Kementerian Perindustrian
|
|
|
- Erlin Atmadja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Kementerian Perindustrian REPUBLIK INDONESIA LAPORAN KINERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2015 BIRO PERENCANAAN 2016
2
3 Ringkasan Eksekutif Sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Instansi Pemerintah, dimana pimpinan Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Pemerintah Daerah, Satuan Kerja atau Unit Kerja didalamnya, diminta untuk membuat laporan akuntabilitas kinerja secara berjenjang serta berkala untuk disampaikan kepada pimpinan yang lebih tinggi. Menindak lanjuti peraturan tersebut, maka Kementerian Perindustrian menyusun Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun Secara umum laporan kinerja Kementerian Perindustrian menjabarkan pencapaian kinerja Kementerian Perindustrian selama tahun 2015 yang mencakup analisis kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), analisis kinerja makro sektor industri, analisis kinerja sasaran, analisis kinerja kelembagaan dan analisis kinerja keuangan. Dalam renstra dijabarkan mengenai visi pembangunan industri Kementerian Perindustrian, yaitu Indonesia Menjadi Negara Industri yang Berdaya Saing dengan Struktur Industri yang Kuat Berbasiskan Sumber Daya Alam dan Berkeadilan. Pencapaian visi tersebut dituangkan pada misi, tujuan dan sasaran yang akan dicapai pada tahun Selain arah pembangunan industri dijabarkan dalam Renstra, Kementerian Perindustrian juga memiliki amanah untuk melaksanakan mandat program prioritas nasional sesuai dengan Perpres No 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Adapun fokus pengembangan industri sesuai arahan RPJMN adalah sebagai berikut: a). Pengembangan Perwilayahan Industri di luar pulau Jawa, b). Penumbuhan Populasi Industri, c). Peningkatan Daya Saing dan Produktivitas i
4 Program program nasional Kementerian Perindustrian terkait RPJMN meliputi: pengembangan kawasan industri di luar pulau Jawa, Pengembangan Sentra IKM (SIKIM), fasilitasi pembangunan buffer stock bahan baku kapas dan kulit, pengembangan industri petrokimia, pengembangan industry smelter, pengembangan industri berbahan baku migas, penumbuhan wirausaha baru, revitalisasi permesinan serta pembangunan produt center. Permasalahan - permasalahan yang menjadi penghambat pelaksanaan tugas dan ketercapaian target yang telah ditetapkan telah diidentifikasi dan dianalisis untuk ditindaklanjuti dengan rekomendasi kebijakan-kebijakan yang mampu mendorong percepatan pencapaian target kinerja. Pada tahun 2015 (YoY), sekt or industri pengolahan non migas tumbuh sebesar 5,04 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi sebesar 4,79 persen. Pertumbuhan cabang industri non migas pada tahun 2015 yang tertinggi dicapai oleh industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik; dan peralatan listrik sebesar 7,83 persen, disusul oleh industri makanan dan minuman sebesar 7,54 persen dan Industri mesin dan perlengkapan sebesar 7,49 persen. Kontribusi sektor industri pengolahan non migas pada tahun 2015 sebesar 18,18 persen dengan nilai Rp ,117 Triliun. Ekspor produk industri tahun 2015 sebesar US$ 106,63 Miliar dan memberikan kontribusi sebesar 70,97 persen dari total ekspor nasional yang sebesar US$ 150,25 Miliar sedangkan untuk impor produk industri tahun 2015 sebesar US$ 108,95. Neraca ekspor-impor Hasil Industri Non Migas tahun 2015 adalah USD -2,31 Miliar (neraca defisit). Nilai investasi PMDN sektor industri tahun 2015 sebesar Rp 89,04 Triliun atau tumbuh sebesar 50,84 persen dibanding tahun 2014 sebesar Rp 41,84 Triliun. Nilai investasi PMA sektor industri Tahun 2015 mencapai US$ 11,76 Miliar atau menurun sebesar 9,65 persen dibandingkan Tahun 2014 sebesar US$ 13,01 Miliar. Sasaran-sasaran strategis Kementerian Perindustrian dalam perspektif stakeholder berhasil dicapai dengan nilai capaian indikator kinerja utama diatas ii
5 80 persen, bahkan 9 dari 12 dari indikator kinerja utama tersebut, nilai capaiannya melebihi 100 persen. Nilai capaian ini sudah menggambarkan beberapa peningkatan dan perbaikan baik dalam hal penetapan indikator dan target maupun dalam pencapaian target kinerja. Pencapaian target-target sasaran strategis sebagaimana yang diuraikan dalam kinerja sasaran tahun 2015 juga didukung oleh pencapaian kinerja lainnya yang terkait dengan kebijakan-kebijakan sebagai berikut: fasilitasi pemanfaatan Tax Holiday; fasilitasi pemanfaatan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP); pengamanan industri melalui Penetapan Obyek Vital Nasional Sektor Industri; perumusan SNI; penunjukan Lembaga Penguji Kesesuaian; penurunan Emisi Gas Rumah Kaca; pemberian penghargaan industri hijau; penyusunan peraturan turunan UU Perindustrian. Adapun prestasi Kementerian Perindustrian terkait dengan Kinerja Kelembagaan pada Tahun 2015, antara lain: mendapatkan penghargaan dari Pemerintah atas keberhasilannya menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2014 dengan Capaian Standar Tertinggi dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah serta mendapatkan predikat opini WTP; menempati peringkat 8 dari 86 K/L dengan nilai sebesar 73,90 dengan predikat BB atau naik sebesar 0,79 poin dibandingkan di tahun sebelumnya, dengan nilai 73,11; Pelayanan Publik versi Ombudsman dengan kategori hijau atau tingkat kepatuhan tinggi terhadap UU Pelayanan Publik; dari aspek Keterbukaan Informasi Publik masuk ke dalam 3 besar Badan Publik Pemerintahan Terbaik; mendapatkan penghargaan BKN Award Tahun 2015 dengan predikat Terbaik 1 kategori Implementasi Penilaian Kinerja dari badan Kepegawaian Negara (BKN), atas pengembangan sistem penilaian kinerja secara online. Guna mengatasi permasalahan dan kendala serta mendukung percepatan pencapaian target kinerja yang diamanatkan, maka kebijakan yang dapat direkomendasikan antara lain : optimalisasi Insentif Fiskal: Tax Holiday, Tax Allowance, BMDTP, Pembebasan PPnBM, Bea Masuk; koordinasi dengan instansi iii
6 terkait; mencari pasar-pasar tujuan ekspor baru; peningkatan upaya pengendalian impor melalui kebijakan non-tariff barrier; pemberlakuan sanksi yang tegas kepada unit kerja dalam instansi pemerintah/bumn/swasta yang tidak memenuhi persyaratan komponen lokal yang dipersyaratkan sehingga penerapan P3DN dapat lebih maksimal; memprioritaskan penyediaan infrastruktur; kebijakan penjaminan pasokan gas dan listrik untuk kebutuhan industri dalam negeri, baik sebagai bahan baku maupun energi; pembentukan Lembaga Pembiayaan Khusus IKM; menitikberatkan perjanjian Kerjasama Internasional pada Peningkatan Investasi; perumusan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) dan Pemberlakuan penerapan secara wajib SNI; serta pemberian insentif untuk industri hijau. Secara garis besar Kementerian Perindustrian telah berhasil melaksanakan tugas, fungsi dan misi yang diembannya dalam pencapaian kinerja Kementerian Perindustrian tahun Beberapa sasaran yang ditetapkan dapat dicapai, meskipun belum semuanya menunjukkan hasil sebagaimana yang ditargetkan. Keberhasilan pencapaian sasaran Kementerian Perindustrian disamping ditentukan oleh kinerja faktor internal juga ditentukan oleh dukungan eksternal, seperti kerjasama dengan institusi terkait. Hasil lebih rinci secara keseluruhan tergambar dalam Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun iv
7
8 Daftar Isi Ringkasan Eksekutif... i Kata Pengantar...v Daftar Isi... vi Daftar Tabel...viii Daftar Gambar... xi Bab I. Pendahuluan...1 A. Tugas Dan Fungsi Kementerian Perindustrian...1 B. Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian...1 C. Peran Strategis Kementerian Perindustrian...7 D. Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Visi Kementerian Perindustrian Misi Kementerian Perindustrian Tujuan Kementerian Perindustrian Sasaran Kementerian Perindustrian Arah Kebijakan dan Strategi...17 Bab II. Perencanaan Kinerja...19 A. Perencanaan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun B. Rencana Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun Bab III A. Capaian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun Kinerja Sasaran Perjanjian Kinerja Tahun 2015 Kementerian Perindustrian Kinerja Makro Industri Pengolahan Non Migas...51 vi
9 3. Kinerja Program Prioritas Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun Kinerja Program Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian...83 B. Realisasi Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun Bab IV. Penutup A. Kesimpulan B. Permasalahan Dan Kendala C. Rekomendasi vii
10 Daftar Tabel Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 3.1 Perjanjian Kinerja (Perkin) Perspektif Stakeholders...20 Pagu Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2015 Berdasarkan Program...21 Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Tingginya Nilai Tambah Industri...23 Tabel 3.2 Capaian IKU dari Tingginya Nilai Tambah Industri...24 Tabel 3.3 Realisasi IKU dari Tingginya Nilai Tambah Industri...24 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 3.7 Peran Sektor Industri Terhadap PDB Nasional...25 Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri...28 Capaian IKU dari Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri...28 Realisasi IKU dari Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri...29 Tabel 3.8 Pertumbuhan Industri Pengolahan Non-Migas Menurut Cabang- Cabang Industri Tahun Dasar Tabel 3.9 Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Meningkatnya Produktivitas SDM Industri...33 Tabel 3.10 Capaian IKU dari Meningkatnya Produktivitas SDM Industri...33 Tabel 3.11 Realisasi IKU dari Meningkatnya Produktivitas SDM Industri...33 Tabel 3.12 Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Tingginya Kemampuan Inovasi dan Penguasaan Teknologi Industri...36 viii
11 Tabel 3.13 Capaian IKU Tingginya Kemampuan Inovasi dan Penguasaan Teknologi Industri...36 Tabel 3.14 Realisasi IKU Tingginya Kemampuan Inovasi dan Penguasaan Teknologi Industri...37 Tabel 3.15 Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri...40 Tabel 3.16 Capaian IKU dari Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri...41 Tabel 3.17 Realisasi IKU dari Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri...41 Tabel 3.18 Target dan Realisasi Tahun 2015 dari Tersebarnya Pembangunan Industri...45 Tabel 3.19 Realisasi IKU dari Tersebarnya Pembangunan Industri...45 Tabel 3.20 Kontribusi sektor Industri Manufaktur di Jawa dan Luar Jawa...46 Tabel 3.21 Rasio Jumlah IKM di Pulau Jawa dan Luar Jawa Tahun Tabel 3.22 Target dan Realisasi Tahun 2015 dari Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap PDB Industri...48 Tabel 3.23 Capaian IKU dari Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap PDB Industri...49 Tabel 3.24 Realisasi IKU dari Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap PDB Industri...49 Tabel 3.25 Kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri Tahun Tabel 3.26 Pertumbuhan PDB Berdasar Lapangan Usaha Tahun Dasar Tabel 3.27 Pertumbuhan Industri Pengolahan Non-Migas Menurut Cabang- Cabang Industri Tahun Dasar Tabel 3.28 Peran Tiap Cabang Industri terhadap PDB Sektor Industri Tahun 2015 Atas Tahun Dasar ix
12 Tabel 3.29 Perkembangan Ekspor Industri Non Migas Tahun Tabel 3.30 Perkembangan Impor Industri Non Migas Tahun Tabel 3.31 Investasi PMDN Tahun Tabel 3.32 Investasi PMA Tabel 3.33 Capaian Fokus Pengembangan Perwilayahan Industri...67 Tabel 3.34 Capaian Fokus Penumbuhan Populasi Industri...68 Tabel 3.35 Capaian Fokus Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing...75 Tabel 3.36 Perkembangan Jumlah RSNI Tahun Tabel 3.37 Jumlah Perusahaan yang menerima Penghargaan Tabel 3.38 Perkembangan Nilai dan Predikat Kementerian Perindustrian Tabel 3.39 Laporan Realisasi Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun Anggaran 2015 Menurut Unit Eselon I Tabel 3.40 Perbandingan Pagu dan Realisasi Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun x
13 Daftar Gambar Gambar 1.1 Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian...2 Gambar 3.1 Hasil Litbang Gambar 3.2 Perkembangan Jumlah Hasil Penelitian dan Pengembangan yang Siap Diterapkan Tahun Gambar 3.3 Perkembangan Jumlah Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diterapkan Tahun Gambar 3.4 Jumlah Perusahaan pemohon dan permohonan yang telah direalisasikan s.d 31 Desember Gambar 3.5 Nilai permohonan dan realisasi program s.d. 31 Desember Gambar 3.6 Perkembangan Lembaga Pengujian Kesesuaian Tahun xi
14
15 Bab I Pendahuluan A. TUGAS DAN FUNGSI KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN Sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia, Kementerian Perindustrian berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kementerian Perindustrian mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang perindustrian dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Kementerian Perindustrian yang dipimpin oleh Menteri Perindustrian menyelenggarakan fungsi: 1. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang perindustrian; 2. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Perindustrian; 3. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Perindustrian; 4. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Perindustrian di daerah; dan 5. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional. B. STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor: 105/M- IND/PER/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perindustrian, Kementerian Perindustrian terdiri atas Wakil Menteri Perindustrian, 9 (sembilan) unit eselon I dan 3 (tiga) Staf Ahli Menteri sebagai mana terlihat pada Gambar
16 Gambar 1.1. Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian Tugas Pokok masing-masing unit kerja adalah sebagai berikut: 1. Sekretariat Jenderal Mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di Iingkungan Kementerian Perindustrian. Sekretariat Jenderal terdiri dari 5 (lima) biro, yaitu Biro Perencanaan, Biro Kepegawaian, Biro Keuangan, Biro Hukum dan Organisasi, serta Biro Umum. 2. Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur Mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang basis industri manufaktur. Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur terdiri atas 5 (lima) unit eselon II, yaitu Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Material Dasar Logam; Direktorat Industri Kimia Dasar; Direktorat Industri Kimia Hilir; dan Direktorat Industri Tekstil dan Aneka. 2
17 3. Direktorat Jenderal Industri Agro Mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang industri agro. Direktorat Jenderal Industri Agro terdiri atas 4 (empat) unit eselon II, yaitu Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan; Direktorat Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan; dan Direktorat Industri Minuman dan Tembakau. 4. Direktorat Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Direktorat Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang industri unggulan berbasis teknologi tinggi. Direktorat Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi terdiri atas 5 (lima) unit eselon II, yaitu Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Alat Transportasi Darat; Direktorat Industri Maritim, Kedirgantaraan, dan Alat Pertahanan; Direktorat Industri Elektronika dan Telematika; dan Direktorat Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian. 5. Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang industri kecil dan menengah. Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah terdiri atas 4 (empat) unit eselon II, yaitu Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Kecil dan Menengah Wilayah I; Direktorat Industri Kecil dan Menengah Wilayah II; dan Direktorat Industri Kecil dan Menengah Wilayah III. 6. Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pengembangan perwilayahan industri. Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri terdiri atas 4 (emp at) unit eselon II, 3
18 yaitu Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah I; Direktorat Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah II; dan Direktorat Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah III. 7. Direktorat Jenderal Kerja Sama Industri Internasional Direktorat Jenderal Kerja Sama Industri Internasional mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang kerja sama industri internasional. Direktorat Jenderal Kerja Sama Industri Internasional terdiri atas 4 (empat) unit eselon II, yaitu Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Kerja Sama Industri Internasional Wilayah I dan Multilateral; Direktorat Kerja Sama Industri Internasional Wilayah II dan Regional; dan Direktorat Ketahanan Industri. 8. Inspektorat Jenderal Inspektorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan pengawasan intern di Iingkungan Kementerian Perindustrian. Inspektorat Jenderal terdiri atas 5 (lima) unit eselon II, yaitu Sekretariat Inspektorat Jenderal; Inspektorat I; Inspektorat II; Inspektorat III; dan Inspektorat IV. 9. Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, Dan Mutu Industri Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengkajian serta penyusunan rencana kebijakan makro pengembangan industri jangka menengah dan panjang, kebijakan pengembangan klaster industri prioritas serta iklim dan mutu industri. Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, Dan Mutu Industri terdiri dari 5 (lima) unit eselon II, yaitu Sekretariat Badan; Pusat Standardisasi; Pusat Pengkajian Kebijakan dan Iklim Usaha Industri; Pusat Pengkajian Industri Hijau dan Lingkungan Hidup; dan Pusat Pengkajian Teknologi dan Hak Kekayaan Intelektual. 4
19 10. Staf Ahli Menteri Adalah unsur pembantu Menteri di bidang keahlian tertentu, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri. Staf Ahli Menteri mempunyai tugas memberi telaahan kepada Menteri mengenai masalah tertentu sesuai bidang keahliannya, yang tidak menjadi bidang tugas Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal, Badan dan Inspektorat Jenderal. Staf Ahli Menteri terdiri atas Staf Ahli Bidang Penguatan Struktur Industri; Staf Ahli Bidang Pemasaran dan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri; dan Staf Ahli Bidang Sumber Daya Industri dan Teknologi. Pada tahun 2015, Kementerian Perindustrian melakukan perubahan nomenklatur eselon I di Direktorat Jenderal (Ditjen), Badan dan Staf Ahli, dimana hal tersebut sesuai dengan Peraturan Presiden nomor 29 tahun 2015 tentang Kementerian Perindustrian yang di tanda tangani oleh Presiden Joko Widodo dan diamanatkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian No.107/M-IND/PER/11/2015. Unit eselon I yang mengalami perubahan nomenklatur yaitu: a) Ditjen BIM menjadi Ditjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pendalaman dan penguatan struktur industri, peningkatan daya saing, pengembangan iklim usaha, promosi industri dan jasa industri, standardisasi industri, teknologi industri, pengembangan industri strategis dan industri hijau, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri pada industri kimia hulu, industri kimia hilir, industri barang galian non logam, serta industri tekstil dan industri aneka. b) Ditjen IUBTT menjadi Ditjen Industri Logam, Mesin, dan Alat Transportasi Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan 5
20 kebijakan di bidang pendalaman dan penguatan struktur industri, peningkatan daya saing, pengembangan iklim usaha, promosi industri dan jasa industri, standardisasi industri, teknologi industri, pengembangan industri strategis dan industri hijau, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri pada industri logam, industri mesin, industri alat transportasi dan maritim, serta industri elektronika dan telematika. c) Ditjen Kerjasama Industri Internasional menjadi Ditjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Direktorat Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang ketahanan industri dan kerja sama internasional di bidang industri. d) Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri menjadi Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Badan Penelitian dan Pengembangan Industri mempunyai tugas menyelenggarakan penelitian dan pengembangan dibidang perindustrian. e) Staf Ahli Bidang Pemasaran dan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri menjadi Staf Ahli Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Staf Ahli Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri mempunyai tugas memberikan rekomendasi terhadap isu-isu strategis kepada Menteri terkait dengan bidang peningkatan penggunaan produk dalam negeri. f) Staf Ahli Bidang Sumber Daya Industri dan Teknologi menjadi Staf Ahli Bidang Sumber Daya Industri. Staf Ahli Bidang Sumber Daya Industri mempunyai tugas memberikan rekomendasi terhadap isu-isu strategis kepada Menteri terkait dengan bidang sumber daya industri. 6
21 g) Staf Ahli Bidang Penguatan Struktur Industri Teknologi menjadi Staf Ahli Bidang Penguatan Struktur Industri. Staf Ahli Bidang Sumber Daya Industri mempunyai tugas memberikan rekomendasi terhadap isu-isu strategis kepada Menteri terkait dengan bidang penguatan struktur industri. Perubahan nomenklatur di tingkat unit Ditjen, Badan, dan Staf ahli diselaraskan dengan kaidah kelembagaan yang sudah ada, dimana dengan adanya perubahan nomenklatur, akan memudahkan stakeholder industri mengenal lebih baik jenis industri dan pengelompokkannya masing-masing. C. PERAN STRATEGIS KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN Peran strategis dalam pembangunan ekonomi nasional tersebut tercermin dari dampak kegiatan ekonomi sektor riil bidang industri dalam komponen konsumsi maupun investasi. Dari hal ini sektor industri berperan sebagai pemicu kegiatan ekonomi lain yang berdampak ekspansif atau meluas ke berbagai sektor jasa keteknikan, penyediaan bahan baku, transportasi, distribusi atau perdagangan, pariwisata dan sebagainya. Pembangunan sektor industri menjadi sangat penting karena kontribusinya terhadap pencapaian sasaran pembangunan ekonomi nasional, terutama dalam pembentukan PDB sangat besar dan berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi ( prime mover) karena kemampuannya dalam peningkatan nilai tambah yang tinggi. Selain itu industri juga dapat membuka peluang untuk menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan, yang berarti meningkatkan kesejahteraan serta mengurangi kemiskinan. Walau telah dicapai berbagai perkembangan yang cukup penting dalam pengembangan industri, namun dirasakan industri belum tumbuh seperti yang diharapkan. Permasalahan Pembangunan Nasional yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan memerlukan upaya penanganan yang terstruktur dan berkelanjutan, di antaranya meliputi: 1. Tingginya angka pengangguran dan kemiskinan; 2. Rendahnya pertumbuhan ekonomi; 7
22 3. Melambatnya perkembangan ekspor Indonesia; 4. Lemahnya sektor infrastruktur; 5. Tertinggalnya kemampuan nasional di bidang teknologi. Berbagai permasalahan pokok yang sedang dihadapi dalam mengembangkan sektor industri, yaitu: Pertama, ketergantungan yang tinggi terhadap impor baik berupa bahan baku, bahan penolong, barang setengah jadi maupun komponen. Kedua, keterkaitan antara sektor industri dengan ekonomi lainnya relatif masih lemah. Ketiga, struktur industri hanya didominasi oleh beberapa cabang industri yang tahapan proses industrinya pendek. Keempat, lemahnya penguasaan dan penerapan teknologi. Kelima, lebih dari 60 persen sektor industri terletak di Pulau Jawa. Keenam, masih lemahnya kemampuan kelompok industri kecil dan menengah. Dalam mengatasi permasalahan dalam mengembangkan sektor industri, isu-isu strategis hasil temu nasional di bidang perekonomian sebagai prioritas Kabinet Indonesia Bersatu II adalah: 1. Pembangunan Infrastruktur; 2. Ketahanan Pangan; 3. Ketahanan Energi; 4. Pengembangan UMKM; 5. Revitalisasi Industri dan Jasa; 6. Pembangunan Transportasi. Pembangunan sektor industri sebagai bagian dari pembangunan nasional dituntut mampu memberikan sumbangan yang berarti terhadap pembangunan ekonomi maupun sosial politik. Oleh karenanya, dalam penentuan tujuan pembangunan industri di masa depan, baik jangka menengah maupun jangka panjang, bukan hanya ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan kelemahan di sektor industri, tetapi juga harus mampu mengatasi permasalahan nasional. Dengan memperhatikan masalah nasional dan masalah yang sedang dihadapi oleh sektor industri, serta untuk mendukung 8
23 keberhasilan prioritas Kabinet Indonesia Bersatu, maka telah ditetapkan proses yang harus dilakukan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kementerian Perindustrian dan yang dikelompokkan ke dalam: 1) perumusan kebijakan; 2) pelayanan dan fasilitasi; serta 3) pengawasan, pengendalian, dan evaluasi yang secara langsung menunjang pencapaian sasaran-sasaran strategis yang telah ditetapkan, disamping dukungan kapasitas kelembagaan guna mendukung semua proses yang akan dilaksanakan. Pada pembangunan sektor industri, pemerintah berperan sebagai fasilitator yang mendorong dan memberikan berbagai kemudahan bagi aktivitas-aktivitas sektor swasta. Intervensi langsung Pemerintah dalam bentuk investasi dan layanan publik hanya dilakukan bila mekanisme pasar tidak dapat berlangsung secara sempurna. Arah kebijakan dalam Rencana Strategis mencakup beberapa hal pokok sebagai berikut: 1. Merevitalisasi sektor industri dan meningkatkan peran sektor industri dalam perekonomian nasional; 2. Membangun struktur industri dalam negeri yang sesuai dengan prioritas nasional dan kompetensi daerah; 3. Meningkatkan kemampuan industri kecil dan menengah agar terkait dan lebih seimbang dengan kemampuan industri skala besar; 4. Mendorong pertumbuhan industri di luar pulau Jawa; Mendorong sinergi kebijakan dari sektor-sektor pembangunan yang lain dalam mendukung pembangunan industri nasional. D. RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN Pada dokumen Laporan Kinerja 2015, Kementerian Perindustrian masih mengacu pada dokumen Rencana Strategis Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian No. 114/M-IND/PER/12/2013 dimana indikator kinerja utama dan target untuk tahun 2015 telah ditetapkan. Pengesahan dokumen Rencana Strategis periode tahun dilakukan pada bulan 9
24 Maret tahun 2015 dan akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Perkin tahun Renstra Kementerian Perindustrian dimaksudkan untuk merencanakan kontribusi yang signifikan bagi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010), Kebijakan Industri Nasional (Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (Undang-Undang Nomor 17 tahun 2007), serta disusun antara lain berdasarkan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra Kementerian Perindustrian periode , analisa terhadap dinamika perubahan lingkungan strategis baik tataran daerah, nasional, maupun di tataran global, serta perubahan paradigma peningkatan daya saing dan kecenderungan pengembangan industri ke depan. 1. Visi Kementerian Perindustrian Visi Pembangunan Industri Nasional Jangka Panjang (2025) adalah Membawa Indonesia pada tahun 2025 untuk menjadi Negara Industri Tangguh Dunia yang bercirikan: 1). Industri kelas dunia; 2). PDB sektor Industri yang seimbang antara Pulau Jawa dan Luar Jawa; 3). Teknologi menjadi ujung tombak pengembangan produk dan penciptaan pasar. Untuk menuju Visi tersebut, dirumuskan Visi tahun 2020 yakni Tercapainya Negara Industri Maju Baru sesuai dengan Deklarasi Bogor tahun 1995 antar para kepala Negara APEC. Sebagai Negara Industri Maju Baru, Indonesia harus mampu memenuhi beberapa kriteria dasar antara lain: 1). Kemampuan tinggi untuk bersaing dengan Negara industri lainnya; 2). Peranan dan kontribusi sektor industri tinggi bagi perekonomian nasional; 3). Kemampuan seimbang antara Industri Kecil Menengah dengan Industri Besar; 10
25 4). Struktur industri yang kuat (pohon industri dalam dan lengkap, hulu dan hilir kuat, keterkaitan antar skala usaha industri kuat); 5). Jasa industri yang tangguh. Berdasarkan Visi tahun 2020, kemampuan Industri Nasional diharapkan mendapat pengakuan dunia internasional, dan mampu menjadi basis kekuatan ekonomi modern secara struktural, sekaligus wahana tumbuh-suburnya ekonomi yang berciri kerakyatan. Visi tersebut di atas kemudian dijabarkan dalam visi lima tahun sampai dengan 2014 yakni: Pemantapan daya saing basis industri manufaktur yang berkelanjutan serta terbangunnya pilar industri andalan masa depan 2. Misi Kementerian Perindustrian Dalam rangka mewujudkan visi 2025 di atas, Kementerian Perindustrian sebagai institusi pembina Industri Nasional mengemban misi sebagai berikut: 1). Menjadi wahana pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat; 2). Menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi nasional; 3). Menjadi pengganda kegiatan usaha produktif di sektor riil bagi masyarakat; 4). Menjadi wahana memajukan kemampuan teknologi nasional; 5). Menjadi wahana penggerak bagi upaya modernisasi kehidupan dan wawasan budaya masyarakat; 6). Menjadi salah satu pilar penopang penting bagi pertahanan negara dan penciptaan rasa aman masyarakat; 7). Menjadi andalan pembangunan industri yang berkelanjutan melalui pengembangan dan pengelolaan sumber bahan baku terbarukan, pengelolaan lingkungan yang baik, serta memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi. 11
26 Sesuai dengan Visi tahun 2014 di atas, misi tersebut dijabarkan dalam misi lima tahun sampai dengan 2014 sebagai berikut: 1). Mendorong peningkatan nilai tambah industri; 2). Mendorong peningkatan penguasaan pasar domestik dan internasional; 3). Mendorong peningkatan industri jasa pendukung; 4). Memfasilitasi penguasaan teknologi industri; 5). Memfasilitasi penguatan struktur industri; 6). Mendorong penyebaran pembangunan industri ke luar pulau Jawa; 7). Mendorong peningkatan peran IKM terhadap PDB. 3. Tujuan Kementerian Perindustrian Pembangunan industri merupakan bagian dari pembangunan nasional, oleh sebab itu pembangunan industri harus diarahkan untuk menjadikan industri yang mampu memberikan sumbangan berarti bagi pembangunan ekonomi, sosial dan politik Indonesia. Pembangunan sektor industri, tidak hanya ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan kelemahan di sektor industri yang disebabkan oleh melemahnya daya saing dan krisis global yang melanda dunia saat ini saja, melainkan juga harus mampu turut mengatasi permasalahan nasional, serta meletakkan dasar-dasar membangun industri andalan masa depan. Secara kuantitatif peran industri ini harus tampak pada kontribusi sektor industri dalam Produk Domestik Bruto (PDB), baik kontribusi sektor industri secara keseluruhan maupun kontribusi setiap cabang industri. Maka dijabarkan tujuannya adalah kokohnya basis industri manufaktur dan industri andalan masa depan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. 4. Sasaran Kementerian Perindustrian Dalam mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan upaya-upaya sistemik yang dijabarkan ke dalam sasaran-sasaran strategis yang mengakomodasi perspektif pemangku kepentingan ( stakeholder), perspektif pelaksanaan 12
27 tugas pokok, dan perspektif peningkatan kapasitas kelembagaan. Dari hasil evaluasi kinerja pada periode tahun , terdapat perbaikan terhadap sasaran strategis dan indikator-indikator kinerja utama Kementerian Perindustrian. Sasaran strategis dan indikator kinerja utama yang telah diperbaiki ditetapkan melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 114 Tahun Sasaran strategis dan indikator kinerja utama tersebut sebagaimana diuraikan berikut ini. 1). Perspektif Pemangku Kepentingan (Stakeholder) (1). Sasaran Strategis I : Tingginya nilai tambah industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Laju pertumbuhan industri non migas; 2. Kontribusi industri pengolahan non migas terhadap PDB nasional. (2). Sasaran Strategis II : Tingginya penguasaan pasar dalam dan luar negeri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional. 2. Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total permintaan di pasar dalam negeri. (3). Sasaran Strategis III : Meningkatnya produktivitas SDM industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Tingkat produktivitas dan kemampuan SDM industri; (4). Sasaran Strategis IV : Tingginya kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Jumlah hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan; 2. Jumlah hasil penelitian dan pengembangan yang telah diimplementasikan. (5). Sasaran Strategis V : Kuat, lengkap dan dalamnya struktur industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Jumlah investasi di industri hulu dan antara; 13
28 2. Tingkat kandungan lokal. (6). Sasaran Strategis VI : Tersebarnya pembangunan industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Rasio PDB industri luar Jawa terhadap PDB industri Jawa; 2. Perbandingan jumlah IKM di luar Pulau Jawa dan Jawa. (7). Sasaran Strategis VII : Meningkatnya peran industri kecil dan menengah terhadap PDB, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Meningkatnya kontribusi PDB IKM terhadap PDB industri. 2). Perspektif Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) (1). Sasaran Strategis I: Tersusunnya kebijakan dan iklim usaha dalam mendukung pengembangan industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Rekomendasi kebijakan perpajakan dan tarif; 2. Rekomendasi kebijakan nonfiskal dan moneter sektor industri. (2). Sasaran Strategis II: Tersusunnya usulan insentif yang mendukung pengembangan industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Rekomendasi usulan insentif; 2. Perusahaan industri yang memperoleh insentif. (3). Sasaran Strategis III: Ditetapkannya rencana strategis dalam pengembangan industri prioritas dan industri daerah, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Jumlah Renstra & Renja; 2. Jumlah peta panduan kompetensi inti industri Kabupaten/Kota yang telah ditetapkan. (4). Sasaran Strategis IV: Berkembangnya R & D di instansi dan industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Kerjasama R&D instansi dengan industri. 14
29 (5). Sasaran Strategis V: Meningkatnya penerapan, pengembangan dan penggunaan Kekayaan intelektual, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Fasilitasi perlindungan HKI; 2. Persentase pengaduan pelanggaran HKI yang dapat ditangani. (6). Sasaran Strategis VI: Meningkatnya akses pembiayaan dan bahan baku untuk meningkatkan kapasitas produksi, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Tingkat utilisasi kapasitas produksi; 2. Perusahaan yang mendapat akses ke sumber pembiayaan; 3. Perusahaan yang mendapat akses ke sumber bahan baku. (7). Sasaran Strategis VII: Meningkatnya promosi industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Perusahaan yang mengikuti seminar/konferensi, pameran, misi dagang/investasi, promosi produk/jasa dan investasi industri; (8). Sasaran Strategis VIII: Meningkatnya kerjasama industri internasional, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Jumlah kesepakatan investasi industri; 2. Jumlah kesepakatan kerjasama industri internasional; 3. Jumlah jejaring kerja internasional. (9). Sasaran Strategis IX: Meningkatnya usulan penerapan SNI, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Rancangan SNI yang diusulkan 2. SNI yang diberlakukan secara wajib; 3. Peningkatan jumlah jenis produk yang sudah bisa diuji di laboratorium; 4. Satker yang terakreditasi untuk memberikan sertifikasi produk. (10). Sasaran Strategis X: Meningkatnya Pengembangan Industri Hijau, dengan Indikator Kinerja Utama: 15
30 1. Bertambahnya kebijakan yang mendukung pengembangan industri hijau; 2. Meningkatnya industri yang menerapkan industri hijau. (11). Sasaran Strategis XI: Meningkatnya kualitas pelayanan publik, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Tingkat kepuasan masyarakat; 2. Nilai indeks integritas dari KPK. (12). Sasaran Strategis XII: Meningkatnya kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaan, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Sertifikasi profesi guru; 2. Sertifikasi profesi dosen; 3. Sertifikasi asessor; 4. Program studi (prodi) pada unit pendidikan yang terakreditasi A dan B; 5. Terbentuknya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP); 6. Terbentuknya Tempat Uji Kompetensi (TUK); 7. Terbentuknya sistem pendidikan berbasis kompetensi; 8. Jumlah Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di sektor industri. (13). Sasaran Strategis XIII: Meningkatnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Terbangunnya Sistem Pengendalian Intern di unit kerja. (14). Sasaran Strategis XIV: Meningkatnya evaluasi pelaksanaan kebijakan dan efektifitas pencapaian kinerja industri, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Jumlah rekomendasi perbaikan kebijakan industri. 16
31 3). Perspektif Peningkatan Kapasitas Kelembagaan (1). Sasaran Strategis I: Berkembangnya kemampuan SDM aparatur yang kompeten, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Standar kompetensi SDM aparatur; 2. SDM aparatur yang kompeten. (2). Sasaran Strategis II: Terbangunnya organisasi yang professional dan probisnis, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Penerapan sistem manajemen mutu. (3). Sasaran Strategis III: Terbangunnya sistem informasi yang terintegrasi dan handal, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Tersedianya sistem informasi online; 2. Pengguna yang mengakses. (4). Sasaran Strategis IV: Meningkatnya kualitas perencanaan dan pelaporan, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Tingkat kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan dokumen perancanaan; 2. Tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan 3. Nilai SAKIP Kementerian Perindustrian. (5). Sasaran Strategis V: Meningkatnya sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional, dengan Indikator Kinerja Utama: 1. Tingkat penyerapan anggaran; 2. Tingkat kualitas laporan keuangan (WTP). 5. Arah Kebijakan dan Strategi Dalam rangka mewujudkan pencapaian sasaran-sasaran industri tahun , telah dibangun Peta Strategi Kementerian Perindustrian yang menguraikan peta-jalan yang akan ditempuh untuk mewujudkan visi
32 sebagaimana disebutkan di atas. Peta Strategi Kementerian Perindustrian tersaji pada Gambar 1.2 di bawah ini. Gambar 1.2. Peta Strategi Kementerian Perindustrian 18
33 Bab II Perencanaan Kinerja A. PERENCANAAN KINERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2015 Perencanaan kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2015 ini disusun melalui 2 (dua) tahapan perencanaan, yaitu tahapan penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun 2015 dan tahapan penyusunan Perjanjian Kinerja (Perkin) Tahun Dokumen Rencana Kinerja Tahunan Tahun 2015 disusun pada tahun anggaran 2014 dan dokumen Penetapan Kinerja (P erkin) Tahun 2015 ditetapkan pada awal tahun anggaran Perencanaan kinerja yang disusun dalam dokumen Rencana Kinerja Tahunan Tahun 2015 merupakan perencanaan yang sesuai dengan Peta Strategis Kementerian Perindustrian yang telah dituangkan dalam Rencana Strategis tahun dan dokumen Peta Strategi serta Indikator Kinerja Utama Kementerian Perindustrian sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 114 Tahun 2013 pada tanggal 27 Desember 2013 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 41/M- IND/PER/3/2010 tentang Peta Strategi dan Indikator Kinerja Utama Kementerian Perindustrian dan Unit Eselon I Kementerian Perindustrian. Dokumen penetapan Perjanjian Kinerja tahun 2015 disusun berdasarkan hasil evaluasi kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2014 sebagaimana diuraikan dalam dokumen LAKIP Kementerian Perindustrian tahun 2014 dan beberapa penyesuaian dengan ketersediaan anggaran yang disetujui dan tertuang dalam DIPA Kementerian Perindustrian Tahun Hasil evaluasi dan beberapa penyesuaian ini berdampak pada sasaran strategis, indikator kinerja maupun target yang ditetapkan dalam dokumen Penetapan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun Penyesuaian ini didasari dengan pertimbangan ketersediaan data dukung pengukuran indikator kinerja, rasionalitas ketercapaian target sasaran dan indiaktor kinerja serta kesesuaian 19
34 target dengan ketersediaan sumber daya baik sumber daya manusia, anggaran maupun sarana lain. Sasaran-sasaran strategis yang akan dicapai pada tahun 2015 dan ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2015 dengan penetapan anggaran sebagaimana dalam DIPA Kementerian Perindustrian Tahun Anggaran 2015 adalah sebagaimana pada tabel 2.1. Tabel 2.1. Perjanjian Kinerja (Perkin) Perspektif Stakeholders Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Satuan Tingginya nilai tambah industri Tingginya penguasaan pasar dalam dan luar negeri Meningkatnya produktivitas SDM industri Tingginya kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi Industri 1. Laju pertumbuhan industri nonmigas 6,00 Persen 2. Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional 1. Kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional 2. Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total permintaan di pasar dalam negeri 20,80 Persen 65 Persen 38 Persen 1. Tingkat produktivitas SDM industri Rupiah/ Tenaga kerja 1. Jumlah hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan 35 Hasil Litbang 2. Jumlah hasil penelitian dan pengembangan yang telah diimplementasikan 10 Hasil Litbang Kuat, lengkap dan dalamnya struktur industri Tersebarnya pembangunan industri 1. Jumlah investasi di industri hulu dan antara 900 Proyek 2. Tingkat Kandungan Lokal 500 Produk 1. Rasio PDB industri luar Jawa terhadap PDB industri Jawa 2. Perbandingan jumlah IKM di luar Pulau Jawa dan Jawa 27,73 : 72,27 Rasio 32 : 68 Rasio Meningkatnya peran industri kecil dan menengah terhadap PDB 1. Meningkatnya kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri 35 Persen 20
35 B. RENCANA ANGGARAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2015 Perjanjian kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2015 dengan sasaran strategis, indikator kinerja utama dan pentargetan yang telah ditetapkan pada tahun 2015, didukung dengan pembiayaan APBN sebesar Rp ,00. Anggaran tersebut dirinci berdasarkan program. Secara lengkap anggaran tersebut disajikan dalam Tabel 2.2. Tabel 2.2. Pagu Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2015 Berdasarkan Program (dalam ribu rupiah) No. Program Pagu Program Pengembangan SDM Industri dan Dukungan Manajemen Kementerian Perindustrian Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian Perindustrian Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Berbasis Agro Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Logam, Kimia, Tekstil dan Aneka Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Alat Transportasi, Mesin, Elektronika dan Alat Pertahanan Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kemenperin Program Pengembangan Teknologi dan Kebijakan Industri Program Penumbuhan dan Pengembangan Perwilayahan Persebaran Industri Program Pengamanan Industri dan Kerjasama Internasional Total
36 Bab III A. CAPAIAN KINERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2015 Capaian kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2015 merupakan pencapaian kinerja seluruh jajaran Kementerian Perindustrian dalam melakukan berbagai upaya melalui program dan kegiatan guna mencapai target yang telah ditetapkan pada tahun Capaian kinerja ini bukan hanya menguraikan capaian kinerja sebagaimana yang telah ditetapkan sebagai kontrak kinerja Menteri Perindustrian dalam dokumen Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2015, namun juga menguraikan capaian kinerja lain, yaitu kinerja makro sektor industri, kinerja program prioritas nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), kinerja program Kementerian Perindustrian, kinerja kelembagaan dan kinerja keuangan. Analisis pencapaian dilengkapi dengan pembandingan capaian dengan tahun sebelumnya serta dengan kinerja lainnya. Namun terdapat beberapa sasaran strategis maupun indikator kinerja utama yang tidak dapat diperbandingkan. Hal ini dikarenakan pada tahun sebelumnya tidak ditetapkan sebagai sasaran strategis atau indikator kinerja utama yang sama, serta dikarenakan ketidaktersediaan data. 1. Kinerja Sasaran Perjanjian Kinerja Tahun 2015 Kementerian Perindustrian Sebagaimana telah diperjanjikan dalam dokumen Perjanjian Kinerja tahun 2015, kinerja sasaran yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2015 mencakup 7 (tujuh) sasaran strategis dalam perspektif Pemangku Kepentingan ( Stakeholder) yang diukur melalui 12 (dua belas) indikator kinerja utama (IKU). Sebagaimana telah dijelaskan di bab sebelumnya bahwa pada sasaran kinerja yang tercantum dalam dokumen Perjanjian Kinerja Tahun 2015 Kementerian Perindustrian masih mengacu pada Renstra Hal ini dikarenakan dokumen Renstra tersusun di 22
37 triwulan III tahun Data capaian kinerja yang disajikan dalam laporan kinerja tahun 2015 ini dimungkinkan adanya perbedaan penyajian angka capaian dan data kinerja pada tahun-tahun sebelumnya karena memang terjadi pembaharuan data berdasarkan data pembaharuan dari sumber yang berkompeten seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan unit kerja Pusat Data dan Informasi (Pusdatin). a. Nilai Tambah Industri Nilai tambah industri dimaksud adalah nilai tambah dari hasil produksi yang merupakan selisih antara nilai output dengan nilai input. Sasaran strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama: 1). Laju pertumbuhan industri dengan target tahun 2015 sebesar 6,00 persen. 2). Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional dengan target pada tahun 2015 sebesar 20,80 persen. Laju pertumbuhan industri, diukur melalui penghitungan pertumbuhan nilai tambah dihitung dengan melihat tingkat pertumbuhan sektor industri non migas sesuai data dari BPS. Bila ditemukan ada nilai tambah yang menggabungkan industri dari direktorat yang berbeda, lakukan kesepakatan untuk membagi nilai tambah tersebut (gunakan sampai 5 digit nilai ISIC). Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional, diukur melalui penghitungan besaran persentase kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB Nasional (diperoleh dari nilai ISIC number kepala 3) agregasi dari 3 unit sektoral. Tabel Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Tingginya Nilai Tambah Industri Sasaran Strategis IKU 2015 Target Realisasi Capaian Satuan Tingginya Nilai Tambah Industri Laju pertumbuhan industri non-migas Kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB nasional 6,0 5,04 84 Persen 20,80 18,18 87,40 Persen 23
38 Tabel Capaian IKU dari Tingginya Nilai Tambah Industri Sasaran Strategis IKU Satuan Tingginya Nilai Tambah Industri Laju pertumbuhan industri Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional 111,97 94,81 85,43 82,50 84 Persen 89,44 104,25 98,33 84,81 87,40 Persen Tabel Realisasi IKU dari Tingginya Nilai Tambah Industri Sasaran Strategis IKU Satuan Tingginya Nilai Tambah Industri Laju pertumbuhan industri Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional 6,74 6,40 6,10 5,61 5,04 Persen 20,92 20,85 20,76 17,87 18,18 Persen Pencapaian target indikator laju pertumbuhan industri dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2014 terus mengalami penurunan. Capaian pada tahun 2011 sebesar 111,97 persen mengalami penurunan sampai tahun 2014 menjadi 82,50 persen. Namun pada tahun 2015, pencapaian target mengalami peningkatan menjadi sebesar 84 persen. Begitu juga dengan angka realisasi pertumbuhan industri, yang berangsur-angsur turun dari sebesar 6,74 persen pada tahun 2011, menjadi sebesar 6,40 persen pada tahun 2012 dan kembali turun pertumbuhannya hanya sebesar 6,10 persen pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 turun lagi hanya tumbuh sebesar 5,61 persen. Pada tahun 2015, realisasi pertumbuhan industri ini juga mengalami penurunan kembali sebesar 5,04 persen. Pada indikator kinerja utama kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional sampai dengan tahun 2015 memiliki kontribusi sebesar 18,18 persen. Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kontribusi industri manufaktur 24
39 terhadap PDB nasional mengalami peningkatan setelah pada tahun lalu hanya mencapai 17,87 persen. Capaian kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional sempat mengalami penurunan pencapaian dari target yang telah ditetapkan dari tahun 2012 sebesar 104,25 persen hingga 2014 mencapai 84,81 persen. Sedangkan pada tahun 2015, capaian indikator ini meningkat yaitu sebesar 87,40 persen. Nilai kontribusi industri pengolahan khususnya industri pengolahan nonmigas yang selalu terbesar dibanding dengan lapangan usaha lain ini menjadi bukti pentingnya peranan sektor industri sebagai penggerak perekonomian nasional. Hal ini sekaligus menjadi pendorong bagi Kementerian Perindustrian untuk selalu fokus dan berkinerja secara maksimal dan terbaik. Tabel Peran Sektor Industri Terhadap PDB Nasional (Persen) (tahun dasar 2010) No Lapangan Usaha * 2015** 1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan ,52 2 Pertambangan dan Penggalian ,62 3 Industri Pengolahan ,84 a. Industri Migas ,67 b. Industri Non Migas ,18 4 Pengadaan Listrik dan Gas ,14 5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang ,07 6 Konstruksi ,34 7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor ,29 8 Transportasi dan Pergudangan ,02 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum ,96 10 Informasi dan Komunikasi ,53 11 Jasa Keuangan dan Asuransi ,03 12 Real Estate ,86 13 Jasa Perusahaan ,65 14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib ,91 15 Jasa Pendidikan ,37 25
40 No Lapangan Usaha * 2015** 18 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial ,07 17 Jasa lainnya ,65 Total PDB Sumber: BPS diolah Kemenperin; * Data Sementara; ** Data sangat sementara Lapangan usaha yang menjadi kontributor terbesar setelah industri pengolahan pada tahun 2015 adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 13,52 persen, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 13,29 persen, sektor konstruksi sebesar 10,34 persen dan sektor pertambangan dan penggalian yang menyumbang sebesar 7,62 persen. Secara umum terjadi pertumbuhan di beberapa sektor lapangan usaha, namun berdasarkan analisa per sektor akan terlihat beberapa lapangan usaha mengalami perlambatan. Perlambatan beberapa lapangan usaha ini dapat disebabkan karena beberapa hal, diantaranya sebagai berikut: 1). Turunnya nilai mata uang rupiah kepada USD Melemahnya rupiah mengakibatkan beberapa sektor menjadi sulit untuk kompetitif khususnya yang tergantung pada produk-produk impor. Keuntungan yang harusnya diterima oleh para eksportir pun tidak dapat meningkatkan neraca transaksi berjalan akibat industri manufaktur yang belum efisien dan berdaya saing. 2). Turunnya harga komoditas dunia Melemahnya harga-harga komoditas dunia sebagai akibat melemahnya permintaan di China dan Negara-negara utama Eropa mengakibatkan industri yang mengandalkan harga komoditas mengalami pelemahan permintaan. 26
41 3). Pemberlakuan UU Minerba Pada 11 Januari 2014, presiden SBY menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun Peraturan itu merupakan tindak lanjut dan peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Dimana undang-undang tersebut mewajibkan semua perusahaan tambang membangun smelter dan dilarang untuk mengekspor bahan mentah. Hal ini bertujuan untuk menaikkan nilai tambah berupa nilai ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan. Akibat dari kebijakan tersebut, sehingga terjadi perlambatan pada sektor industri migas sebesar 1,76 persen. Penjelasan mengenai peranan cabang-cabang industri terhadap laju pertumbuhan dan kontribusinya terhadap PDB nasional lebih lanjut dijelaskan dalam Kinerja Makro Industri Non Migas. b. Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri Penguasaan pasar di dalam negeri yang dimaksudkan adalah untuk meningkatkan penjualan produk dalam negeri dibanding dengan seluruh pangsa pasar. Sedangkan penguasaan pasar di luar negeri dimaksudkan untuk meningkatkan nilai ekspor produk industri sehingga dapat meningkatkan rasio/perbandingan nilai ekspor industri terhadap nilai ekspor keseluruhan. Sasaran strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama: 1). Kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional dengan target pada tahun 2015 sebesar 65 persen. 2). Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total permintaan di pasar dalam negeri dengan target pada tahun 2015 sebesar 38 persen. Kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional, diukur melalui penghitungan perbandingan nilai ekspor total produk industri terhadap nilai total ekspor nasional setiap tahunnya (data dari BPS). 27
42 Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total permintaan di pasar dalam negeri, diukur melalui penghitungan nilai perbandingan pangsa produk industri nasional di dalam negeri. Tabel Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri Sasaran Strategis IKU 2015 Target Realisasi Capaian Satuan Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri Kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional Meningkatnya pangsa pasar ekspor produk industri nasional Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total permintaan di pasar dalam negeri Ket: (-) Indikator pada tahun tersebut tidak digunakan lagi ,98 109,2 Persen - Persen 38 46,00 121,08 Persen Tabel Capaian IKU dari Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri Sasaran Strategis IKU Satuan Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri Kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional Meningkatnya pangsa pasar ekspor produk industri nasional Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total permintaan di pasar dalam negeri - 96,78 100,73 109,18 Persen 43, Persen 121,91 140,11 149,92 121,08 Persen Ket: (-) Indikator pada tahun tersebut tidak digunakan lagi 28
43 Tabel Realisasi IKU dari Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Negeri Sasaran Strategis IKU Satuan Tingginya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri Kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional Meningkatnya pangsa pasar ekspor produk industri nasional Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total permintaan di pasar dalam negeri 61,21 61,94 66,48 70,97 Persen 6, Persen 42,67 50,44 55,47 46,00 Persen Ket: (-) Indikator pada tahun tersebut tidak digunakan lagi. Untuk indikator kinerja utama meningkatnya pangsa pasar ekspor produk industri nasional tidak digunakan sebagai IKU pada tahun 2013 sampai tahun IKU ini diperbaiki dengan menggunakan IKU kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional. Pada tahun 2013 pencapaian target indikator kinerja utama kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional tidak tercapai yaitu hanya sebesar 96,78 persen, namun pada tahun 2014 terjadi peningkatan capaian menjadi 100,73 persen dan meningkat lagi di tahun 2015 dengan capaian sebesar 109,2 persen. Jika dilihat dari sisi ketercapaian target dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 memang indikator ini tidak bergerak konsisten, namun dari sisi realisasi kontribusi produk ekspor industri terhadap ekspor nasional mengalami peningkatan dari tahun 2012 sampai dengan tahun Nilai ekspor produk industri non migas pada tahun 2015 mencapai USD 131,7 Miliar yang memberikan kontribusi sebesar 87,65 persen dari total ekspor nasional. Nilai ekspor tersebut mengalami penurunan sebesar 9,77 persen dibandingkan dengan nilai ekspor produk industri non migas pada periode yang sama tahun 2014 yang mencapai USD 145,96 Miliar. Pada periode tahun 2015, industri pengolahan kelapa/kelapa sawit memiliki kontribusi tertinggi sebesar 29
44 19,45 persen atau sebesar USD 20,7 Miliar. Sedangkan industri pengolahan tembaga, timah, dll. menjadi industri dengan kontribusi terendah, yaitu 3,39 persen atau dengan nilai sebesar USD 3,6 Miliar. 30 Bila dibandingkan dengan periode sebelumnya, komoditi peng. Emas, perak, logam mulia, perhiasan, dll. menjadi komoditi dengan perubahan tertinggi atau sekitar 28,60 persen dengan nilai sebesar USD 4,72 Miliar setelah pada tahun lalu hanya USD 3,67 Miliar. Berbanding terbalik dengan komoditi kimia dasar dengan perubahan terendah atau mengalami penurunan sebanyak 27,22 persen, dengan nilai sebesar USD 4,15 Miliar setelah pada tahun sebelumnya mencapai USD 5,70 Miliar. Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kinerja ekspor terutama dalam era perdagangan bebas, maka industri perlu terus dipacu antara lain melalui promosi kemampuan produk dalam negeri kepada para calon buyer dan investor baik dalam maupun luar negeri, baik melalui pameran dalam negeri maupun keikutsertaan dalam pameran internasional. Pada Industri Kimia, Tekstil dan Aneka, kegiatan pameran diprioritaskan untuk komoditas unggulan ekspor, yaitu industri tekstil, garmen, barang kulit, dan alas kaki. Beberapa pameran tersebut berhasil mengundang stakeholder penting di komoditasnya seperti pada Gelar Sepatu Kulit dan Fashion 2015 dan Pameran Industri Kosmetik dan Jamu. Selain itu dalam memenuhi arahan Presiden Indonesia diadakannya Pameran Dalam Rangka Memperingati 70 Tahun Indonesia Merdeka yang menampilkan produk kosmetik, bahan galian non logam, alas kaki dan tekstil, peetrokimia dan pupuk, serta ban dan produk karet. Tabel Pertumbuhan Industri Pengolahan Non-Migas Menurut Cabang-Cabang Industri Tahun Dasar 2010 NO. KELOMPOK KOMODITI % Perub % Peran Pengolahan Kelapa/Kelapa Sawit , , ,1-12,51 19,45 2 Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif , , ,2-8,67 13,54
45 3 T e k s t i l , , ,6-3,60 11,50 4 Elektronika 8.520, , ,7-14,42 6,47 5 Pengolahan Karet 9.724, , ,4-17,69 5,79 6 Kimia Dasar 5.083, , ,7-27,22 3,89 7 Makanan dan Minuman 5.379, , ,0 0,77 5,25 8 Pulp dan Kertas 5.644, , ,6-3,02 5,00 9 Pengolahan Kayu 4.727, , ,6-0,30 4,86 10 Pengolahan Tembaga, Timah dll , , ,3-25,93 3, Kulit, Barang Kulit dan Sepatu/Alas Kaki Peng. Emas, Perak, Logam Mulia, Perhiasan dll , , ,4 12,84 4, , , ,7 28,60 4,43 12 Besar Hasil Industri , , ,4-8,46 87,92 Industri Lainnya , , ,5-13,59 12,08 INDUSTRI PENGOLAHAN , , ,8-9,11 100,00 Peran komoditi yang tertinggi adalah komoditi pengolahan kelapa/kelapa sawit. Potensi pengembangan industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia cukup besar. Hal ini didukung dengan luas perkebunan kelapa sawit sampai dengan tahun 2015 sekitar 10,6 Juta ha; dengan komposisi kepemilikan sebagai berikut: (i). Perkebunan Rakyat: 4,6 Juta ha (42 persen), (ii). Perkebunan Besar Swasta: 5,3 Juta ha (51 persen), dan (iii). Perkebunan Negara: 0,7 Juta ha (7 persen). Untuk dapat mengurangi ekspor minyak sawit mentah ( Crude Palm oil/cpo) Pemerintah terus mendorong agar hilirisasi minyak sawit dilakukan, salah satunya dengan memberikan rangsangan seperti insentif fiskal industri sawit yang menghasilkan produk turunan CPO. Produk hilir minyak sawit nasional yang dapat dihasilkan, antara lain: a) Oleochemical/ Nonpangan a.l. fatty acid, fatty alcohol, sabun, kosmetik, dsb dengan kapasitas produksi mencapai 1,5 Juta ton/tahun; dan b) Bioenergy a.l. biodiesel (FAME), Green Diesel, Biojet fuel, bioethanol, Biomass dengan kapasitas produksi mencapai 7,2 Juta Ton. Dalam rangka pengembangan industri oleokimia, kemurgi dan minyak atsiri, telah dilaksanakan Third Senior Official Meeting (3rd SOM) pembentukan 31
46 CPOPC ( Council of Palm Oil Producing Countries). sebagai tindak lanjut acara tersebut khususnya dalam rangka percepatan pembangunan POIZ (Palm Oil Industrial Zone), melakukan: Kementerian Perindustrian sesuai tugas dan fungsi, akan a) Tim Indonesia dan Malaysia akan menentukan calon lokus POIZ di masingmasing Negara sebagai Global Palm Oil Hub untuk pengembangan industri hilir minyak sawit. b) Tim Indonesia dan Malaysia akan mengadakan studi pemasaran (market study) dan penentuan jenis industry potensial di masing- masing Global Palm Oil Hub. Masing- masing pihak akan melakukan pertukaran informasi dan akan dibahas bersama pada pertemuan TWG GEZ. c) Pihak Indonesia, bekerja sama dengan konsultan kelas internasional BCG (Boston Consulting Group), akan melakukan kajian penentuan Lokus POIZ berdasarkan pemetaan potensi bahan baku, ketersediaan lahan untuk ekspansi, fasilitas pelabuhan laut dalam, dan potensi lainnya. Berdasarkan revieu sementara, Indonesia mengusulkan Kawasan Industri Dumai Riau sebagai Global Palm Oil Hub. d) Kementerian Perindustrian akan melakukan kajian peta lokasi, kunjungan ke lokasi, dan benchmarking di kawasan industri Dumai Riau sebagai calon Lokus POIZ terkait dengan ketersediaan lahan, fasilitas/ insentif dalam kerangka Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan urgensi pembentukan regulas i khusus untuk mempercepat pembangunan POIZ. c. Meningkatnya Produktivitas SDM Industri Produktivitas SDM industri sebagai faktor penunjang industri nasional untuk mendukung tercapainya tujuan industri. Sasaran strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama tingkat produktivitas SDM industri dengan target pada tahun 2015 sebesar Rp ,00 per tenaga kerja. 32
47 Tingkat produktivitas SDM industri, diukur melalui penghitungan pembagian antara Nilai output dibagi jumlah Tenaga Kerja di sektor Industri yang bersangkutan Tabel Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Meningkatnya Produktivitas SDM Industri 2015 Sasaran Strategis IKU Target Realisasi Capaian Ribu Rupiah/Tenaga Kerja Persen Meningkatnya Produktivitas SDM Industri Tingkat produktivitas SDM industri ,25 Sumber: data olah Kemenperin Tabel Capaian IKU dari Meningkatnya Produktivitas SDM Industri Sasaran Strategis IKU Satuan Meningkatnya Produktivitas SDM Industri Tingkat produktivitas SDM industri 87,98 93,60 106,62 119,54 127,25 Persen Sumber: BPS, diolah Kemenperin Ket: - Data produktivitas tenaga kerja terkini sampai dengan tahun Untuk realisasi tahun 2014 dan 2015, data diolah oleh Kemenperin. Tabel Realisasi IKU dari Meningkatnya Produktivitas SDM Industri Sasaran Strategis IKU Satuan Meningkatnya Produktivitas SDM Industri Tingkat produktivitas SDM industri Ribu Rupiah/TK Nilai produktifitas tenaga kerja pada tahun 2011 s.d 2013 didapatkan dari data BPS. Sedangkan untuk tahun 2014 dan 2015 nilai produktifitas didapatkan dengan perhitungan seperti diatas. Dan penghitungan angka produktivitas 33
48 tenaga kerja ini berbeda dengan angka yang dilaporkan dalam laporan kinerja tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya pembaharuan data dari BPS, dari angka sangat sementara menjadi angka yang lebih mendekati riil. Dilihat dari aspek pencapaian target, dari tahun 2013 capaian indikator melampaui target yang telah ditetapkan sebesar ribu rupiah/tenaga kerja. Dari target sebesar Rp ,00 per tenaga kerja, yang terjadi pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 adalah peningkatan produktivitasnya mencapai lebih dari Rp ,- per tenaga kerja. Menurut data APO Productivity Databook 2015, tingkat produktivitas tenaga kerja Indonesia berdasarkan PDB per pekerja menempati peringkat ke empat ASEAN dengan nilai produktivitas sebesar USD 21,9 Ribu atau setara dengan ribu rupiah/tenaga kerja dengan kurs I USD = ,-. Dengan pendekatan rumus perhitungan diatas, capaian tingkat produktivitas SDM industry tahun 2015 adalah sebesar ribu rupiah/tenaga kerja. Hasil tersebut tidak berbeda secara signifikan dengan data yang dikeluarkan oleh APO. Adapun langkah langkah yang perlu dilaksanakan untuk meningkatkan produktivitas SDM industri adalah: 1. Penyusunan RSKKNI SDM Industri 2. Bantuan Mesin/Peralatan guna mendukung pengembangan kemampuan SDM Industri dengan mendukung pelatihan ini dan meningkatkan produktivitas industri melalui percepatan produksi. 3. Peningkatan kemampuan soft skill SDM industri 4. Pembangunan Center of Excellence Industri sebagai pusat pengembangan industri d. Tingginya Kemampuan Inovasi dan Penguasaan Teknologi Industri Inovasi dimaksud adalah kreativitas untuk menciptakan produk baru sebagai hasil penelitian dan pengembangan teknologi terapan, dan penelitian 34
49 dari berbagai sektor lainnya. Sasaran strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama: 1). Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan dengan target sebesar 35 penelitian. 2). Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diterapkan dengan target 10 penelitian. Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan, diukur melalui penghitungan jumlah hasil penelitian dan pengembangan (khusus yang dikerjakan oleh Balai Besar dan Baristand Industri). Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diterapkan, diukur melalui penghitungan jumlah teknologi sebagai hasil penelitian yang sudah diterapkan dan dimanfaatkan industri atau IKM dan telah masuk dalam skala pabrik/manufaktur. Pada TA telah dihasilkan 200 (dua ratus) hasil litbang dan bila dijumlahkan selama tahun 2011 sampai tahun 2015 terdapat (seribu enam puluh delapan) penelitian yang dilaksanakan oleh Balai Besar dan Baristand Industri atau 86,99% dari target yang ditetapkan. Dari seluruh penelitian tersebut terdapat hasil litbang yang siap diterapkan dan telah diterapkan dengan kriteria yang telah ditetapkan Target Realisasi Target Realisasi Gambar 3.1 Hasil litbang
50 Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan, diukur melalui penghitungan jumlah hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh Balai Besar dan Baristand Industri. Kriteria hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan adalah merupakan hasil litbang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (tahun 2011 sampai dengan tahun 2015) yang telah dilakukan pilot project atau telah dihitung tekno meternya, atau telah memiliki mitra usaha/industri untuk menerapkan hasil litbang tersebut. Hasil litbang yang siap diterapkan pada tahun 2015 sebanyak 62 (enam puluh dua) penelitian. Tabel Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Tingginya Kemampuan Inovasi dan Penguasaan Teknologi Industri Sasaran Strategis IKU 2015 Target Realisasi Capaian Satuan Tingginya kemampuan Inovasi dan penguasaan teknologi Industri Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diterapkan ,14 Penelitian Penelitian Tabel Capaian IKU Tingginya Kemampuan Inovasi dan Penguasaan Teknologi Industri Sasaran Strategis IKU Satuan Tingginya kemampuan Inovasi dan penguasaan teknologi Industri Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diterapkan 74,40 103,09 110,34 206,67 177,14 Persen 38,00 103,13 95,56 370, Persen 36
51 Tabel Realisasi IKU Tingginya Kemampuan Inovasi dan Penguasaan Teknologi Industri Sasaran Strategis IKU Satuan Tingginya kemampuan Inovasi dan penguasaan teknologi Industri Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diterapkan Penelitian Penelitian Target Capaian Gambar 3.2. Perkembangan Jumlah Hasil Penelitian dan Pengembangan yang Siap Diterapkan Tahun Untuk tahun 2015 jumlah hasil litbang yang siap diterapkan realisasinya sama dengan TA. 2014, dan cenderung menurun bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena berkurangnya alokasi anggaran dan diperketatnya kriteria dalam rangka peningkatan kualitas hasil litbang. Hal ini menyebabkan pengembangan hasil litbang untuk sampai pada tahap siap diterapkan cenderung terhambat. Untuk itu perlu pengembangan Sumber Daya (anggaran, SDM, dan infrastruktur) untuk mendukung terwujudnya hasil linbang yabg berkualitas. 37
52 Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diterapkan, diukur melalui penghitungan hasil litbang dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir (2011 s/d 2015) yang telah diterapkan pada dunia usaha/industri dan telah masuk dalam skala pabrik/manufaktur. Hasil litbang tersebut telah digunakan untuk berproduksi oleh industri dan sudah ada bukti kerja sama/mou Target Realisasi Gambar 3.3. Perkembangan Jumlah Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diterapkan Tahun Pada tahun 2015 sebanyak 35 (ti ga puluh lima) hasil litbang telah diimplementasikan pada industri. Realisasi tersebut telah melampaui target, namun jumlahnya menurun bila dibandingkan dengan realisasi TA Pemanfaatan litbang oleh sektor industri sangat bergantung pada kualitas hasil litbang dan pemasaran/publikasi hasil litbang oleh Balai Besar dan Baristand Industri pada dunia industri. Selain itu, penelitian dan pengembangan perlu didorong untuk lebih aplikatif sampai dengan skala industri agar dapat memenuhi kebutuhan teknologi dunia usaha/industri. 38
53 Tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi industri adalah: 1. Perlu peningkatan sumber daya litbang (SDM, sarana, dan prasarana litbang) dari kualitas dan kuantitas; 2. Peneliti perlu didorong dan difasilitasi untuk mengikuti pelatihan di bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan peningkatkan kompetensi SDM; 3. Mayoritas pelaku industri masih tergantung teknologi dari luar negeri; 4. Masih terdapat peneliti/perekayasa maupun pelaku industri yang belum memahami pentingnya HKI dan cara mendaftarkan HKI. 5. Keterbatasan akses terhadap sumber-sumber informasi, teknologi, dan pelayanan litbang teknologi; 6. Rendahnya kerja sama atau kolaborasi litbang antar lembaga litbang pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Industri. Langkah - langkah yang telah dilakukan dalam meningkatkan kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi industri antara lain : 1. Mempertajam fokus litbang lindustri yang berorientasi pada pemetaan kebutuhan usaha dan penyusunan rencana litbangyasa akanmengacu pada Industri Prioritas yang ditetapkan dalam RIPIN. 2. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas litbang industri dengan memperkuat SDM, kelembagaan intermediasi, dan sarana litbang; 3. Memperkuat kompetensi inti dan bersama Balai; 4. Meningkatkan komersialisasi hasil litbang teknologi; 5. Meningkatkan networking (jejaring) dengan lembaga/institusi dalam dan luar negeri serta pelaku industri; e. Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri Struktur industri dimaksud adalah perimbangan antara industri hulu dan industri antara serta bagaimana kemampuan kandungan lokal digunakan dalam produksi. Sasaran strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama: 39
54 1). Jumlah investasi baru di industri hulu dan antara dengan target pada tahun 2015 sebesar 900 proyek. 2). Produk industri dengan TKDN > 40 persen dengan target pada tahun 2015 sebanyak 500 produk. Jumlah investasi baru di industri hulu dan antara, diukur melalui penghitungan jumlah proyek yang dikerjakan di masing-masing sektor untuk mengisi ( invest) pada industri -industri sebelum industri hilir. Produk industri dengan TKDN > 40 persen, diukur melalui penghitungan jumlah produk dengan nilai TKDN lebih dari 40 persen. Tabel Target dan Realisasi Tahun 2015 IKU dari Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri Sasaran Strategis IKU 2015 Target Realisasi Capaian Satuan Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri Jumlah investasi baru di industri hulu dan antara Produk industri dengan TKDN > 40 persen ,78 Proyek ,6 Produk 40
55 Tabel Capaian IKU dari Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri Sasaran Strategis IKU Satuan Jumlah investasi baru di industri hulu dan antara ,13 472, ,78 Persen Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri Produk industri dengan TKDN > 40 persen Tumbuhnya Industri Dasar Hulu (Logam dan Kimia) Tumbuhnya Industri Komponen automotive, elektronika dan permesinan Ket: (-) Indikator pada tahun tersebut tidak digunakan lagi ,40 142,00 343,6 Persen 384,12 142, Persen 109,38 96, Persen Tabel Realisasi IKU dari Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri Sasaran Strategis IKU Satuan Kuat, Lengkap dan Dalamnya Struktur Industri Jumlah investasi baru di industri hulu dan antara Produk industri dengan TKDN > 40 persen Ket: (-) Indikator pada tahun tersebut tidak digunakan lagi Proyek Produk Untuk 2 indikator tumbuhnya industri dasar hulu (logam dan kimia) dan indikator tumbuhnya industri komponen automotive, elektronika dan permesinan sudah tidak digunakan sebagai indikator pengukuran karena telah 41
56 diperbaiki dengan 2 indikator yaitu indikator jumlah investasi baru di industri hulu dan antara dan indikator produk industri dengan TKDN > 40 persen. Pada indikator jumlah investasi baru di industri hulu dan antara, pencapaian sangat jauh melampaui targetnya yaitu sebesar 1078,78 persen. Begitupula dalam pencapaian indikator produk industri dengan TKDN > 40 persen juga sangat melampaui target yaitu sebesar 343,6 persen. Dari target jumlah investasi baru di industri hulu dan antara sebesar 900 proyek, yang dapat terealisasi sepanjang tahun 2015 adalah sebanyak 9707 proyek. Hasil realisasi tersebut merupakan jumlah proyek PMA dan proyek PMDN pada tahun 2015 yaitu terdiri atas 7184 Proyek PMA dan 2525 Proyek PMDN. Sedangkan pada indikator produk industri dengan TKDN > 40 persen dengan target 500 produk, yang dapat terealisasi adalah sebanyak 1718 produk. Hasil realisasi ini merupakan jumlah dari produk yang TKDN > 40 persen dan yang disertifikasi baik oleh Kementerian Perindustrian maupun oleh pihak swasta. Investasi PMDN di tahun 2015 mencapai 2525 proyek dengan nilai investasi mencapai Rp 89,04 Triliun atau tumbuh sebesar 50,84 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp. 59,03 Triliun. Bila dilihat dari nilai investasi, industri makanan merupakan industri dengan nilai investasi tertinggi, sebesar Rp 24,53 Triliun, disusul oleh industri kimia dan farmasi sebesar Rp 20,71 Triliun dan industri mineral non logam sebesar Rp 20,50 Triliun. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain merupakan industri dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 118,49 persen, disusul oleh industri kayu sebesar 102,58 persen, dan industri tekstil sebesar 87,71 persen. Sedangkan investasi PMA di tahun 2015 mencapai 7184 proyek dengan nilai investasi sebesar US$ 11,76 Miliar atau menurun sebesar 9,65 persen bila dibandingan dengan tahun sebelumnya dengan capaian nilai investasi sebesar US$ 13,01 Miliar dan proyek. Bila dilihat dari total investasi, industri logam, mesin, dan elektronik merupakan industri dengan capaian tertinggi yaitu sebesar US$ 3,09 Miliar, disusul oleh industri kimia dan farmasi sebesar 42
57 US$ 1,95 Miliar, dan industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain sebesar US$ 1,75 Miliar. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, industri mineral non logam menjadi industri dengan pertumbuhantertinggi, yaitu sebesar 42,09 persen, disusul kemudian industri karet dan plastik sebesar 27,68 persen, dan industri logam, mesin, dan elektronik sebesar 25,10 persen. Sedangkan untuk IKU produktifitas dengan TKDN > 40 persen, sampai dengan tahun 2015 melampaui target yang diharapkan. Dari target 500 produk terealisasi produk dengan TKDN > 40 persen. Produk yang dihasilkan merupakan produk industri yang telah diverifikasi TKDN-nya oleh Kementerian Perindustrian. Hasil verifikasi ini kemudian akan ditetapkan secara formal oleh Kementerian Perindustrian. Capaian ini salah satunya didukung oleh programprogram yang mendorong industri dan masyarakat melalui program P3DN. Kedua indikator ini baru ditetapkan pada tahun menggantikan indikator tumbuhnya industri logam dasar, besi dan baja; dan tumbuhnya industri alat angkut, mesin, dan peralatannya. Dari Sektor industri kimia, tekstil dan aneka, agenda peningkatan TKDN pada tahun 2015, yakni Produk Industri yang tersertifikasi pada Tingkat Komponen Dalam Negeri sebanyak 683 sertifikat dimana sebanyak 350 sertifikat dibiayai oleh Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka. Sementara itu 333 sertifikat lainnya merupakan hasil realisasi pengajuan perusahaan yang mandiri kepada Surveyor Independen yang telah ditunjuk dan realisasi anggaran dari Pagu DIPA Ditjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka. Agenda lain untuk mendukung peningkatan penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang/jasa pemerintah ialah kegiatan Business Matching yang mempertemukan antara sisi supply (industri dan asosiasi) dengan sisi demand (Kementerian/Lembaga yang memiliki belanja barang/modal terbesar pada struktur APBN) yaitu Kementerian ESDM, Perhubungan, Pekerjaan Umum, BUMN, Pendidikan, Kesehatan, Pertahanan, dan Pertanian). Selain itu, suatu peraturan mengenai pengadaan barang/jasa dari produk dalam negeri 43
58 yang ditelah dibuat, perlu diawasi agar penerapannya optimal, maka dilakukan MoU antara Kementerian Perindustrian dengan BPKP tentang Pengawasan Pelaksanaan P3DN Nomor 346/M-IND/7/2015 dan Nomor MoU-4/K/D1/2015, tanggal 9 Juli 2015 di Istana Wakil Presiden. Pencitraan merupakan salah satu kunci penting dalam membentuk opini publik. Menyadari hal tersebut, Ditjen IKTA juga menganggarkan kegiatan Pencitraan P3DN melalui media televisi dan radio. Kegiatan ini menghasilkan output berupa Sosialisasi dan Promosi di media cetak dan elektronik seperti pembuatan iklan di televisi dan papan iklan. Pada kegiatan ini tidak terdapat kendala berarti, hanya untuk tindak lanjut di tahun berikutnya perlu adanya peningkatan komunikasi dengan seluruh industri khususnya peserta business matching agar hasil yang didapatkan lebih baik dari tahun ini. f. Tersebarnya Pembangunan Industri Perbandingan penyebaran industri di Jawa dan di luar Jawa. Sasaran strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama: 1). Rasio PDB industri luar Jawa terhadap PDB industri Jawa dengan target pada tahun 2015 sebesar 27,73 : 72,27. 2). Perbandingan jumlah IKM di Pulau Jawa dan luar Jawa dengan target pada tahun 2015 sebesar 62 : 38. Rasio PDB industri luar Jawa terhadap PDB industri Jawa, diukur melalui penghitungan perbandingan jumlah PDRB industri seluruh provinsi di luar Jawa dibandingkan dengan di Jawa setiap tahunnya Perbandingan jumlah IKM di Pulau Jawa dan luar Jawa, diukur melalui penghitungan perbandingan jumlah industri kecil dan menengah yang ada di Pulau Jawa dibandingkan dengan di luar Pulau Jawa setiap tahunnya. Industri kecil dan menengah dibagi berdasarkan jumlah tenaga kerja dan nilai investasi. 44
59 Besarannya ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dalam draf peraturan yang sedang disusun sebagai berikut: Industri kecil: tenaga kerja 1-19 orang; nilai investasi s.d Rp 500 Juta Industri menengah: tenaga kerja orang; nilai investasi Rp 500 Juta s.d Rp 10 Miliar Tabel Target dan Realisasi Tahun 2015 dari Tersebarnya Pembangunan Industri Sasaran Strategis IKU 2015 Target Realisasi Capaian Satuan Tersebarnya Pembangunan Industri Rasio PDB industri luar Jawa terhadap PDB industri Jawa Perbandingan jumlah IKM di Pulau Jawa dan luar Jawa 27,73: 72,27 28,97 : 71,03 104,47 Rasio 68 : 32 61,2 : 38,8* 121,25* Rasio Ket: - Pada IKU Rasio PDB industri luar Jawa terhadap PDB industri Jawa, data terkini baru sampai dengan tahun (*) data sementara Tabel Realisasi IKU dari Tersebarnya Pembangunan Industri Sasaran Strategis IKU Tersebarnya pembangunan Industri Rasio PDB industri luar Jawa terhadap PDB industri Jawa (rasio) 22,83 : 77,17 23,13 : 76,87 27,36 : 72,64 27,36 : 72,64 28,97 : 71,03 Perbandingan jumlah IKM di Pulau Jawa dan luar Jawa (rasio) 65,04 : 34,96 64,34 : 35,66 62,39 : 37,61 62,27 : 37,73 61,2 : 38,8 Sumber: BPS, diolah Kemenperin Pencapaian target sasaran strategis ini tercapai untuk indikator Rasio PDRB industri di luar Pulau Jawa terhadap PDRB industri di Jawa maupun realisasi 45
60 perbandingan jumlah IKM di Pulau Jawa dan Luar Jawa. Dari target di tahun 2015 sebesar 27,73 persen, PDB industri di luar Pulau Jawa meningkat dari sebesar 27,36 persen pada tahun 2014 menjadi 28,97 persen pada tahun Sedangkan jumlah IKM di luar pulau Jawa dari sebesar 37,73 persen pada tahun 2014 naik menjadi 38,8 persen di tahun 2015 dari target rasio jumlah IKM di Jawa dan luar Jawa sebesar 68 : 32. Tabel Kontribusi sektor Industri Manufaktur di Jawa dan Luar Jawa (Dalam Persen) Wilayah Jawa Luar Jawa Nasional 73,41 73,07 72,78 72,64 71,03 26,59 26,93 27,22 27,36 28,97 100,00 100,00 100,00 100, Sumber : BPS, diolah Kemenperin Dalam 3 tahun terakhir menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya peranan sektor industri manufaktur di luar Pulau Jawa. Kondisi yang diharapkan adalah secara perlahan-lahan kontribusi sektor industri manufaktur di luar Pulau Jawa meningkat sehingga dalam jangka panjang yaitu pada tahun 2025 kontribusinya menjadi sekitar 40 persen. Tercapainya target untuk IKU Rasio PDB industri luar jawa terhadap PDB industri jawa disebabkan pertumbuhan sektor industri manufaktur di luar Pulau Jawa sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti pembangunan infrastruktur yang memadai, energi gas dan listrik dan ketersediaan tenaga kerja yang kompeten sehingga menyebabkan investasiinvestasi baru khususnya di sektor industri manufaktur tumbuh secara bertahap dan beralih lokasi ke luar Pulau Jawa. 46
61 Tabel Rasio Jumlah IKM di Pulau Jawa dan Luar Jawa Tahun Persentase IKM *) Pulau Jawa 63,45% 65,04% 64,35% 62,39% 62,27% 61,21% Luar Pulau Jawa 36,55% 34,96% 35,65% 37,61% 37,73% 38,79% Jumlah Unit Usaha LP (%) 2015*) Pulau Jawa 1,75 Juta 1,95 Juta 2,08 Juta 2,14 Juta 2,19 Juta 5,81 2,28 Juta Luar Pulau Jawa 1 Juta 1,05 Juta 1,15 Juta 1,29 Juta 1,32 Juta 7,16 1,45 Juta Total 2,75 Juta 3 Juta 3,23 Juta 3,43 Juta 3,52 Juta 6,31 3,73 Juta Sumber : BPS 2014, diolah Ditjen IKM Ket: (*) Data sementara Sejalan dengan peningkatan kontribusi PDB industri di luar Jawa, jumlah unit usaha IKM di luar Jawa dibandingkan dengan di Jawa juga meningkat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Dari target yang ditetapkan yakni 32 persen pada tahun 2015, berhasil tercapai hingga 38,8 persen. Berdasarkan data BPS tahun 2014, pada tahun 2011 jumlah IKM di luar Jawa sebesar 1,05 juta unit usaha atau 35 persen dari total unit usaha. Angka ini meningkat hingga 1,32 juta di tahun 2014 atau 37,7 persen dari total unit usaha. Dengan laju pertumbuhan 7,16 persen, jumlah ini diproyeksikan naik menjadi 1,45 juta unit usaha di tahun 2015, atau 38,8 persen dari total unit usaha IKM nasional. Meskipun sebarannya sudah mencapai target dan terjadi peningkatan secara konsisten setiap tahunnya, akselerasi pertumbuhan IKM di luar Jawa harus ditingkatkan kembali agar sebaran IKM lebih seimbang dan tidak terpusat di Jawa. Adapun upaya yang telah dilakukan untuk menambah jumlah IKM di luar Jawa adalah melalui program kewirausahaan IKM yakni penumbuhan wirausaha baru, serta penguatan kemampuan IKM agar menjadi wirausaha yang mandiri dan profesional. 47
62 Program kewirausahaan ini dilakukan melalui dua pendekatan, yakni by design dan fast track. Pendekatan by design dilakukan melalui serangkaian kegiatan rekruitmen, pelatihan, magang, dan pemberian modal usaha, yang ditujukan kepada mahasiswa perguruan tinggi atau lulusan SMK. Sedangkan pendekatan fast track dilakukan melalui serangkaian kegiatan rekruitmen, pelatihan, dampingan tenaga ahli, dan pemberian modal usaha, yang ditujukan kepada masyarakat umum atau karyawan IKM Tantangan dalam program ini adalah kemampuan bertahan hidup para wirausaha baru setelah mendapat bimbingan dari pemerintah. Karena itu, pemerintah memberikan fasilitas lanjutan seperti akses untuk pemasaran dan pengembangan produk agar memenuhi standar dan berdaya saing tinggi. g. Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap PDB Industri Sasaran ini adalah sasaran yang menunjukkan peran industri kecil dan menengah terhadap PDB selalu meningkat. Sasaran strategis ini akan dicapai melalui indikator kinerja utama kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri dengan target pada tahun 2015 sebesar 35 persen. Kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri, diukur melalui penghitungan perbandingan PDB IKM terhadap PDB industri total secara nasional. Tabel Target dan Realisasi Tahun 2015 dari Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap PDB Industri Sasaran Strategis IKU 2015 Target Realisasi Capaian Satuan Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap PDB Sumber: BPS, diolah Kemenperin Ket: (*) Data sementara 48 Kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri Penyebaran IKM Jawa dan luar Jawa 35 34,82* 99,48 Persen Sejak tahun 2013 menjadi IKU sasaran strategis Tersebarnya pembangunan industri Rasio
63 Tabel Capaian IKU dari Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap Industri PDB Sasaran Strategis IKU * Satuan Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap PDB Kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri 100,30 100,30 103,88 101,65 99,48 Persen Sumber: BPS, diolah Kemenperin Ket: (*) Data sementara Tabel Realisasi IKU dari Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap PDB Industri Sasaran Strategis IKU * Satuan Meningkatnya Peran Industri Kecil dan Menengah terhadap PDB Kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri 33,65 33,97 34,28 34,56 34,82 Persen Sumber: BPS, diolah Kemenperin (Tahun menurut harga konstan tahun 2000) Ket: (*) Menurut harga konstan tahun 2010 Saat ini Produk Domestik Bruto (PDB) industri sebagian besar masih merupakan sumbangan dari industri besar. Sedangkan industri kecil dan menengah yang jumlahnya sangat banyak masih belum mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDB industri. Untuk itu, sasaran strategis yang akan dicapai Ditjen IKM adalah dengan meningkatkan peran industri kecil dan menengah terhadap PDB. Ukuran ketercapaian sasaran staregis ini (IKU) diukur melalui meningkatnya kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri. Dilihat dari aspek pencapaian target, dibandingkan dengan tahun 2011 dan 2012, indikator ini mengalami peningkatan pada tahun 2013, dan kembali menurun di tahun
64 Berdasarkan data BPS dengan harga konstan tahun 2000, realisasi kontribusi PDB IKM sebesar 33,65 persen pada tahun 2011, menjadi sebesar 33,97 persen pada tahun 2012 dan meningkat lagi menjadi 34,28 persen pada tahun Begitu juga pada tahun 2014, meningkat lagi menjadi 34,56 persen. Untuk tahun 2015, realisasi pada indikator ini tidak dapat disajikan karena ada perubahan harga dasar pada penghitungan PDB nasional, dari harga tahun 2000 menjadi Namun, apabila masih menggunakan harga dasar tahun 2000, diperkirakan pada tahun 2015 PDB IKM mampu menyumbang 34,82 persen terhadap PDB industri dengan nilai Rp 232 Triliun, atau hampir mencapai target 35 persen yang ditetapkan. Tabel Kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri Tahun Indikator * PDB IKM (Rp triliun) 193,8 203,4 212,9 222,5 232,0 PDB Industri (Rp triliun) ,6 621,2 643,8 666,4 % Kontribusi PDB IKM 33,65 33,97 34,28 34,56 34,82 Sumber: BPS, diolah Kemenperin (Menurut harga konstan tahun 2000) Ket: (*) Angka proyeksi Meningkatnya kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri mengindikasikan adanya peningkatan daya saing pada produk-produk IKM. Hal ini sejalan dengan program pemberdayaan dan pengembangan IKM yang menjadi salah satu prioritas Kemenperin melalui kegiatan pelatihan, bimbingan teknis dan nonteknis, serta promosi di dalam dan luar negeri. Terlepas dari capaian target di atas, masih terdapat permasalahan yang kerap dialami IKM terkait peningkatan daya saing, di antaranya adalah kapabilitas SDM yang rendah atau stagnan, sulitnya menembus akses permodalan, dan penerapan teknologi modern belum dipandang perlu (masih 50
65 mengandalkan metode tradisional). Solusi atas kendala tersebut salah satunya adalah melalui program restrukturisasi mesin/peralatan IKM dan pendampingan/bimbingan teknis kepada IKM agar memiliki sertifikat produk maupun kompetensi tenaga kerja. 2. Kinerja Makro Industri Pengolahan Non Migas a. Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2015 Kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2015, sesuai PDB atas dasar harga konstan 2010 tumbuh sebesar 4,79 persen melambat dibanding tahun 2013 yang tumbuh sebesar 5,02 persen atau terendah sejak tahun Bila diukur berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp ,8 Triliun dan PDB perkapita mencapai Rp 45,2 Juta atau US$ 3.377,1. Perlambatan pertumbuhan hampir pada semua lapangan usaha, meskipun ada beberapa lapangan usaha yang mengalami peningkatan dari tahun lalu namun tidak terlalu signifikan. Data selengkapnya tersaji pada tabel berikut: Tabel Pertumbuhan PDB Berdasar Lapangan Usaha Tahun Dasar 2010 No Lapangan Usaha * 2015** 51 (persen) 1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 4,59 4,20 4,18 4,02 2 Pertambangan dan Penggalian 3,02 1,74 0,55-5,08 3 Industri Pengolahan 5,62 4,49 4,63 4,25 a. Industri Migas -2,40-1,70-2,11-1,76 b. Industri Non Migas 6,98 5,45 5,61 5,04 4 Pengadaan Listrik dan Gas 10,06 5,23 5,57 1,21 5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 3,34 4,06 3,05 7,17 6 Konstruksi 6,56 6,11 6,97 6,65 7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 5,40 4,71 4,84 2,47 8 Transportasi dan Pergudangan 7,11 8,38 8,00 6,68 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 6,64 6,80 5,91 4,36 10 Informasi dan Komunikasi 12,28 10,39 10,02 10,06 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 9,54 9,09 4,93 8,53
66 12 Real Estate 7,41 6,54 5,00 4,82 13 Jasa Perusahaan 7,44 7,91 9,81 7,69 14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 2,13 2,38 2,49 4,75 15 Jasa Pendidikan 8,22 8,20 6,29 7,45 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7,97 7,83 8,01 7,10 17 Jasa lainnya 5,76 6,41 8,92 8,08 PRODUK DOMESTIK BRUTO 6,03 5,58 5,02 4,79 Sumber: BPS diolah Kemenperin *angka sementara **angka sangat sementara Kelompok industri informasi dan komunikasi menjadi kelompok industri dengan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 10,06 persen dikarenakan penggunaan 4G LTE yang terus meningkat, disusul kemudian kelompok industri jasa keuangan dan asuransi sebesar 8,53 persen dikarenakan ada peningkatan pendapatan jasa keuangan, dan kelompok industri jasa perusahaan sebesar 7,69 persen. Industri pertambangan dan penggalian menjadi industri dengan pertumbuhan negatif yaitu sebesar -5,08 persen, disusul oleh industri migas sebesar -1,76 persen. Bila dilihat dari kontribusi terhadap PDB nasional, industri pengolahan menjadi kelompok industri dengan kontribusi tertinggi yaitu sebesar 20,84 persen, dimana didalamnya terdapat industri migas sebesar 2,67 persen dan industri non migas sebesar 18,18 persen, disusul oleh industri pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 13,52 persen, dan industri perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 13,29 persen. b. Perkembangan Sektor Industri Non Migas Tahun 2015 Perkembangan pertumbuhan industri non migas menunjukkan penurunan dibanding tahun sebelumnya. Dimana industri pengolahan non migas pada tahun 2014 mengalami peningkatan dari tahun 2013 namun pada tahun 2015 terjadi perlambatan yaitu tumbuh sebesar 5,04 persen dibanding tahun 2014 yang tumbuh sebesar 5,61 persen. 52
67 Tabel Pertumbuhan Industri Pengolahan Non-Migas Menurut Cabang-Cabang Industri Tahun Dasar 2010 (persen) No Lapangan Usaha * 2015** 1 Industri Makanan dan Minuman 10,33 4,07 9,49 7,54 2 Industri Pengolahan Tembakau 8,82-0,27 8,33 6,43 3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi 6,04 6,58 1,56-4,79 4 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki -5,43 5,23 5,62 3,98 5 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya 6 Industri Kertas dan Barang dari Kertas; Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman -0,80 6,19 6,12-1,84-2,89-0,53 3,58-0,11 7 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional 12,78 5,10 4,04 7,36 8 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik 7,56-1,86 1,16 5,05 9 Industri Barang Galian bukan Logam 7,91 3,34 2,41 6,18 10 Industri Logam Dasar -1,57 11,63 6,01 6,48 11 Industri Barang Logam; Komputer, Barang 11,64 9,22 2,94 7,83 Elektronik, Optik; dan Peralatan Listrik 12 Industri Mesin dan Perlengkapan -1,39-5,00 8,67 7,49 13 Industri Alat Angkutan 4,26 14,95 4,01 2,33 14 Industri Furnitur -2,15 3,64 3,60 5,00 15 Industri Pengolahan Lainnya; Jasa Reparasi -0,38-0,70 7,65 4,89 dan Pemasangan Mesin dan Peralatan Industri Non Migas 6,98 5,45 5,61 5,04 PRODUK DOMESTIK BRUTO 6,03 5,58 5,02 4,79 Sumber: BPS diolah Kemenperin *angka sementara **angka sangat sementara Pertumbuhan industri non migas di tahun 2015, didorong oleh beberapa lapangan usaha. Industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik; dan peralatan listrik merupakan industri dengan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 7,83 persen, disusul kemudian industri makanan dan minuman sebesar 7,54 persen, dan industri mesin dan perlengkapan sebesar 7,49 persen. Pada tahun 2015, hampir semua sektor industri mengalami pertumbuhan, hanya tiga sektor industri yang mengalami pertumbuhan negatif, yaitu sektor industri tekstil dan pakaian jadi menurun sebesar 4,79 persen; sektor industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan 53
68 sejenisnya menurun sebesar 1,84 persen; serta Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman menurun sebesar 0,11 persen. Sedangkan industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik; dan peralatan listrik menjadi sektor industri dengan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 7,83 persen, disusul oleh industri makanan dan minuman sebesar 7,54 persen; Industri mesin dan perlengkapan sebesar 7,49 persen; Industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 8,52 persen; dan industri logam dasar sebesar 6,48 persen. Bila dibandingkan dengan tahun 2014, sektor industri tekstril dan pakaian jadi mengalami penurunan pertumbuhan dari 1,56 persen menjadi -4,79 persen di tahun Hal ini dikarenakan sektor industri ini memiliki buyer dan supplier dari luar negeri terlihat dari jumlah ekspor yang tinggi, maka ketika terjadi pelemahan ekonomi global sangat terasa dampaknya di sektor ini. Sektor industri lain yang mengalami penurunan yang cukup signifikan juga dialami oleh industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya. Hal ini yang disebabkan oleh infrastruktur dan biaya logistik yang tidak kompetitif. Akibatnya, biaya pengiriman barang antarpulau lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya ekspor. Selain itu, pangsa pasar produk jadi industri pengolahan kayu dan rotan dalam negeri sangat kecil dan pengusaha mengandalkan pasar ekspor. Sebanyak 98,8 persen produk jadi olahan kayu dan rotan Indonesia diekspor, 90 persen di antaranya diserap Eropa dan Amerika. Industri olahan kayu dan rotan dalam negeri tertekan oleh meningkatnya persaingan dari negara-negara pesaing utama yaitu Cina dan Vietnam yang dapat memproduksi barang jadi pengolahan kayu dan rotan berkualitas tinggi dengan harga murah. Penetrasi Vietnam ke pasar Amerika terus meningkat hingga US$ 1,3 miliar pada 2015 dari US$ 13 juta pada Dalam 10 tahun, pasar ekspor industri pengolahan kayu dan rotan indonesia ke Amerika tumbuh nol persen. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menyatakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), terutama asing terus menekan industri 54
69 produksi kertas dalam negeri. Tekanan LSM asing itu dilakukan melalui kampanye negatif ke berbagai negara tujuan ekspor pada Industri pulp dan kertas Indonesia diserang kampanye negatif yang dilakukan LSM asing seperti Greenpeace, World Wildlife Fund, Greenomics, Rainforest Action Network, Mongabay dan sejumlah LSM dalam negeri. Adapun alasan LSM tersebut ialah kerusakan hutan atau deforestasi yang berakibat terjadinya spesies langka baik flora maupun fauna yang berujung pada permintaan untuk memboikot kertas yang diproduksi Indonesia. Para penggiat lingkungan itu selalu aktif meributkan masalah praktek pembalakan liar yang hinga kini masih terjadi, kemudian terjadinya lahan terlantar yang masih banyak serta terakhir kebakaran hutan dan lahan yang masih sulit dikendalikan. Upaya yang telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Industri Agro mengatasi berbagai permasalahan yang ada adalah melalui program dan kebijakan serta pelaksanaan kegiatan yang mendorong peningkatan daya saing industri agro, yaitu: 1. Memperkuat struktur industri dengan mendorong investasi di bidang industri hilir agro melalui promosi investasi dan usulan pemberian insentif untuk investasi di bidang industri agro tertentu maupun di daerah tertentu serta disinsentif (seperti BK kakao dan CPO serta larangan ekspor bahan baku rotan). 2. Mengurangi beban biaya energi, logistik dan distribusi dengan berpartisipasi aktif mengusulkan perbaikan infrastruktur (pelabuhan dan jalan) dan efisiensi pelayanan (jasa pelabuhan, transportasi). 3. Meningkatkan penerapan sertifikasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) pada industri pengolahan kayu dan rotan, industri pengolahan kertas dan industri furniture serta pemberlakuan SNI Wajib Industri Agro. 4. Meningkatkan promosi investasi dan kerjasama industri agro melalui Pameran dan Buyers Night di beberapa negara tujuan ekspor industri agro yaitu Jerman, Shanghai, Hongkong dan Amerika Serikat. 5. Mendorong pemberlakuan regulasi Permendag No.64/2012 tentang hasil hutan dan pertanian dari voluntari menjadi mandatori untuk produk kertas 55
70 agar direvisi karena dikhawatirkan menganggu kinerja industri agro secara keseluruhan. 6. Melakukan kampanye atas negative campaign terhadap komoditi industri agro melalui penyusunan Buku Putih dan sosialisasi di media cetak dan media elektronika. Kelompok industri mesin dan perlengkapan di tahun 2015 tumbuh sebesar 7,49 persen, tetapi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya industri ini mengalami penurunan, setelah pada tahun 2014 mencapai 8,67 persen. Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) ikut berperan serta dalam membina kelompok industri mesin dan perlengkapan, dimana selama tahun 2015 sektor industri permesinan dan alat mesin pertanian terus bertumbuh dalam hal kemampuan produksi, disain produk, kualitas produk dan diversifikasi produk. Secara umum, pertumbuhan sektor industri permesinan dan alat mesin pertanian terjadi sebagai implementasi kebijakan fasilitas investasi yang disediakan oleh Pemerintah. Industri mesin/peralatan dalam negeri juga bertumbuh seiring dengan pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur seperti Proyek Infrastruktur Ketenagalistrikan, Proyek Revitalisasi Industri Alat Pertahanan, Program Revitalisasi Mesin/Peralatan Pabrik Gula, Program Diversifikasi BBM ke BBG, Program Pembangunan Rumah Murah, Proyek Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan, dsb. Beberapa industri mesin/peralatan yang terlibat pada proyekproyek tersebut antara lain adalah PT. Barata Indonesia, PT. Boma Bisma Indra, PT. Basuki Pratama Engineering, PT. ZUG Industry Indonesia, PT. Super Andalas Steel, PT. Alstom Indonesia, dll. Bila dilihat dari kontribusi terhadap PDB industri, industri non migas memberikan kontribusi sebesar 18,18 persen dengan industri makanan dan minuman menjadi sektor industri dengan kontribusi tertinggi, yaitu sebesar 5,61 persen, disusul oleh industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik; 56
71 dan peralatan listrik sebesar 1,96 persen, dan industri kimia, farmasi dan obat tradisional sebesar 1,81 persen. Tabel Peran Tiap Cabang Industri terhadap PDB Sektor Industri Tahun 2015 Atas Tahun Dasar 2010 (persen) No Lapangan Usaha * 2015** 1 Industri Makanan dan Minuman 5,31 5,14 5,32 5,61 2 Industri Pengolahan Tembakau 0,92 0,86 0,91 0,94 3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi 1,35 1,36 1,32 1,21 4 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki 0,25 0,26 0,27 0,27 5 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya 6 Industri Kertas dan Barang dari Kertas; Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman 0,70 0,70 0,72 0,67 0,86 0,78 0,80 0,76 7 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional 1,67 1,65 1,70 1,81 8 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik 0,89 0,80 0,76 0,74 9 Industri Barang Galian bukan Logam 0,73 0,73 0,73 0,72 10 Industri Logam Dasar 0,75 0,78 0,78 0,78 11 Industri Barang Logam; Komputer, Barang Elektronik, Optik; dan Peralatan Listrik 1,89 1,95 1,87 1,96 12 Industri Mesin dan Perlengkapan 0,29 0,27 0,31 0,32 13 Industri Alat Angkutan 1,93 2,02 1,96 1,91 14 Industri Furnitur 0,26 0,26 0,27 0,27 15 Industri Pengolahan Lainnya; Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan 0,19 0,17 0,18 0,18 Industri Non Migas 17,99 17, ,18 Industri Pengolahan 21,45 20, Sumber: BPS diolah Kemenperin *angka sementara **angka sangat sementara 57
72 c. Perkembangan Ekspor dan Impor Industri Non Migas Tahun Ekspor industri pengolahan non migas tahun 2015, mengalami penurunan sebesar 9,11 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dimana pada tahun 2015, ekspor industri pengolahan non migas hanya sebesar USD 106,6 Miliar. Dimana beberapa komoditi mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, diantaranya adalah: Industri kimia dasar menjadi industri dengan penurunan tertinggi sebesar 27,22 persen, berturut-turut disusul oleh industri pengolahan tembaga, timah, dll sebesar 25,93 persen; Industri pengolahan karet sebesar 17,69 persen; industri elektronika sebesar 14,42 persen; dan industri pengolahan kelapa/kelapa sawit sebesar 12,51 persen. Perkembangan ekspor industri non migas periode tahun tersaji pada tabel berikut. Tabel Perkembangan Ekspor Industri Non Migas Tahun No KELOMPOK KOMODITI Pengolahan Kelapa/Kelapa Sawit Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif (USD. Juta) % Perub , , , ,1-12, , , , ,2-8,67 3 T e k s t i l , , , ,6-3,60 4 Elektronika 9.444, , , ,7-14,42 5 Pengolahan Karet , , , ,4-17,69 6 Kimia Dasar 4.870, , , ,7-27,22 7 Makanan dan Minuman 4.652, , , ,0 0,77 8 Pulp dan Kertas 5.518, , , ,6-3,02 9 Pengolahan Kayu 4.539, , , ,6-0, Pengolahan Tembaga, Timah dll. Kulit, Barang Kulit dan Sepatu/Alas Kaki Peng. Emas, Perak, Logam Mulia, Perhiasan dll , , , ,3-25, , , , ,4 12,84 2, , , ,7 28,60 12 Besar Hasil Industri , , , ,4-8,46 Industri Lainnya , , , ,5-13,59 INDUSTRI PENGOLAHAN , , , ,8-9,11 Sumber: BPS, diolah Kemenperin
73 Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan periode Januari-Desember 2015 turun 9,11 persen dibanding periode yang sama tahun Pada periode tahun 2015, komoditi industri pengolahan kelapa/kelapa sawit merupakan industri dengan kontribusi tertinggi atau sebesar 19,45 persen. Meningkatnya komoditas pengolahan kelapa/kelapa sawit, salah satunya didorong oleh negara India, negara Uni Eropa dan China yang merupakan pengimpor terbesar minyak sawit dari Indonesia. Sepanjang tahun 2015, volume ekspor minyak sawit Indonesia ke India menjadi 5,8 juta ton atau naik 15 persen dibandingkan tahun lalu yaitu 5,1 juta ton. Sementara ekspor ke negara-negara Uni Eropa mencapai 4,23 juta ton, dan ini menunjukkan kenaikan sekitar 2,6 persen dibandingkan dengan volume ekspor tahun lalu. China secara mengejutkan mencatatkan kenaikan permintaan minyak sawit sepanjang tahun 2015 sebesar 64 persen atau dari 2,43 juta ton tahun 2014 meningkat menjadi 3,99 juta ton pada tahun Peningkatan permintaan minyak sawit yang cukup signifikan sepanjang tahun 2015 dibukukan oleh Amerika Serikat sebesar 59 persen atau mencapai 758,55 ribu ton dibandingkan tahun lalu hanya 477,23 ribu ton. Hal ini diikuti oleh Pakistan yang membukukan kenaikan 32 persen atau dari 1,66 juta ton di 2014 meningkat menjadi 2,19 juta ton di Pada periode November 2015, terjadi penurunan ekspor minyak sawit ke beberapa negara, diantaranya seperti India dan Amerika Serikat. Penurunan ekspor ke India, turun sebesar 24,5 persen menjadi 506,39 ribu ton pada November 2015 dari 679,38 ribu ton pada Oktober Anjloknya ekspor minyak sawit ke India akibat adanya pelarangan penumpukan minyak nabati di dalam negeri. Selain itu, India menaikkan tarif impor, khususnya untuk butter oil yang sebelumnya 30 persen menjadi 40 persen. Ekspor minyak sawit Indonesia ke Amerika Serikat (AS) pada November 2015 juga turun 30 persen menjadi 82,19 ribu ton. Penurunan permintaan karena melimpahnya stok kedelai di dalam negeri, juga karena isu sustainable palm oil sourcing. Dalam hal ini, kebakaran lahan menjadi salah satu alasan bahwa minyak sawit Indonesia tidak sustainable. Selain itu, perubahan 59
74 regulasi pemberian insentif atas biodiesel di AS disinyalir menjadi salah satu penyebab turunnya ekspor ke AS. Peningkatan pangsa pasar produk industri terhadap permintaan dalam negeri ini antara lain didukung oleh beberapa faktor berikut, yaitu: 1). Kuatnya konsumsi rumah tangga. 2). Fasilitasi dan koordinasi dengan instansi terkait (sektor on farm) untuk peningkatan produktifitas dan efisiensi on farm. 3). Adanya kebijakan-kebijakan penguatan daya saing produk industri dalam negeri serta kebijakan perdagangan untuk menjaga kestabilan harga, kelancaran arus barang serta menciptakan iklim usaha yang sehat. 4). Pembatasan ekspor produk primer. 5). Sosialisasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) promosi baik domestik maupun internasional. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia di tahun 2015, terbesar berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$ 25,69 Miliar atau sebesar 17,10 persen, diikuti oleh Kalimantan Timur sebesar US$ 18,34 Miliar (12,20 persen), dan Jawa Timur sebesar US$ 16,57 Miliar (11,03 persen). Tabel Perkembangan Impor Industri Non Migas Tahun No URAIAN (USD. Juta) Perubahan % 1 Besi Baja, Mesin-mesin dan Otomotif , , , ,2-15,65 2 Kimia Dasar , , , ,5-16,42 3 Elektronika , , , ,3-10,39 4 T e k s t i l 6.805, , , , Makanan dan Minuman 6.158, , , ,2-12,54 6 Alat-alat Listrik 4.190, , , , Makanan Ternak 2.799, , , , Pulp dan Kertas 3.019, , , , Barang-barang Kimia lainnya 2.753, , , ,
75 10 Plastik 2.185, , , , Pengolahan Tembaga,Timah dll 2.377, , , , P u p u k 2.918, , , , Total 12 Besar Industri , , , ,8-12,92 Sumber: BPS diolah Kemenperin Total Industri , , , ,0-12,01 Impor produk industri tahun 2015 sebesar US$ 108,95 Miliar. Perkembangan impor selama tahun 2015 ini turun sebesar 12,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2014 sebesar USD 123,82 Miliar. Neraca ekspor-impor hasil industri non migas pada Januari-Desember 2015 adalah USD -2,31 Miliar (neraca defisit). Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014, neraca tersebut mengalami defisit sebesar USD -6,49 Mmiliar atau mengalami penurunan sebesar 64,4 persen. Tiga negara asal barang impor nonmigas terbesar Januari Desember 2015 adalah Tiongkok dengan nilai USD 29,22 Miliar (24,73 persen), Jepang USD 13,23 MilIar (11,20 persen), dan Singapura USD 8,97 miliar (7,60 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 22,05 persen, sementara dari Uni Eropa 9,50 persen. Nilai impor golongan barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari Desember 2015 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 14,16 persen; 21,35 persen; dan 15,56 persen. Hasil capaian realisasi investasi tahun 2015 sebesar Rp 545,4 Triliun meningkat 17,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian realisasi investasi tersebut melampui target tahun 2015 sebesar Rp 519,5 Triliun (105 persen). Komposisi realisasi investasi terdiri dari PMDN meningkat 15,0 persen sebesar Rp 179,5 Triliun, sementara PMA juga meningkat 19,2 persen sebesar Rp 365,9 Triliun. Sepanjang Januari Desember 2015, investasi PMDN dan PMA dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 61
76 orang, atau naik sebesar 0,3 persen dibandingkan tahun 2014, yang dapat menyerap sebanyak orang. Bila dilihat dari sebaran Jawa dan luar pulau Jawa, realisasi investasi di pulau Jawa sebesar Rp 296,7 Triliun (54,4 persen) dan realisasi investasi di luar Pulau Jawa sebesar Rp 248,7 Triliun (45,6 persen). Apabila dibandingkan di tahun 2014 sebesar Rp 199,8 Triliun terjadi peningkatan realisasi investasi di luar Pulau Jawa sebesar 24,5 persen. Untuk realisasi investasi di luar Pulau Jawa, wilayah Kalimantan mencatatkan kontribusi terbesar sebesar Rp 93,0 Triliun (17,1 persen), terdiri dari PMDN sebesar Rp 20,0 Triliun dan PMA sebesar US$ 5,8 Miliar. Kemudian diikuti oleh wilayah Sumatera dengan realisasi investasi sebesar Rp 84,4 Triliun (15,5 persen) serta wilayah Sulawesi dengan realisasi investasi sebesar Rp 33,2 Triliun (6,1 persen). Selanjutnya wilayah Bali dan Nusa Tenggara dengan realisasi investasi sebesar Rp 18,7 Triliun (3,4 persen) dan wilayah Maluku dan Papua dengan realisasi investasi sebesar Rp 19,4 Triliun (3,5 persen). Tabel No Sektor Sekunder Investasi PMDN Tahun P I P I P I P I (Rp. Miliar) % 1 Industri Makanan , , , , ,20 2 Industri Tekstil 51 4, , , , ,71 3 Ind. Barang Dari Kulit & Alas Kaki 10 Ind. Instru. Kedokteran, Presisi & Optik & Jam ,76 4 Industri Kayu , ,58 5 Ind. Kertas dan Percetakan 6 Ind. Kimia dan Farmasi 7 Ind. Karet dan Plastik 8 Ind. Mineral Non Logam 9 Ind. Logam, Mesin & Elektronik 64 7, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
77 11 Ind. Kendaraan Bermotor & Alat Transportasi Lain , , ,49 12 Industri Lainnya , ,30 Jumlah , ,225 51, , ,29 50,84 Sumber: BPS diolah Kemenperin Jumlah proyek Investasi PMDN Indonesia pada tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 50,84 persen dibandingkan dengan tahun 2014, hal ini tentu menunjukkan perkembangan positif mengenai investasi dalam negeri. Peningkatan terbesar pada industri kendaraan bermotor & alat transportasi lain, yang mengalami peningkatan sebesar 118,49 persen, industri lainnya sebesar 116,30 persen, industri kayu sebesar 102,58 persen, industri tekstil sebesar 87,71 persen. Walaupun mengalami peningkatan jumlah proyek, namun tidak semua sektor Industri di atas mengalami peningkatan nilai investasi, seperti pada industri barang dari kulit & alas kaki yang mengalami penurunan nilai investasi sebesar 94,76 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. No Sektor Sekunder Tabel Investasi PMA P I P I P I P I (USD. Juta) 1 Industri Makanan 347 1, , , , ,55 2 Industri Tekstil ,59 3 Ind. Barang Dari Kulit & Alas Kaki ,30 4 Industri Kayu ,99 5 Ind. Kertas dan Percetakan 6 Ind. Kimia dan Farmasi 7 Ind. Karet dan Plastik 8 Ind. Mineral Non Logam 9 Ind. Logam, Mesin & Elektronik 10 Ind. Instru. Kedokteran, Presisi & Optik & Jam 57 1, , , , , , , , , , , , , , , , ,12 % 63
78 11 Ind. Kendaraan Bermotor & Alat Transportasi Lain 163 1, , , , ,75 12 Industri Lainnya ,17 Jumlah , , ,09-9,65 Sumber: BPS, diolah Kemenperin Hasil yang berbeda pada investasi PMA, dimana terjadi penurunan sebesar 9,65 persen pada tahun 2015 dibanding dengan tahun Penurunan investasi terbesar terjadi pada industri makanan disusul dengan industri lainnya. Lebih lanjut meski terjadi penurunan pada beberapa sektor namun tahun 2015 juga menunjukkan peningkatan investasi pada beberapa sektor yaitu pada sektor industri mineral non logam, industri karet & plastik, dan industri logam, mesin & elektronik. 3. Kinerja Program Prioritas Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun Berdasarkan Perpres No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN Tahun , Kementerian Perindustrian memiliki arah kebijakan fokus pengembangan industri nasional sebagai berikut: a. Pengembangan Perwilayahan Industri di luar pulau Jawa Kebijakan pengembangan perwilayahan industri diarahkan untuk lebih menyebarkan pembangunan industri di luar Pulau Jawa. Adapun program Kementerian Perindustrian sesuai dengan RPJMN tahun adalah fasilitasi pembangunan 14 Kawasan Industri yang meliputi 1) Batu Licin, Kalimantan Selatan; 2) Ketapang, Kalimantan Barat; 3) Landak, Kalimantan Barat; 4) Kuala Tanjung, Sumatera Utara; 5) Sei Mangke, Sumatera Utara; 6) Tanggamus, Lampung; 7) Jorong, Tanah Laut, Kalimantan Selatan; 8) Teluk Bintuni, Papua barat; 9) Buli Halmahera timur, Malulu Utara; 10) Bitung, Sulawesi Utara; 11) Palu, Sulawesi Tengah; 12) Morowali, Sulawesi Tengah; 13) Konawe, Sulawesi Tenggara; 14) Bantaeng, Sulawesi Selatan; serta membangun 22 Sentra 64
79 Industri Kecil dan Menengah (SIKIM ) selama 5 (lima) tahun. dengan strategi meliputi : 1. Fasilitasi pembangunan 14 Kawasan Industri (KI) prioritas. 2. Membangun 22 Sentra Industri Kecil dan Menengah (SIKIM) yang terdiri dari 11 di Kawasan Timur Indonesia dan 11 di Kawasan Barat Indonesia, dan 3. Berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan dalam membangun infrastruktur utama, infrastruktur pendukung tumbuhnya industri, dan sarana pendukung kualitas kehidupan bagi pekerja. Adapun pencapaian selama tahun 2015 adalah sebagai berikut: 1. Fasilitasi Pembangunan Kawasan Industri a. Fasilitasi pembangunan Infrastruktur Fisik dalam Kawasan Industri: Kawasan Industri Bitung meliputi Pembangunan jalan poros (realisasi fisik s/d TW IV 2015 sebesar 36,76 persen) dan Pembangunan Kantor administrator KEK, Pagar Sayap Kanan Kiri, Pos Jaga, Pintu Gerbang dan Lampu Jalan (realisasi fisik s/d TW IV 2015 sebesar 90 persen); Kawasan Industri Palu meliputi Pembangunan jalan poros (realisasi fisik s/d TW IV 2015 sebesar 93,01 persen) dan Pembangunan Komplek manajemen perkantoran pengelola kawasan baru (realisasi fisik s/d TW IV 2015 sebesar 80,64 persen); Peresmian Kawasan Industri Morowali, smelter nikel PT. Sulawesi Mining Investment serta fasilitasi pembangunan Gedung Pusat Inovasi Logam (realisasi fisik s/d TW IV 2015 sebesar 80,19 persen) dan peralatannya, pembangunan Gedung politeknik industri (realisasi fisik s/d TW IV 2015 sebesar 60,38 persen), dan Rusunawa untuk Pekerja; Fasilitasi Pembangunan Kawasan Industri Sei Mangkei: meliputi pembangunan tangki timbun (tank farm) telah mencapai 95,41 persen, pembangunan dry port telah mencapai 95,77 persen, 65
80 pembangunan jalan poros telah mencapai 95,16 persen, dan pembangunan jalan kereta api telah mencapai 86,51 persen. b. Fasilitasi penyusunan dokumen Perencanaan berupa : Perencanaan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di 13 (tiga belas) Kawasan Industri, yaitu Kawasan Industri Sei Mangkei, Kuala Tanjung, Tanggamus, Jorong, Ketapang, Landak/Mandor, Batulicin, Palu, Bantaeng, Bitung, Morowali, Konawe, dan Teluk Bintuni; Perencanaan penyusunan Detail Engineering Design (DED) di 12 (dua belas) Kawasan Industri, yaitu Kawasan Industri Sei Mangkei, Kuala Tanjung, Tanggamus, Ketapang, Landak/Mandor, Batulicin, Palu, Bantaeng, Bitung, Morowali, Halmahera Timur, dan Banyuwangi; Perencanaan pengembangan kawasan industri di Kupang dan Pomala. 2. Pembangunan Sentra Industri Kecil dan Menengah (SIKIM) a. Fasilitasi penyusunan Pola Pengembangan Sentra IKM di 16 Kab/Kota, yaitu: Kab. Murung Raya, Kota Tarakan, Kab. Bangka Tengah, Kab. Seruyan, Kab. Majalengka, Kab. Bangkalan, Kab. Purbalingga, Kota Pekalongan, Kota Surakarta, Kab. Jepara, Kota Sorong, Kab. Mamuju, Kab. Konawe, Kab Sumbawa, Kota Tual, dan Kab. Kupang; b. Telah dilakukan Penyusunan Perencanaan Konstruksi (DED) Pembangunan Sentra IKM di 3 Kab/Kota, yaitu: Kab. Seruyan, Kota Tarakan, dan Kab. Murung Raya. Adapun hasil pencapaian fasilitasi pembangunan kawasan industri dan Sentra IKM terangkum dalam tabel berikut ini: 66
81 Tabel 3.33 Capaian Fokus Pengembangan Perwilayahan Industri Program/ Kegiatan Sasaran Indikator Satuan Target Realisasi Capaian Pengembangan Fasilitasi Industri Terbangunnya 14 Kawasan Industri dan 22 Sentra IKM di luar Jawa Terfasilitasinya pengembangan 14 Kawasan Industri di luar Jawa Terfasilitasinya pengembangan total sebanyak 22 Sentra IKM di wilayah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua dalam 5 tahun (SIKIM) Kawasan % Sentra % Selain memfasilitasi pembangunan infrastruktur kawasan industri, Kementerian Perindustrian juga melaksanakan program peningkatan kemampuan soft skill sumber daya manusia lokal untuk mendukung kebutuhan kompetensi industri dengan kegiatan sebagai berikut: Kawasan Industri Bantaeng : Sebanyak 200 orang yang terdiri dari 100 orang bidang mekanikal dan 100 orang bidang elektronikal, dengan lama pelatihan 1 (satu) bulan. Kawasan Industri Konawe : Sebanyak 200 orang yang terdiri dari 100 orang bidang mekanikal dan 100 orang bidang elektronikal dengan lama pelatihan 1 (satu) bulan. b. Penumbuhan Populasi Industri Sesuai dengan Perpres No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN , arah kebijakan pembangunan industri nasional yaitu penumbuhan populasi industri paling tidak sekitar 9 ribu usaha industri berskala besar dan sedang dimana 50% tumbuh di luar Jawa, serta tumbuhnya Industri Kecil sekitar 20 ribu unit usaha. dengan strategi antara lain meliputi : 67
82 1. Mendorong investasi untuk industri pengolah sumber daya alam; industri penghasil barang konsumsi kebutuhan dalam negeri; industri penghasil bahan baku, bahan setengah jadi, komponen, dan sub-assembly (pendalaman struktur), 2. Memanfaatkan kesempatan dalam jaringan produksi global, dan 3. Pembinaan industri kecil dan menengah (IKM) Adapun beberapa pencapaian tahun 2015 terkait dengan fokus penumbuhan populasi industri dijabarkan dalam tabel 3.34 berikut ini Tabel Capaian Fokus Penumbuhan Populasi Industri Program/ Kegiatan Sasaran Indikator SATUAN T R C Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Meningkatnya Populasi Industri Sedang dan Besar Hilirisasi hasil tambang ke produk dan jasa industri Terfasilitasinya pembangunan Wirausaha baru Ket.: T: Target; R: Realisasi; C: Capaian Fasilitasi Pembangunan Bufferstock Bahan Baku Kapas di Jawa Barat dan Bufferstock Kulit di Jawa Timur Terfasilitasinya Revitalisasi Industri Pupuk Pengembangan National Branding Produk Alas Kaki Dan Pakaian Jadi Fasilitasi penyusunan FS Semen Kupang III dan industri ban, keramik, dan kaca Fasilitasi penyusunan FS Pembangunan Pabrik Bahan Baku Obat berbasis Migas, Pembangunan Pilot Plant Propylene berbasis CPO, Pembangunan Pilot Plant Polymer Enhanced Oil Recovery Terfasilitasinya Pembangunan Industri: 1. Smelter Baja di Batu Licin (Kalsel) dan Medan (Sumatera Utara) 2. Alumina Refinery di Menpawah dan Ketapang (Kalbar) 3. Smelter Tembaga di Gresik (Jatim), Sangata (Smelter) 4. Smelter Nickel di Morowali (Sulteng), Pomalaa (Sultra), Sangata (Smelter) Jumlah wirausaha baru IKM yang tumbuh Lokasi 2-0% Dokumen % Dokumen % Dokumen % Dokumen % Industri Yang Terfasilitasi % wirausaha % 68
83 Secara terperinci hasil-hasil mengenai fokus penumbuhan populasi industri yang dicapai selama kurun waktu 2015 adalah sebagai berikut: a. Fasilitasi Pembangunan Bufferstock Bahan Baku Kapas Dan Material Center Kulit (Industri Alas Kaki) Perkembangan proyek fasilitasi pembangunan bufferstock bahan baku kapas dan material center kulit (industri alas kaki) telah mencapai 40 persen. Adapun pencapaiannya sebagai berikut : - Fasilitasi Kajian Manajemen dan MOU dalam rangka pendirian Logistic Base For Cotton Dalam perdagangan kapas (cotton) secara internasional, komoditi kapas merupakan future commodity dan diperdagangkan secara future dengan penyerahan kemudian. Meskipun Indonesia merupakan pembeli potensial, namun posisi tawarnya masih kurang kuat, sehingga sering terjadi dispute baik dalam hal pemahaman terhadap kontrak maupun aspek teknis. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kebersamaan para spinners dalam bernegosiasi dan belum tersedianya panduan standar kontrak supply kapas. Untuk itu diperlukan terbangunnya kebersamaan industri pemintalan (spinners) Nasional, sehingga diperlukan suatu lembaga yang akan berfungsi sebagai Logistic Base suplai kapas dalam negeri yang nantinya akan mewakili industri pemintalan dalam perdagangan kapas internasional serta menjadi pusat distribusi kapas ke industri pemintalan dalam negeri. Revisi PP 32 Tahun 2009, baru keluar pada akhir Desember 2015 dengan PP 85 Tahun 2015 Tentang Pusat Logistik Berikat, sehingga Dasar Hukum Pelaksanaan Pendirian Pusat Logistik Berikat untuk Kapas/Bufferstock Bahan Baku Kapas belum dapat direaliasikan pada TA Selain itu juga pada TA 2015 sedang dilaksanakan kegiatan Kajian Manajemen Bufferstock Bahan Baku. 69
84 - Fasilitasi Kajian Manajemen dan MOU pendirian Material Center Kulit Untuk Industri Alas Kaki Dalam rangka pelaksanaan pengembangan keterkaitan industri alas kaki dan melihat permasalahan dalam pengadaan bahan baku maka diperlukan adanya Buffer Stock Kulit untuk mempermudah pelaku usaha untuk mendapatkan bahan secara efisien sehingga dapat meningkatkan daya saing di pasar global. Pada tahun 2016 akan dilaksanakan Kajian Manajemen dan MOU serta telah dilakukan Koordinasi Fasilitasi Bufferstock Bahan Baku Kulit (Material Center) dengan Calon Lokasi Material Center yaitu Pasar Turi Surabaya dan di Bandung serta dengan Asosiasi Terkait yaitu APRISINDO, APAI, APKI, Dinas dan Pengurus Pasar Turi. Namun demikian, Belum terjadi kesepakatan harga terkait rencana sewa lahan untuk Material Center Kulit dan Alas Kaki serta masih harus menunggu Kajian Manajemen Bufferstock Bahan Baku Kulit (Material Center) diselesaikan. b. Pengembangan National Branding Produk Alas Kaki Dan Pakaian Jadi Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka penguatan merek Indonesia mengingat selama ini industri alas kaki dan pakaian jadi Indonesia hanya menikmati keuntungan dari margin produksi saja, sedangkan margin keuntungan dari penggunaan merek dinikmati oleh buyer/pemegang merek. Dengan margin keuntungan industri dalam negeri yang hanya 1-3 persn dari harga jual produk, maka nilai tambah yang diperoleh industri dalam negeri tergolong sangat kecil dan menyebabkan elastisitas industri terhadap perubahan biaya upah, biaya energi, biaya bahan baku maupun faktor produksi yang lain menjadi sangat rendah. Kegiatan National branding juga dilakukan dengan memfasilitasi pameran di Bandara Internasional didalam negeri. 70
85 Kegiatan ini merupakan pengalihan dari kegiatan penyusunan FS dan DED industri technical textile dan kegiatan ini sedang dalam proses penyelesaian. Telah dilaksanakan beberapa kegiatan dalam rangka Penyusunan Roadmap Pengembangan Merk Nasional/National Branding Produk Alas Kaki dan Garmen Nasional yaitu Forum koordinasi perencanaan penyusunan roadmap pengembangan merek nasional, FGD Explorasi Brand Identification dan Brand Image di Jakarta, Bimbingan Teknis Pemasaran di Surabaya, kegiatan Pengembangan Desain dan Merk/Label di Surabaya. Sedangkan pelaksanaan Desain Outlet dan Sewa Outlet Bandara Internasional tidak dapat direalisasikan karena tidak tersedianya lahan di Terminal Internasinal Bandara Soekarno Hatta, Ngurah Rai dan Juanda. c. Fasilitasi Penyusunan FS Industri Ban, Keramik Dan Kaca Serta Fs Semen Kupang III Telah dilakukan Feasibility Study/FS Pembangunan Pabrik Pengolahan Bahan Galian Non Logam (Keramik dan Kaca), Pembangunan Pabrik Ban, Pembangunan Pabrik Semen Kupang III. d. Revitalisasi Industri Pupuk Revitalisasi Industri Pupuk merupakan program prioritas nasional sesuai Inpres No. 2 Tahun 2010 dan dilakukan secara bertahap sejalan dengan ketersediaan alokasi gas bumi dari Kementerian ESDM. Program revitalisasi industri pupuk yang dimaksudkan untuk mengganti pabrik pupuk yang sudah tua dengan pabrik berteknologi maju yang lebih hemat tingkat konsumsi bahan baku maupun energinya serta ramah lingkungan. Hasil yang diharapkan adalah Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri. Guna mewujudkan hal ini, beberapa langkah telah diambil diantaranya dengan melakukan fasilitasi pembangunan revitalisasi 5 pabrik pupuk. Program revitalisasi meliputi penggantian 4 pabrik urea berusia tua yaitu: 2 pabrik PUSRI yaitu pabrik PUSRI II (menjadi IIB), dan (III & IV menjadi IIIB), satu pabrik pupuk Kaltim yaitu pabrik Kaltim 1 (menjadi Kaltim V) dan satu 71
86 pabrik pupuk Kujang yaitu Kujang IA (menjadi IC), serta pembangunan satu pabrik urea baru PT. Petrokimia Gresik (Amonia Urea II). Berikut perkembangan dari program revitalisasi industri pupuk: 1. Pembangunan Pabrik Kaltim-5 - Target progres proyek Kaltim-5 pada triwulan IV adalah Pabrik beroperasi normal. Realisasi sampai dengan Desember 2015, perkembangan proyek mencapai 100 persen. - Produksi Amoniak sudah mencapai diatas 2500 ton/hari dan produksi tertinggi sebesar 2737 ton/hari. - Produksi Urea Granul sudah mencapai diatas 3500 ton/hari dan produksi tertinggi sebesar 3621 ton/hari. - Performance test telah berhasil dilaksanakan selama 15 hari mulai tanggal 5 Oktober 2015 sampai dengan 19 Oktober Pabrik telah beroperasi normal. - Serah terima Pabrik dari Kontraktor ke PKT dilakukan tanggal 9 November Pembangunan Pabrik Pusri IIB - Progres pembangunan pabrik Pusri IIB pada triwulan IV yang mencapai 98,2 persen dengan target sebesar 97 persen. - Target proses Commisioning direncanakan pada Februari 2016 dan target operasional pada Maret Pembangunan Pabrik Ammoniak-Urea II PT. Petrokimia Gresik - Progres pembangunan pabrik pada tahap Engineering, Procurement & Construction sampai 28 Desember 2015 telah mencapai 29,36 persen. - Sebagai catatan, ada potensi keterlambatan gas mengalir (Mei 2018) sehingga dapat mengganggu pengoperasian pabrik. Antisipasi yang perlu dilakukan yaitu berkoordinasi dengan SKK Migas dan Ditjen Migas ESDM untuk dapat menyediakan alokasi gas dari sumber 72 lain.
87 4. Pembangunan Pabrik Kujang 1C PT. Pupuk Kujang - Akhir tahun 2015 masih menunggu penandatanganan HoA sebagai proses tindak lanjut dari pembahasan antara Direksi PKC dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas. - PKC sedang menyusun Dokumen Perencanaan Pengadaan Lahan untuk Kujang 1C sebagai salah satu syarat pengajuan surat permohonan penetapan lokasi dari Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. - Menteri Perindustrian telah mengirimkan surat dukungan pembangunan Kujang 1C no 567/M-IND/12/2015 tanggal 17 Desember 2015 kepada Gubernur Jawa Timur. - Dalam mendukung proses persiapan lahan, Bappeda telah mengirimkan surat kesesuaian tata ruang ke PKC pada tanggal 21 Desember Dalam rangka Pengamanan Pasokan Bahan Baku untuk Industri Pupuk telah ada Nota Kesepahaman terkait dengan perpanjangan PJBG antara PKC dengan Pertamina EP untuk periode pasokan , Menteri Perindustrian telah menyampaikan surat kepada Menteri ESDM perihal usulan harga gas bumi sebagai bahan baku dan energi bagi industri, dan SKK Migas sudah menginstruksikan pengaliran gas dari wilayah kerja offshore North West Jawa. e. Fasilitasi pembangunan pabrik bahan baku obat 1. Telah dilakukan Feasibility Study/FS Pembangunan Pabrik Bahan Baku Obat (Paracetamol kapasitas ton/th, amoxicilin kapasitas 750 ton/th, garam farmasi ton/th, Dextrose for infusion ton/th, Vitamin C kapasitas ton/th, Sefalosporin kapasitas 150 ton/th) dan Fasilitasi Pembangunan Pilot Plant EOR kapasitas 20 ton/hari. 2. Telah dilakukan tahap awal/persiapan pengembangan industri obat kanker berbasis kurkumin melalui terapi Boron Neutron Capture Cancer Therapy (BNCT) pada tahun
88 f. Fasilitasi pembangunan industri smelter Beberapa kegiatan yang berkaitan dengan fasilitasi pembangunan industri smelter adalah: 1. Pembentukan Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia. 2. Penyusunan kajian Fasilitasi Percepatan Pembangunan Industri Smelter (Energi, Jalan, Pelabuhan, Bahan Baku, Insentif dan Perizinan). 3. Industri yang difasilitasi adalah PT. Sulawesi Mining Investment, PT. Titan Mineral Utama, PT. Well Harvest Wining Alumina Refinery, PT. Batutua Tembaga Raya. g. Jumlah Wirausaha Baru IKM yang Tumbuh Dalam RPJMN , sasaran untuk Indikator dan target ini adalah hilirisasi hasil tambang ke produk dan jasa lainnya. Namun dalam rangka menyesuaikan dokumen RIPIN dan Renstra Ditjen IKM , maka sasaran tersebut telah diubah seperti tertera dalam tabel di atas. Pada tahun 2015, Direktorat Jenderal IKM melatih sebanyak calon wirausaha industri kecil. Calon wirausaha tersebut akan masuk dalam kategori wirausaha setelah memperoleh izin usaha atau memiliki surat keterangan dari Dinas Perindustrian terkait bahwa yang bersangkutan sedang memproses perizinan. Dengan asumsi keberhasilan sebesar 25 persen dari jumlah yang dilatih, maka jumlah wirausaha baru IKM yang tumbuh pada tahun 2015 adalah sebanyak 3800 wirausaha. Asumsi 25 persen ini diperoleh berdasarkan hasil evaluasi penumbuhan wirausaha baru melalui program beasiswa Tenaga Penyuluh Lapangan IKM (TPL IKM) yakni dari lulusan TPL IKM, sebanyak 274 orang telah memulai usaha selepas masa kontrak. c. Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing Peningkatan produktivitas dan daya saing dilaksanakan melalui fasilitasi dan insentif yang diutamakan pada industri: (1) strategis; (2) maritim; dan (3) padat tenaga kerja. Kebijakan fiskal terhadap impor bahan baku, 74
89 komponen, barang setengah jadi diharmonisasikan sesuai dengan rantai pertambahan nilai berikutnya di dalam negeri. Produktivitas dilakukan melalui pembaharuan/revitalisasi permesinan, peningkatan dan pembaharuan keterampilan tenaga kerja, inovasi dan penguasaan teknologi serta pengembangan produk. Tabel Capaian Fokus Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing Program/ Kegiatan Sasaran Indikator Satuan Target Realisasi Capaian Revitalisasi dan Penumbuhan Industri Penumbuhan Industri Penyebaran dan Penumbuhan Industri Kecil dan Menengah Revitalisasi Industri Penguatan struktur industri melalui keterkaitan antara industri hulu (dasar), industri intermediate dan industri hilir (light) Meningkatnya daya saing Industri Meningkatnya Fasilitas Pengembangan produk IKM Terfasilitasinya IKM yang Mengikuti Restrukturisasi Mesin Peralatan Revitalisasi Perusahaan Industri Tekstil dan Aneka Terevitalisasinya industri galangan kapal di 9 lokasi (Pembangunan/Ren ovasi, Bantuan Alat, Peningkatan SDM bersertifikasi) Terbentuknya 1 Mould and Dies Center (Pembangunan dan Kelembagaan) Terlaksananya Pembangunan dan Pengembangan 5 (lima) ICT Center dalam bentuk Incubator Business Center (IBC), RICE dan Technopark Terbentuknya Pusat Pengembangan Teknologi Industri Mesin Perkakas dan Industri Alat Kesehatan (Pembangunan dan Kelembagaan) Jumlah IKM yang mendapat fasilitasi pengembangan produk Jumlah IKM yang mengikuti restrukturisasi mesin peralatan Perusahaan Lokasi ,89 Unit ICT Center Pusat Pengembangan IKM IKM
90 Peningkatan Kualitas SDM Industri Meningkatnya Pendidikan dan Skill Tenaga Kerja Industri dalam rangka penyiapan tenaga kerja industri kompeten (pada bidang prioritas MEA) Pelatihan bagi calon tenaga kerja/tenaga kerja dengan sistem three-in-one untuk level operator dan supervisor (Pelatihan, Sertifikasi, dan Penempatan) berbasis Spesialisasi dan Kompetensi pada bidang TPT, Alas Kaki, Garam, Logam dan Mesin, Otomotif, Logistik, Elektronika, pengelasan, Pengolahan karet, Petrokimia, Plastik, kakao, rumput laut, CPO, semen, pupuk dan animasi Orang 15, ,88 Secara terperinci hasil-hasil mengenai fokus peningkatan produktivitas dan daya saing yang dicapai selama kurun waktu 2015 adalah sebagai berikut: a. Revitalisasi Perusahaan Industri Tekstil dan Aneka Kegiatan ini dilaksanakan untuk mempertahankan keberadaan dan mendukung pengembangan potensi industri TPT, industri alas kaki dan penyamakan kulit nasional. Upaya peningkatan daya saing yang dilakukan adalah dengan meluncurkan Program Revitalisasi Dan Penumbuhan Industri Melalui Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri Tekstil Dan Produk Tekstil yang dimulai sejak tahun 2007 Serta Industri Alas Kaki dan Penyamakan Kulit sejak Tahun Upaya peningkatkan daya saing industri TPT, Alas Kaki dan Penyamakan Kulit Nasional dilakukan melalui peningkatan teknologi/peremajaan mesin/peralatan, sehingga diharapkan tercapai peningkatkan teknologi, efisiensi dan produktivitas industri tersebut yang pada gilirannya meningkatkan daya saing industri Nasional. Adapun rincian kegiatan yang mendukung pelaksanaan Program Restrukturisasi ini adalah sebagai berikut : 76 Pada tahun 2015 Program ini didukung dengan pelaksanaan kegiatan Sosisalisasi program restrukturisasi yang dimaksudkan untuk memberikan informasi pelaksanaan program dan prosedur pemberian bantuan
91 beserta persyaratan yang dibutuhkan untuk dapat mengikuti program ini. Selain mengadakan Sosialisasi Direktorat Industri Tekstil dan Aneka juga mengadakan kegiatan Workshop Pengisian Form-form bagi perusahaan yang belum pernah ikut dalam rangka mempercepat dan memperdalam kemampuan perusahaan tersebut apabila berminat mengikuti program restrukturisasi. Pelaksanaan Program Restrukturisasi ini juga didukung 2 lembaga independen yang ditunjuk untuk melakukan pengelolaan operasional Program (LPOP) yang dalam hal ini ditangani oleh PT Sucofindo dan Lembaga Penilai Independen yang ditangani oleh PT Surveyor Indonesia. Sampai dengan tanggal 30 Juni 2015 jumlah industri TPT, alas kaki dan penyamakan kulit yang telah mengajukan permohonan sebanyak 144 perusahaan dengan nilai permohonan bantuan sebesar Rp 155,12 Miliar dengan nilai investasi sebesar Rp 1,89 Triliun, dari keseluruhan pemohon tersebut sebanyak 5 perusahaan mengundurkan diri. Realisasi permohonan bantuan pada tahun ini sebanyak 115 perusahaan dengan nilai bantuan Rp 99,96 Miliar dan nilai investasi sebesar Rp 1,18 Triliun. Gambar 3.4 Jumlah Perusahaan pemohon dan permohonan yang telah direalisasikan s.d 31 Desember
92 Gambar 3.5 Nilai permohonan dan realisasi program s.d. 31 Desember 2015 b. Terevitalisasinya industri galangan kapal di 9 lokasi (Pembangunan/Renovasi, Bantuan Alat, Peningkatan SDM bersertifikasi) Sampai dengan akhir tahun 2015, industri galangan kapal yang telah direviltalisasi berada pada daerah Lamongan, Surabaya, Semarang, Pontianak, Banjarmasin, Makassar, dan Lampung. Program revitalisasi industri galangan kapal dilaksanakan melalui peningkatan kemampuan SDM, yaitu: 1. Sertifikasi SDM Pengelasan Kapal bekerjasama dengan BBLK Kemenaker sejumlah 5 angkatan dengan jumlah 100 orang peserta. 2. Peningkatan kemampuan SDM klaster melalui pelatihan dan sertifikasi SDM pengelasan kapal sejumlah 20 orang 3. Pelatihan welding operator untuk industri galangan kapal sejumlah 20 orang 4. Pelatihan dan sertifikasi SDM pengelasan Non Ferro sejumlah 20 orang. 5. Pelatihan SDM pengelasan bawah air sejumlah 20 orang 6. Revitalisasi industri perkapalan melalui peningkatan SDM pengelasan SMAW sejumlah 5 angkatan dengan peserta 100 orang 7. Revitalisasi industri perkapalan melalui peningkatan SDM pengelasan GMAW sejumlah 2 angkatan dengan peserta 40 orang 8. Revitalisasi industri perkapalan melalui peningkatan SDM pengelasan FCAW sejumlah 2 angkatan dengan peserta 40 orang 78
93 9. Pelatihan manajemen galangan kapal sejumlah 2 angkatan dengan peserta 40 orang c. Terbentuknya 1 Mould and Dies Center (Pembangunan dan Kelembagaan) Kegiatan Pembentukan Mould and Dies Center melibatkan 3 unit Eselon I di lingkungan Kementerian Perindustrian yaitu unit Sekretariat Jenderal, unit Direktorat Jenderal ILMATE dan unit BPPI dengan nilai sebesar Rp. 23 Miliar dan berlokasi di Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) Bandung Jl. Sangkuring No 12, Bandung. Tujuan pembangunan Mould and Dies Center adalah: 1. Peningkatan SDM Industri Mould and Dies yang handal dan profesional 2. Penguasaan teknologi pembuatan Mould and Dies, terutama untuk metal dan plastik 3. Pengurangan impor mould and dies di sektor manufaktur Adapun kegiatan yang telah dilakukan selama tahun 2015 adalah sebagai berikut: 1. Fasilitasi mesin/peralatan mould and dies 2. Penyusunan roadmap pengembangan mould dan dies center 3. Pelatihan dan sertifikasi SDM Industri Mould and Dies sebanyak 120 orang. d. Terlaksananya Pembangunan dan Pengembangan 5 (lima) ICT Center dalam bentuk Incubator Business Center (IBC), RICE dan Technopark, yang terdiri dari: 1. Pembangunan Bandung Technopark kerjasama dengan Universitas Telkom dengan nilai pembangunan 2 gedung BTP senilai Rp. 18 Miliar; 2. Penguatan TohpaTI Center ( Regional ICT Center of Excellence Bali) kerjasama dengan Universitas Udayana dengan bantuan Renderfarm senilai 1 Miliar; 3. Penguatan Incubator Business Center (IBC) Semarang kerjasama Undip, Unisula, Unes, Udinus, UKSW, Unsud, Unika melalui bantuan peralatan produksi, multimedia, animasi dan games, recording streaming senilai Rp. 3,5 Miliar; 79
94 4. Pengembangan Desain Telepon Seluler Dalam Negeri dan Pengembangan Animasi melalui pembentukan kelembagaan dan fasilitasi Desain Ponsel di Poltek Negeri Batam dan Pelatihan Animasi senilai Rp. 7 Miliar; 5. Penguatan Regional ICT Center of Excellence Makasar bekerjasama dengan Universitas Hasanudin melalui Pembentukan Kelembagaan dan Fasilitasi Inkubator di Universitas Hasanudin senilai Rp. 200 Juta; e. Terbentuknya Pusat Pengembangan Teknologi Industri Mesin Perkakas dan Industri Alat Kesehatan (Pembangunan dan Kelembagaan) Fasilitasi yang dilaksanakan selama tahun 2015 adalah sebagai berikut: 1. Lanjutan Pembangunan Gedung dengan nilai sebesar Rp. 12,79 Miliar 2. Mekanikal dan Elektrikal, disain interior gedung dengan nilai sebesar Rp. 4,55 Miliar 3. Fasilitasi mesin/peralatan dengan nilai sebesar Rp. 15 miliar f. Jumlah IKM yang mendapat fasilitasi pengembangan produk Pengembangan produk merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk melakukan pembinaan terhadap IKM dalam mendesain, mengembangkan dan meluncurkan sebuah produk yang berdaya saing di pasar dalam dan luar negeri melalui fasilitasi-fasilitasi baik terhadap SDM IKM nya maupun pada produk yang dihasilkan. Fasilitasi diberikan dalam bentuk bimbingan penerapan dan fasilitasi GMP/HACCP/SNI/MD, fasilitasi sertifikasi SNI, SNI Wajib (mainan anak, pakaian bayi, logam, garam, dan sebagainya), sertifikasi Halal dan atribut pangan, fasilitasi pendaftaran HKI (merek, hak cipta, desain industri, paten, indikasi geografis), bantuan desain merek dan kemasan, pelatihan dan bantuan sarana produksi, serta dampingan tenaga ahli desain dan teknik produksi kepada IKM. Komoditi yang dibina meliputi makanan ringan, fesyen, tenun, minyak atsiri, alsintan, kerajinan, gerabah, batu mulia, otomotif, kakao, kopi, perbengkelan, mainan anak, pakaian bayi, logam, game dan animasi, garam beryodium, bambu dan rotan. 80
95 g. Jumlah IKM yang mengikuti restrukturisasi mesin peralatan Merupakan program untuk membantu IKM dalam melakukan peremajaan/modernisasi mesin/peralatan dengan tujuan meningkatkan kapasitas produksi, teknologi, daya saing, dan efisiensi. Program ini berupa potongan harga pembelian mesin/peralatan dengan sistem reimburse. Nilai keringanan potongan harga: Industri Kecil (IK) = 35% - 45% dari harga pembelian Industri Menengah (IM) = 25% - 35% dari harga pembelian Besaran nilai potongan maksimal Rp ,- (lima ratus juta rupiah) dan minimal Rp ,- (sepuluh juta rupiah) per perusahaan per Tahun Anggaran Pada tahun 2015 telah diberikan bantuan potongan harga dalam rangka restrukturisasi mesin/peralatan kepada 112 IKM di 19 provinsi dengan nilai bantuan Rp ,-. Jenis industrinya meliputi industri makanan, minuman, TPT, kimia dan barang kimia, mesin dan perlengkapan, logam dan komponen, barang galian non logam, furniture dan kayu. h. Peningkatan kualitas SDM industri Fasilitasi yang dilaksanakan selama tahun 2015 adalah pelatihan bagi calon tenaga kerja/tenaga kerja dengan sistem three-in-one untuk level operator dan supervisor (Pelatihan, Sertifikasi, dan Penempatan) berbasis Spesialisasi dan Kompetensi pada bidang TPT, Alas Kaki, Garam, Logam dan Mesin, Otomotif, Logistik, Elektronika, pengelasan, Pengolahan karet, Petrokimia, Plastik, kakao, rumput laut, CPO, semen, pupuk dan animasi sebanyak orang. 81
96 Peningkatan daya saing industri oleh Kementerian Perindustrian selain yang termasuk dalam indikator diatas juga dilakukan melalui: Telah dilakukan Pengembangan pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi menghasilkan tenaga kerja industri terampil kompeten siap kerja sebanyak orang dan tenaga kerja industri ahli kompeten siap kerja sebanyak orang. Penyediaan Tempat Uji Kompetensi (TUK) sebanyak 10 TUK, 4 TUK sudah selesai dan 6 TUK dalam proses BNSP. TUK adalah lokasi dilaksanakannya uji kompetensi. Kriteria dari TUK ditentukan oleh standar yang digunakan sebagai dasar uji kompetensi, di mana dapat berupa tempat kerja, atau tempat yang dikondisikan sesuai dengan tempat kerja. TUK diverifikasi dan dilisensi oleh LSP terkait. Pembentukan 8 (delapan) Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yaitu 4 LSP untuk 6 LSP sedang dalam proses BNSP. LSP adalah lembaga yang melaksanakan proses sertifikasi dan uji kompetensi. Dalam proses sertifikasi, LSP melibatkan standar kompetensi tertentu, asesor kompetensi dan TUK yang sesuai dengan standar tersebut. LSP diverifikasi dan diakreditasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Penyusunan 27 Rancangan Standarisasi Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ( RSKKNI) telah selesai dan menunggu ditetapkan oleh Kemenakertrans. Pemberlakuan 5 Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib (kopi instan, kompor gas 2 dan 3 tungku, selang termoplastik, kaca blok, dan biskuit). Memfasilitasi 43 IKM dalam mendapatkan sertifikat SNI yang diberlakukan secara wajib (pakaian bayi dan mainan anak-anak). Menghasilkan 1 paten granted tentang reaktor gasifikasi (gasifier) untuk pellet biomas emisi rendah dan sudah didaftarkan 7 hasil litbang industri untuk mendapatkan paten. Peningkatan fasilitas 159 unit sentra IKM (seperti fasilitas pengolahan limbah, peralatan produksi). 82
97 4. Kinerja Program Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian Selain program prioritas nasional sebagaimana ditetapkan dalam RPJMN Tahun , Kementerian Perindustrian juga melaksanakan program pengembangan industri lainnya. Capaian program-program tersebut sebagaimana diuraikan berikut ini. a. Klaster Industri Hilir Kelapa Sawit Program pengembangan industri yang mendukung klaster industri hilir kelapa sawit, selama tahun 2015 telah terealisasi hasil-hasil sebagaimana dijelaskan berikut ini. 1). Rapat fasilitasi dan koordinasi pengembangan industri hilir kelapa sawit di Sumatra Utara dalam rangka pengembangan klaster hilir kelapa sawit di Sumatera Utara, Riau Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Papua. 2). Melaksanakan promosi investasi di Batam, Kepulauan Riau dan pelaksanaan business forum di Rotterdam, Belanda dalam rangka promosi Investasi produk Hilir Kelapa Sawit (IHSK) untuk pengembangan Klaster Oleochemical di Sumatera Utara, Riau Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Papua. 3). Melaksanaakan pembahasan rapat teknis terkait penyelesaian permasalahan dispute kepabean untuk industri hilir kelap sawit termasuk penguatan lembaga pengujian melalui bantuan mesin peralatan laboratorium untuk Balai Besar Industri Kimia dan Kemasan Jakarta yang dianggarkan oleh Ditjen Industri Agro. 4). Melakukan rapat teknis RSKKNI terkait penyusunan rancangan standar kompetensi SDM Industri Hilir Kelapa Sawit dan Bahan Bakar Nabati. 5). Terlaksananya bimbingan teknis bagi industri hilir kelapa sawit dan workshop pembinaan teknis standarisasi hilir kelapa sawit dalam rangka pembinaan teknis standardisasi dan teknologi industri hilir kelapa sawit dan bahan bakar nabati. 83
98 6). Telah melakukan rapat pembahasan teknis, penyampaian laporan sementara dan laporan akhir kajian penyusunan dokumen teknis lestari berkelanjutan pada industri hilir kelapa sawit nasional. b. Industri Furnitur Industri furnitur merupakan program hilirisasi industri berbasis industri agro. Pengembangan industri furnitur yang telah dilaksanakan Kementerian Perindustrian telah menghasilkan beberapa capaian berikut. 1). Telah dilaksanakan Rapat Fasilitasi Pengembangan Klaster Industri Furniture di Jawa Timur 2). Telah dilakukan pelaksanaan lomba desain furnitur, klinik desain furnitur di Cirebon, dan klinik desain furnitur di Jepara. 3). Telah dilaksanakan pelatihan desain di Jawa Barat untuk 40 orang SDM industri furnitur. 4). Telah dilaksanakan rapat pra konvensi RSKKNI di Semarang dan rapat konvensi di Jawa tengah yang menghasilkan 20 (dua puluh) RSKKNI yang telah diserahkan kepada Kementerian Ketenagakerjaan untuk disahkan menjadi SKKNI dalam rengka menyusun suatu rancangan SKKNI industri furnitur. 5). Telah diberikan pendampingan dalam rangka sertifikasi SVLK untuk 80 Perusahaan untuk memonitoring dan mengevaluasi industri furnitur dan kerajinan kayu dan untuk memenuhi kewajiban mengaplikasikan penerapan SVLK yang diwajibkan pada akhir tahun ). Telah diberikan bantuan sertifikasi untuk wilayah Jawa dan Bali sebanyak 80 perusahaan dengan hasil 75 perusahaan lolos untuk mendapatkan sertifikat SVLK. 7). Telah dilakukan serah terima mesin dan peralatan pengembangan industri Furniture di Sukabumi (Jawa Barat), Nganjuk (Jawa Timur), dan Jepara (Jawa Tengah) serta telah diberikan pelatihan teknik produksi dan aplikasi mesin 84
99 dalam rangka terlaksananya bantuan mesin peralatan untuk meningkatkan industri pengolahan kayu setiap daerah tersebut. c. Industri Hilir Karet Program pengembangan industri hilir karet yang telah dilaksanakan Kementerian Perindustrian telah menghasilkan beberapa capaian berikut. 1). Pembangunan pabrik ban Hankook kapasitas 5,3 juta ban KBM roda 4 per tahun dan ditargetkan menghasilkan hingga 16 juta ban per tahun sampai tahun 2018 dengan nilai investasi USD. 1,1 Miliar di Jawa Barat. 2). Realisasi perluasan pabrik PT. Bridgestone Tyre Indonesia di Pondok Ungu Bekasi untuk ban bias kapasitas produksi ban/tahun dan investasi Rp. 600 Miliar telah beroperasi sejak tahun ). Realisasi Pembangunan Pabrik Ban Sepeda motor Evoluzione Tyre yang merupakan Joint Venture antara PT. Astra Otoparts Tbk. dengan Pirelli Spa di Subang, Jawa Barat dengan kapasitas sebesar ban sepeda motor dengan nilai investasi awal sebesar US$ 130 Juta. 4). Tersusunnya kajian pengembangan industri karet terpadu di Sei Bamban yang direncanakan akan terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus, Sei Mangkei. 5). Fasilitasi dan Koordinasi Pengembangan Klaster Industri karet dengan 30 (tiga puluh) stakeholders. 6). Pelatihan peningkatan konservasi energi industri karet remah di Pontianak dan Palembang. 7). Peningkatan Teknologi Alat Pengolahan Karet ( Crumb Rubber) untuk Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. 8). Fasilitasi pengembangan industri karet karet hilir untuk meningkatkan kemampuan pembuatan kompon karet dan produksi vulkanisir ban melalui bantuan mesin pengolahan barang karet di Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. 85
100 d. Industri Hilir Kakao Produksi rumput laut nasional mencapai 2,6 juta ton dimana Indonesia menduduki peringkat ke 3 dunia. Dalam mewujudkan berkembangnya industri diperlukan pendekatan penguatan dan pengembangan industri rumput laut yaitu dengan melakukan peningkatan kemampuan industri lokal, pembinaan SDM industri, pemanfaatan serta survey dan pemetaan SDA. Mengingat keterbatasan kemampuan daerah dalam pengembangan industri pengolahan berbasis SDA daerah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, diperlukan pengembangan teknologi melalui pemberian bantuan peralatan dan atau mesin serta kajian survey. Sampai dengan tahun 2015, program pengembangan industri hilir kakao yang telah dilaksanakan Kementerian Perindustrian telah menghasilkan beberapa capaian berikut. 1). Dalam rangka fasilitasi dan koordinasi pengembangan industri pengolahan kakao, telah dilaksanakan Rapat Teknis Penyusunan Kajian Revisi Bea Keluar Biji Kakao, Rapat Koordinasi dan Rapat terkait persiapan Hari Kakao Indonesia dan Rapat Koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka Hari Kakao Indonesia 2015 di Yogyakarta, rapat koordinasi terkait rencama import back cocoa powder. 2). Telah berpatisipasi dalam Sidang the 18th Meeting of the Nasional Focal for ASEAN Cocoa Club (ACC) on Join ASEAN Cooperation in Agriculture and Forest Product Promotion Sceme 3). Pelaksanaan Hari Kakao Indonesia 2015 di Yogyakarta, dan berpartisipasi pada siding the 92 Regular Session of the Internasional Cocoa Council and Other ICCO Meetings. 4). Telah dilaksanakan pelatihan peningkatan SDM industri pengolahan rumput laut pada tahun
101 e. Industri Rumput Laut Produksi rumput laut nasional mencapai 2,6 juta ton dimana Indonesia menduduki peringkat ke 3 dunia. Dalam mewujudkan berkembangnya industri diperlukan pendekatan penguatan dan pengembangan industri rumput laut yaitu dengan melakukan peningkatan kemampuan industri lokal, pembinaan SDM industri, pemanfaatan serta survey dan pemetaan SDA. Mengingat keterbatasan kemampuan daerah dalam pengembangan industri pengolahan berbasis SDA daerah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, diperlukan pengembangan teknologi melalui pemberian bantuan peralatan dan atau mesin serta kajian survey. Sampai dengan tahun 2015, revitalisasi dan penumbuhan industri hasil laut dilakukan melalui beberapa hal, antara lain: 1). Terkait pengembangan teknologi pengolahan rumput laut, pada tahun 2015 telah dilaksanakan penandatangan kontrak, penyampaian laporan tahap awal, penyampaian laporan antara, FGD dan penyampaian laporan akhir. 2). Telah dilaksanakan pelatihan peningkatan SDM industri pengolahan rumput laut pada tahun f. Industri Baja Program pengembangan industri baja merupakan salah satu fokus program hilirisasi industri berbasis migas dan bahan tambang mineral. Proyeksi konsumsi baja (crude steel) pada tahun 2025 sebesar 70 kg perkapita, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan konsumsi saat ini sebesar 36 kg perkapita. Faktor penggerak cabang industri baja adalah sektor transportasi, konstruksi bangunan, permesinan, infrastruktur, kemasan dan energi. Tahun 2013 produksi crude steel dalam negeri sekitar 6,8 juta ton, sehingga dengan target konsumsi 70 kg perkapita kebutuhan baja kasar yang akan mencapai 20 juta ton, memerlukan tambahan produksi sebesar 14 juta ton. Pada tahun 2015 terdapat tambahan kapasitas sekitar 4 juta ton crude steel yang diperoleh dari PT. Krakatau Posco, PT. 87
102 Indoferro dan PT. Meratus Jaya Iron & Steel. Target tambahan kapasitas produksi berikutnya sebesar 10 juta ton. Sehingga sampai tahun 2025 akan memerlukan bijih besi sebesar 250 juta ton dan pasir besi sebesar 110 juta ton. Untuk mencapai target kebutuhan di tahun 2025 diperlukan tambahan energi sebesar MW dan investasi sebesar Rp. 140 Triliun. Hasil-hasil yang telah dicapai selama tahun 2015 sebagaimana diuraikan berikut ini: 1). Telah beroperasinya PT. Meratus Jaya Iron & Steel secara komersial. Pabrik ini berlokasi di Batulicin, Provinsi Kalimantan Selatan yang mengolah Bijih Besi menjadi Sponge Iron dengan kapasitas 315 ribu ton per tahun dengan nilai investasi sebesar Rp. 1,17 Triliun. 2). Telah beroperasinya PT. Indoferro secara komersial yang berlokasi di Cilegon, Provinsi Banten yang memproduksi Pig Iron dengan kapasitas 500 ribu ton/tahun dan Nickel Pig Iron dengan kapasitas 250 ribu ton/ tahun dengan nilai investasi sebesar USD. 110 Juta. 3). Telah dilakukannya Ground Breaking PT. Batulicin Steel pada bulan Juli 2012 yang rencananya akan memproduksi baja dasar sebesar 3 juta ton/tahun dengan nilai investasi sebesar USD. 1,5 Miliar termasuk Pembangunan Pembangkit Listrik (Power Plant) dengan kapasitas 100 MW dengan rincian Besi Beton sebesar 1 juta ton/tahun dan Ferro Nickel sebesar 600 ribu ton/tahun pada tahap awal serta H-Beam Steel dan Pelat Baja sebesar 2 juta ton/tahun pada tahap selanjutnya. 4). Telah beroperasinya PT. Krakatau-Posco Tahap 1 yang memproduksi slab baja 1,5 Juta Ton/Tahun dan plat baja 1,5 Juta Ton/Tahun dengan nilai investasi USD. 3 Miliar. 5). Rencana pembangunan Pabrik Pengolahan Pasir Besi menjadi Pig Iron (Main Concentrator Plant dan Pig Iron Plant) di Kulon Progo, Provinsi DI Yogjakarta yang akan dilakukan oleh PT. Jogja Magasa Iron dengan kapasitas 1juta ton/tahun dan nilai investasi sebesar USD. 1,2 Miliar. 88
103 6). Rencana investasi PT. Sebuku Lateritic Iron & Steel untuk pembangunan Pabrik yang memproduksi Pig Iron dengan kapasitas 3 juta ton per tahun di Sebuku, Provinsi Kalimantan Selatan dengan nilai investasi sebesar USD. 1 Miliar. 7). Telah beroperasinya PT. Delta Prima Steel untuk pembangunan Pabrik yang memproduksi Sponge Iron dengan kapasitas 100ribu ton per tahun di Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan dengan nilai investasi sebesar Rp. 1,2 Miliar. 8). Rencana investasi dan perluasan 8 (delapan) perusahaan penghasil pig iron, cold rolled coil & hot dipped galvanized, dan lain-lain dengan nilai investasi sekitar Rp. 52,44 Triliun. 9). Rencana investasi pabrik penghasil cold rolled coil & hot dipped galvanized dengan kapasitas sebesar /tahun yang merupakan joint venture antara PT. Krakatau Steel dengan Nippon Steel Sumikin di Banten dengan nilai investasi sebesar USD. 300 Juta 10). Rencana investasi pabrik penghasil besi beton & batang kawat baja dengan kapasitas sebesar /tahun yang merupakan joint venture antara PT. Gunung Gahapi Sakti dengan Nanjing Iron & Steel Company di Sumatera Utara dengan nilai investasi sebesar USD. 200 Juta. 11). Rencana investasi pabrik penghasil cold rolled coil & hot dipped galvanized untuk industri otomotif dengan kapasitas sebesar ton/tahun dari PT. JFE Steel Galvanizing di Karawang dengan nilai investasi sebesar USD. 325 Juta. 12). Rencana investasi pabrik penghasil bar and section dengan kapasitas sebesar ton/tahun yang merupakan joint venture antara PT. Krakatau Steel dengan Osaka Steel di Banten dengan nilai investasi sebesar USD. 200 Juta. g. Industri Aluminium Fokus program hilirisasi industri berbasis migas dan bahan tambang mineral selanjutnya adalah industri aluminium. Proyeksi konsumsi alumina pada 89
104 tahun 2025 sebesar 10 kg perkapita, sedangkan saat ini sebesar 2,9 kg perkapita. Tahun 2013 produksi aluminium dalam negeri sekitar 250 ribu ton, sehingga dibutuhkan tambahan produksi sebesar 3,1 juta ton untuk memenuhi kebutuhan di tahun Sampai tahun 2025 diperlukan bauksit sebesar 74,4 juta ton, ketersediaan energi sebesar MW dan investasi sebesar Rp. 24 Triliun. Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 sebagaimana diuraikan berikut. 1). Rencana pembangunan Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat yang akan dilakukan oleh PT. Antam dengan kapasitas 1,2 juta ton/tahun dan nilai investasi sebesar USD. 1 Milyar yang ditargetkan beroperasi pada Kuartal 1 Tahun ). Telah beroperasinya PT. Indonesia Chemical Alumina kapasitas 300 ribu ton CGA/tahun dan investasi USD. 500 juta di Kalimantan Barat. 3). Pembangunan PT. Well Harvest Mining dengan kapasitas 2 Juta ton alumina/tahun dan total investasi USD 1,1 Miliar di Ketapang, Kalimantan Barat. 4). Telah diambilalihnya PT. Indonesia Asahan Aluminium kapasitas 225 ribu ton aluminium ingot/tahun dan investasi USD. 920 Juta di Sumatera Utara oleh Pemerintah Indonesia. 5). Pembangunan industri aluminium di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara oleh PT. Inalum (Persero)dengan kapasitas aluminium ingot 250 kilo ton/ tahun, kapasitas slab/sheet 50 kilo ton/ tahun, kapasitas billet 30 kilo ton/ tahun, kapasitas wire rod 50 kilo ton/ tahun, dan kapasitas 90 kilo ton/ tahun serta total investasi USD. 91 Juta. aluminium alloy h. Industri Tembaga dan Nikel Fokus lain program hilirisasi industri berbasis migas dan bahan tambang mineral selanjutnya adalah industri tembaga dan nikel. Proyeksi konsumsi tembaga pada tahun 2025 sebesar 5 kg perkapita, sedangkan saat ini sebesar 90
105 2,2 kg perkapita. Tahun 2013 produksi aluminium dalam negeri sekitar 280 ribu ton, sehingga dibutuhkan tambahan produksi sebesar 1,4 juta ton untuk memenuhi kebutuhan di tahun Sampai tahun 2025 diperlukan bauksit sebesar 202 juta ton, ketersediaan energi sebesar MW dan investasi sebesar Rp. 110 Triliun. Fokus utama dari roadmap industri nikel adalah meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan bijih nikel menjadi ferronikel (jangka pendek, 2014) dan mengolah ferronikel menjadi stainless steel (jangka panjang, 2020) sehingga sampai tahun 2025 diperlukan bijih nikel sebesar 274 Juta Ton dan investasi sebesar Rp. 60 Triliun. Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut ini. 1). Pembangunan industri nikel di Morowali, Sulawesi Tenggara oleh PT. Sulawesi Mining Investment dengan kapasitas ferronickel 300 ribu ton dan power plant 130 MW serta total investasi USD 569 Juta. 2). Pembangunan industri nikel di Halmahera Timur oleh PT. Ferro Nickel Halmahera Timur dengan kapaitas ferronickel 270 ribu ton dan kapasitas stainless steel 600 ribu ton serta total investasi CAPEX USD 16 Triliun. 3). Rencana investasi PT. Weda Bay Nickel untuk pembangunan Pabrik yang memproduksi Nickel dengan kapasitas 65 ribu ton per tahun dan Cobalt dengan kapasitas 3,5 ribu ton per tahun di Maros, Provinsi Sulawesi Selatan dengan nilai investasi sebesar USD. 700 Juta. 4). Rencana investasi 8 (delapan) perusahaan yang memproduksi feronikel, nickel matte, dan nickel pig iron dengan nilai investasi sekitar 123 Triliun. 5). Telah beroperasinya PT. Vale Indonesia untuk pembangunan Pabrik yang memproduksi Nickel Matte dengan kapasitas ton per tahun di Sulawesi Selatan dengan nilai investasi sebesar USD. 2 Miliar. 6). Pembangunan industri nikel di Morowali, Sulawesi Tenggara oleh PT. Sulawesi Mining Investment dengan kapasitas ferronickel 300 ribu ton dan power plant 130 MW serta total investasi USD 569 Juta. 91
106 i. Industri Semen Industri semen merupakan prioritas revitalisasi dan penumbuhan industri bahan bangunan dan konstruksi. Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut ini. 1). Adanya penambahan 5 (lima) pabrik baru semen, seperti PT. Semen Bosowa dengan kapasitas produksi sebanyak 3 juta ton per tahun, PT Semen Holcim Indonesia Tbk (SMCB) dengan kapasitas produksi sekitar 1,7 juta ton per tahun, Semen Merah Putih 3 juta ton per tahun, Semen Jawa 1,7 juta ton per tahun, dan Anhui Conch Cement sebanyak 1,7 juta ton per tahun. 2). Unit pengantongan semen di Sorong, Papua Barat oleh PT. Semen Gresik yang direncanakan mulai beroperasi pada awal tahun ). Realisasi pembangunan oleh PT. Semen Gresik Group dan PT. Semen Bosowa. 4). Unit pabrik baru PT. Semen Gresik di Tuban, Jawa Timur (Tuban IV) dengan kapasitas 2,5 juta ton per tahun, telah beroperasi pada pertengahan tahun ). Unit pabrik baru di Maros, Sulawesi Selatan dengan peningkatan kapasitas menjadi 2,5 juta ton per tahun. Pembangunan dimulai bulan November 2012, direncanakan selesai tahun ). Realisasi pembangunan pabrik oleh investor baru, saat ini sedang proses pembebasan lahan, yaitu State Development and Investment Cooperation (SDIC) di Manokwari, Papua Barat dengan kapasitas 1 juta ton per tahun dan Anhui Conch Cement Co., Ltd. di Tanjung, Kalimantan Selatan dengan kapasitas 2,5 juta ton per tahun. 7). Pembangunan Unit pabrik baru PT. Semen Tonasa di Pangkep, Sulawesi Selatan (Tonasa V) dengan kapasitas 2,5 juta ton per tahun telah diresmikan pada tanggal 19 Februari ). Realisasi pembangunan pabrik baru oleh PT. Holcim Indonesia di Tuban, Jawa Timur, dengan kapasitas 1,7 juta ton per tahundan telah diresmikan tanggal 17 Juni
107 9). Realisasi pembangunan Unit penggilingan semen di Banyuwangi, Jawa Timur dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun. Pembangunan dimulai bulan Mei 2012, dan direncanakan selesai pada Triwulan I tahun ). Realisasi pembangunan pabrik baru PT. JUI SHIN Indonesia di Karawang Jawa Barat, dengan kapasitas produksi 2,5 juta ton per tahun dan saat ini sudah berproduksi mulai tahun j. Industri Garam Industri garam menjadi salah satu industri yang menjadi fokus program pengembangan industri dari Kementerian Perindustrian. Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut ini. 1). Peningkatan produktivitas lahan pegaraman melalui program intensifikasi lahan pegaraman termasuk pemasangan geomembran pada petak kristalisasi di Madura. Sampai saat ini produktivitas telah meningkat dari 60 ton/ha menjadi 70 ton/ha dan diprediksi akan terus meningkat. 2). Perluasan lahan pegaraman melalui program ekstensifikasi lahan pegaraman di daerah-daerah yang berpotensi yaitu di Madura-Sampang ha, NTB- Bima 500 ha, NTT-Flores ha, dan Kupang ha. 3). Intensifikasi Lahan Pegaraman di Madura-Sumenep dalam tahap penandatanganan kontrak dan Peningkatan Kualitas Lahan Pegaraman melalui Intensifikasi Lahan Pegaraman di NTT. 4). Telah tersusunnya rencana aksi industri pengembangan industri garam beryodium. k. Industri Tekstil, Produk Tekstil, dan Alas Kaki Program pengembangan industri Kementerian Perindustrian juga mencakup industri tekstil, produk tekstil dan alas kaki. Hasil-hasil yang telah dicapai industri ini sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut ini : 1). Telah diberikan bantuan potongan harga dalam rangka restrukturisasi permesinan industri TPT, alas kaki dan penyamakan kulit sebanyak
108 perusahaan dengan nilai bantuan sekitar Rp.99,96 Miliar yang mendorong investasi sebesar Rp.1,19 Triliun. 2). Sebanyak 15 perusahaan Industri TPT, Alas Kaki dan Penyamakan Kulit tidak dapat direalisasikan bantuannta karena anggaran yang tidak mencukupi dengan perkiraan nilai bantuan sebesar Rp. 17,43 Miliar dan nilai investasi Rp 175,3 Miliar. 3). Telah dilatih tenaga kerja siap pakai di industri tekstil, alas kaki dan barang jadi kulit sebanyak 650 orang di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Sumatera Barat dan Jawa Barat. 4). Perluasan investasi dan pembangunan pabrik baru Indorama Synthetic dengan total nilai investasi US$ 400 juta untuk memproduksi PET Resin 88 Ribu Ton/Tahun, benang filamen polyester 389,6 Ribu Ton/Tahun, dan 500 Ribu Ton/Tahun PTA (bahan baku serat polyester dan botol plastik). 5). Investasi dan pendirian pabrik Sritex yaitu PT Rayon Utama Makmur senilai Rp. 5,9 Triliun di Solo untuk memproduksi serat rayon 80 Ribu Ton/Tahun, benang 700 Ribu Bales of Yarn, dan apparel 16 Juta pcs/tahun. 6). Pemberlakuan SNI Wajib telah dilaksanakan untuk produk sepatu pengaman dan Korek api gas pada tahun 2013, serta Mainan anak dan Pakaian bayi pada tahun 2014 dan telah disiapkan infrastruktur pendukung serta regulasi terkait pemberlakuan SNI wajib untuk handuk dan pakaian jadi. 7). Fasilitasi Bantuan Mesin dan Peralatan untuk Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta berupa Mesin penunjang Uji Lab. 8). Penyusunan Roadmap Industri Tekstil dan Alas Kaki Tahun terkendala oleh permintaan dari pihak otoritas pengalokasi anggaran untuk terlebih dahulu melakukan Evaluasi Pelaksanaan Program Restrukturisasi terlebih dahulu sehingga waktu yang tersedia sudah tidak mencukupi. 94
109 l. Industri Permesinan Salah satu fokus program pengembangan logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika adalah industri permesinan. Hasil-hasil yang telah dicapai sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut. 1). Pembangunan gedung Pusat Pengembangan Teknologi Industri Mesin Perkakas dan Alat Kesehatan. 2). Promosi kemampuan industri permesinan dan alat mesin pertanian (termasuk komponen) dalam rangka pengembangan akses pasar dalam negeri dan luar negeri. 3). Penyusunan RSNI Konverter Kit dalam rangka mendukung Program Konversi BBM ke BBG dan penyusunan RSNI Alat Mesin Pertanian; 4). Dalam rangka AEC 2015 telah diterbitkan SNI Wajib untuk regulator tekanan tinggi setelah dinotifikasi ke WTO dan telah disusun SKKNI bidang industri permesinan dan alat mesin pertanian sebanyak 3 (tiga) naskah. 5). Pengembangan kelembagaan (Alsintan Center) di daerah daerah potensial pertanian di Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Pada provinsi Sumatera Barat dan Kalimantan Timur, Alsintan Center telah berdiri sedangkan pada provinsi Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan masih dalam proses penentuan lokasi. 6). Peningkatan kompetensi SDM industri permesinan dan Alsintan dibidang pengelasan, pengecoran, metal working dan Alsintan sebanyak 320 orang. m. Industri Perkapalan Program penumbuhan industri unggulan berbasis IPTEK yang dilaksanakan Kementerian Perindustrian mencakup 2 (dua) industri prioritas, yaitu industri perkapalan dan industri elektronika dan telematika. Hasil-hasil yang telah oleh dicapai industri perkapalan sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut. 95
110 1). Peningkatan kapasitas SDM melalui diklat dan sertifikasi pengelasan kapal, pengelasan bawah air, pelatihan coating, pengelasan non-ferro, Pelatihan manajemen galangan kapal serta pelaksanaan sertifikasi SDM juru las kapal sesuai amanat MoU Antara Dirjen IUBTT dengan Dirjen Binalantas sebanyak 400 orang. 2). Telah diterbitkannya PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 69 Tahun 2015 tentang Impor dan Penyerahan Alat Angkutan Tertentu dan Penyerahan Jasa Kena Pajak Terkait Alat Angkutan Tertentu Yang Tidak Dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Yang didalamnya termasuk PPN tidak dipungut untuk industri perkapalan. n. Industri Elektronika dan Telematika Industri prioritas kedua pada program penumbuhan industri unggulan berbasis IPTEK yang dilaksanakan Kementerian Perindustrian industri elektronika dan telematika. Hasil-hasil yang telah oleh dicapai industri perkapalan sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut. 1). Masuknya investasi baru dibidang industri elektronika dan telematika sebanyak 34 Perusahaan (PMA dan PMDN) dengan nilai investasi sebesar US$ ,- untuk PMA dan RP ,- untuk PMDN. 2). Selama Tahun 2015 terealisasi sebesar 4 usulan SNI dengan total produk yang diatur sebanyak 24 Jenis Produk, yaitu a) SNI IEC Peralatan listrik rumah tangga dan peralatan serupa keselamatan - Bagian 2-14 : Persyaratan khusus untuk peralatan dapur dengan mengusulkan 6 Jenis produk yang diberlakukan secara wajib b) SNI IEC Peralatan listrik rumah tangga dan sejenisnya Keselamatan Bagian 2-15: Persyaratan khusus untuk peralatan pemanas cairan dengan mengusulkan 6 jenis produk 96
111 c) SNI IEC Peralatan listrik rumah tangga dan sejenisnya Keselamatan Bagian 2-29: Persyaratan khusus untuk pengisi baterai dengan mengusulkan 1 jenis produk. d) SNI Peralatan audio, video dan elektronika sejenis - Persyaratan keselamatan dengan mengusulkan 11 Jenis Produk. 3). Dalam rangka pengembangan industri telematika khususnya industri konten (software, animasi, games) telah dikembangkan dan diperkuat pusat-pusat pengembangan industri konten (Technopark) dibeberapa daerah potensial antara lain Tohpati Center Bali, IBC Semarang, Pusat Pengembangan Desain Ponsel Batam, RICE Makassar, dan Bandung Technopark. Pusat pengembangan tersebut diharapkan akan menumbuhkan wirausahawirausaha baru dan start up company di bidang software, animasi dan games. 4). Pengendalian importasi mobile phone yang bertujuan untuk melindungi konsumen dari produk mobile phone yang tidak sesuai standar. o. Industri Alat Transportasi Darat Salah satu industri yang masuk dalam program pengembangan industri unggulan berbasis teknologi tinggi adalah industri alat transportasi darat. Hasilhasil yang telah oleh dicapai industri ini sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut. 1). Produksi KBM Roda-2 hingga November 2015 mencapai 7,2 Juta unit, dengan penjualan mencapai 6,5 Juta Unit. Terjadi penurunan produksi bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2014 yaitu sebesar 7,3 juta unit. Demikian pula dengan penjualan menurun dari 7,3 juta unit pada tahun 2014 (s.d November) menjadi 6,5 juta unit pada tahun 2015 (s.d November). Meskipun demikian terjadi peningkatan Ekspor KBM R-2 dari 36 ribu unit pada tahun 2014 (s.d November) menjadi 216 ribu unit pada tahun 2015 untuk periode yang sama. 97
112 2). Sampai dengan bulan November 2015, produksi KBM Roda-4 mencapai 1,02 juta unit. Sedangkan ekspor KBM R-4 sampai dengan November 2015 ialah sebesar 195 ribu unit Completely Build Up (CBU) dan 100 ribu set Completely knocked Down (CKD). Dibandingkan dengan periode yang sama November 2014, maka terjadi peningkatan ekspor CBU sebesar 5 persen dan penurunan impor sebesar 18 persen dari 93 ribu pada November 2014 menjadi 77 ribu pada November ). Total ada 14 proyek penanaman modal (investasi) pada tahun 2015 ini dengan nilai investasi mencapai US$ Proyek investasi pada tahun 2015 antara lain adalah: PT. Hino Motor Sales Indonesia (Karoseri kendaraan bermotor roda empat atau lebih berupa ban truck, bodi bus) PT. Sumiden Serasi Wire Products (Industri suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor roda empat atau lebih) PT. NPR Manufacturing Indonesia (Industri suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor roda empat atau lebih) PT. Pusaka Bersatu (Reparasi mobil) PT. FCC Indonesia (Industri suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor roda empat atau lebih) PT. Mugai Indonesia (Industri suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor roda empat atau lebih) PT. Delphi EEA Indonesia (Industri suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor roda empat atau lebih) PT. Tjokro Nippon Engineering (Industri komponen dan perlengkapan sepeda motor roda dua dan tiga) PT. SGMW Motor Indonesia (Industri kendaraan bermotor roda empat) PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors (Industri kendaraan bermotor roda empat) PT. Isuzu Astra Motor Indonesia (Industri kendaraan bermotor roda empat) PT. Denso Indonesia (Industri kendaraan bermotor roda empat) 98
113 PT. Automotive Fasteners Aoyama Indonesia PT. Suzuki Indomobil Motor Plant (Industri kendaraan bermotor). 4). Pada Program Pengembangan Kendaraan Angkutan Pedesaan (KAP), pada tahun 2014 sudah terbentuk desain platform dan prototipe kendaaraan angkutan umum murah yang penggunaannya ditujukan untuk wilayah pedesaan (pick-up yang bisa di-customized menjadi kendaraan multiguna di pedesaan). Pada tahun 2015 dilakukan uji durability pada prototipe kendaraan yang telah dibuat serta dilakukan koordinasi dengan pihak terkait mengenai strategi pemasaran dan purna jual produk. 5). Dalam rangka meningkatkan daya saing industri kendaraan bermotor dan sepeda dalam negeri, telah diberikan fasilitas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 249/PMK.011/2014 tanggal 24 Desember Melalui fasilitas BMDTP ini dapat menurunkan biaya produksi berupa bahan baku komponen kendaraan bermotor dan sepeda sehingga produk dalam negeri tersebut dapat bersaing dengan produk luar negeri. Anggaran yang telah dimanfaatkan (terealisasi) sebesar 99,63 persen dari total anggaran BMDTP tahun 2015 (28 perusahaan). 6). Pada tahun 2015 telah dilakukan penyusunan RSKKNI Perbaikan dan Perawatan Mobil di Bidang Kelistrikan serta dua kali rapat teknis mengenai RSKKNI tersebut. 7). Pada tahun 2015, telah diterbitkan SNI speedometer serta telah dilakukan rapat konsensus penyusunan SNI Spion kategori M & N. Selain itu telah tersusun rancangan awal SNI (RASNI) sepeda anak. 8). Telah diterbitkan 3 (tiga) Peraturan Menteri Perindustrian mengenai Industri Kendaraan Bermotor yang mengatur impor kendaraan bermotor dalam bentuk CKD (Completely Kn ocked Down) dan IKD (Incompletely Knocked Down), yaitu: a. Permenperin Nomor 34/M-IND/PER/3/2015 tentang Industri Kendaraan Bermotor Roda Empat Atau Lebih dan Industri Sepeda Motor. 99
114 b. Permenperin Nomor 61/M-IND/PER/8/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 34/M-IND/PER/3/2015 tentang Industri Kendaraan Bermotor Roda Empat Atau Lebih dan Sepeda Motor. c. Permenperin Nomor 73/M-IND/PER/9/2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 34/M-IND/PER/3/2015 tentang Industri Kendaraan Bermotor Roda Empat atau Lebih dan Industri Sepeda Motor. p. Industri Kecil dan Menengah (IKM) Pengembangan Industri Kecil dan Menengah merupakan salah satu fokus Kementerian Perindustrian karena IKM memberikan kontribusi yang besar terhadap pembentukan PDB industri pengolahan bukan migas. Hasil-hasil yang telah oleh dicapai industri ini sampai tahun 2015 adalah sebagaimana diuraikan berikut. 1). Capaian program prioritas sebagaimana telah dijelaskan pada poin 3 (Kinerja Program Prioritas Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun ): a. Pembangunan dan pengembangan wirausaha industri kecil dan menengah dilakukan melalui pelatihan kewirausahaan kepada TPL, mahasiswa/alumni PT, masyarakat umum, pelatihan teknis produksi kepada KUB, magang ke sentra industri atau industri besar, dampingan tenaga ahli, fasilitasi start up, dan fasilitasi pameran. Pada tahun 2015, telah dibina sebanyak calon wirausaha industri baru. b. Fasilitasi pengembangan produk dalam bentuk bimbingan penerapan dan fasilitasi GMP/HACCP/SNI/MD, fasilitasi sertifikasi SNI, SNI Wajib (mainan anak, pakaian bayi, logam, garam, dan sebagainya), sertifikasi Halal dan atribut pangan, fasilitasi pendaftaran HKI (merek, hak cipta, desain industri, paten, indikasi geografis), bantuan desain merek dan kemasan, pelatihan dan bantuan sarana produksi, serta dampingan tenaga ahli desain dan teknik produksi kepada IKM. 100
115 c. Pemberian bantuan potongan harga dalam rangka restrukturisasi mesin/peralatan kepada 112 IKM di 19 provinsi dengan nilai bantuan Rp ,-. Jenis industrinya meliputi industri makanan, minuman, TPT, kimia dan barang kimia, mesin dan perlengkapan, logam dan komponen, barang galian non logam, furniture dan kayu. 2). Capaian program lainnya sebaimana tercantum dalam DIPA program/kegiatan penumbuhan dan pengembangan IKM tahun 2015: a. Fasilitasi kepada 11 UPT dan 11 Rumah Kemasan dalam bentuk bantuan mesin/peralatan/sarana produksi, pelatihan dan magang bagi operator UPT, dan sosialisasi Rumah Kemasan. b. Pembinaan sentra IKM dalam bentuk pelatihan SDM IKM, fasilitasi mesin/peralatan produksi, bimbingan teknis produk, magang ke industri besar, serta fasilitasi kelembangaan sentra di 408 sentra. Komoditi yang dibina meliputi sentra pangan, makanan ringan, alas kaki, konveksi/pakaian jadi, furniture, kapal rakyat, pande besi, kerajinan, rotan, bambu, keramik hias, tenun, mainan anak, batako, akar wangi, batik, logam, gerabah, perbengkelan. c. Fasilitasi partisipasi IKM dalam pameran dalam dan luar negeri untuk mempromosikan produk-produk IKM nasional, meliputi pameran Indonesia Fashion Week, Adiwastra Nusantara, International Jewelry Fair, Hongkong Fashion Week, Pameran Who s Next Paris, serta pameran lainnya di Eropa, Asia, Amerika, dan Australia. d. Penganugerahan penghargaan One Village One Product (OVOP) kepada 109 IKM, terdiri atas 6 kategori yaitu Makanan Ringan; Minuman Sari Buah dan Sirup Buah; Tenun; Batik; Anyaman; dan Gerabah/Keramik Hias. e. Fasilitasi pelatihan alas kaki (jahit upper, grading, desain, manajemen, teknologi acuan alas kaki, dsb) kepada 340 IKM alas kaki oleh Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Sidoarjo, serta penyiapan infrastruktur program pengembangan branding nasional untuk IKM alas kaki dengan tagline Indonesia Shoe Power. 101
116 Pencapaian kinerja sebagaimana yang diuraikan sebelumnya juga didukung oleh pencapaian kinerja Kementerian Perindustrian lainnya yang terkait dengan kebijakan-kebijakan sebagai berikut: a. Fasilitasi Penanganan Kerjasama Industri Internasional Kebijakan fasilitasi penanganan kerjasama industri internasional telah berhasil mencapai beberapa hal berikut: 1). Dalam rangka pening katan daya saing industri telah disusun Rekomendasi untuk mengurangi produk impor Sepatu Kulit Pengaman Boot PVC dan Tas Kantor Kulit mengenai penetapan standar teknis (SNI) sepatu pengaman boot PVC dan Tas Kulit yang perlu diberlakukan secara wajib dan inspeksi teknis; 2). Memfasilitasi pelaku usaha industri dalam rangka pengamanan, penyelamatan dan pengembangan industri menghadapi persaingan global. Jumlah pelaku usaha yang difasilitasi dengan memanfaatkan SIKI (Sistem Informasi Ketahanan Industri) adalah: PT Krakatau Steel Indonesia (Pe rsero) Tbk, ; PT. Garam; PT. Industri Kapal (Persero); PT. Biofarma; PT. Pupuk Indonesia Holding Company; PT. Industri Kereta Api (Pe rsero) (PT. INKA) ; PT. Dok Perkapalan Surabaya (Persero); Behn Meyer Agricare, PT; Wirontono Baru, PT; Yakult Indonesia Persada, PT; Samadijaya, CV; ABC, PT; Pupuk Indonesia, PT; DAHANA, PT; Katari Rikasindo, PT; Alam Semesta Jaya, PT 3). Dalam rangka koordinasi fasilitasi implementasi kerjasama teknik luar negeri telah dilakukan fasilitasi persiapan dan pelaksanaan proyek kerjasama teknik LN di bidang 1) Developing Electronic Testing laboratories and LED Industry in Indonesia; 2) The Project on small and Medium Industry (SMI) Development based on Improved Service Delivery in Indonesia (SMIDeP); 3) Project on Enchancement of Metalworking Capacity for Supporting Industries of Construction Machinery in Indonesia; 4) Indonesia-Korea Technical Cooperation in Machine Tools (Machine Tools Technical Centre in Indonesia; 5 Korea Indonesia Rooth centre (KIRC). 102
117 4). Dalam rangka menumbuhkan industri nasional telah dilaksanakan tiga kegiatan promosi investasi yaitu : i) Pada The 19 th China International Fair and Trade (CIFIT) Di Xiamen, China pada tanggal 8-11 september 2015 dengan menyertakan 8 (delapan) perusahaan pemenang award green industry berkolaborasi dengan BKPM; ii) Promosi investasi pada Indonesia Investment Opportunity & Regulations Update dan Networking Luncheon di Sydney, Australia pada tanggal 9-14 November 2015 bekerjasama dengan BKPM dan iii) Penjajagan kerja sama investasi dengan Nigeria untuk pembentukan kawasan industri khusus ( special zone) pada tanggal Desember 2015 di Abuja, Nigeria. 5). Dalam rangka fasilitasi impelmentasi kerjasama teknik luar negeri juga telah dilaksanakan 3 (tiga) program capacity building dalam kerangka kerjasama selatan-selatan sekaligus untuk pemenuhan komitmen Pemerintah Indonesia kepada Timor Leste dan Negara-negara pasifik yaitu : i) Capacity Building di bidang plat welder for Timor leste dengan menyertakan 10 (sepuluh) peserta yang dilaksanakan pada 4-14 Agustus 2015; ii) Capacity building di bidang Cassava processing yang bagi 6 (enam) peserta dari Negara-negara selatanselatan antara lain Timor Leste, Papua Nuegini, dan Srilangka yang dilaksanakan pada April 2015; iii) Capacity Building di bidang kerajinan yaitu Coconut Shell bagi 10 peserta yakni Timor Leste, Myanmar, Laos dan Papua Nuegini yang dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus 5 September ). Dalam rangka tindak lanjut pelaksanaan kerjasama Korea Indonesia Technology Centre telah dilakukan fasilitasi diseminasi (seminar dan pelatihan) penerapan technologi di bidang Casting bekerjasama dengan KITECH Korea, Universitas Indonesia dan KITC dengan menyertakan 40 peserta dari industri terkait pada tanggal Oktober 2015 di Medan. 7). Dalam upaya Pemanfaatan pemanfaatan Rantai Suplai Global (RSG) menfokuskan pada upaya pemanfaatan suplay chain di Eropa untuk bidang 103
118 food ingredients dan engineering product. Saat ini terdapat 22 pelaku industri (IKM) yang terseleksi dan telah memasuki tahapan market entry dalam bentuk pameran di Eropa. Tahun 2016 akan dilakukan program perluasan dalam penjajakan RSG yang bekerja sama dengan Swiss Global Enterprice SIPPO/SECO Swiss; 8). Telah ditandatangani Technical Arrangement Kerjasama RI dan Italia implementasi sektor kulit, alas kaki, dan tekstil, tanggal 7 September 2015 di Milan, Italia; 9). Telah dilaksanakan Indonesia Investmen Promotion Forum Food & Beverage di New York, USA tanggal 1 Juli 2015; 10). Telah diselenggarakan Forum Bisnis Indonesia-Italia pada tanggal 7 September 2015 di WEM, Milan Italia; 11). Telah dilakukan pembuatan dan penayangan Vidio wall tentang industri makanan dan minuman di Paviliun Indonesia dalam rangka partisipasi Kemenperin pada World Expo Milano, Milan Italia; 12). Telah dilakukan promosi produk Teknologi Industri sebanyak 4 perusahaan (The 6 th Internasional Industrial Trade Fair (Innoprom) tanggal 8-11 Juli 2015 di Ekaterinburg, Rusia; 13). Telah dilakukan promosi produk tekstil sebanyak 7 perusahaan (Sourcing at Magic, Las Vegas, USA tanggal Agustus 2015 di Las Vegas, USA; 14). Telah dilakukan promosi produk industri makanan dan minuman sebanyak 8 perusahaan pada (SIAL Middle East 2015) tanggal 7-9 Desember 2015; 15). Telah dilakukan promosi produk industri makanan dan minuman sebanyak 6 perusahaan pada MIHAS 2015 yang diselenggarakan pada tanggal 1-4 April 2015 di Malaysia; 16). Telah dilakukan promosi produk industri bangunan sebanyak 7 perusahaan (Timor Leste Build Expo) 2015 pada tanggal 5-7 Mei 2015; 104
119 17). Telah dilakukan promosi produk industri makanan dan minuman sebanyak 5 perusahaan (Taiwan International Halal Expo) pada tanggal Juni ). Tersusunnya Rancangan Peraturan Pemerintah Pengamanan dan Penyelamatan. Saat ini masih dalam proses pembahasan internal terkait pengamanan akibat persaingan persaingan global masih dalam proses pembahasan dengan Kementerian Perdagangan, yang direncanakan akan disatukan pada Revisi Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2011 tentang Tindakan Anti Dumping, Tindakan Imbalan dan Tindakan Pengamanan Perdagangan; 19). Tersusunnya Rancangan Peraturan Pemerintah Kerjasama Internasional Bidang Industri, saat ini masih dalam proses harmonisasi dengankementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Kementerian terkait. 20). Telah dibentuk Steering Comeettee (Tim koordinasi) kerjasam a Indonesia- UNIDO guna memperlancar koordinasi dan peningkatan kerjasama Indonesia-UNIDO 21). Telah ditandatangani MoU between The Ministry of Industry of the Republic of Indonesia and the Ministry of of Industry and the Ministry of Economic Development of Italian Republic on Cooperation in the Field of the Development of Industrial Sectors. Dan sedang menyusun 4 bidang technical arrangement (tekstil, permesinan, kulit, others keramik) 22). MoU between The Ministry of Industry of the Republic of Indonesia and the Ministry of of Industry and Commerce of the Lao People,s Democratic Republic on Technical Cooperation in Industrial Sector, dengan Laos belum ditandatangai, capacity building bidang garmen sudah diberikan. Beasiswa (2 di ATK, 1 di STTT). Untuk Mozambique masa berlaku akan habis dan sedang dipertimbangkan untuk dilanjutkan atau diterminasi. Sedangkan dengan 105
120 China (Agreement tentang pendirian kawasan industri sudah ditandatangani, untuk implementasi perlu disusun technical arrangement 23). Menghadiri Sidang Komite Technical barrier to Trade (TBT-WTO) dalam rangka Partisipasi Aktif dalam fora kerjasama Industri Internasional ke Jenewa, Swiss pada tanggal Juni Selain mengikuti sidang reguler, Delegasi RI juga telah mengadakan pertemuan bilateral untuk membahas kasus hambatan teknis yang dialami produk Indonesia kebeberapa negara atau anggota WTO yang ingin meminta klarifikasi teknis mengenai kebijakan negara Indonesia Negara yang melakukan pertemuan bilateral tersebut a.l. AS, UE, RRT, Kanada, Meksiko dan Australia. b. Fasilitasi Pemanfaatan Tax Holiday Kebijakan fasilitasi pemanfaatan tax holiday telah berhasil mencapai beberapa hal berikut: 1). Pada TA telah diusulkan kepada Menkeu permohonan fasilitas Tax Holiday untuk 2 (dua) perusahaan industri, yaitu : a) PT. Sulawesi Mining Investment, dengan nilai investasi sebesar Rp. 6,4 Triliun - Menperin sudah menyampaikan usulan kepada Menkeu melalui surat No. 255/M-IND/05/2015 pada tanggal 12 Mei Diputuskan tidak mendapatkan fasilitas tax holiday dan dapat mengusulkan fasilitas tax allowance. b) PT. Sateri Viscose International, dengan nilai investasi sebesar Rp. 14,57 Triliun - Menperin sudah menyampaikan usulan kepada Menkeu melalui surat No. 387/M-IND/08/2015 pada tanggal 14 Agustus Diberikan fasilitas Tax Holiday selama 6 tahun saat dimulainya berproduksi secara komersial dengan diterbitkannya KMK. 106
121 2). Sampai dengan tahun 2015, telah dimanfaatan Tax Holiday oleh 3 (tiga) perusahaan dengan nilai investasi Rp. 5,35 Triliun, dengan rincian sebagai berikut: a). PT. Unilever Oleochemical Indonesia (PT. UOI), dengan nilai investasi Rp. 1,15 Triliun. Diberikan fasilitas Tax Holiday berupa Pembebasan PPh Badan selama 5 (lima) tahun dan Pengurangan PPh Badan sebesar 50 persen selama 2 (dua) tahun dengan diterbitkannya KMK No. 463/KMK.011/2012; b). PT. Petrokimia Butadiene Indonesia (PT. PBI), dengan nilai investasi Rp. 1,4 Triliun. Diberikan fasilitas Tax Holiday berupa Pembebasan PPh Badan selama 5 (lima) tahun dan Pengurangan PPh Badan sebesar 50 persen selama 2 (dua) tahun dengan diterbitkannya KMK No. 462/KMK.011/2012; c). PT. Energi Sejahtera Mas (PT. ESM), dengan nilai investasi Rp. 2,8 Triliun. Diberikan fasilitas Tax Holiday berupa Pembebasan PPh Badan selama 7 (tujuh) tahun dan Pengurangan PPh Badan sebesar 50 persen selama 2 (dua) tahun dengan diterbitkannya KMK No. 271/KMK.011/ ). Sampai dengan tahun 2015, telah diusulkan kepada Menteri Keuangan tentang pemberian Fasilitas Tax Holiday untuk 6 (enam) perusahaan dengan total nilai investasi sebesar Rp. 60,2 triliun, dengan rincian sebagai berikut: a). PT. Indorama Polychem Indonesia (PT. IPCI), dengan nilai investasi Rp. 2,5 Triliun. b). PT. Ogan Komering Ilir Pulp & Paper Mills (PT. OKI), dengan nilai investasi Rp. 29 Triliun. c). PT. Caterpillar Indonesia Batam (PT. CIB), dengan nilai investasi Rp. 1,4 Triliun. d). PT. Feni Haltim (PT. FHT), dengan nilai investasi Rp. 16 Triliun. e). PT. Well Harvest Winning Alumina Refinery (PT. WHW), dengan nilai investasi Rp. 6,7 Triliun. 107
122
123
124 PENGUKURAN KINERJA Kementerian Tahun Anggaran : 2015 : Perindustrian Kode SS Sasaran Strategis (SS) Kode IKU Indikator Kinerja Utama (IKU) Target Realisasi Satuan Realisasi Satuan PERSPEKTIF STAKEHOLDERS S1.1 Laju pertumbuhan industri non-migas 6,00 5,04 Persen 84 Persen S1 Tingginya nilai tambah industri S1.2 Kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB nasional 20,8 18,18 Persen 87,4 Persen S2 Tingginya penguasaan pasar dalam dan luar negeri S2.1 Kontribusi ekspor produk industri terhadap ekspor nasional 65 70,98 Persen 109,2 Persen S2.2 Pangsa pasar produk industri nasional terhadap total permintaan di pasar dalam negeri Persen 121,08 Persen S3 Meningkatnya Produktivitas SDM Industri S3.1 Tingkat produktivitas dan kemampuan SDM industri Ribu Rupiah/ Tenaga Kerja 127,25 Persen S4 Tingginya kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi Industri S4.1 Jumlah hasil litbang yang siap diterapkan Hasil litbang 177,14 Persen S4.2 Jumlah hasil litbang yang telah diimplementasikan Hasil litbang 350 Persen S5 Kuat, lengkap dan dalamnya struktur industri S5.1 Jumlah investasi di industri hulu dan antara Proyek 1078,78 Persen S5.2 Tingkat kandungan lokal Produk 343,6 Persen S6 Tersebarnya pembangunan industri S6.1 Rasio PDB industri Luar Jawa terhadap PDB industri Jawa 27,73: 72,27 28,97 : 71,03 Rasio 104,47 Persen S6.2 Perbandingan jumlah IKM di luar Pulau Jawa dan Jawa 32:68 38,8 : 61,2 Rasio 121,25 Persen S7 Meningkatnya peran industri kecil dan menengah terhadap PDB S7.1 Meningkatnya kontribusi PDB IKM terhadap PDB Industri 35 34,82 Persen 99,48 Persen
Kementerian Perindustrian
Kementerian Perindustrian REPUBLIK INDONESIA LAPORAN KINERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2014 BIRO PERENCANAAN 2015 Ringkasan Eksekutif Penyelenggaraan Negara yang Bersih, Bebas dari Korupsi, Kolusi
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2011
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2011 SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 2012 RINGKASAN EKSEKUTIF Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perindustrian ini disusun
B. VISI : Indonesia Menjadi Negara Industri yang Berdaya Saing dengan Struktur Industri yang Kuat Berbasiskan Sumber Daya Alam dan Berkeadilan
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTRIAN NEGARA/LEMBAGA FORMULIR 1 : RENCANA PENCAPAIAN SASARAN STRATEGIS PADA KEMENTRIAN NEGARA/LEMBAGA TAHUN ANGGARAN : 216 A. KEMENTRIAN : (19) KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan
Kementerian Perindustrian REPUBLIK INDONESIA LAPORAN TRIWULAN I KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016
Kementerian Perindustrian REPUBLIK INDONESIA LAPORAN TRIWULAN I KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016 BIRO PERENCANAAN 2016 Formulir C Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 Tanggal
Formulir C Laporan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksana Rencana Pembangunan Triwulan III Berdasarkan PP No.39 Tahun 2006 Tahun Anggaran 2014
Kementerian Perindustrian REPUBLIK INDONESIA Formulir C Laporan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksana Rencana Pembangunan Triwulan III Berdasarkan PP No.39 Tahun 2006 Tahun Anggaran 2014 Kementerian Perindustrian
Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016
Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016 Yth. : 1. Menteri Perdagangan; 2. Menteri Pertanian; 3. Kepala BKPM;
Menteri Perindustrian Republik Indonesia. Menghidupkan Kembali Sektor Industri Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional
Menteri Perindustrian Republik Indonesia Menghidupkan Kembali Sektor Industri Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional Surabaya, 8 Oktober 2015 DAFTAR ISI Hal I Kinerja Makro Sektor Industri 3 II Visi, Misi,
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO TAHUN 2016
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO TAHUN 2016 DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 52-53 Jakarta 12950 Telp.: 021-5255509
Organisasi. struktur. Kementerian Perindustrian
Organisasi struktur Kementerian Perindustrian 2 3 Daftar Isi Kata Pengantar 3 4 6 7 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kata Pengantar Struktur Organisasi Kementrian Perindustrian Arah Kebijakan Pembangunan
STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
STRUKTUR ORGANISASI KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN Daftar Isi Kata Pengantar Pembentukan struktur organisasi baru Kementerian Perindustrian yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Perindustrian nomor 105/M-IND/
Menteri Perindustrian Republik Indonesia
Menteri Perindustrian Republik Indonesia KEYNOTE SPEECH MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA MUSYAWARAH PROPINSI VI TAHUN 2015 KADIN DENGAN TEMA MEMBANGUN PROFESIONALISME DAN KEMANDIRIAN DALAM MENGHADAPI ERA
RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN PEMERINTAH DAERAH TAH
Jakarta, 2 Maret 2012 Rapat Kerja dengan tema Akselerasi Industrialisasi Dalam Rangka Mendukung Percepatan Pembangunan Ekonomi yang dihadiri oleh seluruh Pejabat Eselon I, seluruh Pejabat Eselon II, Pejabat
RENCANA KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN ANGGARAN 2015 JAKARTA, APRIL 2014
RENCANA KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN ANGGARAN JAKARTA, APRIL DAFTAR ISI I. Laporan Rekapitulasi Rencana Kerja Kementerian Perindustrian Tahun Anggaran II. Rekapitulasi Per Program Rincian kegiatan
MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Menteri Perindustrian Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 31.1/MIND/PER/3/2015 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN
DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KIMIA, TEKSTIL, DAN ANEKA
RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KIMIA, TEKSTIL, DAN ANEKA TAHUN 2015-2019 DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KIMIA, TEKSTIL, DAN ANEKA Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 52-53 Lantai 9 Jakarta 12950
!"!"!#$%"! & ' ((( ( ( )
!"!"!#$%"! & ' ((( ( ( ) *(+(, ( -./ *0$" I. Pendahuluan A. Ciri Umum ILMTA B. Lingkup Industri Binaan Ditjen ILMTA C. Gambaran Umum Perkembangan Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Tahun 2005 s/d 2009
KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara
KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2019 Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Di Hotel Bidakara Jakarta, 16 Februari 2016 I. TUJUAN KEBIJAKAN INDUSTRI NASIONAL 2 I. TUJUAN KEBIJAKAN
KATA PENGANTAR. Syarif Hidayat
Laporan Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2015 i KATA PENGANTAR Penyelenggaraan Negara yang Bersih, Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merupakan tanggung jawab semua instansi pemerintah dalam rangka
RENCANA STRATEGIS TAHUN DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO
RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO TAHUN 2015-2019 DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 2015 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL INDUSTRI AGRO NOMOR : 20.1/IA/PER/3/2015
Kementerian Perindustrian
Kementerian Perindustrian Formulir C Laporan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Triwulan I Berdasarkan PP No. 39 Tahun 2006 Tahun Anggaran 2012 Laporan Konsolidasi Program Dirinci
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian
AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN 2012-2014 Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Jakarta, 1 Februari 2012 Daftar Isi I. LATAR BELAKANG II. ISU STRATEGIS DI SEKTOR INDUSTRI III.
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) DIREKTORAT IKM PANGAN BARANG DARI KAYU DAN FURNITUR TAHUN ANGGARAN 2017
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) DIREKTORAT IKM PANGAN BARANG DARI KAYU DAN FURNITUR TAHUN ANGGARAN DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH KATA PENGANTAR Sebagai salah satu unit Eselon
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah
DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO
RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO TAHUN 2010 2014 (REVISI II) DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 2012 KATA PENGANTAR Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah
Sekretariat Jenderal KATA PENGANTAR
RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) SEKRETARIAT JENDERAL 2014 KATA PENGANTAR Sesuai dengan INPRES Nomor 7 Tahun 1999, tentang Akuntabilits Kinerja Instansi Pemerintah yang mewajibkan kepada setiap instansi pemerintah
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan
Ikhtisar Eksekutif. vii
Kata Pengantar Laporan Kinerja Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini merupakan bentuk akuntabilitas dari pelaksanaan tugas dan fungsi kepada masyarakat (stakeholders) dalam menjalankan visi dan misi
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2016
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL TAHUN 2016 SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN JAKARTA, JANUARI 2017 Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Inspektorat
Kementerian Perindustrian REPUBLIK INDONESIA LAPORAN TRIWULAN I KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2017
Kementerian REPUBLIK INDONESIA LAPORAN TRIWULAN I KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2017 BIRO PERENCANAAN 2017 Formulir C Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2006 Tanggal 29 Nopember 2006
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA A. RPJMN 2010-2014 Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) menjelaskan bahwa Rencana Pembangunan Jangka
Rencana Strategis Perindustrian di Bidang Energi
Rencana Strategis Perindustrian di Bidang Energi disampaikan pada Forum Sinkronisasi Perencanaan Strategis 2015-2019 Dalam Rangka Pencapaian Sasaran Kebijakan Energi Nasional Yogyakarta, 13 Agustus 2015
AH UN H f ls I. sm? Iftwsfiiist#' ".-» ( */ ji»«*i «"HJ" inni«r7! V"'' EKRETARIAT JENDERAL. KEMENTERfAN PERINDUSTRIAN
AH UN 2 0 1 7 H f ls I sm? Iftwsfiiist#' ".-» ( */ ji»«*i «"HJ" inni«r7! V"''. EKRETARIAT JENDERAL KEMENTERfAN PERINDUSTRIAN DAFTAR ISI BAB I - PENDAHULUAN... 1 A. TUGAS DAN FUNGSI BIRO PERENCANAAN...
BAB I PENDAHULUAN. ekonomi dikatakan baik apabila terjadi peningkatan pada laju pertumbuhan di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan
Plt. Sekretaris Jenderal Haris Munandar N
KATA PENGANTAR Penyelenggaraan Negara yang Bersih, Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merupakan tanggung jawab semua instansi pemerintah dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (Good
RENCANA KINERJA TAHUN ANGGARAN 2016
RENCANA KINERJA TAHUN ANGGARAN 2016 BADAN PENGKAJIAN KEBIJAKAN IKLIM DAN MUTU INDUSTRI BALAI BESAR TEKNOLOGI PENCEGAHAN PENCEMARAN INDUSTRI Jalan Ki Mangunsarkoro 6 Semarang 50136 Tromol Pos 829 Telp.
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO TAHUN 2017
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO TAHUN 2017 SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 52-53 Jakarta 12950 Telp.:
PAGU ANGGARAN ESELON I MENURUT PROGRAM DAN JENIS BELANJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TA. 2012
NO KODE UNIT KERJA/PROGRAM PAGU ANGGARAN ESELON I MENURUT PROGRAM DAN JENIS KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TA. 212 BARANG MODAL (Dalam ribuan rupiah) 1 SEKRETARIAT JENDERAL 12,47,993 53,265,361 283,213,727
Ringkasan. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional
Ringkasan Kebijakan Pembangunan Industri Nasional Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak sangat ketatnya persaingan, dan cepatnya terjadi perubahan lingkungan
Written by Danang Prihastomo Friday, 06 February :22 - Last Updated Wednesday, 11 February :46
RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2015 Jakarta, 5 Februari 2015 Rapat Kerja Menteri Perindustrian Tahun 2015 dengan tema Terbangunnya Industri yang Tangguh dan Berdaya Saing Menuju
SUMBER ANGGARAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TA 2015 BERDASARKAN JENIS BELANJA
SUMBER ANGGARAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TA 215 BERDASARKAN JENIS NO SUMBER ANGGARAN RINCIAN ANGGARAN TA 215 (dalam ribuan rupiah) BARANG MODAL JUMLAH 1 RUPIAH MURNI 629459711 1.468.836.8 42882193 2.527.117.694
PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERINDUSTRIAN
Jalan Ampera Raya No. 7, Jakarta Selatan 12560, Indonesia Telp. 62 21 7805851, Fax. 62 21 7810280 http://www.anri.go.id, e-mail: [email protected] PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR
PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2015 KABUPATEN BANGKA SELATAN
7 Desember 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2015 KABUPATEN BANGKA SELATAN EKONOMI TAHUN 2015 TUMBUH 4,06 PERSEN MELAMBAT SEJAK EMPAT TAHUN TERAKHIR Perekonomian Kabupaten Bangka Selatan tahun 2015 yang diukur
Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016
Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016 JAKARTA, 16 FEBRUARI 2016 Kepada Yang Terhormat: 1. Pimpinan Komisi
PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERINDUSTRIAN
Jalan Ampera Raya No. 7, Jakarta Selatan 12560, Indonesia Telp. 62 21 7805851, Fax. 62 21 7810280 http://www.anri.go.id, e-mail: [email protected] PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan Karunia-Nya, kami telah dapat menyelesaikan penyusunan Laporan
1 KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan Karunia-Nya, kami telah dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya
BAB II PERENCANAAN KINERJA
BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1 Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Ditjen P2HP), melalui Keputusan Direktur Jenderal P2HP Nomor KEP.70/DJ-P2HP/2010 tanggal 17
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.4, 2014 EKONOMI. Pembangunan. Perindustrian. Perencanaan. Penyelenggaraan. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5492) UNDANG-UNDANG
MATRIK 2.3 RENCANA TINDAK PEMBANGUNAN KEMENTERIAN/ LEMBAGA TAHUN 2011
I PROGRAM DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 250,0 275,0 320,0 360,0 1 Peningkatan Pengelolaan Pelayanan Publik 2 Pengembangan SDM Industri Tersebarnya informasi,
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.76, 2015 ADMINISTRASI. Pemerintah. Kementerian Badan Usaha Milik Negara. Penyelenggaraan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 73 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI BALI
GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 73 TAHUN 2011 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : bahwa
LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2010
LAPORAN KEGIATAN LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA WORKSHOP PENGEMBANGAN KUALITAS KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN SDM PERENCANA ((MOTIVASI BERPRESTASI)) TAHUN 2010 KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 2011 RINGKASAN EKSEKUTIF
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur
I. PENDAHULUAN. Distribusi Persentase PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Bogor merupakan sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Barat. Kedudukan Kota Bogor yang terletak di antara wilayah Kabupaten Bogor dan dekat dengan Ibukota Negara
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR A. KONDISI UMUM Sebagai motor penggerak (prime mover) pertumbuhan ekonomi, sektor industri khususnya
PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 TUMBUH 5,85 PERSEN
No. 09/02/31/Th.XIX, 6 Februari 2017 PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 EKONOMI JAKARTA TAHUN 2016 TUMBUH 5,85 PERSEN Perekonomian Jakarta tahun 2016 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional
Mendukung terciptanya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Meningkatnya jumlah minat investor untuk melakukan investasi di Indonesia
E. PAGU ANGGARAN BERDASARKAN PROGRAM No. Program Sasaran Program Pengembangan Kelembagaan Ekonomi dan Iklim Usaha Kondusif 1. Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi Mendukung terciptanya kesempatan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan
b. Kepala Sub Bagian Keuangan; c. Kepala Sub Bagian Program, Evaluasi dan Pelaporan.
BAB XX DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN Bagian Kesatu Susunan Organisasi Pasal 400 Susunan organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan terdiri dari: a. Kepala Dinas; b. Sekretaris, membawahkan: 1.
B. VISI : Terwujudnya Lembaga Koordinasi dan Sinkronisasi Pembangunan Ekonomi Yang Efektif dan Berkelanjutan
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN KEMENTRIAN NEGARA/LEMBAGA FORMULIR : RENCANA PENCAPAIAN SASARAN STRATEGIS PADA KEMENTRIAN NEGARA/LEMBAGA TAHUN ANGGARAN : A. KEMENTRIAN : () KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
Laporan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (PP 39) Triwulan IV Tahun Anggaran 2016
2016 Laporan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (PP 39) Triwulan IV Tahun Anggaran 2016 Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Iklim Usaha BPPI Kementerian Peran KATA PENGANTAR
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur
NARASI MENTERI PERINDUSTRIAN RI Pembangunan Industri yang Inklusif dalam rangka Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas
NARASI MENTERI PERINDUSTRIAN RI Pembangunan Industri yang Inklusif dalam rangka Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas Sektor industri merupakan salah satu sektor yang mampu mendorong percepatan
Menteri Perindustrian Republik Indonesia
Menteri Perindustrian Republik Indonesia KEYNOTE SPEECH MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA 3rd SUSTAINABLE BUSINESS DIALOGUE IN COOPERATION WITH THE GLOBAL PRACTITIONERS DIALOGUE ON CLIMATE
RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015
RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 KATA PENGANTAR R encana Kinerja merupakan dokumen yang berisi target kinerja yang diharapkan oleh suatu unit kerja pada satu tahun tertentu
KATA PENGANTAR. Jakarta, 22 Januari 2015 Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Ir. Saut P. Hutagalung, M.Sc
KATA PENGANTAR Laporan Kinerja merupakan wujud pertanggungjawaban kepada stakeholders dan memenuhi Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 yang mengamanatkan setiap instansi pemerintah/lembaga negara yang
Menteri Perindustrian Republik Indonesia
Menteri Perindustrian Republik Indonesia BUTIR-BUTIR BICARA MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAPAT KOORDINASI PEMERINTAH PUSAT, PEMERINTAH DAERAH, DAN BANK INDONESIA MEMPERCEPAT DAYA SAING INDUSTRI UNTUK
BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Wilayah Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara pertanian, artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Wilayah Indonesia memiliki tanah yang subur
Menteri Perindustrian Republik Indonesia
Menteri Perindustrian Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/M-IND/PER/11/2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2015
2 BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 29/05/34/Th.XVII, 5 Mei 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2015 EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN I 2015 TUMBUH 0,16 PERSEN MELAMBAT DIBANDING
I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Indonesia. Konsekuensinya adalah bahwa kebijakan pembangunan pertanian di negaranegara tersebut sangat berpengaruh terhadap
PERTUMBUHAN EKONOMI LABUHANBATU TAHUN 2015
BPS KABUPATEN LABUHANBATU No. 01/10/1207/Th. IX, 6 Oktober 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI LABUHANBATU TAHUN 2015 Pertumbuhan Ekonomi Labuhanbatu Tahun 2015 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto
Analisis Perkembangan Industri
MARET 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi Maret 2017 Pertumbuhan Ekonomi Nasional Pertumbuhan ekonomi nasional, yang diukur berdasarkan PDB harga konstan 2010, pada triwulan IV
Renstra Ditjen IA
Renstra Ditjen IA 20209 3 PROGRAM PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI BERBASIS AGRO 34.789,8 646.848,3 660.630, 692.396, 72.96,9 Ditjen Industri Agro Tingginya laju pertumbuhan industri agro (persen)
I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan proses transformasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembangunan ekonomi dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR
BAB 17 PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR A. KONDISI UMUM Sebagai motor penggerak (prime mover) pertumbuhan ekonomi, sektor industri khususnya industri pengolahan nonmigas (manufaktur) menempati
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2005 TENTANG UNIT ORGANISASI DAN TUGAS ESELON I KEMENTERIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2005 TENTANG UNIT ORGANISASI DAN TUGAS ESELON I KEMENTERIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN
PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN Kinerja perekonomian Indonesia masih terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa triwulan
Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur
XII Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Globalisasi ekonomi menuntut produk Jawa Timur mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara lain, baik di pasar lokal maupun pasar internasional. Kurang
