INFORMASI UMUM ZIRKONIUM
|
|
|
- Yanti Glenna Kurniawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 INFORMASI UMUM ZIRKONIUM Disusun oleh: Ir. Herry Poernomo, MT. BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL PUSAT TEKNOLOGI AKSELERATOR DAN PROSES BAHAN Jl. Babarsari Kotak Pos 6101 Ykbb Yogyakarta Telp: , HP: , Juli
2 DAFTAR ISI JUDUL 1 DAFTAR ISI 2 ABSTRAK 3 I. PENDAHULUAN 8 II. PRA-KAJIAN KELAYAKAN Rantai Nilai Ketersediaaan Bahan Baku Aspek Pasar Aspek Teknologi Aspek Keselamatan Aspek Kualitas Standar 83 III. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PASIR ZIRKON MENJADI PRODUK ZIRKONIUM 90 KESIMPULAN 108 DAFTAR PUSTAKA 110 LAMPIRAN Surat Edaran Direktorat Jenderal Bea Cukai-Kementerian Keuangan No. S-377/BC/2012 tanggal 4 Mei 2012 tentang Pelarangan Ekspor Bijih (Raw Material atau Ore) Mineral ke Luar Negeri 2. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun
3 ABSTRAK Telah disajikan informasi umum zirkonium yang kemungkinan dapat digunakan sebagai data pendukung awal oleh pihak yang akan melakukan penelitian dan pengembangan tentang zirkonium dan pihak yang akan melakukan pra-studi kelayakan pendirian pabrik pengolahan konsentrat zirkon menjadi beberapa produk zirkonium seperti zircon opacifier (ZrSiO 4 ), zirconium oxychloride atau zirconil chloride: ZOC (ZrOCl 2.8H 2 O), zirconium sulphate: ZOS (Zr(SO 4 ) 2.4H 2 O), zirconium basic sulphate: ZBS (Zr 5 O 8 (SO 4 ) 2.xH 2 O) atau (Zr 5 O 7 (SO 4 ) 3.xH 2 O), zirconium basic carbonate: ZBC (ZrOCO 3.xH 2 O), zirconium hydroxide: ZOH (Zr(OH) 4.xH 2 O), zirconium oxide atau zirconia (ZrO 2 ), zirconium metal (Zr). Informasi umum zirkonium ini berisi beberapa data umum yang mengkaji tentang rantai nilai, ketersediaan bahan baku, aspek pasar, aspek teknologi, aspek keselamatan, aspek kualitas standar. Hasil kajian pada rantai nilai menunjukkan bahwa produk zirkonium di dunia konsisten mengalami kenaikan penggunaan selama 20 tahun sejak 1990 dengan 6 kelompok besar pengguna yaitu industri keramik, refraktori, pengecoran logam, TV glass, zirconia & Zr chemicals, dan lain-lain. Peraturan Kepala BAPETEN No. 09 tahun 2009 tentang intervensi terhadap paparan radiasi yang berasal dari Technologically Enhanced Natural Occuring Radioactive Materials (TENORM) menyebutkan bahwa jika jumlah TENORM > 2 ton dan aktivitas radiasi anggota deret uranium dan deret thorium masing-masing 1Bq/g, maka penghasil TENORM harus dapat melaksanakan intervensi terhadap paparan radiasi yang berasal dari TENORM melalui tindakan remedial. Kemudian Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2012 tanggal 6 Februari 2012 tentang peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian mempersyaratkan batasan produk minimum untuk dijual ke luar negeri terhadap produk zirkonia (ZrO 2 + Hf) dengan kadar > 99%. Selanjutnya oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam surat nomor S-377/BC/2012 tertanggal 4 Mei 2012 telah melarang ekspor raw material mineral ke luar negeri antara lain adalah bijih zirkon dan zirkonium silikat dari jenis yang dipakai sebagai opasitas (opacifier) sebagaimana disebutkan dalam lampiran II surat Dirjen Bea Cukai tersebut. Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2012 tanggal 6 Februari 2012 tersebut sudah direvisi dengan Peraturan Menteri ESDM No. 11 Tahun 2012 tanggal 16 Mei 2012 dengan menyisipkan 1 3
4 (satu) pasal yakni pasal 21.A. diantara pasal 21 dan pasal 22. Isi pasal 21.A. adalah sebagai berikut: (1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dapat menjual bijih (raw material atau ore) mineral ke luar negeri apabila telah mendapatkan rekomendasi dari Menteri c.q. Direktur Jenderal. (2) Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah Pemegang IUP Operasi Produksi dan IPR memenuhi persyaratan antara lain: a. status IUP Operasi Produksi dan IPR Clear and Clean; b. melunasi kewajiban pembayaran keuangan kepada Negara; c. menyampaikan rencana kerja dan/ atau kerjasama dalam pengolahan dan/ atau pemurnian mineral di dalam negeri; dan d. menandatangani pakta integritas. Keempat produk hukum tersebut dapat menjadi instrumen hukum yang efektif untuk mengurangi ekspor pasir zirkon, konsentrat zirkonium (zirkonium silikat) dan terikutnya bahan sumber ( 238 U dan 232 Th) yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian diharapkan bisa diusahakan peningkatan nilai tambah dari pengolahan konsentrat zirkonium menjadi beberapa produk zirkonium sehingga dapat menstimulasi berdirinya beberapa industri hilir berbasis zirkonium di dalam negeri. Jumlah deposit pasir zirkon yang terukur di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Kalimantan Tengah pada tahun 2008 sekitar 6,556 juta ton dengan kandungan zircon opacifier (ZrSiO 4 ) sekitar 2,615 juta ton. Sisa sumber daya ZrSiO 4 terukur yang ada sekarang sekitar 2,468 juta ton cukup digunakan sebagai bahan baku pada rencana pendirian pabrik pengolahan konsentrat pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium selama lebih dari 30 tahun sebagaimana umur pabrik kimia pada umumnya. Hasil kajian terhadap aspek pasar menunjukkan bahwa Dubbo Zircon Project (DZP) di New South Wales Australia telah memprediksi konsumsi terhadap produk zirkonium di dunia sejak tahun 2012 s/d 2020 akan mengalami kenaikan yang cukup tajam dibandingkan dengan kapasitas produksi pabrik yang sekarang maupun kemungkinan pabrik baru yang akan berdiri. Dengan demikian prospek kehadiran pabrik pengolahan pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium layak dapat didirikan di daerah Kalimantan. Harga produk zirkonium dari DZP pada kuartal 4 tahun 2011 sebagai berikut: konsentrat zirkon dengan kadar ZrO 2 65% sekitar $2,100 - $2,900 per ton, ZOC dengan kadar ZrO 2 36% sekitar $2,850 - $3,100 per ton dan ZOC dengan kadar ZrO 2 100% sekitar 4
5 $7,920 - $8,610 per ton, ZBS dengan kadar ZrO 2 33% sekitar $4,180 per ton dan ZBS dengan kadar ZrO 2 100% sekitar $12,580 per ton, zirconia (fused zirconia) dengan kadar ZrO 2 98,50% sekitar $5,500 - $7,000 per ton, chemical zirconia dengan kadar ZrO 2 98,50% sekitar $10,000 - $12,000 per ton, dan chemical zirconia dengan kadar ZrO 2 98,90% sekitar $12,500 - $14,000 per ton. Kemudian beberapa produk zirkonium yang dihasilkan oleh Noah Technologies Corporation di Texas USA dengan kualitas pure analysis (PA) untuk keperluan riset dan produk zirkonium kualitas teknis untuk keperluan industri yang disajikan pada Tabel 13 harganya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa produk zirkonium yang dihasilkan oleh Dubbo Zircon Project (DZP) di New South Wales Australia. Standar harga produk zirkonium dari Noah Technologies Corporation di Texas USA pada Tabel 13 tersebut dapat dijadikan sebagai data bantu untuk analisis pasar dalam rangka membuat studi kelayakan pabrik pengolahan pasir zirkon di Indonesia. Hasil kajian terhadap aspek teknologi menunjukkan bahwa dengan melalui tahap proses pengendapan zirconium basic sulphate (ZBS) yang tidak larut dalam air dan 5 kali pencucian ZBS dengan air mampu menurunkan kandungan U dan Th dalam konsentrat pasir zirkon sekitar ppm menjadi sekitar 0,463 3,103 ppm dalam produk zirkonium oksiklorid (ZOC). Nilai kadar U dan Th sekitar 0,463 3,103 ppm tersebut terletak jauh di bawah very low-grade (U + 0,4 Th) < 100 ppm menurut ketentuan Jepang tentang impor produk zirkonium, dan jauh di bawah persyaratan standar perdagangan internasional produk zirkonium untuk keperluan industri non nuklir dengan kadar (U + 0,4 Th) < 500 ppm. Kemudian dari aspek keselamatan menunjukkan bahwa proses pengolahan pasir zirkon menjadi ZOC murni dengan melalui proses pengendapan ZBS menimbulkan volume air limbah dalam jumlah banyak yang berasal dari proses pencucian ZBS dan pencucian Zr(OH) 4. Air limbah dengan volume yang banyak tersebut mengandung HCl, Fe +3, Ti +4, U +6 dan Th +4 yang berasal dari 5 kali proses pencucian ZBS dengan air dan mengandung NH 4 OH dan SO -2 4 yang berasal dari 5 kali pencucian endapan Zr(OH) 4 dengan air. Air limbah tersebut menurut Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2005 atau PP. No. 77/2008 termasuk limbah radioaktif pemancar alpha ( ) aktivitas rendah dengan tarif pengelolaan sebesar Rp ,- per liter. Jika pabrik pengolahan konsentrat pasir zirkon menjadi produk zirkonium akan mengirim air limbah yang ditimbulkan ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) BATAN sesuai dengan tarif tersebut, maka pabrik 5
6 pengolahan pasir zirkon tersebut kemungkinan tidak akan memperoleh keuntungan. Hal ini karena harga beberapa produk zirkonium yang dihasilkan seperti tersebut di atas lebih rendah daripada tarif pengelolaan limbah radioaktif pemancar alpha ( ) aktivitas rendah tersebut. Dengan demikian pabrik pengolahan pasir zirkon mutlak memerlukan unit pengolahan limbah radioaktif beserta fasilitas repositori limbah radioaktif terolah. Metode pengolahan air limbah yang mengandung TENORM ( 238 U dan 232 Th) dari pabrik zirkonium yang relatif mudah, murah, dan dapat dilakukan oleh pabrik zirkonium adalah dengan menggunakan proses evaporasi menggunakan energi panas matahari pada sistem evaporasi di kolam (evaporation pond) sebagaimana yang telah dilakukan di DZP New South Wales - Australia, Arafura Rare Earth Australia, dan fasilitas tambang uranium di Wyoming USA. Jika sisa sumber daya konsentrat pasir zirkon (ZrSiO 4 ) terukur yang ada sekarang sekitar 2,468 juta ton mengandung TENORM ( 238 U dan 232 Th) sekitar > 500 ppm ( > 0,05% berat), maka terdapat deposit (U 3 O 8 dan ThO 2 ) lebih dari ton. Apabila diasumsikan umur peralatan pabrik pengolahan konsentrat pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium dapat mencapai 30 tahun dalam mengolah ton konsentrat pasir zirkon/tahun yang mengandung TENORM, maka terdapat (U 3 O 8 dan ThO 2 ) lebih dari 5 ton/tahun sebagai bahan sumber yang akan terbuang percuma ke lingkungan. Karena jumlah bahan nuklir (uranium dan thorium) melebihi 2 (dua) ton sebagaimana tercantum di dalam Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 09 tahun 2009 bab II pasal 7 ayat (1) a., maka pihak otoritas pabrik zirkonium wajib melakukan tindakan remedial terhadap TENORM yang ditimbulkan. Dalam melakukan tindakan remedial terhadap TENORM, maka dimungkinkan dapat dilakukan pengambilan U 3 O 8 dan ThO 2 yang terkandung dalam limbah sebagai bahan baku bahan bakar reaktor nuklir. Selanjutnya dari aspek kualitas standar produk zirkonium menunjukkan bahwa persyaratan standar perdagangan untuk beberapa produk zirkonium sebagai berikut: zircon opacifier (ZrO 2.SiO 2 ) dengan kadar (% berat) (ZrO 2 + HfO 2 ) > 66%, SiO 2 < 32%, Al 2 O 3 < 0,45%, Fe 2 O 3 < 0,10%, TiO 2 < 0,15%, dan (U + Th) < 500 ppm; zirconil chloride (ZrOCl 2.8H 2 O) dengan kadar (ZrO 2 + HfO 2 ) > 35%, SiO 2 < 0,01, Al 2 O 3 < 0,02%, Fe 2 O 3 < 0,005%, TiO 2 < 0,002%, CaO < 0,01%, Na 2 O < 0,04%; zirconium hydroxide Zr(OH) 4 dengan kadar (ZrO 2 + HfO 2 ) 45 55%, SO 4 = 3 4%, Si = 300 ppm, Al < 25 ppm, Fe < 20 ppm, Ti < 50 ppm; zirconia (ZrO 2 ) untuk komponen mesin jet dengan kadar (ZrO 2 + HfO 2 ) 99,5%, HfO 2 < 100 ppm, SiO 2 < 0,2%, Al 2 O 3 < 100 ppm, Fe 2 O 3 < 200 ppm, TiO 2 < 100 ppm, LOI < 0,5%; zirconia (ZrO 2 ) untuk reaktor nuklir dengan kadar ZrO2 = 99,5%, 6
7 HfO 2 < 100 ppm, SiO 2 = 1000 ppm, Al 2 O 3 < 100 ppm, Fe 2 O 3 = 200 ppm, TiO 2 < 100 ppm, SO 4 < 0,5%; zirkonium oksinitrat ZrO(NO 3 ) 2.2H 2 O dengan kemurnian 99,9% untuk reaktor nuklir dengan kadar HfO 2 < 100 ppm, SiO 2 < 100 ppm, Al 2 O 3 < 25 ppm, Fe 2 O 3 < 50 ppm, TiO 2 < 25 ppm, Cl 2 < 100 ppm; zirconium tetrachloride ZrCl 4 dengan kemurnian (Zr + Hf)Cl 4 = 99,95% untuk reaktor nuklir dengan kadar HfO 2 = ppm, SiO 2 = ppm, Al 2 O 3 = ppm, Fe 2 O 3 = ppm, TiO 2 = ppm, insoluble < 0,1%; zirconium basic sulphate (ZBS) dengan kadar ZrO 2 = 35,0%, SO 4 = 18,5%, SiO 2 < 0,05%, Al 2 O 3 < 0,03 %, Fe 2 O 3 < 0,003%, TiO 2 < 0,04%, Na 2 O < 0,01%, Cl < 0,4%, bulk density = 55,0 lb/ft 3, zirconium sponge untuk kelas industri: (ZrO 2 + HfO 2 ) minimum 95%, C = 500 ppm, O = 3000 ppm, N = 3000 ppm, Cl = 1500 ppm, Mg = 1000 ppm, Al = 500 ppm, Cr = 1000 ppm, Fe = ppm, Nb = 500 ppm, Ni = 500 ppm, Si = 500 ppm, Sn = 500 ppm, Ti = 1000 ppm; zirconium sponge untuk kelas alloy rotate: (ZrO 2 + HfO 2 ) = 99,2%, C = 300 ppm, O = 900 ppm, N = 80 ppm, Cl = 500 ppm, Mg = 600 ppm, Al = 500 ppm, B = 10 ppm, Bi = 50 ppm, Cd = 35 ppm, Cu = 100 ppm, Cr = 400 ppm, Fe = 2000 ppm, Hf = ppm, H = 50 ppm, Mn = 100 ppm, Mo = 100 ppm, Na = 100 ppm, Nb = 500 ppm, Ni = 200 ppm, P = 100 ppm, Pb = 100 ppm, S = 20 ppm, Si = 150 ppm, Sn = 500 ppm, Ta = 200 ppm, Ti = 200 ppm, W = 500 ppm; zirconium sponge untuk kelas reaktor ASTM B349: (ZrO 2 + HfO 2 ) = 99,5%, C = 250 ppm, O = 1400 ppm, N = 50 ppm, Cl = 1300 ppm, Al = 75 ppm, B = 0,5 ppm, Cd = 0,5 ppm, Co = 20 ppm, Cu = 30 ppm, Cr = 200 ppm, Fe = 1500 ppm, Hf = 100 ppm, Mn = 50 ppm, Mo = 50 ppm, Ni = 70 ppm, Si = 120 ppm, Ti = 50 ppm, W = 50 ppm, U = 3 ppm; zirconium sponge untuk kelas reaktor rotate: (ZrO 2 + HfO 2 ) = 99,55%, C = 250 ppm, O = 800 ppm, N = 50 ppm, Cl = 400 ppm, Al = 75 ppm, B = 0,5 ppm, Bi = 50 ppm, Cu = 30 ppm, Cr = 100 ppm, Fe = 600 ppm, Hf = 100 ppm, Mn = 50 ppm, Mo = 50 ppm, Na = 50 ppm, Nb = 100 ppm, Ni = 50 ppm, P = 50 ppm, Pb = 100 ppm, S = 20 ppm, Si = 100 ppm, Sn = 200 ppm, Ta = 200 ppm, Ti = 50 ppm, W = 40 ppm. Kata kunci: rantai nilai, bahan baku, pasar, teknologi, keselamatan, kualitas standar 7
8 I. PENDAHULUAN Azas dan tujuan dalam Pasal 2 Bab II Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) dikelola dengan berasaskan [1] : a. manfaat, keadilan, dan keseimbangan; b. keberpihakan kepada kepentingan bangsa; c. partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas; d. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan Tujuan pengelolaan mineral dan batubara dalam Pasal 3 UU minerba tersebut adalah [1] : a. menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha pertambangan secara berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing; b. menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup; c. menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku dan/atau sebagai sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri; d. mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih mampu bersaing di tingkat nasional, regional, dan internasional; e. meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta menciptakan lapangan kerja untuk sebesarbesar kesejahteraan rakyat; dan f. menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara. Tujuan pengelolaan minerba dalam Ayat d. dan e. pada Pasal 3 UU minerba tersebut telah diturunkan oleh Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) RI No. 07 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral. Khusus untuk komoditas zirkonium, maka di dalam Lampiran II Permen ESDM tersebut telah membatasi produk minimum komoditas zirkonia (ZrO 2 ) yang dijual ke luar negeri yaitu (ZrO 2 + Hf) > 99% [2]. Berdasarkan Permen ESDM tersebut, maka Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam surat No. S-377/BC/2012 tertanggal 4 Mei 2012 telah melarang ekspor raw material mineral ke luar negeri antara lain adalah bijih zirkon dan zirkonium silikat dari jenis yang dipakai sebagai opasitas (opacifier) sebagaimana disebutkan dalam lampiran II surat Dirjen Bea Cukai tersebut [3]. 8
9 Sebagian besar pemegang Izin Usaha Penambangan (IUP) dan Kuasa Penambangan (KP) yang melakukan kegiatan eksplorasi, eksploitasi, dan produksi belum mempunyai unit pemurnian mineral menjadi produk setengah jadi sebagaimana yang diinginkan dari Permen ESDM No. 7 Tahun 2012 dan Surat Dirjen Bea Cukai No. S-377/BC/2012 tertanggal 4 Mei Diperlukan investasi yang sangat besar untuk mendirikan pabrik pemurnian mineral pada skala komersial. Dengan demikian beberapa pemegang IUP dan KP mineral tengah mengalami kesulitan untuk menyikapi dua produk hukum tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, maka telah diterbitkan Permen ESDM No. 11 Tahun 2012 tertanggal 16 Mei 2012 yang merevisi Permen ESDM No. 7 Tahun 2012 dengan menyisipkan 1 (satu) pasal yakni pasal 21.A. diantara pasal 21 dan pasal 22. Isi pasal 21.A. adalah sebagai berikut [4] : (1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dapat menjual bijih (raw material atau ore) mineral ke luar negeri apabila telah mendapatkan rekomendasi dari Menteri c.q. Direktur Jenderal. (2) Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah Pemegang IUP Operasi Produksi dan IPR memenuhi persyaratan antara lain: a. status IUP Operasi Produksi dan IPR Clear and Clean; b. melunasi kewajiban pembayaran keuangan kepada Negara; c. menyampaikan rencana kerja dan/ atau kerjasama dalam pengolahan dan/ atau pemurnian mineral di dalam negeri; dan d. menandatangani pakta integritas. Zirkonium sebagian besar terdapat dalam mineral baddeleyit dan pasir zirkon, kemungkinan juga terdapat dalam tanah jarang (rare earth), monazit, senotim, dan ilmenit dengan kadar yang tidak begitu besar. Beberapa mineral yang terdapat zirkonium tersebut umumnya mengandung naturally occuring radioactive materials (NORM) yaitu bahan radioaktif yang terkandung di dalam mineral alam. NORM tersebut antara lain seperti 238 U dan anak luruhnya, 232 Th dan anak luruhnya, serta 40 K. Radiasi zirkon mengandung elemen-elemen radioktif dari seri uranium dan thorium seperti pada Gambar 1 [5]. 9
10 Gambar 1. Peluruhan radiaktif seri uranium dan thorium Pasir zirkon yang dihasilkan oleh Iluka Resources mengandung TENORM dengan kadar keaktifan antara 0,6 sampai 1,2 Bq/g (thorium-232) dan 1,5 sampai 4,5 Bq/g (uranium-238). Anak-anak luruh produk biasanya terdapat dalam konsentrasi konsentrasi yang stabil [6]. Kandungan TENORM dalam pasir zirkon akan berbeda jika diambil dari daerah yang berlainan seperti ditunjukkan pada Tabel 1 Tabel 1. TENORM pada zirkon dari beberapa Negara [7] Anak-anak luruh produk biasanya terdapat dalam konsentrasi-konsentrasi yang stabil. Bahaya radiasi utama terjadi karena terkena partikel-partikel alpha dengan terhisapnya debu dalam pernafasan. Tindakan-tindakan pengontrolan debu yang memadai harus dilakukan untuk memastikan bahwa tingkat pemajanan (exposure) terhadap debu produk dapat ditekan seminimal mungkin. Sebagai panduan, karyawan yang secara terus- 10
11 menerus pernafasannya terkena debu pada kadar di atas 1,5 mg/m 3 bisa mengalami pajanan di atas 1 msv. Radiasi eksternal berasal dari radiasi sinar gamma. Pemajanan terusmenerus (2000 jam setiap tahun) dalam jarak 2 meter dari pasir zirkon bisa menghasilkan dosis di atas 1 msv [6]. Tujuan pengelolaan mineral dan batubara sebagaimana tercantum dalam Ayat b. Pasal 3 UU minerba tersebut adalah melindungi masyarakat dan lingkungan hidup di sekitar daerah pengelolaan mineral alam dari dampak negatif TENORM yang ditimbulkan. Zirkon baik sebagai pasir zirkon maupun produk zirkonium mengandung bahan radioaktif 238 U beserta anak luruhnya dan 232 Th beserta anak luruhnya yang termasuk bahan sumber. Adanya keberadaan bahan sumber di dalam pasir zirkon maupun produk zirkonium, maka oleh Peraturan Kepala (Perka) BAPETEN No. 9 Tahun 2009 tentang Intervensi terhadap Paparan yang Berasal dari TENORM [8]. (1) Tingkat intervensi sebagaimana dimaksud di atas dapat dinyatakan dalam: a. jumlah atau kuantitas TENORM paling sedikit 2 (dua) ton; dan b. tingkat kontaminasi sama dengan atau lebih kecil dari 1 Bq/cm 2 (satu becquerel persentimeter persegi) dan/atau konsentrasi aktivitas sebesar: 1. 1 Bq/gr (satu Becquerel pergram) untuk tiap radionuklida anggota deret uranium dan thorium; atau Bq/gr (sepuluh Becquerel pergram) untuk kalium. (2) Radionuklida sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b angka 1 paling kurang meliputi: Pb-210, Ra-226, Ra-228, Th-228, Th-230, Th-234; dan/atau Po-210. Semangat yang ditunjukkan untuk tidak sekedar menjual tanah-air dan euphoria otonomi daerah mewarnai isi UU Minerba maupun Permen ESDM ini membuat para pemangku kepentingan harus mempersiapkan diri memasuki era baru industri ekstraktif metalurgi. Perjalanan sejarah penelitian dan industri ekstraktif metalurgi di Indonesia telah banyak mengalami peningkatan penguasaan dan adaptasi teknologi. Kemampuan merancang dan membangun berbagai tanur peleburan seperti untuk timah dan besi adalah diantara contoh hasil karya bangsa ini. Namun demikian, masih banyak potensi sumber daya mineral Indonesia yang jumlahnya cukup besar dan menyebar, masih belum mendapat peningkatan nilai-tambah (added value), seperti cadangan bijih kadar rendah (low-grade/lateritic ores) dan mineral ikutan [9]. PT. Aneka Tambang (Antam) dan Pemda Kabupaten Landak dalam rangka realisasi kerjasama dengan Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan (PTAPB) merencanakan 11
12 akan mendirikan pabrik zirkonia di Kawasan Industri Mandor, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Kerjasama tersebut antara lain PT. Antam sebagai penyedia modal dan pembangunan infrastruktur, Pemda Landak sebagai penyedia area lokasi pabrik dan pemegang otoritas deposit pasir zirkon, sedangkan PTAPB sebagai penyedia paket teknologi pengolahan pasir zirkon menjadi zircon opacifier, zirconium chemicals seperti zironium oxychloride (ZOC), zirconium sulphate (ZOS), zirconium basic sulphate (ZBS), zirconium basic carbonate (ZBC), dan zirconia (ZrO 2 ). Kawasan Industri Mandor merupakan daerah bekas penambangan emas tanpa izin (PETI) dengan deposit pasir zirkon cukup banyak karena zirkon merupakan mineral ikutan dalam endapan alluvial emas. II. PRA-KAJIAN KELAYAKAN Sebelum dilakukan pengolahan sumber daya alam pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium untuk keperluan berbagai industri hilir, maka perlu pra-kajian kelayakan terlebih dahulu yang meliputi: 1. Rantai nilai 3. Aspek pasar 5. Aspek keselamatan 2. Ketersediaan bahan baku 4. Aspek teknologi 6. Aspek kualitas standar 1. Rantai Nilai Berbasis rantai nilai suatu hasil olahan maka industri tersebut dapat mencapai umur yang lebih tinggi sehingga keeknomiannya akan lebih baik, bahkan industri tersebut bersifat generic atau mempunyai pasar yang luas. Rantai nilai pengolahan pasir zirkon di Indonesia untuk keperluan industri hilir dapat diadopsi dari Gambar 2 sebagai berikut [10]. 12
13 Mining and Concentrating Intermediate Compounds Final Products Zirconium containing ores Zircon ZrSiO4 (sedimentary rock) Baddeleylite ZrO2 (igneous rock) Vlasovit Na4Zr2(Si8O2) Primary heavy Minerals Ilmenite Monazite Rutile Specific Act. (Bq/kg) U-238: 0, Ra-226: Th-232: 0, Wet concentrator Tailing Formation of ZrOCl2 Purification of Chlorides Reduction to metallic Zirconium Specific Act. (Bq/kg) U+Th: < 500 Formation of Zr-Carnonate Zr-Sulfater Concentrate with 80-90% of heavy minerals Dewatering and dry separation Chemical treatment to result in pure Zr-Oxylsulfate Hafnia-free Zirconia powder Decomposition to ZrO2 Calcination Tension and magnetic separators Decomposition of Zr5O8(SO4)2 to give high quality ZrO2 Melting of metallic sponge Pigment industry Oxygen getters Crushing Grinding Sizing Zirconia and Zircon for: foundries refractories ceramics abrasive Spesific Act. (Bq/kg) U-238: Th-232: Zirconia ZrO2 Basic forming metal for advanced refractors Zircaloy for Nuclear Industry Pyrochemicals for airbags and flash items Clinical and chemical equipment (Alkali/acid resistant) Fusion Fused or stabilized ZrO2 Silica Fume Dust Activity slightly increased Waste with increased activity Formation of oven: mixing with other components (Alumina, Sodium Carbonate) melting, cleaning, polishing Milling of Waste and makes shift materials Bq/kg Gambar 2. Rantai nilai pengolahan pasir zirkon Rantai nilai secara umum yang rutin telah mengkonsumsi produk zirkonium untuk digunakan sebagai bahan baku dalam memproduksi bahan jadi (end product) di berbagai industri hilir di dunia saat ini ditunjukkan pada Gambar 3 [11]. 13
14 Gambar 3. Rantai nilai yang rutin menggunakan produk zirkonium Enam kelompok rantai nilai yang menggunakan produk zirkonium di dunia untuk berbagai industri sejak setiap tahun cenderung mengalami kenaikan seperti ditunjukkan pada Gambar 4 [11]. 14
15 Gambar 4. Konsumsi zirkon pada berbagai segmen pasar Gambar 4 menunjukkan, bahwa lebih dari 50% penggunaan zirkon di dunia adalah pada bidang industri keramik. Pada industri keramik, bahan baku zirkon digunakan untuk membuat refractories, cutting tools, noozle, komponen otomotif, material glaze (glasir) yang berfungsi sebagai opacifier untuk produk glazing sanitary, tablewares, ceramic tiles. Rantai nilai lainnya dari bahan zirkonium yang digunakan oleh industri hilir dan dapat menaikkan nilai tambah (added value) ditunjukkan pada Gambar 5 [12]. Gambar 5. Beberapa industri hilir yang menggunakan bahan zirkonium 15
16 Pada umumnya di dalam mineral pasir zirkon (ZrSiO 4 ) terkandung juga beberapa senyawa berharga lain seperti titanium dalam mineral rutile (TiO 2 ) dan ilmenite (FeTiO 2 ), logam tanah jarang (LTJ) seperti (Y, Dy, Tb, Gd, La, Ce, Nd, Pr, Sm), dan naturally occurring radioactive materials (NORM) seperti U 3 O 8 dan ThO 2. Sebagai contoh beberapa senyawa berharga tersebut yang terkandung di dalam pasir zirkon adalah pasir zirkon dari Tumbang Titi, Ketapang, Kalimantan Barat yang pernah diolah di PTAPB- BATAN dengan kandungan Ti, LTJ, dan NORM seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Komposisi pasir zirkon dari Tumbang Titi Unsur Kimia (Oksida/Elemen) Oksida Satuan Jumlah Elemen Satuan Jumlah Sd SiO 2 % Si % TiO 2 % 6.68 Ti % Al 2 O 3 % Al % Fe 2 O 3 % 2.83 Fe % MnO % Mn % CaO % Ca % MgO % Mg % Na 2 O % Na % K 2 O % K % P 2 O 5 % P % S % S % LOI % - - % - - ZnO % - Zn % - - PbO % Pb % NiO % - Ni % - - ZrO 2 % Zr % HfO 2 % 1.10 Hf % HgO % - Hg % - - Cs 2 O % Cs % Cr 2 O 3 % Cr % Y 2 O 3 % Y % Nb 2 O 5 % Nb % Nd 2 O 3 % Nd % Ta 2 O 5 % - Ta % - - La 2 O 3 % La % ThO 2 % Th % U 3 O 8 % U % Am 2 O 3 % Am % MoO 3 % Mo % CeO 2 % Ce % SnO 2 % 1.34 Sn %
17 Rantai nilai dari hasil pengolahan Nb dan LTJ yang digunakan oleh industri hilir ditunjukkan pada Gambar 6 dan 7 [12]. Gambar 6. Rantai nilai Nb dari hasil pengolahan pasir zirkon 17
18 Gambar 7. Rantai nilai LTJ dari hasil pengolahan pasir zirkon 2. Ketersediaan Bahan Baku Keberadaan deposit zirkon di Indonesia yang berpotensi untuk dilakukan proses eksplorasi, eksploitasi, dan produksi terdapat di daerah kepulauan Riau, Bangka-Belitung, dan pulau Kalimantan seperti ditunjukkan pada Gambar 8 [13]. Gambar 8. Peta keberadaan zirkon di Indonesia 18
19 Keberadaan zirkon di Indonesia telah dikenal sejak lama di perairan Bangka Belitung sebagai endapan alluvial bersama pasir timah dan mineral ikutan lainnya. Peta wilayah kuasa pertambangan timah (WKPT) di pesisir pantai dan daratan yang tengah dikerjakan dapat ditunjukkan pada Gambar 9. Gambar 9. Wilayah kuasa pertambangan timah yang mengandung zirkon Disamping itu, zirkon juga terdapat di sepanjang aliran sungai pedalaman Kalimantan mengikuti penyebaran endapan alluvial emas dan rawa rawa. Endapanendapan placer yang mengandung zirkon di Pulau Kalimantan teridentifikasi dari hasil pendulangan aluvium untuk mendapatkan emas dan intan (Rodiana, 2007), yang hingga saat ini masih terbatas di daerah-daerah tertentu dalam wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada Gambar 10 sebagai berikut [14] : 19
20 Gambar 10. Peta lokasi sejumlah wilayah kabupaten di Pulau Kalimantan, tempat teridentifikasinya endapan placer mengandung zirkon. Kalimantan Barat Kabupaten Kapuas Hulu Zirkon berasosiasi dengan emas ditemukan dalam endapan placer dari jenis point bar yang teridentifikasi sebagai bagian dari aluvium purba, tersebar di wilayah-wilayah pertambangan rakyat di desa Nanga Sangan, Riam Mengelai dan Nanga Betung, Kecamatan Boyan Tanjung. Aluvium purba dapat dikenali dengan mudah karena membentuk bentang alam dataran aluvial, sementara ketebalan endapan point bar yang dapat teridentifikasi dari bukaan penambangan berkisar antara 6 hingga 10 meter seperti ditunjukkan pada Gambar 11 [14]. 20
21 Gambar 11. Endapan point bar mengandung zirkon, emas, magnetit, dan ilmenit bagian dari aluvium purba di wilayah penambangan emas rakyat Desa Nanga Sangan, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Tim Konservasi Kapuas Hulu-PMG, 2006) Volume kandungan zirkon berdasarkan hasil analisis butir mineral dapat mencapai 10% dari volume total konsentrat hasil pendulangan (Tim Konservasi Kapuas Hulu-PMG, 2006), diduga merupakan hasil rombakan dari batuan sumber tonalit yang membentuk Tinggian Semitau. Kabupaten Landak Di daerah lingkungan Demuan, Sei Ruang Baam dan Sei Pantek; Desa Tebedak, Kecamatan Ngabang, zirkon ditemukan di dalam aluvium yang diduga merupakan hasil rombakan batuan granitik dan tonalit berasal dari Blok Kalimantan Barat. 21 Zirkon teridentifikasi berukuran butir sangat halus bersama mineral berat lain dengan volume kandungan berkisar 0,0001% hingga 0,14% di dalam endapan aluvial masa kini dan purba yang masing-masing mempunyai luas sebaran antara 165 hingga 360 ha, ketebalan ratarata antara 2,75 hingga 8,5 m. Kabupaten Sanggau Placer mengandung zirkon di wilayah kabupaten ini terdapat di dua lokasi: Saeh Miru, Bayan Beruang, Sei Tekam, Desa Malenggang, Kecamatan Sekayam dan daerah Empado, Maengkok Sei Menduk, Desa Sejotang, Kecamatan Tayan Hilir. Placer
22 merupakan bagian dari aluvium masa kini dan purba, hasil rombakan batuan granitik dan tonalit berasal dari Pegunungan Schwaner yang dibawa oleh aliran Sungai Kapuas dan Sungai Tayan. Luas sebaran mencapai lebih dari 300 ha, ketebalan rata-rata berkisar antara 3,25 hingga 4,5 m dan mengandung 0,0001 0,00015% zirkon, berasosiasi dengan emas yang hingga saat ini masih ditambang dengan cara pendulangan. Kabupaten Melawi Zirkon di dalam placer berasosiasi dengan emas di daerah-daerah bekas penambangan emas aluvial, ditemukan di 12 lokasi yang tersebar di lima wilayah kecamatan: Nanga Pinoh, Nanga Ella Hilir, Menukung, Nanga Sayan, dan Nanga Sokan. Mineral terdiri atas butiran berukuran halus s/d sedang, warna bervariasi, bentuk butir menyudut tanggung dengan volume kandungan zirkon umumnya <7% dan dapat mencapai hingga 34,48% dari volume total konsentrat. Sama halnya dengan yang terjadi di Kabupaten Sanggau, bahwa zirkon dalam placer di wilayah ini diduga merupakan hasil rombakan batuan sumber granit dan tonalit berasal dari Pegunungan Schwaner. Kalimantan Tengah Pasir zirkon di Kalimantan Tengah dijumpai di Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Kota Palangka Raya, Gunung Mas, Kapuas dan Pulang Pisau. Kabupaten Katingan Endapan zirkon di daerah ini diduga bagian dari rombakan terutama batuan sumber granitik dan tonalit yang membentuk Pegunungan Schwaner, diendapkan di lingkungan sungai dan pantai; berasosiasi dengan pasir kuarsa dan mineral-mineral berat seperti hematit, rutil dan magnetit. Zirkon juga ditemukan di dalam batuan sedimen, berupa butiran berukuran halus yang membentuk lapisan tipis berwarna kehitaman. Kandungan zirkon dalam aluvium terdeteksi secara kimiawi berkisar 2,691 hingga 12 ppm dan pernah mencapai 11%. Kabupaten Seruyan Mineral zirkon di wilayah ini ditemukan dalam aluvium dan merupakan hasil rombakan dari batuan granitik berasal dari Pegunungan Schwaner, berukuran butir halus berasosiasi dengan kuarsa dan kasiterit. Sebaran aluvium mengandung mineral ini ditemukan di desa-desa Pematang Tambat, Sungai Bakau Pal 7 dan Sungai Pucuk, 22
23 Kecamatan Seruyan Hilir; desa Sembuluh I, Kecamatan Danau Sembuluh dan desa Asam Baru (Air Kuning), Kecamatan Hanau. Kabupaten Waringin Timur Salah satu jenis zirkon di wilayah ini teridentifikasi mempunyai titik lebur sekitar 2430 o C dan dimanfaatkan untuk bahan refraktori tinggi, sementara zirkon lainnya digunakan untuk pelapis dan perhiasan. Sebaran zirkon ditemukan di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Kecamatan Mentaya Hulu, teridentifikasi berada di dalam aluvium hasil rombakan terutama batuan sumber granit yang berasal dari bagian tepi Pegunungan Schwaner. Kedua jenis endapan placer yang disebut terakhir ini diperkirakan dapat ditemukan di bagian-bagian garis pantai dan laut dalam wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Secara geologi endapan pasir zircon dijumpai di formasi dahor dan aluvium. Lokasilokasi yang biasanya mengandung endapan pasir zircon tinggi adalah yang berada di dasar atau kanan/kiri sungai atau anak-anak sungai berupa endapan channel atau teras sungai. Sebelum pasir zirkon laku dijual, beberapa perusahaan tambang yang melakukan ekplorasi emas aluvial melaporkan bahwa pada saat mereka melakukan pendulangan dalam rangka mencari emas diperoleh konsentrat mineral berat rata-rata 5,6 kg/m 3 komposisinya seperti pada Tabel 3 [14] : Tabel 3. Komposisi sumberdaya zirkon Kalimantan Tengah No. Mineral DAS DAS DAS Katingan Kahayan Sekonyer 1 Zirkon (ZrSiO 4 ) 59,5 % 17,1 % 75,5 % 2 Ilmenite (FeTiO 2 ) 1,0 % 55,5 % 6,6 % 3 Leucoxene 32,5 % Magnetite - 12,1 %- 2,6 % 5 Garnet - 5,3 % - 6 Rutile (TiO 2 ) 4,7 % 1,3 % 6,5 % 7 Epidot - 2,6 % - 8 Sphene - 2,6 % - 9 Hornblende 0,9 % 2,4 % - 10 Spinel - 1,1 % - 11 Maghemite 0,7 % Tourmaline 0,5 % Pyrite (FeS 2 ) 0,2 % Kuarsa (SiO 4 ) _ - 8,8 % yang 23
24 Berdasarkan data tersebut serta data luasan wilayah eks pertambangan emas tanpa izin serta hasil-hasil perhitungan jumlah endapan pasir yang dilakukan oleh perusahaan yang melaksanakan kegiatan eksplorasi emas aluvial Tim Kalteng Mining mencoba menghitung sumberdaya pasir zirkon di Provinsi Kalimantan Tengah. yang hasilnya ditunjukkan pada Tabel 4 [14]. Tabel 4. Sumberdaya Hipotetik Zirkon Kalimantan Tengah No. Lokasi Volume Jumlah Sumberdaya Endapan (M 3 ) Konsentrat (ton) ZrSiO 4 (ton) 1 DAS S. Sekonyer , DAS S. Seruyan DAS S. Mentaya DAS S. Katingan DAS S. Rungan DAS S. Kahayan ,695 7 DAS S. Muroi DAS S. Kapuas Lain-lain Total Sumberdaya hipotetik ini adalah sumberdaya yang sifatnya minimal. Masih banyak wilayah-wilayah yang juga diketahui ada endapan zirkonnya tetapi masih belum masuk dalam perhitungan ini. Pulau Kalimantan merupakan salah satu wilayah deposit pasir zirkon yang cukup besar di Indonesia dengan cadangan pasir zirkon di provinsi Kalimantan Tengah sekitar ton [15]. Produksi Konsentrat Pasir Zirkon Tahun [16] Pada tahun 2008 produksi konsentrat pasir zirkon di Kalimantan Tengah yang terbanyak dihasilkan dari Kabupaten Katingan, disusul oleh Kabupaten Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kapuas, Gunung Mas dan Kota Palangka Raya. Produksi konsentrat pasir zircon tersebut mempunyai kecenderungan terus menurun. Penyebabnya diperkirakan adalah ada kebijakan pemerintah Provinsi yang tidak memberikan Izin Penambangan dan Pengolahan Bahan Galian (IP2BG) terhadap zirkon yang dihasilkan dari kawasan hutan yang belum dipinjam pakai. Produksi April - Juli 2010 nampak naik tetapi ini hanya karena adanya dispensasi pengangkutan terhadap barang-barang yang sudah terlanjur tergali. 24 Pada bulan September dispensasi pengangkutan dan penjualan untuk zirkon yang telah tergali dicabut oleh Gubernur
25 karena berdasarkan hasil pengecekan lapangan terhadap laporan data zirkon yang tergali ternyata tidak benar. Untuk memenuhi dispensasi yang diberikan oleh Gubernur para pengusaha ternyata menambang kembali sehingga pada bulan September 2010 dispensasi dicabut. Produksi pasir zirkon yang legal diperkirakan akan mulai kembali setelah draft revisi Rencana Tata Ruang dan Rencana Wilayah Penambangan (RTRWP) Kalimantan Tengah disetujui oleh Pemerintah Pusat. Diperkirakan tingkat produksi zirkon untuk tahun 2011 tidak sebanyak tahun 2008 karena kawasan APL di draft Revisi RTRWP yang disetujui Menteri Kehutanan lebih sedikit dibanding dengan RTRWP Provinsi Kalimantan Tengah Tahun Pada tahun 2010 walaupun catatan resmi di dinas teknis tekait produksi zirkon sangat kecil bahkan pada tahun 2011 tidak ada catatan produksi sama sekali, tetapi data ekspor zirkon dari Kalimantan Tengah tetap masih ada. Gambar 12. Produksi konsentrat zirkon bulanan berdasarkan kabupaten penghasil [16] 25
26 Gambar 13. Produksi konsentrat zirkon bulanan Kalimantan Tengah [16] Gambar 14. Produksi zirkon tahunan Kalimantan Tengah [16] Perusahaan yang telah mempunyai Kuasa Penambangan (KP) dan Izin Usaha Penambangan (IUP) di Provinsi Kalimantan Tengah sampai dengan Maret 2012 sebanyak 121 buah dengan kegiatan eksplorasi, eksploitasi, dan produksi seperti ditunjukkan pada Tabel 5 [16]. 26
27 Tabel 5. Perusahaan tambang zirkon di Kalimantan Tengah No Nama Perusahaan PT. TOYA MAS SEJAHTERA PT. INTI SINERGY INTERNATIONAL PT. BORNEO ALAM MAKMUR PT. PUTRA SANDINDO RAYA KOPERASI TUNAS BARU CV. CITRA INDAH MATAHARI CV. KOBAR PRIMA ZIRCON CV. TINGANG KUAI ABADI CV. KAHAYAN PERMAI CV. MEKAR BERSAMA PT. INDAH MULIA KERENG PANGI KOPERASI MANGGATANG PARAWEI KOPERASI AURAT PT. KECE PRATAMA SUKSES PT. WAJOK INTILESTARI MINERAL PT. KATINGAN JAYA PT. ANUGRAH BORNEO LESTARI CV. ELIAN INDOKALTENG CV. SENTRA MULIA MOTOR Luas Wilayah (Ha) Bentuk Izin 27 Kegiatan Penerbit Izin (Pusat/Prov/Kab/Kota) KP Eksploitasi Katingan 203 KP Eksploitasi Katingan 8200 KP Eksplorasi Katingan 5500 KP Eksplorasi G.Mas, P.Raya 100 IUP Produksi Kotawaringin Barat 4001 IUP Produksi Kota Palangkaraya 737 KP Eksplorasi Kotawaringin Barat 3085 IUP Produksi Kota Palangkaraya IUP Produksi Kota Palangkaraya 100 KP Eksploitasi Kotawaringin Timur 47.1 IUP Produksi Katingan 250 KP Eksploitasi Katingan 260 Kp Eksploitasi Katingan 250 IUP Produksi Katingan KP Eksploitasi Katingan 500 KP Eksploitasi Katingan 1000 KP Eksploitasi Katingan 2500 IUP Eksplorasi Kapuas 2961 KP Eksplorasi Kapuas
28 CV. IRVAN PRIMA PRATAMA PT. SEMANGAT BANGUN WIJAYA PT. ASIA SAHABAT INDONESIA PT. SUMBER SARANA KENCANA PT. GRAHA EQUITY INVSMENT CV. INVESTASI MANDIRI PT. TITI TAMBANG TANGGUH PT. MANTANGAI HARAKAT JAYA PT. DAYA GUMILANG LESTARI PT. SLICONIA SURYA MAKMUR PT. BORNEO MITRA MINING PT. BUMI SELARIS PT. SINAR KUSUMA KALIMANTAN PT. WAHANA SUMBER MAKMUR PT. INTERNASIOANL SAND INDONESIA PT. PASIR ANTERO KASONGAN PT. OLYMPIA ANUGRAH ABADI PT. SALUNDIK SAWANG 150 IUP Produksi Kotawaringin Barat 1000 KP Eksplorasi Kotawaringin Timur 5000 IUP Eksplorasi Kapuas 2500 IUP Eksplorasi Kapuas 5000 IUP Eksplorasi Kapuas 2032 IUP Produksi Gunung Mas 1000 KP Eksplorasi Kapuas IUP Eksplorasi Kapuas 150 KP Eksploitasi Kotawaringin Barat KP Eksplorasi Kotawaringin Timur 1000 KP Eksplorasi Kotawaringin Timur IUP Eksplorasi Gunung Mas KP Eksplorasi Gunung Mas IUP Eksplorasi Gunung Mas 1991 KP Eksplorasi Katingan KP Penyelidikan Katingan KP Eksplorasi Katingan 100 KP Eksploitasi Katingan 28
29 CV. MEKAR BERSAMA 50 KP Eksploitasi Katingan PT. AL AMIN BERSAMA KP Eksploitasi Katingan PT. BORNEO LINTAS SERAWAK KP Eksploitasi Katingan PT. ENNOIDA JAYA 3500 IUP Produksi Kota Palangkaraya 42 CV. LISBETH 2002 IUP Produksi Kota Palangkaraya 43 PT. KARYA DENAI AMBOKO 3011 IUP Produksi Kota Palangkaraya 44 PT. UNI GERBANG INTERZONA 3093 KP Eksplorasi Barito Utara 45 PT. BUMI MAS SEJAHTERA 2529 IUP Eksplorasi Gunung Mas 46 PT. SUMBER KENCANA BUMI KAYA 4000 IUP Produksi Kapuas 47 PT. KALIMANTAN MINING JAYA 4400 IUP Eksplorasi Kapuas 48 CV. GITA KARUNIA IUP Eksplorasi Gunung Mas 49 CV. KATINGAN MULIA PRATAMA 70 KP Eksploitasi Katingan 50 PT. LUBUK KATINGAN PERDANA 23 KP Eksploitasi Katingan 51 CV. SURYA KEMILAU PERKASA 197 IUP Produksi Kotawaringin Barat 52 PT. ZIRCON INDONESIA 800 IUP Produksi Seruyan 53 PT. MEGA TISMA PERKASA KP Eksploitasi Katingan 54 PT. UNIVERSAL SATINDO NUSANTARA 3000 IUP Eksplorasi Kapuas 55 CV. TAKINDO ARTHA PRATAMA 5000 IUP Produksi Kapuas 56 PT. MURUI JAYA PERDANA 1136 IUP Produksi Kapuas 57 PT. PUJON SUMBER ARTHA IUP Eksplorasi Kapuas 29
30 PT. DAYAK MEMBANGUN PRATAMA 1350 KP Eksplorasi Gunung Mas PT. ILLUMINE ZIRKON INDONESIA 7104 KP Eksplorasi Gunung Mas PT. MAHKOTA GELAM MULIA 5000 KP Eksplorasi Gunung Mas PT. PRIMA ENERGI NUSANTARA KP Eksplorasi Kotim dan Seruyan PT. SARI BUMI KATINGAN 250 KP Eksploitasi Katingan PT. CAKRA EKACEMERLANG 3410 IUP Eksplorasi Kapuas PT. CAKRAWALA KUMALA JAYA 3000 IUP Produksi Kapuas PT. KATUNJUNG ADI PERDANA TIMBER 5000 IUP Produksi Kapuas PT. EXIMART INDONESIA SEJAHTERA 4500 IUP Produksi Kapuas PT. AGUNG BOGOR PERKASA KP Eksplorasi Barito Utara PT. INTI BUMI KATINGAN 100 KP Eksploitasi Katingan PT. KATINGAN INMAS SARANA 200 KP Eksploitasi Katingan PT. KATINGAN DHARMA UTAMA KP Eksploitasi Katingan 71 CV. ANDA 80 KP Eksploitasi Katingan 72 CV. MULTIKO 100 KP Eksplorasi Katingan 73 PT. DANAU PERMATA MINING 2500 IUP Eksplorasi Seruyan 74 PT. RAHAYU SEJAHTERA 2500 IUP Eksplorasi Gunung Mas 75 PT. BUMI INDAH KAYA ABADI 3000 KP Eksplorasi Gunung Mas 76 PT. BUMI KENCANA SENTOSA 3500 IUP Produksi Kapuas 77 PT. GUNUNG MAS MEKAR PERSADA KP Eksplorasi Kapuas 78 CV. SUMBER IUP Eksplorasi Kapuas 30
31 MINERAL UTAMA 79 PT. 3R MAJU 5000 KP Eksplorasi Kapuas 80 KOPERASI SAHAY MAKMUR 25 KP Eksploitasi Pulang Pisau 81 PT. GAYACITRA MULIA PRATAMA 500 KP Eksploitasi Katingan 82 PT. KATINGAN SUBUR SEJAHTERA 2597 KP Eksplorasi Katingan 83 PT. KATINGAN KURNIA SELARAS 7145 KP Eksplorasi Katingan 84 PT. KATINGAN PRIMA SENTOSA 188 KP Eksploitasi Katingan 85 PT. SAHEROI MINERAL PERKASA 2430 KP Eksplorasi Gunung Mas 86 PT. GAWI TARUNG BASEWUT KP Eksplorasi Katingan 87 PT. TISMA GLOBAL NUSANTARA 1500 IUP Eksplorasi Katingan 88 PT. SUMBER KATINGAN MINERAL MAKMUR KP Eksploitasi Katingan 89 PT. KASONGAN MINING MINERAL KP Eksplorasi Katingan 90 PT. BRAMANTIO PUTERA PRATAMA 1655 KP Eksplorasi Katingan 91 PT. BUMI KENCANA SENTOSA 1500 KP Eksplorasi Pulang Pisau 92 PT. CODRA KURNIA AGRIBINDO 882 IUP Produksi Kotawaringin Timur 93 CV. TUNAS ARTHA PRATAMA 100 IUP Produksi Katingan 94 PT. TUNAS ARTHA PERKASA IUP Produksi Gunung Mas 95 PT. FIBER KAKEN INDONESIA 2271 KP Eksplorasi Gunung Mas 96 PT. GRAHA IUP Produksi Katingan 31
32 JANGKARAN MINERAL CV. BERKAT RUNGAN SEJAHTERA 1054 KP Eksplorasi Gunung Mas PT. COALINDO LESTARI PRATAMA 5000 IUP Eksplorasi Kapuas PT. SAMUDERA KENCANA BERLIAN 1700 IUP Eksplorasi Kapuas PT. TAKARAS INTILESTARI 1257 IUP Produksi Kota Palangkaraya CV. KATINGAN SEJAHTERA 50 KP Eksploitasi Katingan PT. KARBALA BUANA JAYA 782 IUP Produksi Katingan PT. AIR KUNING ZIRCON 400 IUP Eksplorasi Seruyan CV. WARINGIN JAYA RAYA 250 IUP Produksi Seruyan PT. PUTRA SANDINDO RAYA 1407 IUP Produksi Kotawaringin Barat 106 PT. ZIRKONIA 870 IUP Produksi Kotawaringin Barat 107 CV. HARAPAN MANDIRI 150 IUP Produksi Kotawaringin Barat 108 CV. USAHA MAJU 20 IUP Produksi Kotawaringin Barat 109 PT. JAWA INDAH INDO UTAMA 150 IUP Produksi Kotawaringin Barat 110 PT. TATANAN INDAH FAJAR CEMERLANG 1107 IUP Eksplorasi Kotawaringin Barat 111 PT. MANDOR UTAMA MINERAL 2562 IUP Eksplorasi Kotawaringin Barat 112 PT. PRIMA UTAMA MINERAL 1265 IUP Eksplorasi Kotawaringin Barat 113 PT. REZEKI SUKSES 2000 IUP Eksplorasi Kapuas 114 PT. TALENTA PUJON LESTARI 5714 IUP Eksplorasi Kapuas 115 PT. MANEN BUMI ALGHA 7012 IUP Eksplorasi Kota Palangkaraya 116 CV. TRIJAYA BERSAMA 2130 IUP Eksplorasi Kota Palangkaraya 117 PT. MARUCHI 7559 IUP Eksplorasi Kota Palangkaraya 32
33 118 PT. ARACHI 2103 IUP Eksplorasi Kota Palangkaraya 119 PT. SAROHA MITRA PERKASA 2072 IUP Eksplorasi Kota Palangkaraya 120 PT. PUTRI PANDANSARI 2792 IUP Eksplorasi Kota Palangkaraya 121 PT. SWADAYA PERKASA UTAMA 2059 IUP Eksplorasi Kota Palangkaraya Sumber: Distamben Provinsi Kalteng, update: Maret 2012 Sampai dengan saat ini di Indonesia belum terdapat pemegang IUP atau KP zirkon yang mengolah konsentrat zirkon menjadi produk zirkon setengah jadi seperti, ZOC, ZOS, ZBS, ZBC, ZOH, dan zirkonia. Dengan diberlakukan Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2012 tanggal 6 Februari 2012 dan larangan ekspor bijih zirkon dan konsentrat zirkon oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam surat nomor S-377/BC/2012 tertanggal 4 Mei 2012, maka otomatis seluruh pemegang IUP dan KP zirkon akan kesulitan untuk dapat mengikuti peraturan tersebut. Untuk itu diperlukan suatu upaya kolaborasi yang cepat dan tepat dengan melibatkan para pengusaha penambangan, lembaga litbang, dan otoritas finansial untuk dapat segera merealisasikan tahapan pendirian pabrik pengolahan konsentrat zirkon menjadi beberapa produk zirkonium setengah jadi di dalam negeri. Tahap awal yang dapat dilakukan oleh pemegang IUP dan KP zirkon adalah kerjasama dengan lembaga litbang atau perguruan tinggi untuk membuat rencana kerja dalam pengolahan dan/ atau pemurnian mineral pasir zirkon di dalam negeri sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Permen ESDM No. 11/2012 Pasal 21 A ayat (2) butir c. 3. Aspek Pasar 3.1. Aplikasi Zirkon Pengguna akhir zirkon yang terbesar adalah sebagai opacifier dalam pembuatan produk berbasis keramik seperti ubin, peralatan sanitasi dan peralatan makan. Salah satu sektor yang berkembang pesat dalam penggunaan zirkon adalah produksi zirkonia, kimia zirkonium dan logam berbasis zirkonium. Beberapa senyawa tersebut mempunyai sifat yang berbeda sehingga cocok untuk aplikasi industri dan kimia yang beragam. Pasar utama pengguna akhir lainnya untuk zirkon lainnya adalah refraktori, pengecoran, dan kaca cathode ray tube (CRT) atau tabung kaca televisi [17]. 33
34 Keramik Aplikasi zirkon pada keramik termasuk pembuatan ubin lantai dan dinding, peralatan sanitasi dan peralatan makan. Aplikasi zirkon dalam industri keramik digunakan sebagai opacifier dalam glasir dan frit buram (sejenis gelas keramik ditambahkan pada glasir untuk ketahanan air, abrasi dan kimia), dan sebagai pemutih di ubin porselen. Glasir biasanya berbasis silika gelas sebagai pelapis yang menutupi bodi keramik supaya tahan abrasi, tahan air dan tahan bahan kimia. Zirkon opacifier ditambahkan pada glasir untuk menutupi warna dasar tubuh tanah liat keramik. Zirkon merupakan opacifier efektif karena mempunyai indeks bias tinggi. Kristal zirkon yang digiling halus dapat menyebarkan semua panjang gelombang cahaya tampak sehingga hasil pembuatan keramik tampak putih. Suatu opacifier efektif memiliki indeks bias yang sangat berbeda dari media dimana ia dilapiskan. Perbedaan indeks bias partikel zirkon (1,96) dan bahan kaca (~ 1,5) dalam refleksi dan refraksi cahaya pada hasil glasir. Zirkon memiliki manfaat tambahan karena kekerasannya yang tinggi (7,5 dalam skala Mohs) sehingga tahan terhadap goresan dan kerusakan mekanis. Zirkon yang paling banyak digunakan dalam keramik dikonsumsi oleh produsen ubin dalam bentuk konsentrat pasir zirkon yang digiling halus dalam ukuran sekitar 1,5 mikron. Persentase pemakaian zircon opacifier pada tahun 2010 sebanyak ton yang digunakan untuk ubin (tile) sekitar 85 % dan 15% digunakan untuk perangkat sanitasi, meja, dan lainnya [17]. Pengecoran logam Zirkon dapat digunakan sebagai bahan untuk pengecoran logam. Hal ini dikarenakan karakteristiknya antara lain: konduktivitas termal rendah, titik lebur tinggi, merupakan unsur kimia yang stabil, tidak mudah cair pada leburan metal maupun logam campuran, membentuk permukaan halus pada lapisan metal maupun logam campuran [17]. Konsumsi pasir zircon dalam industri pengecoran logam pada tahun 2010 sekitar ton dengan distribusi pemakaian 67% untuk sand casting, 29% untuk investment casting, dan 4% untuk cosworth casting [17]. Refraktori atau penahan panas Zirkon digunakan sebagai material penahan panas karena karakteristiknya yang memiliki titik lebur tinggi 2250 o C, kestabilan kimia, dan kekuatan mekanik (dalam skala Mohs kira-kira 7,5). Campuran zirkon dan alumina zirconia silica (AZS) memiliki 34
35 resistan terhadap leburan gelas, sehingga banyak digunakan sebagai material refraktori pada industri gelas [18]. Konsumsi konsentrat pasir zirkon dalam industri refraktori pada tahun 2010 sekitar ton dengan distribusi pemakaian 55% untuk alumina-zirkonia-silika (AZS) yang jumlahnya 80% untuk refraktori industri gelas, 25% untuk refraktori lain (gelas, baja, industri semen), dan 10% untuk produk refraktori zirkon tertutama penggunaan akhir industri baja [17]. Abrasif Abrasif merupakan salah satu bentuk aplikasi zirkonia paling banyak. Zirkonia dicampur dengan aluminium membentuk abrasif alumina zirkonia. Kandungan zirkonia sekitar 25-40% [18]. Produk zirkonium yang umumnya digunakan sebagai abrasif adalah aluminazirkonia. Abrasif jenis ini ada dua kelompok, tergantung prosentase zirkonia yang digunakan, yaitu : AZ-abrasif (25% zirkonia), terutama digunakan dalam hubungannya dengan pengerjaan bahan-bahan yang berasal dari logam, seperti steel billet, automotif, dan lain-lain. NZ-abrasif (40% zirkonia), di pasaran NZ-abrasif ada dua jenis, yaitu E347 (bonded abrasive) dan E349 (coated abrasive). Terutama digunakan sebagai mata (bit) pada mesin pemotong untuk batu hias (marmer dan granit) dan sebagai bola penggerus (grinding wheel). Sebagai abrasif, pasir zirkon dapat juga digunakan secara langsung, yaitu sebagai sandblast menggantikan fungsi pasir kuarsa. Sensor oksigen Salah satu contoh penggunaan sensor oksigen adalah sebagai sensor gas pembuangan yang biasanya terdiri dari tabung zirkonia dan poros yang berupa elektroda platinum pada permukaan dalam dan luarnya. Alat ini bekerja untuk mengatur aliran campuran gasbahan bakar yang masuk ke dalam mesin dengan proses siklus tertutup yang dikontrol oleh zirkonia sebagai sensor elektrokimia [18]. Zirkonia Fused Zirkonia fused merupakan produk zirkonium dengan kualitas kimia yang lebih rendah daripada yang dihasilkan oleh metode pengolahan kimia. Zirkonia fused digunakan dalam volume yang lebih tinggi atau segmen nilai pasar yang lebih rendah dari refraktori, 35
36 abrasif dan pigmen keramik. Untuk memproduksi zirkonia kimia dilakukan dengan biaya proses yang relatif tinggi, karena itu digunakan dalam nilai yang lebih tinggi atau volume pemakaian yang lebih rendah, seperti katalis yang digunakan dalam sistem pembuangan otomotif untuk mengontrol emisi gas buang, papan sirkuit elektronik, dan perangkat penginderaan piezoelektrik. Pada keramik maju, zirkonia kimia yang dihasilkan digunakan secara eksklusif pada produksi alat pemotong dengan tepi yang tajam, bagian pompa dengan intensitas pemakaian yang tinggi. Penggunaan zirkonia kimia yang dihasilkan meningkat dalam industri telekomunikasi untuk ferrules untuk kabel serat optik. Keuntungannya adalah bahwa dengan serbuk zirkonia yang halus menghasilkan permukaan halus yang penting untuk mencapai kinerja konektivitas yang tinggi, dengan koefisien ekspansi termal zirkonia menutupi serat optik. Zirkonia juga mempunyai kualitas elastisitas dan ketahanan fisik [17]. ZOC untuk Kimia Zirkonium Zirkonium oksiklorida (ZOC) dapat diproses lebih lanjut untuk membentuk beberapa bahan kimia zirkonium, khususnya untuk produksi zirkonia dan logam zirkonium. Cina mendominasi produksi global ZOC dengan sekitar 95 persen kapasitas produksi global. Di Cina, pasar terbesar ZOC domestik digunakan dalam pigmen keramik. Bahan kimia zirkonium digunakan dalam berbagai aplikasi penggunaan manufaktur dan akhir, yang meliputi pelapis kertas, pengering, antiperspirant, percetakan tinta, cat dan katalis [17]. Senyawa zirkon BZC, ZBS, ZOC, BZC-NH 4 digunakan sebagai pelarut alkid sebagai pengering cat [18]. Zirkonia digunakan dalam sistem pembuangan gas sebagai katalis konversi, yaitu mengkonversi gas beracun menjadi gas-gas yang ramah lingkungan [18]. Konsumsi zirkon dalam zirkonia fused dan kimia zirkonium pada tahun 2010 mencapai ton. Distribusi pemakaian zirkon dalam zirkonia fused: 31% untuk zirkonia dan refraktori pada industri baja, 25% untuk pigmen keramik, 7% untuk abrasif, dan 1% untuk elektronik. Sedangkan disktribusi pemakaian zirkon dalam kimia: 42% untuk gemstones dan keramik teknis, 21% untuk logam nuklir, 13% untuk pelapis TiO 2, 9% untuk kosmetik, 9% untuk pelapis kertas, 4% untuk pengering cat, 2% lainnya [17]. Logam Zirkonium Salah satu aplikasi utama untuk logam zirkonium sebagai bahan struktural dalam industri pengolahan kimia. Logam zirkonium menunjukkan ketahanan yang sangat baik 36
37 terhadap korosi dalam kebanyakan asam organik dan anorganik, larutan garam, alkali kuat dan beberapa garam cair. Dalam industri kimia logam zirkonium digunakan pada penukar panas, reboiler, evaporator, tangki, bejana reaktor, pompa, katup dan pemipaan. Penggunaan utama lainnya dari logam zirkonium adalah untuk bahan struktural yang digunakan dalam inti reaktor nuklir. Logam zirkonium digunakan untuk menyimpan pelet bahan bakar uranium (bundel bahan bakar) karena penampang penyerapan neutron termal yang rendah, yang mengacu pada kemampuan bahan untuk menyerap neutron termal. Semakin rendah penyerapan neutron termal, semakin besar efisiensi reaktor nuklir. Dalam hal ini, logam zirkonium adalah bahan yang sangat baik [17]. CRT Kaca Sinar katoda tabung atau cathode ray tube (CRT) menghasilkan sinar-x yang harus dilemahkan untuk mengurangi risiko efek kesehatan radiasi eksternal, terutama kanker. Zirkon di kaca CRT bertindak efektif menyerap sinar-x dan memiliki manfaat tambahan untuk meningkatkan kekuatan dan kekerasan kaca. Sementara penggunaan zirkon dalam aplikasi akhir-akhir ini mengalami penurunan karena penggantian kaca CRT pada televisi dan monitor komputer dengan monitor LCD dan plasma, zirkon digunakan dalam layar plasma untuk memungkinkan pembuatan lembaran kaca dengan tampilan yang lebih tipis dan dimensi yang lebih besar [17]. Penggunaan Zircon Untuk Reaktor Nuklir [19] Sifat-sifat Nuklir dari Zirconium Sifat nuklir yang paling berharga dari Zr adalah tampang lintang serapan neutronnya sehingga digunakan dalam reaktor termal. Penggunaan Zr dalam reaktor nuklir menuntut tingkat kemurnian yang tinggi terutama dari unsur-unsur yang mempunyai tampang lintang serapan neutron yang besar. Untuk itu dibutuhkan pengendalian kualitas yang ekstra hatihati di semua tahapan produksi dan fabrikasinya. Selain itu, Zr memperlihatkan radioaktivitas yang relatif rendah setelah diiradiasi di reaktor. Zirkonium mumi mempunyai nomor atom 40, berat atom dalam skala kimia adalah 91,22 dan mempunyai lima isotop yaitu 90, 91, 92, 94 dan 96. Zr mempunyai tampang lintang serapan untuk neutron dengan kecepatan standar (2200 m/detik) sebesar 0,18 ± 0,02 bam dan tampang lintang hamburannya adalah 8 ± 1 bam. Ketidakpastian sebesar 0,02 mencerminkan terbatasnya jumlah data dan kesulitan dalam memproduksi isotopisotop mumi dalam jumlah yang memadai untuk pengukuran yang akurat. Tampang 37
38 lintang serapan ini sangat rendah bila dibandingkan dengan logam-logam transisi lain seperti besi, nikel dan tembaga dengan tampang lintang berturut-turut sebesar 2,43 bam, 4,5 bam dan 3,52 bam. Tetapi harga ini tidak berbeda jauh untuk logam yang telah terlebih dahulu digunakan dalam reaktor nuklir seperti aluminium dan magnesium dengan tampang lintang masing-masing sebesar 0,215 dan 0,059 bam. Sifat-sifat Lain dari Zirconium Sifat lain dari Zr adalah berkenaan dengan keberadaannya di alam. Semua bijih Zr mengandung Hafnium sekitar 1-3%. Secara kimiawi, Zr dan Hf mempunyai sifat yang sangat mirip sehingga tidak dapat dipisahkan dengan proses reduksi yang umum, tetapi secara nuklir sifat keduanya sangat jauh berbeda. Hafnium mempunyai tampang lintang serapan neutron yang sangat tinggi yaitu 115 bam dan keberadaannya tidak diinginkan dalam produksi Zr mumi. Dalam produksi Zr dengan kualitas rata-rata, kandungan Hf dapat meningkatkan tampang lintang serapan neutron Zr sampai sekitar 1 bam. Untuk produksi Zr skala reaktor, diperlukan tahapan pemisahan Hf sehingga kandungannya dapat ditekan serendah mungkin sampai sekitar 0,01% (100 ppm). Angka tersebut memberikan kontribusi yang sangat kecil dalam tampang lintang serapan tambahan. Selain Hf, impuritis lain dengan sifat nuklir yang hampir sarna dengan Hf seperti Boron dan Kadmium yang terkandung dalam Zr harus dijaga dalam jumlah yang sangat kecil. Demikian pula untuk unsur-unsur lain dengan tampang lintang lebih kecil dari 5 bam, toleransi yang diberikan untuk kandungan pengotor tersebut adalah 0,1%. Sifat-sifat Non Nuklir yang Diinginkan dari Zirkonium Sifat non nuklir dari Zr yang sangat berkontribusi terhadap Zr sebagai bahan berharga dalam reaktor nuklir adalah sifat tahan korosi yang sangat baik dan sifat mekanik yang memadai. Sejak awal pengembangannya sebagai bahan struktur dalam Submarine Thermal Reactor (STR) yang membutuhkan sifat tahan korosi yang lebih besar, Zr telah mengungguli Al yang telah lebih dulu digunakan. Sifat tahan korosi Zr ini dapat melayani kondisi yang mungkin terjadi dalam pengoperasian reaktor dalam kisaran yang lebar. Peningkatan sifat tahan korosi dalam reaktor nuklir suhu tinggi berpendingin air akan meningkatkan laju perpindahan panas dan efisiensi produksi tenaga. Selain itu, sifat mekanik yang umum yang dibutuhkan pada bahan struktur di reaktor seperti mampu fabrikasi yang baik, kekuatan dan keuletan pada suhu operasi yang 38
39 memadai dan ketahanan yang tinggi terhadap distorsi termal juga dimiliki oleh Zr. Untuk sifat mekanik yang dipengaruhi oleh panas seperti thermal stress yang dialami bahan dalam reaktor dapat dihitung dengan pendekatan teori elastisitas berupa perbandingan modulus E σ /k. Koefisien ekspansi ( σ ) dan modulus elastisitas (E) dari Zr yang rendah mampu mengimbangi konduktivitas panasnya (k) yang relatif rendah sehingga E σ /k untuk Zr lebih baik dari baja. Untuk persyaratan dalam industri, walaupun dapat dipenuhi oleh logam Zr mumi tapi riset metalurgis terus mengembangkan Zr agar memberikan kinerja yang lebih baik seperti kekuatan fatik dan kekuatan mulur melalui pemaduan dengan unsur tertentu dan perlakuan panas. Estimasi produksi konsentrat pasir zirkon di dunia yang dihasilkan oleh beberapa negara pada tahun 2006 s/d 2010 dalam metrik ton ditunjukkan pada Tabel 6 [20]. Tabel 6. Estimasi produksi konsentrat pasir zirkon di dunia (metrik ton) Negara Australia 492, , , , ,000 South Africa 435, , , , ,000 China 135, , , , ,000 Indonesia 65, ,000 65,000 63,000 50,000 India 28,000 29,000 30,000 37,000 38,000 Ukraine 27,000 37,000 36,000 31,000 30,000 Mozambique -- 26,347 32,985 19,101 37,100 Vietnam 26,100 22,000 22,000 7,000 7,000 Brazil 25,120 26,739 17,682 18,134 18,150 Rusia 7,500 7,136 7,000 5,000 6,000 Malaysia 1,690 7, ,145 1,300 United States W W W W W Total 1,240,000 1,410,000 1,310,000 1,180,000 1,250,000 Indonesia berkontribusi nomor 4 pada pasar konsentrat zirkon ke China pada tahun 2007 seperti ditunjukkan pada Tabel 7 [21]. 39
40 Tabel 7. Kontribusi beberapa negara terhadap pasar konsentrat zirkon ke China Negara Kapasitas (ton) Persen Australia ,38% Afrika Utara ,08% USA ,85% Indonesia ,69% China ,54% Negara-negara lain ,46% Ekskalasi konsumsi dan produksi zirkonium di dunia pada tahun 1990 sampai dengan 2020 ditunjukkan pada Gambar 15 [12]. Gambar 15. Konsumsi dan produksi zirkonium Gambar 15 menunjukkan bahwa sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2006 konsumsi zirkonium dunia semakin meningkat, dan menurun sampai dengan tahun Kemudian dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2020 diprediksi meningkat cukup tajam. Mulai tahun 2012 sampai dengan tahun 2020 kemungkinan akan ada proyek baru sehingga produksi zirkonium yang ada sekarang akan turun sampai dengan tahun Karena konsumsi produk zirkonium diprediksi mulai tahun 2012 sampai dengan tahun 2020 cukup tajam, maka terjadi kekurangan persediaan produk zirkonium setengah jadi. Kekurangan persedian produk zirkonium setengah jadi ini membuka peluang bisnis untuk mendirikan 40
41 pabrik pengolahan pasir zirkon menjadi produk zirkonium setengah jadi atau biasa disebut zirconium chemicals seperti zironium oxychloride (ZOC), zirconium sulphate (ZOS), zirconium basic sulphate (ZBS), zirconium basic carbonate (ZBC), dan zirconia (ZrO 2 ) di Indonesia. Kapasitas produk zirkonium seperti zircon opacifier, ZOC, ZOS, ZBS, ZBC, ZrO 2, dan lain-lain dengan berbagai kegunaan di dunia ditunjukkan pada Tabel 8 [22]. Tabel 8. Kapasitas produksi dan kegunaan produk zirkonium di dunia 41
42 Tabel 8 menunjukkan bahwa kapasitas produksi terbesar produk zirkonium di dunia saat ini adalah konsentrat pasir zirkon (ZrSiO 4 ) untuk opacifier keramik dengan kapasitas produksi 1,1 juta ton, kemudian disusul dengan zirconium oxychloride (ZOC) dengan kapasitas produksi 0,08 juta ton, zirconium oxide (ZrO 2 ) dengan kapasitas produksi 0,045 juta ton, zirconium basic sulphate (ZBS) dengan kapasitas produksi 0,025 juta ton, zirconium basic carbonate (ZBC) dengan kapasitas produksi 0,025 juta ton. Kapasitas produksi produk zirkonium silikat yang didominasi untuk opacifier atau glasir pada peningkatan kualitas lantai keramik, keramik sanitair, keramik perkakas rumah tangga pada Tabel 8 adalah sesuai dengan dominasi konsumsi produk zirkonium untuk keramik sampai dengan tahun 2015 seperti ditunjukkan pada Gambar 16 [23]. Gambar 16. Konsumsi zirkon untuk penggunaan akhir antara 1990 and 2015 Produk zirkonium terutama zircon opacifier sebagai glaze dan bahan penambah kualitas produk keramik mempunyai prospek pangsa pasar di dalam negeri untuk industri keramik yang didukung dengan data bahwa Indonesia pada tahun 2007 merupakan produsen keramik nomor 5 di dunia. Untuk lima tahun ke depan diharapkan Indonesia dapat meningkatkan pasarnya di dalam dan luar negeri sebesar 50-80%. Hal ini sangat dimungkinkan karena Indonesia kaya akan bahan baku keramik. Menurut road map industri keramik 2007 dan 2015 yang dilansir oleh Kadin (2010) memperlihatkan bahwa volume dan nilai jual produk keramik untuk konsumsi domestik dan ekspor keramik ditunjukkan pada Tabel 9 [24]. 42
43 Tabel 9. Road map industri keramik 2007 dan 2015 Hingga Maret 2010, ekspor produk keramik yang mengalami peningkatan cukup signifikan adalah ceramic wares for laboratory, chemical or aother than technical uses (HS ) sebesar 78,7% dibandingkan nilai ekspornya pada tahun Disamping itu ceramic tableware and kitchen ware juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar 82,8% dibandingkan ekspornya tahun Kedua jenis keramik ini mempunyai daya saing yang relatif baik di pasar global sehingga Indonesia mampu meningkatkan pangsa pasarnya di dunia. Jumlah industri keramik di Indonesia pada tahun 2008 sebanyak 9 perusahaan dan menyerap tenaga kerja sebanyak orang. Sentra produksi keramik di Indonesia terdapat di daerah Jakarta, Banten (Serang dan Tangerang), Jawa Bara (Bekasi, Bogor, Majalengka, Cirebon, Banjar dan Indramayu), Jawa Tengah (Semarang), Jawa Timur (Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Tulung Agung, dan Malang), Belitung serta Kalimantan Barat. Produk keramik dari beberapa sentra keramik tersebut sebagian diekspor dengan nilai ekspor seperti ditunjukkan pada Tabel 10 [25]. 43
44 Tabel 10. Ekspor produk keramik, Negara tujuan ekspor keramik Indonesia tahun 2009 adalah Amerika Serikat dengan pangsa mencapai 18,8% (US$ 50,3 juta) diikuti Korea Selatan 8,0% atau US$ 21,3 juta. Jepang pangsanya mencapai 8,0% atau US$ 19,5 juta, dan Malaysia sebesar 5,5% dengan nilai US$ 18,4 juta. Berdasarkan pada jumlah negara pengimpor produk keramik dari Indonesia meningkat dari 158 negara menjadi 166 negara, dengan demikian diversifikasi pasar produk keramik sudah menunjukkan ke arah pasar yang semakin baik. Pesaing utama Indonesia untuk ekspor produk keramik seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 13 berikut adalah China dengan nilai ekspor pada tahun 2009 mencapai US$ 8 milyar, setara 30 kali lebih tinggi dari nilai ekspor keramik Indonesia pada periode yang sama. Pertumbuhan ekpor keramik dari China juga menunjukkan pertumbuhan yang sangat fantastik yaitu sebesar 18% per tahun selain China, 3 negara besar pesaing utama Indonesia dalam ekspor produk keramik adalah Itali, Jerman dan Spanyol dengan pertumbuhan ekspor masing-masing sebesar 5%, 12% dan 8% per tahun [24]. 44
45 Gambar 17. Pesaing Indonesia untuk produk keramik di pasar dunia Berdasarkan data deposit bahan baku lempung/tanah liat, kaolin, feldspar, fritz, pasir silika di berbagai wilayah Indonesia, maka Kementerian Perindustrian telah menetapkan lokasi pengembangan industri keramik seperti ditunjukkan pada Gambar 18 [25]. Gambar 18. Lokasi pengembangan industri keramik Mulai dari eksploitasi bahan baku, proses produksi, pemasaran produk keramik 45
46 diperlukan kerangka keterkaitan pengembangan industri keramik seperti Gambar 19 [25]. Gambar 19. Kerangka keterkaitan pengembangan industri keramik [25] Dimulai dari penyediaan energi (gas), bahan baku, kemampuan teknologi proses, standarisasi produk, pengembangan pasar, dan peningkatan kompetensi SDM untuk pengembangan industri keramik perlu peran pemangku kepentingan seperti Tabel 11 [25]. 46
47 Tabel 11. Peran pemangku kepentingan dalam pengembangan industri keramik 1.2. Harga Produk Zirkonium Untuk menentukan analisis ekonomi pada studi kelayakan pabrik pengolahan konsentrat pasir zirkon menjadi menjadi zircon opacifier, zirconium chemicals seperti zironium oxychloride (ZOC), zirconium sulphate (ZOS), zirconium basic sulphate (ZBS), zirconium basic carbonate (ZBC), zirconia (ZrO 2 ) diperlukan data harga produk zirkonium. Harga zircon opacifier pada kuartal I tahun 2012 sekitar USD 2600/ton. Permintaan pasir zirkon premium dari Australia mengalami perlambatan sehingga konsumen mencari sumber-sumber alternatif, termasuk Afrika Barat dan Indonesia. Harga untuk pasir zirkon dari negara-negara tersebut saat ini sekitar USD 2600/ton dibandingkan dengan harga pasir zirkon Australia sebesar USD /ton FOB di pelabuhan China seperti ditunjukkan pada Gambar 20 [26] : 47
48 Gambar 20. Perkembangan harga pasir zirkon di pelabuhan China [10] Prediksi harga produk zirkonium di luar negeri dapat didekati dengan harga produk zirkonium derajat industri yang dihasilkan oleh Dubbo Zirconia Project (DZP) di New South Wales Australia pada kuartal 2 tahun 2010, kuartal 2, 3, 4 tahun 2011 seperti ditunjukkan pada Tabel 12 [12, 27]. Tabel 12. Harga produk zirkonium derajat industri Harga beberapa produk zirkonium kualitas pure analysis (PA) untuk keperluan penelitian dan kualitas teknis untuk keperluan industri produksi Noah Technologies Corporation Texas ditunjukkan pada Tabel 13 sebagai berikut [28] : 48
49 No. Tabel 13. Harga produk zirkonium dari Noah Technologies Corporation Produk Zr 1 Zirkonil klorid (ZOC), 51.2% solution, dengan kemurnian 99,9% ZrOCl 2.8H 2 O 2 Zirkonium oksiklorid oktahidrat ukuran 4 mesh dengan kemurnian 99,9% ZrOCl 2.8H 2 O 3 Zirkonium silikat dengan kemurnian 99% ZrSiO 4 4 Zirkonium sulfat serbuk kristalin dengan kemurnian 99,5% Zr(SO 4 ) 2.4H 2 O 5 Zirkonium basic karbonat cake dengan kemurnian 99,5% Zr 2 CO 3 (OH 2 )O 2.xH 2 O 6 Zirkonium basic sulfat cake dengan kemurnian 99,5% ZrO(OH) 0.8 (SO 4 ) 0.6.xH 2 O 7 Zirkonium hidroksida serbuk 50 mesh dengan kemurnian 99% Zr(OH) 4.xH 2 O dan kandungan Zr 32% 8 Zirkonium metal granular sponge ukuran 1 12 mm dengan kemurnian 99,8% 9 Zirkonium metal serbuk ukuran 325 mesh dengan kemurnian 99,7% Harga produk Zr dengan kualitas Pure Analysis Teknis Kemasan Harga, US$ Kemasan Harga, US$ 50 g g kg g 1 kg 5 kg 1 kg 5 kg 25 kg 250 g 1 kg 5 kg 1 kg 5 kg 25 kg 1 kg 5 kg 25 kg 250 g 1 kg 5 kg 50 g 250 g 1 kg 50 g 250 g 1 kg , , kg 250 kg 1000 kg 250 kg 1000 kg 5000 kg 50 kg 250 kg 1000 kg 250 kg 1000 kg 5000 kg 250 kg 1000 kg 2500 kg 50 kg 250 kg 1000 kg /kg 30.60/kg 28.20/kg 29.02/kg 25.54/kg 23.50/kg 22.82/kg 20.09/kg 17.68/kg 12.20/kg 10.74/kg 9.88/kg 31.76/kg 27.95/kg 25.72/kg kg 50 kg 200 kg /kg /kg /kg 49
50 10 Zirkonium metal serbuk ukuran 50 mesh dengan kemurnian 99,8% 50 g 250 g 1 kg kg 25 kg 100 kg /kg /kg /kg 11 Zirkonia serbuk ukuran mesh dengan kemurnian 99% ZrO g 500 g 2,5 kg kg 100 kg 500 kg 62.50//kg 53.80/kg 40.10/kg 12 Zirkonia serbuk ukuran 325 mesh dengan kemurnian 99% ZrO 2 dan kadar Hf < 2 % 1 kg 5 kg 25 kg kg 1000 kg 5000 kg 17.25//kg 15.88/kg 14.60/kg 13 Zirkonia serbuk ukuran 325 mesh + 10 mikron dengan kemurnian 99% ZrO 2 dan kadar Hf < 2 % 100 g 500 g 2,5 kg kg 100 kg 500 kg 62.50//kg 55.20/kg 51.10/kg 14 Zirkonia ukuran 0,8-2,4 mm pieces dengan kemurnian 99,5% ZrO 2 dan kadar Hf < 2 % 50 g 250 g 1 kg kg 50 kg 250 kg //kg /kg /kg 15 Zirkonia tablet dengan kemurnian 99,5% ZrO 2 50 g 250 g kg 25 kg //kg /kg 1 kg kg /kg 16 Zirkonia ukuran 325 mesh, rata-rata < 10 micron dengan kemurnian 99,9% ZrO 2 dan kadar Hf < 100 ppm 17 Zirkonia ukuran < 3 micron dengan kemurnian 99,95% ZrO 2 dan kadar Hf < 3 % 500 g 2,5 kg 10 kg 250 g 1 kg 5 kg , Zirkonia ukuran 120 mesh dengan kemurnian 99,995% ZrO 2 dan kadar Hf < 3 % 25 g 100 g 500 kg , Zirkonia ukuran 325 mesh dengan kemurnian 99,995% ZrO 2 dan kadar Hf < 100 ppm 5 kg 25 kg 100 kg kg 5 kg 3,235.00/kg 2,976.00/kg 50
51 20 Zirkonia ukuran 325 mesh dengan kemurnian 99,5% ZrO 2 dan Hf < 2% yang distabilkan dengan 1 kg 5 kg 25 kg , % Y 2 O 3 21 Zirkonia ukuran 325 mesh, rata-rata < 5 micron dengan kemurnian 99,0% ZrO 2 dan Hf < 2% yang distabilkan dengan 3% MgO 22 Zirkonia ukuran mesh dengan kemurnian 99,0% ZrO 2 dan Hf < 2% yang distabilkan dengan 3% MgO 23 Zirkonia ukuran 325 mesh, rata-rata < 5 micron dengan kemurnian 99,0% ZrO 2 dan Hf < 2% yang distabilkan dengan 5% CaO 24 Zirkonia ukuran 325 mesh, semua partikel < 3 micron dengan kemurnian 99, 95% ZrO 2 dan Hf < 3% yang distabilkan dengan 5,3% 250 g 1 kg 5 kg 100 g 500 g 2,5 kg 250 g 1 kg 5 kg 250 g 1 kg 5 kg , kg 250 kg 1000 kg 25 kg 100 kg 500 kg 50 kg 250 kg 1000 kg 50 kg 250 kg 1000 kg 80.70/kg 64.50/kg 52.20/kg /kg /kg 80.20/kg 81.42/kg 72.70/kg 66.88/kg /kg /kg /kg Y 2 O 3 25 Zirkonia ukuran 325 mesh dengan kemurnian 99,0% ZrO 2 dan Hf < 2% yang distabilkan dengan 8% MgO 26 Zirkonia ukuran mesh dengan kemurnian 99,0% ZrO 2 dan Hf < 2% yang distabilkan dengan 8% Y 2 O g 1 kg 5 kg 200 g 1 kg 5 kg , kg 250 kg 1000 kg 50 kg 250 kg 1000 kg 58.78/kg 51.72/kg 47.58/kg /kg /kg /kg Beberapa senyawa berharga logam tanah jarang (LTJ) yang terkandung di dalam pasir zirkon lokal sebagai contoh dari Tumbang Titi di Ketapang Kalimantan Barat seperti ditunjukkan pada Tabel 2 jika dapat diproses menjadi produk samping, maka akan 51
52 memberikan nilai tambah yang cukup signifikan. Beberapa produk LTJ dari hasil pengolahan pasir zirkon di Dubbo Zirconia Project (DZP) Ausralia mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk zirkonium. Produk LTJ yang dihasilkan oleh DZP diekspor ke China dengan harga seperti ditunjukkan pada Tabel 14 [12, 27]. Tabel 14. Harga beberapa produk LTJ di DZP yang diekspor ke China Biaya proses pemurnian pasir zirkon menjadi produk zirkonium semakin meningkat dengan bertambahnya kadar ZrO 2 dalam setiap produk zirkonium. Dengan demikian kenaikan harga produk zirkonium berbasis ZrO 2 bergantung pada tingkat kemurnian kandungan ZrO 2 di dalamnya seperti ditunjukkan pada Gambar 21 [29]. Gambar 21. Pengaruh kemurnian terhadap harga produk zirkonium 52
53 Dubbo Zirconia Project (DZP) di New Sauth Wales Australia mengolah pasir zirkon menjadi beberapa produk setengah jadi yang digunakan untuk beberapa industri hilir seperti ditunjukkan pada Gambar 22 [29]. Gambar 22. Pemakaian produk zirkonium untuk industri hilir Gambar 22 menunjukkan bahwa untuk membuat produk-produk berbasis zirkonia seperti produk abrasives (amplas dan gerinda) dipersyaratkan tingkat kemurnian zirkonia (ZrO 2 ) rendah dan untuk produk elektronik dipersyaratkan tingkat kemurnian zirkonia (ZrO 2 ) paling tinggi. 4. Aspek Teknologi Beberapa metode pengolahan pasir zirkon (ZrSiO 4 ) menjadi beberapa produk zirkonium untuk berbagai pemakaian di industri hilir ditunjukkan pada Gambar 20 dalam bentuk diagram alir proses sebagai berikut [30] : 53
54 Gambar 23. Diagram alir tahap pengolahan pasir zirkon untuk berbagai produk industri 4.1. Disosiasi dengan Panas [18] Metode 1 Reaksi plasma ini berlangsung dalam tungku atau reaktor listrik maju. Pasir zirkon dipanaskan dengan karbon hingga 2000 o C dan terdisosiasi menjadi zirkon dan silika pada suhu 1750 o C. Silika berubah menjadi monoksida yang volatil pada suhu di atas 2400 o C, kemudian teroksidasi kembali di luar reaktor menjadi silika. 54
55 ZrSiO o C ZrO 2 + SiO 2 (dissociated zircon) Method 1 ZrO o C SiO + O 2 SiO 3 Quenching ZrO 2 + SiO 2 (zirconia in silica beads) Method 2 Method 3 NaOH H 2 SO 4 Na 2 SiO 2 (aq) + ZrO 2.xH 2 O (s) ZrO 2 Filtrasion Dry 900 o C Zr(SO 4 ) 2 (aq) + SiO 2 (s) ZrO 2 Filtrasion Crystallisation 900 o C Gambar 24. Diagram alir dekomposisi panas zirkon [18] Metode 2 Disosiasi zirkon dapat diredam untuk memproduksi campuran kristal zirkon dalam butiran silika amorf. Kristal yang terbentuk berdiameter sangat kecil yaitu sekitar 0,1μm. Kumpulan kristal yang digumpalkan biasanya berukuran 2-20 μm tergantung bagaimana penggabungan atau penggumpalan yang dilakukan. Silika amorf dapat dipisahkan dengan larutan NaOH panas untuk menghasilkan larutan natrium silikat dan zirkonium oksida sisa. Metode 3 Proses pelindian menggunakan asam sulfat dilakukan terhadap zirkonia untuk menghasilkan zirkonium sulfat atau AZST dan gel silika. Pemanasan zirkon antara 2100 o C 2300 o C dapat menyebabkan variasi pada gumpalan kristal yang terdiri dari silika cair dan zirkon padat. Zirkonia diproduksi hingga membentuk kumpulan atau gumpalan kristal dangan ukuran 0,01-0,1 μm yang mana dapat bereaksi cepat saat pelindian menggunakan larutan asam sulfat. Temperatur dan konsentraasi keasaman telah ditentukan sehingga ekstraksi zirkonia dari disosiasi zirkon dapat terjadi. Setelah 3-4 jam, partikel zirkonia berukuran 75 μm (didapat dari penggilingan) dibutuhkan untuk mendapatkan hasil ekstraksi 90% zirkonia. Ekstraksi hanya 55
56 menghasilkan 64% zirkonia dalam waktu yang sama jika ukuran partikel tidak sesuai dengan yang telah di tentukan, karena itu ukuran partikel adalah 75 μm untuk mendapat hasil yang baik. Pemisahan produk dengan filtrasi diikuti dengan produksi kristal AZST baik itu melalui evaporasi maupun penggaraman Klorinasi Zirkon yang sudah digiling dibentuk pelet dalam tungku arang untuk mendapatkan campuran tertentu. Hasil campuran kemudian diklorinasi secara langsung menggunakan gas klorin dalam tungku pada suhu 800 o C 1200 o C, untuk memproduksi zirkonium dan silicon tetraklorit. Reaksi yang terjadi pada proses klorinasi adalah reaksi endotermis, sehingga energi tambahan disuplai dengan memanaskan bagian dalam dinding grafit pada reaktor klorinasi. Zirkonium tetraklorit terdistilasi dan disimpan dalam kondenser pada suhu 150 o C 180 o C atau 200 o C, sedangkan silikon tetraklorit disimpan pada suhu -10 o C atau -20 o C pada kondenser sekunder. Metode 1 Zirkonium tetraklorit dapat dengan mudah dikalsinasi menjadi zirkonia dan silikon tetraklorit menjadi silika. Metode 2 Zirkonium tetraklorit dapat dihidrolisis membentuk zirkonium oksiklorit. Pendinginan larutan jenuh dari suhu 65 o C 20 o C dapat menyebabkan terjadinya kristalisasi pada zirkonium oksiklorit. Tahap ini dilakukan untuk memisahkan kotorankotoran seperti titanium, aluminium, besi, dan silikon klorit. Kristalnya kemudian dapat dikeringkan pada suhu 85 o C dan dikalsinasi menjadi zirkonia. 56
57 Metode 3 Penambahan larutan ammonia pada larutan zirkonium oksiklorit akan menghasilkan endapan zirkonium hidroksida (ZrO 2.nH 2 O). ZrO 2.nH 2 O dikalsinasi untuk mendapatkan serbuk-serbuk zirkonia. ZrSiO 4 + C + 4Cl o C or 1100 o C Fluidised bed or Shaft furnace ZrCl 4 + SiCl 4 + 4CO Distillation and Condensation o C or 200 o C Selanjutnya, endapan ZrCl 4 (contains impurities: Al, Ti, Fe, and SiCl 4 Method 1 ZrO o C Method 3 NaOH solution Presipitation ZrO 2.nH 2 O ZrO 2 Dry at 85 o C Calcine Hydrolysis ZrOCl 2.8H 2 O Method 2 Crystallisation (saturated ZrOCl 2.8H 2 O solution) o C ZrOCl 2.8H 2 O ZrO 2 Filtrasion Dry at 85 o C Calcine Gambar 25. Diagram alir proses klorinasi [18] 4.3. Pengapuran Pengapuran terhadap zirkon dapat menghasilkan zirkonil silikat, kalsium zirkonat, kalsium silikat, bahkan campuran zirkonia dan kalsium atau magnesium silikat. Parameter termodinamik (dalam tekanan atmosfer) yang berpengaruh antara lain adalah temperatur, dan perbandingan mol antara zirkon dengan kapur. 57
58 Metode 1 dan Metode 2 Kalsium dan silika dapat dihilangkan atau dibuang dari hasil pengapuran dengan proses pelindian menggunakan asam klorida (HCl), kemudian sisa zirkon dicuci dan dikeringkan. Metode 3 Produk pengapuran dipisahkan menjadi serbuk kalsium silikat yang sangat halus dan kristal kasar kalsium zirkonat. Kristal kalsium zirkonat yang berukuran besar (30-50 μm) dipanaskan pada suhu 1700 o C 2000 o C supaya mudah dipisahkan. Kalsium zirkonat merupakan larutan asam dan mudah dikonversi menjadi garam zirkon seperti AZST atau senyawa oksida lain. Method 1 Method 2 Method 3 CaO + ZrSiO 4 2CaO + ZrSiO 4 5CaCO 3 + 2ZrSiO o C 1600 o C 1400 o C CaZrSiO 3 ZrO 2 + CaSiO 4 2CaZrO 3 + (CaO) 3 (SiO) 2 + CO 2 ZrO 2.xH 2 O HCl (leaching) Filtration Wash and Dry ZrO 2.xH 2 O HCl (leaching) Filtration Wash and Dry CaZrO 3 Mechanical Separation H 2 SO 4 ZrO 2 ZrO 2 Zr(SO 4 ) 2.4H 2 O Calcine ZrO 2 Gambar 26. Diagram alir proses pengapuran [18] 4.4. Peleburan dengan Fluorosilikat Zirkon dapat dileburkan dengan kalium heksafluorosilikat pada suhu sekitar 700 o C untuk memproduksi kalium heksafluorozirkonat. Reaksi fusi ini dapat dilakukan dalam tungku putar pada suhu antara 650 o C 750 o C. Hasil fusi digiling dan dicuci dalam larutan asam klorida (HCl) 1% pada suhu 85 o C selama 2 jam. 58
59 Larutan jenuh yang masih panas kemudian disaring untuk menghilangkan silika taklarut, selanjutnya dibiarkan sampai dingin sehingga kalium heksafluorozirkonat mengkristal. Zirkonium hidroksida diendapkan dengan ammonium hidroksida dari 1% larutan kalium heksafluorozirkonat. Zirkonium hidroksida ini kemudian disaring, dicuci, dan dikalsinasi membentuk zirkonia. ZrSiO 4 + K 2 SiF o C K 2 ZrF 6 + 2SiO 2 Mill, Dissolution in 1% HCl ( 2 hours) Filter K 2 ZrF 6 (aq) Crystallisation K 2 ZrF 6 (s) H 2 O dissolution 3% K 2 ZrF (aq) + 4NH 4 (OH) ZrO 2.nH 2 O ZrO 2 Wash, filter Dry and Calcine Gambar 27. Diagram alir proses peleburan dengan fluorosilikat [18] 4.5. Pengkarbidan Zirkon diubah menjadi karbida dalam tungku elektrik terbuka pada suhu sekitar 2500 o C. Campuran zirkon dan arang dimasukkan dalam tungku secara kontinu. Karbon yang digunakan sedikit untuk menguapkan silikon monoksida. 59
60 4.6. Peleburan dengan Kaustik Gambar 28. Diagram alir proses pengkarbidan [18] Proses ini melibatkan dekomposisi zirkon dengan cara melebur zirkon dengan natrium hidroksida atau natrium karbonat yang tentunya menggunakan perbandingan mol yang berbeda pula untuk mendapatkan hasil yang diinginkan Peleburan dengan Kaustik Sub-Stoikiometris Sodium zirkonat terlarut yang dihaasilkan dari reaksi pasir zirkon dengan sodium karbonat pada perbandingan mole rendah. Reaksi ini biasanya terjadi pada suhu sekitar 1000 o C sebagai berikut: Metode 1 Method 2 ZrO 2.nH 2 O ZrO 2 HCl ZrOCl 2.8H 2 O NH 3 solution Precipittion Filtration Dry Calcine 900 o C ZrSiO 4 + Na 2 CO 3 Na 2 ZrSiO 5 + CO 2 Hasil peleburan biasanya sodiumzirconylosilicate (Na 2 ZrSiO 5 ) digiling dan ditambah asam pekat seperti HCl menghasilkan garam zirkonium dan gel silika. Garam zirkonium kemudian dipisahkan dari silika. Zirkonil klorida kemudian dikristalisasi dari larutan jenuh atau diendapkan dengan amonia. ZrSiO 4 + 3C 2500 o C Zr(C,N,O) + SiO + 3CO Method 3 ZrOCl 2.8H 2 O ZrO 2 Block Crushing, d mm Separation of unreated ingot ZrO 2 (with 5% silica) Method 1 Crystallisation (saturated ZrOCl 2.8H 2 O solution) o C Filtrasion Dry at 85 o C Calcine 900 o C 60
61 Metode 2 Hasil leburan yang digiling dapat dilindi dengan air, dan Na 2 ZrSiO 5 didijesti dengan HCl panas. Endapan silika dapat disaring secara sederhana dan zirkonil klorida (ZOC) diolah dengan asam sulfat menjadi zirconium basic sulphate (ZBS). ZBS secara sederhana dapat dikalsinasi langsung menjadi zirkonia. ZBS dapat dikonversi menjadi zirkonium hidroksida dengan amonia dan dikalsinasi menjadi zirkonia. ZrSiO 4 + Na 2 CO o C Na 2 ZrSiO 5 + CO 2 Method 1 ZrOCl 2.8H 2 O ZrO 2 Acid dissolution Filtration Crystallisation Dry and Calcine Mill Method 2 Water leach Na 2 ZrSiO 5 + 4HCl Hot acid digestion ZrOCl 2.8H 2 O + SiO 2 + NaCl Filtration ZrOCl 2.8H 2 O + NaCl ZrOCl 2.8H 2 O Zr 5 O 7 (SO 4 ) 3.nH 2 O Crystallisation Filtration H 2 SO 4 stoichiometric ZrO 2.nH 2 O Hydrolisis/NH 4 OH Calcine ZrO 2 Calcine ZrO 2 Gambar 29. Proses pembuatan zirkonia dari peleburan pasir zirkon dengan Na 2 CO 3 [18] 61
62 Peleburan dengan Soda Kaustik Berlebihan Pasir zirkon dilebur dengan soda kaustik dengan perbandingan 1 mole pasir zirkon dengan 4 mole soda kaustik pada suhu sekitar 650 o C menghasilkan natrium zirkonat dan natrium silikat. Reaksi ini juga dapat terjadi dengan natrium karbonat pada suhu di atas 1000 o C. ZrSiO 4 + 4NaOH NaZrO 3 + NaSiO 3 + 2H 2 O Hasil leburan digiling dan dilarutkan dengan air, maka natrium silikat larut dalam air. Natrium zirkonat dihidolisis dengan air menjadi natrium hidoksida terlarut dan zirkonia hidrous tak larut. Fase larutan dipisahkan dari padatan dengan filtrasi. Metode 1 Zirkonia hidrous dikeringkan secara sederhana menjadi zirkonia. Metode 2 Cara lain dengan menggunakan asam klorida, dimana zirkonia hidrous diolah dengan asam klorida menghasilkan zirkonium oksiklorid, ZrOCl 2-8H 2 O. Pemisahan hasil yang tidak larut dan pengendapan zirkonium hidroksida dengan pengeringan dan kalsinasi menghasilkan zirkonia. Metode 3 Satu metode yang mudah untuk menghasilkan zirkonia dengan kemurnian tinggi untuk peleburan alkali adalah salah satu yang menggunakan asam klorida dan asam sulfat. Dalam metode ini zirkonia hidrous mula-mula didijesti dengan asam klorida membentuk zirkonil klorida dan beberpa senyawa radioaktif klorida terlarut. AZST dikristalisasi dengan penambahan asam sulfat. Endapan AZST kemudian dicuci untuk menghilangkan klorida terlarut dan senyawa radioaktif klorida. AZST selanjutnya dikalsinasi untuk menghasilkan zirkonia. 62
63 ZrSiO 4 + 4NaOH NaZrO 3 + Na 2 SiO 3 + 2H 2 O NaZrO o C Mill, water dissolution, Filtration Hydrolisis ZrO 2.nH 2 O + NaOH (aq) ZrO 2.nH 2 O Filtration Method 1 Method 2 Method 3 ZrO 2 Dry, Calcine ZrOCl 2.8H 2 O ZrO 2 HCl Filtration Crystallisation Dry Calcine HCl ZrOCl 2.8H 2 O Zr(SO 4 ) 2.4H 2 O H 2 SO 4 Crystallisation Dry, Calcine ZrO 2 Gambar 30. Proses pembuatan zirkonia dari peleburan pasir zirkon dengan NaOH [18] Peleburan dengan Soda Kaustik Sedikit Berlebihan dan Suhu 700 o C Percobaan pengolahan pasir zirkon di Vietnam yang dilakukan oleh Tuyen dkk. (2007) telah berhasil meminimasi kandungan TENORM dengan melalui tahap pengendapan zirconium basic sulphate (ZBS). Untuk mengolah pasir zirkon menjadi zirkonia yang terpisah dari beberapa pengotor seperti Si, U, Th, Ti, Fe, dll. dilakukan dengan melalui beberapa tahapan proses yaitu proses peleburan, pelindihan dengan air, pelindihan dengan HCl, pengendapan dengan asam sulfat, konversi ke ZrO(OH) 2, pelarutan, kristalisasi dan kalsinasi. Natrium zirkonat (Na 2 ZrO 3 ) yang terbentuk pada proses peleburan pasir zirkon diambil dengan cara melarutkan pengotor-pengotor seperti sisa NaOH, Na 2 SiO 3, NaAlO 2 dengan air. Kemudian ZrOCl 2 atau ZOC yang terjadi dari 63
64 proses pelindihan natrium zirkonat dengan HCl diendapkan dengan H 2 SO 4 pekat menjadi Zr 5 O 8 (SO 4 ) 2.15H 2 O yang biasa disebut zirkonium berbasis sulfat (ZBS) stabil yang tidak dapat larut dalam air. Pada proses pencucian ZBS dengan air, maka pengotor-pengotor seperti Fe +3, Th +4, U +6, dan Ti +4 akan larut dalam air menjadi air limbah seperti ditunjukkan pada Gambar 31 [31]. Gambar 31. Diagram alir pemurnian ZOC melalui ZBS 64
65 Pasir zirkon yang digunakan untuk diolah menjadi ZOC tersebut di atas berasal dari beberapa lokasi penambangan di Vietnam seperti Hue, Ha Tinh, Binh Thuan, Ti West US, dan Iluka China dengan komposisi kimia seperti ditunjukkan Tabel 15 [31]. Tabel 15. Komposisi pasir zirkon Vietnam Pasir zirkon (ZrSiO 4 ) dari Komposisi kimia, % TENORM, ppm TiO 2 Fe 2 O 3 Cr SiO 2 ZrO 2 Al 2 O 3 U Th Hue 0,28 0,081 0,002 33,34 63,1 0, Ha Tinh 0,12 0,071 0, ,21 62,6 0, Binh Thuan 0,56 0,118 0, ,32 61,9 0, Ti West US 0,15 0,14 0, ,23 62,1 0, Iluka China 0,21 0,14 0, ,31 61,5 0, Pengolahan beberapa pasir zirkon dengan komposisi kimia dan TENORM pada Tabel 12 dengan melalui tahap pengendapan ZBS seperti pada Gambar 29 menghasilkan ZOC dengan tingkat kemurnian seperti ditunjukkan pada Tabel 16 [31]. Tabel 16. Tingkat kemurnian ZOC terolah melalui tahap pengendapan ZBS ZOC terolah dari ZrSiO 4 Zr(Hf)O 2 (%) Komposisi kimia, ppm TENORM, ppm Fe 2 O 3 Na 2 O SiO 2 TiO 2 Al 2 O 3 U Th Hue 32, , ,133 2,97 Ha Tinh 26, , ,133 0,84 Binh Thuan 29, , ,133 0,72 Ti West US 28, , ,133 0,35 Iluka China 28, , ,133 0,33 Tabel 15 menunjukkan bahwa proses pengolahan pasir zirkon menjadi ZOC dengan melalui pengendapan ZBS telah menghasilkan produk ZOC dengan kemurnian tinggi. Melalui tahap proses pengendapan ZBS dan 5 kali pencucian ZBS dengan air memberikan hasil yang sangat signifikan terhadap penurunan kadar pengotor-pengotor Fe 2 O 3, SiO 2, TiO 2, Al 2 O 3, U, Th dalam pasir zirkon. Komparasi komposisi ZOC rerata hasil pengolahan pasir zirkon yang berasal 4 tempat di Vietnam dan 1 tempat di China dengan standar dagang (standard grade) ZOC ditunjukkan pada Tabel
66 Tabel 17. Komparasi komposisi ZOC rerata Vietnam dengan standar dagang ZOC ZOC Standard Grade [32] ZOC High Purity Grade [32] ZOC Vietnam [31] % ppm % ppm ZrO 2 + HfO 2 35,5 ZrO 2 + HfO 2 36,0 Zr(Hf)O 2 28,84% SiO 2 0, SiO 2 0, SiO 2 8,66 ppm Fe 2 O 3 0, Fe 2 O 3 0, Fe 2 O 3 10 ppm Na 2 O 0, Na 2 O 0, Na 2 O 10 ppm TiO 2 0, TiO 2 0, TiO 2 27 ppm 5. Aspek Keselamatan Proses pengolahan batuan mineral yang mengandung Zr, Nd, dan rare earth element (REE) menjadi beberapa produk zirkonium seperti (ZBS, ZOH, ZBC, dan ZrO 2 ), konsentrat Nd, konsentrat light REE (LREE) dan high REE (HREE) yang dilakukan oleh Dubbo Zircon Project (DZP) di New South Wales menimbulkan limbah cair yang ditampung di residue storage seperti ditunjukkan pada Gambar 32 [33]. Gambar 32. Diagram alir proses pengolahan pasir zirkon menjadi produk zirkonium 66
67 Kemudian demonstrasi pilot plant pemisahan mineral alam yang mengandung Zr, Nd, dan REE yang dilakukan oleh DZP di New South Wales Australia pada 2008, selain menimbulkan limbah cair yang mengandung uranium dan thorium yang ditampung di residue storage facility (RSF), juga menghasilkan limbah padat yang ditampung dalam RSF yang terpisah dari limbah cair seperti ditunjukkan pada Gambar 33 [27]. Gambar 33. Diagram alir proses pengolahan bahan tambang Zr, Nb, RE Fasilitas pengelolaan air limbah yang mengandung TENORM ( 238 U dan 232 Th) yang ditimbulkan oleh pabrik pengolahan pasir zirkon menjadi produk zirkonium harus diadakan dalam rangka mencegah dan meminimalisasi dampak negatif selama dan pasca pabrik zirkon beroperasi. Contoh pengelolaan limbah adalah seperti penyimpanan limbah atau residue storage facility (RSF) yang telah dipersiapkan oleh DZP di New South Wales, Australia. RSF tersebut memerlukan area yang lebih luas dibandingkan dengan area pabrik pemisahan mineral alam yang mengandung Zr, Nd, dan REE seperti ditunjukkan pada Gambar 34 [34]. 67
68 Gambar 34. Infrastruktur pabrik pemisahan Zr, Nd, dan REE yang dipersiapkan oleh DZP Beberapa tempat atau stasiun pemantauan lingkungan di sekitar area pengolahan pasir zirkon menjadi produk zirkonium mutlak diperlukan untuk melindungi lingkungan di sekitar lokasi pabrik dari dampak negatif yang ditimbulkan. Sebagai contoh adalah pemantauan lingkungan secara rutin yang dilakukan di sekitar Dubbo Zirconia Project di New South Wales Australia meliputi: pemantauan udara, air, cuaca, flora, fauna, transport air permukaan dan air dalam, dampak sosial, dan radioaktivitas alam seperti ditunjukkan pada Gambar 35 [35]. 68
69 Gambar 35. Stasiun pemantauan lingkungan di DZP Kandungan TENORM yang terdapat dalam pasir zirkon lebih tinggi dibandingkan dengan batuan fosfat, aluminium, dan tembaga seperti ditunjukkan pada Tabel 18 [10]. 69
70 Tabel 18. Aktivitas spesifik TENORM dalam bahan baku & produk olahan mineral alam 70
71 Bahan sumber yang berupa uranium dan thorium yang dihasilkan dari setiap penambangan pasir zirkon merupakan obyek pengawasan nasional oleh BAPETEN dan internasional oleh IAEA. Pengawasan tersebut dalam rangka memenuhi perjanjian safeguards yang diatur dengan UU No. 8 tahun 1978 tentang Traktat Pembatasan Senjata Nuklir dan secara khusus diatur dalam Peraturan Kepala BAPETEN No. 09 tahun 2009 tentang Intervensi terhadap Paparan yang Berasal dari Technologically Enhanced Naturally Occuring Radioactive Material (TENORM). (1) Tingkat Intervensi sebagaimana dimaksud di atas dapat dinyatakan dalam: a. jumlah atau kuantitas TENORM paling sedikit 2 (dua) ton; dan b. tingkat kontaminasi sama dengan atau lebih kecil dari 1 Bq/cm 2 (satu becquerel persentimeter persegi) dan/atau konsentrasi aktivitas sebesar: 3. 1 Bq/gr (satu Becquerel pergram) untuk tiap radionuklida anggota deret uranium dan thorium; atau Bq/gr (sepuluh Becquerel pergram) untuk kalium. (2) Radionuklida sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b angka 1 paling kurang meliputi: a. Pb-210; b. Ra-226; c. Ra-228; d. Th-228; e. Th-230; f. Th-234; dan/atau g. Po-210. Dalam peraturan tersebut telah ditetapkan bahwa Pengusaha Instalasi Nuklir dan Pengusaha Instalasi Non Nuklir, dalam hal ini termasuk Pengusaha Bidang Pertambangan Pasir Zirkon, maka dipakai ketentuan sebagai berikut [8] : 1. Jumlah, komposisi kimia, penggunaan bahan sumber untuk kegiatan nuklir atau non nuklir, untuk setiap lokasi dengan jumlah bahan nuklir melebihi 2 (dua) ton uranium dan thorium. 2. Jumlah, komposisi kimia dan negara tujuan untuk setiap ekspor bahan sumber khususnya untuk maksud penggunaan non nuklir dalam jumlah melebihi: 71
72 a. 10 (sepuluh) ton uranium atau dalam hal ekspor uranium secara berturut-turut ke negara yang sama, masing-masing kurang dari 10 (sepuluh) ton, tetapi melebihi jumlah seluruhnya 10 (sepuluh) ton untuk setahun; b. 20 (dua puluh) ton thorium atau dalam hal ekspor thorium secara berturut-turut ke negara yang sama, masing-masing kurang dari 20 (dua puluh) ton thorium, tetapi melebihi jumlah seluruhnya 20 (dua puluh) ton untuk setahun. Selain itu dalam Undang-undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, pada pasal 50 disebutkan bahwa WUP mineral radioaktif ditetapkan oleh Pemerintah dan pengusahaannya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dari Undang-undang ini dapat diambil pemahaman bahwa tambang mineral yang mengandung zat radioaktif, wewenang pengawasannya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan bidang ketenaganukliran, termasuk Undang-undang No. 10 tahun 1997 dan peraturan pelaksanaannya. Sesuai Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Intervensi Terhadap Paparan yang Berasal dari Technologically Enhanced Naturally Occurring Radioactive Material Pasal 7 ayat 1 dan 2 bahwa [5] : 1. Tingkat kontaminasi sama dengan atau lebih kecil dari 1 Bq/cm 2 (satu Becquerel per sentimeter persegi) dan/atau konsentrasi aktivitas sebesar: a. 1 Bq/g (satu Becquerel per gram) untuk tiap radionuklida anggota deret uranium dan thorium; atau b. 10 Bq/g (sepuluh Becquerel per gram) untuk kalium. Peraturan kadar cleareance level yang di terapkan IAEA lebih ketat dibanding dengan kadar yang diterapkan oleh BAPETEN sesuai Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Intervensi Terhadap Paparan yang Berasal dari TENORM dalam Pasal 7 ayat 1 dan 2, komparasi cleareance level bisa dilihat secara lebih jelas pada Tabel
73 Tabel 19. Komparasi cleareance level dari berbagai regulator Regulator 238 U Clearance Level, (Bq/kg) 226 Ra 232 Th 40 K IAEA-Tecdoc 855 (1996) [36] NEA/RWM/RF(2004)6 [37] IAEA-Tecdoc 1000 (1998) [38] RP 122 (2000) RP 89 (1998) [39] RP 113 (2000) [40] BAPETEN [8] Dari beberapa pertimbangan di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kegiatan pertambangan mineral yang mengandung bahan sumber merupakan objek pengawasan dari BAPETEN dan IAEA. Perhitungan cadangan bahan sumber Kalimantan Tengah dilakukan dengan menggunakan data hasil analisis terhadap pasir zirkon (produk perusahaan siap ekspor) di Kabupaten Katingan dari 2 perusahaan berikut ini (nama perusahaan disamarkan) [41] : 1. PT. A 2. PT. B Dari hasil analisis yang dilakukan di Australia oleh salah satu perusahaan pengolahan zirkon Katingan yaitu PT. A terhadap konsentrat zirkon siap ekspor diperoleh hasil sebagaimana terlihat pada Tabel 14. Hasil analisis tersebut dikomparasi dengan pasir zirkon dari Tumbangtiti yang dianalisis di Lab. Pusat Survei Geologi Bandung dan telah digunakan PTAPB-BATAN Yogyakarta untuk penelitian, serta pasir zirkon yang diambil oleh PT. Antam di daerah Landak dan dianalisis di Lab. Pusat Survei Geologi Bandung untuk metalurgical test di PTAPB seperti ditunjukkan pada Tabel 20 berikut ini. 73
74 Tabel 20. Kadar U dan Th dalam konsentrat pasir zirkon dari berbagai lokasi di Kalimantan Konsentrat Pasir Zirkon Katingan A [41] SiO 2 % Al 2 O 3 % Fe 2 O 3 % ZrO 2 +HfO 2 % TiO 2 % P 2 O 5 % CaO % U 3 O 8 ppm ThO 2 ppm CeO 2 % PL ,2 0,33 0,02 65,90 0,10 0,094 0, ,01 PL ,3 0,34 0,03 65,90 0,13 0,096 0, ,01 PL ,2 0,34 0,02 66,00 0,13 0,095 0, ,01 PL ,5 0,35 0,02 65,80 0,10 0,093 0, ,01 PL ,4 0,30 0,02 65,80 0,08 0,092 0, ,01 PL ,5 0,32 0,02 65,70 0,09 0,093 0, ,01 Tumbangtiti B 30,03 0,69 2,83 54,99 6,68 0,516 0, ,387 Landak C 50,91 0,573 1,77 40,42 4,62 0,104 0, A: Conto pasir zirkon dari PT. A yang dianalisis di Australia B: Conto pasir zirkon dari PTAPB yang dianalisis dengan metoda XRF di Lab. Pusat Survei Geologi Bandung pada C: Conto pasir zirkon dari PT. Antam dari Landak yang dianalisis dengan metoda XRF di Lab. Pusat Survei Geologi Bandung pada Dari hasil analisis tersebut dapat diperoleh hasil bahwa konsentrat pasir zirkon Katingan yang diekspor oleh PT. A memiliki kadar zirkon (ZrO2) sekitar 65%. Dari hasil analisis ini dapat dilihat bahwa konsentrat pasir zirkon yang diekspor memiliki kandungan bahan sumber (U dan Th) yang bervariasi antara 385 ppm sampai 423 ppm Apabila kita menganggap bahwa kadar rata-rata bahan sumber adalah sebesar 406 ppm, maka PT. A ini telah mengekspor bahan sumber sebanyak 2.078,314 kg atau > 2 ton. Menurut klasifikasi eksportir uranium (dunia), nilai kadar 406 terletak jauh diatas very low-grade ore (100 ppm) misal Namibia. Sebagai perbandingan, jumlah produksi/ekspor seluruh propinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2008 dan 2009, dengan asumsi kadar bahan sumber 406 ppm sebagai berikut. Tabel 21. Prakiraan ekspor bahan sumber propinsi Kalimantan Tengah Tahun ton kg 406 ppm (U + Th) kg , ,168 Jumlah ,456 74
75 Dengan asumsi yang didasarkan pada kandungan bahan sumber dalam konsentrat pasir zirkon Katingan yang diekspor oleh PT. A yaitu 406 ppm, maka diperoleh hasil bahwa selama ekspor kosentrat pasir zirkon dari tahun 2008 dan 2009 asal provinsi Kalimantan Tengah, telah terbawa atau diekspor juga bahan sumber sebanyak 53 ton. Kadar U+Th dalam konsentrat pasir zirkon terbesar diperoleh dari PT. B yaitu sebesar ppm, sehingga perkiraan Ekspor Bahan Sumber Provinsi Kalimantan Tengah yang terbawa/hilang dalam ekspor selama 2 tahun dari Provinsi Kalimantan Tengah diperkirakan sebesar 113,47 ton seperti terlihat pada Tabel 22. Tabel 22. Prakiraan ekspor bahan sumber provinsi Kalteng dihitung berdasarkan kadar U+Th sebesar ppm (PT. B) Tahun Jumlah Ekspor (ton) Bahan Sumber (U + Th) (ton) , ,18 Jumlah ,47 Jika didasarkan data bahan sumber yang ikut terekspor dalam konsentrat pasir zirkon oleh PT. B, maka di sekitar DAS Kalteng seperti ditunjukkan pada Tabel 2 diperkirakan mengandung sisa deposit bahan sumber (U dan Th) sekitar 2.110,76 ton seperti ditunjukkan pada Gambar 36 [41]. Gambar 36. Perkiraan nilai cadangan bahan sumber DAS Kalteng berdasarkan hasil analisis pasir zirkon siap ekspor (PT. B) dengan konsentrasi ppm. 75
76 Dari ilustrasi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa cadangan pasir zirkon dan bahan sumber ternyata sangat melimpah. Jika konsentrat pasir zirkon dari daerah Katingan Kalimantan Tengah dengan kadar (ZrO 2 + Hf) sekitar 65% tersebut dapat diolah menjadi produk zirconium chemicals seperti zirconium oxychloride (ZOC), zirconium sulphate (ZOS), zirconium basic sulphate (ZBS), zirconium basic carbonate (ZBC), dan zirconia (ZrO 2 + Hf) dengan kadar > 99% sebagaimana yang dipersyaratkan dalam Peraturan Kementerian ESDM No. 7 Tahun 2012, maka ekspor pasir zirkon ke luar negeri seperti yang telah terjadi selama ini dapat dikurangi cukup signifikan. Jika hal tersebut dapat direalisasikan, maka tidak saja bahan sumber (uranium dan thorium) yang terkandung di dalam mineral zirkon dapat dicegah ikut terekspor ke luar negeri, tetapi akan memberikan nilai tambah (added value) bagi masyarakat lokal, daerah dan negara sebagaimana diamanatkan di dalam Ayat e pada Pasal 3 Undang-undang No. 4 Tahun Perlu juga diketahui bahwa, asumsi yang digunakan dalam analisis di atas adalah dengan menggunakan sumberdaya hipotetik. Sumber daya hipotetik ini adalah sumberdaya dengan asumsi minimal karena masih banyak wilayah yang telah diketahui terdapat endapan zirkon, tetapi masih belum masuk dalam perhitungan ini Pengelolaan Limbah Radioaktif Air limbah dari proses pencucian ZBS yang mengandung 238 U dan 232 Th dapat diklasifikasi sebagai limbah radioaktif pemancar alpha ( ) aktivitas rendah. Menurut Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2005 atau PP. No. 77/2008, maka tarif pengelolaan limbah radioaktif pemancar alpha ( ) aktivitas rendah adalah Rp ,- per liter seperti ditunjukkan pada Tabel 23 [42]. 76
77 Tabel 23. Jenis dan tarif atas jenis PNBP pengelolaan limbah radioaktif Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dipilih teknologi reduksi volume air limbah yang mengandung Th dan U dari proses pencucian ZBS. Pilihan teknologi reduksi volume air limbah yang mengandung Th dan U akan menjadi data masukan pada rancang bangun unit reduksi volume air limbah yang mengandung Th dan U dari proses pencucian ZBS. Air limbah dari pabrik zirkonia mengandung U dan Th merupakan bahan sumber yang dapat diolah menjadi bahan bakar reaktor nuklir, maka menjadi target pengawasan dari BAPETEN dan IAEA. Air limbah yang mengandung U dan Th tersebut menurut Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2005 atau PP. No. 77/2008 termasuk limbah aktivitas rendah pemancar dengan tarif pengelolaan sebesar Rp /liter. Dengan demikian akan sangat mahal dan bahkan secara ekonomi tidak layak lagi jika pabrik zirkonium mengirim air limbah yang mengandung U dan Th ke PTLR-BATAN sesuai dengan tarif 77
78 tersebut. Satu-satunya cara untuk mengatasi hal tersebut adalah otoritas pabrik zirkonium harus mengadakan unit pengolahan air limbah tersendiri beserta fasilitas pembuangan akhir limbah terolah seperti yang telah dilakukan oleh Dubbo Zirconia Project di New South Wales Australia seperti ditunjukkan pada Gambar 29 dan 30 di atas. Proses pengolahan pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium dengan kemurnian tertentu yang sesuai dengan kebutuhan berbagai industri membutuhkan asam dan air dalam jumlah yang cukup banyak untuk melarutkan pengotor-pengotor seperti Si +6, Fe +3, Th +4, U +6, Ti +4, kation alkali dan alkali tanah dari batuan zirkon. Jika proses pemurnian Zr 5 O 8 (SO 4 ) 2.xH 2 O dan Zr(OH) 4 dilakukan dengan 5 kali pencucian menggunakan air seperti ditunjukkan pada Gambar 26 di atas. Dengan demikian akan ditimbulkan air limbah dengan volume yang besar dengan kandungan pengotor-pengotor seperti Si +6, Fe +3, Th +4, U +6, Ti +4, kation alkali dan alkali tanah. Pengolahan air limbah yang mengandung TENORM (Th +4 dan U +6 ) dengan volume yang banyak tersebut jika dipekatkan dengan menggunakan evaporator, maka energi pembangkit uap air (steam) yang diperlukan oleh evaporator akan besar. Energi yang besar memerlukan biaya investasi dan operasional pembangkit energi yang besar pula, sehingga akan mengurangi keuntungan pabrik zirkon. Dengan demikian diperlukan teknologi reduksi volume air limbah yang lebih sederhana dan murah. Teknologi reduksi volume air limbah yang mudah dan murah serta telah dilakukan oleh beberapa pabrik pengolahan bahan tambang menjadi produk setengah jadi antara lain dengan menggunakan teknologi kolam evaporasi (evaporation pond) seperti yang dilakukan oleh pabrik pengolahan logam tanah jarang pada Gambar 38 [43]. 78
79 Gambar 38. Kolam evaporasi di komplek Arafura Rare Earth Teknologi kolam evaporasi (evaporation pond) di tambang uranium di Wyoming menggunakan pelapis tidak tembus air di dasar kolam untuk mencegah kontaminasi air limbah di tanah seperti ditunjukkan pada Gambar 39 [44]. Gambar 39. Kolam evaporasi in situ leach (ISL) 79
80 5.2. Analisis Resiko dan Keselamatan Kerja Setiap tahapan proses mulai dari proses peleburan pasir zirkon sampai dengan proses kalsinasi zirkonium hidroksida menjadi ZrO 2 akan terjadi distribusi TENORM ( 238 U, 232 Th, dan 40 K) dari sistem tersebut. Dengan demikian diperlukan sistem proteksi radiasi TENORM sebagai bagian dari keselamatan kerja terhadap pekerja radiasi. Nilai batas dosis (NBD) berdasarkan ICRP (International Commission on Radiological Protection) No. 60 tahun 1990 untuk pekerja radiasi adalah 20 msv/tahun dan untuk masyarakat 1 msv/tahun. Proteksi radiasi adalah upaya perlindungan yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan dampak negatif dari radiasi pengion. Dampak negatif dari radiasi pengion dapat dibedakan menjadi dua, yaitu efek stokastik dan efek deterministik. Efek stokastik adalah efek yang kemungkinan terjadinya merupakan fungsi waktu dari dosis radiasi yang diterima oleh seseorang. Efek deterministik adalah efek yang tingkat keparahannya tergantung padan dosis radiasi yang diterima sehingga memerlukan nilai ambang batas. Tujuan proteksi radiasi adalah untuk mencegah efek deterministik dan membatasi peluang terjadinya efek stokastik, serta meyakinkan bahwa kegiatan yang menggunakan zat radioaktif atau sumber radiasi (radiasi pengion) dapat dibenarkan atau diperbolehkan. Pengaruh Zirkon Pada Kesehatan [7] Akut Menelan pasir zirkon dalam jumlah besar mungkin akan menyebabkan terganggunya saluran pencernaan karena kasar bentuknya. Serbuk dan debu pasir zirkon bisa membuat mata agak sakit karena bentuknya yang kasar. Debu produk ini termasuk golongan merepotkan, tetapi kalau tertarik nafas dalam jumlah besar bisa menyebabkan iritasi. Gejala-gejala yang timbul termasuk batuk-batuk dan bersin-bersin. Kronis Silika kristalin diketahui sebagai penyebab fibrosis paru-paru (silikosis). Produk ini juga diketahui merupakan penyebab kanker (IARC). Pasir zirkon mengandung sejumlah kecil kwarsa bebas (sampai 0.5%) karenanya usahakan jangan sampai masuk ke pernafasan. Radiasi zirkon mengandung elemen-elemen radioktif dari serie uranium dan thorium. Pasir zirkon yang dihasilkan oleh Iluka Resources mengandung sedikit pengotoran ini, dengan kadar keaktifan antara 0,6 sampai 1,2 Bq/gr (thorium-232) dan 1,5 sampai 4,.5 80
81 Bq/g (uranium-238). Anak-anak luruh produk biasanya terdapat dalam konsentrasi konsentrasi yang stabil. Bahaya radiasi utama terjadi karena terkena partikel partikel alpha dengan terhisapnya debu dalam pernafasan. Tindakan-tindakan pengontrolan debu yang memadai harus dilakukan untuk memastikan bahwa tingkat pajanan (exposure) terhadap debu produk dapat ditekan seminimal mungkin. Sebagai panduan, karyawan yang secara terusmenerus pernafasannya terkena debu pada kadar di atas 1,5 mg/m 3 bisa mengalami pajanan di atas 1 msv. Radiasi eksternal berasal dari radiasi sinar gamma. Pajanan terus-menerus (2000 jam setiap tahun) dalam jarak 2 meter dari pasir zirkon bisa menghasilkan dosis di atas 1 msv. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (PPK) Tertelan PPK kemungkinan tidak diperlukan, kalau perlu cuci mulut dengan air, jangan sampai ditelan airnya. Kalau ada rasa sakit periksakan ke dokter. Mata Buka pelupuk mata dan cuci mata dengan air bersih. Lakukan ini selama 15 menit atau sampai semua pasir keluar. Periksakan ke dokter kalau rasa sakit terus dirasakan. Kulit Lepas pakaian dengan hati-hati supaya debu tidak berterbangan. Cuci bagian yang terkena zirkon. Kalau sering terkena membuat kulit merah dan gatal, periksakan ke dokter. Cuci bersih pakaian sebelum dipakai lagi. Terhirup Pergi dari tempat yang berdebu. Bersihkan hidung dengan menghembuskan nafas keluar supaya debu keluar dari saluran nafas. Kalau timbul masalah, periksakan ke dokter. Tindakan Menangani Tumpah Bahan Pakailah perlengkapan keselamatan yang biasa dipakai. Hindari menimbulkan debu. Vacuum atau sedot dengan mesin kalau mungkin, kalau tidak sapu dan daur ulang. Kalau yang tertumpah tidak bisa dipergunakan lagi, siramlah, kumpulkan dan kembalikan kepada supplier untuk diproses ulang. Kalau yang tertumpah akan dibuang, lakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku. 81
82 Penanganan dan Penyimpanan Penanganan Hindari menghirup debu. Prosedur pengendalian debu harus dilakukan dalam menangani bahan dalam jumlah besar. Cuci tangan dengan sempurna. Dalam menangani tepung yang bisa terhirup nafas pakailah kaos tangan dan cuci tangan sebelum makan, minum atau merokok untuk membatasi kemungkina bahan terhirup atau termakan. Penyimpanan Tempat penyimpanan bahan ini harus ada ventilasi yang cukup dan sewaktu menanganinya harus diusahakan agar tidak terjadi banyak debu. Pengendalian / Perlindungan Diri Standar pajanan TWA Debu 10 mg/m 3 (bahan yang bisa terhirup, debu yang mengganggu). Pajanan pada radiasi dalam pekerjaan harus ditekan sampai skala terendah mungkin, (prinsip ALARA), tetapi harus tidak melebihi 100 msv selama waktu lima tahun terus-menerus menurut (ICRP). Rekomendasi dari Komisi Internasional Perlindungan dari Radiasi, ICRP Publication 60, Annuals of the ICRP Vol.21, No Kontrol Teknis Ketentuan ventilasi tergantung dari metode penanganan bahan dan jumlahnya, tetapi harus memadai sehingga banyaknya debu masih di bawah batas-batas yang ditentukan. Penyebab berterbangannya debu seperti conveyor dan hopper harus dilengkapi dengan sistim penyedot debu. Perlindungan Diri Kacamata keselamatan dengan pelindung samping atau goggles. Kalau ada bahaya menghirup debu pakailah setidaknya masker P1 (satu kali pakai atau yang memakai cartridge) Cara Pembuangannya Limbah padat dari pabrik zirkon mengandung bahan sumber (U dan Th), maka syarat pembuangan limbah padat harus dilakukan sesuai dengan batasan bahan-bahan radioaktif alamiah (NORM) atau yang mengandung bahan-bahan radioaktif alamiah yang sudah diproses (TENORM) sesuai peraturan BAPETEN. Informasi Mengenai Pengangkutannya Di berbagai negara pengangkutan materi ini mungkin dikenakan peraturan khusus, meskipun bahan ini tidak dianggap sebagai angkutan berbahaya: tidak dimasukkan dalam 82
83 daftar bahan radioaktif menurut paragraf 107 dari peraturan-peraturan IAEA TS-R-1. Dalam pengangkutannya bahan ini harus ditutup untuk mencegah tersebarnya debu. 6. Aspek Kualitas Standar Aspek kualitas standar produk industri sangat penting untuk diperhatikan dalam rangka memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh industri hilir untuk menghasilkan produk akhir yang berkualitas sesuai dengan jenis penggunaan, persyaratan standar, aman digunakan dan ramah bagi lingkungan hidup. Zircon opacifier yang diproduksi oleh beberapa produsen zirkon di luar negeri mengandung bahan sumber thorium dan uranium seperti ditunjukkan pada Tabel 23 [11]. Tabel 23 Kandungan TENORM dalam zircon opacifier dari beberapa produsen zirkon Tambang Produk zirkonium Fe 2 O 3 (%) TiO 2 (%) Al 2 O 3 (%) U+Th (ppm) Grande Cote Premium Grade 0,05 0,03 0, Largest Producers Intermediate Grade 0,10 0,05 0, Standard Grade 0,10 0,10 0, Iluka, Eneabba Premium Grade 0,07 0,13 0, Richards Bay Prime Grade 0,08 0,12 0, Other Producers Intermediate Grade 0,12 0,25 0, Namakwa Premium Grade 0,05 0,11 0, Tiwest Premium Grade 0,06 0,13 <0,5 n.a. Dupont Premium Grade 0,03 0,13 0,3 350 Standard Grade 0,04 0,25 1,3 350 Zircon T 0,2 1,2 1,0 n.a. CRL Premium Grade 0,06 0,11 0,2 440 Kandungan pengotor dan TENORM (U + Th) di dalam produk zircon opacifier yang dipersyaratkan dalam standar perdagangan ditunjukkan pada Tabel 24 [45]. 83
84 Tabel 24. Standar perdagangan zircon opacifier No. Komposisi Kadar, % berat 1 ZrO 2 + HfO 2 min SiO 2 max. 32,80 3 Al 2 O 3 max. 0,45 4 Fe 2 O 3 max. 0,10 5 TiO 2 max. 0,15 6 U + Th (ppm) max. 500 TENORM dan beberapa pengotor yang terkandung di dalam produk premium grade zircon opacifier Afrika Selatan ditunjukkan pada Tabel 25 [46]. Tabel 25. Hasil analisis produk premium grade zircon opacifier 5 m Afrika Selatan No. Komposisi Kadar, % berat 1 ZrO 2 + HfO 2 66,2 2 SiO 2 32,6 3 Al 2 O 3 1,20 4 Fe 2 O 3 0,05 5 TiO 2 0,11 6 Cr 2 O 3 <0,01 7 MgO 0,01 8 CaO <0,05 9 P 2 O 5 0,11 10 U + Th (mg/kg) <500 Perusahaan Allegheny Technologies Incorporated (ATI) sudah berpengalaman mengolah pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium sesuai standar perdagangan internasional seperti ditunjukkan pada beberapa Tabel di bawah. 84
85 Tabel 26. Standar kualitas ZrOCl 2.8H 2 O (ZOC) produk ATI [47] No. Komposisi Kadar, % berat 1 ZrO 2 + HfO 2 min SiO 2 maks. 0,01 3 Al 2 O 3 maks. 0,02 4 Fe 2 O 3 maks. 0,005 5 TiO 2 maks. 0,002 6 CaO maks. 0,01 7 Na 2 O maks. 0,04 Tabel 27. Standar kualitas kristal Zr(OH) 4 produk ATI [48] No. Komposisi Kadar 1 ZrO 2 + HfO % 2 SO 4 3 4% 3 Si 300 ppm 4 Al < 25 ppm 5 Fe < 20 ppm 6 Ti < 50 ppm Tabel 28. Standar kualitas ZrO 2 produk ATI untuk komponen mesin jet [49] 85
86 Tabel 29. Standar kualitas ZrO 2 kemurnian 99,5% produk ATI untuk reaktor nuklir [50] Disamping persyaratan batas minimum zirkonia dengan kadar ZrO 2 99,5% dan batas minimum beberapa pengotor seperti Hf, Al, Ca, Fe, Si, LOI, Ti, SO 4 pada Tabel 25 dan 26 juga diperlukan persyaratan sifat fisik zirkonia seperti pada Tabel 30 [17]. Tabel 30. Sifat-sifat fisik zirkonia Tabel 31. Standar kualitas zirkonium oksinitrat ZrO(NO 3 ) 2.2H 2 O dengan kemurnian 99,9% produk ATI untuk reaktor nuklir [51] 86
87 Tabel 32. Standar kualitas zirkonium tetraklorida ZrCl 4 dengan kemurnian (Zr+Hf)Cl 4 99,95% produk ATI untuk reaktor nuklir [52] Tabel 33. Standar kualitas zirconium sponge produk ATI [53] 87
88 Tabel 34. Standar kualitas Zr 5 O 7 (SO 4 ) 3.xH 2 O (ZBS) produk West Point [54] No. Komposisi Kadar, % berat 1 ZrO 2 35,0 2 SO 4 18,5 3 Si < 0,05 4 Al < 0,03 5 Fe < 0,003 6 Ti < 0,04 7 Na < 0,01 8 Cl < 0,4 9 Bulk density (lb/ft 3 ) 55,0 Tabel 35. Standar kualitas beberapa produk kimia zirkonium [55] 88
89 Tabel 36. Standar kualitas beberapa produk zirkonium oksida monoklinik [56] Tabel 37. Standar kualitas beberapa produk zirkonium oksida campuran [57] 89
90 III. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PASIR ZIRKON Saat ini plasma torch ternyata telah menjadi pilihan teknologi pembangkit panas tinggi yang lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan teknologi dapur (furnace) yang menggunakan bahan bakar fosil, pijaran kawat nikelin, microwave maupun radio frekuensi. Panas tinggi yang dibangkitkan dari sistem plasma torch sudah banyak digunakan oleh beberapa industri logam di luar negeri untuk peleburan bijih logam menjadi metal ingot dan metal alloy. Pada industri pengolahan pasir zirkon menjadi zirkon ingot, maka teknologi plasma torch dan DC arc plasma dapat digunakan pada awal proses yaitu disosiasi pasir zirkon (ZrSiO 4 ) menjadi ZrO 2 dan SiO 2 seperti yang dilakukan di laboratorium kimia mineral divisi CSIRO Melbourne pada tahun 1983 dengan skema reaktor plasma seperti ditunjukkan pada Gambar 40 dan saat komisioning reaktor plasma seperti ditunjukkan pada Gambar 41 [58]. Gambar 40. Reaktor plasma untuk disosiasi pasir zirkon menjadi ZrO 2 dan SiO 2 90
91 Gambar 41. Reaktor plasma saat komisioning di laboratorium kimia mineral divisi CSIRO Melbourne Penggunaan teknologi plasma torch untuk disosiasi zirkon (ZrO 2 ) dari pengotor SiO 2 dalam umpan konsentrat pasir zirkon (ZrSiO 4 ) dengan kadar ZrO 2 sekitar 66% berat telah berhasil dilakukan oleh South African Nuclear Energy Corporation (Necsa) seperti ditunjukkan pada Gambar 42 dan 43 [59]. 91
92 Gambar 42. Skema pabrik plasma dissociated zircon (PDZ) di Nesca Teknologi arc plasma torch untuk proses pengolahan zirkon adalah umpan Zr(Hf)SiO 4 dilewatkan nyala plasma pada daerah suhu tinggi, maka akan terdisosiasi menjadi zirkonia Zr(Hf)O 2 monoklinik dan SiO 2 seperti pada Gambar 40 dan 41 serta seperti reaktor PDZ pada Gambar 42 dan 43 [59]. 92
93 Gambar 43. Reaktor PDZ di Nesca [15] Dilakukan pendinginan cepat (quenching) untuk mencegah re-asosiasi Zr(Hf)O 2 dan SiO 2 serta zirkonia monoklinik yang terikut dalam silica amorf yang terbentuk. Proses seperti ini adalah termasuk proses kering pada pengolahan pasir zirkon menjadi zirkonia. Pada suhu di atas o C zirkon mengalami perubahan fasa seperti ditunjukkan pada Gambar 44 [59]. 93
94 Gambar 44. Diagram fasa pasir zirkon (ZrSiO 4 ) Kondisi operasi dan proses pada disosiasi Zr(Hf)SiO 4 menjadi Zr(Hf)O 2 dan SiO 2 dengan DC plasma torch tersebut ditunjukkan pada Tabel 38 [59]. Tabel 38. Parameter operasi DC plasma torches pada pilot plant PDZ Konsentrat pasir zirkon sebagai umpan yang dimasukkan ke dalam reaktor PDZ berasal dari Afrika Selatan dan Australia dengan komposisi kimia seperti ditunjukkan pada Tabel 39 [59]. 94
95 Tabel 39. Komposisi kimia konsentrat pasir Zr sebagai umpan Kinerja reaktor PDZ untuk proses disosiasi Zr(Hf)SiO 4 menjadi Zr(Hf)O 2 dan SiO 2 ditunjukkan oleh pengaruh kecepatan alir umpan ZrSiO 4 terhadap konversi disosiasi pada Gambar 45 [59]. Gambar 45. Pengaruh kecepatan umpan ZrSiO 4 terhadap konversi disosiasi Gambar 45 menunjukkan bahwa pada kecepatan rerata 120 kg/jam umpan konsentrat pasir zirkon Zr(Hf)SiO 4 dengan kadar Zr(Hf)O 2 sekitar 66%, maka satu unit reaktor PDZ mampu mendisosiasi menjadi Zr(Hf)O 2 dan SiO 2 dengan % konversi disosiasi sekitar 90% seperti ditunjukkan pada Tabel 40 [59]. 95
96 Tabel 40. Pengaruh ukuran partikel dan asal Zr(Hf)SiO 4 terhadap % disosiasi Ada beberapa metode yang tersedia untuk pembuatan logam zirkonium, proses Kroll adalah yang paling banyak digunakan secara komersial. Zirkon umumnya digunakan sebagai prekursor untuk pembuatan zirkonium tetraklorida (ZrCl 4 ) sebagai bahan baku untuk proses Kroll. Zirkonium silikat (ZrSiO 4 ) diklorinasi untuk menghasilkan zirkonium tetraklorida (ZrCl 4 ), silikon tetraklorida (SiCl 4 ), dan karbon monoksida (CO) sesuai dengan persamaan (1) [60] : ZrSiO 4 + 4C + 4Cl 2 ZrCl 4 + SiCl 4 + 4CO (1) ZrCl 4 yang relatif murni dipisahkan dari SiCl 4 selama proses karboklorinasi, namun masih mengandung hafnium (Hf). Salah satu dari beberapa metode untuk pemisahan Hf, adalah Zr 4 dihidrolisis dari ZrCl 4, kemudian diikuti dengan ekstraksi cair-cair sebagai oksiklorida (ZrOCl 2 ), dilanjutkan dengan pengendapan sebagai Zr(OH) 4 dan dekomposisi termal ZrO 2. ZrO 2 ini sekali lagi dikarboklorinasi dan ZrCl 4 yang dihasilkan digunakan sebagai bahan baku dalam proses Kroll. Dalam hal ini proses reduksi ZrCl 4 dengan logam magnesium dilakukan dalam reaktor batch pada suhu sekitar 850 C. Logam zirkonium dan magnesium klorida akan terbentuk pada reaksi eksotermik dengan persamaan: ZrCl 4 + 2Mg Zr + 2MgCl 2 [2] Magnesium klorida dan kelebihan setiap magnesium yang digunakan dalam reaksi dihapus dari campuran dengan reaksi distilasi vakum pada suhu tinggi. Zirkonium sponge piroforik yang diperoleh dihancurkan, disortir, dan dimurnikan dengan peleburan kembali pada busur vakum untuk menghasilkan logam sebagai ingot. Logam juga dapat dimurnikan dengan proses Van Arkel-De Boer, di mana ia dibiarkan bereaksi dengan 96
97 halogen (misalnya yodium) dan logam uap halida kemudian terurai pada pemanasan 1400 C oleh pijaran kawat Tungsten untuk menghasilkan apa yang disebut kristal bar seperti pada persamaan [3] dan [4]: Zr + 2I 2 ZrI 4 [3] ZrI 4 Zr + 2I 2 [4] Makalah ini menjelaskan proses sinambung dimana ZrCl 4 direduksi dengan magnesium dalam reaktor plasma untuk menghasilkan bubuk halus yang terpisah dari logam zirkonium. Peralatan dan deskripsi proses Peralatan Sistem plasma yang digunakan untuk pekerjaan ini dengan skema yang disajikan pada Gambar 46 [60]. Gambar 46. Skema diagram pilot plant pembuatan zirkon ingot dengan plasma Sebuah arus listrik searah 30 kw menyediakan listrik ke water-cooled nontransferred arc plasma torch. Plasma dimulai dengan gas argon dan kemudian dialirkan gas nitrogen berlebihan. Kemurnian kedua gas argon dan nitrogen > 99,99%. Reaktor 97
98 terdiri dari zona reaksi suhu tinggi dan zona pemisahan yang dilengkapi dengan filter keramik (Gambar 47) ]60]. Gambar 47. Skema diagram reaktor plasma Zona reaksi memiliki panjang 300 mm diameter dalam 40 mm. Bagian kedua dari reaktor adalah water-cooled. Gas dan partikel melewati filter keramik kemudian melewati siku water-cooled ke tabung dan shell penukar panas, di mana mereka akhirnya didinginkan mendekati suhu kamar. Partikel-partikel gas dikeluarkan melalui siklon dan bag filter. Gas yang keluar dijerap dengan larutan KOH 20% sebelum dibebaskan ke atmosfer. Deskripsi proses [60] Campuran ZrCl 4 anhidrat dan dua kali kelebihan stoikiometri bubuk Mg terikut oleh aliran nitrogen kering dengan mekanisme pengumpanan dan penyuntikan ke dalam ekor api plasma. Baik ZrCl 4 dan Mg diuapkan dengan plasma, yang menyediakan energi aktivasi eksotermik dengan reaksi reduksi (ΔH = -854 kj.kg -1 pada suhu K (dihitung oleh software Terra ). Sifat fisik dan termal dari reaktan dan produk disajikan pada Tabel
99 Tabel 41. Sifat fisik dan termal reaktan dan produk ZrCl 4 Zr Mg MgCl 2 MP ( o C) 331* ,8 714 BP ( o C) 437** H melt (kj/kg) 154,5 363,4 460 H subl (kj/kg) H vap (kj/kg) *Sublimasi ** Boiling Point (BP) pada triple point (25 atm.) Fase perubahan entalpi diperoleh dari perhitungan dengan software Terra TM. Data lainnya dari CRC. Suhu dalam reaktor zona pemisahan yang diukur dengan termokopel tipe R sekitar C. Pada suhu tersebut Zr berupa padatan, MgCl 2 mendekati titik didihnya, dan keduanya baik Mg dan ZrCl 4 berada dalam fase uap. Di bawah kondisi ini diharapkan hanya mendapatkan Zr dan beberapa MgCl 2 pada filter. Selanjutnya, campuran Zr, MgCl 2, Mg, dan ZrCl 4 itu diambil kembali dari filter keramik dan dari watercooled di dinding reaktor. Setelah selesai bekerja, sistem didinginkan pada suhu kamar (sekitar 10 menit) dan deposit dikumpulkan dan disimpan di bawah kondisi atmosfir nitrogen kering. Kondisi pengolahan Laju alir air pendingin dan perbedaan suhu diukur dengan instrumen yang dikalibrasi. Tekanan yang dilaporkan di sini adalah alat pengukur tekanan (kpa (g). Neraca energi dan kondisi pengolahan diringkas dalam Tabel
100 Tabel 42. Ringkasan kondisi operasi Nilai entalpi untuk plasma dan aliran gas dalam reaktor dihitung dari kandungan energi dan massa laju aliran. Suhu rata-rata terkait, viskositas, dan data densitas yang diperoleh dari pekerjaan standar oleh Boulos, Fauchais dan Pfender. Nilai Reynolds number (N RE ) gas yang rata-rata dalam zona reaksi baik dalam rezim aliran laminar. Prosedur percobaan ZrCl 4 anhidrat dengan kemurnian> 99,5%, Hf <50 mg.kg -1 ) disediakan oleh Sigma- Aldrich. Serbuk Serbuk logam Mg (> 99%) dipasok oleh Riedel-de-Haën. Karena ZrCl 4 sangat higroskopis, maka disimpan di bawah nitrogen kering. Dalam karya ini dua kali 100
101 kelebihan stoikiometri Mg digunakan untuk memastikan bahwa reduktor yang ada memadai untuk melepaskan dari pencampuran selengkap mungkin dalam zona reaksi. Stoikiometri dan waktu tinggal tidak dioptimalkan. Setelah memulai plasma reaktor diizinkan untuk pemanasan selama 20 menit dengan kekuatan penuh. Pengumpan, mengandung sampel pra-campuran anhidrat (59.47 g) dari ZrCl 4 dan Mg, diskors dari load cell sehingga laju umpan bisa direkam. Sistem pengumpan dimulai setelah pemanasan reaktor, reagen entrained dalam nitrogen kering dan disuntikkan ke dalam api ekor plasma. Sebanyak 51,6 g reagen campuran dikonsumsi pada kecepatan 0,086 gs -1 selama proses berlangsung 11,5 menit. Sebanyak 40,0 g produk mentah (77,5% dari umpan) dapat diperoleh kembali dari filter keramik dan dinding reaktor. Produk kotor 30 g dimurnikan dengan pencucian dengan asam nitrat 65% pada suhu kamar dan bubuk residu dicuci dengan air demineral selama 10 menit. Padatan yang tersisa dicuci dengan etanol, ditempatkan di dessicator di bawah atmosfer nitrogen, dan dikeringkan selama 24 jam pada 95 C. Residu kering memiliki massa 7,87 g. Hasil analisis XRF menunjukkan bahwa sampel mengandung Zr > 98%. Hasil Sebuah foto dari produk mentah ditunjukkan pada Gambar 48. Gambar 48. Hasil crude plasma Produk dianalisis dengan scanning elektron micropulse menggunakan energidispersif spektrometri (SEM-EPS), difraksi sinar-x (XRD), dan X-ray fluorescence (XRF), dan teknik pembakaran. 101
102 Analisis kimia dari logam Zr dilakukan dengan XRF sementara teknik pembakaran standar digunakan untuk menentukan oksigen (O) dan (N) nitrogen. Hasilnya disajikan dalam Tabel 43. Tabel 43. Analis kimia serbuk logam Zr setelah dicuci Kehadiran O di sampel dapat dikaitkan dengan lapisan oksida yang terbentuk pada logam selama proses pencucian dan / atau paparan udara. Itu mungkin untuk memurnikan produk ini menurut dikenal metode seperti vakum-busur mencair. Hafnium ada terdeteksi, karena 'bebas hafnium' ZrCl 4 digunakan sebagai umpan bahan. Gambar 49 menunjukkan hasil SEM bubuk Zr pada perbesaran sekitar Gambar 49. SEM serbuk logam Zr yang dihasilkan 102
103 Analisis SEM-EDS dari sampel mentah (Gambar 49) menunjukkan bahwa sampel mengandung sejumlah besar Mg dan Cl seperti yang diharapkan, yang dapat dikaitkan dengan reaksi lengkap. Gambar 50. Spektrum EDS produk crude plasma Gambar 51. Spektrum EDS logam Zr komersial (Sigma-Aldrich) 103
104 Analisis SEM-EDS dari sampel tercuci (Gambar 49) menunjukkan hanya Zr dan jejak oksigen, mengkonfirmasikan efektivitas prosedur pencucian. Hal ini sesuai dengan spektrum EDS yang diperoleh dari sampel komersial dari logam Zr dan yang diperoleh dari Sigma-Aldrich (Gambar 51). Gambar 52. Spektrum EDS produk yang dilindi Gambar 53. Spektrum XRD serbuk logam Zr setelah dicuci Spektrum XRD produk tercuci (Gambar 53) sesuai dengan spektrum Zr-logam tahun
105 Pembahasan Neraca massa untuk proses disajikan pada Tabel 41. Hasil produk (Persamaan [5]) tergantung pada efisiensi konversi, konsentrasi reaktan dalam fasa gas, waktu yang tersedia untuk pertumbuhan partikel, efisiensi filter, deposisi ke permukaan dingin, kemungkinan pengendapan dalam matriks filter keramik, dan ukuran nano partikulat yang melewati filter. Efisiensi konversi proses reduksi dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti loading partikel, dinamika aliran, keseragaman pencampuran dan pemanasan, kemungkinan zona stagnasi, dan waktu tinggal dalam zona reaksi. Perhitungan entalpi gas rata-rata di zona reaksi berhubungan dengan suhu o K untuk nitrogen yang diperoleh dari referensi tabel standar. Menurut stoikiometri ideal (Persamaan [2]) campuran produk harus berisi logam Zr dan MgCl 2 meskipun dalam prakteknya adanya kelebihan Mg dan beberapa yang tidak bereaksi dengan ZrCl 4 bisa diharapkan karena efisiensi konversi. Pengambilan kembali keseluruhan (yield) logam Zr dihitung sebagai berikut: M MM Yield (%) 100 Zr ZrCl MM M Zr ZrCl4 yang mana M Zr adalah massa Zr yang diambil kembali setelah pencucian, M ZrCl4 adalah massa ZrCl 4 diumpankan ke proses, MM Zr dan MM ZrCl4 masing-masing adalah massa molekul Zr dan ZrCl 4, Ms adalah massa sampel yang mengalami pencucian, dan Mc adalah massa produk mentah yang diambil kembali dari reaktor. 4 M c M s Efisiensi konversi, η, dihitung menurut Persamaan [6], didapat menjadi 0,95. M M MM Zr f ZrCl4 (6) M M MM Zr s Zr yang mana M f menunjukkan total massa material yang diumpankan ke reaktor dan simbolsimbol lainnya memiliki arti yang sama seperti sebelumnya. (5) 105
106 Tabel 44. Neraca massa Penguapan zat padat dalam api ekor plasma akan tergantung pada ukuran partikel dan tingkat perpindahan panas dan massa, dan diharapkan menjadi langkah menentukan kecepatan-keseluruhan. Kecepatan transfer panas dan massa untuk reagen akan diatur oleh bilangan partikel Reynolds. Menurut Boulos, Pfender dan Fauchais, bilangan angka Reynolds di bawah kondisi plasma normal <100 dan pada nilai-nilai meningkat secara linear dengan diameter partikel untuk partikel bola. Karena kompleksitas yang terkait dengan pemodelan sistem tersebut, dan khususnya, seperti dalam kasus ini, untuk nonpartikel bola, tidak ada upaya untuk dilakukan prakiraan waktu tinggal partikel di zona reaksi. Waktu tinggal gas yang terhitung adalah 29 detik. Karena untuk mengkaitkan efek rata-rata waktu tinggal partikel diperkirakan akan lebih lama dari ini. Bourdin, Fauchais dan Boulos telah menghitung bahwa itu dengan mengambil partikel alumina 100 m antara 10-3 dan 10-2 detik untuk mencapai titik leleh (2.326 K) dalam plasma o K nitrogen. Partikel logam, secara substansial konduktivitas termalnya lebih tinggi, mengambil ke urutan waktu besarnya kurang mencair, sehingga dapat diharapkan bahwa cukup waktu yang tersedia untuk partikel Mg mencair, dan dengan inferensi, untuk partikel ZrCl 4 menyublim. Namun Mg cair mungkin tidak menguap sepenuhnya dalam waktu yang tersedia dan kemungkinan bahwa reaksi telah dapat dilakukan sampai selesai pada permukaan filter. Hal ini juga menjelaskan bahwa keduanya baik produk dan reaktan dalam produk mentah yang direkoveri dari filter Technical Note 106
107 Di Indonesia belum terdapat pabrik yang mengolah pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium seperti zirconium oxychloride atau zirconil chloride: ZOC (ZrOCl 2.8H 2 O), zirconium sulphate: ZOS (Zr(SO 4 ) 2.4H 2 O), zirconium basic sulphate: ZBS (Zr 5 O 8 (SO 4 ) 2.xH 2 O) atau (Zr 5 O 7 (SO 4 ) 3.xH 2 O), zirconium basic carbonate: ZBC (ZrOCO 3.xH 2 O), zirconium hydroxide: ZOH (Zr(OH) 4.xH 2 O), zirconium oxide atau zirconia (ZrO 2 ), zirconium metal (Zr). PTAPB-BATAN Yogyakarta mempunyai fasilitas pengolahan zirkonium silikat (ZrSiO 4 ) menjadi beberapa produk zirkonium seperti ZOC, ZOH, dan zirkonia pada skala pilot plant secara batch seperti ditunjukkan pada Gambar 54. Gambar 54. Unit konversi ZrSiO 4 menjadi ZOC, ZOH, dan ZrO 2 di PTAPB Unit kalsinator skala laboratorium pada Gambar 47 beroperasi pada suhu 1000 o C untuk mengkonversi ZOH menjadi zirkonia dengan kapasitas produksi 0,2 kg ZrO 2 /jam. Sedangkan unit pelindian HCl untuk membuat ZOC dan unit pengendapan ZOH untuk membuat Zr(OH) 4 secara batch pada unit pemurnian zirkonium di PTAPB-BATAN telah 107
108 dimodifikasi menjadi proses secara sinambung pada tahun 2010 seperti ditunjukkan pada Gambar 55. Gambar 55. Unit proses pembuatan ZOC dan ZOH di PTAPB-BATAN KESIMPULAN Dari uraian informasi umum dapat disimpulkan bahwa kajian terhadap rantai nilai menunjukkan bahwa 6 kelompok besar pengguna produk zirkonium yaitu industri keramik, refraktori, foundry, TV glass, zirconia & Zr chemicals, dan sundry menunjukkan trend kenaikan konsumsi selama 20 tahun sejak tahun 1990 sampai dengan Deposit pasir zirkon yang terukur di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Kalimantan Tengah pada tahun 2008 sekitar ton. Sisa deposit pasir zirkon terukur yang ada tersebut cukup digunakan untuk memasok bahan baku ton pasir zirkon/tahun pada rencana pendirian pabrik pengolahan pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium selama lebih dari 30 tahun atau sesuai dengan umur pabrik kimia pada umumnya di Kawasan Industri Kalimantan Barat. Hasil kajian terhadap aspek pasar menunjukkan bahwa Dubbo Zircon Project (DZP) di New South Wales Australia telah memprediksi bahwa tahun 2012 s/d 2020 konsumsi terhadap produk zirkonium di dunia akan mengalami kenaikan yang cukup tajam 108
109 dibandingkan dengan kapasitas produksi pabrik yang sekarang maupun kemungkinan pabrik baru yang akan berdiri. Dengan demikian prospek kehadiran pabrik pengolahan pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium layak dapat didirikan di daerah Kalimantan. Hasil kajian terhadap aspek teknologi menunjukkan bahwa dengan melalui tahap proses pengendapan zircon basic sulphate (ZBS) dan 5 kali pencucian ZBS dengan air mampu menurunkan kandungan U dan Th dalam pasir zirkon dari sekitar ppm menjadi sekitar 0,463 3,103 ppm dalam produk zirkonium oksiklorid (ZOC). Menurut klasifikasi importir produk zirkonium di Jepang, nilai kadar U dan Th sekitar 0,463 3,103 ppm tersebut terletak jauh di bawah very low-grade yang dipersyaratkan oleh importir Jepang yaitu (U + 0,4 Th) < 100 ppm maupun jauh di bawah persyaratan standar perdagangan internasional produk zirkonium dengan kadar (U + 0,4 Th) < 500 ppm. Jika diasumsikan umur peralatan pabrik pengolahan pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium dapat mencapai 30 tahun dalam mengolah ton konsentrat pasir zirkon/tahun dengan kandungan TENORM ( 238 U dan 232 Th) sekitar 500 ppm (0,05% berat), maka akan dihasilkan (U 3 O 8 dan ThO 2 ) sebanyak 5 ton/tahun sebagai bahan sumber. Karena jumlah bahan sumber melebihi 2 (dua) ton (uranium dan thorium) sebagaimana tercantum di dalam Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 09 tahun 2009 bab II pasal 7 ayat (1) a., maka pihak otoritas pabrik zirkonium wajib melakukan tindakan remedial terhadap TENORM yang ditimbulkan. Dengan demikian pabrik pengolahan pasir zirkon harus memerlukan unit pengolahan limbah radioaktif beserta fasilitas repositori limbah radioaktif terolah. Metode pengolahan air limbah dengan volume banyak yang mengandung TENORM (U dan Th) dari pabrik zirkon yang relatif mudah, murah, dan dapat dilakukan oleh pabrik pengolahan pasir zirkon adalah secara proses evaporasi dengan panas matahari pada sistem evaporasi di kolam (evaporation pond). Dengan adanya larangan mineral zirkonium dalam bentuk bijih (pasir zirkon) dan zirkonium silikat (zircon opacifier) oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai-Kementerian Keuangan, maka sejak tanggal 6 Mei 2012 kepada pemegang izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi dan izin pertambangan rakyat (IPR) dilarang menjual pasir zirkon dan ZrSiO 4 (zircon opacifier) ke luar negeri. Adanya larangan ekspor pasir zirkon dan konsentrat zirkon ke luar negeri, maka dapat mendorong para pemegang IUP dan IPR pasir zirkon untuk berupaya mengolah pasir 109
110 zirkon menjadi zircon opacifier tidak untuk dijual ke luar negeri tetapi untuk konsumen di dalam negeri sebagai substitusi impor zircon opacifier yang selama ini industri keramik di dalam negeri mengimpor zircon opacifier. Agar para pemegang IUP dan IPR pasir zirkon mendapatkan nilai tambah dari kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pasir zirkon, maka mereka dituntut untuk dapat mengolah pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium setengah jadi seperti ZOC, ZOS, ZBS, ZOH, ZBC, dan zirkonia yang termasuk tidak dilarang oleh Dirjen Bea Cukai untuk di ekspor ke luar negeri. Jika para pemegang IUP dan IPR akan mengolah pasir zirkon menjadi beberapa produk zirkonium seperti ZOC, ZBS, ZOH, dan zirkonia, maka diperlukan studi kelayakan berbasis metallurgical test. Fasilitas unit pengembangan proses pengolahan zirkonium silikat menjadi beberapa produk zirkonium seperti yang ada di PTAPB-BATAN dapat digunakan untuk metallurgical test oleh pemegang IUP dan IPR yang akan mengolah pasir zirkon berdasarkan kontrak kerja atau nota kesepahaman bersama dengan PTAPB. DAFTAR PUSTAKA 1. ANONIM, Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. 2. ANONIM, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 7 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian. 3. ANONIM, Pelarangan Ekspor Bijih (Raw Material atau Ore) Mineral ke Luar Negeri, Direktorat Jenderal Bea Cukai-Kementerian Keuangan, ANONIM, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun 2012, Perubahan Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 7 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian. 5. RASITO, ZULFAKHRI, RINI H. OETAMI, CAYADI, ARIFIN, Z., SOFYAN, S., Konsentrasi Uranium, Thorium dan Kalium dalam Produk Pasir yang Dipasarkan di Bandung, Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Fungsional Pengembangan Teknologi Nuklir III, Jakarta, 16 Desember
111 6. ILUKA, Material Safety Data Sheet Zircon Sand Product, Desember 2008, December%2008%20Aust.pdf. 7. FATHIVAND, A.A., AMIDI, J., HAFEZI, S., Natural Radioactivity Concentration in Raw Materials Used for Manufacturing Refractory Products, Iran. J. Radiat. Res., 2007; 4 (4): BAPETEN, Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 9 Tahun 2009 Tentang Intervensi Terhadap Paparan yang Berasal dari TENORM. 9. SOEPRIYANTO, S., Zirconia Untuk Keramik Maju: Produk Peningkatan Nilai - Tambah Mineral Ikutan, Pidato Ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung, HOFMANN, J., LEICHT, R., WINGENDER, H.J., WÖRNER, J., Natural Radionuclide Concentrations in Materials Processed in the Chemical Industry and the Related Radiological Impact, Nuclear Science and the Environment, European Commission, Report EUR 19264, 2000, p. 20, 36, studies/doc/other/eur19264.pdf. 11. MDL SENEGAL SARL, Grande Cote Zircon Project, Zircon Marketing, 2007, 0Marketing%20Brochure.pdf. 12. RICHARDS, A., Alkane Resources Set for Significant Rerating, Petra Capital Pty Ltd., 2012, [email protected]. 13. ANONIM, Potensi Sumberdaya Zirkon Kalimantan Tengah, Potensi%20Zirkon%20%20Kalimantan%20Tengah.htm. 14. HERMAN, D.Z., Kemungkinan Sebaran Zirkon pada Endapan Placer di Pulau Kalimantan, Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 2 No. 2 Juni 2007: SUDARTO, KALLISTA, D., HERMAWAN, D., 2008, Kajian Teknis Aspek Pengawasan Bahan Nuklir dalam Pasir Zirkon, Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, November
112 17. ILUKA, Mineral Sand Products: Atributes and Aplications, October 2011, KWELA, Z.N., Alkali-Fusion Processes for the Recovery of Zirconia and Zirconium Chemical from Zircon Sand, Zirconia Extraction Processes, Chapter 5, University of Pretoria, SUSANTO, B.G., Perekayasaan Pabrik Zirkon Oksida (ZrO2) dari Tailing Bijih Timah Bangka Belitung Kapasitas 7500 ton/tahun, Laporan Kemajuan Program Insentif, Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir BATAN, GAMBOGI, J., Zirconium and Hafnium, 2010 Minerals Yearbook U.S. Department of The Interior, U.S. Geological Survey, November Asia Metal, Ltd. 22. SKIDMORE, C., Zirconium and Hafnium, MinChem Ltd United Kingdom, Mineral Sands Industry Overview, KADIN, Kebutuhan Teknologi dan Potensi Kerjasama Riset dengan Industri, Departemen Perindustrian, Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Prioritas Basis Industri Manufaktur , (2009) CHALMERS, D.I., A Strategic and Alternate Source of Zirconium, Rare Earth and Nobium Products, REE World s Technology Metals Summit 2012, February 1-2, 2012, Toronto Canada, Alkane Resources Ltd, Dubbo Zirconia Project NSW Australia, High Purity Chemicals for Research and Production, Noah Technologies Corporation, 1 Noah Park San Antonio, Texas USA, [email protected], 112
113 29. CHALMERS, D.I., An Advanced Development and Strategic Supply for the Zirconium, Niobium and Rare Earths Industries, BBY Limited Rare Earth Conference Sydney 12 April 2011, Alkane Resources Ltd, Dubbo Zirconia Project NSW Australia. 30. IAEA, Radiation Protection and NORM Residue Management in the Zircon and Zirconia Industries, Safety Reports Series No. 51, Vienna, TUYEN, N.V., QUANG, V.T., HUONG, T.G., and ANH, V.H., Preparation of High Quality Ziconium Oxychloride from Zircon of Vietnam, The Annual Report for 2007, VAEC, VAEC-AR 07 3, pp Alkane Resources Ltd, Rare Earth and Yttrium Products Produces from the Dubbo Demonstration Pilot Plant, 2009, CHALMERS, D.I., An Alternate Source of Zirconium, Rare Earth, and Niobium Products, 11 November 2011, CHALMERS, D.I., An Example of the Process Required to Take a Next Generation Polymetallic Rare Metal and Rare Earth Deposit into Production, Rare Earths and Strategic Metals 2011, June 2011, Sydney, Alkane Resources Ltd, Dubbo Zirconia Project NSW Australia, pdf/ pdf. 36. IAEA, Clearance Levels for Radionuclides in Solid Materials, Application of Exemption Principles, IAEA-Tecdoc-855, IAEA-Vienna, ISSN , (1996), p NEA, Removal from Regulatory Control of Materials and Sites in Decommissioning and Site Remediation Situation in Spain, In : Removal of Regulatory Controls for Materials and Sites, Nuclear Energy Agency (NEA), Radioactive Waste Management Committee, NEA/RWM/RF(2004)6, p.31, rwm-rf pdf. 38. IAEA, Clearance of Materials Resulting from the Use of Radionuclides in Medicine, Industry and Research, IAEA-Tecdoc-1000, IAEA-Vienna, ISSN , (1998), p
114 39. European Commission, Recommended Radiological Protection Criteria for the Recycling of Metals from the Dismantling of Nuclear Installations, Radiation Protection No. 89, Luxembourg, ISBN , (1998). 40. European Commission, Recommended Radiological Protection Criteria for the Clearance of Buildings and Building Rubble from the Dismantling of Nuclear Installations, Radiation Protection No. 113, Luxembourg, ISBN , (2000). 41. HERMAWAN, D., DEWANTO, P., dan SUDARTO, Kajian Bahan Sumber (U dan Th) pada Eksplorasi, Penambangan, Pemrosesan Pasir Zirkon di Kalteng, Prosiding Seminar Keselamatan Nuklir 2011, BAPETEN, Jakarta, hal WISNUBROTO, D.S., Pengembangan Pembiayaan Pengelolaan Limbah Radioaktif Non PLTN, Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah, Vol. 12, No. 1, Juni 2009, Pusat Teknologi Limbah Radioaktif. 43. Arafura Resources Ltd., Nolans Project On Track be to Part of the New Rare Earths Supply Era, 2011, darwin_2011_05_presentation.pdf. 44. USEPA, Technical Report on Technologically Enhanced Naturally Occurring Radioactive Materials from Uranium Mining Volume 1: Mining and Reclamation Background, EPA 402-R , 2008, docs/tenorm/402-r voli/402-r v1.pdf. 45. MURTY, V.G.K., UPADHYAY, R., ASOKAN, S., Recovery of Zircon from Sattankulam Deposit in India, Problem and Prospects, The 6th International Heavy Minerals Conference Back to Basic The Southern African Institute of Mining and Metallurgy, 2007, pp. 69, SNYDERS, J.H. POTGIETER, NEL, J.T., The upgrading of an inferior grade zircon to superior opacifier for sanitary ware and glazes, The Journal of The South African Institute of Mining and Metallurgy Vol. 105 Non Refered Paper, August 2005, pp
115 Monoclinic Zirconium Oxides, Mixed Zirconium Oxides, Zirconia Powders Process, Zirconia+powders+process 59. HAVENGA, J.L., NEL, J.T., The Manufacture of Plasma Dissociated Zircon (PDZ) via a Nontransferred Arc Process Utilizing Three 150 kw DC Plasma Torches, The Journal of The Southern African Institute of Mining and Metallurgy, Volume 7A, July Nel, J.T., Havenga, J.L., Makhofane, M.M., and Jansen, A.A., The Plasma-Assisted Manufacture of Zirconium Metal Powder from Zirconium Tetrachloride, The Journal of The Southern African Institute of Mining and Metallurgy VOLUME 112 JANUARY
116 LAMPIRAN 1. Surat Edaran Direktorat Jenderal Bea Cukai-Kementerian Keuangan No. S- 377/BC/2012 tanggal 4 Mei 2012 tentang Pelarangan Ekspor Bijih (Raw Material atau Ore) Mineral ke Luar Negeri 116
117 117
118 2. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor: 11 Tahun
119 119
120 120
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NO NAMA PERUSAHAAN KABUPATEN / KOTA NO DAN TAHUN SK 1 MENTAYANG IRON ORE MINING, KOTAWARINGIN TIMUR 526 Tahun 2009 26,08 Operasi Produksi Bijih Besi 30/Nov/2009 2 CHONDRA KURNIA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,
PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG INTERVENSI TERHADAP PAPARAN YANG BERASAL DARI TECHNOLOGICALLY ENHANCED NATURALLY OCCURRING RADIOACTIVE MATERIAL DENGAN RAHMAT TUHAN
RANCANGAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR... TAHUN 2012 TENTANG TINGKAT KLIERENS
KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR... TAHUN 2012 TENTANG TINGKAT KLIERENS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN
- 3 - BAB I KETENTUAN UMUM
- 2 - Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
Bahan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Disampaikan Pada Koordinasi dan Sosialisasi Mineral dan Batubara Jakarta, 6 Februari 2014 DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER
PT MONOKEM SURYA PSTA BATAN 9 AGUSTUS 2016
Dadag Budi Ratmojo Herry Poernomo Dwi Biyantoro PT MONOKEM SURYA PSTA BATAN 9 AGUSTUS 2016 7/27/2016 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA 9/29/2016
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.35, 2014 KEMENESDM. Peningkatan. Nilai Tambah. Mineral. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PENINGKATAN
2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Repub
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.98, 2017 KEMEN-ESDM. Nilai Tambah Mineral. Peningkatan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05 TAHUN 2017 TENTANG PENINGKATAN
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Palangka Raya, 28 April 2017 RAPAT KOORDINASI PENGENDALIAN (RAKORDAL) Triwulan I, Tahun 2017 REKAPITULASI IZIN USAHA PERTAMBANGAN
Tentang Pemurnian dan Pengolahan Mineral di Dalam Negeri
Tentang Pemurnian dan Pengolahan Mineral di Dalam Negeri LATAR BELAKANG 1. Selama ini beberapa komoditas mineral (a.l. Nikel, bauksit, bijih besi dan pasir besi serta mangan) sebagian besar dijual ke luar
KAJIAN BAHAN SUMBER (U DAN Th) PADA EKSPLORASI, PENAMBANGAN, PEMROSESAN PASIR ZIRKON DI KALTENG
KAJIAN BAHAN SUMBER (U DAN Th) PADA EKSPLORASI, PENAMBANGAN, PEMROSESAN PASIR ZIRKON DI KALTENG Dedi Hermawan, Pandu Dewanto dan Sudarto Pusat Pengkajian Sistem dan Teknologi Pengawasan Instalasi dan Bahan
BAB V KERAMIK (CERAMIC)
BAB V KERAMIK (CERAMIC) Keramik adalah material non organik dan non logam. Mereka adalah campuran antara elemen logam dan non logam yang tersusun oleh ikatan ikatan ion. Istilah keramik berasal dari bahasa
LAPORAN EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN TRIWULAN IV TA 2017
PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL LAPORAN EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN TRIWULAN IV TA 2017 Palangkaraya, Januari 2018 KONDISI GEOLOGI KALIMANTAN TENGAH Kalteng
PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 31 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL LOGAM BESI GUBERNUR JAWA BARAT
Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 31 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL LOGAM BESI GUBERNUR JAWA BARAT Menimbang : a. bahwa dalam rangka pengusahaan mineral
EKSPLORASI UMUM ENDAPAN ZIRKON DI KABUPATEN KATINGAN, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
EKSPLORASI UMUM ENDAPAN ZIRKON DI KABUPATEN KATINGAN, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH 1) Martua Raja P, 1) A.F. Yusuf, 1) Bayu Sayekti, 2) Mulyana 1) Kelompok Penelitian Mineral 2) Bidang Sarana Teknik S A
Bedah Permen ESDM No. 7 Tahun Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral
Bedah Permen ESDM No. 7 Tahun 2012 Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral LATAR BELAKANG 1. Selama ini beberapa komoditas mineral (a.l. Nikel, bauksit,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa mineral dan batubara yang
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.4, 2009 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERTAMBANGAN. KETENTUAN-KETENTUAN POKOK. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
KEBIJAKAN SUB SEKTOR MINERBA DI KALIMANTAN TENGAH
KEBIJAKAN SUB SEKTOR MINERBA DI KALIMANTAN TENGAH Disampaikan pada: Musyawarah Perencanaan Pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah Palangkaraya, 5 April 2018 DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN
BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR : 02/Ka-BAPETEN/V-99 TENTANG BAKU TINGKAT RADIOAKTIVITAS DI LINGKUNGAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa mineral dan batubara yang
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa mineral dan batubara yang
BAB I PENDAHULUAN. mendorong bertambahnya permintaan terhadap bahan baku dari barangbarang. industri. Zirkon merupakan salah satu bahan baku di dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bertambahnya permintaan terhadap barang-barang industri mendorong bertambahnya permintaan terhadap bahan baku dari barangbarang industri. Zirkon merupakan salah satu
Pemurnian Serbuk Zirkonia dari Zirkon
TELAAH Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Volume 30 (1) 2012: 1-6 ISSN : 0125-9121 Pemurnian Serbuk Zirkonia dari Zirkon SLAMET PRIYONO DAN ERFIN Y FEBRIANTO Pusat penelitian Fisika LIPI, Komp Puspiptek
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kepulauan Bangka Belitung ditetapkan sebagai provinsi baru sesuai Undang - Undang No. 27 tahun 2000 tanggal 4 Desember 2000. Wilayah provinsi ini meliputi Pulau Bangka,
KAJIAN PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA PENINGKATAN NILAI TAMBAH ZIRKON
KAJIAN PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA PENINGKATAN NILAI TAMBAH ZIRKON Disusun oleh : Drs. Triswan Suseno Drs. Ijang Suherman Agus Prakosa SE Prof. Dr. Siti Rochani, M.Sc Ir. Darsa Permana Ir. Nuryadi Saleh
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan pesisir merupakan daerah peralihan antara daratan dan laut. Dalam suatu wilayah pesisir terdapat bermacam ekosistem dan sumber daya pesisir. Ekosistem pesisir
EKSPLORASI TIMAH DAN REE DI PULAU JEMAJA, KECAMATAN JEMAJA KABUPATEN ANAMBAS, PROVINSI KEPULAUAN RIAU
EKSPLORASI TIMAH DAN REE DI PULAU JEMAJA, KECAMATAN JEMAJA KABUPATEN ANAMBAS, PROVINSI KEPULAUAN RIAU Wahyu Widodo*, Rudy Gunradi* dan Juju Jaenudin** *Kelompok Penyelidikan Mineral, **Sub Bidang Laboratorium
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
No. 4959 TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI PERTAMBANGAN. KETENTUAN-KETENTUAN POKOK. Pencabutan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4) PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK
BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE), atau rare
1 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE), atau rare earth (RE) adalah kelompok 17 elemen logam, yang mempunyai sifat kimia yang mirip, yang terdiri
PERUBAHAN ATAS PP NO. 23 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
PERUBAHAN ATAS PP NO. 23 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA NO PENJELASAN 1. Judul: Judul: PERATURAN PEMERINTAH PENJELASAN REPUBLIK INDONESIA ATAS NOMOR 23
BAB I PENDAHULUAN. komposisi utama berupa mineral-mineral aluminium hidroksida seperti gibsit,
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Bauksit adalah material yang berupa tanah atau batuan yang tersusun dari komposisi utama berupa mineral-mineral aluminium hidroksida seperti gibsit, buhmit dan diaspor.
PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 19 TAHUN 2006 TENTANG : PENGELOLAAN PASIR BESI GUBERNUR JAWA BARAT
Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 19 TAHUN 2006 TENTANG : PENGELOLAAN PASIR BESI GUBERNUR JAWA BARAT Menimbang : a. bahwa Jawa Barat memiliki endapan pasir besi yang berpotensi
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Perbedaan Keramik Konvensional dengan Advanced Ceramics Karakteristik Konvensional Advanced Temperatur maksimal C
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri keramik Indonesia merupakan salah satu sektor unggulan yang telah berkembang baik selama lebih dari 30 tahun (Kemenperin RI, 2016). Nilai penjualan
BAB V DASAR-DASAR PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
BAB V DASAR-DASAR PENGOLAHAN BAHAN GALIAN 5.1. Pengolahan Bahan Galian Pengolahan Bahan Galian (Mineral dressing) adalah pengolahan mineral dengan tujuan untuk memisahkan mineral berharga dan gangue-nya
BAB I PENDAHULUAN. tidak memadai, dan kadar air tanah yang melebihi, Permasalahan umum yang sering dijumpai dalam pelaksanaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan yang sering terjadi pada proyek pembangunan jalan adalah terjadinya penurunan tanah timbunan jalan, sehingga terjadi kerusakan pada aspal. Terjadinya penurunan
TIN107 - Material Teknik #11 - Keramik #1 KERAMIK #1. TIN107 Material Teknik
TIN107 - Material Teknik #11 - Keramik #1 1 KERAMIK #1 TIN107 Material Teknik Definisi Keramik 2 Sebuah klasifikasi dari material yang berbahan dasar tanah liat (clays), pasir (sands) dan feldspar. Tanah
V E R S I P U B L I K
PENDAPAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR A11011 TENTANG PENGAMBILALIHAN SAHAM PERUSAHAAN PT DWIMITRA ENGGANG KHATULISTIWA OLEH PT ANTAM (Persero) Tbk I. LATAR BELAKANG 1.1. Berdasarkan Peraturan
PEMERINTAH KABUPATEN MALANG
PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALANG, Menimbang :
KEBIJAKAN UMUM SEKTOR PERTAMBANGAN
KEBIJAKAN UMUM SEKTOR PERTAMBANGAN Disampaikan pada Diklat Evaluasi RKAB Perusahaan Pertambangan Batam, Juli 2011 Sumber: Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
BUPATI SAMBAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI SAMBAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMBAS, Menimbang : a. bahwa pertambangan rakyat di Kabupaten
BARANG TAMBANG INDONESIA II. Tujuan Pembelajaran
K-13 Geografi K e l a s XI BARANG TAMBANG INDONESIA II Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami kegiatan pertambangan. 2. Memahami
REPUBLIK INDONESIA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN HILIRISASI INDUSTRI DALAM RANGKA MENCAPAI TARGET PERTUMBUHAN INDUSTRI NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN HILIRISASI INDUSTRI DALAM RANGKA MENCAPAI TARGET PERTUMBUHAN INDUSTRI NASIONAL Jakarta, 12 Februari 2013 KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
EVALUASI PEMANTAUAN TENORM PADA PEMBUATAN NATRIUM ZIRKONAT. Sajima dan Sunardjo Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN ABSTARK ABSTRACT
EVALUASI PEMANTAUAN TENORM PADA PEMBUATAN NATRIUM ZIRKONAT Sajima dan Sunardjo Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN ABSTARK EVALUASI PEMANTAUAN TENORM PADA PEMBUATAN NATRIUM ZIRKONAT. Telah
MEDAN, 25 MARET 2015 OLEH : GUBERNUR ACEH
MEDAN, 25 MARET 2015 OLEH : GUBERNUR ACEH PEMERINTAH ACEH 2015 RESUME Hasil Koordinasi dan Supervisi Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batubara di Aceh Per 18 Maret 2015 adalah sebagai berikut : 1.
PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN, Mengingat : a. bahwa mineral dan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal
PEMBUATAN KONSENTRAT ZIRKON DARI PASIR ZIRKON KALIMANTAN BARAT
PEMBUATAN KONSENTRAT ZIRKON DARI PASIR ZIRKON KALIMANTAN BARAT Sajima, Sunardjo, Mulyono -BATAN-Yogyakarta Jl Babarsari Nomor 21, Kotak pos 6101 Ykbb 55281 e-mail : [email protected] Abstrak PEMBUATAN
- 3 - BAB I KETENTUAN UMUM
- 2-2. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik
BAB I PENDAHULUAN. pertambangan antara lain, Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumber daya alam berupa tambang merupakan salah satu andalan negara Indonesia setelah pertanian. Beberapa peraturan nasional baik berupa undangundang, peraturan pemerintah
KEYNOTE SPEECH BIMBINGAN TEKNIS REKLAMASI DAN PASCATAMBANG
KEYNOTE SPEECH BIMBINGAN TEKNIS REKLAMASI DAN PASCATAMBANG Yogyakarta, 19 Juni 2012 DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DAFTAR ISI I. KEBIJAKAN SUBSEKTOR
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan
RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang Mengingat : a.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
2015, No Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang
No.185, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Keselamatan. Keamanan. Zat Radio Aktif. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5728). PERATURAN PEMERINTAH
PENYELIDIKAN POTENSI BAHAN GALIAN PADA TAILING PT FREEPORT INDONESIA DI KABUPATEN MIMIKA, PROVINSI PAPUA
PENYELIDIKAN POTENSI BAHAN GALIAN PADA TAILING PT FREEPORT INDONESIA DI KABUPATEN MIMIKA, PROVINSI PAPUA Mangara P Pohan, 1 Denni W. 2, Sabtanto J.S. 3, Asep A. 4 1,2,3,4 Kelompok Program Penelitian Konservasi
2017, No tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 06 Tahun 2017 tentang Tata Cara Dan Persyaratan Pemberia
No.687, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Penjualan Mineral ke Luar Negeri. Pensyaratan dan Pemberian Rekomendasi. Perubahan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA
BAB I PENDAHULUAN I.1. Judul Penelitian I.2. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN I.1. Judul Penelitian Penelitian ini berjudul Studi Mineral Berat Dalam Endapan Pasir Kuarsa di Daerah Singkawang dan Sekitarnya, Propinsi Kalimantan Barat. I.2. Latar Belakang Masalah
PROSES PELARUTAN ASAM SULFAT DAN ASAM KLORIDA TERHADAP HASIL REDUKSI TERAK TIMAH
PROSES PELARUTAN ASAM SULFAT DAN ASAM KLORIDA TERHADAP HASIL REDUKSI TERAK TIMAH Eko Sulistiyono*, F.Firdiyono dan Ariyo Suharyanto Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI Gedung 470, Kawasan Puspiptek
Prarancangan Pabrik Sodium Silikat Dari Natrium Hidroksida Dan Pasir Silika Kapasitas Ton/Tahun BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang Pendirian Pabrik Sampai saat ini situasi perekonomian di Indonesia belum mengalami kemajuan yang berarti akibat krisis yang berkepanjangan, hal ini berdampak pada
PELARUTAN TERAK TIMAH BANGKA MENGGUNAKAN
PELARUTAN TERAK TIMAH BANGKA MENGGUNAKAN LARUTAN NaOH Ariyo Suharyanto*, Eko Sulistiyono dan F.Firdiyono Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI Gedung 470, Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan
STUDI EKSTRAKSI RUTILE (TiO 2 ) DARI PASIR BESI MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO DENGAN VARIABEL WAKTU PENYINARAN GELOMBANG MIKRO
STUDI EKSTRAKSI RUTILE (TiO 2 ) DARI PASIR BESI MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO DENGAN VARIABEL WAKTU PENYINARAN GELOMBANG MIKRO IGA A RI H IMANDO 2710 100 114 D O SEN P E MBIMBING SUNGGING P INTOWA N T ORO,
Pengembangan Material Biokompatibel Berbahan Zirkonia dari Bahan Baku Mineral Lokal
kode kegiatan I.97 Pengembangan Material Biokompatibel Berbahan Zirkonia dari Bahan Baku Mineral Lokal [ Yuswono ] [ Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia] 2012 LATAR BELAKANG [ pointers ] Kondisi yang menjadi
BAB I PENDAHULUAN. sumber daya bauksit di Indonesia mencapai 3,47 miliar ton, yang terdapat di dua
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Bauksit merupakan salah satu komoditas tambang yang penting di Indonesia. Berdasarkan data dinas Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2011, jumlah sumber daya bauksit
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beton merupakan fungsi dari bahan penyusunnya yang terdiri dari bahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Beton Beton merupakan fungsi dari bahan penyusunnya yang terdiri dari bahan semen hidrolik (Portland Cement), agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambah. Nawy (1995), dalam
Teknologi Pembuatan Bahan Bakar Pelet Reaktor Daya Berbasis Thorium Oksida EXECUTIVE SUMMARY
Teknologi Pembuatan Bahan Bakar Reaktor Daya Berbasis Thorium Oksida EXECUTIVE SUMMARY Dalam rangka untuk mengatasi adanya kekurangan energi yang terjadi di dalam negri saat ini, maka banyak penelitian
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kabupaten Kolaka merupakan salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sulawesi Tenggara yang berada di wilayah pesisir dan memiliki potensi sumberdaya pesisir laut sangat
Prarancangan Pabrik Lanthanum Oxide dari Tin Sand Kapasitas ton/tahun
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Volume ekspor timah Indonesia saat ini merupakan terbesar di dunia yaitu mencapai 80 ribu ton pada tahun 2014 sehingga dapat menguasai 30% kebutuhan timah global dan ikut
Study Proses Reduksi Mineral Tembaga Menggunakan Gelombang Mikro dengan Variasi Daya dan Waktu Radiasi
LOGO Study Proses Reduksi Mineral Tembaga Menggunakan Gelombang Mikro dengan Variasi Daya dan Waktu Radiasi Nur Rosid Aminudin 2708 100 012 Dosen Pembimbing: Dr. Sungging Pintowantoro,ST.,MT Jurusan Teknik
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar
Oleh Rangga Prakoso. Batasan Ekspor Mineral Diperlonggar
Oleh Rangga Prakoso JAKARTA. Revisi Peraturan Pemerintah (PP) No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) akan memuat perlakuan khusus bagi perusahaan
POTENSI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN RAKYAT DI NAD
POTENSI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN RAKYAT DI NAD Ditulis Oleh SAID AZIZ Selasa, 06 Januari 2009 Pusat Survei Geologi - Badan Geologi Dept. ESDM Bandung-Indonesia Dipresentasikan pada Temu Sinkronisasi
Kebijakan Pengawasan Ketenaganukliran
Kebijakan Pengawasan Ketenaganukliran Jazi Eko Istiyanto Kepala BAPETEN Jakarta, 12 Agustus 2015 Definisi Ketenaganukliran adalah hal yang berkaitan dengan pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan ilmu
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOLAKA UTARA TENTANG REKLAMASI DAN PASCA TAMBANG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOLAKA UTARA NOMOR TENTANG REKLAMASI DAN PASCA TAMBANG DISUSUN OLEH : BAGIAN HUKUM SETDA KOLAKA UTARA PEMERINTAH KABUPATEN KOLAKA UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOLAKA UTARA
PEMBUATAN KONSENTRAT ZIRKON SEBAGAI UMPAN PROSES PELEBURAN MENGGUNAKAN SHAKING TABLE (MEJA GOYANG)
PEMBUATAN KONSENTRAT ZIRKON SEBAGAI UMPAN PROSES PELEBURAN MENGGUNAKAN SHAKING TABLE (MEJA GOYANG) Sajima, Sunardjo, Harry Supriyadi BATAN, Babarsari Yogyakarta, 55281 E-mail :[email protected] ABSTRAK
INVENTARISASI DAN EVALUASI MINERAL NON LOGAM DI KABUPATEN SERUYAN DAN KOTAWARINGIN TIMUR, KALIMANTAN TENGAH
INVENTARISASI DAN EVALUASI MINERAL NON LOGAM DI KABUPATEN SERUYAN DAN KOTAWARINGIN TIMUR, KALIMANTAN TENGAH Tisna Sutisna, BE, Ir. Iwan Z. Gondhonegoro, Sp I, Bayu Sayekti, ST, Endang Rifai, BE] Kelompok
POTENSI BAHAN GALIAN PASIR KUARSA DI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI, KABUPATEN LAMPUNG TIMUR, PROVINSI LAMPUNG
Potensi bahan galian pasir kuarsa di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung (Agung Mulyo) POTENSI BAHAN GALIAN PASIR KUARSA DI KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI, KABUPATEN LAMPUNG
BAB I PENDAHULUAN. kepulauan Indonesia dengan jumlah yang sangat besar seperti emas, perak, nikel,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Indonesia memiliki sumber daya mineral yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia dengan jumlah yang sangat besar seperti emas, perak, nikel, timah hitam,
BAB I PENDAHULUAN. kesinambungan pembangunan. Dengan meningkatnya pembangunan akan. dan derajat kesehatan masyarakat disebabkan adanya pencemaran.
1 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Di Indonesia pembangunan disektor industri terus meningkat sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan manusia di dalam mengelola dan mengolah
- 4 - MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA.
- 2 - Perubahan Kelima atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Jenis
BAB 1 PENDAHULUAN I-1 BAB I PENDAHULUAN
I-1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara tempat bertemunya tiga lempeng tektonik yakni lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Oleh karena pertemuan tiga
Pengertian. Istilah bahasa inggris ; Mining law.
Pengertian Istilah bahasa inggris ; Mining law. Hukum pertambangan adalah hukum yang mengatur tentang penggalian atau pertambangan biji-biji dan mineralmineral dalam tanah. (ensiklopedia indonesia). Hukum
Nabila Dyah Anggraini (11/312797/TK/37649) 1 Devi Swasti Prabasiwi (11/319052/TK/38187)
BAB I PENGANTAR I.1. Latar Belakang Aluminium merupakan salah satu elemen logam yang paling melimpah keberadaannya. Secara kuantitas, aluminium menduduki urutan ketiga elemen terbanyak di bumi, di bawah
SIH Standar Industri Hijau
SIH Standar Industri INDUSTRI SEMEN PORTLAND Daftar isi Daftar isi... 1 Prakata... 2 1 Ruang Lingkup... 3 2 Acuan Normatif... 3 3 Definisi... 3 4 Simbol dan Singkatan Istilah... 4 5 Persyaratan Teknis...
BAB I PENDAHULUAN. menurunkan kualitas lingkungan dan derajat kesehatan masyarakat disebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di Indonesia pembangunan disektor industri terus meningkat sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan manusia di dalam mengelola dan mengolah
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah merupakan salah satu unsur alam yang sama pentingnya dengan air dan udara. Tanah adalah suatu benda alami, bagian dari permukaan bumi yang dapat ditumbuhi oleh
ANALISIS PROSPEK PEMANFAATAN ZIRKON DALAM INDUSTRI KERAMIK, FRIT, BATA TAHAN API DAN PENGECORAN LOGAM
Analisis Jurnal Prospek Teknologi Pemanfaatan Mineral dan Zirkon Batubara dalam Volume Industri 11, Keramik, Nomor 2, Frit Mei... Triswan 2015 : Suseno 93 106 dkk. ANALISIS PROSPEK PEMANFAATAN ZIRKON DALAM
BAB I PENDAHULUAN. Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai
ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR. Mardini, Ayi Muziyawati, Darmawan Aji Pusat Teknologi Limbah Radioaktif
ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR Mardini, Ayi Muziyawati, Darmawan Aji Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ABSTRAK ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR. Telah dilakukan analisis limbah
KAJIAN PENYUSUNAN FORMULA HARGA PATOKAN ZIRKON
Jurnal Teknologi Kajian Mineral Penyusunan dan Batubara Formula Volume Harga 11, Patokan Nomor Zirkon, 3, September Ijang Suherman 2015 : 165 179 KAJIAN PENYUSUNAN FORMULA HARGA PATOKAN ZIRKON Assessment
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa Limbah Radioaktif
Peluang & Tantangan Pengembangan Ketenagalistrikan di Kalbar
Peluang & Tantangan Pengembangan Ketenagalistrikan di Kalbar Oleh : Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kalimantan Barat Pada Acara Seminar dan Workshop MKI Wilayah Kalimantan Barat 2013 Pontianak. 13 Maret
BAB II TINJAUAN UMUM
BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah Daerah penyelidikan terletak di Desa Popai, Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat. Secara geografis daerah penyelidikan
Recovery Logam Titanium Dioxide (TiO 2 ) dari Limbah Proses Pengambilan Pasir Besi
LAPORAN PENELITIAN Recovery Logam Titanium Dioxide (TiO 2 ) dari Limbah Proses Pengambilan Pasir Besi Disusun Oleh : Mei Liana Sukarti 0931010003 PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
TES AWAL II KIMIA DASAR II (KI-112)
TES AWAL II KIMIA DASAR II (KI112) NAMA : Tanda Tangan N I M : JURUSAN :... BERBAGAI DATA. Tetapan gas R = 0,082 L atm mol 1 K 1 = 1,987 kal mol 1 K 1 = 8,314 J mol 1 K 1 Tetapan Avogadro = 6,023 x 10
BAB I PENDAHULUAN. Hasil tambang baik mineral maupun batubara merupakan sumber
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil tambang baik mineral maupun batubara merupakan sumber daya alam yang tidak terbaharukan (non renewable) yang dikuasai negara, oleh karena itu pengelolaannya
