BIOCert STANDAR PERTANIAN ORGANIK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BIOCert STANDAR PERTANIAN ORGANIK"

Transkripsi

1 BIOCert STANDAR PERTANIAN ORGANIK Versi 1 Juli 2014 [Versi Bahasa Indonesia] Disetujui oleh DE BIOCert pada tanggal 31 Juli 2014, berlaku sejak 1 Januari 2015 PT BIOCert Indonesia Jl. Perdana Raya Budi Agung Cimanggu Residence Ruko A1 Bogor INDONESIA Tel: Fax: of 67

2 Revisi 0. Maret 2014 Revisi 1 [Versi 1]. Juli of 67

3 DAFTAR ISI PENDAHULUAN... 5 DEFINISI TUJUAN DAN PRINSIP-PRINSIP DALAM PRODUKSI ORGANIK Tujuan produksi organik Prinsip-prinsip produksi organik Prinsip-prinsip spesifik dari produksi organik Standar organisme hasil rekayasa genetika (GMOs) Penggunaan radiasi ion PRODUKSI TANAMAN ORGANIK Aturan umum dan pengelolaan produksi pertanian Periode Konversi Aturan produksi tanaman Tipe dan Varietas Tanaman Keragaman Tanaman dalam Pertanian Organik Produksi paralel Tanah, air, dan pengelolaan pupuk PENGOLAHAN DAN PENGELOLAAN Prinsip-prinsip spesifik dalam pengolahan dan pengelolaan organik Aturan produksi makanan olahan dan pakan Operator Sub kontraktor Bahan baku, bahan, dan bahan aditif Metode pemrosesan Penyimpanan produk pangan dan produk Pengepakan dan transportasi produk ke unit operator lain Pengepakan Transportasi PRODUK YANG TUMBUH LIAR JAMUR PETERNAKAN LEBAH (APIARIES) Prinsip Umum Pengelolaan Umum Periode konversi Peternakan dan hasil peternakan Perawatan kesehatan Mutilasi Pemanenan dan Pengolahan of 67

4 7. INPUT KOMERSIAL KEPEDULIAN SOSIAL PELABELAN DAN PENGGUNAAN SEGEL ORGANIK PENGAWASAN SISTEM PENGAWASAN KETAATAN TERHADAP SISTEM PENGAWASAN BUKTI DOKUMEN TINDAKAN DALAM KASUS PELANGGARAN DAN PENYIMPANGAN PERSYARATAN PENGAWASAN MINIMUM CATATAN TERDOKUMENTASI AKSES TERHADAP FASILITAS BUKTI DOKUMENTASI DEKLARASI PENJUAL LAMPIRAN Lampiran 1: Daftar penggunaan input yang diperbolehkan dalam produksi organik Bagian 1.1: Penggunaan input dalam pupuk dan pemantap [conditioner] tanah Bagian 1.2: Penggunaan Produk dan Metode untuk mengendalikan hama, penyakit, gulma dan zat pengatur tumbuh Bagian 1.3: Penggunaan Produk dan Metode untuk mengendalikan hama di ruang pengolahan dan penyimpanan Bagian 1.4: Produk-produk yang digunakan sebagai pembersih dan disinfektan Bagian 1.5: Penggunaan bahan aditif dalam produk-produk untuk mengendalikan hama Lampiran 2: Daftar bahan aditif dan bantuan pengolahan yang diperbolehkan dalam pengolahan pangan Bagian 2.1: Daftar produk-produk yang digunakan untuk bahan aditif dan pengangkut Bagian 2.2. Daftar produk-produk yang digunakan untuk bantuan pengolahan Bagian 2.3. Bahan pertanian yang tidak diproduksi secara organik Lampiran 3: Pedoman evaluasi input tambahan untuk pertanian organik Lampiran 4: Pedoman evaluasi bahan aditif dan bantuan pengolahan untuk pengolahan organik 63 Lampiran 5: Pedoman pertimbangan penggunaan logam berat dalam pupuk organik Lampiran 6: Inspeksi kelompok petani kecil (untuk pertanian organik) Lampiran 7: Logo organik Uni Eropa dan Nomer Kode Lampiran 8: Prosedur untuk merevisi standar Komentar untuk Revisi Standar BIOCert of 67

5 PENDAHULUAN Standar Pertanian Organik BIOCert Standar organik BIOCert dibuat untuk pasar Indonesia dan untuk produsen/operator dari negaranegara di luar Uni-Eropa (UE). Standar tersebut wajib digunakan untuk semua operator yang tersertifikasi oleh BIOCert. Standar Pertanian Organik BIOCert berada sejajar dengan standar dasar IFOAM, Sistem Pangan Organik SNI [SNI ], Standar Aliansi Organik Indonesia dan Regulasi Uni Eropa. Standar Organik BIOCert merefleksikan kegiatan produksi di Indonesia dan negara dunia ketiga saat ini dimana sertifikasi BIOCert ditawarkan. Standar ini tidak dilihat sebagai hasil akhir, melainkan sebagai pekerjaan yang terus berlangsung untuk berkontribusi terhadap perkembangan dan mengadopsi praktek organik di Asia dan negara dunia ketiga berdasarkan standar ini. Ruang lingkup Standar BIOCert sekarang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. Produksi pangan, pengumpulan produk liar, peternakan lebah [apiaries], produksi jamur 2. Penanganan dan pengolahan dari produk yang dihasilkan dalam butir 1 3. Input produksi organik yang memungkinkan bagi BIOCert untuk memberikan layanan dalam mensertifikasikan produk organik yang dihasilkan dari lahan pertanian hingga menghasilkan produk olahan. Standar Pertanian Organik BIOCert meliputi komponen-komponen berikut: 1. Definisi adalah arti dari kata-kata yang digunakan dalam standar yang ditujukan kepada produsen/operator untuk memahami dan memiliki pemahaman yang sama. 2. Prinsip dan sasaran dari pertanian organik dan pengolahan adalah tujuan dari produksi organik dimana produsen/operator diharapkan mampu memahami dan menggunakannya sebagai pedoman. 3. Praktek yang direkomendasikan oleh BIOCert adalah pedoman yang bermanfaat dalam produksi organik namun tidak dipaksakan. 4. Standar adalah kondisi-kondisi umum yang harus dipenuhi produsen/operator agar dapat disertifikasikan oleh BIOCert. 5. Lampiran adalah penjelasan tambahan. Revisi Standar Pertanian Organik BIOCert telah dikembangkan dan disertujui oleh BIOCert. Standar Pertanian Organik BIOCert akan di revisi sesuai kebutuhan. Komentar dan usulan untuk dilakukannya amandemen oleh operator yang tersertifikasi terbuka lebar kapan saja dan harus dikirimkan ke kantor BIOCert. Silakan menggunakan Komentar untuk Revisi Standar BIOCert [halaman 55]. Pengecualian Pengecualian dapat diterima seperti ditunjukan dalam Standar Organik BIOCert. 5 of 67

6 Definisi Area konservasi yang bernilai tinggi [HCV] Bahan tambahan makanan Bahan Bantu Pengolahan Bahan makanan [ingredien] Bahan baku Grosir Hidroponik Input Komisi sertifikasi Keadilan sosial LSM Lahan Organisme hasil rekayasa genetika (GMO) Operator Penanganan Pertanian Konvensional Suatu area yang teridentifikasi memiliki nilai-nilai tinggi dan kritis mengenai aspek lingkungan, sosial ekonomi, keanekaragaman hayati atau nilai bentang alam. Bahan yang digunakan untuk meningkatkan kualitas hasil produk atau bahan yang ditambahkan ke dalam produk sehingga mempengaruhi kondisi penyimpanan, rasa, warna, rasa, campuran atau faktor kualitas lainnya sehingga mempengaruhi hasil produk. Zat atau bahan, tidak digunakan untuk konsumsi sebagai bahan makanan, secara sengaja digunakan dalam pengolahan bahan baku, makanan atau bahan-bahan, untuk memenuhi tujuan teknis tertentu dan sisa bahan makanan tersebut mungkin tanpa disengaja dan tak terhindarkan hadir dalam produk jadi. Bahan apa saja yang termasuk dalam bahan baku, dan bahan aditif yang digunakan dalam pengolahan dan masih bisa ditemukan dalam produkproduk hasil walaupun adanya perubahan dalam penampakan bentuknya. Bahan utama yang digunakan untuk mengolah produk yang bukan merupakan bahan aditif. Sesorang atau lembaga yang membeli produk organk dalam jumlah yang banyak dari berbagai produsen yang mensertifikasi produk, menyimpan produk dalam gudang, dan menjual produk ke pengecer. Sistem produksi pangan dalam kondisi media inert dan/atau larutan air menggunakan nutrisi yang telah dipisahkan (dalam larutan atau suspensi) sebagai sumber utama dari kebutuhan nutrisi tanaman. Penanaman tanaman dalam larutan air saja tidak termasuk dalam sistem hidroponik. [Standar IFOAM 2014] Produk-produk yang digunakan dalam produksi dan pengolahan organik seperti pupuk, pemantap tanah, pelindung tanaman, termasuk bahan aditif dan bantuan pengolahan yang digunakan di produk olahan organik. Komisi sertifikasi BIOCert yang mengkaji laporan inspeksi dan membuat keputusan sertifikasi. Hak-hak dasar sosial pekerja dan kehidupan yang layak di pertanian organik termasuk perdagangan yang adil seperti produsen/operator berhak mendapatkan harga yang adil dan sesuai dari pembeli atau pedagang mereka. Lembaga swadaya masyarakat Sebidang lahan untuk budidaya pertanian dengan letak yang saling berdampingan. Kadang-kadang juga disebut petak. Organisme hidup, tanaman, hewan atau mikroorganisme hasil dari rekayasa genetika. Seseorang yang memilki usaha dalam bidan pengolahan dan penjualan produk organik. Hal ini mencakup grosir, pengecer, distributor, dan eksportir. Contoh: pengeringan menggunakan angin, pembersihan, pemotongan, pemilahan, pengepakan, penyimpanan, dan pengangkutan produk. Sistem pertanian yang tidak tersertifikasi organik atau masih menggunakan input kimia [agrokimia]. 6 of 67

7 Periode konversi Pertanian organik Pelabelan Pengolahan Produksi paralel Produk Produsen/Petani Pengecer Pemasok Produksi terpisah Pengangkut Sub kontraktor Tanaman tahunan Tanaman hasil Tanaman Semusim Teknik rekayasa genetika Usaha tani Awal pelaksanaan sistem pertanian organik berdasarkan standar BIOCert hingga produk disertifikasi sebagai produk organik [masa konversi]. Sistem pertanian tanpa penggunaan pupuk buatan dan pestisida sintetis dan sesuai dengan Standar Pertanian Organik BIOCert. Istilah-istilah, kata-kata, keterangan-keterangan, merek dagang, nama merek, gambar-gambar, atau simbol apa saja yang berhubungan dan digunakan dalam kemasan, dokumen, pengumuman, label, papan, cincin, atau rantai yang menyertai atau mengacu ke suatu produk. Contoh: perebusan, pengeringan menggunakan panas, pengeringan menggunakan oven, pencampuran, penggilingan, pengepresan, penumbukan, pengenceran, pengawetan, fermentasi, perendaman sirup, evaporasi, pengadukan, penggorengan. Produksi, penanganan dan pengolahan tanaman/produk non organik [termasuk dalam periode konversi, klaim sendiri produk alami dan organik tetapi tidak tersertifikasi] yang sama dengan tanaman/produk yang disertifikasi organik dan sebaliknya. Hasil yang telah diolah. Seseorang yang bertanggung jawab dalam kegiatan bercocok tanam hingga panen dan penjualan. Sebuah lembaga bisnis atau seseoran yang menjual produk organik ke konsumen. Pihak yang menyediakan produk-produk organik. Manajemen yang sama mengelola produksi secara konvensional, dalam periode konversi, dan/atau produksi organik [produksi, pembiakan, penanganan atau pengolahan]. Seseorang atau sesuatu yang mengangkut produk organik. Seseorang yang dilibatkan untuk ber tanggung jawab terhadap suatu proses dalam kegiatan produksi atau penanganan dan pengolahan produk-produk organik. Tanaman yang memiliki umur produksi lebih dari 1 tahun dan dapat dipanen secara berkelanjutan lebih dari 1 musim. Tanaman hasil budidaya atau pemanenan produk liar dan /atau pernah ditanam. Tanaman dengan siklus hidup yang pendek dan dipanen dalam satu musim penanaman. Teknik bio-molekuler dimana materi genetik dari tanaman, hewan, mikroorganisme, sel dan unit biologis lainnya diatur sedemikian rupa sehingga tidak dapat dihasilkan dari pembiakan alami, seleksi atau mutasi. Teknik rekayasa genetika terdiri atas rekombinasi DAN, fusi sel, injeksi mikro dan makro, enkapsulasi, penghilangan gen, dan duplikasi gen. Teknik rekayasa genetik tidak terdiri atas konjugasi, transduksi dan hibridisasi alami. Semua penguasaan lahan pertanian (ditujukan untuk pemeliharaan tanaman dan ternak) dibawah pengelolaan orang yang sama. Hal ini juga termasuk juga lahan dimana petani tidak bertindak sebagai pemilik lahan melainkan pengguna/penyewa dan digunakan untuk praktek pertanian. 7 of 67

8 Ref Ref Ref UE Indonesia SNI TUJUAN DAN PRINSIP-PRINSIP DALAM PRODUKSI ORGANIK : Intro Art.3 6 & Tujuan dalam produksi organik 834 Art- 4 Pertanian organik mencakup sistem usaha tani yang bersifat alamiah dan ekologis yang terdiri atas prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Memelihara sistem ekologi di kebun dan ekologi yang berkelanjutan. Untuk menciptakan dan memelihara agroekosistem yang berkelanjutan, diversifikasi produksi tanaman pertanian dan peternakan harus diatur dengan cara tertentu agar ada interaksi saling mempengaruhi antara semua unsur yang termasuk dalam ruang lingkup pengelolaan pertanian. b. Penggunaan sumberdaya alam dan energi yang berkelanjutan. Meningkatkan dan memelihara sumber daya alam dengan cara menggunakan sumberdaya terbarukan dalam sistem usaha tani. c. Memastikan adanya standar kesejahteraan bagi hewan ternak dan hewan ternak harus bisa melaksanakan kegiatan sesuai dengan kebutuhan keseharian mereka. d. Kepastian produksi dari produk yang berkualitas tinggi yang memungkinkan untuk memenuhi permintaan konsumen dengan memproduksi beragam produk-produk pertanian dengan menggunakan sistem produksi yang berkelanjutan sehingga tidak menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan hidup, kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia/tanaman/hewan. Prinsip-prinsip yang melekat dalam penanganan dan pengolahan organik harus berdasarkan metode alamiah, konservasi energi, dan hanya memiliki dampak minimum terhadap lingkungan. SNI : Intro 6 & Prinsip-prinsip Produksi Organik 834 Art Untuk memastikan agar: SNI : Intro i. Perencanaan dan pengelolaan proses biologis dibuat dengan cara 6 & 7 agar semua bahan baku tersedia digunakan dengan cara yang berkelanjutan ii. Organisme hidup dan metode mekanis digunakan. iii. Penggunaan sistem produksi pangan dan ternak yang berkelanjutan. iv. GMO tidak digunakan dalam produksi organik kecuali untuk pengobatan hewan-hewan ternak. v. Penilaian risiko, tindakan kehati-hatian dan pencegahan dilakukan Input yang dapat terurai yang tersedia secara eksternal dapat digunakan hanya jika bahan tersebut sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi tertentu atau dalam pencegahan hama/penyakit/gulma. Penggunaan bahan-bahan tersebut tidak menyebabkan atau berkontribusi terhadap efek yang tidak diinginkan, kontaminasi lingkungan hidup, termasuk organisme tanah. Selain hal tersebut, penggunaannya tidak boleh bersifat merugikan terhadap kualitas dan keamanan produk akhir Input yang dibuat secara kimiawi tidak diperbolehkan Bila dibutuhkan, diperbolehkan melakukan perubahan tanpa melanggar aturan-aturan produksi organik, mempertimbangkan adanya perbedaan regional dalam lokasi, cuaca, tahapan perkembangan dan kegiatan peternakan yang spesifik. SNI : Annex A Prinsip spesifik dalam sistem pertanian organik 834 Art- 5 8 of 67

9 1.3.1 a. Mempertahankan dan meningkatkan kesuburan alami tanah, stabilitas tanah dan biodiversitas tanah serta mencegah pemadatan tanah, erosi tanah dan lainnya. b. Sebisa mungkin menggunakan sumber daya energi dan input pertanian yang terbarukan. c. Input pertanian menggunakan hasil daur ulang, produk samping hasil tanaman dan hewan dan lainnya. d. Metode produksi organik harus menggunakan cara tertentu agar keseimbangan ekologis lokal dan regional dapat dipertahankan. e. Memastikan kesehatan ternak dengan penggunaan varietas dan penerapan kegiatan pemeliharaan ternak yang sesuai serta menggunaan metode yang alami. f. Memastikan kesehatan tanaman dengan metode sebagai berikut: Pemilihan spesies dan varietas yang sesuai (varietas yang resisten terhadap hama dan penyakit) Rotasi tanaman Metode fisik dan mekanis Proteksi musuh alami dari hama dan lainnya. g. Memastikan kesehatan dan kelangsungan hidup hewan dengan mempertimbangkan kebutuhan berdasarkan spesies. h. Hewan/burung harus dikelola secara organik dari awal lahir/menetas hingga akhir. i. Seleksi galur lokal yang memiliki sifat adaptasi baik terhadap kondisi lokal dan resisten terhadap penyakit dan masalah kesehatan lainnya. j. Pakan ternak harus dibuat dengan bahan baku organik dan bahan alami dari bahan baku non-pertanian. k. Tersedianya ketentuan wilayah untuk beraktivitas, akses terhadap wilayah udara terbuka dan padang rumput agar mampu meningkatkan sistem imunitas dan memperkuat ketahanan diri terhadap penyakit. l. Teknik pembiakan buatan seperti teknik menginduksi poliploid tidak diperbolehkan. m. Pengelolaan biodiversitas ekosistem alami perairan serta kualitas dan kesehatan dari komponen sistem produksi perairan dan lingkungan sekitar. n. Pakan untuk organisme perairan harus pakan organik yang terbuat dari bahan-bahan organik atau substansi non-pertanian alami atau pakan hasil ekploitasi berkelanjutan sektor perikanan. 1.4 Standar organisme hasil rekayasa genetika (GMOs) Penggunaan organisme dan produk hasil rekayasa genetika dilarang dalam produksi dan pengolahan organik Input, bahan aditif, bantuan pengolahan, dan semua bahan dalam produk hasil organik akan dilacak setiap tahapan dalam proses produksi agar dapat diverifikasi dan dipastikan tidak terbuat dari tanaman, hewan, atau mikroorganisme hasil rekayasa genetika secara langsung dan tidak langsung BIOCert tidak akan melakukan sertifikasi terhadap produk dan sistem usaha tani organik jika ditemukan melalui pengujian terdapat kontraminasi produk GMO walaupun secara tidak senggaja dan tidak dapat dikelola oleh produsen GMO apapun tidak dapat digunakan dalam produksi konvensional dalam kasus produsen tidak dapat mengkonversi seluruh sistem usaha tani menjadi organik. SNI : 1.5 BPOM HK :9 834 Art- 4.a.iii. 834 Art- 9 9 of 67

10 1.5 Penggunaan radiasi pengionisasi Dilarang penggunaan radiasi ionisasi dalam perlakuan pangan, pakan atau bahan baku. SNI : A.6.1 BPOM HK :9 834 Art of 67

11 Ref 2. Produksi Pangan Organik 2.1. Aturan umum dalam produksi dan pengelolaan sistem usaha tani Dilarang menggunakan seluruh input berbahan kimia sintetis, termasuk pupuk, pestisida, dan hormon buatan Seluruh lahan pertanian yang dimiliki harus dikelola sesuai dengan persyaratan yang berlaku untuk produksi organik sebagaimana dimaksud dalam standar ini. Jika produsen tidak mengkonversi semua lahan ke pertanian organik, lahan tersebut dan lahan konvensional harus dipisahkan secara jelas dan harus diperiksa oleh BIOCert. Ketentuan untuk bagian konversi: i. Manajemen yang terpisah (orang yang berbeda yang memiliki tujuan kerja khusus untuk bagian organik) ii. Penyimpanan yang sesuai harus ada untuk memastikan penanganan yang terpisah (tidak ada input yang tidak diperbolehkan disimpan dalam wilayah pertanian organik termasuk dalam bangunan); iii. Dokumentasi mengenai produksi harus dikelola dengan baik dan adanya perbedaan yang jelas antara produksi yang tersertifikasi dan yang tidak tersertifikasi [konvensional dan produksi dalam konversi]; iv. Perkiraan produksi yang akurat harus tersedia. Tanaman harus dipanen sedemikian rupa agar terdapat metode yang dapat diandalkan untuk memverifikasi panen aktual dari masing-masing jenis tanaman (yaitu: inspeksi antar waktu panen, inspeksi tambahan selama waktu panen) v. Produksi konvensional, dalam periode konversi dan / atau tanaman atau produk hewan organik secara bersamaan tidak dapat dibedakan dengan jelas satu sama lain tidak diperbolehkan. vi. Untuk memastikan pemisahan yang jelas antara organik dan produksi konvensional, BIOCert akan melakukan pemeriksaan di saat-saat kritis Kebun yang telah tersertifikasi organik tidak boleh dikonversi secara bolak-balik antara produksi organik dan non organik [produksi konvensional]. BIOCert tidak akan mensertifikasi lahan baru bila pertanian organik pada lahan yang telah tersertifikasi tersebut dihentikan tanpa alasan yang jelas Dilarang melakukan pembersihan atau penghancuran Area dengan Nilai Konservasi Tinggi [NKT] untuk praktek pertanian organik. BIOCert tidak akan mensertifikasi lahan pertanian yang telah dibuat pada lahan yang diperoleh dengan mengosongkan area NKT dalam 5 tahun terakhir Ref Indonesia SNI : Table B.1.C SNI : A.1.3 SNI : A Dilarang melakukan produksi menggunakan sistem hidroponik. SNI : A Jika ada perubahan produksi di lahan pertanian, seperti SNI6729- perluasan atau penurunan lahan pertanian, perubahan jenis 2013: C.2.3 tanaman, dan lainnya, produsen diwajibkan untuk segera melapor kepada BIOCert. Ref UE 834 Art Art Art.4 11 of 67

12 2.1.7 Produsen harus melatih dan menginformasikan kepada karyawan, orang yang bertanggung jawab atau subkontrak yang bertanggung jawab terhadap produksi organik untuk memastikan kesamaan pemahaman dan ketaatan mereka terhadap Standar Organik BIOCert dan persyaratan dalam proses sertifikasi Produsen harus memiliki catatan-catatan berikut sehingga jelas dan tersedia ketika diperiksa oleh BIOCert: a. Rekaman semua tahapan produksi dari penanaman, pemeliharaan, panen, pasca panen, b. Catatan dan / atau dokumen pembelian yang menentukan asal-usul, jenis dan jumlah input yang dibeli c. Rekaman penjualan produk organik Produsen / operator harus menyimpan daftar pengaduan yang diterima dan tindakan penyelesaian yang telah dilakukan sehingga dapat diperiksa oleh BIOCert. 2.2 Konversi Konversi: Persyaratan Umum a. Semua lahan yang diterapan untuk kegiatan sertifikasi organik harus dimasukkan ke dalam periode konversi. Dalam jangka waktu tersebut, produsen harus mengikuti ketentuan standar organik BIOCert dan diperiksa dan disertifikasi oleh BIOCert tapi hasil produksi yang telah dihasilkan dalam periode konversi tidak dapat dijual sebagai produk organik. b. Tanggal aplikasi adalah tanggal pertama konversi ke pertanian organik dan tanggal pertama dimulainya periode konversi. Produsen akan mulai mengikuti standar organik BIOCert Standar dari tanggal tersebut. c. Jika seluruh lahan tidak dikonversi seluruhnya harus mengikuti standar SNI : Annex C.2.4 SNI : Annex C.2.4 Pedoman KAN901:20 06_15 SNI :Anne x A Art Konversi: Produksi tanaman dan produk 889- Art Untuk produksi tanaman organik, periode konversi untuk tanaman semusim adalah 24 bulan. Hasil panen yang ditanam setelah periode konversi dapat dinyatakan sebagai produk organik dengan segel BIOCert. SNI : Annex A.1.2 Untuk tanaman tahunan, periode konversi selama 36 bulan. Produk dapat dipanen setelah periode konversi dapat dijual sebagai produk organik dengan segel BIOCert BIOCert dapat memperpanjang periode konversi dengan mempertimbangkan sejarah penggunaan bahan kimia dalam lahan pertanian, masalah kontaminasi pada lahan tersebut dan tindakan yang dilakukan untuk mengelola kontaminasi agrokimia dan polusi di kebun. Inspektor akan menilai situasi tersebut dan tunduk kepada Komisi Sertifikasi dari BIOCert untuk disetujui Operator boleh mengajukan pengurangan periode konversi di formulir aplikasi atau selama inspeksi pertama. Jika pengurangan periode konversi diminta kemudian waktu, hanya dapat dipertimbangkan untuk keputusan inspeksi / sertifikasi berikutnya. Untuk sertifikasi, inspeksi harus mencakup manajemen organik dari tanaman yang bersangkutan. BIOCert dapat memberikan pengurangan periode konversi SNI : Annex A of 67

13 [konversi retroaktif] jika lahan telah digunakan sesuai dengan prinsip standar ini selama beberapa tahun. Pengurangan periode konversi hanya mungkin dalam kasus berikut: 1. Pertanian tradisional di daerah yang bebas dari penggunaan agrokimia. Hal ini perlu diverifikasi di tempat. 2. Manajemen organik sebelumnya (termasuk kebijakan yang telah diambil untuk mempertahankan atau meningkatkan kesuburan tanah) paling sedikit 3 tahun, dibuktikan oleh sumber independen secara tertulis. 3. Lahan bera (tidak ditanami setidaknya paling sedikit 3 tahun), dibuktikan oleh sumber independen secara tertulis. 4. Untuk budidaya mina padi, jika budidaya padi dalam periode konversi, produksi mina padi berikutnya dapat sejak awal dipertimbangkan sebagai produksi organik jika semua persyaratan sertifikasi lainnya telah terpenuhi. Analisis sampel dari sistem tertentu di atas akan lebih disarankan sesuai dengan situasi lapangan. Kasus-kasus seperti ini harus diverifikasi melalui bukti yang dikirimkan ke BIOCert, contohnya: catatan input, catatan produksi tanaman, tanah yang secara alami telah diperbaiki, artikel dalam publikasi independen, dan deklarasi pihak ketiga yang menunjukkan bahwa tidak ada bahan kimia yang telah digunakan dalam waktu yang lama. Deklarasi pihak ketiga harus dari sumber independen yang berkompeten dan tidak memiliki hubungan pribadi dengan operator, seperti pejabat pemerintah yang masih dalam masa aktif ataupun pensiun (setara dengan petugas pertanian atau kelas yang lebih tinggi) yang terlibat dalam pertanian ATAU Seorang petani organik yang menjadi panutan di wilayah tersebut ATAU Sebuah LSM terkemuka di bidang pertanian / pelestarian / sosial pembangunan. BIOCert akan memverifikasi bukti-bukti tersebut dan melakukan evaluasi selama inspeksi lapangan dan berhak untuk mempertimbangkannya kasus per kasus. Komite sertifikasi BIOCert adalah pihak yang akan mengambil keputusan akhir. BIOCert menyerahkan dokumen kepada otoritas yang berkompeten Berkenaan dengan lahan yang telah dikonversi ke organik atau dalam proses konversi ke pertanian organik, dan yang dikelola dengan produk yang tidak diperkenankan dalam pertanian organik, pengurangan periode konversi akan diberikan hanya jika perlakuan tersebut dibutuhkan dalam pengendalian hama dan penyakit yang disarankan oleh pihak yang berkompeten. Dalam kasus tersebut operator harus mengajukan permintaan tertulis dengan bukti dokumen. Dalam situasi seperti yang telah disebutkan di atas, lamanya periode konversi akan ditetapkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut: a. Pada akhir periode konversi, tidak boleh ada residu dalam tanah dan dalam kasus tanaman tahunan tidak boleh terkandung residu dalam tanaman. b. Hasil produksi yang dipanen segera setelah perlakuan tidak 13 of 67

14 dapat dijual sesuai dengan acuan metode produksi organik Komite Sertifikasi BIOCert adalah pihak yang akan mengambil keputusan terakhir. BIOCert menyerahkan dokumen sesuai permintaan kepada otoritas yang berkompeten Aturan Produksi Tanaman SNI6729/20 13: A.1 a. Dalam kasus monokultur, langkah-langkah khusus harus dilaksanakan oleh petani untuk meningkatkan landskap dan keanekaragaman hayati (contoh: antar tanaman atau tanaman penutup, menanam pohon atau tanaman pagar dan lainnya). b. Untuk tanaman semusim, rotasi tanaman diwajibkan: tanaman semusim yang sama tidak akan tumbuh di lahan yang sama secara berurutan lebih dari dua kali. Pengecualian (contoh: budidaya beras) dapat diperbolehkan bila ada alasan jelas. c. Hanya produk yang disebutkan dalam Lampiran I dalam standar ini yang diperbolehkan, untuk produk-produk yang tidak tercantum dalam Lampiran I dapat digunakan dalam pertanian organik bila operator mendapatkan izin tertulis dari BIOCert sebelum menggunakannya pada lahan organik. d. Semua persiapan biodinamik boleh digunakan dalam produksi tanaman organik. e. Di samping itu, pupuk dan pemadat tanah hanya dapat digunakan jika telah mendapatkan izin untuk digunakan dalam produksi organik seperti yang terlampir pada Lampiran 1 dari standar ini. f. BIOCert memeriksa persyaratan-persyaratan tersebut selama inspeksi dan memberikan hasil inspeksi kepada Komisi Sertifikasi BIOCert yang akan memberikan persetujuan terhadap hasil Tipe dan Varietas Tanaman Pangan Praktek yang direkomendasikan: Mencoba menseleksi varietas yang sesuai dengan ekologi lokal dan resisten terhadap hama dan penyakit. a. Hanya benih dan tanaman hasil pembiakan organik yang diperbolehkan untuk digunakan b. Bila benih dan hasil perbanyakan tanaman tidak dapat diperoleh dari pertanian organik, penggunaan benih konvensional diperbolehkan asal tidak diperlakukan dengan bahan kimia. Pengecualian dapat diajukan ketika pertanian organik pada tahap awal pengembangan atau ada kecelakaan yang tidak terduga; oleh karena itu, benih dan perbanyakan tanaman yang dibeli dan diperlakuan dengan zat kimia dapat digunakan. Tetapi pada tahun ke-3 program sertifikasi, produsen harus mengembangkan produksi benih dan perbanyakan tanaman secara mandiri atau bertukar dengan produsen organik lainnya. Produsen harus melakukan perlakuan dengan merendam benih dalam air hangat selama beberapa menit sebelum menggunakan benih yang dibeli yang mendapatkan perlakuan zat kimia. c. Untuk tanaman tahunan, perbanyakan tanaman yang tumbuh dari tanaman non-organik di pertanian organik diperbolehkan tetapi hasil yang didapatkan dalam jangka waktu 12 bulan pertama tidak dapat dijual sebagai produk organik dengan segel SNI :Anne x A of 67

15 BIOCert. d. Varietas tanaman dan polen dari organisme hasil rekayasa genetik (GMOs) juga transgen tidak boleh dipergunakan Keragaman Tanaman dalam Pertanian Organik a. Dalam produksi tanaman semusim, produsen harus menetapkan keragaman tanaman di lahan pertanian menggunakan rotasi tanaman untuk mengurangi penyakit, serangga dan gulma, termasuk rotasi tanaman kacang-kacangan untuk meningkatkan bahan organik dan kesuburan tanah. Pengecualian dapat dipertimbangkan jika produsen dapat menunjukkan keanekaragaman tumbuhan dengan cara lain. b. Dalam produksi tanaman tahunan, produsen harus menetapkan keragaman tanaman di lahan setidaknya dengan menanam tanaman penutup lahan dan / atau beragam spesies tanaman lainya Produksi Paralel 889- Art.40 a. Operator dapat menjalankan unit produksi organik dan nonorganik di area yang sama. BIOCert memastikan bahwa bagian-bagian wilayah organik dan non-organik terpisah, berbeda dan mudah untuk dilakukan pemeriksaan. Tanaman yang tumbuh di lahan konvensional dan di lahan konversi tidak boleh sama seperti yang di lahan organik dan yang dijual sebagai produk organik yang disertifikasi oleh BIOCert. Kecuali jika ada perbedaan varietas dan mudah untuk dibedakan contoh: bentuk, warna dan lainnya atau memiliki waktu panen yang berbeda. Kebijakan BIOCert pada produksi paralel mengikuti standar b. BIOCert memperbolehkan produksi paralel hanya bila hasil produk organik dan tanaman pangan dalam periode konversi dan ketika produsen telah memberitahukan rencana produksi dan langkah-langkah berikut untuk mencegah percampuran tanaman ke BIOCert sebelum melakukan kegiatan produksi: i. Tanaman yang disertifikasi BIOCert dan dalam periode konversi akan dipanen pada tanggal yang berbeda dan ii. Penanganan tanaman setelah panen harus terpisah dengan jelas sehingga hasil yang akan dijual sebagai produk bersertifikat BIOCert tidak akan tercampur dengan produk konversi dan iii. Catatan produksi dan penjualan organik serta unit konvensional harus dipelihara secara terpisah. BIOCert dapat menambahkan persyaratan-persyaratan tambahan bagi produsen dan akan melakukan pemeriksaan tambahan, dan BIOCert berhak untuk memberikan sertifikasi berdasarkan kasus per kasus. c. Dalam kasus produsen menerima sewa lahan sebagai tanaman yang sama dengan tanaman yang disertifikasi oleh BIOCert, produsen juga harus mengikuti standar b dan BIOCert dapat mengenakan persyaratan tambahan kepada produsen. 15 of 67

16 2.3.4 Pengelolaan Tanah, Air, dan Pupuk Praktek yang direkomendasikan Harus ada pengambilan contoh tanah setiap tahun untuk mengevaluasi ketersediaan nutrisi untuk perbaikan tanah, perencanaan dan program pemupukan, serta untuk Menjaga kondisi ph tanah yang sesuai dengan jenis tanah melalui penambahan kapur, dolomit, napal [kalsium karbonat atau kapur kaya lumpur atau batu lumpur yang mengandung sejumlah tanah liat dan lumpur] dan atau abu serbuk gergaji. Permukaan tanah tidak dibiarkan tidak terlindungi. Tanaman polongan [legum] harus ditanam. Penanaman tanaman kacang-kacangan sebagai pupuk hijau dianjurkan. Hal ini dapat dilakukan sebelum atau setelah tanaman utama atau sebagai tanaman rotasi. Menghindari atau mengurangi penggunaan mesin-mesin berat karena akan menyebabkan pemadatan tanah. Dianjurkan melakukan pengukuran konservasi air di lahan. Harus dilakukan pengukuran terhadap salinitas tanah contoh: dengan menanam tanaman penutup lahan, pengelolaan air yang sesuai Pengelolaan Tanah dan Pemupukan 889- Art.3 a. Produsen harus mencoba untuk menggunakan bahan organik dari tumbuhan dan hewan yang diproduksi dari lahan pertanian untuk perbaikan tanah dan mencoba untuk mengurangi penggunaan bahan organik yang dibawa dari luar. BIOCert akan memperbolehkan kasus per kasus untuk jumlah maksimum bahan organik yang dibawa dari luar untuk digunakan dalam lahan pertanian, dengan mempertimbangkan kondisi lokal dan sifat khusus dari tanaman. b. Harus ada rencana pemupukan organik dari penggunaan pupuk organik yang terpadu. Pupuk organik harus digunakan seperlunya dan dalam jumlah yang sesuai dengan keseimbangan hara di dalam tanah dan kebutuhan hara tanaman tersebut. c. Ketika kebutuhan nutrisi tanaman tidak dapat dicapai dengan langkah-langkah yang disebutkan dalam a di dokumen ini, hanya pupuk dan pemantap tanah yang tercantum dalam Lampiran1 (bagian 1) yang diperbolehkan. Operator harus menjaga bukti yang terdokumentasi mengenai kebutuhan penggunaan produk. BIOCert memeriksa kesesuaian terhadap persyaratan tersebut selama inspeksi dan memberikan hasil kepada Komisi Sertifikasi BIOCert yang akan memberikan persetujuan. d. Pupuk dan pemantap tanah yang tidak tercantum dalam Appendix1 (bagian 1) dapat diijinkan setelah dilakukan pemeriksaan oleh BIOCert berdasarkan Pedoman Evaluasi Penambahan Input pada Lampiran 4. e. Pupuk kandang segar tanpa dibiarkan dengan waktu yang lama tidak diperbolehkan untuk digunakan secara langsung pada tanaman, kecuali yang sudah diberi perlakuan panas dan benarbenar kering atau digunakan saat persiapan lahan dengan mencampurkannya ke dalam tanah setidaknya 1 bulan sebelum penanaman. f. Aplikasi pupuk kandang tidak boleh melebihi 170 kg nitrogen per tahun/hektar areal pertanian. Hal tersebut ditetapkan untuk mencegah pencemaran air yang disebabkan oleh nitrat dari sumber pertanian. Batasan tersebut hanya berlaku terhadap penggunaan pupuk kandang, pupuk kandang kering, pupuk 16 of 67

17 kandang unggas terdehidrasi, kotoran hewan yang dikomposkan, urin ternak. BIOCert akan memeriksa kesesuaian terhadap persyaratan tersebut selama inspeksi dan memberikan hasilnya kepada Komisi Sertifikasi BIOCert yang akan memberikan persetujuan. g. Bilamana ada kelebihan pupuk kandang organik yang tersedia di unit operator dapat dibuat kesepakatan tertulis dengan pemilik lahan organik lainnya sehingga mematuhi aturan produksi organik. Batas maksimum 170 kg nitrogen per tahun / hektar dihitung berdasarkan semua unit produksi organik yang terlibat dalam perjanjian tersebut. h. Dilarang menggunakan bahan organik dari kotoran manusia. i. Dilarang menggunakan bahan organik dari kotoran babi untuk pembuatan kompos. j. Sampah kota tidak boleh digunakan untuk membuat kompos karena adanya risiko kontaminan berupa logam berat. k. Dalam kasus menggunakan kotoran unggas yang dibawa dari luar atau produk sampingan hewan ternak, kotoran tersebut berasal dari ternak yang dibesarkan dalam area pengembalaan terbuka. Pemeliharaan ternak di area yang terbatas menyebabkan ternak berkembang dalam lingkungan yang tidak alami. Produsen wajib memberitahukan BIOCert sumber pupuk yang digunakan. l. Baik kompos yang dihasilkan dari dalam maupun dari luar lahan diperbolehkan untuk digunakan hanya jika bahan organik yang digunakan tercantum dalam Lampiran 1 (bagian 1) yang harus digunakan sebagai bahan dalam pengomposan. Produsen harus menginformasikan BIOCert mengenai bahan baku organik yang digunakan dalam kompos dan sumber kompos. m. Dalam produksi kompos, pupuk mineral dapat digunakan untuk meningkatkan hara yang terkandung dalam kompos, seperti tanah batuan fosfat sebagai sumber fosfor, atau grafit debu sebagai sumber kalium. n. Limbah industri organik dapat digunakan untuk pengomposan tetapi produsen wajib memberitahukan sumbernya kepada BIOCert. o. Dalam kasus risiko kontaminasi logam berat atau residu lainnya yang tidak diinginkan dari pupuk organik luar atau pemantap tanah seperti kompos, pupuk mineral, hasil produk samping industri, dan lainnya, BIOCert mengharuskan produsen menguji sampel sebelum digunakan untuk memastikan ada atau tidak adanya logam berat, jika ada, harus berada di bawah tingkat maksimum yang sudah ditetapkan dalam Lampiran 5. p. Pupuk mineral diperbolehkan digunakan sebagai tambahan untuk mempertahankan kesuburan jangka panjang bersamaan dengan teknik lainnya seperti penggunaan daur ulang nutrisi, tanaman kacang-kacangan, rotasi tanaman dan bahan organik. q. Nutrisi mikro (tercantum dalam Lampiran 1, bagian 1) dapat digunakan untuk tanaman jika secara jelas kekurangan nutrisinutrisi tersebut. Namun, produsen harus memberitahukan masalah dan upaya untuk memecahkannya dengan cara lain dan / atau hasil uji tanah dan jaringan kepada BIOCert. SNI :Anne x B table B1.C 17 of 67

18 r. Penggunaan mikroorganisme untuk perbaikan tanah, kompos, pengelolaan air dan pengelolaan limbah di kandang ternak diperbolehkan tetapi bukan mikroorganisme dari hasil rekayasa genetika. Jumlah yang cukup dari preparasi mikroba dapat digunakan untuk meningkatkan atau setidaknya mempertahankan kesuburan tanah dan aktivitas biologis di dalamnya. Penggunaan preparasi mikroba yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi lokal dan sifat khusus dari tanaman. s. Melarang penggunaan nitrat Chili dan semua pupuk nitrogen buatan, termasuk urea. t. Input dan teknik yang diperbolehkan dalam pertanian organik tidak boleh memberikan kontribusi terhadap pencemaran lingkungan, perawatan akan dilakukan untuk meminimalkan atau mencegah risiko tersebut Konservasi Tanah dan Air a. Tidak ada pembakaran sisa tanaman yang diperbolehkan karena bisa menghancurkan bahan organik dan mikroorganisme tanah. Pengecualian diberikan dalam kasus: i. Suatu kondisi yang diperlukan untuk mengendalikan serangga ganas atau serangan penyakit ii. Lahan berpindah di dataran tinggi. Namun, pembakaran harus dilakukan hanya pada lahan yang diperlukan. b. Jika lahan pertanian memiliki risiko erosi tanah, produsen harus memiliki aturan tindakan untuk mencegah erosi tanah seperti menumbuhkan tanaman pencegah erosi tanah, tanaman di garis kontur dan lainnya. c. Produsen harus memiliki aturan untuk mencegah eksploitasi air berlebihan dan pelestarian kualitas air, daur ulang air, serta extraksi. d. Bila diperlukan, produsen harus memiliki aturan untuk mencegah salinasi tanah. e. Dalam kasus produsen tanaman bersertifikat memiliki ternak (termasuk unggas) dari daerah yang bersertifikat, harus diatur tindakan pengelolaan penggembalaan sehingga tidak menyebabkan degradasi lahan atau mencemari sumber daya air Hama, Penyakit, dan Pengelolaan Gulma SNI6729/20 13: A.1.7 Permentan : Annex Art.5 Pratek yang direkomendasikan: Mendukung penyebaran manfaat hewan-hewan yang menguntungkan dan musuh alami hama (predator, parasit), contohnya dengan menumbuhkan bunga sebagai tanaman pendamping, menumbuhkan tanaman untuk habitat atau membangun sarang burung. Menanam tanaman pengusir serangga sebagai tanaman sisipan yang dapat membantu mengurangi hama seperti bawang bombay dengan kol, dan tanaman sereh [sitronela] dengan kubis. Hindari menanam tanaman berulang pada pot yang sama untuk mengurangi meningkatnya populasi hama dan penyakit. Dianjurkan melakukan rotasi tanaman. Penggunaan praktek budaya yang baik untuk mengontrol gulma seperti membajak, rotasi, 18 of 67

19 tumpangsari, mulsa tanaman, dan mulsa dari bahan-bahan alami. a. Sistem produksi harus mendukung keseimbangan antar makhluk alam dalam mengurangi permasalahan serangga, hama, dan gulma. b. Hanya metode, produk, dan bahan aditif yang tercantum dalam Lampiran 1 (bagian 2 dan bagian 5) untuk pengendalian hama produk yang diperbolehkan. BIOCert akan memeriksa kesesuaian terhadap persyaratan tersebut selama inspeksi dan memberikan hasil kepada Komisi Sertifikasi BIOCert yang akan memberikan persetujuan. c. Metode dan produk yang digunakan untuk perlindungan tanaman yang tidak terdaftar dalam Lampiran 1 (bagian 2 dan bagian 5) dapat digunakan setelah inspeksi oleh BIOCert sesuai dengan Pedoman Evaluasi Input Tambahan pada Lampiran 3. d. Tuba" (Derris elliptica (Roxb.) Benth.) boleh digunakan. Tapi ketika digunakan pada sayuran berdaun, tidak boleh digunakan minimal 7 hari sebelum panen dan penggunaannya harus harihati karena dapat meracuni hewan berdarah dingin seperti ikan. e. Dilarang menggunaan deterjen atau bahan perekat sintetis. f. Pengendalian fisik dan biologis dalam mengendalikan jumlah hama diperbolehkan tetapi harus dijaga agar tidak mempengaruhi keseimbangan hama dan serangga yang bermanfaat dengan organisme di lahan pertanian. g. Sterilisasi menggunakan panas untuk membunuh hama dan penyakit dalam tanah diperbolehkan hanya di lahan pembibitan dan untuk benih atau bibit yang mudah diserang hama dan penyakit. h. Diperbolehkan menggunakan jerami padi sebagai mulsa untuk mencegah gulma dan menjaga kelembaban tanah. Disarankan menggunakan jerami dari lahan pertanian organik. Tetapi jika tidak tersedia, penggunaan jerami dari pertanian konvensional diperbolehkan. i. Penggunaan plastik dengan bahan polietilen dan polypropylene atau polikarbonat lainnya untuk mulsa, pembungkus buah, jaring serangga diperbolehkan. Namun plastik yang digunakan harus dikeluarkan dari lahan pertanian setelah tidak digunakan dan tidak boleh dibakar di lahan pertanian. j. Untuk bahan yang diperbolehkan untuk digunakan dalam perangkap dan dispenser [alat atau wadah otomatis yang dibuat untuk mengeluarkan bahan tertentu], produsen harus mengambil tindakan pencegahan selama dan setelah penggunaan bahan tersebut untuk mencegah adanya kontak dengan tanaman dan terbuang ke lingkungan Zat Pengatur Tumbuh dan Lainnya a. Zat sintetis pemacu pertumbuhan tidak boleh digunakan, contohnya menggunakan IBA (Asam Indolebutyric) dan NAA (Asam Naftalen Asetat) untuk perbanyakan tanaman. b. Pewarna sintetis tidak diperbolehkan untuk pewarnaan buah. c. Hanya hormon pertumbuhan dan zat lain yang tercantum dalam Lampiran 1 (bagian 2) yang diperbolehkan. Zat-zat lain yang tidak tercantum dapat diperbolehkan penggunaannya setelah diinspeksi oleh BIOCert sesuai dengan Pedoman Evaluasi Input 19 of 67

20 Tambahan pada Lampiran Perlindungan terhadap Kontaminasi a. Ketika ada kemungkinan lahan pertanian organik terkena kontaminasi bahan kimia dari lahan konvensional yang bersebelahan atau sumber-sumber kontaminasi dan polusi lainnya, produsen harus membuat daerah penyangga agar lahan tidak terkena kontaminasi oleh bahan kimia. Daerah penyangga harus memiliki lebar minimal 1 meter dan: i. Jika terdapat kontaminasi dari udara (air drift), maka harus menanam tanaman penyangga agar tidak terkontaminasi. Tanaman peyangga yang digunakan tidak boleh dijual sebagai produk organik; oleh karena itu, tanaman peyangga yang harus terdiri atas varietas yang berbeda sehingga mudah dibedakan dari tanaman yang disertifikasi. ii. Jika sumber kontaminasi adalah air, pematang tanah atau drainase harus dibuat untuk mencegah kontak dengan sumber kontaminasi tersebut. Jika risiko kontaminasi dari lingkungan eksternal tinggi, BIOCert akan mempertimbangkan agar produsen memperluas daerah penyangga tersebut. b. Ketika ada risiko kontaminasi tinggi dari logam berat dan kimia, baik dari faktor eksternal dan sejarah penggunaan bahan kimia atau input di lahan, produsen harus mengijinkan pihak BIOCert untuk menguji sampel air, tanah atau produk dan memverifikasi kontaminasi tersebut. Produsen menanggung biaya pengujian. c. Jika lahan pertanian organik berisiko tinggi terkontaminasi hasil rekayasa genetika akibat input atau lahan pertanian konvensional yang berdekatan, produsen harus mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: i. Memiliki surat pernyataan sebagai bukti bahwa input tidak memiliki risiko kontaminasi. ii. Mencari informasi bahwa lahan pertanian organik atau lahan sekitar tidak pernah memiliki sejarah adanya kontaminasi. iii. Jika ada risiko tinggi, produsen memperkenankan BIOCert mengambil sampel tanaman untuk melakukan analisis di laboratorium untuk memverifikasi kontaminasi tersebut. iv. Alat semprot yang digunakan pada lahan pertanian konvensional tidak boleh digunakan pada lahan pertanian organik. v. Mesin pertanian, contohnya mesin panen, mesin perontok dan lainnya jika digunakan di lahan pertanian konvensional dan lahan pertanian organik, produsen harus membersihkan mesin sebelum digunakan dalam lahan pertanian organik. Input yang dilarang tidak boleh disimpan di lahan pertanian organik. Tempat penyimpanan bahan input organik dan input kimia harus dipisahkan dengan jelas. 20 of 67

PT MUTUAGUNG LESTARI

PT MUTUAGUNG LESTARI Bagian 1. Informasi Umum Nama : Nama Kebun : Jenis Tanaman : Alamat : Kota : Propinsi : Kode Pos : Negara : Tanggal : Telepon : Fax : Email : Ruang lingkup tanaman yang akan disertifikasi Jumlah petani

Lebih terperinci

Mengenal Sistem Pangan Organik Indonesia

Mengenal Sistem Pangan Organik Indonesia Mengenal Sistem Pangan Organik Indonesia Dede Sulaeman, ST, M.Si Mengenal Sistem Pangan Organik Indonesia April 2008 Penulis: Dede Sulaeman, ST, M.Si Subdit Pengelolaan Lingkungan, Dit. Pengolahan Hasil

Lebih terperinci

S i s t e m M a s y a ra k a t y a n g B e r ke l a n j u t a n

S i s t e m M a s y a ra k a t y a n g B e r ke l a n j u t a n T E N T A N G P E R M A K U L T U R S i s t e m M a s y a ra k a t y a n g B e r ke l a n j u t a n A PA ITU P ERMAKULTUR? - MODUL 1 DESA P ERMAKULTUR Desa yang dirancang dengan Permakultur mencakup...

Lebih terperinci

Apa itu PERTANIAN ORGANIK?

Apa itu PERTANIAN ORGANIK? Apa itu PERTANIAN ORGANIK? Menurut sistem standarisasi Indonesia, SNI 01 6792 2002, definisi dari pertanian organik adalah suatu sistem manajemen produksi yang holistik yang meningkatkan dan mengembangkan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.770, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTANIAN. Pertanian Organik. Budidaya. Sistem. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64/PERMENTAN/OT.140/5/2013 TENTANG SISTEM

Lebih terperinci

PELAKSANAAN INSPEKSI SISTEM PANGAN ORGANIK

PELAKSANAAN INSPEKSI SISTEM PANGAN ORGANIK PELAKSANAAN INSPEKSI SISTEM PANGAN ORGANIK 1. Ruang lingkup Pedoman ini menetapkan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Lembaga Sertifikasi Pangan Organik dalam melaksanakan kegiatan inspeksi kepada operator

Lebih terperinci

Pengemasan dan Pemasaran Pupuk Organik Cair

Pengemasan dan Pemasaran Pupuk Organik Cair Pengemasan dan Pemasaran Pupuk Organik Cair Pupuk Organik Unsur hara merupakan salah satu faktor yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penggunaan pupuk sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tingkat produksi budidaya tanaman yang mantap sangat menentukan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber

II. TINJAUAN PUSTAKA. utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mikroorganisme Lokal (MOL) Mikroorganisme lokal (MOL) adalah mikroorganisme yang dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik padat maupun pupuk cair. Bahan utama

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

KEAMANAN PANGAN PRODUK PETERNAKAN DITINJAU DARI ASPEK PASCA PANEN: PERMASALAHAN DAN SOLUSI (ULASAN)

KEAMANAN PANGAN PRODUK PETERNAKAN DITINJAU DARI ASPEK PASCA PANEN: PERMASALAHAN DAN SOLUSI (ULASAN) KEAMANAN PANGAN PRODUK PETERNAKAN DITINJAU DARI ASPEK PASCA PANEN: PERMASALAHAN DAN SOLUSI (ULASAN) TANTAN R. WIRADARYA Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Pangan produk peternakan yang

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang : Perlindungan Tanaman

Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang : Perlindungan Tanaman Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang : Perlindungan Tanaman Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 6 TAHUN 1995 (6/1995) Tanggal : 28 PEBRUARI 1995 (JAKARTA) Sumber : LN 1995/12; TLN NO. 3586

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pertanian Menurut Mubyarto (1995), pertanian dalam arti luas mencakup pertanian rakyat atau pertanian dalam arti sempit disebut perkebunan (termasuk didalamnya perkebunan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SERTA PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK HASIL PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pangan yang aman,

Lebih terperinci

EKOLOGI MANUSIA : PERTANIAN DAN PANGAN MANUSIA. Nini Rahmawati

EKOLOGI MANUSIA : PERTANIAN DAN PANGAN MANUSIA. Nini Rahmawati EKOLOGI MANUSIA : PERTANIAN DAN PANGAN MANUSIA Nini Rahmawati Pangan dan Gizi Manusia Zat gizi merupakan komponen pangan yang bermanfaat bagi kesehatan (Mc Collum 1957; Intel et al 2002). Secara klasik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pupuk Bokasi adalah pupuk kompos yang diberi aktivator. Aktivator yang digunakan adalah Effective Microorganism 4. EM 4 yang dikembangkan Indonesia pada umumnya

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. padat (feses) dan limbah cair (urine). Feses sebagian besar terdiri atas bahan organik

PENDAHULUAN. padat (feses) dan limbah cair (urine). Feses sebagian besar terdiri atas bahan organik I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan sapi perah selain menghasilkan air susu juga menghasilkan limbah. Limbah tersebut sebagian besar terdiri atas limbah ternak berupa limbah padat (feses) dan limbah

Lebih terperinci

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

Peluang Usaha Budidaya Cabai? Sambal Aseli Pedasnya Peluang Usaha Budidaya Cabai? Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Teknologi revolusi hijau di Indonesia digulirkan sejak tahun 1960 dan

I. PENDAHULUAN. Teknologi revolusi hijau di Indonesia digulirkan sejak tahun 1960 dan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teknologi revolusi hijau di Indonesia digulirkan sejak tahun 1960 dan menunjukkan dampak positif terhadap kenaikan produksi padi nasional. Produksi padi nasional yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kandungan gizi cukup, nilai ekonomis tinggi serta banyak digunakan baik untuk

BAB I PENDAHULUAN. kandungan gizi cukup, nilai ekonomis tinggi serta banyak digunakan baik untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura penting yang dibudidayakan secara komersial, karena memiliki kandungan gizi cukup,

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK PELATIHAN TEKNIS BUDIDAYA KEDELAI BAGI PENYULUH PERTANIAN DAN BABINSA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN PUSAT PELATIHAN PERTANIAN 2015 Sesi : PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Ekologi Pertanian ~ 1

BAB I PENDAHULUAN. Ekologi Pertanian ~ 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ekologi sangat erat kaitannya dengan lingkungan, makhluk hidup, dan hubungan di antara keduanya. Kelahiran, kematian yang silih berganti di suatu kehidupan menandakan

Lebih terperinci

2 ekspor Hasil Perikanan Indonesia. Meskipun sebenarnya telah diterapkan suatu program manajemen mutu terpadu berdasarkan prinsip hazard analysis crit

2 ekspor Hasil Perikanan Indonesia. Meskipun sebenarnya telah diterapkan suatu program manajemen mutu terpadu berdasarkan prinsip hazard analysis crit TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI LINGKUNGAN HIDUP. Perikanan. Hasil. Jaminan Mutu. Keamanan. Sistem. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 181). PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang cocok untuk kegiatan pertanian. Disamping itu pertanian merupakan mata

I. PENDAHULUAN. yang cocok untuk kegiatan pertanian. Disamping itu pertanian merupakan mata I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan memiliki iklim tropis yang cocok untuk kegiatan pertanian. Disamping itu pertanian merupakan mata pencaharian utama

Lebih terperinci

Permasalahan Dalam Pengembangan Pertanian Organik. Amaliah, SP

Permasalahan Dalam Pengembangan Pertanian Organik. Amaliah, SP Permasalahan Dalam Pengembangan Pertanian Organik Amaliah, SP A. Latar Belakang Memasuki abad 21, gaya hidup sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi tren baru masyarakat dunia. Masyarakat dunia

Lebih terperinci

AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA BAB VI. PERSIAPAN LAHAN Rizka Novi Sesanti KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PUPUK ORGANIK DAN PUPUK HAYATI

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PUPUK ORGANIK DAN PUPUK HAYATI PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PUPUK ORGANIK DAN PUPUK HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu komoditi tanaman

I. PENDAHULUAN. Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu komoditi tanaman 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan menguntungkan untuk diusahakan karena

Lebih terperinci

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Produksi 2010 Pendahuluan Dalam rangka menghadapi era globalisasi, maka produk perikanan

Lebih terperinci

Kompos Cacing Tanah (CASTING)

Kompos Cacing Tanah (CASTING) Kompos Cacing Tanah (CASTING) Oleh : Warsana, SP.M.Si Ada kecenderungan, selama ini petani hanya bergantung pada pupuk anorganik atau pupuk kimia untuk mendukung usahataninya. Ketergantungan ini disebabkan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL Sistem Pertanian dengan menggunakan metode SRI di desa Jambenenggang dimulai sekitar tahun 2007. Kegiatan ini diawali dengan adanya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) merupakan salah satu komoditas

I. PENDAHULUAN. Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) merupakan salah satu komoditas I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan yang dianggap memiliki prospek yang baik. Hal ini terkait dengan semakin

Lebih terperinci

Berikut ini beberapa manfaat dan dampak positif perkembangan ilmu biologi :

Berikut ini beberapa manfaat dan dampak positif perkembangan ilmu biologi : Manfaat dan Bahaya Ilmu Biologi Manfaat Ilmu Biologi Berikut ini manfaat yang disumbangkan oleh biologi, antara lain : 1. Memberikan pemahaman lebih mendalam kepada diri seseorang yang dapat diterapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pupuk organik cair adalah ekstrak dari hasil pembusukan bahan-bahan organik. Bahan-bahan organik ini bisa berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang

Lebih terperinci

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian

TINJAUAN PUSTAKA. definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian 5 TINJAUAN PUSTAKA Pertanian organik Pertanian organik meliputi dua definisi, yaitu pertanian organik dalam definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian sempit, pertanian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Jagung manis merupakan salah satu jenis jagung yang mulai dikembangkan dalam sekala luas. Jagung manis memiliki banyak manfaat sebagai makanan tambahan, sayuran, bahan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. cruciferae yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sawi memiliki nilai gizi yang

I. PENDAHULUAN. cruciferae yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sawi memiliki nilai gizi yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Kesadaran manusia akan kesehatan menjadi salah satu faktor kebutuhan sayur dan buah semakin meningkat. Di Indonesia tanaman sawi merupakan jenis sayuran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari daerah Brasilia (Amerika Selatan). Sejak awal abad ke-17 kacang tanah telah

BAB I PENDAHULUAN. dari daerah Brasilia (Amerika Selatan). Sejak awal abad ke-17 kacang tanah telah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman kacang tanah (Arachis hypogea. L) merupakan tanaman yang berasal dari daerah Brasilia (Amerika Selatan). Sejak awal abad ke-17 kacang tanah telah dibudidayakan

Lebih terperinci

adalah praktek budidaya tanaman untuk benih

adalah praktek budidaya tanaman untuk benih Produksi benih non hibrida meliputi : inbrida untuk tanaman menyerbuk sendiri bersari bebas/open bebas/open pollinated (OP) untuk tanaman menyerbuk silang Proses produksi lebih sederhana, karena hampir

Lebih terperinci

PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGOLAHAN LAHAN

PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGOLAHAN LAHAN PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGOLAHAN LAHAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN PUSAT PELATIHAN PERTANIAN 2015 1 PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENGOLAHAN LAHAN A. DEFINISI Adalah pengolahan lahan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KETAHANAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KETAHANAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KETAHANAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang : a. bahwa ketahanan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

PERANGKAT UJI PUPUK ORGANIK (PUPO) (ORGANICFERTILIZER TEST KIT )

PERANGKAT UJI PUPUK ORGANIK (PUPO) (ORGANICFERTILIZER TEST KIT ) PERANGKAT UJI PUPUK ORGANIK (PUPO) (ORGANICFERTILIZER TEST KIT ) Pendahuluan Pupuk Organik adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) Lektor Kepala/Pembina TK.I. Dosen STPP Yogyakarta. I. PENDAHULUAN Penurunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Agro Ekologi 1

BAB I PENDAHULUAN. Agro Ekologi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengertian agro ekologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang budidaya tanaman dengan lingkungan tumbuhnya. Agro ekologi merupakan gabungan tiga kata, yaitu

Lebih terperinci

PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN, Menimbang : a. bahwa sumberdaya ikan sebagai bagian

Lebih terperinci

Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan

Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: HK TENTANG PENGAWASAN PANGAN OLAHAN ORGANIK

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: HK TENTANG PENGAWASAN PANGAN OLAHAN ORGANIK PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR: HK.00.06.52.0100 TENTANG PENGAWASAN PANGAN OLAHAN ORGANIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN RI, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hewan sebagai karunia dan amanat Tuhan Yang

Lebih terperinci

Menimbang : Mengingat :

Menimbang : Mengingat : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.00.5.1.2569 TENTANG KRITERIA DAN TATA LAKSANA PENILAIAN PRODUK PANGAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

Budi Daya Padi di Sumatera Barat Masalah dan Penanggulangannya. ~Ringkasan Proyek Peningkatan Teknologi Budi Daya Padi di Sumatera Barat 1~

Budi Daya Padi di Sumatera Barat Masalah dan Penanggulangannya. ~Ringkasan Proyek Peningkatan Teknologi Budi Daya Padi di Sumatera Barat 1~ Budi Daya Padi di Sumatera Barat Masalah dan Penanggulangannya ~Ringkasan Proyek Peningkatan Teknologi Budi Daya Padi di Sumatera Barat 1~ Keinginan, permasalahan, dan penanggulangannya terkait budi daya

Lebih terperinci

PRAKTEK BUDIDAYA PERTANIAN YANG BAIK (Good Agricultural Practices) PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

PRAKTEK BUDIDAYA PERTANIAN YANG BAIK (Good Agricultural Practices) PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA PRAKTEK BUDIDAYA PERTANIAN YANG BAIK (Good Agricultural Practices) PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA Good Agricultural Practices (GAP) GAP menjamin keamanan dan kualitas pangan viabilitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Khairunisa Sidik,2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Khairunisa Sidik,2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jenis ekosistem yang dikemukakan dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 29 Tahun 2009 tentang Pedoman Konservasi Keanekaragaman Hayati di Daerah, dapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. ini belum mampu memenuhi kebutuhannya secara baik, sehingga kekurangannya

I. PENDAHULUAN. ini belum mampu memenuhi kebutuhannya secara baik, sehingga kekurangannya I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prospek pengembangan beras dalam negeri cukup cerah terutama untuk mengisi pasar domestik, mengingat produksi padi/beras dalam negeri sampai saat ini belum mampu memenuhi

Lebih terperinci

Soal Jawab DIT (dibuat oleh mahasiswa)

Soal Jawab DIT (dibuat oleh mahasiswa) Soal Jawab DIT (dibuat oleh mahasiswa) 1. Cara memperbaiki tanah setelah mengalami erosi yaitu dengan cara?? Konservasi Tanah adalah penempatansetiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI Lahan pertanian yang dijadikan objek penelitian berlokasi di daerah lahan pertanian DAS Citarum Hulu, Desa Sukapura, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Bandung dan sebagai

Lebih terperinci

TIN206 - Pengetahuan Lingkungan. Materi # T a u f i q u r R a c h m a n

TIN206 - Pengetahuan Lingkungan. Materi # T a u f i q u r R a c h m a n Materi #4 Bahasan 2 Penipisan Ozon (Ozone Depletion). Pemanasan global dan Perubahan Iklim Global. Hujan Asam. Penyebaran Kehidupan (Biological Magnification). Dampak manusia pada Air, Udara, dan Perikanan.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan

TINJAUAN PUSTAKA. keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan TINJAUAN PUSTAKA Sumberdaya Pakan Pakan adalah bahan makanan tunggal atau campuran, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diberikan kepada hewan untuk kelangsungan hidup, berproduksi, dan berkembang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa pangan yang aman, bermutu dan bergizi sangat penting peranannya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman semusim yang tumbuh membentuk rumpun dengan tinggi tanaman mencapai 15 40 cm. Perakarannya berupa akar

Lebih terperinci

BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN TAPIN TAHUN 2012 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik

3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik KONSEP GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 73 TAHUN 2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip ekologi telah diabaikan secara terus menerus dalam pertanian modern,

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip ekologi telah diabaikan secara terus menerus dalam pertanian modern, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Prinsip ekologi telah diabaikan secara terus menerus dalam pertanian modern, akibatnya agroekosistem menjadi tidak stabil. Kerusakan-kerusakan tersebut menimbulkan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Padi merupakan sumber bahan makanan pokok bagi sebagian masyarakat Indonesia. Apalagi setelah adanya kebijakan pembangunan masa lalu, yang menyebabkan perubahan sosial

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Pengertian Pertanian Organik Revolusi hijau di Indonesia yang dikenal dengan swasembada pangan ternyata memberikan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.227, 2012 KESEJAHTERAAN. Pangan. Ketahanan. Ketersediaan. Keamanan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5360) UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

2012, No.72 2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Alat dan mesin peternakan dan kesehatan hewan yang

2012, No.72 2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Alat dan mesin peternakan dan kesehatan hewan yang No.72, 2012 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESEHATAN. Hewan. Peternakan. Alat. Mesin. Penggunaan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5296) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian Hendri, 2005 dalam Purwanti (2011) mendefinisikan perilaku konsumen sebagai proses yang terjadi pada konsumen ketika ia memutuskan membeli,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang

I. PENDAHULUAN. Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Selain sebagai pangan pokok dan sumber karbohidrat, jagung juga

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian tanaman pangan di Indonesia sampai dengan tahun 1960 praktis menggunakan teknologi dengan masukan organik berasal dari sumber daya setempat. Varietas lokal dan

Lebih terperinci

Regulasi sanitasi Industri Pangan

Regulasi sanitasi Industri Pangan Regulasi sanitasi Industri Pangan Nur Hidayat Regulasi Undang Undang No. 7 Tahun 1996 Tentang : Pangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 Tentang: Keamanan, Mutu Dan Gizi Pangan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. digunakan untuk meningkatkan aktivitas proses komposting. Bioaktivator

II. TINJAUAN PUSTAKA. digunakan untuk meningkatkan aktivitas proses komposting. Bioaktivator 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bioaktivator Menurut Wahyono (2010), bioaktivator adalah bahan aktif biologi yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas proses komposting. Bioaktivator bukanlah pupuk, melainkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA

PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA DKI Jakarta merupakan wilayah terpadat penduduknya di Indonesia dengan kepadatan penduduk mencapai 13,7 ribu/km2 pada tahun

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian

Lebih terperinci

PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR (POC) LIMBAH TERNAK DAN LIMBAH RUMAH TANGGA PADA TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans Poir) Oleh : Sayani dan Hasmari Noer *)

PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR (POC) LIMBAH TERNAK DAN LIMBAH RUMAH TANGGA PADA TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans Poir) Oleh : Sayani dan Hasmari Noer *) Jurnal KIAT Universitas Alkhairaat 8 (1) Juni 2016 e-issn : 2527-7367 PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR (POC) LIMBAH TERNAK DAN LIMBAH RUMAH TANGGA PADA TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans Poir) Oleh : Sayani

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menjadi permasalahan yang dihadapi oleh para peternak. Faktor penghambat. kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak.

I. PENDAHULUAN. menjadi permasalahan yang dihadapi oleh para peternak. Faktor penghambat. kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang berpotensi besar untuk penyediaan hijauan pakan, namun sampai saat ini ketersedian hijauan pakan ternak masih menjadi permasalahan

Lebih terperinci

TATA CARA PEMERIKSAAN SARANA PRODUKSI PANGAN INDUSTRI RUMAH TANGGA

TATA CARA PEMERIKSAAN SARANA PRODUKSI PANGAN INDUSTRI RUMAH TANGGA 5 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.04.12.2207 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN SARANA PRODUKSI PANGAN INDUSTRI RUMAH TANGGA TATA CARA

Lebih terperinci

BUPATI MADIUN SALINANAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI MADIUN SALINANAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI MADIUN SALINANAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN PENYALURAN SERTA HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN MADIUN TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2014 BUPATI KUDUS,

KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2014 BUPATI KUDUS, PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 33 TAHUN 2013 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2014 BUPATI KUDUS, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Dr.sc.agr. N. NURLAENY, Ir.,MS. PERAN BAHAN ORGANIK TANAH DALAM SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN

Dr.sc.agr. N. NURLAENY, Ir.,MS. PERAN BAHAN ORGANIK TANAH DALAM SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN Dr.sc.agr. N. NURLAENY, Ir.,MS. PERAN BAHAN ORGANIK TANAH DALAM SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN Dr.sc.agr. N. Nurlaeny, Ir. MS., meraih gelar sarjana dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada

Lebih terperinci

Budidaya Tumbuhan Obat. Ilmu Bahan Alam Pertemuan 2 Indah Solihah

Budidaya Tumbuhan Obat. Ilmu Bahan Alam Pertemuan 2 Indah Solihah Budidaya Tumbuhan Obat Ilmu Bahan Alam Pertemuan 2 Indah Solihah Definisi Budidaya tumbuhan obat adalah suatu cara untuk optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan yang digunakan sebagai bahan

Lebih terperinci

BAB V PRAKTEK PRODUKSI YANG BAIK

BAB V PRAKTEK PRODUKSI YANG BAIK BAB V PRAKTEK PRODUKSI YANG BAIK Good Manufacturing Practice (GMP) adalah cara berproduksi yang baik dan benar untuk menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. Telah dijelaskan sebelumnya

Lebih terperinci

PEMBUATAN BIOEKSTRAK DARI SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN UNTUK MEMPERCEPAT PENGHANCURAN SAMPAH DAUN

PEMBUATAN BIOEKSTRAK DARI SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN UNTUK MEMPERCEPAT PENGHANCURAN SAMPAH DAUN PEMBUATAN BIOEKSTRAK DARI SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN UNTUK MEMPERCEPAT PENGHANCURAN SAMPAH DAUN Oleh: Siti Marwati Jurusan Penidikan Kimia FMIPA UNY siti_marwati@uny.ac.id Pendahuluan Disadari atau tidak,

Lebih terperinci

Pertanian Berkelanjutan untuk Mengoptimalkan Sumber Daya Pertanian Indonesia

Pertanian Berkelanjutan untuk Mengoptimalkan Sumber Daya Pertanian Indonesia Pertanian Berkelanjutan untuk Mengoptimalkan Sumber Daya Pertanian Indonesia Delvi Violita Ekowati Abstrak Tanaman merupakan sumber daya hayati yang dimiliki oleh Indonesia. Pemanfaatan sumber daya tersebut

Lebih terperinci

BUDIDAYA PEPAYA BERBASIS RAMAH LINGKUNGAN DENGAN TEKNOLOGI KOMPOS AKTIF. (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi) 2

BUDIDAYA PEPAYA BERBASIS RAMAH LINGKUNGAN DENGAN TEKNOLOGI KOMPOS AKTIF. (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi) 2 BUDIDAYA PEPAYA BERBASIS RAMAH LINGKUNGAN DENGAN TEKNOLOGI KOMPOS AKTIF 1 M. Syarif, 2 Wiwaha Anas Sumadja dan 1 H. Nasution 1 (Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jambi) 2 (Staf Pengajar Fakultas

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PERMENTAN/SR.130/5/2009 TAHUN 2009 TENTANG PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PERMENTAN/SR.130/5/2009 TAHUN 2009 TENTANG PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/PERMENTAN/SR.130/5/2009 TAHUN 2009 TENTANG PUPUK ORGANIK, PUPUK HAYATI DAN PEMBENAH TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang:

Lebih terperinci

II. PERMASALAHAN USAHA TANI DI KAWASAN MEGABIODIVERSITAS TROPIKA BASAH

II. PERMASALAHAN USAHA TANI DI KAWASAN MEGABIODIVERSITAS TROPIKA BASAH 5 II. PERMASALAHAN USAHA TANI DI KAWASAN MEGABIODIVERSITAS TROPIKA BASAH 2.1. Karakteristik tanah tropika basah Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas di kawasan tropika basah, tetapi

Lebih terperinci

Persyaratan Lahan. Lahan hendaknya merupakan bekas tanaman lain atau lahan yang diberakan. Lahan dapat bekas tanaman padi tetapi varietas yang

Persyaratan Lahan. Lahan hendaknya merupakan bekas tanaman lain atau lahan yang diberakan. Lahan dapat bekas tanaman padi tetapi varietas yang PRODUKSI BENIH PADI Persyaratan Lahan Lahan hendaknya merupakan bekas tanaman lain atau lahan yang diberakan. Lahan dapat bekas tanaman padi tetapi varietas yang ditanam sama, jika lahan bekas varietas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sampah Sampah merupakan zat- zat atau benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi, baik berupa bahan buangan yang berasal dari rumah tangga maupun dari pabrik sebagai sisa industri

Lebih terperinci

Definisi II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Mutu

Definisi II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Mutu II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Mutu 2.1.1. Definisi Sebuah perusahaan akan berfokus pada bagaimana memberikan kepuasan kepada para pelanggannya, dimana hal tersebut hanya didapatkan apabila perusahaan

Lebih terperinci

BUPATI KARANGANYAR PERATURAN BUPATI KARANGANYAR NOMOR 13 TAHUN 2012

BUPATI KARANGANYAR PERATURAN BUPATI KARANGANYAR NOMOR 13 TAHUN 2012 BUPATI KARANGANYAR PERATURAN BUPATI KARANGANYAR NOMOR 13 TAHUN 2012 T E N T A N G ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. atau jamu. Selain itu cabai juga memiliki kandungan gizi yang cukup

I. PENDAHULUAN. atau jamu. Selain itu cabai juga memiliki kandungan gizi yang cukup I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu jenis sayuran penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah tropika seperti di Indonesia.

Lebih terperinci