BAB 1 PENDAHULUAN. kerja dan dampak ekonomi lainnya. Diduga 36% penduduk dunia terkena resiko

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 1 PENDAHULUAN. kerja dan dampak ekonomi lainnya. Diduga 36% penduduk dunia terkena resiko"

Transkripsi

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat karena berdampak kepada penurunan kualitas sumber daya manusia. Penyakit malaria tidak hanya mengganggu kesehatan masyarakat tetapi dapat menimbulkan keresahan akibat kematian, serta menurunkan produktivitas kerja dan dampak ekonomi lainnya. Diduga 36% penduduk dunia terkena resiko malaria. Di negara-negara berkembang seperti di Indonesia kasus malaria cenderung meningkat karena sangat erat dengan permasalahan kekurangan gizi dan sosial ekonomi (Depkes RI, 2005). Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pemberantasan malaria, namun demikian penyakit ini masih tetap ada bahkan di beberapa daerah sering terjadi wabah/kejadian Luar Biasa (KLB). Malaria merupakan penyakit yang penyebarannya di dunia sangat luas yakni antara garis bujur 60 0 di Utara dan 40 0 di Selatan yang meliputi lebih dari 100 negara yang beriklim tropis dan sub tropis. Penduduk yang berisiko terkena malaria berjumlah sekitar 2,3 miliar atau 41 % dari penduduk dunia. Penduduk yang berisiko terkena malaria ber jumlah juta dan mengakibatkan 1,5 2,7 juta kematian, terutama di Afrika Sub-Sahara. Wilayah di dunia yang kini sudah bebas dari malaria adalah Eropa, Amerika Utara, sebagian besar Timur

2 Tengah, sebagian besar Karabia, sebagian besar Amerika Selatan, Australia dan Cina (Harijanto, 2000). Peningkatan jumlah kasus malaria disebabkan oleh perpindahan penduduk (migrasi) ke daerah yang baru ditempati, terutama di daerah tropis dan perubahan cuaca. Penyebaran malaria berbeda-beda antara satu negara dengan negara lain dan dari satu kabupaten atau wilayah dengan wilayah lain. Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 1990, sebanyak 80% kasus dijumpai di Afrika dan merupakan kelompok potensial terjadinya penyebaran malaria indegenous (Harijanto, 2000). Angka kesakitan penyakit malaria di Indonesia cukup tinggi. Penyakit malaria cukup membahayakan masyarakat terutama mereka yang berada di luar jangkauan pelayanan pusat kesehatan yang memadai (Gemijati, 2000). Berdasarkan data peta pencapaian target MDGs di Indonesia (2010) disebutkan bahwa tingkat kejadian malaria hingga 18,6 juta kasus per tahun. Di Propinsi Sumatera Utara kasus penyakit malaria menduduki urutan ke- 7 dari sepuluh penyakit terbesar pada tahun 2008 dengan rata-rata kasus klinis sebanyak kasus dan 74,66% yang mendapatkan pengobatan. Penyebaran malaria hampir merata di kabupaten/kota, paling banyak terdapat di Kabupaten Deli Serdang yaitu sebanyak kasus malaria, menyusul di Kabupaten Nias Selatan dan Mandailing Natal sebanyak kasus (Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, 2008).

3 Kabupaten Deli Serdang merupakan daerah tertinggi kasus malaria setelah Kabupaten Mandailing Natal pada tahun 2009 yaitu sebanyak kasus yang tersebar di beberapa kecamatan, dengan kasus tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Pantai Labu yaitu sebanyak kasus dan selanjutnya diikuti wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Hamparan Perak sebanyak kasus (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang, 2009). Sampai dengan September 2010 tercatat penderita malaria klinis di Kabupaten Deli Serdang sebanyak kasus. Secara geografis wilayah Kecamatan Pantai Labu memiliki luas 83,62 km 2 (8.362 Ha) yang terdiri dari 10 desa dan 76 dusun dengan ibukota Pantai Labu Pekan. Daerahnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian 0-8 meter di atas permukaan laut dan berbatasan dengan Selat Malaka (Profil Kecamatan Pantai Labu, 2007). WHO mengindentifikasi malaria sebagai proyek prioritas utama dengan kembalinya penyakit malaria pada tahun Pada tahun itu juga WHO, UNICEF, UNDP dan Bank Dunia mengembangkan satu respons terpadu untuk mengatasi masalah endemis malaria di negara-negara berkembang. Respon tersebut disebut RBM (Rool Back Malaria). RBM diterjemahkan menjadi Gebrak Malaria yang merupakan upaya kemitraan global (gerakan bersama), terpadu antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, lembaga donor dan masyarakat untuk memberantas malaria dimana WHO bertindak sebagai katalisator dalam kemitraan tersebut. Gerakan malaria telah dimulai sejak April

4 2000 dan bertujuan untuk menangggulangi beban malaria sebanyak 50% pada tahun 2010 melalui pendekatan partnership (Depkes RI, 2009). Dalam rangka meningkatkan jangkauan pelayanan pengobatan penderita di berbagai daerah termasuk 4 (empat) propinsi kawasan timur Indonesia yang mendapat bantuan Global Fund, sedang dikembangkan Pos Malaria Desa. Pos ini merupakan suatu wadah komunikasi informasi masyarakat sendiri, dengan difasilitasi Puskesmas setempat bekerja sama dengan lembaga/organisasi yang sudah ada di masing-masing desa. Kabupaten Deli Serdang telah melakukan berbagai upaya penanggulangan penyakit malaria seperti bimbingan teknis penyakit malaria kabupaten ke Puskesmas, pelatihan mikroskop Puskesmas bantuan UNICEF, pendistribusian rapid test, launching kelambunisasi dan pembagian kelambu bantuan UNICEF (Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang, 2008). Walaupun program penanggulangan malaria telah dilakukan oleh pemerintah, malaria masih tetap menjadi ancaman yang serius bagi kesehatan karena semakin luasnya daerah yang resisten terhadap obat anti malaria karena penderita malaria tidak patuh meminum obatnya sesuai aturan sehingga parasit yang ada menjadi resisten terhadap daya kerja obat tersebut. Kondisi ini juga makin diperberat dengan makin meningkatnya mobilisasi penduduk antar wilayah sehingga malaria tidak dapat segera diberantas dari suatu wilayah endemik malaria (Gemijati, 2003).

5 Guna mengurangi kasus malaria, pemerintah telah membuat rencana pengendalian penyakit malaria pada tahun 2008 yang meliputi kegiatan sosialisasi dan peningkatan kualitas pengobatan anti malaria, peningkatan pemeriksaan laboratorium/mikroskop dengan cara RDT (Rapid Diagnostic Test) menggunakan penemuan pengobatan dan pencegahan penularan malaria. Selain itu, pemerintah juga melakukan upaya peningkatan perlindungan penduduk beresiko dan pencegahan penularan malaria khususnya melalui kegiatan pembagian kelambu berinsektisida (Long Lasting Insecticidal Net) gratis ke daerah endemis malaria yang masih dibantu oleh Global Fund (Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, 2008). Penelitian Tarigan (2006) menemukan bahwa faktor intrinsik (pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, tindakan) dan faktor ekstrinsik (tempat perindukan nyamuk, jarak antara rumah dengan tempat perindukan nyamuk dan penyemprotan di dalam rumah) terbukti secara signifikan berpengaruh dengan kejadian malaria di Kawasan Ekosistem Leuser Kabupaten Karo. Menurut Depkes RI (2003), kelemahan dalam program penanggulangan penyakit malaria diakibatkan karena lemahnya sistem kewaspadaan dini serta perencanaan pemberantasan malaria yang tidak dilakukan secara berkesinambungan. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pemberantasan penyakit malaria khususnya petugas lapangan adalah lemahnya pengawasan pelaksanaan kegiatan penanggulangan malaria, padahal sebagian besar program tersebut sangat membutuhkan pengawasan yang baik.

6 Hasil penelitian Siahaan (2008) menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, pengetahuan dan sikap masyarakat serta sikap tokoh masyarakat mempunyai hubungan dengan perilaku masyarakat dalam pemberantasan penyakit malaria di Tanjung Balai. Penelitian Budarja (2001) juga mengungkapkan bahwa pendidikan rendah berpengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam kejadian malaria sebesar 85,2% di Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian faktor pendidikan yang rendah menyebabkan masyarakat berperilaku buruk dalam kehidupannya sehingga lebih banyak menderita malaria dibandingkan masyarakat yang berpendidikan tinggi. Penelitian Maulana (2003) juga menyimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap masyarakat yang rendah terbukti secara statistik berhubungan dengan angka kejadian malaria di Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue Propinsi Aceh. Hal ini berarti masyarakat dengan pengetahuan yang rendah tentang penularan, pencegahan, dan pengobatan malaria mempunyai resiko menderita penyakit malaria. Melihat keberadaan pengetahuan dan sikap masyarakat dikaitkan dengan persepsi tentang penyakit malaria, maka masyarakat yang mempunyai persepsi yang baik akan merespon setiap program pemberantasan yang dilakukan. Selanjutnya penelitian Saifuddin (2004) melaporkan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian malaria dengan keadaan saluran pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat kesehatan di Kabupaten Bireuen Propinsi Aceh. Hal ini ditandai dengan kondisi penderita malaria yang memiliki rumah dengan saluran pembuangan air limbah yang tidak

7 memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar 61,5%. Aspek pengetahuan, sikap dan tindakan dalam pengelolaan lingkungan sangat menentukan keberhasilan penanggulangan penyakit malaria. Menurut Mohammad (2000), salah satu faktor yang memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah sikap/persepsi terhadap kualitas pelayanan. Rendahnya tingkat pemanfaatan masyarakat terhadap berbagai pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka yang tidak baik terhadap kualitas pelayanan petugas kesehatan. Persepsi tersebut sangat dipengaruhi oleh informasi yang diperolehnya dari mulut ke mulut, kebutuhankebutuhan konsumen itu sendiri, dan pengalaman masa lalu. Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari genus Plasmodium (Gemijati. 2003). Secara umum penyebaran malaria sangat dipengaruhi oleh tiga faktor yang saling mendukung, yaitu host, agent, environment sesuai dengan teori The Traditional (Ecological) Model yang dikemukakan oleh Gordon. Ada aspek lingkungan di mana manusia dan nyamuk berada pada suatu ekologi yang memungkinkan terjadinya transmisi malaria setempat (indegeneous). Nyamuk dapat berkembang biak dengan baik bila lingkungannya sesuai dengan keadaan yang dibutuhkannya (Gunawan, 2000). Selain hal tersebut, faktor lain yang sangat memengaruhi penyebaran malaria adalah faktor masyarakat yang sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain (Gemijati, 2003). Daerah perairan atau rawa-rawa merupakan suatu habitat bagi nyamuk vektor malaria. Hal ini terbukti dengan banyaknya ditemukan larva nyamuk

8 Anopheles spp. berkembang biak di persawahan ataupun rawa-rawa. Daerah persawahan dan rawa-rawa yang airnya tergenang terus-menerus cenderung berpotensi sangat besar menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles spp. Hal ini dapat menyebabkan populasi nyamuk semakin meningkat. Karena, faktor air sangat menjadi penunjang dalam perkembangbiakannya. Terjadinya kenaikan populasi nyamuk Anopheles spp. akan memicu kenaikan insiden malaria. Apabila sudah terinfeksi malaria maka masyarakat menjadi tidak produktif lagi dalam mengerjakan aktivitas sehingga berpengaruh terhadap produksi yang akan diperoleh. Faktor lain yang dapat menaikkan insiden malaria di daerah penelitian antara lain lingkungan fisik, biologik, sosial budaya dan sosial ekonomi penduduk yang masih rendah (Laihad, 2005). Marshal dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa memberdayakan masyarakat dalam penanggulangan penyakit malaria dimulai dengan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dengan memperhatikan aspek sosial budaya, yaitu kepercayaan, kebiasaan, nilai tradisi, pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang penyakit dan rasa sakit. Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan oleh Penulis, selain faktor geografis, masyarakat di Kecamatan Pantai Labu memiliki kebiasaan beraktivitas di luar rumah pada malam hari dan hal ini memungkinkan masyarakat digigit nyamuk dan berpotensi terinfeksi malaria. Di samping itu perilaku masyarakat juga masih rendah dalam upaya pencegahan malaria. Hal ini tercermin dari masih adanya masyarakat yang tidur malam dengan tidak memakai kelambu,

9 padahal penggunaan kelambu adalah salah satu cara pencegahan agar nyamuk tidak bisa menggigit. Selain kebiasaan yang sudah membudaya tersebut, masih adanya persepsi yang dimiliki oleh masyarakat bahwa penyakit malaria bukanlah penyakit yang berbahaya karena hanya berupa demam biasa dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa faktor inilah yang diduga menjadi penyebab tingginya kasus kejadian malaria di Kecamatan Pantai Labu. Tingginya kasus malaria ini terkait dengan persepsi masyarakat yang berbeda-beda secara individu tentang konsep sehat-sakit sesuai dengan tingkat sosial budayanya. Persepsi masyarakat berbeda dengan petugas kesehatan yang telah mendapat pendidikan formal bidang kesehatan dalam memersepsikan tentang kerentanan, keseriusan dan ancaman terkena malaria. Robbins (2005) menyatakan bahwa pelaku persepsi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti minat, pengalaman dan pengharapan. Variabel lain yang ikut menentukan persepsi adalah umur, tingkat pendidikan, latar belakang sosial ekonomi, budaya, lingkungan fisik, dan pekerjaan secara individu. Pandangan masyarakat terhadap pentingnya pencegahan penyakit malaria sangat penting. Toha (1999) mengemukakan bahwa proses pembentukan persepsi antar satu individu dengan individu lain berbeda-beda. Pembentukan persepsi tergantung berbagai faktor yang memengaruhinya, yaitu faktor internal (pengalaman, keinginan, proses belajar, pengetahuan, motivasi, dan pendidikan) maupun faktor eksternal (lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, faktor sosial budaya lingkungan fisik dan hayati dimana seseorang itu bertempat tinggal).

10 Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan kajian tentang pengaruh pengetahuan, pengalaman, dan minat terhadap persepsi masyarakat tentang penyakit malaria di Kecamatan Pantai labu Kabupaten Deli Serdang. 1.2 Permasalahan Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh pengetahuan, pengalaman, dan minat terhadap persepsi penderita tentang penyakit malaria di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pengetahuan, pengalaman, dan minat terhadap persepsi penderita tentang penyakit malaria di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. 1.4 Hipotesis Ada pengaruh pengetahuan, pengalaman, dan minat terhadap persepsi penderita tentang penyakit malaria di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang.

11 1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi: 1. Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang sebagai bahan masukan dalam menyusun arah kebijakan dan perencanaan program pemberantasan dan penanggulangan malaria serta intervensi yang tepat dan efisien dalam menurunkan angka kesakitan malaria di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang. 2. Masyarakat Pantai Labu sebagai masukan guna menambah wawasan tentang penyakit malaria dan diharapkan berpartisipasi dalam penanggulangan penyakit malaria. 3. Untuk menambah khasanah ilmu administrasi dan kebijakan kesehatan, khususnya yang terkait dengan teori persepsi.