BAB II: STUDI PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II: STUDI PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II: STUDI PUSTAKA 2.1. Tanggapan Terhadap Kerangka Acuan Kerja Tujuan dari pembangunan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta ini adalah untuk meningkatkan pelayanan baik secara kapasitas, fungsi maupun kemudahan akses baik skala domestik maupun internasional, serta membangun image bangsa karna salah satu fungsi dari bandara adalah sebagai pintu gerbang kegiatan perekonomian nasional maupun internasional (SKEP/77/VI/2005 ) SASARAN PENGEMBANGAN BANDAR UDARA 1. Meningkatkan cakupan kapasitas penumpang; 2. Meningkatkan mutu layanan bandara dan mampu memberikan tingkat pelayanan bandara sesuai fungsi dan perannya sebagai Bandara Domestik dan Internasional 3. Mengembangkan fasilitas sisi darat dan udara bandara 4. Mengembangkan kemudahan akses transfortasi baik di dalam bandara maupun keluar bandara Untuk mencapai hal tersebut diperlukan perencanaan program Bandar udara, antara lain : 1. Pembangunan Fasilitas Gedung ( penumpang domestik dan internasional ) 2. Pengembangan fasilitas sisi udara ( Pesawat ) 3. Mengembangkan sisi darat ( akses tranportasi menuju dan keluar bandara ) 4. Penyediaan Fasilitas Peralatan, keselamatan dan penunjang 5. Sumber Daya Manusia yang Profesional 6. Rencana Pembangunan yang ramah lingkungan 7. Peningkatan standar pelayanan sesuai SNI maupun Internasional Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 19

2 Dalam desain Bandara Terminal 3 ada 6 point konsep perancangan yang bisa diterapkan dalam desain, diantaranya : 1. Inspiratif bagi kawasan lingkungan maupun bandar udara lain serta dapat menjadi icon bangunan bandara Soekarno-Hatta 2. Bangunan ramah lingkungan / hemat energi dan mengikuti kaidahkaidah sustainable architecture yang berwawasan bangunan hijau. 3. Lahan perencanaan bandar udara terminal 3 seluas ± 94 Ha telah disiapkan dan site plan lokasi harus mengikuti kaidah perencanaan yang telah ditetapkan dalam Rencana master desain kawasan Bandar udara Soekarno-Hatta. Kebutuhan yang terdapat dalam data program ruang, menjadi satu kesatuan dengan fungsi-fungsi didalamnya secara kompak, efisien namun ramah lingkungan. 4. Desain site plan dan bangunan terhadap kawasan bandar udara memiliki keterpaduan, terhadap fungsi lain di sekitar bandara ( surrounding area ) yaitu : Terminal 1,2,4, dan 5 sehingga membentuk kawasan Aeropolis ( terpusat / terpadu ). 5. Rencana harus mengacu pada fungsi utama bangunan yang mempertimbangkan stuktur organisasi pengelolaannya dengan standar bangunan terminal domestik dan internasional. 6. Hubungan antar ruang yang mencerminkan kemudahan akses antar fungsi/instalasi dalam terminal dan fasilitas penunjang lainnya. Termasuk aksesbilitas bagi penyandang cacat baik menuju bangunan, disekitar bangunan dan dalam bangunan. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 20

3 2.2. Studi Literatur Definisi Bandar Udara 1) Definisi bandara atau terminal penumpang menurut Standar Nasional Indonesia ( SNI ) mengenai Terminal penumpang bandar udara dinyatakan bahwa. Terminal penumpang adalah semua bentuk bangunan yang menjadi penghubung sistem transportasi darat dan sistem transportasi udara yang menampung kegiatan - kegiatan transisi antara akses dari darat ke pesawat udara atau sebaliknya ; Pemrosesan penumpang datang, berangkat maupun transit dan transfer serta pemindahan penumpang dan bagasi dari dan ke pesawat udara. 2) Terminal harus mampu menampung kegiatan operasional, administrasi dan komersial serta harus memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan operasi penerbangan di samping keselamatan lain yang berkaitan dengan masalah bangunan. (SNI ) 3) Menurut Keputusan Mentri Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Tatanan Kebandar Udaraan Nasional, Bandar Udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang di lengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya, yang terdiri atas bandar udara umum serta khusus dan selanjutnya bandar udara umum di sebut dengan bandar udara. 4) Sementara mengacu pada Undang-Undang No 15 tahun 1992 tentang penerbangan dan PP No 70 tahun 2001 tentang kebandar udaraan, Bandar udara adalah lapangan terbang yang digunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos, serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi.. 5) Keputusan Mentri Perhubungan No 24 tahun 2009 bagian 139 dalam Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil menjelaskan bahwa Bandar Udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dengan batas-batas Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 21

4 tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi, yang dilengkapifasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya Kelas Bandar Udara Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM 11 tahun 2010 sbb : 1. Bandar Udara Domestik - Adalah bandar udara yang ditetapkan untuk melayani rute penerbangan dalam negeri. 2. Bandar Udara Internasional - Adalah bandar udara yang di tetapkan untuk melayani rute penerbangan dalam negeri dan rute penerbangan dari dan ke luar negeri berdasarkan perjanjian bilateral dan/atau multilateral. Bandar udara internasional di kelompokan atas : a. Bandar Udara Internasional Utama, Merupakan bandar udara yang yang ditetapkan oleh perjanjian bilateral dan/atau multilateral sebagai bandar udara utama yang melayani rute penerbangan dalam negeri serta rute penerbangan dari dan keluar negeri, dengan hak angkut tidak terbatas. b. Bandar Udara Internasional Regional, Merupakan bandar udara yang yang ditetapkan oleh perjanjian bilateral dan/atau multilateral sebagai bandar udara utama yang melayani rute penerbangan dalam negeri serta rute penerbangan dari dan keluar negeri, dengan hak angkut terbatas. c. Bandar Udara Internasional Penerbangan Haji, Merupakan bandar udara yang ditetapkan melalui surat keputusan bersama Menteri Perhubungan dan Menteri Agama sebagai bandar udara embarkasi / debarkasi haji yang melayani rute penerbangan khusus angkutan haji. c. Bandar Udara Internasional Kargo Adalah bandar udara yang melayani angkutan kargo dengan rute penerbangan dalam negeri dan rute penerbangan dari dan keluar Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 22

5 negeri yang ditetapkan melalui perjanjian bilateral dan/atau perjanjian multilateral Fungsi Bandar Udara Menurut KM11 tahun 2010 menjelaskan fungsi bandar udara sebagai berikut: 1. Tempat penyelenggaraan kegiatan pemerintahan a. Pembinaan kegiatan penerbangan yang dilakukan oleh otoritas bandar udara. b. Kepabeanan yang dilaksanakan oleh instansi yang membidangi urusan kepabeanan. c. Keimigrasian yang dilakukan oleh instansi yang membidangi urusan ke imigrasian d. Kekarantinaan yang dilaksanakan oleh instansi yang membidangi urusan kekarantinaan. 2. Tempat penyelenggaraan kegiatan usaha a. Kegiatan pelayanan jasa kebandaraan yang dilaksanakan oleh badan usaha bandar udara atau unit penyelenggara bandar udara. b. Kegiatan pelayanan jasa terkait bandar udara yang dilakukan oleh badan usaha bandar udara atau unit penyelenggaraan bandar udara serta badan hukum indonesia atau perorangan Sistem Pengoprasian Bandar Udara Sistem pengoperasian terminal untuk lalu lintas internasional dipisahkan dari arus lalu lintas dalam negeri, karena perlu penanganan khusus. Berdasarkan pengoperasion maskapai penerbangan ada tiga macam sistem terminal penumpang, yaitu : 1. Sistem terpusat (Centralised Concept) Pada sistem ini, semua aktifitas pelayanan, dan pengelolaan penumpang serta barang di proses dalam satu bangunan, hanya penangananya Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 23

6 dilakukan oleh masing-masing maskapai penerbangan yang ada. Gambar 1. Konsep sentralisasi Sumber : Lampiran KAK/PAA/72 / Sistem Konsolidasi ( Consolidated Concept ) Yaitu pemrosesan penumpang dan barang berada dalam satu bangunan yang di tangani oleh badan pengelola. Gambar 2. Konsep konsolidasi Sumber : Lampiran KAK/PAA/72 / Sistem Desentralisasi ( Desentralized Concept ) Adalah konsep dengan pemrosesan penumpang dan barang di tangani oleh masing masing maskapai penerbangan yang menempati bagian bangunan ( unit ) yang terpisah serta memiliki fasilitas tersendiri dalam mengurus penumpang, barang, bagasi, air cargo, serta pengunjung. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 24

7 Gambar 3. Konsep desentralisasi Sumber : Lamiran KAK/PAA/72/ Konsep Distribusi Bandar Udara 1. Konsep Distribusi Horisontal a. Konsep Terminal Linier Pada konsep ini terminal terdiri dari sebuah ruang tunggu bersama dan daerah pelayanan tiket dengan pintu keluar menuju apron parkir pesawat. Keuntunganya : Kemudahan jalan masuk dan jarak relatif pendek Pengembangan mudah dengan fleksibilitas tinggi Kerugiannya : Penggunaan ruang tunggu bersama kurang efisien dan membingungkan penumpang saat informasi keberangkatan maupun kedatangan. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 25

8 Gambar 4. Konsep terminal linier Sumber : KAK/PAA/72/2014 b. Konsep Terminal Dermaga Jari ( Finger Piers ) Adalah suatu konsep yang memarkirkan pesawat berjajar pada kedua sisi dermaga, selasar untuk penumpang di gabungkan ke terminal utama, pemrosesan tiket, penumpang, barang dan bagasi di atur di pusat terminal utama. Keuntungan : Kemampuannya untuk di kembangkan sesuai meningkatnya kebutuhan Relatif ekonomis ditinjau dari modal dan biaya Kerugian : Jarak pejalan kaki yang jauh dari pelataran depan pesawat Kurangnya hubungan langsung antara pelataran depan dengan posisi pintu pesawat. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 26

9 Gambar 5. Konsep terminal dermaga jari Sumber : KAK/PAA/72/2014 c. Konsep terminal Dermaga Jarak Jauh ( Remote Piers ) Kompleks terminal mencakup bangunan terminal utama dengan dilengkapi akses menuju dermaga jarak jauh yang melewati koridor bawah apron pesawat. Keuntungan : Pengoprasian yang efisien pada sisi udara Memiliki kapasitas tinggi untuk pintu masuk pesawatdalam jumlah besar. Kekurangan : Pemrosesan penumpang dengan sisi udara berjarak jauh Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 27

10 Gambar 6. Konsep terminal dermaga jarak jauh Sumber : KAK/Paa/72/2014 d. Konsep Terminal Satelit ( Remote Satellite ) Konsep satelit terdiri dari sebuah gedung yang dikelilingi pesawat yang terpisah dari terminal dan biasanya di capai melalui penghubung ( connector ) yang terletak di permukaan tanah, dibawah tanah atau di atas tanah yang terpisah dari terminal dan biasanya di parkir dalam posisi melingkar atau sejajar mengelilingi satelit Keuntungan : Kemampuan penyesuaian terhadap ruang tunggu keberangkatan bersama dan fungsi lapor masuk. memudahkan manuver pesawat di sekitar struktur satelit Kekurangan : Biaya konstruksi tinggi Kesulitan memperluas struktur satelit Adanya jarak berjalan kaki bagi penumpang yang terlalu jauh. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 28

11 Gambar 7. Konsep terminal satelit Sumber : KAK/PAA/72/2014 e. Konsep terminal Transporter ( mobil/kendaraan) Konsep ini, pesawat dan fungsi pelayanan terpisah dari terminal, naik turun penumpang disediakan kendaraan, sedangkan pemrosesan tiket, penumpang, dan barang di pusatkan di terminal utama. Keuntungan : Memungkinkan manuver pesawat tanpa bantuan di luar atau di dalam posisi parkir Berkurangnya jarak pejalan kaki Kerugian : Jarak perpindahan barang dan penumpang relatif jauh biaya mahal karna menggunakan kendaraan khususuntuk mengangkut penumpang dan barang. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 29

12 Gambar 8. Konsep terminal transporter bus Sumber : KAK/PAA/72/2014 Gambar 9. Konsep transporter dengan mobile lounge Sumber : KAK/PAA/72/2014 f. Konsep Unit terminal Sebuah atau beberapa maskapai mengakomodasi kebutuhan terminal secara individu atau berdiri sendiri. Keuntungan : Bangunan terhubung akses jalan, memperlihatkan identitas maskapai Kekurangan : Proses transfer antar maskapai sangat susah bagi penumpang Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 30

13 Gambar 10. Konsep unit terminal Sumber : KAK/PAA/72/ Konsep Distribusi Vertical a. Konsep Satu Level Pada konsep ini semua aktifitas pelayanan penumpang, bagasi dan barang serta bongkar muat berada pada satu level. Keuntungan : Desain konstruksi serta layout bangunan sederhana karna semua pemrosesan penumpang dan bagasi dilakukan pada satu lantai lantai yang ketinggiannya sama dengan ketinggian apron. Efisiensi bagi maskapai penerbangan tidak padat Kekurangan : Terjadi benturan sirkulasi antara penumpang dengan layanan operasional Gambar 11. Konsep satu level Sumber : KAK/PAA/72/2014 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 31

14 b. Konsep Satu Setengah Level Curb sistem ke terminal berada di lantai 1 dengan fublik hall, ceck-in, dan pemrosesan barang, tetepi untuk ruang tunggu penumpang di lantai dua. Keuntungan : Lebih efektif dalam penanganan arus kedatangan dan keberangkatan Pemisahan arus kedatangan dan keberangkatan dapat dilakukan secara horizontal Fasilitas komersial dan kegiatan administrasi dapat dilakukan di tingkat ke dua Kekurangan : Masih memungkinkan terjadi tabrakan sirkulasi kedatangan dan keberangkatan Gambar 12. Konsep satu setengah level Sumber : KAK/PAA/72/2014 c. Konsep Dua Level Pada konsep ini sistem operasional digabungkan secara terpusat, kemudian pemisah di lakukan secara vertical, lantai satu digunakan untuk penumpang kedatangan, barang dan bagasi sedangkan lantai dua untuk pengoprasian penumpang keberangkatan, administrasi serta pengunjung. Keuntungan : Ketinggian pintu pesawat menjadi acuan desain level atas, sehingga pintu pesawat langsung bisa di dekatkan ke level atas terminal Penggunaan sistem ini dapat menghindari sistem crossing sirkulasi Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 32

15 Memungkinkan dilakukannya pemisahan aspek fungsional Kekurangan : Biaya konstruksi mahal dan meningkatnya biaya operasional. Gambar 13. Konsep dua level Sumber : KAK/PAA/72/2014 d. Konsep Multi Level Sistem operasional digabungkan secara terpusat, kemudian dipisahkan secara vertical, lantai satu digunakan sebagai penumpang kedatangan,barang dan bagasi, kemudian lantai dua untuk pengoprasian penumpang keberangkatan serta pengunjung, sedangkan lantai atasnya untuk administrasi dan area komersial. Keuntungan : Sistem ini dapat menghindari crossing sirkulasi Dapat dilakukan pemisahan aspek fungsional Pintu pesawat bisa langsung di dekatkan ke level atas terminal Kekurangan : Meningkatnya biaya operasional Transfortasi secara vertical untuk pengguna terminal menjadi relatif lebih rumit Gambar 14. Konsep multi level Sumber : KAK/PAA/72/2014 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 33

16 2.3. Studi Banding Pulkovo International Airport, Rusia Gambar 15. Pulkovo Airport, Rusia Sumber : di akses 12 sept 2014 Architects Location : Grimshaw Architects, Ramboll, Pascall+Watson : Pulkovo Airport (LED), Saint Petersburg, Russia Year : 2014 Photographs Structural Engineer Services Engineer Quantity Surveyor Airport Specialist Retail Specialist : Courtesy of Grimshaw Architects : Arup : Buro Happold : Turner & Townsend : Naco : Chapman Taylor Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 34

17 Gambar 16. Interior dan Exterior Pulkovo AirPort Sumber : Sumber : di akses 12 sept 2014 Gambar 17. Denah kedatangan lantai 1 pulkovo Sumber : Sumber : Sumber : di akses 12 sept 2014 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 35

18 Gambar 18. Denah kedatangan lantai 2 pulkovo Sumber : Sumber : Sumber : di akses 12 sept 2014 Gambar 19. Potongan dan ceilling pulkovo Sumber : Sumber : Sumber : di akses 12 sept 2014 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 36

19 Master plan bandara mewakili dan merespon iklim dan dari St Petersburg. geometri terminal baru berbentuk amplop dirancang untuk mengakomodasi ekstrem iklim yang dialami oleh kota, termasuk hujan salju berat khas musim dingin Queen Alia international Airport, Yordania Gambar 20. Bandar udara ratu alia, Yordania Sumber : diakses 12 september 2014 Architects Location Collaborating Architect : Foster + Partners : Amman, Jordan : Maisam Dar Al-Omran JV Year : 2013 Photographs : Nigel Young / Foster + Partners Design + Build Main Contractor: Joannou & Paraskevaides (Overseas) Ltd, J&P- AVAX S.A. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 37

20 Structural Engineer Quantity Surveyor M+E Engineer Landscape Architect Lighting Engineer : Buro Happold : David Langdon : Buro Happold : Dar Al-Handasah : World of Lights Additional Consultants: NACO, ADPi, Zuhair Fayez Partnership, Rahe Kraft Client : Airport International Group, The Hashemite Kingdom of Jordan Ministry of Trans, Joannou & Paraskevaides (Overseas) Ltd, J&P-AVAX S.A., Airport International Group P.S.C. Gambar 21. Interior dan Exterior Queen Alia Sumber : di akses 12 sept 2014 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 38

21 Bandara ini memiliki desain pasif yang sangat efisien, yang telah terinspirasi oleh tradisi lokal, dan didasarkan pada solusi modular yang fleksibel yang memungkinkan untuk ekspansi masa depan - gedung baru mengamankan posisi kota ini sebagai hub utama untuk wilayah Levant dan memungkinkan bandara tumbuh sebesar 6 persen per tahun selama dua puluh lima tahun ke depan, meningkatkan kapasitas penumpang per tahun pada Gambar 22. Denah lantai 1 Queen Alia Sumber : di akses 12 sept 2014 Gambar 23. Denah lantai 2,3 dan atap Sumber : di akses 12 sept 2014 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 39

22 Gambar 24. Potongan melintang dan memanjan Queen Alia Sumber : di akses 12 sept 2014 Menanggapi iklim Amman, di mana suhu musim panas sangat bervariasi antara siang dan malam hari, bangunan sebagian besar dibangun dari beton, massa termal yang tinggi dari bahan menyediakan kontrol lingkungan pasif. Terminal mengkilap di semua sisi untuk memungkinkan pandangan pesawat di apron dan untuk membantu orientasi Struktur beton menggabungkan kerikil lokal untuk mengurangi kebutuhan perawatan dan energi yang terkandung dari materi, dan untuk menyelaraskan dengan nuansa alami pasir lokal. Ratu Alia International Airport telah menjadi proyek yang luar biasa - itu telah mengubah Amman menjadi pusat niche, sambil menawarkan pertumbuhan penting bagi ekonomi yang lebih luas melalui link regional. Bangunan terminal baru hemat energi, akan mengakomodasi ekspansi bertahap dan memberikan simbol dinamis untuk Yordania. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 40

23 2.4. Tinjauan Tema Pengertian Arsitektur Ramah Lingkungan Berdasarkan peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 08 Tahun 2010 di jelaskan bahwa: Bangunan ramah lingkungan (green building) adalah suatu bangunan yang menerapkan prinsip lingkungan dalam perancangan, pembangunan, pengoperasian,dan pengelolaannya dan aspek penting penanganan dampak peruba han iklim Kaitan Bandar Udara dengan Arsitektur Ramah Lingkungan Menurut sertifikasi Green Building Council Indonesia, sala satu syarat sertifikasi adalah bangunan memiliki luas lantai sekurang-kurangnya 2500 m2. Rencana pengembangan terminal 3 SHIA memiliki luas lahan m2 dengan KDB 40 % sehingga di perkirakan luas lantai dasarnya m2. Selain itu menurut Tondy O.lubis,LEED AP dalam core founder-green building council indonesia menjelaskan : Green building adalah salah satu cara untuk menghambat laju perubahan iklim dan bangunan berpeluang besar untuk di manfaatkan sebagai sarana tersebut. Tertuang pula dalam TOR kriteria penilaian perancangan ini mengacu pada konsep ramah lingkungan ( Green Arsitektur ) Arsitektur Ramah Lingkungan Berdasarkan peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 08 Tahun 2010 dan Green Building Council Indonesia, secara umum Green building terbagi menjadi dua karakteristik yaitu : a. Bangunan baru Pengolahan bangunan masa konstruksi Pengolahan lahan dan limbah Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 41

24 Efisiensi energi Efisiensi air Kualitas udara dan kenyamanan termal b. Bangunan Eksisting Pengolahan bangunan masa operasional Konservasi dan efisiensi energi Konservasi dan efisiensi air Kualitas udara dan kenyamanan termal Kategori, kriteria dan tolok ukur Ramah Lingkungan Dalam ringkasan GREENSHIP NB V1.2 tahun 2014 yang dikeluarkan oleh GBCI membagi Guideline Green Building dalam kategori dan kriteria sebagai berikut : 1. Tepat guna lahan ( Appropriate Site Development - ASD ) a. Area dasar hijau Tolok ukur Adanya area lansekap berupa vegetasi (softscape) yang bebas dari struktur bangunan dan struktur sederhana bangunan taman (hardscape) di atas permukaan tanah atau di bawah tanah. Untuk konstruksi baru, luas areanya adalah minimal 10% dari luas total lahan. Untuk renovasi utama (major renovation), luas areanya adalah minimal 50% dari ruang terbuka yang bebas basement dalam tapak. Area ini memiliki vegetasi mengikuti Permendagri No 1 tahun 2007 Pasal 13 (2a) dengan komposisi 50% lahan tertutupi luasan pohon ukuran kecil, ukuran sedang, ukuran besar, perdu setengah pohon, perdu, semak dalam ukuran dewasa, dengan jenis tanaman mempertimbangkan Peraturan Menteri PU No. 5/PRT/M/2008 mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pasal tentang Kriteria Vegetasi untuk Pekarangan. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 42

25 b. Pemilihan tapak Tolok ukur Memilih daerah pembangunan yang dilengkapi minimal delapan dari 12 prasarana sarana kota.( Jaringan jalan, listrik, drainase, STP kawasan, Sampah, DAMKAR, jaringan fiber optik, danau buatan min 1% luas area, jalur pejalan kaki, gas, tlp, dan air bersih ) Memilih daerah pembangunan dengan ketentuan KLB>3 Melakukan revitalisasi dan pembangunan di atas lahan yang bernilai negatif dan tak terpakai karena bekas pembangunan atau dampak negatif pembangunan. c. Aksesibilitas komunitas Tolok ukur Terdapat minimal tujuh jenis fasilitas umum dalam jarak pencapaian jalan utama sejauh 1500 m dari tapak ( Bank, taman umum, parkir umum, toko klontong, gedung serbaguna, kantor polisi, tempat ibadah, rumah makan, fotocopy, kesehatan, kantor pos, Damkar, stasiun, perpustskaan, lapangan olah raga, tempat penitipan anak, apotek, kantor pemerintah, dan pasar ) Membuka akses pejalan kaki selain ke jalan utama di luar tapak yang menghubungkannya dengan jalan sekunder dan/atau lahan milik orang lain sehingga tersedia akses ke minimal tiga fasilitas umum sejauh 300 m jarak pencapaian pejalan kaki. Menyediakan fasilitas/akses yang aman, nyaman, dan bebas dari perpotongan dengan akses kendaraan bermotor untuk menghubungkan secara langsung bangunan dengan bangunan lain, di mana terdapat minimal tiga fasilitas umum dan/atau dengan stasiun transportasi masal. Membuka lantai dasar gedung sehingga dapat menjadi akses pejalan kaki yang aman dan nyaman selama minimum 10 jam sehari. d. Transfortasi umum Tolok ukur Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 43

26 Adanya halte atau stasiun transportasi umum dalam jangkauan 300 m (walking distance) dari gerbang lokasi bangunan dengan tidakmemperhitungkan panjang jembatan penyeberangan dan ramp. Menyediakan shuttle bus untuk pengguna tetap gedung dengan jumlah unit minimum untuk 10% pengguna tetap gedung. Menyediakan fasilitas jalur pedestrian di dalam area gedung untuk menuju ke stasiun transportasi umum terdekat yang aman dan nyaman dengan mempertimbangkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 30/PRT/M/2006 mengenai Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan Lampiran 2B. e. Fasilitas penggguna sepeda Tolok ukur Adanya tempat parkir sepeda yang aman sebanyak satu unit parkir per 20 pengguna gedung hingga maksimal 100 unit parkir sepeda. Apabila tolok ukur 1 diatas terpenuhi, perlu tersedianya shower sebanyak 1 unit untuk setiap 10 parkir sepeda. f. Lansekap pada lahan Tolok ukur Adanya area lansekap berupa vegetasi (softscape) yang bebas dari bangunan taman (hardscape) yang terletak di atas permukaan tanah seluas minimal 40% luas total lahan. Luas area yang diperhitungkan adalah termasuk yang tersebut di Prasyarat 1, taman di atas basement, roof garden, terrace garden, dan wall garden, dengan mempertimbangkan Peraturan Menteri PU No. 5/PRT/M/2008 mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pasal tentang Kriteria Vegetasi untuk Pekarangan. Bila tolok ukur 1 dipenuhi, setiap penambahan 5% area lansekap dari luas total lahan mendapat 1 nilai. Penggunaan tanaman yang telah dibudidayakan secara lokal dalam skala provinsi, sebesar 60% luas tajuk dewasa terhadap luas area lansekap pada ASD 5 tolok ukur 1. g. Iklim mikro Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 44

27 Menggunakan berbagai material untuk menghindari efek heat island pada area atap gedung sehingga nilai albedo (daya refleksi panas matahari) minimum 0,3 sesuai dengan perhitungan. atau Menggunakan green roof sebesar 50% dari luas atap yang tidak digunakan untuk mechanical electrical (ME), dihitung dari luas tajuk. Menggunakan berbagai material untuk menghindari efek heat island pada area perkerasan non-atap sehingga nilai albedo (daya refleksi panas matahari) minimum 0,3 sesuai dengan perhitungan. Desain lansekap berupa vegetasi (softscape) pada sirkulasi utama pejalan kaki menunjukkan adanya pelindung dari panas akibat radiasi matahari atau Desain lansekap berupa vegetasi (softscape) pada sirkulasi utama pejalan kaki menunjukkan adanya pelindung dari terpaan angin kencang. h. Manajemen air hujan Pengurangan beban volume limpasan air hujan ke jaringan drainase kota dari lokasi bangunan hingga 50%, yang dihitung menggunakan nilai intensitas curah hujan*.atau Pengurangan beban volume limpasan air hujan ke jaringan drainase kota dari lokasi bangunan hingga 85%, yang dihitung menggunakan nilai intensitas curah hujan*. Menunjukkan adanya upaya penanganan pengurangan beban banjir lingkungan dari luar lokasi bangunan. Menggunakan teknologi-teknologi yang dapat mengurangi debit limpasan air hujan. Untuk wilayah DKI Jakarta, menggunakan curah hujan 50mm/hari sesuai Peraturan Gubernur DKI No 38 tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau. 2. Efisiensi dan konservasi energi ( Energy Efficiency and Conservation - EEC ) a. Pemasangan sub meter Memasang kwh meter untuk mengukur konsumsi listrik pada setiap kelompok beban dan sistem peralatan, yang meliputi, Sistem tata udara, tata cahaya dan kotak kontak Sistem beban lainnya Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 45

28 b. Perhitungan OTTV Menghitung dengan cara perhitungan OTTV berdasarkan SNI atau SNI edisi terbaru tentang Konservasi Energi Selubung Bangunan pada Bangunan Gedung c. Langkah penghematan energi Menggunakan Energy modelling software untuk menghitung konsumsi energi di gedung baseline dan gedung designed. Selisih konsumsi energi dari gedung baseline dan designed merupakan penghematan. Untuk 1-20 setiap penghematan sebesar 2,5%, yang dimulai dari penurunan energi sebesar 5% dari gedung baseline, mendapat nilai 1 nilai (wajib untuk platinum) atau Menggunakan perhitungan worksheet, setiap penghematan 2% dari selisih antara gedung designed dan baseline mendapat nilai 1 nilai. Penghematan mulai dihitung dari penurunan energi sebesar 5% dari gedung baseline. Worksheet yang dimaksud disediakan oleh atau GBCI, atau Menggunakanperhitungan per komponen secara terpisah, yaitu Nilai OTTV sesuai dengan SNI atau SNI edisi terbaru tentang Konservasi Energi Selubung Bangunan pada Bangunan Gedung, Apabila tolok ukur 1 dipenuhi, penurunan per 2.5% mendapat 1 nilai sampai maksimal 2 nilai. d. Pencahayaan buatan Menggunakan lampu dengan daya pencahayaan lebih hemat sebesar 15% daripada daya pencahayaan yang tercantum dalam SNI atau SNI edisi terbaru tentang Konservasi Energi pada Sistem Pencahayaan Menggunakan 100% ballast frekuensi tinggi (elektronik) untuk ruang kerja. Zonasi pencahayaan untuk seluruh ruang kerja yang dikaitkan dengan sensor gerak (motion sensor). Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 46

29 Penempatan tombol lampu dalam jarak pencapaian tangan pada saat buka pintu. e. Transfortasi vertical Lift menggunakan traffic management system yang sudah lulus traffic analysis atau menggunakan regenerative drive system.atau Menggunakan fitur hemat energi pada lift, menggunakan sensor gerak, atau sleep mode pada eskalator. f. Pengkondisisan udara Menggunakan peralatan AC dengan COP minimum 10% lebih besar dari SNI atau SNI edisi terbaru tentang Konservasi Energi pada Sistem Tata Udara Bangunan Gedung g. Pencahayaan alami Penggunaaan cahaya alami secara optimal sehingga minimal 30% luas lantai yang digunakan untuk bekerja mendapatkan intensitas cahaya alami minimal sebesar 300 lux. Perhitungan dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan software. Khusus untuk pusat perbelanjaan, minimal 20% luas lantai nonservice mendapatkan intensitas cahaya alami minimal sebesar 300 lux Jika butir satu dipenuhi lalu ditambah dengan adanya lux sensor untuk otomatisasi pencahayaan buatan apabila intensitas cahaya alami kurang dari 300 lux, didapatkan tambahan 2 nilai h. Pengaruh perubahan iklim Menyerahkan perhitungan pengurangan emisi CO2 yang didapatkan dari selisih kebutuhan energi antara gedung designed dan gedung baseline dengan menggunakan grid emission factor yang telah ditetapkan dalam Keputusan DNA pada B/277/Dep.III/LH/01/2009 i. Energi terbarukan Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 47

30 Menggunakan sumber energi baru dan terbarukan. Setiap 0,5% daya listrik yang dibutuhkan gedung yang dapat dipenuhi oleh sumber energi terbarukan mendapatkan 1 nilai (sampai maksimal 5 nilai). 3. Konservasi air ( Water Conservation - WAC ) a. Meteran air Pemasangan alat meteran air (volume meter) yang ditempatkan di lokasilokasi tertentu pada sistem distribusi air, sebagai berikut: Satu volume meter di setiap sistem keluaran sumber air bersih seperti sumber PDAM atau air tanah. Satu volume meter untuk memonitor keluaran sistem air daur ulang. Satu volume meter dipasang untuk mengukur tambahan keluaran air bersih apabila dari sistem daur ulang tidak mencukupi b. Perhitungan penggunaan air Mengisi worksheet air standar GBCI yang telah disediakan c. Pengurangan penggunaan air Konsumsi air bersih dengan jumlah tertinggi 80% dari sumber primer tanpa mengurangi jumlah kebutuhan per orang sesuai dengan SNI seperti pada tabel terlampir Setiap penurunan konsumsi air bersih dari sumber primer sebesar 5% sesuai dengan acuan pada tolok ukur 1 akan mendapatkan 1 nilai dengan dengan nilai maksimum sebesar 7 nilai. d. fitur air Penggunaan fitur air yang sesuai dengan kapasitas buangan di bawah standar maksimum kemampuan alat keluaran air sesuai dengan lampiran,sejumlah minimal 25% dari total pengadaan produk fitur air. Atau Penggunaan fitur air yang sesuai dengan kapasitas buangan dibawah standar maksimum kemampuan alat keluaran air sesuai dengan lampiran, sejumlah minimal 50% dari total pengadaan produk fitur air Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 48

31 Atau Penggunaan fitur air yang sesuai dengan kapasitas buangan di bawah standar maksimum kemampuan alat keluaran air sesuai dengan lampiran, sejumlah minimal 75% dari total pengadaan produk fitur air. e. Daur ulang air Penggunaan seluruh air bekas pakai (grey water) yang telah di daur ulang untuk kebutuhan sistem flushing atau cooling tower. Atau penggunaan seluruh air bekas pakai (grey water) yang telah didaur ulang untuk kebutuhan sistem flushing dan cooling tower - 3 nilai. f. Sumber air alternatif Menggunakan salah satu dari tiga alternatif sebagai berikut: air kondensasi AC, air bekas wudhu, atau air hujan Atau menggunakan lebih dari satu sumber air dari ketiga alternatif di atas. Atau Menggunakan teknologi yang memanfaatkan air laut atau air danau atau air sungai untuk keperluan air bersih sebagai sanitasi, irigasi dan kebutuhan lainnya g. Penampungan air hujan Menyediakan instalasi tangki penampungan air hujan kapasitas 50% dari jumlah air hujan yang jatuh di atas atap bangunan yang dihitung menggunakan nilai intensitas curah hujan harian rata-rata 10 tahunan Atau Menyediakan instalasi tangki penampungan air hujan berkapasitas 75% dari perhitungan di atas Atau Menyediakan instalasi tangki penampungan air hujan berkapasitas 100% dari perhitungan di atas. h. Efisiensi penggunaan air lansekap Seluruh air yang digunakan untuk irigasi gedung tidak berasal dari sumber air tanah dan/atau PDAM. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 49

32 Menerapkan teknologi yang inovatif untuk irigasi yang dapat mengontrol kebutuhan air untuk lansekap yang tepat, sesuai dengan kebutuhan tanaman. 4. Sumber dan siklus matrial ( Matrial Resources and Cycle - MRC ) a. Refrigeran fundamental Tidak menggunakan chloro fluoro-carbon (CFC) sebagai refrigeran dan halon sebagai bahan pemadam kebakaran b. Penggunaan matrial bekas Menggunakan kembali material bekas, baik dari bangunan lama maupun tempat lain, berupa bahan struktur utama, fasad, plafon, lantai, partisi, kusen, dan dinding, setara minimal 10% dari total biaya material. Atau menggunakan kembali material bekas, baik dari bangunan lama maupun tempat lain, berupa bahan struktur utama, fasad, plafon, lantai, partisi, kusen, dan dinding, setara minimal 20% dari total biaya material. c. Matrial ramah lingkungan Menggunakan material yang memiliki sertifikat sistem manajemen lingkungan pada proses produksinya minimal bernilai 30% dari total biaya material. Sertifikat dinilai sah bila masih berlaku dalam rentang waktu proses pembelian dalam konstruksi berjalan. Menggunakan material yang merupakan hasil proses daur ulang minimal bernilai 5% dari total biaya material. Menggunakan material yang bahan baku utamanya berasal dari sumber daya (SD) terbarukan dengan masa panen jangka pendek (<10 tahun) minimal bernilai 2% dari total biaya material. d. Refigeran tanpa ODP Tidak menggunakan bahan perusak ozon pada seluruh sistem pendingin gedung Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 50

33 e. Kayu bersertifikat Menggunakan bahan material kayu yang bersertifikat legal sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang asal kayu (seperti faktur angkutan kayu olahan/fako, sertifikat perusahaan, dan lain-lain) dan sah terbebas dari perdagangan kayu ilegal sebesar 100% biaya total material kayu. Jika 30% dari butir di atas menggunakan kayu bersertifikasi dari pihak Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) atau Forest Stewardship Council (FSC). f. Matrial prafabrikasi g. Matrial regional Desain yang menggunakan material modular atau prafabrikasi (tidak termasuk equipment) sebesar 30% dari total biaya material. Menggunakan material yang lokasi asal bahan baku utama dan pabrikasinya berada di dalam radius km dari lokasi proyek minimal bernilai 50% dari total biaya material. Menggunakan material yang lokasi asal bahan baku utama dan pabrikasinya berada dalam wilayah Republik Indonesia bernilai minimal 80% dari total biaya material. 5. Kesehatan dan kenyamanan dalam ruang ( Indoor Health and Comfort - IHC ) a. Introduksi Udara Luar Desain ruangan yang menunjukkan adanya potensi introduksi udara luar minimal sesuai dengan Standar ASHRAE atau Standar ASHRAE edisi terbaru. b. Pemantauan Kadar CO2 Ruangan dengan kepadatan tinggi, yaitu < 2.3 m2 per orang dilengkapi dengan instalasi sensor gas karbon dioksida (CO2) yang memiliki mekanisme untuk mengatur jumlah ventilasi udara luar Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 51

34 sehingga konsentrasi C02 di dalam ruangan tidak lebih dari ppm, sensor diletakkan 1,5 m di atas lantai dekat return air grille atau return air duct. c. Kendali Asap Rokok di Lingkungan Memasang tanda "Dilarang Merokok di Seluruh Area Gedung" dan d. Polutan Kimia tidak menyediakan bangunan/area khusus untuk merokok di dalam gedung. Apabila tersedia, bangunan/area merokok di luar gedung, minimal berada pada jarak 5 m dari pintu masuk, outdoor air intake, dan bukaan jendela. Menggunakan cat dan coating yang mengandung kadar volatile organic compounds (VOCs) rendah, yang ditandai dengan label/sertifikasi yang diakui GBC Indonesia. Menggunakan produk kayu komposit dan laminating adhesive dengan syarat memiliki kadar emisi formaldehida rendah, yang ditandai dengan label/sertifikasi yang diakui GBC Indonesia. Menggunakan material lampu yang kandungan merkurinya pada toleransi maksimum yang disetujui GBC Indonesia dan tidak menggunakan material yang mengandung asbestos. e. Pemandangan ke luar Gedung Apabila 75% dari net lettable area (NLA) menghadap langsung ke pemandangan luar yang dibatasi bukaan transparan bila ditarik suatu garis lurus. f. Kenyamanan Visual Menggunakan lampu dengan iluminansi (tingkat pencahayaan) ruangan sesuai dengan SNI tentang Konservasi Energi pada Sistem pencahayaan. g. Kenyamanan Termal Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 52

35 Menetapkan perencanaan kondisi termal ruangan secara umum pada suhu 250C dan kelembaban relatif 60% h. Tingkat Kebisingan Tingkat kebisingan pada 90% dari nett lettable area (NLA) tidak lebih dari atau sesuai dengan SNI tentang Spesifikasi Tingkat Bunyi dan Waktu Dengung dalam Bangunan Gedung dan Perumahan (kriteria desain yang direkomendasikan). 6. Manajemen Lingkungan Bangunan (Building Environment Management-BEM) a. Dasar Pengelolaan Sampah Adanya instalasi atau fasilitas untuk memilah dan mengumpulkan sampah sejenis sampah rumah tangga (UU No. 18 Tahun 2008) berdasarkan jenis organik, anorganik, dan B3 b. GP Sebagai Anggota Tim Proyek Melibatkan minimal seorang tenaga ahli yang sudah bersertifikat GREENSHIP Professional (GP), yang bertugas untuk memandu proyek hingga mendapatkan sertifikat GREENSHIP. c. Polusi dari Aktivitas Konstruksi Memiliki rencana manajemen sampah konstruksi yang terdiri atas Limbah padat, dengan menyediakan area pengumpulan, pemisahan, dan sistem pencatatan. Pencatatan dibedakan berdasarkan limbah padat yang dibuang ke TPA, digunakan kembali, dan didaur ulang oleh pihak ketiga Limbah cair, dengan menjaga kualitas seluruh buangan air yang timbul dari aktivitas konstruksi agar tidak mencemari drainase kota d. Pengelolaan Sampah Tingkat Lanjut Mengolah limbah organik gedung yang dilakukan secara mandiri maupun bekerjasama dengan pihak ketiga sehingga menambah nilai manfaat dan dapat mengurangi dampak lingkungan. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 53

36 Mengolah limbah anorganik gedung yang dilakukan secara mandiri maupun bekerjasama dengan pihak ketiga sehingga menambah nilai manfaat dan dapat mengurangi dampak lingkungan. e. Sistem Komisioning yang Baik dan Benar Melakukan prosedur testing- commissioning sesuai dengan petunjuk GBC Indonesia, termasuk pelatihan terkait untuk optimalisasi kesesuaian fungsi dan kinerja peralatan/sistem dengan perencanaan dan acuannya. Memastikan seluruh measuring adjusting instrument telah terpasang pada saat konstruksi dan memperhatikan kesesuaian antara desain dan spesifikasi teknis terkait komponen proper commissioning. f. Penyerahan Data Green Building Menyerahkan data implementasi green building sesuai dengan form dari GBC Indonesia. Memberi pernyataan bahwa pemilik gedung akan menyerahkan data implementasi green building dari bangunannya dalam waktu 12 bulan setelah tanggal sertifikasi kepada GBC Indonesia dan suatu pusat data energi Indonesia yang akan ditentukan kemudian g. Kesepakatan dalam Melakukan Aktivitas Fit Memiliki surat perjanjian dengan penyewa gedung (tenant) untuk gedung yang disewakan atau POS untuk gedung yang digunakan sendiri, yang terdiri atas: a. Penggunaan kayu yang bersertifikat untuk material fit-out b. Pelaksanaan pelatihan yang akan dilakukan oleh manajemen gedung c. Pelaksanaan manajemen indoor air quality (IAQ) setelah konstruksi BEM 7 fit-out. Implementasi dalam bentuk Perjanjian Sewa (leaseagreement) atau POS. h. Survei Pengguna Gedung Memberi pernyataan bahwa pemilik gedung akan mengadakan survei suhu dan kelembaban paling lambat 12 bulan setelah tanggal Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 54

37 sertifikasi dan menyerahkan laporan hasil survei paling lambat 15 bulan setelah tanggal sertifikasi kepada GBC Indonesia. Catatan: Apabila hasilnya lebih dari 20% responden menyatakan ketidaknyamanannya, maka pemilik gedung setuju untuk melakukan perbaikan selambat-lambatnya 6 bulan setelah pelaporan hasil survei Tahap dan jumlah penilaian Greenship bangunan Menurut GBCI dalam Greenship bangunan versi 1.2, menjelaskan bahwa tahap penilaian Greenship terdiri dari : 1. Tahap Rekognisi Desain ( Design Recognition - DR ) yaitu tahap penilaian selama gedung atau bangunan masih dalam perencanaan dengan maksimum nilai 77 poin 2. Tahap penilaian akhir ( Final Assessment - FA ) Yaitu penilaian menyeluruh baik aspek desain maupun kontruksi dengan maksimum nilai 101 poin Penjabaran penilaian setiap kategori sesuai tahapan dapat dilihat pada gambar tabel berikut ini : KATEGORI Jumlah nilai untuk DR Jumlah nilai untuk FA Prasyarat Kredit Bonus Prasyarat Kredit Bonus ASD EEC WAC MRC IHC BEM Jml kriteria Table 1. Nilai kategori tahapan green building Sumber : GBCI dalam Greenship untuk bangunan baru versi 1.2 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 55

38 Prasyarat adalah kritera yang ada di setiap kategori dan harus di penuhi sebelum dilakukan penilaian Kredit adalah Kriteria yang ada di setiap kategori dan tidak harus di penuhi Bonus adalah kriteria yang memungkinkan nilai tambah, nilai bonus tidak mempengaruhi nilai maksimum greenship tetapi dinilai memiliki prestasi lebih Ringkasan dan nilai kriteria Greenship Ringkasan dan nilai kriteria tertuang dalam tabel sebagai berikut : Kategori dan kriteria Nilai kriteria Keterangan Tepat guna lahan ( Appropriate Site Development - ASD ) ASD P Area dasar hijau P ASD 1 Pemilihan tapak 2 ASD 2 Aksesibilitas komunitas 2 ASD 3 Transportasi umum 2 ASD 4 Fasilitas pengguna sepeda 2 ASD 5 Lansekap pada lahan 3 ASD 6 Iklim micro 3 ASD 7 Manajemen air limpasan hujan 3 Total Nilai ASD 17 16,8 % Efisiensi, conservasi Energi ( Energy Efficiency and Conservation-EEC ) EEC P1 Pemasangan sub meter p EEC P2 Perhitungan OTTV p Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 56

39 EEC 1 Langkah penghematan energi 20 EEC 2 Pencahayaan alami 4 EEC 3 Ventilasi 1 EEC 4 Pengaruh iklim 1 EEC 5 Energi terbarukan 5 Total EEC 26 25,7 % Konservasi Air ( Water Conservation - WAC ) WAC P1 Meteran air P WAC P2 Perhitungan penggunaan air P WAC 1 Penggurangan penggunaan air WAC 2 Fitur air WAC 3 Daur ulang air WAC 4 Sumber air alternatif WAC 5 Penampungan air hujan WAC 6 Efisiensi air lansekap Total WAC 21 20,8 % Sumber siklus matrial ( Matrial Resources and Cycle MRC ) MRC P Refigerant Fundamental p MRC 1 Penggunaan Material bekas 2 MRC 2 Material ramah lingkungan 3 MRC 3 Refrigran tanpa ODP 2 MRC 4 Kayu bersertifikat 2 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 57

40 MRC 5 Matrial pra fabrikasi 3 MRC 6 Material regional 2 Total MRC 14 13,9 % Kesehatan, kenyamanan dalam ruang ( Indoor Heath and Confort - IHC ) IHC P Introuksi udara luar P IHC 1 Pemantauan CO2 1 IHC 2 Kendali asap rokok 2 IHC 3 Polutan kimia 3 IHC 4 Pemandangan luar gedung 1 IHC 5 Kenyamanan visual 1 IHC 6 Kenyamanan thermal 1 IHC 7 Tingkat kebisingan 1 Total IHC 10 9,9 % Manajemen lingkungan bangunan(buiding Environment Managemen-BEM) BEM P Dasar pengellolaan sampah BEM 1 GP sebagai team BEM 2 Polusi masa kontruksi BEM 3 Pengelolaan sampah BEM 4 Komissioning yang baik BEM 5 Penyerahan data BEM 6 Kesepakatan dalam melakukan / pin BEM 7 Survey pengguna gedung 1 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 58

41 TOTAL BEM 13 12,9% TOTAL KESELURUHAN % Table 2. Faktor penilaian GBCI Sumber : GBCI Desain bangunan ramah lingkungan GBCI telah meluluskan beberapa desain bangunan yang meiliki konsep Green Building antara lain : 1. Rasuna Tower Peringkat yang dicapai : GOLD Perolehan nilai : 46 ( 61 % ) dari total maksimum nilai 77 Gambar 25. Rasuna Tower Sumber : di akses 24 september Prasetya Mulya Busines School Peringkat yang di capai : Platinum Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 59

42 Perolehan nilai : 59 ( 77 % ) dari total maksimum nilai 77 Gambar 26. Prasetya Mulya Busines School Sumber : di akses 24 september AIA Central Office - Menara selaras Peringkat yang di capai : Gold Perolehan nilai : 46 ( 61 % ) dari total maksimum nilai 77 Gambar 27. AIA Central Office Sumber : di akses 24 september Bahana Tower Peringkat yang di capai : Gold Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 60

43 Perolehan nilai : 49 ( 63 % ) dari total maksimum nilai 77 Gambar 28. Bahana Tower Sumber : di akses 24 september GKM Tower Peringkat yang di capai : Platinum Perolehan nilai : 62 ( 80 % ) dari total maksimum nilai 77 Gambar 29. GKM Tower Sumber : di akses 24 september United Tractors Head Office Peringkat yang di capai : Platinum Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 61

44 Perolehan nilai : 59 ( 77 % ) dari total maksimum nilai 77 Gambar 30. United Tractors Head Office Sumber : di akses 24 september Contoh Bangunan Ramah lingkungan 1. Kampus PT Dahana, Subang, Jawa barat Tanggal 20 Januari 2012, berlokasi di Subang Jawa Barat, GBC Indonesia menganugerahkan sertifikat resmi Green Building untuk yang pertama kalinya bagi sebuah bangunan baru. Gedung tersebut adalah gedung Energetic Material Centre, kantor manajemen pusat (Kampus) PT. Dahana (Persero). Gambar 31. PT Dahana Sumber : di akses 24 september 2014 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 62

45 Fitur-fitur Green yang diterapkan di Dahana antara lain: 1) Konsumsi energi yang sangat rendah, yaitu 131 kwh/m2 per tahun. 2) Sumber air menggunakan air sungai dengan pengolahan mandiri, air hujan, dan air kondensasi AC. 3) Pada siang hari tidak menggunakan lampu, dengan fitur lux sensor dan ditambah sensor gerak untuk mendeteksi keberadaan manusia. 4) Penggunaan dual flush yang menggunakan air daur ulang. 5) Penggunaan keran air sistem tekan yang dapat menutup sendiri. 6) Penyiraman tanaman dengan air daur ulang, dengan penyiraman sprinkler yang memiliki sensor kelembaban tanah agar pada saat hujan tidak perlu disiram. 7) Fasiltas pedestrian yang teduh dari tanaman rambat hingga ke jalan utama 8) Zero run off, dengan mengalirkan air hujan ke kolam ikan di sekeliling bangunan, sisanya mengalir ke lansekap. 9) Sumber tanaman adalah tanaman hasil budidaya di sekitar proyek 10) 60% dari luas area bangunan adalah area hijau (termasuk Green roof). 11) Menggunakan AC dengan refrigeran HFC yang ramah ozon 12) Penggunaan material ramah lingkungan, termasuk kayu yang bersertifikat legal, menggunakan prefab material. 13) Dilarang merokok di seluruh area gedung, termasuk pengawasan lebih dari satpam gedung. 14) Ventilasi yang cukup, dengan sistem deteksi kadar CO2. 15) Perencanaan manajemen perawatan untuk menjaga kualitas Green Building agar tetap berkelanjutan. 16) Pemisahan sampah organik dan non-organik, diteruskan dengan pengomposan mandiri, kerjasama dengan pengepul setempat untuk sampah non-organik yang dapat didaur ulang, dan kerjasama dengan perusahaan pengolahan limbah B3. 17) Kenyamanan adalah yang utama, dengan dilakukannya survey berkala kepada penghuni terkait kenyamanan gedung, serta sistem tindak lanjutnya. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 63

46 18) Adanya fasilitas parkir sepeda yang digunakan untuk transportasi pekerja dari rumah (mess) ke gedung, atau ke laboratorium lain. 19) Gedung dibangun tahan gempa, sistem penanganan kebakaran yang ketat, dan memfasilitasi akses untuk penyandang cacat. 20) 80% material bangunan berasal dari dalam negeri, ditambah dengan adanya sertifikat ISO pada pabrik material bangunan tersebut dari 32% seluruh material bangunan. 2. Menara BCA Grand Indonesia, Jakarta Bertempat di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, dilakukan penyerahan sertifikat dalam acara network and sharing Green Council Indonesia (GBCI) pada Rabu (21/12). Menara BCA (PT Grand Indonesia) yang berhasil memperoleh sertifikat GREENSHIP untuk kategori gedung terbangun dengan peringkat Platinum Gambar 32. Gedung BCA dan penghargaan Sumber : di akses 24 september 2014 Gedung ini dinyatakan layak memperoleh sertifikat GREENSHIP oleh GBCI setelah menjalani proses aertifikasi selama kurun waktu satu tahun terakhir. Chairperson GBCI menegaskan bahwa sertifikat Platinum yang diperoleh Menara BCA (PT Grand Indonesia) merupakan ganjaran yang baik atas Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 64

47 upaya pemilik dan pengelola gedung yang telah berkomitmen mengenai kepedulian lingkungan global. Hal ini dibutuhkan dengan Menara BCA (PT Grand Indonesia) berhasil mengurangi konsumsi energi listrik hingga 30,4 persen atau setara dengan penurunan emisi CO2 sebesar kurang lebih ton CO2 per tahun setelah ditambahkan dengan usaha-usaha penghematanlainnya. Gedung yang selesai dibangun tahun 2007 ini ternyata mampu menghemat konsumsi energi listrik sebesar 35% dari pemakaian pada gedung sejenis, atau setara penurunan emisi gas karbon dioksida (CO2) sebesar ton per tahun. Hampir semua lampunya memakai LED-light emitting diode, yang mampu menghemat listrik hingga 70% dibandingkan lampu lain berdaya sama, dan memasang lampu tabung jenis T5 yang dilengkapi sensor cahaya untuk mengukur tingkat pencahayaan saat ruangan gelap atau terang. Memakai lampu hemat energi juga meringankan kerja penyejuk udara atau AC,karena suhu ruangan tidak bertambah daripanas cahaya lampu. Penyejuk ruangan Menara BCA juga dapat diatur pada 25 derajat Celsius atau lebih tinggi dibandingkan kebanyakan gedung perkantoran lain di Jakarta, tetapi tetap nyaman. Kuncinya, kaca luar gedung memakai teknologi insulated glazing atau biasa juga disebut double glazing yang diisi gas di antara lapisannya, untuk meneruskan panas dari luar gedung ke bagian lain dimana panas itu ingin dilepaskan. Hasilnya, panas yang diteruskan ke dalam ruangan sudah berkurang derajatnya. Gedung ini juga memberikan sejumlah fasilitas pendukung gaya hidup ramah lingkungan seperti penambahan parkir sepeda, pancuran atau shower bagi pesepeda untuk membersihkan badan, penambahan aerator pada wastafel, alat pengukur kualitas udara, pelatihan internal bagi penghuni gedung, pengolahan air bekas wudhu sebagai air pembilas toilet. Selain itu, buangan air per orang per hari berhasil ditekan menjadi 40 liter, dibandingkan buangan rata-rata perkantoran di Jakarta yang mencapai 50 liter. Ada lagi, seluruh bagian lantai di luar ruangan dibuat berpori sehingga mampu menyerap hampir 100 persen air yang jatuh, dan dipakai kembali untuk berbagai keperluan di dalam kantor. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 65

48 3. Sampoerna Strategic Square, Jakarta Dalam acara Certification Ceremony yang dihadiri oleh Todd Lauchlan, Country HeadJones Lang LaSalle Indonesia, Rana Yusuf Nasir dari GBC Indonesia serta perwakilan tenant-tenant SSS, General Manager SSS, Bapak Sentosa Sitia melakukan presentasi mengenai tindakan-tindakan yang dilakukan SSS dalam usahanya mencapai Sertifikat GREENSHIPGold. Pendekatan green building yang dilakukan oleh SSS antara lain melalui penggantian appliances khususnya untuk water fixture, dan melakukan water treatment yang hasil recycle-nya digunakan pada lansekap dan cooling tower. Selain itu dilakukan pula manajemen sampah dengan pemisahan sampah organik, anorganik dan berbahaya. Untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan maka diberlakukan Non Smoking Area dan pembentukan green team dalam manajemen gedung untuk memastikan bahwa fitur-fitur green building ini berjalan. Gambar 33. Sampoerna Strategic Square Sumber : di akses 24 september 201 Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 66