DAKWAH DALAM KOMUNIKASI. 1. Apa definisi dakwah yang komprehensif dan aktual menurut Anda?

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DAKWAH DALAM KOMUNIKASI. 1. Apa definisi dakwah yang komprehensif dan aktual menurut Anda?"

Transkripsi

1 DAKWAH DALAM KOMUNIKASI 1. Apa definisi dakwah yang komprehensif dan aktual menurut Anda? Definisi dakwah menurut saya adalah: berusaha mengajak manusia untuk sama-sama membangun dunia ini dengan penuh kedamaian (salam), keadilan, cinta, kasih, etika dan akhlak yang luhur, demi mencapai masyarakat berkeadaban yang hormat menghormati satu sama lain, mengedepankan musyawarah (deliberasi), di atas sunnatullah melalui empat tingkatan (level): 1. Menyampaikan (tabligh) pesan Islam dengan bahasa yang mudah dicerna, sebagaimana firman Allah (QS 36:17): Tiadalah bagi kita kecuali menyampaikan dakwah dengan jelas (Wa maa alayna illa al-balagh al-mubin). Namun, soal pemahaman mengenai apa yang disampaikan terpulang kepada penerima. Islam kan soal hidayah! Dalam ayat lain (QS 88:21): Fadzakkir innama anta mudzakkir, lasta alayhim bi musaitir (Beri ingatlah, karena engkau hanyalah sebagai pemberi ingat, engkau takkan mampu menentukan); ayat lain (QS 87:9): Fadzakkir innafa at al-dzikra, saya al-dzakkaru man yakhsya (beri ingatlah, hanya yang sadar akan manfaat akan peringatan itu yang ingat, dan orang yang takut saja yang sadar). 2. Perubahan (taghyir), yakni pelaku dakwah berusaha untuk mengubah suatu kondisi seseorang atau masyarakat ke kondisi yang lebih baik. Namun, soal perubahan itu juga tergantung pada penerima dakwah, karena ini soal pilihan seseorang, yakni berkaitan dengan diri atau jiwa (nafs), sebagaimana firman Allah (QS 9: Allah tidak akan mengubah nasib satu kaum kecuali bila kaum itu mengubah apa yang ada pada diri/jiwa mereka (Innallaha la yughayyiru maa biqawmin hatta yughayyiru maa bianfusihim); 3. Peningkatan dan kemajuan (progress) seseorang atau umat, atau lebih tepat lagi soal pembangunan kemanusiaan (human development), kualitas hidup yang cerdas, tercerahkan, dan teremansipasi. Hal ini berkaitan dengan amar ma ruf nahy munkar, sebagaimana firman Allah swt: Kuntum khaira ummat ukhrijat linnas ta muruna bi al-ma ruf wa tanhawna an al-munkar (Kalian adalah umat terbaik yang tampil di depan manusia dengan memerintahkan yang baik dan melarang yang buruk). Atau di ayat lain: waltakun minkum ummatun yad una ila al-khairi wa ya muruna bi al-ma ruf wa yanhawna an al-munkar (Hendaklah kalian menjadi umat yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma ruf dan melarang yang mungkar). 4. Etika dan tatasusila. Hal ini berkaitan dengan akhlaq. Pelaku dakwah dan siapa saja tidak boleh melakukan hasutan, cemoohan, ghibah, sebagaimana firman Allah: la tajassasu wala tahassasu, ayuhibbu ahadukum an ya kula lahma akhihi mayitan, fakarihtumuhu (Janganlah kamu mencaci maki dan menghasut orang lain; maukah kamu memakan bangkai saudaramu yang sudah meninggal? Tentu saja kamu jijik). Jadi jangan membuat gosip. Dengan demikian, melihat keempat tingkat ini, dakwah tidak selalu dikatakan sukses hanya apabila berhasil mengubah orang. Untuk tahapan pertama ya cukup dengan menyampaikan. Soal diterima tidaknya sebuah pesan dakwah bukan urusan da i. Tapi seorang da i hendaklah berusaha membuat penyampaiannya terang, jelas, dan mudah dicerna. Ibarat computer, ini baru pentium satu. Pentium empat apabila dakwah itu sudah sampai pada tingkat kemampuan untuk menciptakan umat yang etis, kreatif, inovatif, beradab (civilized), dan berakhlak mulia dalam sebuah komunitas, negara, bangsa, atau masyarakat dunia yang madani (civil society).

2 2. Tiap agama mempunyai syiar dakwah, dengan istilah yang berbeda, apa keistimewaan dakwah Islam? Betul. Dalam Kristen umpamanya ada missionary atau zending. Bahkan dalam bahasa Inggris ada istilah propagation (propaganda), proselytization (bujukrayu agar mengubah agama orang lain), dan bahkan ada menyebutnya sebagai conversion (penggatian agama). Nah, keistimewaan Islam itu ada pada makna dakwah itu sendiri, yaitu mengajak. Sekalipun ada dalam al-qur an yang menyebutkan ajakan (dakwah) syaithan ke neraka, tetapi dakwah dalam konteks ilmu komunikasi Islam adalah dakwah kepada Allah swt, yaitu kepada kebenaran, keadilan, akhlak mulia, menghargai manusia, dengan cinta dan kasih, melalui musyawarah, tidak memaksakan kehendak, termasuk tidak memaksakan agar agama Islam diterima oleh penerima dakwah (mad u). Firman Allah jelas sekali: La ikraha fi al-din (Tidak ada paksaan dalam agama). Tugas da i adalah menyampaikan, namun soal penerimaan, pemahaman, perubahan, pengembangan/pembangunan/peningkatan kualitas hidup dan akhlak, semuanya terpulang pada individu masing-masing (nafs). Dakwah Islam tentunya menginginkan agar syiar Islam itu diterima orang, tetapi ciri khas dakwah Islam adalah tidak bisa dilakukan dengan paksaan (coercion), tetapi penuh dengan kedamaian (peace), stabilitas (stability), keamanan (safety), keselamatan (security), dan kenyamanan (cofort), sebagaimana makna Islam itu sendiri. 3. Dalam Islam, objek dakwah dibedakan antara ummat ad-dakwah dan ummat al-ijabah, bisa jelaskan? Ummat ad-dakwah bermakna objek dakwah yang belum mengenal Islam, bahkan mungkin belum mengenal kalau ada agama yang bernama Islam. Ya, katakanlah seperti sebagian penduduk di Papua, atau di hutan belantara Kalimantan. Bahkan di Amerika Utara sendiri, saya masih ingat sewaktu masih kuliah di S3 ilmu komunikasi di sana, saya heran ternyata ada mahasiswa yang tidak tahu tentang agama Islam. Dia hanya tahu agama Buddha, Hindu, dan tentunya Kristen dan Yahudi, padahal dia adalah mahasiswa program doktor (PhD) ilmu komunikasi. Ini terjadi sebelum peristiwa 9/11. Dia tahu bahwa ada agama Arab, tetapi konotasinya buruk dan jelak sekali, dengan label bengis, kejam, kotor, merendahkan perempuan, kawin mawin, poligami, tunduk tanpa kritis. Jadi, baginya ini bukanlah agama, karena masak sebuah agama mengajarkan keburukan, pembunuhan, dan menakut-nakuti orang lain dengan ancaman-ancaman (teroris). Jadi dia tidak tahu tentang Islam. Lalu saya ceriterakan apa Islam itu: sejarahnya, nabinya, kitabnya, rukun imannya dan rukun agamanya, dll. Nah, umat seperti inilah yang disebut dengan ummat al-dakwah. Artinya tugas da ilah menyampaikan ajaran Islam kepada mereka. Sedangkan ummat al-ijabah artinya umat yang sudah menerima Islam, atau paling tidak sudah mengenal Islam. Namun pemahamannya memerlukan peningkatan. Ini pun bertahap dan bertingkat-tingkat. Karena ada tingkat keimanannya sudah mendalam, dibuktikan dengan pengamalan rukun Islam, dan percaya pada rukun iman, namun masih juga terbatas pengetahuan agamanya, mereka hanya tahu soal garis-garis besarnya saja, seperti halal dan

3 haram. Ada juga yang sudah mendalam ilmunya, karena mungkin dia adalah alumni pondok pesantren, bahkan sudah belajar di lembaga atau perguruan Islam di Indonesia, atau sampai ke negeri Arab, atau minimal autodidak. Inilah yang bisa berfungsi sebagai da i atau mubaligh. Namun mereka juga masih memerlukan diskusi dan sharing dengan santri/sarjana lain, karena ilmu itu kan berlebih dan berkurang antara satu orang dengan orang lain. Kemudian ada juga yang melaksanakan salah satu sisi dari ajaran Islam, seperti tasawuf/mistik atau filsafatnya saja, atau bahkan aliran tertentu, yang kadang-kadang berbeda dari mainstream, sehingga mereka disebut sebagai kurang mengamalkan ajaran Islam. Mereka juga masih tetap dalam ketegori ummat al-ijabah. Namun, tentu saja dalam mendakwahi mereka, seorang da i tetap dengan cara persuasi, hikmah, analogi, dan argumentasi yang terbaik. 4. Lalu, bagaimana menerapkannya dalam konteks ke-indonesiaan? Untuk konteks Indonesia, seorang da i harus melihat objek dakwah itu sendiri. Apakah mereka masuk kategori belum mengenal Islam sama sekali, atau sudah tahu tapi masih perlu penjelasan. Kalau masuk kategori ini, maka seorang da i harus dengan cara penyampaian ajaran Islam yang elementer saja. Ya itu tadi, dakwahnya seharusnya melalui Pentium satu. Jangan langsung Pentium 4, dst. Mulailah dengan soal: siapa Pencipta alam ini? Siapa Pengatur alam ini? Kasih logika: apakah alam ini tercipta dengan sendirinya atau ada yang menciptakan? Kenapa koq demikian teratur ya, dan ada hukum-hukum alamnya masing-masing? Jadi dengan prtanyaanpertanyaan dulu baru jawaban-jawabannya. Kalau di daerah yang belum ada pendidikan formal, ya mulailah dengan contoh dan analogi keteraturan air yang mengalir, tanaman yang tumbuh, api yang menyala, gunung dan hutan nan lebat dan indah, dst. Untuk masyarakat yang sudah beragama, kita tidak boleh mencoba memengaruhinya dengan bujukrayu agar masuk ke agama Islam, kecuali bila mereka bertanya tentang ajaran Islam, maka seorang da i mendapat kesempatan untuk menjelaskan ajaran Islam dengan penuh hikmah dan pengetahuan dengan arif dan bijaksana. Bila mereka meminta nasihat (mau izah), maka berikanlah yang baik, yang rasional, dan masuk akal. Bila mereka mendebat, maka debatlah dengan cara yang terbaik, dengan argumentasi logis, penuh data dan informasi yang lengkap. Apabila berhadapan dengan kaum awam (abangan), maka mulailah menanyakan apa yang diketahuinya tentang Islam. Bisa dengan rukun iman dulu, kalau sudah mantap, barulah rukun Islam. Kalau mereka bisa membaca, tawarilah buku bacaan yang sederhana dulu. Jangan mulai dengan yang berat-berat. Bila berhadapan dengan pengikut aliran mistik, tanyakan apa yang mereka ketahui tentang tasawuf dalam Islam. Dengarkan dulu! Kalau perlu lakukan pendekatan partisipatori dengan mengikuti aliran tarikat itu. Kalau berjumpa dengan aliran sempalan, maka lakukanlah dengan cara mujadalah (argumentasi) yang terbaik, dengan buku-buku rujukan yang standar. Tunjukkan kelemahan buku-buku pegangan mereka dengan santun, dengan kata-kata yang tidak menyakiti hati. Kalau berjumpa dengan aliran keras maka, jelaskanlah makna jihad dari versi yang berbeda, sejarah Nabi SAW yang tidak pernah berperang kecuali bila diperangi lebih dahulu, atau karena dilarang melakukan ibadah, dan dipaksa keluar dari negerinya, dan dakwahnya dihalang-halangi. Untuk konteks Indonesia, semua syarat perang ini tidak ada yang masuk kategori. Orang

4 Indonesia masih bebas beribadah, bahkan difasilitasi dengan rumah ibadah, lembaga zakat, infaq dan shadaqah, sekolah agama, dan manajemen haji, dll. Tidak ada yang dipaksa keluar dari negera Indonesia, semuanya diberikan KTP dan kartu keluarga dan kebutuhan sebagai warga Negara. Setiap muslim tidak dilarang malakukan dakwah internal atau eksternal, sepanjang tidak memengaruhi secara sengaja dengan bujukrayu orang yang sudah memeluk suatu agama tertentu. 5. Menurut Anda, apa saja problematika dakwah masa kini dan faktornya? Problematika dakwah masa kini adalah kurangnya perspektif lokalitas dan globalitas. Media komunikasi belum dioptimalkan. Dai terlalu terfokus pada dakwah nasional yang sentralistik, sehingga aspek lokal dan globalnya missing. Dakwah seharusnya bisa mengembangkan prinsip etnikalitas. Indonesia terdiri atas suku bangsa yang beragam, kita lebih dari 400 bahasa yang berbeda, dan lebih dari 800 logat dan dialek yang berbeda. Unsur kedaerahan tidak boleh kita lupakan dan napikan. Orang Kristen di bawah SIL di Indonesia telah melihat celah ini dalam dakwahnya. Mereka telah melatih 600 misionari untuk menerjemahkan Injil ke dalam bahasa daerah. Seharusnya orang Islam juga melakukan hal yang sama: menerjemahkan al-qur an ke dalam bahsa daerah, tidak bisa serba bahasa Indonesia. Bahasa lokal telah membentuk watak lokalitas Indonesia ratusan bahkan ribuan tahun, sedangkan bahasa Indonesia baru delapan winduan. Berikutnya, dakwah kita kurang flavor globalnya. Bahkan ada kecenderungan sebagian pesan dakwah Islam anti globalisasi. Padahal, Islam sebetulnya adalah agama global. Islam adalah untuk rahmatan lil alamin (wa ma arsalnaka illa rahmatan li al-alamin). Bukanlah dikatakan baik apabila menghadapkan wajah ke timur atau ke barat, tetapi kebaikan adalah percaya kepada Allah dan hari akhir (Laysa al-birra, man tuwallu wujuhakum qibala al-masyriq wa al-maghrib. Walakinna al-birra man amana bi Allah wa al-yawm al-akhir). Jadi perspektif Islam adalah lebih dari pada sekedar timur dan barat tetapi ke seluruh alam ini, langit dan bumi, bahkan sampai akhirat. Dengan demikian dakwah Islam sepeeti ini lebih luas dan lebih kontekstual. Jadi alangkah salahnya bila dakwah itu diarahkan kepada anti Barat. Seharusnya Barat itu ditaklukkan. Dakwah kita bukan hanya internal, tetapi eksternal juga. Kita harus mampu berkompetisi dengan mereka dalam kebaikan, seperti penemuan sains dan teknologi, sehingga merekalah yang membeli produk kita. Ini yang dilakukan oleh Jepang. Barat yang kemudian membeli produk Jepang yang ilmu membuatnya sebelumnya dipelajari dari Barat. Sebagian da i menekankan aspek kebencian kepada agama lain, sehingga ayat: Lan tardha anka al-yahudu wala al-nasara hatta tattabi a,millatahum, yang biasanya diartikan: tidak akan rela orang Yahudi dan Kristen hingga engkau umat Islam mengikuti agama mareka. Saya melihat, bahwa ayat ini sebetulnya kata kuncinya adalah di millah, yang bisa berarti gaya hidup (lifestyle). Artinya, Tuhan memang benar bahwa ke dua golongan ini tidak rela hingga umat Islam mengikuti lifestyle mereka, tapi maksudnya, menurut saya, adalah: bahwa umat Islam ditantang oleh Tuhan agar mereka juga tidak akan rela hingga ke dua golongan ini mengikuti lifestyle umat Islam. Dengan demikian, aspek kompetisinyalah yang ditekankan di sini, bukan aspek

5 kebenciannya. Bila kebenciannya yang diutamakan, maka akibatnya, sebagian umat Islam alergi dengan barat, padahal mereka sangat senang dengan hasil teknologinya: kendaraannya, peralatan rumah tangganya, fasilitas hidupnya, yang semuanya berkaitan dengan gaya hidupnya, termasuk bahasanya. Mereka tidak tergugah untuk menciptakan sains dan teknologi dan media komunikasi baru yang layak pasar, yang pada gilirannya Baratlah yang tertarik membelinya. Alih-alih, umat Islam harus puas menjadi konsumen yang patuh dan tunduk dan terkesima dengan produk Barat. Jadi ada standard ganda juga. Inilah problematika dakwah kita. 6. Al-Maududi menyebutkan seorang da i harus berilmu, sejauh manakah urgensi ilmu dalam berdakwah. Benar kata al-maududi itu. Ilmu itu penting untuk dapat memberikan informasi kepada orang lain (mad u). Memang hadits Nabi saw mengatakan, balighu anni walaw ayah (sampaikanlah daripada ajaran Islam sekalipun hanya satu ayat. Maksudnya, tentunya, bukan hanya tahu satu ayat saja terus menerus. Tetapi maksudnya adalah, kalau berdakwah hendaklah dilakukan secara bertahap. Ya hari ini satu dulu, besok baru dua, lusa tiga, dst. Lebih jauh lagi, seorang da i perlu ilmu pokok dan ilmu bantu. Ilmu pokok adalah materi dakwah, seperti kandungan al- Qur an dan al-hadits, dengan mempelajari maknanya, dan memperkayanya dengan pendapat para ahli baik Timur maupun Barat. Bukan sekedar tilawah belaka, tanpa tahu maknanya. Ilmu bantu adalah ilmu alat seperti ilmu sosial, humaniora, ilmu pendidikan, hukum, filsafat, ilmu komunikasi, psikologi, sosial politik, kedokteran, fisika, matematika, kimia, logika, biologi, astronomi, geologi, dst. Dengan demikian seorang da i tidak mengenal dengan apa yang disebut dengan dikotomi ilmu pengetahuan. Integrasi ilmu-ilmu spiritualitas dengan ilmu-ilmu materialitas sangat diperlukan di dunia yang makin kompleks dan digital ini. Seorang da i perlu belajar teknologi komunikasi, sehinga tidak gatek (gagap teknlogi). Mereka cekatan dalam melakukan dakwah di dunia maya. Mereka harus menguasai ilmu informatika, teknik computer, dan desain grafis. Mereka tahu dunia periklanan, perfilman, penyiaran, strategi komunikasi, komunkasi antar budaya, komunikasi internasional, public relation (humas), dan pendekatan public speaking (khitabah) yang kontekstual. 7. Tanpa kematangan ilmu, apa akibatnya bagi dakwah itu sendiri? Akibatnya adalah adanya ketidakmatangan dalam suguhan dakwah itu sendiri. Bahkan bisa melahirkan arus balik atau boomerang effect. Orang yang didakwahi malah lari terpingkalpingkal, mereka alergi dengan Islam dan Muslim. Apalagi bila dilakukan dengan kebencian, kekerasan, kebengisan, pembunuhan dengan cara masif, seperti bom bunuh diri. Orang akan semakin tidak simpati. Orang akan menghindar jauh. Padahal Al-Qur an sudah mengajarkan bahwa: Apabila kamu melakukan dakwa dengan cara kekerasan, maka niscaya objek dakwah akan lari terbirit-birit (walaw kunta fazzan ghaliza al-qalbi, lan faddlu min hawlika). Selain itu, tanpa kematangan ilmu, hasil dakwah juga kurang lengkap. Apabila dakwahnya tetap di Pentium satu, maka jangan harapkan akan memahami Pentium empat, dst. Di beberapa

6 daerah di Indonesia, ada temuan mengapa ada kelompok umat yang pemahaman dan pengamalan keislamannya hanya parsial saja, tidak lengkap, tidak total. Ternyata ditengarai penyebabnya karena da inya pergi sebelum memasuki tingkatan berikutnya, akibatnya pengikutnya hanya tahu soal ketuhanan saja, tanpa aspek fiqih. Aliran Tolotang dan Ammatoa, mungkin salah satu contoh yang sering diangkat oleh peneliti antropologi di Sul-Sel. Di banyak daerah juga ditemukan hal serupa. Ada di Jawa, ada di Kamboja dan Vietnam. Orang Muslim Champa menyebutnya dengan Islam jaht (zahid), yang hanya shalat sekali seminggu, di hari Juma at saja, itupun hanya golongan tertentu saja yang shalat dengan bacaan dan tatacara yang salah. 8. Beragam aliran dalam Islam, masing-masing mempunyai perspektif dan metode dakwah sesuai ideologinya, positif atau negatifkah menurut Anda? Bila kita berbicara soal kebaragaman atau pluralitas, tentu bisa dikatakan positif. Karena hal ini akan menambah khazanah kekayaan perspektif dan metode dakwah Islam. Mereka akan melahirkan kompetisi sehat dalam berdakwah. Fastabiqu al-khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan!). Namun tergantung dari alirannya. Kalau alirannya masih dalam mainstream Islam, maka hasilnya akan positif. Akan terjadi sinergi yang kuat satu sama lain. Contohnya di negeri kita antara Nahdlatul ulama dengan uhammadiyah, dan al-irsyad, al-wasliyah, dst. Namun, kalau alirannya keluar dari mainstream (arus utama) Islam, tentu akan dipertanyakan oleh yang mainstream, dan melahirkan perdebatan, yang tak jarang sengit dan panas tanpa akhir, bahkan melahirkan percekcokan dan perkelahian fisik dan kerusuhan serta konflik yang berkepanjangan. Kalau Negara kemudian tidak tegas menengahi masalah ini, maka akan melahirkan korban yang banyak. 9. Lantas perlukah semacam standardisasi dakwah berdasarkan pokok-pokok ajaran Islam? Ya, tentu sangat diperlukan. Dan inilah yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI selama ini. Sekolah-sekolah dan perguruan serta lembaga agama juga saya kira pada umunya telah melakukan pendidikan agama dan dakwah yang sifatnya standar mainstream. Sehingga bila ada yang keluar dari mainstream ini, masyarakat sendiri yang segera mengenalinya. Namun, karena pendekatan dari setiap aliran rasional bagi orang tertentu, maka tentu ada saja yang simpatik dan tertarik. Awalnya mungkin reaktif, tetapi lama kelamaan kalau intensif, apalagi dengan pendekatan kekeluargaan, bujukrayu, materi, fasilitas, akhirnya seseorang akan tertarik. Ya di sinilah perlunya kreativitas baru dalam berdakwah, kemasan dakwah harus selalu diperbaharui, sehingga bisa melakukan pencerahan terhadap golongan atau aliran baru yang tidak mainstream. Peran media komunikasi perlu digalakkan. Diskusi dan mujadalah dengan argumentasi rasional didahukukan.

7 10. Dakwah di Indonesia belum tersistematis dan terorganisir. Dakwah masih dilakukukan secara sporadis menurut Anda? Kalau kita lihat di lembaga-lembaga keislaman, seperti di pondok pesantren, sekolah-sekolah dan perguruan Islam, dan majelis taklim, sebenarnya sudah terorganisir. Namun, bila kita tinjau dari segi teknologi informasi dan komunikasi dan telekomunikasi, umat Islam masih ketinggalan. Dunia maya masih belum banyak tersentuh secara proporsional. Sebagian masih belum akrab dengan dunia ini. Masih sibuk dengan dunia konvensional dan tradisional. Kiranya pendekatan Harold Lasswell yang mengatakan: who says what which channel to whom and with what effect yang berarti: siapa mengatakan apa melalui apa, dan kepada siapa serta bagaimana pengaruhnya, belum begitu dijabarkan secara sistematis, dan masih sporadis. Who says artinya siapa yang berdakwah, maksudnya da inya seperti apa? Bagaimana latar belakangnya? Apakah dia seorang ahli agama, atau hanya semacam da i fenomenal belaka, sehingga tidak solid, dan centang perenang. What artinya apa materi dakwahnya? Apakah semata-mata soal fiqih atau rukun Islam dan iman saja, atau sudah mencoba ranah pengembangan kemanusiaan sehingga sudah menyentuh soal sains dan teknologi. Ilmu-ilmu bantu tadi perlu dimanfaatkan. To whom artinya siapa audiensnya? Seorang da i harus tahu siapa objek (mad u) dakwahnya. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, objek dakwah itu bertingkat-tingkat. Jadi perlu pengembangan pendidikan luar sekolah yang akrab dengan teknologi, dan pendidikan non-formal yang berdasarkan kurikulum kontekstual dan strategi mengajar yang berdasarkan teknologi dan komptensi. Di sinilah pentingnya pembinaan majelis taklim dan pengajian agar mempunyai kurikulum. Mungkin satu saat da i dan majelis taklim juga perlu asesor dan sertfikasi. Which channel, atinya salurannya apa, medianya apa? Dalam hal ini, E-learning perlu dikembangkan. Selain itu dakwah melaui media massa tetap harus diteruskan dan dikembangkan. Republika, ayo teruskan model selama ini! Media elektronik dan media baru haruslah menjadi barang jinak dan bukan barang asing di rumah-rumah da i dan mad u. Sering saya katakan, bahwa media baru perkembangannya baru saja 20 tahun terakhir ini, tetapi bagaimana dengan 20 tahun berikutnya dan 20 tahun berikutnya lagi dst? Manusia akan menyaksikan perkembangan yang luar biasa dalam hal channel atau saluran/media komunikasi manusia. Sekarang ini sudah ada media yang bisa menulusuri ke mana seseorang itu pernah berada selama 20 tahun terakhir ini, (phone tracking where you have been). Ke depan orang dapat mengetahui apa yang kita makan di rumah kita, apa yang ada dalam laci dan tempat tidur kita. Oleh karena itu, da i haruslah segera menaklukkan media untuk dakwah. 11. Lantas sejauhmanakah urgensi peta dakwah yang konon perumusannya tak kunjung selesai? Peta dakwah itu memang penting. Kita dapat mengetahui kluster-kluster masyarakat yang bertingkat-tingkat itu. Data tentang kategori satu, dua, tiga, dan empat di atas perlu dimapping (dipetakan), sehingga strategi dakwah lebih jitu, cepat, dan mengenai sasaran. Perumusannya tak kunjung selesai karena kita tidak mengusai teknologi informasi dan komonikasi. 12. Bagaimana prospek dakwah ke depan di tengah arus liberalisasi dan radikalisasi agama?

8 Prosepeknya bisa positif dan negatif. Positif apabila nanti bisa melahirkan filsafat ilmu Islam yang semakin mendalam melebihi Barat, asalkan berdasarkan atas kajian al-qur an dan al- Sunnah, seperti yang telah dilakukan oleh filosof Muslim awal seperti al-kindi, Ibnu Sina, Ibn Thufail, Ibn Bajjah, Al-Razi, Ibn Khaldun, al-ghazali, Ibn Rusyd, dll. Mereka berawal dari kebebasan berfikir untuk menemukan kebenaran. Mereka tidak alergi Barat, bahkan mereka mempelajari ilmu Barat (Yunani) dan Timur (Persia/India). Namun, bisa saja negatif bila tidak tuntas, apalagi bila Negara tidak turut campur menengahi dan memfasilitasi kebebasan berpikir ini. Filosof Muslim di atas mungkin tidak lahir seandainya tidak ada intervensi Negara oleh khalifah Harun al-rasyid dan terutama al-makmun, yang mendirikan Bayt al-hikmah, semacam perpustakaan dan lembaga riset dengan sarana laboratorium yang baik yang didukung oleh dana yang kuat. Bila tidak, maka bisa saja tidak tuntas dan melahirkan percekcokan, perkelahian, dan permusuhan yang berkepanjangan. Begitu juga soal radikalisasi agama. Bisa saja negatif dan positif. Positif apabila bisa melahirkan teologi yang mencerahkan manusia. Ya semacam teologi pembebasan di Amerika Latin. Dalam sejarah Islam, lahirnya teologi yang beragam, yang sekaligus melahirkan kematangan dalam ilmu teologi karena didahului oleh aliran politik radikal seperti Khawarij. Kemudian mereka berbincang soal dosa besar dan kecil, soal surga dan neraka, soal ketuhanan dan ciptaan, dst. Akhirnya lahirlah Murjiah, Asy ariayah, Maturidiyah, Mu tazilah, Sunni dan Syiah. Khawarij dan Murjiah kemudian kurang berkembang, kendati unsur-unsurnya bisa saja muncul, ya barangkali ada hikmah di balik itu: untuk melahirkan penyegaran-penyegaran teologis dalam Islam, sehingga semakin melahirkan pencerahan. Negatifnya adalah, seperti liberalisasi tadi, apabila negara tidak mengawasi dan memfasilitasi diskusi yang mendahukukan hati dan otak yang dingin dan sejuk, akibatnya bisa salah asuhan. Radikalisasi muncul karena banyak faktor: kurang referensi bacaan, kurang fasilitas riset dan pengembangan (R & D), kurang kontrol. Konsekwensinya, bacaan hanya satu versi saja, dialog ilmu pengetahuan mandeg karena hanya monolog internal pada satu guru dan satu lembaga, dan satu referensi bacaan saja. Makna yang diajarkan hanya satu. Pemaknaan agama yang kontekstual kurang berkembang. Andi Faisal Bakti adalah Guru Besar dalam Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta, dan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Unversitas Pancasila, Jakarta; Direktur Pusat Pengkajian Media dan Komunikasi (P2KM), Direktur Center for Cross-cultural Communicaltion and Human Relations in Actions (C3 Huria), Jakarta.

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan laporan hasil penelitian yang diuraikan pada BAB IV terlebih di

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan laporan hasil penelitian yang diuraikan pada BAB IV terlebih di BAB V PEMBAHASAN A. Analisis Data Berdasarkan laporan hasil penelitian yang diuraikan pada BAB IV terlebih di atas dapat diketahui dengan jelas gambaran tentang program dan peran MUI Kabupaten HSS dalam

Lebih terperinci

Kewajiban berdakwah. Dalil Kewajiban Dakwah

Kewajiban berdakwah. Dalil Kewajiban Dakwah Kewajiban berdakwah Dalil Kewajiban Dakwah Sahabat, pada dasarnya setiap Muslim dan Muslimah diwajibkan untuk mendakwahkan Islam kepada orang lain, baik Muslim maupun Non Muslim. Ketentuan semacam ini

Lebih terperinci

Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. [Q.S. 6 : 116]

Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. [Q.S. 6 : 116] Untuk selamat dari siksa neraka, mungkin adalah suatu yang sangat mustahil bagi kita karena memang Mayoritas manusia memang tersesat.dalam Al-Qur an sendiri sudah menegaskan hal itu. Jika kamu mengikuti

Lebih terperinci

Dr. Zakir Naik Menerima Tantangan Seorang Ateis

Dr. Zakir Naik Menerima Tantangan Seorang Ateis Dr. Menerima Tantangan Seorang Ateis Ateis : Selamat pagi Pak, namaku adalah James Isthamani. Pertama-tama, aku ingin berterima kasih terhadap yang kau lakukan di sini, hal ini membutuhkan kerja keras,

Lebih terperinci

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????. Bahaya Menggunjing Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

KRITIK PENDAPAT ULAMA KALAM TENTANG ALIRAN MURJI AH. Disusun Guna Memenuhi Tugas. Mata kuliah : Ilmu Tauhid. Dosen Pengampu : Drs.

KRITIK PENDAPAT ULAMA KALAM TENTANG ALIRAN MURJI AH. Disusun Guna Memenuhi Tugas. Mata kuliah : Ilmu Tauhid. Dosen Pengampu : Drs. KRITIK PENDAPAT ULAMA KALAM TENTANG ALIRAN MURJI AH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata kuliah : Ilmu Tauhid Dosen Pengampu : Drs. Ghofir Romas Disusun oleh: Shafira Caesar Savitri ( 1501016001 ) Rohmatul

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; Eksistensi spiritualitas guru dalam

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; Eksistensi spiritualitas guru dalam 204 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; Eksistensi spiritualitas guru dalam perspektif pendidikan Islam adalah aktualisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada periode modern, mengalami pasang surut antara kemajuan

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada periode modern, mengalami pasang surut antara kemajuan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perjalanan umat Islam dari periode Nabi Muhammad Saw. diutus sampai pada periode modern, mengalami pasang surut antara kemajuan dan kemunduran yang dialami

Lebih terperinci

ANCAMAN LINTAS AGAMA DAN IDEOLOGI MELALUI BOM DI TEMPAT LAHIRNYA PANCASILA

ANCAMAN LINTAS AGAMA DAN IDEOLOGI MELALUI BOM DI TEMPAT LAHIRNYA PANCASILA ANCAMAN LINTAS AGAMA DAN IDEOLOGI MELALUI BOM DI TEMPAT LAHIRNYA PANCASILA A. Abstrak Negara Indonesia kian terancam karena efek pemikiran ideologi orang luar yang ditelan mentah-mentah tanpa adanya suatu

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Bab I Pendahuluan. 10. Bab II Pengertian Manhaj Salaf Ahlussunnah wal Jama ah Salaf.. 19

DAFTAR ISI. Bab I Pendahuluan. 10. Bab II Pengertian Manhaj Salaf Ahlussunnah wal Jama ah Salaf.. 19 DAFTAR ISI Daftar Isi.. 5 Kata Pengantar... 7 Bab I Pendahuluan. 10 Bab II Pengertian Manhaj Salaf... 15 2.1. Ahlussunnah wal Jama ah.... 15 2.2. Salaf.. 19 Bab III Salafi dan Wahabisme.. 22 3.1. Sejarah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ghoirumahdloh (horizontal). Sebagaimana firman Allah swt berikut:

BAB I PENDAHULUAN. ghoirumahdloh (horizontal). Sebagaimana firman Allah swt berikut: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Islam merupakan ajaran yang diberikan kepada manusia untuk dijadikan dasar dan pedoman hidup di dunia. Ajaran ini diturunkan untuk dilaksanakan di tengah-tengah kehidupan

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR PROGRAM PAKET C

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR PROGRAM PAKET C Lampiran 3 STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR PROGRAM PAKET C 01. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membawa kemaslahatan bagi umat manusia (rahmat lil alamin), baik di dunia

BAB I PENDAHULUAN. membawa kemaslahatan bagi umat manusia (rahmat lil alamin), baik di dunia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alquran adalah kalam Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dalam bahasa Arab guna menjelaskan jalan hidup yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia

Lebih terperinci

PANCASILA SEBAGAI DASAR NILAI PENGEMBAGANGAN ILMU

PANCASILA SEBAGAI DASAR NILAI PENGEMBAGANGAN ILMU PANCASILA SEBAGAI DASAR NILAI PENGEMBAGANGAN ILMU Modul ke: 10 Udjiani Fakultas EKONOMI DAN BISNIS A. Nilai Ketuhanan Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu B. Nilai Kemanusiaan Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. dalam penelitian novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B.

BAB V PENUTUP. dalam penelitian novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B. BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya, hasil temuan penulis dalam penelitian novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B. Anggoro yaitu berupa makna pesan dakwah

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan 1. Secara Umum Konsep pendidikan yang Islami menurut Mohammad Natsir menjelaskan bahwa asas pendidikan Islam adalah tauhid. Ajaran tauhid manifestasinya

Lebih terperinci

BAB IV PERANAN MAJELIS TAKLIM AL-HAQ WAL HAŻ DALAM MEMBINA MORAL REMAJA PONCOL

BAB IV PERANAN MAJELIS TAKLIM AL-HAQ WAL HAŻ DALAM MEMBINA MORAL REMAJA PONCOL BAB IV PERANAN MAJELIS TAKLIM AL-HAQ WAL HAŻ DALAM MEMBINA MORAL REMAJA PONCOL Setelah diperoleh data yang dibutuhkan, maka langkah selanjutnya adalah menganalisa semua data untuk menjawab pertanyaan yang

Lebih terperinci

TUGAS KITA SEBAGAI HAMBA ALLAH & UMMAT NABI. Tugas sebagai hamba ialah beribadah. QS 51. Adzariyat 56:

TUGAS KITA SEBAGAI HAMBA ALLAH & UMMAT NABI. Tugas sebagai hamba ialah beribadah. QS 51. Adzariyat 56: 1 TUGAS KITA SEBAGAI HAMBA ALLAH & UMMAT NABI Kita telah dan sering mengucapkan 2 kalimat Syahadat: La ilaha illallah dan Muhammadarrasulullah. Dengan dua kalimat yang mulia ini kita memiliki tugas sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan mempunyai peranan yang penting untuk perkembangan tersebut. Dengan

Lebih terperinci

PENGAJIAN PENCERAH LAZISMU & MAJELIS TABLIGH PDM SURABAYA

PENGAJIAN PENCERAH LAZISMU & MAJELIS TABLIGH PDM SURABAYA PENGAJIAN PENCERAH LAZISMU & MAJELIS TABLIGH PDM SURABAYA Minggu, 22-09-2013 page 1 / 5 page 2 / 5 Pengajian Pencerah di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya, ahad 22 September 2013 pk 07.30 WIB, bersama

Lebih terperinci

TALIM MADANI #12 IMAN KEPADA ALLAH (PERBEDAAN MALAIKAT DAN MANUSIA)

TALIM MADANI #12 IMAN KEPADA ALLAH (PERBEDAAN MALAIKAT DAN MANUSIA) TALIM MADANI #12 IMAN KEPADA ALLAH (PERBEDAAN MALAIKAT DAN MANUSIA) KAJIAN DALIL (AL-Qur an & Hadits) 30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai pribadi maupun bagian dari masyarakat serta memiliki nilai-nilai moral

BAB I PENDAHULUAN. sebagai pribadi maupun bagian dari masyarakat serta memiliki nilai-nilai moral BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia pada dasarnya adalah mengembangkan individu sebagai manusia. Sehingga dapat hidup optimal, baik sebagai pribadi

Lebih terperinci

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER Universitas Fakultas Program Studi : Universitas Negeri Jakarta : Teknik : Teknik Elektronika (D3) Mata Kuliah : Pendidikan Agama Islam Bobot SKS : 3 SKS Kode Mata Kuliah

Lebih terperinci

MASALAH PERBEDAAN PENDAPAT

MASALAH PERBEDAAN PENDAPAT MASALAH PERBEDAAN PENDAPAT Makalah Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Ilmu Tauhid Dosen Pengampu: Bapak Drs. A. GHOFIR ROMAS Disusun oleh: Duriatun Nadhifa (1601016057) Halimah Sya diah (1601016058)

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS. melupakan sisi non-formal dari pendidikan Islam itu sendiri. Tentu saja ini menjadi

BAB V ANALISIS. melupakan sisi non-formal dari pendidikan Islam itu sendiri. Tentu saja ini menjadi BAB V ANALISIS Adanya sekolah dan madrasah di tanah air sebagai institusi pendidikan Islam, hanyalah akan mempersempit pandangan kita tentang pendidikan Islam itu sendiri. Ini berarti, kita hanya mementingkan

Lebih terperinci

Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari Puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.

Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari Puasanya itu kecuali lapar dan dahaga. Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari Puasanya itu kecuali lapar dan dahaga. (Hadits Riwayat Turmudzi) Hampir setengah bulan sudah kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sejauh

Lebih terperinci

UKHUWAH ISLAMIYYAH Oleh : Agus Gustiwang Saputra

UKHUWAH ISLAMIYYAH Oleh : Agus Gustiwang Saputra UKHUWAH ISLAMIYYAH Oleh : Agus Gustiwang Saputra Hukum Ukhuwah Islamiyyah (Persaudaan sesama muslim) adalah : WAJIB dan TAFARRUQ (berpecah belah) adalah HARAM. Allah berfirman : Sesungguhnya orang-orang

Lebih terperinci

Mam MAKALAH ISLAM. Pernikahan Beda Agama Perspektif Undang-Undang Perkawinan

Mam MAKALAH ISLAM. Pernikahan Beda Agama Perspektif Undang-Undang Perkawinan Mam MAKALAH ISLAM Pernikahan Beda Agama Perspektif Undang-Undang Perkawinan 20 Oktober 2014 Makalah Islam Pernikahan Beda Agama Perspektif Undang-Undang Perkawinan H. Anwar Saadi (Kepala Subdit Kepenghuluan

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam Modul ke: Pendidikan Agama Islam Kesalehan Sosial Fakultas EKONOMI Dr. Saepudin S.Ag. M.Si. Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id PENGERTIAN KESALEHAN SOSIAL Kesalehan sosial adalah suatu perilaku

Lebih terperinci

Ibu Melahirkan Tidak Harus Mati (Mencegah Kematian Ibu Melahirkan) Musdah Mulia

Ibu Melahirkan Tidak Harus Mati (Mencegah Kematian Ibu Melahirkan) Musdah Mulia Ibu Melahirkan Tidak Harus Mati (Mencegah Kematian Ibu Melahirkan) Musdah Mulia Pendahuluan Ungkapan al-jannah tahta aqdam al-ummahat (surga di bawah telapak kaki ibu) sangat populer di telinga kita dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mereka yang belum beragama. Dakwah yang dimaksud adalah ajakan kepada

BAB I PENDAHULUAN. mereka yang belum beragama. Dakwah yang dimaksud adalah ajakan kepada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu ajaran Islam mewajibkan kepada setiap muslim untuk berdakwah yang ditujukan kepada seluruh manusia, baik muslim maupun kepada mereka yang belum beragama.

Lebih terperinci

SEMESTER II NO KODE MATA KULIAH Sks

SEMESTER II NO KODE MATA KULIAH Sks PENAWARAN MATA KULIAH FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN WALISONGO SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2015/2016 JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM (BPI) SEMESTER II NO KODE MATA KULIAH Sks 1 UIN-6204 Pendidikan

Lebih terperinci

Munakahat ZULKIFLI, MA

Munakahat ZULKIFLI, MA Munakahat ZULKIFLI, MA Perkawinan atau Pernikahan Menikah adalah salah satu perintah dalam agama. Salah satunya dijelaskan dalam surat An Nuur ayat 32 : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara

Lebih terperinci

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : :

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : : [ ] E٤٨٤ J٤٧٧ W F : : MENGHORMATI ORANG LAIN "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dari kami." Orang yang paling pantas dihormati dan dihargai

Lebih terperinci

Khutbah Jum'at. Memakmurkan Masjid. Bersama Dakwah 1

Khutbah Jum'at. Memakmurkan Masjid. Bersama Dakwah 1 Bersama Dakwah 1 KHUTBAH PERTAMA.. * Marilah kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah Azza wa Jalla. Taqwa yang juga menjadi wujud syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah dianugerahkannya

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. Universitas Indonesia Islam kultural..., Jamilludin Ali, FIB UI, 2010.

BAB VI PENUTUP. Universitas Indonesia Islam kultural..., Jamilludin Ali, FIB UI, 2010. BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Islam kultural dalam konsep Nurcholish Madjid tercermin dalam tiga tema pokok, yaitu sekularisasi, Islam Yes, Partai Islam No, dan tidak ada konsep Negara Islam atau apologi

Lebih terperinci

Sumber: Islam4Kids.com Berdasarkan Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Katsir

Sumber: Islam4Kids.com Berdasarkan Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Katsir Kisah Pembangunan Ka bah Sumber: Islam4Kids.com Berdasarkan Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir dan Tafsir Ibnu Katsir Alih Bahasa: Ummu Abdullah Desain Sampul: Ummu Zaidaan Disebarluaskan melalui: Maktabah

Lebih terperinci

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Modul ke: RADIKALISME ISLAM DI INDONESIA Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Drs. SUMARDI, M. Pd Program Studi AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id Pengertian Radikal Menurut KBBI radikal adalah

Lebih terperinci

Bulan Penuh Rahmat itu Telah Meninggalkan Kita. Written by Mudjia Rahardjo Friday, 15 November :41 -

Bulan Penuh Rahmat itu Telah Meninggalkan Kita. Written by Mudjia Rahardjo Friday, 15 November :41 - Sebuah bulan yang didambakan kehadirannya oleh setiap muslim, yakni bulan Ramadan 1432 H, telah meninggalkan kita dan insya Allah kikta akan bertemu lagi 11 bulan yang akan datang jika Allah memberi kita

Lebih terperinci

GUBERNUR SULAWESI TENGAH

GUBERNUR SULAWESI TENGAH GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN SELEKSI TILAWATIL QUR AN (STQ) KE-XXI TINGKAT PROPINSI SULAWESI TENGAH TAHUN 2011 DI KOTA PALU SENIN, 14 MARET 2011 ASSALAMU

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, Senin, 07 September 2009

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, Senin, 07 September 2009 Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, 07-9-09 Senin, 07 September 2009 Â SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Â PADA ACARA PERINGATAN NUZULUL QURAN 1430 H DI ISTANA BOGOR, JAWA BARAT,

Lebih terperinci

A: Sebagaimana kita telah rembuk kemarin malam, apakah akan dilanjutkan juga musyawarah kita ini?

A: Sebagaimana kita telah rembuk kemarin malam, apakah akan dilanjutkan juga musyawarah kita ini? MALAM KETIGA Yesus Adalah Utusan (Rasul) Tuhan A: Sebagaimana kita telah rembuk kemarin malam, apakah akan dilanjutkan juga musyawarah kita ini? B: Memang demikian, karena kedatangan kami kemari khususnya

Lebih terperinci

Menuju Pilkada Damai

Menuju Pilkada Damai Menuju Pilkada Damai Di Dki Jakarta Sahabat Muslim yang dimuliakan Allah, Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah dengan cara melaksanakan segala perintah dan menjauhi semua larangannya. Semoga

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL SURVEI SURVEI SYARIAH 2014 SEM Institute

RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL SURVEI SURVEI SYARIAH 2014 SEM Institute RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL SURVEI SURVEI SYARIAH 2014 SEM Institute LATAR BELAKANG Kongres Ummat Islam Indonesia (KUII) IV telah menegaskan bahwa syariat Islam adalah satu-satunya solusi bagi berbagai problematika

Lebih terperinci

3 Wasiat Agung Rasulullah

3 Wasiat Agung Rasulullah 3 Wasiat Agung Rasulullah Dalam keseharian kita, tidak disangsikan lagi, kita adalah orang-orang yang senantiasa berbuat dosa menzalimi diri kita sendiri, melanggar perintah Allah atau meninggalkan kewajiban

Lebih terperinci

MENGENAL ISLAM. Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM kelas PKK H. U. ADIL, SS., SHI., MH. Modul ke: Fakultas ILMU KOMPUTER

MENGENAL ISLAM. Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM kelas PKK H. U. ADIL, SS., SHI., MH. Modul ke: Fakultas ILMU KOMPUTER Modul ke: MENGENAL ISLAM Disampaikan pada perkuliahan PENDIDIKAN AGAMA ISLAM kelas PKK Fakultas ILMU KOMPUTER H. U. ADIL, SS., SHI., MH. Program Studi SISTEM INFORMASI www.mercubuana.ac.id Sumbangan Islam

Lebih terperinci

MEWUJUDKAN ISLAM BERKEMAJUAN YANG BERCORAK RAHMATAN LIL ALAMIN. Oleh: Dahnil Anzar Simanjuntak, SE., ME. (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah)

MEWUJUDKAN ISLAM BERKEMAJUAN YANG BERCORAK RAHMATAN LIL ALAMIN. Oleh: Dahnil Anzar Simanjuntak, SE., ME. (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah) MEWUJUDKAN ISLAM BERKEMAJUAN YANG BERCORAK RAHMATAN LIL ALAMIN Oleh: Dahnil Anzar Simanjuntak, SE., ME. (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah) disampaikan pada agenda kegiatan Baitul Arqom Pengurus ORMAWA

Lebih terperinci

Sumber Ajaran Islam. Informatika. DR. Rais Hidayat.

Sumber Ajaran Islam. Informatika. DR. Rais Hidayat. Sumber Ajaran Islam DR. Rais Hidayat Informatika www.mercubuana.ac.id Kompetensi Menjelaskan sumber-sumber ajaran Islam. Menguraikan Al-Qur an, As-Sunnah dan ijtihad sebagai sumber ajaran Islam. Memahami

Lebih terperinci

PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di

PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. I Hukum Islam telah ada dan berkembang seiring dengan keberadaan Islam itu sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan

Lebih terperinci

Tamadun Islam dan Tamadun Asia Edisi Kedua (TITAS) Bab 1: 1

Tamadun Islam dan Tamadun Asia Edisi Kedua (TITAS) Bab 1: 1 Bab 1: 1 BAB 1 PENGENALAN ILMU KETAMADUNAN Bab 1: 2 Hasil Pembelajaran Setelah mengikuti bab ini, pelajar dapat: Menjelaskan konsep dan ciri-ciri sebuah tamadun. Menerangkan hubungan tamadun dengan agama,

Lebih terperinci

Kata Mutiara Sebaik-baik orang adalah membaca Al-Qur an dan sekaligus mengamalkannya (H.R. Bukhari Muslim)

Kata Mutiara Sebaik-baik orang adalah membaca Al-Qur an dan sekaligus mengamalkannya (H.R. Bukhari Muslim) Kata Mutiara Sebaik-baik orang adalah membaca Al-Qur an dan sekaligus mengamalkannya (H.R. Bukhari Muslim) Hiasilah Rumahmu dengan sholat dan bacaan Al-Qur an (H.R. Muslim) Imam Ibnu Ath-Thoohiri PART

Lebih terperinci

Universitas Liberal Arts: Belajar Seni Apa? Wah, kamu kuliah di universitas liberal arts? Kamu belajar seni ya?

Universitas Liberal Arts: Belajar Seni Apa? Wah, kamu kuliah di universitas liberal arts? Kamu belajar seni ya? Universitas Liberal Arts: Belajar Seni Apa? Wah, kamu kuliah di universitas liberal arts? Kamu belajar seni ya? Itu adalah pertanyaan yang umum saya dapatkan dari mereka yang berada di kampung halaman

Lebih terperinci

Modul ke: Kesalehan Sosial. Fakultas. Rusmulyadi, M.Si. Program Studi.

Modul ke: Kesalehan Sosial. Fakultas. Rusmulyadi, M.Si. Program Studi. Modul ke: Kesalehan Sosial Fakultas Rusmulyadi, M.Si. Program Studi www.mercubuana.ac.id Secara bahasa makna kesalehan sosial adalah kebaikan atau keharmonisan dalam hidup bersama, berkelompok baik dalam

Lebih terperinci

Muhammad Ismail Yusanto, Jubir HTI

Muhammad Ismail Yusanto, Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto, Jubir HTI Rusuh Ambon 11 September lalu merupakan salah satu bukti gagalnya sistem sekuler kapitalisme melindungi umat Islam dan melakukan integrasi sosial. Lantas bila khilafah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Islam sebagai agama dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

BAB I PENDAHULUAN. Islam sebagai agama dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Islam sebagai agama dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. memiliki prinsip rahmatan lil alamin. Agama yang mengatur kehidupan manusia secara keseluruhan, detail

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebuah masyarakat adalah aqidah, khususnya aqidah Islam. Maka tugas

BAB I PENDAHULUAN. sebuah masyarakat adalah aqidah, khususnya aqidah Islam. Maka tugas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat Islami merupakan masyarakat yang dekat dengan Allah Swt dalam segala kegiatannya di dunia. Asas pertama kali yang tegak dalam sebuah masyarakat adalah aqidah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Saat ini pembangunan bidang pendidikan merupakan bagian yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Saat ini pembangunan bidang pendidikan merupakan bagian yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pembangunan bidang pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional. Hal tersebut disebabkan pembangunan

Lebih terperinci

ISLAM DAN TOLERANSI. Drs. SUMARDI, M. Pd. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi AKUNTANSII.

ISLAM DAN TOLERANSI. Drs. SUMARDI, M. Pd. Modul ke: Fakultas EKONOMI DAN BISNIS. Program Studi AKUNTANSII. Modul ke: ISLAM DAN TOLERANSI Fakultas EKONOMI DAN BISNIS Drs. SUMARDI, M. Pd Program Studi AKUNTANSII www.mercubuana.ac.id Masjid Al-Aqsa, sebuah nama masjid bersejarah di Kudus, Jawa Tengah memang kurang

Lebih terperinci

ISLAM DAN TOLERANSI. ABDUL RACHMAN, S.S., M.Pd.I. Modul ke: Fakultas TEKNIK. Program Studi Teknik Industri.

ISLAM DAN TOLERANSI. ABDUL RACHMAN, S.S., M.Pd.I. Modul ke: Fakultas TEKNIK. Program Studi Teknik Industri. Modul ke: ISLAM DAN TOLERANSI Fakultas TEKNIK ABDUL RACHMAN, S.S., M.Pd.I Program Studi Teknik Industri www.mercubuana.ac.id Masjid Al-Aqsa, sebuah nama masjid bersejarah di Kudus, Jawa Tengah memang kurang

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN DASAR ANGGARAN RUMAH TANGGA MASYARAKAT ISLAM INDONESIA DI TORONTO DAN SEKITARNYA (MIIT) ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA TORONTO 2007 Revisi 1-2010 Mukadimah "Saya ridla: Ber-Tuhan kepada ALLAH, ber-agama kepada ISLAM dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bandung, 2013, hlm Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, Rasail Media Group, Semarang, 2008, hlm.

BAB I PENDAHULUAN. Bandung, 2013, hlm Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, Rasail Media Group, Semarang, 2008, hlm. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lebih terperinci

Marhaban Yaa Ramadhan 1434 H

Marhaban Yaa Ramadhan 1434 H Pengantar: Ramadhan 1434 H segera tiba. Sepantasnya kaum Muslim bergembira menyambutnya. Sebab di dalamnya penuh dengan pahala. Apa yang harus dilakukan dan bagaimana kaum Muslim bisa meraih ketakwaan.

Lebih terperinci

Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq

Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq Pada Jumat, 17 Rabiul Awal 83 H (702 M), lahir seorang manusia suci dan penerus risalah Nabi Muhammad Saw. Pada hari yang bertepatan dengan maulid Rasulullah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan agama merupakan salah satu bidang studi yang. dimasukkan dalam setiap kurikulum formal dan tingkat dasar hingga

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan agama merupakan salah satu bidang studi yang. dimasukkan dalam setiap kurikulum formal dan tingkat dasar hingga BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pendidikan agama merupakan salah satu bidang studi yang dimasukkan dalam setiap kurikulum formal dan tingkat dasar hingga perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini

Lebih terperinci

KISI-KISI UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMA TAHUN 2013/2014

KISI-KISI UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMA TAHUN 2013/2014 KISI-KISI UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMA TAHUN 2013/2014 Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Soal 1. Memahami ayat-ayat Al-Qur an tentang keikhlasan dalam beribadah.

Lebih terperinci

BUPATI SEMARANG TANGGAL 19 APRIL 2014 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG

BUPATI SEMARANG TANGGAL 19 APRIL 2014 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG 1 BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA PENGAJIAN AKBAR DALAM RANGKA PERINGATAN HARI LAHIR IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA KE 24 TINGKAT KABUPATEN SEMARANG TANGGAL 19 APRIL 2014 HUMAS

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR TINGKAT SMA, MA, SMALB, SMK DAN MAK

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR TINGKAT SMA, MA, SMALB, SMK DAN MAK Lampiran 3 STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR TINGKAT SMA, MA, SMALB, SMK DAN MAK 1. Mata Pelajaran Pendidikan Agama untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) A. Latar Belakang Agama

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 216 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Kiprah A. Hassan dalam upaya mencerdaskan umat Islam dapat dilihat dari karya-karyanya yang menambah khazanah ilmu pengetahuan. Usahanya mengeluarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelas. 1 Dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem

BAB I PENDAHULUAN. kelas. 1 Dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem kelas. 1 Dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan sebuah proses transformasi menuju ke arah perbaikan, penguatan, dan

Lebih terperinci

Oleh: Hafidz Abdurrahman

Oleh: Hafidz Abdurrahman Oleh: Hafidz Abdurrahman Negara Khilafah, meski dibangun berdasarkan akidah Islam, dan menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan, tetapi Negara Khilafah tetap memberikan toleransi dan kebebasan

Lebih terperinci

Selanjutnya, ia berpikir untuk kembali dan bertaubat kepadanya agar Dia membebaskannya dari neraka.

Selanjutnya, ia berpikir untuk kembali dan bertaubat kepadanya agar Dia membebaskannya dari neraka. Dalam sebuah Hadits yang diketengahkan oleh Bukhari dan Muslim secara sepakat disebutkan bahwa: dahulu di kalangan orang-orang yang sebelum kalian -yakni kaum Bani Israil- ada seorang lelaki yang telah

Lebih terperinci

BAB 2 ISLAM DAN SYARIAH ISLAM OLEH : SUNARYO,SE, C.MM. Islam dan Syariah Islam - Sunaryo, SE, C.MM

BAB 2 ISLAM DAN SYARIAH ISLAM OLEH : SUNARYO,SE, C.MM. Islam dan Syariah Islam - Sunaryo, SE, C.MM BAB 2 OLEH : ISLAM DAN SYARIAH ISLAM SUNARYO,SE, C.MM 1 Tujuan Pembelajaran Dapat menjelaskan Makna Islam Dapat Menjelaskan Dasar Dasar Ajaran Islam Dapat menjelaskan Hukum Islam Dapat menjelaskan Klassifikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang pernikahan menyatakan bahwa pernikahan adalah: berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (UU RI Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. tentang pernikahan menyatakan bahwa pernikahan adalah: berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. (UU RI Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 1 tahin 1974 pasal 1 tentang pernikahan menyatakan bahwa pernikahan adalah: Ikatan lahir dan batin antara seorang

Lebih terperinci

ASAS-ASAS ISLAM. Agama Islam Iman & Taat Kenabian Pentafsiran Iman Ibadat-ibadat Agama & Syariah Hukum Syariah

ASAS-ASAS ISLAM. Agama Islam Iman & Taat Kenabian Pentafsiran Iman Ibadat-ibadat Agama & Syariah Hukum Syariah ASAS-ASAS ISLAM Agama Islam Iman & Taat Kenabian Pentafsiran Iman Ibadat-ibadat Agama & Syariah Hukum Syariah Agama lain Nama seseorang/umat Agama Masehi (Al-Maseh) Agama Budha (Gautama) Zarathustra (Zarathustra)

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN BERAGAMA REMAJA MUSLIM DENGAN MOTIVASI MENUNTUT ILMU DI PONDOK PESANTREN

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN BERAGAMA REMAJA MUSLIM DENGAN MOTIVASI MENUNTUT ILMU DI PONDOK PESANTREN HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN BERAGAMA REMAJA MUSLIM DENGAN MOTIVASI MENUNTUT ILMU DI PONDOK PESANTREN SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana-S1 Bidang Psikologi dan Fakultas

Lebih terperinci

Modul ke: Etos Kerja. Fakultas. Rusmulyadi, M.Si. Program Studi.

Modul ke: Etos Kerja. Fakultas. Rusmulyadi, M.Si. Program Studi. Modul ke: Etos Kerja Fakultas Rusmulyadi, M.Si. Program Studi www.mercubuana.ac.id Pengertian Etos Kerja Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter,

Lebih terperinci

PENAWARAN MATA KULIAH SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN WALISONGO SEMARANG

PENAWARAN MATA KULIAH SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN WALISONGO SEMARANG PENAWARAN MATA KULIAH SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2016-2017 FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN WALISONGO SEMARANG JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM (BPI) SEMESTER II 1 UIN-6210 Bahasa Arab I 2 BP-A2

Lebih terperinci

Bab 4 Belajar Mendirikan Shalat Berlatih Akhlak Mulia Membangun Kesejahteraan Umat

Bab 4 Belajar Mendirikan Shalat Berlatih Akhlak Mulia Membangun Kesejahteraan Umat Bab 4 Belajar Mendirikan Shalat Berlatih Akhlak Mulia Membangun Kesejahteraan Umat Al Qur an merupakan petunjuk dari Allah Swt bagi makhluknya, jin dan manusia, yang harus diikuti sebagai pedoman dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bergaul satu sama lain. Dalam pergaulan di masyarakat, interaksi sesama manusia

BAB I PENDAHULUAN. bergaul satu sama lain. Dalam pergaulan di masyarakat, interaksi sesama manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Secara fitrah manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang saling bergantung satu sama lain. Dengan fitrah tersebut, maka manusia akan

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA HUBUNGAN ANTAR AGAMA DI INDONESIA Dosen : Mohammad Idris.P, Drs, MM Nama : Dwi yuliani NIM : 11.12.5832 Kelompok : Nusa Jurusan : S1- SI 07 SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

Lebih terperinci

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN PENDIDIKAN

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN PENDIDIKAN M.Nidhamul Maulana 1 (2014100703111119), Mumtaza Ulin Naila 2 (201410070311120), Zubaidi Bachtiar 3 (201410070311121), Maliatul Khairiyah 4 (201410070311122), Devi

Lebih terperinci

Hadits Menuntut Ilmu. Ringkasan Materi. A. Membaca Al Hadits Tentang Menuntut Ilmu Hadits 1. Hadits 2. Hadits 3

Hadits Menuntut Ilmu. Ringkasan Materi. A. Membaca Al Hadits Tentang Menuntut Ilmu Hadits 1. Hadits 2. Hadits 3 Hadits Menuntut Ilmu 2 Standar Kompetensi : 2. Memahami Ajaran Al Hadits tentang menuntut Ilmu Kompetensi Dasar : 2.1. Membaca Al Hadits Tentang Menuntut Ilmu 2.2. Menyebutkan arti Al-Hadits tentang menuntut

Lebih terperinci

Potensi Muslimah Muslimah Berpotensi

Potensi Muslimah Muslimah Berpotensi 31 Agustus 2005 Potensi Muslimah Muslimah Berpotensi Orang tua kita yang telah menyekolahkan anaknya mencapai tingkat pendidikan tinggi, dalam menanggapi putrinya yang lebih memilih aktif di rumah setelah

Lebih terperinci

BAB III NILAI-NILAI ENTREPRENEURSHIP DALAM PENDIDIKAN ISLAM. maju agar menjadi golongan yang unggul. Sementara itu pemenuhan di bidang

BAB III NILAI-NILAI ENTREPRENEURSHIP DALAM PENDIDIKAN ISLAM. maju agar menjadi golongan yang unggul. Sementara itu pemenuhan di bidang 27 BAB III NILAI-NILAI ENTREPRENEURSHIP DALAM PENDIDIKAN ISLAM Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk berfikir dan bersikap maju agar menjadi golongan yang unggul. Sementara itu pemenuhan di bidang

Lebih terperinci

Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada (Al-Hajj: 46).

Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada (Al-Hajj: 46). Ikhlas oleh Islisyah Asman* Jika ada pengemban dakwah merasa kering jiwanya, gersang ukhuwah, keras hati, hasad, banyak berselisih dan beda pendapat dengan yang lain, mengarah ke permusuhan, berarti ada

Lebih terperinci

[113] Sisi Politik Ibadah Haji Tuesday, 12 November :30

[113] Sisi Politik Ibadah Haji Tuesday, 12 November :30 Pesan Nabi SAW untuk taat waliyul amri merupakan pesan politik yang strategis, karena mengingatkan umat Islam untuk tetap patuh kepada ulil amri (penguasa). Ibadah haji selain memiliki hikmah ketaatan,

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TINGKAT SMA-SMK Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas X, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TINGKAT SMA-SMK Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas X, Semester 1 STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TINGKAT SMA-SMK dan Kelas X, Semester 1 Al-Qur an 1. Memahami ayat-ayat Al-Qur an tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi. 1.1

Lebih terperinci

Modul ke: ETOS KERJA. Fakultas FEB. H. JAZULI SURYADHI, MS.i (HJS) Program Studi MANAJEMEN.

Modul ke: ETOS KERJA. Fakultas FEB. H. JAZULI SURYADHI, MS.i (HJS) Program Studi MANAJEMEN. Modul ke: ETOS KERJA Fakultas FEB H. JAZULI SURYADHI, MS.i (HJS) Program Studi MANAJEMEN www.mercubuana.ac.id Etos Kerja adalah pandangan bagaimana melakukan kegiatan yang bertujuan mendapatkan hasil atau

Lebih terperinci

Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain. Oleh: Muhsin Hariyanto

Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain. Oleh: Muhsin Hariyanto Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain Oleh: Muhsin Hariyanto AL-BAIHAQI, dalam kitab Syu ab al-îmân, mengutip hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Amr ibn al- Ash: Ridha Allah bergantung

Lebih terperinci

!!" #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/" 4./" 56 * % &' &()*+&, " "# $ %! #78*5 9: ;<*% =7" >1?@*5 0 ;A " 4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. "/ 4!

!! #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/ 4./ 56 * % &' &()*+&,  # $ %! #78*5 9: ;<*% =7 >1?@*5 0 ;A  4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. / 4! [ ] E٤٩١ J٤٨٧ W F : : Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Sesungguhnya agama mewajibkan kepada para pengikutnya (berbuat baik) dalam segala hal dan tidak ridha dari para pengikutnya

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP Kesimpulan

BAB V PENUTUP Kesimpulan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah melalui pembahasan dan analisis dari bab I sampai bab IV, maka ada beberapa hal yang sekiranya perlu penulis tekankan untuk menjadi kesimpulan dalam skripsi ini, yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. prestasi akademik yang dicapai seseorang, akan tetapi harus di imbangi dengan

BAB I PENDAHULUAN. prestasi akademik yang dicapai seseorang, akan tetapi harus di imbangi dengan BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Kualitas sumber daya manusia yang berkarakter bukan hanya dilihat dari prestasi akademik yang dicapai seseorang, akan tetapi harus di imbangi dengan meningkatnya

Lebih terperinci

Disebarluaskan melalui: website: TIDAK untuk tujuan KOMERSIL

Disebarluaskan melalui: website:    TIDAK untuk tujuan KOMERSIL Judul : Cinta Rasul Penyusun : Ummu Abdillah al-buthoniyah Layout : MRM Graph Disebarluaskan melalui: website: e-mail: redaksi@raudhatulmuhibbin.org TIDAK untuk tujuan KOMERSIL Nabi Muhammad shallallahu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjauhkan diri dari segala hal yang dilarang oleh agama Islam.

BAB I PENDAHULUAN. menjauhkan diri dari segala hal yang dilarang oleh agama Islam. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dakwah memiliki kedudukan yang tinggi dan mempunyai peranan yang sangat penting menurut pandangan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, karena Islam sangat memperhatikan

Lebih terperinci

NILAI-NILAI SIKAP TOLERAN YANG TERKANDUNG DALAM BUKU TEMATIK KELAS 1 SD Eka Wahyu Hidayati

NILAI-NILAI SIKAP TOLERAN YANG TERKANDUNG DALAM BUKU TEMATIK KELAS 1 SD Eka Wahyu Hidayati NILAI-NILAI SIKAP TOLERAN YANG TERKANDUNG DALAM BUKU TEMATIK KELAS 1 SD Eka Wahyu Hidayati I Proses pendidikan ada sebuah tujuan yang mulia, yaitu penanaman nilai yang dilakukan oleh pendidik terhadap

Lebih terperinci

KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA

KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA Dosen : Drs.Tahajudin Sudibyo N a m a : Argha Kristianto N I M : 11.11.4801 Kelompok : C Program Studi dan Jurusan : S1 TI SEKOLAH TINGGI TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM

Lebih terperinci

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ISLAM DAN GLOBALISASI

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ISLAM DAN GLOBALISASI Modul ke: 14Fakultas Didin EKONOMI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ISLAM DAN GLOBALISASI Hikmah P, SE, MM Program Studi MANAJEMEN Pengantar: Muslim dan Fenomena Globalisasi Era globalisasi ditandai dengan kemajuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara biologis manusia diklasifikasikan sebagai homosapiens yaitu sejenis

BAB I PENDAHULUAN. Secara biologis manusia diklasifikasikan sebagai homosapiens yaitu sejenis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk yang dapat diartikan berbeda-beda. Secara biologis manusia diklasifikasikan sebagai homosapiens yaitu sejenis primata dari golongan

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Jakarta, 30 Juni 2011 Kamis, 30 Juni 2011

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Jakarta, 30 Juni 2011 Kamis, 30 Juni 2011 Sambutan Presiden RI pada Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Jakarta, 30 Juni 2011 Kamis, 30 Juni 2011 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA PERINGATAN ISRA' MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW TANGGAL

Lebih terperinci

02FIKOM. Semua prilaku manusia yang benar dan yang salah harus mengacu kepada sumber ajaran Islam yang sudah pasti akan kebenarannya ASRORI, MA

02FIKOM. Semua prilaku manusia yang benar dan yang salah harus mengacu kepada sumber ajaran Islam yang sudah pasti akan kebenarannya ASRORI, MA Modul ke: Fakultas 02FIKOM Semua prilaku manusia yang benar dan yang salah harus mengacu kepada sumber ajaran Islam yang sudah pasti akan kebenarannya ASRORI, MA Program Studi Teknik Industri Bagian Isi

Lebih terperinci