PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI PENERAPAN METODE AKROSTIK SISWA KELAS VI SD KARTIKA KOTA MAKASSAR. Syahrun. Kepala SD Kartika XX-1

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI PENERAPAN METODE AKROSTIK SISWA KELAS VI SD KARTIKA KOTA MAKASSAR. Syahrun. Kepala SD Kartika XX-1"

Transkripsi

1 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI PENERAPAN METODE AKROSTIK SISWA KELAS VI SD KARTIKA KOTA MAKASSAR Syahrun Kepala SD Kartika XX-1 Abstrak: Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Melalui Penerapan Metode Akrostik Siswa Kelas VI SD Kartika XX-1 Kota Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui Penerapan Metode Akrostik, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah hasil belajar bahasa indonesia kelas VI SD Kartika XX-1 Kota Makassar dapat ditingkatkan melalui Penerapan Metode Akrostik. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Kartika XX-1 Kota Makassar dengan jumlah siswa 24 orang yang terdiri dari 14 orang perempuan dan 10 orang laki-laki. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pengambilan data dilakukan dengan mengevaluasi hasil belajar, melalui tes tertulis. Hasil penelitian dari siklus I ke siklus II menunjukkan bahwa aktivitas siswa meningkat dan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus I sebesar 62,92dan pada siklus II sebesar 75,42. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Penerapan Metode Akrostik dapat meningkatkan hasil belajar bahasa indonesia kelas VI SD Kartika XX-1 Kota Makassar. Kata kunci: Hasil belajar, Metode Akrostik PENDAHULUAN Pembelajaran sastra khususnya puisi sangat penting bagi siswa mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah. Hal ini karena dapat memberikan sumbangan terhadap keberhasilan pendidikan. Aminuddin (1991) menyatakan bahwa pengajaran sastra termasuk puisi dapat memberikan sumbangan yang maksimal terhadap pendidikan antara lain membantu meningkatkan pengetahuan artikel e-buletin edisi Desember 2014 ISSN

2 2 budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak. Karena itu pembelajaran sastra menduduki peranan yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Jika dihayati hakikatnya, puisi dapat memberi sesuatu yang sangat berarti dalam kehidupan manusia. Puisi dapat memberi nilai-nilai hidup yang bermakna. Ia dapat menyejajarkan diri dengan berbagai media lainnya untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan. Puisi mempunyai nilai yang sangat tinggi. Puisi dapat bernada sinis, bisa bernada simpati, antipati, dan sebagainya yang kesemuanya mengandung makna yang sangat dalam sebagai suatu alat untuk menyampaikan nilai-nilai moral yang diharapkan dapat dijadikan pilihan bagi masyarakat untuk menentukan perilaku hidup yang baik. Begitu tinggi nilai suatu puisi dalam kehidupan manusia, Robert C Lado dalam Tarigan (1985:143), menyatakan orang yang menutup telinga terhadap puisi akan terpencil dari suatu dunia yang penuh dengan harta kekayaan berupa pengertian manusia, pandangan perseorangan dan sensitivitas. Hal tersebut senada dengan pernyataan berikut: Aftaruddin (1986:37) sebagai antara puisi dan hidup tidak ada jarak yang menceraikan. Tidak ada puisi tanpa kehidupan. Masalah puisi adalah masalah hidup dan kehidupan. Puisi mengalir dalam hidup, bergerak dalam hidup dan membuka, mengembang, bersama keakuan kita lahir batin. Hidup manusia adalah manifestasi puitis. Puisi adalah bahagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Tanpa puisi manusia tak dapat hidup. Hakikat di atas, tampaknya disadari atau tidak, terekspresi dari jiwa penyair. Hal ini ditandai dengan luapan perasaan yang melahirkan puisi, seperti 2

3 3 puisi Perasaan Seni dan Sukma Pujangga oleh J.E. Tatengkeng dan puisinya Sukma Pujangga menggambarkan bahwa puisi lahir sebagai letupan emosi, luapan perasaan, ekspresi jiwa yang tidak dapat dibendung yang kesemuanya ingin mengatakan sesuatu (kritik) yang sangat mendesak (Tarigan, 1985) Hal ini juga secara tegas dikemukakan Rosyidi dalam (Eddy, 1982: 23dalam puisinya: Tentang sajak, berbunyi: pertama kepada diri sendiri/pusat degup jantung gembira berteman/hasil sebuah hasil terpuasi/lalu aku dan baru yang lainnya). Betapa tinggi nilai suatu puisi dalam kehidupan manusia, sehingga dikatakan bahwa tanpa puisi manusia tak dapat hidup. Tentu saja pernyataan itu bukan permainan kata belaka, melainkan telah menjadi kenyataan, bahwa kehidupan manusia tanpa puisi akan mengurangi satu sistem kehidupan terutama sebagai media penyampaian nilai hidup yang bermakna. Kebenaran makna puisi tidak sekedar uraian belaka, tetapi nyata dalam kandungan puisi memberi sesuatu yang sangat luar biasa. Berdasarkan kenyataan di atas, maka wajar jika sejak dini puisi dijadikan salah satu aspek pengajaran berbahasa mulai dari SD hingga SLTA. Namun, kenyataannya, pada pendidikan formal tersebut pengajaran puisi juga mengalami berbagai permasalahan sehingga hakikat yang diinginkan dalam pengajaran puisi juga tidak tercapai dengan baik. Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pengajaran apresiasi puisi gagal di sekolah. Penelitian Fadli (1988), misalnya mengungkapkan bahwa kemampuan mengapresiasi puisi karya Taufik Ismail bagi siswa SLTP Muhammadiyah Makassar belum memadai. Demikian 3

4 4 pula yang dilaporkan oleh Arfah (1999) bahwa siswa kelas VI SD Kartika XX-1 Kota Makassar belum mampu mengapresiasi puisi. Hal senada juga dilaporkan oleh Hajrah (2000) bahwa siswa SMU Negeri Liliriaja Soppeng, belum mampu mengapresiasi puisi. Hasil penelitian di atas hanya merupakan contoh kecil kenyataan gagalnya pengajaran apresiasi puisi. Bahkan banyak pakar sastra yang menyatakan bahwa pengajaran satra termasuk puisi dewasa ini masih sangat memprihatinkan. Masalahnya, banyak pemerhati, penggiat, dan sastrawan menganggap pengajaran apresiasi sastra termasuk puisi gagal. Mereka menganggap pengajaran apresiasi sastra di sekolah tidak kondusif, padahal tujuan pengajaran apresiasi sastra dalam kurikulum sudah cukup ideal. Anwar (2001) menyatakan pengajaran apresiasi puisi di sekolah saat ini jalan di tempat dari tingkat SD hingga SMU. Indikasi gagalnya pengajaran apresiasi sastra di sekolah menurut Taufik Ismail adalah: 1) Kurangnya hasil karya sastra siswa; 2) Rendahnya penghargaan siswa terhadap karya sastra (ini dibuktikan dengan minimnya pengetahuan siswa terhadap penyair Indonesia dan hasil karyanya), dan, 3) Rendahnya minat siswa dalam membaca karya sastra (puisi, cerpen, dan novel) (Ismail, dalam Kompas, 2001). Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan pengajaran apresiasi sastra di sekolah, antara lain hasil penelitian Taufik Ismail sebagai berikut: 1) Minimnya minat siswa terhadap karya sastra (motivasi). 2) Belum bakunya metode pengajaran sastra di semua jenjang pendidikan. 3) Rendahnya minat baca siswa terhadap karya sastra. 4) Kebijakan pemerintah yang terkesan 4

5 5 menganaktirikan pengajaran sastra, dan 5) Kurangnya keterampilan guru dalam mengjarkan apresisi sastra (Ismail, dalam Kompas, 2001) Jika dilihat faktor di atas, maka ada dua faktor yang mengarah pada peran sentral guru, sebagai pembina, pembimbing, dan pengajar sastra di sekolah, yakni faktor yang kedua, (belum bakunya metode pengajaran sastra di semua jenjang pendidikan) dari faktor kelima, (kurangnya keterampilam guru dalam mengajarkan apresiasi sastra di sekolah). Kondisi kegagalan ini juga mengakibatkan karya sastra termasuk puisi tidak mendapat tempat yang baik di hati masyarakat. Jangankan mencintai dan meminati, menghargai pun tidak. Hasil penelitian di atas ternyata tergambar pula pada hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru di Kelas VI SD Kartika XX-1 Kota Makassar, menunjukkan bahwa guru kurang dalam upaya mencari startegi kreatif dalam pembelajaran puisi. Selain itu, hasil belajar siswa tentang menulis puisi di sekolah dasar tersebut masih rendah yakni tahun 2011/2012 hanya mencapai standar nilai KKM 62 yang dapat dicapai dengan proses remedial dari 24 peserta didik yang mengikuti pembelajaran menulis puisi, hasil belajar menulis puisi pada proses awal, peserta didik yang memperoleh nilai melebihi KKM hanya 16 orang atau sekitar 66,7% dengan nilai rata-rata 58,6. Pencapaian KKM secara keseluruhan diperoleh setelah dilakukan proses remedial dengan nilai rata-rata 62,26. Demikian halnya peserta didk masih banyak yang menyatakan menulis pusi itu sangat sulit. Hal ini tampak pada karya siswa yang tidak menarik, lariklarik tidak puitis, makna secara keseluruhan kurang mendalam. 5

6 6 Kendala yang dihadapi dalam pengajaran apresiasi puisi pada prinsipnya menyangkut seluruh komponen pengajaran, seperti kurikulum, metode, guru, bahan penunjang dan sebagainya. Oleh karena itu, jika ingin mencari solusi pengajaran puisi, maka sistem harus diperbaiki. Untuk menuju ke arah perbaikan pengajaran sastra maka setiap komponen perlu dikaji secara mendalam melalui suatu penelitian. Salah satu aspek dalam komponen pengajaran puisi yang dianggap sangat penting adalah metode pengajaran puisi. Oleh karena itu, pemberlakuan metode perlu dilakukan uji coba secara akurat sehingga dapat dijadikan bahan masukan dalam perbaikan pengajaran puisi Berdasarkan uraian tersebut tampak bahwa pembelajaran menulis puisi sangat penting ditingkatkan dalam lingkup pendidikan. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran menulis puisi di sekolah masih mengalami kendala dan cenderung dihindari oleh murid. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pemahaman nilai dan manfaat lainnya yang dapat diperoleh siswa ketika menulis puisi. Selain itu, teknik yang digunakan dalam pembelajaran puisi masih kurang sehingga minat dan kompetensi siswa menulis puisi juga tidak memadai.. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melalukakn penelitian terhadap peningkatan hasil belajar menulis puisi melalui metode akrostik pada siswa kelas VI SD Kartika XX-1 Kota Makassar. Metode akrostik ini secara konseptual dapat memberi proses kreativitas siswa dalam menulis puisi melalui panduan singkatan nama tertentu yang dijadikan dasar pengembangan imajinasi dalam larik-larik puisi yang ditulis siswa. 6

7 7 Hal ini dilakukan karena salah satu kendala yang terkadang ditemui oleh siswa dalam menulis puisi antara lain, siswa kesulitan menemukan ide, kesulitan menentukan kata-kata dalam menulis puisi, kesulitan dalam memulai menulis, kesulitan mengembangkan ide menjadi puisi karena minimnya penguasaan kosakata, dan kesulitan menulis puisi karena tidak terbiasa mengemukakan perasaan, pemikiran, imajinasinya, serta kurang mampu menghubungkan antara dunia khayal dengan dunia nyata ke dalam puisi. Oleh karena itu, salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, yaitu menerapkan teknik yang dapat membantu menciptakan ide dan gagasan, yaitu teknik akrostik. Teknik akrostik dapat membantu anak menuangkan ide dan membentuk larik imajinatif melalui akrostik. Penciptaan satu puisi dapat diwujudkan melalui kegiatan analisis akrostik. Selain itu, menjadi inspirasi dalam mengembangkan ide yang telah ditetentukan. Maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah penerapan metode akrostik dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi pada siswa kelas VI SD Kartika XX-1 Kota Makassar? Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar menulis puisi melalui metode akrostik pada siswa kelas VI SD Kartika XX-1 Kota Makassar.. 7

8 8 METODE Penelitian ini merupakan penelitian Tindakan Kelas (PTK). Karakteristik yang khas dari Penelitian Tindakan Kelas yakni tindakan-tindakan (aksi) yang berulang-ulang untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. Adapun Subjek penelitian ini kelas VI yang berjumlah 24 orang yang terdiri dari 14 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Dengan sasaran utama peningkatan hasil belajar menulis puisi dengan menerapkan teknik akrostik. Dipilihnya siswa kelas VI SD kartika XX-1 Kota Makassar karena kelas tersebut menghadapi masalah pada pembelajaran menulis puisi. Desain penelitian pada hakikatnya merupakan tahap atau strategi yang bersifat teknis dalam melakukan suatu penelitian guna memperoleh suatu informasi atau data dan menganalisisnya untuk dapat menarik kesimpulan sebagai hasil akhir dalam penelitian. Adapun desain penelitian yang dilakukan yaitu penelitian tindakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan reflection. Adapun pelaksanaan penenelitian dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap siklus dua atau lebih pertemuan. Proses ini dilakukan secara kolaboratif bersama dengan guru kelas VI SD kartika XX-1 Kota Makassar. Tahapan yang dilaksanakan dalam penelitian ini yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Berikut ini adalah tahapan PTK yang akan dilaksanakan berpatokan pada refleksi awal, maka dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan prosedur sebagai berikut : 8

9 9 1. Pelaksanaan Siklus I Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah membuat skenario pelaksanaan tindakan untuk meningkatkan menulis puisi melalui pembelajaran metode akrostik dalam bentuk RPP, membuat lembar observasi atau instrumen untuk melihat bagaimana proses belajar mengajar di kelas ketika pembelajaran berlangsung, wawancara untuk mengumpulkan data tentang tanggapan siswa mengenai pelaksanaan dalam pembelajaran, dan mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah kemampuan menulis puisi siswa cukup baik. Pelaksanaan tindakan yang dimaksudkan adalah melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran untuk membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi dilaksanakan secara klasikal. Kegiatan tindakan pembelajaran dilakukan oleh peneliti sendiri dan dibantu oleh guru yang mengajar di kelas VI SD kartika XX-1 Kota Makassar. Sedangkan aktivitas guru yang perlu diamati antara lain berupa merespon pendapat murid, membimbing siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis puisi melalui teknik olah sukma, dan mengecek hasil pekerjaan siswa. Kegiatan ini dilakukan selama pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan oleh peneliti. Observasi dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh guru kelas VI SD kartika XX-1 Kota Makassar. Tugas pengamat ini sama apabila ada hal-hal yang tidak terjaring pada lembar observasi yang menurut pengamat merupakan hal penting akan dilakukan pencatatan data. Peneliti bersama pengamat menaganalisis dan merenungkan hasil tindakan pada siklus sebagai bahan pertimbangan apakah pemberian tindakan yang dilakukan perlu diulangi atau tidak. Jika perlu diulangi, maka peneliti 9

10 10 menyusun kembali rencana (revisi) untuk siklus berikutnya. Demikian seterusnya hingga seluruh siswa dianggap tuntas. 2. Pelaksanaan Tindakan Siklus II Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan siklus II pada hakikatnya bergantung hasil refelksi siklus I. Kegiatan ini tetap mengacuasarkan hasil refleksi. Penelitian ini dibagi atas dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Untuk mendapatkan data, peneliti menggunakan instrumen tes dan instumen non tes. Setelah itu dilakukan observasi untuk mengamati kesesuaian antara pelaksanaan tindakan dan perencanaan perenapan metode akrostik yang telah disusun dan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan dapat menghasilkan perubahan menulis puisi yang sesuai dengan yang dikehendaki. Data dalam penelitian ini dilakukan selama dan setelah pengumpulan data. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan kualitatif yang terdiri dari tiga tahap kegiatan yang dilakukan secara berurutan, yaitu: 1) Mereduksi data, 2) Menyajikan data, 3) Menarik kesimpulan dan verifikasi data. Untuk mengetahui keberhasilan dalam keberhasilan penelitian ini meliputi indikator proses dan hasil dalam penerapan metode akrostik dalam menulis puisi. Adapun kriteria yang digunakan untuk menilai peningkatan hasil belajar mengarang kelas VI SD kartika XX-1 Kota Makassar menggunakan metode akrostik adalah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kompetensi dasar pada yang diteliti hanya 62 disesuaikan dengan Standar Ketuntasan Belajar Minimal bahasa Indonesia kelas VI SD kartika XX-1 Kota Makassar. 10

11 11 HASIL Siklus I Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VI SD kartika XX-1 Kota Makassar. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI sebanyak 24 siswa melalui penggunaan metode akrostik pada siklus I sebesar 62,92 Skor yang dicapai responden tersebar dengan skor tertinggi 75 dan skor terendah 30 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar menulis puisi siswa berada pada kategori sedang. Persentase skor hasil belajar menulis puisi siswa setelah penggunaan melalui penggunaan metode akrostik, ada 8,3% siswa yang berada pada kategori sangat kurang, 20,8% siswa berada pada kategori kurang, 66,7% siswa berada pada kategori cukup, 4,2% siswa berada pada kategori tinggi dan 0% siswa berada pada kategori sangat baik. Refleksi Siklus I Dari segi proses pembelajaran yang telah dilakukan dengan mengacu pada hasil observasi maka dapat disimpulkan bahwa penelitian tersebut belum memperoleh keberhasilan dari segi proses yang mana indikator penilaiannya terdiri dari penilaian kegiatan guru dan kegiatan murid. Untuk kegiatan guru dimana proses pembelajaran yang dilaksanakan belum berjalan secara optimal seperti yang direncanakan, sebab masih ada tiga indikator yang tidak terlaksana dengan baik. Sedangkan untuk kegiatan siswa masih kurang aktif dalam kegiatan bekerja kelompok terutama dalam diskusi antar kelompok. 11

12 12 Siklus II Siklus II dilaksanakan, untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa. Hasil analisis deskriptif terhadap skor perolehan hasil belajar siswa setelah digunakannya metode akrostik adalah skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VI SD kartika XX-1 Kota Makassar. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI sebanyak 24 siswa melalui penggunaan metode akrostik pada siklus I sebesar 75,42 Skor yang dicapai responden tersebar dengan skor tertinggi 85 dan skor terendah 60 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar menulis puisi siswa berada pada kategori sedang. Persentase skor hasil belajar menulis puisi siswa setelah penggunaan metode akrostik, ada 0% siswa yang berada pada kategori sangat kurang, 0% siswa berada pada kategori kurang, 92% siswa berada pada kategori sedang, 8% siswa berada pada kategori baik dan 0% siswa berada pada kategori sangat baik. Apabila hasil belajar siswa pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar menulis puisi siswa setelah digunakannya metode akrostik pada siklus II menunjukkan bahwa dari 24 siswa terdapat 92% siswa yang tuntas belajar dan 8% siswa yang belum tuntas belajar. Ini berarti ketuntasan belajar pada siklus II telah tercapai secara klasikal karena jumlah siswa yang tuntas lebih dari 85 persen. Disamping itu nilai rata-rata pada siklus II mencapai KKM yang ditetapkan yaitu nilai rata-rata diatas

13 13 Refleksi Siklus II Dari segi proses pembelajaran yang telah dilakukan dengan mengacu pada hasil observasi maka dapat disimpulkan bahwa tindakan siklus II telah mengalami peningkatan dan telah memperoleh keberhasilan dari segi proses, dilihat dari hasil observasi kegiatan guru dalam proses pembelajaran mampu melaksanakan semua pemebelajaran dengan baik sesuai dengan indikator yang direncanakan. Sedangkan untuk kegiatan murid, diperoleh bahwa semua siswa telah aktif dalam kegiatan bekerja kelompok termasuk pada kegiatan diskusi antar kelompok. PEMBAHASAN Hasil penelitian yang terdiri dari aktivitas guru dan siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa dalam memecahkan masalah, dengan menggunakan Metode Akrostik menunjukkan bahwa pada tindakan siklus 1, dalam pembelajaran menulis puisi berada pada kategori kurang (K), sebagaimana dilihat pada setiap siswa dalam mengemukakan jawabannya hasilnya belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 62,50% siswa yang tuntas sedangkan 37,50% siswa belum tuntas belajar. Ini dikarenakan siswa belum melaksanakan semua tahap-tahap pembelajaran secara maksimal, dimana pada kegiatan diskusi kelompok terlihat masih banyak siswa yang kurang aktif sehingga dalam hasil akhir menulis puisi banyak kelompok yang tidak berpartisipasi terkendala karena belum mampu menyelesaikan secara maksimal LKS. Hal ini disebabkan karena kemampuan guru dalam melaksanakan indikator pembelajaran belum maksimal, dimana guru tidak aktif dalam memberikan bantuan dan pengawasan terhadap siswa dalam melaksanakan diskusi kelompok, 13

14 14 maka tindakan siklus I dinyatakan belum berhasil kemudian dilanjutkan ke siklus II. Pada tindakan siklus II, hasil yang diperoleh telah mencapai keberhasilan hal ini dilihat dari jawaban siswa pada soal LKS yang diberikan dimana nilai soal LKS yang diperoleh skor rata- ratanya 75,42 dengan tingkat ketuntasan siswa skor tertinggi 85 dan skor terendah 60, tindakan ini berada pada kategori baik (B). Keberhasilan ini disebabkan tidak lain dari kemampuan siswa dalam melaksanakan semua tahap-tahap pembelajaran secara maksimal. Pada tindakan siklus II ini semua siswa telah aktif berpartisipasi dalam kegiatan menulis puisi sehingga siswa mampu memperoleh nilai terbaik dari hasil LKS. Keberhasilan tindakan dari siklus ke siklus dikarenakan guru dapat melaksanakan rancangan pembelajaran dengan baik sesuai dengan strategi yang digunakan yaitu Metode Akrostik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode akrostik dapat meningkatkan hasil belajar menulis puisi siswa kelas VI SD KArtika XX-1 Kota Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas guru pada siklus I masih menunjukkan kategori cukup dan pada siklus II meningkat menjadi kategori baik. Demikian pula aktivitas siswa pada siklus I berada pad kategori cukup dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi kategori baik. Selain itu, hasil belajar menulis 14

15 15 puisi siswa menunjukkan bahwa pada pada siklus I masih dalam kategori cukup dan pada siklus II meningkat menjadi kategori baik. Saran Sesuai dengan hasil penelitian tentang penggunaan metode akrostik dalam pembelajaran menulis puisi di kelas VI SD Kattika XX-1 Kota Makassar maka dikemukakan saran sebagai berikut: (1) Kepada guru sekolah dasar agar dapat menerapkan penggunaan metode akrostik sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran menulis puisi (2) Kiranya guru dapat menjadikan metode akrostik dalam pembelajaran menulis puisi ini dapat dijadikan perbandingan untuk mengembangkan metode menulis puisi yang kreatif lainnya; (3) Kepada peneliti lain dapat mengadakan penelitian lanjutan dengan penerapan metode akrostik dalam pembelajaran menulis puisi di sekolah dasar yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA Aftaruddin, Pesu Pengantar Apresiasi Puisi. Bandung: Angkasa Aminuddin Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Angkasa. Anwar, Menulis P:uisi Itu Mudah. Jakarta; Gema Media Eddy, Nyoman Tusthti Essei tentang Sastra. Denpasar: Nusa Indah Hajrah. St Tingkat Apresiasi Puisi Siswa SMU Negeri Liliriaja Soppeng (Skripsi) UNM Makassar Ismail, Tuafik, Masalah Pengajaran Sastra di Sekolah dalam Harian Kompas., 21 Oktober Tarigan, H.G Prinsip-prinsip Dasar Sastra: Bandung: Angkasa. 15

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Aep Suryana, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Aep Suryana, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) merupakan bagian penting dalam kerangka pengembangan pendidikan nasional yang bertujuan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemersatu bangsa Indonesia. Selain itu, Bahasa Indonesia juga merupakan

BAB I PENDAHULUAN. pemersatu bangsa Indonesia. Selain itu, Bahasa Indonesia juga merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Indonesia merupakan salah satu alat komunikasi dan alat pemersatu bangsa Indonesia. Selain itu, Bahasa Indonesia juga merupakan hasil kebudayaan yang

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK AKROSTIK PADA SISWA KELAS X MA AL-ASY ARI KERAS DIWEK JOMBANG TAHUN PELAJARAN 2016/2017

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK AKROSTIK PADA SISWA KELAS X MA AL-ASY ARI KERAS DIWEK JOMBANG TAHUN PELAJARAN 2016/2017 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK AKROSTIK PADA SISWA KELAS X MA AL-ASY ARI KERAS DIWEK JOMBANG TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Kustiyah Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELAS V A SDN KALIJOSO SECANG MAGELANG TAHUN AJARAN 2012/2013

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELAS V A SDN KALIJOSO SECANG MAGELANG TAHUN AJARAN 2012/2013 PENGGUNAAN MEDIA VISUAL DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELAS V A SDN KALIJOSO SECANG MAGELANG TAHUN AJARAN 2012/2013 Diliana 1, Imam Suyanto 2, Suripto 3 PGSD FKIP Universitas

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MEMBACA AKROSTIX

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MEMBACA AKROSTIX MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MEMBACA AKROSTIX PADA SISWA KELAS IX SMPN 2 SINGAJAYA KABUPATEN GARUT TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh : TIKA ROHMATIKA NIM.1021.0253 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran menjadi salah satu kegiatan yang bernilai edukatif, hal ini terjadi karena adanya interaksi antara guru dan siswa. Interaksi yang dilakukan mengharapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagi pengalaman, belajar dari yang lain, dan meningkatkan pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN. berbagi pengalaman, belajar dari yang lain, dan meningkatkan pengetahuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahasa memungkinkan manusia untuk berkomunikasi, berhubungan, berbagi pengalaman, belajar dari yang lain, dan meningkatkan pengetahuan intelektual. Mata pelajaran Bahasa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. Darussalam Bati-Bati Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut pada Tahun

BAB IV HASIL PENELITIAN. Darussalam Bati-Bati Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut pada Tahun BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Darussalam Bati-Bati Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut pada Tahun Pelajaran

Lebih terperinci

BAB III METODE DAN RENCANA PENELITIAN

BAB III METODE DAN RENCANA PENELITIAN BAB III METODE DAN RENCANA PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research. PTK adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. merupakan terjemahan dari classroom action research, yaitu suatu action

BAB III METODE PENELITIAN. merupakan terjemahan dari classroom action research, yaitu suatu action BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang merupakan terjemahan dari classroom action research, yaitu suatu action research yang dilakukan

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE CONCEPT SENTENCE

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE CONCEPT SENTENCE PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE CONCEPT SENTENCE Dian Anggraini 1), M. Shaifuddin 2), M. Ismail Sriyanto 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jl. Slamet Riyadi No. 449,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran bahasa Indonesia adalah menyimak, berbicara, membaca, dan. kesatuan dari aspek bahasa itu sendiri (Tarigan, 2008: 1).

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran bahasa Indonesia adalah menyimak, berbicara, membaca, dan. kesatuan dari aspek bahasa itu sendiri (Tarigan, 2008: 1). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Empat keterampilan berbahasa yang harus dimiliki siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom

BAB III METODE PENELITIAN. yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom 21 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom Action research.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian secara umum diartikan sebagai cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 27 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah menulis puisi yang dilaksanakan di kelas VIII-D SMP Negeri 44 Bandung Tahun Ajaran 2012/2013 yang berjumlah 28 orang, yaitu

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MANAIKA PADA MATERI PARAFRASE PUISI SISWA KELAS 6 B SDN SEMBORO 01 JEMBER

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MANAIKA PADA MATERI PARAFRASE PUISI SISWA KELAS 6 B SDN SEMBORO 01 JEMBER MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MANAIKA PADA MATERI PARAFRASE PUISI SISWA KELAS 6 B SDN SEMBORO 01 JEMBER Vivien Fidiawati 6 Abstrak. Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 170 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Pada bab terakhir ini peneliti kemukakan beberapa kesimpulan yang telah didapat selama melaksanakan penelitian. Berdasarkan hasil pembahasan yang dilakukan

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII DENGAN MENERAPKAN METODE BELANJA KATA DI SMPN SATU ATAP PENGAMPON

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII DENGAN MENERAPKAN METODE BELANJA KATA DI SMPN SATU ATAP PENGAMPON PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS VII DENGAN MENERAPKAN METODE BELANJA KATA DI SMPN SATU ATAP PENGAMPON Dwi Novita Ariyaningtyas 1 Heri Suwignyo 2 Karkono 3 Universitas Negeri Malang, Jalan

Lebih terperinci

PENERAPAN KONSEP PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN (PAKEM) DALAM MENYIMAK PUISI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN APRESIASI SASTRA

PENERAPAN KONSEP PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN (PAKEM) DALAM MENYIMAK PUISI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN APRESIASI SASTRA PENERAPAN KONSEP PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN (PAKEM) DALAM MENYIMAK PUISI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN APRESIASI SASTRA Dra. Isnaeni Praptanti, M.Pd., dan Drs. Karma Iswasta

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 1 Karangsono Kecamatan Karangrayung Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan terjemahan dari Classroom Action

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan terjemahan dari Classroom Action BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan terjemahan dari Classroom Action Research yaitu suatu Action Research (penelitian tindakan) yang dilakukan di

Lebih terperinci

Plan. Reflective. Action/ Observation. Reflective. Action/ Observation. Reflective. Action/ Observation

Plan. Reflective. Action/ Observation. Reflective. Action/ Observation. Reflective. Action/ Observation BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Rancangan Penelitian Pada penelitian ini rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 38 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau sering disebut dengan Classroom Action Research. Kemmis (1983,

Lebih terperinci

Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa Membaca Puisi Melalui Pendekatan Proses Di Kelas IV SDN 2 Polanto Jaya

Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa Membaca Puisi Melalui Pendekatan Proses Di Kelas IV SDN 2 Polanto Jaya Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa Membaca Puisi Melalui Pendekatan Proses Di Kelas IV SDN 2 Polanto Jaya I Nyoman Adi Setiawan Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan di kelas VIIIc SMP Negeri 7

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan di kelas VIIIc SMP Negeri 7 26 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan di kelas VIIIc SMP Negeri 7 Kota Gorontalo, untuk mata pelajaran

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENDESKRIPSIKAN PERISTIWA ROTASI BUMI MELALUI METODE BERMAIN PERAN. Sarotun

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENDESKRIPSIKAN PERISTIWA ROTASI BUMI MELALUI METODE BERMAIN PERAN. Sarotun Didaktikum : Jurnal Penelitian Tindakan Kelas Vol. 16, No. 4, Agustus 2015 (Edisi Khusus) ISSN 2087-3557 SDN 02 Siwalan, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1. Disusun oleh: Ajeng Wulandari A

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1. Disusun oleh: Ajeng Wulandari A PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN PENERAPAN TEKNIK RANGSANG GAMBAR DAN SUMBANG KATA PADA SISWA KELAS VII E DI SMP NEGERI 1 JATEN TAHUN AJARAN 2009/2010 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

Keyword: CIRC, Learning, Phoem

Keyword: CIRC, Learning, Phoem PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA TENTANG MENULIS PUISI BEBAS PADA SISWA KELAS VA SD NEGERI 1 SELANG

Lebih terperinci

PENGGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN ARENDS

PENGGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN ARENDS PENGGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN ARENDS DAN SUMBER BELAJAR LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 4 SUKOMULYO Oleh: Dhestanto Oktorahadi

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE SCRIPT UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA Rian Setiawan 1), Sukarno 2), Karsono 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret Jalan Slamet Riyadi 449 Surakarta

Lebih terperinci

Keyword: concept sentence model, flashcard media, writing skills

Keyword: concept sentence model, flashcard media, writing skills PENGGUNAAN MODEL CONCEPT SENTENCE DENGAN MEDIA FLASHCARD UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI SEMAWUNG TAHUN AJARAN 2014/2015 Oleh: Nur Rahma Suciatika 1, Suhartono 2,

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN PHOTO STORY PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 5 PURWOREJO

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN PHOTO STORY PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 5 PURWOREJO PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN PHOTO STORY PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 5 PURWOREJO Oleh: Anggun Tri Suciati Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NASKAH DRAMA DENGAN MEDIA CERPEN PADA SISWA KELAS XI SMA N 3 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NASKAH DRAMA DENGAN MEDIA CERPEN PADA SISWA KELAS XI SMA N 3 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NASKAH DRAMA DENGAN MEDIA CERPEN PADA SISWA KELAS XI SMA N 3 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh: Eka Susilowati Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Panjang Selatan Kecamatan Panjang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Panjang Selatan Kecamatan Panjang 14 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Panjang Selatan Kecamatan Panjang Bandar Lampung. Alasan menggunakan lokasi atau tempat ini yaitu

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN STRATEGI MIND MAPPING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I PURWOSARI TAHUN PELAJARAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN STRATEGI MIND MAPPING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I PURWOSARI TAHUN PELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI BEBAS DENGAN STRATEGI MIND MAPPING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI I PURWOSARI TAHUN PELAJARAN 2013-2014 Widhihastuti Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan salah satu pokok yang wajib dipelajari dan diajarkan di sekolah-sekolah, pelajaran bahasa Indonesia juga merupakan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Seting Penelitian 1. Tempat Penelitian Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada Sekolah Dasar Negeri 3 Jatibaru Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

Peningkatan Kemampuan Membaca Puisi Melalui Teknik Pemodelan Siswa Kelas IV SDN 05 Bunobogu

Peningkatan Kemampuan Membaca Puisi Melalui Teknik Pemodelan Siswa Kelas IV SDN 05 Bunobogu Peningkatan Kemampuan Membaca Puisi Melalui Teknik Pemodelan Siswa Kelas IV SDN 05 Bunobogu Yayu M.Binol, Ali Karim, Efendi Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan dan intelektual, sosial,

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan dan intelektual, sosial, 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan dan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode dalam penelitian ini adalah metode sosiodrama yaitu suatu penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Metode dalam penelitian ini adalah metode sosiodrama yaitu suatu penelitian BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan pengembangan metode dan strategi pembelajaran. Metode dalam penelitian ini adalah metode sosiodrama yaitu suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu proses dengan melibatkan unsur-unsur yang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu proses dengan melibatkan unsur-unsur yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu proses dengan melibatkan unsur-unsur yang diharapkan dapat meningkatkan pendidikan yang berkualitas. Guru sebagai unsur pokok penanggung

Lebih terperinci

Meningkatkan Apresiasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Labuan Dalam Menyimak Puisi Melalui Strategi Modeling dengan Menggunakan Media Video Rekaman Puisi

Meningkatkan Apresiasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Labuan Dalam Menyimak Puisi Melalui Strategi Modeling dengan Menggunakan Media Video Rekaman Puisi Meningkatkan Apresiasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Labuan Dalam Menyimak Puisi Melalui Strategi Modeling dengan Menggunakan Media Video Rekaman Puisi Asri Kepala SMP Negeri 3 Labuan Kab. Donggala Sulawesi Tengah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. difokuskan pada situasi kelas, atau lazimnya dikenal dengan classroom

BAB III METODE PENELITIAN. difokuskan pada situasi kelas, atau lazimnya dikenal dengan classroom BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode dan rancangan penelitian tindakan yang difokuskan pada situasi kelas, atau lazimnya dikenal dengan classroom action

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

NASKAH PUBLIKASI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S- 1. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI MELALUI METODE ACTIVE KNOWLEDGE SHARING PADA SISWA KELAS IV DI SDN 03 NGARGOYOSO KARANGANYAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013 NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempelajari bahasa saja, tetapi juga mempelajari sastra. Menurut Lukens

BAB I PENDAHULUAN. mempelajari bahasa saja, tetapi juga mempelajari sastra. Menurut Lukens BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah termasuk salah satu mata pelajaran wajib dan selalu ada di setiap jenjang pendidikan mulai dari TK sampai Perguruan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran adalah sebuah proses, pada proses tersebut adanya perubahan dan

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran adalah sebuah proses, pada proses tersebut adanya perubahan dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembelajaran adalah sebuah proses, pada proses tersebut adanya perubahan dan perkembangan yang terjadi pada peserta didik. Supaya perubahan pada peserta didik dalam

Lebih terperinci

Penerapan Keterampilan Proses Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sains (Sifat Benda) di Kelas IV SDN 2 Karamat

Penerapan Keterampilan Proses Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sains (Sifat Benda) di Kelas IV SDN 2 Karamat Penerapan Keterampilan Proses Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sains (Sifat Benda) di Kelas IV SDN 2 Karamat Maria Ulpa Djuanda, Fatmah Dhafir, dan Minarni Rama Jura Mahasiswa

Lebih terperinci

2 PENERAPAN METODE THINK-PAIR-SHARE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMPULKAN ISI BERITA YANG DIBACAKAN PADA PESERTA DIDIK KELAS VII 2 SMPN TELAGA TAH

2 PENERAPAN METODE THINK-PAIR-SHARE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMPULKAN ISI BERITA YANG DIBACAKAN PADA PESERTA DIDIK KELAS VII 2 SMPN TELAGA TAH 1 2 PENERAPAN METODE THINK-PAIR-SHARE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMPULKAN ISI BERITA YANG DIBACAKAN PADA PESERTA DIDIK KELAS VII 2 SMPN TELAGA TAHUN PELAJARAN 2013/2014 OLEH Hasnia Lundeto Fatma

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERMAINAN BAHASA (LANGUAGE GAMES) Tutin Mulyati NIM : 08210086 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi Bandung ABSTRAK Penelitian ini

Lebih terperinci

PENINGKATAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK MELALUI BERMAIN PERAN DI TAMAN KANAK-KANAK SYUKRILLAH AGAM. Azwinar

PENINGKATAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK MELALUI BERMAIN PERAN DI TAMAN KANAK-KANAK SYUKRILLAH AGAM. Azwinar 2 PENINGKATAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK MELALUI BERMAIN PERAN DI TAMAN KANAK-KANAK SYUKRILLAH AGAM 3 Azwinar ABSTRAK Perkembangan bahasa anak di Taman Kanak-kanak Syukrillah Agam masih rendah. Tujuan penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelangsungan berbahasa Indonesia. Termasuk di dalam kegiatan pelangsungan berbahasa

BAB I PENDAHULUAN. pelangsungan berbahasa Indonesia. Termasuk di dalam kegiatan pelangsungan berbahasa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada hakikatnya pembelajaran bahasa harus mencakup sebanyak mungkin kegiatan pelangsungan berbahasa Indonesia. Termasuk di dalam kegiatan pelangsungan berbahasa

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Pada penelitian ini rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Pada penelitian ini rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian 7 BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Rancangan Penelitian Pada penelitian ini rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research)

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan, Pengajaran Bahasa dan Sastra ONOMA PBSI FKIP Universitas Cokroaminoto Palopo

Jurnal Pendidikan, Pengajaran Bahasa dan Sastra ONOMA PBSI FKIP Universitas Cokroaminoto Palopo Peningkatan Keterampilan Menulis Wacana Eksposisi Menggunakan Media Berita dalam Koran Siswa Kelas X Nautika B SMK Pelayaran Samudera Nusantara Utama Palopo Darmawati (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME DI KELAS V

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME DI KELAS V PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KONSTRUKTIVISME DI KELAS V DINI NURSARI nursaridini@yahoo.com Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Siliwangi Bandung ABSTRAK Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Indonesia merupakan salah satu alat komunikasi dan sebagai alat

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Indonesia merupakan salah satu alat komunikasi dan sebagai alat 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Bahasa Indonesia merupakan salah satu alat komunikasi dan sebagai alat pemersatu bangsa indonesia dan diperjelas didalam isi sumpah pemuda yang berbunyi kami

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Lokasi Penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metoda Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Menurut Hopkins (Komalasari, 2010: 270) penelitian tindakan

Lebih terperinci

Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.4 No.2 Juli

Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.4 No.2 Juli PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK PENGAMATAN OBJEK SECARA LANGSUNG Miswanto Guru SMP Negeri 1 Ponorogo Email : smpn1_pon@yahoo.co.id ABSTRAK Penguasaan keterampilan berbahasa khususnya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian mengenai pembelajaran menulis cerpen menggunakan strategi. 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan) dilakukan dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian mengenai pembelajaran menulis cerpen menggunakan strategi. 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan) dilakukan dengan 1 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian mengenai pembelajaran menulis cerpen menggunakan strategi 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan) dilakukan dengan menggunakan metode penelitian

Lebih terperinci

PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SD NEGERI GESIKAN TAHUN AJARAN 2013/2014

PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SD NEGERI GESIKAN TAHUN AJARAN 2013/2014 PENGGUNAAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SD NEGERI GESIKAN TAHUN AJARAN 2013/2014 Agil Mirdiyanto¹, Joharman 2, Kartika Chrysti S 3 1 Mahasiswa

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS. digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

BAB III PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS. digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). BAB III PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. 1 Dan metode penelitian yang digunakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom

BAB III METODE PENELITIAN. yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom 22 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom Action Research.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sastra adalah karya imajinatif yang menggunakan media bahasa yang khas (konotatif) dengan menonjolkan unsur estetika yang tujuan utamanya berguna dan menghibur.

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB 3 METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris

Lebih terperinci

Penerapan Metode Bermain Peran Pada Materi Drama Anak Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 3 SDN Gio

Penerapan Metode Bermain Peran Pada Materi Drama Anak Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 3 SDN Gio Penerapan Metode Bermain Peran Pada Materi Drama Anak Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 3 SDN Gio Hijria.H.Aliakir, Muh. Tahir, dan Saharudin Barsandji Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas

Lebih terperinci

Meningkatkan Kemampuan Menulis Permulaan Siswa Kelas II SDN Lalong Melalui Media Gambar Seri

Meningkatkan Kemampuan Menulis Permulaan Siswa Kelas II SDN Lalong Melalui Media Gambar Seri Meningkatkan Kemampuan Menulis Permulaan Siswa Kelas II SDN Lalong Melalui Media Gambar Seri Yusna Mutakim, Sahrudin Barasandji, dan Sudarkam R. Mertosono Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini dimaksudkan sebagai suatu kajian, refleksi diri, serta tindakan terhadap proses pembelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar siswa

Lebih terperinci

Hasnah PGSD UPP Parepare Fakultas Ilmu Pendidikan UNM

Hasnah PGSD UPP Parepare Fakultas Ilmu Pendidikan UNM Jurnal Publikasi Pendidikan http://ojs.unm.ac.id/index.php/pubpend Volume V Nomor 3 September 2015 ISSN 2088-2092 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESSMENT, SATISFACTION)

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISISISWA KELAS VI SD ISLAM QURROTA A YUN NGUNUTMELALUI PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISISISWA KELAS VI SD ISLAM QURROTA A YUN NGUNUTMELALUI PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISISISWA KELAS VI SD ISLAM QURROTA A YUN NGUNUTMELALUI PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL Imam Sopingi Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Abstrak: Menulis puisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peneliti sebelumnya telah melakukan observasi awal berupa wawancara

BAB I PENDAHULUAN. Peneliti sebelumnya telah melakukan observasi awal berupa wawancara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peneliti sebelumnya telah melakukan observasi awal berupa wawancara dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 40 Bandung, khususnya guru Bahasa

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Dalam penelitian ini, waktu yang digunakan penulis untuk mulai mengadakan penelitian sampai menyelesaikannya adalah selama satu bulan, mulai

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN A.

BAB III METODE PENELITIAN A. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang berusaha menggunakan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Pasundan IV Bandung. Sekolah tersebut berada di jalan Kebon Jati No. 31 Bandung. Dalam penelitian ini, penulis melihat

Lebih terperinci

BAB 3 METODELOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas

BAB 3 METODELOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas 30 BAB 3 METODELOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yaitu penelitian yang digunakan oleh guru didalam

Lebih terperinci

ERLINA DIAH PERMATASARI A

ERLINA DIAH PERMATASARI A PENINGKATAN KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBUATAN PUISI DENGAN METODE MIND MAPPING PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS V SD N 3 GUNTING WONOSARI KLATEN TAHUN PELAJARAN 2012/2013 NASKAH PUBLIKASI Oleh:

Lebih terperinci

Jurnal Bio-Natural (Jurnal Pendidikan Biologi) Vol. 1, No. 2, September-Februari 2015, hlm 1-32

Jurnal Bio-Natural (Jurnal Pendidikan Biologi) Vol. 1, No. 2, September-Februari 2015, hlm 1-32 IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN IPA-KIMIA DENGAN MENGGUNAKAN PERCOBAAN SEDERHANA BERBASIS BAHAN ALAM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMPN 2 MUARA BATU Juwairiah 1) 1 Prodi Pendidikan Matematika,

Lebih terperinci

Peningkatan Kemampuan Mengungkapkan Pendapat Siswa Kelas V SDN Uekambuno 2 melalui Metode Diskusi

Peningkatan Kemampuan Mengungkapkan Pendapat Siswa Kelas V SDN Uekambuno 2 melalui Metode Diskusi Peningkatan Kemampuan Mengungkapkan Pendapat Siswa Kelas V SDN Uekambuno 2 melalui Metode Diskusi Hadijah Lapaga Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako

Lebih terperinci

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 3 No. 3 ISSN X. Ni Ketut Mirniati

Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 3 No. 3 ISSN X. Ni Ketut Mirniati Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Diskusi Pada Mata Pelajaran PKn Tentang Menghargai Dan Menaati Keputusan Bersama Kelas V SDN Inpres 3 Tolai Ni Ketut Mirniati Mahasiswa Program Guru Dalam

Lebih terperinci

Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Metode Demonstrasi Pada Pembelajaran IPA di Kelas V SDN Taopa Kabupaten Parigi Moutong

Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Metode Demonstrasi Pada Pembelajaran IPA di Kelas V SDN Taopa Kabupaten Parigi Moutong Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Metode Demonstrasi Pada Pembelajaran IPA di Kelas V SDN Taopa Kabupaten Parigi Moutong Agreistin E. Peole, Vanny Maria Agustina, dan Lestari Alibasyah Mahasiswa Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai pengetahuan tentang kode bahasa, kode budaya dan kode sastra.

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai pengetahuan tentang kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memahami sebuah karya sastra pada dasarnya bukanlah persoalan mudah, karena pemahaman sastra berkaitan erat dengan proses sifat karya sastra itu sendiri. Maka

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dirancang dengan menggunakan metode penelitian tindakan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dirancang dengan menggunakan metode penelitian tindakan 34 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian yang dirancang dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) yang bersifat reflektif dan kolaboratif. Prosedur penelitian yang digunakan

Lebih terperinci

berkonotasi. Kemampuan menulis puisi merupakan salah satu materi pembelajaran sastra yang diajarkan dikelas. Ketrampilan menulis puisi wajib dikuasai

berkonotasi. Kemampuan menulis puisi merupakan salah satu materi pembelajaran sastra yang diajarkan dikelas. Ketrampilan menulis puisi wajib dikuasai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat empat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Tempat penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 2 Sukoyoso

BAB III METODE PENELITIAN. Tempat penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 2 Sukoyoso 16 BAB III METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian 1. Tempat dan Waktu Tempat penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 2 Sukoyoso Sukoharjo Kabupaten Pringsewu. Waktu penelitian dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mencapai tingkat keberhasilan yang maksimal. Banyak orang yang sulit

BAB 1 PENDAHULUAN. mencapai tingkat keberhasilan yang maksimal. Banyak orang yang sulit 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menulis adalah keterampilan yang membutuhkan proses yang lama untuk mencapai tingkat keberhasilan yang maksimal. Banyak orang yang sulit menuangkan hasil

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam bahasa Inggris disebut Classroom

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam bahasa Inggris disebut Classroom BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam bahasa Inggris disebut Classroom Action Research terdiri dari tiga kata, yaitu penelitian, tindakan, dan kelas.

Lebih terperinci

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Melalui Model Mind Mapping Pada Siswa Kelas X Mas Kapita Kabupaten Jeneponto

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Melalui Model Mind Mapping Pada Siswa Kelas X Mas Kapita Kabupaten Jeneponto JPF Volume 2 Nomor 1 ISSN: 2302-8939 46 Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Melalui Model Mind Mapping Pada Siswa Kelas X Mas Kapita Kabupaten Jeneponto Nurhayati. G Jurusan Pendidikan Fisika,Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah satu penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya

Lebih terperinci

Ida Hamidah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Ida Hamidah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan PERBEDAAN KEMAMPUAN MEMAHAMI ISI PUISI MELALUI KEGIATAN MEMBACA DAN MENDENGARKAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 LEBAKWANGI KABUPATEN KUNINGAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Ida Hamidah Pendidikan Bahasa dan Sastra

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang 27 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang difokuskan pada situasi kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan di kelas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis Penelitian Tindakan

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis Penelitian Tindakan 33 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan classroom action

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom 20 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yaitu Action Research yang dilakukan dalam kelas (Wardhani, 2008:

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan penulis adalah dengan menggunakan penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan penulis adalah dengan menggunakan penelitian 37 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian yang dilakukan penulis adalah dengan menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), karena penelitian tindakan kelas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Action Research (Wardhani, dkk., 2007: 1.3). Selanjutnya Suharsimi

BAB III METODE PENELITIAN. Action Research (Wardhani, dkk., 2007: 1.3). Selanjutnya Suharsimi 43 BAB III METODE PENELITIAN A. Prosedur Penelitian Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom Action Research

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian dengan menggunakan teknik dan alat tertentu. Metode penelitian adalah suatu cara untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode BAB III METODE PENELITIAN Jenis-jenis metode penelitian tergantung pada bidang, tujuan, metode, tingkat eksplanasi dan waktu. Dalam pembahasan ini, penelitian yang dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu,

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia mengarahkan siswa untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE HYPNOTEACHING

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE HYPNOTEACHING PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE HYPNOTEACHING Shila Majid Ardiyani 1), Retno Winarni 2), Matsuri 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jalan Slamet Riyadi 9 Surakarta

Lebih terperinci

PENGGUNAAN TEKNIK PANGGIL PENGALAMAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X SMA N 5 PURWOREJO

PENGGUNAAN TEKNIK PANGGIL PENGALAMAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X SMA N 5 PURWOREJO PENGGUNAAN TEKNIK PANGGIL PENGALAMAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS X SMA N 5 PURWOREJO Oleh: Farida Tuzzaman Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

2015 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PENGALAMAN (EXPERIENTIAL LEARNING)

2015 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PENGALAMAN (EXPERIENTIAL LEARNING) BAB III Metodologi Penelitian A. Metodologi Penelitian Dalam penelitian diperlukan suatu metode dan teknik penelitian yang sesuai dengan masalah yang diteliti sehingga hasil penelitian bisa dipertanggungjawabkan.

Lebih terperinci