PERBANDINGAN EFEKTIFITAS KLINIS OFLOKSASIN TOPIKAL DENGAN OFLOKSASIN KOMBINASI STEROID TOPIKAL PADA OTITIS EKSTERNA PROFUNDA DI MAKASSAR

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERBANDINGAN EFEKTIFITAS KLINIS OFLOKSASIN TOPIKAL DENGAN OFLOKSASIN KOMBINASI STEROID TOPIKAL PADA OTITIS EKSTERNA PROFUNDA DI MAKASSAR"

Transkripsi

1 1 PERBANDINGAN EFEKTIFITAS KLINIS OFLOKSASIN TOPIKAL DENGAN OFLOKSASIN KOMBINASI STEROID TOPIKAL PADA OTITIS EKSTERNA PROFUNDA DI MAKASSAR THE COMPARISON CLINICAL EFFECTIVENESS OF TOPICAL OFLOXACIN WITH TOPICAL STEROID COMBINED OFLOXACIN IN PROFUNDA EXTERNAL OTITIS IN MAKASSAR. Elvira Amri, Abdul Kadir, Nani Iriani Djufri Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Alamat Korespondensi : Elvira Amri Bagian IK. THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar 9245 HP:

2 2 Abstrak Otitis eksterna merupakan salah satu jenis infeksi telinga yang angka kejadiannya cukup tinggi sehingga perlu penanganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektifitas klinis ofloksasin topikal dengan ofloksasin kombinasi steroid topikal pada otitis eksterna profunda di Makassar. Penelitian dengan desain double blind randomized clical trial yang bersifat eksperimental dilakukan pada 6 sampel telinga dan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 3 sampel diberikan ofloksasin topikal dan 3 sampel diberikan ofloksasin kombinasi steroid. Dilakukan pemeriksaan skor VAS untuk menentukan derajat nyeri sebelum dan hari 3, 5 dan 7 setelah pengobatan. Pemeriksaan derajat edema dilakukan dengan cara mengukur diameter kanalis akustikus eksternus yang mengalami edema dan dianggap paling sempit, dengan menggunakan sonde dengan berbagai ukuran yang ukurannya disesuaikan dengan besar kecilnya kanalis akustikus eksternus sebelum dan hari 3, 5 dan 7 setelah pengobatan. Data dianalisis dengan menggunakan Independent test dan Wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p>,5) derajat nyeri dan edema antara kelompok ofloksasin dan kelompok ofloksasin kombinasi steroid sebelum pengobatan serta terdapat perbedaan signifikan (p<,1) derajat nyeri dan edema antara kedua kelompok setelah pengobatan. Disimpulkan bahwa pengobatan ofloksasin kombinasi steroid topikal jauh lebih efektif dibandingkan dengan ofloksasin topikal dalam penurunan derajat nyeri dan edema pada otitis eksterna profunda. Kata kunci : Otitis eksterna profunda, ofloksasin, steroid. Abstrack Eksternal otitis is one type of ear infection is high enough number of events so it needs proper handling. The study aims to compare clinical effectiveness of topical ofloxacin with topical steroid combined ofloxacin in Profunda External Otitis in Makassar.This is an experimental study uses double blind randomized clinical trial design in 6 sample and divided to 2 groups, 3 sample are given topical ofloxacin and 3 sample are given topical steroid combined ofloxacin. VAS scoring examination is meant for scoring pain degree before and after the treatment. Edema degree defined by measuring external acusticus canal which suffered edema and assumpted the narrowest, with using various size of sound and the size is adjusted to the size of external acusticus canal that we do before and after the treatment. The data is analyzed using Mann-Whitney test and Wilcoxon signed rank test. Result of this study shows no significant difference (p>,5) in pain and edema score between ofloxacin group and steroid combined ofloxacin group before the treatment, and there is significant difference (p<,1) in pain and edema score after the treatment between this two groups. The conclusion is treatment with topical steroid combined ofloxacin is much more effective than topical ofloxacin in decreasing the degree of pain and edema in Profunda External Otitis. Key words : Profunda eksternal otitis, ofloxacin, steroid

3 3 PENDAHULUAN Otitis eksterna adalah suatu peradangan pada liang telinga luar, baik akut maupun kronis, yang biasanya dihubungkan dengan infeksi sekunder oleh bakteri dan atau jamur yang menyertai maserasi kulit dan jaringan subkutan. Otitis eksterna dapat dibagi menjadi otitis eksterna superfisialis dan otitis eksterna profunda atau otitis eksterna akut (Dhingra P.L., 28). Otitis eksterna profunda merupakan infeksi pada kanalis akustikus eksternus yang sering ditemukan pada instalasi rawat jalan. Insidensnya di Belanda ditemukan / 1 penduduk pertahun. Pada satu penelitian di Inggris, dilaporkan prevalensinya lebih dari 1% dalam setahun (Balen F.A. dkk., 23). Data yang dikumpulkan di Poliklinik RS.Wahidin Sudirohusodo pada tahun 212 ditemukan 134 kasus otitis eksterna superfisialis dan 39 kasus otitis eksterna profunda. Selama periode musim panas terjadi peningkatan jumlah penderita otitis eksterna profunda dan insidensnya tinggi pada lingkungan yang lembab. Umumnya penderita datang ke Rumah Sakit dengan keluhan rasa sakit pada telinga, terutama bila daun telinga disentuh dan waktu mengunyah. Bila peradangan ini tidak segera diobati secara adekuat, maka keluhan-keluhan seperti rasa sakit, gatal dan mungkin sekret yang berbau akan menetap. Otitis eksterna profunda atau akut dapat berlanjut menjadi otitis eksterna kronik, dapat menyebar ke pinna, periaurikuler, ke tulang temporal, atau penyebaran infeksi ke seluruh tubuh, dan yang paling berbahaya adalah otitis eksterna nekrotik. Oleh karenanya perlu pemilihan jenis terapi yang tepat (Balen F.A. dkk., 23; Basjrah dkk, 1983). Penanganan terkini otitis eksterna profunda yang dilakukan adalah toilet telinga diikuti dengan pemasangan tampon dan terapi topikal dengan aluminium asetat atau antimikroba dengan atau tanpa kortikosteroid (Balen F.A. dkk., 23). Berbagai macam penelitian mengenai terapi topikal pada otitis eksterna telah dilakukan. Menurut penelitian Roland dkk (24), pada 7 hari pengobatan dengan ciprofloksasin/deksamethason tetes telinga yang diberikan dua kali sehari secara klinis dan mikrobiologis lebih unggul dibandingkan dengan neomycin/polymiksin B/hidrokortison tetes telinga yang diberikan 3 kali sehari pada pengobatan otitis eksterna akut mulai yang ringan sampai berat, dan keduanya ditoleransi dengan baik. Hal yang sama juga ditemukan oleh Torum B. dkk. (24), bahwa pemberian tetes telinga ofloksasin,3% sekali sehari dalam 7 hari ditoleransi baik dan efektif pada perbaikan klinis dan mikrobiologis pada otitis eksterna. Balen dkk. (23) melaporkan bahwa tetes telinga yang berisi kortikosteroid lebih efektif

4 4 daripada asam asetat tetes telinga pada pengobatan otitis eksterna akut. Steroid dan asam asetat atau steroid dan antibiotik tetes telinga sama efektifnya. Berdasarkan data-data di atas maka saya menganggap perlu penelitian mengenai perbandingan antara obat tunggal (antibiotik murni) dengan kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas klinis ofloksasin topikal dengan ofloksasin kombinasi steroid topikal pada otitis eksterna pofunda. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pemilihan terapi yang tepat pada penanganan otitis eksterna profunda. BAHAN DAN METODE Lokasi dan Rancangan penelitian Penelitian ini dilakukan di poliklinik THT RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo, RS. Haji dan RS. Indera Khusus. Jenis penelitian yang digunakan bersifat eksperimental dengan rancangan double blind randomized clinical trial. Populasi dan Sampel Populasi adalah penderita otitis eksterna profunda yang datang berobat ke tempat penelitian. Sampel penelitian adalah penderita otitis eksterna profunda yang memenuhi kriteria inklusi yaitu yang didiagnosis otitis eksterna profunda berdasarkan anamnesis, gejala klinis dan pemeriksaan fisis THT, berusia 7 tahun ke atas, bersedia ikut penelitian dan tidak mendapat pengobatan baik topikal atau sistemik paling sedikit 2 minggu terakhir. Sampel akan dieksklusi apabila menderita otitis media, otitis eksterna superfisial, memiliki riwayat DM yang didapat melalui anamnese yang cermat dan kasus diameter kanalis akustikus eksternus sempit < 6 mm dibandingkan telinga sebelahnya. Jumlah sampel sebanyak 6 sampel telinga. Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan. Sebelumnya pada semua penderita otitis eksterna profunda dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis THT. Selanjutnya dilakukan pengukuran skor VAS untuk menentukan derajat nyeri dan pengukuran diameter kanalis akustikus eksternus untuk menentukan derajat edema. Derajat edema dinilai melalui skor (tidak nyeri) sampai 1 (nyeri berat) dengan kategori >-3 ringan, >3-7 sedang dan >7-1 berat. Sedangkan derajat edema dinilai melalui ukuran diameter kanalis akustikus eksternus dengan kategori edema berat (ukuran diameter KAE -1 mm), edema sedang (ukuran diameter KAE 2-3 mm), edema ringan (ukuran diameter KAE

5 5 4-5 mm) dan tidak edema (ukuran diameter KAE 6 mm). Pengukuran ini dilakukan pada hari 1, 3, 5 dan 7 pengamatan. Analisis Data Data yang terkumpul dikelompokkan berdasarkan jenis data kemudian diolah menggunakan sistem pengolahan data secara komputerisasi. Perbandingan efektifitas klinis ofloksasin topikal dengan ofloksasin kombinasi steroid topikal pada otitis eksterna profunda akan dianalisis dengan menggunakan Mann-Whitney test dan Wilcoxon signed rank test. HASIL PENELITIAN Pada penelitian ini didapatkan sampel sebanyak 6 telinga dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok ofloksasin topikal 3 sampel telinga dan kelompok ofloksasin kombinasi steroid topikal 3 sampel telinga. Tabel 1 memperlihatkan distribusi sampel menurut jenis kelamin dan kelompok umur. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 19 orang penderita laki-laki (41,3%) dan 27 orang penderita perempuan (58,7%) dengan perbandingan 1 : 1,4. Pada kelompok umur <3 tahun ditemukan 24 orang (52,2 %) dan pada kelompok umur >=3 tahun sebanyak 22 orang (47,8 %). Tabel 2 menunjukkan distribusi derajat nyeri pada kedua kelompok pengobatan. Pada kelompok ofloksasin topikal, distribusi derajat nyeri telinga yang terbanyak pada hari pertama adalah nyeri sedang (25 telinga), pada hari ketiga terbanyak nyeri ringan (15 telinga), hari kelima dan ketujuh terbanyak yang tidak nyeri (17 dan 3 telinga). Sedangkan pada kelompok ofloksasin kombinasi steroid topikal yang terbanyak adalah nyeri sedang (25 telinga) pada hari pertama. Pada hari ketiga, kelima dan ketujuh terbanyak tidak nyeri (15, 3 dan 3 telinga). Distribusi derajat edema pada kedua kelompok dapat dilihat pada tabel 3. Pada kelompok ofloksasin topikal, pada hari pertama terbanyak edema sedang (22 telinga), hari ketiga nyeri sedang dan ringan (masing-masing 14 telinga), hari kelima dan ketujuh tidak nyeri (15 dan 3 telinga). Sedangkan pada kelompok ofloksasin kombinasi steroid topikal pada hari pertama terbanyak edema sedang (17 telinga), hari ketiga, kelima dan ketujuh terbanyak yang tidak nyeri (17, 3 dan 3 telinga). Berdasarkan uji statistik analisis dengan Wilcoxon signed rank test menunjukkan adanya perbedaan signifikan penurunan skor nyeri antara hari 1 dengan hari 3,5 dan 7 (masing-masing dengan p<,1) pada kedua kelompok pengobatan (Gambar 1). Selain itu, terdapat juga perbedaan signifikan peningkatan diameter kanalis akustikus eksternus antara hari 1 dengan hari 3, 5 dan 7 (masing-masing dengan p<,1) pada kedua kelompok pengobatan (Gambar 2).

6 6 Hasil analisis perbandingan skor nyeri hari 1-7 antara kedua kelompok menunjukkan bahwa pada hari 1 tidak ada perbedaan signifikan skor nyeri antara kedua kelompok sampel (p>,5). Pada hari 3 dan 5, ada perbedaan signifikan skor nyeri antara kedua kelompok sampel (masing-masing dengan p<,1). Rerata skor nyeri pada kelompok Ofloksasin lebih tinggi dibandingkan skor nyeri pada kelompok Ofloksasin kombinasi steroid. Pada hari 7, rerata skor nyeri pada kedua kelompok adalah sama yaitu.(tabel 4). Perbandingan diameter kanalis akustikus eksternus hari 1-7 antara kedua kelompok menunjukkan bahwa pada hari 1, tidak ada perbedaan signifikan diameter KAE antara kedua kelompok sampel (p>,5).pada hari 3 dan 5, ada perbedaan signifikan diameter KAE antara kedua kelompok sampel (p<,1). Rerata diameter KAE pada kelompok Ofloksasin lebih rendah dibandingkan diameter KAE pada kelompok Ofloksasin kombinasi steroid. Pada hari 7, rerata diameter KAE pada kedua kelompok sampel adalah sama yaitu 6, mm.(tabel 5). PEMBAHASAN Penelitian ini memperlihatkan bahwa pengobatan dengan menggunakan ofloksasin kombinasi steroid topikal pada otitis eksterna profunda jauh lebih efektif dibandingkan dengan ofloksasin topikal. Distribusi jenis kelamin dari sampel yang memenuhi kriteria inklusi yaitu 19 orang (41,3%) laki-laki dan 27 orang (58,7%) perempuan, dengan perbandingan 1 : 1,4. Hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Tasak (1998) yaitu laki-laki dan perempuan 1 : 1,2, Basjrah, dkk (1983) mendapatkan perbandingan laki-laki : perempuan 1 : 1,5 dan Nelwan, dkk (1986) mendapatkan 1 : 1,3. Dari 6 sampel telinga yang diteliti, didapatkan umur penderita bervariasi antara 13 5 tahun dimana pada kelompok umur <3 tahun sebanyak 24 orang (52,2%) dan kelompok umur 3 tahun sebanyak 22 orang (47,8 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Tasak (1998) yaitu penderita didapatkan terbanyak pada kelompok umur 21-3 tahun. Nelwan, dkk (1986) mendapatkan terbanyak pada kelompok umur <2 tahun dan KedeL, W.M. dkk (29), pada umur tahun. Distribusi derajat nyeri telinga tiap hari pengamatan dari kelompok Ofloksasin ditemukan bahwa pada hari pertama pengamatan didapatkan nyeri sedang 25 telinga (83,3%), nyeri ringan 3 telinga (1%) dan nyeri berat 2 telinga (6,7%). Tidak ditemukan penderita yang tidak nyeri. Pada hari ketiga pengamatan, nyeri sudah mulai berkurang yaitu dari 83,3% nyeri sedang turun menjadi 43,3% dan nyeri ringan naik dari 1% menjadi 5%. Tidak ditemukan lagi penderita yang nyeri berat. Pada hari kelima pengamatan, nyeri sedang turun menjadi 1 telinga (3,3%), nyeri ringan naik menjadi 12 telinga (4%) dan tidak nyeri 17

7 7 telinga (56,7%). Pada hari ketujuh pengamatan, semua penderita sudah tidak nyeri (1%) dan dinyatakan sembuh. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pemberian terapi ofloksasin topikal pada penderita otitis eksterna profunda terdapat penurunan derajat nyeri sampai hari ketujuh pengamatan. Pemakaian secara topikal dari tetes telinga ofloksasin,3% menghasilkan konsentrasi obat yang sangat tinggi pada telinga, sehingga aktifitas ofloksasin bersifat broad spectrum terhadap bakteri patogen yang sering ditemukan di telinga. Tetes telinga ofloksasin,3% secara klinis efektif untuk mengobati otitis eksterna dan otitis media pada pasien dengan perforasi membran timpani. Larutan ototopikal baik ditoleransi sehingga menghindari berbagai efek samping sistemik dan tidak bersifat ototoksik walaupun dalam konsentrasi lebih tinggi dari,3%, hal ini dibuktikan pada penelitian terhadap binatang.(simpson, K.L., 24; Wai, T.K., 23) Pada kelompok ofloksasin kombinasi steroid ditemukan pada hari pertama pengamatan nyeri sedang 25 telinga (83,3%), nyeri berat 3 telinga (1%) dan nyeri ringan 2 telinga (6,7%). Pada hari ketiga pengamatan, nyeri sudah mulai berkurang yaitu nyeri sedang turun menjadi 6,7%, nyeri ringan naik menjadi 43,3% dan tidak nyeri menjadi 5%. Tidak ditemukan lagi penderita yang nyeri berat. Pada hari kelima dan ketujuh pengamatan semua penderita sudah tidak nyeri (1%) dan dinyatakan sembuh. Hal ini sama dengan penelitian sebelumnya yaitu Tasak (1998) yang menggunakan tampon tetes telinga Garamicin, menemukan pada hari kelima 3 telinga (1%) sudah tidak mengalami nyeri. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya steroid yang dapat mencegah atau menekan timbulnya tanda-tanda peradangan yang disebabkan oleh mikroorganisme, zat kimia atau iritasi termik, trauma atau alergen, bahwa tanda-tanda peradangan seperti rasa panas setempat, kemerahan, pembengkakan dan nyeri tekan dapat hilang, tetapi penyebabnya tidak hilang. Kortikosteroid menggunakan efek anti inflamasinya dengan menginhibisi pembentukan prostaglandin dan derivat lain pada jalur asam arakidonik. Mekanisme lain yang turut memberikan efek anti inflamasi kortikosteroid adalah menginhibisi proses fagositosis dan menstabilisasi membran lisosim dari sel-sel fagosit. Seiring dengan penurunan inflamasi pada otitis eksterna profunda maka akan menyebabkan penurunan nyeri. (Suherman, S.K., 27; Johnson, G.E., 26) Distribusi derajat edema pada tiap hari pengamatan dari kelompok ofloksasin ditemukan bahwa pada hari pertama pengamatan terdapat 3 telinga (1%) yang mengalami edema berat, 22 telinga (73,3 %) edema sedang dan 15 telinga (16,7%) edema ringan. Pada hari ketiga, edema berat sudah tidak ada, edema sedang turun menjadi 46,7%, edema ringan naik menjadi 46,7% dan sudah ada yang tidak edema (6,7%). Pada hari kelima, edema sedang turun menjadi 3,3% dan yang tidak edema naik menjadi 5 %. Pada hari ketujuh pengamatan,

8 8 semua penderita sudah tidak ada yang edema (1%). Hal ini tidak terlalu jauh berbeda dengan penelitian Tasak (1998), dimana pada hari kelima terdapat edema sedang 6,67%, edema ringan 6 % dan tidak edema 33,3 %. Pada hari ketujuh, 6,67 % edema ringan dan 93,3 % tidak edema. Sedangkan pada kelompok ofloksasin kombinasi steroid, pada hari pertama pengamatan ditemukan edema berat 5 telinga (16,7%), edem sedang 17 telinga (56,7%) dan edema ringan 8 telinga (26,7%). Pada hari ketiga, edema berat sudah tidak ada, edema sedang turun menjadi 1%, edema ringan 33,3% dan sudah ada yang tidak edema (56,7%). Pada hari kelima dan ketujuh pengamatan 3 telinga (1%) sudah tidak edema. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Balen dkk (21) yang menunjukkan bahwa ratarata waktu penyembuhan otitis eksterna adalah 6 hari pada kelompok steroid dan antibiotik. Lambert (1981) menemukan rata-rata waktu penyembuhan otitis eksterna 9-11 hari dengan membandingkan tetes telinga otosporin dengan aluminium asetat tetes telinga pada 129 pasien di Cyprus. Berdasarkan uji statistik analisis dengan Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan pada kelompok ofloksasin terdapat perbedaan signifikan penurunan skor nyeri antara hari 1 dengan hari 3, 5 dan 7 (masing-masing dengan p<,1). Skor nyeri pada hari 3 turun menjadi 3,3 dibandingkan 5,4 pada hari 1. Demikian juga pada hari 5 dan 7, skor nyeri turun menjadi,9 dan, dibandingkan hari 1. Pada kelompok Ofloksasin kombinasi steroid, terdapat perbedaan signifikan penurunan skor nyeri antara hari 1 dengan hari 3, 5 dan 7 (masing-masing dengan p<,1). Skor nyeri pada hari 3 turun menjadi 1,3 dibandingkan 5,5 pada hari 1. Demikian juga pada hari 5 dan 7, derajat nyeri turun menjadi, dibandingkan hari 1. Hal ini berarti bahwa pemberian ofloksasin dan ofloksasin kombinasi steroid topikal efektif terhadap penurunan nyeri pada otitis eksterna profunda. Pada penelitian ini ditemukan perbedaan signifikan peningkatan diameter KAE antara hari 1 dengan hari 3, 5 dan 7 (p<,1) pada kelompok ofloksasin. Diameter KAE pada hari 3 naik menjadi 3,7 mm dibandingkan 2,4 mm pada hari 1. Sedangkan pada hari 5,dan 7 naik menjadi 5,3 mm dan 6, mm dibandingkan hari 1. Pada kelompok ofloksasin kombinasi steroid, juga terdapat perbedaan signifikan diameter KAE antara hari 1 dengan hari 3, 5 dan 7 (p<,1). Diameter KAE pada hari 3 naik menjadi 5,4 mm dibandingkan 2,6 mm pada hari 1. Sedangkan pada hari 5 dan 7, naik menjadi 6, mm dibandingkan hari 1. Dengan adanya peningkatan diameter kanalis akustikus eksternus menunjukkan terjadinya penurunan derajat edema. Hal ini berarti bahwa pemberian ofloksasin dan ofloksasin kombinasi steroid topikal efektif terhadap penurunan edema pada otitis eksterna profunda. Berdasarkan uji statistik analisis dengan Mann-Whitney Test menunjukkan bahwa

9 9 tidak ada perbedaan signifikan skor nyeri dan diameter KAE antara kelompok ofloksasin dan kelompok ofloksasin kombinasi steroid (p>,5) pada hari 1. Sedangkan pada hari 3 dan 5, ada perbedaan signifikan skor nyeri dan diameter KAE antara kedua kelompok sampel (masing-masing dengan p<,1). Hal ini menunjukkan bahwa pengobatan ofloksasin kombinasi steroid topikal pada otitis eksterna profunda lebih efektif dibandingkan ofloksasin topikal dalam penurunan skor nyeri dan peningkatan diameter KAE pada hari 3 dan 5 pengamatan. Hal ini disebabkan karena adanya kombinasi antibiotik dan steroid, dimana steroid berfungsi menghambat fenomena inflamasi dini: edema, deposit fibrin, dilatasi kapiler, migrasi leukosit ke tempat radang dan aktivitas fagositosis. Selain itu juga dapat menghambat manifestasi inflamasi yang telah lanjut: proliferasi kapiler dan fibroblast, pengumpulan kolagen dan pembentukan sikatriks.(fauci, A.S., 1985; Goldfien, A., 27) Emgard dkk (25), menemukan bahwa kelompok tetes telinga yang berisi.5% larutan betamethasone dipropionate (BD) lebih efektif menyembuhkan otitis eksterna daripada tetes telinga yang berisi hydrocortisone dengan oxytetracycline hydrochloride and polymyxin B (HCPB) baik yang terinfeksi oleh bakteri ataupun jamur. Tidak ada perbedaan yang jelas tentang efek samping dari kedua obat tersebut. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengobatan ofloksasin kombinasi steroid topikal jauh lebih efektif pada penurunan derajat nyeri dan edema dibandingkan dengan ofloksasin topikal. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disarankan untuk mempertimbangkan ofloksasin kombinasi steroid topikal dalam pemilihan pengobatan pada otitis eksterna profunda. Perlu dilakukan penelitian lanjut dengan membandingkan efektifitas antara ofloksasin topikal, ofloksasin kombinasi steroid topikal dan steroid topikal pada penanganan otitis eksterna profunda.

10 1 DAFTAR PUSTAKA Balen, F.A. dkk. (23). Clinical Efficacy of Three Common Treatments. In Acute Otitis Externa in Primary Care : Randomised Controlled Trial, Volume 327, Netherlands. Basjrah, R. dan Rahman, A. (1983). Uji coba banding klinik pemakaian larutan burrowi dan Kenakomb tetes pada otitis eksterna. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Kongres Nasional VII PERHATI. Surabaya Dhingra, P.L. (28). Disease of ear, nose and throat. 4 th ed. New Delhi: Elsevier. p Emgard, P. dkk. (25). A group III steroid solution without antibiotic components : an effective cure for external otitis. Journal of Otolaryngology.119: Fauci, A.S. (1985). Segi Klinik Imunosupresi : Penggunaan agen sitotoksik dan kortikosteroid. Imunologi III. by Bellantin J.ed. Indonesia. Gadjah Mada Univ.Press. Yogyakarta Goldfien, A. (27). Adrenokortikosteroid dan antagonis korteks adrenal. Dalam Katzung G : Farmakologi dasar dan klinik. Edisi 3. EGC. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta Johnson, G.E. (26). Adrenal Cortical Hormones. In: Pharmacology in Medicine: Principles and Practice. Sp Press International Inc. Washington Kedel, W.M. dkk. (29). The effectiveness of rivanol tampon compared with burowi tampon in acute diffuse otitis externa. Berkala Ilmu Kedokteran. Vol. 41. No. 3. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta Lambert, I.J. (1981). A Comparison of the treatment of otitis externa with Otosporin and aluminium acetate: a report from a services practice in Cyprus. Journal of the Royal College of General Practitioners. Cyprus Nelwan, N.S. dkk. (1986). Pola otitis eksterna di RS Sumber Waras / FKUI Jakarta. Dalam: Kumpulan naskah Kongres Nasional VIII PERHATI. Ujungpandang Roland, P.S. dkk. (24). Efficacy and safety of topical ciprofloxacin/dexamethasone versus neomycin/polymixin B/hydrocortisone for otitis externa. Curr Med Res Opin.2: Simpson, K.L. (24). Ofloxacin otic solution: A review of its use in the management of ear infections. Drugs. New Zealand. 58(3): Suherman, S.K. (27). Adrenokortikotropin, Adrenokortikosteroid, Analog Sintetik dan Antagonisnya. Dalam : Farmakologi dan Terapi. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta Tasak, D.R. (1998). Uji Banding Klinik Pemakaian Tampon Tetes Telinga Burowi dan Tampon Tetes Telinga Garamicin Pada Otitis Eksterna Profunda Sirkumskripta. Karya Akhir. Universitas Hasanuddin. Makassar. Torum, B. dkk. (24). Efficacy of Ofloxacin otic solution once daily for 7 days in the treatment of otitis externa: a multicenter, open-label, phase III trial. Clin Ther. Guatemala. 26(7) : Wai, T.K. (23). A benefit-risk assessment of ofloxacin otic solution in ear infection. Drug Saf. Hong Kong. 26(6): 45-2.

11 11 Lampiran Tabel 1. Distribusi menurut jenis kelamin dan kelompok umur Karakteristik Frekuensi Persen Jenis kelamin Laki-laki 19 41,3 Perempuan 27 58,7 Total 46 1, Kelompok Umur (thn) < ,2 >= ,8 Total 7 1, Tabel 2. Distribusi derajat nyeri pada kedua kelompok pengobatan Kelompok Hari Nyeri Berat Nyeri Nyeri Tidak Nyeri Total Pengamatan Sedang Ringan Ofloksasin 1 2(6,7%) 25(83,3%) 3(1%) 3(1%) Oflo komb.steroid 3 13(43,3%) 15(5%) 2(6,7%) 3(1%) 5 1(3,3%) 12(4%) 17(56,7%) 3(1%) (1%) 25(83,3%) 2(6,7%) 2(6,7%) 13(43,3%) 3(1%) 15(5%) 3(1%) 3(1%) 3(1%) 3(1%) 3(1%) 3(1%) 3(1%)

12 12 Tabel 3. Distribusi derajat edema pada kedua kelompok pengobatan Kelompok Hari Edema Edema Edema Tidak Total Pengamatan berat Sedang ringan edema Ofloksasin 1 3(1%) 22(73,3%) 5(16,7%) 3(1%) 3 14(46,7%) 14(46,7%) 2(6,7%) 3(1%) 5 1(3,3%) 14(46,7%) 15(5%) 3(1%) 7 3(1%) 3(1%) Oflo komb.steroid 1 5(16,7%) 17(56,7%) 8(26,7%) 3(1%) 3 3(1%) 1(33,3%) 17(56,7%) 3(1%) 5 3(1%) 3(1%) 7 3(1%) 3(1%) Tabel 4. Perbandingan skor nyeri hari 1-7 antara kedua kelompok Kelompok n Rerata Simpang Baku P Skor Nyeri Hari 1 Ofloksasin 3 5,4 1,5,848 Oflo komb.steroid 3 5,5 1,3 Skor Nyeri Hari 3 Ofloksasin 3 3,3 1,5, Oflo komb.steroid 3 1,3 1,6 Skor Nyeri Hari 5 Ofloksasin 3,9 1,3, Oflo komb.steroid 3,, Skor Nyeri Hari 7 Ofloksasin 3,, 1, Oflo komb.steroid 3,, Mann-Whitney test (p<,1) Tabel 5. Perbandingan diameter kanalis akustikus eksternus hari 1-7 antara kedua kelompok Kelompok n Rerata Simpang Baku P (mm) Diameter KAE Hari 1 Ofloksasin 3 2,43,9,517 Komb. Oflo & KS 3 2,6 1,1 Diameter KAE Hari 3 Ofloksasin 3 3,7 1,, Komb. Oflo & KS 3 5,43,7 Diameter KAE Hari 5 Ofloksasin 3 5,33,8, Komb. Oflo & KS 3 6,, Diameter KAE Hari 7 Ofloksasin 3 6,, 1, Komb. Oflo & KS 3 6,, Mann-Whitney test (p<,1)

13 Ofloksasin Ofloksasin komb.steroid Hari 1 Hari 3 Hari 5 Hari 7 Gambar 1. Grafik perbandingan skor nyeri hari 1 dengan hari 3,5 dan 7 berdasarkan kelompok Hari 1 Hari 3 Hari 5 Hari 7 Ofloksasin Ofloksasin komb.steroid Gambar 2. Grafik perbandingan diameter KAE hari 1 dengan hari 3, 5 dan 7 berdasarkan kelompok

PERBEDAAN EFEKTIVITAS KLINIK DAN PERUBAHAN PH LARUTAN ASAM ASETAT 2%DENGAN LARUTAN OFLOXACIN 0,3% PADA OTITIS EKSTERNA AKUT

PERBEDAAN EFEKTIVITAS KLINIK DAN PERUBAHAN PH LARUTAN ASAM ASETAT 2%DENGAN LARUTAN OFLOXACIN 0,3% PADA OTITIS EKSTERNA AKUT PERBEDAAN EFEKTIVITAS KLINIK DAN PERUBAHAN PH LARUTAN ASAM ASETAT 2%DENGAN LARUTAN OFLOXACIN 0,3% PADA OTITIS EKSTERNA AKUT CLINICAL EFFECTIVENESS AND CHANGES OF PH DIFFERENCES BETWEEN ACETIC ACID 2% AND

Lebih terperinci

TERAPI TOPIKAL CLINDAMYCIN DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE + ZINC PADA ACNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

TERAPI TOPIKAL CLINDAMYCIN DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE + ZINC PADA ACNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH TERAPI TOPIKAL CLINDAMYCIN DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE + ZINC PADA ACNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti seminar hasil Karya Tulis Ilmiah

Lebih terperinci

TERAPI TOPIKAL AZELAIC ACID DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

TERAPI TOPIKAL AZELAIC ACID DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH TERAPI TOPIKAL AZELAIC ACID DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti seminar hasil Karya Tulis Ilmiah

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlokasi di Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODE DAN PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Moewardi

BAB III METODE DAN PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Moewardi BAB III METODE DAN PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Poliklinik THT-KL RSUD Karanganyar, Poliklinik THT-KL RSUD Boyolali.

Lebih terperinci

A PLACEBO-CONTROLLED TRIAL OF ANTIMICROBIAL TREATMENT FOR ACUTE OTITIS MEDIA. Paula A. Tahtinen, et all

A PLACEBO-CONTROLLED TRIAL OF ANTIMICROBIAL TREATMENT FOR ACUTE OTITIS MEDIA. Paula A. Tahtinen, et all A PLACEBO-CONTROLLED TRIAL OF ANTIMICROBIAL TREATMENT FOR ACUTE OTITIS MEDIA Paula A. Tahtinen, et all PENDAHULUAN Otitis media akut (OMA) adalah penyakit infeksi bakteri yang paling banyak terjadi pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis

BAB IV HASIL PENELITIAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis BAB IV HASIL PENELITIAN Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis kronik yang berobat di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL. Selama penelitian diambil sampel sebanyak 50 pasien

Lebih terperinci

BAB II. Kepustakaan. 2.1 Anatomi telinga luar

BAB II. Kepustakaan. 2.1 Anatomi telinga luar BAB II Kepustakaan 2.1 Anatomi telinga luar Secara anatomi, telinga dibagi atas 3 yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi mengumpulkan dan menghantarkan gelombang bunyi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otitis media supuratif kronis (OMSK) merupakan peradangan dan infeksi kronis pada telinga tengah dan rongga mastoid yang ditandai dengan adanya sekret yang keluar terus

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Farmasi dalam kaitannya dengan Pharmaceutical Care harus memastikan bahwa

I. PENDAHULUAN. Farmasi dalam kaitannya dengan Pharmaceutical Care harus memastikan bahwa I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pharmaceutical Care adalah salah satu elemen penting dalam pelayanan kesehatan dan selalu berhubungan dengan elemen lain dalam bidang kesehatan. Farmasi dalam kaitannya

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB 4 METODE PENELITIAN BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian adalah ruang lingkup disiplin ilmu kesehatan kulit. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian - Tempat penelitian : Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian eksperimental telah dilakukan pada penderita rinosinusitis kronik yang berobat di Poliklinik Ilmu Kesehatan THT-KL RSUD Dr. Moewardi

Lebih terperinci

PENDERITA TONSILITIS DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO JANUARI 2010-DESEMBER 2012

PENDERITA TONSILITIS DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO JANUARI 2010-DESEMBER 2012 PENDERITA TONSILITIS DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO JANUARI 2010-DESEMBER 2012 1 Andre Ch. T. Palandeng 2 R. E. C. Tumbel 2 Julied Dehoop 1 Kandidat Skrispi Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

PERBEDAAN WAKTU TRANSPORTASI MUKOSILIAR HIDUNG PADA PENDERITA RINOSINUSITIS KRONIS SETELAH DILAKUKAN BEDAH SINUS ENDOSKOPIK FUNGSIONAL DENGAN ADJUVAN

PERBEDAAN WAKTU TRANSPORTASI MUKOSILIAR HIDUNG PADA PENDERITA RINOSINUSITIS KRONIS SETELAH DILAKUKAN BEDAH SINUS ENDOSKOPIK FUNGSIONAL DENGAN ADJUVAN PERBEDAAN WAKTU TRANSPORTASI MUKOSILIAR HIDUNG PADA PENDERITA RINOSINUSITIS KRONIS SETELAH DILAKUKAN BEDAH SINUS ENDOSKOPIK FUNGSIONAL DENGAN ADJUVAN TERAPI CUCI HIDUNG CAIRAN ISOTONIK NACL 0,9% DIBANDINGKAN

Lebih terperinci

POLA KUMAN DAN UJI KEPEKAANNYA TERHADAP ANTIBIOTIKA PADA PENDERITA OTITIS EKSTERNA DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D.

POLA KUMAN DAN UJI KEPEKAANNYA TERHADAP ANTIBIOTIKA PADA PENDERITA OTITIS EKSTERNA DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D. POLA KUMAN DAN UJI KEPEKAANNYA TERHADAP ANTIBIOTIKA PADA PENDERITA OTITIS EKSTERNA DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO 1 Pingkan Suwu 2 Constantyn Kountul 3 Olivia Waworuntu Bagian

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka konsep penelitian Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, kerangka konsep mengenai angka kejadian relaps sindrom nefrotik

Lebih terperinci

SURVEI KESEHATAN TELINGA PADA ANAK PASAR BERSEHATI KOMUNITAS DINDING MANADO

SURVEI KESEHATAN TELINGA PADA ANAK PASAR BERSEHATI KOMUNITAS DINDING MANADO SURVEI KESEHATAN TELINGA PADA ANAK PASAR BERSEHATI KOMUNITAS DINDING MANADO 1 Kurniati Mappadang 2 Julied Dehoop 2 Steward K. Mengko 1 Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mengandung kelenjar sebasea seperti: muka, dada dan punggung ( kelenjar/cm). 1,2 Acne

BAB 1 PENDAHULUAN. mengandung kelenjar sebasea seperti: muka, dada dan punggung ( kelenjar/cm). 1,2 Acne BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu penyakit kulit yang merisaukan remaja dan dewasa adalah jerawat, karena dapat mengurangi kepercayaan diri seseorang 1. Acne vulgaris atau lebih sering

Lebih terperinci

Kesehatan telinga siswa Sekolah Dasar Inpres 1073 Pandu

Kesehatan telinga siswa Sekolah Dasar Inpres 1073 Pandu Kesehatan telinga siswa Sekolah Dasar Inpres 1073 Pandu 1 Sylvester B. Demmassabu 2 Ora I. Palandeng 2 Olivia C Pelealu 1 Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado 2 Bagian/SMF

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB 4 METODE PENELITIAN 31 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan leher 4.2. Rancangan Penelitian Desain penelitian

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK PROPOLIS INDONESIA MEREK X DALAM MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA PADA MENCIT JANTAN GALUR Swiss-Webster

ABSTRAK. EFEK PROPOLIS INDONESIA MEREK X DALAM MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA PADA MENCIT JANTAN GALUR Swiss-Webster ABSTRAK EFEK PROPOLIS INDONESIA MEREK X DALAM MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA PADA MENCIT JANTAN GALUR Swiss-Webster Kamajaya Mulyana, 2014; Pembimbing : Sri Nadya J. Saanin, dr., M.Kes Luka pada kulit sering

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. subyek pengamatan yaitu penderita rinosinusitis kronik diberi larutan salin isotonik

BAB V PEMBAHASAN. subyek pengamatan yaitu penderita rinosinusitis kronik diberi larutan salin isotonik 77 BAB V PEMBAHASAN Rancangan penelitian eksperimental murni ini menggunakan dua kelompok subyek pengamatan yaitu penderita rinosinusitis kronik diberi larutan salin isotonik dan larutan salin hipertonik

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : Luh Putu Ayu Wulandari Nim

SKRIPSI. Oleh : Luh Putu Ayu Wulandari Nim SKRIPSI PERMAINAN PAPAN KESEIMBANGAN (BALANCE BOARD) LEBIH MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS DARIPADA PERMAINAN BALOK KESEIMBANGAN (BALANCE BEAM) PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK PRADNYANDARI I KEROBOKAN

Lebih terperinci

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA (COST EFF ECTIVENESS ANALYSIS) PADA PASIEN GASTRITIS KRONIK RAWAT INAP DI RSU PANCARAN KASIH GMIM MANADO

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA (COST EFF ECTIVENESS ANALYSIS) PADA PASIEN GASTRITIS KRONIK RAWAT INAP DI RSU PANCARAN KASIH GMIM MANADO PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 6 No. AGUSTUS 017 ISSN 0-49 ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA (COST EFF ECTIVENESS ANALYSIS) PADA PASIEN GASTRITIS KRONIK RAWAT INAP DI RSU PANCARAN KASIH GMIM MANADO

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mulut, yang dapat disebabkan oleh trauma maupun tindakan bedah. Proses

BAB I PENDAHULUAN. mulut, yang dapat disebabkan oleh trauma maupun tindakan bedah. Proses BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Luka merupakan kerusakan fisik yang ditandai dengan terganggunya kontinuitas struktur jaringan yang normal. 1 Luka sering terjadi dalam rongga mulut, yang

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 21 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian intervensi atau uji klinis dengan randomized controlled trial pre- & posttest design. Studi ini mempelajari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Prevalensi cedera luka bakar di Indonesia sebesar 2,2% dimana prevalensi

BAB I PENDAHULUAN. Prevalensi cedera luka bakar di Indonesia sebesar 2,2% dimana prevalensi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter. Prevalensi cedera luka bakar di Indonesia sebesar 2,2% dimana prevalensi luka bakar tertinggi terdapat

Lebih terperinci

Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, 2

Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, 2 ISSN: 89-984 ISM, VOL. 5 NO., JANUARI-APRIL, HAL 6-6 KEJADIAN OTITIS EKSTERNA PADA MASYARAKAT PENEBEL TABANAN DAN YANGAPI BANGLI YANG BERKUNJUNG KE BAKTI SOSIAL STAF MEDIS FUNGSIONAL TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian dilakukan di klinik alergi Bagian / SMF THT-KL RS Dr. Kariadi

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian dilakukan di klinik alergi Bagian / SMF THT-KL RS Dr. Kariadi 29 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. HASIL PENELITIAN 4.1.1. Jumlah Sampel Penelitian Penelitian dilakukan di klinik alergi Bagian / SMF THT-KL RS Dr. Kariadi Semarang, didapatkan 44 penderita rinitis alergi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Otomikosis atau otitis eksterna jamur sering melibatkan pinna dan meatus

BAB 1 PENDAHULUAN. Otomikosis atau otitis eksterna jamur sering melibatkan pinna dan meatus BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otomikosis adalah infeksi jamur pada liang telinga (Asroel, 2010). Otomikosis atau otitis eksterna jamur sering melibatkan pinna dan meatus auditori eksternal (Barati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. endoskopis berupa polip atau sekret mukopurulen yang berasal dari meatus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. endoskopis berupa polip atau sekret mukopurulen yang berasal dari meatus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang kronik (RSK) merupakan inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal dengan jangka waktu gejala 12 minggu, ditandai oleh dua atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Infeksi dan Penyakit Tropis dan Mikrobiologi Klinik. RSUP Dr. Kariadi Semarang telah dilaksanakan mulai bulan Mei 2014

BAB IV METODE PENELITIAN. Infeksi dan Penyakit Tropis dan Mikrobiologi Klinik. RSUP Dr. Kariadi Semarang telah dilaksanakan mulai bulan Mei 2014 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kesehatan Anak Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis dan Mikrobiologi Klinik. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Pengambilan

Lebih terperinci

ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah

ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah ABSTRAK KARAKTERISTIK PASIEN SINUSITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PADA APRIL 2015 SAMPAI APRIL 2016 Sinusitis yang merupakan salah satu penyakit THT, Sinusitis adalah peradangan pada membran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya

BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya adalah bersin, hidung beringus (rhinorrhea), dan hidung tersumbat. 1 Dapat juga disertai

Lebih terperinci

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TRAMADOL DENGAN KOMBINASI TRAMADOL + KETOLORAC PADA PENANGANAN NYERI PASCA SEKSIO SESAREA

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TRAMADOL DENGAN KOMBINASI TRAMADOL + KETOLORAC PADA PENANGANAN NYERI PASCA SEKSIO SESAREA PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TRAMADOL DENGAN KOMBINASI TRAMADOL + KETOLORAC PADA PENANGANAN NYERI PASCA SEKSIO SESAREA 1 Ayu Y.S Fajarini 2 Lucky Kumaat, 2 Mordekhai Laihad 1 Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan mendengar dan berkomunikasi dengan orang lain. Gangguan

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan mendengar dan berkomunikasi dengan orang lain. Gangguan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telinga adalah organ penginderaan yang berfungsi ganda untuk pendengaran dan keseimbangan dengan anatomi yang kompleks. Indera pendengaran berperan penting dalam

Lebih terperinci

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian. atas. Akne biasanya timbul pada awal usia remaja.

BAB I. A. Latar Belakang Penelitian. atas. Akne biasanya timbul pada awal usia remaja. 1 BAB I A. Latar Belakang Penelitian Akne merupakan penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan menahun folikel pilosebasea yang ditandai dengan komedo, papul, pustul, nodul dan kista pada wajah, leher,

Lebih terperinci

Tasnim 1) JIK Vol. I No.16 Mei 2014: e-issn:

Tasnim 1) JIK Vol. I No.16 Mei 2014: e-issn: Efektifitas Pemberian Kompres Hangat Daerah Temporalis dengan Kompres Hangat Daerah Vena Besar Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Anak Demam di Ruang Perawatan Anak BPK RSUD Poso Tasnim 1) Abstrak: Kompres

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. 3. Ruang lingkup waktu adalah bulan Maret-selesai.

BAB 4 METODE PENELITIAN. 3. Ruang lingkup waktu adalah bulan Maret-selesai. BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang Lingkup Penelitian 1. Ruang lingkup keilmuan adalah THT-KL khususnya bidang alergi imunologi. 2. Ruang lingkup tempat adalah instalasi rawat jalan THT-KL sub bagian alergi

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK ANALGETIK EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata, (Burm f) Nees) PADA MENCIT BETINA GALUR Swiss-Webster

ABSTRAK. EFEK ANALGETIK EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata, (Burm f) Nees) PADA MENCIT BETINA GALUR Swiss-Webster ABSTRAK EFEK ANALGETIK EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata, (Burm f) Nees) PADA MENCIT BETINA GALUR Swiss-Webster Fitriyani Yunita, 2007, Pembimbing I Pembimbing II : Sugiarto Puradisastra,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. WHO menunjukkan jumlah perokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga

BAB I PENDAHULUAN. WHO menunjukkan jumlah perokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kuantitas perokok di Indonesia semakin tahun semakin meningkat. Data WHO menunjukkan jumlah perokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga dibawah Cina dan India.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika adalah suatu peradangan pada kulit yang didasari oleh reaksi alergi/reaksi hipersensitivitas tipe I. Penyakit yang berkaitan dengan reaksi hipersensitivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan profil kesehatan provinsi Daerah Istimewa. Yogyakarta tahun 2012, penyakit infeksi masih menduduki 10

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan profil kesehatan provinsi Daerah Istimewa. Yogyakarta tahun 2012, penyakit infeksi masih menduduki 10 BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Berdasarkan profil kesehatan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2012, penyakit infeksi masih menduduki 10 besar penyakit baik di puskesmas maupun di bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertahun-tahun ini oleh ahli-ahli di bidang psikosomatik menunjukkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. bertahun-tahun ini oleh ahli-ahli di bidang psikosomatik menunjukkan bahwa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyeri adalah suatu fenomena yang kompleks, dialami secara primer sebagai suatu pengalaman psikologis. Penelitian yang berlangsung selama bertahun-tahun ini oleh ahli-ahli

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang ditemukan pada banyak populasi di

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang ditemukan pada banyak populasi di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Otitis media supuratif kronis (OMSK) merupakan penyakit pada telinga yang merupakan salah satu masalah kesehatan utama yang ditemukan pada banyak populasi di dunia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sumber infeksi, seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sumber infeksi, seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Abses leher dalam adalah terkumpulnya nanah (pus) di dalam ruang potensial yang terletak di antara fasia leher dalam, sebagai akibat penjalaran dari berbagai sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Di dunia, 12%

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Di dunia, 12% BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Di dunia, 12% seluruh kematian disebabkan

Lebih terperinci

ABSTRAK PERBANDINGAN KADAR RET HE, FE, DAN TIBC PADA PENDERITA ANEMIA DEFISIENSI FE DENGAN ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIS

ABSTRAK PERBANDINGAN KADAR RET HE, FE, DAN TIBC PADA PENDERITA ANEMIA DEFISIENSI FE DENGAN ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIS ABSTRAK PERBANDINGAN KADAR RET HE, FE, DAN TIBC PADA PENDERITA ANEMIA DEFISIENSI FE DENGAN ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIS Renaldi, 2013 Pembimbing I : dr. Fenny, Sp.PK., M.Kes Pembimbing II : dr. Indahwaty,

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. belah lintang (cross sectional) untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. belah lintang (cross sectional) untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan rancangan belah lintang (cross sectional) untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor yang

Lebih terperinci

ABSTRAK EFEKTIVITAS PERBEDAAN UKURAN KEPALA SIKAT GIGI MANUAL MEREK X TERHADAP PENURUNAN INDEKS PLAK

ABSTRAK EFEKTIVITAS PERBEDAAN UKURAN KEPALA SIKAT GIGI MANUAL MEREK X TERHADAP PENURUNAN INDEKS PLAK ABSTRAK EFEKTIVITAS PERBEDAAN UKURAN KEPALA SIKAT GIGI MANUAL MEREK X TERHADAP PENURUNAN INDEKS PLAK Plak mikroba merupakan etiologi utama penyakit periodontal dan karies gigi. Sikat gigi dalam berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyebarannya sangat cepat. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia

BAB I PENDAHULUAN. penyebarannya sangat cepat. Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konjungtivitis merupakan penyakit mata paling umum didunia. Penyakit konjungtivitis ini berada pada peringkat no.3 terbesar di dunia setelah penyakit katarak dan glaukoma,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Referat Serumen 1

BAB I PENDAHULUAN. Referat Serumen 1 BAB I PENDAHULUAN Serumen dapat ditemukan pada kanalis akustikus eksternus. Serumen merupakan campuran dari material sebaseus dan hasil sekresi apokrin dari glandula seruminosa yang bercampur dengan epitel

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah. mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan pada mukosa hidung

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah. mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan pada mukosa hidung BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK EKSTRAK RIMPANG JAHE (Zingiberis rhizoma) SEBAGAI ANALGETIK PADA MENCIT BETINA GALUR SWISS-WEBSTER

ABSTRAK. EFEK EKSTRAK RIMPANG JAHE (Zingiberis rhizoma) SEBAGAI ANALGETIK PADA MENCIT BETINA GALUR SWISS-WEBSTER ABSTRAK EFEK EKSTRAK RIMPANG JAHE (Zingiberis rhizoma) SEBAGAI ANALGETIK PADA MENCIT BETINA GALUR SWISS-WEBSTER Vanny Aprilyany, 2006, Pembimbing I : Jo.Suherman, dr., MS., AIF Pembimbing II : Rosnaeni,

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA ABSTRAK EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA Raissa Yolanda, 2010. Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr., M. Kes Kolitis

Lebih terperinci

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007 POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PNEUMONIA BALITA PADA RAWAT JALAN PUSKESMAS I PURWAREJA KLAMPOK KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2004 Indri Hapsari dan Ika Wahyu Budi Astuti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Luka bakar merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang cukup serius pada masyarakat. Karena di samping dampak terhadap kesehatan yang tinggi apabila tidak ditangani

Lebih terperinci

GAMBARAN KASUS ABSES LEHER DALAM DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN Oleh : VERA ANGRAINI

GAMBARAN KASUS ABSES LEHER DALAM DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN Oleh : VERA ANGRAINI GAMBARAN KASUS ABSES LEHER DALAM DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2012-2014 Oleh : VERA ANGRAINI 120100290 FAKULTAS KEDOKTERAN UNUIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015 GAMBARAN KASUS ABSES LEHER DALAM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang berbatas pada bagian superfisial kulit berupa bintul (wheal) yang

BAB I PENDAHULUAN. yang berbatas pada bagian superfisial kulit berupa bintul (wheal) yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Urtikaria merupakan salah satu manifestasi keluhan alergi pada kulit yang paling sering dikeluhkan oleh pasien. Urtikaria adalah suatu kelainan yang berbatas pada bagian

Lebih terperinci

Nama Jurnal : European Journal of Ophthalmology / Vol. 19 no. 1, 2009 / pp. 1-9

Nama Jurnal : European Journal of Ophthalmology / Vol. 19 no. 1, 2009 / pp. 1-9 Judul Jurnal : Efektifitas Penggunaan Levofloxacin Yang di Berikan Tiga Kali Sehari Untuk Pengobatan Konjungtivitis Bakterial Ditinjau Secara Klinis dan Mikrobiologis Nama Jurnal : European Journal of

Lebih terperinci

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN Karakteristik Penderita Otitis Media Akut pada Anak yang Berobat ke Instalasi Rawat Jalan SMF THT Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2009 Oleh: TAN HONG SIEW 070100322 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. iritan, dan mengatur perbaikan jaringan, sehingga menghasilkan eksudat yang

BAB I PENDAHULUAN. iritan, dan mengatur perbaikan jaringan, sehingga menghasilkan eksudat yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak atau zat-zat mikrobiologi. Inflamasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dermatomikosis cukup banyak diderita penduduk Negara tropis. Salah satunya Indonesia akan tetapi angka kejadian yang tepat belum diketahui. Iklim yang panas dan lembab

Lebih terperinci

ABSTRAK. Christina., Pembimbing: 1. Laella K. Liana, dr., Sp.PA, M.Kes 2. Endang Evacuasiany, Dra., MS., AFK., Apt

ABSTRAK. Christina., Pembimbing: 1. Laella K. Liana, dr., Sp.PA, M.Kes 2. Endang Evacuasiany, Dra., MS., AFK., Apt ABSTRAK EFEK EKSTRAK HERBA SAMBILOTO (Andrographis paniculata Ness) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI ULKUS GASTER PADA MENCIT SWISS WEBSTER JANTAN YANG DIINDUKSI ASETOSAL Christina., 0810149. Pembimbing:

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Lingkup disiplin ilmu penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian adalah di Poliklinik Gigi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pneumonia merupakan salah satu infeksi berat penyebab 2 juta kematian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pneumonia merupakan salah satu infeksi berat penyebab 2 juta kematian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pneumonia merupakan salah satu infeksi berat penyebab 2 juta kematian anak usia di bawah 5 tahun di negara berkembang pada tahun 2011 (Izadnegahdar dkk, 2013).

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. : Ilmu penyakit kulit dan kelamin. : Bagian rekam medik Poliklinik kulit dan kelamin RSUP Dr.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. : Ilmu penyakit kulit dan kelamin. : Bagian rekam medik Poliklinik kulit dan kelamin RSUP Dr. 33 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Lingkup ilmu : Ilmu penyakit kulit dan kelamin Lingkup lokasi : Bagian rekam medik Poliklinik kulit dan kelamin RSUP Dr. Kariadi Semarang Lingkup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pneumonia merupakan penyakit yang banyak membunuh anak usia di bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun 2004, sekitar

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL DAN BAHASAN. adenotonsilitis kronik dengan disfungsi tuba datang ke klinik dan bangsal THT

BAB 5 HASIL DAN BAHASAN. adenotonsilitis kronik dengan disfungsi tuba datang ke klinik dan bangsal THT 32 BAB 5 HASIL DAN BAHASAN 5.1 Gambaran Umum Sejak Agustus 2009 sampai Desember 2009 terdapat 32 anak adenotonsilitis kronik dengan disfungsi tuba datang ke klinik dan bangsal THT RSUP Dr. Kariadi Semarang

Lebih terperinci

PENGARUH PERUBAHAN KETINGGIAN TERHADAP NILAI AMBANG PENDENGARAN PADA PERJALANAN WISATA DARI GIANYAR MENUJU KINTAMANI

PENGARUH PERUBAHAN KETINGGIAN TERHADAP NILAI AMBANG PENDENGARAN PADA PERJALANAN WISATA DARI GIANYAR MENUJU KINTAMANI PENGARUH PERUBAHAN KETINGGIAN TERHADAP NILAI AMBANG PENDENGARAN PADA PERJALANAN WISATA DARI GIANYAR MENUJU KINTAMANI Oleh : I Nyoman Kertanadi Diajukan sebagai Karya Akhir untuk Memperoleh Gelar Spesialis

Lebih terperinci

ABSTRAK TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN GASTRITIS TERHADAP PENGGUNAAN TERAPI KOMBINASI RANITIDIN DAN ANTASIDA DI PUSKESMAS S. PARMAN BANJARMASIN

ABSTRAK TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN GASTRITIS TERHADAP PENGGUNAAN TERAPI KOMBINASI RANITIDIN DAN ANTASIDA DI PUSKESMAS S. PARMAN BANJARMASIN ABSTRAK TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN GASTRITIS TERHADAP PENGGUNAAN TERAPI KOMBINASI RANITIDIN DAN ANTASIDA DI PUSKESMAS S. PARMAN BANJARMASIN Deisy Octaviani 1 ;Ratih Pratiwi Sari 2 ;Soraya 3 Gastritis merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyebab kematian nomor 7 (5,7%). Menurut statistik rumah sakit dalam Sistem

BAB I PENDAHULUAN. penyebab kematian nomor 7 (5,7%). Menurut statistik rumah sakit dalam Sistem BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi tumor/kanker di Indonesia adalah 4,3 per 1000 penduduk, dan kanker merupakan penyebab kematian

Lebih terperinci

TEAM BASED LEARNING MODUL BINTIL PADA KULIT

TEAM BASED LEARNING MODUL BINTIL PADA KULIT TEAM BASED LEARNING MODUL BINTIL PADA KULIT Diberikan pada Mahasiswa Semester IV Fakultas Kedokteran Unhas Disusun Oleh: dr. Idrianti Idrus, Sp.KK, M.Kes Dr. dr. Khairuddin Djawad, Sp.KK(K), FINSDV SISTEM

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini disebabkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini disebabkan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN OTITIS EXTERNA

ASUHAN KEPERAWATAN OTITIS EXTERNA A. Konsep Medik Definisi ASUHAN KEPERAWATAN OTITIS EXTERNA Otitis eksterna adalah radang telinga bagian luar yang di sebabkan oleh jamur parasitic, ditandai dengan pengerasan struktur telinga. (Dongoes,

Lebih terperinci

DEFINISI BRONKITIS. suatu proses inflamasi pada pipa. bronkus

DEFINISI BRONKITIS. suatu proses inflamasi pada pipa. bronkus PENDAHULUAN Survei Kesehatan Rumah Tangga Dep.Kes RI (SKRT 1986,1992 dan 1995) secara konsisten memperlihatkan kelompok penyakit pernapasan yaitu pneumonia, tuberkulosis dan bronkitis, asma dan emfisema

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di rumah pribadi pasien.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di rumah pribadi pasien. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Deskripsi Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah pribadi pasien. 2. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit. simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit. simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi inflamasi yang dimediasi oleh immunoglobulin E (IgE)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Inflamasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan radang yang merupakan respon perlindungan setempat yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Inflamasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan radang yang merupakan respon perlindungan setempat yang BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Inflamasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan radang yang merupakan respon perlindungan setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakkan jaringan untuk menghancurkan,

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN PEMBIAYAAN DALAM PROSES PERAWATAN ULKUS KAKI DIABETES MELITUS DENGAN METODE PENCUCIAN LUKA 13 PSI DAN 7 PSI

PERBANDINGAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN PEMBIAYAAN DALAM PROSES PERAWATAN ULKUS KAKI DIABETES MELITUS DENGAN METODE PENCUCIAN LUKA 13 PSI DAN 7 PSI PERBANDINGAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN PEMBIAYAAN DALAM PROSES PERAWATAN ULKUS KAKI DIABETES MELITUS DENGAN METODE PENCUCIAN LUKA 13 PSI DAN 7 PSI Heri Kristianto 1 Program Studi Ilmu Keperawatan FK Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Alergi merupakan suatu keadaan hipersensitivitas terhadap kontak atau pajanan zat asing (alergen) tertentu dengan akibat timbulnya gejala-gejala klinis, yang mana

Lebih terperinci

Pembimbing I : Dr. Diana K Jasaputra, dr,m Kes Pembimbing II: Adrian Suhendra, dr, SpPK, M Kes

Pembimbing I : Dr. Diana K Jasaputra, dr,m Kes Pembimbing II: Adrian Suhendra, dr, SpPK, M Kes ABSTRAK EFEK INFUSA BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill), KUMIS KUCING (Orhtosiphon spicatus Backer), SERTA KOMBINASINYA TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA MENCIT YANG DIINDUKSI ALOKSAN Gede Mahatma,2010;

Lebih terperinci

ABSTRAK PROFIL PIODERMA PADA ANAK USIA 0-14 TAHUN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JUNI JUNI 2016

ABSTRAK PROFIL PIODERMA PADA ANAK USIA 0-14 TAHUN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JUNI JUNI 2016 ABSTRAK PROFIL PIODERMA PADA ANAK USIA 0-14 TAHUN DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JUNI 2015- JUNI 2016 Pioderma merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman staphylococcus, streptococcus,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rinitis Alergi (RA) merupakan salah satu penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi alergen yang sama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keputihan atau fluor albus merupakan salah satu masalah yang banyak

BAB I PENDAHULUAN. Keputihan atau fluor albus merupakan salah satu masalah yang banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keputihan atau fluor albus merupakan salah satu masalah yang banyak dikeluhkan wanita mulai dari usia muda sampai usia tua. Lebih dari sepertiga penderita yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada balita rawat inap di RSUD Kab Bangka Tengah periode 2015 ini

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan penelitian ini meliputi Ilmu Penyakit Gigi dan

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan penelitian ini meliputi Ilmu Penyakit Gigi dan BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup keilmuan penelitian ini meliputi Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Tempat penelitian adalah di Rumah Sakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada kasus-kasus pembedahan seperti tindakan operasi segera atau elektif

BAB I PENDAHULUAN. Pada kasus-kasus pembedahan seperti tindakan operasi segera atau elektif BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada kasus-kasus pembedahan seperti tindakan operasi segera atau elektif memiliki komplikasi dan risiko pasca operasi yang dapat dinilai secara objektif. Nyeri post

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH JUS BUAH SIRSAK

ABSTRAK PENGARUH JUS BUAH SIRSAK ABSTRAK PENGARUH JUS BUAH SIRSAK (Annona Muricata Linn.) TERHADAP TEKANAN DARAH NORMAL PADA LAKI-LAKI DEWASA Chandra Wijaya, 2010. Pembimbing I : Jo Suherman, dr., MS, AIF Pembimbing II : Endang Evacuasiany,

Lebih terperinci

Nidya A. Rinto; Sunarto; Ika Fidianingsih. Abstrak. Pendahuluan

Nidya A. Rinto; Sunarto; Ika Fidianingsih. Abstrak. Pendahuluan Naskah Publikasi, November 008 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Hubungan Antara Sikap, Perilaku dan Partisipasi Keluarga Terhadap Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe di RS PKU

Lebih terperinci

memfasilitasi sampel dari bagian tengah telinga, sebuah otoscope, jarum tulang belakang, dan jarum suntik yang sama-sama membantu. 4.

memfasilitasi sampel dari bagian tengah telinga, sebuah otoscope, jarum tulang belakang, dan jarum suntik yang sama-sama membantu. 4. KONSEP MEDIK A. Pengertian Mastoiditis Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis. Mastoiditis adalah segala

Lebih terperinci

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA SINUSITIS DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA SINUSITIS DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014 1 GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA SINUSITIS DI POLIKLINIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014 Oleh: Sari Wulan Dwi Sutanegara 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronik, kambuhan, dan sangat gatal yang umumnya berkembang saat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronik, kambuhan, dan sangat gatal yang umumnya berkembang saat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronik, kambuhan, dan sangat gatal yang umumnya berkembang saat masa awal kanak-kanak dimana distribusi lesi ini sesuai dengan

Lebih terperinci

RINITIS ALERGI DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2010 DESEMBER Elia Reinhard

RINITIS ALERGI DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2010 DESEMBER Elia Reinhard RINITIS ALERGI DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2010 DESEMBER 2012 1 Elia Reinhard 2 O. I. Palandeng 3 O. C. P. Pelealu Kandidat skripsi Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK ANTIINFLAMASI EKSTRAK AIR DAN ETANOL HERBA JOMBANG PADA DERMATITIS ALERGIKA MENCIT GALUR Swiss Webster

ABSTRAK. EFEK ANTIINFLAMASI EKSTRAK AIR DAN ETANOL HERBA JOMBANG PADA DERMATITIS ALERGIKA MENCIT GALUR Swiss Webster ABSTRAK EFEK ANTIINFLAMASI EKSTRAK AIR DAN ETANOL HERBA JOMBANG PADA DERMATITIS ALERGIKA MENCIT GALUR Swiss Webster Mary Soen, 2009. Pembimbing I : Diana K. Jasaputra, dr., M.Kes. Pembimbing II: Laella

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK GASTROPROTEKTIF AIR PERASAN DAUN PISANG (Musa paradisiaca L.) PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI ASPIRIN

ABSTRAK. EFEK GASTROPROTEKTIF AIR PERASAN DAUN PISANG (Musa paradisiaca L.) PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI ASPIRIN ABSTRAK EFEK GASTROPROTEKTIF AIR PERASAN DAUN PISANG (Musa paradisiaca L.) PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI ASPIRIN Melissa Chandra, 2014, Pembimbing I : Dr. Sugiarto Puradisastra, dr., M.Kes. Pembimbing

Lebih terperinci

ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT SEBAGAI PENYEBAB ASMA EKSASERBASI AKUT DI POLI PARU RSUP SANGLAH, DENPASAR, BALI TAHUN 2013

ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT SEBAGAI PENYEBAB ASMA EKSASERBASI AKUT DI POLI PARU RSUP SANGLAH, DENPASAR, BALI TAHUN 2013 ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT SEBAGAI PENYEBAB ASMA EKSASERBASI AKUT DI POLI PARU RSUP SANGLAH, DENPASAR, BALI TAHUN 2013 Data WHO 2013 dan Riskesdas 2007 menunjukkan jumlah penderita

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular (noncommunicable

BAB 1 PENDAHULUAN. didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular (noncommunicable BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan berubahnya tingkat kesejahteraan, pola penyakit saat ini telah mengalami transisi epidemiologi yang ditandai dengan beralihnya penyebab kematian yang semula

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis menyebabkan beban

BAB 1 PENDAHULUAN. mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis menyebabkan beban BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rinosinusitis merupakan penyakit inflamasi yang sering ditemukan dan mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis menyebabkan beban ekonomi yang tinggi

Lebih terperinci

PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BATANG BROTOWALI

PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BATANG BROTOWALI ABSTRAK PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa) DAN EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzigium polyanthum) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT JANTAN GALUR Balb/C YANG DIINDUKSI

Lebih terperinci