BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian dan Manfaat Laporan Keuangan Menurut Soemarso (2002:34), laporan keuangan adalah laporan yang dirancang untuk para pembuat keputusan, terutama pihak di luar perusahaan, mengenai posisi keuangan, dan hasil usaha perusahaan. Sedangkan Weston dan Copeland (2003:17), menyatakan laporan keuangan adalah informasi tentang prestasi perusahaan di masa lampau, dan dapat memberikan petunjuk untuk penetapan kebijakan di masa yang akan datang. Dengan demikian, laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan dari transaksi keuangan, yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan juga sekaligus merupakan pertanggungjawaban pihak manajemen, kepada pihak intern maupun pihak ekstern perusahaan, yang mempunyai hubungan dengan perusahaan tersebut. Laporan keuangan harus disusun berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba/rugi, laporan perubahan ekuitas (laporan arus kas), catatan atas laporan keuangan, serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Akuntansi menyediakan cara untuk mengumpulkan data ekonomis, dan melaporkannya kepada bermacam-macam individu, dan pihak-pihak yang berkepentingan, seperti pemilik, dan calon pemilik

2 perusahaan, pihak kreditur (misalnya bank), badan-badan Pemerintah, dan lainnya. Pemahaman atas laporan keuangan suatu perusahaan akan semakin meningkat, apabila laporan keuangan disajikan dalam format yang seragam, dan menggunakan deskripsi yang sama untuk pos-pos yang sejenis. Keseragaman tersebut mungkin sulit diterapkan, dan dapat menghalangi perusahaan untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan, sesuai dengan kondisi masing-masing perusahaan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004:10), pernyataan ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan melalui : 1. Penerapan persyaratan dalam PSAK termasuk persyaratan pengungkapan. 2. Pemberian pedoman struktur laporan keuangan termasuk persyaratan minimum dari setiap komponen utama laporan, kebijakan akuntansi, dan catatan atas laporan keuangan. 3. Penetapan persyaratan praktis untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan materialitas, kelangsungan usaha, pemilihan kebijakan akuntansi dalam hal tidak ada pengaturan oleh PSAK, konsistensi, dan penyajian informasi komparatif. Tujuan pernyataan ini, adalah untuk menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan, untuk tujuan umum agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan perusahaan periode sebelumnya, maupun dengan laporan keuangan perusahaan lain. Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi, dan peristiwa tertentu diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan terkait. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004:10), manfaat adanya laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah

3 besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan untuk tujuan umum termasuk juga laporan keuangan yang disajikan terpisah, atau yang disajikan dalam dokumen publik lainnya, seperti laporan tahunan atau prospektus. Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan, dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen, atas pengunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Pada umumnya, jenis laporan keuangan terdiri dari: 1. Laporan laba rugi Laporan laba rugi merupakan ikhtisar pendapatan, dan beban untuk suatu jangka waktu tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun. Laporan laba rugi menunjukkan hasil usaha suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Informasi yang terdapat dalam laporan laba rugi dapat menjawab pertanyaan tentang hasil usaha perusahaan. Cara untuk menyajikan beban-beban usaha dalam laporan laba rugi berbeda antara perusahaan satu dengan yang lain. Cara biasa yang dipilih adalah menyusun beban-beban tersebut berdasarkan urutan besarnya, dimulai dari beban yang paling besar jumlahnya. Beban serba serbi biasanya ditempatkan pada urutan yang paling akhir, tanpa memandang besarnya jumlah beban. Bentuk laporan laba rugi seperti pada Gambar 2.1 berikut:

4 Gambar 2.1. Laporan Laba Rugi PT. X Tahun Berakhir 31 Desember 200A Pendapatan dari penjualan: Penjualan Dikurangi : Retur dan potongan penjualan Diskon penjualan Penjualan bersih Harga pokok penjualan () Laba kotor Beban Operasi: Beban gaji Beban iklan Beban penyusutan peralatan toko Beban penjualan rupa-rupa Total beban penjualan: Beban administrasi: Beban gaji kotor Beban sewa Beban penyusutan peralatan kantor Beban asuransi Beban perlengkapan Beban administrasi rupa-rupa Total beban administrasi Total beban operasi () Laba dari operasi Pendapatan dan beban lain-lain: Pendapatan sewa Beban bunga () () Laba bersih 2. Laporan laba ditahan Laporan laba ditahan digunakan dalam perusahaan berbentuk perseroan, laporan ini menunjukkan analisis perubahan besarnya bagian laba yang ditahan, selama jangka waktu tertentu. Sumber utama perusahaan dari laba ditahan adalah laba bersih yang dihasilkan dari kegiatan usaha perusahaan. Akun laba ditahan bertambah karena laba bersih, dan berkurang karena rugi bersih dari kegiatan

5 usaha. Rugi, atau pos-pos debit lainnya menghasilkan saldo debit pada akun laba ditahan, maka saldo debit tersebut disebut defisit. Kinerja finansial suatu pusat tanggung jawab diukur dalam ruang lingkup laba yaitu selisih antara pendapatan, dan beban, maka pusat ini disebut sebagai pusat laba. Dengan adanya pusat laba, kualitas keputusan dapat meningkat, karena keputusan tersebut dibuat oleh para manajer yang paling dekat dengan titik keputusan. Kecepatan dari pengambilan keputusan operasional dapat meningkat, karena tidak perlu mendapat persetujuan terlebih dahulu dari kantor pusat. Manajemen kantor pusat bebas dari pengambilan keputusan harian, sehingga dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih luas. Dengan adanya pusat laba, maka manajer tunduk pada hanya sedikit batasan dari korporat, lebih bebas untuk menggunakan imajinasi, dan inisiatifnya. Pertambahan nilai kekayaan bersih karena laba kepada pemilik dalam bentuk dividen, dilaporkan dalam laporan laba ditahan. Pembagian dividen dapat berupa kas, aktiva lain, wesel, dan dividen saham. Kebanyakan dividen menyebabkan pengurangan dalam laba ditahan. Pengecualian dilakukan untuk dividen saham dalam jumlah besar, yang melibatkan suatu pengurangan dalam agio saham, dan dividen likuidasi, yang mencerminkan pengembalian modal yang diinvestasikan para pemegang saham, dan memerlukan pengurangan dalam modal disetor. Menggunakan istilah dividen tanpa perkecualian, biasanya berarti pembagian secara tunai. Dividen dalam bentuk selain kas, seperti dividen saham atau properti, harus dinyatakan dalam bentuk khusus. Pembagian yang berasal dari sumber modal selain laba ditahan,

6 harus dijelaskan asalnya, misalnya dividen likuidasi atau dividen pembagian modal disetor. Diantara wewenang yang didelegasikan oleh pemegang saham kepada dewan direksi adalah kuasa untuk mengendalikan kebijakan dividen. Apakah dividen dapat atau tidak dapat dibayar, serta sifat, dan jumlah dividen adalah hal-hal yang ditentukan oleh dewan direksi. Bentuk laporan laba ditahan seperti pada Gambar 2.2 berikut: Gambar 2.2. Laporan Laba Ditahan PT. X Tahun Berakhir 31 Desember 200A Laba Ditahan, awal tahun Laba Bersih x Pembayaran Dividen (x) - Laba ditahan, akhir tahun x x 3. Neraca Neraca adalah daftar aktiva, kewajiban, dan modal perusahaan pada suatu saat tertentu, misalnya pada akhir bulan. Daftar ini juga menunjukkan tentang kekayaan yang dipunyai perusahaan serta sumber pembelanjaannya. Neraca menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu. Dalam neraca, juga terdapat akun laba ditahan. Laba ditahan dapat dibatasi sesuai keinginan dewan direksi, misalnya dewan direksi dapat menetapkan bahwa suatu bagian laba ditahan dibatasi untuk maksud tertentu, seperti perluasan fasilitas pabrik. Jika pembatasan pada laba ditahan adalah material, maka pembatasan tersebut biasanya diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Bagian laba ditahan yang dibatasi, dilaporkan dalam neraca secara terpisah, dari jumlah yang tidak dibatasi yang tersedia untuk dividen. Adapun bentuk neraca sebagai berikut:

7 Gambar 2.3. Neraca PT. X Tahun Berakhir 31 Desember 200ª Aktiva Kewajiban dan Modal Aktiva Lancar: Kewajiban Lancar: Kas x Hutang Wesel x Surat Berharga x Hutang Dagang x Piutang Wesel x Hutang Bank x Piutang Dagang x Hutang Gaji x Persediaan Barang Dagang x Hutang Bunga x Asuransi Dibayar Dimuka x Total Aktiva Lancar x Kewajiban Lancar x Investasi Jangka Panjang x Kewajiban Jangka Panjang: Hutang Obligasi x Total Kewajiban x Aktiva Tetap: Modal: Tanah x Modal Disetor x Gedung x Laba Ditahan x Peralatan x Akumulasi Penyusutan (x) Total Modal x Total Aktiva Tetap (neto) x Total Aktiva: x Total Kewajiban dan Modal x Laporan keuangan memiliki pengaruh terhadap metode penilaian persediaan yang digunakan perusahaan. Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih metode penilaian persediaan adalah pengaruhnya terhadap laba rugi, dan penilaian persediaannya. Dalam pengaruhnya terhadap neraca, penggunaan metode LIFO akan membawa dampak positif pada masa inflasi, karena pada masa itu akan menghasilkan nilai persediaan yang lebih mencerminkan harga, yang berlaku pada

8 tanggal neraca. Sebagai akibatnya, pada tanggal neraca harga perolehan tidak mencerminkan keadaan yang sesungguhnya sehingga aktiva lancar, dan total aktiva akan dilaporkan lebih rendah dari harga perolehan yang tercatat pada tanggal neraca. Pada masa inflasi, metode FIFO akan menghasilkan laba kotor yang paling tinggi dibandingkan dengan metode lain. Bagi manajemen, hal ini merupakan sesuatu yang positif terhadap kinerja perusahaan, karena pihak luar akan mempunyai pandangan yang baik terhadap perusahaan. Selain itu, jika bonus manajemen ditentukan atas dasar laba bersih, maka bonus akan diterima manajemen semakin tinggi. Namun demikian, ada pendapat lain bahwa pemakaian metode FIFO pada masa inflasi, akan menciptakan laba semu atau laba di atas kertas belaka. Pada laporan laba rugi, kelebihan penggunaan metode FIFO adalah biasanya sesuai dengan arus biaya, sedangkan kekurangannya adalah dapat menyebabkan biaya lama dikaitkan dengan pendapatan saat ini. Kelebihan penggunaan metode LIFO adalah mengkaitkan biaya saat ini dengan pendapatan saat ini, dan mengeluarkan laba dan kerugian dari persediaan pada laba kotor, sedangkan kekurangannya adalah biasanya tidak sesuai dengan arus biaya, dan potensi likuidasi metode LIFO yang berarti bahwa biaya yang lama dari lapisan metode LIFO dapat ditarik ke harga pokok penjualan. Pada neraca, kelebihan penggunaan metode FIFO adalah saldo persediaan akhir mendekati biaya penggantian saat ini, sedangkan kekurangan penggunaan metode LIFO adalah saldo persediaan akhir terdiri dari biaya lama dari lapisan

9 metode LIFO, dan secara substansial dapat lebih rendah jumlahnya dari pada biaya pergantian saat ini. Hal ini diimbangi dengan sebagian oleh pengungkapan tambahan. B. Pengertian Rasio Keuangan Menurut James C, Horne dan Wachowicz JR. (2005:200), rasio keuangan adalah alat yang digunakan untuk menilai kondisi keuangan dan kinerja dari perusahaan. Rasio keuangan merupakan perangkat analisis laporan keuangan yang paling populer dan paling sering digunakan. Suatu rasio menunjukkan hubungan matematis antara suatu data keuangan dengan data keuangan lainnya. Rasio keuangan seperti halnya alat-alat analisis yang lain adalah orientasi masa depan. Oleh karena itu, penganalisis harus mampu untuk menyesuaikan faktor-faktor yang ada pada periode waktu sekarang, dengan faktor-faktor di masa depan, yang mungkin akan mempengaruhi posisi keuangan, atau hasil operasi perusahaan yang bersangkutan. Analis keuangan menggunakan berbagai rasio ini sama seperti halnya seorang dokter ahli yang menggunakan berbagai hasil uji laboratorium. Jika rasio-rasio ini digabungkan, dan dengan berjalannya waktu, data ini menawarkan pandangan yang sangat berharga mengenai kondisi perusahaan, kondisi keuangan, dan profitabilitasnya. Evaluasi kondisi keuangan perusahaan dan kinerjanya, diperlukan analisis keuangan atas berbagai aspek kesehatan keuangan perusahaan. Alat yang sering digunakan selama pemeriksaan tersebut adalah rasio keuangan atau indeks, yang menghubungkan dua angka akuntansi dan didapat dengan membagi satu angka dengan angka lainnya.

10 Sering terdapat pemikiran mengapa harus memikirkan rasio, dan mengapa tidak hanya melihat angka-angka langsung. Perusahaan menghitung rasio, karena dengan cara ini, perusahaan bisa mendapatkan perbandingan yang mungkin terbukti lebih berguna daripada angka-angka aslinya sendiri. Contohnya, anggaplah bahwa perusahaan memiliki angka laba bersih tahun ini sebesar $1 juta. Angka tersebut tampak cukup menguntungkan. Akan tetapi, bagaimana jika perusahaan tersebut memiliki dana sejumlah $200 juta yang diinvestasikan di total aktivanya? Jika perusahaan membagi laba bersih dengan total aktiva, perusahaan akan mendapat $1juta/$200 juta 0.005, yaitu pengembalian atas total aset perusahaan. Angka 0.005, berarti bahwa setiap dolar aktiva yang diinvestasikan dalam perusahaan menghasilkan setengah persen pengembalian. Rekening tabungan akan memberikan pengembalian yang lebih baik daripada investasi ini, dan dengan risiko yang lebih rendah. Setiap analisis mempunyai tujuan atau kegunaan yang menentukan perbedaan penekanan yang sesuai dengan tujuan tersebut. Seorang analis, misalnya seorang bankir yang sedang mempertimbangkan pemberian kredit jangka pendek untuk suatu perusahaan. Para bankir terutama akan menekankan pada posisi perusahaan jangka pendek, sehingga mereka menekankan rasio likuiditas. Sebaliknya, pemberi kredit jangka panjang akan lebih menekankan pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan efisiensi operasinya. Mereka mengetahui bahwa operasi yang tidak efisien, akan mengikis nilai aktiva dan posisi sekarang yang kuat tidak akan menjamin, bahwa dana akan tersedia untuk melunasi suatu penerbitan obligasi. Sudah tentu

11 manajemen memerlukan seluruh aspek dari analisis keuangan. Manajemen harus mampu membayar hutang kepada kreditor jangka pendek maupun kreditor jangka panjang, termasuk kemampuan menghasilkan laba para pemegang saham. C. Manfaat dan Tujuan Rasio Keuangan Dalam menganalisis, dan menilai kondisi keuangan perusahaan serta prospek pertumbuhan labanya, ada beberapa teknik analisis yang dapat digunakan. Salah satu alternatif untuk mengetahui apakah informasi keuangan yang dihasilkan dapat bermanfaat untuk memprediksi pertumbuhan laba, termasuk kondisi keuangan di masa depan, adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan. Dengan rasio keuangan, memungkinkan investor menilai kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan saat ini dan masa lalu, serta sebagai pedoman bagi investor mengenai kinerja masa lalu dan masa mendatang yang dapat dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan investasinya. Menurut James C, Horne dan Wachowicz JR. (2005:202), manfaat dan tujuan rasio keuangan, adalah untuk: 1. Perbandingan internal. 2. Perbandingan eksternal dan sumber rasio industri. Dalam perbandingan internal, analisis rasio keuangan melibatkan dua jenis perbandingan. Pertama, analis dapat membandingkan rasio sekarang dengan rasio dahulu, dan perkiraan di masa mendatang untuk perusahaan yang sama. Rasio lancar, yaitu rasio aktiva lancar dengan kewajiban jangka pendek, untuk tahun sekarang dapat dibandingkan dengan rasio lancar akhir tahun sebelumnya. Ketika rasio

12 keuangan diperlebar untuk beberapa periode tahun, analis dapat mempelajari komposisi perubahan, dan menentukan apakah terdapat kenaikan atau penurunan kondisi dan kinerja perusahaan selama waktu tersebut. Kita tidak terlalu banyak memperhatikan satu rasio dalam satu periode waktu, tetapi satu rasio untuk beberapa periode. Rasio keuangan juga dapat dihitung untuk laporan proyeksi, dan dibandingkan dengan rasio sekarang serta masa sebelumnya. Dalam perbandingan eksternal dan sumber rasio industri, melibatkan perbandingan antara rasio suatu perusahaan dengan berbagai perusahaan lainnya, yang hampir sama atau dengan rata-rata industri pada suatu periode. Perbandingan semacam ini, memberikan pandangan ke dalam mengenai kondisi keuangan, dan kinerja relatif perusahaan. Cara ini juga membantu perusahaan mengidentifikasi penyimpangan signifikan apapun dari rata-rata industri manapun yang dapat digunakan. D. Jenis-Jenis Rasio Keuangan Rasio-rasio keuangan yang umumnya digunakan pada dasarnya terdiri atas dua jenis. Jenis pertama meringkas beberapa aspek dari kondisi keuangan perusahaan, untuk suatu periode dengan neraca yang telah dibuat. Rasio-rasio ini disebut rasio neraca, karena baik pembilang maupun penyebut dalam setiap rasio berasal langsung dari neraca. Jenis kedua dari rasio meringkas beberapa aspek kinerja perusahaan selama periode waktu tertentu, biasanya dalam setahun. Rasio ini disebut sebagai rasio laporan laba rugi, atau rasio laba rugi/neraca. Rasio laba rugi membandingkan

13 satu arus bagian dari laporan laba rugi dengan arus bagian lain dari laporan laba rugi. Rasio laba rugi membandingkan arus (laporan laba rugi) di bagian angka yang dibagi dengan bagian saham (neraca) sebagai pembaginya. Menurut Weston dan Copeland (2003:225), rasio-rasio keuangan dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Rasio likuiditas, yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya bila jatuh tempo. 2. Rasio leverage, yang mengukur hingga sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang. 3. Rasio aktivitas, yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber dayanya. 4. Rasio profitabilitas, yang mengukur efektivitas manajemen yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan investasi perusahaan. Untuk mempermudah penjelasan, dan pemahaman jenis-jenis rasio, maka penulis akan membuat suatu contoh. Misalnya Walker-Wilson Company, merupakan perusahaan pembuatan mesin peralatan khusus yang digunakan di bidang usaha reparasi mobil. Berikut ini akan ditampilkan neraca Walker-Wilson Company, tahun 2007 dan 2008 (dalam satuan ribuan dollar), seperti pada Gambar 2.4 berikut: Gambar 2.4. Neraca Walker-Wilson Company Tahun 2007 dan 2008 NERACA Walker-Wilson Company Aset 31 Desember Desember 2008 Kas $ 52 $ 50 Surat-surat berharga Piutang dagang Persediaan Total aset lancar $832 $700 Peralatan dan mesin-mesin $ Dikurangi penyusutan

14 Peralatan dan mesin-mesin, bersih Total aset $2.042 $2.000 Kewajiban dan Modal Hutang dagang $ 87 $ 60 Hutang bank Biaya terhutang Pajak yang harus dibayar Kewajiban Lancar $342 $300 Obligasi hipotik Debentrues Saham biasa $ 600 $ 600 Laba ditahan Total modal Total kewajiban dan modal $2.042 $2.000 Berikut ini akan ditampilkan laporan laba rugi Walker-Wilson Company, untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008, seperti pada Gambar 2.5 berikut: Gambar 2.5. Laporan Laba Rugi Walker-Wilson Company Tahun Berakhir 31 Desember 2008 Penjualan bersih $ Harga pokok penjualan Laba kotor $ Dikurangi beban operasi Beban penjualan $ Beban umum dan administrasi Pembayaran sewa gedung kantor Laba operasi kotor $ Penyusutan Laba operasi bersih $ Pendapatan dan beban lain, kecuali pajak Laba sebelum bunga dan pajak $ Dikurangi beban bunga Bunga wesel bayar $ Bunga hipotik pertama

15 Bunga debentures Laba sebelum pajak $ Pajak penghasilan Laba bersih sesudah pajak penghasilan yang tersedia bagi pemegang saham biasa $ Laba per saham $ 0.60 Berikut ini akan dibahas masing-masing pemanfaatan rasio keuangan berdasarkan contoh laporan keuangan Walker-Wilson Company. Rasio Likuiditas Pada umumnya, perhatian pertama dari analis keuangan adalah likuditas, dengan menganalisis kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Total hutang Walker-Wilson Company adalah $ yang harus dibayar pada tahun yang akan datang. Dapatkah kewajiban ini dipenuhi oleh perusahaan? Rasio likuditas mengkaitkan uang tunai (kas), dan aktiva lancar lainnya dengan kewajiban lancar perusahaan, dapat memberikan ukuran likuiditas yang cepat, dan mudah digunakan. Menurut Weston dan Copeland (2003:226), terdapat beberapa rasio likuditas yang umum digunakan, yaitu: 1. Rasio lancar. 2. Rasio cepat. Rasio lancar dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Biasanya aktiva lancar terdiri dari kas, surat berharga, piutang dagang, dan persediaan. Sedangkan kewajiban lancar terdiri dari hutang dagang, wesel bayar jangka pendek, hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu

16 tahun, pajak penghasilan yang terhutang, dan beban-beban lain yang terhutang (terutama gaji dan upah). Rasio lancar merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek. Oleh karena itu, rasio tersebut menunjukkan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai, dalam periode yang sama dengan jatuh tempo hutang. Rasio lancar yang tinggi menunjukkan adanya uang kas yang berlebihan dibandingkan dengan tingkat kebutuhan, atau adanya unsur aktiva lancar yang tidak digunakan secara efektif. Perhitungan rasio lancar untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Current ratio Current ratio Current Asets Current Liabilities $ $ Current ratio 2.3 kali Rasio lancar yang dihitung sedikit berada di bawah rata-rata industri, yaitu 2.5 kali. Akan tetapi, tidak terlalu rendah untuk dipermasalahkan. Angka tersebut menunjukkan bahwa Walker-Wilson Company berada pada lini yang umum, dari perusahaan-perusahaan lainnya untuk bidang bisnis tertentu. Dengan rasio lancar 2.3 kali, Walker-Wilson Company dapat mencairkan aktiva lancarnya hanya 43% dari nilai bukunya, dan masih tetap mampu memenuhi seluruh kewajiban lancarnya. Nilai 43% diperoleh dari perhitungan:

17 Current ratio 2.3 kali, berarti atau 43% 2.3 Rasio cepat dihitung dengan mengurangkan persediaan dari aktiva lancar, dan sisanya dibagi dengan kewajiban lancar. Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang paling tidak likuid, dan unsur aktiva tersebut sering kali merupakan ukuran kerugian, jika terjadi likuidasi. Oleh karena itu, rasio cepat merupakan ukuran penting untuk mengetahui kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya, tanpa memperhitungkan penjualan persediaan. Apabila rasio lancar suatu perusahaan tinggi, tetapi rasio cepatnya rendah, maka hal itu menunjukkan perusahaan memiliki investasi persediaan yang sangat besar di perusahaan. Perhitungan rasio cepat untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Acid ratio Current Asets - Inventory Current Liabilities Acid ratio Acid ratio $ $ $ kali Rata-rata industri untuk rasio cepat adalah 1 kali, sehingga rasio untuk Walker- Wilson Company tergolong baik, dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama. Dengan demikian, perusahaan dapat mengetahui jika surat berharga dapat dijual pada nilai nominalnya, dan jika dapat menagih piutang, maka perusahaan dapat membayar kewajibannya tanpa menjual persediaan. Rasio Leverage

18 Rasio leverage yang mengukur perbandingan antara dana yang disediakan oleh pemilik perusahaan dengan dana yang berasal dari kreditor perusahaan, mengandung berbagai implikasi, yaitu para kreditor akan melihat modal sendiri perusahaan, atau dana yang disediakan pemilik untuk menentukan besarnya marjin pengaman. Jika pemilik hanya menyediakan sebagian kecil dari seluruh pembiayaan, maka resiko perusahaan ditanggung, terutama oleh para kreditor. Selain itu, dengan mencari dana yang berasal dari hutang, pemilik memperoleh manfaat mempertahankan kendali perusahaan, dengan investasi yang terbatas. Jika perusahaan memperoleh laba yang besar dari dana yang dipinjam, daripada yang harus dibayar sebagai bunga, maka hasil pengembalian (return) kepada para pemilik akan meningkat. Sebagai contoh, jika hasil pengembalian atas aktiva adalah 10%, dan hutang hanya menelan biaya 8%, maka terdapat selisih 2% yang menjadi hak para pemegang saham. Akan tetapi, leverage bisa bergeser ke dua arah, misalnya jika hasil pengembalian atas aktiva jatuh menjadi 3%, maka selisih antara angka tersebut dengan biaya hutang harus ditutup dari bagian laba yang diperoleh dari modal sendiri. Pada kasus pertama, dimana aktiva memberikan pengembalian hasil lebih daripada biaya hutang, maka leverage lebih menguntungkan. Pada kasus kedua, leverage akan merugikan. Perusahaan dengan rasio leverage yang rendah memiliki resiko rugi yang lebih kecil, jika kondisi ekonomi sedang menurun, tetapi juga memiliki hasil pengembalian yang lebih rendah jika kondisi ekonomi membaik. Sebaliknya, perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi, menanggung resiko rugi yang besar,

19 tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperoleh laba yang tinggi. Prospek hasil pengembalian yang tinggi memang diinginkan, tetapi para investor umumnya menolak untuk menerima resiko yang terlalu riskan. Keputusan untuk menggunakan leverage, harus menyeimbangkan hasil pengembalian yang lebih tinggi terhadap peningkatan resiko. Dalam prakteknya, ada 2 cara pendekatan leverage. Pendekatan yang pertama adalah memeriksa rasio-rasio neraca, dan menentukan sejauh mana yang dipinjam digunakan untuk membiayai perusahaan. Pendekatan yang lain, mengukur laba terhadap beban bunga. Kedua pendekatan tersebut sebenarnya saling melengkapi, dan para analis biasanya menilai keduanya. Menurut Weston dan Copeland (2003:228), terdapat beberapa rasio leverage yang umum digunakan, yaitu: 1. Total hutang terhadap total aktiva. 2. Laba terhadap beban bunga. Rasio total hutang terhadap total aktiva, biasanya disebut dengan rasio hutang, yang mengukur persentase total dana yang disediakan para kreditor. Yang termasuk hutang adalah kewajiban lancar, dan semua obligasi (hutang jangka panjang). Para kreditor lebih menyukai rasio hutang yang moderat. Semakin rendah rasio ini, akan ada semacam perisai, sehingga kerugian yang diderita oleh kreditor semakin kecil, jika terjadi likuidasi. Pemilik lebih menyukai rasio hutang yang tinggi, karena leverage yang tinggi, akan memperbesar laba bagi pemegang saham, atau karena

20 menerbitkan saham baru, berarti melepaskan sejumlah kendali perusahaan. Jika rasio hutang terlalu tinggi, maka ada bahaya kurangnya tanggung jawab pemilik. Perhitungan rasio hutang untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Debt ratio Debt ratio Total Liabilities Total Asets $ $ Debt ratio 50% Total hutang sebesar $ , diperoleh dari penambahan jumlah kewajiban lancar, obligasi hipotik, dan debentures. Rasio hutang Walker-Wilson Company adalah 50%, yang berarti bahwa para kreditor telah menyediakan setengah dari jumlah pembiayaan perusahaan. Oleh karena rasio hutang rata-rata untuk industri adalah 33%, maka Walker-Wilson Company bisa mengalami kesulitan memperoleh dana pinjaman tambahan, sebelum meningkatnya modal sendiri. Para kreditor akan menolak meminjamkan uang lebih banyak, dan mungkin perusahaan akan lebih berat bebannya, jika perusahaan mencoba meningkatkan rasio hutang dengan cara meminjam. Rasio laba terhadap beban bunga, disebut juga rasio penutupan, yang dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan beban bunga. Rasio ini mengukur sejauh mana laba perusahaan boleh menurun tanpa mempengaruhi keuangan perusahaan, karena tidak mampu membayar beban bunga tahunan. Kegagalan dalam pemenuhan kewajiban ini, berakibat dituntutnya kreditor ke

21 pengadilan, yang bisa mengakibatkan kepailitan. Perhatikan bahwa laba sebelum pajak digunakan sebagai pembilang. Oleh karena pajak penghasilan dihitung setelah dikurangi beban bunga, kemampuan untuk membayar bunga saat ini tidak dipengaruhi oleh pajak penghasilan. Perhitungan rasio penutupan untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Times interest earned Earning Before Interest and Tax Annual Interest Payment Times interest earned Times interest earned $ $ kali Beban bunga Walker-Wilson Company terdiri dari 3 pembayaran, yaitu beban wesel bayar, bunga hipotik pertama, dan bunga debentures, yang berjumlah $ Laba sebelum bunga dan pajak perusahaan yang tersedia untuk memenuhi beban bunga adalah 3.9 kali. Karena rata-rata industri adalah 8 kali, berarti perusahaan memiliki kemampuan menutup bunga dengan marjin pengaman yang minimum, dan memperoleh penilaian yang kurang baik. Rasio tersebut memperkuat kesimpulan yang didasarkan pada rasio hutang, bahwa tampaknya perusahaan menghadapi kesulitan, jika hendak mencoba untuk meminjam tambahan dana. Rasio Aktivitas Rasio aktivitas, mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan semua sumber daya yang ada pada pengendaliannya. Semua rasio aktiva ini, melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis aktiva.

22 Rasio-rasio aktivitas menganggap bahwa sebaiknya terdapat suatu keseimbangan yang layak antara penjualan dengan berbagai unsur aktiva, yaitu persediaan, piutang, aktiva tetap, dan aktiva lain sebagainya. Menurut Weston dan Copeland (2003:230), terdapat beberapa rasio aktivitas yang umum digunakan, yaitu: 1. Perputaran persediaan. 2. Periode penagihan rata-rata. 3. Perputaran aktiva tetap. 4. Perputaran total aktiva. Perputaran persediaan, digunakan untuk mengukur kecepatan perusahaan dalam mengevaluasi usia persediaannya, yang diukur dengan nilai penjualan dibagi dengan persediaan. Perhitungan perputaran persediaan untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Inventory turnover Inventory turnover Sales Inventory $ $ Inventory turnover 10 kali Perputaran persediaan Walker-Wilson Company 10 kali, yang berarti lebih baik daripada rata-rata industri, yaitu 9 kali. Hal ini berarti perusahaan tidak menyimpan persediaan secara berlebihan, dimana persediaan yang berlebihan sudah tentu merupakan harta yang tidak produktif, dan merupakan investasi dengan hasil pengembalian yang rendah atau nol.

23 Periode penagihan rata-rata, mengukur perputaran piutang, yang dihitung dalam 2 tahap, yaitu penjualan tahunan dibagi dengan 360 hari, untuk mendapatkan penjualan harian rata-rata, dan piutang dibagi dengan penjualan harian rata-rata, untuk memperoleh jumlah hari dimana penjualan terikat pada piutang. Perhitungan periode penagihan rata-rata untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Sales per Day Sales per Day Sales 360 $ Sales per Day $8.333 Average collection period Average collection period Account Receivable Sales per Day $ $ Average collection period 24 hari Jumlah hari tersebut merupakan periode penagihan rata-rata. Oleh karena merupakan lamanya waktu rata-rata, bagi perusahaan harus menunggu menerima pembayaran setelah terjadi penjualan. Perhitungan Walker-Wilson Company menunjukkan periode penagihan rata-rata adalah 24 hari, sedikit di atas rata-rata industri 20 hari. Perputaran aktiva tetap, digunakan untuk mengukur perputaran dari alat-alat dan mesin pabrik. Perhitungan perputaran aktiva tetap untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Fixed asets turnover Sales

24 Fixed asets turnover Total Net Asets $ $ Fixed asets turnover 2.3 kali Perputaran aktiva tetap untuk Walker-Wilson Company sebesar 2.3 kali, dinilai kurang baik jika dibandingkan dengan rata-rata industri, yaitu 5 kali, yang menunjukkan bahwa perusahaan tidak menggunakan aktiva tetapnya pada kapasitas setinggi kapasitas yang digunakan perusahaan lain, di industri yang sama. Perputaran total aktiva, digunakan untuk mengukur perputaran dari seluruh aktiva perusahaan, dan dihitung dari penjualan dibagi dengan jumlah aktiva. Perhitungan perputaran total aktiva untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Total asets turnover Total asets turnover Sales Total Asets $ $ Total asets turnover 1.5 kali Perputaran total aktiva untuk Walker-Wilson Company sebesar 1.5 kali, berada di bawah rata-rata industri yaitu 2 kali. Perusahaan tidak menciptakan volume bisnis yang cukup untuk ukuran investasi aktiva yang dimilikinya. Penjualan sebaiknya ditingkatkan, atau beberapa aktiva yang tidak berguna dijual, atau perusahaan harus menjalankan keduanya. Rasio Profitabilitas

25 Profitabilitas (kemampuan laba), merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan, dan keputusan. Rasio yang terdahulu menyajikan beberapa hal yang menarik tentang cara-cara perusahaan beroperasi, tetapi rasio profitabilitas akan memberikan jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan. Menurut Weston dan Copeland (2003:233), terdapat beberapa rasio profitabilitas yang umum digunakan, yaitu: 1. Marjin laba atas penjualan. 2. Hasil pengembalian atas total aset. 3. Hasil pengembalian atas ekuitas. Marjin laba atas penjualan, dihitung dari laba bersih sesudah pajak dibagi dengan penjualan. Perhitungan marjin laba atas penjualan untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Profit margin on sales Profit margin on sales Net Profit after Tax Sales $ $ Profit margin on sales 4% Marjin laba untuk Walker-Wilson Company berada di bawah rata-rata industri, yaitu 5%. Hal ini menunjukkan bahwa harga penjualan relatif lebih rendah, atau biayabiaya perusahaan relatif lebih tinggi, atau keduanya. Hasil pengembalian atas total aset, digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber daya, yang kadang-kadang disebut

26 dengan hasil pengembalian atas investasi. Perhitungan hasil pengembalian atas total aset untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Return on asets Return on asets Net Profit after Tax Total Asets $ $ Return on asets 6% Hasil pengembalian atas total aset untuk Walker-Wilson Company adalah 6%, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industri, yaitu 11.4%. Hasil yang rendah ini berasal dari rendahnya marjin laba terhadap penjualan (4% dibandingkan dengan rata-rata industri 5%), dan rendahnya perputaran aktiva (1.5 kali dibandingkan dengan rata-rata industri 2 kali). Hasil pengembalian atas ekuitas, yaitu rasio laba bersih sesudah pajak terhadap modal, mengukur tingkat hasil pengembalian dari investasi para pemegang saham. Perhitungan hasil pengembalian atas ekuitas untuk Walker-Wilson Company pada akhir tahun 2008, adalah sebagai berikut: Net worth Net Income Stackholders Equity Net worth $ $ Net worth 12% Hasil pengembalian atas ekuitas untuk Walker-Wilson Company adalah 12%, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industri, yaitu 15%.

27 E. Manfaat Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba Karena tidak seorangpun yang dapat mengetahui secara pasti berapakah hasil operasi dan keuangan dari suatu perusahaan di masa depan, dan banyaknya unsur ketidakpastian di masa depan, banyak penekanan, dan evaluasi pada prestasi masa lalu, dan masa kini sebagai indikator untuk masa depan, maka salah satu pendekatan yang menarik adalah memprediksi apakah suatu perusahaan akan mengalami kegagalan atau kesuksesan. Prediksi atas laporan keuangan perusahaan merupakan informasi yang memberikan indikasi atas prospek hasil usaha, dan keadaan keuangan di masa mendatang. Selain itu prediksi akan lebih mudah dibaca oleh investor, dibandingkan dengan laporan keuangan yang biasanya hanya bisa dibaca oleh akuntan. Prediksi, atau ramalan adalah salah satu aspek sebelum perencanaan, dan berguna untuk mengurangi ketidakpastian. Prediksi sangatlah penting bagi lingkungan dunia usaha, dimana sangat banyak unsur ketidakpastian, serta banyaknya unsur yang terlibat seperti stockholder, Pemerintah, dan lainnya. Prediksi laba merupakan peramalan mengenai hasil operasi perusahaan pada suatu periode tertentu. Prediksi laba dalam hal ini, tidak menentukan nilai laba yang mungkin akan dihasilkan oleh perusahaan, tetapi lebih kepada suatu kenyataan bahwa laba perusahaan tersebut akan mengalami kenaikan atau mengalami penurunan. (http://www.yai.ac.id/upi/penelitian%5cmakalah27.doc, tanggal akses 02 April 2009)

28 Secara umum, jenis-jenis rasio keuangan yang dapat dimanfaatkan dalam memprediksi pertumbuhan laba yang akan datang, apakah terjadi kenaikan atau penurunan, yaitu: 1. Rasio lancar, yang dapat digunakan dalam menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendek dari aktiva lancarnya. Rasio ini dihitung dengan cara membagi aktiva lancar dengan kewajiban jangka pendek. Rasio ini disebut juga dengan rasio modal kerja, yang menunjukkan jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan untuk merespon kebutuhan-kebutuhan bisnis, dan meneruskan kegiatan bisnis lainnya. Rasio yang rendah, menunjukkan resiko likuiditas yang tinggi. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi nilai rasio ini, maka laba bersih yang dihasilkan semakin sedikit, karena rasio lancar yang tinggi menunjukkan adanya kelebihan aktiva lancar. Kelebihan aktiva lancar ini menunjukkan adanya hubungan yang posisi terhadap profitabilitas perusahaan, dengan asumsi aktiva lancar yang dimiliki perusahaan tidak tertanam terlalu besar pada pos persediaan dan piutang dagang. 2. Rasio hutang, yang dapat digunakan untuk mengukur persentase total dana yang disediakan para kreditor. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi rasio ini, mencerminkan perusahaan akan mengalami kesulitan dalam memperoleh dana pinjaman tambahan, sebelum meningkatnya modal sendiri. Dengan demikian, akan memperkecil perolehan laba perusahaan. 3. Perputaran total aktiva, yang dapat digunakan untuk mengukur perputaran dari seluruh aktiva perusahaan. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan

29 laba, adalah jika perusahaan menyimpan aktiva yang tidak produktif, maka merupakan suatu beban yang harus ditanggung perusahaan, dan menggangu pertumbuhan laba pada perusahaan. 4. Rasio laba terhadap beban bunga, yang dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana laba perusahaan boleh menurun, tanpa mempengaruhi keuangan perusahaan, karena tidak mampu membayar beban bunga tahunan. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah jika laba sebelum bunga, dan pajak perusahaan lebih tinggi dari beban bunga, maka perusahaan memiliki kemampuan menutup bunga, dengan marjin pengaman yang maksimal, sehingga pertumbuhan laba pada perusahaan dapat lebih optimal. 5. Rasio marjin laba atas penjualan, yang dapat digunakan untuk menunjukkan harga penjualan, dan biaya perusahaan, apakah relatif rendah atau tinggi. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi nilai rasio ini, menunjukkan harga penjualan dan biaya yang telah sesuai, sehingga perolehan laba dapat optimal. Sebaliknya, jika semakin rendah nilai rasio ini, menunjukkan harga penjualan relatif lebih rendah, atau biaya-biaya perusahaan relatif lebih tinggi, atau keduanya. 6. Rasio hasil pengembalian atas total aset, yang dapat digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber daya. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi nilai rasio ini, menunjukkan pengembalian atas total aset perusahaan yang semakin besar, yang mencerminkan kinerja perusahaan yang semakin baik.

30 7. Rasio pengembalian atas ekuitas, yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat hasil pengembalian dari investasi para pemegang saham. Manfaat rasio ini dalam memprediksi pertumbuhan laba, adalah semakin tinggi nilai rasio ini, menunjukkan pengembalian atas ekuitas perusahaan yang semakin besar, yang mencerminkan kinerja perusahaan yang semakin baik.

BAB II LANDASAN TEORI. Manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk

BAB II LANDASAN TEORI. Manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Manajemen Keuangan Manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk memperoleh modal yang semurah murahnya dan menggunakan seefektif, seefisien,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Laporan Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Laporan Keuangan 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Laporan Keuangan 1. Pengertian Laporan Keuangan Sebuah perusahaan pastilah memerlukan pencatatan keuangan atas transaksi-transaksi bisnis yang telah dilakukan agar perusahaan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan 2.2. Laporan Keuangan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan 2.2. Laporan Keuangan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan Kinerja keuangan merupakan hasil kegiatan operasi perusahaan yang disajikan dalam bentuk angka-angka keuangan. Hasil kegiatan perusahaan periode saat ini harus

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 5 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian 1. Pengertian Property dan Real Estate Menurut buku Realestate Sebuah Konsep Ilmu dan Problem Pengembang di Indonesia ( Budi Santoso,2000) definisi real estate adalah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak

Lebih terperinci

Bab 9 Teori Rasio Keuangan

Bab 9 Teori Rasio Keuangan D a s a r M a n a j e m e n K e u a n g a n 123 Bab 9 Teori Rasio Keuangan Mahasiswa diharapkan dapat memahami mengenai jenis dan pembagian laporan keuangan serta mengerti tentang perhitungan tentang rasio

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN. Laporan keuangan peruahaan merupakan sumber informasi bagi pihakpihak

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN. Laporan keuangan peruahaan merupakan sumber informasi bagi pihakpihak BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN 4.1 Analisis Laporan Keuangan Perusahaan Laporan keuangan peruahaan merupakan sumber informasi bagi pihakpihak yang berkepentingan untuk menilai kerja dan posisi keuangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen 2.1.1 Pengertian Manajemen Segala macam kegiatan terorganisir untuk mencapai tujuan pasti membutuhkan manajemen. Jadi orang-orang dalam kegiatan tersebut akan membutuhkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan

TINJAUAN PUSTAKA. Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rasio Likuiditas Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Menurut Brigham dan Houston,

II. LANDASAN TEORI. dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Menurut Brigham dan Houston, 18 II. LANDASAN TEORI 2.1 Rasio Likuiditas Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Teoritis 2.1.1. Rasio Keuangan Rasio yang menggambarkan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1 Analisis Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini dalam suatu periode tertentu (Kasmir,

Lebih terperinci

BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN BAB 11 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN A. Arti Penting Analisis Laporan Keuangan Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan untuk mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Laba a. Pengertian Laba Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan laba. Laba merupakan indikator prestasi atau kinerja perusahaan yang besarnya tampak

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Laporan Keuangan Menurut Kasmir (2012:7), laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Laba a. Pengertian Laba Laba didefinisikan dengan pandangan yang berbeda-beda. Pengertian laba secara operasional merupakan perbedaan antara pendapatan yang

Lebih terperinci

ANALISIS KEUANGAN. o o

ANALISIS KEUANGAN. o o ANALISIS KEUANGAN Analisis rasio keuangan merupakan dasar untuk menilai dan menganalisa prestasi operasi perusahaan. Analisis rasio keuangan juga dapat digunakan sebagai kerangka kerja perencanaan dan

Lebih terperinci

Analisa Rasio Keuangan

Analisa Rasio Keuangan Analisa Rasio Keuangan Untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi perusahaan, analis keuangan memerlukan beberapa tolak ukur. Tolak ukur yang sering dipakai adalah rasio atau atau indeks, yang menghubungkan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penilaian kinerja keuangan suatu perusahaan merupakan hal yang sangat membantu terhadap suatu keputusan yang diambil karena kinerja keuangan akan menunjukkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Laporan Keuangan Dalam menganalisis permohonan kredit modal kerja, peneliti menggunakan data dari aspek keuangan yaitu menggunakan rasio keuangan dan metode

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Laporan Keuangan Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi. Kegiatan akuntansi merupakan kegiatan mencatat, menganalisa, manyajikan dan menafsirkan data

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Tentang Kinerja Perusahaan 2.1.1 Pengertian Kinerja Perusahaan Perusahaan sebagai salah satu bentuk organisasi pada umumnya memiliki tujuan tertentu yang ingin

Lebih terperinci

Bab 3 Analisis Rasio Keuangan

Bab 3 Analisis Rasio Keuangan M a n a j e m e n K e u a n g a n & P r a k 27 Bab 3 Analisis Rasio Keuangan Mahasiswa memahami mengenai jenis laporan keuangan dan mengerti tentang rasio keuangan yang dapat digunakan sebagai kebijaksanaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Analisis Pengertian analisis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Yuniarsih dan Suwatno (2008:98) adalah: Analisis adalah penguraian suatu pokok atas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. satunya Prof. Dr. Ridwan S. Sundjaja, Drs., M.S.B.A., & Dra. Inge Berlian, Ak,

BAB II LANDASAN TEORI. satunya Prof. Dr. Ridwan S. Sundjaja, Drs., M.S.B.A., & Dra. Inge Berlian, Ak, BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Laporan Keuangan Definisi laporan keuangan banyak dikemukakan beberapa ahli dan salah satunya Prof. Dr. Ridwan S. Sundjaja, Drs., M.S.B.A., & Dra. Inge Berlian, Ak,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk membelanjai operasi perusahaan dari hari ke hari, misalnya untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk membelanjai operasi perusahaan dari hari ke hari, misalnya untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Modal Kerja 2.1.1.1 Pengertian Modal Kerja Untuk membelanjai operasi perusahaan dari hari ke hari, misalnya untuk membeli uang muka pada pembelian bahan

Lebih terperinci

Ade Heryana ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Ade Heryana ANALISA LAPORAN KEUANGAN Ade Heryana ANALISA LAPORAN KEUANGAN RASIO KEUANGAN Ratio Keuangan: perhitungan matematika yang bergunauntuk: Mengevaluasi performa perusahaan Memonitor performa perusahaan selama periode tertentu (mingguan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Laba 2.1.1 Pengertian Laba Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian pemakai karena angka laba diharapkan cukup kaya untuk merepresentasi kinerja perusahaan secara

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Tbk dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dengan menggunakan metode analisis horizontal

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Tbk dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dengan menggunakan metode analisis horizontal BAB V SIMPULAN DAN SARAN V.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap neraca dan laporan laba-rugi PT Astra Otoparts Tbk dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dengan menggunakan metode analisis horizontal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Jenis-jenis Laporan Keuangan 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Secara Umum dapat dikatakan bahwa laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi perusahaan

Lebih terperinci

Kompetensi Dasar 5.2 Menafsirkan persamaan akuntansi

Kompetensi Dasar 5.2 Menafsirkan persamaan akuntansi Kompetensi Dasar 5.2 Menafsirkan persamaan akuntansi 1. Pengertian dan klasifikasi akun (rekening). Akun merupakan suatu formulir yang digunakan untuk mencatat pengaruh perubahan nilai (penambahan atau

Lebih terperinci

Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode

Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode Hasil akhir dari proses pencatatan keuangan adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada satu periode tertentu. Dengan melihat laporan keuangan suatu perusahaan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Deskripsi Teori. 1. Return on Assets (ROA) a. Pengertian Return on Assets (ROA)

BAB II KAJIAN TEORI. A. Deskripsi Teori. 1. Return on Assets (ROA) a. Pengertian Return on Assets (ROA) BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Return on Assets (ROA) a. Pengertian Return on Assets (ROA) Return on Assets (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas. Dalam analisis laporan keuangan,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada laporan keuangan PT. Kimia Farma Tbk., maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Hasil kinerja likuiditas

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DENGAN COMMON SIZE DAN RASIO- RASIO KEUANGAN PADA PT SAPTA PRIMA ADIKARYA PALEMBANG

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DENGAN COMMON SIZE DAN RASIO- RASIO KEUANGAN PADA PT SAPTA PRIMA ADIKARYA PALEMBANG ANALISIS KINERJA KEUANGAN DENGAN COMMON SIZE DAN RASIO- RASIO KEUANGAN PADA PT SAPTA PRIMA ADIKARYA PALEMBANG Devi Mutiana Jurusan Akuntansi Politeknik PalComTech Palembang Abstrak Tujuan utama laporan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Laporan keuangan merupakan media yang penting untuk menilai prestasi serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat mengambil suatu keputusan

Lebih terperinci

BAB III PERHITUNGAN DAN ANALISIS

BAB III PERHITUNGAN DAN ANALISIS BAB III PERHITUNGAN DAN ANALISIS Bab ini memuat input data dan hasil perhitungan rasio, pembandingan dengan rasio rata-rata industri tambang serta analisisnya. 3.1. Perhitungan Sebelum melakukan perhitungan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Modal Kerja. dan biaya-biaya lainnya, setiap perusahaan perlu menyediakan modal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Modal Kerja. dan biaya-biaya lainnya, setiap perusahaan perlu menyediakan modal BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Modal Kerja 2.1.1.1 Pengertian Modal Kerja Modal kerja sangat penting dalam operasi perusahaan dari hari ke hari seperti misalnya untuk member uang muka

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Rasio Keuangan a. Pengertian Rasio Keuangan Menurut Kasmir (2008:104), rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 8 BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Analisis Terdapat beberapa pengertian mengenai analisis, yaitu : 1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) : Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa

Lebih terperinci

Bab 2: Analisis Laporan Keuangan

Bab 2: Analisis Laporan Keuangan Bab 2: Analisis Laporan Keuangan Pentingnya analisis laporan keuangan dan pihak pihak yang berkepentingan. Macam laporan keuangan. Analisis rasio keuangan. Keterbatasan analisis laporan keuangan. Pentingnya

Lebih terperinci

ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN

ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN ANALISIS PERKEMBANGAN PT ANEKA TAMBANG DITINJAU DARI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Analisa laporan keuangan adalah suatu proses yang dapat digunakan untuk memeriksa data

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aset 2.1.1 Pengertian Aset Aset merupakan bentuk dari penanaman modal perusahaan yang bentuknya dapat berupa hak atas kekayaan atau jasa yang dimiliki perusahaan yang bersangkutan.

Lebih terperinci

LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PADA PT SENTUL CITY, Tbk. DAN ENTITAS ANAK

LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PADA PT SENTUL CITY, Tbk. DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PADA PT SENTUL CITY, Tbk. DAN ENTITAS ANAK Elvira Jayanti Panutupani elvirabey@ymail.com Program Studi Akuntansi STIE Widya Dharma Pontianak ABSTRAKSI Tujuan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Laporan Keuangan 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Laporan keuangan merupakan laporan pertanggungjawaban suatu perusahaan pada satu periode tertentu mengenai kegiatan perusahaan

Lebih terperinci

samping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan

samping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan BAB II TIJAUAN PUSTAKA A. Laporan Keuangan 1. Definisi Laporan Keuangan Laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah pasar modal. Pasar modal efektif

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah pasar modal. Pasar modal efektif BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu sektor yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah pasar modal. Pasar modal efektif digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. KAJIAN PUSTAKA 1. Rasio Keuangan a. Pengertian Rasio Keuangan Rasio Keuangan merupakan suatu perhitungan rasio dengan menggunakan laporan keuangan

Lebih terperinci

PERTEMUAN 6 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANDRI HELMI M, SE., MM.

PERTEMUAN 6 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANDRI HELMI M, SE., MM. PERTEMUAN 6 ANALISIS LAPORAN KEUANGAN ANDRI HELMI M, SE., MM. TEKNIK ANALISIS RATIO MERUPAKAN TEKNIK ANALISIS YANG MENGGAMBARKAN HUBUNGAN MATEMATIKAL ANTARA SUATU JUMLAH TERTENTU DENGAN JUMLAH YANG LAIN

Lebih terperinci

ANALISIS KEUANGAN. 1) faktor kritis dalam analisis rasio keuangan, 2) mempelajari bagaimana analisis rasio keuangan tersebut dipergunakan dan

ANALISIS KEUANGAN. 1) faktor kritis dalam analisis rasio keuangan, 2) mempelajari bagaimana analisis rasio keuangan tersebut dipergunakan dan ANALISIS KEUANGAN Analisis rasio keuangan merupakan dasar untuk menilai dan menganalisis prestasi operasi perusahaan. Analisis rasio keuangan juga dapat digunakan sebagai kerangka kerja perencanaan dan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis terhadap laporan keuangan PT. Mayora Tbk maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil kinerja Likuiditas dilihat dari rasio

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan.

II. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan. Kinerja keuangan adalah suatu alat analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Laporan Keuangan 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi keuangan suatu perusahaan mengenai posisi keuangan apakah keuangan

Lebih terperinci

Dalam menganalisa laporan keuangan terdapat beberapa metode yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai posisi keuangan perusahaan antara lain:

Dalam menganalisa laporan keuangan terdapat beberapa metode yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menilai posisi keuangan perusahaan antara lain: Analisis Rasio Laporan Keuangan Perusahaan Rasio Keuangan atau Financial Ratio adalah merupakan suatu alat analisa yang digunakan oleh perusahaan untuk menilai kinerja keuangan berdasarkan data perbandingan

Lebih terperinci

ANALISIS RASIO KEUANGAN

ANALISIS RASIO KEUANGAN ANALISIS RASIO KEUANGAN N U R A E N I, S. S O S., M. A B Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan merupakan teknik analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara membandingkan satu komponen

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Menurut Hery (2012:3) laporan keuangan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Menurut Hery (2012:3) laporan keuangan BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Harahap (2011:105) mendefinisikan laporan keuangan sebagai suatu laporan yang menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perusahaan. Modal kerja merupakan kekayaan atau aset yang diperlukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perusahaan. Modal kerja merupakan kekayaan atau aset yang diperlukan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Teoritis 2.1.1 Modal Kerja Modal Kerja sangat dibutuhkan perusahaan untuk mengoperasikan perusahaan. Modal kerja merupakan kekayaan atau aset yang diperlukan perusahaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Laporan Keuangan Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 2012 dikemukakan laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Laporan Keuangan 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Menurut Munawir (2010:2) Laporan Keuangan adalah : Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Modal kerja secara tradisional diartikan sebagai dana yang tersedia untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Modal kerja secara tradisional diartikan sebagai dana yang tersedia untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Modal kerja Bersih a. Pengertian Modal kerja Modal kerja secara tradisional diartikan sebagai dana yang tersedia untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Struktur Modal Struktur modal adalah perimbangan atau perbandingan antara jumlah hutang jangka panjang dengan modal sendiri (Riyanto,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Modal Kerja Setiap perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membelanjai operasi sehari-harinya, misalnya untuk membayar gaji pegawai, di mana uang atau dana yang telah

Lebih terperinci

BAB 4 Analisis Ratio

BAB 4 Analisis Ratio BAB 4 Analisis Pengertian Rasio Keuangan Laporan keuangan melaporkan aktivitas yang sudah dilakukan perusahaan dalam suatu periode tertentu. Aktivitas yang sudah dilakukan dituangkan dalam angka-angka,

Lebih terperinci

RASIO LAPORAN KEUANGAN

RASIO LAPORAN KEUANGAN RASIO LAPORAN KEUANGAN NERACA (BALANCED SHEET) Terdiri dari elemen pokok : Asset, Hutang, dan Modal. Pengukuran terhadap elemen-elemen Neraca biasanya menggunakan historical cost LAPORAN RUGI-LABA (INCOME

Lebih terperinci

LAPORAN KEUANGAN DEPRESIASI

LAPORAN KEUANGAN DEPRESIASI LAPORAN KEUANGAN www.mercubuana.ac.id DEPRESIASI PENGERTIAN Laporan keuangan merupakan hasil pencatatan transaksi yang terjadi pada periode tertentu yang berguna untuk evaluasi dan perencanaan. Laporan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio hutang disebut juga dengan rasio leverage. Rasio leverage

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio hutang disebut juga dengan rasio leverage. Rasio leverage BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rasio Hutang 2.1.1 Pengertian Rasio Hutang Rasio hutang disebut juga dengan rasio leverage. Rasio leverage digunakan untuk mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Hutang Hutang sering disebut juga sebagai kewajiban, dalam pengertian sederhana dapat diartikan sebagai kewajiban keuangan yang harus dibayar oleh perusahaan

Lebih terperinci

5/15/2012. Adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan

5/15/2012. Adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan IE-41 Analisis dan Estimasi Biaya Adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaan Laporan keuangan memberikan informasi mengenai posisi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. satu periode tertentu. Menurut Sugiyarso dan Winarni (2005:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. satu periode tertentu. Menurut Sugiyarso dan Winarni (2005: BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Profitabilitas 2.1.1. Pengertian Profitabilitas Profitabilitas sebagai kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba dengan total aktiva, penjualan, maupun hutang jangka

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan dalam Bab IV dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pengelolaan piutang yang dijalankan oleh PT. INTI kurang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah 2.1.1 Pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Sesuai dengan Undang-Undang No.20 tahun 2008 pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 21 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penilaian perkembangan kinerja keuangan PT ITC dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan usaha perusahaan tersebut yang tercermin

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Kebijakan Hutang 1. Pengertian Kebijakan Hutang Hutang menunjukkan besarnya kepentingan kreditur pada harta perusahaan. Pada prinsipnya hutang akan menguntungkan apabila perusahaan

Lebih terperinci

MEET 05 FOR E LEARNING ANALISA RASIO

MEET 05 FOR E LEARNING ANALISA RASIO MEET 05 FOR E LEARNING ANALISA RASIO PENGERTIAN Rasio dapat dihitung berdasarkan financial statement yang telah tersedia yang terdiri dari : Balance sheet atau neraca, yang menunjukkan posisi finansial

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Laporan Keuangan Sebagai Obyek Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Laporan Keuangan Sebagai Obyek Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Laporan Keuangan Sebagai Obyek Penelitian 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan yang bertujuan untuk menyediakan informasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Analisis Rasio Dalam mengadakan interpretasi dan analisis laporan finansial yaitu perusahaan, seorang penganalisis laporan keuangan adanya ukuran atau yard stick

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk semua hak atau klaim atas uang, barang dan jasa. Bila kegiatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk semua hak atau klaim atas uang, barang dan jasa. Bila kegiatan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PIUTANG USAHA 1. Pengertian Piutang Transaksi paling umum yang menciptakan piutang adalah penjualan barang dagang atau jasa secara kredit. Dalam arti luas piutang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian, Sumber, dan Jenis Modal 2.1.1 Pengertian Modal Dengan perkembangan teknologi dan makin jauhnya spesialisasi dalam perusahaan serta juga makin banyaknya perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. (yang lebih baik) mengenai prospek perusahaan daripada yang dimiliki investor.

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. (yang lebih baik) mengenai prospek perusahaan daripada yang dimiliki investor. BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Teori Asimetri Informasi Teori asimetri informasi atau ketidaksamaan informasi menurut Brighman dan Houston (1999:35) adalah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Signaling Theory 2.1.1. Pengertian Signaling Theory Menurut Jama an (2008) Signaling Theory mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Sawir (2005:129), modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Sawir (2005:129), modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Modal Kerja 1. Pengertian Modal Kerja Menurut Sawir (2005:129), modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sementara itu, pengertian laporan keuangan menurut Munawir (2010:5)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sementara itu, pengertian laporan keuangan menurut Munawir (2010:5) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan yaitu: Pengertian Laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009:1) Laporan keuangan meliputi bagian dari proses laporan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian dan Karakteristik Laba. dengan pendapatan tersebut. Pengertian laba menurut Harahap (2008:113)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian dan Karakteristik Laba. dengan pendapatan tersebut. Pengertian laba menurut Harahap (2008:113) BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pertumbuhan Laba 1. Pengertian dan Karakteristik Laba Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan laba. Pengertian laba secara operasional merupakan perbedaan antara pendapatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Pengertian Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Laporan Keuangan 2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan Akuntansi merupakan suatu sistem informasi yang memberikan keterangan mengenai data ekonomi untuk pengambilan keputusan bagi

Lebih terperinci

Analisis Penggunaan Rasio Keuangan (BAB 1) Astried P. ANALISIS PENGGUNAAN RASIO KEUANGAN

Analisis Penggunaan Rasio Keuangan (BAB 1) Astried P. ANALISIS PENGGUNAAN RASIO KEUANGAN ANALISIS PENGGUNAAN RASIO KEUANGAN A. ANALISIS KEUANGAN (FINANCIAL ANALYSISI) Analisis Keuangan adalah seni untuk mengubah data dari laporan keuangan ke informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan.

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Laporan Keuangan Salah satu ciri dari kegiatan perusahaan yaitu adanya transaksi-transaksi. Transaksi-transaksi tersebut dapat mengakibatkan perubahan terhadap aktiva, hutang,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP. KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR ISTILAH.

DAFTAR ISI. SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP. KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR ISTILAH. DAFTAR ISI Halaman SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP. KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL. DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR ISTILAH. i ii iv vi viii x xi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1 1.2 Perumusan Masalah.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan penilaian terhadap kondisi. Pengertian laporan keuangan menurut beberapa ahli :

BAB II LANDASAN TEORI. dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan penilaian terhadap kondisi. Pengertian laporan keuangan menurut beberapa ahli : BAB II LANDASAN TEORI II.1 Laporan Keuangan II.1.1 Definisi Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah laporan yang berisi informasi keuangan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan penilaian

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS ANDALAS BAHAN AJAR Mata Kuliah : Manajemen Keuangan Agribisnis Semester : IV Pertemuan Ke : 3 Pokok Bahasan : Analisis Laporan Keuangan Dosen :

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. keuangan, jadi laporan keuangan merupakan suatu ringkasan transaksi yang

BAB II LANDASAN TEORI. keuangan, jadi laporan keuangan merupakan suatu ringkasan transaksi yang BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Laporan Keuangan Hasil akhir dari proses pencatatan akuntansi disebut dengan laporan keuangan, jadi laporan keuangan merupakan suatu ringkasan transaksi yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. merupakan suatu ringkassan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi

BAB II LANDASAN TEORITIS. merupakan suatu ringkassan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkassan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Laporan Keuangan Munawir (2010; 96) menjelaskan bahwa salah satu ciri dari kegiatan perusahaan yaitu adanya transaksi-transaksi. Transaksi- transaksi tersebut dapat mengakibatkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Laporan Keuangan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Laporan keuangan merupakan hasil akhir suatu proses kegiatan pencatatan akuntansi yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Rasio Keuangan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Analisis rasio adalah suatu metode Analisis untuk mengetahui hubungan pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara individu atau kombinasi

Lebih terperinci

Analisis Laporan Keuangan

Analisis Laporan Keuangan BAB 3 Analisis Laporan Keuangan 3-1 Analisis Laporan Keuangan Analisis rasio Pengaruh peningkatan rasio Analisis Sistem DuPont Keterbatasan analisis rasio Faktor2 kualitatif 3-2 Neraca Allied: Aktiva Kas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI II.1 Modal Kerja II.1.1 Pengertian Modal Kerja Dalam aktivitas sebuah perusahaan tidak dipungkiri bahwa dibutuhkan dana untuk menjalankan operasinya, mulai dari membeli bahan baku

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjuaan Teoritis 1. Pengertian Rasio Keuangan Rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan

II. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan Menurut Sawir (2005), kinerja adalah kemampuan perusahaan untuk mendapatkan penghasilan atau meraih keuntungan (laba) dan kemampuan dalam mengelola perusahaan

Lebih terperinci