PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN BILIH (Mystacoleucus padangensis Blkr) DI DANAU SINGKARAK, SUMATERA BARAT WEZIA BERKADEMI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN BILIH (Mystacoleucus padangensis Blkr) DI DANAU SINGKARAK, SUMATERA BARAT WEZIA BERKADEMI"

Transkripsi

1 PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN BILIH (Mystacoleucus padangensis Blkr) DI DANAU SINGKARAK, SUMATERA BARAT WEZIA BERKADEMI DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

2 RINGKASAN WEZIA BERKADEMI. Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Dibimbing oleh TRIDOYO KUSUMASTANTO dan BENNY OSTA NABABAN. Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) merupakan jenis ikan endemik yang hidup di perairan Danau Singkarak, Sumatera Barat. Tingkat upaya penangkapan ikan Bilih terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh tingginya kebutuhan masyarakat terhadap komoditas perikanan ini. Dorongan ekonomi yang lebih dominan terhadap sumberdaya mengakibatkan terjadinya penurunan produksi dan ukuran tangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengelolaan yang tepat terhadap sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak. Hasil analisis bioekonomi berdasarkan fungsi logistik dengan pendekatan Clark, Yoshimoto, dan Pooley (CYP) diperoleh kondisi optimal nilai biomassa (x) 2.245,92 ton/tahun, hasil tangkapan lestari (h) 953,24 ton/tahun, dan effort (E) nelayan sebesar 630,40 unit standar alat tangkap/tahun sehingga diperoleh rente ekonomi sebesar Rp ,25 per tahun. Berdasarkan hasil perhitungan laju degradasi dan depresiasi, sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak saat ini secara rata-rata belum mengalami degradasi dan depresiasi. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien laju degradasi dan depresiasi yaitu berturut-turut 0, dan 0, Namun pada tahun 2005 diduga telah terjadi degradasi dan depresiasi dengan nilai koefisien berturut-turut 0, dan 0, Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan dengan alat tangkap jaring langli adalah pengalaman dan hasil tangkapan. Pendapatan nelayan dengan alat tangkap alahan dipengaruhi oleh faktor umur, pengalaman dan hasil tangkapan, sedangkan untuk nelayan dengan alat tangkap jala dipengaruhi oleh faktor jarak dan hasil tangkapan. Hasil analisis korelasi diketahui persepsi nelayan langli berhubungan nyata dengan aturan, pendapatan, tanggungan, pendidikan, dan jarak. Persepsi nelayan alahan berhubungan nyata dengan aturan, pendapatan, tanggungan, dan pendidikan. Persepsi nelayan jala berhubungan nyata dengan aturan, pendapatan, umur, dan pengalaman. Berdasarkan hasil analisis bioekonomi dan pendapatan maka diduga telah terjadi biological overfishing dan economic overfishing pada sumberdaya ikan Bilih di perairan Danau Singkarak. Kondisi ini menjadi acuan pentingnya pengelolaan terhadap sumberdaya ini. Pengelolaan dapat diarahkan pada kondisi MSY dengan mengurangi effort sebesar 258 unit langli, 23 unit alahan, dan 70,82 unit jala dengan pertimbangan penyerapan tenaga kerja yang lebih besar dengan tetap memperhatikan kelestarian sumberdaya. Hasil analisis persepsi nelayan menunjukkan kebijakan ini harus didukung oleh aturan/regulasi yang jelas serta pengawasan dari semua pihak. (Kata kunci: Pengelolaan, ikan Bilih, biological overfishing, economic overfishing)

3 PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN BILIH (Mystacoleucus padangensis Blkr) DI DANAU SINGKARAK, SUMATERA BARAT ADALAH KARYA SAYA DENGAN ARAHAN DOSEN PEMBIMBING DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SUMBER INFORMASI YANG BERASAL DARI KARYA YANG DITERBITKAN MAUPUN TIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKAN DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DI BAGIAN AKHIR SKRIPSI INI. Bogor, Oktober 2011 WEZIA BERKADEMI NIM H

4 PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN BILIH (Mystacoleucus padangensis Blkr) DI DANAU SINGKARAK, SUMATERA BARAT WEZIA BERKADEMI H Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

5 Judul Skripsi Nama NIM : Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih (Mystacoleucus padangenesis Blkr) di Danau Singkarak, Sumatera Barat. : Wezia Berkademi : H Pembimbing 1 Menyetujui, Pembimbing II Prof. Dr. Ir. H. Tridoyo Kusumastanto, MS NIP: Benny Osta Nababan, S.Pi, M.Si Mengetahui, Ketua Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT NIP: Tanggal Lulus:

6 KATA PENGANTAR Alhamdulillah puji syukur ke hadirat Illahi Robbi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Atas segala berkah, rahmat, dan karunia ALLAH SWT penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) di Danau Singkarak, Sumatera Barat ini. Dorongan ekonomi cenderung memberikan tekanan yang besar bagi sumberdaya perikanan di Danau Singkarak. Pemanfaatan sumberdaya yang hanya berorientasi pada manfaat jangka pendek mempengaruhi ketersediaan sumberdaya dan kesejahteraan nelayan. Ikan Bilih merupakan spesies endemik yang terancam keberadaannya karena pertimbangan ekonomi yang lebih dominan dibandingkan aspek lainnya. Sehingga tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana upaya untuk melestarikan ikan Bilih di perairan Danau Singkarak melalui pengelolaan yang tepat. Pengelolaan yang berkelanjutan memerlukan integrasi antara ekologi, ekonomi, teknik, dan sosial. Oleh karena itu perlu dikaji alokasi optimum pemanfaatan sumberdaya dalam upaya peningkatan kesejahteraan nelayan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak baik bagi penulis, akademisi, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat serta Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, maupun masyarakat dalam rangka pengelolaan sumberdaya ikan Bilih yang lestari. Bogor, Oktober 2011 WEZIA BERKADEMI

7 UCAPAN TERIMAKASIH Puji Syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT karena atas rahmat dan karunia-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih tak terhingga juga penulis sampaikan kepada kedua orang tua, Mama Yanwarni dan Ayah Unis Dt. Tumanggung yang selalu memberikan doa, dukungan moral dan materiil, dan motivasi yang tidak kunjung lelah kepada penulis untuk terus berjuang menyelesaikan skripsi serta mengejar cita-cita yang lebih tinggi. Terimakasih juga kepada kakak penulis Bang Egi Putra, S.T beserta ipar Kak Nova, S.Pd dan Bang Daeng beserta ipar Kak Wati, A.Md serta dua keponakan penulis yang lucu Afra Azizah dan Qamaela Rezki yang cerewet mengingatkan untuk segera menyelesaikan pendidikan sarjana. Terimakasih penulis sampaikan kepada dosen pembimbing Bapak Prof. Dr. Ir. Tridoyo Kusumastanto, MS dan Bapak Benny Osta Nababan S.Pi, M.Si yang telah banyak memberikan ilmu, bimbingan, dan motivasi hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis ucapkan terimakasih kepada staf DKP Provinsi Sumatera Barat, staf Dinas Pertanian dan Perikanan (Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar), staf BPS Provinsi Sumatera Barat, seluruh nelayan di Danau Singkarak, dan seluruh pihak yang telah membantu penulis di lapangan. Terimakasih juga penulis sampaikan kepada Nopendri, Lora, Ranti, Yola, Tante Dini dan keluarga yang telah memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis untuk tidak menyerah. Seluruh sahabat seperjuangan di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan angkatan 44 serta seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

8 viii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... xi DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xiv I. PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Ruang Lingkup Penelitian Manfaat Penelitian... 6 II. TINJAUAN PUSTAKA Sumberdaya Ikan Bilih Aktivitas Penangkapan Berlebih Sumberdaya Perikanan (Overfishing) Pengkajian Stok dalam Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laju Degradasi Laju Depresiasi Sumberdaya Pendapatan dan Persepsi Nelayan dalam Pengelolaan Perikanan Pendapatan Nelayan Persepsi Nelayan Peranan Pendapatan dan Persepsi Nelayan dalam Pengelolaan Perikanan Instrumen Kebijakan Sumberdaya Perikanan Tinjauan Studi Terdahulu III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran VI. METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Metode Penelitian... 27

9 ix 4.3 Jenis dan Sumber Data Metode Pengambilan Contoh Metode Analisis dan Pengolahan Data Hasil Tangkapan per Upaya (Catch Per Unit Effort) Standarisasi Alat Tangkap Analisis Biologi (Pendugaan Parameter Biologi) Metode Bioekonomi Analisis Laju Degradasi Analisis Laju Depresiasi Analisis Pendapatan Nelayan Analisis Persepsi Nelayan terhadap Kelestarian Sumberdaya Ikan Bilih Asumsi Penelitian Batasan Penelitian V. GAMBARAN UMUM Kondisi Umum Danau Singkarak Wilayah Administratif dan Keadaan Geografis Demografi Potensi Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak Potensi Pertanian Potensi Pertanian di Kabupaten Solok Potensi Pertanian di Kabupaten Tanah Datar Potensi Pariwisata Danau Singkarak VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaan Perikanan Tangkap Ikan Bilih di Danau Singkarak Karakteristik Nelayan Produksi dan Nilai Produksi Sumberdaya Ikan Bilih Produksi dan Effort Sumberdaya Ikan Bilih Catch Per Unit Effort (CPUE) Standarisasi Alat Tangkap Produksi dan Effort Total Sumberdaya Ikan Bilih Pendugaan Parameter Ekonomi... 66

10 x Pendugaan Biaya Pendugaan Harga Analisis Bioekonomi Rezim Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih Rezim Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih untuk Setiap Alat Tangkap Laju Degradasi dan Laju Depresiasi Sumberdaya Ikan Bilih di Sumatera Barat Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Nelayan Terhadap Kelestarian Sumberdaya Ikan Bilih Peraturan Nagari di Nagari Sumpur Implikasi Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak VII. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA

11 xi No DAFTAR TABEL Halaman 1 Matriks Analitis dan Empiris Tujuan Pembangunan Perikanan Formula Perhitungan Pengelolaan Ikan dengan Pendekatan Model CYP Jumlah Penduduk Danau Singkarak Menurut Jenis Kelamin Jumlah Nelayan di Danau Singkarak Jenis Ikan yang Hidup di Danau Singkarak Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten Solok Produksi Komoditi Padi dan Palawija di Kabupaten Tanah Datar Jumlah dan Jenis Alat Tangkap Ikan Bilih di Danau Singkarak Jumlah Sampan di Danau Singkarak Perkembangan Produksi dan Nilai Produksi Sumberdaya Ikan Bilih Perkembangan Produksi dan Effort Sumberdaya Ikan Bilih Nilai CPUE Setiap Alat Tangkap Effective Fishing Effort Produksi dan Effort Total Ikan Bilih Input untuk Analisis dengan Metode CYP Hasil Analisis Ordinary Least Square (OLS) Parameter Biologi Ikan Bilih di Danau Singkarak Rata-Rata Struktur Biaya Setiap Alat Tangkap Biaya Riil Ikan Bilih di Sumatera Barat (2007=100) Harga Riil Ikan Bilih di Sumatera Barat (2007=100) Estimasi Produksi Lestari dan Aktual Hasil Analisis Bioekonomi pada Berbagai Rezim Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih Hasil Analisis Bioekonomi Masing-Masing Alat Tangkap pada Berbagai Rezim Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih Laju Degradasi dan Depresiasi Ikan Bilih Tahun Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Langli Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Alahan... 82

12 xii 27 Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Jala Hasil Analisis Uji Rank Spearman Terhadap Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Nelayan Langli Hasil Analisis Rank Spearman Terhadap Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Nelayan Alahan Hasil Analisis Rank Spearman Terhadap Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Nelayan Jala Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak 104

13 xiii No DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Penurunan Produksi Ikan Bilih di Danau Singkarak 2 2 Perkembangan Ukuran Ikan Bilih Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) Kurva Produksi Lestari Kerangka Pemikiran Penelitian Alat Tangkap Jaring Langli ¾ inci Bentuk Alahan di Paninggahan Bentuk Alahan di Malalo Penjala dengan Menggunakan Sampan Penjala Tegak Sampan dengan Mesin Sampan Tanpa Mesin Umur Nelayan Ikan Bilih di Danau Singkarak Pendidikan Nelayan Ikan Bilih di Danau Singkarak Pengalaman Nelayan Ikan Bilih di Danau Singkarak Jumlah Tanggungan Keluarga Nelayan Tren Penurunan CPUE Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak Perbandingan Tingkat Produksi Lestari dan Produksi Aktual Perbandingan Produksi (h), Effort (E), dan Rente Ekonomi (π) Sumberdaya Ikan Bilih pada Berbagai Rezim Pengelolaan Keseimbangan Bioekonomi Ketiga Alat Tangkap Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak Perbandingan Produksi (h) dan Effort (E) Sumberdaya Ikan Bilih Masing-Masing Alat Tangkap pada Berbagai Rezim Pengelolaan Produksi (h) dan Effort (E) Sumberdaya Ikan Bilih pada Kondisi Aktual dan Berbagai Rezim Pengelolaan... 76

14 xiv No DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Peta Danau Singkarak Data dan Parameter yang Digunakan dalam Analisis Bioekonomi Ikan Bilih di 114 Danau Singkarak... 3 Hasil Analisis Regresi Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak dengan Model Estimasi Clark, Yoshimoto, dan Pooley (CYP) Analisis Bioekonomi Sumberdaya Ikan Bilih dengan MAPLE Hasil Estimasi Laju Degradasi dan Laju Depresiasi Ikan Bilih di Danau Singkarak... 6 Ouput Minitab 14.0 untuk Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan... 7 Output SPSS 16.0 Faktor-Faktor yang Berhubungan Nyata dengan Persepsi Nelayan Terhadap Kelestarian Ikan Bilih... 8 Peraturan Nagari Sumpur

15 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya memiliki 570 jenis spesies ikan tawar dan 46 jenis diantaranya merupakan ikan endemik (Syandri, 2008). Salah satu jenis ikan endemik ini adalah ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr). Ikan Bilih hidup di perairan Danau Singkarak yang merupakan danau kedua terluas di Sumatera Barat setelah Danau Maninjau. Danau Singkarak terletak di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok dengan luas permukaan Ha. Ikan Bilih di Danau Singkarak merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi antara lain harga yang relatif mahal dan wilayah pemasaran yang luas. Ikan Bilih dalam kondisi basah dijual dengan harga Rp sampai Rp per kilogramnya dan dalam keadaan kering mencapai harga Rp sampai dengan Rp per kilogramnya. Selain itu, ikan Bilih tidak hanya dikonsumsi secara lokal oleh masyarakat di Sumatera Barat tetapi juga dipasarkan di daerah Riau, Jambi, Jakarta, dan daerah lainnya. Secara ekonomi ikan Bilih memberikan dampak positif karena merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat di sekitar Danau Singkarak. Secara ekologi sebaliknya, dorongan ekonomi ini menyebabkan terjadinya eksploitasi berlebihan oleh masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Akibatnya masyarakat seringkali melakukan tindakan destruktif yang mengancam keberadaan ikan Bilih yaitu dengan melakukan penangkapan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

16 2 Alat tangkap yang digunakan dalam penangkapan ikan Bilih merupakan alat tangkap tradisional. Alat tangkap tersebut antara lain: jaring langli, alahan, dan jala. Penggunaan ketiga alat tangkap ini secara teknis berbeda. Jaring langli digunakan untuk kegiatan penangkapan di tengah danau. Sedangkan jala dan alahan digunakan di muara-muara sungai yang alirannya menuju Danau Singkarak seperti Sungai Paninggahan, Sungai Baiang, Sungai Sumpur, Sungai Saniang Baka, dan Sungai Muaro Pingai. Alat tangkap tersebut bersifat destruktif karena jaring langli yang digunakan memiliki mata jaring (mesh size) rapat yaitu ¾ inci, sedangkan untuk alat tangkap alahan dalam kegiatan penangkapannya menggunakan perangkap untuk menghalangi ikan yang beruaya menuju sungai sehingga dapat mempengaruhi kelimpahan stok. Hal ini mengakibatkan ikan Bilih yang tertangkap belum matang gonad sehingga menyebabkan penurunan jumlah populasi dan ukuran ikan Bilih. Penurunan jumlah populasi ini menyebabkan penurunan jumlah tangkapan nelayan setiap tahunnya. Penurunan jumlah tangkapan ikan Bilih dapat dilihat pada Gambar 1. Produksi (Ton) Jumlah Produksi Sumber: DKP Provinsi Sumatera Barat, 2010 Tahun Gambar 1. Penurunan Produksi Ikan Bilih di Danau Singkarak

17 3 Pada Gambar 1 di atas dapat dilihat bahwa terjadi penurunan jumlah penangkapan ikan Bilih setiap tahunnya. Penurunan ini tidak hanya dari segi kuantitas tetapi juga kualitas ikan Bilih. Penurunan kualitas ini dapat dilihat dari penurunan ukuran ikan, dimana semakin kecilnya ukuran ikan Bilih yang tertangkap. Penurunan ukuran ikan Bilih tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Panjang (cm) Ukuran Ikan Tahun Sumber: Purnomo dan Kartamihardja, 2008 Gambar 2. Perkembangan Ukuran Ikan Bilih Penurunan jumlah dan ukuran tangkapan ikan Bilih diduga merupakan indikasi terjadinya overfishing pada wilayah perairan Danau Singkarak. Jika kondisi ini terus terjadi maka sumberdaya ikan Bilih yang merupakan jenis sumberdaya yang bersifat endemik ini dikhawatirkan punah. Spesies ini tidak dapat hidup di wilayah perairan lainnya meskipun dengan kondisi fisik perairan yang relatif sama. Pengembangan ikan Bilih pernah dilakukan di perairan Danau Toba Sumatera Utara melalui upaya restocking untuk memanfaatkan ruang yang belum termanfaatkan secara optimal di danau tersebut. Usaha ini tidak berhasil karena ikan Bilih yang dihasilkan memiliki bentuk fisik dan rasa yang berbeda sehingga kurang diminati. Masyarakat sekitar Danau Toba menyebut ikan Bilih ini dengan nama ikan Pora-Pora.

18 4 Kuantitas fisik dari sumberdaya ikan Bilih berubah sepanjang waktu karena adanya proses pertumbuhan (regenerasi). Namun jika titik kritis kapasitas maksimum regenerasi terlewati maka sumberdaya yang dapat diperbaharui akan menjadi sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (Fauzi, 2006). Pengelolaan terhadap pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih diperlukan untuk menghindari pemanfaatan sumberdaya yang berlebihan (overfishing) yang dapat menyebabkan tekanan terhadap sumberdaya sehingga mengurangi ketersediaan stok yang menimbulkan degradasi sumberdaya perikanan serta penurunan pendapatan nelayan. Konsep overfishing menjadi acuan perlunya berbagai tindakan pengelolaan melalui pengaturan perikanan. Penelitian mengenai kajian stok ikan Bilih melalui model bioekonomi ini perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah tangkapan lestari ikan Bilih dengan tingkat keuntungan optimum yang dapat diperoleh tanpa merusak lingkungan dan mengukur tingkat degradasi serta depresiasi yang terjadi di Danau Singkarak. Selain itu perlu dilakukannya analisis terhadap pendapatan dan persepsi nelayan terhadap kelestarian sumberdaya ikan Bilih sebagai acuan dalam pengelolaan sumberdaya ikan Bilih yang berkelanjutan. 1.2 Perumusan Masalah Pengelolaan sumberdaya perikanan seringkali dihadapkan pada masalah kompleksitas yang timbul baik dari sistem sumberdaya itu sendiri maupun sistem sumberdaya dengan manusia sebagai pengambil manfaat. Ikan Bilih merupakan salah satu hasil perikanan tangkap di Danau Singkarak yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan bersifat endemik. Tekanan yang semakin besar terhadap sumberdaya mengakibatkan jumlah produksi dan ukuran tangkapan ikan Bilih

19 5 berfluktuasi setiap tahunnya. Kondisi ini diduga merupakan indikasi telah terjadinya degradasi populasi sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak. Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang diteliti adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat upaya, hasil tangkapan, dan rente ekonomi sumberdaya ikan Bilih pada kondisi aktual, lestari, dan optimal di Danau Singkarak? 2. Bagaimana tingkat laju degradasi dan depresiasi sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak? 3. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pendapatan nelayan dan faktorfaktor apakah yang berhubungan dengan persepsi nelayan terhadap kelestarian sumberdaya ikan Bilih? 4. Bagaimana pengelolaan dalam pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih yang tepat di Danau Singkarak? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian adalah: 1. Menganalisis tingkat upaya, hasil tangkapan, dan rente ekonomi sumberdaya ikan Bilih pada kondisi aktual, lestari, dan optimal di Danau Singkarak. 2. Menganalisis tingkat laju degradasi dan depresiasi sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak. 3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan dan faktor-faktor yang berkorelasi dengan persepsi nelayan terhadap kelestarian sumberdaya ikan Bilih. 4. Menganalisis pengelolaan dalam pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih yang tepat di Danau Singkarak.

20 6 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Penelitian ini difokuskan pada pengelolaan sumberdaya ikan Bilih dari sisi ketersediaan sumberdaya, pendapatan, dan persepsi nelayan. 2. Analisis bioekonomi menggunakan pendekatan Clark, Yoshimoto, and Pooley (CYP), analisis pendapatan nelayan menggunakan regresi linear berganda, dan analisis persepsi nelayan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. 3. Ikan Bilih diasumsikan hanya ditangkap oleh tiga alat tangkap yang dominan digunakan yaitu jaring langli, alahan, dan jala. 4. Analisis bioekonomi, pendapatan, dan persepsi nelayan bertujuan untuk mengetahui kondisi pemanfaatan optimal sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak. 5. Pengelolaan ikan Bilih bertujuan untuk menghindari tekanan yang lebih besar dalam pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak. 1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi: 1. Penulis sebagai pengalaman dan pembelajaran dalam mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. 2. Masyarakat sekitar Danau Singkarak khususnya nelayan sebagai gambaran dan bahan pertimbangan untuk pemanfaatan ikan Bilih secara lestari yang mendatangkan keuntungan optimal. 3. Pemerintah Daerah dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Barat sebagai pertimbangan dalam mengambil kebijakan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya ikan Bilih yang optimal dan berkelanjutan.

21 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sumberdaya Ikan Bilih Ikan Bilih merupakan spesies yang dominan hidup di perairan Danau Singkarak. Hal ini diduga karena habitat danau yang sangat mendukung daur hidup ikan Bilih. Selain itu ikan Bilih memiliki kekuatan berkompetisi yang tinggi dalam memanfaatkan sumberdaya pakan yang ada di perairan tersebut (Azhar, 1993). Klasifikasi ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut: Kelas: Pisces Sub Kelas: Teleostei Ordo: Ostariophysi Sub ordo: Cyprinoidea Family : Cyprinidae Genus: Mystacoleucus Spesies: Mystacoleucus padangensis Blkr Sumber: Dokumentasi Hasil Penelitian, 2011 Gambar 3. Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr)

22 8 Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) merupakan jenis ikan tawar yang hidup dan bersifat endemik di perairan Danau Singkarak. Spesies endemik adalah spesies yang hanya ditemukan di satu tempat dan tidak ditemukan di tempat lain (Indrawan et al, 2007). Panjang ikan Bilih dewasa berkisar antara 58,00-107,00 mm dengan panjang rata-rata 89,00 mm. Bobot tubuh berkisar antara 3,00-10,50 gram dengan berat rata-rata 6,80 gram. Tinggi badan rata-rata 18,50 mm dengan ekor bertipe homocercal. Jari-jari pada sirip punggung, dada, dan perut masingmasing terdiri dari jari-jari keras 1 buah dan jari-jari lemah 8-9 buah. Pada garis sisi (linea lateralis) terdapat sisik yang bersifat sikloid sebanyak 35 buah dan di atas garis sisi sebanyak 5 buah. Sisik daerah perut sampai ekor daerah bawah berwarna putih keperakan. Sedangkan sisik di atas garis sisi atau bagian punggung berwarna agak gelap (kecoklatan). Ikan Bilih tidak memiliki sungut (Yonwarson, 1996 dalam Panudju, 2010). 2.2 Aktivitas Penangkapan Berlebih Sumberdaya Perikanan (Overfishing) Overfishing adalah sejumlah upaya penangkapan yang berlebihan terhadap suatu stok ikan (Widodo dan Suadi, 2006) atau diartikan sebagai jumlah ikan yang ditangkap melebihi jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan stok ikan dalam suatu daerah tertentu (Fauzi, 2005). Menurut Fauzi (2005) serta Widodo dan Suadi (2006) overfishing dikategorikan menjadi beberapa tipe yaitu: 1. Growth Overfishing Situasi ketika stok ikan yang ditangkap rata-rata ukurannya lebih kecil daripada ukuran yang seharusnya berproduksi pada tingkat yield per recruit yang maksimum. Kondisi ini terjadi karena ikan ditangkap sebelum mereka sempat tumbuh mencapai ukuran dimana peningkatan lebih lanjut dari pertumbuhan

23 9 untuk membuatnya seimbang. Pencegahan growth overfishing ini meliputi pembatasan upaya penangkapan, pengaturan ukuran mata jaring, dan penutupan musim atau daerah penangkapan. 2. Recruitment overfishing Situasi dimana populasi ikan dewasa ditangkap sedemikian rupa sehingga tidak mampu lagi melakukan reproduksi untuk memperbaharui ekosistemnya. Pengurangan ini terjadi karena penangkapan sangat tinggi pada stok induk sehingga tidak mampu memproduksi telur. Pencegahannya dapat dengan melakukan proteksi seperti melakukan reservasi terhadap stok induk yang memadai. 3. Economic overfishing Situasi apabila rasio biaya/harga terlalu besar atau jumlah input yang dibutuhkan lebih besar daripada output yang dihasilkan. Input ini lebih besar dibandingkan dengan input yang digunakan untuk berproduksi pada tingkat rente ekonomi yang maksimum (maximized economic rent). 4. Malthusian overfishing Situasi ketika nelayan skala kecil yang biasanya miskin dan tidak memiliki alternatif pekerjaan memasuki industri perikanan namun menghadapi masalah tangkap menurun. 5. Biological overfishing Merupakan kombinasi dari growth overfishing dan recruitment overfishing. Situasi ini akan terjadi jika tingkat upaya penangkapan dalam suatu perikanan tertentu melampaui tingkat yang diperlukan untuk menghasilkan MSY.

24 10 Pencegahan terhadap biological overfishing ini adalah dengan melakukan pengaturan upaya penangkapan dan pola penangkapan (fishing pattern). 6. Ecosystem overfishing Overfishing jenis ini dapat terjadi sebagai hasil dari suatu perubahan komposisi jenis dari suatu stok sebagai akibat dari upaya penangkapan berlebihan, dimana spesies target menghilang dan tidak digantikan sepenuhnya oleh jenis pengganti. Ecosystem overfishing ini mengakibatkan timbulnya suatu transisi dari ikan bernilai ekonomi tinggi berukuran besar kepada ikan bernilai ekonomi berukuran kecil, dan akhirnya ikan rucah (trash fishing) dan/atau invertebrata non komersial seperti ubur-ubur. 2.3 Pengkajian Stok dalam Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Pengkajian stok meliputi penggunaan berbagai perhitungan statistik dan matematik untuk membuat prediksi kuantitatif mengenai reaksi dari berbagai populasi ikan terhadap sejumlah pilihan atau alternatif pengelolaan (Widodo dan Suadi, 2006). Pengkajian stok ikan diharapkan mampu menjadi masukan dalam membuat suatu kebijakan pengelolaan perikanan tangkap sumberdaya ikan yang bersifat terbatas tetapi dapat terbaharui secara lestari. Pengkajian stok ini penting terkait dengan sumberdaya perikanan yang sangat kompleks dan dinamis. Mengkaji pendugaan stok untuk analisis biologi perikanan dapat dilakukan dengan pendekatan model surplus produksi. Model surplus produksi digunakan dalam rangka menentukan upaya (effort) yang optimum (Spare dan Venema, 1999). Sumberdaya perikanan merupakan sumberdaya pulih (renewable) yang sifatnya kompleks, dinamis, dan unobservable. Pendekatan berupa pemodelan

25 11 yang dapat mengestimasi besarnya stok, jumlah tangkapan, dan upaya diperlukan agar sumberdaya tetap lestari dan keuntungan yang diperoleh nelayan optimal. Aspek ekonomi pengelolaan sumberdaya ikan tidak bisa dilepaskan dari aspek biologi perikanan. Namun hubungan antara biologi perikanan dan aspek ekonomi tidaklah bersifat simetris. Satu sisi aspek biologi bersifat independen terhadap ekonomi, tetapi aspek ekonomi dari eksploitasi sumberdaya ikan sangat bergantung pada karakteristik biologi dari stok ikan itu sendiri. Istilah bioekonomi pertama kali diperkenalkan oleh Scott Gordon, seorang ahli ekonomi Kanada karena menggunakan pendekatan ekonomi untuk menganalisis pengelolaan perikanan yang optimal (Fauzi dan Anna, 2005). Pendekatan Gordon tetap menggunakan basis biologi yang sebelumnya sudah diperkenalkan oleh Schaefer (1954). Pendekatan ini kemudian dikenal dengan pendekatan bioekonomi. Pendekatan bioekonomi digunakan dalam pengelolaan sumberdaya perikananan karena model ini telah memasukkan faktor ekonomi dalam analisisnya. Model bioekonomi Gordon-Schaefer dibangun dari model produksi surplus yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Graham pada tahun 1935 (Fauzi dan Anna, 2005). Eksploitasi sumberdaya ikan di suatu perairan membutuhkan berbagai sarana. Sarana tersebut merupakan faktor input yang dalam literatur perikanan disebut sebagai upaya atau effort (Fauzi, 2006). Definisi umum mengenai upaya adalah indeks dari berbagai input tenaga kerja, kapal, jaring, alat tangkap, dan sebagainya yang digunakan dalam proses penangkapan ikan. Berdasarkan pengertian tersebut maka produksi (h) atau aktivitas penangkapan ikan dapat diasumsikan sebagai

26 12 fungsi dari upaya (E) dan stok ikan (x). Secara matematis, hubungan fungsional tersebut dapat ditulis sebagai berikut:, (2.1) Secara umum diasumsikan pula bahwa semakin banyak biomas (stok) maka produksi semakin meningkat, hal ini akan mengakibatkan semakin banyak faktor upaya (input) penangkapan ikan. Artinya hubungan parsial antar kedua variabel input terhadap produksi (h) adalah positif. Secara eksplisit, fungsi produksi yang sering digunakan dalam pengelolaan sumberdaya ikan adalah:... (2.2) Dimana: q = Koefisien kemampuan tangkap atau (catchability coefficient) x = Stok (biomassa ikan) E = Upaya (Effort) Secara teoritis fungsi tersebut di atas tidak realistis karena tidak menunjukkan sifat diminishing return (kenaikan hasil yang semakin berkurang) dari upaya yang merupakan sifat dari fungsi produksi. Hal ini tidak realistis karena dalam jangka pendek stok ikan terbatas sehingga ada batasan maksimum dari produksi. Fungsi produksi yang lebih menggambarkan kondisi yang realistis saat upaya dinaikkan maka produksi akan naik dengan kecepatan menurun adalah sebagai berikut:.. (2.3) Dimana α merupakan elastisitas upaya terhadap produksi dengan nilai yang berkisar antara 0 dan 1. Hal ini menunjukkan adanya diminishing return karena meskipun produksi marjinal terhadap upaya positif ( h/ E>0), kenaikan produksi tersebut akan menurun, atau secara matematis ditunjukkan oleh turunan kedua dari h terhadap E yang negatif ( 2 h/ E 2 <0).

27 13 Fungsi pertumbuhan dalam konsep dasar biologi perikanan disebut sebagai density dependent growth, secara matematik fungsi pertumbuhan mengikuti fungsi logistik dapat ditulis sebagai berikut (Fauzi, 2006): 1 (2.4) Dimana: t = Periode waktu r = Laju pertumbuhan instrinsik (instrinsic growth rate), dan K = Daya dukung lingkungan (carrying capacity) Dengan adanya aktivitas penangkapan atau produksi maka: 1. (2.5) Persamaan (2.2) disubtitusikan ke persamaan (2.5) sehingga diperoleh: 1. (2.6) Sebelum memasukkan faktor ekonomi dalam pengelolaan perikanan, terlebih dahulu dilakukan penurunan dari kurva tangkapan lestari. Penurunan ini diperlukan karena model Gordon-Schaefer dikembangkan berdasarkan produksi lestari dimana kurva pertumbuhan dalam kondisi keseimbangan jangka panjang (long run equilibrium) atau / 0. Oleh karena itu, dalam kondisi keseimbangan persamaan berubah menjadi: 1... (2.7) Maka: 1. (2.8) Apabila persamaan (2.8) tersebut disubtitusikan ke persamaan (2.2) maka diperoleh persamaan dalam bentuk:.k (2.9)

28 14 Persamaan di atas merupakan persamaan kuadratik dalam E dan karena parameter yang lain yaitu q, K, dan r adalah konstanta maka kurva produksi lestari berbentuk kurva logistik yang ditunjukkan oleh Gambar 4. h(e) h MSY E MSY Upaya (Effort) Gambar 4. Kurva Produksi Lestari Hasil tangkapan maksimum lestari dilakukan dengan menganalisis hubungan antara penangkapan (E) dengan hasil tangkapan per upaya (CPUE) dengan membagi kedua sisi dengan tingkat upaya (E). Formulasi persamaannya adalah (Fauzi, 2006):.K (2.11) Dimana: h : Produksi (ton) E : Tingkat upaya atau effort (unit) : Produksi per effort (ton per unit) Sehingga diperoleh CPUE,.... (2.12) Dengan:.. (2.13) ²... (2.14)

29 15 Asumsi yang digunakan dalam pengembangan model Gordon Schaefer antara lain: 1. Harga per satuan output (Rp/kg) diasumsikan konstan atau kurva permintaan diasumsikan elastis sempurna. 2. Biaya per satuan upaya (c) dianggap konstan 3. Spesies sumberdaya ikan bersifat tunggal 4. Struktur pasar bersifat kompetitif 5. Hanya faktor penangkapan yang diperhitungkan (tidak memasukkan faktor pasca panen). 2.4 Laju Degradasi Sumberdaya Degradasi mengacu pada penurunan kualitas/kuantitas sumberdaya alam yang dapat terbarukan (renewable resources). Artinya kemampuan alami sumberdaya alam dapat terbarukan untuk beregenerasi sesuai kapasitas produksinya berkurang. Kondisi ini terjadi baik secara alami maupun pengaruh dari aktivitas manusia. Degradasi sering terjadi akibat aktivitas yang dilakukan manusia. Aktivitas tersebut berupa aktivitas produksi seperti penangkapan ikan berlebihan maupun non-produksi seperti pencemaran limbah (Fauzi dan Anna, 2005). Pentingnya analisis perhitungan kerusakan lingkungan yang berkaitan dengan degradasi sumberdaya alam adalah untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan komperehensif mengenai kondisi sumberdaya. Hal ini dapat dijadikan dasar dalam penentuan kebijakan yang tepat dalam pemanfaatan sumberdaya untuk mencapai pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (Fauzi dan Anna, 2005).

30 Laju Depresiasi Sumberdaya Menurut Fauzi dan Anna (2005), depresiasi merupakan pengukuran deplesi dan degradasi yang dirupiahkan. Degradasi mengacu pada indikator besaran fisik dimana depresiasi sumberdaya ditujukan untuk mengukur perubahan nilai moneter dalam pemanfaatan sumberdaya alam. Nilai depresiasi ini mengacu pada nilai riil bukan nilai nominal yang merupakan indikator perubahan harga seperti inflasi dan Indeks Harga Konsumen yang berlaku untuk setiap komoditi sumberdaya alam. Perikanan termasuk ke dalam sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources) sehingga depresiasi pada sumberdaya perikanan mengacu pada pengukuran nilai moneter dari degradasi perikanan (Fauzi dan Anna, 2005). 2.6 Pendapatan dan Persepsi Nelayan dalam Pengelolaan Perikanan Pendapatan Nelayan Pendapatan rumah tangga nelayan merupakan penjumlahan penerimaan dari sektor perikanan dan bukan sektor perikanan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan nelayan. Pendapatan menunjukkan tingkat kesejahteraan nelayan. Setiap alat tangkap yang digunakan nelayan memiliki selektivitas yang berbeda. Hal ini mengakibatkan pendapatan nelayan bervariasi untuk setiap alat tangkap. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan tersebut antara lain: jumlah produksi, biaya, kekuatan fisik, pengalaman, dan penguasaan teknologi Persepsi Nelayan Persepsi merupakan konsep dan kajian psikologi. Langevelt (1996) dalam Harianto (2001) mendefinisikan persepsi sebagai pandangan individu terhadap suatu obyek (stimulus). Akibat adanya stimulus, individu memberikan reaksi (respon) berupa penerimaan dan penolakan. Konteks persepsi terhadap kelestarian

31 17 sumberdaya ikan Bilih adalah respon nelayan terhadap penurunan jumlah populasi ikan Bilih. Menurut Saarinen (1976), persepsi sosial (social perception) berkaitan dengan pengaruh faktor-faktor sosial dan budaya. Persepsi dibutuhkan dalam pembentukan sikap dan perilaku individu. Asngari (1986) menyatakan bahwa persepsi individu terhadap lingkungan merupakan faktor penting dalam menentukan sikap dan tindakan terhadap lingkungan. Oleh karena itu persepsi tidak bersifat statis. Persepsi dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor internal adalah nilai-nilai dalam diri yang dipadukan dengan hal-hal yang mencakup panca indera. Faktor ini kemudian dipadukan dengan faktor ekternal seperti keadaan lingkungan fisik dan sosial yang direspon melalui tindakan. Menurut Effendy (1984), persepsi individu dipengaruhi oleh tiga faktor: (1) diri orang yang bersangkutan (sikap, motivasi, kepentingan, pengalaman, dan harapan); (2) sasaran persepsi (orang, benda atau peristiwa); (3) situasi (keadaan lingkungan) Peranan Pendapatan dan Persepsi Nelayan dalam Pengelolaan Perikanan Pendapatan dan persepsi nelayan tidak hanya mempengaruhi rencana pengelolaan sumberdaya perikanan tetapi juga menjadi tujuan dalam pengelolaan perikanan. Menurut Fauzi (2010), pengelolaan dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan diperlukan karena regulasi diperlukan untuk mendorong terjadinya efisiensi dalam pengelolaan perikanan yang bersifat barang publik. Teori Gordon- Schaefer telah membuktikan bahwa perikanan yang tidak diatur (open access) cenderung menimbulkan inefisiensi karena terlalu banyak input yang digunakan. Pemanfaatan sumberdaya memerlukan regulasi untuk meningkatkan kualitas serta

32 18 bobot dan ukuran ikan yang ditangkap dan untuk menghindari konflik antar pengguna sumberdaya, serta mencegah pemborosan tenaga kerja dan modal serta untuk mendorong alokasi sumberdaya yang efisien. Pengelolaan terhadap sumberdaya ikan diperlukan dalam bentuk pengendalian jumlah, ukuran, atau jenis ikan yang ditangkap dan pengendalian upaya tangkapan serta bentuk pengelolaan lainnya untuk meningkatkan pendapatan nelayan. Pengelolaan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan terhadap stok ikan sehingga sumberdaya berada pada kondisi Maximum Economic Yield sehingga rente yang diterima masyarakat berada pada tingkat maksimum (Fauzi, 2010). 2.7 Instrumen Kebijakan Sumberdaya Perikanan Menurut Widodo dan Suadi (2006), sumberdaya perikanan perlu dikelola untuk menjamin pemanfaatan sumberdaya yang berkesinambungan, bertanggung jawab, dan efisien secara ekonomi. Pembuatan kebijakan pengelolaan perikanan membutuhkan pertimbangan terhadap aspek biologi, ekologi, sosial, dan ekonomi. Pertimbangan tersebut antara lain: 1. Pertimbangan biologi Sebagai populasi atau komunitas yang hidup, sumberdaya hayati mampu memperbaharui dirinya melalui proses pertumbuhan dalam ukuran (panjang) dan massa (bobot) individu selain pertambahan terhadap populasi atau komunitas melalui reproduksi. Tugas utama dari pemanfaatan perikanan adalah menjamin bahwa mortalitas penangkapan tidak melampaui kemampuan populasi untuk bertahan dan tidak mengancam atau merusak kelestarian serta produktivitas dari populasi ikan yang dimanfaatkan.

33 19 2. Pertimbangan ekologi dan lingkungan Lingkungan dari ikan jarang yang bersifat statis dan kondisi lingkungan akuatik dapat berubah secara nyata menurut waktu. Perubahan lingkungan tersebut dapat mempengaruhi dinamika dari populasi ikan, pertumbuhan, rekruitmen, mortalitas alami, atau kombinasi itu semua sehingga perlu dipertimbangkan. 3. Pertimbangan sosial, budaya, dan kelembagaan Populasi manusia bersifat dinamis dan perubahan sosial selalu terjadi karena dipengaruhi oleh perubahan kondisi politik dan faktor lainnya. Perubahanperubahan ini dapat mempengaruhi efektivitas dan strategi pemanfaatan sehingga perlu dipertimbangkan dan diakomodasi. 4. Pertimbangan ekonomi Kekuatan pasar sangat berpengaruh terhadap pengelolaan perikanan. Kondisi pengelolaan perikanan yang dihadapkan pada kondisi akses terbuka (open access) membutuhkan pertimbangan pengelolaan yang efektif untuk menghindari terjadinya over exploitation. Fauzi (2010) menyatakan bahwa sumberdaya perikanan merupakan aset alam yang diekstraksi untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi manusia. Namun demikian aspek manfaat ini memiliki berbagai dimensi, baik dimensi ekonomi, ekologi, maupun sosial. Kompleksitas sumberdaya ikan ini menyebabkan tujuan pembangunan perikanan juga semakin kompleks. Tujuan pembangunan perikanan ini tertuang dalam UU 31/2004 jo UU No.45 tahun 2009 yaitu tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan serta terjaminnya kelestarian sumberdaya ikan (Bab IV, pasal 6 ayat 1, UU No.31/2004). Tujuan pembangunan perikanan menurut Fauzi (2010) dapat dilihat pada Tabel 1.

34 20 Tabel 1. Matriks Analitis dan Empiris Tujuan Pembangunan Perikanan Aspek Pengelolaan Dimensi Pengelolaan Keberlanjutan Efisiensi Equity Ekonomi Ekonomi 1. Memaksimumkan rente ekonomi 2. Meningkatkan pendapatan nelayan 3. Mempertahankan harga yang baik untuk konsumen 4. Meningkatkan efektivitas pembiayaan 5. Mengurangi overcapacity 6. Meningkatkan ekspor/devisa 7. Meningkatkan penerimaan Negara Sosial 8. Menyediakan lapangan pekerjaan 9. Mengurangi konflik antar nelayan dan stakeholders lainnya 10. Meningkatkan partisipasi perempuan 11. Menjaga hak-hak tradisional/skala kecil Tekno-ekologi 12. Memaksimumkan tangkapan 13. Menstabilkan stok 14. Memelihara ekosistem yang sehat 15. Memperbaiki kualitas hasil tangkapan 16. Konservasi sumberdaya ikan 17. Mencegah/mengurangi buangan (waste of fish) 18. Menstabilkan laju penangkapan (Catch rates) Sumber: Fauzi, 2010 Secara umum tujuan pengelolaan perikanan menurut Widodo dan Suadi (2006) dibagi ke dalam empat kelompok tujuan yaitu biologi, ekologi, ekonomi, dan sosial meliputi:

35 21 1. Menjaga spesies target berada di tingkat atau di atas tingkat yang diperlukan untuk menjamin produktivitas yang bekelanjutan. 2. Meminimalkan berbagai dampak penangkapan atas lingkungan fisik dan hasil tangkapan sampingan. 3. Memaksimumkan pendapatan bersih bagi nelayan yang terlibat dalam perikanan. 4. Memaksimumkan kesempatan kerja bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan mereka pada perikanan. Menurut Widodo dan Suadi (2006), untuk mencapai tujuan pengelolaan tersebut dibutuhkan teknik-teknik pengelolaan perikanan diantaranya: 1. Pengaturan ukuran mata jaring (dari pukat atau alat tangkap yang digunakan). 2. Pengaturan batas ukuran ikan yang boleh ditangkap, di daratkan, atau dipasarkan. 3. Kontrol terhadap musim penangkapan ikan (openned or closed season). 4. Kontrol terhadap daerah penangkapan (openned or closed areas). 5. Pengaturan terhadap alat tangkap serta perlengkapannya di luar pengaturan ukuran mata jaring (mesh size). 6. Perbaikan dan peningkatan sumberdaya hayati (stock enhancement). 7. Pengaturan hasil tangkapan total per jenis, kelompok jenis, atau bila memungkinkan lokasi atau wilayah. 8. Setiap tindakan langsung yang berhubungan dengan konservasi semua jenis ikan dan sumberdaya hayati lainnya dalam wilayah perairan tertentu. 9. Penutupan daerah atau musim penangkapan untuk melindungi ikan-ikan pada saat mereka memijah atau dalam perjalanan untuk memijah. Tindakan ini

36 22 ditujukan untuk melindungi individu-individu ikan dewasa yang akan melakukan regenerasi untuk mendukung kelangsungan masa depan stok ikan. 2.8 Tinjauan Studi Terdahulu Studi penelitian terdahulu dimaksudkan untuk mengkaji penelitian-penelitian yang telah dilakukan dengan mengangkat topik, produk, maupun alat analisis yang sama. Akbar (2010), melakukan penelitian mengenai Kajian Ekonomi Sumberdaya Perikanan Tangkap di Kabupaten Pemalang. Tujuan penelitian adalah mengkaji alokasi optimum pemanfaatan sumberdaya ikan Teri dengan menggunakan model bioekonomi. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Hasil perhitungan optimum menghasilkan kondisi optimal nilai biomassa (x) 159,221 ton/tahun, hasil tangkapan lestari (h) 75,110 ton/tahun, dan effort (E) nelayan sebesar trip/tahun. Haloho (2010), melakukan penelitian tentang Analisis Bioekonomi Sumberdaya Lobster yang Berkelanjutan di Pangandaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat optimal serta tingkat degradasi yang terjadi. Nilai biomas (x) optimal berdasarkan rezim Maximum Economic Yield lebih besar dari pada rezim lainnya yaitu sebesar 162,99 ton dengan tingkat effort (E) sebesar 74,631 trip, dan produksi (h) sebesar 70,71 ton dengan tingkat degradasi 37% setiap tahunnya. Penelitian mengenai sumberdaya ikan Bilih dilakukan oleh Panudju (2010) dengan judul Kajian Ekologis Habitat dan Sumberdaya bagi Konservasi Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Tujuan penelitian adalah mengkaji kondisi ekologis habitat Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) untuk rekomendasi kebijakan pengelolaan sumberdaya.

37 23 Penelitian Akbar (2010) dan Haloho (2010) memiliki persamaan dalam penelitian ini untuk alat analisis berupa analisis bioekonomi dalam menentukan perikanan tangkap yang optimal serta tingkat degradasi, sedangkan penelitian Panudju (2010) memiliki persamaan dalam hal komoditas yang diteliti yaitu sumberdaya ikan Bilih. Perbedaan yang menonjol dari penelitian ini adalah adanya spesifikasi dalam hal penelitian karena tidak hanya mengukur sumberdaya ikan Bilih dari segi produksi yang optimal dengan pendekatan bioekonomi saja, tetapi juga menghitung tingkat degradasi dan depresiasi yang terjadi di Danau Singkarak serta kebijakan yang tepat dalam pengelolaan sumberdaya ikan Bilih melalui analisis pendapatan dan persepsi nelayan sehingga hasil yang diperoleh tentunya akan pasti berbeda.

38 24 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian Danau Singkarak merupakan danau yang memiliki kekhasan ekosistem sehingga memiliki potensi perikanan darat yang khas khususnya untuk sumberdaya ikan yang bersifat endemik. Ikan endemik tersebut adalah ikan Bilih atau Mystacoleucus padangensis Blkr. Ikan Bilih hanya dapat tumbuh di Danau Singkarak sehingga tidak dapat dikembangkan di perairan lainnya. Ikan Bilih memiliki nilai ekonomi tinggi karena harga jual yang tinggi di pasaran yaitu mencapai Rp sampai Rp per kilogramnya dan dalam keadaan kering mencapai harga Rp sampai dengan Rp per kilogramnya. Ikan Bilih tidak hanya dikonsumsi secara lokal oleh masyarakat Sumatera Barat tetapi juga dipasarkan di daerah Riau, Jakarta, dan wilayah lainnya. Potensi ekonomi ini memberikan dampak positif dan negatif bagi sumberdaya ikan Bilih. Keberadaan ikan Bilih memberikan pengaruh positif bagi pendapatan masyarakat sekitar Danau Singkarak. Tetapi dorongan untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar memicu terjadinya penangkapan yang berlebih (overfishing) sehingga memberikan dampak negatif bagi keberadaan ikan Bilih di masa datang. Analisis bioekonomi terhadap ketersediaan stok ikan dan laju degradasi perlu dilakukan sebagai pertimbangan kebijakan pengelolaan yang berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dalam rangka meningkatkan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di Danau Singkarak karena pada umumnya kendala yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan adalah sulitnya mengetahui

39 25 jumlah stok ikan dan jumlah upaya optimal yang seharusnya dilakukan. Hal ini terkait dengan sifat alamiah sumberdaya ikan yang dinamis dalam ruang tiga dimensi serta tidak adanya property right yang jelas (bersifat common property) sehingga menyebabkan masyarakat sekitar Danau Singkarak bebas keluar masuk dalam pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih karena kondisi yang open access. Apabila hal ini terus dibiarkan maka mengakibatkan terjadinya kepunahan sumberdaya ikan Bilih karena adanya over eksploitasi yang mengarah pada kondisi overfishing. Data-data yang digunakan dalam analisis bioekonomi ini terdiri dari aspek biologi yaitu: koefisien kemampuan tangkap, daya dukung lingkungan, dan laju pertumbuhan instrinsik. Sedangkan aspek ekonomi yaitu: hasil tangkapan, upaya tangkapan, harga rata-rata ikan, dan biaya operasional. Data ini diperoleh melalui data primer, data sekunder, dan hasil analisis untuk mendapatkan rente sumberdaya dengan berbagai rezim pengelolaan perikanan. Selain itu dilakukan analisis terhadap laju degradasi dan depresiasi di Danau Singkarak. Analisis laju degradasi dan depresiasi dapat dihitung dengan menggunakan data yang diperoleh dari hasil analisis bioekonomi. Hasil analisis bioekonomi, degradasi, serta depresiasi akan menghasilkan kondisi pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih saat ini. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap pendapatan nelayan dan persepsi nelayan terhadap kelestarian sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak. Setelah melakukan tahapan-tahapan tersebut maka kondisi pemanfaatan sumberdaya dan hasil analisis terhadap pendapatan dan persepsi yang diperoleh untuk dijadikan sebagai justifikasi dalam menentukan

40 26 pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih selanjutnya. Kerangka berpikir penelitian dapat dilihat pada Gambar 5. Potensi Perikanan Darat yang Bersifat Endemik di Danau Singkarak Pemanfaatan Ikan Bilih di Danau Singkarak Ketersediaan Sumberdaya Ikan Bilih Tingkat Laju Degradasi dan Depresiasi Ikan Bilih Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih yang telah dilakukan Masyarakat Aspek Biologi Aspek Ekonomi Parameter r, q, K Parameter p dan c Analisis Bioekonomi Rente Sumberdaya Ikan Bilih Analisis Laju Degradasi dan Depresiasi Analisis Pendapatan dan Persepsi Nelayan Kondisi Pemanfaatan Ikan Bilih di Danau Singkarak Pemanfaatan Ikan Bilih yang Optimal dan Berkelanjutan Gambar 5. Kerangka Pemikiran Penelitian

41 27 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Danau Singkarak, Provinsi Sumatera Barat (Lampiran 1). Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret-April Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Danau Singkarak merupakan tempat hidup ikan endemik yaitu ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) yang sulit untuk hidup di wilayah perairan lainnya. 4.2 Metode Penelitian Metode penelitian menggunakan metode survei. Survei adalah suatu kajian terhadap sejumlah obyek penelitian yang memungkinkan peneliti untuk memaparkan semua obyek yang diwakilinya (Nasution, 2003). Penelitian dengan metode ini dipilih karena dapat dijadikan basis dalam pengambilan keputusan dari obyek yang diwakilinya secara keseluruhan. Metode survei terdiri dari survei kuantitatif yaitu mengamati kondisi fisik dan data statistik sumberdaya ikan Bilih dan survei kualitatif yang mengamati interaksi sosial masyarakat dengan sumberdaya ikan Bilih. 4.3 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan dan wawancara langsung dengan nelayan serta key person. Key Person yang dimaksud adalah pejabat di lingkungan Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Provinsi Sumatera Barat dan Dinas Pertanian dan Perikanan (Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok) serta instansi terkait lainnya yang memiliki kompetensi dalam

42 28 pengambilan keputusan dan kebijakan pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak. Data primer yang diperoleh dari hasil wawancara responden adalah data mengenai karakteristik nelayan, jumlah produksi, harga, biaya operasional, pendapatan, dan persepsi nelayan melalui kuisioner dan survei. Sedangkan data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data berkala (time series) hasil tangkapan, upaya tangkapan, dan harga rata-rata ikan selama periode 8 tahun terakhir, alat tangkap, IHK, jumlah penduduk, dan keadaan umum wilayah penelitian. Data sekunder diperoleh dari DKP Provinsi Sumatera Barat, Dinas Pertanian dan Perikanan (Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok), Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok). Selain itu data sekunder juga diperoleh dari studi literatur yang relevan dengan penelitian ini seperti buku, tesis, skripsi, internet, serta instansi lain yang terkait. Data diolah dengan menggunakan perangkat lunak diantaranya Microsoft Excell 2007, Maple 11, Minitab 14, dan SPSS 15.0 for windows. 4.4 Metode Pengambilan Contoh Metode pengambilan contoh pada penelitian ini dilakukan dengan probability sampling dengan teknik multistage sampling. Langkah pertama yang dilakukan dalam pengambilan contoh bertingkat ini adalah mengidentifikasi desa/nagari yang berada di sekitar Danau Singkarak (Nagari Salingka Danau), langkah kedua adalah memilih beberapa nagari tersebut dengan menggunakan metode purposive sampling dengan ketentuan nagari yang memiliki alat tangkap dominan dan nagari yang memiliki aturan dalam penangkapan ikan Bilih. Kemudian langkah terakhir

43 29 adalah pengambilan contoh nelayan yang diteliti sebagai responden sebanyak 30 orang untuk setiap alat tangkap. Menurut Nasution (2003), teknik pengambilan contoh secara bertingkat ini dapat dilakukan jika populasi homogen, jumlah contoh besar, populasi menempati wilayah yang luas, serta terbatasnya biaya penelitian. 4.5 Metode Analisis dan Pengolahan Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui pendekatan analisis surplus produksi, analisis bioekonomi, analisis laju degradasi, analisis depresiasi, dan analisis regresi terhadap pendapatan, serta analisis korelasi. Analisis surplus produksi dan analisis bioekonomi digunakan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan stok biomas ikan Bilih serta rente ekonomi dari aktivitas penangkapan ikan Bilih tersebut. Analisis laju degradasi digunakan untuk mengetahui perubahan potensi sumberdaya ikan Bilih dari sisi kualitas dan kuantitas di Danau Singkarak dan analisis depresiasi digunakan untuk mengukur perubahan nilai moneter dari pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih tersebut. Analisis terhadap pendapatan digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan dari setiap alat tangkap serta analisis korelasi untuk menganalisis hubungan antara persepsi dengan faktor internal dan eksternal nelayan Hasil Tangkapan per Upaya (Catch Per Unit Effort) Data hasil upaya penangkapan ikan dianalisis dengan menghitung nilai hasil tangkapan per upaya penangkapan (CPUE). Tujuan dari perhitungan CPUE adalah untuk mengetahui kelimpahan dan tingkat pemanfaatan perikanan berdasarkan pembagian total hasil tangkapan (catch) dengan upaya penangkapan

44 30 (Effort). Formulasi yang digunakan dalam menghitung nilai CPUE adalah (Fauzi dan Anna, 2005):. (4.1) Keterangan: CPUE t = Hasil tangkapan ikan Bilih per upaya penangkapan pada tahun ke-t (ton per unit) Catch t = Hasil tangkapan ikan Bilih pada tahun ke-t (ton) Effort t = Upaya penangkapan ikan Bilih pada tahun ke-t (unit) Standarisasi Alat Tangkap Alat tangkap yang beragam jenisnya akan menyulitkan dalam penelitian karena setiap alat tangkap memiliki kemampuan penangkapan yang berbeda-beda. Oleh karena itu perlu dilakukan standarisasi untuk memperoleh effective fishing effort yang setara. Teknik untuk memperoleh effective fishing effort adalah:.. (4.2) Dimana: Ea = Effort alat tangkap a yang distandarisasi = Nilai kemampuan penangkapan (fishing power index) alat tangkap a Ga = Jumlah alat tangkat a yang digunakan Nilai kemampuan penangkapan (fishing power index) dari alat tangkap a diperoleh dari:.. (4.3) Dimana: = Catch per unit effort (CPUE) dari alat tangkap a = Catch per unit effort (CPUE) dari alat tangkap distandarisasi

45 Analisis Biologi (Pendugaan Parameter Biologi) Analisis biologi digunakan untuk menduga stok atau potensi sumberdaya ikan, serta untuk mengetahui kondisi optimum dari tingkat upaya penangkapan. Metode yang digunakan adalah metode surplus produksi. Metode ini bertujuan untuk menentukan tingkat output optimum, yaitu suatu upaya yang dapat menghasilkan tangkapan maksimum yang lestari tanpa mempengaruhi produktivitas stok jangka panjang serta biasa disebut hasil tangkapan maksimum lestari (Maximum Sustainable Yield). Pendekatan estimasi parameter biologi menggunakan fungsi logistik dilakukan dengan menggunakan model yang dikembangkan Clark, Yoshimoto, dan Pooley (1992) yang lebih dikenal dengan model CYP. Adapun persamaan dinotasikan sebagai berikut: +₁ ln ln +₁... (4.4) Hasil regresi akan menghasilkan nilai α, β, dan γ. Kemudian ketiga nilai tersebut dimasukkan ke dalam model estimasi CYP sehingga diperoleh laju pertumbuhan alami (r), koefisien kemampuan tangkap (q), dan daya dukung perairan (K) dengan formulasi sebagai berikut: r = (4.5) q γ 2 r.... (4.6) K = /.... (4.7) Metode Bioekonomi Nilai parameter r, q, dan K yang telah diperoleh disubtitusikan ke dalam persamaan (2.9) untuk memperoleh manfaat lestari antar waktu. Metode

46 32 bioekonomi memasukkan variabel ekonomi. Biaya penangkapan yang digunakan dalam estimasi merupakan rata-rata biaya operasional penangkapan. Biaya ini merupakan biaya nominal yang secara matematis dapat ditulis: (4.8) Keterangan: Cnom t = Biaya nominal rata-rata tahun t (Rp per unit upaya) Ci = Biaya penangkapan responden ke-i (Rp per unit upaya) n = Jumlah responden Biaya nominal distandarisasi dengan menggunakan IHK untuk menghindari inflasi dengan rumus: (4.9) Keterangan: Criil t = Biaya riil ikan Bilih pada tahun t (Rp per unit upaya) Cnom t = Biaya nominal rata-rata tahun t (Rp per unit upaya) IHKt = Indeks Harga Konsumen pada tahun t Sedangkan harga ikan Bilih dapat ditentukan dengan rumus: (4.10) Keterangan: Priil t = Harga riil ikan Bilih pada tahun t (Rp per ton) Pnom t = Harga nominal ikan Bilih tahun ke-t (Rp per ton) IHKt = Indeks Harga Konsumen pada tahun t Jika kedua parameter ekonomi tersebut telah diketahui, maka TR (Total Revenue), TC (Total Cost), dan keuntungan ekonomi (π) diperoleh dengan persamaan (Fauzi, 2006):..... (4.11).... (4.12)

47 33 Maka.. (4.13).. (4.14) 1... (4.15) Keterangan: = Rente Ekonomi TR = Total Penerimaan TC = Total biaya Menentukan solusi optimal pengelolaan sumberdaya ikan Bilih, maka digunakan model estimasi parameter Clark, Yoshimoto dan Pooley (CYP). Pendekatan ini dilakukan dalam rangka mencari keuntungan maksimum dari kegiatan perikanan tangkap. Menurut Fauzi dan Anna (2005), penentuan alokasi optimal sumberdaya perikanan tangkap tersebut dilakukan melalui tahapantahapan berikut: 1. Mengidentifikasi seluruh data dan informasi kemudian menyusun data produksi dan upaya (effort) dalam bentuk urutan waktu (series). Jika menyangkut multigear mulitispecies maka harus dipisahkan menurut jenis alat tangkap dan produksi yang diusahakan menurut target spesies dari alat tangkat yang dianalisis. Hasil yang terbaik diperoleh jika data yang digunakan adalah 15 tahun atau lebih. Namun dalam penelitian ini hanya menggunakan data 8 tahun karena keterbatasan data. 2. Melakukan standarisasi alat tangkap karena adanya variasi dari kekuatan alat tangkap. Standarisasi dapat dilakukan dengan menjumlahkan total unit input agregat (total effort). Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :

48 34 dimana ND jt adalah tingkat input nominal dan ψ jt adalah indeks daya tangkap yang diukur berdasarkan rasio CPUE dari alat tangkap j terhadap alat tangkap standar. 3. Menganalisis data dengan menggunakan model estimasi parameter Clark, Yoshimoto dan Pooley (CYP) untuk memperoleh beberapa parameter biologi, seperti nilai r (instrinsic growth rate) dari sumberdaya ikan, nilai K (carrying capacity), dan nilai q (coefficient of catchability). Parameter ini digunakan untuk menghitung Maximum Suistainable Yield (MSY). 4. Memasukkan data cross section seperti parameter ekonomi harga (p) dan biaya (c). Perhitungan dengan metode Clark, Yoshimoto dan Pooley (CYP) ini dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Formula Perhitungan Pengelolaan Ikan dengan Pendekatan Model CYP Kondisi Variabel MSY MEY OA Stok (x) Hasil 1 1 Tangkapan (h) Effort (E) (p.hmsy)-(c.emsy) Rente Ekonomi (π) (p.hmey)-(c.emey) (p.hoa)-(c.eoa) Sumber: Nababan, Analisis Laju Degradasi Sumberdaya perikanan sangat rentan mengalami degradasi akibat adanya aktivitas pemanfaatan terhadap sumberdaya. Laju degradasi dari sumberdaya ikan dapat dihitung menggunakan formulasi (Anna, 2003):

49 35 Dengan:. (4.16) hst = Produksi lestari hat = Produksi aktual = Koefisien atau laju degradasi Apabila nilai laju degradasi melebihi 0,5 ( >0,5) maka sumberdaya ikan mengalami degradasi, sebaliknya jika nilai laju degradasi kurang dari 0,5 ( <0,5), maka sumberdaya ikan di perairan suatu wilayah belum mengalami degradasi (Fauzi dan Anna, 2005) Analisis Laju Depresiasi Perhitungan laju depresiasi sumberdaya menurut Anna (2003) pada dasarnya sama dengan laju degradasi. Namun dalam hal ini parameter ekonomi menjadi variabel yang menentukan perhitungan laju depresiasi yang dirumuskan sebagai berikut (Wahyudin, 2005):. (4.17) Dengan: πst = Rente lestari πat = Rente aktual = Koefisien atau laju depresiasi Analisis Pendapatan Nelayan Analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan adalah analisis regresi linear berganda dengan metode OLS (Ordinary Least Square). Penggunaan metode ini berdasarkan pertimbangan bahwa analisis regresi merupakan metode statistik yang dipergunakan untuk menentukan kemungkinan bentuk hubungan antara variabel.

50 36 Tujuan analisis ini adalah untuk memperkirakan nilai dari suatu variabel dalam hubungannya dengan variabel yang diketahui (Juanda, 2009). Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi pendapatan tersebut antara lain adalah umur, pengalaman, tingkat pendidikan, jarak tempat tinggal dengan lokasi penangkapan, biaya penangkapan, dan hasil tangkapan. Hubungan ini secara matematis dirumuskan sebagai berikut: Y = β 0 + β 1 X 1 + β 2 X 2 + β 3 X 3 + β 4 X 4 + β 5 X 5 + β 6 X 6 +ε... (4.18) Keterangan: Y = Pendapatan nelayan (Rupiah/Tahun) β 0 β 1- β 5 X 1 X 2 X 3 X 4 X 5 X 6 = Intersep = Koefisien regresi = Umur nelayan (Tahun) = Lama sekolah (Tahun) = Jarak menuju lokasi penangkapan (Meter) = Pengalaman (Tahun) = Biaya penangkapan (Rupiah) = Hasil tangkapan (Kg) ε = Error Term Hipotesis dari model regresi linear berganda pendapatan nelayan adalah variabel umur (X 1 ) berhubungan negatif dengan pendapatan, artinya bertambahnya umur seorang nelayan akan menurunkan rata-rata pendapatan yang diperoleh. Sedangkan untuk variabel lama sekolah (X 2 ), jarak menuju lokasi penangkapan (X 3 ), pengalaman (X 4 ), biaya penangkapan (X 5 ), dan hasil tangkapan (X 6 ) memiliki hubungan yang positif dengan pendapatan. Pengujian secara statistik perlu dilakukan untuk memeriksa kebaikan suatu model yang telah dibuat. Menurut Juanda (2009), uji statistik yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah:

51 37 1. Uji Keandalan Uji keandalan digunakan untuk melihat sejauh mana besar keragaman yang dapat diterangkan oleh variabel bebas terhadap variabel tak bebas. Uji ini juga digunakan untuk melihat seberapa kuat variabel yang dimasukkan ke dalam model dapat menerangkan model. Uji keandalan ini dapat dilihat dari nilai R 2 terkoreksi. Rumus menghitung R 2 terkoreksi adalah: R 1 Vâ 1 1 Vâ Y R.. (4.19) 2. Uji Statistik F Uji F digunakan untuk membuktikan secara statistik bahwa seluruh koefisien regresi juga signifikan dalam menentukan nilai dari variabel tak bebas. Hipotesis uji F adalah: H 0 = Model secara keseluruhan tidak signifikan H 1 = Model secara keseluruhan signifikan Maka tolak H 0 jika P value <alpha (α). Artinya secara keseluruhan model signifikan. 3. Uji Multikolinearitas Multikolinearitas adalah kondisi dimana adanya hubungan antar variabelvariabel bebas satu sama lainnya. Untuk mendeteksi multkolinearitas dapat dideteksi dengan nilai (1-R 2 j ) -1 yang disebut Variance Inflation Factor (VIF) yang menggambarkan kenaikan var(b j ) karena korelasi antar peubah penjelas. Multikolinearitas terjadi jika nilai VIF kecil dari Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah ragam sisaan (ε t ) sama (homogen) atau Var(ε i )=E(ε i 2 )=σ 2 untuk pengamatan ke-i dari peubah-peubah bebas dalam regresi. Mendeteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan

52 38 grafik. Heteroskedastisitas tidak terjadi jika grafik dari ragam sisaan tidak membentuk pola atau menyebar normal. Hipotesis yang digunakan adalah: H 0 : σ 1 2 = σ 2 2 = = σ N 2 = σ ε 2 = σ 2 (ragam sisaan homogen) Spesifikasi hipotesis alternatif yang diuji tergantung dari prosedur pendugaan yang dipertimbangkan untuk koreksi heteroskedastisitas yang diinginkan. 5. Uji Autokorelasi Autokorelasi adalah tidak adanya korelasi serial antar sisaan (ε t ) atau sisaan menyebar bebas atau Cov(ε i,ε j ) = E(ε i, ε j ) = 0 untuk semua i j. Cara mendeteksi autokorelasi adalah dengan memplotkan data e t pada sumbu vertikal dan waktu (t) pada sumbu horizontal sehingga dapat dilihat polanya apakah bebas atau tidak bebas (punya pola tertentu) atau menggunakan nilai staistik uji Durbin- Watson dengan menggunakan nilai-nilai sisaan dari hasil dugaan OLS. (4.20) Analisis Persepsi Nelayan terhadap Kelestarian Sumberdaya Ikan Bilih Analisis data yang digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi nelayan terhadap kelestarian sumberdaya ikan Bilih adalah dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Tujuan dari analisis korelasi ini adalah mengetahui ukuran kekuatan atau kekuatan hubungan antara dua variabel. Koefisien korelasi mengukur kekuatan tersebut secara linear (Gujarati, 1995). Formulasi perhitungan koefisien Rank Spearman menurut Trihendradi (2009):.... (4.21)

53 39 Keterangan: d i = Disparitas atau selisih variabel X 1 dan X 2 X 1 dan X 2 = Variabel yang akan diteliti n = Banyak pengamatan Nilai koefisien korelasi ini memiliki rentang antara 0 sampai dengan 1 atau 0 sampai dengan -1. Tanda positif dan negatif menunjukkan arah hubungan. Tanda positif menunjukkan arah hubungan searah. Jika satu variabel meningkat maka variabel yang lainnya meningkat dan sebaliknya. Semakin tinggi nilai korelasi maka semakin tinggi keeratan suatu hubungan antara kedua variabel (Trihendradi, 2009). Faktor yang diduga berhubungan nyata dengan persepsi adalah aturan pengelolaan yang berlaku, kategori penduduk, jarak tempat tinggal dengan sumberdaya ikan Bilih, alternatif pekerjaan lain, dan pendapatan total nelayan. 4.6 Asumsi Penelitian Penelitian ini menggunakan beberapa asumsi yang ditetapkan berdasarkan asumsi yang dikembangkan oleh Clark (1985), yaitu: 1) Keadaan perairan tidak terjadi bencana maupun pencemaran 2) Populasi ikan Bilih menyebar secara merata di seluruh daerah tangkapan yaitu Danau Singkarak. 3) Biaya penangkapan ikan Bilih per unit upaya adalah konstan yang dihitung dari biaya rata-rata operasional nelayan. Biaya operasional ini diperoleh dari penjumlahan semua biaya yang dibutuhkan nelayan selama melaut, dan di darat terkait dengan kegiatan penangkapan dalam perhitungan analisis bioekonomi.

54 40 4) Harga ikan Bilih per satuan hasil tangkapan adalah konstan dari rata-rata yang telah dikonversi dengan Indeks Harga Konsumen Kota Padang dalam perhitungan bioekonomi. 4.7 Batasan Penelitian Penelitian ini membatasi pada hal-hal sebagai berikut: 1. Alat tangkap yang distimasi pada penelitian hanya merupakan alat tangkap yang saat ini masih digunakan oleh nelayan Ikan Bilih di Danau Singkarak sehingga tidak dilakukan estimasi pada alat tangkap yang sudah tidak digunakan dan alat tangkap yang bersifat ilegal. 2. Data produksi dan jumlah effort yang diperoleh untuk setiap alat tangkap menggunakan proxy variable yaitu dalam bentuk persentase dengan rujukan hasil penelitian terdahulu dan data yang diperoleh dari instansi terkait. 3. Faktor-faktor yang terkait dalam analisis tidak mempertimbangkan cuaca, angin, curah hujan, dan kondisi alamiah lainnya karena dianggap konstan.

55 41 V. GAMBARAN UMUM 5.1 Kondisi Umum Danau Singkarak Wilayah Administratif dan Keadaan Geografis Danau Singkarak merupakan danau vulkanis yang secara administratif terletak di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Solok tepatnya di Kecamatan X Koto Singkarak dan Kecamatan Junjung Sirih serta di Kabupaten Tanah Datar tepatnya di Kecamatan Rambatan dan Kecamatan Batipuh Selatan. Sebelumnya Danau Singkarak terletak di Kecamatan Batipuh, namun pada tahun 2003 terjadi pemecahan kecamatan menjadi dua bagian yaitu Kecamatan Batipuh Selatan dan Kecamatan Batipuh Atas sehingga Danau Singkarak menjadi wilayah pemerintahan Kecamatan Batipuh Selatan. Menurut BPS Kabupaten Solok (2009), luas danau yang merupakan bagian dari pemerintahan Kabupaten Solok adalah Ha (3,47% dari luas Kabupaten Solok) dan berada seluas Ha di Kabupaten Tanah Datar (4,81% dari luas Kabupaten Tanah Datar). Danau Singkarak terbentuk dari bekas letusan gunung berapi yang terjadi pada masa Kwarter dengan ditemukannya jenis-jenis batuan beku vulkanis dan instrusi hampir di seluruh daerah di sekitar danau. Danau Singkarak terletak pada BT BT dan LS LS. Luas permukaan danau sekitar Ha dengan kedalaman maksimum 271,5 m dan kedalaman rata-rata 178,677 m, panjang maksimum 20,808 km, lebar maksimum 7,175 km, luas daerah aliran km 2 dan terletak pada ketinggin 369 m dpl. Curah hujan yang masuk ke danau berkisar antara mm/bulan (Syandri, 2008). Sumber air Danau Singkarak dari sebelah utara berasal dari Sungai Sumpur, sebelah barat berasal dari Sungai Paninggahan, dan sebelah selatan berasal dari Sungai Sumani. Sungai yang mengalirkan air danau keluar secara alami satu-

56 42 satunya adalah Sungai Ombilin. Hulu sungai terletak di Jorong Ombilin yang bermuara ke pantai timur (Provinsi Riau) melalui Sungai Indragiri. Danau ini memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat. Hal ini ditinjau dari segi ekologi, hidrologi, serta fungsi ekonomi. Namun beberapa tahun ini muka air Danau Singkarak mengalami penurunan yang disebabkan oleh penggundulan di daerah catchment area serta terjadinya penurunan elevasi (tinggi muka) air danau akibat beroperasinya PLTA Singkarak. Menurut Syandri (2008), setelah beroperasinya PLTA Singkarak sejak Januari 1998 hingga Desember 2001 tinggi muka air berfluktuasi antara 360,2 363,0 m dpl (rataan 361,9 m dpl). Purnomo et al. (2006), menyatakan bahwa data realisasi pengaturan tinggi muka air setiap tahunnya mengalami penurunan dengan laju penurunan muka air dari tahun adalah sekitar 0,25 0,42 m/bulan Demografi Berdasarkan data statistik hasil sensus tahun 2008 total penduduk di sekitar Danau Singkarak adalah jiwa, dimana sebanyak jiwa berada di wilayah administratif Kabupaten Tanah Datar dan jiwa berada di wilayah administratif Kabupaten Solok. Jumlah ini meningkat 3,37% dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 2007 yaitu jiwa. Secara keseluruhan diketahui bahwa jumlah penduduk di sekitar Danau Singkarak dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan dengan penduduk berjenis kelamin laki-laki. Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin di Danau Singkarak dapat dilihat pada Tabel 3.

57 43 Tabel 3. Jumlah Penduduk Danau Singkarak Menurut Jenis Kelamin Kabupaten Tanah Datar Kecamatan Batipuh Selatan Tahun Laki-laki Persentase Perempuan Persentase Total (Jiwa) (%) (Jiwa) (%) (Jiwa) , , , , , , , , , , , , Kecamatan Rambatan Tahun Laki-laki Persentase Perempuan Persentase Total (Jiwa) (%) (Jiwa) (%) (Jiwa) , , , , , , , , , , , , Kabupaten Solok Kecamatan X Koto Singkarak Tahun Laki-laki Persentase Perempuan Persentase Total (Jiwa) (%) (Jiwa) (%) (Jiwa) , , , , , , , , , , , , Kecamatan Junjung Sirih Tahun Laki-laki Persentase Perempuan Persentase Total (Jiwa) (%) (Jiwa) (%) (Jiwa) , , , , , , , , , , , , Sumber: BPS (Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok), 2011 Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Danau Singkarak mengalami peningkatan setiap tahunnya. Jumlah penduduk tertinggi terjadi pada tahun 2008 kemudian mengalami penurunan pada tahun Penurunan jumlah

58 44 penduduk ini disebabkan oleh faktor emigrasi yang tinggi karena meningkatnya jumlah penduduk yang merantau karena dorongan ekonomi. Mayoritas penduduk di sekitar Danau Singkarak bekerja di sektor pertanian namun sekitar 4% penduduk bekerja di sektor perikanan. Perkembangan jumlah penduduk yang bekerja di sektor perikanan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Jumlah Nelayan di Danau Singkarak Kabupaten Tanah Datar Kabupaten Solok (Jiwa) (Jiwa) Total Tahun Batipuh Sub X Koto Junjung Sub (Jiwa) Rambatan Selatan Total Singkarak Sirih Total Sumber: BPS (Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok), 2010 Berdasarkan Tabel 4 di atas secara umum dapat dilihat bahwa jumlah nelayan di sekitar Danau Singkarak terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kenaikan jumlah nelayan tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 938 jiwa. Hal ini disebabkan karena semakin sulitnya mencari lapangan pekerjaan sehingga masyarakat memilih profesi menjadi nelayan. 5.2 Potensi Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak Danau Singkarak memiliki kekhasan ekosistem danau sehingga memiliki potensi berbagai jenis ikan untuk dapat hidup dan berkembang biak. Ikan Bilih merupakan salah satu spesies dengan kepadatan tinggi yang hidup di perairan Danau Singkarak. Menurut Purnomo (2008), hasil tangkapan ikan Bilih adalah yang terbesar yaitu mencapai 73,8% dari seluruh hasil tangkapan di Danau

59 45 Singkarak. Jenis ikan yang hidup di perairan Danau Singkarak disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Jenis Ikan yang Hidup di Danau Singkarak No Jenis Nama Nama Kepadatan Indonesia Lokal Relatif 1 Mystacoleucus padangensis Bako Bilih Cyclocheilichthys de Zwani Turiq Turiak ++ 3 Osteochilus brachmoides Nilem Asang Osteochilus vittatos Nilem Lelan + 5 Hampala mocrolepidota Barau Sasau + 6 Tor tambroides Tor Gariang + 7 Puntius schwanefeldi Kapiek Kapiek + 8 Puntius belinka Belingkah Balinka ++ 9 Macrones planiceps Baung Bauang + 10 Clarias batrachus Kalang Kalang + 11 Tetradon mappa Buntal Jabuih + 12 Osphronemus gurami la Gurami Kalai + 13 Anabas testudenues Betok Puyu + 14 Trichogaster trichopterus Sepat Sapek + 15 Mastacembelus unicolor Tilan Tilan + 16 Chana striatus Gabus Jumpo Chana pleurothalmus Gabus Kiuang Tilapia mussambica Mujair Mujaie (-) Rinuk Rinuak +++ Sumber: Syandri, 2008 Keterangan: +++ Tinggi ++ Sedang + Rendah (-) Tidak ada data Menurut hasil penelitian bioekologi Syandri (2001), ikan Bilih berkembang sampai dewasa pada perairan danau dan memijah setiap harinya mulai pukul WIB hingga pukul WIB dengan cara beruaya ke sungai-sungai yang bermuara ke Danau Singkarak. Tempat pemijahan ikan Bilih adalah kondisi perairan berarus, berkerikil, dan kerakal serta dangkal dengan kedalaman perairan cm (Syandri, 1998). Menurut Azhar (1993), ikan Bilih jantan pertama kali matang gonad pada kelas panjang 53,00 mm 57,00 mm. Sedangkan pada ikan Bilih betina, matang

60 46 gonad pertama kali dicapai pada ukuran panjang 62,00 mm 67,00 mm sampai kelas panjang 80,00 mm 85,00 mm. Ikan Bilih memiliki peranan penting bagi masyarakat karena memberikan sumbangan besar sebagai mata pencaharian dan pembangunan perekonomian kedua kabupaten tersebut, sehingga pelestariannya merupakan tugas penting dari segala pihak. 5.3 Potensi Pertanian Potensi Pertanian di Kabupaten Solok Sektor pertanian merupakan penyumbang PDRB terbesar di Kabupaten Solok yaitu sebesar 4,4% dari total PDRB. Kabupaten Solok merupakan sentra produksi padi di Sumatera Barat. Produksinya merupakan produksi kedua terbesar setelah Kabupaten Agam yaitu mencapai 12% - 13% dari total produksi padi di Sumatera Barat. Pemanfaatan lahan untuk sawah di Kabupaten Solok adalah 4,7% yang merupakan areal sawah terbesar di Sumatera Barat (BPS Kabupaten Solok, 2006). Hasil produksi tanaman pangan disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten Solok Produksi Uraian Padi Luas panen (000 Ha) 53,79 53,11 55,05 Produksi (000 ton) 275,69 247,73 259,90 Jagung Luas panen (Ha) 521,00 781,00 487,00 Produksi (ton) 2.554, , ,00 Kedelai Luas panen (Ha) 47,00 108,00 71,00 Produksi (ton) 72,40 136,00 104,00 Kacang Luas panen (Ha) 145,00 168,00 151,00 Tanah Produksi (ton) 309,50 236,00 210,00 Kacang Luas Panen (Ha) 48,00 61,00 45,00 Hijau Produksi (ton) 59,60 67,00 48,00 Ubi Kayu Luas panen (Ha) 339,00 337,00 341,00 Produksi (ton) 13,68 33,00 5,20 Ubi Jalar Luas panen (Ha) 801,00 845,00 836,00 Produksi (ton) 31,74 13,60 20,90 Sumber: BPS Kabupaten Solok, 2009

61 47 Pada Tabel 6 di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2008 terjadi penurunan produksi sebesar 10% yang diakibatkan oleh penurunan luasan areal panen, namun pada tahun 2009 kembali mengalami peningkatan produksi sebesar 4,9% yaitu mencapai 259,90 ton dengan luas panen 55,05 Ha karena luas areal pertanian kembali mengalami peningkatan. Secara umum padi merupakan komoditas dengan luas panen terbesar dan produksi tertinggi dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya. Namun produktivitas padi masih tergolong rendah karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang teknologi pertanian dan pengolahan terhadap hasil pertanian tersebut Potensi Pertanian di Kabupaten Tanah Datar Sub sektor tanaman pangan dan hortikultura merupakan salah satu sub sektor unggulan Kabupaten Tanah Datar. Berdasarkan Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tanah Datar Tahun 2008 terlihat bahwa kontribusi subsektor tanaman pangan dan hortikultura cukup besar yaitu 30,52%. Jenis komoditi unggulan tanaman pangan di Kabupaten Tanah Datar adalah padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, kedele serta kacang tanah. Sedangkan komoditi hortikultura unggulan adalah cabe, bawang daun, tomat, wortel, terung, bawang merah, kubis, buncis, sawi, dan kentang. Produksi komoditi padi dn palawija ni dapat dilihat pada Tabel 7.

62 48 Tabel 7. Produksi Komoditi Padi dan Palawija di Kabupaten Tanah Datar No Komoditi Produksi Pertumbuhan 2008* (ton) 2009 ** (ton) (%) 1 Padi , ,99 1,85 2 Jagung , ,60 13,15 3 Ubi Kayu , ,46 18,00 4 Ubi Jalar , ,70 58,20 5 Kedelai 38,10 46,65 22,40 6 Kacang Tanah 1.769, ,70 1,65 Sumber: BPS Kabupaten Tanah Datar, 2010 Keterangan: * Angka setelah revisi ** Angka Sementara Dari Tabel 7 tersebut dapat dilihat bahwa pada umumnya produksi untuk komoditas padi dan palawija mengalami peningkatan setiap tahunnya. Padi merupakan komoditas dengan produksi paling tinggi yaitu mencapai ,99 ton pada tahun 2009 namun memiliki pertumbuhan paling rendah yaitu 1,85%. Hal ini berarti bahwa produktivitas padi masih jauh di bawah produktivitas ubi jalar yaitu 58,20% yang merupakan produktivitas paling tinggi. Hal ini disebabkan oleh teknik pengelolaan padi yang masih sederhana dan masih dilakukan secara tradisional. 5.4 Potensi Pariwisata Danau Singkarak Danau Singkarak merupakan obyek wisata yang sangat potensial dan banyak dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Selain keindahan alam dan kesegaran udaranya di Danau Singkarak diadakan atraksi wisata Tour De Singkarak setiap tahunnya. Kegiatan ini merupakan perlombaan sepeda yang diikuti oleh peserta dari berbagai dunia sebagai salah satu bentuk promosi wisata yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk menarik pengunjung. Namun kurangnya prasarana dan sarana menyebabkan pariwisata menjadi sektor yang kurang berkembang.

63 49 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Keragaan Perikanan Tangkap Ikan Bilih di Danau Singkarak Aktivitas penangkapan sumberdaya ikan Bilih terdapat di 13 nagari yang berada di lingkar Danau Singkarak (Nagari Salingka Danau). Penggunaan alat tangkap untuk masing-masing nagari berbeda karena adanya perbedaan topografi wilayah serta kondisi sosial dan budaya masyarakat. Penggunaan alat tangkap pada setiap nagari ini disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Jumlah dan Jenis Alat Tangkap Ikan Bilih di Danau Singkarak Jumlah dan Jenis Alat Tangkap (unit) N Jaring Jaring Jaring Jaring Jala Jala Nagari o Insang Insang Lingkar Lingkar ¾ 1 Alahan Lukah Setrum ¾ inci 1 inci ¾ inci 1 inci inci inci 1 Singkarak Tikalak Saniang Baka Muaro Pingai Paninggahan Simawang Batu Taba Sumpur Padang Laweh Guguk Malalo Jumlah Sumber: Syandri, 2008 Pada Tabel 8 di atas dapat dilihat bahwa jenis alat tangkap digunakan dalam kegiatan penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak terdiri dari jaring langli, alahan, jala, jaring lingkar, lukah, dan setrum. Alat tangkap yang dominan digunakan nelayan adalah jaring langli dengan mata jaring (mesh size) ¾ inci yaitu sebesar 167 unit. Saat ini jaring lingkar serta lukah sudah tidak digunakan lagi dalam penangkapan ikan Bilih dan alat tangkap setrum merupakan alat tangkap ilegal yang dilarang penggunaannya. Oleh karena itu, alat tangkap yang digunakan dalam analisis ini hanya merupakan alat tangkap yang masih

64 50 digunakan nelayan dan bersifat tidak ilegal diantaranya jaring langli, alahan dan jala. Alat tangkap alahan hanya terdapat di empat nagari di sekitar Danau Singkarak yaitu Nagari Muaro Pingai, Paninggahan, Sumpur, dan Guguk Malalo. Hal ini disebabkan oleh kondisi topografi dimana hanya empat nagari ini yang dialiri oleh sungai yang alirannya masuk menuju ke Danau Singkarak. Sedangkan alat tangkap jala paling banyak digunakan di Nagari Sumpur dan tidak terdapat penggunaan jaring langli pada nagari ini karena adanya aturan nagari yang melarang penggunaan alat tangkap yang bersifat destruktif tersebut. Keragaan unit penangkapan ikan Bilih adalah sebagai berikut: A. Jaring Langli Jaring langli merupakan jaring yang digunakan untuk menangkap ikan Bilih di Danau Singkarak. Alat tangkap ini terbuat dari nilon dan terdapat pemberat serta pelampung. Pelampung ini dapat terbuat dari gabus atau bahan yang mengapung dan tidak menyerap air. Sedangkan untuk pemberat terbuat dari rantai atau timah. Ukuran jaring (mesh size) terdiri dari 1 inci dan ¾ inci namun ukuran yang diizinkan pemerintah sejak tahun 2007 adalah jaring langli dengan ukuran 1 inci. Bentuk jaring langli dapat dilihat pada Gambar 6.

65 51 Sumber: Dokumentasi Hasil Penelitian, 2011 Gambar 6. Alat Tangkap Jaring Langli ¾ inci Cara pengoperasian jaring adalah mula-mula jaring diturunkan pada daerah penangkapan, diikatkan pada tiang (nangga) kemudian dibiarkan semalaman dan diangkat ke permukaan keesokan harinya. Waktu pengoperasian jaring langli adalah jam WIB sore dimana nelayan menuju ke tengah danau dan menahan jaring kemudian diangkat pada pagi harinya sekitar jam WIB. B. Alahan (Fish Trap) Alahan adalah jenis alat tangkap yang dibangun secara permanen, dibuat dengan cara memperkecil ruang lingkup air yang mengalir pada suatu perairan dengan arus yang tidak begitu deras, kemudian dibatasi dengan kerikil. Setelah itu tuba (umpan) ditebarkan untuk menarik ikan. Kemudian dengan sendirinya ikan akan naik ke tempat alahan karena akan tertarik dengan bau-bauan yang ditebarkan tersebut dan untuk mempermudah penangkapan digunakan jala lempar atau serok. Beberapa bentuk alahan yang ada di sekitar Danau Singkarak dapat dilihat pada Gambar 7 dan Gambar 8.

66 52 Sumber: Dokumentasi Hasil Penelitian, 2011 Gambar 7. Bentuk Alahan di Paninggahan Sumber: Dokumentasi Hasil Penelitian, 2011 Gambar 8. Bentuk Alahan di Malalo Alahan merupakan alat tangkap tradisional yang memanfaatkan sifat pemijahan ikan Bilih yang bersifat adfluvial yaitu menghalangi ikan Bilih yang menuju sungai saat melakukan pemijahan. Sebagian ikan Bilih yang tidak tertangkap dan berhasil memijah telurnya dihanyutkan kembali ke arus sungai menuju danau dan akan menetas setelah 20 jam pada suhu air 27 0 C C (Syandri, 1997). Sistem kepemilikan alahan adalah berdasarkan kepemilikan lahan. Nelayan yang menggunakan alat tangkap alahan adalah nelayan yang lahannya dialiri sungai yang mengalir menuju Danau Singkarak.

67 53 C. Jala Jala merupakan alat tangkap yang terbuat dari nilon dan menggunakan pemberat yang terbuat dari rantai. Ukuran jala bervariasi yaitu ¾ inci, ⅝ inci, dan 1 inci. Jala dapat digunakan dengan dua cara yaitu jala dengan menggunakan sampan/biduak (perahu) dan jala yang tidak menggunakan sampan. Penggunaan jala tanpa sampan hanya dilakukan di muara sungai. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10. Sumber: Dokumentasi Hasil Penelitian, 2011 Gambar 9. Jala dengan Menggunakan Sampan Sumber: Dokumentasi Hasil Penelitian, 2011 Gambar 10. Jala Tanpa Menggunakan Sampan Cara mengoperasikan jala adalah dengan menebarkan jala ke dalam perairan selama 5 menit kemudian jala diangkat kembali ke permukaan. Waktu

68 54 pengoperasian jala dilakukan pada pagi, siang, dan malam hari dengan rata-rata waktu penangkapan 5-8 jam per harinya. D. Sampan / Biduak Aktivitas penangkapan ikan di Danau Singkarak menggunakan sampan (biduak). Sampan terbuat dari papan dan memiliki umur teknis yang berbeda-beda tergantung pada jenis kayunya. Sampan dengan jenis kayu suryan cenderung lebih tahan lama dengan umur teknis mencapai 35 tahun. Terdapat dua jenis sampan di Danau Singkarak yaitu sampan yang dikemudikan dengan dayung dan sampan yang menggunakan mesin dengan daya 3-5 HP. Kedua jenis ini dapat dilihat pada Gambar 11 dan Gambar 12. Sumber: Dokumentasi Hasil Penelitian, 2011 Gambar 11. Sampan dengan Mesin Sumber: Dokumentasi Hasil Penelitian, 2011 Gambar 12. Sampan Tanpa Mesin

69 55 Jumlah sampan di sekitar Danau Singkarak terus mengalami perkembangan setiap tahunnya. Perkembangan jumlah sampan ini dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Jumlah Sampan di Danau Singkarak Tahun Jumlah Sampan (unit) Solok Tanah Datar Total (Unit) Sumber: DKP Provinsi Sumatera Barat, 2009 Dari Tabel 9 di atas dapat dilihat bahwa jumlah sampan berfluktuasi setiap tahunnya. Jumlah sampan tertinggi adalah tahun 2004 yaitu sebanyak 175 unit. 6.2 Karakteristik Nelayan Gambaran mikro nelayan ikan Bilih di lingkar Danau Singkarak ditunjukkan dengan karakteristik nelayan seperti umur, tingkat pendidikan, pengalaman, jumlah tanggungan, kategori penduduk, dan pekerjaan alternatif yang dimiliki nelayan. Hasil wawancara dengan 90 kepala keluarga nelayan maka diperoleh karakteristik responden sebagai berikut: a. Umur Umur berkaitan dengan kemampuan fisik responden untuk melakukan kegiatan penangkapan. Sebaran kelompok umur responden dapat dilihat pada Gambar 13. Pada gambar tersebut sebanyak 51% responden berumur tahun dan 29% berumur tahun. Jadi lebih 50% dari responden berada pada umur produktif yaitu tahun.

70 56 2% 1% 29% 8% 9% 51% >65 Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 13. Umur Nelayan Ikan Bilih di Danau Singkarak b. Tingkat Pendidikan Pendidikan merupakan faktor yang menentukan pola pikir seseorang dalam menentukan jenis pekerjaan yang dilakukan dan keputusan dalam mengalokasikan pendapatan yang diperoleh. Tingkat pendidikan nelayan (Gambar 14) di Danau Singkarak diketahui 61% dari total responden berpendidikan terakhir SD atau setara, 19% dari total responden dengan pendidikan terakhir SMP atau setara, 18% dengan pendidikan terakhir SMA, dan masing-masing 1% untuk nelayan dengan pendidikan D3 dan tidak tamat sekolah. 1% 1% 19% 18% 61% Tidak Tamat SD SMP SMA D3/S1 Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 14. Pendidikan Nelayan Ikan Bilih di Danau Singkarak

71 57 Secara rata-rata tingkat pendidikan nelayan di Danau Singkarak masih rendah. Hal ini disebabkan oleh masalah ekonomi sehingga masyarakat tidak dapat melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Rendahnya tingkat pendidikan nelayan ini mempengaruhi pola pikir dan pengetahuan nelayan dalam menjaga kelestarian ikan Bilih. c. Pengalaman Pengalaman berpengaruh terhadap cara penangkapan dan skill seorang nelayan. Pengalaman nelayan ikan Bilih di sekitar Danau Singkarak (Gambar 15) diketahui bahwa 29% nelayan dengan pengalaman 5-15 tahun, 37% nelayan dengan pengalaman tahun, 25% nelayan dengan pengalaman tahun, 8% nelayan dengan pengalaman tahun, dan 15% nelayan dengan pengalaman tahun serta tidak ditemukannya nelayan dengan pengalaman lebih dari 55 tahun. Ini berarti rata-rata pengalaman nelayan ikan Bilih di sekitar Danau Singkarak adalah tahun. 1% 25% 8% 29% % Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 15. Pengalaman Nelayan Ikan Bilih di Danau Singkarak

72 58 d. Jumlah Tanggungan Jumlah tanggungan merupakan faktor yang mempengaruhi kebutuhan keluarga nelayan di Danau Singkarak. Diketahui 1% nelayan tidak memiliki tanggungan, 12% dengan jumlah tanggungan 2 orang, 39% dengan tanggungan 3 orang, 29% dengan tanggungan 4 orang, 13% dengan tanggungan 5 orang, 5% dengan tanggungan 6 orang, serta 1% dengan jumlah tanggungan 10 orang (Gambar 16). 5% 1% 1% Tidak Ada 29% 13% 12% 39% 2 orang 3 orang 4 orang 5 orang 6 orang 10 orang Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 16. Jumlah Tangggungan Keluarga Nelayan Tanggungan nelayan ini terdiri dari istri, anak, ibu, mertua, dan keluarga lainnya yang menggantungkan hidupnya dari hasil penangkapan ikan Bilih. Nelayan yang tidak memiliki tanggungan adalah nelayan yang belum menikah dan hanya bertanggung jawab pada diri sendiri. e. Kategori Penduduk Nelayan di Danau Singkarak sebagian besar merupakan penduduk asli namun ada sebagian kecil nelayan pendatang yang telah lama menetap dan telah menjadi penduduk Danau Singkarak. Nelayan yang merupakan penduduk asli adalah 93% dan sisanya 7% merupakan pendatang dari daerah lainnya.

73 59 f. Pekerjaan Alternatif Nelayan Penduduk yang bekerja sebagai nelayan terdiri atas nelayan penuh, nelayan sambilan utama, dan nelayan sambilan tambahan. Secara umum lebih banyak nelayan yang bekerja sebagai nelayan sambilan utama yaitu nelayan dengan pekerjaan lain seperti pedagang, petani, atau tukang. Nelayan penuh yaitu nelayan yang tidak memiliki pekerjaan alternatif selain bekerja sebagai nelayan ikan Bilih. Dari hasil wawancara diketahui bahwa 51% nelayan memiliki pekerjaan lain dan 49% nelayan tidak memiliki pekerjaan lain. Pada umumnya nelayan yang tidak bekerja pada sektor lainnya adalah nelayan dengan alat tangkap jala sedangkan nelayan yang memiliki pekerjaan lain sebagian besar merupakan nelayan dengan alat tangkap alahan dan langli karena alat tangkap ini tidak menyita banyak waktu. 6.3 Produksi dan Nilai Produksi Sumberdaya Ikan Bilih Data produksi ikan Bilih dalam penelitian ini diperoleh dari data sekunder yang diperoleh dari DKP Provinsi Sumatera Barat, Dinas Pertanian dan Perikanan (Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok), serta dinas-dinas terkait berupa data time series selama 8 tahun ( ). Berdasarkan hasil analisis data diketahui pertumbuhan volume produksi dan nilai produksi ikan Bilih di Danau Singkarak berfluktuasi setiap tahunnya. Volume produksi tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 1.496,70 ton dan pertumbuhan produksi paling tinggi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 17,85%. Pertumbuhan rata-rata volume produksi adalah sebesar -5,92% yang menunjukkan nilai negatif. Artinya pertumbuhan produksi secara umum menurun. Pertumbuhan rata-rata nilai produksi adalah 3,40 %. Nilai positif ini menunjukkan

74 60 pertumbuhan nilai produksi secara keseluruhan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh kebijakan kenaikan BBM yang diterapkan pemerintah sehingga meningkatkan harga ikan Bilih di pasaran. Akibatnya nelayan meningkatkan tangkapannya untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pertumbuhan nilai produksi yang meningkat menunjukkan bahwa ikan Bilih merupakan komoditas yang potensial dan diminati, namun pertimbangan ekonomi yang lebih dominan dibandingkan aspek lainnya dapat meningkatkan tekanan tehadap sumberdaya. Data produksi dan nilai produksi ikan Bilih ini dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Perkembangan Produksi dan Nilai Produksi Sumberdaya Ikan Bilih Tahun Produksi (ton) Pertumbuhan (%) Nilai Produksi (Juta Rupiah/ton) Pertumbuhan (%) Nilai Prod/Prod (Juta Rupiah/ton) , ,303 11, ,60-18, ,800-4,63 13, ,80 17, ,400 17,85 13, ,70 16, ,011 18,89 13, ,70-25, ,210 7,36 18, ,00-16, ,618-14,74 18, ,30-25, ,459-0,39 22, ,40 9, ,572-0,57 20,623 Rata-Rata 1.113,23-5, ,796 3,39 16,346 Sumber: DKP Provinsi Sumatera Barat (diolah), Produksi dan Effort Sumberdaya Ikan Bilih Produksi ikan Bilih tidak dapat dipisahkan dari effort atau faktor upaya. Semakin tinggi effort maka volume produksi yang diperoleh akan meningkat. Pada sektor perikanan hal ini tidak sepenuhnya berlaku karena adanya faktor biologis seperti kematian alamiah dan rekruitmen yang dapat mempengaruhi

75 61 kelimpahan sumberdaya. Perkembangan produksi dan effort sumberdaya ikan Bilih ini dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Perkembangan Produksi dan Effort Sumberdaya Ikan Bilih Tahun Produksi (ton) Effort (unit) Langli Alahan Jala Langli Alahan Jala ,90 846,75 77, ,62 717,21 65, ,69 873,05 80, , ,73 96, ,24 835,81 76, ,42 719,60 65, ,04 571,82 52, ,22 632,21 57, Rata-rata 260,86 780,77 71, Sumber: DKP Provinsi Sumatera Barat, 2011 Berdasarkan Tabel 11 di atas dapat dilihat bahwa produksi terbesar dihasilkan oleh alat tangkap alahan dengan rata-rata produksi sebesar 780,77 ton. Hal ini disebabkan oleh sistem penangkapan ikan Bilih dengan menggunakan alahan berbeda dengan alat tangkap lainnya. Alahan merupakan salah satu bentuk penyimpangan penangkapan terhadap kelimpahan stok. Sistem penangkapan alahan memanfaatkan cara beruaya ikan Bilih dengan mempersempit ruang gerak ikan sehingga menghalangi ikan untuk menuju danau. Apabila tidak dikelola dengan baik hal ini sangat mempengaruhi stok ikan Bilih di Danau Singkarak. Jumlah alat tangkap (effort) paling tinggi adalah alat tangkap jaring langli dengan rata-rata effort 857 unit. Jaring langli digunakan nelayan hampir di seluruh nagari di Danau Singkarak. Sedangkan rata-rata effort yang paling kecil yaitu alahan sebesar 77 unit. Sedikitnya jumlah alat tangkap (effort) alahan ini disebabkan oleh sistem kepemilikan alahan. Alahan hanya dapat dimiliki oleh masyarakat atau nelayan yang lahannya dialiri sungai menuju danau, akibatnya tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam menggunakan alat

76 62 tangkap jenis ini. Data produksi dan effort sumberdaya ikan Bilih lebih lengkapnya disajikan pada Lampiran Catch Per Unit Effort (CPUE) Catch Per Unit Effort (CPUE) merupakan nilai hasil tangkapan per unit upaya yang diperoleh dari persamaan (4.1). Nilai CPUE mencerminkan tingkat produktivitas dari effort (Tabel 12). Semakin tinggi nilai CPUE menunjukkan semakin efisien suatu alat tangkap yang digunakan. Tabel 12. Nilai CPUE Setiap Alat Tangkap Tahun CPUE (ton/unit) Langli Alahan Jala , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,20604 Sumber: Hasil Analisis Data, Standarisasi Alat Tangkap Pada asumsi parameter biologi perlu dilakukan standarisasi terhadap unit upaya (effort) karena adanya kondisi multi-species dan multi-gear dalam perikanan. Standarisasi alat tangkap diperoleh dari persamaan (4.2) dan (4.3). Tujuan dari standarisasi ini adalah untuk menyeragamkan satuan upaya penangkapan dari berbagai alat tangkap (Tabel 13).

77 63 Tabel 13. Effective Fishing Effort Tahun Indeks STD Effort (unit) Effort Langli Alahan Jala Alahan Jala (unit) , , , , S , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Tabel 13 di atas menunjukkan bahwa jaring langli merupakan alat tangkap yang menjadi basis standarisasi unit upaya (effort). Standarisasi unit upaya (effort) terhadap jaring langli dilakukan pada alat tangkap alahan dan jala karena jaring langli dengan mesh size ¾ inci merupakan alat tangkap yang dominan digunakan dalam penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak. Penentuan standarisasi unit upaya dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan jumlah unit per tahun dari ketiga alat tangkap yaitu jaring langli, alahan, dan jala (Lampiran 2). 6.7 Produksi dan Effort Total Sumberdaya Ikan Bilih Setelah dilakukan standarisasi maka diperoleh produksi dan effort total ketiga alat tangkap. Produksi dan Effort total ini disajikan ke dalam Tabel 14. Tabel 14. Produksi dan Effort Total Ikan Bilih Tahun Produksi Total Effort Total CPUE Total (ton) (unit) (ton/unit) , ,34 0, , ,35 0, , ,31 0, , ,89 0, , ,44 0, , ,59 0, , ,56 0, , ,13 0, Rata-rata 1.113, ,08 0, Sumber: Hasil Analisis Data, 2011

78 64 Tabel 14 di atas menunjukkan secara umum total produksi ikan Bilih berfluktuasi setiap tahunnya. Pada tahun produksi ikan Bilih terus meningkat karena adanya peningkatan effort. Produksi tertinggi terjadi pada tahun 2005 sebesar 1.496,70 ton dan terendah terjadi pada tahun 2008 sebesar 815,30 ton. Penurunan produksi ini disebabkan oleh peningkatan effort yang terlalu besar hingga mencapai titik kejenuhan. Peningkatan jumlah effort ini menunjukkan bahwa ikan Bilih merupakan sumber mata pencaharian penting bagi masyarakat sekitar Danau Singkarak sehingga mendorong masyarakat untuk menambah jumlah alat tangkap yang digunakan. Rata-rata produksi ketiga alat tangkap yang dioperasikan di Danau Singkarak adalah 1.113,23 ton, sedangkan jumlah effort rata-rata setelah dilakukan standarisasi sesuai dengan fishing power index diperoleh sebesar 3.492,08 unit standar alat tangkap. Setelah diperoleh produksi dan effort total maka diperoleh nilai CPUE total (Lampiran 2). Nilai CPUE total ini diperoleh dari total produksi dibagi dengan total Effort. Tren CPUE total mengalami penurunan, artinya produktivitas sumberdaya Ikan Bilih menurun setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat pada Gambar y = 0.030x R² = Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 17. Tren Penurunan CPUE Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak

79 65 Analisis CYP menggunakan persamaan OLS untuk memperoleh pendugaan parameter biologi. Input yang dibutuhkan dalam analisis ini disajikan pada Tabel 15 berikut. Tabel 15. Input untuk Analisis dengan Metode CYP Tahun CPUE Total Ln CPUEt+1 Ln CPUEt Et+Et , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,21715 Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Pada Tabel 15 di atas dapat dilihat untuk melakukan pendugaan parameter biologi dengan menggunakan CYP memerlukan nilai logaritma CPUE pada waktu t+1 dan logaritma pada saat t serta jumlah effort pada waktu t dan t+1. Nilai-nilai tersebut sesuai dengan persamaan matematis CYP sebagai berikut: +₁ ln ln +₁... (6.1) Dengan menggunakan OLS persamaan tersebut disederhanakan menjadi: ₁ ₂.. (6.2) Hasil dari OLS pada Lampiran 3 dengan menggunakan software Microsoft excell diperoleh nilai α, β, dan γ. Hasil tersebut dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16. Hasil Analisis Ordinary Least Square (OLS) No Keterangan Nilai 1 α 0, β 0, γ -0, Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Nilai-nilai tersebut disubtitusikan ke persamaan (6.2) sehingga diperoleh: Y = 0, , X 1 0, X 2... (6.3)

80 66 Nilai α, β, dan γ yang diperoleh disubtitusikan ke persamaan (4.5), persamaan (4.6), dan persamaan (4.7) sehingga dapat diduga tingkat pertumbuhan alami sebesar 1, % per tahun, koefisien kemampuan tangkap sebesar 0, /unit effort, dan daya dukung lingkungan perairan adalah sebesar 3.665, ton. Nilai-nilai parameter biologi dari r, q, dan K ini dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17. Parameter Biologi Ikan Bilih di Danau Singkarak No Keterangan Simbol Nilai 1 Tingkat pertumbuhan alami (% per tahun) r 1, Koefisien kemampuan tangkap (1/unit effort) q 0, Daya dukung perairan (Ton) K 3665, Sumber: Hasil Analisis Data, Pendugaan Parameter Ekonomi Pendugaan Biaya Parameter biaya yang dikaji hanya terkait pada biaya variabel per hari operasi dengan nilai diasumsikan konstan. Data parameter biaya diperoleh dari data primer melalui wawancara dengan nelayan. Biaya variabel untuk alat tangkap jaring langli, jala, dan alahan berbeda sehingga perlu dilakukan standarisasi. Standarisasi terhadap biaya diperoleh dari hasil perkalian rata-rata biaya variabel effort per harinya dalam satu tahun. Rata-rata struktur biaya variabel ini merupakan biaya nominal yang diperoleh dari persamaan (4.8). Rata-rata struktur biaya setiap alat tangkap dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18. Rata-Rata Struktur Biaya Setiap Alat Tangkap No Alat Tangkap Biaya Per trip (Rupiah) Biaya Per tahun (Rupiah) 1 Langli , Alahan , Jala , Rata-rata , Sumber: Hasil Analisis Data, 2011

81 67 Pada Tabel 18 di atas diperoleh rata-rata biaya sebesar Rp per unit upaya. Rata-rata biaya ini disesuaikan dengan IHK untuk komoditas perikanan yang berlaku di Sumatera Barat untuk memperoleh biaya riil. Biaya riil ikan Bilih dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19. Biaya Riil Ikan Bilih di Sumatera Barat (2007=100) Tahun Biaya nominal (Rupiah) IHK Biaya riil (Rupiah) , , , , , , , , , , , , , , , ,210 Rata-rata , ,000 Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Dari Tabel 19 di atas diperoleh rata-rata biaya riil sebesar Rp per unit upaya. Komponen biaya ini berbeda untuk setiap alat tangkap. Biaya variabel untuk alat tangkap jaring langli terdiri dari pangan, tenaga kerja, bensin, oli, dan biaya perawatan. Biaya variabel untuk alat tangkap alahan terdiri dari listrik, tenaga kerja, dan perawatan. Sedangkan biaya variabel untuk alat tangkap alahan terdiri dari pangan, tenaga kerja dan perawatan Pendugaan Harga Pengukuran harga dalam sektor perikanan menggunakan harga riil yang diperoleh dari persamaan (4.10) untuk mengurangi pengaruh inflasi. Pengukuran harga riil tersebut disesuaikan dengan IHK untuk komoditas perikanan yang berlaku di Sumatera Barat (Tabel 20).

82 68 Tabel 20. Harga Riil Ikan Bilih di Sumatera Barat (2007=100) Tahun Harga nominal (Rupiah) IHK Harga riil (Rupiah) ,00 219, , ,00 217, , ,00 69, , ,00 81, , ,00 87, , ,00 100, , ,00 92, , ,77 80, ,81 Rata-rata ,10 118, ,31 Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Pada Tabel 20 terlihat nilai IHK berfluktuasi setiap tahunnya yang dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, dan politis yang terjadi di masyarakat. Rata-rata harga riil sumberdaya ikan Bilih adalah Rp ,31 per ton. Secara umum harga mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini berarti bahwa komoditas ikan Bilih merupakan komoditas yang berperan penting dalam perekonomian masyarakat di Danau Singkarak. 6.9 Analisis Bioekonomi Analisis bioekonomi dilakukan dengan membandingkan antara produksi lestari dan produksi aktual. Estimasi produksi lestari diperoleh dari subtitusi nilai parameter biologi pada Tabel 18 (Parameter Biologi Ikan Bilih di Danau Singkarak) terhadap persamaan (2.9) sehingga diperoleh hasil estimasi produksi lestari setiap tahunnya selama periode Estimasi produksi lestari dan produksi aktual serta kelebihan tangkapannya ini disajikan pada Tabel 21.

83 69 Tabel 21. Estimasi Produksi Lestari dan Aktual Tahun Produksi Aktual Produksi Lestari Kelebihan Tangkap (ton) (ton) (ton) ,30 773,58 433, ,60 940,52 82, ,80 727,10 517, ,70 304, , ,70 791,67 400, ,00 938,38 87, , ,14-189, ,40 994,06-92,66 Rata-rata 1.113,23 809,40 303,82 Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Hasil estimasi pada Tabel 21 di atas menunjukkan bahwa rata-rata produksi lestari sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak adalah 809,40 ton dengan ratarata kelebihan tangkap sebesar 303,82 ton. Jika dibandingkan dengan rata-rata produksi aktual pada tahun diduga telah terjadi overfishing secara biologi atau biological overfishing karena rata-rata produksi aktual lebih tinggi 27,29% dibandingkan produksi lestarinya. pada tahun 2008 kondisi perikanan mulai membaik dimana produksi lestari lebih tinggi dibandingkan produksi aktual. Namun peningkatan jumlah effort pada tahun 2009 kembali meningkatkan produksi. Jika effort terus meningkat maka dikhawatirkan produksi aktual kembali lebih tinggi dibandingkan produksi lestari sehingga mengancam keberadaan ikan Bilih. Berikut ini disajikan perbandingan produksi aktual dan lestari yang ini dapat dilihat pada Gambar 18.

84 Produksi Aktual Produksi Lestari Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 18. Perbandingan Tingkat Produksi Lestari dan Produksi Aktual Gambar 18 di atas menunjukkan bahwa sepanjang tahun produksi aktual dan produksi lestari mengalami fluktuasi. Jika produksi aktual mengalami peningkatan maka produksi lestari akan cenderung mengalami penurunan dan sebaliknya Rezim Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih Analisis bioekonomi dilakukan untuk menentukan tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan yang optimal dan berkelanjutan. Pendekatan ini menggunakan formula perhitungan pengelolaan ikan Bilih dengan pendekatan model CYP pada Tabel 2 bab Metodologi Penelitian sehingga diperoleh kondisi perikanan sumberdaya ikan Bilih dari ketiga alat tangkap yang digunakan di Danau Singkarak yaitu pada kondisi Maximum Sustainable Yield (MSY), kondisi Maximum Economic Yield (MEY), dan kondisi Open Access (OA). Secara ringkas hasil tersebut dapat dilihat pada Tabel 22.

85 71 Tabel 22. Hasil Analisis Bioekonomi pada Berbagai Rezim Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih. Parameter Rezim Pengelolaan MSY MEY OA x (Ton) 1.832, ,19 832,90 h (Ton) 1.005,14 953,24 705,99 E (Unit) 815,76 630, ,79 phi (Rupiah) , ,25 0,00 Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Pada Tabel 22 di atas dapat dilihat perbandingan dari ketiga rezim pengelolaan perikanan untuk ikan Bilih menggunakan ketiga alat tangkap yang dominan, dimana pada saat dikelola MEY maka diperoleh hasil tangkapan dan rente yang lebih besar walaupun dengan effort yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan kondisi MSY dan OA. Bahkan dalam jangka panjang jika perikanan dikelola dengan kondisi MSY masih dapat diperoleh rente ekonomi jika dibandingkan jika dikelola dengan kondisi OA (Lampiran 3). Nilai parameter biomassa (x) merupakan kondisi biomassa sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak dalam kondisi masing-masing pengelolaan. Kondisi biomassa tertinggi sebesar 2.249,19 ton merupakan biomassa optimal pada rezim MEY, kondisi lestari yang bisa dicapai pada kondisi rezim MSY sebesar 1.832,74 ton. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan nilai maksimal yang dicapai pada rezim pengelolaan OA sebesar 832,90 ton. Nilai ini digunakan sebagai informasi dalam upaya konservasi stok dalam pengelolaan berkelanjutan. Nilai parameter (h) menunjukkan hasil tangkapan dari upaya pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak. Nilai ini merupakan besaran hasil tangkapan yang diperbolehkan dalam pengelolaan berkelanjutan. Hasil tangkapan terbesar dicapai pada kondisi MSY yaitu sebesar 1.005,14 ton kemudian berturutturut 953,24 ton pada kondisi MEY, dan 705,99 ton pada kondisi OA. Hasil

86 72 tangkapan terendah berada pada kondisi OA karena pada kondisi ini tidak ada pengendalian dalam pengelolaan perikanan sehingga terjadinya ekspansi yang berlebihan terhadap penangkapan yang menyebabkan stok biomassa ikan Bilih menurun. Nilai effort (E) menunjukkan tingkat upaya dalam pemanfaatan perikanan. Nilai ini memberikan informasi terkait dengan tingkat upaya yang diperbolehkan untuk pengelolaan yang berkelanjutan. Effort terbesar berada pada kondisi OA yaitu sebesar 1.260,79 unit standar alat tangkap, kemudian rezim pengelolaan MSY sebesar 815,76 unit standar alat tangkap dan kondisi MEY sebesar 630,40 unit standar alat tangkap. Kondisi effort pada rezim MEY merupakan jumah effort optimum yang dianjurkan secara ekonomi. Nilai parameter rente ekonomi (π) menunjukkan tingkat keuntungan secara ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih. Berturut-turut nilai rente ekonomi yang diperoleh pada rezim MEY yaitu sebesar Rp ,25 yang merupakan rente ekonomi terbesar. Pada rezim MSY sebesar rente ekonomi sebesar Rp ,95 dan diikuti Rp 0,- pada rezim OA. Tidak adanya rente ekonomi sumberdaya ikan Bilih yang diperoleh pada kondisi OA mengandung arti bahwa nelayan hanya memperoleh upah atas biaya yang dikeluarkan tanpa memperoleh keuntungan. Perbandingan dari ketiga rezim tersebut dapat dilihat paa Gambar 19 dan Gambar 20.

87 Produksi Effort Rente Ekonomi (Juta Rupiah) MSY MEY OA Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 19. Perbandingan Produksi (h), Effort (E), dan Rente Ekonomi (π) Sumberdaya Ikan Bilih pada Berbagai Rezim Pengelolaan MSY MEY OA 10,2X10 9 9,3X10 9 TR=TC Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 20. Keseimbangan Bioekonomi Ketiga Alat Tangkap Ikan Bilih Gambar 19 dan Gambar 20 di atas menunjukkan bahwa rezim pengelolaan MEY membutuhkan sedikit upaya penangkapan dibandingkan dengan rezim pengelolaan MSY dan OA untuk menghasilkan tingkat keuntungan yang maksimum. Sebaliknya pada kondisi OA, tingginya tingkat upaya mengakibatkan terjadinya ketidakefisienan (inefficiency) ekonomi. Ketidakefisienan ini terjadi

88 74 karena upaya penangkapan yang besar hanya menghasilkan tangkapan yang lebih kecil, sehingga keuntungan yang diperoleh tidak ada. Hasil analisis bioekonomi dengan menggunakan perangkat lunak Maple 14 disajikan pada Lampiran Rezim Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih untuk Setiap Alat Tangkap Setiap alat tangkap memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam penangkapan ikan Bilih. Hasil analisis bioekonomi pada Tabel 22 menunjukkan rezim pengelolaan sumberdaya ikan Bilih setelah dilakukan standarisasi alat tangkap sehingga diperoleh keseimbangan ekonomi total dari ketiga alat tangkap. Berikut ini rezim pengelolaan sumberdaya ikan Bilih untuk masing-masing alat tangkap yang telah disesuaikan dengan index fishing power (Tabel 23) Tabel 23. Hasil Analisis Bioekonomi Masing-Masing Alat Tangkap pada Berbagai Rezim Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih. Alat Rezim Pengelolaan Parameter Tangkap MSY MEY OA Jaring h (ton) 235,53 223,80 163,32 Langli E (unit) 598,14 464,67 929,33 Alahan h (ton) 704,97 669,86 488,83 E (unit) 53,44 41,51 83,03 Jala h (ton) 64,65 61,43 44,83 E (unit) 164,18 127,55 255,09 Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Pada Tabel 23 di atas dapat dilihat bahwa alat tangkap yang menghasilkan hasil tangkapan (h) paling tinggi adalah alat tangkap alahan. Sedangkan alat tangkap dengan tingkat upaya (effort) paling besar adalah jaring langli. Hasil tangkapan (h) paling tinggi berada pada rezim Maximum Sustainable Yield (MSY) dengan hasil tangkapan paling tinggi (h) pada alat tangkap alahan yaitu sebesar 704,97 ton, kemudian berturut-turut jaring langli dan alahan sebesar 235,53 ton dan 64,65 ton. Tingkat upaya (effort) paling besar berada pada rezim Open Access (OA) dengan tingkat upaya (effort) terbesar adalah alat tangkap jaring langli

89 75 sebesar 929,23 unit, kemudian berturut-turut jala dan alahan sebesar 255,09 unit dan 83,03 unit. Pada rezim Maximum Economic Yield (MEY) yang merupakan kondisi yang ideal secara ekonomi. Hasil tangkapan (h) alahan, jaring langli, dan jala berturut-turut adalah 669,86 ton, 223,80 ton, dan 61,43 ton. Tingkat upaya (effort) pada rezim ini berturut-turut adalah jaring langli, jala, dan alahan sebesar 464,67 unit, 127,55 unit, dan 41,51. Perbandingan hasil tangkapan (h) dan tingkat effort (E) masing-masing alat tangkap pada berbagai rezim pengelolaan dapat dilihat pada Gambar MSY MEY OA h langli E langli h alahan E alalahan h jala E jala Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 21. Perbandingan produksi (h) dan Effort (E) Masing-Masing Alat Tangkap Sumberdaya Ikan Bilih dari Ketiga Rezim Pengelolaan Saat ini secara umum kondisi sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak diduga telah mengalami kondisi overfishing baik secara biologi maupun ekonomi. Tingkat upaya (effort) aktual penangkapan ikan Bilih ketiga alat tangkap saat ini sangat tinggi bahkan jauh melebihi kondisi open access. Hal ini menunjukkan bahwa sumberdaya ikan Bilih diduga telah mengalami overfishing secara

90 76 ekonomi. Perbandingan antara produksi (h) dan Effort (E) ketiga alat tangkap sumberdaya ikan Bilih ini dapat dilihat pada Gambar MSY MEY OA Aktual Produksi Effort Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Gambar 22. Produksi (h) dan Effort (E) Sumberdaya Ikan Bilih pada Kondisi Aktual dan Berbagai Rezim Pengelolaan. Hasil analisis bioekonomi untuk masing-masing alat tangkap yang digunakan dalam penangkapan ikan Bilih menunjukkan tingkat upaya (effort) masing-masing alat tangkap secara rata-rata utuk alat tangkap jaring langli, alahan, dan jala berada di bawah kondisi Open Access. Tetapi pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 tingkat upaya (effort) berada di atas kondisi Open Access. Hal itu berarti pada tahun-tahun tersebut sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak telah mengalami economic overfishing. Selain itu telah terjadi biological overfishing yang ditunjukan oleh hasil tangkapan (h) untuk alat tangkap jaring langli, alahan, dan jala yang secara umum berada di atas kondisi Maximum Sustainable Yield (MSY) Laju Degradasi dan Laju Depresiasi Sumberdaya Ikan Bilih di Sumatera Barat Degradasi sumberdaya ikan Bilih merupakan laju penurunan kualitas dan kuatitas sumberdaya ikan Bilih. Depresiasi merupakan pengukuran moneter

91 77 terhadap pemanfaatan ikan Bilih. Perhitungan nilai koefisien laju degradasi dan depresiasi mengacu pada persamaan (4.16) dan persamaan (4.17). Laju degradasi dan depresiasi ikan Bilih disajikan pada Tabel 24. Tabel 24. Laju Degradasi dan Depresiasi Ikan Bilih Tahun Tahun Produksi (ton) Rente (Juta Rupiah) Laju Laju Aktual Lestari Aktual Lestari Degradasi Depresiasi ,30 777, , ,218 0, , ,60 944, , ,351 0, , ,80 730, , ,693 0, , ,70 306, , ,130 0, , ,70 795, , ,053 0, , ,00 942, , ,420 0, , , , , ,267 0, , ,40 998, ,440 0, , Rata-rata 0, , Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Berdasarkan Tabel 24 di atas dapat dilihat bahwa laju degradasi berfluktuasi setiap tahunnya. Tahun 2005 merupakan tingkat degradasi tertinggi dengan laju degradasi 0, Nilai ini menunjukkan bahwa telah terjadi degradasi sumberdaya yang disebabkan oleh tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih yang sangat tinggi. Pada tahun ini merupakan produksi yang paling tinggi sejak tahun Tingginya produksi ini mengakibatkan besarnya tekanan terhadap sumberdaya ikan Bilih sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas sumberdaya (Lampiran 5). Tingginya tingkat degradasi ini menyebabkan tingginya laju depresiasi. Laju depresiasi tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu 0, Rata-rata laju degradasi dan depresiasi sumberdaya ikan Bilih berturut-turut adalah 0, dan 0, Secara rata-rata sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak belum mengalami degradasi dan depresiasi karena nilai rata-rata laju degradasi dan depresiasi lebih kecil dari 0,5 (Fauzi dan Anna, 2005).

92 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Setiap alat tangkap memiliki kemampuan yang berbeda dalam kegiatan penangkapan ikan Bilih. Kemampuan alat tangkap, faktor internal nelayan, dan faktor lingkungan mempengaruhi pendapatan nelayan. Oleh karena itu, pengujian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan ikan Bilih di Danau Singkarak perlu dilakukan untuk masing-masing alat tangkap sebagai acuan dalam pengambilan keputusan. Analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan dilakukan dengan menggunakan regresi berganda dengan bantuan Minitab 14 (Lampiran 6). Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan menurut alat tangkap. a. Jaring Langli Pendapatan merupakan bagian dari rente yang diterima nelayan dari pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih dengan menggunakan alat tangkap jaring langli. Pendapatan nelayan jaring langli dipengaruhi oleh faktor internal nelayan, lingkungan, sumberdaya ikan Bilih, dan biaya. Berikut ini hasil pendugaan parameter dari faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan jaring langli disajikan pada Tabel 25. Tabel 25. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Jaring Langli. Prediktor Koefisien SE T- Koefisien hitung Peluang VIF Konstanta ,47 0,644 Umur (X 1 ) ,17 0,253 3,7 Lama Sekolah (X 2 ) ,03 0,974 3,1 Jarak (X 3 ) ,27 0,217 3,6 Pengalaman (X 4 ) ,55 0,136 * 3,4 Biaya Penangkapan (X 5 ) 0,3451 0,4357 0,79 0,436 2,8 Hasil Tangkapan (X 6 ) ,43 0,002 ** 6,3 S = R-Sq(adj) = 83,3% Durbin Watson = 2,04187 Sumber: Data Primer (dioleh), 2011 Keterangan: * Nyata pada taraf 15%, ** Nyata pada taraf 1%

93 79 Nilai t hitung dari Tabel 25 di atas menunjukkan bahwa variabel jarak signifikan mempengaruhi pendapatan pada taraf nyata alpha (α=15%) dan variabel hasil tangkapan signifikan mempengaruhi pendapatan pada taraf nyata alpha (α=1%). Nilai koefisien determinasi atau R-Sq (adj) yang diperoleh adalah 83,3%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa 83,3% variasi variabel bebas dapat menjelaskan variabel tidak bebas pada taraf nyata 1% dan 15% sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Secara umum model dapat dituliskan dengan: Y = X X X X 4 +0,345X X 6 Uji normalitas menunjukkan hasil statistik Kolmogrov-Smirnov dan p-value. Nilai Kolmogrov-Smirnov yang diperoleh dari hasil analisis adalah sebesar 0,134. Nilai ini lebih kecil dari nilai p-value residual grafik yaitu >15%. Hal ini berarti bahwa model regresi yang dibuat telah mengikuti distribusi normal. Selain itu dilakukan pengujian terhadap pelanggaran asumsi dalam model seperti pengujian terhadap heteroskedastisitas, autokorelasi, dan multikolinearitas. Pembuktian tidak adanya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat hasil plot model apakah membentuk pola atau tidak. Pada model ini tidak terdapat heteroskedastisitas karena plot model tidak membentuk pola atau menyebar bebas. Artinya, model adalah homoskedastisitas. Kemudian dilakukan uji terhadap autokorelasi dengan menggunakan nilai Durbin Watson. Model ini tidak mengandung autokorelasi karena nilai D-W yang dianjurkan adalah 1,601<DW<2,394 sedangkan nilai yang diperoleh adalah 2, Uji multikolinearitas dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation Factor) yang diperoleh. Jika nilai VIF<10 maka tidak terdapat multikolinearitas. Nilai VIF untuk semua peubah bebas pada model ini lebih kecil

94 80 dari 10 maka dapat disimpulkan tidak ada multikolinearitas pada model tersebut. Uji pelanggaran ini dapat dilihat pada Lampiran 6. Berikut ini diuraikan pengaruh dari masing-masing variabel bebas terhadap pendapatan nelayan jaring langli: 1. Umur Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan alat analisis regresi maka diperoleh nilai probability sebesar 0,253 yang lebih besar daripada alpha (α=15%). Hal menunjukkan bahwa faktor umur tidak signifikan mempengaruhi pendapatan nelayan dengan alat tangkap jaring langli. Faktor umur berkaitan dengan kemampuan fisik dan kekuatan nelayan. Kekuatan fisik ini dibutuhkan oleh nelayan untuk mengayuh sampan menuju ke tengah danau hingga jarak 2-3 Km setiap harinya untuk menahan jaring. Umur diduga tidak mempengaruhi pendapatan karena rata-rata nelayan yang menggunakan alat tangkap jaring langli berada pada umur produktif yaitu tahun dengan jarak tempuh yang relatif sama. 2. Lama Sekolah Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai probability sebesar 0,974 yang lebih besar dari alpha (α=15%). Hal ini menunjukkan bahwa lama sekolah tidak signifikan mempengaruhi pendapatan. Tingkat pendidikan pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan lama sekolah. Pendidikan nelayan diduga terkait dengan produktivitas nelayan dan kemampuan dalam pengambilan keputusan pemilihan teknologi. Menurut hasil survei lapang diketahui bahwa rata-rata tingkat pendidikan nelayan jaring langli adalah Sekolah Dasar (SD). Rendahnya tingkat pendidikan ini diduga menyebabkan rendahnya produktivitas nelayan sehingga pendapatan yang diperoleh rendah.

95 81 3. Jarak Besarnya nilai probability yang diperoleh dari hasil uji statistik adalah sebesar 0,217 yang lebih besar dibandingkan dengan alpha (α=15%). Hal ini menunjukkan bahwa faktor jarak tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan. Semakin jauh jarak penangkapan ikan nelayan dengan alat tangkap jaring langli maka diduga jumlah ikan yang ditangkap akan semakin banyak. Namun rata-rata jarak tempuh nelayan relatif sama (±2-3 Km) karena hanya menggunakan sampan kayuh, maka variabel jarak diduga tidak mempengaruhi pendapatan nelayan. 4. Pengalaman Nilai probability yang diperoleh dari hasil uji regresi adalah 0,136 yang lebih kecil dari alpha (α=15%). Pengalaman mempengaruhi pendapatan secara signifikan. Artinya, bertambahnya 1 tahun pengalaman nelayan maka akan meningkatkan rata-rata pendapatan sebesar Rp per tahunnya dengan asumsi cateris paribus. Pengalaman diduga mempengaruhi teknik penangkapan seorang nelayan yang secara tidak langsung mengajarkan kepada nelayan waktu yang tepat untuk melakukan penangkapan ikan Bilih dan menentukan musim penangkapan. Pada saat angin kencang dan cuaca buruk hasil tangkapan lebih sedikit, belajar dari pengalaman tersebut pada musim ini nelayan tidak melakukan penangkapan. 5. Biaya Penangkapan Nilai probability yang diperoleh dari hasil uji regresi adalah 0,436 yang lebih besar dari alpha (α=15%). Biaya penangkapan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan. Peningkatan biaya ini diduga terkait dengan penambahan biaya bensin dan pangan yang dibutuhkan nelayan karena

96 82 semakin jauhnya wilayah penangkapan (fishing ground) menuju ke tengah danau. Terkait dengan jarak tempuh yang relatif sama dan dekat, maka tidak ada penambahan biaya. Akibatnya biaya penangkapan diduga tidak mempengaruhi pendapatan nelayan. 6. Hasil Tangkapan Nilai probability yang diperoleh dari hasil uji regresi adalah 0,002 yang lebih kecil dari alpha (α=1%). Hasil tangkapan berpengaruh positif secara signifikan terhadap pendapatan. Artinya, meningkatnya 1 kg hasil tangkapan akan meningkatkan rata-rata pendapatan nelayan sebesar Rp per tahunnya dengan asumsi cateris paribus. b. Alahan Alahan merupakan alat tangkap tradisional dalam penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak. Alahan adalah alat tangkap dengan pendapatan paling tinggi dibandingkan dengan jaring langli dan jala. Hasil analisis uji regresi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan alahan dapat dilihat pada Tabel 26. Tabel 26. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Alahan. Prediktor Koefisien SE Koefisien T- hitung Peluang VIF Konstanta ,18 0,862 Umur (X 1 ) ,56 0,131 * 3,6 Lama Sekolah (X 2 ) ,08 0,937 1,7 Jarak (X 3 ) ,38 0,705 1,2 Pengalaman (X 4 ) ,40 0,025 ** 4,7 Biaya Penangkapan (X 5 ) 0,0033 0, ,01 0,994 1,1 Hasil Tangkapan (X 6 ) ,56 0,000 *** 1,6 S = R-Sq(adj) = 82,6% Durbin-Watson = 2,40377 Sumber: Data Primer (diolah), 2011 Keterangan: * Nyata pada taraf 15%, ** Nyata pada taraf 5%, *** Nyata pada taraf 1%

97 83 Nilai t hitung dari Tabel 26 di atas menunjukkan bahwa variabel umur signifikan mempengaruhi pendapatan pada taraf nyata alpha (α=15%), pengalaman signifikan mempengaruhi pendapatan pada taraf nyata alpha (α=5%), dan variabel hasil tangkapan signifikan mempengaruhi pendapatan pada taraf nyata alpha (α=1%). Nilai koefisien determinasi atau R-Sq (adj) yang diperoleh adalah 82,6% yang berarti bahwa 82,6% variasi variabel bebas dapat menjelaskan variabel tidak bebas pada taraf nyata 1%, 5%, dan 15% sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Secara umum model dapat dituliskan dengan: Y = X X X X 4 +0,003X X 6 Uji normalitas menunjukkan hasil statistik Kolmogrov-Smirnov dan p-value. Nilai Kolmogrov-Smirnov yang diperoleh dari hasil analisis adalah sebesar 0,131. Nilai ini lebih kecil dari nilai p-value residual grafik yaitu >15%. Hal ini berarti bahwa model yang dibuat telah mengikuti distribusi normal. Pengujian terhadap heteroskedastisitas, autokorelasi, multikolinearitas, dan kenormalan dilakukan untuk melihat pelanggaran pada model. Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat hasil plot model apakah membentuk pola atau tidak. Pada model ini tidak terdapat heteroskedastisitas karena plot model tidak membentuk pola atau menyebar bebas. Artinya model adalah homoskedastisitas. Kemudian dilakukan uji terhadap autokorelasi dengan menggunakan nilai Durbin Watson. Nilai yang diperoleh adalah 2,40377 yang berada pada wilayah tanpa autokorelasi karena nilai D-W yang dianjurkan adalah 1,601<DW<2,394. Uji multikolinearitas dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation Factor) yang diperoleh. Jika nilai VIF<10 maka tidak terdapat multikolinearitas. Nilai VIF untuk semua peubah bebas pada model

98 84 ini lebih kecil dari 10 maka dapat disimpulkan tidak ada multikolinearitas pada model tersebut. Uji pelanggaran ini dapat dilihat pada Lampiran 6. Pendapatan nelayan alahan dipengaruhi oleh faktor lain selain faktor yang diuji pada analisis pendapatan ini seperti jumlah curah hujan, cuaca, iklim, dan kondisi alamiah lainnya. Berikut ini akan diuraikan pengaruh dari masing-masing variabel bebas terhadap pendapatan nelayan alahan: 1. Umur Hasil analisis uji regresi diperoleh nilai probability sebesar 0,131. Nilai ini lebih kecil dari alpha (α=15%) dengan koefisien regresi Hal ini menunjukkan bahwa variabel umur signifikan mempengaruhi pendapatan nelayan dengan alat tangkap jala. Artinya, semakin bertambahnya 1 tahun umur nelayan akan mengurangi rata-rata pendapatannya sebesar Rp per tahun dengan asumsi cateris paribus. Umur diduga berkaitan dengan kondisi fisik nelayan. Semakin muda umur nelayan maka cenderung lebih kuat untuk menjaga alahan pada malam hari sehingga tidak dibutuhkan tenaga kerja tambahan. Pengurangan terhadap biaya tambahan diduga dapat meningkatkan pendapatan. 2. Lama Sekolah Hasil analisis uji statistik diperoleh nilai probability sebesar 0,937 yang lebih besar dari alpha (α=15%). Artinya bahwa lama sekolah tidak mempengaruhi pendapatan pada koefisien Pada alat tangkap alahan rata-rata tingkat pendidikan dan produktivitas nelayan masih rendah, Kegiatan penangkapan ikan Bilih dengan menggunakan alahan hanya membutuhkan teknologi yang sederhana sehingga pendidikan diduga tidak berpengaruh secara nyata dalam meningkatkan pendapatan.

99 85 3. Jarak Nilai probability yang diperoleh dari hasil uji statistik adalah sebesar 0,705 yang lebih besar dari alpha (α=15%). Hal ini menunjukkan bahwa jarak tidak mempengaruhi pendapatan nelayan alahan pada koefisien Hal ini diduga disebabkan oleh jarak alahan yang rata-rata hanya meter dari rumah pemilik alahan dengan panjang alahan yang hampir sama yaitu sekitar meter menuju muara sungai. 4. Pengalaman Nilai probability yang diperoleh dari hasil uji statistik adalah 0,025 yang lebih kecil dari alpha (α=5%). Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman mempengaruhi pendapatan secara signifikan pada koefisien Artinya, bertambahnya 1 tahun pengalaman nelayan dalam penangkapan ikan Bilih akan meningkatkan rata-rata pendapatan sebesar Rp per tahun dengan asumsi cateris paribus. Pengalaman nelayan diduga terkait dengan pengambilan keputusan waktu dan musim penangkapan ikan Bilih. Secara umum nelayan alahan yang telah lama menangkap ikan Bilih tidak melakukan penangkapan pada cuaca hujan dengan angin yang kencang karena pada kondisi ini air danau menjadi keruh dan ikan tidak melakukan pemijahan ke muara sungai. 5. Biaya Penangkapan Nilai probability yang dihasilkan dari uji statistik adalah 0,994 yang lebih besar dari alpha (α=15%). Hal ini menunjukkan bahwa biaya penangkapan tidak mempengaruhi pendapatan secara signifikan pada koefisien 0,0033. Biaya penangkapan tidak mempengaruhi pendapatan nelayan diduga disebabkan oleh

100 86 komponen biaya variabel alahan hanya terdiri dari biaya listrik dan tenaga kerja yang cenderung bersifat statis. 6. Hasil Tangkapan Hasil uji statistik diperoleh nilai probability sebesar 0,000 yang lebih kecil dari alpha (α=1%). Hal ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan signifikan mempengaruhi pendapatan pada koefisien Artinya, meningkatnya 1 kg hasil tangkapan nelayan maka akan meningkatkan pendapatan sebesar Rp per tahunnya dengan asumsi cateris paribus. c. Jala Jala merupakan alat tangkap yang lebih banyak digunakan di daerah sekitar muara sungai. Pendapatan nelayan untuk alat tangkap ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Hasil analisis uji regresi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan jala disajikan pada Tabel 27. Tabel 27. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan Jala. Prediktor Koefisien SE T- Koefisien hitung Peluang VIF Konstanta ,27 0,792 Umur (X 1 ) ,01 0,993 7,1 Lama Sekolah (X 2 ) ,72 0,481 1,9 Jarak(X 3 ) ,68 0,013* 1,8 Pengalaman (X 4 ) ,33 0,745 5,5 Biaya Penangkapan (X 5 ) 0,1053 0,2873 0,37 0,717 1,4 Hasil Tangkapan (X 6 ) ,20 0,000** 2,6 S = R-Sq = 80,4% Durbin-Watson = 1,49592 Sumber: Data Primer (diolah), 2011 Keterangan: * Nyata pada taraf 5%, **Nyata pada taraf 1% Nilai t hitung dari Tabel 27 di atas menunjukkan bahwa variabel jarak signifikan mempengaruhi pendapatan pada taraf nyata alpha (α=5%) dan hasil tangkapan signifikan mempengaruhi pendapatan pada taraf nyata alpha (α=1%). Nilai koefisien determinasi atau R-Sq (adj) yang diperoleh adalah 80,4%. Nilai

101 87 tersebut menunjukkan bahwa 80,4% variasi variabel bebas dapat menjelaskan variabel tidak bebas pada taraf nyata 1% dan 5% sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Secara umum model dapat dituliskan dengan: Y = X X X X 4 +0,105X X 6 Uji normalitas menunjukkan hasil statistik Kolmogrov-Smirnov dan p-value. Nilai Kolmogrov-Smirnov yang diperoleh dari hasil analisis adalah sebesar 0,086. Nilai ini lebih kecil dari nilai p-value residual grafik (>15%). Pengujian terhadap heteroskedastisitas, autokorelasi, multikolinearitas, dan kenormalan data dilakukan untuk menguji pelanggaran pada model. Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat hasil plot model apakah membentuk pola atau tidak. Pada model ini tidak terdapat heteroskedastisitas karena plot model tidak membentuk pola atau menyebar bebas. Artinya model adalah homoskedastisitas. Kemudian dilakukan uji terhadap autokorelasi dengan menggunakan nilai Durbin Watson. Nilai yang diperoleh adalah I, Nilai ini berada pada wilayah tanpa keputusan. Untuk uji multikolinearitas dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation Factor) yang diperoleh. Jika nilai VIF < 10 maka tidak terdapat multikolinearitas. Nilai VIF untuk semua peubah bebas pada model ini lebih kecil dari 10 maka dapat disimpulkan tidak ada multikolinearitas pada model tersebut. Uji pelanggaran ini dapat dilihat pada Lampiran 6. Berikut ini akan diuraikan pengaruh dari masing-masing variabel bebas terhadap pendapatan nelayan jala: 1. Umur Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai probability sebesar 0,993 yang lebih besar dari alpha (α=5%). Hal ini menunjukkan bahwa faktor umur tidak signifikan mempengaruhi pendapatan nelayan. Jala merupakan alat tangkap

102 88 yang mengandalkan kekuatan karena nelayan harus berdiri di perairan dan melempar jala selama 5 menit kemudian mengangkatnya kembali secara terus menerus rata-rata selama 8 jam setiap harinya. Oleh karena itu, semakin muda umur nelayan diduga nelayan akan semakin kuat sehingga semakin tinggi pendapatan yang diperoleh. Hasil survei lapang menunjukkan rata-rata umur nelayan jala berada pada umur produkstif yaitu tahun sehingga diduga tidak mempengaruhi pendapatan secara signifikan. 2. Lama Sekolah Nilai probability yang diperoleh dari hasil uji statistik adalah 0,481 yang lebih besar dari alpha (α=5%). Lama sekolah tidak signifikan mempengaruhi pendapatan nelayan jala. Pendidikan yang dianalisis dengan lama sekolah berhubungan dengan produktivitas nelayan. Nelayan alahan memiliki rata-rata tingkat pendidikan rendah sehingga produktivitas nelayan menjadi rendah. Hal ini diduga menyebabkan pendapatan yang diperoleh cenderung lebih rendah. 3. Jarak Nilai probability yang diperoleh dari hasil uji statistik adalah 0,013 yang lebih kecil dari alpha (α=5%). Hal ini menunjukkan bahwa jarak mempengaruhi pendapatan. Artinya, penambahan 1 meter jarak penangkapan akan meningkatkan pendapatan nelayan sebesar Rp per tahunnya dengan asumsi cateris paribus. Jarak mempengaruhi pendapatan nelayan jala diduga disebabkan oleh wilayah penangkapan yang dilakukan di muara sungai dengan rata-rata jarak meter untuk penjala tegak dan meter untuk penjala yang menggunakan sampan. Jika nelayan menambah jarak penagkapannya maka diduga akan meningkatkan pendapatan.

103 89 4. Pengalaman Nilai probability yang diperoleh dari hasil uji statistik adalah 0,745 yang lebih besar dari alpha (α=5%). Hal ini menunjukan bahwa pengalaman nelayan tidak mempengaruhi pendapatan nelayan. Pengalaman diduga tidak mempengaruhi pendapatan nelayan jala karena waktu penangkapan nelayan jala tidak dipengaruhi musim karena dapat dilakukan sepanjang hari. Jika kondisi cuaca tidak baik pada pagi hari maka nelayan dapat melakukan penangkapan pada siang atau malam hari dan begitu juga sebaliknya. 5. Biaya Penangkapan Nilai probability yang diperoleh dari hasil uji statistik adalah 0,717 yang lebih besar dari alpha (α=5%). Hal ini menunjukkan bahwa biaya penangkapan tidak mempengaruhi pendapatan nelayan karena tidak ada penambahan biaya ini terkait dengan biaya pangan dan perawatan alat tangkap pada kegiatan penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak jika nelayan menambah jarak penangkapan. Hal ini disebabkan biaya pangan relatif stabil dan dalam penangkapan nelayan tidak membutuhkan bensin karena pada umumnya menggunakan sampan tanpa mesin. 6. Hasil Tangkapan Hasil uji statistik diperoleh nilai probability adalah 0,000 yang lebih kecil dari alpha (α=10%). Hasil tangkapan mempengaruhi pendapatan pada koefisien Artinya, peningkatan 1 kg penangkapan akan meningkatkan rata-rata pendapatan sebesar Rp per tahunnya dengan asumsi cateris paribus.

104 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Nelayan Terhadap Kelestarian Sumberdaya Ikan Bilih Nelayan untuk setiap alat tangkap memiliki persepsi yang berbeda-beda. Oleh karena itu pengujian korelasi menggunakan uji Rank Spearman dengan bantuan SPSS version 15.0 for Windows perlu dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi nelayan terhadap kelestarian sumberdaya ikan Bilih. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi nelayan terdiri dari faktor internal dan ekternal. Faktor internal adalah umur, tanggungan, pendidikan, pengalaman, dan kategori penduduk. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari aturan, pendapatan, dan pekerjaan alternatif. Berikut ini hasil analisis korelasi Rank Spearman (Lampiran 7) untuk setiap alat tangkap. 1. Jaring Langli Tabel pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi nelayan terhadap kelestarian ikan Bilih di Danau Singkarak dapat dilihat pada Tabel 28. Tabel 28. Hasil Analisis Uji Rank Spearman Terhadap Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Nelayan Langli Faktor Koefisien Rank Spearman Signifikan Keterangan Aturan 0,441 0,015 ** Berhubungan Nyata Pendapatan 0,148 0,436 Tidak Berhubungan Nyata Umur -0,202 0,284 Tidak Berhubungan Nyata Tanggungan 0,313 0,092 * Berhubungan Nyata Pendidikan 0,450 0,013 ** Berhubungan Nyata Jarak ,076 * Berhubungan Nyata Pengalaman -0,189 0,316 Tidak Berhubungan Nyata Kategori Penduduk -0,275 0,142 Tidak Berhubungan Nyata Pekerjaan 0,013 0,945 Tidak Berhubungan Nyata Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Keterangan: * Nyata pada taraf 10%, ** Nyata pada taraf 5%

105 91 Berikut ini diuraikan hubungan dari masing-masing variabel tersebut terhadap persepsi nelayan jaring langli: 1. Hubungan antara persepsi dengan aturan Hubungan antara aturan dengan persepsi masyarakat nelayan terhadap kelestarian ikan Bilih yang diperoleh dari hasil uji Rank Spearman menyatakan bahwa ada hubungan nyata antara kedua faktor tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan nilai peluang sebesar 0,015 yang lebih kecil dari alpha (α=5%). Nilai koefisien Rank Spearman diperoleh sebesar 0,441. Artinya, hubungan antara persepsi dan aturan adalah positif dan agak rendah. Nilai tersebut menyatakan bahwa jika ada aturan terhadap pengelolaan ikan Bilih maka diduga nelayan semakin menjaga keberadaan ikan Bilih dan cenderung lebih bersikap ramah lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan aturan dan sanksi yang jelas. 2. Hubungan antara persepsi dengan pendapatan Persepsi nelayan tidak memiliki hubungan nyata dengan pendapatan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai peluang sebesar 0,436 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Pendapatan tidak berhubungan nyata dengan persepsi karena pendapatan nelayan tidak hanya dihasilkan dari hasil penangkapan sumberdaya ikan Bilih. Nelayan ikan Bilih dengan alat tangkap langli pada umumnya memiliki pekerjaan alternatif. Pada umumnya nelayan dengan pendapatan tinggi maupun dengan pendapatan rendah mengganggap bahwa pelestarian ikan Bilih itu penting. 3. Hubungan antara persepsi dengan umur Hubungan antara persepsi dan umur melalui nilai uji Rank Spearman diperoleh nilai peluang sebesar 0,284. Nilai uji variabel ini lebih besar dari alpha (α=10%) yang berarti persepsi dan umur tidak memiliki hubungan nyata. Umur

106 92 tidak berhubungan nyata dengan persepsi karena pada tingkat umur berapapun nelayan menganggap bahwa melestarikan ikan Bilih adalah penting. 4. Hubungan antara persepsi dengan tanggungan Hubungan antara persepsi dan jumlah tanggungan keluarga yang diperoleh dari hasil uji menyatakan bahwa nilai peluang adalah 0,092 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan nyata antara persepsi dengan jumlah tanggungan keluarga dengan koefisien Rank Spearman sebesar 0,313. Artinya hubungan antara persepsi dengan jumlah tanggungan keluarga adalah positif namun rendah. Hal ini disebabkan oleh semakin besar jumlah tanggungan maka semakin besar ketergantungan terhadap ikan Bilih sehingga perlu dipertahankan keberadaannya. 5. Hubungan antara persepsi dengan lama sekolah Hubungan antara persepsi dengan lama sekolah menunjukkan ada hubungan nyata antara lama sekolah dengan persepsi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai peluang sebesar 0,013 yang lebih kecil dari alpha (α=10%). Nilai koefisien Rank Spearman yang diperoleh adalah 0,450. Artinya, hubungan antara persepsi dan lama sekolah positif dan agak rendah. Hal ini diduga semakin lama seseorang menempuh pendidikan maka semakin peduli dengan kelestarian ikan Bilih. Hasil survei di lapangan menunjukkan bahwa nelayan dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih menjaga kelestarian ekosistem danau. 6. Hubungan antara persepsi dengan jarak Hubungan antara persepsi dengan jarak menunjukkan adanya hubungan nyata yang ditunjukkan oleh nilai peluang sebesar 0,076 yang lebih kecil dari alpha

107 93 (α=10%) dengan koefisien Rank Spearman sebesar 0,328. Artinya, hubungan antara persepsi dengan jarak positif dan rendah. Semakin jauh jarak penangkapan ke tengah danau maka nelayan cenderung lebih peduli terhadap kelestarian ikan Bilih. Hal ini diduga disebabkan semakin jauh jarak tempuh maka semakin luas ekosistem yang berpotensi untuk rusak. 7. Hubungan antara persepsi dengan pengalaman Pengalaman nelayan berhubungan tidak nyata dengan persepsi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai peluang sebesar 0,316 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Pengalaman tidak berhubungan nyata dengan persepsi karena baik nelayan yang sudah lama atau baru menangkap ikan Bilih merasakan penurunan produksi sumberdaya ikan Bilih. 8. Hubungan antara persepsi dengan kategori penduduk Hubungan antara persepsi dengan kategori penduduk menunjukkan tidak ada hubungan nyata. Hal ini ditunjukkan dengan nilai peluang adalah 0,142 yang lebih besar dari alpha (α =10%). Tidak adanya hubungan yang nyata ini disebabkan oleh penduduk pendatang dan asli sama-sama merasa memiliki sumberdaya ikan Bilih. 9. Hubungan antara persepsi dengan pekerjaan alternatif nelayan Hubungan antara persepsi dengan pekerjaan alternatif nelayan menunjukkan tidak ada hubungan nyata antara persepsi dengan pekerjaan alternatif. Hal ini ditunjukkan dengan nilai peluang adalah 0,945 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Hal ini diduga karena pada umumnya nelayan memiliki pekerjaan alternatif.

108 94 2. Alahan Hasil uji korelasi Rank Spearman untuk melihat hubungan antar variabel yang mempengaruhi persepsi nelayan dengan alat tangkap jala disajikan pada Tabel 29. Tabel 29. Hasil Analisis Rank Spearman Terhadap Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Nelayan Alahan No Faktor Koefisien Rank Spearman Peluang Keterangan 1 Aturan 0,999 0,000 ** Berhubungan Nyata 2 Pendapatan -0,354 0,055 * Berhubungan Nyata 3 Umur 0,028 0,885 Tidak Berhubungan Nyata 4 Tanggungan -0,319 0,086 * Berhubungan Nyata 5 Pendidikan -0,348 0,060 * Berhubungan Nyata 6 Jarak -0,074 0,699 Tidak Berhubungan Nyata 7 Pengalaman 0,006 0,974 Tidak Berhubungan Nyata 8 Kategori -0,071 0,708 Tidak Berhubungan Nyata 9 Pekerjaan 0,119 0,530 Tidak Berhubungan Nyata Sumber: Hasil Analisis Data, 2011 Keterangan: * Nyata pada taraf 10%, ** Nyata pada taraf 1% Berikut ini diuraikan hubungan dari masing-masing variabel terhadap persepsi nelayan alahan terhadap kelestarian sumberdaya ikan Bilih: 1. Hubungan antara persepsi dengan aturan Hubungan antara aturan dengan persepsi masyarakat nelayan terhadap kelestarian ikan Bilih yang diperoleh dari hasil uji korelasi Rank Spearman menyatakan bahwa ada hubungan nyata antara kedua faktor tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan nilai peluang sebesar 0,000 yang lebih kecil dari alpha (α=1%) dengan koefisien rank Spearman 0,999. Nilai tersebut menyatakan bahwa keputusan pengujian variabel persepsi dan aturan memiliki hubungan positif yang sangat kuat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baiknya aturan

109 95 dalam pengelolaan ikan Bilih maka nelayan akan cenderung semakin berkeinginan untuk mengkonservasi ikan Bilih. 2. Hubungan antara persepsi dengan pendapatan Pendapatan merupakan rente yang diterima nelayan dari pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih. Pendapatan dan persepsi masyarakat nelayan memiliki hubungan nyata. Hal ini ditunjukkan oleh nilai peluang sebesar 0,055 yang lebih kecil dari alpha (α=10%) dengan koefisien Rank Spearman -0,354. Artinya, pendapatan dan persepsi memiliki hubungan negatif dan agak rendah. Pada umumnya pendapatan nelayan alahan saat ini mengalami penurunan. Sehingga semakin rendah pendapatan yang diperoleh nelayan karena berkurangnya populasi ikan Bilih maka akan cenderung lebih peduli terhadap kelestarian ikan Bilih. 3. Hubungan antara persepsi dengan umur Umur dan persepsi tidak memiliki hubungan yang nyata. Hal ini ditunjukkan oleh nilai peluang sebesar 0,855 yang besar dari alpha (α= 10%) dengan koefisien Rank Spearman sebesar 0,028. Hal ini diduga karena nelayan pada semua tingkat umur merasakan populasi ikan Bilih terus menurun. Oleh karena itu dibutuhkan tindakan yang ramah lingkungan untuk mempertahankan keberadaan ikan Bilih. 4. Hubungan antara persepsi dengan tanggungan Hubungan antara persepsi dan jumlah tanggungan keluarga yang diperoleh dari hasil uji adalah nyata. Hal ini ditunjukkan oleh nilai peluang yang diperoleh sebesar 0,086 yang lebih kecil dari alpha (α=10%). Koefisien korelasi Rank Spearman sebesar -0,319 yang berarti adanya hubungan negatif dan rendah

110 96 antara persepsi dan jumlah tanggungan. Artinya semakin sedikit jumlah tanggungan maka nelayan lebih cenderung peduli terhadap kelestarian ikan Bilih. Hal ini diduga karena nelayan dengan jumlah tanggungan besar akan cenderung meningkatkan hasil tangkapan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan ekonomi diduga akan meningkatkan eksploitasi dan tekanan yang besar terhadap sumberdaya ikan Bilih. Sehingga semakin mengancam keberadaan ikan Bilih di Danau Singkarak. 5. Hubungan antara persepsi dengan jarak Hasil uji menunjukkan tidak ada hubungan nyata antara persepsi dengan jarak. Hal ini ditunjukkan dengan nilai peluang sebesar 0,699 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Hal ini diduga karena masyarakat yang tinggal di dekat ataupun tinggal lebih jauh dari sumberdaya telah merasakan dampak dari kepunahan ikan Bilih tersebut. Oleh karena itu masyarakat berpendapat bahwa menjaga kelestarian ikan Bilih adalah penting. 6. Hubungan antara persepsi dengan pengalaman Hubungan antara persepsi dengan pengalaman nelayan adalah tidak nyata. Hal ini ditunjukkan oleh nilai peluang sebesar 0,524 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Pengalaman tidak mempengaruhi persepsi nelayan karena nelayan yang telah lama atau masih baru bekerja cenderung menganggap kelestarian ikan Bilih perlu dijaga. Hal ini diduga karena tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya ikan Bilih tersebut. 7. Hubungan persepsi dengan kategori penduduk Hubungan antara persepsi dan kategori penduduk tidak nyata. Hal ini ditunjukkan oleh nilai peluang 0,708 yang lebih besar dari alpha (α=5%). Pada

111 97 umumnya penduduk nelayan alahan adalah penduduk asli. Penduduk pendatang dan asli merasa penting menjaga kelestarian ikan Bilih. Penduduk pendatang telah lama tinggal dan menjadi bagian dari penduduk Danau Singkarak sehingga menganggap pelestarian ikan Bilih. 8. Hubungan persepsi dengan pekerjaan alternatif nelayan Tidak ada hubungan nyata antara persepsi dan pekerjaan alternatif nelayan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai peluang sebesar 0,538 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Hal ini diduga karena pada umumnya nelayan alahan memiliki pekerjaan alternatif. 3. Jala Persepsi nelayan terhadap kelestarian ikan Bilih berperan penting terhadap upaya pengelolaan. Faktor-faktor yang berhubungan nyata dengan persepsi berdasarkan hasil uji Rank Spearman disajikan pada Tabel 30. Tabel 30. Hasil Analisis Rank Spearman Terhadap Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Persepsi Nelayan Jala Faktor Koefisien Rank Spearman Signifikan Keterangan Aturan 0,837 0,000 *** Berhubungan Nyata Pendapatan 0,347 0,060 * Berhubungan Nyata Umur 0,447 0,013 ** Berhubungan Nyata Tanggungan 0,104 0,583 Tidak Berhubungan Nyata Pendidikan -0,194 0,304 Tidak Berhubungan Nyata Jarak 0,125 0,510 Tidak Berhubungan Nyata Pengalaman 0,511 0,004 *** Berhubungan Nyata Kategori 0,301 0,106 Tidak Berhubungan Nyata Pekerjaan 0,301 0,106 Tidak Berhubungan Nyata Sumber: Data Primer (diolah), 2011 Keterangan: * Nyata pada taraf 10%, ** Nyata pada taraf 5%, *** Nyata pada taraf 1%.

112 98 Faktor internal terdiri dari pengalaman, umur, Biaya penangkapan keluarga, lama sekolah, kategori penduduk, lama tinggal dan jarak. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang terdapat di luar diri responden yaitu aturan terhadap pengelolaan sumberdaya ikan Bilih serta faktor ekonomi yang terdiri dari pendapatan dan pekerjaan alternatif nelayan. Faktor-faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Hubungan antara persepsi dengan aturan Hubungan antara aturan dengan persepsi masyarakat nelayan terhadap kelestarian ikan Bilih yang diperoleh menyatakan bahwa ada hubungan nyata antara kedua faktor tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan nilai peluang sebesar 0,000 yang lebih kecil dari alpha (α=1%). Koefisien Rank Spearman yang diperoleh sebesar 0,837. Nilai tersebut menyatakan bahwa keputusan pengujian variabel tersebut adalah adanya hubungan nyata yang positif dan tinggi antara persepsi dan aturan. Artinya, semakin baik penerapan aturan terhadap pengelolaan ikan Bilih maka kelestarian semakin dianggap penting. Oleh karena itu keberadaan aturan menjadi sangat penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. 2. Hubungan antara persepsi dengan pendapatan Persepsi masyarakat nelayan memiliki hubungan nyata dengan pendapatan yang diperoleh nelayan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai peluang yang diperoleh dari hasil uji adalah 0,060 yang lebih kecil dari alpha (α=10%). Koefisien Rank Spearman yang diperoleh adalah sebesar 0,347. Nilai ini menunjukkan adanya hubungan positif dan agak rendah antara persepsi dan pendapatan. Artinya, nelayan dengan pendapatan tinggi lebih menyadari pentingnya

113 99 menjaga kelestarian ikan Bilih. Ketergantungan yang besar terhadap sumberdaya ikan Bilih menyebabkan nelayan semakin peduli dengan keberadaannya. 3. Hubungan antara persepsi dengan umur Hubungan antara persepsi dan pengalaman melalui nilai uji variabel Rank Spearman diperoleh nilai peluang sebesar 0,013. Nilai uji variabel ini lebih kecil dari alpha (α=5%) yang berarti persepsi dan pengalaman memiliki hubungan nyata. Koefisien korelasi yang diperoleh adalah sebesar 0,447. Nilai ini menunjukkan bahwa ada hubungan nyata dan rendah antara dua variabel tersebut. Semakin bertambahnya umur nelayan menyebabkan mereka lebih peduli terhadap sumberdaya ikan Bilih. 4. Hubungan antara persepsi dengan tanggungan Hubungan antara persepsi dan jumlah tanggungan keluarga yang diperoleh adalah 0,583 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan nyata antara persepsi dengan jumlah tanggungan keluarga. Hal ini diduga karena nelayan dengan jumlah tanggungan besar dan kecil menyadari bahwa kelestarian ikan Bilih penting untuk dijaga. 5. Hubungan antara persepsi dengan lama sekolah Hubungan antara persepsi dengan pendapatan menunjukkan tidak ada hubungan nyata. Hal ini ditunjukkan dengan nilai peluang sebesar 0,304 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Lama sekolah tidak berhubungan dengan persepsi nelayan karena pada tingkat umur berapapun nelayan menyadari pentingnya keberadaan ikan Bilih. Pendidikan pelestarian ini tidak hanya

114 100 diperoleh masyarakat dari pendidikan formal tetapi dari pendidikan informal seperti penyuluhan dan pengalaman empiris. 6. Hubungan antara persepsi dengan jarak Hubungan antara persepsi dengan jarak yang diperoleh menunjukkan tidak adanya hubungan nyata antara kedua variabel tersebut. Nilai peluang yang diperoleh adalah 0,510 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Jarak dan persepsi tidak memiliki hubungan nyata diduga karena nelayan dengan jarak tempat tinggal jauh ataupun dekat dengan sumberdaya menganggap kelestarian ikan Bilih itu penting. 7. Hubungan antara persepsi dengan pengalaman Persepsi dan pengalaman memiliki hubungan yang nyata yang ditunjukkan oleh nilai peluang sebesar 0,004 yang lebih kecil dari alpha (α=1%) dengan koefisien korelasi Rank Spearman sebesar 0,511. Nilai ini menunjukkan adanya hubungan nyata yang positif dan agak rendah antara dua variabel tersebut. Semakin lama seseorang berprofesi sebagai nelayan maka mereka akan semakin menyadari pentingnya menjaga kelestarian ikan Bilih. 8. Hubungan persepsi dengan kategori penduduk Tidak adanya hubungan nyata antara persepsi dan kategori penduduk yang ditunjukkan dengan nilai peluang sebesar 0,105 yang lebih besar dari alpha (α=10%). Hal ini disebabkan oleh nelayan pendatang telah merasakan penurunan produksi ikan Bilih sehingga menyadari pentingnya menjaga kelestarian ikan Bilih.

115 Hubungan antara persepsi dengan pekerjaan alternatif nelayan Hubungan antara persepsi dengan pekerjaan alternatif nelayan adalah tidak ada hubungan nyata. Nilai peluang yang diperoleh adalah 0,105 yang lebih besar dari alpha (α=10%) dengan koefisien korelasi Rank Spearman sebesar 0,301. Nelayan yang memiliki pekerjaan alternatif dan yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada sumberdaya ikan Bilih namun telah menyadari kelestarian ikan Bilih merupakan hal yang penting sehingga harus dijaga Peraturan Nagari di Nagari Sumpur Pengaturan terhadap sumberdaya ikan telah diatur melalui UU No, 31 tahun 2004 (Bab IV, pasal 6 ayat 1) yaitu tercapainya manfaat optimal dan berkelanjutan serta terjaminnya kelestarian ikan. Hal ini mendorong terbentuknya peraturan lokal yang berasal dari masyarakat. Kearifan lokal ini telah ada di masyarakat nagari Sumpur sejak dulu, namun sebelumnya hanya merupakan kesepakatan antar nelayan. Pemerintahan nagari, masyarakat dan instansi terkait bekerjasama untuk menggali kembali aturan tersebut dan aturan ini mulai disahkan sejak tahun 2006 menjadi Peraturan Nagari (Perna). Perubahan bentuk kesepakatan ini menjadi aturan nagari disebabkan oleh adanya dorongan dari masyarakat akan perlunya kekuatan hukum dari aturan tersebut dengan adanya sangsi yang kuat dan jelas. Tujuan dari pembentukan aturan tersebut antara lain: pertama, secara sosial dapat menimbulkan efek jera terhadap nelayan. Kedua, secara ekologis dapat melestarikan sumberdaya ikan Bilih, serta ketiga mencakup tujuan ekonomi untuk mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang karena ikan Bilih merupakan komoditas utama dalam menunjang perekonomian masyarakat Sumpur. Peraturan Nagari (Perna) ini tidak hanya berlaku bagi nelayan di kenagarian Sumpur tetapi

116 102 juga bagi nelayan lainnya yang melakukan penangkapan di wilayah perairan Sumpur. Sangsi dari peraturan ini ditindak tegas tanpa pandang bulu. Pelaporan terhadap pelanggaran dapat dilakukan oleh masyarakat yang bertindak langsung sebagai pengawas (POKMASWAS). Bentuk peraturan nagari ini dapat dilihat pada Lampiran Implikasi Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak. Berdasarkan hasil pengkajian stok (stock assessment), saat ini kondisi aktual sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak diduga telah mengalami overfishing baik secara biologi maupun ekonomi. Kondisi overfishing ini disebabkan oleh jumlah penangkapan ikan Bilih yang melebihi kondisi maksimum yang sustainable secara biologi, tingkat effort yang lebih tinggi dari kondisi open access, serta rasio biaya yang lebih besar dibandingkan harga ( >p). Jika kondisi ini terus berlangsung maka dikhawatirkan stok ikan Bilih terus mengalami penurunan. Selain itu dari hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan diperoleh faktor-faktor yang rata-rata mempengaruhi pendapatan nelayan untuk ketiga alat tangkap adalah hasil tangkapan. Hasil tangkapan berpengaruh positif terhadap pendapatan. Hal ini berarti bahwa untuk meningkatkan pendapatan nelayan harus meningkatkan hasil tangkapan. Jika kondisi sumberdaya ikan Bilih mengalami overfishing maka ketersediaan stok akan berkurang sehingga nelayan tidak dapat meningkatkan kesejahteraannya. Hal ini menjadi acuan perlunya pengelolaan terhadap sumberdaya ikan Bilih yang berkelanjutan.

117 103 Pengelolaan sumberdaya ikan Bilih dapat diarahkan pada kondisi MEY (Maximum Economic Yield) dan kondisi MSY (Maximum Suistanable Yield). Jika pengelolaan diarahkan pada kondisi MEY maka effort harus ditekan sampai pada angka 630,40 unit standar alat tangkap. Artinya jumlah effort aktual harus dikurangi sebesar 2.861,68 unit sandar alat tangkap atau 392,3 unit langli, 35,48 unit alahan, dan 107,46 unit jala. Pada kondisi ini rente ekonomi yang diperoleh mencapai tingkat maksimum. Namun jika kebijakan ini diterapkan maka tenaga kerja yang dapat diserap lebih sedikit sehingga akan meningkatkan jumlah pengangguran. Menurut Widodo dan Suadi (2006), pada kenyataannya orang akan lebih mudah diajak untuk menangkap lebih banyak ikan daripada mengejar nilai ekonomi yang abstrak. Sehingga kebijakan ini sulit untuk dilakukan. Pengelolaan sumberdaya ikan Bilih membutuhkan pertimbangan ekonomi untuk menghindari terjadinya over exploitation dan pertimbangan biologis untuk menjaga mortalitas penangkapan agar tidak melampaui kemampuan populasi untuk bertahan serta untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan Bilih. Oleh karena itu jika kebijakan pengelolaan diarahkan pada kondisi MSY (Maximum Suistanable Yield) dengan menekan effort sampai pada angka 815,76 unit standar alat tangkap. Hal ini berarti bahwa effort harus dikurangi sebanyak 2.676,32 unit standar alat tangkap atau 258 unit langli, 23 unit alahan, dan 70,82 unit jala. Nilai ini lebih kecil jika dibandingkan dengan kondisi MEY. Penurunan penangkapan ke tingkat MSY tidak akan mengakibatkan kerugian besar, sebab kelebihan tenaga kerja yang lebih sedikit dapat diarahkan ke bentuk usaha lainnya yang lebih produktif. Pertanian dan pariwisata merupakan usaha yang potensial untuk dikembangkan di Danau Singkarak. Sektor ini juga dapat menyerap lebih banyak

118 104 tenaga kerja. Kelebihan dan kekurangan kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan Bilih tersebut disajikan pada Tabel 31. Tabel 31.Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Singkarak Kebijakan Kelebihan Kekurangan MEY 1. Rente sumberdaya yang diperoleh maksimum. 1. Penyerapan tenaga kerja rendah 2. Mengurangi 392,3 unit langli, 35,48 unit alahan, dan 107,46 unit jala. 1. Penyerapan tenaga kerja tinggi. MSY 2. Mengurangi 258 unit langli, 23 unit alahan, dan 70,82 unit jala. Sumber: Widodo dan Suadi (diolah), Tingkat keuntungan yang diperoleh tidak maksimum. Menurut Kusumastanto (2007), untuk mewujudkan pengelolaan yang mempertimbangkan keberlanjutan stok, keberlanjutan pendapatan, dan kesejahteraan nelayan ada tiga langkah yang dapat dilakukan yaitu langkah teknis, pengendalian masukan, dan pengendalian keluaran. Tapi dalam kasus ini strategi yang dapat dilakukan adalah: Langkah Teknis. Kebijakan langkah teknis yang dapat dilakukan dalam pengelolaan sumberdaya ikan Bilih dapat dilakukan melalui: 1. Pembatasan ukuran jaring langli minimum yaitu 1 inci. Tujuan dari pembatasan ini adalah mengurangi dampak dari penggunaan alat tangkap terhadap ukuran ikan dan habitatnya serta mengurangi mortalitas penangkapan. Pembatasan ukuran jaring minimum ini telah dilakukan pemerintah provinsi mulai tahun 2007 namun belum ditetapkan menjadi peraturah yang jelas. Akibatnya masih banyak masyarakat yang tetap menggunakan jaring langli dengan ukuran ¾ inci.

119 Pembatasan penggunaan alat tangkap. Tujuan pembatasan ini adalah untuk mengurangi jumlah effort ke tingkat MSY. Tingginya jumlah effort saat ini yaitu mencapai tingkat 3.492,08 unit standar alat tangkap mengakibatkan kondisi perikanan berada pada kondisi open access. Pada kondisi ini terjadi inefisiensi dalam perikanan. Dimana tingkat biaya yang dikeluarkan nelayan tinggi namun rente yang diperoleh tidak ada. Hal ini dapat menurunkan kesejahteraan nelayan ikan Bilih. 3. Pembatasan terhadap kawasan dan waktu penangkapan untuk alat tangkap jala dan alahan. Hal ini dilakukan karena kegiatan penangkapan kedua alat tangkap ini dilakukan di muara-muara sungai pada waktu-waktu pemijahan. Sehingga kegiatan penangkapan perlu dibatasi beberapa meter dari muara sungai. Pembatasan waktu penangkapan untuk alat tangkap jala dapat dilakukan melalui sistem shift. 4. Pembatasan ukuran minimum ikan yang ditangkap. Tujuan pembatasan ini adalah mengurangi mortalitas penangkapan. Kebijakan pengelolaan tersebut disesuaikan dengan keadaan sosial masyarakat, topografi, dan alat tangkap yang dominan digunakan. Selain itu kebijakan pengelolaan memerlukan aturan/regulasi yang jelas. Perikanan yang tidak diatur (unregulated) akan cenderung menempatkan upaya penangkapan pada tingkat yang melebihi tingkat optimal, sehingga over investasi akan terjadi dan perikanan berada pada tingkat yang tidak efisien secara sosial dan ekonomi. Regulasi ini diperlukan untuk meningkatkan kualitas serta bobot dan ukuran ikan. Hasil analisis persepsi diketahui bahwa keberadaan aturan berperan sangat penting dalam upaya menjaga kelestarian ikan Bilih. Oleh karena itu perlu adanya regulasi

120 106 terhadap penangkapan yang memiliki hukum dan sanksi yang jelas seperti Perda. Selain itu, peraturan nagari yang berlaku di Kenagarian Sumpur dapat dijadikan sebagai acuan bahwa aturan sangat penting sehingga masyarakat Sumpur cenderung lebih ramah lingkungan dalam kegiatan penangkapan ikan Bilih. Namun keberhasilan dari peraturan sangat ditentukan oleh dukungan semua stakeholders dan pengawasan terhadap aturan yang dilakukan oleh berbagai pihak.

121 107 VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan yaitu: 1. Pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih optimum yang diperoleh dari hasil perhitungan bioekonomi menghasilkan kondisi optimal nilai biomassa (x) 2.245,92 ton/tahun, hasil tangkapan lestari (h) 953,24 ton/tahun, dan Effort (E) nelayan sebesar 630,40 trip/tahun sehingga diperoleh rente ekonomi sebesar Rp ,25 per tahun. 2. Sumberdaya ikan Bilih di Danau Singkarak belum mengalami degradasi dan depresiasi karena rata-rata koefisien laju degradasi dan depresiasi sumberdaya ikan Bilih berturut-turut adalah 0, dan 0, Faktor-faktor yang secara umum mempengaruhi pendapatan nelayan sumberdaya ikan Bilih untuk setiap alat tangkap adalah hasil tangkapan nelayan. Faktor-faktor yang secara umum berhubungan nyata dengan persepsi nelayan terhadap kelestarian ikan Bilih adalah aturan. 4. Pengelolaan sumberdaya ikan Bilih dapat diarahkan pada kondisi MEY sehingga didapatkan keuntungan yang maksimum. Namun kebijakan ini berdampak pada pengurangan tenaga kerja yang cukup besar. Dalam rangka menyerap lapangan kerja yang lebih besar dengan tetap memperhatikan kelestarian sumberdaya, maka kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan Bilih didorong pada kondisi MSY dengan mengurangi alat tangkap sebanyak 258 unit langli, 23 unit alahan, dan 70,82 unit jala. Kebijakan ini harus didukung oleh aturan/regulasi yang jelas serta pengawasan dari semua pihak.

122 Saran Saran dalam penelitian ini adalah: 1. Kebijakan pengelolaan dapat diarahkan pada kondisi MSY dengan mengurangi effort sebesar 258 unit langli, 23 unit alahan, dan 70,82 unit jala. 2. Pengesahan aturan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) dan kebijakan pengelolaan agar dapat diawasi pelaksanaannya oleh setiap lapisan masyarakat di Danau Singkarak. 3. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk ukuran minimum ikan Bilih yang sebaiknya ditangkap.

123 109 DAFTAR PUSTAKA Akbar, M.F.A Kajian Ekonomi Sumberdaya Perikanan Tangkap di Kabupaten Pemalang. Skripsi. Program Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Anna, S Model Embedded Dinamik Ekonomi Interaksi Perikanan- Pencemaran. Disertasi. Program Pasca Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Asngari, P.S Persepsi Direktur Penyuluhan Tingkat Keresidenan dan Kepala Penyuluh Pertanian Terhadap Peranan dan Fungsi Lembaga Penyuluhan Pertanian di Negara Bagian Texas, Amerika Serikat. Media Peternakan Volume 9, no 2. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Azhar Studi Ekologi Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) di Danau Singkarak. Sumatera Barat. Tesis. Program Pasca Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor. BAPPENAS Biodiversity Action Plan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia. BPS Kabupaten Solok Kabupaten Solok dalam Angka. Solok: Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. BPS Kabupaten Tanah Datar Kabupaten Tanah Datar dalam Angka. Tanah Datar: Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Clark, C.W Bioeconomic Modelling and Fisheries Management. New York: Wiley-Interscience. DKP Provinsi Sumatera Barat Data Statistik Perikanan Sumatera Barat. Padang: Dinas Perikanan dan Kelautan Sumatera Barat. DKP Provinsi Sumatera Barat Usaha Penangkapan Ikan Bilih di Danau Singkarak. Bidang Perikanan Tangkap. Padang: Dinas Perikanan dan Kelautan Sumatera Barat. Effendy, S dan R. Hasan Politik Perencanaan Kependudukan Indonesia, Singapura, dan Pakistan. Seri Kertas Kerja No.29. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada. Fauzi, A dan S, Anna Permodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk Analisis Kebijakan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Fauzi, A Kebijakan Perikanan dan Kelautan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Ekonomi Perikanan Teori, Kebijakan, dan Pengelolaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Gujarati, D Basic Ekonometric, 3 rd Edition. New York: McGraw-Hill Internasional.

124 110 Haloho, A.D Analisis Bioekonomi Sumberdaya Lobster yang Berkelanjutan. Skripsi. Program Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Harianto Persepsi, Sikap, dan Perilaku Masyarakat Terhadap Air Sungai. Skripsi. Program Sarjana. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Indrawan, M et al Biologi Konservasi. Jakarta : Yayasan Bina Sains Hayati Indonesia. Juanda, B Ekonometrika, Permodelan dan Pendugaan. Bogor: IPB Press. Kusumastanto, T et al Konsepsi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut Arafuru dalam Rangka Terciptanya Pemanfaatan Sumberdaya yang Lestari. Paper. Bogor. Langevelt, M.J General of Psikology. New York: Harper and Row Publisher. Nababan, BO Analisis Dampak Perdagangan Ikan Karang Hidup Konsumsi (Life Reef Fish Food) Terhadap Sumberdaya Perikanan (Studi Kasus : Provinsi Sulawesi Selatan). Tesis. Program Pasca Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Nasution, S Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: PT. Bumi Aksara. Panudju, L Kajian Ekologis Habitat dan Sumberdaya bagi Konservasi Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Skripsi. Program Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Purnomo, K dan Kartamihardja E.S Selamatkan Ikan Bilih Sekarang juga atau Biarkan Punah. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Padang: Departemen Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat. Saanin, H Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan I. Bandung : Binacipta. Saarinen, T.F Perception of the Drought Hazard on The Great Plains. Departement of Geography Research Paper 106. University of Chicago, Chicago, III. Spare P dan S.C Venema Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis Buku I. Penterjemah Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (Berdasarkan Kerjasama dengan Organisasi Pangan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa). Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Terjemahan dari Introduction to Tropical Fish Stock Asessment Part I. Syandri, H Potensi Reproduksi Ikan Bilih, Mystacoleucus padangensis Blkr di Danau Singkarak. Fisheries Journal Garing, 3(4) : Fekunditas, Makanan dan Habitat Pemijahan Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) di Danau Singkarak. Jurnal Iptekni, 2 (5): Pemeliharaan Larva Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr). Fisheries Jurnal Garing, Vol 9 No.1 :

125 Ancaman Terhadap Plasma Nutfah Ikan Bilih )Mystacoleucus padangensis Blkr) dan Upaya Pelestariannya di Danau Singkarak. Padang: Universitas Bung Hatta. Trihendradi, C Step by Step SPSS 15.O: Analisis Data Statistik. Yogyakarta: Andi. Wahyudin, Y Alokasi Optimum Sumberdaya Perikanan di Perairan Teluk Pelabuhan Ratu. Tesis. Program Pasca Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Widodo, J dan Suadi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut. Yogyakarta: Gadjahmada University Press Yonwarson Manajemen Sumberdaya dan nilai ekonomi ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis Blkr) di Danau Singkarak, Provinsi Sumatera Barat. Skripsi. Program Sarjana. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

126 LAMPIRAN

127 Lampiran 1. Peta Danau Singkarak

I. PENDAHULUAN. dan 46 jenis diantaranya merupakan ikan endemik (Syandri, 2008). Salah satu

I. PENDAHULUAN. dan 46 jenis diantaranya merupakan ikan endemik (Syandri, 2008). Salah satu 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya memiliki 570 jenis spesies ikan tawar dan 46 jenis diantaranya merupakan ikan endemik (Syandri, 2008). Salah satu jenis ikan endemik

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Danau Singkarak, Provinsi Sumatera Barat

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Danau Singkarak, Provinsi Sumatera Barat 27 IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Danau Singkarak, Provinsi Sumatera Barat (Lampiran 1). Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret-April 2011. Penentuan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIOEKONOMI

VI. ANALISIS BIOEKONOMI 111 VI. ANALISIS BIOEKONOMI 6.1 Sumberdaya Perikanan Pelagis 6.1.1 Produksi dan Upaya Penangkapan Data produksi yang digunakan dalam perhitungan analisis bioekonomi adalah seluruh produksi ikan yang ditangkap

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 51 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Teori Selama ini, pengelolaan sumberdaya perikanan cenderung berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata dengan mengeksploitasi sumberdaya perikanan secara besar-besaran

Lebih terperinci

Volume 5, Nomor 2, Desember 2014 Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE) ANALISIS POTENSI LESTARI PERIKANAN TANGKAP DI KOTA DUMAI

Volume 5, Nomor 2, Desember 2014 Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE) ANALISIS POTENSI LESTARI PERIKANAN TANGKAP DI KOTA DUMAI Volume 5, Nomor 2, Desember 2014 ISSN 2087-409X Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE) ANALISIS POTENSI LESTARI PERIKANAN TANGKAP DI KOTA DUMAI Hazmi Arief*, Novia Dewi**, Jumatri Yusri**

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 3. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian mengenai dinamika stok ikan peperek (Leiognathus spp.) dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan nilai produksi ikan lemuru Indonesia, tahun Tahun

1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Volume dan nilai produksi ikan lemuru Indonesia, tahun Tahun 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan lemuru merupakan salah satu komoditas perikanan yang cukup penting. Berdasarkan data statistik perikanan Indonesia tercatat bahwa volume tangkapan produksi ikan lemuru

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. kriteria tertentu. Alasan dalam pemilihan lokasi penelitian adalah TPI Wonokerto

IV. METODE PENELITIAN. kriteria tertentu. Alasan dalam pemilihan lokasi penelitian adalah TPI Wonokerto IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di TPI Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah (Lampiran 1). Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan alasan dan kriteria

Lebih terperinci

5.5 Status dan Tingkat Keseimbangan Upaya Penangkapan Udang

5.5 Status dan Tingkat Keseimbangan Upaya Penangkapan Udang 5.5 Status dan Tingkat Keseimbangan Upaya Penangkapan Udang Pemanfaatan sumberdaya perikanan secara lestari perlu dilakukan, guna sustainability spesies tertentu, stok yang ada harus lestari walaupun rekrutmen

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perikanan sebagai salah satu sektor unggulan dalam pembangunan nasional mempunyai peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di masa mendatang, serta mempunyai

Lebih terperinci

Tujuan Pengelolaan Perikanan. Suadi Lab. Sosial Ekonomi Perikanan Jurusan Perikanan UGM

Tujuan Pengelolaan Perikanan. Suadi Lab. Sosial Ekonomi Perikanan Jurusan Perikanan UGM Tujuan Pengelolaan Perikanan Suadi Lab. Sosial Ekonomi Perikanan Jurusan Perikanan UGM suadi@ugm.ac.id Tujuan Pengelolaan tenggelamkan setiap kapal lain kecuali milik saya (sink every other boat but mine)

Lebih terperinci

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan 3.3 Metode Penelitian

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan 3.3 Metode Penelitian 21 3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan dan pengumpulan data di lapangan dilakukan pada Bulan Maret sampai dengan April 2009. Penelitian dilakukan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu,

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi perikanan Indonesia diestimasi sekitar 6,4 juta ton per tahun, dengan tingkat pemanfaatan pada tahun 2005 telah mencapai 4,408 juta ton, dan tahun 2006 tercatat

Lebih terperinci

1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah laut Indonesia terdiri dari perairan teritorial seluas 0,3 juta km 2, perairan laut Nusantara seluas 2,8 juta km 2 dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN STOCK. Analisis Bio-ekonomi Model Gordon Schaefer

METODE PENELITIAN STOCK. Analisis Bio-ekonomi Model Gordon Schaefer METODE PENELITIAN 108 Kerangka Pemikiran Agar pengelolaan sumber daya udang jerbung bisa dikelola secara berkelanjutan, dalam penelitian ini dilakukan beberapa langkah perhitungan untuk mengetahui: 1.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Palabuhanratu merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi sumberdaya perikanan laut yang cukup tinggi di Jawa Barat (Oktariza et al. 1996). Lokasi Palabuhanratu

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laut dan sumberdaya alam yang dikandungnya dipahami secara luas sebagai suatu sistem yang memberikan nilai guna bagi kehidupan manusia. Sebagai sumber kehidupan, potensi

Lebih terperinci

3. BAHAN DAN METODE. Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian (Dinas Hidro-Oseanografi 2004)

3. BAHAN DAN METODE. Gambar 6. Peta Lokasi Penelitian (Dinas Hidro-Oseanografi 2004) 24 3. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini mengikuti penelitian bagian Manajemen Sumberdaya Perikanan (MSPi) dan dilaksanakan selama periode bulan Maret 2011 hingga Oktober

Lebih terperinci

KELAYAKAN PENANGKAPAN IKAN DENGAN JARING PAYANG DI PALABUHANRATU MENGGUNAKAN MODEL BIOEKONOMI GORDON- SCHAEFER

KELAYAKAN PENANGKAPAN IKAN DENGAN JARING PAYANG DI PALABUHANRATU MENGGUNAKAN MODEL BIOEKONOMI GORDON- SCHAEFER KELAYAKAN PENANGKAPAN IKAN DENGAN JARING PAYANG DI PALABUHANRATU MENGGUNAKAN MODEL BIOEKONOMI GORDON- SCHAEFER Oleh : Moh. Erwin Wiguna, S.Pi., MM* Yogi Bachtiar, S.Pi** RINGKASAN Penelitian ini mengkaji

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 31 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi Umum Perairan Teluk Banten Letak geografis Teluk Banten berada dalam koordinat 05 o 49 45-06 o 02 00 LS dan 106 o 03 20-106 o 16 00 BT. Teluk Banten

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... vii. DAFTAR LAMPIRAN... viii

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... vii. DAFTAR LAMPIRAN... viii DAFTAR ISI DAFTAR TABEL........ iv DAFTAR GAMBAR........ vii DAFTAR LAMPIRAN........ viii I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang....... 1.2. Perumusan Masalah.......... 1.3. Tujuan dan Kegunaan..... 1.4. Ruang

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemetaan Partisipatif Daerah Penangkapan Ikan kurisi dapat ditangkap dengan menggunakan alat tangkap cantrang dan jaring rampus. Kapal dengan alat tangkap cantrang memiliki

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten di Pemerintah Aceh yang memiliki potensi sumberdaya ikan. Jumlah sumberdaya ikan diperkirakan sebesar 11.131 ton terdiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar dan melakukan pengamatan-pengamatan. Matematika juga merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas laut dan jumlah pulau yang besar. Panjang garis pantai Indonesia mencapai 104.000 km dengan jumlah

Lebih terperinci

VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP. Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan

VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP. Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan VII. POTENSI LESTARI SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP Fokus utama estimasi potensi sumberdaya perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali didasarkan atas kelompok ikan Pelagis Kecil, Pelagis Besar, Demersal

Lebih terperinci

3 METODE PENELITIAN. Gambar 4 Peta lokasi penelitian.

3 METODE PENELITIAN. Gambar 4 Peta lokasi penelitian. 14 3 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di PPI Labuan, Provinsi Banten. Ikan contoh yang diperoleh dari PPI Labuan merupakan hasil tangkapan nelayan disekitar perairan Selat

Lebih terperinci

PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN

PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN PENDUGAAN STOK IKAN TONGKOL DI SELAT MAKASSAR SULAWESI SELATAN Edy H.P. Melmambessy Staf Pengajar Univ. Musamus-Merauke, e-mail : edymelmambessy@yahoo.co.id ABSTRAK Ikan tongkol termasuk dalam golongan

Lebih terperinci

Jurnal Ilmu Perikanan Tropis Vol. 18. No. 2, April 2013 ISSN

Jurnal Ilmu Perikanan Tropis Vol. 18. No. 2, April 2013 ISSN ANALISIS BIOEKONOMI PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN KAKAP DI KABUPATEN KUTAI TIMUR (Bio-economic Analysis of Blood Snaper Resources Utilization in Kutai Timur Regency) ERWAN SULISTIANTO Jurusan Sosial Ekonomi

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 30 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Kondisi perairan Teluk Jakarta Teluk Jakarta terletak di utara kota Jakarta dengan luas teluk 285 km 2, dengan garis pantai sepanjang 33 km, dan rata-rata kedalaman

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan bahan industri. Salah satu sumberdaya tersebut adalah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang

PENDAHULUAN. Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya ikan merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang bersifat terbarukan (renewable). Disamping itu sifat open access atau common property yang artinya pemanfaatan

Lebih terperinci

C E =... 8 FPI =... 9 P

C E =... 8 FPI =... 9 P 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 6 (enam) bulan yang meliputi studi literatur, pembuatan proposal, pengumpulan data dan penyusunan laporan. Penelitian

Lebih terperinci

Gambar 6 Sebaran daerah penangkapan ikan kuniran secara partisipatif.

Gambar 6 Sebaran daerah penangkapan ikan kuniran secara partisipatif. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Wilayah Sebaran Penangkapan Nelayan Labuan termasuk nelayan kecil yang masih melakukan penangkapan ikan khususnya ikan kuniran dengan cara tradisional dan sangat tergantung pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas lautan, Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dengan dua pertiga wilayahnya berupa perairan serta memiliki jumlah panjang garis

I. PENDAHULUAN. dengan dua pertiga wilayahnya berupa perairan serta memiliki jumlah panjang garis I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki 17.508 pulau dengan dua pertiga wilayahnya berupa perairan serta memiliki jumlah panjang garis pantai 91.000

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia telah melakukan kegiatan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sejak jaman prasejarah. Sumberdaya perikanan terutama yang ada di laut merupakan

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2 Ikan kuniran (Upeneus moluccensis).

2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2 Ikan kuniran (Upeneus moluccensis). 5 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Kuniran 2.1.1 Klasifikasi Ikan Kuniran Upeneus moluccensis, Bleeker 1855 Dalam kaitan dengan keperluan pengkajian stok sumberdaya ikan, kemampuan untuk mengidentifikasi spesies

Lebih terperinci

2 KERANGKA PEMIKIRAN

2 KERANGKA PEMIKIRAN 2 KERANGKA PEMIKIRAN Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan pada Bab Pendahuluan, maka penelitian ini dimulai dengan memperhatikan potensi stok sumber

Lebih terperinci

5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL

5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL 5 POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DEMERSAL 5.1 Pendahuluan Pemanfaatan yang lestari adalah pemanfaatan sumberdaya perikanan pada kondisi yang berimbang, yaitu tingkat pemanfaatannya

Lebih terperinci

Pengelolaan SD Pulih -SD Ikan- Luh Putu Suciati

Pengelolaan SD Pulih -SD Ikan- Luh Putu Suciati Pengelolaan SD Pulih -SD Ikan- Luh Putu Suciati Economics History of Fisheries Ikan telah dikonsumsi sejak zaman Homo Erectus sampai Homo sapiens (38 000 tahun yang lalu) Desa nelayan yang menjadi pusat

Lebih terperinci

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3 HASIL DAN PEMBAHASAN 9 dan MSY adalah: Keterangan : a : Perpotongan (intersept) b : Kemiringan (slope) e : Exponen Ct : Jumlah tangkapan Ft : Upaya tangkap (26) Model yang akan digunakan adalah model yang memiliki nilai korelasi

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan penangkapan ikan merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan sejumlah hasil tangkapan, yaitu berbagai jenis ikan untuk memenuhi permintaan sebagai sumber

Lebih terperinci

ANALISIS BIOEKONOMI IKAN KEMBUNG (Rastrelliger spp) DI KOTA MAKASSAR Hartati Tamti dan Hasriyani Hafid ABSTRAK

ANALISIS BIOEKONOMI IKAN KEMBUNG (Rastrelliger spp) DI KOTA MAKASSAR Hartati Tamti dan Hasriyani Hafid ABSTRAK ANALISIS BIOEKONOMI IKAN KEMBUNG (Rastrelliger spp) DI KOTA MAKASSAR Hartati Tamti dan Hasriyani Hafid Program Studi Ilmu Kelautan STITEK Balik Diwa Makassar Email : hartati.tamti@gmail.com ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

ABSTRACT. Key word : bio-economic analysis, lemuru resources, bali strait, purse seine, resource rent tax, user fee

ABSTRACT. Key word : bio-economic analysis, lemuru resources, bali strait, purse seine, resource rent tax, user fee ABSTRACT ANDAN HAMDANI. Analysis of Management and Assessment User Fee on Utilization of Lemuru Resources In Bali Strait. Under direction of MOCH PRIHATNA SOBARI and WAWAN OKTARIZA Lemuru resources in

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE 3 BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dari tanggal 17 April sampai 7 Mei 013. Peta lokasi penelitian

Lebih terperinci

3 KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Upaya Penangkapan

3 KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Upaya Penangkapan 3 KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Upaya Penangkapan Optimalisasi upaya penangkapan udang sesuai potensi lestari di Delta Mahakam dan sekitarnya perlu dilakukan. Kebijakan dan program yang bertalian dengan upaya

Lebih terperinci

Indonesia adalah Negara maritime terbesar di dunia, sekitar 2/3 wilayahnya terdiri dari

Indonesia adalah Negara maritime terbesar di dunia, sekitar 2/3 wilayahnya terdiri dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah Negara maritime terbesar di dunia, sekitar 2/3 wilayahnya terdiri dari laut. Luat wilayah laut Indonesia 5,8 juta km². Luas perairan 3,1 juta km² terdiri

Lebih terperinci

AKUATIK-Jurnal Sumberdaya Perairan Volume 9. Nomor. 1. Tahun 2015 ISSN Kurniawan 1)

AKUATIK-Jurnal Sumberdaya Perairan Volume 9. Nomor. 1. Tahun 2015 ISSN Kurniawan 1) AKUATIK-Jurnal Sumberdaya Perairan ISSN 1978-1652 ANALISIS POTENSI DAN DEGRADASI SUMBERDAYA PERIKANAN CUMI-CUMI (Urotheutis chinensis) KABUPATEN BANGKA SELATAN Analysis of Potential and Degradation of

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OUTPUT INDUSTRI MOBIL DI INDONESIA OLEH ANINDITO AJIRESWARA H

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OUTPUT INDUSTRI MOBIL DI INDONESIA OLEH ANINDITO AJIRESWARA H ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OUTPUT INDUSTRI MOBIL DI INDONESIA OLEH ANINDITO AJIRESWARA H14050754 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 2 RINGKASAN

Lebih terperinci

Perkspektif ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam. Pertemuan ke 4

Perkspektif ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam. Pertemuan ke 4 Perkspektif ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam Pertemuan ke 4 Pandangan ekonom Sumberdaya menurut Adam Smith dalam Wealth of Nation (1776): seluruh faktor produksi yang diperlukan untuk menghasilkan

Lebih terperinci

kumulatif sebanyak 10,24 juta orang (Renstra DKP, 2009) ikan atau lebih dikenal dengan istilah tangkap lebih (over fishing).

kumulatif sebanyak 10,24 juta orang (Renstra DKP, 2009) ikan atau lebih dikenal dengan istilah tangkap lebih (over fishing). I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi sumberdaya perikanan di Indonesia cukup besar, baik sumberdaya perikanan tangkap maupun budidaya. Sumberdaya perikanan tersebut merupakan salah satu aset nasional

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove merupakan ekosistem pesisir yang terdapat di sepanjang pantai tropis dan sub tropis atau muara sungai. Ekosistem ini didominasi oleh berbagai jenis

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sejak tahun 2004 di perairan Semak Daun, Kepulauan Seribu, mulai digalakkan sea farming. Sea farming adalah sistem pemanfaatan ekosistem perairan laut berbasis marikultur dengan

Lebih terperinci

ANALISIS KERAGAAN KAPASITAS PERIKANAN TANGKAP NELAYAN KECAMATAN PANAI HILIR KABUPATEN LABUHAN BATU SUMATERA UTARA MAILINA HARAHAP

ANALISIS KERAGAAN KAPASITAS PERIKANAN TANGKAP NELAYAN KECAMATAN PANAI HILIR KABUPATEN LABUHAN BATU SUMATERA UTARA MAILINA HARAHAP ANALISIS KERAGAAN KAPASITAS PERIKANAN TANGKAP NELAYAN KECAMATAN PANAI HILIR KABUPATEN LABUHAN BATU SUMATERA UTARA MAILINA HARAHAP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Email: ummi_ahsan@yahoo.co.id ABSTRAK

Lebih terperinci

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti

TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti TUGAS: RINGKASAN EKSEKUTIF Nama: Yuniar Ardianti Sebuah lagu berjudul Nenek moyangku seorang pelaut membuat saya teringat akan kekayaan laut Indonesia. Tapi beberapa waktu lalu, beberapa nelayan Kepulauan

Lebih terperinci

3. METODOLOGI PENELITIAN

3. METODOLOGI PENELITIAN 14 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai bulan April tahun 2012. Pengambilan data primer dilakukan pada bulan April tahun 2012 sedangkan

Lebih terperinci

Ex-situ observation & analysis: catch effort data survey for stock assessment -SCHAEFER AND FOX-

Ex-situ observation & analysis: catch effort data survey for stock assessment -SCHAEFER AND FOX- CpUE Ex-situ observation & analysis: catch effort data survey for stock assessment -SCHAEFER AND FOX- By. Ledhyane Ika Harlyan 0.400 0.350 0.300 0.250 0.200 0.150 0.100 0.050 0.000 Schaefer y = -0.000011x

Lebih terperinci

Jurnal KELAUTAN, Volume 2, No.2 Oktober 2009 ISSN : PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA DAN PEMANFAATAN RUANG PESISIR DAN LAUTAN

Jurnal KELAUTAN, Volume 2, No.2 Oktober 2009 ISSN : PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA DAN PEMANFAATAN RUANG PESISIR DAN LAUTAN Jurnal KELAUTAN, Volume 2, No.2 Oktober 2009 ISSN : 1907-9931 PENDEKATAN SISTEM DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA DAN PEMANFAATAN RUANG PESISIR DAN LAUTAN Mahfud Effendy Dosen Jurusan Ilmu Kelautan Universitas

Lebih terperinci

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3, No. 3, September 2012: ISSN :

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3, No. 3, September 2012: ISSN : Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3, No. 3, September 2012: 263-274 ISSN : 2088-3137 ANALISIS BIOEKONOMI MODEL GORDON-SCHAEFER STUDI KASUS PEMANFAATAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI PERAIRAN UMUM

Lebih terperinci

Analisis Potensi Lestari Sumberdaya Perikanan Tuna Longline di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah

Analisis Potensi Lestari Sumberdaya Perikanan Tuna Longline di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah Maspari Journal 03 (2011) 24-29 http://masparijournal.blogspot.com Analisis Potensi Lestari Sumberdaya Perikanan Tuna Longline di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah Onolawe Prima Sibagariang, Fauziyah dan

Lebih terperinci

SUMBERDAYA PERTANIAN TATIEK KOERNIAWATI ANDAJANI, SP.MP.

SUMBERDAYA PERTANIAN TATIEK KOERNIAWATI ANDAJANI, SP.MP. SUMBERDAYA PERTANIAN TATIEK KOERNIAWATI ANDAJANI, SP.MP. MATERI PEMBELAJARAN 1 PENDAHULUAN 2 SUMBERDAYA ALAM 3 SUMBERDAYA MANUSIA 4 SUMBERDAYA MODAL PENDAHULUAN DEFINISI SUMBERDAYA: Kemampuan untuk memenuhi

Lebih terperinci

MODEL PRODUKSI SURPLUS UNTUK PENGELOLAAN SUMBERDAYA RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI TELUK BANTEN, KABUPATEN SERANG, PROVINSI BANTEN

MODEL PRODUKSI SURPLUS UNTUK PENGELOLAAN SUMBERDAYA RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI TELUK BANTEN, KABUPATEN SERANG, PROVINSI BANTEN i MODEL PRODUKSI SURPLUS UNTUK PENGELOLAAN SUMBERDAYA RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI TELUK BANTEN, KABUPATEN SERANG, PROVINSI BANTEN NURALIM PASISINGI SKRIPSI DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Lebih terperinci

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 37 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pemanfaatan Kapasitas Penangkapan (Fishing Capacity) Dalam menganalisis kapasitas penangkapan purse seine berdasarkan bulan, data adalah data pendaratan ikan dari kapal-kapal

Lebih terperinci

KAJIAN SUMBERDAYA EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA DI ESTUARI PERANCAK, JEMBRANA, BALI MURI MUHAERIN

KAJIAN SUMBERDAYA EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA DI ESTUARI PERANCAK, JEMBRANA, BALI MURI MUHAERIN KAJIAN SUMBERDAYA EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA DI ESTUARI PERANCAK, JEMBRANA, BALI MURI MUHAERIN DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan

I. PENDAHULUAN. Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan industri bioteknologi kelautan merupakan asset yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,

Lebih terperinci

92 pulau terluar. overfishing. 12 bioekoregion 11 WPP. Ancaman kerusakan sumberdaya ISU PERMASALAHAN SECARA UMUM

92 pulau terluar. overfishing. 12 bioekoregion 11 WPP. Ancaman kerusakan sumberdaya ISU PERMASALAHAN SECARA UMUM ISU PERMASALAHAN SECARA UMUM Indonesia diposisi silang samudera dan benua 92 pulau terluar overfishing PENCEMARAN KEMISKINAN Ancaman kerusakan sumberdaya 12 bioekoregion 11 WPP PETA TINGKAT EKSPLORASI

Lebih terperinci

3 METODOLOGI. Gambar 2 Peta Selat Bali dan daerah penangkapan ikan lemuru.

3 METODOLOGI. Gambar 2 Peta Selat Bali dan daerah penangkapan ikan lemuru. 3 3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan selama bulan Juli 009 di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar - Perairan Selat Bali, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Perairan Selat Bali terletak

Lebih terperinci

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2 Peta lokasi penelitian PETA LOKASI PENELITIAN

3 METODE PENELITIAN. Gambar 2 Peta lokasi penelitian PETA LOKASI PENELITIAN 3 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Pelaksanaan penelitian dibagi dalam 2 tahapan berdasarkan waktu kegiatan, yaitu : (1) Pelaksanaan penelitian lapangan selama 2 bulan (September- Oktober

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA Rajungan (Portunus pelagicus)

2. TINJAUAN PUSTAKA Rajungan (Portunus pelagicus) 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rajungan (Portunus pelagicus) Menurut www.zipcodezoo.com klasifikasi dari rajungan adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Malacostrata Ordo : Decapoda

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan sub-sektor perikanan tangkap merupakan bagian integral dari pembangunan kelautan dan perikanan yang bertujuan untuk : (1) meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Perikanan tangkap merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang sangat penting di Kabupaten Nias dan kontribusinya cukup besar bagi produksi perikanan dan kelautan secara

Lebih terperinci

OPTIMALISASI PRODUKSI KAIN TENUN SUTERA PADA CV BATU GEDE DI KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOGOR

OPTIMALISASI PRODUKSI KAIN TENUN SUTERA PADA CV BATU GEDE DI KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOGOR OPTIMALISASI PRODUKSI KAIN TENUN SUTERA PADA CV BATU GEDE DI KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOGOR SKRIPSI MAULANA YUSUP H34066080 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

Catch per unit effort (CPUE) periode lima tahunan perikanan pukat cincin di Kota Manado dan Kota Bitung

Catch per unit effort (CPUE) periode lima tahunan perikanan pukat cincin di Kota Manado dan Kota Bitung Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap 2(1): 1-8, Juni 2015 ISSN 2337-4306 Catch per unit effort (CPUE) periode lima tahunan perikanan pukat cincin di Kota Manado dan Kota Bitung Catch per unit effort

Lebih terperinci

Esda UC = User Cost. MCo = Kurva harga agregat dari semua firm di suatu industri (marginal extraction cost)

Esda UC = User Cost. MCo = Kurva harga agregat dari semua firm di suatu industri (marginal extraction cost) Esda 2016 1. User cost antara lain dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa permintaan terhadap sumberdaya mineral akan naik pada masa yang akan datang. Jelaskan bagaimana hal ini berdampak pada efficient rate

Lebih terperinci

ANALISIS KAPASITAS PENANGKAPAN (FISHING CAPACITY) PADA PERIKANAN PURSE SEINE DI KABUPATEN ACEH TIMUR PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Y U S T O M

ANALISIS KAPASITAS PENANGKAPAN (FISHING CAPACITY) PADA PERIKANAN PURSE SEINE DI KABUPATEN ACEH TIMUR PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Y U S T O M ANALISIS KAPASITAS PENANGKAPAN (FISHING CAPACITY) PADA PERIKANAN PURSE SEINE DI KABUPATEN ACEH TIMUR PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Y U S T O M SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

Lebih terperinci

PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR

PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR 1 PENDUGAAN STOK IKAN LAYUR (Trichiurus sp.) DI PERAIRAN TELUK PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, PROPINSI JAWA BARAT Adnan Sharif, Silfia Syakila, Widya Dharma Lubayasari Departemen Manajemen Sumberdaya

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor perikanan dan kelautan diharapkan menjadi prime mover bagi pemulihan ekonomi Indonesia, karena prospek pasar komoditas perikanan dan kelautan ini terus meningkat

Lebih terperinci

ANALISIS AKSES PANGAN SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAT KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN PADA KELUARGA NELAYAN IDA HILDAWATI A

ANALISIS AKSES PANGAN SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAT KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN PADA KELUARGA NELAYAN IDA HILDAWATI A ANALISIS AKSES PANGAN SERTA PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAT KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN PADA KELUARGA NELAYAN IDA HILDAWATI A54104039 PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang kompleks, unik dan indah serta mempunyai fungsi biologi, ekologi dan ekonomi. Dari fungsi-fungsi tersebut,

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA INDUSTRI KECIL KERUPUK SANJAI DI KOTA BUKITTINGGI. Oleh YORI AKMAL A

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA INDUSTRI KECIL KERUPUK SANJAI DI KOTA BUKITTINGGI. Oleh YORI AKMAL A ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA INDUSTRI KECIL KERUPUK SANJAI DI KOTA BUKITTINGGI Oleh YORI AKMAL A14302024 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2. Rajungan (Portunus pelagicus) (Dokumentasi Pribadi 2012)

2. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2. Rajungan (Portunus pelagicus) (Dokumentasi Pribadi 2012) 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Rajungan (Portunus pelagicus) Jenis kepiting dan rajungan diperkirakan sebanyak 234 jenis yang ada di Indo Pasifik Barat, di Indonesia ada sekitar 124 jenis (Moosa

Lebih terperinci

PERHITUNGAN BIAYA KERUGIAN AKIBAT TUMPAHAN MINYAK MONTARA DI PESISIR NUSA TENGGARA TIMUR

PERHITUNGAN BIAYA KERUGIAN AKIBAT TUMPAHAN MINYAK MONTARA DI PESISIR NUSA TENGGARA TIMUR PERHITUNGAN BIAYA KERUGIAN AKIBAT TUMPAHAN MINYAK MONTARA DI PESISIR NUSA TENGGARA TIMUR Oleh Lintin Alfa 4307100113 Dosen pembimbing: 1. Prof. Ir. Mukhtasor, M. Eng, Ph. D. 2. Drs. Mahmud Mustain, M.Sc,

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi Strategi adalah istilah yang sering kita dengar untuk berbagai konteks pembicaraan, yang sering diartikan sebagai cara untuk mencapai keinginan tertentu

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPOR BERAS DI JAWA TIMUR SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPOR BERAS DI JAWA TIMUR SKRIPSI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPOR BERAS DI JAWA TIMUR SKRIPSI Diajukan Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Oleh : RADIX ADININGAR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya ikan merupakan sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) dan berdasarkan habitatnya di laut secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu

Lebih terperinci

8 KESIMPULAN DAN SARAN

8 KESIMPULAN DAN SARAN 171 8 KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian untuk disertasi ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: (1) Kondisi perikanan tangkap di lokasi penelitian menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambahan

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambahan PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35/PERMEN-KP/2013 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

STUDI BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LAYUR (Superfamili Trichiuroidea) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT DEVI VIANIKA SRI AMBARWATI

STUDI BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LAYUR (Superfamili Trichiuroidea) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT DEVI VIANIKA SRI AMBARWATI STUDI BIOLOGI REPRODUKSI IKAN LAYUR (Superfamili Trichiuroidea) DI PERAIRAN PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT DEVI VIANIKA SRI AMBARWATI SKRIPSI DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sumberdaya tersebut diolah dan digunakan sepuasnya. Tidak satupun pihak yang

PENDAHULUAN. Sumberdaya tersebut diolah dan digunakan sepuasnya. Tidak satupun pihak yang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya perikanan laut memiliki sifat spesifik, yakni akses terbuka (open access). Sumberdaya perikanan juga bersifat kepemilikan bersama (common property). Semua individu

Lebih terperinci

OPTIMASI UPAYA PENANGKAPAN UDANG DI PERAIRAN DELTA MAHAKAM DAN SEKITARNYA JULIANI

OPTIMASI UPAYA PENANGKAPAN UDANG DI PERAIRAN DELTA MAHAKAM DAN SEKITARNYA JULIANI OPTIMASI UPAYA PENANGKAPAN UDANG DI PERAIRAN DELTA MAHAKAM DAN SEKITARNYA JULIANI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2005 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... Halaman xii DAFTAR GAMBAR... DAFTAR

Lebih terperinci

MODEL BIONOMI PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN BAWAL PUTIH DI PERAIRAN PANGANDARAN JAWA BARAT

MODEL BIONOMI PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN BAWAL PUTIH DI PERAIRAN PANGANDARAN JAWA BARAT MODEL BIONOMI PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN BAWAL PUTIH DI PERAIRAN PANGANDARAN JAWA BARAT JEANNY FRANSISCA SIMBOLON SKRIPSI PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

Lebih terperinci

PENGENDALIAN SUMBERDAYA IKAN PERIKANAN PERAIRAN UMUM PENANGKAPAN DAN PENGUMPULAN GLASS ELL (SIDAT) DI MUARA SUNGAI CIMANDIRI

PENGENDALIAN SUMBERDAYA IKAN PERIKANAN PERAIRAN UMUM PENANGKAPAN DAN PENGUMPULAN GLASS ELL (SIDAT) DI MUARA SUNGAI CIMANDIRI PENGENDALIAN SUMBERDAYA IKAN PERIKANAN PERAIRAN UMUM PENANGKAPAN DAN PENGUMPULAN GLASS ELL (SIDAT) DI MUARA SUNGAI CIMANDIRI Oleh : Tedi Koswara, SP., MM. I. PENDAHULUAN Dalam Peraturan Bupati Nomor 71

Lebih terperinci

3 METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN 27 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengumpulan data dilaksanakan bulan Juli-September 2007 yaitu di Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Malaysia, ZEE Indonesia India, di sebalah barat berbatasan dengan Kab. Pidie-

PENDAHULUAN. Malaysia, ZEE Indonesia India, di sebalah barat berbatasan dengan Kab. Pidie- PENDAHULUAN Latar Belakang Wilayah Pengelolaan Perikanan 571 meliputi wilayah perairan Selat Malaka dan Laut Andaman. Secara administrasi WPP 571 di sebelah utara berbatasan dengan batas terluar ZEE Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki 18 306 pulau dengan garis pantai sepanjang 106 000 km (Sulistiyo 2002). Ini merupakan kawasan pesisir terpanjang kedua

Lebih terperinci

PEMODELAN STOK GABAH/BERAS DI KABUPATEN SUBANG MOHAMAD CHAFID

PEMODELAN STOK GABAH/BERAS DI KABUPATEN SUBANG MOHAMAD CHAFID PEMODELAN STOK GABAH/BERAS DI KABUPATEN SUBANG MOHAMAD CHAFID SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul : PEMODELAN STOK GABAH/BERAS

Lebih terperinci

VALUASI EKONOMI EKOSISTEM SUNGAI (Studi Kasus : Sungai Siak, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau) JUNITA NADITIA

VALUASI EKONOMI EKOSISTEM SUNGAI (Studi Kasus : Sungai Siak, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau) JUNITA NADITIA VALUASI EKONOMI EKOSISTEM SUNGAI (Studi Kasus : Sungai Siak, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau) JUNITA NADITIA DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem terumbu karang mempunyai keanekaragaman biologi yang tinggi dan berfungsi sebagai tempat memijah, mencari makan, daerah pengasuhan dan berlindung bagi berbagai

Lebih terperinci