INVESTIGASI PENGARUH RETAK RADIAL PADA PELET EKSENTRIS TERHADAP PARAMETER TERMAL ELEMEN BAKAR PWR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "INVESTIGASI PENGARUH RETAK RADIAL PADA PELET EKSENTRIS TERHADAP PARAMETER TERMAL ELEMEN BAKAR PWR"

Transkripsi

1 INVESTIGASI PENGARUH RETAK RADIAL PADA PELET EKSENTRIS TERHADAP PARAMETER TERMAL ELEMEN BAKAR PWR Hendro Tjahjono Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir (PTRKN)-BATAN Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang Selatan Telp./Faks / , ABSTRAK INVESTIGASI PENGARUH RETAK RADIAL PADA PELET EKSENTRIS TERHADAP PARAMETER TERMAL ELEMEN BAKAR PWR. Keretakan arah radial dari pelet bahan bakar PLTN bisa diikuti dengan retaknya kelongsong akibat naiknya gradien azimutal maupun radial dari temperatur. Pengaruh ketidaksentrisan posisi pelet juga perlu diinvestigasi karena diperkirakan bisa memperparah keadaan. Investigasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh retak radial pada pelet eksentris terhadap gradien azimutal dan radial dari temperatur kelongsong sebagai dasar dalam menentukan besarnya tegangan mekanik yang dialami kelongsong. Investigasi dilakukan pada titik terpanas dari elemen bakar PWR kelas MW dengan rapat daya sebesar 8,27x10 8 W/m 3 dan dengan variasi lebar retak antara 1 hingga 6. Pengaruh keeksentrisan pelet diinvestigasi dengan membandingkan 3 posisi yaitu, posisi sentris, renggang dan rapat. Metode yang digunakan adalah dengan memecahkan persamaan konduksi pada koordinat silinder tergeser secara numerik dengan bantuan Matlab. Hasil investigasi menunjukkan retak radial berpengaruh menaikkan gradien azimutal temperatur kelongsong hingga 115C/mm dan gradien radial hingga 215C/mm, pengaruh variasi lebar retak hingga 6 tidak signifikan. Temperatur maksimum pada pelet juga dipengaruhi posisi, yaitu 1.937C pada posisi sentris, 1.728C pada posisi renggang dan 2.118C pada posisi rapat. Dengan investigasi ini dapat disimpulkan bahwa retak radial yang terbuka pada pelet bahan bakar berdampak meningkatkan tegangan termal kelongsong sehingga memperbesar peluang terjadinya retak kelongsong. Kata kunci: retak radial, pelet eksentris, gradien temperatur kelongsong, PWR ABSTRACT INVESTIGATION ON THE INFLUENCE OF ECCENTRIC PELLETS RADIAL CRACK TO THERMAL PARAMETERS OF PWR FUEL ELEMENTS. Cracks in the radial direction of a nuclear fuel pellets can be followed by a cladding failure due to the increase of azimuthal or radial gradient of temperature. Effect of pellet eccentricity position also needs to be investigated because it is estimated could aggravate the situation. This investigation aims to determine how far the influence of radial cracks in the eccentric pellets against azimuthal and radial gradient of temperature in the cladding as the basis for determining the mechanical stresses experienced by cladding. Investigation performed at the hottest point of PWR fuel element with power density of 8.27 x10 8 W/m 3 and with variation of crack width between 1 to 6. Effect of pellet eccentricity investigated by comparing the 3-position such as: the symmetrical position, the tenuous position and aligned position. The method used is to solve the conduction equation in shifted cylindrical coordinates numerically with the help of Matlab. Results of this investigation show that radial cracks increase the azimuthal temperature gradient of cladding to 115C/mm and a radial gradient up to 215C/mm, the influence of crack width variations of up to 6 is not significant. Maximum temperature in pellets is also influenced by the position, that is 1.937C in the centric position, 1.728C at tenuous position and 2.118C in aligned position. With this investigation it can be concluded that the presence of radial cracks of fuel pellets give impact to increase thermal stress cladding so enlarge opportunities for cladding cracking. Key words: radial crack, eccentric pellets, cladding temperature gradient, PWR ISSN

2 1. PENDAHULUAN Keretakan dari pelet bahan bakar suatu PLTN terjadi ketika tegangan mekanik yang dialami melampaui batas dukungnya. Tegangan mekanik yang besar tersebut bisa disebabkan oleh dilatasi pelet melampaui dilatasi dari kelongsong sehingga terjadi interaksi pelet-kelongsong yang lebih dikenal dengan istilah PCI (Pelet Cladding Interaction). Selain itu, tingginya gradien temperatur di dalam pelet sendiri juga berkontribusi menyebabkan terjadinya retak baik dalam arah radial maupun azimutal. Retak azimutal pada umumnya merupakan retak yang tertutup sehingga tidak menimbulkan dampak langsung pada kelongsong, sedangkan retak radial umumnya bersifat terbuka sehingga bisa berdampak pada integritas kelongsong. Beberapa hasil penelitian terkait PCI tersebut [1,2,3,4,5] menunjukkan bahwa retaknya pelet dalam arah radial bisa diikuti dengan retaknya kelongsong bagian dalam tepat di titik yang berhadapan dengan titik retak pelet tersebut. Pada Gambar 1 ditunjukkan foto dari penampang elemen bakar yang mengalami retak, baik radial maupun azimutal yang diikuti dengan retaknya kelongsong pada titik yang berhadapan dengan posisi retak radial [1]. Kelongsong Pelet Retak radial (a) (b) Gambar 1. Keretakan Pada Elemen Bakar PWR (a). Keretakan pada Pelet (b). Perambatan Retak pada Kelongsong Bahasan sementara yang diambil adalah bahwa dengan terbukanya pelet di titik retak, maka terjadi penurunan konduktivitas termal di jalur retak yang menyebabkan terjadinya gradien temperatur dalam arah azimutal di sisi dalam kelongsong yang berhadapan dengan alur retak. Gradien temperatur ini menyebabkan timbulnya tegangan mekanik azimutal (hoop stress) yang bisa menyebabkan keretakan kelongsong jika melampaui batas dukungnya. Adanya difusi gas-gas produk fisi yang mengalir pada celah retak dan diteruskan ke arah kelongsong akan memperbesar konduktivitas celah dibandingkan dengan konduktivitas gap antara pelet dan kelongsong. Dari literatur diperkirakan bahwa nilai konduktivitas efektif dari celah retak hanya turun sekitar 20% saja dari konduktivitas pelet atau sekitar 4 kali lebih tinggi dibandingkan konduktivitas gap. Semua hasil investigasi di atas dilakukan untuk posisi pelet yang simetris/sentris terhadap kelongsong. Untuk pelet yang eksentris, telah ditunjukkan, dalam investigasi sebelumnya [6], adanya gradien temperatur kelongsong dalam arah azimutal walaupun untuk pelet yang utuh sehingga sudah memberikan resiko naiknya tegangan mekanik azimutalnya. Investigasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh retak radial pada pelet eksentris terhadap gradien temperatur azimutal dari kelongsong sebagai dasar dalam menentukan besarnya tegangan mekanik yang dialami kelongsong. Perhitungan tegangan mekanik dalam hal ini tidak termasuk dalam lingkup penelitian ini. Elemen bakar yang diinvestigasi adalah elemen terpanas dari PLTN tipe PWR kelas MW pada kondisi ISSN

3 operasi nominal dengan pelet UO2 berdiameter 8,19 mm, kelongsong Zirconium, lebar gap 0,085 mm dan dengan retak radial divariasikan selebar 1 hingga 6 atau sekitar 0,071 mm hingga 0,429 mm [7,8]. Pengaruh keeksentrisan pelet diinvestigasi dengan membandingkan 3 posisi yaitu, posisi simetris, posisi retak di sisi renggang dan posisi retak di sisi rapat. 2. METODE PENELITIAN 2.1. Persamaan yang Digunakan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan terlebih dahulu menyusun program perhitungan numerik dengan fasilitas Matlab menggunakan koordinat silinder tergeser (akibat ketidaksimetrian). Persamaan yang dipecahkan adalah persamaan konduksi dalam dimensi radial dan azimutal dalam rejim permanen untuk menentukan distribusi temperatur dalam penampang elemen bakar seperti ditunjukkan pada persamaan (1). Perpindahan kalor dalam arah aksial bisa diabaikan mengingat dimensi aksial yang jauh lebih besar dibandingkan dengan dimensi radial, yaitu perbandingan panjang dengan diameter sekitar 300 dibanding 1 [9]. 1 T 1 r r r r r 1 T q r k ''' 0 (1) dengan: r : posisi radial (m) : posisi azimutal (radian) T : temperatur (K) q : daya volumik yang dibangkitkan (W/m3), diasumsikan konstan k : konduktivitas termal (W/mK), diasumsikan konstan. Pada elemen bakar PWR terdapat tiga mekanisme perpindahan kalor, yaitu konduksi dalam pelet, gap dan kelongsong, radiasi dalam gap dan konveksi antara permukaan luar kelongsong dan air pendingin. Konveksi alam oleh gas dalam gap diabaikan mengingat dimensi gap yang sangat kecil yaitu dengan bilangan Rayleigh jauh lebih kecil dari 1 (estimasi bilangan Rayleigh di gap hanya sebesar 0,003). Radiasi dalam gap dimungkinkan berlangsung antara permukaan pelet bahan bakar dengan permukaan kelongsong sisi dalam, tetapi dengan lebar gap yang sangat kecil (kurang dari 0,2 mm), maka faktor radiasi tersebut relatif kecil dibandingkan dengan konduksi yaitu dengan rasio kurang dari 10%. Oleh karena itu, mekanisme perpindahan kalor pada gap bisa tetap dimodelkan konduksi dengan nilai konduktivitas termal yang disesuaikan untuk mengakomodasi radiasi tersebut. Antara permukaan luar kelongsong dengan air pendingin, perpindahan kalor berlangsung secara konveksi paksa karena air pendingin di PWR dialirkan secara paksa oleh pompa primer. Nilai koefisien perpindahan kalor dalam analisis ini diasumsikan konstan sesuai nilai generik pada PWR MWe. Nilai koefisien tersebut bersama dengan temperatur air pendingin digunakan sebagai syarat batas dalam pemecahan persamaan konduksi tersebut secara numerik. Adanya retak radial menyebabkan terjadinya diffusi gas hasil fisi yang mengalir melalui retak tersebut ke arah kelongsong. Adanya aliran ini meningkatkan konduktivitas ekivalen dari ruang retak tersebut hingga sampai pada permukaan sisi dalam kelongsong. Beberapa penelitian menyarankan orde nilai konduktivitas termal sekitar 80% dari konduktivitas pelet, suatu nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan konduktivitas gap yang hanya 25% dari konduktivitas pelet. ISSN

4 2.2. Pemecahan Persamaan Konduksi dengan Metode Numerik Beda Hingga Metode numerik beda hingga merupakan metode yang relatif sederhana dalam perumusan matematiknya tetapi agak kurang fleksibel dibandingkan metode elemen hingga jika diterapkan untuk geometri daerah analisis yang tidak teratur. Kasus ketidaksentrisan pelet ini termasuk kategori geometri tidak teratur, untuk itu penerapan metode beda hingga harus disertai dengan pengambilan strategi yang tepat dalam diskritisasi daerah analisis agar kesalahan pendekatan numerik masih relatif kecil. Tahapan yang digunakan dalam penerapan metode ini adalah sebagai berikut: a. Penetapan data masukan, yaitu data geometris (Rpelet, Rkelongsong, tebal kelongsong, pergeseran gap), sifat termal bahan ( kpelet, kgap, kkelongsong dan kretak), koefisien perpindahan kalor ke pendingin (hkonveksi), densitas daya pembangkitan (q ) dan temperatur pendingin (Tpendingin). b. Diskritisasi daerah analisis dalam segmen-segmen dan simpul-simpul arah radial (Nr) dan azimutal (N ). Untuk menghindari pembagian dengan nol, titik pusat koordinat tidak diambil sebagai titik simpul. Jarak antar simpul dalam masing-masing arah bisa dibuat seragam atau tidak, disesuaikan dengan keragaman daerah analisis. Petunjuk umum adalah, semakin tinggi gradien temperatur diperkirakan di suatu lokasi, semakin rapat jarak antar simpul dibuat. Jika daerah analisis mengandung bidang/ garis simetri, baik simetri geometri maupun simetri termal, daerah analisis bisa direduksi untuk mengurangi waktu komputasi. Pengaruh ketidaksentrisan diakomodir dengan memperbanyak jumlah segmen di daerah gap, demikian juga halnya dengan daerah retak sendiri yang karena sangat kecilnya ukuran retak, segmentasinya juga dibuat lebih kecil. c. Selanjutnya dilakukan identifikasi koordinat seluruh titik simpul, misalkan simpul ( berada pada koordinat r=r(i) dan =(. Berikutnya adalah mengidentifikasi bahan, yaitu menentukan harga konduktivitas termal dari setiap titik simpul. Dalam hal ini, titik simpul yang berada di perbatasan dua daerah, konduktivitasnya didekati dengan harga rata-rata konduktivitas kedua daerah tersebut. Nilai densitas daya pembangkitan q pada setiap simpul juga ditetapkan, yaitu untuk simpul-simpul yang berada dalam pelet bahan bakar, selain itu nilainya nol. d. Merumuskan pendekatan beda hingga terhadap diferensial temperatur orde satu dan orde dua di sekitar titik simpul (, yaitu T r T( I 1, T( r( I 1) r( ) I 1, J I dan T r T( T( I 1, r( I) r( I 1) I, J (2) demikian juga T T( J 1) T( ( J 1) ( ) I, J 1 J dan T T( T( J 1) ( ( J 1) I, J (3) sehingga T T r( I 1) r( I 1) 1 T 2 r I 1, J r I, J (4) r r r r r( I) r( I 1) r( I 1) ISSN

5 dan 1 T 2 r r r( I) T T I, J 1 I ( J 1) ( J 1) 1, J 2 (5) e. Langkah berikutnya adalah menerapkan pendekatan diferensial tersebut ke dalam persamaan konduksi (persamaan 1) pada seluruh titik simpul di daerah analisis kecuali pada simpul-simpul yang terletak di perbatasan. Untuk simpul-simpul pada perbatasan bisa diberlakukan syarat batas Dirichlet, jika nilai temperatur ditetapkan, atau Neumann, jika nilai gradien temperatur yang ditetapkan. Dalam kasus ini, syarat batas yang sesuai untuk diterapkan adalah syarat batas Neumann karena tidak ada penetapan temperatur dalam daerah analisis. f. Dari penerapan pendekatan diferensial untuk seluruh simpul, dihasilkan suatu sistem persamaan linier dengan temperatur simpul sebagai variabel yang dihitung. Jumlah persamaan sama dengan jumlah simpul, yaitu Nr x N persamaan. Dengan menggunakan program aplikasi Matlab, solusi sistem persamaan linier tersebut dapat diperoleh[10]. g. Dengan telah diperolehnya data distribusi temperatur di seluruh daerah analisis, maka langkah selanjutnya adalah pengolahan data tersebut dengan menampilkan profil-profil radial maupun azimutal dari temperatur pada kondisi yang ditentukan Deskripsi Data Penelitian Daerah analisis dalam penelitian ini adalah keseluruhan bagian dari penampang elemen bakar PWR mencakup pelet bahan bakar termasuk daerah retak, gap dan kelongsong, dengan batas terluar adalah permukaan luar kelongsong. Pada posisi pelet yang konsentris, temperatur dan fluks kalor dalam arah azimutal seragam sehingga terdapat bidang/ garis simetri yang tak berhingga jumlahnya, dalam hal ini analisis bisa dilakukan hanya terhadap dimensi radial. Pada posisi pelet yang tidak konsentris atau posisi eksentris, masih ada satu bidang/ garis simetri yang berimpit dengan garis pergeseran pelet. Dengan demikian daerah analisis bisa diperkecil menjadi setengah bagian dari penampang elemen bakar. Untuk menginvestigasi pengaruh posisi retak radial terkait dengan ketidaksimetrian pelet tersebut, ditinjau 3 posisi berbeda, yaitu: a. Posisi rapat, yaitu ketika titik retak merapat ke dinding kelongsong. b. Posisi sentris, yaitu ketika pelet pada posisi kosentris dengan kelongsong. c. Posisi renggang, yaitu ketika pelet merapat ke kelongsong dalam arah yang berlawanan dengan posisi titik retak. Gambar 2 menunjukkan penampang dari elemen bakar dalam ketiga posisi retak relatif terhadap ketidaksentrisan pelet. (a) (b) (c) Gambar 2. Posisi Retak Dalam Ketidaksentrisan Pelet (a) Posisi Rapat (b) Posisi Simetris (b) Posisi Renggang ISSN

6 Temperatur (C) Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011 Dalam analisis ini, jumlah simpul arah azimutal diambil sebesar 34 untuk setengah lingkaran atau sebesar 68 jika digunakan dengan jarak antar simpul seragam kecuali di daerah retak yang dibagi dalam 4 segmen. Sedangkan untuk arah radial jarak antar simpul bervariasi dengan mengambil jarak yang kecil untuk simpul-simpul yang berada di gap mengingat tingginya gradien temperatur di daerah tersebut. Data masukan dalam analisis ini adalah: a. Data geometri: diameter luar kelongsong = 9,50 mm diameter dalam kelongsong = 8,36 mm diameter pelet =8,19 mm lebar gap = mm atau 0,9% dari diameter luar kelongsong. pergeseran gap relatif= 100% dari lebar gap atau bergeser penuh hingga pelet menyentuh kelongsong lebar sudut retak = antara 1 sampai 6 b. Data termal: konduktivitas termal pelet UO2 (kpelet) = 2,8 W/m.K konduktivitas termal ekivalen pada gap (kgap) =0,51 W/m.K konduktivitas termal kelongsong (kkelongsong) = 13 W/m.K konduktivitas daerah retak= 80% dari konduktivitas pelet densitas daya pembangkitan pada posisi terpanas (q ) = 8,27 x108 W/m3 koefisien perpindahan kalor pada permukaan kelongsong ke pendingin = Watt/m2K temperatur pendingin (Tf) = 315C atau 588K 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Gambar 3 diberikan profil radial dari temperatur sepanjang bidang yang melalui sumbu retak untuk ketiga posisi yang ditinjau PROFIL RADIAL TEMPERATUR Sentris Renggang Rapat Radius (mm) Gambar 3. Profil Radial Temperatur Elemen Bakar Profil radial temperatur tersebut menunjukkan bahwa ketidakeksentrisan posisi pelet berpengaruh baik pada profil maupun nilai temperatur maksimum dari bahan bakar, yaitu sebesar 1.728C pada posisi renggang, 1.937C pada posisi sentries dan 2.118C pada posisi rapat. Nilai maksimum tersebut dipengaruhi oleh kemampuan menyalurkan daya yang dibangkitkan pada pelet. Semakin mudah penyaluran dayanya, semakin rendah temperatur ISSN

7 Temperatur (C) Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011 maksimum dari pelet. Ketika bagian pelet yang retak merapat ke dinding kelongsong, di sisi yang lain, bagian yang utuh justru merenggang yang menyebabkan efektivitas menyaluran daya menurun sehingga akan menaikkan temperatur pelet. Merapatnya sisi retak ke kelongsong tidak seefektif merapatnya sisi utuh dalam menyalurkan kalornya karena konduktivitas bagian retak lebih rendah. Jadi ketika sisi utuh yang merapat atau pelet berada pada posisi renggang, penyaluran kalornya maksimal sehingga temperatur puncak bahan bakar lebih rendah dibandingkan kedua posisi lainnya. Dari ketiga profil tersebut selalu ditemui profil temperatur yang sangat tajam yang merupakan profil temperatur pada gap yang memang berkonduktivitas termal rendah. Satu hal yang penting untuk ditinjau dalam investigasi adalah profil azimutal dari temperatur kelongsong, khususnya pada sisi dalam yang berhadapan langsung dengan bagian pelet yang retak. Dari profil ini dapat ditentukan gradien maksimum dari temperatur kelongsong yang diperlukan dalam penentuan tegangan mekanik yang dialami kelongsong. Profil azimutal dari temperatur kelongsong sisi dalam untuk ketiga posisi pelet diberikan pada Gambar PROFIL AZIMUTAL TEMPERATUR SISI DALAM KELONGSONG Rapat Sentris Renggang Sudut (derajat) Gambar 4. Profil Azimutal Temperatur Kelongsong Dari profil tersebut terlihat bahwa terdapat gradien temperatur yang sangat besar di sisi yang berhadapan dengan posisi retak (sudut arah azimutal di bawah 6), yaitu hingga mencapai 100C/mm dalam arah azimutal untuk posisi renggang dan 90C/mm untuk posisi sentris. Gradien azimutal yang rendah terjadi pada posisi rapat yaitu hanya sebesar 14C/mm karena gap di sekitarnyapun sangat sempit. Dalam arah radial, gradien temperatur maksimum pada kelongsong juga relatif besar, yaitu sebesar 189C/mm untuk posisi renggang, 216C/mm untuk posisi sentris dan 198C/mm untuk posisi rapat. Walaupun tegangan mekanik sangat erat kaitannya dengan masalah gradien temperatur, namun penentuan besar tegangan mekanik sebagai fungsi dari gradien temperatur pada kelongsong tidak termasuk dalam lingkup penelitian ini. Pengaruh dari lebar retak juga diinvestigasi dalam penelitian ini. Pada Tabel 1 diberikan pengaruh lebar/sudut retak terhadap temperatur maksimum pelet dan kelongsong serta gradien temperatur maksimumnya untuk posisi sentris. Hasil investigasi pada Tabel 1 menunjukkan bahwa lebar sudut retak hingga 6 sangat kecil pengaruhnya terhadap temperatur kelongsong maupun pelet. Gradien temperatur kelongsong juga sedikit menurun dengan semakin lebarnya retak. Investigasi hanya dibatasi hingga 6 saja karena sangat kecil kemungkinannya terjadi retak dengan lebar sudut yang lebih besar. ISSN

8 Flukskalor (W/m2) Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011 Tabel 1. Pengaruh Lebar Sudut Retak Terhadap Temperatur dan Gradiennya Lebar sudut retak Tmax pelet (C) Tmax kel (C) Gradien T azim (C/mm) Gradien T rad (C/mm) ,4 478,9 109,3 211, ,4 481,6 90,6 215, ,4 481,2 91,0 214, ,3 479,9 90,2 212, ,3 478,8 89,1 209, ,3 477,1 87,8 207,6 Lebar sudut retak ini juga memberikan pengaruh pada besarnya fluks kalor di permukaan kelongsong seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Terlihat bahwa dengan semakin besarnya lebar sudut retak, fluks kalor yang diteruskan ke permukaan luar kelongsong juga semakin tinggi walaupun untuk sudut retak mulai dari 1 hingga 6, fluks kalor hanya bervariasi sebesar 3% saja x 106 PROFIL AZIMUTAL FLUKSKALOR SISI LUAR KELONGSONG sudut retak 6 derajat Sudut (derajat) Gambar 5. Pengaruh Lebar Sudut Retak pada Fluks Kalor 4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Dari hasil investigasi ini dapat disimpulkan bahwa adanya retak radial yang merupakan retak terbuka pada pelet akan berdampak pada naiknya gradien azimutal dan radial dari temperatur kelongsong terutama pada sisi yang berhadapan dengan posisi retak yang bisa berdampak pada terganggunya integritas dari kelongsong. Adanya ketidaksentrisan posisi pellet dalam kelongsong juga akan memperbesar resiko tersebut. Pengaruh dari lebar retak hingga sudut 6 relatif kecil terhadap temperatur maupun gradien temperatur kelongsong Saran Untuk melengkapi kajian yang lebih lengkap terhadap keselamatan kelongsong dari dampak retaknya pellet diperlukan investigasi lanjutan untuk menentukan besarnya tegangan mekanik yang dialami kelongsong akibat gradien temperatur azimutal maupun radial. ISSN

9 DAFTAR PUSTAKA [1]. BROCHARD, J., et.al., Modelling of Pelet Cladding Interaction in PWR fuel, Transaction, SMiRT 16, Washington DC, August 2001, paper [2]. DEMARCO, G.L. and MORINO, A.C., 3D Finite Elements Modelling for Design and Performance Analysis of UO2 Pellets, Science and Technology of Nuclear Installation, Vol 2011, Article ID843491, 10 pages. [3]. CRAWFORD, D., LWR Fuel Performance, Global Nuclear Fuel, June 3, [4]. SONG, K. W., et.al., High Burnup Fuel Technology in Korea, Nuclear Engineering and Technology, Vol 40, No. 1, February, [5]. LEE J.S., et.al., The Mechanical Behavior of Pelet Cladding with the Missing Chip under PCMI loading during Power Ramp, Proceeding of the 2007 International LWR Fuel Performance Meeting, San Fransisco, California, September 30 October 3, 2007, paper [6]. TJAHJONO, H., Pengaruh ketidaksentrisan pelet terhadap parameter termal elemen bakar PWR pada kondisi tunak, Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir I Jakarta, 25 Juni [7]. GLASSTONE, S. and SESSONSKE, A., Nuclear Reactor Engineering, third edition, Van Nostrand Reinhold Company, New York, Cincinnati, Toronto, London, Melbourne, 1980 [8]. POPP, D. M., AP1000 European Design Control Document, Westinghouse Electric Company, EPS-GW-GL-700-Rev.0, [9]. INCROPERA & DE WITT, Fundamental of Heat and Mass Transfer, John Wiley & Son, 4 th edition, [10]. GUNAIDI ABDIA AWAY, The Shortcut of MATLAB Programming, Penerbit Informatika, Bandung, DISKUSI 1. Pertanyaan dari Sdr. Bima (PT Krakatau Steel): a. Apa bahan dari kelongsong? b. Bagaimana mekanisme retak pada pelet? c. Bagaimana pengaruh gradien temperatur terhadap tegangan mekaniknya? Jawaban : a. Bahan kelongsong PWR adalah zircaloy (zirconium) b. Mekanisme retak bisa dikarenakan interaksi antara kelongsong dengan pelet (PCl), bisa juga akibat transien daya terlalu cepat yang mengakibatkan gradien temperatur tinggi sehingga tegangan mekanisnya melampaui daya dukungnya. c. Masih perlu dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui pengaruh gradien temperatur terhadap tegangan mekanik kelongsong. 2. Pertanyaan dari Sdr. Pande Made Udayani (PTRKN_BATAN) Pengaruh posisi retak pellet terhadap gradient suhu? Jawaban : Posisi retak memang berpengaruh terhadap gradient suhu pada kelongsong. Dalam penelitian ada 3 posisi retak yang ditinjau, yaitu posisi retak merapat, sentris dan merenggang. Dari hasil analisis ternyata kondisi retak merenggang memberikan gradient temperatur yang lebih tinggi disbanding posisi lain. ISSN

REAKTOR PEMBIAK CEPAT

REAKTOR PEMBIAK CEPAT REAKTOR PEMBIAK CEPAT RINGKASAN Elemen bakar yang telah digunakan pada reaktor termal masih dapat digunakan lagi di reaktor pembiak cepat, dan oleh karenanya reaktor ini dikembangkan untuk menaikkan rasio

Lebih terperinci

BAB IV PRINSIP-PRINSIP KONVEKSI

BAB IV PRINSIP-PRINSIP KONVEKSI BAB IV PRINSIP-PRINSIP KONVEKSI Aliran Viscous Berdasarkan gambar 1 dan, aitu aliran fluida pada pelat rata, gaa viscous dijelaskan dengan tegangan geser τ diantara lapisan fluida dengan rumus: du τ µ

Lebih terperinci

RANCANGAN ALAT BANTU MUAT-BONGKAR KAPSUL PRTF RSG-GAS

RANCANGAN ALAT BANTU MUAT-BONGKAR KAPSUL PRTF RSG-GAS RANCANGAN ALAT BANTU MUAT-BONGKAR KAPSUL PRTF RSG-GAS Pusat Reaktor Serba Guna-BATAN, PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan, 3 E-mail: prsg@batan.go.id ABSTRAK RANCANGAN ALAT BANTU MUAT-BONGKAR KAPSUL PRTF

Lebih terperinci

ANALISIS DISTRIBUSI SUHU PADA PELAT DUA DIMENSI DENGAN MENGGUNAKAN METODA BEDA HINGGA

ANALISIS DISTRIBUSI SUHU PADA PELAT DUA DIMENSI DENGAN MENGGUNAKAN METODA BEDA HINGGA Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya (JPFA) Vol No., esember 0 ISSN: 087-9946 ANALISIS ISTRIBUSI SUHU PAA PELAT UA IMENSI ENGAN MENGGUNAKAN METOA BEA HINGGA Supardiyono Jurusan Fisika FMIPA UNESA Kampus

Lebih terperinci

STUDI SIFAT BAHAN BAKAR URANIUM SILISIDA AKIBAT IRADIASI

STUDI SIFAT BAHAN BAKAR URANIUM SILISIDA AKIBAT IRADIASI ID0100126 Pmsiding Pesentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir II STUDI SIFAT BAHAN BAKAR URANIUM SILISIDA AKIBAT IRADIASI ABSTRAK Supardjo Pusat Elemen Bakar Nuklir STUDI SIFAT BAHAN BAKAR URANIUM SILISIDA

Lebih terperinci

Providing Seminar Hasil Penelitian PZTRR ISSN 0854-5278 T0aa»2002 PENGEMBANGAN TEKNOLOGI IRADIASI

Providing Seminar Hasil Penelitian PZTRR ISSN 0854-5278 T0aa»2002 PENGEMBANGAN TEKNOLOGI IRADIASI Providing Seminar Hasil Penelitian PZTRR ISSN 0854-5278 T0aa»2002 PENGEMBANGAN TEKNOLOGI IRADIASI Presiding Seminar Hasil Penelitian P2TBR Tahun 2002 ISSN 0854-5278 MODIFIKASI SISTEM MEKANIK PEMBAWA KAPSUL

Lebih terperinci

TERMODINAMIKA TEKNIK HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA BAGI VOLUME ATUR. Chandrasa Soekardi, Prof.Dr.Ir. 1 Sistem termodinamika volume atur

TERMODINAMIKA TEKNIK HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA BAGI VOLUME ATUR. Chandrasa Soekardi, Prof.Dr.Ir. 1 Sistem termodinamika volume atur TERMODINAMIKA TEKNIK Modul ke: HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA BAGI VOLUME ATUR Chandrasa Soekardi, Prof.Dr.Ir Fakultas 03TEKNIK Program Studi Teknik Mesin 1 Sistem termodinamika volume atur 2. Sistem volume

Lebih terperinci

PENGARUH JARAK SALURAN KELUAR AIR DAN UDARA TERHADAP KARAKTERISTIK SPRAY PADA TWIN FLUID ATOMIZER

PENGARUH JARAK SALURAN KELUAR AIR DAN UDARA TERHADAP KARAKTERISTIK SPRAY PADA TWIN FLUID ATOMIZER PENGARUH JARAK SALURAN KELUAR AIR DAN UDARA TERHADAP KARAKTERISTIK SPRAY PADA TWIN FLUID ATOMIZER An Nisaa Maharani, ING Wardana, Lilis Yuliati Jurnal Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Lebih terperinci

Mengenal Proses Deep Drawing

Mengenal Proses Deep Drawing Definisi Drawing Mengenal Proses Deep Drawing Deep Drawing atau biasa disebut drawing adalah salah satu jenis proses pembentukan logam, dimana bentuk pada umumnya berupa silinder dan selalu mempunyai kedalaman

Lebih terperinci

SIMULASI PROSES PEMESINAN MENGGUNAKAN UDARA-DINGIN DENGAN TABUNG VORTEK

SIMULASI PROSES PEMESINAN MENGGUNAKAN UDARA-DINGIN DENGAN TABUNG VORTEK SIMULASI PROSES PEMESINAN MENGGUNAKAN UDARA-DINGIN DENGAN TABUNG VORTEK Paryanto, Rusnaldy, Yusuf Umardani dan Norman Iskandar Laboratorium Metrologi Industri, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UNDIP

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN SINGKAT DASAR TERMODINAMIKA DAN PERPINDAHAN PANAS.

BAB 2 TINJAUAN SINGKAT DASAR TERMODINAMIKA DAN PERPINDAHAN PANAS. BAB INJAUAN SINGKA DASAR ERMODINAMIKA DAN PERPINDAHAN PANAS.. Dasar ermodinamika. ermodinamika merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan tentang/ yang berurusan dengan kalor, kerja dan sifat substansi yang

Lebih terperinci

Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Force Method

Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Force Method Mata Kuliah : Analisis Struktur Kode : TSP 202 SKS : 3 SKS Analisis Struktur Statis Tak Tentu dengan Force Method Pertemuan - 7 TIU : Mahasiswa dapat menghitung reaksi perletakan pada struktur statis tak

Lebih terperinci

KAJIAN PENGARUH KETEBALAN PADA KUALITAS DAN MAMPU BENTUK DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI PADA PROSES INJECTION MOLDING (STUDI KASUS: MODEL GELAS)

KAJIAN PENGARUH KETEBALAN PADA KUALITAS DAN MAMPU BENTUK DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI PADA PROSES INJECTION MOLDING (STUDI KASUS: MODEL GELAS) KAJIAN PENGARUH KETEBALAN PADA KUALITAS DAN MAMPU BENTUK DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI PADA PROSES INJECTION MOLDING (STUDI KASUS: MODEL GELAS) Amelia Sugondo Jurusan Teknik Mesin Universitas Kristen Petra

Lebih terperinci

Materi #2 TIN107 Material Teknik 2013 SIFAT MATERIAL

Materi #2 TIN107 Material Teknik 2013 SIFAT MATERIAL #2 SIFAT MATERIAL Material yang digunakan dalam industri sangat banyak. Masing-masing material memiki ciri-ciri yang berbeda, yang sering disebut dengan sifat material. Pemilihan dan penggunaan material

Lebih terperinci

DAMPAK KERENGGANGAN CELAH ELEKTRODE BUSI TERHADAP KINERJA MOTOR BENSIN 4 TAK

DAMPAK KERENGGANGAN CELAH ELEKTRODE BUSI TERHADAP KINERJA MOTOR BENSIN 4 TAK DAMPAK KERENGGANGAN CELAH ELEKTRODE BUSI TERHADAP KINERJA MOTOR BENSIN 4 TAK Syahril Machmud 1, Yokie Gendro Irawan 2 1 Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Janabadra Yogyakarta Alumni

Lebih terperinci

METODE ITERASI BEBAS TURUNAN BERDASARKAN KOMBINASI KOEFISIEN TAK TENTU DAN FORWARD DIFFERENCE UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR ABSTRACT

METODE ITERASI BEBAS TURUNAN BERDASARKAN KOMBINASI KOEFISIEN TAK TENTU DAN FORWARD DIFFERENCE UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR ABSTRACT METODE ITERASI BEBAS TURUNAN BERDASARKAN KOMBINASI KOEFISIEN TAK TENTU DAN FORWARD DIFFERENCE UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN NONLINEAR Mahrani 1, M. Imran, Agusni 1 Mahasiswa Program Studi S1 Matematika

Lebih terperinci

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls 1. TURBIN AIR Dalam suatu sistim PLTA, turbin air merupakan salah satu peralatan utama selain generator. Turbin air adalah alat untuk mengubah energi air menjadi energi puntir. Energi puntir ini kemudian

Lebih terperinci

16 Media SainS, Volume 4 Nomor 1, April 2012 ISSN 2085-3548

16 Media SainS, Volume 4 Nomor 1, April 2012 ISSN 2085-3548 16 PENGARUH BESAR ARUS TEMPER BEAD WELDING TERHADAP KETANGGUHAN HASIL LAS SMAW PADA BAJA ST37 (Effect Large Current of Temper Bead Welding Against Toughness of SMAW Welding Results ST37 Steel) Ahmadil

Lebih terperinci

ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE

ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE VrusiUinx Presentasi Ilmiah Tehmlogi Keselamatan Nukllr-V ISSN No. : 1410-0533 Serpong 2H Juni 2000 ' ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE Oleh : Demon

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS SIRIP LONGITUDINAL DENGAN PROFIL SIKU EMPAT KEADAAN TAK TUNAK KASUS 2D

EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS SIRIP LONGITUDINAL DENGAN PROFIL SIKU EMPAT KEADAAN TAK TUNAK KASUS 2D EFISIENSI DAN EFEKIVIAS SIRIP LONGIUDINAL DENGAN PROFIL SIKU EMPA KEADAAN AK UNAK KASUS 2D PK Purwadi Jurusan eknik Mesin, FS, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Email: pur@mailcity.com ABSRAK Penelitian

Lebih terperinci

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-2 DAN R-34a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W Ridwan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma e-mail: ridwan@staff.gunadarma.ac.id

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur.

BAB II LANDASAN TEORI. membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur. BAB II LANDASAN TEORI II.I. Pengenalan Alat Ukur. Pengukuran merupakan suatu aktifitas dan atau tindakan membandingkan suatu besaran yang belum diketahui nilainya atau harganya terhadap besaran lain yang

Lebih terperinci

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) Masyarakat pertama kali mengenal tenaga nuklir dalam bentuk bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia II tahun 1945. Sedemikian

Lebih terperinci

BAB II VEKTOR DAN GERAK DALAM RUANG

BAB II VEKTOR DAN GERAK DALAM RUANG BAB II VEKTOR DAN GERAK DALAM RUANG 1. KOORDINAT CARTESIUS DALAM RUANG DIMENSI TIGA SISTEM TANGAN KANAN SISTEM TANGAN KIRI RUMUS JARAK,,,, 16 Contoh : Carilah jarak antara titik,, dan,,. Solusi :, Persamaan

Lebih terperinci

PROGRAM PENGEMBANGAN TEKNOLOG! BAHAN DAN ELEMEN BAKAR NUKLIR D! PUSAT ELEMEN BAKAR NUKLIR

PROGRAM PENGEMBANGAN TEKNOLOG! BAHAN DAN ELEMEN BAKAR NUKLIR D! PUSAT ELEMEN BAKAR NUKLIR 1D0100154 Presiding Presentasi llmiab Daur Bahan Bakar Nuklir III PBBN-BATAN Jakarta, 4-5 Nopember 1997 PROGRAM PENGEMBANGAN TEKNOLOG! BAHAN DAN ELEMEN BAKAR NUKLIR D! PUSAT ELEMEN BAKAR NUKLIR Pusat Elemen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Desain yang baik dari sebuah airfoil sangatlah perlu dilakukan, dengan tujuan untuk meningkatkan unjuk kerja airfoil

BAB I PENDAHULUAN. Desain yang baik dari sebuah airfoil sangatlah perlu dilakukan, dengan tujuan untuk meningkatkan unjuk kerja airfoil BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desain yang baik dari sebuah airfoil sangatlah perlu dilakukan, dengan tujuan untuk meningkatkan unjuk kerja airfoil itu sendiri. Airfoil pada pesawat terbang digunakan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF LATAR BELAKANG Penyebab gerakan adalah gaya. Gaya merupakan pembangkit gerakan. Objek bergerak karena adanya gaya yang bekerja padanya.

Lebih terperinci

KALOR. Keterangan Q : kalor yang diperlukan atau dilepaskan (J) m : massa benda (kg) c : kalor jenis benda (J/kg 0 C) t : kenaikan suhu

KALOR. Keterangan Q : kalor yang diperlukan atau dilepaskan (J) m : massa benda (kg) c : kalor jenis benda (J/kg 0 C) t : kenaikan suhu KALOR Standar Kompetensi : Memahami wujud zat dan perubahannya Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH Pengaruh Media.. Baja Karbon Rendah PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Janabadra INTISARI Las TIG adalah

Lebih terperinci

Perbandingan Konfigurasi Pipa Paralel dan Unjuk Kerja Kolektor Surya Plat Datar

Perbandingan Konfigurasi Pipa Paralel dan Unjuk Kerja Kolektor Surya Plat Datar JURNAL TEKNIK MESIN Vol., No. 1, April : 68-7 Perbandingan Konfigurasi Pipa Paralel dan Unjuk Kerja Kolektor Surya Plat Datar Terhadap Ekadewi Anggraini Handoyo Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin

Lebih terperinci

Analisis Perpindahan (displacement) dan Kecepatan Sudut (angular velocity) Mekanisme Empat Batang Secara Analitik Dengan Bantuan Komputer

Analisis Perpindahan (displacement) dan Kecepatan Sudut (angular velocity) Mekanisme Empat Batang Secara Analitik Dengan Bantuan Komputer Analisis Perpindahan (displacement) dan Kecepatan Sudut (angular velocity) Mekanisme Empat Batang Secara Analitik Dengan Bantuan Komputer Oegik Soegihardjo Dosen Fakultas Teknologi Industri Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa

Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 SKS : 3 SKS Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Pertemuan - 11 TIU : Mahasiswa dapat mendesain berbagai elemen struktur beton bertulang TIK

Lebih terperinci

Peningkatan Performance dengan Pendingin Udara Masuk pada Motor Diesel 4JA1

Peningkatan Performance dengan Pendingin Udara Masuk pada Motor Diesel 4JA1 Peningkatan Performance dengan Pendingin Udara Masuk pada Motor Diesel 4JA1 (Rahardjo Tirtoatmodjo) Peningkatan Performance dengan Pendingin Udara Masuk pada Motor Diesel 4JA1 Rahardjo Tirtoatmodjo Dosen

Lebih terperinci

DEFINISI. Definisi-definisi berikut berlaku untuk maksud-maksud dari publikasi yang sekarang.

DEFINISI. Definisi-definisi berikut berlaku untuk maksud-maksud dari publikasi yang sekarang. DEFINISI Definisi-definisi berikut berlaku untuk maksud-maksud dari publikasi yang sekarang. Batas-batas Yang Dapat Diterima (Acceptable limits) Batas-batas yang dapat diterima oleh badan pengaturan. Kondisi

Lebih terperinci

PEMASANGAN SISTEM MONITOR PADA SISTEM BANTU REAKTOR KARTINI

PEMASANGAN SISTEM MONITOR PADA SISTEM BANTU REAKTOR KARTINI PEMASANGAN SISTEM MONITOR PADA SISTEM BANTU REAKTOR KARTINI Marsudi, Rochim Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan BATAN Jl. Babarsari Kotak Pos 6101 ykbb, Yogyakarta 55281 ABSTRAK PEMASANGAN SISTEM

Lebih terperinci

PENGOPERASIAN OPTIMUM SISTEM TENAGA LISTRIK

PENGOPERASIAN OPTIMUM SISTEM TENAGA LISTRIK PENGOPERASIAN OPTIMUM SISTEM TENAGA LISTRIK Ontoseno Penangsang Text Book : Power Generation Operation and Control Allen J. Wood & Bruce F. Wollenberg Power System Analysis Hadi Saadat INTRODUCTION Acquaint

Lebih terperinci

RISET KECELAKAAN KEHILANGAN AIR PENDINGIN: KARAKTERISTIK BAHAN BAKAR

RISET KECELAKAAN KEHILANGAN AIR PENDINGIN: KARAKTERISTIK BAHAN BAKAR RISET KECELAKAAN KEHILANGAN AIR PENDINGIN: KARAKTERISTIK BAHAN BAKAR RINGKASAN Meskipun terjadi kecelakaan kehilangan air pendingin ( Loss Of Coolant Accident, LOCA), seandainya bundel bahan bakar dapat

Lebih terperinci

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik V. Medan Magnet Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik Di tempat tersebut ada batu-batu yang saling tarik menarik. Magnet besar Bumi [sudah dari dahulu dimanfaatkan

Lebih terperinci

PENGARUH KECEPATAN DAN TEMPERATUR UJI TARIK TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA S48C

PENGARUH KECEPATAN DAN TEMPERATUR UJI TARIK TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA S48C MAKARA, TEKLOGI, VOL. 7,. 1, APRIL 23 PENGARUH KECEPATAN DAN TEMPERATUR UJI TARIK TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA S48C Dedi Priadi 1, Iwan Setyadi 2 dan Eddy S. Siradj 1 1. Departemen Metalurgi dan Material,

Lebih terperinci

Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan

Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan Selama mengamati beberapa reaksi dalam NOP, dapat diidentifikasi adanya beberapa kelemahan. Kelemahan ini terutama berpengaruh

Lebih terperinci

ABSTRAK METODE ELEMEN BATAS UNTUK PENYELESAIAN MASALAH PEMBENTUKAN DROPLET PADA BENANG FLUIDA VISCOELASTIS A.WAHIDAH.AK NIM : 20105013.

ABSTRAK METODE ELEMEN BATAS UNTUK PENYELESAIAN MASALAH PEMBENTUKAN DROPLET PADA BENANG FLUIDA VISCOELASTIS A.WAHIDAH.AK NIM : 20105013. ABSTRAK METODE ELEMEN BATAS UNTUK PENYELESAIAN MASALAH PEMBENTUKAN DROPLET PADA BENANG FLUIDA VISCOELASTIS Oleh A.WAHIDAH.AK NIM : 20105013 Proses deformasi benang fluida tak Newton (Viscoelastis) menjadi

Lebih terperinci

PENGARUH PARAMETER PROSES TERHADAP KUALITAS GEOMETRIK HASIL PEMBUBUTAN POROS IDLER DENGAN PENDEKATAN TAGUCHI

PENGARUH PARAMETER PROSES TERHADAP KUALITAS GEOMETRIK HASIL PEMBUBUTAN POROS IDLER DENGAN PENDEKATAN TAGUCHI TUGAS AKHIR BIDANG TEKNIK PRODUKSI PENGARUH PARAMETER PROSES TERHADAP KUALITAS GEOMETRIK HASIL PEMBUBUTAN POROS IDLER DENGAN PENDEKATAN TAGUCHI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Pendidikan

Lebih terperinci

EFEK RASIO TEKANAN KOMPRESOR TERHADAP UNJUK KERJA SISTEM REFRIGERASI R 141B

EFEK RASIO TEKANAN KOMPRESOR TERHADAP UNJUK KERJA SISTEM REFRIGERASI R 141B EFEK RASIO TEKANAN KOMPRESOR TERHADAP UNJUK KERJA SISTEM REFRIGERASI R 141B Kristian Selleng * * Abstract The purpose of this research is to find the effect of compressor pressure ratio with respect to

Lebih terperinci

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati //Paradigma, Vol. 16 No.1, April 2012, hlm. 31-38 SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati 1) 1) Jurusan Matematika FMIPA Unhalu, Kendari, Sulawesi Tenggara

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15

STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15 STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15 I Kadek Ervan Hadi Wiryanta 1, Triyogi Yuwono 2 Program

Lebih terperinci

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data Angka penting dan Pengolahan data Pendahuluan Pengamatan merupakan hal yang penting dan biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Seperti ilmu pengetahuan lain, fisika berdasar pada pengamatan eksperimen

Lebih terperinci

Pertemuan ke 8. GRAFIK FUNGSI Diketahui fungsi f. Himpunan {(x,y): y = f(x), x D f } disebut grafik fungsi f.

Pertemuan ke 8. GRAFIK FUNGSI Diketahui fungsi f. Himpunan {(x,y): y = f(x), x D f } disebut grafik fungsi f. Pertemuan ke 8 GRAFIK FUNGSI Diketahui fungsi f. Himpunan {(,y): y = f(), D f } disebut grafik fungsi f. Grafik metode yang paling umum untuk menyatakan hubungan antara dua himpunan yaitu dengan menggunakan

Lebih terperinci

R adalah selisih massa bejana dalam keadaan terisi dan dalam keadaan kosong,

R adalah selisih massa bejana dalam keadaan terisi dan dalam keadaan kosong, Suplemen Pedoman Evaluasi dan Pernyataan A9. KALIBRASI GELAS UKUR Deskripsi Pengukuran Kalibrasi gelas dari bahan borosilicate glass berkapasitas 1 ml nilai skala terkecil.1 ml menggunakan metode gravimetri.

Lebih terperinci

KOMPONEN SIMETRIS DAN IMPEDANSI URUTAN. toto_sukisno@uny.ac.id

KOMPONEN SIMETRIS DAN IMPEDANSI URUTAN. toto_sukisno@uny.ac.id KOMPONEN SIMETRIS DAN IMPEDANSI URUTAN A. Sintesis Fasor Tak Simetris dari Komponen-Komponen Simetrisnya Menurut teorema Fortescue, tiga fasor tak seimbang dari sistem tiga-fasa dapat diuraikan menjadi

Lebih terperinci

ANALISIS DUA DIMENSI PENGARUH DIAMETER BEJANA REAKTOR PEMBIAK CEP A T TERHADAP STRA TIFIKASI TERMAL

ANALISIS DUA DIMENSI PENGARUH DIAMETER BEJANA REAKTOR PEMBIAK CEP A T TERHADAP STRA TIFIKASI TERMAL Prosiding Seminar Nasional ke-8 Teknologi don Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Jakarta, 15 Oktober 2002 188N: 0854-2910 ANALISIS DUA DIMENSI PENGARUH DIAMETER BEJANA REAKTOR PEMBIAK CEP A T TERHADAP

Lebih terperinci

Sifat Sifat Material

Sifat Sifat Material Sifat Sifat Material Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat sifat itu akan mendasari dalam

Lebih terperinci

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI Elemen Kompetensi III Elemen Kompetensi 1. Menjelaskan prinsip-prinsip konservasi energi 2. Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB VII PROSES THERMAL LOGAM PADUAN

BAB VII PROSES THERMAL LOGAM PADUAN BAB VII PROSES THERMAL LOGAM PADUAN Annealing adalah : sebuah perlakukan panas dimana material dipanaskan pada temperatur tertentu dan waktu tertentu dan kemudian dengan perlahan didinginkan. Annealing

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PERENCANAAN

KONSEP DAN METODE PERENCANAAN 24 2 KONSEP DAN METODE PERENCANAAN A. Perkembangan Metode Perencanaan Beton Bertulang Beberapa kajian awal yang dilakukan pada perilaku elemen struktur beton bertulang telah mengacu pada teori kekuatan

Lebih terperinci

ANALISIS KONSEKUENSI RADIOLOGIS PADA KONDISI ABNORMAL PLTN 1000 MWe MENGGUNAKAN PROGRAM RADCON

ANALISIS KONSEKUENSI RADIOLOGIS PADA KONDISI ABNORMAL PLTN 1000 MWe MENGGUNAKAN PROGRAM RADCON 78 ISSN 0216-3128 Pande Made U., dkk. ANALISIS KONSEKUENSI RADIOLOGIS PADA KONDISI ABNORMAL PLTN 1000 MWe MENGGUNAKAN PROGRAM RADCON Pande Made Udiyani dan Sri Kuntjoro PTRKN-BATAN ABSTRAK ANALISIS KONSEKUENSI

Lebih terperinci

ANALISA PENGARUH PEMANASAN AWAL BAHAN BAKAR SOLAR TERHADAP PERFORMA DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA MESIN MOTOR DIESEL SATU SILINDER

ANALISA PENGARUH PEMANASAN AWAL BAHAN BAKAR SOLAR TERHADAP PERFORMA DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA MESIN MOTOR DIESEL SATU SILINDER ANALISA PENGARUH PEMANASAN AWAL BAHAN BAKAR SOLAR TERHADAP PERFORMA DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA MESIN MOTOR DIESEL SATU SILINDER Imron Rosyadi Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sultan

Lebih terperinci

ORGANISASI RUANG. Berikut ini adalah jenis-jenis organisasi ruang : Organisasi Terpusat

ORGANISASI RUANG. Berikut ini adalah jenis-jenis organisasi ruang : Organisasi Terpusat ORGANISASI RUANG Berikut ini adalah jenis-jenis organisasi ruang : Organisasi Terpusat Sebuah ruang dominan terpusat dengan pengelompokan sejumlah ruang sekunder. Organisasi Linier Suatu urutan dalam satu

Lebih terperinci

Uji Hipotesis. Atina Ahdika, S.Si, M.Si. Universitas Islam Indonesia 2015

Uji Hipotesis. Atina Ahdika, S.Si, M.Si. Universitas Islam Indonesia 2015 Uji Hipotesis Atina Ahdika, S.Si, M.Si Universitas Islam Indonesia 015 Definisi Hipotesis Suatu pernyataan tentang besarnya nilai parameter populasi yang akan diuji. Pernyataan tersebut masih lemah kebenarannya

Lebih terperinci

STUDI HUBUNG SINGKAT UNTUK GANGGUAN SIMETRIS DAN TIDAK SIMETRIS PADA SISTEM TENAGA LISTRIK PT. PLN P3B SUMATERA

STUDI HUBUNG SINGKAT UNTUK GANGGUAN SIMETRIS DAN TIDAK SIMETRIS PADA SISTEM TENAGA LISTRIK PT. PLN P3B SUMATERA STUDI HUBUNG SINGKAT UNTUK GANGGUAN SIMETRIS DAN TIDAK SIMETRIS PADA SISTEM TENAGA LISTRIK PT. PLN P3B SUMATERA TUGAS AKHIR Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program strata-1 pada Jurusan Teknik

Lebih terperinci

PENENTUAN LOKASI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN TRANSMISI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET. Oleh : RHOBI ROZIEANSHAH NIM : 13203054

PENENTUAN LOKASI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN TRANSMISI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET. Oleh : RHOBI ROZIEANSHAH NIM : 13203054 PENENTUAN LOKASI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN TRANSMISI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET LAPORAN TUGAS AKHIR Dibuat sebagai Syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Teknik Elektro dari Institut Teknologi

Lebih terperinci

Teliti dalam menerap kan sistem satuan dalam mengukur suatu besaran fisis.

Teliti dalam menerap kan sistem satuan dalam mengukur suatu besaran fisis. DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT TUJUAN : FISIKA : 1. Mengembangkan pengetahuan,pemahaman dan kemampuan analisis peserta didik terhadap lingkungan alam dan sekitarnya. 2. Memberikan pemahaman dan kemampuan

Lebih terperinci

Mengenal Uji Tarik dan Sifat-sifat Mekanik Logam

Mengenal Uji Tarik dan Sifat-sifat Mekanik Logam Mengenal Uji Tarik dan Sifat-sifat Mekanik ogam Oleh zhari Sastranegara Untuk mengetahui sifat-sifat suatu bahan, tentu kita harus mengadakan pengujian terhadap bahan tersebut. da empat jenis uji coba

Lebih terperinci

PENERAPAN ANALISIS FAKTOR KONFIRMATORI STRUCTURAL EQUATION MODELING PADA MODEL HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN TEKANAN DARAH

PENERAPAN ANALISIS FAKTOR KONFIRMATORI STRUCTURAL EQUATION MODELING PADA MODEL HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN TEKANAN DARAH Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 2 Hal. 34 43 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PENERAPAN ANALISIS FAKTOR KONFIRMATORI STRUCTURAL EQUATION MODELING PADA MODEL HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK

Lebih terperinci

MODUL STRUKTUR BAJA II 4 BATANG TEKAN METODE ASD

MODUL STRUKTUR BAJA II 4 BATANG TEKAN METODE ASD MODUL 4 BATANG TEKAN METODE ASD 4.1 MATERI KULIAH Panjang tekuk batang tekan Angka kelangsingan batang tekan Faktor Tekuk dan Tegangan tekuk batang tekan Desain luas penampang batang tekan Syarat kekakuan

Lebih terperinci

ANALISA PENGARUH PRATEGANG PADA KONSTRUKSI PELAT LANTAI DITINJAU DARI ASPEK DAYA LAYAN DAN PERILAKU DINAMIK SKRIPSI

ANALISA PENGARUH PRATEGANG PADA KONSTRUKSI PELAT LANTAI DITINJAU DARI ASPEK DAYA LAYAN DAN PERILAKU DINAMIK SKRIPSI ANALISA PENGARUH PRATEGANG PADA KONSTRUKSI PELAT LANTAI DITINJAU DARI ASPEK DAYA LAYAN DAN PERILAKU DINAMIK SKRIPSI Oleh LUNGGUK PARLUHUTAN 1000860394 BINUS UNIVERSITY JAKARTA 2010 ANALISA PENGARUH PRATEGANG

Lebih terperinci

BAB I VEKTOR DALAM BIDANG

BAB I VEKTOR DALAM BIDANG BAB I VEKTOR DALAM BIDANG I. KURVA BIDANG : Penyajian secara parameter Suatu kurva bidang ditentukan oleh sepasang persamaan parameter. ; dalam I dan kontinue pada selang I, yang pada umumnya sebuah selang

Lebih terperinci

Model Matematika dari Sistem Dinamis

Model Matematika dari Sistem Dinamis Model Matematika dari Sistem Dinamis September 2012 () Model Matematika dari Sistem Dinamis September 2012 1 / 60 Pendahuluan Untuk analisis dan desain sistem kontrol, sistem sis harus dibuat model sisnya.

Lebih terperinci

DISTRIBUSI PERTUMBUHAN PRESIPITAT ZIRCALOY-4 PADA TEMPERATUR 700-900 C

DISTRIBUSI PERTUMBUHAN PRESIPITAT ZIRCALOY-4 PADA TEMPERATUR 700-900 C ID010017 Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III DISTRIBUSI PERTUMBUHAN PRESIPITAT ZIRCALOY-4 PADA TEMPERATUR 700-900 C Harini Sosiati, Sungkono Pusat Elemen Bakar Nuklir- BATAN ABSTRAK

Lebih terperinci

Rancang Bangun Alat Ukur Konduktivitas Panas Bahan Dengan Metode Needle Probe Berbasis Mikrokontroler AT89S52

Rancang Bangun Alat Ukur Konduktivitas Panas Bahan Dengan Metode Needle Probe Berbasis Mikrokontroler AT89S52 Berkala Fisika ISSN : 1410-9662 Vol.9, No.1, Januari 2006, hal 37-42 Rancang Bangun Alat Ukur Konduktivitas Panas Bahan Dengan Metode Needle Probe Berbasis Mikrokontroler AT89S52 Rakhmat Syaefullah 1),

Lebih terperinci

PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA

PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 2 Hal. 26 34 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA NADIA UTIKA PUTRI, MAIYASTRI, HAZMIRA

Lebih terperinci

KERJA PERPINDAHAN PANAS DAN PENURUNAN TEKANAN RADIATOR OTOMOTIF

KERJA PERPINDAHAN PANAS DAN PENURUNAN TEKANAN RADIATOR OTOMOTIF PENGARUH KECEPATAN UDARA TERHADAP UNJUK KERJA PERPINDAHAN PANAS DAN PENURUNAN TEKANAN RADIATOR OTOMOTIF SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Oleh: HINDRAWAN

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI CONVEYOR PADA PROTOYPE MONITOR PETI KEMAS DENGAN TEKNIK SERAPAN SINAR GAMA

RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI CONVEYOR PADA PROTOYPE MONITOR PETI KEMAS DENGAN TEKNIK SERAPAN SINAR GAMA RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI CONVEYOR PADA PROTOYPE MONITOR PETI KEMAS DENGAN TEKNIK SERAPAN SINAR GAMA Khairul Handono, Alvano Yulian, Nur Hasan, dan Sapta T Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir- BATAN, PUSPIPTEK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Motor bakar salah satu jenis mesin pembakaran dalam, yaitu mesin tenaga dengan ruang bakar yang terdapat di dalam mesin itu sendiri (internal combustion engine), sedangkan

Lebih terperinci

Analisis Pohon Kejadian (ETA)

Analisis Pohon Kejadian (ETA) Analisis Pohon Kejadian (ETA) Analisis induktif : Suatu analisis diawali dengan kejadian awal dan diikuti dengan bekerja atau tidaknya sistem-sistem keselamatan/mitigasi Hal yang penting : Menghubungkan

Lebih terperinci

BAB II KESETIMBANGAN BENDA TEGAR

BAB II KESETIMBANGAN BENDA TEGAR BAB II KESETIMBANGAN BENDA TEGAR Benda tegar adalah elemen kecil yang tidak mengalami perubahan bentuk apabila dikenai gaya. Struktur dua dimensi dapat diartikan sebuah struktur pipih yang mempunyai panjang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis Komponen Utama (AKU, Principal Componen Analysis) bermula dari

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis Komponen Utama (AKU, Principal Componen Analysis) bermula dari BAB 2 LANDASAN TEORI 21 Analisis Komponen Utama 211 Pengantar Analisis Komponen Utama (AKU, Principal Componen Analysis) bermula dari tulisan Karl Pearson pada tahun 1901 untuk peubah non-stokastik Analisis

Lebih terperinci

OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER

OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER OPTIMASI JARING PADA PENGUKURAN ORDE-3 MENGGUNAKAN PERATAAN PARAMETER Yeni Arsih Sriani, Mokhamad Nur Cahyadi Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Lebih terperinci

SIFAT-SIFAT PRODUK PERTANIAN TPG 326

SIFAT-SIFAT PRODUK PERTANIAN TPG 326 RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) SIFAT-SIFAT PRODUK PERTANIAN TPG 326 OLEH: Dr. ANDASURYANI, S.TP, M.Si MISLAINI R., S.TP, MP PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN JURUSAN TEKNIK PERTANIAN

Lebih terperinci

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI LVDT SEBAGAI SENSOR JARAK

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI LVDT SEBAGAI SENSOR JARAK PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI LVDT SEBAGAI SENSOR JARAK Zasvia Hendri, Wildian Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas Kampus Unand, Limau Manis, Padang, 25163 e-mail: hendri_0810441001@yahoo.co.id ABSTRAK

Lebih terperinci

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80 1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). Apabila koefisien kondutivitas Q, logam P kali koefisien konduktivitas logam Q, serta AC = 2 CB, maka suhu di C

Lebih terperinci

PERHI TUNGAN BEBAN PENDI NGI N PADA RUANG LABORATORI UM KOMPUTER PAPSI - I TS

PERHI TUNGAN BEBAN PENDI NGI N PADA RUANG LABORATORI UM KOMPUTER PAPSI - I TS PERHI TUNGAN BEBAN PENDI NGI N PADA RUANG LABORATORI UM KOMPUTER PAPSI - I TS Oleh : LAURA SUNDARION 2107 030 075 Dosen Pembimbing : Ir. Denny M.E SOEDJONO, MT LATAR BELAKANG Sistem pengkondisian udara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Daya Dukung Pondasi Tiang Pondasi tiang adalah pondasi yang mampu menahan gaya orthogonal ke sumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan. Pondasi tiang dibuat menjadi satu

Lebih terperinci

ANALISIS MID-POINT TIE-IN PADA PIPA BAWAH LAUT

ANALISIS MID-POINT TIE-IN PADA PIPA BAWAH LAUT ANALISIS MID-POINT TIE-IN PADA PIPA BAWAH LAUT Mulyadi Maslan Hamzah (mmhamzah@gmail.com) Program Studi Magister Teknik Kelautan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Jl Ganesha

Lebih terperinci

BAB 3 PROSES-PROSES MESIN KONVERSI ENERGI

BAB 3 PROSES-PROSES MESIN KONVERSI ENERGI BAB 3 PROSES-PROSES MESIN KONVERSI ENERGI Motor penggerak mula adalah suatu alat yang merubah tenaga primer menjadi tenaga sekunder, yang tidak diwujudkan dalam bentuk aslinya, tetapi diwujudkan dalam

Lebih terperinci

STUDI PERBANDINGAN PERSYARATAN LUAS TULANGAN PENGEKANG KOLOM PERSEGI PADA BEBERAPA PERATURAN DAN USULAN PENELITIAN (166S)

STUDI PERBANDINGAN PERSYARATAN LUAS TULANGAN PENGEKANG KOLOM PERSEGI PADA BEBERAPA PERATURAN DAN USULAN PENELITIAN (166S) STUDI PERBANDINGAN PERSYARATAN LUAS TULANGAN PENGEKANG KOLOM PERSEGI PADA BEBERAPA PERATURAN DAN USULAN PENELITIAN (166S) Anang Kristianto 1 dan Iswandi Imran 2 1 Jurusan Teknik Sipil, Universitas Kristen

Lebih terperinci

Karateristik Perolehan Gaya Dorong Power Steering Pada Sistem Kemudi Kendaraan

Karateristik Perolehan Gaya Dorong Power Steering Pada Sistem Kemudi Kendaraan JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 5, No. 1, Mei 2002: 16 21 Karateristik Perolehan Gaya Dorong Power Steering Pada Sistem Kemudi Kendaraan Joni Dewanto Dosen Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Mesin Universitas

Lebih terperinci

PROFIL GERAK PELURU DENGAN SPIN DAN HAMBATAN LINIER SKRIPSI. Oleh : A. RIDO NIM 051810101112

PROFIL GERAK PELURU DENGAN SPIN DAN HAMBATAN LINIER SKRIPSI. Oleh : A. RIDO NIM 051810101112 i PROFIL GERAK PELURU DENGAN SPIN DAN HAMBATAN LINIER SKRIPSI Oleh : A. RIDO NIM 051810101112 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2013 i ii PROFIL GERAK

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN TURBULATOR PADA INTAKE MANIFOLD TERHADAP UNJUK KERJA MESIN BENSIN 4 TAK

PENGARUH PENAMBAHAN TURBULATOR PADA INTAKE MANIFOLD TERHADAP UNJUK KERJA MESIN BENSIN 4 TAK PENGARUH PENAMBAHAN TURBULATOR PADA INTAKE MANIFOLD TERHADAP UNJUK KERJA MESIN BENSIN 4 TAK Untoro Budi Surono 1), Joko Winarno 1), Fuad Alaudin 2) 1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Univ. Janabadra

Lebih terperinci

ANALISA PENGARUH KAPASITAS UDARA UNTUK CAMPURAN BAHAN BAKAR TERHADAP PRESTASI MESIN DIESEL MITSUBHISI L300

ANALISA PENGARUH KAPASITAS UDARA UNTUK CAMPURAN BAHAN BAKAR TERHADAP PRESTASI MESIN DIESEL MITSUBHISI L300 ANALISA PENGARUH KAPASITAS UDARA UNTUK CAMPURAN BAHAN BAKAR TERHADAP PRESTASI MESIN DIESEL MITSUBHISI L300 Kusnadi, Suprihadi Agus Program Studi D III Teknik Mesin Politeknik Harapan Bersama Jln. Mataram

Lebih terperinci

Pertemuan ke 11. Segiempat Segiempat adalah bidang datar yang dibatasi oleh empat potong garis yang saling bertemu dan menutup D C

Pertemuan ke 11. Segiempat Segiempat adalah bidang datar yang dibatasi oleh empat potong garis yang saling bertemu dan menutup D C Pertemuan ke Segiempat Segiempat adalah bidang datar yang dibatasi oleh empat potong garis yang saling bertemu dan menutup D C B Empat persegi panjang d D E a c C B b B = CD dan B // CD D = BC dan D //

Lebih terperinci

PENGARUH VARIASI UNJUK DERAJAT PENGAPIAN TERHADAP KERJA MESIN

PENGARUH VARIASI UNJUK DERAJAT PENGAPIAN TERHADAP KERJA MESIN PENGARUH VARIASI UNJUK DERAJAT PENGAPIAN TERHADAP KERJA MESIN Syahril Machmud 1, Untoro Budi Surono 2, Leydon Sitorus 3 1,2 Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Janabadra Yogyakarta 3

Lebih terperinci

UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L

UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L SNTMUT - 1 ISBN: 97--71-- UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L Syamsul Bahri W 1), Taufan Arif Adlie 1), Hamdani ) 1) Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Samudra

Lebih terperinci

Untai Elektrik I. Untai Orde Tinggi & Frekuensi Kompleks. Dr. Iwan Setyawan. Fakultas Teknik Universitas Kristen Satya Wacana. Untai 1. I.

Untai Elektrik I. Untai Orde Tinggi & Frekuensi Kompleks. Dr. Iwan Setyawan. Fakultas Teknik Universitas Kristen Satya Wacana. Untai 1. I. Untai Elektrik I Untai Orde Tinggi & Frekuensi Kompleks Dr. Iwan Setyawan Fakultas Teknik Universitas Kristen Satya Wacana Pada bagian sebelumnya, dibahas untai RC dan RL dengan hanya satu elemen penyimpan

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN

LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN A.1. Daftar parameter operasi dan peralatan berikut hendaknya dipertimbangkan dalam menetapkan

Lebih terperinci

PENGARUH ELEKTROKINETIK TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI TIANG DI LEMPUNG MARINA

PENGARUH ELEKTROKINETIK TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI TIANG DI LEMPUNG MARINA PENGARUH ELEKTROKINETIK TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI TIANG DI LEMPUNG MARINA Daniel Tjandra, Paravita Sri Wulandari Dosen Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Jurusan Teknik Sipil Universitas Kristen Petra

Lebih terperinci

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI AKIBAT KETIDAKEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARU NETRAL DAN LOE PADA TRANFORMATOR DITRIBUI Moh. Dahlan 1 email : dahlan_kds@yahoo.com surat_dahlan@yahoo.com IN : 1979-6870 ABTRAK Ketidakseimbangan beban pada

Lebih terperinci

Bagian 4 P ERENCANAAN P ANJANG L ANDAS P ACU DAN G EOMETRIK LANDING AREA

Bagian 4 P ERENCANAAN P ANJANG L ANDAS P ACU DAN G EOMETRIK LANDING AREA Bagian 4 P ERENCANAAN P ANJANG L ANDAS P ACU DAN G EOMETRIK LANDING AREA Bab 4 Perencanaan Panjang Landas Pacu dan Geometrik Landing Area 4-2 Tujuan Perkuliahan Materi Bagian 4 Tujuan Instruksional Umum

Lebih terperinci

DIKTAT MEKANIKA KEKUATAN MATERIAL

DIKTAT MEKANIKA KEKUATAN MATERIAL 1 DIKTAT MEKANIKA KEKUATAN MATERIAL Disusun oleh: Asyari Darami Yunus Teknik Mesin Universitas Darma Persada Jakarta 010 KATA PENGANTAR Untuk memenuhi buku pegangan dalam perkuliahan, terutama yang menggunakan

Lebih terperinci