Prognosis Leukemia Limfoblastik Akut pada Anak Obes
|
|
|
- Dewi Pranata
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Artikel Asli Prognosis Leukemia Limfoblastik Akut pada Anak Obes Teny Tjitra Sari, Endang Windiastuti, Gitta Reno Cempako, Yoga Devaera Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RS Dr Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Latar belakang. Obesitas merupakan salah satu masalah gizi yang banyak ditemukan pada anak. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan obesitas pada peningkatan risiko relatif beberapa keganasan. Keganasan yang paling sering ditemukan pada anak adalah leukemia limfoblastik akut. Bagaimana prognosis leukemia limfoblastik akut pada anak obes? Tujuan. Mengetahui prognosis pasien leukemia limfoblastik akut anak dengan obesitas. Metode. Studi deskriptif menggunakan data registrasi semua pasien baru leukemia limfoblastik akut pada 1 Januari Desember 200 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM. Hasil. Selama penelitian tiga tahun didapatkan 12 pasien leukemia limfoblastik akut dan obesitas dengan prevalens 6,1%. Usia berkisar 2-14 tahun dengan rerata 6,4 tahun. Sembilan dari 12 pasien merupakan kelompok risiko tinggi dan sebagian besar (6 dari pasien) datang dengan jumlah rerata leukosit adalah /mm ( /mm ). Remisi pada fase induksi didapatkan pada 10 dari 12 pasien. Relaps terjadi pada tiga pasien, semuanya terjadi pada fase pemeliharaan dengan tempat relaps adalah sumsum tulang (dua pasien) dan intrakranial (satu pasien). Dua dari tiga subjek penelitian yang relaps, meninggal dunia dengan penyebab kematian perdarahan intrakranial. Kesimpulan. Obesitas mempengaruhi prognosis pada pasien leukemia limfoblastik akut anak. (Sari Pediatri 2010;12(1):58-62). Kata kunci: obesitas, leukemia limfoblastik akut Obesitas merupakan salah satu masalah gizi yang banyak ditemukan di Indonesia. Prevalensi obesitas makin meningkat dan menjadi perhatian di seluruh dunia, Alamat korespondensi: Dr. Teny Tjitra Sari, Sp.A. Divisi Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI- RSCM Jl. Salemba no. 6, Jakarta Telepon: , Fax baik pada orang dewasa maupun anak-anak. 1 Di Amerika Serikat, obesitas ditemukan dengan prevalensi 10.4% pada usia 2-5 tahun, 15,% pada usia 6-11 tahun, dan 15,5% pada usia 12-1 tahun. 2 Obesitas meningkatkan risiko untuk menderita diabetes, penyakit kardiovaskular, penyakit respiratorik, infertilitas, dan kanker. Pasien yang menderita kanker dengan obesitas akan mempengaruhi insidens kanker dan juga pengobatannya. 4- Sebuah studi meta-analisis terhadap 8 literatur telah mendapatkan hubungan 58
2 berat badan lebih dan obesitas pada meningkatnya risiko relatif beberapa keganasan seperti kanker endometrium, payudara, dan ovarium. 8 Hubungan patogenesis antara obesitas dengan kanker terletak pada peran adiposit dalam fungsi metabolik, sistem imun, dan fisiologi endokrin yang masing-masing berkontribusi terhadap proses karsinogenesis. Obesitas juga dihubungkan dengan peningkatan sitokin pro-inflamasi (seperti TNF-, acute phase reactant) dan adanya peran adiponektin dengan timbulnya kanker..10 Leukemia merupakan penyakit kanker yang terbanyak pada anak-anak. 11 Leukemia limfoblastik akut (LLA) menempati peringkat paling atas diantara penyakit kanker anak yang dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM dengan jumlah pasien baru 60-0 pasien per tahunnya. 12 Hasil pengobatan leukemia sering dihubungkan dengan status gizi. Penelitian pada pasien leukemia mieloid akut anak dengan gizi kurang dan gizi lebih mempunyai survival lebih rendah dan treatment-related mortality yang lebih tinggi dibanding gizi baik. 1 Tujuan penelitian untuk mengetahui prognosis pasien leukemia limfoblastik akut anak dengan obesitas. Metode Penelitian merupakan studi deskriptif menggunakan data registrasi yang melibatkan semua pasien baru leukemia limfoblastik akut pada 1 Januari Desember 200 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM. Diagnosis leukemia limfoblastik akut ditegakkan melalui aspirasi sumsum tulang yang ditunjang dengan hasil Sudan Black negatif dan Periodic Acid Schiff positif. 11 Pasien dikelompokkan sebagai risiko tinggi apabila ditemukan hiperleukositosis (nilai leukosit >50.000/mm ), massa mediastinum, sel blast di likuor serebrospinalis, infiltrasi ke testis, LLA-L, dan relaps. 14 Obesitas ditegakkan bila didapatkan indeks massa tubuh (IMT) > persentil 5 sesuai dengan usia dan jenis kelamin saat diagnosis. Indeks massa tubuh dihitung dari berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan (dalam meter) kuadrat. Kurva IMT yang digunakan adalah kurva CDC Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS Hasil Selama tahun di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM telah dirawat pasien baru leukemia limfoblastik akut 18 orang dengan 12 (6,1%) diantaranya adalah pasien leukemia limfoblastik akut dengan obesitas. Median follow-up penelitian,5 bulan (kisaran 1,0 18 bulan). Usia rerata saat pertama kali diagnosis 6,4 tahun dengan kisaran antara 2 14 tahun. Hanya dua dari 12 subjek penelitian yang berusia >10 tahun dan keduanya mempunyai berat badan >60 kilogram. Perbandingan laki-laki dengan perempuan :1. Tabel 1 memperlihatkan karakteristik subjek penelitian. Pada Tabel 1 terlihat bahwa jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari perempuan. Kadar hemoglobin < g/dl, leukosit <50.000/mm dan trombosit < / mm merupakan hasil yang paling banyak ditemukan Tabel 1. Karakteristik subjek (n=12) Variabel Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Organomegali saat pertama kali diagnosis* Hepatomegali Splenomegali Hemoglobin (g/dl) <,0 >,0 Leukosit ( x /mm ) < > 100 Trombosit (/mm ) < > Hasil aspirasi sumsum tulang LLA L1 LLA L2 LLA L Jenis LLA Risiko biasa Risiko tinggi Hiperleukositosis Massa mediastinum LLA-L * Dapat terjadi pada dua atau tiap pasien Jumlah
3 pada pemeriksaan penunjang. Hasil aspirasi sumsum tulang paling banyak menunjukkan LLA L1. Subjek penelitian paling banyak dikelompokkan sebagai kelompok LLA dengan risiko tinggi. Enam dari subjek penelitian pada kelompok risiko tinggi disebabkan oleh hiperleukositosis dengan jumlah rerata leukosit adalah / mm ( /mm ). Sebagian besar subjek penelitian diterapi dengan menggunakan protokol LLA Indonesia. Subjek penelitian dengan kelompok risiko biasa diberikan protokol SR-A dan SR-B, sedangkan subjek kelompok risiko tinggi diberikan protokol HR-C dan protokol Jakarta yang dimodifikasi. Untuk pasien LLA-L diberikan protokol khusus. Pada Gambar 1 terlihat bahwa yang mendapatkan terapi fase induksi hanya 11 subjek penelitian. First complete remission terjadi pada 10 subjek penelitian, sedangkan satu subjek menjalani remisi parsial. Subjek penelitian tersebut menderita Sindrom Down. Relaps kemudian terjadi pada tiga subjek penelitian yang semuanya terjadi pada fase pemeliharaan. Tempat relaps pada subjek tersebut adalah sumsum tulang (dua subjek) dan intrakranial (satu subjek). Dua dari subjek penelitian yang relaps tersebut, akhirnya meninggal dunia dengan penyebab kematian perdarahan intrakranial. Sampai akhir penelitian, delapan subjek penelitian yang masih hidup. Terdapat Loss to follow up 1 subjek Relaps subjek Subjek penelitian 12 subyek First complete remission 10 subjek Terapi fase induksi 11 subjek Remisi parsial 1 subjek Continuous Complete Remission subjek Gambar 1. Luaran pasien leukemia limfoblastik akut dengan obesitas satu dari dua subjek berusia lebih dari 10 tahun dengan berat badan lebih dari 60 kg yang relaps dan meninggal, sedangkan subjek lainnya tidak diketahui keadaannya (loss to follow up). Diskusi Leukemia merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada anak. Laki-laki lebih sering ditemukan dibanding perempuan, sesuai dengan laporan oleh beberapa peneliti sebelumnya di negara-negara lain Jumlah pasien leukemia limfoblastik akut anak dengan obesitas di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM adalah 6,1%, hampir sama dengan yang didapatkan oleh Butturini dkk 18 di Amerika Serikat 8%. Hiperleukositosis ditemukan pada 6 dari 12 pasien obesitas dengan kisaran leukosit /mms (Tabel 2). Adanya tren jumlah leukosit tinggi lebih sering ditemukan pada pasien obesitas sesuai dengan adanya dampak obesitas terhadap pertumbuhan sel. 18 Butturini dkk 1 mendapatkan bahwa jumlah leukosit yang tinggi saat diagnosis juga merupakan salah satu prediktor outcome yang buruk pada pasien leukemia limfoblastik akut anak. Hipotesis pada penelitian kami bahwa pasien obesitas mempunyai risiko tinggi untuk relaps karena dosis kemoterapi yang diterima tidak adekuat. Dosis ditentukan berdasarkan luas permukaan tubuh menjadi lebih kecil apabila dibandingkan dengan pasien non-obesitas. 18,20 Obesitas pada anak usia 10 tahun atau lebih mempunyai risiko relaps 1,5 kali (p=0,01) dibandingkan anak usia kurang dari 10 tahun. Jenis kelamin tidak mempunyai pengaruh terhadap kemungkinan relaps pada pasien leukemia limfoblastik anak remaja. Anak usia >10 tahun atau lebih dengan obesitas atau berat badan >60 kg saat diagnosis mempunyai risiko tinggi untuk relaps dan event-free survival yang rendah. 1 Pada penelitian kami hanya didapatkan 1 dari 2 pasien yang berusia >10 tahun dengan berat berat badan >60 kg, relaps pada fase pemeliharaan, namun kemudian meninggal karena perdarahan intrakranial. Penelitian kami mendapatkan pasien obesitas yang mengalami relaps hingga tahun ketiga adalah dari 12 pasien. Gatot dan Windiastuti tahun mendapatkan angka relaps pasien kelompok risiko tinggi (18,5%) lebih besar dari pasien kelompok risiko biasa 60
4 (1,8%). Butturini dkk 18 mendapatkan risiko relaps pada tahun ketiga pasien obesitas 0%+4% dan non obesitas 20%+1% (p=0,01). Overall survival pada tahun ketiga untuk pasien obesitas adalah 68%+5% dan non obesitas 80%+1% (p=0,008) sedangkan event-free survival tahun ketiga untuk pasien obesitas 6%+5% dan non obesitas 4%+1% yang bermakna secara statistik (p=0,01). 18 Hal ini sebaliknya dengan yang ditemukan oleh Hijiya dkk. 5 Pada penelitian tersebut mendapatkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna overall survival, event-free survival, dan cumulative incidence of relapse pada tahun kelima antara pasien obesitas dan non-obesitas. Pada pasien obesitas didapatkan overall survival 8,2%+5,5%, event-free survival 2,%+5,%, dan cumulative incidencea of relapse 16,%+5,1%. 5 Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Butturini dkk 1 mendapatkan overall survival pada tahun kelima untuk pasien obesitas adalah 61%+% dan non obesitas 4%+1% (p=0,008) sedangkan event-free survival tahun kelima untuk pasien obesitas 5%+15% dan non obesitas 6%+1% yang bermakna secara statistik (p=0,01). Risiko relaps pada tahun kelima pasien obesitas 40%+5% dan non obesitas 2%+1% (p=0,01). 1 Semua penelitian tersebut, memperlihatkan bahwa pasien obesitas mempunyai risiko relaps lebih tinggi dibanding pasien non-obesitas. Perbedaan hasil penelitian kami dengan penelitian sebelumnya disebabkan oleh jumlah subjek penelitian yang sangat sedikit. Hal ini juga merupakan kelemahan penelitian ini dibanding penelitian sebelumnya. 5,18,1 Osteonekrosis dikenal sebagai komplikasi akibat terapi pada pasien leukemia limfoblastik akut. 21 Penelitian Niimäki dkk 21 di Finlandia mendapatkan bahwa indeks massa tubuh (IMT) yang tinggi merupakan faktor risiko untuk terjadinya osteonekrosis pada pasien leukemia limfoblastik akut anak yaitu rasio Odds,58 (IK 5%: 1,18 sampai 2,62, p=0,004). Sebaliknya Hijiya dkk 5 mendapatkan tidak ada perbedaan terjadinya toksisitas akibat kemoterapi pada pasien obesitas dan non-obesitas yang bermakna secara statistik. Salah satu kelemahan lain dari penelitian ini adalah tidak ada data yang lengkap mengenai toksisitas yang terjadi. Studi farmakokinetik pada obesitas menunjukkan bahwa molekul yang mempunyai sifat lipofilik ringan atau sedang secara umum lebih mudah diprediksi karena obat tersebut didistribusikan terutama pada massa otot. Dengan demikian, dosis obat tersebut harus berdasarkan berat badan ideal. Pada beberapa obat-obatan seperti obat kanker, hanya sebagian didistribusikan di jaringan lemak, dosis obat ditentukan berdasarkan IMT ditambah persentase kelebihan berat badan. 6 Penelitian terhadap pasien leukemia limfoblastik akut anak memperlihatkan bahwa terdapat penurunan rerata dosis relatif L-asparginase sebesar % pada pasien obesitas dibanding pasien non-obesitas. Perbedaan dosis ini lebih besar pada pasien usia tahun dibanding usia 2- tahun. Hal ini mungkin disebabkan oleh tingginya IMT pada anak usia tahun sehingga modifikasi dosis menjadi lebih besar. Obesitas meningkatkan risiko untuk menderita kanker. Beberapa mekanisme yang dianggap berperan adalah meningkatnya hormon endogen (hormon sex steroids, insulin dan insulin growth fasctore-1) karena adanya akumulasi lemak tubuh yang berperan penting dalam mengontrol pertumbuhan, diferensiasi dan metabolisme sel. Inflamasi kronik juga berperan dalam timbulnya sel kanker. Sel adiposit merupakan sumber poten untuk timbulnya sitokin inflamasi. Respons inflamasi sistemik ini ditandai dengan meningkatnya konsentrasi C-reactive protein yang berhubungan dengan timbulnya kanker. Obesitas juga meningkatkan stres oksidatif melalui proses inflamasi dan meningkatnya kerusakan oksidatif pada DNA sehingga dapat meningkatkan risiko kanker pada obesitas. 4 Virchow (186) adalah ilmuwan yang pertama kali menghubungkan inflamasi kronik dengan kanker. 10 Penelitian Barb dkk 10 menghubungkan peran adiponektin dengan kanker. Adiponektin yaitu suatu protein yang disekresikan oleh adiposit dan berperan penting dalam pengaturan sensitifitas insulin dan inflamasi, dengan kanker. 10,22 Berkurangnya kadar adiponektin berhubungan erat dengan peningkatan jenis kanker tertentu. Namun belum terbukti adanya keterkaitan yang bermakna antara penurunan kadar protein ini dengan peningkatan leukemia pada anak. 10 Sebagai kesimpulan, obesitas mempengaruhi terapi pada leukemia limfoblastik akut, dengan demikian obesitas juga mempengaruhi outcome pada leukemia limfoblastik akut anak. Daftar Pustaka 1. Hedley AA, Ogden CL, Johnson CL, Carroll MD, Curtin LR, Flegal KM. Prevalence of overweight and obesity among US children, adolescents, and adults, JAMA 2004;21:
5 2. Ogden CL, Flegal KM, Carroll MD. Prevalence and ws trends in overweight among US children and adolescents, JAMA 2002;288: Donohoue PA. Obesity. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penwsyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-1. Philadelphia: WB Saunders;200. h McMillan DC, Sattar N, Lean M, McArdle CS. Obesity and cancer. BMJ 2006;: Hijiya N, Panetta JC, Zhou Y, Kyzer EP, Howard SC, Jeha S, dkk. Body mass index does not influence pharmacokinetics or outcome of treatment in children with acute lymphoblastic leukemia. Blood 2006;108: Cheymol G. Effects of obesity on pharmacokinetics implications for drug therapysw. Clin Pharmacokinet 2000;: Baillargeon J, Langevin AM, Lewis M, Thomas PJ, Mullins J, Dugan J, dkk. L-Asparaginase as a marker of chemotherapy dose modification in children with acute lymphoblastic leukemia. Cancer 2005;104: Guh DP, Zhang W, Bansback N, Amarsi Z, Birmingham CL, Anis AH. The incidence of co-morbidities related to obesity and overweight:a systematic review and metaanalysis. BMC Public Health 200;:88.. Hong K, Yan E, Chen S, Li Z, Heber D. Obesity and Cancer: Inflammation and Molecular Pathogenesis. Obesity Manag 200;: Barb D, Williams CJ, Neuwirth AK, Mantzoros CS. Adiponectin in relation to malignancies: a review of existing basic research and clinic swal evidence. Am J Clin Nutr 200;86:858S-66S. 11. Lanzkowsky P. Manual of pediatric hematology and oncology. Edisi ke-4. Burlington: Elsevier Academic Press; 2005.h Data registrasi kanker. Divisi Hematologi Onkologi FKUI/RSCM Lange BJ, Gerbing RB, Feusner J, Skolnik J, Sacks N, Smith FO, dkk. Mortality in overweight and undesrweight chilsdren with acute myeloid leukemia. JAMA ;2: Gatot D, Windiastuti E. Treatment of childhood acute lymphoblastic leukemia in Jakarta: Result of modified Indonesian National Protocol 4. Paediatr Indones 2006;46: CDC Growth Charts. Diunduh dari: growthcharts/clinical_charts.htm. Tanggal 15 Desember Li J, Thompson TD, Miller JW, Pollack LA, Stewart SL. Cancer incidence among children and adolescents in the United States, Pediatrics 2008;121:e Mejía-Aranguré JM, Bonilla M, Juárez-Ocaña S, de Reyes G, Pérez-Saldivar ML, González-Miranda G, dkk. Incidence of leukemias in children from El Salvador and Mexico City between 16 and 2000:Population-based data. BMC Cancer 2005;5:. 18. Butturini AM, Dorey FJ, Lange BJ, Henry DW, Gaynon PS, Fu C, dkk. Obesity and outcome in pediatric acute lymphoblastic leukemia. J Clin Oncol 200;25: Butturini A, Dorey F, Gaynon P, Fu C, Franklin J, Siegel S, dkk. Obesity and body weight independently predict relapse and survival in preadolescents and teenagers with acute lymphoblastic leukemia (ALL): A retrospective analysis of five Children Cancer Group (CCG) studies. Blood (ASH Annual Meeting Abstracts) 2004;104:Abstract Rogers CP, Meacham LR, Oeffinger KsC, Henry DW, Lange BJ. Review: Obesity in pediatric oncology. Pediatr. Blood Cancer 2005; 45: Niinimäki RA, Harila-Saari AH, Jartti AE, Seuri RM, Riikonen PV, Pa a kkö EL, dkk. High body mass index increases the risk for osteonecrosis in children with acute lymphoblastic leukemia. J Clin Oncol 200;25: Kelesidis I, Kelesidis T, Mantzoros CS. Adiponectin and cancer: a systematic review. British Journal of Cancer 2006;4:
Pola Lekemia Limfoblastika akut di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RS. Dr. Pirngadi Medan
Pola Lekemia Limfoblastika akut di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUSU/RS. Dr. Pirngadi Medan Zairul Arifin Bagian Fisika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Abstrak Telah dilakukan suatu penelitian
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kanker yang sering terjadi pada anak adalah leukemia, mencapai
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kanker yang sering terjadi pada anak adalah leukemia, mencapai 30%-40% dari seluruh keganasan. Insidens leukemia mencapai 2,76/100.000 anak usia 1-4 tahun (Permono,
BAB 1 PENDAHULUAN. sampai bulan sesudah diagnosis (Kurnianda, 2009). kasus baru LMA di seluruh dunia (SEER, 2012).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Leukemia Mieloid Akut (LMA) adalah salah satu kanker darah yang ditandai dengan transformasi ganas dan gangguan diferensiasi sel-sel progenitor dari seri mieloid. Bila
GAMBARAN FUNGSI GINJAL PADA ANAK DENGAN TERAPI LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI PUSAT KANKER ANAK ESTELLA RSUP PROF DR RD KANDOU
Jurnal e-clinic (ecl), Volume 3, Nomor 1, Januari-April 2015 GAMBARAN FUNGSI GINJAL PADA ANAK DENGAN TERAPI LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI PUSAT KANKER ANAK ESTELLA RSUP PROF DR RD KANDOU Kartini W. Adam
ANALISIS KADAR KREATININ PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI PUSAT KANKER ANAK ESTELLA BLU RSUP PROF DR RD KANDOU
ANALISIS KADAR KREATININ PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI PUSAT KANKER ANAK ESTELLA BLU RSUP PROF DR RD KANDOU 1 Fajrul Falakh Tamsil 2 Max F.J Mantik 2 Adrian Umboh 1 Kandidat Skripsi Fakultas
Hasil Pengobatan Leukemia Mieloblastik Akut pada Anak
Artikel Asli Hasil Pengobatan Leukemia Mieloblastik Akut pada Anak Hikari Ambara Sjakti, Djajadiman Gatot, Endang Windiastuti Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS.
JST Kesehatan, Januari 2016, Vol.6 No.1 : ISSN HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN RELAPS PADA LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT-L1 (LLA-L1) ANAK
JST Kesehatan, Januari 2016, Vol.6 No.1 : 76 82 ISSN 2252-5416 HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN RELAPS PADA LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT-L1 (LLA-L1) ANAK Correlation Sex and Relapse of Childhood Acute Lymphoblastic
BAB I PENDAHULUAN. sumsum tulang yang paling sering ditemukan pada anak-anak (Wong et al, normal di dalam sumsum tulang (Simanjorang, 2012).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Leukemia merupakan kanker pada jaringan pembuluh darah yang disebabkan karena terjadinya kerusakan pada pabrik pembuat sel darah yaitu sumsum tulang yang paling sering
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi di zaman modern ini. Obesitas merupakan suatu kelainan atau penyakit dimana terjadi penimbunan lemak
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merupakan penyakit dengan angka kematian tinggi. Data Global
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker merupakan penyakit dengan angka kematian tinggi. Data Global Action Againts Cancer (2006) dari WHO menyatakan bahwa angka kematian akibat kanker dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesia pada saat ini menghadapi permasalahan ganda berupa kasus-kasus penyakit menular yang masih belum terselesaikan sekaligus peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatan tekanan darah pada anak dan remaja merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi pada usia tua (Falkner et al., 2007). Hal ini berhubungan dengan
HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN RELAPS PADA LEUKEMIA. Rahma, Nadirah Rasyid Ridha, Dasril Daud
HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN RELAPS PADA LEUKEMIA Rahma, Nadirah Rasyid Ridha, Dasril Daud Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar Email korespondensi: [email protected]
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Obesitas Obesitas adalah kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbun lemak yang melebihi 25 % dari berat tubuh, orang yang kelebihan berat badan biasanya karena kelebihan
Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved
Leukemia Leukemia merupakan kanker yang terjadi pada sumsum tulang dan sel-sel darah putih. Leukemia merupakan salah satu dari sepuluh kanker pembunuh teratas di Hong Kong, dengan sekitar 400 kasus baru
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kanker ovarium merupakan keganasan yang paling. mematikan di bidang ginekologi. Setiap tahunnya 200.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker ovarium merupakan keganasan yang paling mematikan di bidang ginekologi. Setiap tahunnya 200.000 wanita didiagnosa dengan kanker ovarium di seluruh dunia dan 125.000
BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan bagian dari sindroma metabolik. Kondisi ini dapat menjadi faktor
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lemak adalah substansi yang tidak larut dalam air dan secara kimia mengandung satu atau lebih asam lemak. Tubuh manusia menggunakan lemak sebagai sumber energi, pelarut
Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta
LAPORAN PENELITIAN Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Hendra Dwi Kurniawan 1, Em Yunir 2, Pringgodigdo Nugroho 3 1 Departemen
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Obesitas 2.1.1. Definisi Obesitas adalah penumpukan jaringan lemak yang berlebihan ataupun abnormal yang dapat mengganggu kesehatan (WHO,2011). Batas yang tidak wajar untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan gaya hidup yang terjadi pada masyarakat moderen seperti saat ini cenderung menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Perubahan gaya hidup yang kurang sehat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lipid atau lemak adalah suatu kumpulan zat yang tidak larut dalam air tetapi dapat larut dalam pelarut seperti alkohol atau kloroform (Oxford Dictionary, 2003). Selama
BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang Penelitian. Dislipidemia adalah suatu istilah yang dipakai untuk
BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Penelitian Dislipidemia adalah suatu istilah yang dipakai untuk menjelaskan sejumlah ketidaknormalan pada profil lipid, yaitu: peningkatan asam lemak bebas, peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu masalah gizi yang paling umum di Amerika merupakan faktor
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam populasi dunia saat ini, kelebihan berat badan dan obesitas sudah mulai menggeser kedudukan kekurangan gizi dan penyakit menular sebagai penyebab kondisi kesehatan
ANGKA KEJADIAN DIARE PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN
ANGKA KEJADIAN DIARE PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2011-2015 Fatmawati Latamu Jeanette I. Ch. Manoppo Max F. J. Mantik 1 Kandidat Skripsi
BAB 6. PEMBAHASAN. Penelitian adalah penelitian case control yang melibatkan 52 penderita
BAB 6. PEMBAHASAN Penelitian adalah penelitian case control yang melibatkan 52 penderita LLA. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini diketahui bahwa proporsi penderita berjenis kelamin perempuan
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan kemakmuran di Indonesia diikuti oleh perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan dari masyarakat baik dalam keluarga maupun diluar rumah. Pola makan terutama
ABSTRAK OBESITAS MENINGKATKAN RISIKO KANKER PAYUDARA PADA WANITA POSTMENOPAUSE
ABSTRAK OBESITAS MENINGKATKAN RISIKO KANKER PAYUDARA PADA WANITA POSTMENOPAUSE Clara Santi Trisnawati, 2007 Pembimbing : Freddy Tumewu Andries, dr., M.S Obesitas dan kanker payudara merupakan masalah kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Kanker adalah salah satu penyakit yang dapat terjadi pada anak. Kejadian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kanker adalah salah satu penyakit yang dapat terjadi pada anak. Kejadian kanker pada anak terus mengalami peningkatan dan menjadi salah satu penyebab kematian.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut World Health Organization (WHO), obesitas adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut World Health Organization (WHO), obesitas adalah akumulasi lemak secara berlebihan atau abnormal dalam tubuh yang dapat mengganggu kesehatan. Distribusi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pasien keganasan berisiko tinggi menderita anemia (Estrin, 1999). Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasien keganasan berisiko tinggi menderita anemia (Estrin, 1999). Penelitian yang dilakukan European Survey on Cancer Anemia (ECAS), dengan nilai potong kadar Hb 12
Nidya A. Rinto; Sunarto; Ika Fidianingsih. Abstrak. Pendahuluan
Naskah Publikasi, November 008 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Hubungan Antara Sikap, Perilaku dan Partisipasi Keluarga Terhadap Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe di RS PKU
BAB 1 PENDAHULUAN. polisebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne vulgaris atau jerawat adalah penyakit peradangan menahun folikel polisebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri (Wasitaatmadja, 2007).
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Menurut World Health Organization (WHO), kematian akibat kanker di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut World Health Organization (WHO), kematian akibat kanker di dunia diprediksikan akan terus meningkat jika tidak ditangani dengan baik. Diperkirakan terdapat
I. PENDAHULUAN. terlokalisasi pada bagian-bagian tubuh tertentu (Sudoyo, 2009).
1 I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Obesitas merupakan suatu keadaan dimana terjadi akumulasi jaringan lemak berlebihan yang dapat terjadi diseluruh tubuh atau terlokalisasi pada bagian-bagian tubuh tertentu
Tes ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui Indeks Masa Tubuh (IMT). Tes ini meliputi: 1. Pengukuran Tinggi Badan (TB) 2. Pengukuran Berat Badan (BB)
Lampiran 1. Tes Status Gizi Tes ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui Indeks Masa Tubuh (IMT). Tes ini meliputi: 1. Pengukuran Tinggi Badan (TB) 2. Pengukuran Berat Badan (BB) Peralatan tes antara lain:
I. PENDAHULUAN. 2004). Penyakit ini timbul perlahan-lahan dan biasanya tidak disadari oleh
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi normal akibat tubuh kekurangan insulin (Sidartawan, 2004). Penyakit ini
BAB 4. METODE PENELITIAN
BAB 4. METODE PENELITIAN 4.1.Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak khususnya bagian Hematologi Onkologi. 4.2.Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan
BAB I PENDAHULUAN. penyebab yang belum diketahui sampai saat ini, ditandai oleh adanya plak eritema
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kronis pada kulit dengan penyebab yang belum diketahui sampai saat ini, ditandai oleh adanya plak eritema ditutupi sisik tebal
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang ilmu bedah digestif, ilmu bedah onkologi, dan ilmu gizi 4.2 Tempat dan waktu Lokasi penelitian ini adalah ruang
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik kronik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin,
Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan
Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 4, Vol. No. 4, 1, No. Juni 1, 2002: Juni 20022-6 Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan Partini P Trihono, Eva Miranda Marwali,
BAB 1 PENDAHULUAN. pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Akne vulgaris adalah suatu peradangan yang bersifat menahun pada unit pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan predileksi di
LEUKEMIA. - pendesakan kegagalan sumsum tulang - infiltrasi ke jaringan lain
LEUKEMIA Keganasan sistem hemopoietik: transformasi maligna suatu progenitor/prekursor sel darah klon sel ganas proliferasi patologis (abnormal) & tidak terkendali menyebabkan: - pendesakan kegagalan sumsum
Faktor-faktor yang Berkorelasi dengan Status Nutrisi pada Pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD)
LAPORAN PENELITIAN Faktor-faktor yang Berkorelasi dengan Status Nutrisi pada Pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) Mira Yulianti 1, Suhardjono 2, Triyani Kresnawan 3, Kuntjoro Harimurti
Perjalanan Penyakit Purpura Trombositopenik Imun
Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 8, No. 4, Vol. Maret 8, No. 2007: 4, Maret 310-2007 315 Perjalanan Penyakit Purpura Trombositopenik Imun Elizabeth Yohmi#, Endang Windiastuti*, Djajadiman Gatot* Latar
PENGARUH KURANG TIDUR TERHADAP PENINGKATAN RISIKO OBESITAS
PENGARUH KURANG TIDUR TERHADAP PENINGKATAN RISIKO OBESITAS ABSTRAK Shella Monica Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung Latar belakang Tidur yang cukup merupakan faktor penting bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obesitas adalah suatu keadaan dimana terdapat akumulasi lemak secara berlebihan. Obesitas merupakan faktor risiko dislipidemia, diabetes melitus, hipertensi, sindrom
BAB 1 PENDAHULUAN. koroner. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang terutama disebabkan karena penyempitan arteri koroner. Peningkatan kadar kolesterol dalam darah menjadi faktor
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Citra tubuh adalah suatu pemahaman yang meliputi. persepsi, pikiran, dan perasaan seseorang mengenai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Citra tubuh adalah suatu pemahaman yang meliputi persepsi, pikiran, dan perasaan seseorang mengenai ukuran, bentuk, dan struktur tubuhnya sendiri, dan pada umumnya dikonseptualisasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. dari saluran pencernaan yang berfungsi menyerap sari makanan untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kanker kolorektal didefinisikan sebagai tumor ganas yang terjadi pada kolon dan rektum. Kolon berada di bagian proksimal usus besar dan rektum di bagian distal
BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) pada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Diabetes melitus kini telah menjadi ancaman dalam kesehatan dunia. Jumlah penderita diabetes melitus tidak semakin menurun setiap tahunnya, namun justru mengalami
BAB I PENDAHULUAN. yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yaitu bila
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja sebagai mereka yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yaitu bila anak telah mencapai
BAB I PENDAHULUAN. Tubuh manusia terkomposis atas jaringan lemak yang. relatif sama, namun perbedaan lokasi deposisi jaringan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tubuh manusia terkomposis atas jaringan lemak yang relatif sama, namun perbedaan lokasi deposisi jaringan cadangan lemak menimbulkan perbedaan besar dalam peningkatan
BAB 1 PENDAHULUAN. maupun sosial. Perubahan fisik pada masa remaja ditandai dengan pertambahan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Pada periode ini berbagai perubahan terjadi baik perubahan hormonal, fisik, psikologis maupun sosial.
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Prevalensi overweight dan obesitas meningkat baik pada dewasa dan anakanak
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Prevalensi overweight dan obesitas meningkat baik pada dewasa dan anakanak di negara maju maupun negara berkembang selama periode tahun 1980-2013. Indonesia termasuk
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah metode sederhana yang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah metode sederhana yang digunakan untuk menilai status gizi seorang individu. IMT merupakan metode yang murah dan mudah dalam mengukur
BAB 1 PENDAHULUAN. serius karena termasuk peringkat kelima penyebab kematian di dunia.sekitar 2,8 juta
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Obesitas merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian yang serius karena termasuk peringkat kelima penyebab kematian di dunia.sekitar 2,8 juta orang
BAB I PENDAHULUAN. atau berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Dahulu obesitas identik dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Overweight dan obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Dahulu obesitas identik dengan kemakmuran, akan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. dengan kerusakan jaringan ( Davis dan Walsh, 2004). Nyeri merupakan salah satu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Nyeri merupakan pengalaman sensoris atau emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan ( Davis dan Walsh, 2004). Nyeri merupakan salah satu gejala
BAB I PENDAHULUAN. metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Overweight dan obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian yang serius karena merupakan peringkat kelima penyebab kematian
BAB I PENDAHULUAN. utama morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. The World Health
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Preeklamsi merupakan penyulit utama dalam kehamilan dan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. The World Health Organization (WHO) melaporkan angka
BAB I. PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Obesitas telah menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Prevalensi
BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Obesitas telah menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Prevalensi obesitas mengalami peningkatan di seluruh dunia menjadi dua kali lipat berdasarkan data dari
Kejadian Anemia Pada Penderita Leukemia Limfoblastik Akut di RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
Kejadian Anemia Pada Penderita Leukemia Limfoblastik Akut di RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Sri Ari Isnaini 1,2, Maria Tuntun 3 1 Program Studi Diploma IV Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penyakit perlemakan hati non alkohol atau Non-alcoholic Fatty Liver
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit perlemakan hati non alkohol atau Non-alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) merupakan kumpulan gangguan hati yang ditandai dengan adanya perlemakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. dengan adanya hiperglikemia kronik akibat defisiensi insulin baik relatif maupun
i BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Diabetes Melitus (DM) adalah kelompok kelainan metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia kronik akibat defisiensi insulin baik relatif maupun
BAB I PENDAHULUAN. Diabetes mellitus dapat menyerang warga seluruh lapisan umur dan status
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut WHO menyatakan bahwa gizi adalah pilar utama dari kesehatan dan kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan (Soekirman, 2000). Di bidang gizi telah terjadi perubahan
BAB 1 PENDAHULUAN. sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang
Kemoterapi bersifat kuratif bila dapat
Artikel Asli Toksisitas Kemoterapi Leukemia Limfoblastik Akut pada Fase Induksi dan Profilaksis Susunan Saraf Pusat dengan Metotreksat 1 gram Ketut Ariawati*, Endang Windiastuti**, Djajadiman Gatot** *
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan terkait angka kematian ibu dan anak merupakan masalah global yang sejak dulu hingga sekarang masih merupakan persoalan besar dalam dunia kesehatan. Menurut
BAB I PENDAHULUAN. Tekanan jaringan yang berasal dari struktur intraokuler disebut tekanan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tekanan jaringan yang berasal dari struktur intraokuler disebut tekanan intraokuler (TIO). Tekanan rata-rata normal intraokuler besarnya bervariasi antara 10-20
BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditransmisikan oleh nyamuk Ae. Aegypti. 1 Menyebabkan banyak kematian pada anakanak sekitar 90 % dan biasanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Stroke masih menjadi perhatian dunia karena angka kematiannya yang tinggi dan kecacatan fisik yang ditimbulkannya. Berdasarkan data WHO, Stroke menjadi pembunuh nomor
BAB 1 PENDAHULUAN. napas bagian bawah (tumor primer) atau dapat berupa penyebaran tumor dari
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker paru adalah penyakit keganasan yang berasal dari sel epitel saluran napas bagian bawah (tumor primer) atau dapat berupa penyebaran tumor dari organ lain (tumor
BAB I PENDAHULUAN. Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2008; American Cancer. sisanya sebagian besar AML (Rudolph, 2007).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Leukemia adalah sekumpulan penyakit yang ditandai oleh adanya akumulasi leukosit ganas dalam sumsum tulang dan darah (Hoffbrand, Pettit & Moss, 2005). Leukemia merupakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Akne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit. peradangan kronis pada unit pilosebaseus yang sering
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit peradangan kronis pada unit pilosebaseus yang sering dikeluhkan oleh banyak orang terutama remaja. Timbulnya akne vulgaris
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kreatinin serum pada pasien diabetes melitus tipe 2 telah dilakukan di RS
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Hasil Penelitian Pelaksanaan penelitian tentang korelasi antara kadar asam urat dan kreatinin serum pada pasien diabetes melitus tipe 2 telah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tidur adalah kondisi istirahat alami yang. dilakukan oleh semua makhluk hidup, termasuk manusia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tidur adalah kondisi istirahat alami yang dilakukan oleh semua makhluk hidup, termasuk manusia. Tidur merupakan aktifitas fisiologis yang penting bagi kesehatan dan
BAB I PENDAHULUAN. Diabetes melitus (DM) adalah penyakit akibat adanya gangguan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) adalah penyakit akibat adanya gangguan metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan kadar glukosa darah tinggi (hiperglikemi) dan ditemukannya
BAB I PENDAHULUAN. tidak adanya insulin menjadikan glukosa tertahan di dalam darah dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan peningkatan glukosa darah (hiperglikemia), disebabkan karena ketidakseimbangan
BAB 1 PENDAHULUAN. suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau. meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Obesitas merupakan suatu kelainan kompleks pengaturan nafsu makan dan metabolisme energi yang dikendalikan oleh beberapa faktor biologik spesifik. (1) Obesitas
BAB I PENDAHULUAN. Kanker ovarium adalah suatu massa atau jaringan baru yang. abnormal yang terbentuk pada jaringan ovarium serta mempunyai sifat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kanker ovarium adalah suatu massa atau jaringan baru yang abnormal yang terbentuk pada jaringan ovarium serta mempunyai sifat dan bentuk berbeda dari sel asalnya.
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia insiden karsinoma tiroid mengalami peningkatan setiap tahun (Sudoyo,
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Karsinoma tiroid merupakan keganasan pada kelenjar tiroid dan merupakan keganasan kelenjar endokrin yang paling sering ditemukan. Di Indonesia insiden karsinoma tiroid
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. morbiditas dan mortalitas. Di negara-negara barat, kanker merupakan penyebab
1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kanker merupakan salah satu penyakit yang banyak menimbulkan morbiditas dan mortalitas. Di negara-negara barat, kanker merupakan penyebab kematian nomor
