooth, mengindikasikan adanya lapisan yang relatif homogen dimana pada lapisan-lapisan atas memiliki resistivitas rendah, yang kemudian secara gradual harga resistivitas meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Sehingga di pantai sebelah utara Pulau Sapeken, memungkinkan intrusi air laut hanya terjadi pada lapisan-lapisan atas dimana harga resistivitasnya rendah. Sedangkan sounding-sounding (S2, S3, S4, S5) yang makin jauh dari pantai bagian utara Sapeken menunjukkan pola kurva lapangan yang eratik, mengindikasikan adanya perselingan antara struktur batugamping yang terisi air (resistivitas rendah) dan batugamping masif atau struktur batugamping yang terisi udara (resistivitas tinggi). Hasil inversi titik-titik sounding pada Gambar IV.4, selanjutnya dapat dikorelasikan untuk menghasilkan penampang resistivitas bawah permukaan yang ditunjukkan pada Gambar IV.5a dan IV.5b berikut: 30

4 Gambar IV.5a Penampang vertikal electrical sounding (VES) dari korelasi sounding S1, S2, S3, S4 dan S5 di lokasi Pulau Sapeken Pada Gambar IV.5a, di titik sounding paling utara (S1) yang berdekatan dengan laut, mengindikasikan adanya zona resistivitas yang sangat rendah pada lapisan atas yaitu kurang dari 1 Ωm, yang diduga sebagai zona intrusi air laut. Gambar IV.5b Penampang vertikal electrical sounding (VES) di Pulau Sapeken menggunakan program IPI2Win; atas, pseudo cross-section dan bawah, resistivity section. 31

5 Sedangkan zona resistivitas rendah (16,9-235 Ωm) yang berada di antara sounding S2 sampai S4 diidentifikasi sebagai zona air tanah. Zona-zona resistivitas yang rendah ini juga terlihat pada penampang Gambar IV.5b, yang diindikasikan sebagai warna hitam-biru. Pada bagian tengah penampang tersebut juga terlihat adanya zona resistivitas rendah yang terpisah dari lainnya, dalam kasus ini diduga sebagai struktur-struktur batugamping (goa atau rekahan) yang terisi air. Hasil-hasil inversi 2D resistivity imaging di Pulau Sapeken untuk lintasan P1, P2, P3 dan P4 ditunjukkan pada Gambar IV.6. Penampang F-E (P2) merupakan penampang bagian paling selatan, penampang C-D (P1) di bagian tengah, dan penampang S-T (P3) pada bagian paling utara (dekat laut), dimana ketiga penampang ini berarah relatif selatan-utara. Sedangkan penampang X-Y (P4) berarah timur-barat yang memotong penampang C-D (P1), dimana di dekat perpotongan kedua penampang tersebut terdapat sumur domestik. Dari keempat penampang imaging di Pulau Sapeken (Gambar IV.6) mengindikasikan adanya zona-zona resistivitas rendah (warna biru) yang diidentifikasi sebagai akumulasi air tanah dalam struktur-struktur batugamping. Selain itu juga terlihat adanya zona resistivitas yang sangat tinggi (warna merah-coklat tua), yang mana diidentifikasi sebagai batugamping masif atau goa batugamping yang terisi udara. Dari Gambar IV.6 juga diindikasikan adanya zona kontras resistivitas (resistivitas tinggi dan rendah) yang diidentifikasi sebagai sesar atau rekahan (dalam Gambar IV.6 ditunjukkan dengan garis hitam tebal). Khusus pada lintasan S-T (P3) yang paling dekat dengan laut bagian utara, menunjukkan adanya zona resistivitas tinggi sebagaimana diindikasikan oleh kurva sounding Sapeken S1. Zona resistivitas tinggi ini diduga sebagai penghalang terhadap masuknya air asin dari akuifer air laut ke dalam akuifer air tawar. Berdasarkan hasil-hasil dari interpretasi resistivity sounding dan imaging di lokasi Pulau Sapeken (Gambar IV.5 dan IV.6), dan didukung oleh data penampangpenampang geologi pada Bab III, maka selanjutnya dapat dibuat perkiraan geometri akuifer di Pulau Sapeken (Gambar IV.7). Batas antara zona batugamping masif dan zona intrusi air laut diestimasi dari interpretasi resistivity sounding (Gambar IV.5), sedangkan struktur-struktur sesar ataupun rekahan diestimasi dari 32

6 Gambar IV.6 Hasil-hasil penampang resistivity imaging pada lintasan Selatan-Utara di Pulau Sapeken. 33

7 Gambar IV.7 Hasil perkiraan bentuk geometri akuifer berdasarkan hasil-hasil interpretasi resistivity sounding dan imaging, serta penampangpenampang geologi pada lokasi Pulau Sapeken. resistivity imaging (Gambar IV.7) dimana melewati kedalaman sekitar 20 meter, geometri struktur-struktur tersebut diperkirakan. Hasil inversi data resistivity sounding di Brumbung (S6, S7, S8, S9), diperoleh kurva sounding sebagaimana ditunjukkan pada Gambar IV.8 berikut: Gambar IV.8 Hasil inversi dari data pengukuran resistivity sounding di Brumbung (Pulau Paliat) untuk titik- titik sounding S6, S7, S8 dan S9. 34

8 Dari kurva-kurva sounding pada Gambar IV.8 menunjukkan pola-pola kurva yang relatif beragam. Pada kurva sounding S6 menunjukkan pola kurva lapangan yang relatif smooth dimana lapisan atas memiliki resistivitas yang lebih tinggi dari pada lapisan di bawahnya. Sedangkan pada S7, S8 dan S9, menunjukkan pola-pola kurva lapangan yang eratik. Secara umum pola-pola kurva lapangan di lokasi Brumbung (Gambar IV.8) menunjukkan pola-pola kurva yang semakin eratik ketika mendekati batas laut. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya beberapa zona intrusi air laut pada akuifer air tawar yang berbatasan dengan akuifer air laut. Hasil inversi titik-titik sounding dari Gambar IV.8, selanjutnya dapat dikorelasikan untuk menghasilkan penampang resistivitas bawah permukaan sebagaimana ditunjukkan pada Gambar IV.9a dan IV.9b. Dari Gambar IV.9a ditunjukkan adanya zona-zona resistivitas rendah (4,19-7,2 Ωm) yang berada pada lapisan yang lebih dalam dari sounding S6 hingga S7 dan pada lapisan dangkal dari sounding S8 hingga S9. Pada sounding S9 yang berbatasan dengan laut, ketebalan zona resistivitas rendah ini sekitar 7 m dan semakin menipis hingga menjadi sekitar 2 m di sounding S8. Zona resistivitas rendah yang berbatasan dengan laut ini, selanjutnya diidentifikasi sebagai zona intrusi air laut, Gambar IV.9a Penampang vertikal electrical sounding (VES) dari korelasi sounding S6, S7, S8 dan S9 di lokasi Brumbung 35

9 Gambar IV.9b Penampang vertikal electrical sounding (VES) di Brumbung menggunakan program IPI2Win; atas, pseudo cross-section dan bawah, resistivity section. sedangkan zona resistivitas rendah di bagian tengah (S6-S7) diidentifikasi sebagai struktur rekahan atau goa batugamping yang terisi air. Zona-zona resistivitas yang rendah ini juga terlihat pada penampang Gambar IV.9b, yang diindikasikan sebagai warna hitam-biru. Bahkan pada penampang ini terlihat beberapa zona resistivitas rendah pada S9, yang diduga sebagai zona-zona intrusi air laut. IV.2 Data Kualitas Air Data kualitas air diperoleh dari pengambilan sampel air sumur dan mata air dari daerah penelitian untuk kemudian dilakukan analisa sifat fisika-kimianya di laboratorium guna mengetahui kualitas air dan perkiraan jenis air tanahnya. Analisis sampel air dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan ITB yang mengacu pada Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater (SMEWW) 20 th Edition 1998 dan Standar Nasional Indonesia (SNI) Tahun Parameter fisika-kimia air yang dianalisis meliputi: (1) salinitas, (2) TDS, (3) DHL dan (4) ph. 36

10 Hasil analisis kualitas air terhadap sampel-sampel air di Pulau Sapekan yang dilakukan pada Agustus 2005 (musim kemarau) ditunjukkan pada Tabel IV.1. Tabel IV.1 Hasil analisa laboratorium dari sampel-sampel air di Pulau Sapeken pada bulan Agustus 2005 berdasarkan SMEWW 1998 dan SNI 1991 No. Kode Analisis Salinitas ( ) TDS (mg/l) DHL (µs/cm) ph 1 S1A * S1B * S S S S S S S Ket.: * sumur-sumur kunci Dari Tabel IV.1, dapat diketahui bahwa kualitas air di Pulau Sapeken sangat bervariasi, yang nilai-nilainya berada di antara sampel S9 dan S5. Sampel S9 memiliki nilai salinitas, TDS dan DHL yang paling rendah, berturut-turut, 1,0, mg/l dan µs/cm, sedangkan sampel S5 memiliki nilai salinitas, TDS dan DHL yang paling tinggi, berturut-turut, 3,7, mg/l dan µs/cm. Menurut klasifikasi USGS (Fetter, 1994) berdasarkan kandungan garam-garam terlarutnya (TDS), seluruh sampel di Pulau Sapeken termasuk dalam kategori air payau (TDS antara mg/l). Selain itu, ph air juga menunjukkan nilai-nilai yang bervariasi, yakni mulai dari 7,65 di S1A hingga 8,02 di S1B. Untuk tujuan air minum, rentang batas ph air yang diizinkan menurut ketentuan WHO (Laluraj et al., 2005) adalah 6,5-8,5. Sehingga seluruh sampel air di Pulau Sapeken berdasarkan nilai ph-nya, layak untuk dikonsumsi. Data kualitas air Pulau Sapeken pada Tabel IV.1, dapat juga disajikan dalam bentuk kontur untuk masing-masing parameter analisis, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar IV.10. Hasil sayatan dari masing-masing peta kontur Gambar IV.10, dihasilkan penampang-penampang yang ditunjukkan pada Gambar IV.11. Dari Gambar IV.10 dan IV.11, terlihat adanya variasi kualitas air di Pulau Sapeken 37

11 B B A B A B A A Gambar IV.10 Peta kontur dari parameter-parameter kualitas air di Pulau Sapeken; (a) salinitas, (b) TDS, (c) DHL dan (d) ph. yang heterogen dan tidak ada hubungan yang sistematik dengan jauhnya garis pantai. Sebagai contoh, pada garis pantai sebelah utara dimana terdapat sumur S11, S9, S1A dan S1B, memiliki harga salinitas yang relatif rendah yaitu antara 1-2 ; sedangkan di garis pantai sebelah selatan (sumur S4 dan S5) dengan jarak garis pantai yang hampir sama, memiliki harga salinitas yang relatif tinggi, yaitu 3,6 dan 3,7. Sedangkan variasi nilai-nilai ph (Gambar IV.10d) dapat dihubungkan dengan ion-ion yang terkandung pada setiap tubuh air. 38

12 Gambar IV.11 Penampang A-B dari setiap peta kontur pada Gambar IV.10; (a) salinitas, (b) TDS, (c) DHL dan (d) ph. Hasil analisa laboratorium terhadap sampel-sampel air di Pulau Paliat yang dilakukan pada bulan Agustus 2005 (musim kemarau) ditunjukkan pada Tabel IV.2. Dari Tabel IV.2 terlihat bahwa kandungan TDS pada sampel air P1 sebesar 918 mg/l, sampel SM7 sebesar mg/l dan sampel S17 (sumur kunci) sebesar mg/l. Sesuai kriteria USGS (Fetter, 1994) diketahui bahwa sampel SM7 dan S17 merupakan air payau, sedangkan sampel P1 merupakan air tawar (TDS < mg/l). Di samping itu, nilai ph pada sampel air P1, SM7 dan S17, Tabel IV.2 Hasil analisa laboratorium terhadap sampel-sampel air di Pulau Paliat pada bulan Agustus 2005 berdasarkan SMEWW 1998 dan SNI 1991 Analisis No. Kode Salinitas ( ) TDS (mg/l) DHL (µs/cm) ph 1 P SM S17 * Ket.: * sumur kunci 39

13 berturut-turut, sebesar 7,68, 7,61 dan 7,20, dimana menurut kriteria WHO (Laluraj et al., 2005) ketiga sampel di Pulau Paliat ini termasuk air dalam kategori layak minum. Data kualitas air Pulau Paliat pada Tabel IV.2, dapat disajikan dalam bentuk kontur untuk masing-masing parameter analisis, yang hasilnya ditunjukkan pada Gambar IV.12. Hasil sayatan dari masing-masing peta kontur Gambar IV.12, dihasilkan penampang-penampang yang ditunjukkan pada Gambar IV.13. Dari Gambar IV.12 dan IV.13, terlihat adanya variasi kualitas air di Pulau Paliat yang heterogen dan tidak ada hubungan yang sistematik dengan jauhnya garis pantai. Di daerah Brumbung dimana terdapat sampel P1 (dekat pantai sebelah utara) dan di daerah Tanjung dimana terdapat sampel S17 (dekat pantai sebelah timur), memiliki kandungan salinitas yang relatif rendah, berturut-turut, 0,7 dan 1,3 ; sementara itu, sampel SM7 yang letaknya agak jauh dari garis pantai sebelah selatan, memiliki kandungan salinitas yang relatif tinggi yaitu sebesar 2. Gambar IV.12 Peta kontur dari parameter-parameter kualitas air di Pulau Paliat; (a) salinitas, (b) TDS, (c) DHL dan (d) ph. 40

14 Gambar IV.13 Penampang A-B dari setiap peta kontur pada Gambar IV.12; (a) salinitas, (b) TDS, (c) DHL dan (d) ph. Dari peta-peta kontur (Gambar IV.10 dan IV.12) dan penampang-penampang (Gambar IV.11 dan IV.13), secara umum menunjukkan pola-pola untuk salinitas, TDS dan DHL yang relatif serupa. Hal ini terjadi karena parameter-parameter tersebut memiliki hubungan yang positif, dalam arti makin tinggi kandungan garam-garam terlarut (TDS atau salinitas) dalam air tanah, maka makin tinggi pula nilai DHL yang dihasilkan. Sedangkan pola kontur dan penampang untuk ph, menunjukkan pola-pola yang relatif berbeda dari parameter lainnya, yang mana diduga dipengaruhi oleh perbedaan kandungan ion dari setiap sampel air. Selanjutnya, hasil analisis laboratorium pada bulan Maret 2006 (musim hujan) terhadap parameter-parameter kualitas air di Pulau Paliat dan Pulau Sapeken pada sumur-sumur kunci (S1A, S1B, S17) dan mata air Ostberk (Pulau Kangean) yang mana diasumsikan sebagai salah satu daerah recharge, ditunjukkan pada Tabel IV.3. Pada Tabel IV.3, disajikan juga kandungan ion-ion yang terdapat pada masing-masing sampel. Harga TDS tidak disajikan, namun dapat dihitung dengan menjumlahkan ion-ion dari Tabel IV.3 untuk masing-masing sampel. Dari perhitungan terhadap ion-ionnya diperoleh nilai TDS sebesar 1174,3 mg/l dan 1477,7 mg/l, berturut-turut, untuk sampel air Sapeken S1A dan S1B, serta TDS sebesar 1409,2 mg/l untuk sampel air Tanjung S17. 41

15 Tabel IV.3 Hasil analisa laboratorium dari kualitas air di sumur-sumur kunci dan sampel daerah recharge pada bulan Maret 2006 berdasarkan SMEWW 1998 dan SNI 1991 Parameter Analisis Satuan Metoda Hasil Analisis S1A S1B S17 Ma. Ostberk Salinitas SMEWW ,4 1,1 1,0 0.5 Daya hantar listrik µs/cm SMEWW ph - SMEWW 4500-H + 7,53 7,44 6,72 6,96 Natrium (Na + ) mg/l SMEWW 3500-Na 245,19 314,5 149, Kalium (K + ) mg/l SMEWW 3500-K 10,36 2,63 2,53 4,02 Kesadahan (CaCO 3 ) mg/l SMEWW 2340-C , ,6 Kalsium (Ca 2+ ) mg/l SMEWW 3500-Ca 75,39 102,18 206,4 107,14 Magnesium (Mg 2+ ) mg/l SMEWW 3500-Mg 38,15 36,54 20,2 25,58 Karbon dioksida (CO 2 ) mg/l SMEWW 4500-CO 2 8,76 15,76 24,5 16,64 Bikarbonat (HCO - 3 ) mg/l SNI ,3 434,37 525,3 467,19 Klorida (Cl - ) mg/l SMEWW 4500-Cl 356,4 430,65 306,9 108,9 Sulfat (SO 2-4 ) mg/l SMEWW 4500-SO 4 86,43 114, ,87 Silikat (SiO 2 ) mg/l SMEWW 4500-SiO 2 24,5 26,07 34,36 16,39 Boron (B) mg/l SMEWW 4500-PO 4 0,01 0,0096 0,010 0 Fluorida (F) mg/l SMEWW 3500-Fe 0,80 1,0 0, Karbonat (CO 2-3 ) mg/l SNI Analisis lebih lanjut terhadap sampel-sampel air di sumur-sumur kunci dan suatu sampel yang merepresentasikan daerah recharge pada musim hujan (Tabel IV.3), dapat dilakukan menggunakan diagram trilinier Piper, yaitu dengan mengelompokkan ion-ion utamanya sebagai kation dan anion. Hal ini dilakukan dengan mengkonversi semua konsentrasi ion ke satuan ekuivalen/liter, menggunakan persamaan berikut: Konsentrasi( meq Konsentrasi ( mg L ) L ) = Berat ekivalen ion (21) dimana Berat atom relatif ( Ar ) Berat ekivalen ion = (22) Valensi ion 42

16 Selanjutnya, persen dari konsentrasi-konsentrasi (dalam meq/l) kation dan anion, diplot dalam diagram trilinier yang sesuai. Perpotongan antara dua garis dari titik kation dan anion yang bersesuaian kemudian diplot pada bidang berbentuk belah ketupat (Gambar IV.14a). Klasifikasi berdasarkan ion-ion dominan dalam fasies hidrokimia (Gambar IV.14b), dapat digunakan untuk menggambarkan tubuhtubuh air tanah pada suatu akuifer yang berbeda komposisi kimianya. Gambar IV.14 Penyajian hasil analisis kimia air, (a) Diagram Piper, (b) Sistem klasifikasi hidrokimia untuk air-air natural (Fetter, 1994). Hasil plot ke dalam diagram trilinier Piper dari sampel air sumur Sapeken (S1A, S1B), mata air Tanjung-Pulau Paliat (S17) dan mata air Ostberk-Pulau Kangean (Tabel IV.3), disajikan pada Gambar IV.15. Berdasarkan klasifikasi fasies hidrokimia (Gambar IV.14b), dapat diketahui bahwa jenis air di mata air Ostberk Pulau Sapeken ternyata didominasi oleh fasies Ca-HCO 3, mata air Tanjung Pulau Paliat (S17) didominasi oleh fasies Ca-Cl, dan air sumur Sapeken S1A dan S1B, masing-masing, didominasi oleh fasies Na-Cl. Menurut klasifikasi Stuyfzand (Giménez & Morell, 1997), urutan fasies hidrokimia air tanah selama tahap intrusi yang bersesuaian dengan musim kemarau dan tahap penyegaran yang bersesuaian dengan musim hujan ditunjukkan pada Gambar IV.16. Pada tahap penyegaran, menurut klasifikasi Stuyfzand, proses pertukaran ion yang terjadi disebut direct ion exchange, sedangkan pada tahap intrusi disebut reverse ion exchange. 43

17 Gambar IV.15 Hasil plot diagram Piper dari sampel air S1A, S1B, S17 dan mata air Ostberk ke dalam kation dan anion utamanya. Berdasarkan klasifikasi Stuyfzand ini, data pada Gambar IV.15 yang merepresentasikan data pada musim hujan adalah termasuk dalam tahap penyegaran (Gambar IV.16b). Dengan demikian, fasies Ca-HCO 3 pada mata air Gambar IV.16 Urutan fasies hidrokimia air tanah berdasarkan klasifikasi Stuyfzand: (a) tahap intrusi, dan (b) tahap penyegaran (Giménez & Morell, 1997) 44

18 Ostberk merepresentasikan air recharge yang kontak dengan litologi batugamping, sedangkan fasies Ca-Cl yang masih muncul di S17, padahal menurut klasifikasi Stuyfzand ini mencirikan fasies pada tahap intrusi, sehingga di sekitar mata air Tanjung diduga masih terjadi intrusi air laut meskipun musim hujan sudah berlangsung. Pada sampel Sapeken (S1A dan S1B) muncul fasies Na- Cl, yang merepresentasikan air discharge dimana air salin masih ada. Dari Tabel IV.3 dapat dilihat kandungan ion-ion utama pada air sumur-sumur kunci (S1A, S1B, S17 dan mata air Ostberk), yang selanjutnya disajikan pada Gambar IV.17, untuk melihat kecenderungan perubahannya. Secara umum dari mata air Ostberk ke sumur Sapeken S1B (Gambar IV.17), menunjukkan bahwa konsentrasi ion kalsium dan bikarbonat cenderung makin menurun, sebaliknya konsentrasi sodium dan klorida makin meningkat. Hal ini mengindikasikan makin besarnya pengaruh pertukaran ion dan percampuran dengan air laut ketika makin mendekati zona discharge. Namun demikian, secara parsial dari mata air Ostberk ke S17, menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi ion-ion bikarbonat, kalsium dan sulfat yang mana diperkirakan akibat meningkatnya recharge, pelarutan atau percampuran air. Meningkatnya recharge mengindikasikan adanya penambahan air dari sumber-sumber lain, seperti dari Pulau Paliat bagian up-gradient (selatan). Gambar IV.17 Perbandingan ion-ion utama dalam fasies air tanah dari data Tabel IV.3 untuk sampel air S1A, S1B, S17 dan mata air Ostberk. 45

19 Berdasarkan analisis laboratorium terhadap sampel-sampel air pada sumur-sumur kunci (S1A, S1B, S17) yang dilakukan pada bulan Agustus 2005 (Tabel IV.1 dan Tabel IV.2) dan bulan Maret 2006 (Tabel IV.3), kemudian dapat disajikan dalam bentuk grafik (Gambar IV.18). Dilihat dari kandungan TDS, DHL, ph maupun salinitas pada Gambar (IV.18), seluruh parameter menunjukkan kecenderungan penurunan dari analisis pada bulan Agustus 2005 (musim kemarau) dan pada bulan Maret 2006 (musim hujan). Berkurangnya nilai-nilai TDS dan DHL mengindikasikan adanya penurunan kadar salinitas air, sedangkan penurunan nilai ph dalam kasus ini kemungkinan dapat dihubungkan dengan penurunan kadar sodicitas air. Gambar IV.18 Perbandingan hasil analisis kualitas air di laboratorium pada sumursumur kunci (S1A, S1B, S17) untuk bulan Agustus 2005 dan Maret 2006; (a) salinitas, (b) TDS, (c) DHL, dan (d) ph. 46

20 IV.3 Pengujian Hipotesis Dari ketiga hipotesis yang telah diajukan sebelumnya, terkait asal-usul air tanah di Pulau Sapeken, maka berdasarkan analisis dari data-data geolistrik dan fasies hidrokimia dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: 1) Hipotesis: air tanah Pulau Sapeken berasal dari air hujan lokal. Hal ini dapat dijelaskan dari kesetimbangan input dan output air tanahnya. Dari segi output, sebagai gambaran jumlah penduduk Pulau Sapeken pada tahun 2006 sekitar orang. Jika setiap orang rata-rata membutuhkan pasokan air sebesar 120 liter/hari (asumsi ini didasarkan dari hasil penelitian di Kota Merauke oleh Soewaeli et al., 2003), maka kebutuhan air yang diperlukan mencapai liter/hari atau liter/tahun; dimana kebutuhan ini hampir seluruhnya dibebankan pada air bawah permukaan karena ketiadaan aliran-aliran sungai di Pulau Sapeken. Sedangkan dari segi input, curah hujan tahunan di Pulau Sapeken adalah rata-rata sebesar 960 mm/tahun atau 9,6 dm/tahun (LAESANPURA, 2005). Luas Pulau Sapeken adalah sekitar 1 km 2 atau dm 2, jika diasumsikan daerah infiltrasi/resapan sebesar 25%, maka luas daerah infiltrasi di Pulau Sapeken adalah dm 2. Sehingga jumlah curah hujan total di Pulau Sapeken adalah 9,6 dm/tahun x dm 2 = dm 3 atau liter/tahun. Selanjutnya, jika diasumsikan nilai koefisien resapan lapisan soil Pulau Sapeken adalah 20% dari curah hujan total, maka jumlah curah hujan yang meresap menjadi air tanah adalah 20% x liter/tahun = liter/tahun. Sehingga, dibandingkan dengan jumlah air tanah Pulau Sapeken yang dikonsumsi (output) yaitu liter/tahun, maka input dari air hujan lokal Pulau Sapeken sebesar liter/tahun, ternyata hanya memiliki kontribusi sekitar 10% dari konsumsi air total bagi seluruh penduduk Sapeken. Gambaran secara umum tentang perkiraan ketersediaan air tanah Pulau Sapeken untuk memenuhi kebutuhan air bagi penduduknya, dan suplai air dari Pulau Paliat dengan asumsi koefisien resapan di Pulau Sapeken adalah konstan yaitu sebesar 20%, ditunjukkan pada Gambar IV.19. Dari Gambar 47

21 IV.19 terlihat bahwa dengan meningkatnya jumlah penduduk Sapeken, maka konsumsi air juga akan meningkat. Di sisi lain, jumlah air hujan yang meresap di Pulau Sapeken cenderung makin berkurang. Dari Gambar IV.19 ditunjukkan bahwa saat jumlah penduduk Sapeken masih sekitar orang, jumlah air hujan yang meresap seimbang dengan jumlah air yang dikonsumsi. Pada tahun 2006, jumlah penduduk Sapeken sekitar orang dimana dari perhitungan sebelumnya, air tanah lokal hanya memenuhi sekitar 10% dari total konsumsi air penduduk Sapeken. Namun demikian, jika mendapat suplai air dari Pulau Paliat, maka kebutuhan air tersebut masih dapat dipenuhi. Biarpun demikian, jika jumlah penduduk terus meningkat, diperkirakan keberadaan air tanah tersebut suatu saat tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan air penduduk Sapeken. Gambar IV.19 Hubungan antara jumlah penduduk versus ketersediaan air tanah di Pulau Sapeken. 2) Hipotesis: air tanah Pulau Sapeken berasal dari air purba (air konat). Berkaitan dengan asal-usul air tanah di Pulau Sapeken berasal dari air purba (air konat), ini kelihatannya tidak mungkin, karena pada umumnya air konat adalah air asin. Menurut Delleur (1999), air konat berasal dari air laut yang terperangkap ketika sedimen-sedimen marin diendapkan, sehingga memiliki salinitas yang kebanyakan sama dengan air laut. Sebagaimana terlihat pada hasil-hasil analisa laboratorium terhadap sampel-sampel air di Pulau Sapeken 48

22 baik pada musim kemarau maupun musim hujan, seluruh sampel masih tergolong dalam kategori air tawar hingga air payau. 3) Hipotesis: air tanah Pulau Sapeken berasal dari migrasi air. Berdasarkan hasil-hasil analisis geolistrik dan hidrokimia, serta dengan mempertimbangkan karakter batuan dan distribusinya, dapat diestimasi bahwa keberadaan air di Pulau Sapeken berasal dari suplai air recharge dari Pulau Paliat bagian up-gradient (selatan) dan Pulau Kangean bagian timur, yang mengalir melalui sistem rekahan batugamping Formasi Tambayangan, Formasi Jukong-Jukong ataupun Formasi Cangkaraman melewati jalan antara Tanjung-Sapeken. IV.4 Simulasi Aliran Fluida Berdasarkan hasil interpretasi resistivitas dan analisis kualitas air yang telah dibahas sebelumnya, maka kemudian dapat dibuat simulasi aliran fluida untuk menggambarkan fenomena intrusi air laut di daerah penelitian secara regional (P. Paliat-P. Sapeken). Untuk tujuan ini digunakan perangkat lunak VS2DTI versi 1.2, dimana menurut Hsieh at al. (2000), VS2DTI merupakan model beda hingga yang memecahkan persamaan Richard untuk aliran fluida dan persamaan adveksidispersi untuk transport zat terlarut. Adapun parameter-parameter simulasi VS2DTI yang digunakan pada penelitian ini, meliputi: 1) Textural classes Domain model dalam VS2DTI dibagi ke dalam area-area batuan yang berbeda (dikenal sebagai textural classes), yang menunjukkan sifat-sifat hidraulik dan transport dari suatu batuan atau medium berpori. Parameter textural classes yang dipilih dalam studi ini adalah parameter van Genuchten yang telah disediakan dalam program VS2DTI. 2) Profil kesetimbangan dan konsentrasi mula-mula Profil kesetimbangan mula-mula (initial equilibrium profile) digunakan untuk mendefinisikan posisi mula-mula muka air tanah dan pressure head minimum. 49

23 3) Syarat batas (boundary conditions) Program VS2DTI hanya mengizinkan penentuan syarat batas di antara batasbatas eksterior domain model. Syarat batas didefinisikan pada domain model untuk setiap periode recharge. Gambar IV.20 menunjukkan parameter textural classes dari masing-masing batuan dan struktur batuan yang diidentifikasi dari Pulau Paliat hingga Pulau Sapeken. Dari Gambar IV.20, terlihat tekstur warna biru muda dan warna kuning yang diasumsikan, masing-masing, merepresentasikan parameter textural classes untuk batupasir/rekahan (warna biru) dan struktur sesar (warna kuning) pada batugamping yang secara khas memiliki permeabilitas yang tinggi. Pada Pulau Sapeken bagian utara, struktur-struktur sesar atau rekahan diestimasi berdasarkan hasil-hasil interpretasi resistivity sounding dan resistivity imaging, sedangkan struktur sesar/rekahan lainnya diperkirakan dari kandungan salinitas pada masingmasing sampel air sumur dan mata air. Gambar IV.21 menunjukkan parameter-parameter input simulasi yang meliputi domain model, kondisi hidraulik mula-mula, jarak grid, dan syarat batas yang didefinisikan. Domain model adalah daerah dimana aliran fluida dan transport zat terlarut disimulasikan, dimana pada penelitian ini domain model memiliki panjang 13 satuan horizontal atau 13 km dan lebar domain adalah 2 satuan vertikal atau 1 km. Kondisi hidraulik mula-mula didefinisikan sebagai pressure head minimum, posisi awal water table dan konsentrasi mula-mula. Dari Gambar IV.21 terlihat bahwa pressure head minimum didefinisikan sebesar -0,16 satuan vertikal atau -80 meter, posisi awal water table sebesar 0,1 satuan vertikal atau 50 meter, dan konsentrasi mula-mula sebesar 0,0 dengan asumsi pada awalnya belum terjadi kontaminasi. Jarak grid didefinisikan sebagai grid seragam yang terdiri dari 200 kolom dan 50 baris. Sedangkan syarat-syarat batas didefinisikan untuk dua periode recharge, yaitu periode recharge I (0-60 hari) adalah merepresentasikan musim kemarau dan periode recharge II ( hari) adalah merepresentasikan musim hujan. 50

24 Gambar IV.20 Parameter textural classes untuk setiap jenis batuan berdasarkan parameter aliran (van Genuchten) dan transport zat terlarut yang didefinisikan. Gambar IV.21 Parameter-parameter model dan syarat-syarat batas yang ditentukan untuk setiap periode recharge. Angka romawi I mengindikasikan periode recharge I (0 60 hari) dan II adalah periode recharge II ( hari). 51

25 Berdasarkan parameter-parameter input yang telah didefinisikan pada Gambar IV.20 dan IV.21, diperoleh hasil simulasi aliran fluida secara regional dari Pulau Paliat hingga Pulau Sapeken (Gambar IV.22) untuk setiap periode recharge. Pada periode recharge I (musim kemarau), di daerah resapan (Pulau Paliat) didefinisikan dengan total head (h) sebesar 0,01 satuan vertikal atau 0,01 x 500 = 5 m pada konsentrasi di batas (Cb) sebesar 0,5 kg/m 3, sedangkan pada periode recharge II (musim hujan) didefinisikan total head (h) meningkat menjadi 0,5 satuan vertikal atau 250 m dengan konsentrasi Cb sebesar 0,5 kg/m 3 yang diasumsikan akibat meningkatnya volume aliran. Sementara itu, laju volume aliran (q) air laut yang masuk konduit air tawar di daerah luahan (discharge zone), diasumsikan tetap yakni sebesar 1 satuan horizontal atau sebesar m 3 /hari dengan konsentrasi di batas (Cb) sebesar 3 kg/m 3, untuk kedua periode recharge (musim kemarau dan hujan). Gambar IV.22 Hasil simulasi aliran fluida secara regional (P. Paliat-P. Sapeken) untuk periode recharge I (0 60 hari) dan periode recharge II ( hari). Warna merah menunjukkan konsentrasi fluida tinggi, sedangkan warna biru menunjukkan konsentrasi rendah 52

26 Gambar IV.23 Hasil simulasi aliran fluida secara lokal (Pulau Sapeken) untuk periode recharge I (0 60 hari) dan periode recharge II ( hari). Warna merah menunjukkan konsentrasi fluida tinggi, sedangkan warna biru menunjukkan konsentrasi rendah Dari output simulasi (Gambar IV.22 dan IV.23) menunjukkan bahwa pada periode recharge I (musim kemarau) yaitu pada 0-20 hari, air laut secara umum masih secara bebas memasuki konduit air tawar, karena air tawar dari daerah recharge belum sepenuhnya sampai di daerah discharge, akibat jaraknya yang relatif jauh. Sehingga di bawah sampel-sampel air daerah discharge, ditunjukkan konsentrasikonsentrasi air akuifer yang relatif sangat tinggi. Pada hari ke-20 hingga hari ke- 60, air tawar sudah mulai mengisi konduitnya masing-masing, sehingga beberapa aliran air asin sudah mulai terdesak menuju laut. Hasilnya menunjukkan adanya suatu variasi salinitas dimana air Sapeken S1A memiliki salinitas yang hampir sama dengan air Tanjung S17, yaitu dengan konsentrasi yang relatif rendah. Sedangkan air Sapeken S1B memiliki konsentrasi yang sedikit lebih tinggi daripada S1A, dan air Sapeken pada bagian selatan memiliki konsentrasi yang paling tinggi. Pada periode recharge II ketika musim hujan telah berlangsung, 53

27 jumlah air recharge mengalami peningkatan sehingga tekanan dari konduit air tawar juga meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan laju volume aliran. Pada hari ke-60 hingga hari ke-65, air asin makin didesak menuju ke laut secara lebih cepat, sehingga mulai terjadi penurunan konsentrasi pada semua air tawar secara bervariasi. Pada hari ke-90 telah ditunjukkan adanya variasi-variasi yang agak berbeda dengan musim kemarau, dimana pada musim hujan (hari ke-90) ini, air Sapeken S1A memiliki salinitas dengan konsentrasi yang relatif sangat rendah. Sedangkan air Sapeken S1B memiliki salinitas dengan konsentrasi yang hampir sama dengan air Tanjung S17; dan air Sapeken pada bagian selatan, meskipun sudah relatif menurun, namun masih menunjukkan konsentrasi yang cukup tinggi. Adanya variasi-variasi salinitas dari sampel-sampel di atas diestimasi akibat adanya perbedaan jumlah konduit air tawar yang mensuplai sumur-sumur dan mata air-mata air tersebut. Selanjutnya pada hari ke-120 (akhir simulasi), terdapat kecenderungan bahwa air salinitas tinggi pada konduit di bawah sumur Sapeken bagian selatan perlahan-lahan makin terdorong kearah selatan, sehingga mengakibatkan peningkatan konsentrasi pada S17. Hal ini diakibatkan oleh lebih besarnya tekanan air tawar pada Pulau Sapeken khususnya pada bagian utara, akibat lebih banyaknya konduit yang mensuplai. Dari penelitian sebelumnya, Bonacci & Bonacci (1997) telah mengajukan mekanisme intrusi air laut pada mata air-mata air karst pesisir di Blaž Spring Kroasia. Mekanisme intrusi air laut pada akuifer karstik homogen yang diajukan oleh Bonacci & Bonacci (1997) ditunjukkan pada Gambar IV.24. Gambar IV.24 mengindikasikan ketika level air tanah (GWL) sangat rendah sehingga batas antara air laut dan air tawar menjadi lebih tinggi dari perpotongan antara konduit 1 dan 2 (titik A), maka intrusi air laut ke dalam akuifer air tawar dan mata air karst dapat mungkin terjadi. Lebih lanjut, menurut Maramathas et al. (2006), ketika tekanan dalam konduit air tawar (konduit 1) lebih kecil daripada tekanan dalam konduit air laut (konduit 2), maka akan dihasilkan air payau di perpotongan tersebut (titik A). 54

28 Gambar IV.24 Mekanisme intrusi air laut pada akuifer karstik homogen (Bonacci & Bonacci, 1997) Selain itu dari hasil simulasi aliran fluida dalam penelitian ini (Gambar IV.22 dan IV.23), ditunjukkan bahwa ketika intrusi air laut terjadi pada akuifer-akuifer karstik, maka akan muncul variasi-variasi salinitas dalam air-air sumur dan mata air akibat adanya perbedaan jumlah konduit yang mensuplai masing-masing sumur dan mata air tersebut. 55

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan kimia airtanah dipengaruhi oleh faktor geologi dan faktor antropogen.

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan kimia airtanah dipengaruhi oleh faktor geologi dan faktor antropogen. 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kimia airtanah menunjukkan proses yang mempengaruhi airtanah. Perubahan kimia airtanah dipengaruhi oleh faktor geologi dan faktor antropogen. Nitrat merupakan salah

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB II. GEOLOGI REGIONAL...12 II.1. Geomorfologi Regional...12 II.2. Geologi Regional...13 II.3. Hidrogeologi Regional...16.

DAFTAR ISI. BAB II. GEOLOGI REGIONAL...12 II.1. Geomorfologi Regional...12 II.2. Geologi Regional...13 II.3. Hidrogeologi Regional...16. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...i HALAMAN PENGESAHAN...ii HALAMAN PERNYATAAN...iii KATA PENGANTAR...iv SARI...vi DAFTAR ISI...viii DAFTAR GAMBAR...xi DAFTAR TABEL...xiv BAB I. PENDAHULUAN...1 I.1. Latar belakang...1

Lebih terperinci

BAB V INTERPRETASI HASIL PENGUKURAN RESISTIVITAS

BAB V INTERPRETASI HASIL PENGUKURAN RESISTIVITAS BAB V INTERPRETASI HASIL PENGUKURAN RESISTIVITAS Metode resistivitas atau metode geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang digunakan untuk mengetahui sifat fisik batuan, yaitu dengan melakukan

Lebih terperinci

BAB 3 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA

BAB 3 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA BAB 3 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA 3.1 Data Geokimia Seperti yang telah dibahas pada bab 1, bahwa data kimia air panas, dan kimia tanah menjadi bahan pengolahan data geokimia untuk menginterpretasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan kondisi geologi regional termasuk dalam Dataran Alluvial Jawa Bagian

Lebih terperinci

APLIKASI METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK IDENTIFIKASI AKUIFER DI KECAMATAN PLUPUH, KABUPATEN SRAGEN

APLIKASI METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK IDENTIFIKASI AKUIFER DI KECAMATAN PLUPUH, KABUPATEN SRAGEN APLIKASI METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI SCHLUMBERGER UNTUK IDENTIFIKASI AKUIFER DI KECAMATAN PLUPUH, KABUPATEN SRAGEN Eka Ayu Tyas Winarni 1, Darsono 1, Budi Legowo 1 ABSTRAK. Identifikasi

Lebih terperinci

BAB IV SISTEM PANAS BUMI DAN GEOKIMIA AIR

BAB IV SISTEM PANAS BUMI DAN GEOKIMIA AIR BAB IV SISTEM PANAS BUMI DAN GEOKIMIA AIR 4.1 Sistem Panas Bumi Secara Umum Menurut Hochstein dan Browne (2000), sistem panas bumi adalah istilah umum yang menggambarkan transfer panas alami pada volume

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cekungan Air Tanah Magelang Temanggung meliputi beberapa wilayah

BAB I PENDAHULUAN. Cekungan Air Tanah Magelang Temanggung meliputi beberapa wilayah BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Cekungan Air Tanah Magelang Temanggung meliputi beberapa wilayah administrasi di Kabupaten Temanggung, Kabupaten dan Kota Magelang. Secara morfologi CAT ini dikelilingi

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI HIDROGEOLOGI

BAB IV KONDISI HIDROGEOLOGI BAB IV KONDISI HIDROGEOLOGI IV.1 Kondisi Hidrogeologi Regional Secara regional daerah penelitian termasuk ke dalam Cekungan Air Tanah (CAT) Bandung-Soreang (Distam Jabar dan LPPM-ITB, 2002) dan Peta Hidrogeologi

Lebih terperinci

Pemetaan Airtanah Dangkal Dan Analisis Intrusi Air Laut

Pemetaan Airtanah Dangkal Dan Analisis Intrusi Air Laut Pemetaan Airtanah Dangkal Dan Analisis Intrusi Air Laut Penelitian Terhadap Airtanah Dangkal di Desa Bantan Tua, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau Dewandra Bagus Eka Putra 1, Yuniarti

Lebih terperinci

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Kondisi hidrogeologi daerah penelitian.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Kondisi hidrogeologi daerah penelitian. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN VII.1 KESIMPULAN 1. Kondisi hidrogeologi daerah penelitian. - Kedalaman airtanah pada daerah penelitian berkisar antara 0-7 m dari permukaan. - Elevasi muka airtanah pada daerah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, ada beberapa tahapan yang ditempuh dalam

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, ada beberapa tahapan yang ditempuh dalam BAB III METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, ada beberapa tahapan yang ditempuh dalam pencapaian tujuan. Berikut adalah gambar diagram alir dalam menyelesaikan penelitian ini: Data lapangan (AB/2, resistivitas

Lebih terperinci

BAB III DATA dan PENGOLAHAN DATA

BAB III DATA dan PENGOLAHAN DATA KLO-68 KLO-5 KLO-18 KLO-55 KLO-113 KLO-75 KLO-110 KLO-3 KLO-51 KLO-96 KLO-91 KLO-14 KLO-192 KLO-41 KLO-185 KLO-45 KLO-76 KLO-184 KLO-97 KLO-129 KLO-17 KLO-112 KLO-100 KLO-43 KLO-15 KLO-111 KLO-90 KLO-12

Lebih terperinci

Bab III Landasan Teori

Bab III Landasan Teori Bab III Landasan Teori III.1 Metode Resistivitas Metoda resistivitas adalah salah satu metode eksplorasi geofisika yang memanfaatkan sifat resistivitas media untuk mempelajari keadaan bawah permukaan.

Lebih terperinci

BAB IV PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA

BAB IV PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA BAB IV PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA Dalam penelitian ini, penulis menggunakan 2 metode geofisika, yaitu gravitasi dan resistivitas. Dimana kedua metode tersebut saling mendukung, sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu (Efendi, 2003). Dengan demikian, kualitas air

Lebih terperinci

STUDI AWAL REVERSE OSMOSIS TEKANAN RENDAH UNTUK AIR PAYAU DENGAN KADAR SALINITAS DAN SUSPENDED SOLID RENDAH

STUDI AWAL REVERSE OSMOSIS TEKANAN RENDAH UNTUK AIR PAYAU DENGAN KADAR SALINITAS DAN SUSPENDED SOLID RENDAH STUDI AWAL REVERSE OSMOSIS TEKANAN RENDAH UNTUK AIR PAYAU DENGAN KADAR SALINITAS DAN SUSPENDED SOLID RENDAH RENNY AIDATUL AZFAH Dosen Pembimbing: Ir. EDDY S. SOEDJONO, Dipl.SE, M,Sc, Ph.D 1 LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

12/3/2015 PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR 2.1 PENDAHULUAN

12/3/2015 PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR PENGOLAHAN AIR 2.1 PENDAHULUAN Air adalah salah satu bahan pokok (komoditas) yang paling melimpah di alam tetapi juga salah satu yang paling sering disalahgunakan Definisi Water Treatment (Pengolahan Air) Suatu proses/bentuk pengolahan

Lebih terperinci

, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10

, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-10 IDENTIFIKASI ZONA BIDANG GELINCIR DAERAH RAWAN LONGSOR HASIL PROSES TEKTONISME KOMPLEKS DI DISTRIK NAMROLE, KABUPATEN BURRU SELATAN, PULAU BURRU, MALUKU DENGAN MENGGUNAKAN METODE RESISTIVITAS KONFIGURASI

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS 5.1 Penampang Hasil Curve Matching

BAB V ANALISIS 5.1 Penampang Hasil Curve Matching BAB V ANALISIS 5.1 Penampang Hasil Curve Matching Penampang hasil pengolahan dengan perangkat lunak Ipi2win pada line 08 memperlihatkan adanya struktur antiklin. Struktur ini memiliki besar tahanan jenis

Lebih terperinci

Buletin Geologi Tata Lingkungan (Bulletin of Environmental Geology) Vol. 22 No. 1 April 2012 : 1-8

Buletin Geologi Tata Lingkungan (Bulletin of Environmental Geology) Vol. 22 No. 1 April 2012 : 1-8 Buletin Geologi Tata Lingkungan (Bulletin of Environmental Geology) Vol. 22 No. 1 April 2012 : 1-8 KAJIAN KUANTITAS DAN KUALITAS AIR TANAH DI CEKUNGAN AIR TANAH BANDUNG-SOREANG TAHUN 2007-2009 (STUDY ON

Lebih terperinci

BAB IV GEOKIMIA AIR PANAS

BAB IV GEOKIMIA AIR PANAS 4.1 Tinjauan Umum. BAB IV GEOKIMIA AIR PANAS Salah satu jenis manifestasi permukaan dari sistem panas bumi adalah mata air panas. Berdasarkan temperatur air panas di permukaan, mata air panas dapat dibedakan

Lebih terperinci

BAB IV GEOKIMIA AIR PANAS DI DAERAH GUNUNG KROMONG DAN SEKITARNYA, CIREBON

BAB IV GEOKIMIA AIR PANAS DI DAERAH GUNUNG KROMONG DAN SEKITARNYA, CIREBON BAB IV GEOKIMIA AIR PANAS DI DAERAH GUNUNG KROMONG DAN SEKITARNYA, CIREBON 4.1 Tinjauan Umum Pada metoda geokimia, data yang digunakan untuk mengetahui potensi panasbumi suatu daerah adalah data kimia

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 52 BAB III METODE PENELITIAN Penelitan ini membahas mengenai proses pengolahan dan intepretasi data pengukuran geolistrik resistivitas untuk menentukan kedalaman lapisan batuan yang mengandung air tanah

Lebih terperinci

: Komposisi impurities air permukaan cenderung tidak konstan

: Komposisi impurities air permukaan cenderung tidak konstan AIR Sumber Air 1. Air laut 2. Air tawar a. Air hujan b. Air permukaan Impurities (Pengotor) air permukaan akan sangat tergantung kepada lingkungannya, seperti - Peptisida - Herbisida - Limbah industry

Lebih terperinci

Tugas Akhir Pemodelan Dan Analisis Kimia Airtanah Dengan Menggunakan Software Modflow Di Daerah Bekas TPA Pasir Impun Bandung, Jawa Barat

Tugas Akhir Pemodelan Dan Analisis Kimia Airtanah Dengan Menggunakan Software Modflow Di Daerah Bekas TPA Pasir Impun Bandung, Jawa Barat BAB V ANALISIS DATA 5.1 Aliran dan Pencemaran Airtanah Aliran airtanah merupakan perantara yang memberikan pengaruh yang terus menerus terhadap lingkungan di sekelilingnya di dalam tanah (Toth, 1984).

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN SUMBER AIR BAKU AIR MINUM

BAB IV TINJAUAN SUMBER AIR BAKU AIR MINUM BAB IV TINJAUAN SUMBER AIR BAKU AIR MINUM IV.1. Umum Air baku adalah air yang memenuhi baku mutu air baku untuk dapat diolah menjadi air minum. Air baku yang diolah menjadi air minum dapat berasal dari

Lebih terperinci

Materi kuliah dapat didownload di

Materi kuliah dapat didownload di Materi kuliah dapat didownload di www.fiktm.itb.ac.id/kk-geologi_terapan HIDROGEOLOGI UMUM (GL-3081 3081) MINGGU KE-13 SIFAT FISIK DAN KIMIA AIR TANAH Oleh: Prof.Dr.Ir.. Deny Juanda Puradimaja, DEA Asisten:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di tengah lautan lepas merupakan daerah-daerah yang sangat miskin akan sumber air tawar, sehingga timbul masalah pemenuhan

Lebih terperinci

Riad Syech, Juandi,M, M.Edizar Jurusan Fisika FMIPA Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Pekanbaru ABSTRAK

Riad Syech, Juandi,M, M.Edizar Jurusan Fisika FMIPA Universitas Riau Kampus Bina Widya Km 12,5 Pekanbaru ABSTRAK MENENTUKAN LAPISAN AKUIFER DAS (DAERAH ALIRAN SUNGAI) SIAK DENGAN MEMBANDINGKAN HASIL UKUR METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI WENNER DAN KONFIGURASI SCHLUMBERGER Riad Syech, Juandi,M, M.Edizar

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN AIR BAKU

BAB IV TINJAUAN AIR BAKU BAB IV TINJAUAN AIR BAKU IV.1 Umum Air baku adalah air yang berasal dari suatu sumber air dan memenuhi baku mutu air baku untuk dapat diolah menjadi air minum. Sumber air baku dapat berasal dari air permukaan

Lebih terperinci

BAB 5 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOKIMIA

BAB 5 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOKIMIA BAB 5 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOKIMIA Pengolahan dan interpretasi data geokimia untuk daerah panas bumi Bonjol meliputi penentuan tipe fluida panas bumi dan temperatur reservoar panas bumi. Analisis

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 47 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Kajian Pendahuluan Berdasarkan pada peta geohidrologi diketahui siklus air pada daerah penelitian berada pada discharge area ditunjukkan oleh warna kuning pada peta,

Lebih terperinci

APLIKASI METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS UNTUK MENENTUKAN ZONA INTRUSI AIR LAUT DI KECAMATAN GENUK SEMARANG

APLIKASI METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS UNTUK MENENTUKAN ZONA INTRUSI AIR LAUT DI KECAMATAN GENUK SEMARANG Berkala Fisika ISSN : 1410-9662 Vol. 15, No. 1, Januari 2012, hal 7-14 APLIKASI METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS UNTUK MENENTUKAN ZONA INTRUSI AIR LAUT DI KECAMATAN GENUK SEMARANG Khoirun Nisa 1, Tony Yulianto

Lebih terperinci

Week 9 AKIFER DAN BERBAGAI PARAMETER HIDROLIKNYA

Week 9 AKIFER DAN BERBAGAI PARAMETER HIDROLIKNYA Week 9 AKIFER DAN BERBAGAI PARAMETER HIDROLIKNYA Reference: 1.Geological structures materials 2.Weight & Sonderegger, 2007, Manual of Applied Field Hydrogeology, McGraw-Hill online books 3.Mandel & Shiftan,

Lebih terperinci

Materi kuliah dapat didownload di

Materi kuliah dapat didownload di Materi kuliah dapat didownload di www.fiktm.itb.ac.id/kk-geologi_terapan HIDROGEOLOGI UMUM (GL-3081) MINGGU KE-7 EKSPLORASI DAN PEMETAAN HIDROGEOLOGI Oleh: Prof.Dr.Ir. Deny Juanda Puradimaja, DEA Asisten:

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berputar, sehingga merupakan suatu siklus (daur ulang) yang lebih dikenal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berputar, sehingga merupakan suatu siklus (daur ulang) yang lebih dikenal BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sumber Air Keberadaan air di bumi merupakan suatu proses alam yang berlanjut dan berputar, sehingga merupakan suatu siklus (daur ulang) yang lebih dikenal dengan siklus hidrologi.

Lebih terperinci

Identifikasi Daya Dukung Batuan untuk Rencana Lokasi Tempat Pembuangan Sampah di Desa Tulaa, Bone Bolango

Identifikasi Daya Dukung Batuan untuk Rencana Lokasi Tempat Pembuangan Sampah di Desa Tulaa, Bone Bolango Identifikasi Daya Dukung Batuan untuk Rencana Lokasi Tempat Pembuangan Sampah di Desa Tulaa, Bone Bolango Ahmad Zainuri 1) dan Ibrahim Sota 2) Abstrak: Masalah sampah adalah masalah klasik yang sudah lama

Lebih terperinci

PRISMA FISIKA, Vol. IV, No. 01 (2016), Hal ISSN :

PRISMA FISIKA, Vol. IV, No. 01 (2016), Hal ISSN : Pemetaan Sebaran Kandungan ph, TDS, dan Konduktivitas Air Sumur Bor (Studi Kasus Kelurahan Sengkuang Kabupaten Sintang Kalimantan Barat) Leonard Sihombing a, Nurhasanah a *, Boni. P. Lapanporo a a Prodi

Lebih terperinci

Potensi Panas Bumi Berdasarkan Metoda Geokimia Dan Geofisika Daerah Danau Ranau, Lampung Sumatera Selatan BAB I PENDAHULUAN

Potensi Panas Bumi Berdasarkan Metoda Geokimia Dan Geofisika Daerah Danau Ranau, Lampung Sumatera Selatan BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya energi yang melimpah dan beraneka ragam, diantaranya minyak bumi, gas bumi, batubara, gas alam, geotermal, dll.

Lebih terperinci

BAB IV PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA

BAB IV PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA BAB IV PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA Pada penelitian ini, penulis menggunakan 2 data geofisika, yaitu gravitasi dan resistivitas. Kedua metode ini sangat mendukung untuk digunakan dalam eksplorasi

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR 2.1. Metode Geologi

BAB II TEORI DASAR 2.1. Metode Geologi BAB II TEORI DASAR 2.1. Metode Geologi Metode geologi yang dipergunakan adalah analisa peta geologi regional dan detail. Peta geologi regional menunjukkan tatanan geologi regional daerah tersebut, sedangkan

Lebih terperinci

GEOFISIKA EKSPLORASI. [Metode Geolistrik] Anggota kelompok : Maya Vergentina Budi Atmadhi Andi Sutriawan Wiranata

GEOFISIKA EKSPLORASI. [Metode Geolistrik] Anggota kelompok : Maya Vergentina Budi Atmadhi Andi Sutriawan Wiranata GEOFISIKA EKSPLORASI [Metode Geolistrik] Anggota kelompok : Maya Vergentina Budi Atmadhi Andi Sutriawan Wiranata PENDAHULUAN Metoda geofisika merupakan salah satu metoda yang umum digunakan dalam eksplorasi

Lebih terperinci

BAB 4 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA

BAB 4 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA BAB 4 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA Pengolahan dan interpretasi data geofisika untuk daerah panas bumi Bonjol meliputi pengolahan data gravitasi (gaya berat) dan data resistivitas (geolistrik)

Lebih terperinci

Rustan Efendi 1, Hartito Panggoe 1, Sandra 1 1 Program Studi Fisika Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Tadulako, Palu, Indonesia

Rustan Efendi 1, Hartito Panggoe 1, Sandra 1 1 Program Studi Fisika Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Tadulako, Palu, Indonesia IDENTIFIKASI AKUIFER AIRTANAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK DI DESA OU KECAMATAN SOJOL IDENTIFICATION GROUNDWATER AQUIFERS METHOD USING GEOELECTRIC DISTRICT IN THE VILLAGE OU SOJOL Rustan Efendi

Lebih terperinci

Geo-Electrical Sounding untuk Pendugaan Keterdapatan Air Tanah dan Kedalaman Muka Air Tanah Freatik di Tegal

Geo-Electrical Sounding untuk Pendugaan Keterdapatan Air Tanah dan Kedalaman Muka Air Tanah Freatik di Tegal Geo-Electrical Sounding untuk Pendugaan Keterdapatan Air Tanah dan Kedalaman Muka Air Tanah Freatik di Tegal Alva Kurniawan 1 Abstraksi Pengambilan air tanah dengan menggali sumur atau sumur bor terkadang

Lebih terperinci

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO KAJIAN GEOMETRI AKUIFER BERDASARKAN KARAKTERISTIK HIDROKIMIA AIRTANAH UNTUK PENYEDIAAN AIR BERSIH DI KABUPATEN DONGGALA (Studi kasus: Sumur BOR SD 108 Sidera, SD 110 Solowe

Lebih terperinci

BAB VI INTERPRETASI DATA GEOKIMIA

BAB VI INTERPRETASI DATA GEOKIMIA BAB VI INTERPRETASI DATA GEOKIMIA Pada Tahun 2008, tim dari kelompok penelitian Program Panas Bumi, Pusat Sumber Daya Geologi, melakukan penyelidikan geokimia pada daerah lapangan panas bumi Tambu. Penyelidikan

Lebih terperinci

PENENTUAN TAHANAN JENIS BATUAN ANDESIT MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER (STUDI KASUS DESA POLOSIRI)

PENENTUAN TAHANAN JENIS BATUAN ANDESIT MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER (STUDI KASUS DESA POLOSIRI) Jurnal Fisika Vol. 3 No. 2, Nopember 2013 117 PENENTUAN TAHANAN JENIS BATUAN ANDESIT MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI SCHLUMBERGER (STUDI KASUS DESA POLOSIRI) Munaji*, Syaiful Imam, Ismi Lutfinur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Airtanah merupakan sumber daya penting bagi kelangsungan hidup manusia. Sebagai sumber pasokan air, airtanah memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan

Lebih terperinci

BAB IV KARAKTERISTIK AIR PANAS DI DAERAH TANGKUBAN PARAHU BAGIAN SELATAN, JAWA BARAT

BAB IV KARAKTERISTIK AIR PANAS DI DAERAH TANGKUBAN PARAHU BAGIAN SELATAN, JAWA BARAT BAB IV KARAKTERISTIK AIR PANAS DI DAERAH TANGKUBAN PARAHU BAGIAN SELATAN, JAWA BARAT 4.1 Tinjauan Umum Manifestasi permukaan panas bumi adalah segala bentuk gejala sebagai hasil dari proses sistem panasbumi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian ini dilakukan di Desa Sambengwetan Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Fisika Eksperimen MIPA Unsoed pada bulan

Lebih terperinci

SEMINAR TUGAS AKHIR PENYISIHAN KESADAHAN DENGAN PROSES KRISTALISASI DALAM REAKTOR TERFLUIDISASI DENGAN MEDIA PASIR OLEH: MYRNA CEICILLIA

SEMINAR TUGAS AKHIR PENYISIHAN KESADAHAN DENGAN PROSES KRISTALISASI DALAM REAKTOR TERFLUIDISASI DENGAN MEDIA PASIR OLEH: MYRNA CEICILLIA SEMINAR TUGAS AKHIR PENYISIHAN KESADAHAN DENGAN PROSES KRISTALISASI DALAM REAKTOR TERFLUIDISASI DENGAN MEDIA PASIR OLEH: MYRNA CEICILLIA 3306100095 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang 2. Rumusan Masalah 3. Batasan

Lebih terperinci

BAB 4 Analisa dan Bahasan

BAB 4 Analisa dan Bahasan BAB 4 Analisa dan Bahasan 4.1. Penentuan Komposisi untuk Kolom Dari data yang telah didapatkan setelah melakukan percobaan seperti pada 3.5 maka selanjutnya di analisa untuk mendapatkan komposisi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Zona Bogor (Van Bemmelen, 1949). Zona Bogor sendiri merupakan antiklinorium

BAB I PENDAHULUAN. Zona Bogor (Van Bemmelen, 1949). Zona Bogor sendiri merupakan antiklinorium BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Bantarkawung merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Brebes bagian selatan. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Cilacap di sebelah

Lebih terperinci

Bab IV Pemodelan dan Pembahasan

Bab IV Pemodelan dan Pembahasan Bab IV Pemodelan dan Pembahasan 4.1. Pemodelan Self-potential Aliran fluida tunak, panas, listrik, dan kimia disimbolkan oleh J dapat dideskripsikan sebagai potensial gradient sebagai berikut : (3) Di

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN SISTEM HIDROLOGI KARST DI KARST PIDIE, ACEH. Karst Research Group Fak. Geografi UGM

PERKEMBANGAN SISTEM HIDROLOGI KARST DI KARST PIDIE, ACEH. Karst Research Group Fak. Geografi UGM PERKEMBANGAN SISTEM HIDROLOGI KARST DI KARST PIDIE, ACEH Karst Research Group Fak. Geografi UGM PERTANYAAN?? Apakah karst di daerah penelitian telah berkembang secara hidrologi dan mempunyai simpanan air

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data untuk tugas akhir ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data primer dan data sekunder. 4.1.1 Data Primer Data primer adalah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sumber-Sumber Air Sumber-sumber air bisa dikelompokkan menjadi 4 golongan, yaitu: 1. Air atmosfer Air atmesfer adalah air hujan. Dalam keadaan murni, sangat bersih namun keadaan

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Febuari 2016 sampai dengan Juni 2016. Lokasi pengambilan data berada di Kecamatan Karangdowo Kabupaten

Lebih terperinci

PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8 Academia-Industry Linkage OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8 Academia-Industry Linkage OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA HIDROGEOLOGI PANTAI GLAGAH-PANTAI CONGOT, KECAMATAN TEMON, KABUPATEN KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYKARTA Wahyu Wilopo*, Farma Dyva Ferardi Jurusan Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada *corresponding

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terus berkembang bukan hanya dalam hal kuantitas, namun juga terkait kualitas

BAB I PENDAHULUAN. terus berkembang bukan hanya dalam hal kuantitas, namun juga terkait kualitas PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Air merupakan kebutuhan utama setiap makhluk hidup, terutama air tanah. Kebutuhan manusia yang besar terhadap air tanah mendorong penelitian

Lebih terperinci

Intrusi air laut terhadap kualitas air tanah dangkal dari pantai kota Surabaya. Rekayasa Teknik Sipil Vol 3 Nomer 3/rekat/14 (2014) :

Intrusi air laut terhadap kualitas air tanah dangkal dari pantai kota Surabaya. Rekayasa Teknik Sipil Vol 3 Nomer 3/rekat/14 (2014) : Rekayasa Teknik Sipil Vol 3 Nomer 3/rekat/14 (2014) : 228-232 INTRUSI AIR LAUT TERHADAP KUALITAS AIR TANAH DANGKAL DI KOTA SURABAYA Rendi Novi Indriastoni Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Rencana pengembangan kawasan pantai selatan Pulau Jawa yang membentang dari Jawa Timur sampai Jawa Barat, tentu akan memberi dampak perkembangan penduduk di daerah-daerah

Lebih terperinci

Week 4. Struktur Geologi dalam Hidrogeologi. (Geological structure in hydrogeology)

Week 4. Struktur Geologi dalam Hidrogeologi. (Geological structure in hydrogeology) Week 4 Struktur Geologi dalam Hidrogeologi (Geological structure in hydrogeology) Reference: 1.Geological structures materials 2.Weight & Sonderegger, 2007, Manual of Applied Field Hydrogeology, McGraw-Hill

Lebih terperinci

Jurnal Einstein 4 (3) (2016): Jurnal Einstein. Available online

Jurnal Einstein 4 (3) (2016): Jurnal Einstein. Available online Jurnal Einstein 4 (3) (2016): 31-38 Jurnal Einstein Available online http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/einstein Eksplorasi Potensi Air Tanah Di Kota Tanjung Balai Sumatera Utara Dengan Menggunakan

Lebih terperinci

PENDUGAAN AIR TANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK SCHLUMBERGER DI DESA TAKUTI KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN

PENDUGAAN AIR TANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK SCHLUMBERGER DI DESA TAKUTI KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN PENDUGAAN AIR TANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK SCHLUMBERGER DI DESA TAKUTI KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN Putri Ika Wardani 1, Sri Cahyo Wahyono 1, Ibrahim Sota 1 ABSTRAK. Air tanah merupakan salah

Lebih terperinci

PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal ISSN :

PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal ISSN : IDENTIFIKASI STRUKTUR LAPISAN TANAH GAMBUT SEBAGAI INFORMASI AWAL RANCANG BANGUNAN DENGAN METODE GEOLISTRIK 3D Firmansyah Sirait 1), Andi Ihwan 1)* 1) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Temanggung bagian timur. Cekungan airtanah ini berada di Kabupaten Magelang

BAB I PENDAHULUAN. Temanggung bagian timur. Cekungan airtanah ini berada di Kabupaten Magelang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Penelitian geokimia airtanah merupakan salah satu penelitian yang penting untuk dilakukan, karena dari penelitian ini dapat diketahui kualitas airtanah.

Lebih terperinci

Pendugaan Akuifer serta Pola Alirannya dengan Metode Geolistrik Daerah Pondok Pesantren Gontor 11 Solok Sumatera Barat

Pendugaan Akuifer serta Pola Alirannya dengan Metode Geolistrik Daerah Pondok Pesantren Gontor 11 Solok Sumatera Barat Pendugaan Akuifer serta Pola Alirannya dengan Metode Geolistrik Daerah Pondok Pesantren Gontor 11 Solok Sumatera Dwi Ajeng Enggarwati 1, Adi Susilo 1, Dadan Dani Wardhana 2 1) Jurusan Fisika FMIPA Univ.

Lebih terperinci

Interpretasi Kondisi Geologi Bawah Permukaan Dengan Metode Geolistrik

Interpretasi Kondisi Geologi Bawah Permukaan Dengan Metode Geolistrik Interpretasi Kondisi Geologi Bawah Permukaan Dengan Metode Geolistrik Geolistrik merupakan salah satu metoda geofisika yang mempelajari sifat daya hantar listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batuan karbonat menyusun 20-25% batuan sedimen dalam sejarah geologi. Batuan karbonat hadir pada Prakambrium sampai Kuarter. Suksesi batuan karbonat pada Prakambrium

Lebih terperinci

Identifikasi Keretakan Beton Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Timotius 1*), Yoga Satria Putra 1), Boni P. Lapanporo 1)

Identifikasi Keretakan Beton Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Timotius 1*), Yoga Satria Putra 1), Boni P. Lapanporo 1) Identifikasi Keretakan Beton Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Timotius 1*), Yoga Satria Putra 1), Boni P. Lapanporo 1) 1) Program Studi Fisika, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam,

Lebih terperinci

VARIASI TEMPORAL KANDUNGAN HCO - 3 TERLARUT PADA MATAAIR SENDANG BIRU DAN MATAAIR BEJI DI KECAMATAN SUMBERMANJING WETAN DAN KECAMATAN GEDANGAN

VARIASI TEMPORAL KANDUNGAN HCO - 3 TERLARUT PADA MATAAIR SENDANG BIRU DAN MATAAIR BEJI DI KECAMATAN SUMBERMANJING WETAN DAN KECAMATAN GEDANGAN TERSEDIA SECARA ONLINE http://journal2.um.ac.id/index.php /jpg/ JURNAL PENDIDIKAN GEOGRAFI: Kajian, Teori, dan Praktek dalam Bidang Pendidikan dan Ilmu Geografi Tahun 22, No. 1, Januari 2017 Halaman: 1621

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI BIDANG GELINCIR DI TEMPAT WISATA BANTIR SUMOWONO SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA LONGSOR

IDENTIFIKASI BIDANG GELINCIR DI TEMPAT WISATA BANTIR SUMOWONO SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA LONGSOR IDENTIFIKASI BIDANG GELINCIR DI TEMPAT WISATA BANTIR SUMOWONO SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA LONGSOR Edu Dwiadi Nugraha *, Supriyadi, Eva Nurjanah, Retno Wulandari, Trian Slamet Julianti Jurusan Fisika

Lebih terperinci

PENENTUAN SEBARAN DAN KANDUNGAN UNSUR KIMIA KONTAMINASI LIMBAH CAIR BAWAH PERMUKAAN DI TPA CAHAYA KENCANA, KABUPATEN BANJAR

PENENTUAN SEBARAN DAN KANDUNGAN UNSUR KIMIA KONTAMINASI LIMBAH CAIR BAWAH PERMUKAAN DI TPA CAHAYA KENCANA, KABUPATEN BANJAR PENENTUAN SEBARAN DAN KANDUNGAN UNSUR KIMIA KONTAMINASI LIMBAH CAIR BAWAH PERMUKAAN DI TPA CAHAYA KENCANA, KABUPATEN BANJAR Dievy Prastika Putri 1 Sri Cahyo Wahyono 1 Tetti Novalina Manik 1 Tempat Pembuangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan zat kehidupan, dimana tidak satupun mahluk hidup di planet bumi ini yang tidak membutuhkan air.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan zat kehidupan, dimana tidak satupun mahluk hidup di planet bumi ini yang tidak membutuhkan air. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan zat kehidupan, dimana tidak satupun mahluk hidup di planet bumi ini yang tidak membutuhkan air. Namun demikian perlu disadari bahwa keberadaan air di

Lebih terperinci

Optimalisasi Desain Parameter Lapangan Untuk Data Resistivitas Pseudo 3D

Optimalisasi Desain Parameter Lapangan Untuk Data Resistivitas Pseudo 3D Optimalisasi Desain Parameter Lapangan Untuk Data Resistivitas Pseudo 3D Makhrani* * ) Program Studi Geofisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Hasanuddin E-mail : [email protected] ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

PENGOLAHAN DATA GEOLISTRIK PADA EKPLORASI SUMBER AIR TANAH DI KECAMATAN KONGBENG KABUPATEN KUTAI TIMUR DENGAN PERANGKAT LUNAK RES2DINV

PENGOLAHAN DATA GEOLISTRIK PADA EKPLORASI SUMBER AIR TANAH DI KECAMATAN KONGBENG KABUPATEN KUTAI TIMUR DENGAN PERANGKAT LUNAK RES2DINV Jurnal nformatika Mulawarman Vol. 7 No. 1 Februari 2012 27 PENGOLAHAN DATA GEOLSTRK PADA EKPLORAS SUMBER AR TANAH D KECAMATAN KONGBENG KABUPATEN KUTA TMUR DENGAN PERANGKAT LUNAK RES2DNV Nataniel Dengen

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL...i. HALAMAN PENGESAHAN...ii. HALAMAN PERSEMBAHAN...iii. UCAPAN TERIMAKASIH...iv. KATA PENGANTAR...vi. SARI...

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL...i. HALAMAN PENGESAHAN...ii. HALAMAN PERSEMBAHAN...iii. UCAPAN TERIMAKASIH...iv. KATA PENGANTAR...vi. SARI... DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL...i HALAMAN PENGESAHAN...ii HALAMAN PERSEMBAHAN...iii UCAPAN TERIMAKASIH...iv KATA PENGANTAR...vi SARI...vii DAFTAR ISI...viii DAFTAR GAMBAR...xii DAFTAR TABEL...xv BAB

Lebih terperinci

KAJIAN KUALITAS AIRTANAH BERDASARKAN BENTUKLAHAN DI KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH. Dwi Nila Wahyuningsih

KAJIAN KUALITAS AIRTANAH BERDASARKAN BENTUKLAHAN DI KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH. Dwi Nila Wahyuningsih KAJIAN KUALITAS AIRTANAH BERDASARKAN BENTUKLAHAN DI KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH Dwi Nila Wahyuningsih [email protected] Ig. L. Setyawan Purnama [email protected] Abstract The aims of this

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemodelan tahanan jenis dilakukan dengan cara mencatat nilai kuat arus yang diinjeksikan dan perubahan beda potensial yang terukur dengan menggunakan konfigurasi wenner. Pengukuran

Lebih terperinci

APLIKASI METODE GEOLISTRIK UNTUK MENGIDENTIFIKASI AIRTANAH ASIN DI WILAYAH KEPESISIRAN KECAMATAN REMBANG, KABUPATEN REMBANG

APLIKASI METODE GEOLISTRIK UNTUK MENGIDENTIFIKASI AIRTANAH ASIN DI WILAYAH KEPESISIRAN KECAMATAN REMBANG, KABUPATEN REMBANG APLIKASI METODE GEOLISTRIK UNTUK MENGIDENTIFIKASI AIRTANAH ASIN DI WILAYAH KEPESISIRAN KECAMATAN REMBANG, KABUPATEN REMBANG Suci Yolanda [email protected] Ig. L. Setyawan Purnama [email protected]

Lebih terperinci

BAB V KIMIA AIR. 5.1 Tinjauan Umum

BAB V KIMIA AIR. 5.1 Tinjauan Umum BAB V KIMIA AIR 5.1 Tinjauan Umum Analisa kimia air dapat dilakukan untuk mengetahui beberapa parameter baik untuk eksplorasi ataupun pengembangan di lapangan panas bumi. Parameter-parameter tersebut adalah:

Lebih terperinci

GEJALA INTRUSI AIR LAUT DI DAERAH PESISIR PADELEGAN, PADEMAWU DAN SEKITARNYA

GEJALA INTRUSI AIR LAUT DI DAERAH PESISIR PADELEGAN, PADEMAWU DAN SEKITARNYA http://journal.trunojoyo.ac.id/jurnalkelautan Jurnal Kelautan Volume 9, No. 2, Oktober 2016 ISSN: 1907-9931 (print), 2476-9991 (online) GEJALA INTRUSI AIR LAUT DI DAERAH PESISIR PADELEGAN, PADEMAWU DAN

Lebih terperinci

PRISMA FISIKA, Vol. IV, No. 01 (2016), Hal ISSN :

PRISMA FISIKA, Vol. IV, No. 01 (2016), Hal ISSN : Identifikasi Intrusi Air Laut Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas 2D Konfigurasi Wenner-Schlumberger di Pantai Tanjung Gondol Kabupaten Bengkayang Victor Hutabarat a, Yudha Arman a*, Andi Ihwan

Lebih terperinci

V DINAMIKA ALIRAN BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN KERAGAMAN SPASIAL DAN TEMPORAL HIDROKIMIA

V DINAMIKA ALIRAN BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN KERAGAMAN SPASIAL DAN TEMPORAL HIDROKIMIA 55 V DINAMIKA ALIRAN BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN KERAGAMAN SPASIAL DAN TEMPORAL HIDROKIMIA 5.1 Pendahuluan Di beberapa negara, penelitian tentang proses limpasan dalam suatu daerah tangkapan atau DAS berdasarkan

Lebih terperinci

Groundwater Quality Assesment of Unconfined Aquifer System for Suitable Drinking Determination at Northern Jakarta Groundwater Basin

Groundwater Quality Assesment of Unconfined Aquifer System for Suitable Drinking Determination at Northern Jakarta Groundwater Basin Groundwater Quality Assesment of Unconfined Aquifer System for Suitable Drinking Determination at Northern Jakarta Groundwater Basin Tantowi Eko Prayogi Faizal Abdillah Janner Rahmat Nababan Enda Mora

Lebih terperinci

KIMIA AIR TANAH DI CEKUNGAN AIR TANAH MAGELANG-TEMANGGUNG BAGIAN BARAT, KABUPATEN TEMANGGUNG DAN MAGELANG, PROVINSI JAWA TENGAH

KIMIA AIR TANAH DI CEKUNGAN AIR TANAH MAGELANG-TEMANGGUNG BAGIAN BARAT, KABUPATEN TEMANGGUNG DAN MAGELANG, PROVINSI JAWA TENGAH KIMIA AIR TANAH DI CEKUNGAN AIR TANAH MAGELANGTEMANGGUNG BAGIAN BARAT, KABUPATEN TEMANGGUNG DAN MAGELANG, PROVINSI JAWA TENGAH Syera Afita Ratna *, Doni Prakasa Eka Putra, I Wayan Warmada Penulis Departemen

Lebih terperinci

Bayu Suhartanto, Andy Pramana,Wardoyo, M. Firman, Sumarno Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Bengkulu, Bengkulu

Bayu Suhartanto, Andy Pramana,Wardoyo, M. Firman, Sumarno Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Bengkulu, Bengkulu PKMP-3-1-1 INVESTIGASI PENYEBARAN INTRUSI AIR LAUT DI KOTA BENGKULU DENGAN METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS Studi kasus : Daerah Kampung Cina, Sumur Melele dan Berkas Bayu Suhartanto, Andy Pramana,Wardoyo,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik di dalam bumi serta bagaimana cara mendeteksinya di dalam bumi dan di permukaan

Lebih terperinci

KAJIAN KEASINAN AIRTANAH DI WILAYAH PANTAI DAN PESISIR KECAMATAN SANDEN, KABUPATEN BANTUL. Arlin Irmaningdiah

KAJIAN KEASINAN AIRTANAH DI WILAYAH PANTAI DAN PESISIR KECAMATAN SANDEN, KABUPATEN BANTUL. Arlin Irmaningdiah KAJIAN KEASINAN AIRTANAH DI WILAYAH PANTAI DAN PESISIR KECAMATAN SANDEN, KABUPATEN BANTUL Arlin Irmaningdiah [email protected] Langgeng Wahyu Santosa [email protected] Abstract This research aims to

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa

BAB I PENDAHULUAN. Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah dan sekitarnya merupakan bagian dari kawasan karst Sukolilo seperti yang telah ditetapkan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup di muka bumi. Makhluk hidup khususnya manusia melakukan

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup di muka bumi. Makhluk hidup khususnya manusia melakukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air tanah merupakan sumber daya yang sangat bermanfaat bagi semua makhluk hidup di muka bumi. Makhluk hidup khususnya manusia melakukan berbagai cara untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB IV UNIT RESERVOIR

BAB IV UNIT RESERVOIR BAB IV UNIT RESERVOIR 4.1. Batasan Zona Reservoir Dengan Non-Reservoir Batasan yang dipakai untuk menentukan zona reservoir adalah perpotongan (cross over) antara kurva Log Bulk Density (RHOB) dengan Log

Lebih terperinci