HUBUNGAN JENIS KELAMIN, USIA DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN STUNTING ANAK DI RSUD TUGUREJO SEMARANG

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HUBUNGAN JENIS KELAMIN, USIA DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN STUNTING ANAK DI RSUD TUGUREJO SEMARANG"

Transkripsi

1 HUBUNGAN JENIS KELAMIN, USIA DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN STUNTING ANAK DI RSUD TUGUREJO SEMARANG Skripsi Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan Pendidikan Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang Disusun oleh : ISFI SABILA IZZATI H2A FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2016 i

2 ii

3 iii

4 PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini Nama : Isfi Sabila Izzati NIM : H2A Menyatakan sesungguhnya bahwa Skripsi berjudul HUBUNGAN JENIS KELAMIN, USIA DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN STUNTING ANAK DI RSUD TUGUREJO SEMARANG adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam skripsi tersebut telah diberi tanda sitasi dan dituliskan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan Skripsi dan gelar yang saya peroleh dari Skripsi tersebut. Semarang, Februari 2017 Yang membuat pernyataan Isfi Sabila Izzati iv

5 KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan karya tulis ilmiah dengan judul Hubungan Jenis Kelamin, Usia dan Riwayat Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting Anak di RSUD Tugurejo Semarang. Penulisan karya ilmiah ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan pendidikan dokter (S -1) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. Penulis menyadari bahwa penulisan karya tulis ilmiah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada : 1. Prof. Dr. Rifki Muslim, SpB, Sp.U (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. 2. dr. Agus Saptanto,Sp.A selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan berupa kritik, saran dan arahan dalam penyusunan karya tulis ini. 3. Bapak Muh. Hidayat Setyawan, M.Kes selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan berupa kritik, saran dan arahan dalam penyusunan karya tulis ini. 4. Orang tua, adik dan sahabat-sahabat tercinta SA.Node yang selalu memberikan dukungan, bantuan dan mendoakan peneliti. Peneliti berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Peneliti mengharapkan skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Terimakasih. Semarang, Desember 2016 Peneliti Isfi Sabila Izzati v

6 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN PERNYATAAN... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL viii ABSTRAK... ix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah... 2 C. Tujuan Penelitian Tujuan Umum Tujuan Khusus... 2 D. Keaslian Penelitian... 3 E. Manfaat Penelitian Manfaat Teoritis Manfaat Praktis... 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dasar Teori Anak a. Definisi... 4 b. Pertumbuhan Anak... 4 c. Perawakan Pendek (Stunting) ) Definisi ) Prevalensi dan Insidensi ) Pengukuran Tinggi Badan ) Penyebab dan faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting... 7 vi

7 2. Penyakit Infeksi...10 B. Kerangka Teori...12 C. Kerangka Konsep...13 D. Hipotesis...13 BAB III METODE PENELITIAN...14 A. Ruang Lingkup penelitian...14 B. Jenis Penelitian...14 C. Populasi Dan Sampel Penelitian Populasi Sampel...14 D. Variabel Penelitian dan Definisi Opersional Variabel Bebas Variabel Terikat Definisi Operasional...16 E. Bahan dan Alat...16 F. Alur Penelitian...17 G. Pengolahan Data...17 H. Analisis Data...18 I. Jadwal Penelitian...18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Analisis Univariat Analisis Bivariat...20 B.Pembahasan...21 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan...24 B.Saran...24 DAFTAR PUSTAKA...25 LAMPIRAN...29 vii

8 DAFTAR TABEL DAFTAR TABEL hal Tabel 1.1 Keaslian Penelitian 3 Tabel 3.1 Definisi Operasional 16 Tabel 3.2 Kode Variabel Penelitian 17 Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Sampel 19 Tabel 4.2 Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Stunting 20 Tabel 4.3 Hubungan Usia Balita dengan Kejadian Stunting 20 Tabel 4.4 Hubungan Riwayat Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting 20 viii

9 Hubungan Jenis Kelamin, Usia dan Riwayat Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting Isfi Sabila Izzati 1, Agus Saptanto 2, Muhamad Hidayat Setyawan 3 ABSTRAK Latar belakang : Stunting masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, menurut WHO 2010 Indonesia yang menduduki urutan ke lima di dunia dengan jumlah balita stunting mencapai 7,6 juta. Prevalensi stunting di Semarang sendiri cukup tinggi sebesar 20,66%. Stunting sebagai bentuk malnutrisi kronis sangat berhubungan dengan infeksi kronis atau berulang, risiko stunting juga dapat meningkat oleh beberapa faktor seperti jenis kelamin dan usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara jenis kelamin, usia, dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting anak. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan case control dengan teknik consecutive sampling. Subyek adalah balita usia bulan terdiri dari 30 anak stunting dan 60 anak tidak stunting. Stunting didefinisikan sebagai hasil ukur tinggi badan <-2SD dengan kurva WHO. Variabel penelitian ini didapat dari data rekam medis. Analisis bivariat yang digunakan adalah statistik chi square dengan α = 0,05. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan kategori usia paling banyak bulan. Balita yang memiliki riwayat penyakit infeksi sebanyak 41,1 %. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian stunting ( nilai p = 1,00). Ada hubungan antara usia balita bulan (nilai p = 0,007) dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting (nilai p = 0,000). Kesimpulan : Terdapat hubungan antara usia balita, dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting Kata kunci : stunting, penyakit infeksi, usia Korespondensi: 1 Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Semarang 2 Staf Pengajar Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Semarang 3 Staf Pengajar Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Semarang ix

10 Relation Between Sex, Age and Infectious Disease History with Stunting Children in RSUD Tugurejo Semarang Isfi Sabila Izzati 1, Agus Saptanto 2, Muhamad Hidayat Setyawan 3 ABSTRACT Background : Stunting still being a major health problem in Indonesia. According to WHO 2010, Indonesia ranks fifth in the world with 7.6 million children under five stunting. The prevalence of stunting in Semarang was quite high, at 20,66%. Stunting as a chronic malnutrition was related with chronic or recurrent infection. The risk of stunting can also be increased by sex and age. This research aimed to see the relation between sex, age, and infectious disease history with stunting in children. Method : This research was an observasional analitic with case-control study design. Consecutive sampling were used to select sample in children aged months. Sample consist of 30 stunting children as case, and 60 normal children as control. Stunting was defined as height <-2SD according to WHO anthropometry. The independent variables were collected from medical record. Bivariate analyze used chi square with α = 0,05. Result : Fifty three point three percent of the sample was age month. Children who had infectious disease history was 41,1 %. There was no relationship between the sex with stunting children (p -value = 1,00). Children age month (p -value= 0,007) and had infectious disease history (p-value = 0,000 ) had relationship with stunting. Conclusion : There were relationship between age and infectious disease history with stunting children. Keyword : stunting, infectious disease, age, Corespondency: 1 Undergraduate student of Medical Faculty of Muhammadiyah University Semarang 2 Lecture of Medical Faculty of Muhammadiyah University Semarang 3 Lecture of Medical Faculty of Muhammadiyah University Semarang x

11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak merupakan aset bangsa yang menjadi dambaan keluarga. Harapan setiap keluarga adalah anaknya dapat dibanggakan, berprestasi dan berguna bagi bangsanya. Anak dengan kecerdasan rendah dikhawatirkan akan menjadi beban di masa mendatang. Untuk menunjang harapan tersebut, diperlukan pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. 1 Buruknya kemampuan motorik, intelegensi dan psikososial yang dapat menyebabkan hilangnya produktivitas saat dewasa dapat terjadi pada anak berperawakan pendek ( stunting). Stunting adalah gangguan pertumbuhan yang ditandai dengan hasil pengukuran tinggi badan berdasarkan usia berada di bawah normal (< -2SD), paling sering terjadi akibat malnutrisi jangka panjang pada masa anak-anak. 2,3 Di negara-negara tertentu, stunting menjadi masalah kesehatan yang utama karena berkaitan dengan morbiditas dan mortalitas anak. Menurut WHO 2010, Indonesia merupakan urutan kelima di dunia dengan jumlah stunting sebanyak 7,6 juta balita. Sedangkan di Jawa Tengah insidensi stunting berdasar Riskesdas 2013 mencapai 37,2%. Prevalensi balita stunting di Semarang mencapai 20,66%. 4,5 Risiko kejadian stunting dapat meningkat oleh beberapa hal. Penelitian Torlesse (2016) menunjukkan bahwa jenis kelamin dapat meningkatkan risiko kejadian stunting pada balita laki-laki 1,77 kali lebih besar dibanding balita perempuan. Kejadian stunting juga lebih sering terjadi pada balita usia bulan dibandingkan balita usia 0-24 bulan. 6 Stunting sebagai salah satu parameter penilaian gizi erat kaitannya dengan malnutrisi. Penyebab langsung malnutrisi adalah diet yang tidak adekuat dan penyakit kronis. Akibat dari diet yang tidak adekuat dan penyakit kronis terutama infeksi adalah meningkatkan kebutuhan tubuh akan zat gizi, mengurangi nafsu makan atau memengaruhi penyerapan zat gizi di 1

12 usus. Pada kenyataannya malnutrisi dan infeksi sering terjadi bersamaaan, bahkan mengarah pada lingkaran setan. 7,8 Berdasarkan informasi tersebut, peneliti ingin mengetahui hubungan jenis kelamin, usia dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting. B. Rumusan Masalah Apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin, usia, dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin, usia, dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting. 2. Tujuan Khusus a) Untuk mengetahui karakteristik balita pasien RSUD Tugurejo Semarang. b) Untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin balita dengan kejadian stunting. c) Untuk mengetahui hubungan antara usia balita dengan kejadian stunting. d) Untuk mengetahui hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting. 2

13 D. Keaslian Penelitian Tabel 1.1 Keaslian Penelitian Nama, Judul, Tahun Metode Hasil Perbedaan Indah Jayani Hubungan antara Penyakit Observasional analitik Terdapat hubungan antara penyakit infeksi dengan Infeksi dengan Status Gizi pendekatan status gizi balita di pada Balita Di Puskesmas cross sectional Puskesmas Jambon Jambon Jambon Ponorogo Tahun Kecamatan Kabupaten Metode penelitian. Riwayat penyakit infeksi selama satu bulan terakhir. Status gizi yang dinilai berdasar berat badan. Glaudia P Gerungan Hubungan Antara Riwayat Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Tuminting Kota Manado 2014 Observasional analitik dengan pendekatan cross sectional Tidak terdapat hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting Metode penelitian. Riwayat penyakit yang diteliti adalah ISPA. Paramitha Anisa Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia Bulan Di Kelurahan Kalibaru Depok 2012 Observasional analitik dengan pendekatan cross sectional Adanya hubungan bermakna antara asupan protein, berat badan lahir, pendidikan orang tua, pekerjaan ayah, dan status ekonomi keluarga dengan kejadian stunting balita Metode penelitian. Riwayat penyakit infeksi dalam satu bulan terakhir E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Menambah wawasan keilmuan dan kepustakaan mengenai hubungan jenis kelamin, usia dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada anak. 2. Manfaat Praktis Sebagai bahan edukasi untuk mengurangi risiko kejadian stunting pada anak dengan pencegahan dan penanganan penyakit infeksi yang adekuat agar tidak berlanjut pada malnutrisi. 3

14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Anak a. Definisi Banyak perbedaan definisi dan batasan usia anak, menurut Depkes RI tahun 2009, kategori umur anak ialah usia 5-11 tahun. Undang- undang nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak menyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin. Sedangkan menurut UU RI No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dalam pasal 1 ayat 1, menerangkan bahwa Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandngan. World Health Organisation (WHO) sendiri memiliki batasan usia anak, ialah yang berusia 0-19 tahun. 9,10 Anak tidak bisa dikatakan sebagai seorang dewasa dalam bentuk kecil, karena anak memiliki ciri yaitu selalu bertumbuh dan berkembang, yang melibatkan proses berkesinambungan dan kompleks yang terjadi sejak konsepsi sampai dewasa dan berkaitan dengan perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. 1 b. Pertumbuhan Anak Pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah atau ukuran baik tingkat sel, organ maupun individu. Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur baik dengan satuan berat maupun panjang. Sedangkan perkembangan adalah kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang bertambah kompleks, berpola teratur dan dapat diramalkan. 1 Keadaan otak, genetik (keturunan) dan lingkungan merupakan faktor yang turut mempengaruhi tumbuh kembang anak. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa sebagai modal dasar, faktor genetik turut berperan dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang 4

15 anak. Pada faktor genetik, tinggi badan (TB) anak perempuan le bih terkait dengan TB ayah, sedangkan TB anak laki-laki lebih berkorelasi dengan TB ibu. Lingkungan juga berpengaruh terhadap tinggi badan pada masa anak dan remaja. Sebuah penelitian di Jepang menyatakan bahwa pria dan wanita penduduk asli Jepang lebih pendek dari orang keturunan Jepang yang tinggal di Amerika. 11,12 Pada 1000 hari pertama kehidupan yakni sejak konsepsi sampai anak berusia 2 tahun merupakan masa yang penting bagi anak, karena organ-organ baru mulai terbentuk dan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan peka terhadap lingkungan, jika terjadi gangguan kehamilan dan malnutrisi jangka panjang, dampaknya akan ireversibel dan berpengaruh pada kualitas hidup kedepannya. Termasuk dalam hal ini adalah pertumbuhan otak yang merupakan salah satu organ vital manusia, pertumbuhan tercepat otak terjadi sejak trisemester tiga kehamilan sampai anak berusia 2 tahun pasca lahir, malnutrisi pada masa ini akan mengakibatkan gangguan jumlah sel otak dan mielinisasi lalu berdampak pula pada pertumbuhan dan perkembangan anak secara umum, yang tidak bisa dikejar pada masa pertumbuhan berikutnya sehingga tingkat kognitif dan motorik anak pun terganggu. 1 c. Perawakan pendek (Stunting) 1) Definisi Perawakan pendek (stunting) adalah indeks status gizi di mana panjang badan/tinggi badan berdasar umur berada di bawah garis normal. Pada dasarnya definisi stunting bersifat relatif, bergantung pada tinggi badan orangtua dan pola pertumbuhan populasi setempat. Populasi yang dimaksud berkaitan dengan ras atau golongan tertentu, sedangkan daerah atau ketinggian dataran tempat tinggal tidak berkaitan dengan kondisi perawakan pendek meskipun banyak orang yang tinggal di dataran tinggi cenderung lebih pendek dari orang-orang yang tinggal didataran rendah. Stunting juga merupakan jenis malnutrisi terbanyak dan masih 5

16 menjadi masalah gizi utama hampir di seluruh provinsi Indonesia, ditandai dengan gangguan pertumbuhan dan berdampak pada kecerdasan intelektual, motorik, psikosoial yang buruk karena perkembangan fisik dan mental anak dapat bermasalah. 2,13,14 Seorang anak dikatakan memiliki tinggi badan di bawah garis normal/pendek jika hasil pengukuran tinggi badan/ umur (TB/U) berada di bawah -2 standar deviasi (SD) dan dikatakan sangat pendek jika TB/U berada di bawah -3SD. Pengukuran tersebut dinilai dengan WHO Chart. 14 2) Prevalensi dan Insidensi Di negara-negara tertentu, stunting menjadi masalah kesehatan yang utama karena berkaitan dengan morbiditas dan mortalitas anak. Menurut WHO 2010, Indonesia menempati urutan kelima di dunia dengan jumlah stunting sebanyak 7,6 juta balita Berdasarkan Riskesdas, prevalensi stunting di Indonesia sempat mengalami penurunan dan kenaikan selama 2007, 2010, dan 2013 berturut-turut dengan angka 36,8%, 35.6 %, dan 37,2%. Sedangkan di Jawa Tengah insidensi stunting mencapai 33,9% dan prevalensi balita stunting di Semarang sendiri mencapai 20,66%. 4,5 3) Pengukuran tinggi badan a) Anak bisa berdiri Cara pengukuran tinggi badan : 15 (1) Meminta klien untuk melepaskan alas kaki dan hiasan rambut yang mungkin dapat mempengaruhi hasil pengukuran TB anak. (2) Pastikan alat geser berada di posisi atas. (3) Klien/ anak diminta berdiri tegak dengan posisi kepala, lengan, bahu belakang, pantat dan tumit menempel di dinding tempat alat ukur dipasang, pandangan lurus ke depan dan tangan tergantung bebas. 6

17 (4) Turunkan meteran alat pengukur hingga pas di atas kepala si anak. Pastikan alat ukur berada tepat ditengah kepala dan bagian belakang alat ukur tetap dalam keadaan menempel di dinding. Baca dan catat hasil pengukuran dengan desimal satu di belakang komadengan melihat angka di alat pengukuran. b) Bayi/Anak belum bisa berdiri Langkah untuk melakukan pengukuran : 15 (1) Letakkan alat ukur panjang badan di tempat yang datar (misalnya lantai atau meja). (2) Posisikan panel kepala pada alat ukur berada di sebelah kiri dan panel penggeser berada di sebelah kanan pemeriksa. (3) Tarik panel penggeser sampai kira-kira cukup untuk menaruh anak, lalu baringkan anak dengan posisi diantara panel alat ukur. Pastikan panel bagian kepala (panel yang tidak dapat di geser) tepat menempel pada kepala anak. (4) Tekan lutut dan rapatkan kedua kaki anak sampai lurus menempel pada meja/lantai tempat pengukuran. Tekan telapak kaki anak sampai membentuk sudut siku dan tarik panel penggeser sampai menempel pada telapak kaki anak. (5) Baca dan catat panjang badan pada skala di alat pengukuran panjang badan. 4) Penyebab dan faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting a) Masalah endokrin Masalah yang terjadi pada sistem endokrin dapat memengaruhi pertumbuhan. Misalnya kelainan pada kelenjar endokrin yang menyebabkan anak mengalami hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid) maupun hipertiroidisme. Anak dengan hipotiroidisme mengalami pertumbuhan rangka yang lebih lambat dibanding pertumbuhan jaringan lunak, sehingga anak akan tampak gempal dan pendek. Sedangkan pada anak 7

18 hipertiroidisme terjadi pertumbuhan tulang yang berlebihan namun juga terjadi pematangan dan penutupan epifisis lebih dini sehinga anak akan lebih tinggi daripada anak lainnya tapi saat dewasa, tinggi badannya justru mungkin lebih pendek. Kelainan pada sekresi hormon pertumbuhan ( growth hormon) juga tentu memiliki dampak langsung pada tinggi badan anak, baik defisiensi maupun sekresi hormon yang berlebih. 16 b) Kelainan kromosom Banyak penyakit akibat kelainan kromosom yang disertai disgenesis gonad memiliki gejala klinis berperawakan pendek. Contohnya antara lain : (1) Sindrom Down Kelainan kromosom terletak pada kromososm 21 dan 15, anak akan memiliki retardasi mental dan jasmani. Salah satu ciri dari sindrom down ini ialah perawakan pendek, walaupun pertumbuhan pada masa bayi kadang baik namun kemudian menjadi lambat. 17 (2) Sindrom Turner Kelainan ini merupakan penyebab perawakan pendek terbanyak pada wanita. Pada sindrom Turner, anak lahir sudah pendek dan penyimpangan pertumbuhan terus berlanjut hingga remaja. Rata-rata tinggi badan akhir saat dewasa ± 142cm. 2 c) Sindrom Cushing Pada sindrom ini terjadi peningkatan glukokortikoid baik berasal dari endogen (tumor adrenal atau pituitari) maupun eksogen (pemberian kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama). Khas pada sindrom ini adalah adanya peningkatan berat badan yang relatif cepat anmun tidak disertai penambahan tinggi badan. 2 d) Perawakan pendek keturunan 8

19 Anak dengan perawakan pendek keturunan memiliki jalur pertumbuhan dibawah normal namun kurva TB masih sejajar dengan kurva pertumbuhan normal, rasio TB terhadap BB, perkembangan pubertas, dan pemeriksaan laboratorium juga masih dalam batas normal. Biasanya satu atau kedua orangtua anak memiliki tinggi badan di bawah TB rata-rata. 2 e) Penyakit kronis Penyakit kronis dapat terjadi secara bawaan atau didapat. Diagnosis dibuat berdasar anamnesis, pemeriksaan penunjang dan gejala klinis. Anak dengan penyakit kronis memiliki gangguan pertumbuhan dapat dikarenakan penyakit itu sendiri ataupun dari nafsu makan yang turun. Termasuk dari penyakit kronis ini ialah keganasan dan penyakit infeksi. 2 f) Malnutrisi Malnutrisi adalah kondisi yang disebabkan karena diet/gizi yang tidak tepat, dapat berlebih ataupun kurang. Namun malnutrisi pada stunting lebih berkaitan pada gizi kurang. Malnutrisi dapat terjadi karena faktor penyebab langsung yaitu asupan gizi yang tidak adekuat, dan penyakit yang sedang diderita, maupun penyebab tidak langsung berupa faktor sosial ekonomi. Sosial ekonomi yang rendah dapat meningkatkan risiko kejadian stunting pada anak, adapun faktor sosial ekonomi ini meliputi : pendapatan rumah tangga rendah (kemiskinan), pola konsumsi keluarga, pendidikan ibu, higiene perseorangan maupun lingkungan dan fasilitas sanitasi yang buruk yaitu terbukanya saluran pembuangan kotoran sehingga menyebabkan terjangkitnya penyakit menular yang lebih sering dan kemudian berdampak menjadi stunting. 6,18,19 g) BBLR BBLR (berat badan lahir rendah) ditandai dengan berat lahir < 2500 gram. Berdasarkan sebuah penelitian, anak dengan 9

20 berat lahir yang rendah dibanding anak dengan berat lahir normal lebih berisiko 12,789 kali menjadi stunting. Bayi perempuan yang memiliki riwayat BBLR cenderung menjadi wanita stuntingdan melahirkan anak BBLR seperti dirinya, risiko mortalitas pun tinggi. 20 h) Jenis kelamin Proporsi balita laki-laki berstatus gizi stunting lebih banyak dibanding bayi perempuan. Laki-laki 1,77 kali lebih berisiko menjadi stunting. Kebiasaan di masyarakat yang cenderung lebih memerhatikan makanan anak perempuan dibanding laki-laki, pemberian makanan tambahan lebih dini, dan kejadian diare yang lebih banyak pada bayi laki-laki turut berpengaruh. 21 i) Usia Penelitian di Tanzania oleh Chirande (2010), prevalensi stunting balita lebih banyak pada usia bulan dibanding anak balita usia 0-23 bulan. Ramli (2009) menyebutkan bahwa risiko kejadian stunting pada usia 0-23 bulan lebih tinggi daripada balita usia 0-59 bulan. 6,22 2. Penyakit Infeksi Penyakit adalah sesuatu yang menyebabkan gangguan kesehatan atau kelainan jaringan maupun organ pada makhluk hidup. Etiologi dari penyakit dapat bermacam-macam, salah satunya ialah adanya mikroorganisme patogen yang menginvasi tubuh sehingga mengakibatkan penyakit infeksi. Hampir semua makhluk hidup pernah diduduki oleh mikroorganisme, namun tidak serta merta langsung menimbulkan gangguan kesehatan pada makhluk hidup yang diduduki tersebut (hospes), hal ini karena invasi mikroorganisme belum tentu menimbulkan penyimpangan fungsi tubuh, tergantung pada kemampuan mikroorganisme untuk menimbulkan penyakit (virulensi) dan kemampuan tubuh dalam 10

21 mempertahankan homeostasis. Contoh dari mikroorganisme penyebab infeksi antara lain: jamur, protozoa, cacing, bakteri dan virus. 23,24 Masa balita disebut juga masa keemasan atau masa kritis, di mana masa ini berlangsung pendek dan balita sangat peka terhadap lingkungannya, perkembangan motorik mengalami kemajuan dan kecepatan pertumbuhan menurun. Masa anak-anak terutama balita sangat rentan terhadap berbagai jenis penyakit terutama penyakit infeksi dan seringkali terjadi secara berulang. Beberapa hal yang berkaitan erat dengan kejadian infeksi adalah sanitasi dan higiene, di mana kebiasaan cuci tangan sebelum makan dan sesudah defekasi, saluran pembuangan limbah merupakan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. 1,25 Infeksi sering terjadi bersamaan dengan malnutrisi bahkan mengarah pada lingkaran setan di mana infeksi dapat menyebabkan malnutrisi dan bila seseorang menderita malnutrisi maka ia mudah terkena infeksi. Infeksi yang menyebabkan malnutrisi ini terjadi karena saat seseorang sakit membutuhkan gizi yang lebih untuk melawan penyakitnya ditambah seringkali merasa tidak nafsu makan sehingga asupan gizi tidak adekuat, hal ini semakin mengarahkan kondisi malnutrisi pada infeksi. 2,25 Anak yang memiliki riwayat penyakit infeksi akan diikuti peningkatan risiko kejadian stunting sebanyak 2,33 kali. Penyakit pada masa anak-anak yang terjadi berulang kali juga meningkatkan risiko kejadian stunting sebagaimana penelitian di Manado, yang menyebutkan bahwa subyek dengan riwayat sakit >6 kali setahun lebih berisiko mengalami stunting dan subyek dengan durasi sakit >3hari berisiko 2 kali lebih besar untuk mengalami stunting. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Nanang (2015) bahwa fre kuensi sakit balita >6 kali setahun lebih berpeluang mengalami stunting. Meskipun begitu, ada juga beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa riwayat penyakit infeksi tidak berhubungan dengan stunting

22 A. Kerangka Teori Masalah endokrin Keturunan Keganasan Sosial ekonomi Penyakit infeksi Malnutrisi BBLR Perawakan pendek (stunting) Jenis kelamin Kelainan kromosom Usia 12

23 B. Kerangka Konsep Riwayat penyakit infeksi Usia balita Stunting Jenis kelamin C. Hipotesis Terdapat hubungan antara jenis kelamin, usia dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting. 13

24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup 1. Ruang Disiplin Ilmu : Ilmu Kesehatan Anak 2. Ruang Lingkup Tempat : RSUD Tugurejo Semarang 3. Ruang Lingkup Waktu : Juli Desember 2016 B. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan case control. C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Pasien balita yang pernah menjalani pelayanan rawat jalan maupun rawat inap di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun Sampel Teknik pemilihan sampel yang digunakan pada penelitian ini ialah consecutive sampling. a) Kriteria Inklusi : 1) Data rekam medis lengkap meliputi nama, usia, panjang badan, berat badan, berat lahir, diagnosis penyakit yang diderita. 2) Pasien balita yang pernah menjalani pelayanan rawat jalan maupun rawat inap dengan jaminan sosial BPJS. 3) Balita berusia bulan. b) Kriteria eksklusi : 1) Riwayat BBLR 2) Anak yang memiliki penyakit keganasan 3) Anak dengan gangguan hormon tiroid 4) Anak dengan hipopituitari 5) Anak penderita sindroma cushing 14

25 6) Memiliki kelainan genetik (sindrom down, sindrom turner) c) Penghitungan Sampel Kemudian untuk menentukan jumlah sampel menggunakan rumus estimasi besar sampel data nominal dengan proporsi suatu populasi: 29 = ( ) ( ) = 3,49 0,032 = 116 Menggunakan kontrol > kasus = n kasus = 29 dibulatkan 30 n kontrol = n x c 30x2 = 60 Keterangan : N : besar sampel 2 = 1 (1 ) + 1 = = ( 1) 2 Z α : defiat baku alfa 1,96 (α = 0,05) Z β : defiat baku beta 0,95 P 1 : proporsi efek kasus (40%) P 2 : proporsi efek kontrol 2 = = = (2 1) ,4 2(1 0,4) + 0,4 = 0,22 = 29 P : Q : = 0,31 = 0,69 Q 1 : 1 - P 1 Q 2 : 1 - P 2 15

26 D. Variabel Penelitian dan Definisi Oprasional 1. Variabel bebas : Jenis kelamin, usia dan riwayat penyakit infeksi 2. Variabel terikat : Stunting 3. Definisi operasional : Tabel 3.1 Definisi operasional 1 No Variabel Definisi Alat Hasil ukur Skala 1. Stunting Kondisi tinggi badan Rekam Nominal balita di bawah normal medik yang ditandai dengan 2. Jenis kelamin perbandingan tinggi badan dan umur <-2SD berdasar dari WHO Chart Penggolongan balita berdasarkan gender 3. Usia Lama waktu hidup sejak dilahirkan sampai saat pendaftaran pengobatan terakhir di Rumah Sakit 4. Riwayat penyakit infeksi Penyakit infeksi baik akut maupun kronis yang pernah atau sedang diderita anak dalam satu tahun terakhir. Rekam medik Rekam medik Rekam medik Stunting : <-2SD Tidak stunting : -2SD Laki-laki Perempuan Usia bulan Usia bulan Ya : pernah menderita penyakit infeksi >6x dalam satu tahun atau pernah/sedang mengalami sakit infeksi kronis Tidak : tidak pernah menderita sakit infeksi kronis atau tidak pernah mengalami sakit infeksi 6 kali dalam satu tahun Nominal Nominal Nominal E. Bahan dan Alat Penelitian Penelitian ini menggunakan data sekunder dari catatan rekam medis di RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Mei Agustus

27 F. Alur Penelitian Balita yang pernah menjalani pelayanan rawat jalan atau rawat inap di RSUD Tugurejo Semarang tahun kriteria inklusi dan ekslusi Consecutive sampling Stunting Tidak Stunting Riwayat infeksi Jenis kelamin Usia Riwayat infeksi Jenis kelamin Usia G. Pengolahan Data 1. Editing Adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh. a. Mengecek nama dan kelengkapan identitas responden. b. Mengecek macam isian data (jawaban wawancara). 2. Coding Pemberian kode numerik terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Tabel 3.2 Kode Variabel Penelitian Variabel Kategori Kode Stunting Ya 1 Tidak 2 Jenis kelamin Laki-laki 1 Perempuan 2 Usia bulan bulan 2 Riwayat penyakit infeksi Ya 1 Tidak 2 17

28 3. Processing Kegiatan pemrosesan data. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam program komputer. 4. Cleaning Pengecekan data yang telah dimasukkan, untuk mencegah tejadinya kesalahan. H. Analisis Data 1. Analisis Univariat Dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi / presentase dari setiap variabel. Adapun variabel yang dianalisis ini jenis kelamin, usia, riwayat penyakit infeksi dan anak stunting. 2. Analisis Bivariat Dalam penelitian ini untuk melihat hubungan variabel bebas, dan terikat. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi Square. Dengan tingkat kepercayaan 95% (α 0,05), jika p 0,05 maka terdapat hubungan antara variabel bebas dan terikat. I. Jadwal Penelitian No. Kegiatan 1. Konsultasi judul penelitian 2. Konsultasi dan penyusunan proposal penelitian 3. Ujian proposal dan revisi 4. Pelaksanaan pengumpulan data penelitian 5. Bimbingan konsultasi hasil penelitian 6. Ujian Skripsi 7. Pembuatan dan konsultasi artikel penelitian Jul Ag t Spt Bulan Ok Nov t De s Jan 18

29 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUD Tugurejo Semarang bulan Oktober November Sampel penelitian berjumlah 90 balita berusia bulan yang pernah menjalani pelayanan rawat jalan ataupun rawat inap di RSUD Tugurejo Semarang pada bulan Mei Agustus Analisis Univariat Berdasarkan data yang diperoleh dari 90 sampel penelitian, hasil dari pengolahan statistik didapatkan distribusi dan frekuensi sebagai berikut: Karakteristik balita Tabel 4.1 Distribusi frekuensi karakteristik sampel Karakteristik Kategori Frekuensi % Total Jenis kelamin Usia Riwayat penyakit infeksi Laki-laki 51 56,7 Perempuan 39 43,3 Usia bulan 48 53,3 Usia bulan 42 46,7 Ya 37 41,1 Tidak 53 58, Jenis kelamin terbanyak responden adalah balita laki-laki sebesar 51 balita (56,7%), sedangkan balita perempuan hanya 39 balita (43,3%). Distribusi kategori usia balita diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden berusia bulan yaitu sebesar 48 balita (53,3%), sedangkan kategori usia bulan merupakan kategori terkecil dengan jumlah 42 balita (46,7%). Riwayat penyakit infeksi pada sampel penelitian ini terdapat 37 balita (41,1%) memiliki riwayat penyakit infeksi dan 53 balita (58,9%) tidak memiliki riwayat penyakit infeksi. 19

30 2. Analisis Bivariat a) Hubungan jenis kelamin dengan kejadian stunting Tabel 4.2 Hubungan jenis kelamin dengan kejadian stunting Karakteristik Jenis kelamin Kategori Stunting Stunting (%) Normal (%) Total Laki-laki 17 (33,3) 34 (66,7) 51 Perempuan 13 (33,3) 26 (66,7) 39 Nilai p 1,00 Jenis kelamin balita laki-laki yang mengalami stunting sebanyak 17 balita (33,3%), sedangkan balita perempuan sebanyak 13 balita (33,3%). Nilai p hubungan jenis kelamin dengan stunting adalah 1,00. b) Hubungan usia balita dengan kejadian stunting Tabel 4.3 Hubungan usia balita dengan kejadian stunting Karakteristik Usia Kategori Stunting Stunting (%) Normal (%) Total bulan 22 (45,8) 26 (54,2) bulan 8 (19,0) 34 (81,0) 42 Nilai p 0,007 Kategori usia balita bulan paling banyak mengalami stunting, yakni 22 balita (45,8%) dan balita usia bulan merupakan kategori usia yang paling sedikit mengalami stunting yakni hanya terdapat 8 balita (19,0%). Nilai p untuk hubungan usia balita dengan stunting sebesar 0,007. c) Hubungan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting Tabel 4.4 Hubungan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting anak Karakteristik Riwayat penyakit infeksi Kategori Stunting Stunting (%) Normal (%) Total Ya 24(64,9) 13 (35,1) 37 Tidak 6 (11,3) 47 (88,7) 53 Nilai p 0,000 Tabel 4.5 menunjukkan terdapat 24 balita (64,9%) yang memiliki riwayat penyakit infeksi mengalami stunting dan 13 balita (35,1%) lainnya memiliki riwayat penyakit infeksi tapi tidak mengalami stunting. Sedangkan dari 53 balita yang tidak memiliki 20

31 riwayat penyakit infeksi, 6 balita (11,3%) diantaranya mengalami stunting dan 47 balita (88,7%) lainnya tidak mengalami stunting. Hasil uji statistik pada dua variabel ini diperoleh nilai p = 0,000 (<0,05) yang memiliki arti bahwa hipotesis adanya hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting dapat diterima. B. Pembahasan Hasil analisis bivariat jenis kelamin dengan stunting tidak didapatkan perbedaan signifikan antara kejadian stunting pada balita berjenis kelamin laki-laki dengan balita berjenis kelamin perempuan di mana presentasenya balita laki-laki yang mengalami stunting 33,3 %, balita laki-laki yang tidak mengalami stunting 66,7% dan untuk balita perempuan yang mengalami stunting sebanyak 33,3% sedangkan balita perempuan yang tidak mengalami stunting sebanyak 66,7%. Tidak didapatkan hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian stunting dengan nilai p = 1,00. Berbeda dengan penelitian sebelumnya Torlesse (2016) yang menyebutkan bahwa balita laki-laki memiliki risiko 2 kali lebih besar untuk mengalami stunting daripada balita perempuan. 21,30 Marcoux (2002) menjelaskan bahwa peningkatan risiko kejadian stunting pada balita laki-laki berkaitan dengan pemberian makanan tambahan yang terlalu dini dan kejadian diare yang lebih sering daripada balita perempuan. Selain itu, diduga adanya diskriminasi gender di mana orang tua cenderung lebih besar perhatiannya terhadap anak perempuan. Sedangkan pada penelitian ini, jumlah balita laki-laki dan perempuan yang mengalami diare hampir sama. 31 Hasil analisis bivariat hubungan usia dengan kejadian stunting terdapat hubungan yang bermakna dengan nilai p= 0,007. Usia balita bulan lebih berisiko mengalami stunting daripada usia bulan. Hasil analisis sejalan dengan penelitian Arif (2004), kejadian stunting semakin menurun dengan bertambahnya usia sampai bulan. Rahayu 21

32 (2011) pada penelitiannya memaparkan bahwa usia 2 tahun pertama, penyakit-penyakit infeksi terutama penyakit pernafasan dan diare memegang peranan dalam peningkatan risiko terjadinya stunting yang akan tampak pada tahun berikutnya. Kemudian pada masa ini terdapat faktor berupa tingkat pendidikan ayah yang berpengaruh terhadap perbaikan gizi dengan keputusannya dalam bidang kesehatan di keluarga sehingga dapat berdampak pada penurunan kejadian stunting. 33 Hasil analisis bivariat balita yang memiliki riwayat penyakit infeksi lebih berisiko untuk mengalami stunting. Saat terjadi infeksi kebutuhan gizi akan meningkat, namun seringkali seseorang yang sedang sakit cenderung tidak nafsu makan. Jika infeksi terjadi berulang atau kronis dan tidak diiringi asupan gizi yang adekuat maka akan menyebabkan malnutrisi. Malnutrisi yang sering terjadi adalah kekurangan asupan energi, protein beserta mikronutrien seperti Zn (seng) dan berbagai vitamin. 2,19,34 Seng merupakan salah satu mikronutrien yang berperan dalam proses pertumbuhan, seng akan mempengaruhi sintesis Growth Hormon (GH) dan aktivasi Insulin-like Growth Factor 1 (IGF -1). GH berfungsi merangsang diferensiasi stem sel kondrosit dan IGF-1 berfungsi merangsang ekspansi sel terdiferensiasi ke zona proliferasi di bagian distal epifisis dan terjadilah kalsifikasi. Salgueiro (2002) menyebutkan akibat kekurangan seng juga dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan. Kekebalan tubuh juga dapat dipengaruhi dari kecukupan seng, pada kekebalan non spesifik kekurangan seng akan menimbulkan kerusakan epidermis, kerusakan epitel saluran cerna dan pernafasan. Sedangkan akibat kekurangan seng pada kekebalan spesifik ialah menyebabkan penurunan jumlah dan fungsi limfosit dan sitokin. Sehingga kekurangan seng pada kondisi malnutrisi akan mudah terjadi infeksi. 34,35 Picauly (2013) menyatakan bahwa risiko stunting pada anak dengan riwayat infeksi 2,33 kali lebih besar dibanding anak tanpa riwayat penyakit infeksi. Penelitian di Manado oleh Tando (2012) juga 22

33 memperoleh hasil adanya hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting, balita yang mengalami infeksi berupa panas, flu dan batuk ini 2 kali lebih berisiko untuk mengalami stunting. Angka risiko lebih besar didapatkan pada penelitian di Semarang Timur oleh Anshori (2013) yang menyebutkan bahwa anak dengan riwayat sakit ISPA berisiko 4 kali mengalami stunting daripada anak tanpa riwayat penyakit ISPA. Namun, ada pula penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting sebagaimana penelitian oleh Gerungan (2014) di wilayah kerja Puskesmas Tuminting Manado. 26,27,30,36 Keterbatasan penelitian ini berupa pengambilan data menggunakan data sekunder, sehingga dapat terjadi bias yang tinggi karena jika anak sakit atau berobat ke fasilitas kesehatan lain, riwayat sakit tidak tercatat di rekam medis. Pengambilan data sekunder dikarenakan keterbatasan waktu dalam melakukan penelitian. Jumlah subyek penelitian masih terbatas yakni hanya 90 orang, semakin banyak jumlah subyek penelitian maka semakin baik. Selain itu, faktor keturunan yang dapat menyebabkan stunting tidak diteliti dalam penelitian ini. 23

34 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Penelitian ini menunjukkan bahwa balita yang berusia bulan memiliki risiko untuk menjadi stunting karena penyakit-penyakit infeksi yang sering dialami dalam usia 2 tahun pertama. 2. Riwayat penyakit infeksi yang dialami balita memiliki hubungan dengan kejadian stunting. 3. Jenis kelamin tidak memiliki hubungan dengan kejadian stunting pada balita. B. Saran 1. Pentingnya peningkatan pengetahuan ibu tentang pencegahan penyakit infeksi yang sering terjadi pada balita, guna menurunkan angka morbiditas yang dapat mengakibatkan stunting pada balita. 2. Kepada tenaga medis diharapkan memberikan penanganan penyakit infeksi yang adekuat dan memberi edukasi mengenai pencegahan malnutrisi dan infeksi kepada orangtua balita. 3. Perlu diteliti lebih lanjut mengenai hubungan atau pengaruh Seng (Zn) dengan pertumbuhan balita. 24

35 DAFTAR PUSTAKA 1. Soetjiningsih, IG. N. Gde Ranuh. Tumbuh Kembang Anak Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2013, hlm Soetjiningsih, IG. N. Gde Ranuh. Tumbuh Kembang Anak Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2013, hlm Hunt JM. The potential impact of reducing global malnutrition on poverty reduction and economic development. Asia Pac J Clin Nutr 2005;14: Depkes RI. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2013 terkait status gizi balita Dinas Kesehatan Kota Semarang. Profil Kesehatan Kota Semarang Chirande L, Charwe D, Mbwana H, Victor R, Kimboka S, Issaka AI, et al. Determinants of stunting and severe stunting among under-five in Tanzania: evidence from the 2010 cross-sectional household survey. BMC Pediatric 2015;15(165): Stephanie C, Montgomery MD, Stephani M, Mara LB, Pinckey J. Micronutrient needs of the elderly. Nutrition in Clinical Practice 2014 august; 29(4) : Yimer G. Malnutrition Among Children in Southern Ethiopia: Levels and Risk Factors. Ethiopian Journal of Health Development 2000;14(3): Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depertemen Republik Indonesia Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. 11. Sinaga JP. Tinggi badan anak ditinjau dari segi faktor genetik dan lingkungan. Medikora 2008 Okt; 4 (2) :

36 12. Jelenkovic A, Sund R, Hur Y, Yokoyama Y, Hjelmborg J, Honda C, et al. Genetic and Environmental influences on height from infancy to early adulthood: An individual-based pooled analysis of 45 twin cohort. Pub Med 2016 Jun;104(2): Harris N S, Crawford P B, Yangzom Yeshe, Pinzo L, Gyaltsen P, Hudes Mark. Nutritional and health status of tibetan children living at high altitudes. N Engl J Med 2001 Feb 1, : 344 (5): Kementrian KesehatanRI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1995/Menkes/SK/XII/2010 Tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI Direktoral Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Depkes RI. Riset Kesehatan Dasar 2007 : Pedoman pengukuran dan pemeriksaan. Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes RI Guyton AC, John EH. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed ke-9. Terjemahan : Irawati. EGC : Jakarta. 1997, hlm Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian IKA FKUI. 2007, hlm UNICEF. The State on the World Children. Oxford Univ. Press Mantovani SA, Ramalho AA, Pereira TM, Branco FL, et al. Stunting in children under five years old is still a health problem in the Western Brazilian Amazon. Pub Med 2016 Jun ; 21 (7) : Anisa Paramitha. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia Bulan Di Kelurahan Kalibaru Depok. FKM UI Torlesse H, Cronin AA, Sebayang SK, Nandy R. Determinants of stunting in Indonesian children: evidence from a cross sectional survey indicate a 26

37 prominent role for the water, sanitation and hygiene sector in stunting reduction. BMC Public Health 2016 July ; 16 (669): Ramli, Agho KE, Indert KJ, Bowe SJ, Jacobs J, Dibley MJ. Prevalence and risk factors for stunting and severe stunting among under-five in North Maluku province of Indonesia. BMC Pediatric 2009 Oct; 9 (6): Casapia M, Joseph SA, Nunez C, Rahme E, Gyorkos TW. Parasite risk factors for stunting in grade 5 students in a community of extreme poverty in Peru. Pub Med 2006 Jun ; 36 (70) : Prince, Sylvia A. Patofisiologi Volume 2 Edisi 6. Jakarta : EGC. 2006, hlm Strunz EC, Addiss DG, Stocks ME, Ogden S, Utzinger J, Freeman MC. Water, sanitation, hygiene, and soil-transmitted helminth infection: a systematic review and meta-analysis. Pub Med 2014 March; 11(38): Picauly Intje, Toy Sarci M. Analisis Determinan dan Pengaruh Stunting terhadap Prestasi Belajar Anak Sekolah di Kupang dan Sumba Timur, NTT. Jurnal Gizi dan Pangan 2013 Maret; 8 (1): Tando Naomi. Durasi Dan Frekuensi Sakit Balita Dengan Terjadinya Stunting pada Anak SD di Kecamatan Malalayang Kota Manado. Gizido 2012 Mei; 4 (1) Pnamon Nanang. Hubungan Antara Durasi dan Frekuensi Sakit Balita dengan Terjadinya Stunting pada Anak SD di Desa Kopandakan 1 Kecamatan Kotamobagu Selatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Samratulangi Manado Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis edisi ke- 5. Jakarta: Sagung Seto

38 30. Gerungan, G P. Hubungan Antara Riwayat Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Tuminting Kota Manado Marcoux A. Sex differentials in undernutrition: A look at survey evidence. Popul Dev Rev ; 28 : Rahayu, LS. Hubungan Pendidikan Orang Tua Dengan Perubahan Status Stunting Dari Usia 6-12 Bulan Ke Usia 3-4 Tahun. Proseding Penelitian Bidang Ilmu Eksakta 2011 Maret Arif GM. Child health poverty in Pakistan. The Pakistan Development Review ; 3 : Salgueiro MJ., The role of zinc in the growth and development of children. Nutrition ; 18: Hidayati SN. Defisiensi Seng (Zn). Dalam Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. Jilid I. Jakarta : IDAI. 2011, hlm Al Anshori H. Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia Bulan. (Studi di Kecamatan Semarang Timur) 2013 Juli ;

39 LAMPIRAN 1. Jenis kelamin balita jenis kelamin Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent laki-laki 51 56,7 56,7 56,7 Valid perempuan 39 43,3 43,3 100,0 Total ,0 100,0 2. Usia balita usia balita Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent bulan 48 53,3 53,3 53,3 Valid bulan 42 46,7 46,7 100,0 Total ,0 100,0 3. Riwayat penyakit infeksi riwayat infeksi Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent ya 37 41,1 41,1 41,1 Valid tidak 53 58,9 58,9 100,0 Total ,0 100,0 4. Hubungan jenis kelamin dengan stunting Crosstab Stunting Total stunting tidak stunting jenis kelamin Total laki-laki perempuan Count % within jenis kelamin 33,3% 66,7% 100,0% Count % within jenis kelamin 33,3% 66,7% 100,0% Count % within jenis kelamin 33,3% 66,7% 100,0% 29

40 Chi-Square Tests Value Df Asymp. Sig. (2- sided) Exact Sig. (2- sided) Exact Sig. (1- sided) Pearson Chi-Square,000 a 1 1,000 Continuity Correction b, ,000 Likelihood Ratio, ,000 Fisher's Exact Test 1,000,588 Linear-by-Linear, ,000 Association N of Valid Cases 90 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13,00. b. Computed only for a 2x2 table 5. Hubungan usia dengan stunting usia balita * stunting Crosstabulation stunting Total stunting tidak stunting usia balita Total bulan bulan Count % within usia balita 45,8% 54,2% 100,0% Count % within usia balita 19,0% 81,0% 100,0% Count % within usia balita 33,3% 66,7% 100,0% Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2- sided) Exact Sig. (2- sided) Exact Sig. (1- sided) Pearson Chi-Square 7,232 a 1,007 Continuity Correction b 6,077 1,014 Likelihood Ratio 7,463 1,006 Fisher's Exact Test,008,006 Linear-by-Linear Association 7,152 1,007 N of Valid Cases 90 a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14,00. b. Computed only for a 2x2 table 30

41 6. Hubungan riwayat penyakit infeksi dengan stunting Crosstab stunting Total stunting tidak stunting riwayat infeksi Total ya tidak Count % within riwayat infeksi 64,9% 35,1% 100,0% Count % within riwayat infeksi 11,3% 88,7% 100,0% Count % within riwayat infeksi 33,3% 66,7% 100,0% Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2- sided) Exact Sig. (2- sided) Exact Sig. (1- sided) Pearson Chi-Square 28,111 a 1,000 Continuity Correction b 25,753 1,000 Likelihood Ratio 29,164 1,000 Fisher's Exact Test,000,000 Linear-by-Linear 27,798 1,000 Association N of Valid Cases 90 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12,33. b. Computed only for a 2x2 table 31

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado ABSTRAK

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 1336 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TUMINTING KOTA MANADO Glaudia P. Gerungan*, Nancy S.H. Malonda*, Dina V. Rombot* *Fakultas

Lebih terperinci

HUBUNGAN POLA ASUH IBU DAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN KEJADIAN STUNTING

HUBUNGAN POLA ASUH IBU DAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN KEJADIAN STUNTING HUBUNGAN POLA ASUH IBU DAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 1336 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TUMINTING KOTA MANADO Okky Kezia Kainde*, Nancy S.H Malonda*, Paul A.T Kawatu*

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi. Pengumpulan data dilakukan di Puskesmas Rowosari, Semarang.

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi. Pengumpulan data dilakukan di Puskesmas Rowosari, Semarang. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian 1. Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi 2. Ilmu Gizi, khususnya perhitungan asupan energi dan pengukuran status gizi antropometri 3.2 Tempat

Lebih terperinci

: Perwira / Bintara / Tamtama Asuransi lain selain BPJS :

: Perwira / Bintara / Tamtama Asuransi lain selain BPJS : KUESIONER PENELITIAN DETERMINAN PEMANFAATAN ULANG SARANA PELAYANAN KESEHATAN OLEH ANGGOTA POLRI DAN KELUARGANYA DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TEBING TINGGI TAHUN 2015 Petunjuk pengisian kuesioner 1. Jawablah

Lebih terperinci

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Lampiran 1 LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada Yth. Calon Responden Penelitian Di Tempat Dengan Hormat, Saya adalah mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) ( ) adalah. mewujudkan bangsa yang berdaya saing, melalui pembangunan sumber

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) ( ) adalah. mewujudkan bangsa yang berdaya saing, melalui pembangunan sumber 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Visi Pembangunan Indonesia kedepan berdasarkan rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) (2005-2025) adalah menciptakan masyarakat Indonesia yang mandiri,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. cross sectional. Dalam penelitian cross sectional peneliti melakukan

BAB III METODE PENELITIAN. cross sectional. Dalam penelitian cross sectional peneliti melakukan 36 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Dalam penelitian cross sectional peneliti melakukan observasi

Lebih terperinci

Lampiran III : Tabel Frekuensi. Frequency Table. Universitas Sumatera Utara. Infeksi kecacingan STH

Lampiran III : Tabel Frekuensi. Frequency Table. Universitas Sumatera Utara. Infeksi kecacingan STH Lampiran III : Tabel Frekuensi Frequency Table Infeksi Valid Positif Negatif Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent 49 64.5 64.5 64.5 27 35.5 35.5 100.0 76 100.0 100.0 Valid 1 2 Umur Responden

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Surat Pernyataan Persetujuan untuk Ikut Serta dalam Penelitian (Informed Consent)

LAMPIRAN. Surat Pernyataan Persetujuan untuk Ikut Serta dalam Penelitian (Informed Consent) LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Pernyataan Persetujuan untuk Ikut Serta dalam Penelitian (Informed Consent) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : Dengan sesungguhnya menyatakan

Lebih terperinci

Lampiran 1 LEMBAR PERSETUJUAN. Saya yang bertanda tangan dan bertanggung jawab dengan pernyataan di bawah ini: Nama : Umur :

Lampiran 1 LEMBAR PERSETUJUAN. Saya yang bertanda tangan dan bertanggung jawab dengan pernyataan di bawah ini: Nama : Umur : 50 Lampiran 1 LEMBAR PERSETUJUAN Saya yang bertanda tangan dan bertanggung jawab dengan pernyataan di bawah ini: Nama : Umur : Dengan ini menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dari penelitian

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Tabel Distribusi Frekuensi Frequency Table

LAMPIRAN. Tabel Distribusi Frekuensi Frequency Table LAMPIRAN Tabel Distribusi Frekuensi Frequency Table Umur Penderita Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid < 15 tahun 8 3.1 3.1 3.1 15-54 tahun 155 59.8 59.8 62.9 > 54 tahun 96 37.1 37.1

Lebih terperinci

NASKAH PENJELASAN SEBELUM PERSETUJUAN

NASKAH PENJELASAN SEBELUM PERSETUJUAN Lampiran 1 NASKAH PENJELASAN SEBELUM PERSETUJUAN Saya Meiti Mahar Resy sebagai mahasiswi Universitas Esa Unggul akan melakukan penelitian Skripsi di RW 03 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tangerang Banten.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Kesehatan Anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masa balita merupakan periode penting dalam proses. tumbuh kembang manusia. Pertumbuhan dan perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masa balita merupakan periode penting dalam proses. tumbuh kembang manusia. Pertumbuhan dan perkembangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Pertumbuhan dan perkembangan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan

Lebih terperinci

SURAT PERNYATAAN MENJADI RESPONDEN Berdasarkan permintaan dan permohonan serta penjelasan peneliti yang sudah disampaikan kepada saya bahwa akan dilakukan penelitian tentang Hubungan Manajemen Keperawatan

Lebih terperinci

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2016

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2016 96 Lampiran 1 KUESIONER HUBUNGAN ASUPAN VITAMIN (B6, B12, B9), OLAHRAGA DAN KUALITAS TIDUR PADA MAHASISWA UNIVERSITAS ESA UNGGUL No. Responden : FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

KUESIONER HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK USIA BULAN DI PUSKESMAS TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2014

KUESIONER HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK USIA BULAN DI PUSKESMAS TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2014 KUESIONER HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK USIA 12-24 BULAN DI PUSKESMAS TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2014 A. Karakteristik Ibu 1. Nama : 2. Umur : 3. Alamat : 4.

Lebih terperinci

STRURKTUR ORGANISASI RSUD BATARA GURU BELOPA

STRURKTUR ORGANISASI RSUD BATARA GURU BELOPA LAMPIRAN STRURKTUR ORGANISASI RSUD BATARA GURU BELOPA Direktur RSUD Batara Guru Bagian Tata Usaha Bagian Pelayanan Medik & Keperawatan Bidang Pengembangan SDM & RM Bidang Pengawasan & Pemeliharaan Sarana

Lebih terperinci

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. penelitian ini untuk menyelesaikan tugas akhir program DIII Kebidanan FIK

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. penelitian ini untuk menyelesaikan tugas akhir program DIII Kebidanan FIK Lampiran 1 LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Dengan hormat, Kepada Yth. Calon Responden Di tempat Saya sebagai mahasiswa program DIII Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo,

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. stunting pada balita ini dilaksanakan dari bulan Oktober - November 2016 di

BAB V PEMBAHASAN. stunting pada balita ini dilaksanakan dari bulan Oktober - November 2016 di BAB V PEMBAHASAN Penelitian mengenai hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita ini dilaksanakan dari bulan Oktober - November 2016 di beberapa Posyandu Balita Wilayah Binaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian 1. Ruang lingkup keilmuan : Ilmu Kulit dan Kelamin 2. Ruang lingkup tempat : RSUD Tugurejo Semarang 3. Ruang lingkup waktu : Periode Agustus September

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi sangat pesat. Pada masa ini balita membutuhkan asupan zat gizi yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. terjadi sangat pesat. Pada masa ini balita membutuhkan asupan zat gizi yang cukup BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usia balita merupakan masa di mana proses pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat pesat. Pada masa ini balita membutuhkan asupan zat gizi yang cukup dalam jumlah

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERAT BADAN LAHIR DI KLINIK HARYANTARI MEDAN. Waktu. Februar

RENCANA KEGIATAN PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERAT BADAN LAHIR DI KLINIK HARYANTARI MEDAN. Waktu. Februar Lampiran 1 RENCANA KEGIATAN PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERAT BADAN LAHIR DI KLINIK HARYANTARI MEDAN No Kegiatan 1 Pengajuan judul 2 Penyusunan proposal 3 Sidang proposal 4 Perbaikan proposal

Lebih terperinci

GAMBARAN KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA DI PUSKESMAS CARINGIN BANDUNG PERIODE SEPTEMBER 2012 SEPTEMBER 2013

GAMBARAN KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA DI PUSKESMAS CARINGIN BANDUNG PERIODE SEPTEMBER 2012 SEPTEMBER 2013 GAMBARAN KEJADIAN GIZI BURUK PADA BALITA DI PUSKESMAS CARINGIN BANDUNG PERIODE SEPTEMBER 2012 SEPTEMBER 2013 PROFILE OF TODDLER MALNUTRITION AT PRIMARY HEALTH CENTER CARINGIN BANDUNG AT SEPTEMBER 2012

Lebih terperinci

KUESIONER PENGARUH FAKTOR PREDISPOSISI, PEMUNGKIN DAN KEBUTUHAN TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN JAMPERSAL DI PUSKESMAS PARONGIL KABUPATEN DAIRI

KUESIONER PENGARUH FAKTOR PREDISPOSISI, PEMUNGKIN DAN KEBUTUHAN TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN JAMPERSAL DI PUSKESMAS PARONGIL KABUPATEN DAIRI Lampiran 1 KUESIONER PENGARUH FAKTOR PREDISPOSISI, PEMUNGKIN DAN KEBUTUHAN TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN JAMPERSAL DI PUSKESMAS PARONGIL KABUPATEN DAIRI Petunjuk Pengisian - Mohon angket ini diisi oleh

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Diare didefinisikan sebagai buang air besar dengan konsistensi tinja cair

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Diare didefinisikan sebagai buang air besar dengan konsistensi tinja cair BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Diare didefinisikan sebagai buang air besar dengan konsistensi tinja cair dan frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Secara etiologi diare disebabkan oleh infeksi,

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN PERAWATAN KEHAMILAN PADA IBU HAMIL YANG MENGALAMI ABORTUS SPONTAN TAHUN 2013

KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN PERAWATAN KEHAMILAN PADA IBU HAMIL YANG MENGALAMI ABORTUS SPONTAN TAHUN 2013 Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN PERAWATAN KEHAMILAN PADA IBU HAMIL YANG MENGALAMI ABORTUS SPONTAN TAHUN 2013 No. Responden : Petunjuk pengisian : Isilah

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGAMATAN PERAWAT HUBUNGAN PELAKSANAAN EDUKASI PERAWAT TERHADAP TINGKAT NYERI PASIEN PASCA TINDAKAN NASOLARINGOSCOPY

PEDOMAN PENGAMATAN PERAWAT HUBUNGAN PELAKSANAAN EDUKASI PERAWAT TERHADAP TINGKAT NYERI PASIEN PASCA TINDAKAN NASOLARINGOSCOPY No. Kuisioner : PEDOMAN PENGAMATAN PERAWAT HUBUNGAN PELAKSANAAN EDUKASI PERAWAT TERHADAP TINGKAT NYERI PASIEN PASCA TINDAKAN NASOLARINGOSCOPY Petunjuk Pengisian : 1. Isilah semua pernyataan dalam kuisioner

Lebih terperinci

Identitas Responden 1. Nomor Responden : 2. Nama : 3. Jenis Kelamin : 4. Umur : 5. Pendidikan Terakhir : 6. Pekerjaan :

Identitas Responden 1. Nomor Responden : 2. Nama : 3. Jenis Kelamin : 4. Umur : 5. Pendidikan Terakhir : 6. Pekerjaan : Lampiran 1 Observasi dan kusioner penelitian HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR DENGAN KELUHAN KESEHATAN DIARE SERTA KUALITAS AIR SUNGAI PADA PENGGUNA AIR SUNGAI DELI DI KELURAHAN SUKARAJA KECAMATAN MEDAN

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara Lampiran. KUESIONER HUBUNGAN PERILAKU IBU HAMIL DAN MOTIVASI PETUGAS KESEHATAN DENGAN KEPATUHAN DALAM MENGKONSUMSI TABLET ZAT BESI DI PUSKESMAS MAMAS KECAMATAN DARUL HASANAH KABUPATEN ACEH TENGGARA TAHUN

Lebih terperinci

Lampiran 2

Lampiran 2 Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 LEMBAR KUESIONER HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG DISCHARGE PLANNING DENGAN KESIAPAN PERAWAT MEMBERIKAN DISCHARGE PLANNING KEPADA PASIEN

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN GOUTHY ARTHRITIS

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN GOUTHY ARTHRITIS ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN GOUTHY ARTHRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAHU KOTA MANADO TAHUN 2015 Meike N. R. Toding*, Budi T. Ratag*, Odi R. Pinontoan* *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Lebih terperinci

HUBUNGAN LINGKAR KEPALA DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA 1-24 BULAN DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PERTIWI MAKASSAR

HUBUNGAN LINGKAR KEPALA DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA 1-24 BULAN DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PERTIWI MAKASSAR HUBUNGAN LINGKAR KEPALA DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA 1-24 BULAN DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PERTIWI MAKASSAR Wa Ode Sri Asnaniar 1, Magfira B. Lasini 2 1 Program Studi Ilmu Keperawatan FKM UMI

Lebih terperinci

Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD, Kota Manado

Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD, Kota Manado HUBUNGAN ANTARA STATUS TEMPAT TINGGAL DAN TEMPAT PERINDUKAN NYAMUK (BREEDING PLACE) DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAHU KOTA MANADO TAHUN 2015 Gisella M. W. Weey*,

Lebih terperinci

HUBUNGAN KELELAHAN KERJA DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA PADA PEMETIK TEH DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA IV BAH BUTONG KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2014

HUBUNGAN KELELAHAN KERJA DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA PADA PEMETIK TEH DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA IV BAH BUTONG KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2014 Lampiran 1 Lembar Pengukuran HUBUNGAN KELELAHAN KERJA DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA PADA PEMETIK TEH DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA IV BAH BUTONG KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2014 Karakteristik Responden Nama :

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA BERAT BADAN LAHIR ANAK DAN POLA ASUH IBU DENGAN KEJADIAN STUNTING

HUBUNGAN ANTARA BERAT BADAN LAHIR ANAK DAN POLA ASUH IBU DENGAN KEJADIAN STUNTING HUBUNGAN ANTARA BERAT BADAN LAHIR ANAK DAN POLA ASUH IBU DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BATITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAWANGKOAN KABUPATEN MINAHASA Riney Amanda Supit*, Rudolf B. Purba**, Paul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa balita merupakan salah satu masa penting untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Masa ini merupakan salah satu masa yang paling penting untuk meletakan

Lebih terperinci

SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Lampiran 1. SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Usia : Alamat : Pekerjaan : Dengan sesungguhnya menyatakan bahwa

Lebih terperinci

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD HUBUNGAN ANTARA STATUS TEMPAT TINGGAL DAN TEMPAT PERINDUKAN NYAMUK (BREEDING PLACE) DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAHU KOTA MANADO TAHUN 2015 Gisella M. W. Weey*,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS ATAU RANCANGAN PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research atau penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN Lampiran KUESIONER PENELITIAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERKAWINAN USIA MUDA PADA PENDUDUK KELOMPOK UMUR 12-19 TAHUN DI DESA PUJIMULIO KECAMATAN SUNGGAL KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2013 No. Responden

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1. Ruang Lingkup Keilmuan Penelitian ini mencakup bidang ilmu Obstetrik dan Ginekologi. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober

Lebih terperinci

* Merupakan pertanyaan yang digunakan untuk mengukur kepatuhan

* Merupakan pertanyaan yang digunakan untuk mengukur kepatuhan KUESIONER No. identitas responden : I. Jawablah pertanyaan dengan memberi tanda silang ( X ) 1. Apakah anda pernah lupa untuk minum obat?* 2. Apakah anda pernah melewatkan jadwal pengambilan obat untuk

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA, JAKARTA

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA, JAKARTA LEMBAR KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA, JAKARTA Ibu yang terhormat, saat ini kami mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas

Lebih terperinci

Hubungan Pengetahuan Dan Pendidikan Ibu Dengan Pertumbuhan Balita DI Puskesmas Plaju Palembang Tahun 2014

Hubungan Pengetahuan Dan Pendidikan Ibu Dengan Pertumbuhan Balita DI Puskesmas Plaju Palembang Tahun 2014 Hubungan Pengetahuan Dan Pendidikan Ibu Dengan Pertumbuhan Balita DI Puskesmas Plaju Palembang Tahun 2014 Enderia Sari Prodi D III KebidananSTIKesMuhammadiyah Palembang Email : Enderia_sari@yahoo.com ABSTRAK

Lebih terperinci

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN. Demikian surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan seperlunya.

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN. Demikian surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan seperlunya. Lampiran 1 LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN Setelah mendapat penjelasan dari peneliti tentang Hubungan Obesitas dengan Peran Diri. Maka dengan ini saya secara sukarela dan tanpa ada paksaan menyatakan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mencapai

Lebih terperinci

Nurlindah (2013) menyatakan bahwa kurang energi dan protein juga berpengaruh besar terhadap status gizi anak. Hasil penelitian pada balita di Afrika

Nurlindah (2013) menyatakan bahwa kurang energi dan protein juga berpengaruh besar terhadap status gizi anak. Hasil penelitian pada balita di Afrika BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah gizi masih menjadi perhatian di negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini dapat terlihat di dalam rumusan Millennium Development Goals (MDGs) goal pertama

Lebih terperinci

PHBS yang Buruk Meningkatkan Kejadian Diare. Bad Hygienic and Healthy Behavior Increasing Occurrence of Diarrhea

PHBS yang Buruk Meningkatkan Kejadian Diare. Bad Hygienic and Healthy Behavior Increasing Occurrence of Diarrhea PHBS yang Buruk Meningkatkan Kejadian Diare Merry Tyas Anggraini 1, Dian Aviyanti 1, Djarum Mareta Saputri 1 1 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. ABSTRAK Latar Belakang : Perilaku hidup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beban permasalahan kesehatan masyarakat. Hingga saat ini polemik penanganan

BAB I PENDAHULUAN. beban permasalahan kesehatan masyarakat. Hingga saat ini polemik penanganan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai negara berkembang, Indonesia sekarang masih memikul banyak beban permasalahan kesehatan masyarakat. Hingga saat ini polemik penanganan kesehatan di masyarakat

Lebih terperinci

KUESIONER ANALISIS FAKTOR KEJADIAN RELAPS PADA PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2010

KUESIONER ANALISIS FAKTOR KEJADIAN RELAPS PADA PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2010 Lampiran 1 KUESIONER ANALISIS FAKTOR KEJADIAN RELAPS PADA PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2010 Petunjuk Wawancara : 1. Pakailah bahasa Indonesia yang sederhana, bila perlu dapat menggunakan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BAYI DAN ANAK USIA 7 BULAN 5 TAHUN

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BAYI DAN ANAK USIA 7 BULAN 5 TAHUN HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BAYI DAN ANAK USIA 7 BULAN 5 TAHUN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PELAYANAN KB DENGAN KEIKUTSERTAAN PRIA DALAM PROGRAM KB DI KECAMATAN PANGURURAN KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2015 1. Identitas Responden No. Responden :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah stunting masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Stunting pada balita bisa berakibat rendahnya produktivitas dan kualitas sumber daya manusia

Lebih terperinci

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN INFEKSI RESPIRATORIK AKUT (IRA) BAGIAN BAWAH PADA ANAK USIA 1-5 TAHUN DI RSUD SUKOHARJO

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN INFEKSI RESPIRATORIK AKUT (IRA) BAGIAN BAWAH PADA ANAK USIA 1-5 TAHUN DI RSUD SUKOHARJO HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN INFEKSI RESPIRATORIK AKUT (IRA) BAGIAN BAWAH PADA ANAK USIA 1-5 TAHUN DI RSUD SUKOHARJO SKRIPSI Untuk memenuhi sebagai persyaratan Mencapai derajat Sarjana Kedokteran

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI LINGKUNGAN DI DALAM RUMAH PENDUDUK DENGAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK PRA SEKOLAH DI KELURAHAN MABAR KECAMATAN MEDAN DELI TAHUN 2010 No. Responden : Tanggal

Lebih terperinci

JUMAKiA Vol 3. No 1 Agustus 2106 ISSN

JUMAKiA Vol 3. No 1 Agustus 2106 ISSN HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TUMBUH KEMBANG BALITA USIA 3-5 TAHUN DI TK PERMATA HATI TAHUN 2015 Sun Aidah Andin Ajeng Rahmawati Dosen Program Studi DIII Kebidanan STIKes Insan Cendekia Husada Bojonegoro

Lebih terperinci

Kuesioner Penelitian

Kuesioner Penelitian Lampiran 1. Kuesioner Penelitian Hubungan Higiene Pedagang Dan Sanitasi Dengan Keberadaan Escherichia Coli Kol Sebagai Menu Lalapan Ayam Penyet Pada Penjual Ayam Penyet Di Kecamatan Medan Selayang Tahun

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu peneliti melakukan pengukuran terhadap

Lebih terperinci

Lampiran 2

Lampiran 2 Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 HUBUNGAN PERAN SUPERVISI KEPALA RUANGANDENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DALAM MELAKSANAKANASUHAN KEPERAWATAN DI RSUD DR. PIRNGADI

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 2 LEMBAR PENJELASAN SUBYEK PENELITIAN Saya Dheeba Kumaraveloo, mahasiswa dari Fakultas Kedokteran akan mengadakan penelitian yang berjudul Hubungan antara Tidur Larut Malam dengan terjadinya Akne

Lebih terperinci

BAGIAN PSIKIATRI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI SUMATERA UTARA JL. Tali Air no. 21 Medan PERNYATAAN KESEDIAAN BERPARTISIPASI DALAM PENELITIAN

BAGIAN PSIKIATRI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI SUMATERA UTARA JL. Tali Air no. 21 Medan PERNYATAAN KESEDIAAN BERPARTISIPASI DALAM PENELITIAN Lampiran 1 BAGIAN PSIKIATRI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI SUMATERA UTARA JL. Tali Air no. 21 Medan PERNYATAAN KESEDIAAN BERPARTISIPASI DALAM PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Umur

Lebih terperinci

STRUKTUR ORGANISASI PT ASTRA INTERNATIONAL TBK-HEAD OFFICE

STRUKTUR ORGANISASI PT ASTRA INTERNATIONAL TBK-HEAD OFFICE STRUKTUR ORGANISASI PT ASTRA INTERNATIONAL TBK-HEAD OFFICE Board of Directors (BOD) Corporate Organization & Human Capital Development (COHCD) Human Capital Management Division (HCM) General Affairs &

Lebih terperinci

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN (INFORM CONSENT)

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN (INFORM CONSENT) LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN (INFORM CONSENT) Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan ODHA Dalam Menjalani Terapi Antiretroviral di Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan Tahun 2012

Lebih terperinci

Uji Statistik yang Digunakan Untuk ANALISA BIVARIAT

Uji Statistik yang Digunakan Untuk ANALISA BIVARIAT 1 Uji Statistik yang Digunakan Untuk ANALISA BIVARIAT Variabel I Variabel II Jenis uji statistik yang digunakan Katagorik Katagorik - Kai kuadrat - Fisher Exact Katagorik Numerik - Uji T - ANOVA Numerik

Lebih terperinci

LAMPIRAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

LAMPIRAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 42 LAMPIRAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Jenis Kelamin Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Laki - Laki 21 50.0 50.0 50.0 Valid Perempuan 21 50.0 50.0 100.0 Total 42 100.0 100.0 Umur Responden

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan kesejahteraan manusia. Gizi seseorang dikatakan baik apabila terdapat

BAB 1 PENDAHULUAN. dan kesejahteraan manusia. Gizi seseorang dikatakan baik apabila terdapat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia. Gizi seseorang dikatakan baik apabila terdapat keseimbangan dan

Lebih terperinci

Kuesioner Penelitian. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja. Pada Pegawai Negeri Sipil Kantor Inspektorat

Kuesioner Penelitian. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja. Pada Pegawai Negeri Sipil Kantor Inspektorat Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kelelahan Kerja Pada Pegawai Negeri Sipil Kantor Inspektorat Kabupaten Simalungun di Pematang Raya Tahun 2017 No. Respoden : Tanggal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. faltering yaitu membandingkan kurva pertumbuhan berat badan (kurva weight for

BAB I PENDAHULUAN. faltering yaitu membandingkan kurva pertumbuhan berat badan (kurva weight for BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Growth faltering adalah sebuah keadaan gangguan pertumbuhan yang ditandai dengan laju pertumbuhan yang melambat dibandingkan dengan kurva pertumbuhan sebelumnya. 1

Lebih terperinci

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Yang bertanda tangan di bawah ini saya mahasiswa Fakultas Ilnu Kesehatan,

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Yang bertanda tangan di bawah ini saya mahasiswa Fakultas Ilnu Kesehatan, Lampiran 1 SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN KepadaYth, Bapak/Ibu Calon Responden Dengan Hormat Yang bertanda tangan di bawah ini saya mahasiswa Fakultas Ilnu Kesehatan, Program Studi Ilmu Keperawatan,

Lebih terperinci

Tingkat Partisipasi Ibu Hadir Tidak Hadir

Tingkat Partisipasi Ibu Hadir Tidak Hadir Lampiran I KUESIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PARTISIPASI IBU BALITA DALAM PENIMBANGAN BALITA KE POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DARUSSALAM KECAMATAN MEDAN PETISAH TAHUN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu aset sumber daya manusia dimasa depan yang perlu

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu aset sumber daya manusia dimasa depan yang perlu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor utama yang diperlukan untuk melaksanakan pembangunan nasional. Anak merupakan salah satu aset sumber daya manusia

Lebih terperinci

Kuesioner Penelitian

Kuesioner Penelitian Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Hubungan Faktor Resiko dengan Terjadinya Nyeri Punggung Bawah ( Low Back Pain) Pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Di Pelabuhan Belawan Medan Tahun 2015 Nomor Responden

Lebih terperinci

Crosstabulation Jenis Kelamin dengan Kelengkapan Laporan Operasi

Crosstabulation Jenis Kelamin dengan Kelengkapan Laporan Operasi Crosstabulation Jenis Kelamin dengan Kelengkapan Laporan Operasi Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent kelengkapan * jeniskelamin 166 100.0% 0.0% 166 100.0% kelengkapan

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN POLA MAKAN DAN POLA ASUH TERHADAP STATUS GIZI PADA ANAK DI SEKOLAH DASAR NEGERI 3 BATUR

ABSTRAK GAMBARAN POLA MAKAN DAN POLA ASUH TERHADAP STATUS GIZI PADA ANAK DI SEKOLAH DASAR NEGERI 3 BATUR ABSTRAK GAMBARAN POLA MAKAN DAN POLA ASUH TERHADAP STATUS GIZI PADA ANAK DI SEKOLAH DASAR NEGERI 3 BATUR Gizi memegang peranan penting dalam menciptakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Perbaikan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variabel Bebas Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan VariabelTerikat Status Perkawinan Kejadian Malnutrisi Riwayat Penyakit Aktifitas Fisik Perilaku Merokok

Lebih terperinci

HUBUNGAN ASUPAN ENERGY DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN TAMAMAUNG

HUBUNGAN ASUPAN ENERGY DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN TAMAMAUNG HUBUNGAN ASUPAN ENERGY DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN TAMAMAUNG The Association Beetween Energy and Protein Intake with Nutritional Status of Under Five Children in Tamamaung Village

Lebih terperinci

KUESIONER PENDATAAN FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA PERDARAHAN POST PARTUM PADA IBU BERSALIN DI RSUD DELI SERDANG LUBUK PAKAM

KUESIONER PENDATAAN FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA PERDARAHAN POST PARTUM PADA IBU BERSALIN DI RSUD DELI SERDANG LUBUK PAKAM KUESIONER PENDATAAN FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA PERDARAHAN POST PARTUM PADA IBU BERSALIN DI RSUD DELI SERDANG LUBUK PAKAM A. Data Umum Nama Reponden : Umur : Pendidikan : Pekerjaan

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. 1. Ilmu kesehatan anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. 1. Ilmu kesehatan anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian 1. Ilmu kesehatan anak, khususnya bidang nutrisi dan penyakit metabolik. 2. Ilmu gizi, khususnya bidang antropometri. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Lebih terperinci

6. Pekerjaan : 1). Bekerja 2). Tidak bekerja

6. Pekerjaan : 1). Bekerja 2). Tidak bekerja KUESIONER PENELITIAN PENGARUH KEPATUHAN DAN MOTIVASI PENDERITA TB PARU TERHADAP TINGKAT KESEMBUHAN DALAM PENGOBATAN DI PUSKESMAS SADABUAN KOTA PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2011 =============================================================

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA LEMBAR OBSERVASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA LEMBAR OBSERVASI LAMPIRAN 1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA LEMBAR OBSERVASI HUBUNGAN PERILAKU CUCI TANGAN DENGAN JUMLAH KOLONI KUMAN PADA TELAPAK TANGAN PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT MARTHA FRISKA MEDAN TAHUN 2016

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu indikator keberhasilan pembangunan sumber daya manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dimana Indonesia sekarang berada pada peringkat 108

Lebih terperinci

LAMPIRAN. 1. Lampiran 1 : Lembar Persetujuan untuk Menjadi Responden. 2. Lampiran 2 : Kuesioner Skor DNS (Dabetic Neuropathy Symptom)

LAMPIRAN. 1. Lampiran 1 : Lembar Persetujuan untuk Menjadi Responden. 2. Lampiran 2 : Kuesioner Skor DNS (Dabetic Neuropathy Symptom) 49 LAMPIRAN 1. Lampiran 1 : Lembar Persetujuan untuk Menjadi Responden 2. Lampiran 2 : Kuesioner Skor DNS (Dabetic Neuropathy Symptom) 3. Lampiran 3 : Hasil Penelitian 4. Lampiran 4 : Surat Keterangan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan yang digunakan adalah case control untuk mempelajari hubungan obesitas

Lebih terperinci

Lampiran 1. I. Data Responden

Lampiran 1. I. Data Responden Lampiran 1 KUESIONER HUBUNGAN KUALITAS MIKROBIOLOGIS AIR SUMUR GALI DAN PENGELOLAAN SAMPAH DI RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA KELUARGA DI KELURAHAN TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2013 I.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anak balita merupakan kelompok usia yang rawan masalah gizi dan penyakit.

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anak balita merupakan kelompok usia yang rawan masalah gizi dan penyakit. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak balita merupakan kelompok usia yang rawan masalah gizi dan penyakit. Kelompok usia yang paling rentan yaitu usia 2-4 tahun, hal ini disebabkan karena pada usia

Lebih terperinci

Priyono et al. Determinan Kejadian Stunting pada Anak Balita Usia Bulan...

Priyono et al. Determinan Kejadian Stunting pada Anak Balita Usia Bulan... Determinan pada Anak Balita Usia 12-36 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Randuagung Kabupaten Lumajang (Determinants of Stunting among Children Aged 12-36 Months in Community Health Center of Randuagung,

Lebih terperinci

LAMPIRAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL

LAMPIRAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL LAMPIRAN LAMPIRAN I Kuesioner Balita DI KECAMATAN SEPATAN TIMUR TANGERANG PROGRAM STUDI ILMU GIZI 2016 Saya adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stunting atau pendek merupakan salah satu indikator gizi klinis yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stunting atau pendek merupakan salah satu indikator gizi klinis yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stunting atau pendek merupakan salah satu indikator gizi klinis yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan sosial ekonomi secara keseluruhan di masa lampau dan

Lebih terperinci

c. Jenis Kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan d. Pendidikan : 1. SD/Tidak Tamat SD/Tidak Sekolah 2. SLTP 3. SLTA 4. PT

c. Jenis Kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan d. Pendidikan : 1. SD/Tidak Tamat SD/Tidak Sekolah 2. SLTP 3. SLTA 4. PT LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA TERHADAP PENCEGAHAN KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA YANG BEROBAT JALAN DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT JIWA MEDAN TAHUN 2011 I.

Lebih terperinci

LEMBARAN PERSETUJUAN PENELITI

LEMBARAN PERSETUJUAN PENELITI Lampiran 1 LEMBARAN PERSETUJUAN PENELITI Kepada Yth, Calon Responden Penelitian Di Tempat Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Sarah Andini Yuliasih NIM : 201233020 Alamat : Jl. Raya Parigi Curug

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (mordibity) dan angka kematian (mortality). ( Darmadi, 2008). Di negara

BAB I PENDAHULUAN. (mordibity) dan angka kematian (mortality). ( Darmadi, 2008). Di negara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakancg Pada negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia, penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan (mordibity) dan angka kematian (mortality).

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh keadaan gizi (Kemenkes, 2014). Indonesia merupakan akibat penyakit tidak menular.

BAB 1 PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh keadaan gizi (Kemenkes, 2014). Indonesia merupakan akibat penyakit tidak menular. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu ciri bangsa maju adalah bangsa yang memiliki tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas kerja yang tinggi. Ketiga hal ini dipengaruhi oleh keadaan gizi

Lebih terperinci

Lampiran 6 TABULASI DATA UMUM Lansia di RT 02 RW 02 Dusun Gadel Desa Sidorejo Kec. Sukorejo Kab. Ponorogo

Lampiran 6 TABULASI DATA UMUM Lansia di RT 02 RW 02 Dusun Gadel Desa Sidorejo Kec. Sukorejo Kab. Ponorogo Lampiran 6 TABULASI DATA UMUM Lansia di RT 02 RW 02 Dusun Gadel Desa Sidorejo Kec. Sukorejo Kab. Ponorogo No Usia (tahun) Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Tinggal Bersama Hub. Keluarga Tingkat Ketergantungan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER KELELAHAN KERJA PADA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM Dr.TENGKU MANSYUR TANJUNGBALAI TAHUN 2010 PETUNJUK : Lingkari jawaban yang paling sesu menurut

Lebih terperinci

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN PENELITI

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN PENELITI Lampiran 1 : Kuesioner Penelitian PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN PENELITI Kepada Yth. Bapak/Ibu selaku responden Di tempat. Dengan Hormat, Saya yang bertandatangan di bawah ini adalah mahasiswa Departemen

Lebih terperinci

ABSTRAK ANGKA KEJADIAN INFEKSI CACING DI PUSKESMAS KOTA KALER KECAMATAN SUMEDANG UTARA KABUPATEN SUMEDANG TAHUN

ABSTRAK ANGKA KEJADIAN INFEKSI CACING DI PUSKESMAS KOTA KALER KECAMATAN SUMEDANG UTARA KABUPATEN SUMEDANG TAHUN ABSTRAK ANGKA KEJADIAN INFEKSI CACING DI PUSKESMAS KOTA KALER KECAMATAN SUMEDANG UTARA KABUPATEN SUMEDANG TAHUN 2007-2011 Eggi Erlangga, 2013. Pembimbing I : July Ivone, dr., M.KK., MPd.Ked. Pembimbing

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variabel Bebas Variabel Terikat Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Pengetahuan Kejadian TBC Usia Produktif Kepadatan Hunian Riwayat Imunisasi BCG Sikap Pencegahan

Lebih terperinci