BAB 2 DATA DAN ANALISA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 2 DATA DAN ANALISA"

Transkripsi

1 3 BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Sumber Data Buku Sekilas Kebun Raya Bogor Buku ini berisikan tentang gambaran secara umum mengenai Kebun Raya Bogor, yang menjelaskan secara singkat sejarah, kegiatan, koleksi tanaman, dan hal-hal yang menarik dari Kebun Raya Bogor Refrensi buku Indonesian Heritage Tetumbuhan Di dalam sebagian dari buku ini terdapat penjelasan mengenai keanekaragaman dan asal-usul flora Indonesia. Termasuk salah satu bunga terbesar di dunia, yaitu : bunga bangkai (Amorphophallus titanum) Literatur Internet Berikut ini beberapa literatur yag didapat dari internet, antara lain: Survey Lapangan Kuesioner Untuk mendapatkan data yang otentik dan analisa dalam mendukung penulisan laporan, penulis sadar akan pentingnya melakukan survey berupa penyebaran kuesioner kepada para pengunjung. Hal ini dilakukan untuk mengetahui respon dan pandangan para pengunjung serta masyarakat luas terhadap Kebun Raya Bogor. Survey dilakukan terhadap 2 kelompok, yaitu: A. Pengunjung di Kebun Raya Bogor Jumlah :40 koresponden Jenis kelamin : Pria dan wanita Usia : tahun dan tahun keatas. Hasil rangkuman survey: Pengunjung yang datang, terdiri dari berbagai profesi seperti: pelajar, mahasiswa, karyawan, wiraswasta, ibu rumah tangga,

2 guru, dll. Pengunjung dengan profesi sebgai pelajar menempati urutan pertama, diikuti dengan karyawan dan wiraswasta. Pengunjung biasanya datang bersama dengan keluarga atau teman. Tahu tentang Kebun Raya Bogor dari rutinitas sehari-hari (sering melewati), kerabat, dan media elektronik (TV, radio). Tujuan utama pengunjung ke Kebun Raya Bogor adalah rekreasi dan refreshing sambil menikmati lingkungan yang alami dan asri. Pengunjung cukup puas terhadap pelayanan dan kondisi lingkungan Kebun Raya Bogor. 60% pengunjung merasa media promosi maupun media di sekitar lingkungan Kebun Raya Bogor kurang menarik. 88,5% pengunjung ingin berkungjung kembali ke Kebun Raya Bogor. 69% pengunjung belum pernah melihat logo Kebun Raya Bogor sebelumnya. Hal yang berkaitan dengan Kebun Raya Bogor (dari urutan suara terbanyak): 1. Hijau 2. Piknik 3. Botani 4 4. Asri 5. Pohon besar & langka 6. Sejuk & rimbun 74% pengunjung merasa tampilan logo Kebun Raya Bogor kurang sesuai dengan karakternya, dan merasa perlu mendapatkan perbaikan/perancangan ulang. 65% pengunjung merasa kesan alami dan natural adalah tampilan yang sesuai dengan karakter Kebun Raya Bogor. Bentuk yang dapat mewakili karakter Kebun Raya Bogor (dari urutan suara terbanyak): 1. Pohon 2. Bunga 3. Daun 4. Istana B. Masyarakat umum Jumlah :87 koresponden Jenis kelamin : Pria dan wanita Usia : tahun Hasil rangkuman survey: 99% koresponden tahu tentang Kebun Raya Bogor. Pernahkah mengunjungi Kebun Raya Bogor? - 5% masyarakat sering mengunjungi ( lebih dari 5x). - 60% masyarakat pernah mengunjungi ( 1-3x). - 31& masyarakat tidak pernah mengunjungi.

3 49% masyarakat tahu tentang Kebun Raya Bogor dari sekolah, dan 39% tahu dari kerabat. Tujuan utama datang ke Kebun Raya Bogor adalah rekreasi sambil menikmati lingkungan/suasana yang alami & asri. Masyarakat biasanya datang ke Kebun Raya Bogor bersama keluarga atau teman sebaya. Masyarakat yang pernah ke Kebun Raya Bogor, merasa kondisi lingkungan dan pelayanan yang diberikan cukup baik. 53% masyarakat yang pernah mengunjungi Kebun Raya Bogor, ingin berkunjung kembali. Hal yang berkaitan dengan Kebun Raya Bogor (dari urutan suara terbanyak): - Sejuk, asri, rindang - Pohon tinggi, rindang, besar - Besar dan luas - Aneka tanaman yang unik - Hijau - Rafflesia Arnoldi - Rumput, kebun, hutan, taman - Rekreasi 79% pengunjung belum pernah melihat logo Kebun Raya Bogor sebelumnya. 83% pengunjung merasa tampilan logo Kebun Raya Bogor kurang dan tidak sesuai dengan karakternya, sehingga merasa perlu mendapatkan perbaikan/perancangan ulang. Menurut masyarakat, berikut adalah beberapa tampilan karakter yang mencerminkan Kebun Raya Bogor (dari urutan suara terbanyak): 1. Nuansa hijau 2. Simbol sejuk dan asri 3. Unsur pepohonan dan alami 4. Nuansa alam Indonesia 5. Berkesan modern 6. Keunikan KRB Bentuk yang dapat mewakili karakter Kebun Raya Bogor (dari urutan suara terbanyak): 1. Pohon, daun 2. Flora 3. Bunga Bangkai 4. Rafflesia Arnoldi 5. Tanaman unik 6.Rusa 5

4 Observasi Penulis juga melakukan pengamatan / observasi untuk mengetahui secara langsung suasana dan kondisi lingkungan Kebun Raya Bogor. Berikut adalah dokumentasi yang didapat dari hasil pengamatan penulis. Gambar 2.1 Gambar 2.2 Pintu gerbang utama

5 7 Gambar 2.3 Balai di depan pintu loket Gambar 2.4 Papan peta Kebun Raya

6 8 Gambar 2.5 Papan penamaan koleksi tumbuhan Gambar 2.5 Papan tata tertib Gambar 2.6 Papan petunjuk arah

7 9 Gambar 2.7 Istana Bogor dilihat dari Kebun Raya Gambar 2.8 Mobil Wisata Keliling 2.2 Kota Bogor Kota Bogor merupakan sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia yang terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Luasnya 21,56 km², dengan jumlah penduduk sebanyak jiwa (2003). Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 68 kelurahan. Pada masa kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (pengucapan: boit'n-zôrkh", bœit'-) yang berarti "tanpa kecemasan" atau "aman tenteram". Hari jadi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor diperingati setiap tanggal 3 Juni, karena tanggal 3 Juni 1482 merupakan hari penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Kerajaan Pajajaran.

8 10 Bogor (berarti "enau") telah lama dikenal dijadikan pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional. Di sinilah berbagai lembaga dan balai-balai penelitian pertanian dan biologi berdiri sejak abad ke-19. Salah satunya yaitu, Institut Pertanian Bogor, berdiri sejak awal abad ke Letak Kota Bogor terletak di antara BT BT dan LS LS serta mempunyai ketinggian rata-rata minimal 190 meter, maksimal 350 meter dengan jarak dari ibu kota kurang lebih 60 km. Kota Bogor mempunyai luas wilayah 118,5 km² dan mengalir beberapa sungai yang permukaan airnya jauh di bawah permukaan dataran, yaitu: Ci (Sungai) Liwung, Ci Sadane, Ci Pakancilan, Ci Depit, Ci Parigi, dan Ci Balok. Topografi yang demikian menjadikan Kota Bogor relatif aman dari bahaya banjir alami Iklim, Topografi, Geografi Kota Bogor terletak pada ketinggian 190 sampai 330m dari permukaan laut. Udaranya relatif sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 C dan kelembaban udaranya kurang lebih 70%. Suhu rata-rata terendah di Bogor adalah 21,8 C, paling sering terjadi pada Bulan Desember dan Januari. Arah mata angin dipengaruhi oleh angin muson. Bulan Mei sampai Maret dipengaruhi angin muson barat. Kemiringan Kota Bogor berkisar antara 0 15% dan sebagian kecil daerahnya mempunyai kemiringan antara 15 30%. Jenis tanah hampir di seluruh wilayah adalah latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm dan tekstur tanah yang halus serta bersifat agak peka terhadap erosi. Bogor terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi. Angin laut dari Laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan. Hampir setiap hari turun hujan di kota ini dalam setahun (70%) sehingga dijuluki "Kota Hujan". Keunikan iklim lokal ini dimanfaatkan oleh para perencana kolonial Belanda dengan menjadikan Bogor sebagai pusat penelitian botani dan pertanian, yang diteruskan hingga sekarang. Kedudukan geografi Kota Bogor di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya yang dekat dengan ibukota negara, Jakarta, membuatnya strategis dalam perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Kebun Raya dan Istana Bogor merupakan tujuan wisata yang menarik. Kedudukan Bogor di antara jalur tujuan Puncak/Cianjur juga merupakan potensi strategis bagi pertumbuhan ekonomi.

9 Definisi Kebun Raya Berbeda dengan taman publik (park) atau taman rekreasi, Kebun Raya / Kebun Botani (Botanic Garden) didefinisikan sebagai sebuah lembaga / institusi yang memiliki suatu lahan yang ditanami koleksi tumbuhan dan ditujukan untuk tujuan penelitian ilmiah, konservasi, tampilan / display dan pendidikan Sekilas tentang Kebun Raya / Kebun Botani Selain untuk penelitian, kebun botani dapat berfungsi sebagai sarana wisata dan pendidikan bagi pengunjung. Arboretum adalah semacam kebun botani yang mengkoleksi pepohonan. Dalam kebun botani, tumbuhan koleksi dipelihara dan diberi keterangan nama dan beberapa informasi lainnya yang berguna bagi pengunjung. Dua tambahan penting bagi suatu kebun botani adalah perpustakaan dan herbarium. Keduanya diperlukan untuk kegiatan penelitian dan dokumentasi. Identifikasi/klasifikasi adalah hal yang umum dilakukan di kebun botani. Kebun botani dapat pula memiliki bangunan khusus untuk menumbuhkan koleksi yang tidak dapat hidup pada iklim alami tempat itu atau memerlukan perawatan khusus. Bangunan khusus ini dapat berupa rumah kaca atau klimatron dan iklim buatan yang dapat dibuat di dalamnya. Umumnya kebun botani dapat dikunjungi umum. Pemilik kebun botani dapat suatu lembaga tertentu, negara, maupun perorangan. Kebun botani di Indonesia tidak banyak. Kebun botani milik negara di Indonesia memakai nama "Kebun Raya" karena ukurannya yang luas. Di bawah LIPI/negara terdapat empat kebun botani, yaitu : Kebun Raya Bogor Kebun Raya Cibodas Kebun Raya Purwodadi (di utara Malang) Kebun Raya Eka Karya Bali di Bedugul, Bali. 2.4 Mengenal Kebun Raya Bogor Sejarah Kebun Raya Bogor Pemerintahan Hindia Belanda Kebun Raya Bogor pada mulanya adalah bagian dari Samida (hutan buatan atau taman buatan) yang telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, ) dari Kerajaan Sunda, seperti yang sudah tertulis didalam prasasti Batutulis.Hutan buatan ini dibuat dengan maksud untuk menjaga kelestarian lingkungan, yang dijadikan sebagai tempat untuk memelihara benih-benih kayu yang langka. Hutan ini kemudian terlantar setelah Kerajaan Sunda ditaklukkan oleh Kesultanan Banten, dan akhirnya pada pertengahan abad ke-18

10 Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah-satu sudut hutan buatan ini. Berawal dari Prof. Dr. C.G.C. Reindwardt, seorang ahli botani asal Jerman yang berada di Indonesia pada awal abad ke 19. Pada waktu itu, Reindwardt diutus pemerintah Hindia Belanda sebagai Kepala Urusan Bidang Pertanian, Kesenian dan Pengetahuan untuk wilayaj Jawa. Ia merasa eksplorasi tumbuhan dan masalah pertanian yang ada juga merupakan tugasnya di Hindia Belanda saat itu. Dalam suratnya yang ditulis kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia G.A.G.P. Baron van der Capellen, ia memohon sebidang tanah untuk penelitian berbagai tumbuhan dan tanaman yang berasal dari Indonesia dan mancanegara, yang bernilai ekonomis (kelapa sawit, rempahrempah, jahe, dll) Kelak terbukti manfaat kebun itu sebagai tempat pendidikan guru-guru pertanian dan koleksi tanaman. Hasil penelitian tersebut disebarluaskan ke kebun-kebun lainnya, tulis Reinwardt. Tepat tanggal 18 Mei 1817 dilakukan pemancangan patok pertama. Hal ini menandakan berdirinya Kebun Raya yang kemudian diberi nama slands Plantentuin atau Hortus Botanicus Bogoriensis, yang pada awalnya hanya seluas 47 hektar, hingga saat ini mencapai 87 hektar. Pada saat itu Reindwardt menjabat sebagai direktur Kebun Raya dari tahun Tahun kedudukan direktur digantikan oleh Dr. C.L. Blume. Ia adalah sosok yang telah berhasil mencatat beragam koleksi tanaman yang ada di Kebun Raya Bogor ke dalam bentuk katalog. Katalog pertama tersebut berisikan 900 jenis/spesies tumbuhan. Pada tahun terjadi Perang Diponegoro, sehingga pemerintahan yang dipimpin oleh Gubernur Jendral van der Capellen mengalami kesulitan kondisi keuangan. Kedudukan direktur dalam pengelolaan Kebun Raya pun dibiarkan kosong. Dimana selanjutnya mulai 21 November 1829 Kebun Raya berada dalam pengawasan lembaga ilmiah. Hingga akhirnya tahun 1831 J.E. Teysmann diangkat menjadi hortulanus/kurator. Di tangan Teysmann, seluruh tanaman di Kebun Raya Bogor ditata ulang dan dikelompokkan secara teratur sesuai dengan klasifikasi kelas. 1 Januari 1905 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Departemen van Landbouw (lanjutan slands Plantetuin) atas prakarsa Dr. Treub, yang kemudian diangkat menjadi Direktur Departemen van Landbouw. Tanggal 31 Juli 1911 Departemen van Landbouw berubah menjadi Departemen van Landbouw, Nijverheid en Handel. Dalam struktur organisasi departemen yang baru ini, nama slands Plantentuin akhirnya bergabung dalam naungan Departemen van Economische Zaken. 12

11 13 Pemerintahan Jepang Tanggal 8 Desember 1941 Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan perang terhadap Jepang. Maret 1942 Jepang berhasil memasuki Bogor dan setahun kemudian terjadi peralihan Direktur Kebun Raya dan Herbarium, yaitu kepada Prof. T. Nakai seorang ahli botani Jepang dan Kanihera sebagai kepala Herbarium. Keduanya menjaga Kebun Raya dan Herbarium dengan keras dari para tentara Jepang yang akan menebang pohon demi keperluan perang. Di bawah pimpinan keduanya, Kebun Raya Bogor diberi nama Shokubutsuen. Pemerintahan Indonesia Pada tahun 1949, setelah 4 tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia slands Plantentuin berganti nama menjadi Lembaga Pusat Penyelidikan Alam (LPPA), Berada dalam struktur organisasi Kementrian Pertanian. Direktur LPPA pertama adalah Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo. Pada saat itu LPPA mempunyai 6 anak lembaga, yaitu Bibliotheca Bogoriensis, Hortus Botanicus Bogoriensis, Herbarium Bogoriense, Treub laboratorium, Museum Zoologicum Boroiense dan Laboratorium Penyelidikan Laut. Akhirnya untuk pertama kalinya pada tahun 1956 pimpinan Kebun Raya dipegang oleh bangsa Indonesia, yaitu Soedjana Kassan. Untuk menyiapkan tenaga ahli yang nantinya akan mengisi kekosongan pada lembaga penelitian itu, didirikan Akademi Biologi pada tanggal 10 Oktober 1955, yang terletak di Cibodas. Akademi yang berdiri di bawah LPPA dan bernaung pada Kementrian Pertanian ini kemudian berkembang menjadi Akademi Kementrian Pertanian yang terletak di Ciawi. Tahun 1962 Pemerintah RI membentuk Departemen Urusan Research Nasional (DURENAS), sementara itu LPPA berubah nama dan status menjadi Lembaga Biologi Nasional (LBN) tanggal 21 Juni Lembaga ini serta seluruh anak lembaganya bernaung di bawah Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI). Majelis ini dibentuk pada tahun 1956 sebagai Badan Research Khusus dalam DURENAS, yang kemudian berubah menjadi Lembaga Research Nasional (LEMRENAS). Saat Kebun Raya Bogor mencapai usia 150 tahun, dibentuklah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tanggal 23 Agustus 1967, yang merupakan penggabungan dari LEMRENAS dan MIPI. Sejak itu Kebun Raya Bogor serta cabang-cabang lembaganya berada dalam naungan LIPI. Berikut adalah beberapa tanaman hasil introduksi kebun raya yang kini tersebar di seluruh Indonesia, dan bahkan Asia Tenggara: Kelapa sawit (Elaeis guineensis): - Dari pulau Madagaskar, Afrika Selatan tahun Merupakan induk kelapa sawit di Asia Tenggara. Karet (Hevea braziliemsis): - Dari Brazil tahun 1876, sebagai bahan baku industri.

12 14 Singkong (Manihot utilissima): - Dari Brazil tahun 1876, sebagai bahan baku industri. Singkong (Hevea braziliemsis): - Dari Brazil sebagai penghasil bahan makanan (karbohidrat). Vaneli ( Vanilla planifolia): - Dari Mexico tahun 1819, sebagai pengharum makanan dan minuman. Lici (Litchi chinensis): - Dari China Selatan tahun 1823, sebagai penghasil buah sekaligus menjadi tanaman yang paling tua saat ini di Kebun Raya Bogor. Vaneli Vanilla planifolia): - Dari Mexico tahun 1819, sebagai pengharum makanan dan minuman. Kina (Cinchona calisaya): - Dari Bolivia tahun 1852, sebagai bahan obat malaria. Teratai Raksasa (Victoria amazonica): - Dari Brazil, Sungai Amazon tahun 1860, sebagai tanaman hias kolam. Coklat (Theobroma cacao): - Dari Mexico tahun 1819, sebagai bahan makanan dan aroma. Pada tahun 1986 LIPI mengadakan reorganisasi kelembagaan. Dalam struktur organisasi LIPI ini Kebun Raya Bogor berstatus sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang membawahi 3 kebun raya lainnya, yaitu: - Cabang Balai Pengembangan Kebun Raya Cibodas - Cabang Balai Pengembangan Kebun Raya Purwodadi - Cabang Balai Pengembangan Kebun Raya Eka Karya Bali Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 103 tahun 2001, maka Kebun Raya mengalami perubahan struktur baik tingkat eselon maupun nama lembaga. Perubahan tersebut yakni dari UPT Balai Pengembangan Kebun Raya LIPI, menjadi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, LIPI Kedudukan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor berada langsung di bawah Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, sedangkan UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas, Purwodadi dan Bali berada di bawah Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, LIPI.

13 Struktur Organisasi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, LIPI dipimpinoleh seorang Kepala Pusat yang membawahi Bidang Manajemen Konservasi Ex-Situ, Kelompok Peneliti dan Bagian Tata Usaha. Bidang Manajemen Konservasi Ex-Situ dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang membawahi empat Kepala Sub Bidang, yaitu: 1. Sub Bidang Pemeliharaan Koleksi 2. Sub Bidang Registrasi Koleksi 3. Sub Bidang Seleksi dan Pembibitan 4. Sub Bidang Perbanyakan dan Reintroduksi Tumbuhan Kelompok Peneliti (Non Struktural) dipimpin oleh seorang Koordinator Peneliti. Ruang lingkup kegiatan penelitian didasarkan pada tiga pendekatan yaitu konservasi, kajian potensi serta pengembangan dan pendayagunaan. Bagian Tata Usaha dipimpin oleh seorang Kepala Bagian yang membawahi empat kepala Sub Bagian, yaitu: 1. Sub Bagian Kepegawaian 2. Sub Bagian Keuangan 3. Sub Bagian Jasa dan Informasi Visi dan Misi Visi : Menjadi kebun raya terbaik kelas dunia, terutama dalam bidang konservasi dan penelitian tumbuhan tropika, pendidikan lingkungan dan pariwisata. Misi : - Melestarikan tumbuhan tropika. - Mengembangkan penelitian bidang konservasi dan pendayagunaan tumbuhan tropika. - Mengembangkan pendidikan lingkungan untuk meningkatkan pengetahuan dan apresiasi masyarakat terhadap tumbuhan dan lingkungan. - Meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat Tugas dan Fungsi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, LIPI mempunyai tugas dan fungsi antara lain: - Melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan - Penyusunan pedoman - Pemberian bimbingan teknis - Penyusunan rencana dan program - Pelaksanaan penelitian bidang konservasi ex-situ tumbuhan tropika serta evaluasi - Penyusunan laporan

14 Kegiatan yang dilakukan Kebun Raya Bogor dalam melaksanakan tugasnya diantaranya melakukan kegiatan sebagai berikut: - Konservasi ex-situ, yakni melakukan eksplorasi tumbuhan di kawasan hutan, mendata/registrasi, mengkoleksi dan melestarikannya. - Penelitian meliputi: a. Taksonomi, yaitu memberi kepastian nama tanaman atau sertifikasi, inventarisasi dan evaluasi. b. Biosistematik, yaitu mempelajari hubungan kekerabatan antara tumbuhan. c. Botani Terapan, yaitu penelitian mengenai manfaat tanaman. d. Holtikultura, meliputi penelitian adaptasi tanaman, cara budi dayanya dan pengembangan ilmu pertamanan. - Pendidikan, terutama bidang ilmu botani, pertamanan dan lingkungan hidup. - Pariwisata, Kebun Raya Bogor merupakan salah satu tempat kunjungan wisata yang potensial. - Penemuan serta pengumpulan jenis-jenis tanaman langka yang hanpir punah di Indonesia. - Pembangunan Kebun Raya baru, ada keinginan masyarakat di berbagai propinsi agar didirikan Kebun Raya di daerahnya yang perlu ditindak lanjuti. Contoh: yang telah diresmikan adalah Kebun Raya Bukit Sari di Jambi, Kebun Raya Baturraden di Jawa Tengah. Pembanguan yang sedang dirintis: Kebun Raya Engrekang (Sulawesi Selatan), Kebun Raya di Balikpapan, Kebun Raya Kuningan ( Jawa Barat), Kebun Raya Lampung, dll Tujuan Tujuan secara umum yang ada dalam lingkup Kebun Raya Bogor yaitu: 1. Pusat konservasi tumbuhan tropis 2. Penelitian 3. Pendidikan 4. Reintroduksi tanaman langka 5. Rekreasi. Tujuan secara khusus yang ingin dicapai dalam tahun adalah: 1. Mengkonservasi tumbuhan Indonesia khususnya dan tumbuhan tropika umumnya. 2. Melakukan reintroduksi atau pemulihan tumbuhan langka. 3. Memfasilitasi pembangunan kawasan konservasi ex-situ tumbuhan. 4. Meningkatkan jumlah dan mutu penelitian terhadap konservasi dan pendayagunaan tumbuhan. 5. Menyiapkan bahan untuk perumusan kebijakan bidang konservasi ex-situ.

15 17 6. Meningkatkan pendidikan lingkungan. 7. Meningkatkan pelayanan jasa dan informasi kebun raya Sumber Daya Manusia Jumlah pegawai Kebun Raya Bogor terhitung 1 Januari 2006 sebanyak 341 orang dengan rinican 260 orang PNS, 11 orang CPNS dan 10 orang tenaga honorer. Pengadministrasian urusan kepegawaian dilakukan oleh Subbagian Kepegawaian yang berjumlah 6 orang. Klasifikasi pegawai berdasarkan pendidikan (selain honorer) yaitu: - S3 = 4 orang - S2 = 14 orang - S1 = 43 orang - S0 = 4 orang - SLTA = 115 orang - SLTP = 23 orang - SD = 68 orang Sumber Dana Sebagai salah satu instansi pemerintah, dana pengelolaan Kebun Rayas sebagian besar diperoleh dari Pemerintah melalui APBN. Sumber pendapatan lain yaitu: - hasil penjualan karcis masuk Kebun Raya - dana-dana yang dihasilkan melalui kerjasama - bantuan pihak luar Jasa dan Pelayanan Untuk menunjang ilmu pengetahuan dan teknologi, Kebun Raya Bogor memiliki pelayanan jasa dan fasilitas ilmiah sebagai berikut: 1. Pelayanan jasa dan fasilitas ilmiah - Perpustakaan - Fasilitas pendidikan dan penelitian - Pameran 2. Pelayanan humas dan pemanduan - Kunjungan tamu Negara - Pemanduan wisata mancanegara - Pemanduan tamu dinas dan tamu penelitian - Pemanduan pelajar dan mahasiswa 3. Penyuluhan dan ceramah 4. Pelayanan jasa shooting film dan fasilitas lain. 5. Pelayanan dekorasi dan penjualan tanaman 6. Bimbingan kepada mahasiswa praktek dan siswa yang melakukan Pendidikan Sistem Ganda (PGS)

16 Data Pengunjung Ragam pengunjung yang datang baik secara rombongan maupun perorangan memiliki tujuan dan keperluan yang berbeda, antara lain: rekreasi umum, rekreasi tamu dinas, karya wisata, kuliah lapangan, penelitian, olahraga, dll. Wisatawan mancanegara dengan urutan paling banyak berasal dari Belanda, Jerman dan Perancis. TAHU N Jenis Pengunjung Domesti k Mancanegar a Tujuan Kedatangan Rekreas i Karyawisat a Kulia h Penelitia m Koleksi Tanaman Dengan luas areal yang mencakup 87 hektar, Kebun Raya Bogor terakhir tercatat memiliki koleksi sebanyak spesimen. Berdasarkan data yang diperoleh pada bulan Januari 2006, berikut adalah koleksi yang cukup menarik dan menonjol yang ada di kebun raya: 1. Tanaman hidup jenis (species) marga (genus) suku (famili) 2. Koleksi anggrek spesimen, yang terdiri dari: jenis (species) - 93 marga (genus) 3. Polong-polongan (Fabaceae) 4. Pinang-pinangan (Arecaceae) 5. Talas-talasan (Araceae) 6. Getah-getahan (Apocynaceae) 7. Koleksi bamboo Koleksi tanaman Kebun Raya Bogor sebagian besar berasal dari kepulauan Indonesia dan sebagian lagi dari mancanegara. Penambahan koleksi selain melalui eksplorasi ke hutan-hutan yang ada di Indonesia, juga dengan hasil tukar menukar biji tanaman dengan Kebun Raya lain di dunia.

17 Tanaman tipe Sebagai museum plasma nutfah, Kebun Raya Bogor memiliki lebih dari 16 jenis tanaman tipe, yaitu jenis-jenis tanaman yang untuk pertama kalinya diberi nama ilmiah dengan menggunakan bahasa Latin. Koleksi tersebut antara lain: - Aglaonema oblanceolatum v.a.v.r (Sri rejeki) - Artocarpus altissimus JJS. (Sukun) - Erycibe grandiflora Adelb. (Bunga Irian) - Sindora bruggemanii De Wit dari Sumatra - Stelechocarpus burahol (B1.) Hook.f.&Thoms (buah kapel) - Vatica bantamensis (Hassk.) B. & H. ex Miq dari Banten, Jawa Barat Tanaman air Beragam tanaman air dijadikan koleksi di Kebun Raya Bogor. Tidak hanya yang asli dari Indonesia, tapi juga koleksi dari berbagai negara, antara lain: - Teratai mini dari Irian dan Jawa Barat - Teratai raksasa (Victoria amazonica) - Sowerby dari Sungai Amazona - Rumput antene - Cyperus papyrus L. (merupakan bahan kertas dari sungai Nil, Afrika) Tanaman obat Kebun Raya Bogor menyimpan lebih dari 100 tanaman obat asli Indonesia, salah satunya adalah: teh jawa (Orthosiphon aristatus), dimana daunnya bermanfaat sebagagi diuretic untuk pengobatan penyakit ginjal. Ada pula rumput kacang ungu (Cyperus rotundus) yang umbinya bermanfaat untuk mnegobati bisul, sakit kepala, disentri dan anti serangga. Serta masih banyak koleksi tanaman obat lainnya Tanaman buah Kebun Raya Bogor sebagai salah satu lembaga yang bertanggung jawab terhadap konservasi ex-situ flora asli Indonesia mempunyai peranan penting dalam mempertahankan dan mengembangkan potensi tanamn buah yang ada. Hingga saat ini tidak kurang dari 102 jenis tanaman buah. Baik yang telah menjadi tanaman budidaya maupun yang masih liar telah dipelihara sebagai koleksi. Jenis tanaman buah yang cukup dikenal dan menjadi koleksi kebun raya diantaranya adalah: - Nangka (Artocarpus heterophyllus) - Mangga (Mangifera indica) - Jeruk (Citrus reticulata) - Rambutan (Nepheluim lappaceum) - Durian (Durio zibethinus)

18 Tanaman hias Selain mengkoleksi tanaman tinggi, Kebun Raya Bogor juga mempunyai koleksi tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman hias, seperti: Dieffenbachia amoena, Philodendron, Anthurium, Mucuna benneti, Crytostachys rendra, dll. Tanaman hias ini digunakan untuk dekorasi ruangan dan taman Tanaman langka dan populer Kebun Raya Bogor tidak hanya mengkoleksi tanaman langka seperti bintaro (Cerbera manghas L.), buah namnam (Cynometra cauliflora L.) ataupun rukam (Flacourtia jangomas), tapi juga meemiliki koleksi tanaman populer seperti pohon bogor atau yang dikenal dengan sebutan kolang-kaling (Arenga pinnata), Kemang (Mangifera caesida), Kayu manis (Cinnamomum burmanni) atau Cola acuminata yang buahnya dijadikan sebagai bahan baku minuman Coca Cola Anggrek Pesona dan keunikan lain yang dimiliki Kebun Raya Bogor yaitu koleksi anggrek sebanyak spesimen. Sebagian asli Indonesia, mencakup 441 jenis dari 93 marga. Diantaranya anggrek bulan Phalaenopsis amabilis, Dendrobium sp., Vanda sp., dan anggrek hitam Ceologyne pandurata Lindl. Anggrek terbesar di dunia asal Kalimantan juga ada dalam koleksi Kebun Raya Bogor, yaitu Grammatophyllum speciosum B1., yang pada masa pertumbuhan bunganya mencapai 2 meter dengan rona kuning dan hijau pucat. 2.6 Karakteristik Kebun Raya Bogor Deskripsi Kebun Raya Bogor Geografi Terletak strategis di tengah-tengah kota Bogor, tepatnya di Jl. Ir. H. Juanda 13, hanya beberapa menit dari pintu keluar tol dan cukup dekat dengan terminal Bogor Mood, karakteristik dan suasana Kebun Raya Bogor Dari lingkungan luar Kebun Raya Bogor kita dapat melihat rindangnya pepohonan yang berdiri dari balik pintu gerbang, lalu disambut dengan undakan anak tangga yang mengantar ke pintu loket. Di area loket tersebut terdapat para pengunjung yang juga sedang mengantri untuk memasuki Kebun Raya, sehingga suasana agak sedikit ramai. Tapi saat memasuki areal Kebun Raya, kita dapat merasakan suasana kebun yang alami, dimana pepohonan yang tinggi dan rindang memberikan hawa yang sejuk dan asri. Beberapa kali terdengar pula suara kicauan burung. Dengan area yang cukup luas, terdapat berbagai lokasi yang dapat dikunjungi. Bisa bersantai di atas hamparan rumput luas di tepi kolam, mengunjungi taman-taman

19 21 yang cantik, atau menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang berusia puluhan tahun, dan berbagai koleksi tumbuhan lainnya. Para pengunjung bisa duduk santai sambil menikmati pemandangan dan suasana asri Kebun Raya, di bangkubangku yang telah disediakan. Pada hari-hari kerja, pengunjung yang datang relatif lebih sepi disbanding pada akhir pekan atau hari libur. Mayoritas pengunjung yang datang ke Kebun Raya Bogor pada hari-hari kerja adalah para pelajar, yang diantaranya sedang melakukan karyawisata bersama sekolah, dan ada pula yang sedang rekreasi bersama temantemannya. Sedangkan pada akhir pekan maupun hari libur nasional, pengunjung yang datang biasanya adalah keluarga, dan para mudamudi Jam Operasional Jam operasional Kebun Raya Bogor beroperasional setiap hari dari pk pk WIB Metode Promosi Sebagai bagian dari instansi pemerintahan, Kebun Raya Bogor tidak memiliki anggaran khusus untuk promosi. Sehingga promosi yang dilakukan hanya sebatas penyebaran di dalam lingkungan Kebun Raya Bogor, seperti pembuatan brosur dan leaflet yang diletakkan di pintu loket Hal Menarik dari Kebun Raya Bogor Dari segi Botani semua tanaman yang ada di Kebun Raya memiliki nilai ilmiah yang tinggi, namun ada beberapa jenis tanaman dan bangunan yang memberikan kesan tersendiri bagi mereka yang melihatnya, yaitu: 1. Teratai raksasa 2. Anggrek raksasa 3. Bunga bangkai 4. Kayu raja 5. Jalan Kenari 6. Pohon tarzan 7. Monument Peringatan Lady Olivia 8. Pohon lici 9. Taman Meksiko 10. Taman Teysmann 11. Jalan Astrid 12. Pohon Jodoh 2.7 Logo Untuk saat ini, Kebun Raya Bogor telah memiliki logo yang tertera di bawah. Dilihat dari segi visual, logo saat ini merupakan gabungan dari logogram dan logotype. Logogram yang berada di tengah lingkaran dimaksudkan sebagai stilasi dari bentuk Bunga bangkai Armophophallus titanium. Tidak terlihat pengaruh gaya desain tertentu dalam logo ini.

20 22 Gambar 2.9 Logo Kebun Raya Bogor 2.8 Kompetitor Kompetitor berikut ini dianalisa berdasarkan segi demographis dan pendekatan dari segi positioning. Taman Wisata Mekarsari merupakan salah satu pusat pelestarian keanekaragaman hayati buah-buahan tropika terbesar di Indonesia, khususnya jenis buah-buahan unggul yang dikumpulkan dari seluruh daerah di Indonesia. Berlokasi di kecamatan Cileungsi, kabupaten Bogor, Jawa Barat, taman ini juga merupakan tempat penelitian budidaya (agronomi), pemuliaan (breeding) dan perbanyakan bibit unggul untuk kemudian disebarluaskan kepada petani dan masyarakat umum. Dengan luas sekitar 264 hektar Taman Wisata Mekarsari juga dilengkapi dengan sarana wisata untuk wisatawan nusantara maupun mancanegara. Berikut adalah berbagai wahana yang mendekatkan pengunjung kepada alam, antara lain: - Family Garden - Rekreasi Danau - Baby Zoo - Rusa Tutul - Garden Center - Bangunan Air Terjun Selain itu, kegiatan yang menjadi favorit pengunjung antara lain: - Company gathering - Piknik keluarga - Wisata kebun buah/sayur - Barbeque - Senam pagi - Fruitwalk (jalan-jalan di kebun buah) - Greenhouse Melon - Outbound - Kids Fun Valley - Menara Pandang 2.9 Target Konsumen Target Primer Demografi Pria dan wanita Usia tahun keatas Status Ekonomi Sosial (B, B-) Geografi Masyarakat yang berdomisili di daerah Bogor, Jawa Barat. Mayarakat lokal Indonesia yang untuk sementara berkunjung ke Bogor untuk tujuan penelitian atau pendidikan.

21 23 Psikografi A. Personality Memiliki rasa ingin tahu yang besar Tekun Tidak mudah puas Perfeksionis Pengamat Teratur Menjaga jarak Peduli terhadap lingkungan Menikmati pemandangan Menghargai waktu yang dimiliki Memiliki tujuan yang jelas dalam hidup B. Behaviour Suka mengunjungi perpustakaan Hobi membaca Mengkoleksi buku Gemar berdiskusi tentang hal yang sedang berkembang saat ini Selalu membawa agenda/ catatan kecil Suka mengkoleksi barang unik Mendengarkan lagu-lagu bernuansa ringan, seperti pop-classic. Menyukai air putih dan teh dibanding minuman ringan, es buah, dll. C. Lifestyle Membeli buku di toko buku Gramedia atau Gunung Agung Membaca koran Kompas Menonton saluran TV lokal yang menyajikan program seputar lingkungan hidup, seperti: Trans TV, Metro TV, Trans7, RCTI. Memilih mobil yang tidak terlalu mahal, namun sesuai dengan keperluan seperti Avanza, Xenia Target Sekunder Demografi Pria dan wanita Usia tahun keatas Status Ekonomi Sosial (B, B-) Geografi Wisatawan yang berdomisili di daerah Bogor, Jawa Barat. Wisatawan (baik lokal maupun mancanegara) yang untuk sementara berkunjung ke Bogor untuk tujuan rekreasi.

22 24 Psikografi A. Personality Dapat menyisihkan waktu luang di sela-sela kegiatan Peduli terhadap orang lain Senang berbagi Menyukai kebersamaan Dapat menikmati waktu luang dengan santai Memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar Menyukai sesuatu yang alami B. Behaviour Bertindak efektif dan efisien Travelling, jalan-jalan Wisata kuliner Menyukai kegiatan outdoor Peduli dengan alam dan lingkungan hidup Menghargai budaya Indonesia Mendengarkan lagu-lagu bernuansa pop Memelihara hewan peliharaan seperti burung, anjing atau ikan hias Memilih air putih dibanding minuman ringan dan minuman berkarbonasi C. Lifestyle Membaca referensi wisata dari internet atau blog Menonton saluran TV lokal yang menyajikan program seputar lingkungan hidup, seperti: Trans TV, Metro TV, Trans7, RCTI. Memilih mobil yang tidak terlalu mahal, namun sesuai dengan kebutuhan seperti Avanza, Xenia. Lebih memilih meluangkan waktu di ruangan terbuka seperti Taman Menteng SWOT Strength: - Merupakan kebun botani yang dikenal luas oleh masyarakat - Dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat, baik wisatawan mancangera maupun wisatawan lokal, dari anak-anak hingga orang dewasa - Pusat pendidikan sekaligus tempat rekreasi - Lokasi yang cukup dekat dari ibukota Jakarta - Memiliki berbagai koleksi tanaman yang unik dan langka Weakness: - Fasilitas yang ada kurang terawat. - Kebersihan lingkungan belum diperhatikan secara maksimal. - Kurangnya promosi di berbagai media. - Tidak memiliki standarisasi pelayanan

23 25 Opportunity: - Salah satu kebun raya tertua di Asia Tenggara - Koleksi tumbuhan dan tanaman yang dapat dijadikan bahan penelitian, sekaligus dinikmati sebagai pemandangan saat bersantai atau rekreasi - Adanya komunitas kebun raya di Indonesia - Sejarah pendiri Kebun Raya Bogor yang berasal dari warisan bangsa Eropa, menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisatawan asing Threat: - Kesulitan mencari transportasi untuk menuju ke lokasi. - Kemacetan kota Bogor pada hari-hari libur. - Sikap tak bertanggung jawab para pengunjung yang dapat merusak fasilitas dan koleksi Kebun Raya Bogor. - Pilihan objek wisata lain yang menawarkan rekreasi yang lebih berkesan fun dan entertainment

V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR

V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR 5.1 Profil Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor (KRB) merupakan tempat yang cocok untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan rekreasi sekaligus dalam satu tempat. Sebelum diberi

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN KIOS INFORMASI. Bermula dari Prof. Dr. C.G.C. Reinwardt, botanis asal Jerman, yang berada di

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN KIOS INFORMASI. Bermula dari Prof. Dr. C.G.C. Reinwardt, botanis asal Jerman, yang berada di BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN KIOS INFORMASI 3.1 Sejarah Organisasi 3.1.1 Sejarah Kebun Raya Bogor Bermula dari Prof. Dr. C.G.C. Reinwardt, botanis asal Jerman, yang berada di Indonesia pada awal abad

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR

V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR V GAMBARAN UMUM KEBUN RAYA BOGOR 5.1. Sejarah Singkat Kebun Raya Bogor Pada tanggal 15 April 1817, Reinwardt mencetuskan gagasannya untuk mendirikan Kebun Botani yang disampaikan kepada G.A.G.P. Baron

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM KEBUN RAYA BOGOR

BAB IV KONDISI UMUM KEBUN RAYA BOGOR BAB IV KONDISI UMUM KEBUN RAYA BOGOR 4.1 Sejarah Kebun Raya Bogor Pada mulanya, Kebun Raya Bogor merupakan bagian dari samida (hutan buatan atau taman buatan) yang telah ada pada pemerintahan Sri Baduga

Lebih terperinci

BAB 4 GAMBARAN UMUM AGROWISATA KEBUN RAYA BOGOR

BAB 4 GAMBARAN UMUM AGROWISATA KEBUN RAYA BOGOR BAB 4 GAMBARAN UMUM AGROWISATA KEBUN RAYA BOGOR 4.1 Sejarah dan Perkembangan Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor adalah sebuah kebun botani besar tertua di Asia dan memiliki keindahan tersendiri yang terletak

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebun Raya Bogor (KRB) memiliki keterikatan sejarah yang kuat dalam pelestarian tumbuhan obat. Pendiri KRB yaitu Prof. Caspar George Carl Reinwardt merintis kebun ini

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Statistik Perkembangan Wisatawan Nusantara pada tahun

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Statistik Perkembangan Wisatawan Nusantara pada tahun I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tentang kepariwisataan, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan

Lebih terperinci

BAB II DATA DAN ANALISA

BAB II DATA DAN ANALISA BAB II DATA DAN ANALISA 2.1 SUMBER DATA Data dan informasi yang dipakai dalam pembuatan tugas akhir diperoleh dari beberapa sumber, antara lain: 1. Wawancara / interview dengan narasumber 2. Literatur

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Di Indonesia, JABODETABEK adalah wilayah dengan kepadatan penduduk yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Di Indonesia, JABODETABEK adalah wilayah dengan kepadatan penduduk yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia, JABODETABEK adalah wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi dibandingkan beberapa wilayah lainnya di Pulau Jawa. Tingkat kehidupan Jakarta dan sekitarnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pariwisata di Indonesia semakin hari semakin berkembang. Sektor pariwisata merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pariwisata di Indonesia semakin hari semakin berkembang. Sektor pariwisata merupakan salah satu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pariwisata di Indonesia semakin hari semakin berkembang. Sektor pariwisata merupakan salah satu aset di setiap wilayah di dunia. Dari sektor pariwasata,

Lebih terperinci

BAB 3 PENDEKATAN LAPANGAN

BAB 3 PENDEKATAN LAPANGAN BAB 3 PENDEKATAN LAPANGAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitan ini dilakukan di Kebun raya Bogor di Jalan Ir. H. Juanda No.13 Kota Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive (sengaja)

Lebih terperinci

KONDISI UMUM Keadaan Fisik Fungsi

KONDISI UMUM Keadaan Fisik Fungsi 19 KONDISI UMUM Keadaan Fisik Kebun Raya Cibodas (KRC) merupakan salah satu kebun raya yang terdapat di Indonesia. KRC terletak di Desa Cimacan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pintu gerbang

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1. Lokasi dan Letak Geografis Taman Rekreasi Kampoeng Wisata Cinangneng terletak di Desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Lokasi ini berjarak 11 km dari Kota

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam arti luas pariwisata adalah kegiatan rekreasi di luar dominasi untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau untuk mencari suasana lain. Sebagai suatu aktivitas

Lebih terperinci

BABI PENDAHULUAN. SUdah berabad-abad lamanya kebun 'raya di dunia secara umum menjadi

BABI PENDAHULUAN. SUdah berabad-abad lamanya kebun 'raya di dunia secara umum menjadi BABI PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG SUdah berabad-abad lamanya kebun 'raya di dunia secara umum menjadi salah satu sarana pengembangan i1mu dan budaya yang penting. Sejak semula lembaga ini selalu bergerak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Meksiko, merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya

I. PENDAHULUAN. Meksiko, merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia bersama sejumlah negara tropis lain seperti Brazil, Zaire dan Meksiko, merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya (mega biodiversity).

Lebih terperinci

BAB II DATA DAN ANALISA

BAB II DATA DAN ANALISA BAB II DATA DAN ANALISA 2.1 Sumber Data 1. Wawancara dengan Bapak Agus Hidayat, penanggung jawab Museum Serangga TMII 2. Brosur dan Flyer Museum Serangga TMII 3. Angket yang disebarkan ke 50 responden

Lebih terperinci

MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN Nomor : 479 /Kpts-11/1998 TENTANG

MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN Nomor : 479 /Kpts-11/1998 TENTANG Menimbang : MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN Nomor : 479 /Kpts-11/1998 TENTANG LEMBAGA KONSERVASI TUMBUHAN DAN SATWA LIAR MENTERI KEHUTANAN

Lebih terperinci

Keputusan Menteri Kehutanan Dan Perkebunan No. 479/Kpts-II/1994 Tentang : Lembaga Konservasi Tumbuhan Dan Satwa Liar

Keputusan Menteri Kehutanan Dan Perkebunan No. 479/Kpts-II/1994 Tentang : Lembaga Konservasi Tumbuhan Dan Satwa Liar Keputusan Menteri Kehutanan Dan Perkebunan No. 479/Kpts-II/1994 Tentang : Lembaga Konservasi Tumbuhan Dan Satwa Liar MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN, Menimbang : a. bahwa jenis tumbuhan dan satwa liar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. multi dimensional baik fisik, sosial, ekonomi, politik, maupun budaya.

BAB I PENDAHULUAN. multi dimensional baik fisik, sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kekayaan sumber daya alam Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh setiap daerah merupakan modal penting untuk meningkatkan pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB 2 DATA DAN ANALISA BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Sumber data Data data dan informasi yang digunakan untuk mendukung proyek tugas akhir ini akan diambil dari berbagai sumber, diantaranya: 1. Literatur: artikel dari media elektronik

Lebih terperinci

Perancangan Green Map Kebun Binatang Surabaya guna. memudahkan Informasi Wisatawan BAB I PENDAHULUAN

Perancangan Green Map Kebun Binatang Surabaya guna. memudahkan Informasi Wisatawan BAB I PENDAHULUAN Perancangan Green Map Kebun Binatang Surabaya guna memudahkan Informasi Wisatawan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebun Binatang Surabaya merupakan salah satu destinasi wisata kota yang paling

Lebih terperinci

Mata Pencaharian Penduduk Indonesia

Mata Pencaharian Penduduk Indonesia Mata Pencaharian Penduduk Indonesia Pertanian Perikanan Kehutanan dan Pertambangan Perindustrian, Pariwisata dan Perindustrian Jasa Pertanian merupakan proses untuk menghasilkan bahan pangan, ternak serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia terdapat banyak potensi pariwisata yang bisa dikembangkan

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia terdapat banyak potensi pariwisata yang bisa dikembangkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia terdapat banyak potensi pariwisata yang bisa dikembangkan salah satu yang terkenal adalah Jawa barat. Jawa Barat. Dan Kota Bogor yang merupakan bagian

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN dengan pusat pemerintahan di Gedong Tataan. Berdasarkan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN dengan pusat pemerintahan di Gedong Tataan. Berdasarkan 66 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Pesawaran 1. Keadaan Geografis Pemerintah Daerah Kabupaten Pesawaran dibentuk berdasarkan Undangundang Nomor 33 Tahun 2007 dan diresmikan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perkebunan, kelautan dan perikanan, serta pertambangan Sektor pariwisata

I. PENDAHULUAN. perkebunan, kelautan dan perikanan, serta pertambangan Sektor pariwisata I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pariwisata secara umum merupakan salah satu prioritas unggulan penghasil devisa negara selain migas, pertanian dan agro industri, kehutanan dan perkebunan, kelautan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keterangan : * Angka sementara ** Angka sangat sementara Sumber : [BPS] Badan Pusat Statistik (2009)

I. PENDAHULUAN. Keterangan : * Angka sementara ** Angka sangat sementara Sumber : [BPS] Badan Pusat Statistik (2009) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pariwisata menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang penting, dimana dalam perekonomian suatu Negara, apabila dikembangkan secara terencana dan terpadu, peran pariwisata

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH 51 BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis Kota Bogor 4.1.1 Letak dan Batas Wilayah Kota Bogor terletak diantara 106 derajat 43 30 BT dan 30 30 LS 6 derajat 41 00 LS serta mempunyai ketinggian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata Indonesia merupakan salah satu sektor yang mempengaruhi

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata Indonesia merupakan salah satu sektor yang mempengaruhi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata Indonesia merupakan salah satu sektor yang mempengaruhi perekonomian masyarakatnya. Tidak heran jika dewasa ini banyak masyarakat bersikap positif untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. lebih dari jenis tumbuhan terdistribusi di Indonesia, sehingga Indonesia

I. PENDAHULUAN. lebih dari jenis tumbuhan terdistribusi di Indonesia, sehingga Indonesia 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna serta kehidupan liar lain yang mengundang perhatian berbagai pihak baik di dalam maupun di luar negeri. Tercatat lebih dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Museum merupakan tempat yang sangat bernilai dalam perjalanan

BAB I PENDAHULUAN. Museum merupakan tempat yang sangat bernilai dalam perjalanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Museum merupakan tempat yang sangat bernilai dalam perjalanan hidup sebuah bangsa dan menyimpan berbagai karya luhur nenek moyang kita yang mencerminkan kekayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara dua benua Asia dan Autralia serta antara Samudera Pasifik dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. tempat kerja, di rumah, maupun di tempat lain. Aktivitas rutin tersebut dapat

I. PENDAHULUAN. tempat kerja, di rumah, maupun di tempat lain. Aktivitas rutin tersebut dapat 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia tidak terlepas dari kegiatan rutin di tempat kerja, di rumah, maupun di tempat lain. Aktivitas rutin tersebut dapat menimbulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara. Pembangunan pariwisata mulai digalakkan, potensi potensi wisata yang

BAB I PENDAHULUAN. Negara. Pembangunan pariwisata mulai digalakkan, potensi potensi wisata yang BAB I PENDAHULUAN Pariwisata merupakan salah satu sektor yang diperhatikan dalam kancah pembangunan skala nasional, hal ini dilakukan karena sektor pariwisata diyakini dapat dijadikan sebagai salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan. (penerima pesan). Hal tersebut dimaksudkan bahwa komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan. (penerima pesan). Hal tersebut dimaksudkan bahwa komunikasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam suatu proses komunikasi harus terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antara komunikator (penyebar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman kondisi fisik yang tersebar di seluruh Kabupaten, Hal ini menjadikan

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman kondisi fisik yang tersebar di seluruh Kabupaten, Hal ini menjadikan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Propinsi Lampung merupakan wilayah yang memiliki kekayaan alam yang melimpah dan keanekaragaman kondisi fisik yang tersebar di seluruh Kabupaten, Hal ini menjadikan Propinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. alam yang sangat berbeda dengan ibukota atau daerah-daerah yang lain, luar Jakarta bahkan dari mncanegara.

BAB I PENDAHULUAN. alam yang sangat berbeda dengan ibukota atau daerah-daerah yang lain, luar Jakarta bahkan dari mncanegara. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia terdapat banyak potensi pariwisata yang bisa dikembangkan, salah satu yang terkenal adalah Jawa Barat. Dan Kota Bogor yang merupakan bagian dari wilayah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. untuk memotivasi berkembangnya pembangunan daerah. Pemerintah daerah harus berupaya

I. PENDAHULUAN. untuk memotivasi berkembangnya pembangunan daerah. Pemerintah daerah harus berupaya I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pariwisata merupakan bentuk industri pariwisata yang belakangan ini menjadi tujuan dari sebagian kecil masyarakat. Pengembangan industri pariwisata mempunyai peranan penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari Bryophyta (Giulietti et al., 2005). Sedangkan di Indonesia sekitar

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari Bryophyta (Giulietti et al., 2005). Sedangkan di Indonesia sekitar 14 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, setelah Brazil (Anonimus, 2009). Brazil merupakan salah satu negara dengan flora

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keanekaragaman

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keanekaragaman BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keanekaragaman flora, fauna dan gejala alam dengan keindahan pemandangan alamnya merupakan anugrah Tuhan Yang Maha

Lebih terperinci

PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP IKLIM MIKRO STUDI KASUS KEBUN RAYA BOGOR PRITA AYU PERMATASARI

PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP IKLIM MIKRO STUDI KASUS KEBUN RAYA BOGOR PRITA AYU PERMATASARI PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP IKLIM MIKRO STUDI KASUS KEBUN RAYA BOGOR PRITA AYU PERMATASARI DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kaya akan kekayaan alam yang indah dan keanekaragaman jenis flora dan fauna

BAB I PENDAHULUAN. kaya akan kekayaan alam yang indah dan keanekaragaman jenis flora dan fauna BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang beriklim tropis, yang kaya akan kekayaan alam yang indah dan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang terdapat di

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1. Kondisi Geografis Luas wilayah Kota Bogor tercatat 11.850 Ha atau 0,27 persen dari luas Propinsi Jawa Barat. Secara administrasi, Kota Bogor terdiri dari 6 Kecamatan, yaitu

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Potensi kepariwisataan di Indonesia sangat besar. Sebagai negara tropis dengan sumberdaya alam hayati terbesar ketiga di dunia, sangat wajar bila pemerintah Indonesia memberikan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA -1- SALINAN PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia yang merupakan negara agraris, memiliki wilayah yang luas untuk usaha pertanian. Selain diperuntukkan sebagai budidaya dan produksi komoditi pertanian serta perkebunan,

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA U M U M Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG

KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG KEADAAN UMUM KABUPATEN SINTANG Geografis dan Administrasi Kabupaten Sintang mempunyai luas 21.635 Km 2 dan di bagi menjadi 14 kecamatan, cakupan wilayah administrasi Kabupaten Sintang disajikan pada Tabel

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI 24 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI 4.1 Sejarah Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu merupakan kawasan yang berubah peruntukannya dari kebun percobaan tanaman kayu menjadi taman wisata di Kota Palembang.

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. menjadi sub sektor andalan bagi perekonomian nasional dan daerah. Saat ini

BAB I PENGANTAR. menjadi sub sektor andalan bagi perekonomian nasional dan daerah. Saat ini BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Perkembangan sektor industri pariwisata di dunia saat ini sangat pesat dan memberi kontribusi yang besar terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu,

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Gebernur Provinsi DKI Jakarta Nomor: 202 tahun Hutan Kota

IV. GAMBARAN UMUM. Gebernur Provinsi DKI Jakarta Nomor: 202 tahun Hutan Kota 23 IV. GAMBARAN UMUM A. Status Hukum Kawasan Kawasan Hutan Kota Srengseng ditetapkan berdasarkan surat keputusan Gebernur Provinsi DKI Jakarta Nomor: 202 tahun 1995. Hutan Kota Srengseng dalam surat keputusan

Lebih terperinci

BAB II DATA DAN ANALISA. Sumber data-data untuk menunjang studi Desain Komunikasi Visual diperoleh. 3. Pengamatan langsung / observasi

BAB II DATA DAN ANALISA. Sumber data-data untuk menunjang studi Desain Komunikasi Visual diperoleh. 3. Pengamatan langsung / observasi BAB II DATA DAN ANALISA 2. 1 Data dan Literatur Sumber data-data untuk menunjang studi Desain Komunikasi Visual diperoleh dari: 1. Media elektronik: Internet 2. Literatur: Koran, Buku 3. Pengamatan langsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Cianjur merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang

BAB I PENDAHULUAN. Kabupaten Cianjur merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Cianjur merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki potensi pariwisata yang cukup menarik untuk dikunjungi wisatawan. Kabupaten Cianjur memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1.LATAR BELAKANG. I.1.1.Latar Belakang Pengadaan Proyek

BAB I PENDAHULUAN I.1.LATAR BELAKANG. I.1.1.Latar Belakang Pengadaan Proyek BAB I PENDAHULUAN I.1.LATAR BELAKANG I.1.1.Latar Belakang Pengadaan Proyek Kabupaten Sleman merupakan bagian dari wilayah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ) dengan luas wilayah 547,82 km² atau

Lebih terperinci

IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota

IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Pembentukan Taman Kupu-Kupu Gita Persada Taman Kupu-Kupu Gita Persada berlokasi di kaki Gunung Betung yang secara administratif berada di wilayah Kelurahan

Lebih terperinci

VI. KARAKTERISTIK PENGUNJUNG TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR. dari 67 orang laki-laki dan 33 orang perempuan. Pengunjung TWA Gunung

VI. KARAKTERISTIK PENGUNJUNG TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR. dari 67 orang laki-laki dan 33 orang perempuan. Pengunjung TWA Gunung VI. KARAKTERISTIK PENGUNJUNG TAMAN WISATA ALAM GUNUNG PANCAR 6.1 Karakteristik Responden Penentuan karakteristik pengunjung TWA Gunung Pancar diperoleh berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner dari 100

Lebih terperinci

-1- PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN KEBUN RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

-1- PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN KEBUN RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA -1- SALINAN PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN KEBUN RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. beragam adat istiadat, bahasa, agama serta memiliki kekayaan alam, baik yang ada di

I. PENDAHULUAN. beragam adat istiadat, bahasa, agama serta memiliki kekayaan alam, baik yang ada di 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang cukup luas dengan penduduk yang beragam adat istiadat, bahasa, agama serta memiliki kekayaan alam, baik yang ada di

Lebih terperinci

Beberapa fakta dari letak astronomis Indonesia:

Beberapa fakta dari letak astronomis Indonesia: Pengaruh Letak Geografis Terhadap Kondisi Alam dan Flora Fauna di Indonesia Garis Lintang: adalah garis yang membelah muka bumi menjadi 2 belahan sama besar yaitu Belahan Bumi Utara dan Belahan Bumi Selatan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengandalkan hidupnya dan bermata pencaharian dari hutan (Pratiwi, 2010 :

BAB I PENDAHULUAN. mengandalkan hidupnya dan bermata pencaharian dari hutan (Pratiwi, 2010 : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang memegang peranan penting dalam kehidupan. Hutan memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan sumberdaya alam baik hayati maupun non hayati. Negara ini dikenal sebagai negara megabiodiversitas

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas

IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas 42 IV. KONDISI UMUM 4.1 Letak Geografis dan Aksesibilitas Secara geografis, perumahan Bukit Cimanggu City (BCC) terletak pada 06.53 LS-06.56 LS dan 106.78 BT sedangkan perumahan Taman Yasmin terletak pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam kurun waktu yang sangat panjang perhatian pembangunan pertanian

I. PENDAHULUAN. Dalam kurun waktu yang sangat panjang perhatian pembangunan pertanian I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam kurun waktu yang sangat panjang perhatian pembangunan pertanian terfokus kepada peningkatan produksi, terutama pada peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya

Lebih terperinci

Karena hal-hal diatas tersebut, kita harus mencari cara agar hewan dan tumbuhan tetap lestari. Caranya antara lain sebagai berikut.

Karena hal-hal diatas tersebut, kita harus mencari cara agar hewan dan tumbuhan tetap lestari. Caranya antara lain sebagai berikut. JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SD VI (ENAM) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) PELESTARIAN MAKHLUK HIDUP Kehadiran hewan dan tumbuhan itu sesungguhnya dapat menjaga keseimbangan alam. Satu makhluk

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Statistik Kunjungan Wisatawan ke Indonesia Tahun Tahun

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Statistik Kunjungan Wisatawan ke Indonesia Tahun Tahun I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Hal ini berdasarkan pada pengakuan berbagai organisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2010 (https://id.wikipedia.org/wiki/indonesia, 5 April 2016).

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2010 (https://id.wikipedia.org/wiki/indonesia, 5 April 2016). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dunia pariwisata saat ini semakin menjadi sorotan bagi masyarakat di dunia, tak terkecuali Indonesia. Sektor pariwisata berpeluang menjadi andalan Indonesia untuk mendulang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah termasuk di dalamnya

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah termasuk di dalamnya 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia terletak diantara dua benua, yaitu Australia dan Asia, serta diantara dua samudera (Samudera Pasifik dan Samudera Hindia). Sebagai Negara kepulauan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kawasan Gunung Merapi adalah sebuah kawasan yang sangat unik karena

I. PENDAHULUAN. Kawasan Gunung Merapi adalah sebuah kawasan yang sangat unik karena I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1. Keunikan Kawasan Gunung Merapi Kawasan Gunung Merapi adalah sebuah kawasan yang sangat unik karena adanya interaksi yang kuat antar berbagai komponen di dalamnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1. Pengertian Judul Butterfly : Bahasa Inggris: Kupu-kupu Kupu-kupu merupakan serangga yang tergolong ke dalam ordo Lepidoptera atau serangga bersayap sisik (lepis: sisik dan ptero:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ruang Terbuka Hijau atau RTH merupakan salah satu komponen penting perkotaan. Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari ruang terbuka

Lebih terperinci

Tetapi pemandangan sekitar yang indah dan udara yang begitu sejuk membuat para wisatawan tak jemu dengan perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Tetapi pemandangan sekitar yang indah dan udara yang begitu sejuk membuat para wisatawan tak jemu dengan perjalanan yang cukup menguras tenaga. Wisata Alam merupakan salah satu pilihan wisata yang menarik bagi para wisatawan, baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Bagi sebagian orang, wisata alam bisa di jadikan sebagai alternatif untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya adalah dengan berkunjung ke tempat wisata. Menurut Undang-undang No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, wisata

BAB I PENDAHULUAN. salah satunya adalah dengan berkunjung ke tempat wisata. Menurut Undang-undang No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, wisata BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia sebagai makhluk sosial memiliki beberapa kebutuhan untuk bisa bertahan hidup, yaitu kebutuhan primer meliputi pangan, sandang, papan dan kebutuhan sekunder

Lebih terperinci

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis

3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Letak Geografis 3. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Penelitian dilakukan di dua kabupaten di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Batanghari dan Muaro Jambi. Fokus area penelitian adalah ekosistem transisi meliputi

Lebih terperinci

Dimana saja tempat yang bisa dikunjungi di surabaya?

Dimana saja tempat yang bisa dikunjungi di surabaya? Dimana saja tempat yang bisa dikunjungi di surabaya? Tempat rekreasi di surabaya, tempat wisata dan tempat yang tepat untuk memanfaatkan waktu liburan bersama keluarga, ada beberapa catatan tempat wisata

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. Kota Bogor mempunyai luas wilayah km 2 atau 0.27 persen dari

V. GAMBARAN UMUM. Kota Bogor mempunyai luas wilayah km 2 atau 0.27 persen dari V. GAMBARAN UMUM 5.1. Kondisi Geografis Kota Bogor mempunyai luas wilayah 118 50 km 2 atau 0.27 persen dari luas propinsi Jawa barat. Secara geografis, Kota Bogor terletak diantara 106 derajat 43 30 BT-106

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya hayati yang melimpah. Kekayaan hayati Indonesia dapat terlihat dari banyaknya flora dan fauna negeri ini. Keanekaragaman sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,7 persen (Tempo.co,2014). hal

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,7 persen (Tempo.co,2014). hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pariwisata di Indonesia tetap bertumbuh walaupun pertumbuhan perekonomian global terpuruk, pertumbuhan industri pariwisata di Indonesia tahun 2014 mencapai 9,39 persen

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kekayaan Indonesia dalam keanekaragaman jenis tumbuhan merupakan hal

BAB 1 PENDAHULUAN. Kekayaan Indonesia dalam keanekaragaman jenis tumbuhan merupakan hal 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kekayaan Indonesia dalam keanekaragaman jenis tumbuhan merupakan hal yang patut disyukuri sebagai anugerah dari Sang Pencipta. Menurut Zoer aini (2007: 184) terdapat

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan 118 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Objek wisata Curug Orok yang terletak di Desa Cikandang Kecamatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yaitu budaya, lingkungan hidup, sosial, ilmu pengetahuan, peluang dan

BAB I PENDAHULUAN. yaitu budaya, lingkungan hidup, sosial, ilmu pengetahuan, peluang dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pariwisata memiliki banyak sekali manfaat bagi negara dan terutama untuk masyarakat sekitar, bahkan manfaat pariwisata dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia sebagai negara beriklim tropis dengan wilayah geografi dataran tinggi dan dataran rendah yang didalamnya mencakup keragaman iklim, memiiki peluang yang besar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pariwisata secara luas adalah kegiatan rekreasi di luar domisili untuk

I. PENDAHULUAN. Pariwisata secara luas adalah kegiatan rekreasi di luar domisili untuk I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata secara luas adalah kegiatan rekreasi di luar domisili untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain. Pariwisata telah menjadi bagian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki panorama alam yang indah yang akan memberikan daya tarik

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki panorama alam yang indah yang akan memberikan daya tarik I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki panorama alam yang indah yang akan memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik itu alam pegunungan (pedesaan), alam bawah laut, maupun pantai.

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1. Sejarah Perusahaan Taman Wisata Mekarsari pada awal berdirinya bernama Taman Buah Mekarsari, dimana areal lahannya merupakan lahan perkebunan karet milik PTP IX yang sudah

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM Bujur Timur dan antara Lintang Selatan. Batas wilayah. 19 sampai dengan 162 meter.

V. GAMBARAN UMUM Bujur Timur dan antara Lintang Selatan. Batas wilayah. 19 sampai dengan 162 meter. V. GAMBARAN UMUM 5.1 Lokasi dan Kondisi Geografis Objek Wisata dan merupakan salah satu objek wisata yang berada di Kabupaten Pesawaran. Kabupaten Pesawaran sendiri merupakan kabupaten yang baru terbentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. subur, dan mendapat julukan sebagai Negara Agraris membuat beberapa. memiliki prospek yang menjanjikan dan menguntungkan.

BAB I PENDAHULUAN. subur, dan mendapat julukan sebagai Negara Agraris membuat beberapa. memiliki prospek yang menjanjikan dan menguntungkan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia terletak di negara beriklim tropis, memiliki tanah yang cukup subur, dan mendapat julukan sebagai Negara Agraris membuat beberapa wilayah di Indonesia cukup

Lebih terperinci

alami maupun buatan. Perancangan wisata alam memerlukan ketelitian dalam memilih objek wisata yang akan dikembangkan.

alami maupun buatan. Perancangan wisata alam memerlukan ketelitian dalam memilih objek wisata yang akan dikembangkan. 23 1. Potensi Wisata Gunung Sulah Potensi wisata merupakan segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata baik alami maupun buatan. Perancangan wisata alam memerlukan ketelitian dalam memilih objek wisata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obyek wisata merupakan perwujudan dari pada ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN UMUM KOTA BOGOR

BAB III TINJAUAN UMUM KOTA BOGOR BAB III TINJAUAN UMUM KOTA BOGOR 1.1 Tinjauan Umum Kota Bogor 1.1.1 Keadaan Geografis Secara geografis Kota Bogor terletak di antara 106o 48 BT dan 6o 26 LS, kedudukan geografis Kota Bogor di tengah-tengah

Lebih terperinci

Oleh : Slamet Heri Winarno

Oleh : Slamet Heri Winarno Oleh : Slamet Heri Winarno PENDAHULUAN Pariwisata telah menjadi sektor strategis dalam memperkuat perekonomian negara Pariwisata ini merupakan sektor penghasil utama devisa negara nonmigas. 2 Pariwisata

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia dan merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat yang banyak menyimpan berbagai sejarah serta memiliki kekayaan

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 23 BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 3.1 Sejarah Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor didirikan oleh ahli biologi Jerman yaitu Prof. Caspar George Carl Reindwart pada tanggal 18 Mei 1817 dengan nama

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mereposisikan ekonominya dari brand-based economy, yaitu perekonomian

I. PENDAHULUAN. mereposisikan ekonominya dari brand-based economy, yaitu perekonomian I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Trend yang sedang terjadi di negara-negara industri saat ini adalah mulai mereposisikan ekonominya dari brand-based economy, yaitu perekonomian manufaktur yang berbasiskan

Lebih terperinci

Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH

Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007 Kemampuan

Lebih terperinci

BAB II DATA DAN ANALISA

BAB II DATA DAN ANALISA BAB II DATA DAN ANALISA 2.1 Sumber Data Data dan informasi yang dipakai dalam pembuatan tugas akhir ini dapat diperoleh dari beberapa sumber, antara lain : 1. Data Sumatif : Berasal dari beberapa artikel

Lebih terperinci

PENTINGNYA PLASMA NUTFAH DAN UPAYA PELESTARIANNYA Oleh : DIAN INDRA SARI, S.P. (Pengawas Benih Tanaman Ahli Pertama BBPPTP Surabaya)

PENTINGNYA PLASMA NUTFAH DAN UPAYA PELESTARIANNYA Oleh : DIAN INDRA SARI, S.P. (Pengawas Benih Tanaman Ahli Pertama BBPPTP Surabaya) PENTINGNYA PLASMA NUTFAH DAN UPAYA PELESTARIANNYA Oleh : DIAN INDRA SARI, S.P. (Pengawas Benih Tanaman Ahli Pertama BBPPTP Surabaya) I. PENDAHULUAN Plasma nutfah merupakan sumber daya alam keempat selain

Lebih terperinci

KEBUN RAYA BOGOR OLEH : IRVAN MAULANA S. (H ) EVA NURSUSANDHARI (H ) MIQDAM AWWALI H. (H ) Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri

KEBUN RAYA BOGOR OLEH : IRVAN MAULANA S. (H ) EVA NURSUSANDHARI (H ) MIQDAM AWWALI H. (H ) Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri TUGAS MAKALAH AKHIR MATA KULIAH EKONOMI WISATA ESL 332 KEBUN RAYA BOGOR OLEH : SAPTO ADI P. (H44050580) ABIYADUN (H44051043) IRVAN MAULANA S. (H44052581) EVA NURSUSANDHARI (H44053085) MIQDAM AWWALI H.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata- mata untuk menkmati

BAB I PENDAHULUAN. nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata- mata untuk menkmati BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Yoeti (1993 :109) bahwa pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan

Lebih terperinci

NILAI EKONOMI EKOTURISME KEBUN RAYA BOGOR

NILAI EKONOMI EKOTURISME KEBUN RAYA BOGOR NILAI EKONOMI EKOTURISME KEBUN RAYA BOGOR Oleh: Nadya Tanaya Ardianti A07400018 PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005 1 I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

Lebih terperinci