Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012"

Transkripsi

1

2 Kata Pengantar Pendidikan memiliki peran penting dalam proses pembangunan suatu bangsa dan negara. Perubahan zaman akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus disejajarkan dengan penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, pendidikan yang berhasil dan berkualitas merupakan salah satu syarat mutlak untuk mewujudkan pembangunan nasional. Periode 2012 sampai dengan 2020 merupakan periode terpenting dilihat dari usia produktif masyarakat Indonesia. Usia produktif manusia Indonesia dalam periode ini mencapai 50% populasi penduduk. Momen ini merupakan kesempatan emas untuk mendidik anak bangsa agar menjadi manusia yang berkualitas. Untuk itulah, perlu diidentifikasi mengenai kualitas sumber daya manusia Indonesia, yang salah satunya didasarkan atas hasil studi literasi internasional yang dilakukan oleh IEA melalui Program PIRLS Hasil studi ini dianalisis berdasarkan konteks keindonesiaan dalam peta internasional. Berdasarkan temuan terpetakan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia, baik di tataran internasional maupun nasional, masih rendah. Berbagai factor penyebabanya cukup banyak. Beberapa di antaranya adalah factor internal siswa seperti kebiasaan, minat, motivasi, dan budaya baca yang masih rendah; system pembelajaran membaca di sekolah belum memadai; isu literasi belum dijadikan dasar pengembangan kurikulum dan buku teks pelajaran serta buku pendidikan; ketersediaan sarana dan prasarana berupa buku di perpustakaan yang belum memadai; dan sistem penilaian yang masih lemah. Laporan hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar dalam kebijakan perbaikan pendidikan Indonesia di masa depan. Alhamdulillah penulis panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang dengan limpahan berkah laporan penelitian analisis hasil belajar peserta didik berdasarkan literasi membaca hasil studi internasional PIRLS 2011 dapat diselesaikan. Untuk itu, penulis ucapkan terima kasih kepada Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemdikbud atas kepercayaan dan fasilitasi yang diberikan sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Jakarta, 5 Desember 2012 Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 ii

3 Daftar Isi Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... Daftar Lampiran... BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Peelitian Manfaat Penelitian... 4 BAB II MODEL UNTUK PRESTASI BELAJAR Faktor-Faktor yang Memengaruihi Prestasi Siswa Pendekatan Multi Level Untuk Prestasi Belajar... 7 BAB III METODE PENELITIAN Sampel Penelitian Instrumen Penelitian Uji Validitas Konstruk Teknik Analisis Data BAB IV Hasil Penelitian Deskripsi Responden Prestasi Matematika Prestasi Siswa Berdasarkan Variabel Level Siswa dan Sekolah Hasil Analisis Hubungan Antar Variabel dengan Multi Level BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan Rekomendasi Daftar Pustaka Lampiran-lampiran ii iii iv v vi Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 iii

4 Daftar Tabel Halaman Tabel 3.1 Variabel Level Siswa Tabel 3.2 Variabel Level Sekolah Tabel 4.1 Mean Prestasi Matematika Tabel 4.2 Mean Prestasi Bidang Algebra Tabel 4.3 Mean Prestasi Bidang Data & Chance Tabel 4.4 Mean Prestasi Bidang Number Tabel 4.5 Mean Prestasi Aspek Knowing Tabel 4.6 Mean Prestasi Aspek Applying Tabel 4.7 Mean Prestasi Aspek Reasoning Tabel 4.8 Prestasi Matematika Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.9 Prestasi Matematika Berdasarkan Jumlah Buku yang ada di Rumah Tabel 4.10 Prestasi Matematika Berdasarkan Frekuensi Guru Memberikan PR Tabel 4.11 Prestasi Matematika Berdasarkan Waktu yang diluangkan Siswa untuk Mengerjakan PR Tabel 4.12 Koefisien Regresi Hubungan antar Variabel pada Level Siswa Tabel 4.13 Koefisien Regresi Hubungan antar Variabel pada Level Sekolah Tabel 4.14 Koefisien Regresi Random Sloop Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 iv

5 Daftar Gambar Halaman Gambar 2.1 Model Prestasi Belajar pada Level Siswa dan Level Sekolah... 8 Gambar 4.1 Responden Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin Gambar 4.2 Responden Siswa Berdasarkan Tahun Kelahiran Gambar 4.3 Responden Siswa Berdasarkan Kepemilikan Buku di Rumah... 17Error! Bookmark not defined. Gambar 4.4. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu Gambar 4.5. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ayah Gambar 4.6. Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ingin Dicapai Siswa Gambar 4.7. Waktu yang Diluangkan Siswa untuk Mengerjakan PR Gambar 4.8. Responden Guru Berdasarkan Jenis Kelamin Gambar 4.9. Deskripsi Guru Berdasarkan Usia Gambar Deskripsi Guru Berdasarkan Pengalaman Mengajar Gambar Deskripsi Guru Berdasarkan Tingkat Pendidikan Gambar Deskripsi Guru Berdasarkan Bidang Studi Utama Gambar Deskripsi Guru dalam Menggunakan Komputer Gambar Deskripsi Jumlah Siswa yang Diajar dalam Satu Kelas Gambar Deskripsi Jumlah Siswa di Sekolah Gambar Persentase Siswa Kurang Mampu di Sekolah Gambar Jumlah Komputer yang Dimiliki Sekolah Gambar Prestasi Matematika Siswa Gambar Sebaran Data Prestasi Matematika Gambar Sebaran Data Prestasi Bidang Algebra Gambar Sebaran Data Prestasi Bidang Data & Chance Gambar Sebaran Data Prestasi Bidang Number Gambar Sebaran Data Prestasi Aspek Knowing Gambar Sebaran Data Prestasi Aspek Applying Gambar Sebaran Data Prestasi Aspek Reasoning Gambar Perbedaan Mean Prestasi Berdasarkan Jenis Kelamin Gambar Perbedaan Mean Prestasi Berdasarkan Buku yang Ada di Rumah.. 41 Gambar Perbedaan Mean Berdasarkan Frekuensi Guru Memberikan PR Gambar Prestasi Matematika Berdasarkan Waktu untuk Mengerjakan PR Gambar Prestasi Berdasarkan Kepedulian Orang Tua Gambar Prestasi Siswa Berdasarkan Tindakan Bullying oleh Siswa Lain Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 v

6 Daftar Lampiran Halaman Lampiran 1 SEM Level Siswa Lampiran 2 SEM Level Sekolah Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 vi

7 Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) adalah penelitian yang dilakukan dalam rangka membandingkan prestasi Matematika dan IPA siswa kelas 8 (delapan) di beberapa negara. Secara umum TIMSS bertujuan untuk memonitor hasil dari sistem pendidikan yang berkaitan dengan pencapaian belajar siswa kelas 4 (empat) dan 8 (delapan) dalam bidang Matematika dan IPA. TIMSS didesain untuk membantu pemerintah tidak hanya memahami tetapi juga meningkatkan efektivitas sistem pendidikan. Menurut mantan Presiden IEA Prof. T. Plomp (1999) sekurangnya ada lima fungsi/ manfaat dari keikutsertaan dalam studi yang diselenggarakan oleh IEA yaitu: (1) description/ mirror functions, (2) benchmarking, (3) monitoring of quality of education, (4) understanding observed differences, dan (5) cross-national research. Jika keikutsertaan dalam suatu studi komparatif internasional dapat difungsikan sebagaimana di atas, tentulah berbagai kebijakan dapat disesuaikan dan dikembangkan, bahkan dapat dirumuskan suatu reformasi pendidikan dalam rangka mencapai kualitas yang lebih tinggi. Namun sayangnya hal ini justru lebih banyak terjadi di negara maju yang menjadi peserta studi seperti ini. TIMSS melakukan monitoring prestasi matematika dan IPA secara rutin setiap 4 (empat) tahun sekali, dimulai pada tahun 1995, kemudian tahun 1999, 2003, 2007, dan Indonesia bergabung sebagai salah satu negara peserta TIMSS sejak pertama kali, dan melakukan monitoring khusus pada kelas 8 (umur 13 tahun). Namun Indonesia masuk dalam laporan TIMSS baru 4 (empat) periode, yaitu tahun 1999, 2003 dan 2007, dan Hasil penilaian TIMSS terhadap prestasi siswa Indonesia bidang matematika tiga periode sebelumnya adalah sebagai berikut: pada tahun 1999 Indonesia berada pada peringkat 34 dari 38 negara. Tahun 2003, berada pada peringkat 35 dari 46 peserta. Dan pada tahun 2007, Indonesia berada pada peringkat 36 dari 49 negara peserta. Data peringkat ini menunjukkan bahwa prestasi Matematika Indonesia cukup rendah dan berada pada kisaran peringkat 32 hingga 37 dari negaranegara anggota IEA yang jumlahnya sekarang lebih dari 50 negara. Hal ini akan lebih jelas bila acuan untuk melihat perkembangan Matematika adalah skor literasi yang dicapai oleh Indonesia. Sedangkan skor matematika pada tahun 1999 adalah 403, tahun 2003 adalah 411 dan tahun 2007 adalah 405. Rata-rata skor dari semua negara peserta adalah 500 dengan simpangan baku 100. Trend perkembangan skor Matematika siswa Indonesia tersebut menunjukkan kondisi yang memprihatinkan, tidak ada peningkatan prestasi dari tahun ke tahun secara signifikan. Prestasi Matematika ternyata berjalan di tempat. Hal ini tentu menimbulkan berbagai pertanyaan bagi pihakpihak yang terlibat dan peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Apalagi bila mengingat anggaran pendidikan yang selalu meningkat, bahkan berlipat-lipat. Kondisi atau faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan prestasi siswa Indonesia di bidang Matematika tidak mengalami kemajuan? Apa implikasinya bagi pembelajaran, kurikulum, guru dan lembaga sekolah serta pengambilan kebijakan berkaitan dengan pendidikan? Pada tahun 2011 Indonesia berpartisipasi kembali dalam kegiatan TIMSS. Laporan internasional telah diberikan kepada masing-masing negara peserta TIMSS. Untuk mengetahui lebih jauh capaian prestasi siswa Indonesia terutama dalam bidang matematika memerlukan analisis lebih lanjut sehingga diperoleh gambaran yang lebih jelas atas prestasi yang dicapai siswa Indonesia. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

8 Di samping memberikan informasi tentang kemampuan Matematika, data TIMSS tahun 2011 juga memberikan informasi berkaitan dengan siswa, guru dan sekolah. Kuesioner untuk siswa meliputi latar belakang siswa (jenis kelamin, pendidikan orang tua, dll), fasilitas belajar yang dimiliki di rumah, aktivitas di waktu luang, dan mengerjakan tugas sekolah, aspirasi siswa dalam pendidikan, sikap siswa terhadap matematika, sikap terhadap sekolah, sikap siswa terhadap guru, bullying yang dialami siswa, dan self efficacy siswa. Kuesioner guru memberikan gambaran mengenai kualitas guru (pengalaman mengajar, latar belakang pendidikan, tingkat pendidikan dan pengembangan diri guru), good teaching practice, interaksi guru, dan sebagainya. Sedangkan kuesioner sekolah memberikan gambaran mengenai lokasi, keadaan sekolah dan kepemimpinan kepala sekolah. Pada studi TIMSS yang dilaporkan adalah perbandingan skor prestasi Matematika dari berbagai negara anggota IEA. Mean skor antar-negara dibandingkan untuk mendapatkan posisi/ ranking dari masing-masing negara. Karena dilakukan secara berkala dengan siklus empat tahunan, maka trend dari kemajuan di masing-masing negara maupun perbandingan trend tersebut antar negara dapat dilakukan. Studi internasional lain yang hampir sama adalah Program for International Student Achievement (PISA) yang dilakukan oleh negara-negara anggota OECD. Meskipun bukan anggota OECD, Indonesia ikut di dalamnya. Dengan membandingkan skor prestasi siswa dari tahun ke tahun, baik secara internal maupun antar negara, atau antar studi yaitu TIMSS dan PISA, diharapkan Indonesia dapat memperoleh masukan berharga bagi pengambilan kebijakan pendidikan nasional yang paling tepat, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan. Berbeda dengan banyak negara maju, sampai saat ini Indonesia belum memanfaatkan secara optimal data dan informasi yang dihasilkan dari keikut-sertaannya dalam studi internasional seperti TIMSS dan PISA ini. Padahal biaya untuk keikut-sertaan itu cukup tinggi. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya analisis data yang lebih mendalam, yang bukan sekedar menampilkan secara deskriptif serta mempublikasikan tabel ranking dari skor antar negara. Misalnya, analisis mengenai bagaimana dan mengapa skor matematika anak Indonesia tergolong sangat rendah di dunia. Kalaupun analisis seperti itu sudah dilakukan, tampaknya masih amat sedikit yang menyangkut proses tercapainya prestasi matematika tersebut. Analisis yang melibatkan faktor-faktor yang memengaruhi prestasi matematika perlu dilakukan agar dapat diketahui hal apa saja yang secara dominan memengaruhi prestasi tersebut. Ada beberapa variabel yang terdapat pada data TIMSS yang menarik untuk dilihat pengaruhnya terhadap prestasi. Variabel-variabel tersebut berkaitan dengan siswa, guru, sekolah dan orang tua (meskipun informasi tentang orang tua siswa diperoleh melalui kuesioner siswa, pertanyaannya mengenai orang tua tapi diajukan kepada siswa, misalnya pertanyaan yang berkaitan dengan pendidikan orang tua). Sedangkan variabel tentang guru diperoleh melalui kuesioner guru. Misalnya yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan guru, tingkat pendidikan guru, lama mengajar/ pengalaman mengajar, rasa aman yang dimiliki guru, kepuasan kerja yang dirasakan, serta banyak hal yang berkenaan dengan metode/teknik yang digunakan guru dalam mengajar. Adapun variabel sekolah berisi tingkat sosial ekonomi siswa, sumber daya sekolah, dan kepemimpinan. Dalam penelitian ini dilakukan pengelompokan butir-butir peertanyaan yang terkait agar dapat ditentukan konstruk yang sesuai. Pengelompokan dilakukan baik untuk variabel siswa yang berasal dari angket siswa, maupun variabel sekolah yang berasal dari angket guru dan kepala sekolah. Seperti telah disebutkan dimuka, dalam penelitian ini selain berbentuk deskriptif, juga akan dianalisis beberapa variabel baik variabel pada level siswa maupun variabel pada level sekolah (kuesioner guru dan kepala sekolah) yang terkait dengan prestasi belajar. Hal yang mendasari pemilihan ini adalah bahwa, secara teoritik, prestasi belajar siswa dipengaruhi secara langsung atau tidak langsung oleh kondisi internal siswa yang bersangkutan maupun oleh kondisi eksternalnya.. Berdasarkan data yang tersedia dalam penelitian ini, kondisi tersebut antara lain adalah self efficacy, attitude, bullying, sikap siswa terhadap guru, sikap siswa terhadap sekolah dan persepsi tentang pentingnya matematika, siswa aktif belajar, good teaching practice, efficacy guru, sikap terhadap profesi guru, penggunaan komputer dalam mengajar, hambatan yang dialami guru dalam mengajar, interaksi antar sesama guru, pendidikan guru, lama mengajar sumber daya sekolah dan kepemimpinan kepala sekolah. Pertanyaannya, apakah ada suatu model teoretis tertentu (tentang struktur hubungan Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

9 antara berbagai kondisi tersebut dengan prestasi belajar) yang dapat digunakan untuk menjelaskan prestasi siswa? Dalam hal ini akan dikaji keterkaitan antara variabel siswa dan variabel sekolah tersebut dengan prestasi belajar, khususnya pada bidang matematika dengan menggunakan analisis multilevel Perumusan Masalah Perumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah gambaran prestasi matematika siswa Indonesia berdasarkan data TIMSS tahun 2011 dan bagaimana bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah? 2. Bagaimanakah struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika? 3. Bagiamanakah struktur model teoritis di level sekolah yang dapat menjelaskan sikap terhadap matematika (attmath) dan efficacy terhadap matematika (effmat)? 4. Bagaimana pengaruh variabel di level sekolah terhadap prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika? 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu: 1. Untuk mengetahui gambaran prestasi siswa dan bagaimana bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah. 2. Untuk mengetahui struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika. 3. Untuk mengetahui struktur model teoritis di level sekolah yang dapat menjelaskan sikap terhadap matematika (attmath) dan efficacy terhadap matematika (effmat). 4. Untuk mengetahui pengaruh variabel di level sekolah terhadap prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan/menambah informasi bagi kepentingan penyusunan kebijakan dalam rangka meningkatkan prestasi murid di bidang matematika. Selain itu juga bisa menjadi sumbangan bagi pengembangan model teoritis tentang prestasi belajar siswa di Indonesia. Jika kita dapat mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi prestasi siswa dalam Matematika baik pada tingkat siswa dan atau tingkat sekolah, maka kita dapat menyesuaikan kebijakan pendidikan baik dalam hal teknis pendidikan maupun aspek manajemen, seperti alokasi anggaran, sistem organisasi, dsb. Dari sisi teknis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat pula untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan kurikulum matematika di Indonesia. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

10 Bab II Model Untuk Prestasi Belajar 2.1. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Prestasi Siswa Fokus dari penelitian ini adalah untuk menemukan atau sekurangnya mengidentifikasi variabelvariabel yang menjadi determinan dari prestasi belajar dalam bidang Matematika, khususnya pada anak Indonesia yang berada di kelas 8. Tentu saja secara umum prestasi belajar bergantung kepada banyak hal baik yang sangat situasional dan kasuistik (sakit gigi waktu ujian, dsb.), maupun yang bersifat lebih sistematik (seperti kurang minat, guru tak kompeten, kurikulum tak relevan, dsb.). Tentu saja yang akan dibahas di sini adalah hal-hal atau variabel yang sistematik. Pada tingkat internal siswa (personal variables), terdapat beberapa teori psikologi tentang hal yang memengaruhi tinggi rendahnya prestasi atau performance seseorang, salah satunya yang terkenal adalah teori atribusi. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Heider (1958), di mana melalui pendekatan teori atribusi ia mengajukan rumusan matematis untuk performance, yaitu : Performance = Motivation x Ability (disingkat: P = M x A) Konsep ini akhirnya menjadi sangat populer setelah seringkali dikutip oleh ahli-ahli lainnya ketika mereka membicarakan tentang performance, seperti misalnya oleh Anderson dan Butzin (1974), Maier (1965), O Shaughnessy (1971), Lawler dan Porter (1967), Oliver (1974), dan Vroom (1964). Seperti terlihat pada rumusan di atas, menurut teori ini prestasi atau performance adalah hasil interaksi antara motivasi dengan abiliti. Dengan demikian, orang yang tinggi motivasinya tetapi memiliki abiliti yang rendah akan menghasilkan performance yang rendah. Begitu pula halnya dengan orang yang sebenarnya berabiliti tinggi tetapi rendah motivasinya. Atas dasar ini Vroom (1964) menyarankan agar karyawan yang akan di training haruslah orang yang bermotivasi tinggi, sedangkan karyawan yang perlu dimotivasi hanyalah mereka yang berabiliti tinggi. Jika diaplikasikan di dunia pendidikan, artinya seorang anak akan menjadi under-achiever jika tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi. Dalam konteks belajar di sekolah, tentu hal-hal (variabel) di luar diri siswa juga akan berpengaruh terhadap prestasi belajar atau performance tersebut. Walberg (1981) mengidentifikasi tiga kelompok variabel yang memengaruhi bukan hanya prestasi tetapi juga aspek perkembangan afektif dan behavioral siswa, yaitu: 1. Variabel personal seperti prestasi sebelumnya, umur, motivasi, self concept, dsb 2. Variabel instruksional seperti intensitas dan kualitas serta metode pengajaran, dan 3. Variabel lingkungan (environmental) yang terkait dengan keadaan di rumah, kondisi guru, kelas, dan sekolah, teman belajar, media belajar, dsb. Secara lebih spesifik lagi, Walberg (1992) mereview 8000 penelitian tentang pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap prestasi belajar khususnya Matematika dan IPA, dan ia menemukan bahwa ketiga kelompok variabel tersebutlah yang secara konsisten terbukti menunjukkan pengaruh serta memiliki nilai prediksi tinggi terhadap prestasi belajar. Wilkin, Zembilas, dan Travers (2002) yang melakukan penelitian serupa dengan menggunakan data TIMSS, juga menggunakan pendekatan yang sama, yaitu dengan mengelompokkan variabel-variabel determinan dari prestasi belajar itu ke dalam 3 kelompok yaitu student personal variables, instructional, dan environmental. Oleh sebab itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan yang sama yaitu dengan mengelompokkan variabel-variabel yang diteorikan sebagai determinan dari Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

11 prestasi belajar tersebut. Namun pengelompokan yang dimaksud dibagi pada dua kelompok yaitu level siswa dan level sekolah. Dalam hal kelompok variabel manakah yang lebih dominan dalam memengaruhi prestasi belajar, terdapat hasil penelitian yang kesimpulannya berbeda-beda. Larry Sutter (2000), misalnya, mengutip hasil penelitian James Coleman yang terkenal di tahun 1960an di mana kesimpulannya adalah mengatakan bahwa... student performance was determined more by family background than by school characteristics. Namun demikian, dalam studinya yang membandingkan prestasi matematika dan IPA secara internasional dengan menggunakan data TIMSS, Sutter (2000) menyimpulkan bahwa perbedaan prestasi belajar antar negara lebih banyak ditentukan oleh variabelvariabel kurikuler dan pengajaran. Ia juga mengutip kesimpulan penelitian Gustafsson dan Undheim (1996) yang mengatakan bahwa.. that results of international-level studies might be accounted for by differences in curriculum rather than intellectual differences among students. Sebaliknya Heyneman (1997) menemukan yang sebaliknya yaitu student personal variable yang lebih menentukan, terutama sekali motivasi/ spirit belajar. Berikut adalah kutipan tulisannya (Heyneman, 1997): What differentiates American children from other children in the world and the explanation of poor performance among minorities and the poor is the American public policy toward children. In general, children in the United States are provided with too much opportunity and too few obligations; too much choice and too few responsibilities. In addition, U.S. school children are influenced by a common assumption that curriculum has to be entertaining,. It isn t poverty which drives scores of U.S. students down, I said, or race, or even minority status, but rather impoverish spirit.... It is the general lack of a desire to learn and this, in turn, is affected by public policy.... (page 29). Selanjutnya penelitian mengenai pengaruh variabel-variabel psikologis siswa biasanya lebih banyak dilakukan secara tersendiri di mana pengaruh variabel psikologi tertentu diteliti. Dalam hal ini, yang secara konsisten ditemukan pengaruhnya terhadap prestasi belajar antara lain adalah self efficacy (misalnya Ramdass and Zimmerman (2008). Sedangkan variabel yang umumnya tak berpengaruh terhadap prestasi adalah sikap terhadap mata pelajaran. Reiss (2009) menemukan ada enam personality needs yang erat kaitannya dengan low achievement in school yaitu high need for acceptance, low need for cognition, lack of ambition, low need for order, low need for honor, dan high need for vengeance. Variabel lingkungan belajar yang ditemukan berpengaruh misalnya adanya standard kelulusan (Cavanagh, 2009; Mc Neil, 2009). Penguasaan guru terhadap materi pelajaran misalnya, ditemukan lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dari pada penguasaan metode mengajar (Telese, 2005; Viadero, 2009). Penelitian yang lainnya (Moon and Lee, 2009) tentang predictors dari prestasi anak di sekolah, menemukan bahwa yang signifikan pengaruhnya adalah family factors especially parent education level and income, parent-child home activity, dan parental psychological well-being. Selanjutnya, ia menemukan bahwa parent school involvement tak berkaitan dengan prestasi anaknya di sekolah. Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa prestasi yang dihasilkan oleh siswa bukanlah hasil dari sebuah faktor, melainkan hasil dari berbagai faktor yang saling terkait satu sama lainnya. Secara umum prestasi siswa dalam bidang matematika dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal siswa serta interaksi dari keduanya. Dalam penelitian ini, faktor yang dianggap memiliki pengaruh terhadap prestasi siswa di bidang matematika ditetapkan berdasarkan data yang diperoleh dari level siswa berupa angket siswa dan level sekolah berupa angket guru dan angket kepala sekolah. Dari angket siswa diperoleh informasi mengenai faktor internal dari level siswa yang diduga memengaruhi prestasi siswa, yaitu self efficacy siswa, attitude siswa terhadap matematika, attitude siswa terhadap sekolah, sikap siswa terhadap guru, pentingnya matematika, orang tua peduli, dan tindakan bully yang dialami siswa. Sedangkan faktor eksternal dari level sekolah yang didapatkan dari angket guru adalah siswa aktif belajar, good teaching practice, efficacy guru, hambatan guru dalam mengajar, penggunaan komputer dalam mengajar, interaksi antar sesama guru, sikap terhadap profesi, dan lama mengajar. Sedangkan dari angket sekolah, faktor yang diduga memberikan Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

12 pengaruh kepada prestasi siswa adalah kepemimpinan sekolah, sosial ekonomi sekolah, dan sumber daya yang dimiliki sekolah Pendekatan Multi Level Untuk Prestasi Belajar Berdasarkan pada ketersediaan data, diteorikan bahwa ada tujuh variabel dari level siswa, dan tiga belas variabel dari level sekolah terdiri dari sepuluh variabel guru dan tiga variabel sekolah (seperti yang telah diidentifikasi dari kuesioner TIMSS di atas) yang mempunyai pengaruh terhadap tinggi rendahnya prestasi siswa, baik yang berupa pengaruh secara langsung maupun tidak langsung dan interaksinya. Adapun model teoretis yang disusun berdasarkan ketersediaan data dan akan digunakan sebagai landasan bagi pengembangan model dalam penelitian ini adalah seperti pada gambar berikut ini: WITHIN BETWEEN Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

13 Gambar 2.1. Model Prestasi Belajar pada Level Siswa dan Level Sekolah Tentu saja sangat banyak model yang dapat diteorikan berdasarkan pada variable-variabel pada gambar di atas, tetapi penulis akan memulai analisis dengan landasan teoretis ini. Deskripsi dari gambar di atas adalah sebagai berikut. Pada model within, prestasi matematika (Ach_Mat) dipengaruhi secara langsung oleh dua variabel yaitu self efficacy (effmath) dan attitude siswa terhadap matematika (attmath). Variabel-variabel yang lain juga memiliki pengaruh terhadap prestasi matematika, tetapi tidak secara langsung, yaitu melalui self efficacy dan attitude (sikap terhadap matematika). Self efficacy dipengaruhi oleh sikap terhadap matematika (attmat). Sikap terhadap matematika dipengaruhi sikap siswa terhadap guru (ssguru), pentingnya matematika (import), kepedulian orang tua (otpeduli), dan tindak kekerasan yang dilakukan siswa lain (bully). Sikap siswa terhadap guru dan sikap siswa terhadap sekolah dipengaruhi oleh kepedulian orang tua dan tindak kekerasan yang dilakukan siswa lain. Selanjutnya pada model between, variabel level sekolah diukur melalui tiga belas variabel dari kuesioner guru dan kepala sekolah. Ketiga belas variabel tersebut adalah dari kuesioner guru meliputi: siswa aktif belajar (sab), good teaching practice (gtp), efficacy guru (effguru), penggunaan sumber daya sekolah (useres), penggunaan komputer dalam mengajar oleh guru (usecomp), hambatan yang dialami guru, lama mengajar guru (exp), sikap terhadap profesi (attprof), dan pendidikan guru (pend). Variabel level sekolah yang bersumber dari dari kuesioner kepala sekolah adalah sosial ekonomi siswa di sekolah (sosek_s), sumber daya yang dimiliki sekolah (sresourc), dan kepemimpinan di sekolah (leader),. Varaibel level sekolah tersebut diteorikan sebagai berikut. Sosial ekonomi sekolah diteorikan memengaruhi sumber daya sekolah, penggunaan komputer, hambatan guru dalam mengajar, interaksi antar guru. Selain itu sosial ekonomi sekolah juga memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Kepemimpinan sekolah memengaruhi efficacy guru, good teaching practice dan juga memengaruhi prestasi siswa. Selain itu kepemimpinan sekolah juga diteorikan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Variabel lama mengajar guru diteorikan memengaruhi siswa aktif belajar dan interaksi antar guru. Variabel sikap terhadap profesi memengaruhi good teaching practice dan efficacy guru. Variabel pendidikan memengaruhi efficacy guru dan intaraksi antar guru. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

14 Pada variabel sumber daya sekolah diteorikan memengaruhi penggunaan sumber daya sekolah, penggunaan komputer dalam mengajar, good teaching practice, dan memengaruhi prestasi. Selain itu, sumber daya sekolah juga diteorikan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Interaksi antar sesama guru memengaruhi efficacy guru. Variabel penggunaan komputer dan hambatan guru memengaruhi good teaching practice dan efficacy guru. Selain itu, hambatan guru juga diteorikan memengaruhi siswa aktif belajar, dan prestasi serta memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Variabel efficacy guru diteorikan memengaruhi good teaching practice dan siswa aktif belajar. Selain itu, efficacy guru juga diteorikan memengaruhi prestasi dan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Untuk variabel good teaching practice diteorikan memengaruhi siswa aktif belajar dan prestasi serta memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Sedangkan variabel siswa aktif belajar diteorikan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Dalam penyusunan model prestasi belajar ini, semua variabel baik pada level siswa maupun sekolah akan dilihat pengaruhnya baik langsung maupun tidak langsung serta interaksi yang didapat dari kedua level tersebut terhadap prestasi matematika. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

15 Bab III Metode Penelitian 3.1. Sampel Penelitian Penelitian ini didasarkan pada data TIMSS tahun Berdasarkan data TIMSS tersebut, diketahui bahwa subyek penelitian adalah siswa berusia 13 tahun yang bersekolah di SMP dan MTs pada tahun 2011 berjumlah 5795 siswa. Sedangkan untuk sampel guru terdapat 170 orang dan sampel sekolah sebanyak 153 sekolah. Teknik dan prosedur penentuan sampel dan pengambilan data dapat dilihat pada laporan teknis TIMSS tahun yang bersangkutan, di mana teknik random sampling yang dilakukan amat kompleks, serta bersifat multi level, clustering, dan stratified. Hal tersebut dilakukan mengingat amat heterogennya negara peserta TIMSS baik dari segi jumlah penduduk, murid, dan sekolah, maupun variasi aspek lainnya seperti kurikulum dan sebagainya. Semua hal ini harus diperhitungkan agar perbandingan secara internasional dapat dilakukan secara obyektif Instrumen Penelitian Alat pengumpulan data TIMSS terdiri dari dua bentuk umum, pertama adalah tes kemampuan (prestasi belajar) dan yang kedua adalah kuesioner. Kuesioner terdiri dari kuesioner siswa yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh siswa, kusioner guru yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh guru, dan kuesioner sekolah yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh kepala sekolah Tes kemampuan Tes prestasi ini untuk mengukur kemampuan matematika. Dalam hal ini, kemampuan matematika meliputi Aljabar, Geometri, Data, dan Angka. Pada kemampuan matematika, digunakan berbagai macam format tes untuk mengukur aspek kognitif knowing, applying, dan reasoning. Aspek knowing terdiri dari kemampuan melakukan recall, recognize, compute, retrieve, measure, dan classify/order. Aspek applying terdiri dari kemampuan melakukan select, represent, model, implement, dan solve routine problem. Sedangkan aspek reasoning meliputi kemampuan melakukan analyze, generalize, sinthesize/integrate, justify, dan solve non-routine problem. Pada penelitian ini skor tes tes kemampuan/prestasi matematika yang digunakan adalah prestasi matematika secara umum, tidak pada masing-masing konten atau aspek Angket/Kuesioner Angket/Kuesioner bertujuan untuk mengumpulkan data dari variabel yang terkait dengan prestasi belajar, baik itu tentang siswa dan keluarganya yang termasuk dalam level siswa dan angket guru dan kepala sekolah yang termasuk dalam level sekolah. Angket/ kuesioner yang diisi oleh siswa maupun guru dan kepala sekolah dikelompokkan ke dalam beberapa hal atau konstrak. Dalam penelitian ini hanya variabel-variabel yang signifikan saja pada saat dilakukan analisis SEM yang terpakai, yang selanjutnya akan dianalisis dengan multi level. Kuesioner tersebut adalah: a. Kuesioner Siswa Angket/kuesioner yang diisi oleh siswa dikelompokkan ke dalam beberapa hal atau konstrak. Variabel-variabel tersebut dan indikatornya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

16 Tabel 3.1. Variabel Level Siswa NO VARIABEL KETERANGAN INDIKATOR 1 ACH_MATH Prestasi Matematika Skor dan isi pernyataan 2 EFFMATH Efficacy terhadap Matematika USUALLY DO WELL IN MATH MATHEMATICS IS MORE DIFFICULT MATHEMATICS NOT MY STRENGTH LEARN QUICKLY IN MATHEMATICS MAT MAKES CONFUSED AND NERVOUS GOOD AT WORKING OUT PROBLEMS I CAN DO WELL IN MATHEMATICS I AM GOOD AT MATHEMATICS MATHEMATICS HARDER FOR ME 3 ATTMATH Sikap terhadap Mathematics 4 ATTSCH Sikap Terhadap Ssekolah 5 SSGURU Sikap Siswa Terhadap Guru ENJOY LEARNING MATHEMATICS WISH HAVE NOT TO STUDY MATH MATH IS BORING LEARN INTERESTING THINGS LIKE MATHEMATICS MPORTANT TO DO WELL IN MATHJOB INVOLVING MATHEMATICS BEING IN SCHOOL SAFE AT SCHOOL BELONG AT SCHOOL TEACHER IS EASY TO UNDERSTAND INTERESTED IN WHAT TCHR SAYS INTERESTING THINGS TO DO 6 IMPORT Pentingnya Matematika MATHEMATICS WILL HELP ME NEED MAT TO LEARN OTHER THINGS NEED MATH TO GET INTO <UNI> NEED MAT TO GET THE JOB I WANT 7 OTPEDULI Kepedulian Orang Tua HOME\PARENTS ASK LEARNING 8 BULLY Tindak kekerasan yang dilakukan siswa terhadap siswa lain TALKING ABOUT SCHOOL PARENTS MAKE SURE PARENTS CHECK HOMEWORK MADE FUN OF LEFT OUT OF GAMES SPREADING LIES ABOUT ME Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

17 NO VARIABEL KETERANGAN INDIKATOR STEALING STH FROM ME HURT BY OTHERS FORCE TO DO STH b. Kuesioner Guru dan Kepala Sekolah Angket/kuesioner yang diisi oleh guru dan kepala sekolah juga dikelompokkan ke dalam beberapa hal atau konstrak. Variabel-variabel tersebut dan indikatornya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 3.2. Variabel Level Sekolah NO VARIABEL KETERANGAN INDIKATOR 1 EXP Lama mengajar Years Been Teaching 2 PEND Tingkat pendidikan guru 3 ATTPROF Sikap terhadap profesi guru Level Of Formal Education Completed Content Profession Satisfied Teacher Level Of Enthusiam Work Importance Continue As A Teacher Level Of Frustration 4 EFFGURU Efficacy guru Answer Students Questions Variety Problemssol. Challenging Tasks Engage Students Interest Appreciate Math 5 USERES Penggunaan sumber daya belajar 6 HAMGUR Hamabatan guru dalam mengajar 7 USECOMP Penggunaan komputer dalam mengajar 8 INTERG Interaksi antar sesama guru Resources\Textbooks Resources\Workbooks Or Worksheets Resources\Concrete Objects Help Resources\Computer Software Lacking Knowledge Lack Of Nutrition Lack Of Sleep Special Need Students Disruptive Students Uninterested Students Use Computers\Preparation Use Computers\Administration Use Computers\Instruction Discuss Concept Collaborate Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

18 NO VARIABEL KETERANGAN INDIKATOR Share Learning Visits Work Together 9 SAB Siswa aktif belajar Ask Students\Explain How To Solve Ask Students\Memorize Rules Ask Students\Work With Guidance Ask Students\Work In Whole Class Ask Students\Explain Their Answers 10 GTP Good teaching practice Summarizing Relate To Students Lives Elicit Reasons Encourage Students Praise Students Bring Interesting Material 11 SRESOURC Sumber daya sekolah Total Number Computers 12 SOSEK_S Sosial ekonomi siswa Students Background\Economic Disadva 13 LEADER Kepemimpinan di sekolah Vision Or Goals Developing Goals Orderly Atmosphere Clear Rules Addressing Behavior Initiating Projects Professional Development Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

19 3.3. Uji Validitas Konstruk Pengujian validitas konstruk dilakukan dengan cara menguji hipotesis yang menyatakan bahwa semua item mengukur satu hal saja yaitu konstruk yang didefinisikan. Dalam hal ini, metode statistika yang dikenal sebagai Confirmatory Factor Analysis (CFA) dapat digunakan. Ada dua langkah yang perlu dilakukan dalam rangka analisis ini: (1) menguji hipotesis apakah suatu model uni-dimensional (semua item merupakan indikator bagi satu faktor yang hendak diukur) sesuai (fit) dengan data yang dihasilkan, dan (2) jika terbukti memang model uni-dimensional yang fit dengan data, maka dilakukan uji hipotesis apakah masing-masing item signifikan dalam menghasilkan informasi tentang faktor yang diukur. Hipotesis yang pertama dapat diuji dengan 2 test apakah ada perbedaan yang signifikan antara model dan data, sedangkan hipotesis yang kedua dapat diuji misalnya dengan t test terhadap masing-masing koefisien muatan faktor, apakah signifikan lebih besar dari nol. Sebelum dilakukan uji validitas, peneliti memeriksa kembali item dan pilihan skor yang tersedia. Bila ada item yang pernyataannnya berbentuk unfavorable maka skornya disesuaikan. Dalam penelitian ini, analisis faktor konfirmatorik (CFA) ini dilakukan terhadap variabel yang memiliki lebih dari tiga butir-butir pernyataan. Dalam penelitian ini, uji CFA menggunakan software Lisrel versi 8.8 (Joreskog dansorbom, 2006) Teknik Analisis Data Tujuan penelitian ini selain untuk mengetahui gambaran prestasi siswa bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah, dan yang utama adalah untuk mengetahui struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika, struktur model teoritis di level sekolah yang dapat menjelaskan sikap terhadap matematika (attmath) dan efficacy terhadap matematika (effmat), dan pengaruh variabel di level sekolah terhadap prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika. Ada dua langkah analisis yang dilakukan peneliti untuk menguji model, pertama adalah menguji model pada masing-masing level baik level siswa maupun level sekolah sehingga akan diperoleh variabel-variabel yang signifikan pengaruhnya terhadap variabel lainnya. untuk memperoleh variabel yang pengaruhnya signifikan terhadap variabel lainnya serta interaksinya peneliti menggunakan model persamaan struktural dengan latent variabel. Kedua, setelah dilakukan uji model persamaan dan diperoleh variabel yang signifikan pengaruhnya, peneliti melakukan analisis dengan menggunakan analsiis multi level. Variabel di level siswa dikelompokkan sebagai model within dan variabel di level sekolah sebagai model between. Pada model within akan diketahui variabel apa saja yang memiliki pengaruh langsung terhadap prestasi siswa, dan pengaruh tersebut apakah dipengaruhi oleh variabel-variabel yang berada dalam model between. Dalam penelitian ini, baik analisis persamaan struktural dengan latent variabel maupun analisis multi level akan menggunakan software MPLUS (Muthen, 2012). Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

20 Bab IV Hasil Penelitian Pada bab ini akan diuraikan deskrispsi tentang responden penelitian yang meliputi siswa, guru, dan sekolah. Selain itu, akan diuraikan tentang temuan-temuan yang didapat dalam penelitian mengenai prestasi matematika berdasarkan pengaruh variabel level siswa maupun level sekolah dan interaksinya. Yang pertama akan disajikan adalah gambaran deskriptif tentang responden dan tentang prestasi matematika, beberapa contoh prestasi siswa dikaitkan dengan variabel yang lain. Kemudian akan disajikan hasil temuan dari analisis multi level Deskripsi Responden Responden dalam penelitian ini didasarkan pada data yang ada dalam laporan TIMSS tahun Responden terdiri dari siswa SLTP kelas delapan, guru, dan sekolah. Berikut ini gambaran responden penelitian Deskripsi Siswa Berdasarkan data TIMSS tahun 2011, siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 5795 siswa. Deskripsi siswa yang akan ditampilkan berikut ini adalah tentang jenis kelamin, tahun kelahiran/usia, jumlah buku yang dimiliki di rumah, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan yang ingin dicapai siswa, waktu yang diluangkan siswa untuk mengerjakan PR di rumah. a. Jenis Kelamin Dari jumlah sampel sebanyak 5795 orang, bila dilihat dari jenis kelamin dapat dinformasikan sebagai berikut: 51,3 % 48,7 % Gambar 4.1. Responden Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

21 Pada gambar di atas dapat diinformasikan bahwa berdasarkan jenis kelamin, responden dalam penelitian ini tidak jauh berbeda antara sampel laki-laki dengan perempuan. Responden laki-laki berjumlah 48,7 %, sedangkan perempuan sedikit lebih banyak yaitu berjumlah 51,3 %. b. Tahun Kelahiran Siswa Meskipun seluruh sampel penelitian adalah siswa SMP/MTs kelas delapan, namun responden penelitian memiliki tahun kelahiran yang berbeda, sehingga usia siswa pun berbeda-beda. Berikut ini gambaran responden berdasarkan tahun kelahiran. Gambar 4.2. Responden Siswa Berdasarkan Tahun Kelahiran Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang tahun kelahiran responden adalah antara tahun 1993 sampai Tahun kelahiran responden yang dominan adalah tahun 1997 sebanyak 3063 siswa atau 52,9% yang berarti berusia 14 tahun. Berikutnya adalah responden yang lahir tahun 1996 sebanyak 1879 siswa atau 32,4% yang berarti berusia 15 tahun. Responden yang tertua adalah responden yang lahir tahun 1993 yang berarti berusia 18 tahun dengan jumlah sebanyak 13 siswa atau 0,2 %, sedangkan responden termuda lahir tahun 2001 sebanyak 9 siswa atau 0,2 %. Perbedaan usia berdasarkan data di atas mungkin disebabkan oleh usia yang berbeda saat memasuki jenjang sekolah dasar maupun menengah di kalangan siswa atau siswa tinggal kelas saat di sekolah dasar atau menengah. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

22 c. Jumlah Kepemilikan Buku di Rumah Deskripsi berikut ini berkaitan dengan pertanyaan kira-kira berapa jumlah buku yang ada di rumahmu? (tidak termasuk majalah, surat kabar/koran atau buku-buku sekolahmu). Gambaran kepemilikan buku dapat dilihat pada gambar berikut ini. 52,7 % 24,8 % 18,4 % 2,7 % 1,3 % Gambar 4.3. Responden Siswa Berdasarkan Kepemilikan Buku di Rumah Berdasarkan informasi di atas, sebagian besar siswa (52,7 %) memiliki buku antara 11 sampai 25 buku, berikutnya adalah siswa yang memiliki buku antara 0-10 buku sebanyak 24,8 %. Siswa yang memiliki buku antara buku sebanyak 18,4 %. Sedangkan hanya 1,3 % siswa yang memiliki buku lebih dari 200 buku, dan 2,7 % siswa yang memiliki buku antara 101 sampai 200 buku. Keberadaan buku di rumah akan menunjukkan aktivitas siswa di rumah. Bila melihat prosentase di atas, sebagian besar siswa hanya memiliki buku 11 sampai 25 buah buku, hal ini berarti bahwa hanya sedikit siswa yang menghabiskan waktunya di rumah dengan membaca. Kondisi rendahnya kepemilikan buku di rumah mungkin disebabkan oleh kondisi ekonomi yang rendah sehingga daya beli buku di kalangan siswa juga menjadi rendah. Meskipun ada siswa yang memiliki buku lebih dari 100 buah, namun hal tersebut persentasenya sangat rendah. d. Tingkat Pendidikan Ibu Pendidikan ibu dari responden siswa memiliki tingkat yang berbeda-beda dalam rentang antara lulus (Sekolah Dasar) atau tidak bersekolah hingga lulus Strata dua (S2) atau Strata tiga (S3). Berikut ini gambaran tingkat pendidikan ibu dari siswa yang menjadi sampel. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

23 Gambar 4.4. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu Dari gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar (31,5 %) pendidikan tertinggi ibu dari para siswa adalah lulus SD atau tidak bersekolah, berikutnya adalah SLTP sebanyak 16,1 %. Sedaangkan yang berpendidikan S1 sebanyak 5,8 % dan S2/S3 sebanyak 1,3 %. Keadaan ini menggambarkan rendahnya tingkat pendidikan di kalangan perempuan di Indonesia. Padahal, ibu menjadi sentral dalam masalah rumah tangga termasuk salah satunya adalah mendidik dan membimbing anak. e. Tingkat Pendidikan Ayah Tingkat pendidikan ayah dari siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini menunjukkan tingkat pendidikan yang lebih baik dari pendidikan ibu. Sebanyak 25,5 % tingkat pendidikan ayah dari siswa yang menjadi responden adalah lulusan SLTA. Namun demikian, ayah dari siswa yang tingkat pendidikannya SD atau tidak bersekolah juga cukup banyak yaitu 24,8 % atau hampir sama dengan ayah siswa yang lulus SLTA. Urutan yang terbanyak berikutnya adalah ayah siswa yang berpendidikan SLTP yaitu sebanyak 15,3 %, sedangkan hanya 7 % yang berpendidikan S1 dan 1,3 % yang berpendidikan S2/S3. Berikut adalah deskripsi gambar tentang tingkat pendidikan ayah. f. Aspirasi Akademik Siswa Gambar 4.5. Responden Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ayah Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

24 Deskripsi ini berkaitan dengan tingkat pendidikan tertinggi yang ingin di raih siswa, dengan rentang pilihan antara tingkat SLTP hingga Strata dua (S2) atau Strata tiga (S3). Berikut ini gambaran aspirasi akademik siswa. Gambar 4.6. Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ingin Dicapai Siswa Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa para siswa memiliki cita-cita yang tinggi dalam bidang pendidikan. Sebagian besar siswa (44,1 %) memiliki keinginan untuk mencapai pendidikan S2 atau S3, sedangkan keinginan untuk mencapai jenjang S1 sebanyak 19,2 %. Gambaran ini menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia memiliki keinginan yang kuat untuk maju dan berkembang. Karena hanya dengan pendidikan, sebuah bangsa bisa unggul menyaingi bangsa-bangsa lain di dunia. Namun bila melihat kepemilikan buku siswa di rumah seperti terlihat pada gambar sebelumnya, menunjukkan kemampuan ekonomi siswa yang rendah untuk membeli buku. Karena itu, ketidakmampuan siswa secara ekonomi bisa dijembatani oleh pemerintah untuk mewujudkan keinginan siswa meraih prestasi dan pendidikan yang tinggi. g. Waktu yang Diluangkan Siswa untuk Mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) Deskripsi ini berkaitan dengan waktu yang diluangkan untuk mengerjakan PR matematika, ketika guru memberikan PR. Berikut ini gambaran waktu yang diluangkan siswa untuk mengerjakan PR Matematika. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

25 Gambar 4.7. Waktu yang Diluangkan Siswa untuk Mengerjakan PR Berdasarkan gambar di atas, dapat diinformasikan bahwa waktu yang diluangkan siswa untuk mengerjakan PR matematika paling banyak adalah responden yang meluangkan waktu antara menit yaitu 30,1 %. Berikutnya adalah siswa yang meluangkan waktu selama menit sebanyak 25,9 %, sedangkan yang meluangkan waktu selama 1-15 menit sebanyak 21,8 %. Ada pula siswa yang meluangkan waktu lebih dari 60 menit sebanyak 9,9 %, namun ada juga siswa yang tidak meluangkan waktu untuk mengerjakan PR (0 menit) yaitu sebanyak 2,4 %. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

26 Deskripsi Guru Jumlah guru yang menjadi responden dalam penelitian TIMSS tahun 2011 adalah sebanyak 170 orang guru. Berikut ini deskripsi tentang guru yang akan disajikan meliputi jenis kelamin, usia, pengalaman mengajar, pendidikan terakhir, bidang studi utama, pemanfaatan komputer, dan jumlah siswa yang diajarkan dalam satu kelas. a. Jenis Kelamin Dari jumlah sampel sebanyak 170 orang, responden guru bila dilihat dari jenis kelamin dapat dinformasikan sebagai berikut: 57,1 % 42,9 % Gambar 4.8. Responden Guru Berdasarkan Jenis Kelamin Pada gambar di atas dapat diinformasikan bahwa berdasarkan jenis kelamin,, responden guru dalam penelitian ini lebih banyak guru perempuan dibandingkan dengan guru laki-laki. Responden laki-laki berjumlah 42,97 %, sedangkan perempuan berjumlah 51,3 %. Informasi ini menggambarkan bahwa perempuan lebih berminat untuk menjadi guru dibandingkan laki-laki. Hal ini karena karakteristik pekerjaan sebagai guru lebih banyak disukai oleh perempuan. Karakteristik pekerjaan sebagai guru membutuhkan individu yang sabar, mengayomi, membimbing, peduli, dan sebagainya. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

27 b. Usia Rentang usia guru dalam penelitian ini berkisar antara kurang dari 25 tahun hingga di atas 60 tahun. gambaran usia guru dapat diinformasikan sebagai berikut. Gambar 4.9. Deskripsi Guru Berdasarkan Usia Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang usia guru yang paling banyak berada pada rentang usia antara tahun yaitu dengan persentase sebesar 38,7 %. Urutan terbanyak berikutnya adalah rentang usia antara tahun sebanyak 26,2 %. Rentang usia yang paling sedikit adalah di atas 60 tahun yaitu sebanyak 0,6 %. Sedangkan rentang usia yang paling muda sebanyak 5,4 % yaitu rentang usia dibawah 25 tahun. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

28 c. Pengalaman Mengajar Rentang pengalaman mengajar guru bervariasi antara 1 hingga lebih dari 25 tahun, berikut ini informasi mengajar guru. 15,7 % 22,3 % 12 % 15,1 % 22,3 % 12,7 % Gambar Deskripsi Guru Berdasarkan Pengalaman Mengajar Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang pengalaman mengajar guru yang paling banyak berada pada rentang antara 1-5 tahun dan 6-10 tahun dengan persentase yang sama yaitu sebesar 22,3 %. Urutan terbanyak berikutnya adalah rentang pengalaman mengajar lebih dari 25 tahun yaitu 15,7 %. Rentang tersebut hampir sama dengan guru yang memiliki pengalaman mengajar selama tahun yaitu sebesar 15,1 %. Sedangkan pengalaman mengajar tahun dan tahun persentasenya sebesar 12,7 % dan 12 %. Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS

DETERMINANTS OF LEARNING OUTCOMES AN ANALYSIS USING DATA FROM THE TRENDS IN INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY (TIMSS) 2007

DETERMINANTS OF LEARNING OUTCOMES AN ANALYSIS USING DATA FROM THE TRENDS IN INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY (TIMSS) 2007 DETERMINANTS OF LEARNING OUTCOMES AN ANALYSIS USING DATA FROM THE TRENDS IN INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY (TIMSS) 2007 PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

TREND PRESTASI MATEMATIKA DAN IPA PADA TIMSS TAHUN 1999, 2003 DAN Suatu Analisis dengan Memperhitungkan Faktor Psikologis Siswa

TREND PRESTASI MATEMATIKA DAN IPA PADA TIMSS TAHUN 1999, 2003 DAN Suatu Analisis dengan Memperhitungkan Faktor Psikologis Siswa TREND PRESTASI MATEMATIKA DAN IPA PADA TIMSS TAHUN 1999, 2003 DAN 2007 Suatu Analisis dengan Memperhitungkan Faktor Psikologis Siswa PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

DETERMINANTS OF LEARNING OUTCOMES AN ANALYSIS USING DATA FROM PROGRESS IN INTERNATIONAL READING LITERACY STUDY (PIRLS) 2006

DETERMINANTS OF LEARNING OUTCOMES AN ANALYSIS USING DATA FROM PROGRESS IN INTERNATIONAL READING LITERACY STUDY (PIRLS) 2006 DETERMINANTS OF LEARNING OUTCOMES AN ANALYSIS USING DATA FROM PROGRESS IN INTERNATIONAL READING LITERACY STUDY (PIRLS) 2006 PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Kata Kunci: analisis soal; buku siswa kurikulum 2013; BSE; domain kognitif 1. PENDAHULUAN

Kata Kunci: analisis soal; buku siswa kurikulum 2013; BSE; domain kognitif 1. PENDAHULUAN ANALISIS DESKRIPTIF SOAL-SOAL DALAM BUKU SISWA KURIKULUM 2013 (EDISI REVISI) DAN BSE PELAJARAN MATEMATIKA SMP KELAS VII DITINJAU DARI DOMAIN KOGNITIF TIMSS 2011 Yoga Muhamad Muklis 1, Siwi Rimayani Oktora

Lebih terperinci

Analisis Deskriptif Soal-Soal Dalam Buku Pelajaran Matematika SMP Kelas VIII Semester 1 Ditinjau dari Domain Kognitif TIMSS 2011

Analisis Deskriptif Soal-Soal Dalam Buku Pelajaran Matematika SMP Kelas VIII Semester 1 Ditinjau dari Domain Kognitif TIMSS 2011 SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015 PM -39 Analisis Deskriptif - Dalam Buku Pelajaran Matematika SMP Kelas VIII Semester 1 Ditinjau dari Kognitif TIMSS 2011 Yoga Muhamad Muklis

Lebih terperinci

Karakteristik Soal TIMSS

Karakteristik Soal TIMSS SEMIAR ASIOAL MATEMATIKA DA PEDIDIKA MATEMATIKA UY 2015 Karakteristik Soal TIMSS Dwi Cahya Sari Jurusan Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas egeri Yogyakarta email : cahyasari1984@gmail.com

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Perwujudan masyarakat Indonesia yang berkualitas dalam rangka

BAB 1 PENDAHULUAN. Perwujudan masyarakat Indonesia yang berkualitas dalam rangka BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Perwujudan masyarakat Indonesia yang berkualitas dalam rangka menghadapi tantangan zaman yang semakin pesat adalah menjadi tanggung jawab pendidikan. Sampai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu faktor fisiologis dan faktor

BAB I PENDAHULUAN. dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu faktor fisiologis dan faktor BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Faktor faktor yang dapat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu faktor fisiologis dan faktor psikologis. Kedua faktor

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran secara umum dan spesifik mengenai persepsi penerapan Student Centered Learning serta keduabelas prinsipnya pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Perolehan Skor Rata-Rata Siswa Indonesia Untuk Sains

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Perolehan Skor Rata-Rata Siswa Indonesia Untuk Sains BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan adanya upaya peningkatan mutu pendidikan maka evaluasi terhadap segala aspek yang berhubungan dengan kualitas pendidikan terus dilakukan. Hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. prioritas utama untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih baik. Sehingga. mutu pendidikan menjadi fokus penting pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. prioritas utama untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih baik. Sehingga. mutu pendidikan menjadi fokus penting pendidikan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, yang bertujuan untuk memanusiakan manusia, mendewasakan, dan mengubah perilaku menjadi

Lebih terperinci

SKRIPSI DARMAN NABABAN

SKRIPSI DARMAN NABABAN SKRIPSI ANALISIS PERSONAL FINANCIAL LITERACY DAN FINANCIAL BERHAVIOR MAHASISWA STRATA I FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA OLEH: DARMAN NABABAN 080502177 PROGRAM STUDI MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

Lebih terperinci

Abstrak. i Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. i Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui motivasi berprestasi dalam bidang akademik pada siswa pecandu game online yang berusia 13-17 tahun di warnet X kota Y. Pemilihan sampel menggunakan

Lebih terperinci

KONTRIBUSI KEBIASAAN BELAJAR PESERTA DIDIK TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DI KELAS VIII MTsN 01 PADANG ABSTRACT

KONTRIBUSI KEBIASAAN BELAJAR PESERTA DIDIK TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DI KELAS VIII MTsN 01 PADANG ABSTRACT 1 KONTRIBUSI KEBIASAAN BELAJAR PESERTA DIDIK TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DI KELAS VIII MTsN 01 PADANG Devi Oktarina 1, Fifi Yasmi 2, Joni Adison 2 1 Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling

Lebih terperinci

PENALARAN MATEMATIS DALAM MENYELESAIKAN SOAL PISA PADA SISWA USIA 15 TAHUN DI SMA NEGERI 1 JEMBER

PENALARAN MATEMATIS DALAM MENYELESAIKAN SOAL PISA PADA SISWA USIA 15 TAHUN DI SMA NEGERI 1 JEMBER PENALARAN MATEMATIS DALAM MENYELESAIKAN SOAL PISA PADA SISWA USIA 15 TAHUN DI SMA NEGERI 1 JEMBER Rialita Fitri Azizah 1, Sunardi 2, Dian Kurniati 3 Abstract. This research is a descriptive research aimed

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan

I. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan diharapkan akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu membangun kehidupan masyarakat

Lebih terperinci

THE EFFCT OF TEACHERS PROFESSIONAL COMPETENCE CIVIC EDUCATION TO INTEREST STUDEN LEARNING SMPN IN KECAMATAN BONJOL

THE EFFCT OF TEACHERS PROFESSIONAL COMPETENCE CIVIC EDUCATION TO INTEREST STUDEN LEARNING SMPN IN KECAMATAN BONJOL THE EFFCT OF TEACHERS PROFESSIONAL COMPETENCE CIVIC EDUCATION TO INTEREST STUDEN LEARNING SMPN IN KECAMATAN BONJOL Hijir Kurniati1, Muslim1, Hendrizal1 1Program Pancasila The Educational and citizenship

Lebih terperinci

ABSTRAK. viii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. viii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Tujuan penelitian, mengetahui kontribusi ketiga determinan intention serta determinan yang memberikan kontribusi paling besar terhadap intention untuk membaca textbook pada mahasiswa angkatan 2013

Lebih terperinci

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Vol 02 No 01 Tahun 2013, 20-25

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Vol 02 No 01 Tahun 2013, 20-25 Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Vol 02 No 01 Tahun 2013, 20-25 ANALISIS PERBANDINGAN LEVEL KOGNITIF DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM STANDAR ISI (SI), SOAL UJIAN NASIONAL (UN), SOAL (TRENDS IN INTERNATIONAL

Lebih terperinci

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MAHASISWA PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MAHASISWA PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI JPPM Vol. 9 No. 2 (2016) HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MAHASISWA PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI Nita Delima Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Subang nitadelima85@yahoo.com

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Marantha

ABSTRAK. Universitas Kristen Marantha ABSTRAK Penelitian mengenai orientasi masa depan bidang pekerjaan pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi di Fakultas Psikologi Universitas X Bandung ini dilakukan dengan tujuan untuk memeroleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan matematika merupakan suatu kemampuan dasar yang perlu

BAB I PENDAHULUAN. Kemampuan matematika merupakan suatu kemampuan dasar yang perlu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kemampuan matematika merupakan suatu kemampuan dasar yang perlu mendapatkan perhatian khusus di Indonesia. Rendahnya kemampuan siswa di bidang matematika

Lebih terperinci

Perpustakaan Unika APPENDICES

Perpustakaan Unika APPENDICES APPENDICES APPENDIX 1 DAFTAR ANGKET UNTUK PARA MURID ANGKET A Petunjuk : 1. Bacalah terlebih dahulu setiap pertanyaan dengan teliti sebelum menjawabnya. 2. Setiap pertanyaan hanya boleh diisi dengan satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menjadi aspek yang paling berpengaruh dalam upaya membentuk generasi bangsa yang siap menghadapi masalah-masalah di era globalisasi. Namun, kualitas

Lebih terperinci

Key word : analysis of national exam, conten validity, cognitive domains.

Key word : analysis of national exam, conten validity, cognitive domains. PEMETAAN SOAL-SOAL UJIAN NASIONAL MATEMATIKA SMP/MTs (Analisis validitas isi dan aspek kognitif) Erika Sandrayani 1, Budi Murtiyasa 2, dan Masduki 3 1 Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UMS, erhi_ca@yahoo.co.id

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL ORANGTUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP CAHAYA HARAPAN BEKASI

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL ORANGTUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP CAHAYA HARAPAN BEKASI HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL ORANGTUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP CAHAYA HARAPAN BEKASI Skripsi Oleh: Sheren Oktavia 201210515022 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bahwa pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga

I. PENDAHULUAN. bahwa pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sarana terpenting untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan negara. Hal ini sesuai dengan pendapat Joesoef (2011) yang menyatakan bahwa pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berat. Salah satu tantangannya adalah menghadapi persaingan ekonomi global.

BAB I PENDAHULUAN. berat. Salah satu tantangannya adalah menghadapi persaingan ekonomi global. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era globalisasi ini, tantangan yang dihadapi generasi muda semakin berat. Salah satu tantangannya adalah menghadapi persaingan ekonomi global. Berdasarkan hasil

Lebih terperinci

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL GARIS SINGGUNG LINGKARAN BERDASARKAN ANALISIS NEWMAN PADA KELAS VIII SMP NEGERI 1 KEC.

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL GARIS SINGGUNG LINGKARAN BERDASARKAN ANALISIS NEWMAN PADA KELAS VIII SMP NEGERI 1 KEC. ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL GARIS SINGGUNG LINGKARAN BERDASARKAN ANALISIS NEWMAN PADA KELAS VIII SMP NEGERI 1 KEC.MLARAK Oleh: Ihda Afifatun Nuha 13321696 Skripsi ini ditulis untuk

Lebih terperinci

PUBLIKASI ILMIAH AFRINA NUR BAITI A

PUBLIKASI ILMIAH AFRINA NUR BAITI A PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PENILAIAN PORTOFOLIO BERBASIS LESSON STUDY DI SMP MUHAMMADIYAH 1 KARTASURA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA PUBLIKASI

Lebih terperinci

v Universitas Kristen Maranatha

v Universitas Kristen Maranatha ABSTRACT This study was conducted to describe the degree of self compassion on mother with intellectual disability children in SLB C X Bandung. Self compassion is ability to comfort ourselves, see a failure

Lebih terperinci

PENERAPAN STRATEGI REACT DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS X SMAN 1 BATANG ANAI

PENERAPAN STRATEGI REACT DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS X SMAN 1 BATANG ANAI Vol. 3 No. 1 (214) : Jurnal Pendidikan Matematika, Part 1 Hal. 26-3 PENERAPAN STRATEGI REACT DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS X SMAN 1 BATANG ANAI Fadhila El Husna 1),

Lebih terperinci

PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN PROBLEM SOLVING TERHADAP KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL LITERASI MATEMATIKA

PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN PROBLEM SOLVING TERHADAP KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL LITERASI MATEMATIKA Pedagogy Volume 1 Nomor 2 ISSN 2502-3802 PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN PROBLEM SOLVING TERHADAP KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL LITERASI MATEMATIKA M. Rusli B 1, Aswar Anas 2 Program Studi Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan pendidikan dalam suatu negara harus diawasi dan dievaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan sistem pendidikan yang digunakan. Berhasil tidaknya

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui derajat self-efficacy belief pada siswa kelas XI. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survey dan pengambilan data melalui kuesioner.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia khususnya para siswa di tingkat pendidikan Sekolah Dasar hingga

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia khususnya para siswa di tingkat pendidikan Sekolah Dasar hingga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang wajib dipelajari oleh setiap siswa pada jenjang pendidikan manapun. Di Indonesia khususnya para

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PERHATIAN ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 2 MAGELANG

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PERHATIAN ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 2 MAGELANG HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PERHATIAN ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 2 MAGELANG TAHUN PELAJARAN2014/2015 SKRIPSI Oleh : RENNISA ANGGRAENI K8411061

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SEARCH SOLVE CREATE SHARE (SSCS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII-2 SMP NEGERI 13 PEKANBARU

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SEARCH SOLVE CREATE SHARE (SSCS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII-2 SMP NEGERI 13 PEKANBARU 71 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SEARCH SOLVE CREATE SHARE (SSCS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII-2 SMP NEGERI 13 PEKANBARU maidadeli@yahoo.co.id SMP Negeri 13 Pekanbaru,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ika Citra Wulandari, 2015

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ika Citra Wulandari, 2015 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang banyak digunakan dan dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan pada hampir semua mata pelajaran yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah penalaran Nurbaiti Widyasari, 2013

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah penalaran Nurbaiti Widyasari, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengambilan keputusan terhadap masalah yang dihadapi oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak terlepas dari aspek-aspek yang mempengaruhinya. Keputusan

Lebih terperinci

PENERAPAN STRATEGI BELAJAR AKTIF TIPE CLASS CONCERN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMPN 3 KECAMATAN HARAU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

PENERAPAN STRATEGI BELAJAR AKTIF TIPE CLASS CONCERN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMPN 3 KECAMATAN HARAU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA PENERAPAN STRATEGI BELAJAR AKTIF TIPE CLASS CONCERN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMPN 3 KECAMATAN HARAU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Artikel Penelitian Ditulis untuk Memenuhi Salah satu Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ratunya ilmu (Mathematics is the Queen of the Sciences), maksudnya yaitu matematika itu tidak bergantung pada bidang studi lain. Matematika

Lebih terperinci

Diah Pitaloka Handriani SMP Negeri 1 Surakarta

Diah Pitaloka Handriani SMP Negeri 1 Surakarta 22-200 IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN DAN PRESTASI BELAJAR IPA MATERI LINGKUNGAN KELAS VII H SMP NEGERI 1 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

PEMETAAN SOAL-SOAL UJIAN NASIONAL MATEMATIKA SMA/MA NASKAH PUBLIKASI. Oleh: DWI AMELIA IRAWATI A PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

PEMETAAN SOAL-SOAL UJIAN NASIONAL MATEMATIKA SMA/MA NASKAH PUBLIKASI. Oleh: DWI AMELIA IRAWATI A PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PEMETAAN SOAL-SOAL UJIAN NASIONAL MATEMATIKA SMA/MA (Analisis validitas isi dan aspek kognitif Tahun 2009/2010 dan 2010/2011) NASKAH PUBLIKASI Oleh: DWI AMELIA IRAWATI A 410 080 286 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Abstrak. i Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. i Universitas Kristen Maranatha Abstrak Studi deskriptif mengenai achievement goal orientation pada mahasiswa yang sedang mengontrak mata kuliah PPLK di Universitas "X" Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk memeroleh gambaran mengenai

Lebih terperinci

ANALISIS HAMBATAN PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 BAGI GURU KELAS X SMA/SEDERAJAT DI KECAMATAN RAMBAH SAMO

ANALISIS HAMBATAN PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 BAGI GURU KELAS X SMA/SEDERAJAT DI KECAMATAN RAMBAH SAMO ANALISIS HAMBATAN PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 BAGI GURU KELAS X SMA/SEDERAJAT DI KECAMATAN RAMBAH SAMO Pramono 1), Nurul Afifah 2) dan Ria Karno 3) 1 Fakultas Keguruan

Lebih terperinci

KONTRIBUSI SELF CONCEPT MATEMATIS TERHADAP KEMAMPUAN AKADEMIK MAHASISWA PADA PEMBELAJARAN KALKULUS

KONTRIBUSI SELF CONCEPT MATEMATIS TERHADAP KEMAMPUAN AKADEMIK MAHASISWA PADA PEMBELAJARAN KALKULUS KONTRIBUSI SELF CONCEPT MATEMATIS TERHADAP KEMAMPUAN AKADEMIK MAHASISWA PADA PEMBELAJARAN KALKULUS Rifqi Hidayat, Jajang Rahmatudin Universitas Muhammadiyah Cirebon rifqi.math@gmail.com, j.rahmatudin@gmail.com

Lebih terperinci

ABSTRAK. ii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. ii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Parent Involvement dan tipe Parent Involvement terhadap School Engagement pada siswa-siswi SMPN T Kota Bandung. Pemilihan sampel menggunakan metode

Lebih terperinci

: FETI UTAMININGSIH NIMK

: FETI UTAMININGSIH NIMK HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI DIPREDIKSI DARI KEMAMPUAN METAKOGNISI, KESIAPAN BELAJAR, DAN MOTIVASI BERPRESTASI SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 3 SUKOHARJO SKRIPSI Oleh : FETI UTAMININGSIH NIMK4308038 FAKULTAS

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INQUIRY BERBANTUAN SOFTWARE AUTOGRAPH

UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INQUIRY BERBANTUAN SOFTWARE AUTOGRAPH (1 UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INQUIRY BERBANTUAN SOFTWARE AUTOGRAPH Anim* 1, Elfira Rahmadani 2, Yogo Dwi Prasetyo 3 123 Pendidikan Matematika, Universitas Asahan

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran resiliensi pada ibu yang memiliki anak tunarungu usia prasekolah di SLB-B X Cimahi. Alat ukur yang digunakan merupakan kuesioner dengan bentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Program pendidikan nasional diharapkan mampu melahirkan generasi dengan sumber daya manusia yang unggul dalam menghadapi tantangan jaman di masa kini dan di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada didalamnya. Belajar matematika pada hakekatnya adalah

Lebih terperinci

Ellan 1, Hobri 2, Nurcholif 3

Ellan 1, Hobri 2, Nurcholif 3 PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERNUANSA KARAKTER DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) POKOK BAHASAN OPERASI BENTUK ALJABAR KELAS VII SMP NEGERI 1 PAKUSARI TAHUN

Lebih terperinci

Research Fair Unisri 2017 ISSN: Vol 1, Number 1, Maret 2017

Research Fair Unisri 2017 ISSN: Vol 1, Number 1, Maret 2017 EFEKTIFITAS PROGRAM R UNTUK MEMBANTU PENGAJAR DALAM MENGOREKSI JAWABAN SISWA PADA SOAL MATEMATIKA MATRIKS SECARA CEPAT DAN BENAR Arif Sutikno, S.Kom, M.Kom Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Slamet

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam Permendiknas No. 22 (Departemen Pendidikan Nasional RI,

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam Permendiknas No. 22 (Departemen Pendidikan Nasional RI, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di dalam Permendiknas No. 22 (Departemen Pendidikan Nasional RI, 2006) secara eksplisit dicantumkan beberapa kemampuan dan sikap siswa yang harus dikembangkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sains siswa adalah Trends in International Mathematics Science Study

I. PENDAHULUAN. sains siswa adalah Trends in International Mathematics Science Study I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu studi internasional yang mengukur tingkat pencapaian kemampuan sains siswa adalah Trends in International Mathematics Science Study (TIMSS) yang dikoordinasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan dalam pengertian pengajaran di sekolah adalah suatu usaha yang bersifat sadar, sistematis, dan terarah agar peserta didik secara aktif mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu studi internasional untuk mengevaluasi pendidikan khusus hasil belajar peserta didik berusia 14 tahun pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) yang diikuti

Lebih terperinci

ANALISIS KESESUAIAN BUKU AJAR MATEMATIKA KELAS VIII SMP DENGAN TAKSONOMI TIMSS

ANALISIS KESESUAIAN BUKU AJAR MATEMATIKA KELAS VIII SMP DENGAN TAKSONOMI TIMSS ANALISIS KESESUAIAN BUKU AJAR MATEMATIKA KELAS VIII SMP DENGAN TAKSONOMI TIMSS Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Stara I pada Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Keguruan

Lebih terperinci

Penerapan Media Komik Matematika Terhadap Peningkatan Pemahaman Konsep Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah di Sekolah Dasar

Penerapan Media Komik Matematika Terhadap Peningkatan Pemahaman Konsep Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah di Sekolah Dasar Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pengajaran Matematika Vol. 1 No. 1, hal. 1-6, September 2015 Penerapan Media Komik Matematika Terhadap Peningkatan Pemahaman Konsep Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah

Lebih terperinci

2013 PENERAPAN METODE KERJA KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT PADA ANAK DIDIK

2013 PENERAPAN METODE KERJA KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT PADA ANAK DIDIK ABSTRAK Marlina, 2013. Penelitian ini berangkat dari permasalahan kurangnya prestasi belajar siswa pada pokok bahasan operasi hitung bilangan bulat SDN Paniis Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang

Lebih terperinci

ABSTRAK. (Kata kunci : College adjustment ) Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. (Kata kunci : College adjustment ) Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kemampuan college adjustment. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik survei. Sampel dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah kualitas pendidikan atau hasil belajar siswa merupakan topik yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. masalah kualitas pendidikan atau hasil belajar siswa merupakan topik yang sangat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah pendidikan senantiasa menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan dan ditemukan solusinya. Di antara berbagai masalah yang ada, masalah kualitas pendidikan

Lebih terperinci

KEAKTIFAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DITINJAU DARI METODE MENGAJAR GURU DAN FASILITAS BELAJAR PADA SISWA KELAS VIII

KEAKTIFAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DITINJAU DARI METODE MENGAJAR GURU DAN FASILITAS BELAJAR PADA SISWA KELAS VIII KEAKTIFAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS DITINJAU DARI METODE MENGAJAR GURU DAN FASILITAS BELAJAR PADA SISWA KELAS VIII MTsN PLUPUH SRAGEN TAHUN AJARAN 2016/2017 Skripsi Diajukan untuk Memperoleh

Lebih terperinci

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS)

E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) Volume 4 Nomor 3 September 2015 E-JUPEKhu (JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN KHUSUS) http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu Halaman :163-174 PERSEPSI SISWA CIBI TERHADAP FAKTOR LINGKUNGAN SEKOLAH YANG MEMPENGARUHI

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran konsep diri pada siswa kelas XII yang mengambil jurusan IPA dan IPS di SMA X Bandung beserta dimensi-dimensi konsep diri serta kaitannya dengan

Lebih terperinci

PENGARUH KEPERCAYAAN DIRI SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMPN 1 TILATANG KAMANG

PENGARUH KEPERCAYAAN DIRI SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMPN 1 TILATANG KAMANG PENGARUH KEPERCAYAAN DIRI SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMPN 1 TILATANG KAMANG Wulan Eka Putri 1, Fazri Zuzano 1, Khairudin 1 1 Jurusan PendidikanMatematika

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Judul dari penelitian ini adalah Perancangan dan Uji Coba modul Pelatihan Self-Regulation Fase Forethought Bidang Akademik pada Siswa-Siswi Underachiever kelas X SMA BPPK Kristen Bandung. Dan tujuan

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL ACTIVE KNOWLEDGE SHARING TERHADAP HASIL BELAJAR DITINJAU DARI MINAT BELAJAR SISWA SMA N 2 KARANGANYAR

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL ACTIVE KNOWLEDGE SHARING TERHADAP HASIL BELAJAR DITINJAU DARI MINAT BELAJAR SISWA SMA N 2 KARANGANYAR PENGARUH PENGGUNAAN MODEL ACTIVE KNOWLEDGE SHARING TERHADAP HASIL BELAJAR DITINJAU DARI MINAT BELAJAR SISWA SMA N 2 KARANGANYAR SKRIPSI Oleh: ASRI NAFI A DEWI X4307018 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PENGARUH KEMAMPUAN DASAR MATEMATIKA DAN KEBIASAAN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI IPA SMAN 11 PEKANBARU

PENGARUH KEMAMPUAN DASAR MATEMATIKA DAN KEBIASAAN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI IPA SMAN 11 PEKANBARU PENGARUH KEMAMPUAN DASAR MATEMATIKA DAN KEBIASAAN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI IPA SMAN 11 PEKANBARU Ika Fitri Rahayu 1), Mitri Irianti dan Zulirfan 2) Email : ikafitrirahayu@yahoo.co.id

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 24 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah 113 pasang antara siswa kelas tujuh (56 siswa laki-laki dan 57 siswa perempuan) yang berasal dari dua SMP di Bekasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Pendidikan adalah salah satu upaya

Lebih terperinci

PENINGKATAN KESADARAN SISWA TERHADAP LINGKUNGAN MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS BERITA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI KELAS TESIS

PENINGKATAN KESADARAN SISWA TERHADAP LINGKUNGAN MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS BERITA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI KELAS TESIS PENINGKATAN KESADARAN SISWA TERHADAP LINGKUNGAN MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS BERITA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI KELAS TESIS Diajukan Kepada Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

ANALISIS KEMAMPUAN PEDAGOGIK DAN SELF CONFIDENCE CALON GURU MATEMATIKA DALAM MENGHADAPI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN. Oleh :

ANALISIS KEMAMPUAN PEDAGOGIK DAN SELF CONFIDENCE CALON GURU MATEMATIKA DALAM MENGHADAPI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN. Oleh : ANALISIS KEMAMPUAN PEDAGOGIK DAN SELF CONFIDENCE CALON GURU MATEMATIKA DALAM MENGHADAPI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN Oleh : Neneng Aminah Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon ABSTRAK Penelitian ini adalah

Lebih terperinci

JURNAL. Oleh: Yunita Mairani

JURNAL. Oleh: Yunita Mairani PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, KESIAPAN BELAJAR, KOMPETENSI PROFESIONAL GURU, DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL GURU DENGAN SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR IPS TERPADU SISWA KELAS VIII DI SMPN 33 PADANG JURNAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi pembentukan kepribadian manusia. Pada dasarnya pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelajaran Matematika merupakan salah satu cabang ilmu yang sangat berperanan penting dan berkontribusi positif pada perkembangan dan kemajuan IPTEK. Peran pelajaran

Lebih terperinci

1. The Teachers Questionnaire (in Indonesia) Kuisioner untuk Guru

1. The Teachers Questionnaire (in Indonesia) Kuisioner untuk Guru Appendices 116 1. The Teachers Questionnaire (in Indonesia) No : Sekolah : Tanggal Pengisian : Bacalah petunjuk sebelum mengisi! Pilihan: Kuisioner untuk Guru 1. Saya tidak pernah melakukannya 2. Saya

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENDAPATAN ORANG TUA TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X DI SMA NEGERI 6 BINTAN KABUPATEN BINTAN

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENDAPATAN ORANG TUA TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X DI SMA NEGERI 6 BINTAN KABUPATEN BINTAN HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENDAPATAN ORANG TUA TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X DI SMA NEGERI 6 BINTAN KABUPATEN BINTAN Gatot Pranoto 1, Annika Maizeli 2, Evrialiani Rosba 2 1 Mahasiswa

Lebih terperinci

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Robin Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas VIII SMPN 5 Padang.

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Robin Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas VIII SMPN 5 Padang. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Round Robin Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas VIII SMPN 5 Padang Oleh Suci Mistika Sari *, Rahmi**, Yulyanti Harisman** *) Mahasiswa

Lebih terperinci

ABSTRAK. vii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. vii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Kualitas hasil pekerjaan auditor bisa juga dilihat dari kualitas keputusankeputusan yang diambil. Ikatan Akuntan Indonesia menyatakan bahwa audit yang dilakukan auditor dikatakan berkualitas, jika

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT (STAD) PADA SUB MATERI POKOK LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG DI KELAS VI SD NEGERI KALIDAWIR 03 Oleh: Ratri Candra Hastari Dosen STKIP

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha i ABSTRAK Penurunan kinerja merupakan masalah yang ingin dihindari oleh perusahan mengingat karena dampaknya yang cukup besar bagi perusahaan. Dampak tersebut berupa terhambatnya target yang seharusnya

Lebih terperinci

JURNAL LITERASI MATEMATIKA TINGKAT SMP MENGACU PADA TIMSS (TRENDS INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY) DITINJAU DARI GENDER

JURNAL LITERASI MATEMATIKA TINGKAT SMP MENGACU PADA TIMSS (TRENDS INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY) DITINJAU DARI GENDER JURNAL LITERASI MATEMATIKA TINGKAT SMP MENGACU PADA TIMSS (TRENDS INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY) DITINJAU DARI GENDER LITERACY MATHEMATICS STANDARD SMP REFER FOR TIMSS (TRENDS INTERNATIONAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Matematika merupakan salah satu bagian penting dari pendidikan manusia, karena matematika relevan dengan berbagai cabang ilmu yang kita temui dalam kehidupan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu hal penting dalam kehidupan karena dapat

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu hal penting dalam kehidupan karena dapat 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal penting dalam kehidupan karena dapat menentukan maju mundurnya suatu bangsa. Ihsan (2011: 2) menyatakan bahwa pendidikan bagi kehidupan

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Usulan Penelitian Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Akuntansi.

NASKAH PUBLIKASI. Usulan Penelitian Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Akuntansi. NASKAH PUBLIKASI PENGARUH INTENSITAS BELAJAR DAN AKTIVITAS SISWA DALAM PELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI KELAS XI IPS SMA NEGERI 3 WONOGIRI TAHUN AJARAN 2015/2016 Usulan

Lebih terperinci

Sholikhin 1 Meithy Intan R. Luawo 2 Djunaedi 3. Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling FIP UNJ,

Sholikhin 1 Meithy Intan R. Luawo 2 Djunaedi 3. Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, 100 Konsep Diri Akademik Peserta Didik Jenjang Menengah Pertama Berdasarkan Jenis Kelamin KONSEP DIRI AKADEMIK PESERTA DIDIK JENJANG MENENGAH PERTAMA BERDASARKAN JENIS KELAMIN (Studi Survei di Lembaga

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN

BAB III DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN BAB III DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Data Penelitian Di dalam sub bab berikut ini akan dijelaskan secara detail mengenai data-data yang dipergunakan dalam penelitian ini. 3.1.1 Jenis dan Sumber Data

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu pelajaran yang penting dalam kehidupan. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan pada semua siswa sejak dari sekolah dasar,

Lebih terperinci

THE PROBLEMS EXPERIENCED BY THE STUDENTS OF SENIOR HIGH SCHOOL NUMBER XIII KOTO KAMPAR 2015/2016 YEAR

THE PROBLEMS EXPERIENCED BY THE STUDENTS OF SENIOR HIGH SCHOOL NUMBER XIII KOTO KAMPAR 2015/2016 YEAR 1 THE PROBLEMS EXPERIENCED BY THE STUDENTS OF SENIOR HIGH SCHOOL NUMBER XIII KOTO KAMPAR 2015/2016 YEAR Saripah 1,Elni Yakub 2, Zulfan Saam 3, Email: saripah.batubersurat@gmail.com, elni_yakub@yahoo.com,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan negara. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan negara. Menurut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membangun bangsa. Pendidikan menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan negara. Menurut Puspendik (2012: 2), kualitas

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR OLEH. Riza Ismail

LAPORAN AKHIR OLEH. Riza Ismail ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN SMA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENGIKUTI BIMBINGAN BELAJAR PADA LEMBAGA PRIMAGAMA KOTA PALEMBANG (STUDI KASUS: SISWA PRIMAGAMA KELAS 3 SMA) LAPORAN AKHIR

Lebih terperinci

PENGARUH PEMENUHAN TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA REMAJA TERHADAP PENCAPAIAN TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA. Lia Nurjanah

PENGARUH PEMENUHAN TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA REMAJA TERHADAP PENCAPAIAN TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA. Lia Nurjanah PENGARUH PEMENUHAN TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA REMAJA TERHADAP PENCAPAIAN TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA Lia Nurjanah DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT

Lebih terperinci

By SRI SISWANTI NIM

By SRI SISWANTI NIM READING COMPREHENSION IN NARRATIVE TEXT OF THE TENTH GRADE STUDENTS OF MA NAHDLATUL MUSLIMIN UNDAAN KUDUS TAUGHT BY USING IMAGINATIVE READING MATERIALS IN THE ACADEMIC YEAR 2015/2016 By SRI SISWANTI NIM.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penanganan terhadap kualitas Sumberdaya Manusia, khususnya pada. tingkatan organisasi. Sumberdaya Manusia yang besar apabila dapat

BAB I PENDAHULUAN. penanganan terhadap kualitas Sumberdaya Manusia, khususnya pada. tingkatan organisasi. Sumberdaya Manusia yang besar apabila dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Salah satu masalah dunia pendidikan saat ini adalah rendahnya penanganan terhadap kualitas Sumberdaya Manusia, khususnya pada tingkatan organisasi. Sumberdaya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pemecahan masalah matematis merupakan suatu kemampuan yang harus dimiliki siswa. Pengembangan kemampuan ini menjadi fokus penting dalam pembelajaran matematika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya

Lebih terperinci