BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan No. C HT tahun 1992 serta

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan No. C HT tahun 1992 serta"

Transkripsi

1 66 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Sejarah lahir dengan nama PT Bank Eksekutif Internasional yang berdiri pada tahun 1992 di Jakarta berdasarkan akta yang telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan No. C HT tahun 1992 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 103 tanggal 26 Desember 1992, tambahan No Pergantian nama tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Bank Indonesia melalui keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 12/58/KEP.GBI/2010 tentang Perubahan Penggunaan Izin Usaha PT Bank Eksekutif Internasional Tbk menjadi pada tanggal 23 September Sejalan dengan perubahan itu, juga melakukan perubahan strategi bisnis. Jika sebelumnya, lebih fokus pada sektor korporasi, kini mengembangkan pembiayaan di sektor Usaha Mikro serta Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Guna mendukung fokus pembiayaan tersebut, struktur pendanaannya pun diarahkan pada dana-dana ritel (retail funding). Pada tahun , dihadapkan pada kerugian seperti yang tercermin pada laporan keuangan yang dipublikasikan, kerugian ini terjadi akibat meningkatnya kredit bermasalah dan masalah permodalan yang menyulitkan perusahaan mengelola keuangan dan menjalankan kegiatan

2 67 operasionalnya. Akhirnya pada tahun 2009, bank ini masuk dalam pengawasan khusus Bank Indonesia. Untuk menyelesaikan masalah ini, Bank melakukan peningkatan modal melalui Penawaran Umum Terbatas I ( PUT I ). Pada tanggal 30 Juni 2010, pemegang saham bank menyepakati masuknya PT Recapital Securities sebagai pembeli siaga, dimana PT Recapital Securities mendapat alokasi 61,02% saham, sedangkan IF Services Netherlands BV mendapatkan alokasi 24% saham Berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB). Kemudian pada tanggal 26 Juli 2010 secara resmi dalam surat No. 12/84/GBI/DPIP/Rahasia tertanggal 29 Juni 2010, PT Recapital Securities sebagai menjadi pemegang saham pengendali PT Bank Pundi Indonesia Tbk sekaligus mendapatkan suntikan modal sebesar Rp 512,25 miliar. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat di atas standar yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 8% berarti adanya peningkatan modal setelah akuisisi. Dengan menguatnya permodalan tersebut, diharapkan dapat melakukan pencadangan penuh terhadap aset kredit macet, sehingga rasio Non Performing Loan (NPL) berhasil ditekan hingga dibawah ketentuan maksimum Bank Indonesia yakni sebesar 5%. Sampai akhir 2010 Bank Pundi memiliki 19 kantor yang meliputi 1 Kantor Pusat Operasional dan 18 kantor cabang di 12 kota di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Denpasar, Lampung, Palembang, Medan, Makassar, dan Manado. Untuk mendukung operasional perusahaan, sampai 31 Desember 2010, Bank Pundi memiliki karyawan sebanyak 1500 orang (termasuk

3 68 Direksi). Sejalan dengan bisnis baru yang tengah dikembangkan, PT Bank Pundi Indonesia Tbk telah membuka 39 kantor cabang baru sampai kuartal pertama tahun 2011 di 14 kota, termasuk Jambi dan Yogyakarta serta didukung oleh lebih dari 3000 karyawan Visi dan Misi 1. Visi Berdasarkan Azas profesionalisme, Visi memiliki visi yakni Mewujudkan masa depan gemilang menuju sinergi kemitraan yang menjembatani keragaman dinamika masyarakat Indonesia. 2. Misi Sesuai dengan misinya, ingin menjadi bank ritel terdepan dan mitra terpercaya bagi masyarakat Indonesia melalui: a. Kemitraaan Menjalin berbagai bentuk kemitraan berkelanjutan yang didasari oleh kepedulian, pengabdian yang tulus, dan membangun. Mengupayakan sinergi yang berorientasi kepada keterjangkauan, kenyamananan, dan kemajuan sehingga menjadikan pundi sebagai bank pilihan untuk usaha mikro, UKM, dan individu.

4 69 b. Keragaman Menyediakan berbagai layanan produk serta layanan finansial yang menjawab kebutuhan masyarakat dengan segala dinamika dan keragamannya. Mengembangkan kompetensi dan keunggulan infastruktur yang senantiasa menunjang keterjangkauan masyarakat (nasabah). c. Kemakmuran Mempertajam potensi, mengupayakan peningkatan kualitas hidup individu yang berorientasi kepada kemakmuran. Mengupayakan kemakmuran dengan membangun landasan kesejahteraan yang mendukung berkembangnya usaha mikro, UKM, dan juga rakyat Indonesia sebagai individu Produk dan Jasa Sesuai dengan namanya, berarti pengumpul. Jadi, UMKM bisa berkembang kalau ada pengumpulnya. Berikut produk produk PT Bank Pundi Indonesia Tbk. 1. Produk Simpanan a. Tabungan memberikan bunga yang menarik dengan setoran awal sebesar Rp ,-. Nasabah dapat melakukan penarikan dana

5 70 setiap saat di jaringan ATM Bank Pundi, ATM bersama, dan ATM Prima yang jumlahnya mencapai 40 ribu yang tersebar di Seluruh Indonesia. b. Giro Giro pada untuk nama perusahaan atau perorangan dengan pemberian bunga menarik yang diberikan setiap bulan dengan setoran awal minimum Rp ,- untuk perusahaan dan Rp ,- untuk perorangan. c. Deposito Setoran minimum deposito yakni sebesar Rp ,- dengan bunga yang menarik dan memberikan pilihan jangka waktu disesuaikan dengan kebutuhan nasabah yaitu 1, 3, 6, dan 12 bulan yang penarikannnya hanya dapat dilakukan pada saat jatuh temp sesuai kesepakatan antara deposan dengan pihak bank. 2. Produk Kredit a. Pundi Pundi Kredit yang diberikan kepada nasabah untuk pembiayaan modal kerja usaha dan investasi dengan plafond kredit antara Rp 5 juta - Rp 50 juta dan jangka waktu antara 6-36 bulan untuk modal kerja dan bulan untuk investasi. b. Pundi Emas Kredit yang diberikan kepada nasabah untuk pembiayaan modal kerja usaha dan investasi dengan plafond kredit mulai Rp 201 juta - Rp 500 juta dan

6 71 jangka waktu antara 6-36 bulan untuk modal kerja dan bulan untuk investasi. c. Pundi Perak Kredit yang diberikan kepada nasabah untuk pembiayaan modal kerja usaha dan investasi dengan plafond kredit mulai Rp 101 juta - Rp 200 juta dan jangka waktu antara 6-36 bulan untuk modal kerja dan bulan untuk investasi. d. Pundi Perunggu Kredit yang diberikan kepada nasabah untuk pembiayaan modal kerja usaha dan investasi dengan plafond kredit mulai Rp 5 juta - Rp 100 juta dan jangka waktu antara 6-36 bulan untuk modal kerja dan bulan untuk investasi. e. Pundi KRK Kredit yang diberikan kepada nasabah untuk pembiayaan modal kerja usaha dan investasi dengan plafond kredit mulai Rp 25 juta - Rp 100 juta dan jangka waktu maksimal 12 bulan.

7 Struktur Organisasi Risk Management Commitee General Meeting of Shareholders President Director Board of Commissioners Risk Oversight Commitee Remuneration & Nomination Commitee Audit Commitee ALCO Credit Policy Commitee SKAI IT Steering Commitee Compliance Director Operations Director Business Director Finance Director Funding group Head Business Group Head Compliance Head Risk Management Head Human Capital Management Head Human Capital Development Head Operations Head Informati ons & Technolo gy Head General Affairs Head Corporate Secretary Head Legal Head Special Asset Management Head Investor Realtions Head Business Planning & Support Head Regional Funding Head Regional Head Credit policy & Support Head Business Development Head Regional Head Finance Head Corporate Planning & Budget Control Gambar 4.1 Struktur Organisasi

8 73 Dari gambar 4.1 mengenai struktur organisasi dapat diuraikan berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai berikut: a. Rapat Umum Pemegang Saham (General Meeting of Shareholders) merupakan elemen tertinggi dalam struktur pengelolaan perusahaan. RUPS membahas dan menghasilkan keputusan penting atas masalah-masalah yang sedang atau akan dihadapi. Dalam RUPS tersebut juga dibahas dan diputuskan beberapa hal, diantaranya adalah menerima dengan baik atau menolak laporan pertanggungjawaban Dewan Komisaris atau Direksi, memilih dan memberhentikan anggota Dewan Komisaris dan Direksi, serta mengevaluasi kinerja dari masing-masing anggota Dewan Komisaris dan Direksi. RUPS diselenggarakan setidaknya sekali dalam setahun. Selain RUPS, atas permintaan pemegang saham, Bank dapat menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). b. Direktur utama (Presiden Director) adalah jabatan yang ditunjuk dan memberi laporan kepada Dewan Direksi. Tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut: Memimpin seluruh dewan atau komite eksekutif Memimpin rapat umum, dalam hal: untuk memastikan pelaksanaan tata-tertib; keadilan dan kesempatan bagi semua untuk berkontribusi secara tepat; menyesuaikan alokasi waktu per item masalah; menentukan urutan agenda;

9 74 mengarahkan diskusi ke arah konsensus; menjelaskan dan menyimpulkan tindakan dan kebijakan. Bertindak sebagai perwakilan organisasi dalam hubungannya dengan dunia luar. Mengambil keputusan sebagaimana didelegasikan oleh BOD atau pada situasi tertentu yang dianggap perlu, yang diputuskan, dalam meeting-meeting BOD. Menjalankan tanggung jawab dari direktur perusahaan sesuai dengan standar etika dan hukum c. Dewan Komisaris (Board of Commissioners) merupakan bagian dari pengelola Bank yang diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham. Tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut: Melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara independen. Mengawasi terselenggaranya pelaksanaan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) di Bank Pundi, antara lain mereview Laporan Keuangan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi triwulanan pada surat kabar. Mengawasi pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi melalui rapat-rapat rutin dengan Direksi terkait pelaksanaan kebijakan strategis Menyampaikan pertanggung-jawaban atas tugas pengawasan yang telah dilakukan selama tahun buku kepada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan.

10 75 Memastikan bahwa Direksi selalu menindaklanjuti temuan SKAI, KAP dan hasil pengawasan Bank Indonesia. Menyempurnakan Pedoman dan Tata Tertib Kerja Dewan Komisaris d. Komite Pemantau Risiko (Risk Oversight Committee) mempunyai tugas dan tanggung Jawab sebagai berikut: Membantu Dewan Komisaris dalam melakukan oversight terhadap kesesuaian kebijakan manajemen risiko dengan pelaksanaan kebijakan tersebut dan melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan tugas Komite Manajemen Risiko dan Satuan Kerja Manajemen Risiko. Melakukan review atas Perubahan Anggaran Dasar terkait wewenang Direksi e. Komite Remunerasi dan Nominasi (Remuneration & Nomination Committee) mempunyai tugas dan tanggung jawab membantu Dewan Komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh Direksi meliputi: Menyusun prosedur Tata Cara Pengangkatan / Pemilihan Anggota Dewan Komisaris dan Anggota Direksi Menyampaikan rekomendasi calon Komisaris dan Direksi Bank Pundi. Melaksanakan prosedur pengangkatan atas Komisaris dan Direksi baru Bank Pundi. Merekomendasikan pihak independen sebagai anggota Komite Audit Bank Pundi.

11 76 Melakukan rapat secara berkala dengan Dewan Komisaris untuk membahas kinerja dan rencana strategis Bank Pundi. f. Komite Audit (Audit Committee) mempunyai tugas membantu Dewan Komisaris antara lain meliputi : Memantau dan mengevaluasi kebijakan dan pelaksanaan audit internal. Melakukan review atas laporan hasil audit, Annual Audit Plan pada tahun yang akan datang, me-review Kantor Akuntan Publik yang akan melakukan kaji ulang 3 tahunan terhadap kegiatan SKAI, draft Audit Report. Memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris atas: Penunjukkan Kantor Akuntan Publik yang memeriksa Laporan Keuangan. Penyelesaian hasil audit tahun bersangkutan. Sosialisasi kelengkapan job description kepada seluruh karyawan Penunjukan vendor dilakukan melalui tender (tidak boleh langsung) Melanjutkan pembukaan Kantor Cabang dan Kantor Cabang Pembantu Meningkatkan Loan to Deposit Ratio (LDR) melalui penyaluran kredit UKM Perubahan Struktur Organisasi dengan menambah Divisi/Fungsi Finance, Business Head, Investor Relation, serta Penghapusan Taskforce. Penentuan Direktur pengganti bila ada yang berhalangan/cuti Perubahan Anggaran Dasar tentang wewenang memutus kredit sampai Dewan Komisaris.

12 77 Melakukan rapat secara berkala dengan Dewan Komisaris untuk membahas kinerja dan rencana strategis Bank Pundi. g. Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) melakukan fungsi Audit Internal Bank Pundi selain itu SKAI berperan aktif dalam meningkatkan efektifitas sistem pengendalian intern pada setiap tingkatan manajemen termasuk selalu menindaklanjuti hasil temuan audit intern dan juga melaporkan seluruh temuan hasil pemeriksaan secara berkala kepada Direktur Utama dengan tembusan ke Dewan Komisaris dan Direktur Kepatuhan serta Bank Indonesia atas pokokpokok pelaksanaan audit intern (setiap semester). h. ALCO mempunyai tugas pokok yang diemban adalah mengkaji, menganalisa dan menetapkan kebijakan-kebijakan strategis dalam hal penghimpunan dan penggunaan dana, penetapan harga dan pengendalian risiko sehingga pengelolaan aset dan liabilitas dapat lebih terarah dan optimal. Sehingga tugas pokok ALCO adalah menetapkan kebijakan yang terkait dengan manajemen likuiditas (Liquidity Management), Gapping Management, dan manajemen investasi. i. Komite Kebijakan Kredit (Credit Policy Comitee) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: Merumuskan penyusunan, pengkajian dan penyempurnaan Kebijakan Perkreditan Bank (KPB) terutama yang terkait dengan penerapan prinsip kehati-hatian. Merumuskan arah, strategi, penetapan dan perbaikan target market kredit.

13 78 Merekomendasikan kewenangan memutus kredit serta menetapkan kriteria anggota Komite Kredit. Memantau dan mengevaluasi perkembangan, proses dan kualitas portofolio kredit. Memantau kecukupan pemenuhan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Memantau dan mengevaluasi penyelesaian kredit bermasalah. j. Komite Pengarah Teknologi Informasi (IT Steering Comitee) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: Merencanakan sistem aplikasi yang diperlukan untuk jangka pendek dan panjang agar kinerja pengembangan Teknologi Sistem Informasi dapat lebih ditingkatkan kepada para nasabah dan Stakeholder. Memberikan masukan untuk kebutuhan pengembangan Teknologi Sistem Informasi. Bekerjasama dengan pihak intern dan ekstern dalam melakukan penelitian terhadap masalah atau hambatan dalam Teknologi Sistem Informasi serta melaporkan hasil tersebut kepada manajemen untuk pengambilan keputusan. Melakukan koordinasi dalam lingkungan Teknologi Sistem Informasi maupun dengan bagian-bagian lain dilingkungan Bank Pundi. Perumusan kebijakan dan prosedur TI, pengamanan TI dan manajemen risiko terkait TI.

14 Deskripsi Hasil Penelitian Kinerja Keuangan Sebelum Akuisisi CAR (Capital Adequacy Ratio) Sebelum Akuisisi CAR merupakan alat ukur yang digunakan untuk menilai kinerja faktor permodalan. Dengan mengukur CAR maka dapat diketahui apakah modal yang dimiliki bank sudah mencukupi untuk melakukan kegiatan operasinya atau belum yakni dengan cara membandingkan rasio yang dihitung dengan standar rasio yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yakni sebesar 8%. CAR dapat dihitung dengan cara membandingkan modal bank yang terdiri dari modal inti dan modal pelengkap dengan total ATMR. Berikut ini disajikan perhitungan modal sebelum akuisisi pada sebelum akuisisi periode Tabel 4.1 Perhitungan Modal Sebelum Akuisisi Periode TAHUN Modal Inti Modal Pelengkap Total Modal Sumber: Laporan Keuangan (Data Diolah) Setelah melakukan perhitungan modal sebelum akuisisi, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan ATMR. ATMR terdiri dari ATMR untuk risiko kredit, ATMR untuk risiko pasar dan ATMR untuk risiko operasional. Ketentuan mengenai tata cara perhitungan ATMR dapat dilihat pada

15 80 lampiran. Setelah menghitung masing-masing ATMR tersebut, selanjutnya dijumlahkan. Berikut ini disajikan perhitungan ATMR sebelum akuisisi pada PT Bank Pundi Indonesia Tbk yang tertera pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Perhitungan ATMR Sebelum Akuisisi Periode TAHUN ATMR ATMR untuk ATMR untuk untuk Risiko Risiko Kredit Risiko Operasional Pasar Total ATMR Sumber: Laporan keuangan (Data Diolah) Langkah terakhir untuk menghitung CAR adalah dengan membandingkan total modal yang ada pada tabel 4.1 dan total ATMR yang sudah dihitung pada tabel 4.2. Untuk lebih jelasnya disajikan dalam tabel 4.3 berikut. Tabel 4.3 Perhitungan CAR Sebelum Akuisisi Periode Kenaikan/ Total ATMR TAHUN Total Modal CAR (penurunan) (%) ,37% ,82% 2,45% ,34% (2,48%) ,02% (1,32%) Sumber: Laporan Keuangan PT Bank Pundi Indonesia (Data Diolah)

16 81 Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa CAR yang diperoleh PT Bank Pundi Indonesia Tbk tahun 2006 adalah 9,37%, tahun 2007 meningkat sebesar 2,45% atau menjadi 11,82%. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan modal sebesar Rp ,- dari tahun sebelumnya yakni tahun Peningkatan modal terjadi karena besarnya modal inti yang berasal dari modal disetor dan cadangan tambahan modal yakni sebesar Rp ,-, seiring adanya penambahan modal pelengkap yang berasal dari revaluasi aktiva tetap. Selain itu, pada tahun 2007 PT Bank Pundi Indonesia Tbk berhasil menekan ATMR baik ATMR untuk risiko kredit sebesar Rp ,- dan ATMR untuk risiko operasional sebesar Rp ,- dari tahun Dengan adanya peningkatan modal dan penurunan ATMR menyebabkan berhasil membukukan laba. Dasar logisnya yakni dengan tercukupinya permodalan bank, maka bank tersebut dapat menjalankan operasinya dengan efisien, sehingga dapat disimpulkan bahwa bank tersebut mempunyai kinerja yang bagus dan berpotensi untuk meminimalisir kerugian yang diderita. Sementara itu penurunan terjadi pada tahun 2008 dan 2009 dimana CAR yang diperoleh menjadi sebesar 9,34% dan 8,02%. Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya modal yang dimiliki sebesar Rp ,- dan Rp ,- dari tahun sebelumnya ditambah lagi dengan peningkatan ATMR karena semakin besar kredit yang disalurkan oleh bank. Semakin besar kredit yang disalurkan oleh bank maka semakin besar pula ATMR bank yang bersangkutan. Besarnya ATMR untuk risiko kredit disebabkan oleh aktiva yang dimiliki belum mampu menekan tingginya kredit bermasalah karena debitur

17 82 tidak dapat melunasi pinjaman yang diberikan oleh bank dalam waktu yang telah ditentukan. Ini menunjukkan buruknya kinerja dalam mengelola modal yang dimiliki untuk menutupi aktiva tertimbang yang mengandung risiko sehingga mengakibatkan kerugian yang terjadi pada tahun 2008 dan Inilah yang menjadi salah satu alasan berada dalam pengawasan khusus Bank Indonesia. Jika ditinjau dari SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004, pada tahun 2006, 2007, dan tahun 2008 mendapat peringkat 2 (sehat) karena CAR yang diperoleh 9% - < 12% yakni sebesar 9,37%, 11,82%, dan 9,34%. Sedangkan pada tahun 2008 berada pada peringkat 3 (cukup sehat) karena CAR yang dihasilkan hanya sebesar 8,02%. Untuk lebih jelas mengenai perkembangan CAR sebelum akuisisi pada PT Bank Pundi Indonesia Tbk dapat digambarkan sebagai berikut. 14,00% 12,00% 10,00% 8,00% 6,00% 4,00% 2,00% 0,00% 11,82% 9,37% 9,34% 8,02% CAR Sebelum Akuisisi Gambar 4.2 Grafik Perkembangan CAR Sebelum Akuisisi Periode

18 NPL (Non Performing Loan) Sebelum Akuisisi Kegiatan utama bank selain menghimpun dana juga menyalurkan kredit kepada masyarakat. Dalam melakukan pemberian kredit, bank dihadapkan pada risiko ketidaklancaran pembayaran atau bahkan debitur tidak mampu membayarnya karena berbagai hal sehingga menimbulkan kredit bermasalah. Rasio yang dijadikan indikator dalam kinerja faktor kualitas asset adalah NPL (Non Performing Loan). Menurut Peraturan BI, NPL dapat dihitung dengan cara membandingkan total kredit bermasalah dengan total kredit yang diberikan. Kredit bermasalah terdiri dari kredit kurang lancar, kredit diragukan, dan kredit macet. Sedangkan total kredit yang dimaksud adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit kepada bank lain). TAHUN Tabel 4.4 Perhitungan NPL Sebelum Akuisisi Periode Total Kredit Bermasalah Total Kredit yang diberikan NPL Kenaikan/ Penurunan (%) ,89% ,29% 7,40% ,15% 2,86% ,45% 10,30% Sumber: Laporan Keuangan PT Bank Pundi Indonesia (Data Diolah) Tabel 4.4 menyajikan perhitungan NPL sebelum akuisisi yakni tahun (Perhitungan lengkapnya tercantum pada

19 84 lampiran). Untuk lebih jelas mengenai perkembangannya dapat dilihat pada gambar berikut ini 30,00% 25,00% 20,00% 15,00% 10,00% 5,00% 0,00% 28,45% 18,15% 15,29% 7,89% NPL Sebelum Akuisisi Gambar 4.3 Grafik Perkembangan NPL Sebelum Akuisisi Periode Gambar 4.3 menunjukkan perkembangan NPL sebelum akuisisi pada PT Bank Pundi Indonesia Tbk periode NPL terus menerus mengalami peningkatan yang berarti kondisi bank dalam keadaan tidak sehat karena selama kurun waktu empat tahun mencatat hasil NPL yang sangat buruk. Pada tahun 2006, NPL yang diperoleh sebesar 7,89%. Ini terjadi karena besarnya kredit bermasalah yakni sebesar Rp ,- yang berasal dari kredit konsumsi, modal kerja, dan investasi. Pada tahun 2007 terjadi peningkatan NPL menjadi sebesar 15,29% atau meningkat sebesar 7,40% dari tahun sebelumnya yakni tahun Naiknya NPL pada tahun ini disebabkan karena adanya ketidaksesuaian pelaksanaan kebijakan-kebijakan yang menyebabkan terjadinya penurunan kolektibilitas kredit misalnya kurang berhati-hati dalam

20 85 pengawasan kebijakan penelaahan atas kualitas kredit, pengajuan dan persetujuan proposal kredit sehingga menyebabkan bertambahnya kredit macet menjadi sebesar Rp Pada tahun 2008 tingkat NPL yang diperoleh sebesar 18,15%, ini disebabkan karena tingginya kredit bermasalah yang terjadi pada tahun ini yakni sebesar Rp ,-. Selain itu, kurang kondusifnya perekonomian negara yang mengakibatkan ketidaklancaran pembayaran kredit oleh debitur berdasarkan waktu yang telah disepakati. Pada tahun 2009 NPL yang diperoleh sebesar 28,45%, angka ini merupakan NPL tertinggi yang diperoleh selama kurun waktu empat tahun yakni tahun Meskipun pada tahun ini jumlah kredit yang diberikan sebesar Rp artinya meningkat sebesar Rp ,- dari tahun 2008 tidak menyebabkan rasio NPL mengalami penurunan karena tingginya kredit macet yang berasal dari kredit konsumsi, modal kerja, dan investasi dengan jumlah sebesar Rp ,-. Melihat kondisi NPL yang terus mengalami peningkatan dari tahun dan jauh melampaui standar ketentuan BI yakni minimal 5%, ini menunjukkan buruknya kinerja bank dalam mengelola kredit bermasalah. Tingginya rasio NPL dapat menyebabkan menurunnya pendapatan bunga yang berasal dari kredit yang diberikan kepada debitur, turunnya pendapatan akan menyebabkan laba yang diperoleh kurang maksimal atau bahkan mengalami kerugian. Ini terlihat pada laporan keuangan publikasi bahwa tahun 2006, 2008, dan 2009 mengalami kerugian. Bank harus memperbaiki kinerjanya secepat mungkin agar kepercayaan masyarakat meningkat. Akibat dari peningkatan kredit bermasalah

21 86 yang membelenggu pada ini maka mendapat pengawasan khusus dari Bank Indonesia ROA (Return on Asset) Sebelum Akuisisi ROA merupakan salah satu alat ukur yang digunakan untuk menilai kinerja faktor rentabilitas selain ROE dan BOPO. ROA dapat dirumuskan dengan membandingkan laba sebelum pajak dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Data laba sebelum pajak diperoleh dari laporan laba rugi, sedangkan data total aktiva diperoleh dari neraca. Berikut disajikan cara perhitungan ROA PT Bank Pundi Indonesia Tbk sebelum akuisisi yang tertera pada tabel 4.5. TAHUN Laba Sebelum Pajak Tabel 4.5 Perhitungan ROA Sebelum Akuisisi Periode Total Aktiva ROA Kenaikan/ Penurunan (%) ,42 % ,13 % 1,55% ,88 % (2,01%) ,90 % (6,02%) Sumber: Laporan Keuangan (Data Diolah) Tabel 4.5 menyajikan cara perhitungan ROA dengan membandingkan laba sebelum pajak dan total aktiva selama periode Dalam periode tersebut, laba sebelum pajak mengalami penurunan dan kenaikan. Pada tahun 2006 mengalami kerugian sebesar Rp ,-, tahun

22 mengalami kenaikan laba sebelum pajak sebesar Rp ,-. Namun, kenaikan pada tahun 2007 tidak dapat dipertahankan dengan baik, tebukti pada tahun 2008 dan tahun 2009 secara berturut-turut kembali mencatat kerugian yakni sebesar Rp ,-, Rp ,-. Hal ini disebabkan karena penurunan laba operasional yang cukup signifikan sehingga mempengaruhi laba sebelum pajak. Secara umum, baik peningkatan maupun penurunan laba sebelum pajak dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi yang kurang kondusif dan kinerja manajemen dalam pengelolaan aktiva yang dimiliki kurang baik. Selanjutnya adalah gambaran mengenai total aktiva yang dimiliki PT Bank Pundi Indonesia Tbk. Pada tahun total aktiva terus mengalami kenaikan, kecuali pada tahun 2009 yang mengalami penurunan dari tahun sebelumnya menjadi sebesar Rp ,-. Total aktiva terendah diperoleh tahun 2006 tercatat sebesar Rp ,- sedangkan total aktiva tertinggi diperoleh tahun 2011 yakni sebesar Rp ,-. Peningkatan total aktiva disebabkan karena bertambahnya kas, giro pada Bank Indonesia, giro pada bank lain, aktiva tetap, dan aktiva lain-lain. Perkembangan laba sebelum pajak akan berpengaruh pada tingkat kemampuan perusahaan mendapatkan laba. Salah satu indikator untuk mengukur kinerja dalam kemampuannya untuk menghasilkan laba dengan aktiva yang dimiliki yakni ROA. Berikut ini disajikan gambaran perkembangan ROA (Return on Asset) pada periode yang tertera pada gambar berikut ini.

23 88 1,00% 0,00% -1,00% -2,00% -3,00% -4,00% -5,00% -6,00% -7,00% -8,00% -9,00% -1,42% 0,13% ,88% ,90% ROA Sebelum Akuisisi Gambar 4.4 Grafik Perkembangan ROA Sebelum Akuisisi Periode Berdasarkan gambar 4.4 mengenai perkembangan ROA sebelum akuisisi PT Bank Pundi Indonesia periode menunjukkan kecenderungan mengalami penurunan karena ROA mengalami penurunan ke arah negatif dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 ROA yang diperoleh sebesar -1,42%. Kondisi seperti ini menunjukkan kinerja yang buruk akibat besaran ROA berada dibawah standar ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yakni sebesar 1,5% untuk menjadi kategori bank yang sangat sehat. Peningkatan terjadi pada tahun 2007 dengan rasio ROA sebesar 0,13%, ini merupakan ROA tertinggi yang diperoleh PT Bank Pundi Indonesia pada tahun Namun sayangnya, masih belum cukup memenuhi standar ketentuan Bank Indonesia. Penurunan ROA kembali terjadi pada tahun 2008 yakni sebesar -1,88%, padahal pada tahun ini terjadi kenaikan aktiva dari tahun 2007 yakni Rp ,-, namun karena kerugian yang diderita pada tahun yang sama mencapai Rp ,-. Pada tahun 2009 PT Bank

24 89 Pundi Indonesia Tbk kembali mengalami penurunan ROA dari tahun 2008 menjadi - 7,90%. Hal ini disebabkan karena laba sebelum pajak yang dihasilkan sebesar milyar. Angka yang negatif ini menunjukkan bank mengalami kerugian karena tidak mampu mengelola aktiva yang dimilikinya. Aktiva yang dimaksud adalah aktiva produktif yang mampu menghasilkan keuntungan atau sering disebut earning asset. Aktiva produktif terdiri atas kredit, surat berharga, penempatan dan penyertaan. Jika bank mampu mengelola aktiva dengan baik maka akan meningkatkan nilai ROA bank tersebut. Jika ditinjau dari peringkat komposit ROA menurut SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004 bahwa pada tahun 2006, 2008, dan 2009 mendapat peringkat 5 (tidak sehat) karena ROA yang diperoleh negatif mencerminkan kondisi bank yang secara umum tidak sehat sehingga dinilai tidak mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Sedangkan pada tahun 2005 mendapat peringkat 4 (Kurang Sehat). Melihat kondisi ini maka bank dtuntut untuk memperbaiki kinerja dengan cara mengelola aktiva secara efektif ROE (Return on Equity) Sebelum Akuisisi ROE dapat dihitung dengan membandingkan laba bersih dengan modal sendiri. Data laba bersih diperoleh dari laporan laba rugi sedangkan data modal sendiri diperoleh dari modal disetor, agio saham, cadangan-cadangan, laba ditahan yang datanya dapat diperoleh dari neraca bagian pasiva. Semakin besar rasio ROE menunjukkan kinerja bank baik, namun sebaliknya jika semakin kecil rasio ROE atau

25 90 bahkan hasilnya negatif menunjukkan kinerja bank buruk. Berikut disajikan perhitungan ROE sebelum akuisisi pada Sebelum akuisisi periode Tabel 4.6 Perhitungan ROE Sebelum Akuisisi Periode TAHUN Laba Bersih Modal Sendiri ROE Kenaikan/ Penurunan (%) ,80 % ,61 % 12,41% ,31 % (36,92%) ,83 % 7,48% Sumber: Laporan Keuangan PT Bank Pundi Indonesia (Data Diolah) Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa laba bersih yang dihasilkan PT Bank Pundi Indonesia Tbk selama tahun berada dalam kondisi yang buruk akibat kerugian yang diderita selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2006 mengalami kerugian sebesar Rp ,-. Pada tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan karena mendapatkan laba bersih sebesar Rp Prestasi yang diraih pada tahun 2007 tidak dapat dipertahankan dengan baik karena pada tahun 2008 sampai tahun 2009 kembali mengalami kerugian yakni sebesar Rp ,- dan Rp ,-. Sedangkan modal PT Bank Pundi Indonesia Tbk tahun cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada tahun 2006 modal yang dimiliki sebesar Rp ,- pada tahun 2007 meningkat sebesar Rp ,- atau menjadi Rp ,- namun

26 91 pada tahun 2008 dan tahun 2009 mengalami penurunan kembali menjadi Rp dan Rp ,-. Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan gambaran perkembangan ROE (Return on Equity) pada PT Bank Pundi Indonesia Tbk periode yang tampak pada gambar ,00% 0,00% -10,00% -20,00% -30,00% -40,00% 0,61% -11,80% ,31% -28,83% ROE Sebelum Akuisisi Gambar 4.5 Grafik Perkembangan ROE Sebelum Akuisisi Periode Berdasarkan gambar 4.5 dapat dilihat perkembangan ROE PT Bank Pundi Indonesia Tbk periode Selama periode tersebut ROE yang dihasilkan menunjukkan kecenderungan menurun, karena hampir semua ROE yang dihasilkan negatif. Pada tahun 2006 ROE yang diperoleh sebesar -11,8%. Peningkatan terjadi pada tahun 2007 dengan rasio ROE sebesar 0,16%, ini merupakan ROE tertinggi yang diperoleh selama periode sebelum akuisisi. Namun nilai ROE ini masih belum cukup memenuhi standar ketentuan Bank Indonesia antara > 5% - 12,5%. Penurunan ROE kembali terjadi pada tahun 2008 yakni sebesar -36,31% dan merupakan ROE terkecil yang dihasilkan oleh PT Bank Pundi Indonesia Tbk pada periode Hal ini disebabkan karena adanya

27 92 penurunan modal sebesar Rp ,- dari tahun lalu yakni tahun 2007 sebesar Rp ,- dan besarnya kerugian yang diderita pada tahun yang sama. Kemudian pada tahun 2009 mengalami kenaikan ROE menjadi -28,83% dari tahun sebelumnya. Kenaikan ROE ini disebabkan oleh adanya penurunan rugi bersih sebesar Rp milyar dari tahun sebelumnya. Namun ROE yang dihasilkan masih dibawah standar ketentuan BI karena ROE yang dihasilkan negatif. Jika ditinjau dari peringkat komposit ROE menurut SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004, pada tahun , dan 2009 mendapat peringkat 5 karena ROE yang dihasilkan 0% artinya bank dalam keadaan tidak sehat. Sedangkan pada tahun 2007 mendapat peringkat 4 (bank dalam keadaan kurang sehat) artinya bank sensitif terhadap pengaruh negatif kondisi perekonomian dan industri keuangan. Sehingga dengsn kondisi tersebut, bank harus melakukan tindakan berupa perbaikan untuk menghindari kesulitan yang akan mengakibatkan investor enggan menanamkan investasinya di perusahaan BOPO (Beban Operasional/Pendapatan Operasional) Sebelum Akuisisi Perhitungan BOPO dilakukan dengan membandingkan total beban operasional yang dikeluarkan dengan total pendapatan operasional yang dihasilkan perusahaan. Informasi mengenai beban operasional didapat dari laporan laba rugi yang dipublikasikan pada bank yang bersangkutan, sementara pendapatan operasional dapat dihitung dengan cara menjumlahkan pendapatan bunga dan pendapatan

28 93 operasional lainnya kemudian dikurangkan dengan beban bunga. Berikut ini disajikan perhitungan BOPO sebelum akuisisi pada periode Tabel 4.7 Perhitungan BOPO Sebelum Akuisisi Periode Total Beban Total Pendapatan Tahun Operasional Operasional BOPO ,35 % ,06 % ,27 % ,03 % Sumber: Laporan Keuangan PT Bank Pundi Indonesia (Data Diolah) Pada tabel di atas dapat dideskripsikan bahwa pada tahun total beban operasional yang dikeluarkan selama 4 tahun yakni tahun cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 beban operasional yang dikeluarkan sebesar Rp ,- pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar Rp ,- atau menjadi Rp ,- kemudian pada tahun 2008 dan 2009 mengalami peningkatan menjadi sebesar Rp ,- dan Rp ,-. Peningkatan beban operasional ini disebabkan karena meningkatnya beban umum dan administrasi serta beban tenaga kerja dan tunjangan. Kemudian dalam untuk total pendapatan yang diperoleh tahun 2006 sebesar Rp ,-, pada tahun 2007 meningkat menjadi sebesar Rp ,- pada tahun 2008 menurun tipis sebesar Rp ,- atau menjadi Rp Hal ini

29 94 disebabkan karena meningkatnya beban bunga sebesar Rp ,-atau menjadi Rp ,- dan pada tahun 2009 kembali meningkat menjadi sebesar Rp ,-. Hal ini disebabkan karena bertambahnya pendapatan bunga dan pendapatan operasional serta menurunnya beban bunga sebesar Rp ,- dari tahun lalu atau menjadi Rp ,-. Jika dibuat dalam bentuk grafik BOPO sebelum akuisisi pada PT Bank Pundi Indonesia Tbk akan tampak seperti berikut. 200,00% 150,00% 100,00% 50,00% 0,00% 157,35% 86,06% 111,27%108,03% BOPO Sebelum Akuisisi Gambar 4.6 Grafik Perkembangan BOPO Sebelum Akuisisi Periode Dari grafik BOPO sebelum akuisisi di atas menunjukkan kecenderungan mengalami penurunan karena semakin besar rasio BOPO yang diperoleh. Semakin besar rasio yang diperoleh menggambarkan buruknya kinerja bank dalam melakukan efisiensi terhadap beban-beban yang dikeluarkan perusahaan. Standar ketentuan yang ditetapkan BI adalah 96%. Pada tahun 2006 BOPO yang diperoleh PT Bank Pundi Indonesia Tbk sebesar 157,35%, pada tahun 2007 menurun sebesar 71,29% atau menjadi 86,06%. Menurunnya rasio ini karena meningkatnya pendapatan operasional

30 95 sebesar Rp ,- dari tahun sebelumnya yang berasal dari pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya, seiring dengan menurunnya beban operasional pada tahun ini sebesar Rp ,- dari tahun sebelumnya yang terdiri dari beban umum dan administrasi serta beban tunjangan dan tenaga kerja. Pada tahun 2008 mengalami peningkatan kembali BOPO menjadi 111,27% yang disebabkan karena meningkatnya beban umum dan adminsitrasi menjadi sebesar Rp ,- serta beban tenaga kerja dan tunjangan menjadi sebesar Rp ,-. Penurunan kembali terjadi pada tahun 2009 dengan rasio BOPO sebesar 108,03% menurun tipis sebesar 3,24% dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena naiknya pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya sehingga menyebabkan total pendapatan operasional meningkat. Jika ditinjau dari peringkat komposit BOPO menurut SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004, pada tahun 2006, 2008, 2009 mendapat peringkat 5 artinya tidak sehat karena BOPO > 97% artinya bank tidak efisien dalam hal beban yang dikeluarkan sehingga pendapatan yang diperoleh tidak maksimal. Sedangkan pada tahun 2007 mendapat peringkat 1 atau sangat sehat karena BOPO yang diperoleh 94% yakni sebesar 86,06%. Ini menunjukkan bahwa adanya efisiensi bank dalam melakukan kegiatan operasinya yakni berhasil menekan besarnya beban-beban yang dikeluarkan perusahaan.

31 LDR (Loan on Deposit Ratio) Sebelum Akuisisi LDR merupakan indikator untuk menilai kinerja faktor likuiditas. LDR dapat dihitung dengan membandingkan total kredit yang diberikan dengan total dana pihak ketiga. Total kredit yang diberikan merupakan kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit kepada bank lain), sedangkan total dana pihak ketiga mencakup giro,tabungan, dan deposito (tidak termasuk giro dan deposito antar bank). Data total kredit yang diberikan dan total dana pihak ketiga lebih lengkapnya terdapat pada catatan atas laporan keuangan. Berikut disajikan perhitungan LDR PT bank Pundi Indonesia Tbk sebelum akuisisi periode TAHUN Total Kredit yang diberikan Tabel 4.8 Perhitungan LDR Sebelum Akuisisi Periode Total Dana Pihak Ketiga LDR Kenaikan/ (Penurunan) (%) ,76 % ,46 % 2,70% ,64 % 16,82% ,68 % 17,04% Sumber: Laporan Keuangan PT Bank Pundi Indonesia (Data Diolah) Dari tabel 4.8 di atas dapat dideskripsikan bahwa total kredit yang diberikan terdiri dari kredit konsumsi, modal kerja, dan investasi. Berikut penjelasannya: a. Kredit konsumsi terdiri dari kredit kendaraan bermotor, kredit pemilikan rumah dan kredit perorangan lainnya.

32 97 b. Kredit modal kerja terdiri dari kredit berjangka, kredit rekening koran, kredit akseptasi dan cerukan yang diberikan kepada debitur untuk keperluan modal kerja. c. Kredit investasi merupakan kredit jangka menengah atau panjang yang diberikan kepada debitur untuk pembelian barang modal. Ketiga jenis kredit tersebut perhitungannya dapat dilihat pada lampiran. Pada tahun 2006 total kredit yang diberikan sebesar Rp ,-, tahun 2007 meningkat menjadi Rp ,- dan terjadi penurunan pada tahun 2008 sebesar Rp ,- atau menjadi sebesar Rp ,-. Penurunan ini disebabkan karena menurunnya kredit modal kerja menjadi Rp ,- dari tahun sebelumnya sebesar Rp ,-. Peningkatan kembali terjadi pada tahun 2009 dengan total kredit yang diberikan menjadi Rp ,- hal ini disebabkan karena meningkatnya kredit modal kerja sebesar Rp ,- dari tahun sebelumnya atau menjadi Rp ,-. Kemudian untuk total dana pihak ketiga terdiri dari giro, tabungan, dan deposito yang masing-masing perhitungan lengkapnya tersedia dalam lampiran. Pada tahun 2006 total dana pihak ketiga diperoleh sebesar Rp ,- pada tahun 2007 terjadi penurunan sebesar Rp ,- atau menjadi Rp ,- yang disebabkan oleh turunnya deposito yang dihimpun. kemudian pada tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi Rp ,- yang disebabkan karena meningkatnya jumlah deposito menjadi sebesar Rp ,- atau meningkat sebesar Rp ,- dari

33 98 tahun sebelumnya. Penurunan kembali terjadi pada tahun 2009 dengan total dana pihak ketiga sebesar Rp ,-. Setelah dideskripsikan mengenai total kredit yang diberikan dengan total dana pihak ketiga yang hasil perbandingan tersebut dinamakan LDR, untuk lebih jelas mengenai perkembangannya dapat dilihat pada gambar ,00% 80,00% 60,00% 40,00% 20,00% 0,00% 74,76% 77,46% 60,64% 77,68% LDR Sebelum Akuisisi Gambar 4.7 Grafik Perkembangan LDR Sebelum Akuisisi Periode Jika dilihat pada grafik di atas rasio LDR sebelum akuisisi mengalami kenaikan dan penurunan. Pada tahun 2006 rasio LDR yang diperoleh sebesar 74,75%, pada tahun 2007 sebesar 77,45% atau meningkat sebesar 2,7% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini disebabkan karena meningkatnya total kredit yang diberikan bank dalam bentuk kredit modal kerja dan kredit investasi. Pada tahun 2008 rasio LDR menurun menjadi sebesar 60,64% yang disebabkan karena meningkatnya total dana pihak ketiga terutama dalam bentuk deposito berjangka dan menurunnya total kredit yang diberikan sebesar Rp ,- dari tahun sebelumnya. Peningkatan kembali terjadi pada tahun

34 dengan rasio LDR sebesar 77,68% artinya meningkat sebesar 17,04% dari tahun Hal ini disebabkan oleh peningkatan total kredit yang diberikan menjadi sebesar Rp ,- seiring turunnya total dana pihak ketiga yang terdiri dari tabungan, giro, dan deposito yakni Rp ,-. Jika ditinjau berdasarkan peringkat komposit LDR menurut SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004, pada tahun 2006 dan 2008 mendapat peringkat 1 artinya sangat sehat karena LDR yang diperoleh 75% yakni sebesar 74,76% dan 60,64%. Sedangkan pada tahun 2007 dan 2009 mendapat peringkat 2 artinya sehat karena LDR yang diperoleh > 75% - 85% yakni sebesar 77,46% dan 77,68%. Secara keseluruhan LDR yang diperoleh sebelum akuisisi yakni tahun berada dalam kondisi yang sehat. Hal ini mengindisikan bahwa kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya sangat baik Kinerja Keuangan Sesudah Akuisisi CAR (Capital Adequacy Ratio) Sesudah Akuisisi CAR dapat dihitung dengan cara membandingkan modal bank yang terdiri dari modal inti dan modal pelengkap dengan ATMR yang terdiri dari ATMR untuk risiko kredit, ATMR untuk risiko pasar dan ATMR untuk risiko operasional. Untuk mengetahui kinerja keuangan sesudah akuisisi dari sisi permodalan yang diukur dengan rasio CAR, dapat dijabarkan sebagai berikut. Langkah pertama adalah

35 100 menghitung modal sesudah akuisisi yang disajikan dalam tabel 4.9, namun perhitungan lebih lengkapnya tersedia pada lampiran. Tabel 4.9 Perhitungan Modal Sesudah Akuisisi Periode TAHUN Modal Inti Modal Pelengkap Total Modal Sumber: Laporan Keuangan PT Bank Pundi Indonesia (Data Diolah) Setelah melakukan perhitungan modal sesudah akuisisi, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan ATMR yang terdiri dari ATMR risiko kredit, risiko operasional, dan risiko pasar seperti yang tercantum pada tabel 4.10 di bawah ini. Tabel 4.10 Perhitungan ATMR Sesudah Akuisisi Periode TAHUN ATMR ATMR untuk ATMR untuk untuk Risiko Risiko Kredit Risiko Operasional Pasar Total ATMR Sumber: Laporan keuangan (Data Diolah) Langkah terakhir untuk menghitung CAR yakni dengan membandingkan total modal dan total ATMR yang sudah dihitung. Berikut perhitungan CAR PT Bank Pundi Indonesia Tbk sesudah akuisisi yang disajikan pada tabel 4.11.

36 101 Tabel 4.11 Perhitungan CAR Sesudah Akuisisi Periode TAHUN Total Modal Total ATMR CAR ,80% ,39% Sumber: Laporan Keuangan PT Bank Pundi Indonesia (Data Diolah) Berdasarkan Tabel 4.11 di atas dapat diketahui bahwa CAR yang diperoleh tahun 2010 adalah 25,80% yang meningkat pesat dibanding tahun sebelum akuisisi, angka ini merupakan angka CAR tertinggi yang diperoleh selama kurun waktu 6 tahun yakni tahun Peningkatan ini disebabkan oleh adanya penambahan modal dari proses akuisisi yang dilakukan dengan PT Recapital Securities. Selain itu adanya peningkatan modal pelengkap berupa revaluasi aktiva tetap menjadi sebesar Rp ,-. Pada tahun 2011 rasio CAR mengalami penurunan menjadi sebesar 11,39%. Meskipun total modal yang dimiliki baik yang berasal dari modal inti dan pelengkap mengalami peningkatan, namun karena besarnya ATMR untuk risiko kredit yang mencapai Rp ,- akibat pembayaran atau pelunasan kredit yang tidak sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan menjadikan nilai CAR mengalami penurunan. Jika ditinjau dari SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004 pada tahun 2010 dan tahun 2011 mendapat peringkat 1 karena CAR yang diperoleh 12% yakni sebesar 25,80% pada tahun 2010 dan 11,39% pada tahun 2011 artinya bahwa modal yang dimiliki mencukupi untuk menunjang aktiva-aktiva

37 102 yang mengandung risiko. Untuk lebih jelas mengenai perkembangan CAR sesudah akuisisi pada dapat dilihat pada gambar ,00% 20,00% 10,00% 0,00% 25,80% 11,39% CAR Sesudah Akuisisi Gambar 4.8 Grafik Perkembangan CAR Sesudah Akuisisi Periode NPL (Non Performing Loan) Sesudah Akuisisi Peningkatan kredit bermasalah pada selama kurun waktu empat tahun yakni tahun sehingga mengakibatkan bank ini masuk ke dalam pengawasan khusus Bank Indonesia. Kemudian pada tahun 2010 melakukan akuisisi dengan PT Recapital Securities. Tabel 4.12 Perhitungan NPL sesudah akuisisi Periode TAHUN Total Kredit Total Kredit Bermasalah yang diberikan NPL ,96% ,12% Sumber: Laporan Keuangan (Data Diolah)

38 103 Tabel 4.12 menyajikan perhitungan NPL sesudah akuisisi yakni tahun (Perhitungan lengkapnya tercantum pada lampiran). Untuk lebih jelas mengenai perkembangannya dapat dilihat pada gambar 4.9 berikut. 60,00% 40,00% 20,00% 0,00% 50,96% 9,12% NPL Sesudah Akuisisi Gambar 4.9 Grafik Perkembangan NPL sesudah akuisisi Periode Berdasarkan gambar 4.9 menunjukkan perkembangan NPL sesudah akuisisi pada periode NPL yang diperoleh pada tahun 2010 sebsar 50,96% dan ini merupakan NPL tertinggi yang diperoleh selama kurun waktu enam tahun yakni tahun Sehingga pada bulan Juli 2010 bank ini disarankan melakukan akuisisi. Jika ditinjau berdasarkan ketentuan Bank Indonesia maka dapat dikategorikan sangat tidak sehat karena jauh melampaui standar BI yakni sebesar 5%. Hal ini disebabkan oleh menurunnya pendapatan bunga bersih. Kini lebih fokus pada pembiayaan mikro dengan cara melakukan penghentian pencairan kredit selama bulan Maret sampai

39 104 September. Sedangkan kredit yang diberikan pada tahun lalu, PT Bank Pundi Indonesia akan melakukan penagihan tanpa adanya perpanjangan. Pada tahun 2011 NPL yang diperoleh PT Bank Pundi Indonesia sebesar 9,12%. Mengalami penurunan sebesar 41,84% dari tahun sebelumnya yakni tahun 2010 sebesar 50,96%. Penurunan NPL ini mengindisikan bahwa PT Bank Pundi Indonesia Tbk dapat mengelola kredit bermasalah, walaupun angka ini masih di atas ketentuan Bank Indonesia yakni minimal sebesar 5% ROA (Return on Asset) Sesudah Akuisisi Perhitungan ROA sesudah akuisisi pada tercantum pada tabel dibawah ini. Tabel 4.13 Perhitungan ROA Sesudah Akuisisi Periode TAHUN Laba Sebelum Pajak Total Aktiva ROA ,65% ,86% Sumber: Laporan Keuangan PT Bank Pundi Indonesia (Data Diolah) Berdasarkan tabel 4.11 di atas dapat dideskripsikan bahwa laba sebelum pajak pasca akuisisi yakni tahun menunjukkan hasil negatif yang berarti bank mengalami kerugian. Rugi sebelum pajak yang diperoleh pada tahun 2010 mengalami penurunan dari tahun Hal ini disebabkan karena mampu menekan rugi operasional sebesar Rp milyar dari rugi operasional

40 105 tahun 2009 sebesar Rp milyar. Namun, pada tahun 2011 rugi sebelum pajak mengalami kenaikan sebesar RP , ini disebabkan karena naiknya rugi operasional yang mencapai Rp milyar artinya meningkat sebesar Rp milyar seiring meningkatnya beban operasional sebesar Rp milyar dari tahun Gambaran mengenai total aktiva sesudah akuisisi terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2010 total aktiva yang dimiliki sebesar Rp meningkat sebesar Rp milyar dari tahun 2009, kemudian pada tahun 2011 total aktiva diperoleh sebesar Rp ,- dan ini merupakan total aktiva terbesar yang dimiliki periode Berikut ini disajikan gambaran perkembangan ROA (Return on Asset) pada periode : 0,00% -2,00% -4,00% -6,00% -8,00% -10,00% -12,00% ,86% ,65% ROA Sesudah Akuisisi Gambar 4.10 Grafik Perkembangan ROA Sesudah Akuisisi Periode Pada tahun 2010 ROA mengalami penurunan drastis yakni sebesar -10,65% dan merupakan ROA terendah yang terjadi dalam kurun waktu enam tahun dari tahun

41 Meskipun pada tahun 2011 mengalami kenaikan total aktiva tetapi tidak menjadikan ROA yang dihasilkan diatas standar yang ditetapkan Bank Indonesia yakni sebesar 1,5% karena pada tahun 2011 masih mengalami kerugian sehingga ROA yang dihasilkan negatif. Jika ditinjau dari SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004 pada tahun 2010 dan tahun 2011 mendapat peringkat 5 (tidak sehat) karena ROA yang diperoleh negatif. Ini menandakan ketidakefektifan bank dalam mengelola aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba secara keseluruhan. hal ini menunjukan bahwa tidak terwujudnya keinginan ekonomis untuk memperbaiki faktor profitabilitas pasca akuisisi ROE (Return on Equity) Sesudah Akuisisi Perhitungan ROE sesudah akuisisi pada PT Bank Pundi Indonesia tercantum pada tabel di bawah ini. Tabel 4.14 Perhitungan ROE Sesudah Akuisisi Periode TAHUN Laba Bersih Modal Sendiri ROE ,55 % ,79 % Sumber: Laporan Keuangan PT Bank Pundi Indonesia (Data Diolah) Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.11 mengenai perkembangan ROE sesudah akuisisi pada.

II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Peran Bank

II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Peran Bank 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Peran Bank Bank secara sederhana dapat diartikan sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Peran perbankan dalam membangun ekonomi merupakan salah satu sektor

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Peran perbankan dalam membangun ekonomi merupakan salah satu sektor 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peran perbankan dalam membangun ekonomi merupakan salah satu sektor yang diharapkan berperan aktif dalam menunjang kegiatan pembangunan regional atau nasional. Peran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembengkakan nilai dan pembayaran hutang luar negeri, melonjaknya non performing

BAB I PENDAHULUAN. pembengkakan nilai dan pembayaran hutang luar negeri, melonjaknya non performing BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam mencapai tujuan pembangunan nasional, peranan perbankan sebagai fungsi intermediary yaitu menghimpun dan menyalurkan kembali dana dirasakan semakin

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS 2.1 TINJAUAN PUSTAKA 1. Bank Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatannya menghimpun dana dari dan kepada masyarakat yang memiliki fungsi memperlancar lalu lintas

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004, tingkat kesehatan bank adalah hasil penilaian kualitatif

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... ix

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... ix DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... ix I. PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 4 1.3 Tujuan Penelitian...

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk Indonesia. Sektor perbankan berfungsi sebagai perantara keuangan

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk Indonesia. Sektor perbankan berfungsi sebagai perantara keuangan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perbankan dalam perekonomian suatu negara memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting. Perbankan merupakan salah satu sub sistem keuangan yang paling penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya sektor usaha. Perbankan sebagai lembaga perantara (intermediate)

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya sektor usaha. Perbankan sebagai lembaga perantara (intermediate) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perbankan memiliki peran penting dalam perekonomian suatu negara. Kinerja perbankan yang kuat akan menopang berbagai sektor ekonomi termasuk didalamnya sektor

Lebih terperinci

II. PT. BANK GANESHA

II. PT. BANK GANESHA II. PT. BANK GANESHA 2.1 Data Perusahaan 2.1.1. Identitas Perusahaan PT. Bank Ganesha adalah perusahaan yang bergerak dibidang Jasa Keuangan atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Bank, yaitu sebagai

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. keuangan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap laporan keuangan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. keuangan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap laporan keuangan. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Perlakuan Akuntansi Perlakuan akuntansi adalah standar yang melandasi pencatatan suatu transaksi yang meliputi pengakuan, pengukuran atau penilaian

Lebih terperinci

PENILAIAN KEBERHASILAN BANK DENGAN PERHITUNGAN MATEMATIS

PENILAIAN KEBERHASILAN BANK DENGAN PERHITUNGAN MATEMATIS KOMPUTER LEMBAGA KEUANGAN PERBANKAN PENILAIAN KEBERHASILAN BANK DENGAN PERHITUNGAN MATEMATIS Rowland Bismark Fernando Pasaribu UNIVERSITAS GUNADARMA PERTEMUAN 08 & 09 EMAIL: rowland dot pasaribu at gmail

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Analisis deskriptif penelitian dilakukan untuk memperoleh gambaran masingmasing

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Analisis deskriptif penelitian dilakukan untuk memperoleh gambaran masingmasing BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Hasil Penelitian Deskriptif Analisis deskriptif penelitian dilakukan untuk memperoleh gambaran masingmasing variabel yang diteliti. Hal ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikenal dengan istilah di dunia perbankan adalah kegiatan funding (Kasmir, 2008:

BAB I PENDAHULUAN. dikenal dengan istilah di dunia perbankan adalah kegiatan funding (Kasmir, 2008: BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Bank merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Aktivitas perbankan yang pertama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Keberadaan sektor perbankan sebagai subsistem dalam perekonomian suatu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Keberadaan sektor perbankan sebagai subsistem dalam perekonomian suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan sektor perbankan sebagai subsistem dalam perekonomian suatu negara memiliki peranan cukup penting, bahkan dalam kehidupan masyarakat modern sehari-hari sebagian

Lebih terperinci

Yth: 1. Direksi Bank Umum Syariah 2. Direksi Bank Umum Konvensional yang Memiliki Unit Usaha Syariah di tempat

Yth: 1. Direksi Bank Umum Syariah 2. Direksi Bank Umum Konvensional yang Memiliki Unit Usaha Syariah di tempat Yth: 1. Direksi Bank Umum Syariah 2. Direksi Bank Umum Konvensional yang Memiliki Unit Usaha Syariah di tempat SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.03/2015 TENTANG TRANSPARANSI DAN PUBLIKASI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bisnis yang berkembang dengan pesat sehingga sangat diperlukan sumber-sumber

BAB 1 PENDAHULUAN. bisnis yang berkembang dengan pesat sehingga sangat diperlukan sumber-sumber 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semakin majunya perkembangan perekonomian saat ini semakin banyak pula bisnis yang berkembang dengan pesat sehingga sangat diperlukan sumber-sumber dana yang

Lebih terperinci

No.12/ 27 /DPNP Jakarta, 25 Oktober 2010 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM KONVENSIONAL DI INDONESIA. Perihal : Rencana Bisnis Bank Umum

No.12/ 27 /DPNP Jakarta, 25 Oktober 2010 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM KONVENSIONAL DI INDONESIA. Perihal : Rencana Bisnis Bank Umum No.12/ 27 /DPNP Jakarta, 25 Oktober 2010 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM KONVENSIONAL DI INDONESIA Perihal : Rencana Bisnis Bank Umum Sehubungan dengan diterbitkannya Peraturan Bank Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengambilan keputusan. Laporan mengenai rugi laba suatu perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. pengambilan keputusan. Laporan mengenai rugi laba suatu perusahaan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prinsip semua pelaku usaha adalah mencari laba yang maksimal atau berusaha untuk meningkatkan labanya. Hal ini menyebabkan laba menjadi salah satu ukuran kinerja perusahaan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Sampel bank umum syariah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank Syariah Mandiri

BAB III METODE PENELITIAN. Sampel bank umum syariah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank Syariah Mandiri BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Sampel Penelitian Sampel bank umum syariah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan bank konvensional yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manfaat diantaranya dividen dan capital gain. Dividend merupakan bagian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manfaat diantaranya dividen dan capital gain. Dividend merupakan bagian BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Saham Menurut Anoraga, Pakarti (2006:54) pengertian saham dapat diartikan sebagai tanda penyertaan modal pada suatu perseroan terbatas dan memiliki manfaat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perbankan 2.1.1 Kinerja Perbankan Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui berbagai macam variabel atau indikator, antara lain melalui laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tidak terlepas dari kaitannya dengan uang. Sebab untuk menjalankan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tidak terlepas dari kaitannya dengan uang. Sebab untuk menjalankan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Bank 1. Pengertian Bank Dalam kehidupan sehari-hari kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat tidak terlepas dari kaitannya dengan uang. Sebab untuk menjalankan perekonomian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang dan meminjamkan uang.

BAB I PENDAHULUAN. dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang dan meminjamkan uang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank adalah sebuah lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang dan meminjamkan uang. Sedangkan menurut undang-undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang kekurangan dana dengan tujuan meningkatkan taraf hidup rakyat

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang kekurangan dana dengan tujuan meningkatkan taraf hidup rakyat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank memiliki peranan yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Peranan bank dalam membangun perekonomian Indonesia diwujudkan dalam fungsi utamanya sebagai mediator

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Nilai CAR BRI periode

Lampiran 1. Perhitungan Nilai CAR BRI periode LAMPIRAN 61 62 Lampiran 1. Perhitungan Nilai CAR BRI periode 2006-2011 NO Deskripsi 2006 2007 2008 2009 2010 2011 I Komponen Modal A. Modal Inti 13,104,120 15,448,235 17,795,610 21,137,919 27,673,231 38,214,079

Lebih terperinci

Lampiran 1. Profil Risiko Bank Mutiara tahun Penilaian Profil Risiko Bank Mutiara tahun 2011 Peringkat Risiko Peringkat Kualitas Profil Risiko

Lampiran 1. Profil Risiko Bank Mutiara tahun Penilaian Profil Risiko Bank Mutiara tahun 2011 Peringkat Risiko Peringkat Kualitas Profil Risiko LAMPIRAN Lampiran 1. Profil Risiko Bank Mutiara tahun 2011 Penilaian Profil Risiko Bank Mutiara tahun 2011 Peringkat Risiko Peringkat Kualitas Profil Risiko Inheren Manajemen Risiko Peringkat Tingkat Risiko

Lebih terperinci

KOMITE REMUNERASI DAN NOMINASI

KOMITE REMUNERASI DAN NOMINASI 2. Melakukan pemantauan khusus terhadap: a. Risiko operasional, khususnya risiko Teknologi Informasi (TI) untuk memastikan bahwa risiko operasional bank terkendali, disamping itu melakukan evaluasi terhadap

Lebih terperinci

Analisis Tingkat Kesehatan Bank Pada PT. Bank Central Asia, Tbk dan PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk

Analisis Tingkat Kesehatan Bank Pada PT. Bank Central Asia, Tbk dan PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Analisis Tingkat Kesehatan Bank Pada PT. Bank Central Asia, Tbk dan PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Nama : Mutiara Hikmah Hardiyanti NPM : 25212186 Kelas : 3EB24 Pembimbing : Feny Fidyah, SE., MMSI Latar

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Capital Adequacy Ratio (CAR) Menurut Undang-Undang RI nomor 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan,

Lebih terperinci

BAB II PROSES BISNIS. 11 Sumber: Dendawijaya, 2005: 55.

BAB II PROSES BISNIS. 11 Sumber: Dendawijaya, 2005: 55. BAB II PROSES BISNIS Untuk menggambarkan proses bisnis PT. Bank Nusantara Parahyangan, Tbk., perlu dipahami ketentuan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang telah diubah melalui Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. baik secara langsung maupun tidak langsung. Banyaknya sektor yang tergantung

BAB I PENDAHULUAN. baik secara langsung maupun tidak langsung. Banyaknya sektor yang tergantung BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perbankan merupakan urat nadi perekonomian di seluruh negara. Tidak sedikit roda-roda perekonomian terutama di sektor riil digerakkan oleh perbankan baik secara langsung

Lebih terperinci

ANALISIS TINGKAT KESEHATAN PERBANKAN BERDASARKAN METODE CAMELS

ANALISIS TINGKAT KESEHATAN PERBANKAN BERDASARKAN METODE CAMELS ANALISIS TINGKAT KESEHATAN PERBANKAN BERDASARKAN METODE CAMELS MUNGNIYATI STIE TRISAKTI mungniyati@stietrisakti.ac.id PENDAHULUAN K esehatan merupakan aspek yang sangat penting dalam berbagai bidang kehidupan.

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis mengenai analisis perbandingan kinerja keuangan pada Bank Muamalat Indonesia dan Bank Muamalat Malaysia Berhad, maka penulis

Lebih terperinci

No.6/ 23 /DPNP Jakarta, 31 Mei S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA

No.6/ 23 /DPNP Jakarta, 31 Mei S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA No.6/ 23 /DPNP Jakarta, 31 Mei 2004 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA Perihal: Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang

BAB I PENDAHULUAN. memiliki fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut UU No.10 tahun 1998 : Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu ukuran untuk melihat kinerja keuangan perbankan adalah melalui

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu ukuran untuk melihat kinerja keuangan perbankan adalah melalui BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Return on Assets (ROA) Salah satu ukuran untuk melihat kinerja keuangan perbankan adalah melalui Return on Assets (ROA). Return on Assets (ROA) digunakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (Nopirin, 2009:34). Kelangkaan dana yang dimiliki dunia perbankan memicu

BAB 1 PENDAHULUAN. (Nopirin, 2009:34). Kelangkaan dana yang dimiliki dunia perbankan memicu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada pertengahan tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi yang terus berkelanjutan. Pada akhir tahun 1997, suku bunga untuk jangka waktu bulanan di Bank

Lebih terperinci

Laporan Penilaian Sendiri (Self Assessment) Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG)

Laporan Penilaian Sendiri (Self Assessment) Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) PT. BANK ANTARDAERAH BANK DEVISA Laporan Penilaian Sendiri (Self Assessment) Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) Posisi : 30 Juni 2015 (Revisi OJK) 1. Peringkat Faktor GCG dan Definisi Peringkat

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF : : :

RINGKASAN EKSEKUTIF : : : DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 (a). Ringkasan Eksekutif - Rencana dan Langkah-Langkah Strategis (b). Ringkasan Eksekutif - Indikator Keuangan BPR dengan modal inti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank merupakan perusahaan yang dinamis yang mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. Usaha bank bukan saja sebagai penyimpan dan pemberi kredit, tetapi juga pencipta

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Institusi Perbankan

II. TINJAUAN PUSTAKA Institusi Perbankan 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Institusi Perbankan Menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan, pengertian bank diatur dalam Pasal 1 ayat 2. Bank adalah suatu badan usaha yang menghimpun dana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah Ibnu Fariz ini berjudul Pengaruh LDR,NPL, APB, IRR,PDN, BOPO,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah Ibnu Fariz ini berjudul Pengaruh LDR,NPL, APB, IRR,PDN, BOPO, 12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Ada dua penelitian terdahulu yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini, yaitu penelitian yang dilakukan oleh: 1. Ibnu Fariz (2012) Penelitian terdahulu

Lebih terperinci

CAKUPAN DATA. AKSES DATA Data Antar Bank Aktiva dapat di akses dalam website BI :

CAKUPAN DATA. AKSES DATA Data Antar Bank Aktiva dapat di akses dalam website BI : 1 Nama Data : Antar Bank Aktiva BPR Semua jenis simpanan/tagihan BPR Pelapor dalam rupiah kepada bank lain di Indonesia. Simpanan/tagihan kepada bank lain di Indonesia dengan jenis giro, tabungan, deposito

Lebih terperinci

BAB X PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK (CAMELS)

BAB X PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK (CAMELS) BAB X PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK (CAMELS) A. Capital (Permodalan) Penilaian pertama adalah aspek permodalan, dimana aspek ini menilai permodalan ang dimiliki bank yang didasarkan pada: 1. Kewajiban

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sektor perbankan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sektor perbankan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sektor perbankan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi dalam sebuah negara. Bank memegang peranan penting dalam menyeimbangkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data yang telah

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data yang telah 23 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan dan dipublikasikan. Data sekunder yaitu laporan keuangan publikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank merupakan salah satu lembaga keuangan atau perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, bertugas menghimpun dana (Funding) dari masyarakat, menyalurkan dana (Lending)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tabel 1. Kinerja (LDR) Bank Umum Tahun

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tabel 1. Kinerja (LDR) Bank Umum Tahun 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank merupakan lembaga keuangan yang sangat penting di Indonesia. Bank dapat dikatakan sebagai lembaga penggerak perekonomian negara karena banyak kegiatan ekonomi masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atas dana yang diterima dari nasabah. Sesuai dengan Undang undang RI nomor

BAB I PENDAHULUAN. atas dana yang diterima dari nasabah. Sesuai dengan Undang undang RI nomor BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bank merupakan suatu perusahaan yang menjalankan fungsi intermediasi atas dana yang diterima dari nasabah. Sesuai dengan Undang undang RI nomor 10 tahun 1998 tentang

Lebih terperinci

Maria Sibuea EB11 Pembimbing : Agustin Rusianasari, SE., MM

Maria Sibuea EB11 Pembimbing : Agustin Rusianasari, SE., MM ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN METODE RGEC (RISK PROFILE, GOOD CORPORATE GOVERNANCE, EARNING, CAPITAL) PADA PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO),Tbk (Periode 2012 2015) Maria Sibuea.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bunga yang sangat tinggi. Hingga saat ini, sistem pengkreditan bank sudah merata

BAB 1 PENDAHULUAN. bunga yang sangat tinggi. Hingga saat ini, sistem pengkreditan bank sudah merata 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak jaman penjajahan Belanda, sistem pengkreditan rakyat sudah diterapakan pada masa itu dengan mendirikan Bank Kredit Rakyat (BKR) yang membantu para petani, pegawai,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu badan usaha terus-menerus memperoleh laba, ini berarti kelangsungan hidup

BAB I PENDAHULUAN. suatu badan usaha terus-menerus memperoleh laba, ini berarti kelangsungan hidup BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memperoleh laba merupakan tujuan utama berdirinya suatu badan usaha, baik badan usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), Yayasan maupun bentuk-bentuk badan usaha

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian PT. Bank Negara Indonesia (Persero)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian PT. Bank Negara Indonesia (Persero) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1. PT. Bank Negara Indonesia (Persero) PT. Bank Negara Indonesia (persero), Tbk atau BNI didirikan pada tanggal 5 Juli 1946 dan menjadi bank pertama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berkembanya perbankan Indonesia dapat dilihat dari jumlah bank yang

BAB I PENDAHULUAN. Berkembanya perbankan Indonesia dapat dilihat dari jumlah bank yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkembanya perbankan Indonesia dapat dilihat dari jumlah bank yang semakin meningkat tiap tahunnya. Ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat telah kembali

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Tujuan Bank 2.1.1 Pengertian Bank Para ahli dalam bidang perbankan memberikan definisi mengenai bank yang berbeda-beda, tetapi mempunyai tujuan yang sama. Menurut

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 27 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Initial Public Offering (IPO) adalah proses pertama suatu perusahaan berubah statusnya yaitu dari perusahaan milik perorangan menjadi perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk simpanan. Sedangkan lembaga keuangan non-bank lebih

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk simpanan. Sedangkan lembaga keuangan non-bank lebih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lembaga keuangan digolongkan ke dalam dua golongan besar menurut Kasmir (2012), yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan nonbank. Lembaga keuangan bank atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keuangan dimana kegiatannya hanya menghimpun dana atau kembali

BAB I PENDAHULUAN. keuangan dimana kegiatannya hanya menghimpun dana atau kembali BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lembaga keuangan merupakan perusahaan yang bergerak dibidang keuangan dimana kegiatannya hanya menghimpun dana atau kembali menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kegiatan usaha perbankan syariah pada dasarnya merupakan perluasan jasa perbankan bagi masyarakat yang membutuhkan dan menghendaki pembayaran imbalan yang tidak didasarkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Bank

TINJAUAN PUSTAKA Bank 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bank 2.1.1 Pengertian Bank Bank dalam usahanya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam berbagai alternatif investasi. Sehubungan dengan fungsi penghimpunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan bentuk-bentuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan sebuah lembaga yang mampu menjalankan fungsi pelantara (financial

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan sebuah lembaga yang mampu menjalankan fungsi pelantara (financial BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perbankan saat ini menjadi salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peran penting di dalam sektor perekonomian. Di Indonesia bank merupakan sebuah lembaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yaitu untuk menghimpun dana dari pihak yang kelebihan dana (kreditur) dan

BAB I PENDAHULUAN. yaitu untuk menghimpun dana dari pihak yang kelebihan dana (kreditur) dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbankan mempunyai peranan dan fungsi penting dalam perekonomian suatu negara yaitu untuk menghimpun dana dari pihak yang kelebihan dana (kreditur) dan menyalurkannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kembali dana tersebut kepada masyarakat dalam bentuk kredit.

BAB I PENDAHULUAN. kembali dana tersebut kepada masyarakat dalam bentuk kredit. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia telah mengalami perkembangan ekonomi yang sangat cepat. Perkembangan tersebut tidak lepas dari peran bank sebagai lembaga keuangan yang mengatur,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. peranan dunia perbankan semakin dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. peranan dunia perbankan semakin dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Kebutuhan masyarakat akan jasa keuangan semakin meningkat dan beragam, peranan dunia perbankan semakin dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat baik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dianggap sebagai penggerak perekonomian dalam suatu negara. Menurut Undang-

BAB I PENDAHULUAN. dianggap sebagai penggerak perekonomian dalam suatu negara. Menurut Undang- BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan perekonomian di Indonesia, perbankan menjadi salah satu sektor yang memegang peranan penting di dalamnya. Bank dianggap sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang penting dalam perekonomian di Indonesia. Aktifitas Bank adalah

BAB I PENDAHULUAN. peranan yang penting dalam perekonomian di Indonesia. Aktifitas Bank adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Di Indonesia perusahaan perbankan merupakan suatu lembaga keuangan yang diberikan kepercayaan oleh masyarakat guna penyimpanan kelebihan dana yang dimiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bank memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Bank memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi sebagai lembaga intermediasi antara pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana dengan pihak-pihak yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rasio permodalan diukur dengan membandingkan antara rasio Modal

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Rasio permodalan diukur dengan membandingkan antara rasio Modal BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Capital (Modal) permodalan diukur dengan membandingkan antara rasio Modal terhadap Aset Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Sehingga dengan rumus yang ada maka CAR (Capital

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. penyimpan, pemerintah dan masyarakat (Audhya, 2014). Profitabilitas merupakan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. penyimpan, pemerintah dan masyarakat (Audhya, 2014). Profitabilitas merupakan BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Profitabilitas Profitabilitas di dalam dunia perbankan sangat penting baik untuk pemilik, penyimpan, pemerintah dan masyarakat (Audhya,

Lebih terperinci

NERACA TRIWULANAN Tanggal : 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012

NERACA TRIWULANAN Tanggal : 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012 No. NERACA TRIWULANAN Tanggal : 30 Juni 2013 dan 31 Desember 2012 POS POS (dalam jutaan rupiah) Posisi 31 Desember Th. ASET 1. Kas 11.925 11.327 2. Penempatan pada Bank Indonesia 215.761 264.622 3. Penempatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi. Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi. Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah 1 A. Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN Di negara seperti Indonesia, bank memegang peranan penting dalam pembangunan karena bukan hanya sebagai sumber pembiayaan untuk kredit investasi kecil,

Lebih terperinci

BAB I LATAR BELAKANG. dunia perbankan menjadi sangat ketat, dimana bank dituntut memberikan

BAB I LATAR BELAKANG. dunia perbankan menjadi sangat ketat, dimana bank dituntut memberikan 1 BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan perbankan yang pesat menjadikan iklim persaingan dalam dunia perbankan menjadi sangat ketat, dimana bank dituntut memberikan pelayanan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebuah bank di Indonesia perlu diperhatikan oleh pemerintah agar tidak merugikan

BAB I PENDAHULUAN. sebuah bank di Indonesia perlu diperhatikan oleh pemerintah agar tidak merugikan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor perbankan memiliki peranan yang sangat penting dalam kelancaran aktivitas perekonomian di Indonesia. Hal ini dapat dilihat ketika sektor ekonomi mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian. Bank memiliki fungsi utama yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian. Bank memiliki fungsi utama yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Bank memiliki fungsi utama yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan atau sebagai

Lebih terperinci

Sri Pujiyanti Dr. Ir. E. Susi Suhendra, MS Universitas Gunadarma

Sri Pujiyanti Dr. Ir. E. Susi Suhendra, MS Universitas Gunadarma ANALISIS KINERJA KEUANGAN MENGENAI TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN METODE CAMEL (STUDI KASUS PADA PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk DAN PT. BANK BUKOPIN Tbk PERIODE 2006-2008) Sri Pujiyanti

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, Agustus 2005 BANK INDONESIA Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan

KATA PENGANTAR. Jakarta, Agustus 2005 BANK INDONESIA Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan KATA PENGANTAR Buku Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang sebelumnya diterbitkan dengan nama buku Data Perbankan Indonesia (DPI), merupakan media publikasi yang menyajikan data mengenai perbankan Indonesia.

Lebih terperinci

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.03/2016 TENTANG RENCANA BISNIS BANK PERKREDITAN RAKYAT

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.03/2016 TENTANG RENCANA BISNIS BANK PERKREDITAN RAKYAT Yth. Direksi Bank Perkreditan Rakyat di tempat. SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.03/2016 TENTANG RENCANA BISNIS BANK PERKREDITAN RAKYAT Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Otoritas Jasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan yang

BAB I PENDAHULUAN. ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentukbentuk lainnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan sumber dana jangka panjang bagi

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan sumber dana jangka panjang bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan sumber dana jangka panjang bagi perusahaan. Termasuk didalamnya adalah perusahaan-perusahaan pada sektor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan masyarakat Indonesia akan keberadaan bank sudah sangat dirasakan saat ini, bagaimana tidak karena bank dijadikan sebagai tempat untuk melakukan transaksi

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk. PADA PERIODE

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk. PADA PERIODE ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk. PADA PERIODE 2010-2012 DOSEN PEMBIMBING : Rini Tesniwati, SE., MMSi Galih Pangestu 22210924 3EB06 Latar Belakang Menurut UU RI No 10 1998 tanggal

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. I. DAFTAR ISI i. II. PENJELASAN ii. III. DAFTAR SINGKATAN iv. IV. DAFTAR ISTILAH v. V. DAFTAR RASIO vi. VI.

DAFTAR ISI. I. DAFTAR ISI i. II. PENJELASAN ii. III. DAFTAR SINGKATAN iv. IV. DAFTAR ISTILAH v. V. DAFTAR RASIO vi. VI. DAFTAR ISI I. DAFTAR ISI i II. PENJELASAN ii III. DAFTAR SINGKATAN iv IV. DAFTAR ISTILAH v V. DAFTAR RASIO vi VI. DAFTAR TABEL viii VII. KONDISI UMUM 1 VIII. DATA 5 i PENJELASAN 1. Data yang digunakan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian ini dan buku serta tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian ini dan buku serta tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini berupa analisis deskriptif, yaitu dengan mengamati aspek-aspek tertentu dari laporan keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA BANK

ANALISIS KINERJA BANK ANALISIS LAPORAN KEU. PERBANKAN KARTIKA SARI. UniversitasGunadarma. ANALISIS KINERJA BANK TUJUAN MATERI : 1. Menjelaskan pengertian analisis rasio likuiditas, rentabilitas dan solvabilitas. 2. Menyebutkan

Lebih terperinci

Jacob Abolladaka Pendidikan Ekonomi, FKIP-Undana Kupang-NTT

Jacob Abolladaka Pendidikan Ekonomi, FKIP-Undana Kupang-NTT ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENENTUKAN TINGKAT KESEHATAN KEUANGAN BANK PADA PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT CHRISTA JAYA PERDANA DI KOTA KUPANG TAHUN 2012-2014 Jacob Abolladaka Pendidikan Ekonomi, FKIP-Undana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank yang merupakan lokomotif pembangunan ekonomi mempunyai peran sangat penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Tidak mengherankan jika pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan mata rantai yang penting dalam melakukan bisnis karena. melaksanakan fungsi produksi, oleh karena itu agar

BAB I PENDAHULUAN. merupakan mata rantai yang penting dalam melakukan bisnis karena. melaksanakan fungsi produksi, oleh karena itu agar BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perbankan merupakan tulang punggung dalam membangun sistem perekonomian dan keuangan Indonesia karena dapat berfungsi sebagai intermediary institution yaitu

Lebih terperinci

Menurut Marrie Muhamad Mantan Menteri Keuangan mengatakan bahwa ada dua pihak yang kontra-privatisasi, dan pihak yang pro-privatisasi. Pihak yang kont

Menurut Marrie Muhamad Mantan Menteri Keuangan mengatakan bahwa ada dua pihak yang kontra-privatisasi, dan pihak yang pro-privatisasi. Pihak yang kont ANALISIS TINGKAT KESEHATAN PT BANK RAKYAT INDONESIA (Persero) Tbk dan PT BANK MANDIRI (Persero) Tbk SEBELUM DAN SETELAH PRIVATISASI ABSTRAK Sampai saat ini Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih

Lebih terperinci

BAB 5 PENUTUP. dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. Dalam penilaian permodalan yaitu dengan Capital Adequacy Ratio

BAB 5 PENUTUP. dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. Dalam penilaian permodalan yaitu dengan Capital Adequacy Ratio BAB 5 PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan analisis hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. Dalam penilaian permodalan yaitu dengan Capital

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, Oktober 2005 BANK INDONESIA Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan

KATA PENGANTAR. Jakarta, Oktober 2005 BANK INDONESIA Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan KATA PENGANTAR Buku Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang sebelumnya diterbitkan dengan nama buku Data Perbankan Indonesia (DPI), merupakan media publikasi yang menyajikan data mengenai perbankan Indonesia.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio keuangan adalah alat ukur yang paling sering igunakan dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio keuangan adalah alat ukur yang paling sering igunakan dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian Rasio Keuangan Rasio keuangan adalah alat ukur yang paling sering igunakan dalam menganalisis laporan keuangan. Rasio keuangan menghubungkan berbagai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian ini merujuk pada dua penelitian sebelumnya yaitu : 1. Sofan Hariati (2012) Peneliti terdahulu yang dijadikan rujukan oleh penulis adalah peneliti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perekonomian suatu negara tidak terlepas dari peranan lembaga

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perekonomian suatu negara tidak terlepas dari peranan lembaga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan perekonomian suatu negara tidak terlepas dari peranan lembaga keuangan khususnya perbankan. Perbankan berperan penting sebagai lembaga intermediasi,

Lebih terperinci

POIN ISI SURAT EDARAAN USULAN PERBARINDO. Matriks Rancangan Surat Edaran OJK Tentang Rencana Bisnis BPR dan BPRS

POIN ISI SURAT EDARAAN USULAN PERBARINDO. Matriks Rancangan Surat Edaran OJK Tentang Rencana Bisnis BPR dan BPRS Final Matriks Rancangan Surat Edaran OJK Tentang Rencana Bisnis BPR dan BPRS POIN ISI SURAT EDARAAN USULAN PERBARINDO I. KETENTUAN UMUM 1 Dalam rangka mencapai tujuan usaha yang berpedoman kepada visi

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA. Rencana Bisnis Bank Umum.

S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA. Rencana Bisnis Bank Umum. No.6/44/DPNP Jakarta, 22 Oktober 2004 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal: Rencana Bisnis Bank Umum. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/25/PBI/2004 tanggal 22

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan di dunia perbankan yang sangat pesat serta tingkat kompleksitas yang tinggi dapat berpengaruh terhadap performa suatu bank. Kompleksitas usaha perbankan

Lebih terperinci

N E R A C A Per 30 September 2009 Dan 2008 (Dalam Jutaan Rupiah) Pos - Pos

N E R A C A Per 30 September 2009 Dan 2008 (Dalam Jutaan Rupiah) Pos - Pos N E R A C A A K T I V A 1. K a s 22,951 21,458 2. Penempatan pada Bank Indonesia a. Giro Bank Indonesia 117,863 165,135 b. Sertifikat Bank Indonesia 154,903 89,736 c. Lainnya - - 3. Giro pada bank lain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negeri mengalami kebangkrutan dan yang masih mampu survive-pun sulit untuk

BAB I PENDAHULUAN. negeri mengalami kebangkrutan dan yang masih mampu survive-pun sulit untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Lembaga keuangankhususnya sektor perbankan merupakan institusi masyarakat yang diharapkan mampu memperlancar roda perekonomian suatu negara. Hal ini ditunjukkan

Lebih terperinci