BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Rasa Takut dan Cemas Rasa takut dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti objek internal dan hal yang tidak disadari. Menurut Darwin kata takut (fear) berarti hal yang tiba-tiba dan berbahaya. Gejala rasa takut berupa jantung yang berdebar-debar, berkeringat dan bergetarnya otot tubuh seperti bergetarnya bibir. Selain itu rasa takut juga menunjukkan gejala berupa kulit yang menjadi pucat. Hal ini terjadi jika mengalami ketakutan yang tinggi. 14 Pengertian rasa takut dengan cemas secara literatur digunakan secara bergantian dan masih sulit dibedakan. Hampir sama dengan rasa takut, rasa cemas juga merupakan salah satu tipe gangguan emosi yang berhubungan dengan situasi yang tidak terduga atau situasi yang dianggap berbahaya. Gejala kecemasan juga tidak terlalu berbeda dengan rasa takut yaitu terlihat pada penampilan fisik ataupun perubahan yang terjadi pada mental seseorang. Secara fisiologis gejala kecemasan berupa telapak tangan berkeringat, gemetar, pusing ataupun jantung yang berdebar-debar pada saat berhadapan dengan situasi yang menantang. Rasa takut dan cemas terjadi karena individu tidak mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan pada umumnya. 15,16 Walaupun sulit membedakan rasa takut dan cemas, keduanya merupakan suatu hal yang berbeda. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan dan memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman. Sedangkan rasa takut adalah respon dari suatu ancaman yang asalnya diketahui, eksternal, jelas atau bukan bersifat konflik. Rasa takut dianggap oleh beberapa peneliti sebagai salah satu emosi dasar manusia. 14, Rasa Takut Terhadap Perawatan Gigi Rasa takut terhadap perawatan gigi adalah emosi yang normal terhadap satu atau lebih stimulus yang mengancam dari situasi yang ada pada perawatan gigi dan

2 rasa cemas terhadap perawatan gigi merupakan bagian dari rasa takut akibat perawatan gigi. Hal ini biasanya berhubungan dengan perasaan seseorang terhadap suatu situasi atau objek, dan rasa takut akan berakibat buruk bagi anak karena dapat menyebabkan anak menghindari perawatan gigi. Kata takut dan cemas terhadap perawatan gigi sering digunakan secara bersamaan. Menurut Klinberg, kata takut dan cemas sering digunakan anak dan dewasa untuk menggambarkan perasaan yang negatif terhadap perawatan gigi. 5,17 Spielberger menjelaskan kecemasan sebagai keadaan emosi yang terdiri atas perasaan khawatir, ketakutan dan cemas dengan diaktifkannya sistem saraf otonom. Kecemasan terhadap perawatan gigi adalah gabungan antara keadaan cemas terhadap sesuatu yang akan terjadi dengan rasa takut pada sesuatu yang mengerikan mengenai yang akan terjadi selama perawatan gigi. 17 Rasa takut untuk mengunjungi dokter gigi menjadi masalah kesehatan umum yang terjadi di beberapa negara, prevalensi rasa takut terhadap perawatan gigi sekitar 5-20% di beberapa negara yang berbeda dan beberapa persennya bahkan berakibat menjadi phobia terhadap perawatan gigi. 18 Anak-anak sering merasa bahwa mengunjungi dokter gigi akan membuat mereka menjadi sangat stress. Rasa takut terhadap perawatan gigi ini merupakan rasa takut akibat ketidakmampuan anak dalam beradaptasi dengan situasi perawatan gigi. Rasa takut terhadap perawatan gigi sangat berhubungan erat dengan masalah tingkah laku pada perawatan gigi. Anak yang takut akan memiliki perilaku yang tidak kooperatif dalam perawatan gigi. Penting untuk diketahui oleh dokter gigi agar dapat mengatasi masalah tingkah laku dan membuat anak merasa nyaman. 7, Etiologi Rasa Takut Terhadap Perawatan Gigi Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu faktor personal, faktor eksternal dan faktor lingkungan perawatan gigi. Faktor personal terdiri atas usia, temperamen, masalah psikiatri atau rasa cemas secara umum. Faktor eksternal terdiri atas kecemasan dan ketakutan orang tua dan lingkungan sosial. Dan yang terakhir adalah faktor lingkungan perawatan gigi yang terdiri atas rasa sakit, dokter gigi, dan situasi dalam perawatan gigi. 19

3 2.3.1 Faktor Personal Tingkat rasa takut terhadap perawatan gigi pada anak dapat bervariasi pada hasil beberapa penelitian. Hal ini disebabkan karena perbedaan kriteria penilaian rasa takut terhadap perawatan gigi, perbedaan ukuran sampel dan teknik seleksi sampel, dan perbedaan usia. Namun faktor yang paling utama yang dapat menjelaskan rasa takut anak terhadap perawatan gigi adalah usia anak. Rasa takut terhadap perawatan gigi umumnya terjadi pada anak yang masih muda, hal ini berhubungan dengan perkembangan psikologis anak dalam kemampuannya menghadapi perawatan gigi. 18 Anak memulai perawatan giginya pada saat usia sekolah yaitu pada usia 6-12 tahun. Pada usia sekolah merupakan periode perkembangan sosial anak, dimana anak belajar dari lingkungan sosialnya dan belajar menerima kebutuhan di lingkungan sosialnya. 20 Pada usia ini keingintahuan anak sangat tinggi, seperti dalam perawatan gigi anak sangat ingin tahu tindakan yang akan diterimanya. Oleh karena itu komunikasi yang baik diperlukan dalam menjelaskan prosedur perawatan yang akan dilakukan dan jangan membuat anak merasa tidaknyaman karena akan membuat anak tidak dapat berkomunikasi secara efektif. 21 Usia anak dapat membedakan tingkat rasa takut anak terhadap perawatan gigi, anak yang lebih muda memiliki rasa takut yang tinggi terhadap perawatan gigi. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan psikologis, sosial dan emosi anak. 22 Selanjutnya yang dapat menyebabkan rasa takut anak terhadap perawatan gigi adalah temperamen. Temperamen adalah kualitas emosi personal bawaan yang cenderung stabil. Temperamen ini juga disebabkan pengaruh genetik. Kecenderungan temperamen ini adalah sifat malu, yang ditemukan pada 10% populasi anak. Anak merasa tidak nyaman ketika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya atau orang yang dirasakan asing baginya. Sifat temperamen ini akan menimbulkan emosi negatif seperti menangis, takut, dan marah. Rasa takut dapat mempengaruhi tingkah laku anak terhadap perawatan gigi. Hal ini berhubungan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan yang diterima anak pada perawatan gigi sebelumnya. Pengalaman yang tidak menyenangkan pada perawatan gigi sebelumnya akan membuat anak merasa takut untuk melakukan perawatan gigi pada kunjungan berikutnya. 19

4 gigi. 11,22 Rasa takut terhadap perawatan gigi pada anak dapat disebabkan karena takut Faktor Eksternal Faktor eksternal yang dapat menimbulkan rasa takut anak terhadap perawatan gigi adalah orang tua dan lingkungan sosial. Rasa takut orang tua terhadap perawatan gigi akan mempengaruhi rasa takut anak. Orang tua yang takut akan sering mencampuri perawatan gigi anaknya, sebagai contoh banyak bertanya tentang prosedur yang akan dilakukan pada anaknya. Rasa takut orang tua di klinik akan menjadi gangguan bagi anak. 19,23 Penelitian yang dilakukan Berggren, Meynert dan Moore pada pasien odontophobia menunjukkan bahwa perilaku negatif keluarga terhadap perawatan gigi akan menjadi alasan umum berkembangnya odontophobia. 19 Dalam kehidupan seorang anak, keluarga merupakan lingkungan sosial tempat perkembangan anak terjadi. Selain itu yang juga merupakan bagian dalam kehidupan anak adalah lingkungan yang lebih luas seperti teman, pengaruh sekolah, keadaan lingkungan tempat tinggal dan ruang lingkup sosial lainnya. 21 Oleh karena itu kepercayaan anak terhadap dokter gigi juga dapat dipengaruhi langsung oleh orang tua, teman, atau dari pernyataan orang lain serta melihat perilaku seseorang yang melakukan perawatan gigi. 22 Hal ini juga disampaikan oleh Shaw yang menemukan bahwa ibu anak yang merasa cemas atau takut terhadap perawatan gigi memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dari perawatan gigi, artinya bahwa rasa takut ibu karena pengalamannya juga meningkatkan rasa takut anaknya terhadap perawatan terhadap sesuatu yang belum diketahui pastinya. Hal ini dapat disebabkan karena pernyataan kebanyakan orang yang berpandangan bahwa mengunjungi dokter gigi adalah hal yang menakutkan. Hal ini penting diketahui dokter gigi karena dapat memberikan informasi yang akurat mengenai kemungkinan ketidaknyamanan sebelum dilakukannya tindakan perawatan gigi Faktor Lingkungan Perawatan Gigi Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebab rasa takut terhadap perawatan gigi adalah rasa sakit. Rasa sakit didefinisikan sebagai pengalaman tidak

5 menyenangkan yang disebabkan karena kerusakan jaringan atau oleh adanya ancaman kerusakan jaringan. Adanya kesalahan dalam menafsirkan rasa sakit terhadap perawatan gigi akan membuat anak merasa cemas dan takut untuk melakukan perawatan gigi. Hal ini disebabkan karena secara normal rasa sakit menimbulkan reaksi fisiologis dan psikologis untuk melindungi tubuh dari kerusakan jaringan, sehingga perilaku tidak kooperatif saat anak merasa sakit atau tidak nyaman adalah suatu hal yang wajar. 19 Saat ini anggapan bahwa perawatan gigi akan menimbulkan rasa sakit akan membuat anak-anak merasa tidak nyaman. Diberikannya anastesi atau bahan yang dapat mengurangi rasa sakit, tidak dipastikan dapat mengurangi rasa takut anak terhadap rasa sakit. Anak-anak memiliki sifat yang cenderung untuk menghindari rasa sakit, namun dokter gigi sering mengabaikan hal tersebut. Hal ini menjadi masalah utama bagi dokter gigi yang perlu diperhatikan agar tidak salah interpretasi tentang rasa sakit yang menjadi penyebab rasa taku anak terhadap perawatan gigi. 8,19 Pemahaman anak terhadap rasa sakit ini bervariasi berhubungan dengan kemampuan kognitif, reaksi dan pemikiran anak terhadap stimuli yang bervariasi. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh usia dan kematangan anak. Faktor tambahan lain seperti perkembangan sosio-emosional, keluarga, situasi sosial, dukungan orang tua, dan hubungan dengan dokter gigi mempengaruhi bagaimana anak menghadapi stres, rasa sakit, dan ketidaknyamanan. 16 Penelitian yang dilakukan Kent menjelaskan bahwa ingatan mengenai rasa sakit yang ditimbulkan oleh perawatan gigi akan terbentuk sampai waktu yang lama. Kent menemukan bahwa pasien dengan rasa cemas atau takut tinggi cenderung untuk terlalu menaksir rasa sakit yang akan dirasakannya dari prosedur perawatan gigi. Selain itu ketika ditanyakan kembali tentang perawatan sebelumnya, mereka juga terlalu berlebihan dalam menceritakan pengalaman rasa sakitnya. Rasa takut terhadap perawatan gigi juga dapat disebabkan karena petugas kesehatan gigi atau dokter gigi sendiri. Rasa takut ini dapat muncul akibat hubungan yang tidak dekat antara dokter gigi dan pasien anak. Anak akan merasa terganggu dengan perasaan tersebut dan mengakibatkan anak merasa asing dan takut. Interaksi dokter gigi dan pasien anak merupakan bagian yang penting

6 dalam masalah kecemasan terhadap perawatan gigi. Penyebab rasa takut dapat juga akibat ucapan yang disampaikan dokter gigi pada pasiennya. Komunikasi dengan anak dan orang tua yang baik sebelum dilakukannya perawatan juga dapat mengurangi rasa takut terhadap perawatan gigi. Dokter gigi dapat menjelaskan secara sederhana prosedur perawatan yang akan dilakukan, hal ini agar anak tidak mengirangira apa yang akan terjadi padanya selama perawatan dan tentunya dapat mengurangi rasa takut anak. 24 Hal lain yang juga dapat menyebabkan rasa takut terhadap perawatan gigi adalah situasi dalam perawatan gigi. Anak sering merasa takut terhadap hal-hal yang membuat mereka merasa tidak nyaman dalam perawatan. Sebagai contoh karena adanya perasaan asing selama perawatan gigi, seperti karena penggunaan sarung tangan, masker dan pelindung mata oleh dokter gigi. Hal ini sering terjadi pada prosedur restoratif yang memiliki potensi menimbulkan rasa takut karena melihat dokter gigi mengebur atau mendengar suara bur dokter gigi. Selain itu rasa takut juga diakibatkan karena melihat jarum suntik dan adanya bau-bauan yang tidak enak dari bahan-bahan kedokteran gigi Akibat Rasa Takut Terhadap Perawatan Gigi Rasa takut terhadap perawatan gigi sering dihubungkan dengan terjadinya peningkatan karies dan masalah dalam menangani tingkah laku anak. Anak yang memiliki rasa takut terhadap perawatan gigi, kebersihan rongga mulutnya cenderung buruk. Oleh karena itu, rasa takut terhadap perawatan gigi merupakan masalah umum yang perlu diperhatikan. 4 Rasa takut dan sikap menghindari perawatan gigi akan berakibat semakin buruknya keadaan rongga mulut dan kesehatan gigi anak. Dalam hal ini rasa takut terhadap perawatan gigi dapat memprediksikan insiden terjadinya karies. Anak-anak menjadikan rasa takut terhadap perawatan gigi sebagai alasan untuk mengabaikan kesehatan giginya dan menunda untuk melakukan perawatan gigi. Hal ini merupakan masalah serius yang perlu diperhatikan oleh dokter gigi. Rasa takut ini juga menimbulkan masalah lain dalam kehidupan sehari-hari anak seperti gangguan psikososial pada anak. 18

7 Rasa takut terhadap perawatan gigi juga akan mengakibatkan masalah tingkah laku dalam perawatan. Sikap pasien yang tidak kooperatif dalam perawatan akan menyulitkan dokter gigi dalam melakukan prosedur perawatan. 18 Dalam hal ini perlu hubungan komunikasi yang baik antara dokter dan anak. Apabila dalam komunikasi menunjukkan sikap yang baik maka anak akan dapat mempercayai kita dan sebaliknya jika sikap dalam berkomunikasi kurang baik akan menyebabkan berkurangnya rasa percaya anak terhadap dokter. Kurangnya komunikasi antara dokter dan pasien disebabkan oleh karena dokter gigi tidak secara aktif mendengarkan pasien dan tidak menjelaskan prosedur perawatan dengan ungkapan yang sederhana. Akibatnya pasien akan merasa takut dan bertingkah tidak kooperatif dalam perawatan Perkembangan Anak Usia 6-11 Tahun Perkembangan komunikasi pada anak dapat dimulai dengan kemampuan anak untuk mencetak, menggambar, membuat huruf dan apa yang dilaksanakan anak akan mencerminkan pikiran anak, hal ini biasanya dimulai pada saat anak usia 6-7 tahun. Pada usia kedelapan anak sudah mampu membaca dan mulai berfikir tentang kehidupan. Komunikasi dapat dilakukan dengan memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak. Dalam berkomunikasi gunakan bahasa yang sederhana. 25 Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget, usia 6-7 tahun masuk dalam tahap praoperasional. Pada tahap ini anak belum mampu mengoperasionalisasikan apa yang dipikirkan melalui tindakan. Perkembangan anak bersifat egosentrik dan pikiran anak masih bersifat transduktif atau menganggap semuanya sama. Usia 7-11 tahun anak masuk dalam tahapan kongkret. Pada tahap ini perkembangan kemampuan anak sudah memandang realistis dari dunianya dan mempunyai anggapan yang sama dengan orang lain, sifat egosentrik sudah mulai hilang. Pada usia ini anak memiliki dua pandangan dalam berfikir atau disebut juga reversibilitas. 25 Pada usia sekolah dasar masa pertumbuhan dan perkembangan cukup cepat. Biasanya pada usia 6-11 tahun keingintahuan anak terhadap aspek fungsional dan

8 prosedural dari suatu objek sangatlah tinggi. Anak juga memulai untuk berinteraksi secara luas dengan lingkungan sosialnya. Kemampuan kemandirian anak akan semakin dirasakan ketika anak berada di luar rumah seperti lingkungan sekolahnya. Anak sudah mampu mengatasi beberapa masalahnya sendiri dan mampu menunjukkan penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada, rasa tanggung jawab dan percaya diri dalam tugas mulai terwujud. Menuju tahun anak semakin bersikap mandiri. Dalam menghadapi kegagalan, maka anak sering kali menunjukan reaksi kemarahan atau kegelisahan. Pada masa ini perkembangan kognitif, psikososial, interpersonal, psikoseksual, moral dan spiritual sudah mulai menunjukkan kematangan ketika menuju usia 12 tahun. Secara khusus anak banyak mengembangkan interaksi sosial, belajar tentang nilai moral dan budaya dari lingkungan keluarganya. Semakin bertambahnya usia, anak makin dapat bertanggung jawab dan dapat menyesuaikan dirinya pada lingkungan Alat Ukur Rasa Takut dan Cemas Terhadap Perawatan Gigi Ada beberapa metode yang dapat digunakan sebagai alat pengukur kecemasan dan rasa takut terhadap perawatan gigi. Metode pengukuran tersebut adalah Corah Dental Anxiety Scale, Stouthard s Dental Anxiety Inventory, Children Fear Survey Schedule-Dental Subscale. 9, Corah Dental Anxiety Scale ( CDAS) Corah Dental Anxiety Scale (CDAS) merupakan alat ukur kecemasan yang telah terkenal dan banyak digunakan. Metode pengukuran ini menggunakan 4 pertanyaan dengan tiap pertanyaan memiliki 5 alternatif jawaban. 9,26 Jumlah nilai CDAS berkisar Jika nilai CDAS 4-8 berarti tingkat rasa cemas dan takut anak rendah dan jika nilai CDAS 9-12 berarti tingkat rasa cemas dan takut sedang. Anak dikatakan memiliki tingkat rasa cemas dan takut jika nilai dari kuesioner CDAS Alat ukur ini dapat mengukur kecemasan atau rasa takut terhadap perawatan gigi pada anak usia 5-15 tahun. 26 CDAS dikembangkan untuk mengukur stres atau keadaan psikologis. Metode ini dikembangkan oleh Corah dan Pantera pada tahun

9 1968. Reabilitas dan validitas CDAS telah banyak dimuat pada berbagai artikel semenjak penggunaannya sebagai alat ukur kecemasan. Walaupun demikian dasar teori untuk CDAS tidak digambarkan terlalu jelas. Pada CDAS pertanyaan yang ada menggambarkan kecemasan secara umum dan menceritakan antisipasi kecemasan pada rangsangan spesifik dari alat pengeboran dan alat pembersihan gigi. 9, Stouthard s Dental Anxiety Inventory Pada tahun 1980, Stouthard mengembangkan kuesioner untuk penelitian kecemasan berdasarkan pertimbangan teoritis dan dibuat untuk mengukur situasi yang dapat menimbulkan kecemasan. Alat ukur tersebut disebut dengan Dental Anxiety Inventory. Dental Anxiety Inventory yang juga dikenal dengan DAIx adalah pengukuran kecemasan dental yang menggunakan 36 pertanyaan yang berdasarkan tiga hal yaitu waktu, situasi, dan reaksi yang dipresepsikan relevan terhadap kecemasan dental. Yang dimaksud dengan waktu adalah sifat dasar dan tingkat kecemasan dapat berubah berdasarkan waktu dan lamanya tindakan perawatan gigi. Sedangkan situasi menggambarkan aspek pengalaman dental, interaksi dengan dokter gigi dan tindakan dental. Kemudian reaksi yang merujuk kepada elemen pengalaman kecemasan atau ketakutan terhadap perawatan gigi. 9 Alat ukur ini dapat digunakan untuk mengukur rasa cemas dan takut anak terhadap perawatan gigi. DAIx memiliki rentang nilai 9-45 dengan sembilan pertanyaan yang ada Children Fear Survey Schedule-Dental Subscale (CFSS-DS) Children Fear Survey Schedule-Dental Subscale (CFSS-DS) adalah alat untuk mengukur rasa takut pada anak yang sangat diakui secara luas. Alat ini dikembangkan oleh Cuthbert dan Melamed pada tahun ,13,26 CFSS-DS memiliki sumber dan dasar teori pengukuran, memiliki peranan dan keterangan yang lebih. Sebagai contoh, dalam sebuah pemeriksaan pengukuran rasa takut dan nyeri terhadap perawatan gigi, CFSS-DS menghasilkan pengukuran yang digambarkan secara sederhana. 12,26 CFSS-DS merupakan alat ukur rasa takut yang dapat dipercaya dan menunjukkan validitas yang baik meskipun dari tingkatan yang berbeda-beda. CFSS-

10 DS terdiri atas 15 pertanyaan yang mencakup aspek yang berbeda dari situasi perawatan gigi. Aspek tersebut meliputi dokter gigi, dokter, jarum suntik, mulut diperiksa seseorang, membuka mulut, disentuh orang asing, diperhatikan orang lain, dokter gigi mengebor, melihat dokter gigi mengebor, suara bor dokter gigi, orang meletakkan instrumen dalam mulut, tersedak, pergi kerumah sakit, orang berseragam putih, dan perawat membersihkan mulut. 26,27 Tingkat rasa takut pada CFSS-DS terdiri atas 5 kategori yaitu tidak takut, agak takut, cukup takut, takut dan sangat takut. Setiap kategori rasa takut memiliki nilai tersendiri yaitu tidak takut sama sekali diberi nilai 1, agak takut diberi nilai 2, cukup takut diberi nilai 3, takut diberi nilai 4 dan sangat takut diberi nilai Rasa takut terhadap perawatan gigi pada CFSS-DS terdiri atas tingkat rasa takut terhadap perawatan gigi rendah, tingkat rasa takut terhadap perawatan gigi sedang dan tingkat rasa takut terhadap perawatan gigi tinggi. Hal ini dapat disimpulkan dari jumlah nilai yang didapat dari 15 pertanyaan yang ada pada CFSS-DS. Jika jumlah nilai dari CFSS-DS adalah kecil dari 32 berarti tingkat rasa takut anak terhadap perawatan gigi rendah. Dan Jika jumlah nilai dari CFSS-DS adalah berarti tingkat rasa takut anak terhadap perawatan gigi sedang. Sedangkan jika jumlah nilai dari CFSS-DS adalah besar dari 39 berarti tingkat rasa takut anak terhadap perawatan gigi tinggi. 26,28

11 2.7 Kerangka Konsep Pasien anak Rasa takut terhadap perawatan gigi Kunjungan pertama Kunjungan berulang Rasa takut berdasarkan CFSS-DS : Takut dengan dokter Takut dengan dokter gigi Takut dengan jarum suntik Takut mulut diperiksa seseorang Takut membuka mulut Takut disentuh orang yang tidak dikenal Takut diperhatikan seseorang Takut dokter gigi mengebur Takut melihat dokter gigi mengebur Takut mendengar suara bur dokter gigi Takut dimasukkan alat ke dalam mulut Takut tersedak Takut pergi ke klinik Pedodonsia Takut melihat orang berseragam putih Takut dokter gigi membersihkan gigi

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut anak, banyak hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah melakukan perawatan rutin ke dokter gigi. Perawatan rutin

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL PENELITIAN Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Dental Anak Usia 6 Tahun

BAB 5 HASIL PENELITIAN Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Dental Anak Usia 6 Tahun 32 BAB 5 HASIL PENELITIAN Dari Penelitian Analitik observasional dengan rancangan cross sectional yang dilakukan di Sekolah Dasar Pelangi kasih, Sekolah Dasar Theresia, dan Sekolah Dasar Negeri Pegangsaan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cemas dan Takut Yang dimaksud dengan kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak jelas, tidak menyenangkan atau tidak nyaman disertai tanda bahwa sesuatu yang tidak diinginkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan gigi di masyarakat masih menjadi sebuah masalah di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan gigi di masyarakat masih menjadi sebuah masalah di Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan gigi di masyarakat masih menjadi sebuah masalah di Indonesia. Berdasarkan hasil wawancara oleh Departemen Kesehatan sebesar 25,9% penduduk Indonesia mempunyai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Semua dokter gigi yang merawat pasien anak menyadari bahwa

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Semua dokter gigi yang merawat pasien anak menyadari bahwa I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Semua dokter gigi yang merawat pasien anak menyadari bahwa mereka dihadapkan dengan pasien anak yang memiliki rasa cemas yang berlebih (Williams dkk., 1985). De

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung singkat dan dapat dikendalikan. Kecemasan berfungsi sebagai suatu

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung singkat dan dapat dikendalikan. Kecemasan berfungsi sebagai suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anxiety adalah perasaan berupa ketakutan atau kecemasan yang merupakan respon terhadap ancaman yang akan datang. Kecemasan merupakan respon normal terhadap

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Kecemasan Rasa cemas merupakan sesuatu perasaan gelisah terhadap suatu bahaya yang akan terjadi. Rasa cemas dan rasa takut sering berhubungan erat tapi diantara keduanya

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kecemasan dan Ketakutan Kecemasan diartikan sebagai suatu perasaan yang tidak jelas (samarsamar), tidak menyenangkan atau tidak nyaman disertai tanda bahwa sesuatu yang tidak

Lebih terperinci

1. Bab II Landasan Teori

1. Bab II Landasan Teori 1. Bab II Landasan Teori 1.1. Teori Terkait 1.1.1. Definisi kecemasan Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera utara 12 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Seiring dengan perkembangan zaman, berbagai macam inovasi baru bermunculan dalam dunia kesehatan. Dewasa ini dunia kesehatan semakin mengutamakan komunikasi dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan. Saat ini pendidikan adalah penting bagi semua orang baik bagi

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan. Saat ini pendidikan adalah penting bagi semua orang baik bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia pada dasarnya merupakan makhluk hidup yang harus terus berjuang agar dapat mempertahankan hidupnya. Manusia dituntut untuk dapat mengembangkan dirinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah.

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Kazdin (2000) dalam American Psychological Association mengatakan kecemasan merupakan emosi yang ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal,

BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia akan mengalami perkembangan sepanjang hidupnya, mulai dari masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal, dewasa menengah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk hidup senantiasa barada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan berakhir ketika individu memasuki masa dewasa awal, tetapi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat gigi masih kurang.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat gigi masih kurang. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Kesadaran masyarakat akan pentingnya merawat gigi masih kurang. Seseorang seharusnya memeriksakan giginya setiap enam bulan sekali. Sebagian masyarakat awam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam pendidikan. Perguruan Tinggi diadakan dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi

Lebih terperinci

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Pengertian Kecemasan Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005:28) mengatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. xiv

BAB I PENDAHULUAN. xiv xiv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tindakan operasi atau pembedahan walaupun minor/mayor merupakan pengalaman yang sulit dan bisa menimbulkan kecemasan bagi hampir semua pasien dan keluarganya. Kecemasan

Lebih terperinci

DAFTAR GAMBAR. 2.1 Empat Faktor Utama Yang Mempengaruhi Terjadinya Karies Gambaran Klinis Karies Pada Daerah Occlusal...

DAFTAR GAMBAR. 2.1 Empat Faktor Utama Yang Mempengaruhi Terjadinya Karies Gambaran Klinis Karies Pada Daerah Occlusal... DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM...... i PRASYARAT...ii PERNYATAAN PERSETUJUAN...... iii LEMBAR PENGUJI... iv LEMBAR PERYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... v KATA PENGANTAR... vi ABSTRAK... viii ABSTRACT... ix

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007 dan

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007 dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia masih memerlukan perhatian yang serius. 1 Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tindakan ekstraksi adalah prosedur yang menerapkan prinsip bedah, fisika, dan

BAB I PENDAHULUAN. Tindakan ekstraksi adalah prosedur yang menerapkan prinsip bedah, fisika, dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tindakan ekstraksi adalah prosedur yang menerapkan prinsip bedah, fisika, dan mekanik. Ketika prinsip tersebut diterapkan dengan tepat, gigi dapat dikeluarkan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut. Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut. Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai unit pelayanan kesehatan gigi misalnya di praktek

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan kuesioner Children Fear Survey Schedule - Dental Subscale

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan kuesioner Children Fear Survey Schedule - Dental Subscale BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan cara menggunakan kuesioner Children Fear Survey Schedule - Dental Subscale (CFSS-DS) terhadap pasien

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rasa cemas dan takut Rasa cemas dan takut dalam perawatan gigi pada anak anak telah dikenali sebagai sumber masalah kesehatan yang serius. Rasa takut biasanya dirangsang oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pencabutan gigi. Berdasarkan penelitian Nair MA, ditemukan prevalensi

BAB I PENDAHULUAN. pencabutan gigi. Berdasarkan penelitian Nair MA, ditemukan prevalensi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bedah mulut merupakan salah satu bidang dalam ilmu kedokteran gigi. Dalam bidang kedokteran gigi gejala kecemasan sering ditemukan pada pasien tindakan pencabutan gigi.

Lebih terperinci

PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012

PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012 PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012 Penelitian Keperawatan Jiwa SITI FATIMAH ZUCHRA BP. 1010324031

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Kecemasan a. Pengertian Kecemasan Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik.

Lebih terperinci

I. PENGANTAR. A. Latar Belakang. Ansietas atau kecemasan adalah keadaan mood yang berorientasi dan

I. PENGANTAR. A. Latar Belakang. Ansietas atau kecemasan adalah keadaan mood yang berorientasi dan I. PENGANTAR A. Latar Belakang Ansietas atau kecemasan adalah keadaan mood yang berorientasi dan berkenaan akan persiapan untuk menghadapi kemungkinan peristiwa buruk yang akan terjadi di masa depan (Craske,

Lebih terperinci

TRIAD OF CONCERN KELOMPOK 3.B. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Sumatera Utara. Jalan Alumni No. 2 Kampus USU Medan PENDAHULUAN

TRIAD OF CONCERN KELOMPOK 3.B. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Sumatera Utara. Jalan Alumni No. 2 Kampus USU Medan PENDAHULUAN 1 TRIAD OF CONCERN KELOMPOK 3.B Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Jalan Alumni No. 2 Kampus USU Medan 20155 PENDAHULUAN Perawatan gigi anak secara dini sangat berguna bagi anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan, kecemasan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan, kecemasan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan, kecemasan memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak Pengertian Hospitalisasi. anak dan lingkungan (Wong, 2008).

BAB II LANDASAN TEORI Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak Pengertian Hospitalisasi. anak dan lingkungan (Wong, 2008). BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak 2.1.1. Pengertian Hospitalisasi Hospitalisasi adalah suatu keadaan dimana seseorang yang sakit yang membutuhkan perawatan secara intensif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup mereka. Anak juga seringkali menjalani prosedur yang membuat. Anak-anak cenderung merespon hospitalisasi dengan munculnya

BAB I PENDAHULUAN. hidup mereka. Anak juga seringkali menjalani prosedur yang membuat. Anak-anak cenderung merespon hospitalisasi dengan munculnya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan anak sakit dan hospitalisasi dapat menimbulkan krisis pada kehidupannya. Saat anak dirawat di rumah sakit banyak hal yang baru dan juga asing yang harus

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS. atau ancaman atau fenomena yang sangat tidak menyenangkan serta ada

BAB II TINJAUAN TEORITIS. atau ancaman atau fenomena yang sangat tidak menyenangkan serta ada BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Kecemasan 1. Defenisi Kecemasan adalah keadaan yang menggambarkan suatu pengalaman subyektif mengenai ketegangan mental kesukaran dan tekanan yang menyertai suatu konflik atau

Lebih terperinci

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia?

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia? Skizofrenia Skizofrenia merupakan salah satu penyakit otak dan tergolong ke dalam jenis gangguan mental yang serius. Sekitar 1% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Pasien biasanya menunjukkan gejala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Penduduk Usia Lanjut merupakan bagian dari anggota keluarga dananggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Pada

Lebih terperinci

PROSES TERJADINYA MASALAH

PROSES TERJADINYA MASALAH PROSES TERJADINYA MASALAH ` PREDISPOSISI PRESIPITASI BIOLOGIS GABA pada sistem limbik: Neurotransmiter inhibitor Norepineprin pada locus cereleus Serotonin PERILAKU Frustasi yang disebabkan karena kegagalan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hospitalisasi 1. Pengertian Hospitalisasi merupakan suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULAN. Kecemasan adalah sinyal akan datangnya bahaya (Schultz & Schultz, 1994).

BAB I PENDAHULAN. Kecemasan adalah sinyal akan datangnya bahaya (Schultz & Schultz, 1994). BAB I PENDAHULAN 1.1 Latar Belakang Kecemasan adalah sinyal akan datangnya bahaya (Schultz & Schultz, 1994). Seseorang mengalami kecemasan ketika mereka menjadi waspada terhadap keberadaan atau adanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan. Pada permulaan hidup perubahan itu kearah pertumbuhan dan

BAB I PENDAHULUAN. perubahan. Pada permulaan hidup perubahan itu kearah pertumbuhan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia, mulai dalam kandungan sampai mati, tampaklah manusia itu akan mengalami suatu proses yang sama, yaitu semuanya adalah selalu dalam perubahan. Pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kecemasan yang tidak terjamin atas prosedur perawatan. 2 Menurut penelitian, 1

BAB I PENDAHULUAN. kecemasan yang tidak terjamin atas prosedur perawatan. 2 Menurut penelitian, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kecemasan merupakan keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan atau keadaan khawatir dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, olahraga merupakan hal sangat penting bagi kesehatan tubuh.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, olahraga merupakan hal sangat penting bagi kesehatan tubuh. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, olahraga merupakan hal sangat penting bagi kesehatan tubuh. Dengan berolahraga badan akan terasa segar dan sehat. Banyak macam olah raga yang dapat dilakukan

Lebih terperinci

dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.

dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tingkat Kecemasan Remaja yang Menjalani Perawatan (Hospitalisasi) Remaja 1. Kecemasan Kecemasan merupakan suatu sinyal yang menyadarkan dan mengingatkan adanya bahaya yang mengancam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesehatan. Upaya tersebut ditinjau dari beberapa aspek, di

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesehatan. Upaya tersebut ditinjau dari beberapa aspek, di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesehatan. Upaya tersebut ditinjau dari beberapa aspek, di antaranya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa dewasa muda ditandai dengan memuncaknya perkembangan biologis, penerimaan peranan sosial yang besar, dan evolusi suatu diri dan struktur hidup dewasa. Periode

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat tertentu

I. PENDAHULUAN. Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat tertentu I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat tertentu dengan tingkat yang berbeda - beda. Kecemasan merupakan salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang A. Latar Belakang Gangguan kecemasan diperkirakan dialami 1 dari 10 orang. Menurut data National Institute of Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan kecemasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses yang dapat diprediksi. Proses pertumbuhan dan. tumbuh dan kembang sejak awal yaitu pada masa kanak-kanak (Potter &

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses yang dapat diprediksi. Proses pertumbuhan dan. tumbuh dan kembang sejak awal yaitu pada masa kanak-kanak (Potter & BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pencapaian pertumbuhan dan perkembangan manusia merupakan suatu proses yang dapat diprediksi. Proses pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui oleh manusia bersifat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia Pengertian kecemasan Menghadapi Kematian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia Pengertian kecemasan Menghadapi Kematian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia 2.1.1. Pengertian kecemasan Menghadapi Kematian Kecemasan menghadapi kematian (Thanatophobia) mengacu pada rasa takut dan kekhawatiran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa anak prasekolah (3-5 tahun) adalah masa yang menyenangkan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa anak prasekolah (3-5 tahun) adalah masa yang menyenangkan dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa anak prasekolah (3-5 tahun) adalah masa yang menyenangkan dan dipengaruhi dengan segala macam hal yang baru. Anak prasekolah sering menunjukan perilaku yang aktif,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ketersediaan sumber dukungan yang berperan sebagai penahan gejala dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ketersediaan sumber dukungan yang berperan sebagai penahan gejala dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi Dukungan Sosial 2.1.1 Definisi Persepsi dukungan sosial adalah cara individu menafsirkan ketersediaan sumber dukungan yang berperan sebagai penahan gejala dan peristiwa

Lebih terperinci

DENTINO JURNAL KEDOKTERAN GIGI Vol II. No 1. Maret 2014

DENTINO JURNAL KEDOKTERAN GIGI Vol II. No 1. Maret 2014 34 DENTINO JURNAL KEDOKTERAN GIGI Vol II. No 1. Maret 2014 Laporan Penelitian PERANAN PENYULUHAN DEMONSTRASI TERHADAP RASA TAKUT DAN CEMAS ANAK SELAMA PERAWATAN GIGI DI PUSKESMAS CEMPAKA PUTIH BANJARMASIN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. periodontal seperti gingiva, ligament periodontal dan tulang alveolar. 1 Penyakit

BAB I PENDAHULUAN. periodontal seperti gingiva, ligament periodontal dan tulang alveolar. 1 Penyakit BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit periodontal dapat diartikan sebagai kelainan pada jaringan periodontal seperti gingiva, ligament periodontal dan tulang alveolar. 1 Penyakit periodontal, dikenal

Lebih terperinci

BAB 3 ETIOLOGI TERJADINYA DENTAL FOBIA. Fobia terhadap perawatan gigi pada anak merupakan fenomena yang

BAB 3 ETIOLOGI TERJADINYA DENTAL FOBIA. Fobia terhadap perawatan gigi pada anak merupakan fenomena yang BAB 3 ETIOLOGI TERJADINYA DENTAL FOBIA Fobia terhadap perawatan gigi pada anak merupakan fenomena yang multifaktorial dan kompleks. Fobia akan mempengaruhi tingkah laku anak dan dapat menentukan keberhasilan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang

BAB II TINJAUAN TEORI. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang BAB II TINJAUAN TEORI A. Kecemasan 1. Definisi Kecemasan Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai keluhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. upaya-upaya dalam rangka mendapatkan kebebasan itu. (Abdullah, 2007

BAB I PENDAHULUAN. upaya-upaya dalam rangka mendapatkan kebebasan itu. (Abdullah, 2007 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada setiap fase kehidupan manusia pasti mengalami stres pada tiap fase menurut perkembangannya. Stres yang terjadi pada mahasiswa/i masuk dalam kategori stres

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh karena anak tidak memahami mengapa harus dirawat,

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh karena anak tidak memahami mengapa harus dirawat, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sakit dan dirawat di rumah sakit pada anak dapat menimbulkan stress yang disebabkan oleh karena anak tidak memahami mengapa harus dirawat, lingkungan yang asing, prosedur

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN. Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya

BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN. Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya rangsang dari luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu yang khayal, halusinasi sebenarnya merupakan bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan gelisah dengan sesuatu yang dialaminya (Candido et al. 2014).

BAB I PENDAHULUAN. dan gelisah dengan sesuatu yang dialaminya (Candido et al. 2014). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Cemas adalah fenomena dimana seseorang merasa tegang, takut dan gelisah dengan sesuatu yang dialaminya (Candido et al. 2014). Kecemasan dental adalah masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan keterbaruan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan keterbaruan penelitian. 1 BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan diuraikan latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan keterbaruan penelitian. A. Latar belakang Rumah sakit adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. spesifik dan berbeda dengan orang dewasa. Anak yang sakit. hospitalisasi. Hospitalisasi dapat berdampak buruk pada

BAB I PENDAHULUAN. spesifik dan berbeda dengan orang dewasa. Anak yang sakit. hospitalisasi. Hospitalisasi dapat berdampak buruk pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anak merupakan makhluk yang unik, yang tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Anak memiliki kebutuhan spesifik dan berbeda dengan orang dewasa. Anak yang sakit dan

Lebih terperinci

PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG. Eni Mulyatiningsih ABSTRAK

PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG. Eni Mulyatiningsih ABSTRAK PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG 6 Eni Mulyatiningsih ABSTRAK Hospitalisasi pada anak merupakan suatu keadaan krisis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kecemasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kecemasan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan 1. Definisi Kecemasan Kecemasan atau anxietas adalah status perasaan tidak menyenangkan yang terdiri atas respon-respon patofisiologis terhadap antisipasi bahaya yang

Lebih terperinci

BERDUKA DAN KEHILANGAN. Niken Andalasari

BERDUKA DAN KEHILANGAN. Niken Andalasari BERDUKA DAN KEHILANGAN Niken Andalasari DEFENISI KEHILANGAN adalah kenyataan/situasi yang mungkin terjadi dimana sesuatu yang dihadapi, dinilai terjadi perubahan, tidak lagi memungkinkan ada atau pergi/hilang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan BAB 2 LANDASAN TEORI Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan prestasi belajar. 2.1 Self-Efficacy 2.1.1 Definisi self-efficacy Bandura (1997) mendefinisikan self-efficacy

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah. Setiap anak pada umumnya senang bergaul dan bermain bersama dengan teman

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah. Setiap anak pada umumnya senang bergaul dan bermain bersama dengan teman 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Setiap anak pada umumnya senang bergaul dan bermain bersama dengan teman sebayanya. Saat bersama dengan teman, seorang anak biasanya selalu penuh dengan

Lebih terperinci

PENGARUH BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL. Skripsi

PENGARUH BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL. Skripsi PENGARUH BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi Diajukan oleh : Amila Millatina

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan kesehatan bagi masyarakat. Menanggapi hal ini,

BAB 1 PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan kesehatan bagi masyarakat. Menanggapi hal ini, BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi keperawatan dewasa ini adalah memenuhi kebutuhan kesehatan bagi masyarakat. Menanggapi hal ini, keperawatan telah memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penderitanya semakin mengalami peningkatan. Data statistik kanker dunia tahun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. penderitanya semakin mengalami peningkatan. Data statistik kanker dunia tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit kanker merupakan penyakit yang mematikan dan jumlah penderitanya semakin mengalami peningkatan. Data statistik kanker dunia tahun 2012 yang dikeluarkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada saat ini sumber daya manusia adalah kunci sukses suatu organisasi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada saat ini sumber daya manusia adalah kunci sukses suatu organisasi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada saat ini sumber daya manusia adalah kunci sukses suatu organisasi modern. Mengelola sumber daya manusia secara efektif menjadi tanggung jawab setiap orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. di masyarakat. Mahasiswa minimal harus menempuh tujuh semester untuk dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. di masyarakat. Mahasiswa minimal harus menempuh tujuh semester untuk dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Universitas merupakan dasar utama dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berfungsi menghadapi permasalahan sosial yang ada di masyarakat.

Lebih terperinci

Terapi Komplementer Massage Punggung untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan

Terapi Komplementer Massage Punggung untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan Terapi Komplementer Massage Punggung untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan Makalah Ini Digunakan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Holistik II Disusun oleh : Dahlia Budi Utami (22020112120004)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan harapan. Masalah tersebut dapat berupa hambatan dari luar individu maupun

BAB I PENDAHULUAN. dengan harapan. Masalah tersebut dapat berupa hambatan dari luar individu maupun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Individu memiliki berbagai macam masalah didalam hidupnya, masalah dalam diri individu hadir bila apa yang telah manusia usahakan jauh atau tidak sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat kompleks. Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat kompleks. Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sebagai makhluk hidup membutuhkan pemenuhan kebutuhan dasar yang sangat kompleks. Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah sebuah teori yang dapat

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health, Rice (1992)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health, Rice (1992) BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stres 2.1.1 Definisi Stres dan Jenis Stres Menurut WHO (2003) stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIK. 1. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah

BAB II KAJIAN TEORETIK. 1. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah BAB II 6 KAJIAN TEORETIK A. Deskripsi Konseptual 1. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah Menurut Gibson (1996) Kemampuan (ability) adalah kapasitas individu untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk jangka waktu lama dan bersifat residif (hilang-timbul). Sampai saat ini

BAB I PENDAHULUAN. untuk jangka waktu lama dan bersifat residif (hilang-timbul). Sampai saat ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fisik adalah bagian dari tubuh manusia yang mudah dilihat dengan kasat mata, termasuk bagian kulit. Kulit merupakan bagian yang terluas dari tubuh dan bagian terpenting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Muti ah, 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Muti ah, 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kejang demam adalah kejang yang terjadi karena adanya suatu proses ekstrakranium tanpa adanya kecacatan neurologik dan biasanya dialami oleh anak- anak.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa awal adalah masa dimana seseorang memperoleh pasangan hidup, terutama bagi seorang perempuan. Hal ini sesuai dengan teori Hurlock (2002) bahwa tugas masa

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS I. PENGKAJIAN PASIEN ANSIETAS 1. DEFINISI Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sehari-hari manusia. Nevid (2005) berpendapat bahwa kecemasan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan sehari-hari manusia. Nevid (2005) berpendapat bahwa kecemasan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kecemasan adalah reaksi normal terhadap stressor yang membantu seorang individu untuk menghadapi situasi yang menuntut motivasi untuk mengatasinya, tetapi ketika

Lebih terperinci

DETEKSI DINI STRES DI TEMPAT KERJA DAN PENANGGULANGANNYA

DETEKSI DINI STRES DI TEMPAT KERJA DAN PENANGGULANGANNYA Environment & Social Responsibility Division ESR Weekly Tips no. 30/III/2006 Sent: 20 Maret 2006 DETEKSI DINI STRES DI TEMPAT KERJA DAN PENANGGULANGANNYA Sebagian besar bahkan mungkin semua orang yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mahasiswa merupakan orang yang sedang dalam proses pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut maupun akademi. Mahasiswa adalah generasi

Lebih terperinci

BAB 2 Tinjauan Pustaka

BAB 2 Tinjauan Pustaka BAB 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Kecemasan 2.1.1. Definisi Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb (Fausiah&Widury, 2007), kecemasan adalah respons terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. lansia di Indonesia yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,56%. Gorontalo

BAB 1 PENDAHULUAN. lansia di Indonesia yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,56%. Gorontalo BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan data badan pusat statistik RI (2012), prevalensi jumlah penduduk lansia di Indonesia yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,56%. Gorontalo merupakan provinsi

Lebih terperinci

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA KLIEN PRA BEDAH MAYOR DI RUANG RAWAT INAP MEDIKAL BEDAH GEDUNG D LANTAI 3 RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT CIMAHI

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA KLIEN PRA BEDAH MAYOR DI RUANG RAWAT INAP MEDIKAL BEDAH GEDUNG D LANTAI 3 RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT CIMAHI GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA KLIEN PRA BEDAH MAYOR DI RUANG RAWAT INAP MEDIKAL BEDAH GEDUNG D LANTAI 3 RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT CIMAHI Ibrahim N. Bolla ABSTRAK Tindakan pembedahan adalah suatu tindakan

Lebih terperinci

Pedologi. Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder) Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi

Pedologi. Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder) Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI Pedologi Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder) Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pengertian Kecemasan : Kecemasan (anxiety) dapat diartikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial dan spiritual) yang

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial dan spiritual) yang BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Anak adalah individu unik yang berada dalam proses tumbuh kembang dan mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial dan spiritual) yang berbeda dengan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Oleh : PARYANTO J

SKRIPSI. Diajukan Oleh : PARYANTO J PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA SKRIPSI Diajukan Oleh : PARYANTO J.210

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sakit merupakan keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sakit merupakan keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sakit merupakan keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit dan keadaan dimana fungsi fisik, emosional, intelektual, sosial dan perkembangan atau spiritual seseorang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Self Efficacy 2.1.1 Pengertian Self Efficacy Self efficacy berasal dari teori Bandura (1997) yaitu teori kognisi belajar sosial. Teori kognisi belajar sosial mengacu pada kemampuan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Stres merupakan respon fisiologis, psikologis dan perilaku yang tidak

BAB 1 PENDAHULUAN. Stres merupakan respon fisiologis, psikologis dan perilaku yang tidak BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stres merupakan respon fisiologis, psikologis dan perilaku yang tidak spesifik terhadap suatu tekanan (stressor) atau ancaman (threatener) dan merupakan sebuah upaya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka 1. Pola Asuh Orangtua a. Pengertian Dalam Kamus Bahasa Indonesia pola memiliki arti cara kerja, sistem dan model, dan asuh memiliki arti menjaga atau merawat dan

Lebih terperinci