Kajian Unjuk Kerja Pengendalian Jaringan Saraf Tiruan untuk Menurunkan Konsumsi Elektroda pada Tungku Busur Listrik

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kajian Unjuk Kerja Pengendalian Jaringan Saraf Tiruan untuk Menurunkan Konsumsi Elektroda pada Tungku Busur Listrik"

Transkripsi

1 SNPPT12010 Kajian Unjuk Kerja Pengendalian Jaringan Saraf Tiruan untuk Menurunkan Konsumsi Elektroda pada Tungku Busur Listrik Sudirman Palaloi Balai Besar Teknologi Energi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Kawasan Puspiptek - Serpong Abstrak -- Makalah ini berisi kajian unjuk kerja pengendalian jaringan saraf tiruan untuk menurunkan kosumsi elektroda di tungku busur listrik. Langkah pertama mereview penggunaan pengendali pada tungku busur listrik. Posisi elektroda terhadap bahan material pada tungku busur listrik dianalisis untuk mendapatkan titik optimumnya. Selanjutnysa membuat model JST yang akan diterapkan. Setelah pengendalian jaringan sarat tiruan diaplikasikan, maka unjuk kerjanya dievaluasi dengan menggunakan formulasi Ben Baumen pada masing-masing 100 heat. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa pengendali dengan jaringan saraf tiruan dapat menurunkan konsumsi elektroda. Kata Kunci : pengendali jaringan saraf tiruan, tungku busur listrik, konsumsi elektroda. I. PENDAHU LUAN Salah satu pendukung utama dalam proses peleburan baja adalah energi listrik. Energi listrik ini diperlukan untuk meleburkan bahan baku yang terdiri dari besi tua (scrap), besi spons (sponge iron), batu kapur (limestone) dan bahan campuran lainnya di Tungku Busur Listrik disingkat dengan TBL sehingga menjadi baja cair. Di tungku busur listrik ini digunakan arus bolak balik 3 fase ( 3 phase alternating current Electric Arc Furnace) yang tiap fasenya terhubung dengan satu elektroda (electrode) yang akan menghasilkan busur listrik sebagai cumber energi untuk proses peleburan. Selama proses peleburan, elektroda akan bergerak naik dan turun melalui suatu sistem kendali elektroda untuk menghasilkan busur listrik yang stabil. Untuk menjaga kestabilan busur listrik tersebut, maka sistem kontrol elektroda secara otomatik mengendalikan elektroda naik dan turun untuk menjaga jarak (gap) antara ujung elektroda dengan bahan baku/muatan yang berfungsi sebagai beban, agar muatan tetap stabil sesuai dengan nilai acuan impedansi (impedance reference/set point) yang telah ditentukan. Jarak antara Ujung elektroda dan muatan yang bersifat penghantar (conductor) akan mempengaruhi besarnya arus listrik yanj mengalir pada elektroda, yang pada akhirnya berpengaruh pada daya busur listrik (arc power) yang dihasilkan. Sehingga bila arus listrik tersebut stabil pada ketiga fase elektroda, maka busur listrik dan daya yang dihasilkan stabil. Pada awal proses peleburan, dimana permukaan muatan belum merata karena bahan baku belum sepenuhnya melebur, maka elektroda secara otomatik akan bergerak untuk menghasilkan busur listrik dan harus cepat bergerak naik pada saat ada muatan besi tua (scrap), besi spons (sponge iron) untuk - menghidah" fei jadinya hubung singkat (short circuit) dan elektroda patah. Agar dihasilkan respon yang baik untuk naik dan turun dari elektroda tersebut, maka diperlukan suatu sistem kendali elektroda terpadu dengan keandalan yang tinggi, sehingga pada akhirnya dihasilkan suatu kondisi peleburan yang optimum. Pemakaian elektroda tergantung dari besar busur listrik yang terjadi di elektroda, dan besar busur listrik sendiri,, ;, tel-gar tung dari posisi elektroda terhadap bahan Baku baja yang akan dilebur. Bila jarak elektroda tersebut terlalu dekat, maka terjadi penggunaan energi yang berlebihan (pemborosan) dan batang elektroda akan menjadi lebih cepat habis. Oleh karena itu posisi elektroda sangat menentukan efisiensi dari pemakaian energi dan penggunaan elektroda, dan salah satu cara untuk dapat dilakukan melalui pengaturan posisi elektroda Pengendalian posisi elektroda secara konvensional menggunakan kontrol Proporsial Integral (PI) dengan PLC yang mengatur masingmasing elektroda secara terpisah telah diterapkan di salah satu pabrik baja di Indonesia. Hal ini kurang memuaskan, karena pada kenyataannya setiap elektroda yang terkait di dalam sistim kelistrikan tiga fasa akan memberikan respon arus yang saling bergantung sesuai dengan hukum Kirchof, sehingga penentuan parameter setiap kontrol untuk ketiga elektroda tersebut perlu selalu disesuaikan. Dengan sistem kontrol terpadu ini pada implementasinya dapat mempermudah operator dalam pengawasan proses TBL dan menghemat pemakaian elektroda di dalam proses peleburan baja. Pada makalah ini menyaj ikan rancangan suatu kontrol yang terpadu dalam mengendalikan tiga buah elektroda yang terkait di dalam sistem listrik tiga 167

2 fasa menggunakan kontrol jaringan syaraf tiruan (JST) metoda galat rambat mundur (error back propagation) untuk memperbaiki kinerja sistem TBL dalam usaha penurunan konsumsi elektroda. Evaluasi konsumsi elektroda dilakukan berdasarkan data operasi tungku listrik dengan membandingkan antara pengoperasian TBL dengan kontrol jaringan syaraf tiruan yang biasa dikenal Neuro Furnace Controller (NFC) dengan PLC masing-masing 100 heat. Konsumsi elektroda dihitung secara empiris berdasarkan rumus Ben Bowmen. 11. RANCANGAN DAN METODE EVALUASI 2.1 Proses Tungku Busur Listrik (TBL). Proses pembuatan baja cair dilakukan dengan cara meleburkan bahan-bahan baku seperti besi spon, besi rongsokan/scrap, besi kasar ke dalam tungku peleburan sehingga dihasilkan baja cair (baja kasar) yang kemudian akan dicetak menjadi baja sesuai dengan keperluannya seperti untuk kawat baja, plat baja, pipa baja, dan lain-lain. Beberapa jenis tungku peleburan dapat dipakai untuk proses pembuatan baja, diantaranya adalah tungku busur listrik (TBL) yaitu Tungku peleburan baja yang menggunakan energi listrik. Energi listrik digunakan untuk pemanasan, peleburan, pemanasan lanjut, flan pemurnian baja. Busur listrik pada TBL terjadi akibat proses mendekatkan elektroda (katoda) yang dialiri arus listrik tinggi sehingga menyentuh bahan lebur (anoda). Ketika elektroda dan bahan lebur Baling bersentuhan layaknya seperti hubung singkat, maka terjadilah proses panas pada permukaan sentuh. Pada suhu yang tinggi terjadi proses ionisasi yaitu pancaran ion-ion yang terjadi antara elektroda dan bahan lebur. Jika elektroda dan bahan lebur tidak dipisahkan secara cepat dan jarak antara keduanya tidak terlalujauh, arus dapat mengalir melalui udara yang terionisasi diantara elektroda dan bahan itu 14,71. Busur listrik yang terjadi sesungguhnya bersifat tidak stabil dan tidak linier, karakteristiknya dapat dijelaskan melalui tegangan dan arcs, tetapi sukar untuk mengukur tegangan busur secara langsung. Bila busur listrik dianggap sebagai suatu beban listrik (impedansi) pada rangkaian listrik, maka perubalian teganan busur listrik yang hampir berbentuk sinusoids beserta harmonisa akan menyebabkan kenaikari `nilai reaktansi dan merubah harga daya reaktif dari rangkaian PI S l.l. m P.n0ulur. C enilo i^.r V,' Gambar 1. Sistem kelistrikan tungku busur listrik Gambar 1. memperlihatkan diagram kelistrikan sebuah TBL, Jalur jala-jala listrik tegangan tinggi 3 fasa dilewatkan ke sebuah trafo TBL untuk diturunkan tegangannya sesuai dengan tahapantahapan keperluan proses peleburan campuran bahan baku baja. Pada masukan trafo (primeir trafo) daya dan energi yang terpakai oleh TBL diinformasikan ke bagian pengukuran kw, kwh dan kvar, sedangkan pada luaran trafo (dibagian sekuder) dilakukan pengukuran arus dan tegangan listrik sebagai informasi masukan ke sistem kontrol. 2.2 Sistem Instrumentasi-Kontrol Di dalam satu TBL terdapat tiga buah elektroda yang terhubung ke sistem listrik tiga fasa. Pengaturan posisi dari ketiga buah elektroda tersebut dilakukan secara terpisah menggunakan sistem kontrol konve'asional, sehingga dibutuhkan tiga buah kontrol Proporsional ^nteral yang masing-masing berdiri sendiri untuk, setiap, Casa. Sistem kontrol cara ini mengalami kesulitan di dalam menetapkan parameterparameter kontrolnya, karena itu diperlukan keahlian tersendiri agar ketiga elektroda tersebut dapat bekerja seimbang/seirama. Naik turunnya elektroda tersebut dilakukan oleh suatu perangkat penggerak elektroda yang disesuaikan dengan perintah dari kontrol, dan kontrol sendiri mendapat umpan dari informasi arus tegangan dan energi listrik tiga fasa yang mengalir ke elektroda. Permasalahannya adalah harga impedansi dari busur listrik tidak konstan dan tidak dapat diukur, untuk itu diperlukan pemahman mengenai reaktansi dalam suatu rangkaian listrik. Sebuah penghantar seperti batang busur listrik (elektroda) pada rangkaian loop tertutup dapat dinyatakan dengan rumus berikut : 168

3 X= wft L.inD D; (1) loo adalah konstanta induksi, co kecepatan sudut, it konstanta dan D;; merupakan jarak geometris rata-rata terhadap dirinya. Persamaan (1) di atas memperlihatkan bahwa reaktansi suatu penghantar di dalam sebuah loop tertutup berbanding lurus dengan panjang penghantar (L), dan mengecil secara logaritmis terhadap membesamya jarak antar penghantar (D), serta tergantung dari konstruksi penghantar itu sendiri. Semakin besar luas penampang penghantar akan menyebabkan semakin mengecilnya reaktansi penghantar tersebut. Jadi faktor-faktor yang tnenentukan reaktansi sebuah penghantar dalam suatu loop adalah : panjang, jarak dan jumlah serta Was penampang penghantar. Pengaruh reaktansi di dalam TBL secara garis besar dapat diterangkan sebagai berikut : reaktansi akan mengecil ketika arus listrik yang melewati elektroda membesar, hal ini biasanya terjadi juga bila elektroda mulai memendek, kasus ini akan mengakibatkan pemakaian energi menjadi sedikit, pemakaian elektroda menjadi lebih banyak dan Jaya maksimtun yang dipakai menjadi lebih tinggi. Hal sebaliknya juga berlaku untuk kejadian arus listrik yang melewati ektroda mengecil atau ketika kondisi elektroda masih panjang. Oleh karena itu salah satu cara memperbaiki kinerja TBL dapat dilakukan dengan mengendalikan jarak elektroda terhadap bahan baku dalam proses peleburan baja. 2.3 Rancangan Kontrol Terpadu Tiga Fasa dengan JST. Pengendalian dengan memanfatkan jaringan saraf tiruan (JST) untuk mengendalikan posisi elektroda yang optimum pada tungku busur listrik yang dikenal Neuro Furnace Controller (NFC). Sebelumnya sistem pengendalian yang digunakan adalah sistem konvensional menggunakan PLC. Sementara proses peleburan di TBL tidaklah sederhana. Setnakin kompleks suatu proses semakin sulit pemodelan matematisnya. Pengendalian di TBL harusnya menggunakan pemodelan matematis yang kompleks, yang didasarkan pada banyaknya variabel masukan dan keluaran (Multi-Input-Multi-Output System). Namun kenyataannya harus disederhanakan untuk memudahkan perancangan sistem kendalinya. Penyederhanaan seperti ini belum optimal, karena kenyataannya beberapa variabel proses berubah dengan cepat dan Baling mempengaruhi secara tidak menentu. Oleh karena itu sistem ini tidak dapat memenuhi fungsinya dengan baik. Untuk mengatasi masalah ini, maka diperlukan sistem pengendali yang dapat beradaptasi terhadap dinamika proses. Pengendali sebaiknya dapat belajar dari pengalaman sesuai dengan perubahan yang terjadi di dalam proses. Disamping itu diharapkan pula untuk memprediksi kondisi proses yang akan datang, sehingga penyimpangan yang akan terjadi dapat di perkecil atau dihilangkan sama sekali. Salah satu sistem pengendalian yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut adalah sistem pengendali berbasis JST. Sistem ini didasarkan pada pembelajaran proses yang benar melalui pelatihan untuk mengat}ih polisi...elektroda di dalam TBL. Pelatihan JST dilakukan dengan memakai data masukan dan keluaran sistem yang diperoleh selama TBL beroperasi. Keunggulannya adalah kemampuan untuk dapat menyaring tingkah laku proses yang didasarkan pada sekumpulan data latihan. Data pelatihan diperoleh dari data pengoperasian TBL sedemikian sehingga mampu memetakan keterkaitan antara variabel masul-an, dankeluaran dari berbagai proses yang tidak linier tanpa model matematis yang rum it; dapat mengatasi. masalah tegangan kejut (voltage flicker) melalui kemampuannya untuk memprediksi kondisi operasi, dengan memanfaatkan sistem akuisisi data yang sangat cepat; dapat memprediksi besaran konstanta waktu sesuai dengan proses yang berlangsung di dalam tungku untuk mengatur posisi elektroda terhadap beban, dan pada akhirnya memperkecil kemungkinan elektroda kejatuhan beban muatan bahan b'ak}t y^ng dapat mengakibatkan patah. Perancangan, perbaikan sistem kontrol konvensional yang diubah menggunakan kontrol terpadu menggunakan algoritma JST dapat dilihat pada Gambar 2. Harga Acuan Zset "I Motor FN Kl Elektrod. I'il: ;' 4 Tbngku Vact 11 tact Zact V Gambar 2. Model rancangan kontrol JST pada TBL tiga fasa. 169

4 Tujuan dari pengontrol ini adalah mempertahankan panjang tertentu dari busur listrik melalui pengendalian posisi elektroda secara vertikal menggunakan penggerak hidrolis atau elektromotorik. Untuk itu beberapa persyaratan yang harus dipenuhi diantaranya adalah: daya yang ditentukan dari trafo harus dipertahankan, elektroda harus memberikan respon yang baik bila terjadi gangguan hubungsingkat, penyimpangan dalam prosedur pengaturan pada salah satu elektroda tanpa menggangu posisi elektrodaelektroda yang lain. Untuk merancang kontrol JST diperlukan data-data lapangan berupa besaran arus operasi (lact) untuk ketiga fasa, Tegangan operasi (Vact) untuk ketiga fasa, Besaran regulator (R) untuk ke tiga fasa. R dipakai sebagai luaran dari kontrol dan sebagai informasi yang memerintahkan sistem penggerak merubah posisi elektroda. Selain itu diperlukan juga data impedansi acuan (Zset) yang merupakan harga impenaasi acuan dari busur listrik dan besarnya diambil dari suatu tabel berdasarkan kondisi daya dan energi dari trafo TBL yang dipakai. Kontrol JST pada TBL dirancang menggunakan sebuah lapisan tersembunyi dan memakai algoritma extended delta bar delta rule : EDBD (merupakan salah satu versi dari back propagation error). Algoritma ini mempunyai komponen laju belajar dan komponen momentum didalam proses belajar (training) maupun proses pengujian (test), besarnya bobot koneksi antara neuron dihitung menggunakan persamaan (2) 15,61 W. I = W. +AW,,1 (2) Perubahan/perbaikan bobot koneksi menggunakan persamaan (3). d W,., dihitung O W,.,_, = a ,u. O Wi (3) adalah laju belajar yang menentukan besamya langkah perubahan bobot koneksi, 0000 adalah perubahan komponen kesalahan sebagai fungsi dari perubahan bobot koneksi, dan 0 0 adalah komponen momentum yang diperlukan untuk mengatasi keadaan ketika laju perubahan q 0 q q memberikan nilai minimum yang semu (lokal minimal). Data masukan diambil dari galat yang terjadi antara impedansi acuan (ZSef) dan impedansi aktual (Zaet). Impedansi aktual dihitung dari perbandingan antara tegangan (Vast) dengan arus aktual (I3et) untuk ke masing-masing fasa. Sedangkan data luaran (R) diperoleh dari kondisi infonnasi masukan regulator penggerak elektroda. Pasangan masukan-luaran yang tersusun terpadu untuk ketiga fasa dibuat dalam suatu file tersendiri (*.NNA) yang kemudian dipakai oleh sofiwere NeurolWorks P-11-plus sebagai informasi belajar. Hal yang sama juga dilakukan untuk proses pengujian. Hasil belajar/pengujian dari informasi yang disampaikan melalui data, disimpan pada nilai bobot koneksi antara neuron yang Baling terhubung. Nilai bobot tersebut mencerminkan pengetahuan tentang aturan dan parameter dari kontrol. JST dilatih sedemikian rupa sehingga dapat mempelajari karakteristik masukan galat impedansi dan menghasilkan luaran besaran regulasi untuk ketiga fasa secara terpadu. Bila nilai kesalahan aktual lebih besar dari nilai yang diinginkan, maka harga bobot koneksi diubah dan dihitung ulang sampai diperoleh nilai kesalahan yang diinginkan. Nilai kesalahan dihitung untuk neuron lapisan terluar menggunakan persamaan akar galat kuadrat rata-rata (Root Mean Squere Error :RSME). Hasil galat RMS yang diperoleh dibandingkan dengan perancangan kontrol yang dirancang terpisah untuk masing-masing fasa dengan pemilahan jumlah neuron pada lapisan tersembunyi yang sama. 2.4 Metode Evaluasi Unjuk Kerja Hasil Rancangan Setelah 'sistem perangkat lunak dan sistem perangkat keras terpasang dengan baik, maka dilakukan pengujian tentang penghematan pemakaian elektroda dengan cara : 1. Pengumpulan data beberapa jenis batang elektroda yang akan dipakai. 2. Pengukuran arus listrik, tegangan listrik dan konsumsi energi listrik selama selang waktu pengamatan 3. Pengambilan data beberapa paramater operasi yang sangat t.'bei enganth didalam pemakaian elektroda. 4. Menghitung arus rata-rata yang dipakai selama oerasi peleburan baja pada saat kejadian melting. 5. Perhitungan konsuunsi elektroda dengan Ben Bowmen 6. Klasifikasi data terhadap 5 parameter yang mempengaruhi konsumsi elektroda untuk validasi hasil perhitungan 7. Diskusi dan analisis hasil perhitungan dengan mempertimbangkan' parameter-parameter operasi yang mempengaruhi konsumsi elektroda. 8. Analisis hasil pengujian Untuk membandingkan kinerja dari pengoperasian kontrol konvensional (PLC) dan pengoperasian dengan kontrol JST (NFC) telah ditetapkan 5 buah parameter yang diduga kuat berpengaruh terhadap konsumsi elektroda spesifik. Kelima parameter tersebut adalah Pow, Ttapp,,,g, Yield, 02 dan Limestone. Iii samping itu, karena kondisi pengoperasian umumnya bersifat unik, yaitu tidak mungkin terdapat 2 pemasakan (heat) yang "sama," maka evaluasi dilakukan untuk jumlah heat yang relatif banyak, yaitu sebanyak 200 heat, masingmasing 100 heat untuk pemakaian dengan PLC dan 100 heat lagi dengan NFC. Dengan mengkaji kelima parameter dalam jumlah heat yang relatif banyak diharapkan bahwa 170

5 pengaruh atau tingkah-laku dari masing-masing parameter terhadap nilai konsumsi elektroda spesifik dapat dikarakterisasi secara objektif, sehingga ukuran kinerja tidak hanya didasarkan pada jumlah heat saja, tetapi juga disesuaikan dengan atau mempertimbangkan juga kondisi pengoperasian yang dicerminkan melalui salah satu/lebih parameterparameter di atas. Evaluasi ini didasarkan pada anggapan bahwa kelima parameter diduga memiliki pengaruh yang sama terhadap konsumsi elektroda, sehingga evaluasi dilakukan dengan membandingkan nilai konsumsi elektroda antara NFC dengan PLC untuk masing-masing 100 heat. 2.5 Perhitungan Konsumsi Elektroda Evaluasi konsumsi elektroda di tungku 10 dilakukan berdasarkan data operasi tungku listrik, dengan membandingkan antara NFC dengan PLC. Konsumsi elektroda dihitung secara empiris berdasarkan rumus Ben Bowmen (UCAR) (1 Perhitungan konsumsi elektroda menggunakan dua persamaan, yaitu persamaan untuk side consumption dan yang lainnya tip consumption. Penjumlahan antara side consumption dan tip consumption merupakan total consumption elektroda. Side Consumption : Konsumsi elektroda (kg/ton) dihitung berdasarkan persamaan Side Consumption berikut ini. D L kg/ton = 3 - A-;r P x (4) dengan : It = D Lox P A 3,14 mean of electrode diameter (mm) oxidising length (m) productivity (ton/h) specific oxidation rate (kg/m2h), nilainya dapat dilihatpada Tabel I. Tabel 1. Specific Oxidation Rate er{4 In eksk Uhsl e>glrf 'Yf < 5 :TM : 3 3,0 to 4,0 5 to 25 M 02/t 5,0 to 6,0 25 to 45 M3 02/t 6,0 to 8,0 25 to 45 w/ p ost comb. 8,0 to 10,0 yang Tip Consumption: Tip Consumption elektroda dapat dihitung berdasarkan persarnaan berikut. { TU = ratio ofpower on over tap to tap time P = productivity (ton / h) K = specific tip consumption rate (kg/ka2 h). Tabel 2. Specific Tip Consumption Rate 4 5 'uk ^ ^4 ^ '^ > L Qndisi ( peeasi ^Y, AC, are voltage > 250 V 0,0130 AC, tip angle below 30 0,0100 AC, tip angle below 40 0, HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengoperasian sebanyak 200 heat (100 heat PLC dan 100 heat NFC) maka dapat dilihat pada Tabel 3 tentang perbedaan rata-rata beberapa parameter proses yang mempengaruhi dalam analisis konsumsi elektroda antara pemakaian NFC dan PLC di Tungku 10 Tabel 3. K Parameter Tap to Tap Time Effective Melting -- Time TU Ton Liquid Steel Productivity... _._..._......_._.. Mean Phase Current Electrode tip diameter Length of Electrode Perbedaan parameter operasi TBL untuk pemakaian NFC dan PLC. minute minute ton ton/h ka Kontrol r 5,5 0, ,56 78,52 0, ,41 57,49 mm I 436 meter 1 2,5 ;: Kontrol PLC` : 5,5 0, ,88 75,02 0, , ,24 64, Dengan asumsi bahwa tidak perlu memperhatikan kelima parameter yang di duga sangat terkait dengan konsumsi pemakaian elektroda, maka hasil pengamatan selama 100 heat (proses peleburan) dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini. i msa 2,5 kg/ton = dengan : ka 3 K (ka)2 TU P = mean phase current square (A) (5) Gambar 3. Jumlah host 81 S3':. 88::. 00 Konsumsi elektroda untuk 100 heat NFC dan untuk 100 heat PLC. 171

6 Pada Gambar 3, terlihat jelas bahwa grafik pemakaian elektroda untuk setiap kali proses peleburan (heat) tidak sama baik untuk kontrol NFC maupun kontrol PLC, Hal ini menunjukkan bahwa memang setiap heat menunjukkan suatu karakteristik yang unik, ada parameter lain di dalam proses yang mempengaruhi pemakaian elektroda, dari pengalaman dan standar operasi tungku terlihat bahwa 5 buah parameter yang sangat mempengaruhi konsumsi elektroda yaitu P,,f (daya yang tetap dipakai ketika TBL "idle"), Trapping (Waktu ketika terjadi ` tapping"), Yield (perbandingan antara baja yang dihasilkan dengan bahan baku baja), OZ (Oksigen untuk oksidasi) dan Limestone (batu kapur untuk pengikat bahan baku non baja). Ada hal yang menarik dari grafik pada Gambar 3. tersebut di atas, yaitu bila diambil rata-rata untuk keseluruhan operasi ternyata konsumsi total elektroda untuk pemakaian PLC (2,52 kg/ton) lebih besar dari pemakaian NFC (2,27 kg/ton), sehingga selisih rata-rata penghematan yang dapat dilakukan selama pengamatan 100 heat diatas sekitar 0,25 kg/ton. Bila evaluasi pemakaian elektroda memperhatikan parameter Pam, Trapping, Yield, 02 dan Limestone yaitu dengan mengklasifikasikan kelima parameter tersebut sedemikian rupa sehingga kelimalimanya dapat dianggap mendekati di dalarn membandingkan pemakaian konsumsi elektroda antara NFC dan PLC, maka hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Perbandingan konsunsi elektroda antara NFC dan PLC Parameter ^tt,iyp LGE, Satuan Side consumption 0,91 0,89 Kg/ton Tip consumption 1,35 1,62 Kg/ton 7 7 Total 2,26 ' 2,5I Tag/tan consuritptiori Berdasarkan hasil perbandingan konsumsi elektroda antara NFC dengan PLC diperoleh penurunan total konsumsi elektroda sebesar (2,51-2,26) = 0,25 kg/ton. Bila dihitung persentasenya, maka penerapan NFC dapat menghemat pemakaian elektroda kurang lebih sebesar (0,25/2,51 x100%) _ 10%. IV. KESIMPULAN 1. Penghematan konsumsi elektroda di TBL dapat dilakukan bersamaan dengan perbaikan pengaturan posisi elektroda dengan menggunakan kontrol JST (NFC). 2. Kontrol JST menggunakan metoda galat rambat mundur dapat dipakai untuk menggantikan kontrol konvensional (PI). 3. Penerapan -JST pada tungku busur listrik dapat menghemat konsumsi elektroda rata-rata 10%, dan penghematan ini akan dapat lebih besar lagi bila beberapa parameter yang mempengaruhi pemakaian elektroda teridentifikasi dengan jelas atau dapat dikontrol terpadu. V. UCAPAN TERIMA KASIH Diucapkan terimakasih kepada seluruh team NFC, terutama kepada Dr. Herman Agustiawan, Dr M. Amirullah Oktaufik, dan Aryo Witjakso, yang telah menyumbangkan saran dan ide di proyek NFC. [1] VI. DAFTAR PUSTAKA Agustiawan.H, etc, Neural Nets Based Approach for Reducing Energy Consumption in EAF Operation. South Ease Asia, Iron & Steel Institute Travelling Seminar. Kuala Lumpur. Malasyia. Agustus [2] Gupta MM & Sinsha N.K, Intelelligent Control Systems, Institute of Electrical and Electronics Engineers,Inc. New York,USA, [3] 1-Iaykin Simon, Neural Networks, Acomprehensive Foundation, Macmillan College Publishing Company,Inc. USA, 1994 [4] Laporan Akhir Riset Unggulan Kemitraan (RUK) Tahapl, 2 dan 3, UPT-LSDE & PT-KS, Serpong, [5] Minai,A.A & Williams R.D, Acceleration of backpropagation through learning rate and momentum adaptation, Internal Joint Conference on Neural Network. Volume I, January. Pp [6] Neural Computing, A technology Handbook for Professional 11/Plus and Neural Works Explorer, NeuralWare.Ine, USA, 1995 [7] [8] [9] Paliama H. Contoh Konservasi Energi di Steel Marking,. Pelatihan.. Manejemen Energi, PT-KS, Cilegon,1995. Wisnaya.G & Agustiawan.H, Penentuan Daerah Batas Pengoperasian TBL dengan Metoda Diagram Lingkaran, Majalah BPPT Pp No.LXXX, Jakarta, Agustus Witjakso A., Herman A. Pengembangan Sister Kontrol Pada Proses Peleburan Baja Tungku Busur Listrik Agustus LPUG, Jakarta. [10] Herman A, Sugiono, Ario W. Pemanfaatan Jaringan Sarat Tiruan untuk Prediksi Konsumen Energi Spes{fuk pada Proses Peleburan Baja Tungku Busur Listrik Agustus LPUG, Jakarta. [11] Ben Bowmen. An Update Model Electrode Consumption. UCAR. Juni [12] Indra D, Sudirman. Aplikasi NFCpada Tungku Busur Listrik Untuk Menurunkan Konsumsi Elektroda. Tekno Energi Vol. 9 No. 21, LSDE BPP Teknologi. Jakarta. [13] Witjakso A., Sudirman P. Penelitian Pemakaian Elektroda pada Operasi Kontrol Jaringan Saraf Tiruan di Tungku Busur Listrik. STUN, 2002, Jakarta. 172

BAB I PENDAHULUAN. menunjang perkembangan sektor industri nasional. Kualitas daya yang baik pada

BAB I PENDAHULUAN. menunjang perkembangan sektor industri nasional. Kualitas daya yang baik pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tersedianya tenaga listrik merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang perkembangan sektor industri nasional. Kualitas daya yang baik pada suatu sistem tenaga

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN tersembunyi berkisar dari sampai dengan 4 neuron. 5. Pemilihan laju pembelajaran dan momentum Pemilihan laju pembelajaran dan momentum mempunyai peranan yang penting untuk struktur jaringan yang akan dibangun.

Lebih terperinci

MAKALAH PELATIHAN PROSES LAS BUSUR NYALA LISTRIK (SMAW)

MAKALAH PELATIHAN PROSES LAS BUSUR NYALA LISTRIK (SMAW) MAKALAH PELATIHAN PROSES LAS BUSUR NYALA LISTRIK (SMAW) PROGRAM IbPE KELOMPOK USAHA KERAJINAN ENCENG GONDOK DI SENTOLO, KABUPATEN KULONPROGO Oleh : Aan Ardian ardian@uny.ac.id FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Dari Gambar 1 tersebut diperoleh bahwa perbandingan daya aktif (kw) dengan daya nyata (kva) dapat didefinisikan sebagai faktor daya (pf) atau cos r.

Dari Gambar 1 tersebut diperoleh bahwa perbandingan daya aktif (kw) dengan daya nyata (kva) dapat didefinisikan sebagai faktor daya (pf) atau cos r. Kehidupan modern salah satu cirinya adalah pemakaian energi listrik yang besar. Besarnya energi atau beban listrik yang dipakai ditentukan oleh reaktansi (R), induktansi (L) dan capasitansi (C). Besarnya

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Pemikiran Perusahaan dalam era globalisasi pada saat ini, banyak tumbuh dan berkembang, baik dalam bidang perdagangan, jasa maupun industri manufaktur. Perusahaan

Lebih terperinci

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1 Umum BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK Kehidupan moderen salah satu cirinya adalah pemakaian energi listrik yang besar. Besarnya pemakaian energi listrik itu disebabkan karena banyak dan beraneka

Lebih terperinci

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator,

BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik seperti generator, BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK II.1. Sistem Tenaga Listrik Struktur tenaga listrik atau sistem tenaga listrik sangat besar dan kompleks karena terdiri atas komponen peralatan atau mesin listrik

Lebih terperinci

Neural Network (NN) Keuntungan penggunaan Neural Network : , terdapat tiga jenis neural network Proses Pembelajaran pada Neural Network

Neural Network (NN) Keuntungan penggunaan Neural Network : , terdapat tiga jenis neural network Proses Pembelajaran pada Neural Network Neural Network (NN) adalah suatu prosesor yang melakukan pendistribusian secara besar-besaran, yang memiliki kecenderungan alami untuk menyimpan suatu pengenalan yang pernah dialaminya, dengan kata lain

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.6. Jaringan Syaraf Tiruan Jaringan syaraf tiruan atau neural network merupakan suatu sistem informasi yang mempunyai cara kerja dan karakteristik menyerupai jaringan syaraf pada

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI II.1. Temperatur Temperatur adalah suatu penunjukan nilai panas atau nilai dingin yang dapat diperoleh/diketahui dengan menggunakan suatu alat yang dinamakan termometer. Termometer

Lebih terperinci

MODUL III PENGUKURAN TAHANAN PENTANAHAN

MODUL III PENGUKURAN TAHANAN PENTANAHAN MODUL III PENGUKURAN TAHANAN PENTANAHAN I. TUJUAN 1. Mengetahui besarnya tahanan pentanahan pada suatu tempat 2. Mengetahui dan memahami fungsi dan kegunaan dari pengukuran tahanan pentanahan dan aplikasinya

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Diagram alir penelitian

Gambar 3.1 Diagram alir penelitian BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Bahan dan Peralatan Penelitian Bahan-bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini antara lain bubuk magnesium oksida dari Merck, bubuk hidromagnesit hasil sintesis penelitian

Lebih terperinci

2.1. Dasar Teori Bandwidth Regression

2.1. Dasar Teori Bandwidth Regression 2.1. Dasar Teori 2.1.1. Bandwidth Bandwidth adalah ukuran kapasitas dari sistem transmisi (Comer, 2004) Bandwidth adalah konsep pengukuran yang sangat penting dalam jaringan, tetapi konsep ini memiliki

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Curah hujan merupakan faktor yang berpengaruh langsung terhadap perubahan cuaca yang semakin memburuk. Curah hujan merupakan total air hujan yang terjatuh pada permukaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. logam menjadi satu akibat adanya energi panas. Teknologi pengelasan. selain digunakan untuk memproduksi suatu alat, pengelasan

BAB I PENDAHULUAN. logam menjadi satu akibat adanya energi panas. Teknologi pengelasan. selain digunakan untuk memproduksi suatu alat, pengelasan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengelasan adalah suatu proses penggabungan logam dimana logam menjadi satu akibat adanya energi panas. Teknologi pengelasan selain digunakan untuk memproduksi suatu

Lebih terperinci

BAB III PENGGUNAAN KAPASITOR SHUNT UNTUK MEMPERBAIKI FAKTOR DAYA. daya aktif (watt) dan daya nyata (VA) yang digunakan dalam sirkuit AC atau beda

BAB III PENGGUNAAN KAPASITOR SHUNT UNTUK MEMPERBAIKI FAKTOR DAYA. daya aktif (watt) dan daya nyata (VA) yang digunakan dalam sirkuit AC atau beda 25 BAB III PENGGUNAAN KAPASITOR SHUNT UNTUK MEMPERBAIKI FAKTOR DAYA 3.1 Pengertian Faktor Daya Listrik Faktor daya (Cos φ) dapat didefinisikan sebagai rasio perbandingan antara daya aktif (watt) dan daya

Lebih terperinci

PREDIKSI PERHITUNGAN DOSIS RADIASI PADA PEMERIKSAAN MAMMOGRAFI MENGGUNAKAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN PROPAGASI BALIK

PREDIKSI PERHITUNGAN DOSIS RADIASI PADA PEMERIKSAAN MAMMOGRAFI MENGGUNAKAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN PROPAGASI BALIK Berkala Fisika ISSN : 1410-9662 Vol.18, No.4, Oktober 2015, hal 151-156 PREDIKSI PERHITUNGAN DOSIS RADIASI PADA PEMERIKSAAN MAMMOGRAFI MENGGUNAKAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN PROPAGASI BALIK Zaenal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1 Tiga Bagian Utama Sistem Tenaga Listrik untuk Menuju Konsumen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1 Tiga Bagian Utama Sistem Tenaga Listrik untuk Menuju Konsumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Distribusi Pada dasarnya, definisi dari sebuah sistem tenaga listrik mencakup tiga bagian penting, yaitu pembangkitan, transmisi, dan distribusi, seperti dapat terlihat

Lebih terperinci

LAS BUSUR LISTRIK ELEKTRODE TERBUNGKUS (SHIELDED METAL ARC WELDING = SMAW)

LAS BUSUR LISTRIK ELEKTRODE TERBUNGKUS (SHIELDED METAL ARC WELDING = SMAW) Page : 1 LAS BUSUR LISTRIK ELEKTRODE TERBUNGKUS (SHIELDED METAL ARC WELDING = SMAW) 1. PENDAHULUAN. Las busur listrik elektrode terbungkus ialah salah satu jenis prose las busur listrik elektrode terumpan,

Lebih terperinci

STUDI PERANCANGAN PENGONTROL NEURO-FUZZY PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA

STUDI PERANCANGAN PENGONTROL NEURO-FUZZY PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA STUDI PERANCANGAN PENGONTROL NEURO-FUZZY PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA T 621.312 44 WIT ABSTRAK Pengontrol neuro-fuzzy (NFC) yang menirukan invers dari sistem dinamik merupakan salah satu alternatif

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sampah. Karena suhu yang diperoleh dengan pembakaran tadi sangat rendah maka

I. PENDAHULUAN. sampah. Karena suhu yang diperoleh dengan pembakaran tadi sangat rendah maka I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teknik penyambungan logam telah diketahui sejak dahulu kala. Sumber energi yang digunakan pada zaman dahulu diduga dihasilkan dari pembakaran kayu atau sampah. Karena suhu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1. Pengertian Sistem Kontrol Sistem kontrol adalah proses pengaturan atau pengendalian terhadap satu atau beberapa besaran (variable, parameter) sehingga berada pada suatu harga

Lebih terperinci

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN RBF PADA SISTEM KONTROL VALVE UNTUK PENGENDALIAN TINGGI MUKA AIR

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN RBF PADA SISTEM KONTROL VALVE UNTUK PENGENDALIAN TINGGI MUKA AIR APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN RBF PADA SISTEM KONTROL VALVE UNTUK PENGENDALIAN TINGGI MUKA AIR Wahyudi, Hariyanto, Iwan Setiawan Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jln.

Lebih terperinci

Perbaikan Metode Prakiraan Cuaca Bandara Abdulrahman Saleh dengan Algoritma Neural Network Backpropagation

Perbaikan Metode Prakiraan Cuaca Bandara Abdulrahman Saleh dengan Algoritma Neural Network Backpropagation 65 Perbaikan Metode Prakiraan Cuaca Bandara Abdulrahman Saleh dengan Algoritma Neural Network Backpropagation Risty Jayanti Yuniar, Didik Rahadi S. dan Onny Setyawati Abstrak - Kecepatan angin dan curah

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTI LAYER FEEDFORWARD DENGAN ALGORITMA BACKPROPAGATION SEBAGAI ESTIMASI NILAI KURS JUAL SGD-IDR

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTI LAYER FEEDFORWARD DENGAN ALGORITMA BACKPROPAGATION SEBAGAI ESTIMASI NILAI KURS JUAL SGD-IDR Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 205 STMIK AMIKOM Yogyakarta, 6-8 Februari 205 IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN MULTI LAYER FEEDFORWARD DENGAN ALGORITMA BACKPROPAGATION SEBAGAI ESTIMASI

Lebih terperinci

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Pengaruh Arus Listrik Terhadap Hasil Elektrolisis Elektrolisis merupakan reaksi yang tidak spontan. Untuk dapat berlangsungnya reaksi elektrolisis digunakan

Lebih terperinci

Gambar 2.1. Proses pengelasan Plug weld (Martin, 2007)

Gambar 2.1. Proses pengelasan Plug weld (Martin, 2007) BAB II DASAR TEORI 2.1 TINJAUAN PUSTAKA Proses pengelasan semakin berkembang seiring pertumbuhan industri, khususnya di bidang konstruksi. Banyak metode pengelasan yang dikembangkan untuk mengatasi permasalahan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Cara Pengambilan Data

MATERI DAN METODE. Cara Pengambilan Data MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Bagian Ilmu Produksi Ternak Perah, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan selama dua

Lebih terperinci

PREDIKSI INDEKS PASAR SAHAM S&P500, DOW JONES DAN NASDAQ COMPOSITE DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION

PREDIKSI INDEKS PASAR SAHAM S&P500, DOW JONES DAN NASDAQ COMPOSITE DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION PREDIKSI INDEKS PASAR SAHAM S&P500, DOW JONES DAN NASDAQ COMPOSITE DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION Feni Andriani 1, Ilmiyati Sari 2 1 Universitas Gunadarma, feni.andriani@staff.gunadarma.ac.id

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Pentanahan Sistem pentanahan mulai dikenal pada tahun 1900. Sebelumnya sistemsistem tenaga listrik tidak diketanahkan karena ukurannya masih kecil dan tidak membahayakan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Motor induksi (MI) adalah alat listrik yang mengubah energi listrik menjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. Motor induksi (MI) adalah alat listrik yang mengubah energi listrik menjadi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Motor induksi (MI) adalah alat listrik yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik yang berupa tenaga putar [1]. Motor induksi banyak dipakai sebagai

Lebih terperinci

Identifikasi Unsur-unsur Radioaktif dengan Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan

Identifikasi Unsur-unsur Radioaktif dengan Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Identifikasi Unsur-unsur Radioaktif dengan Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Rokhmadi 1 dan R. Muhammad Subekti 1 1. Pusat Pengembangan Teknologi Reaktor Riset (P2TRR) BATAN, Serpong Abstrak Jaringan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian Penelitian ini menggunakan satu definisi variabel operasional yaitu ratarata temperatur bumi periode tahun 1880 sampai dengan tahun 2012. 3.2 Jenis dan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Daya 2.1.1 Pengertian Daya Daya adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha. Dalam sistem tenaga listrik, daya merupakan jumlah energi yang digunakan untuk melakukan

Lebih terperinci

PERILAKU TEGANGAN SISTEM EKSITASI GENERATOR DENGAN METODA PENEMPATAN KUTUB DALAM DOMAIN WAKTU

PERILAKU TEGANGAN SISTEM EKSITASI GENERATOR DENGAN METODA PENEMPATAN KUTUB DALAM DOMAIN WAKTU PERILAKU TEGANGAN SISTEM EKSITASI GENERATOR DENGAN METODA PENEMPATAN KUTUB DALAM DOMAIN WAKTU Heru Dibyo Laksono 1, Noris Fredi Yulianto 2 Jurusan Teknik Elektro, Universitas Andalas Email : heru_dl@ft.unand.ac.id

Lebih terperinci

BAB III KONSEP PERHITUNGAN JATUH TEGANGAN

BAB III KONSEP PERHITUNGAN JATUH TEGANGAN 26 BAB KONSEP PERHTUNGAN JATUH TEGANGAN studi kasus: Berikut ini proses perencanan yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan Mulai Pengumpulan data : 1. Spesifikasi Transformator 2. Spesifikasi Penyulang

Lebih terperinci

PENERAPAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM MEMPREDIKSI TINGKAT PENGANGGURAN DI SUMATERA BARAT

PENERAPAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM MEMPREDIKSI TINGKAT PENGANGGURAN DI SUMATERA BARAT PENERAPAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM MEMPREDIKSI TINGKAT PENGANGGURAN DI SUMATERA BARAT Havid Syafwan Program Studi Manajemen Informatika, Amik Royal, Kisaran E-mail: havid_syafwan@yahoo.com ABSTRAK:

Lebih terperinci

Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Metode Backpropagation Menggunakan VB 6

Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Metode Backpropagation Menggunakan VB 6 Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Metode Backpropagation Menggunakan VB 6 Sari Indah Anatta Setiawan SofTech, Tangerang, Indonesia cu.softech@gmail.com Diterima 30 November 2011 Disetujui 14 Desember 2011

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK

MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK MODUL PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK LABORATORIUM TEGANGAN TINGGI DAN PENGUKURAN LISTRIK DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS INDONESIA MODUL I [ ] 2012 PENGUKURAN ARUS, TEGANGAN, DAN DAYA LISTRIK

Lebih terperinci

GROUNDING SISTEM DALAM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 20 KV

GROUNDING SISTEM DALAM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 20 KV GROUNDING SISTEM DALAM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 20 KV Ahmad Yani Program Studi Sistem Komputer, Universitas Dian Nusantara ahmad.yani@gmail.com ABSTRACT: In paper grounding system at 20 KV electrical

Lebih terperinci

BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Energi listrik merupakan kebutuhan berbagai industri hingga kebutuhan rumah tangga. Oleh karena itu diperlukan suatu pembangkit tenaga listrik yang kontiniu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting untuk diperhatikan karena dapat mempengaruhi sistem tegangan. Ketidakstabilan

BAB I PENDAHULUAN. penting untuk diperhatikan karena dapat mempengaruhi sistem tegangan. Ketidakstabilan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembangkitan tenaga listrik, kestabilan tegangan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan karena dapat mempengaruhi sistem tegangan. Ketidakstabilan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERANCANGAN INSTALASI DAN EFEK EKONOMIS YANG DIDAPAT

BAB IV ANALISA PERANCANGAN INSTALASI DAN EFEK EKONOMIS YANG DIDAPAT BAB IV ANALISA PERANCANGAN INSTALASI DAN EFEK EKONOMIS YANG DIDAPAT 4.1. Perancangan Instalasi dan Jenis Koneksi (IEEE std 18-1992 Standard of shunt power capacitors & IEEE 1036-1992 Guide for Application

Lebih terperinci

T 11 Aplikasi Model Backpropagation Neural Network Untuk Perkiraan Produksi Tebu Pada PT. Perkebunan Nusantara IX

T 11 Aplikasi Model Backpropagation Neural Network Untuk Perkiraan Produksi Tebu Pada PT. Perkebunan Nusantara IX T 11 Aplikasi Model Backpropagation Neural Network Untuk Perkiraan Produksi Tebu Pada PT. Perkebunan Nusantara IX Oleh: Intan Widya Kusuma Program Studi Matematika, FMIPA Universitas Negeri yogyakarta

Lebih terperinci

PREDIKSI CURAH HUJAN DI KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

PREDIKSI CURAH HUJAN DI KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK PREDIKSI CURAH HUJAN DI KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK Yudhi Andrian 1, Erlinda Ningsih 2 1 Dosen Teknik Informatika, STMIK Potensi Utama 2 Mahasiswa Sistem Informasi, STMIK

Lebih terperinci

Generalisasi rata-rata (%)

Generalisasi rata-rata (%) Lingkungan Pengembangan Sistem Sistem dikembangkan menggunakan kompiler Matlab R2008b dan sistem operasi Windows 7. Spesifikasi hardware komputer yang digunakan adalah Processor Intel (R) Atom (TM) CPU

Lebih terperinci

PENGENDALIAN PROSES EVAPORASI PADA PABRIK UREA MENGGUNAKAN KENDALI JARINGAN SARAF TIRUAN

PENGENDALIAN PROSES EVAPORASI PADA PABRIK UREA MENGGUNAKAN KENDALI JARINGAN SARAF TIRUAN PENGENDALIAN PROSES EVAPORASI PADA PABRIK UREA MENGGUNAKAN KENDALI JARINGAN SARAF TIRUAN Nazrul Effendy 1), Masrul Solichin 2), Teuku Lukman Nur Hakim 3), Faisal Budiman 4) Jurusan Teknik Fisika, Fakultas

Lebih terperinci

KLASIFIKASI MESIN LAS BERDASARKAN POWER SOURCE

KLASIFIKASI MESIN LAS BERDASARKAN POWER SOURCE WELDING SUPERVISOR COURSE Ir Winarto, MSc, PhD DEPARTEMEN METALURGI & MATERIAL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA KLASIFIKASI MESIN LAS BERDASARKAN POWER SOURCE Contoh Mesin Las PERBANDINGAN POWER SOURCE

Lebih terperinci

D. Relay Arus Lebih Berarah E. Koordinasi Proteksi Distribusi Tenaga Listrik BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN B. SARAN...

D. Relay Arus Lebih Berarah E. Koordinasi Proteksi Distribusi Tenaga Listrik BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN B. SARAN... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... v MOTTO... vi HALAMAN PERSEMBAHAN... vii KATA PENGANTAR... viii DAFTAR ISI... x DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR TABEL... xiv INTISARI...

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dijelaskan tentang gangguan pada sistem tenaga listrik, sistem proteksi tenaga listrik, dan metoda proteksi pada transformator daya. 2.1 Gangguan dalam Sistem Tenaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi listrik merupakan kebutuhan berbagai industri hingga kebutuhan rumah tangga. Oleh karena itu diperlukan suatu pembangkit tenaga listrik yang kontinu pelayanannya

Lebih terperinci

BAB III. 1) Perhitungan aliran daya yang masuk dan keluar dari satu bus penyulang (feeder bus) untuk mengetahui arus beban maksimum

BAB III. 1) Perhitungan aliran daya yang masuk dan keluar dari satu bus penyulang (feeder bus) untuk mengetahui arus beban maksimum 55 BAB III SKEMA DAN SIMULASI KOORDINASI RELE ARUS LEBIH DAN RELE GANGGUAN TANAH SEBAGAI PENGAMAN MOTOR INDUKSI, KABEL DAN TRAFO PADA PLANT XI DI PT INDOCEMENT 3.1 Umum Dalam simulasi koordinasi rele arus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi permesinan saat ini telah berkembang sangat pesat, bermula pada tahun 1940-an dimana pembuatan produk benda masih menggunakan mesin perkakas

Lebih terperinci

ANALISIS TEGANGAN JATUH PADA JARINGAN DISTRIBUSI RADIAL TEGANGAN RENDAH oleh : Fitrizawati ABSTRACT

ANALISIS TEGANGAN JATUH PADA JARINGAN DISTRIBUSI RADIAL TEGANGAN RENDAH oleh : Fitrizawati ABSTRACT ANALISIS TEGANGAN JATUH PADA JARINGAN DISTRIBUSI RADIAL TEGANGAN RENDAH oleh : Fitrizawati ABSTRACT According to the web distribution, the voltage drop is counted from the source power until the consumer.

Lebih terperinci

Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2)

Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2) Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2) Generator Sinkron Ahmad Qurthobi, MT. Teknik Fisika Telkom University Ahmad Qurthobi, MT. (Teknik Fisika Telkom University) Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2) 1 / 35 Outline 1

Lebih terperinci

PENGHEMATAN ENERGI PADA INDUSTRI SEMEN Studi Kasus : Pemasangan VSD S pada Fan

PENGHEMATAN ENERGI PADA INDUSTRI SEMEN Studi Kasus : Pemasangan VSD S pada Fan J. Tek. Ling. Vol. 10 No. 1 Hal. 62-68 Jakarta, Januari 2009 ISSN 1441-318X PENGHEMATAN ENERGI PADA INDUSTRI SEMEN Studi Kasus : Pemasangan VSD S pada Fan Teguh Prayudi Peneliti di Pusat Teknologi Lingkungan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. melalui gandengan magnet dan prinsip induksi elektromagnetik [1].

BAB II DASAR TEORI. melalui gandengan magnet dan prinsip induksi elektromagnetik [1]. BAB II DASAR TEORI 2.1 Umum Transformator merupakan suatu alat listrik statis yang dapat memindahkan dan mengubah energi listrik dari satu rangkaian listrik ke rangkaian listrik lainnya melalui gandengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Dasar Teori Pompa Sentrifugal 2.1.1. Definisi Pompa Sentrifugal Pompa sentrifugal adalah suatu mesin kinetis yang mengubah energi mekanik menjadi energi fluida menggunakan

Lebih terperinci

BAB 1 RINGKASAN MATERI

BAB 1 RINGKASAN MATERI BB RINGKSN MTERI Mata Pelajaran : Dasar-dasar listrik dan elektronika Bahan Kajian : rus Listrik dan Satuannya Kelas/semester : 0/ Kompetensi Dasar : Menjelaskan arus, tegangan dan tahanan listrik Peristiwa

Lebih terperinci

PERAMALAN BEBAN LISTRIK JANGKA PENDEK DI BALI MENGGUNAKAN PENDEKATAN ADAPTIVE NEURO-FUZZY INFERENCE SYSTEM (ANFIS)

PERAMALAN BEBAN LISTRIK JANGKA PENDEK DI BALI MENGGUNAKAN PENDEKATAN ADAPTIVE NEURO-FUZZY INFERENCE SYSTEM (ANFIS) PERAMALAN BEBAN LISTRIK JANGKA PENDEK DI BALI MENGGUNAKAN PENDEKATAN ADAPTIVE NEURO-FUZZY INFERENCE SYSTEM (ANFIS) L K Widyapratiwi 1, I P A Mertasana 2, I G D Arjana 2 1 Mahasiswa Teknik Elektro, Fakultas

Lebih terperinci

Assalamuaalaikum Wr. Wb

Assalamuaalaikum Wr. Wb Assalamuaalaikum Wr. Wb Standar Kompetensi Memahami listrik dinamis dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari Kompetensi Dasar Mendeskripsikan pengertian arus listrik, kua arus listrik dan beda potensial

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA. 4.1 ETAP (Electrical Transient Analyzer Program) Vista, 7, dan 8. ETAP merupakan alat analisa yang komprehensif untuk

BAB IV ANALISA DATA. 4.1 ETAP (Electrical Transient Analyzer Program) Vista, 7, dan 8. ETAP merupakan alat analisa yang komprehensif untuk BAB IV ANALISA DATA 4.1 ETAP (Electrical Transient Analyzer Program) ETAP merupakan program analisa grafik transient kelistrikan yang dapat dijalankan dengan menggunakan program Microsoft Windows 2000,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. proses yang kontinu membutuhkan komponen-komponen elektronika dan komponen

BAB 1 PENDAHULUAN. proses yang kontinu membutuhkan komponen-komponen elektronika dan komponen BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kebutuhan peningkatan produktifitas dalam industri dan diinginkannya suatu proses yang kontinu membutuhkan komponen-komponen elektronika dan komponen elektronika

Lebih terperinci

Kata kunci : gardu beton; grid; pentanahan; rod

Kata kunci : gardu beton; grid; pentanahan; rod EVALUASI INSTALASI SISTEM PENTANAHAN PADA GARDU DISTRIBUSI BETON TB 54 PT. PLN (PERSERO) AREA JATINEGARA Yasuko Maulina Shigeno, Amien Rahardjo Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Indonesia Abstrak

Lebih terperinci

STUDI PEMODELAN DAN PENGENDALIAN ELECTRIC ARC FURNACE (EAF) DI PT. BARATA INDONESIA (Persero)

STUDI PEMODELAN DAN PENGENDALIAN ELECTRIC ARC FURNACE (EAF) DI PT. BARATA INDONESIA (Persero) STUDI PEMODELAN DAN PENGENDALIAN ELECTRIC ARC FURNACE (EAF) DI PT. BARATA INDONESIA (Persero) Mochamad Muslim Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Lebih terperinci

BAB I TEORI RANGKAIAN LISTRIK DASAR

BAB I TEORI RANGKAIAN LISTRIK DASAR BAB I TEORI RANGKAIAN LISTRIK DASAR I.1. MUATAN ELEKTRON Suatu materi tersusun dari berbagai jenis molekul. Suatu molekul tersusun dari atom-atom. Atom tersusun dari elektron (bermuatan negatif), proton

Lebih terperinci

BAB I LAS BUSUR LISTRIK

BAB I LAS BUSUR LISTRIK BAB I LAS BUSUR LISTRIK A. Prinsip Kerja Las Busur Listrik Mengelas secara umum adalah suatu cara menyambung logam dengan menggunakan panas, tenaga panas pada proses pengelasan diperlukan untuk memanaskan

Lebih terperinci

Prediksi Pergerakan Harga Harian Nilai Tukar Rupiah (IDR) Terhadap Dollar Amerika (USD) Menggunakan Metode Jaringan Saraf Tiruan Backpropagation

Prediksi Pergerakan Harga Harian Nilai Tukar Rupiah (IDR) Terhadap Dollar Amerika (USD) Menggunakan Metode Jaringan Saraf Tiruan Backpropagation 1 Prediksi Pergerakan Harga Harian Nilai Tukar Rupiah (IDR) Terhadap Dollar Amerika (USD) Menggunakan Metode Jaringan Saraf Tiruan Backpropagation Reza Subintara Teknik Informatika, Ilmu Komputer, Universitas

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengenalan suara (voice recognition) dibagi menjadi dua jenis, yaitu

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengenalan suara (voice recognition) dibagi menjadi dua jenis, yaitu BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan Suara. Pengenalan suara (voice recognition) dibagi menjadi dua jenis, yaitu speech recognition dan speaker recognition. Speech recognition adalah proses yang dilakukan

Lebih terperinci

SKRIPSI / TUGAS AKHIR

SKRIPSI / TUGAS AKHIR SKRIPSI / TUGAS AKHIR PENGARUH BENTUK KAMPUH LAS TIG TERHADAP SIFAT MEKANIK MATERIAL BAJA ST 37 CAHYANA SUHENDA (20408217) JURUSAN TEKNIK MESIN LATAR BELAKANG Pada era industrialisasi dewasa ini teknik

Lebih terperinci

Perancangan Mesin Pengangkut Produk Bertenaga Listrik (Electric Low Loader) PT. Bakrie Building Industries BAB III

Perancangan Mesin Pengangkut Produk Bertenaga Listrik (Electric Low Loader) PT. Bakrie Building Industries BAB III BAB III PERANCANGAN MESIN PENGANGKUT PRODUK BERTENAGA LISTRIK (ELECTRIC LOW LOADER) PT. BAKRIE BUILDING INDUSTRIES 3.1 Latar Belakang Perancangan Mesin Dalam rangka menunjang peningkatan efisiensi produksi

Lebih terperinci

Pengembangan Aplikasi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dengan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation

Pengembangan Aplikasi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dengan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation Erlangga, Sukmawati Nur Endah dan Eko Adi Sarwoko Pengembangan Aplikasi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dengan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation Erlangga, Sukmawati Nur Endah dan Eko Adi Sarwoko

Lebih terperinci

Aplikasi yang dibuat adalah aplikasi untuk menghitung. prediksi jumlah dalam hal ini diambil studi kasus data balita

Aplikasi yang dibuat adalah aplikasi untuk menghitung. prediksi jumlah dalam hal ini diambil studi kasus data balita BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1. Analisa dan Kebutuhan Sistem Analisa sistem merupakan penjabaran deskripsi dari sistem yang akan dibangun kali ini. Sistem berfungsi untuk membantu menganalisis

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MEMPREDIKSI HARGA SAHAM

IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MEMPREDIKSI HARGA SAHAM IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MEMPREDIKSI HARGA SAHAM Ayu Trimulya 1, Syaifurrahman 2, Fatma Agus Setyaningsih 3 1,3 Jurusan Sistem Komputer, Fakultas MIPA Universitas

Lebih terperinci

PENYEARAH ARUS S1 INFORMATIKA ST3 TELKOM PURWOKERTO

PENYEARAH ARUS S1 INFORMATIKA ST3 TELKOM PURWOKERTO PENYEARAH ARUS S1 INFORMATIKA ST3 TELKOM PURWOKERTO 1. Gelombang Sinus Bentuk gelombang sinus ditunjukkan seperti pada Gambar dibawah ini. Gelombang sinus tersebut sesuai dengan persamaan v = p sin θ dimana

Lebih terperinci

STUDI KOMPARASI KUALITAS PRODUK PENGELASAN SPOT WELDING DENGAN PENDINGIN DAN NON-PENDINGIN ELEKTRODA

STUDI KOMPARASI KUALITAS PRODUK PENGELASAN SPOT WELDING DENGAN PENDINGIN DAN NON-PENDINGIN ELEKTRODA C.9. Studi Komparasi Kualitas Produk Pengelasan Spot Welding dengan Pendingin... (Muh Alfatih Hendrawan) STUDI KOMPARASI KUALITAS PRODUK PENGELASAN SPOT WELDING DENGAN PENDINGIN DAN NON-PENDINGIN ELEKTRODA

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN Semua mekanisme yang telah berhasil dirancang kemudian dirangkai menjadi satu dengan sistem kontrol. Sistem kontrol yang digunakan berupa sistem kontrol loop tertutup yang menjadikan

Lebih terperinci

Pangan merupakan salah satu dari tiga kebutuhan pokok manusia, dan ketersediaan pangan yang cukup adalah masalah yang kompleks yang memiliki

Pangan merupakan salah satu dari tiga kebutuhan pokok manusia, dan ketersediaan pangan yang cukup adalah masalah yang kompleks yang memiliki 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Algoritma propagasi balik (backpropagation) adalah salah satu algoritma yang terdapat pada metode jaringan saraf tiruan (JST) dimana algoritma ini memiliki kecenderungan

Lebih terperinci

ANALISA PENGARUH BEBAN TIDAK SEIMBANG TERHADAP RUGI DAYA LISTRIK PADA JARINGAN DISTRIBUSI SEKUNDER HASBULAH

ANALISA PENGARUH BEBAN TIDAK SEIMBANG TERHADAP RUGI DAYA LISTRIK PADA JARINGAN DISTRIBUSI SEKUNDER HASBULAH ANALISA PENGARUH BEBAN TIDAK SEIMBANG TERHADAP RUGI DAYA LISTRIK PADA JARINGAN DISTRIBUSI SEKUNDER HASBULAH Jurusan Teknik Elektro, Program Studi Teknik Listrik Politeknik Negeri Sriwijaya Email: hasbulahhasan@gmail.com

Lebih terperinci

BAB IV PERUBAHAN BENTUK DALAM PENGELASAN. tambahan untuk cairan logam las diberikan oleh cairan flux atau slag yang terbentuk.

BAB IV PERUBAHAN BENTUK DALAM PENGELASAN. tambahan untuk cairan logam las diberikan oleh cairan flux atau slag yang terbentuk. IV - 1 BAB IV PERUBAHAN BENTUK DALAM PENGELASAN SMAW adalah proses las busur manual dimana panas pengelasan dihasilkan oleh busur listrik antara elektroda terumpan berpelindung flux dengan benda kerja.

Lebih terperinci

DASAR TEORI. Kata kunci: Kabel Single core, Kabel Three core, Rugi Daya, Transmisi. I. PENDAHULUAN

DASAR TEORI. Kata kunci: Kabel Single core, Kabel Three core, Rugi Daya, Transmisi. I. PENDAHULUAN ANALISIS PERBANDINGAN UNJUK KERJA KABEL TANAH SINGLE CORE DENGAN KABEL LAUT THREE CORE 150 KV JAWA MADURA Nurlita Chandra Mukti 1, Mahfudz Shidiq, Ir., MT. 2, Soemarwanto, Ir., MT. 3 ¹Mahasiswa Teknik

Lebih terperinci

Sistem Pengemudian Otomatis pada Kendaraan Berroda dengan Model Pembelajaran On-line Menggunakan NN

Sistem Pengemudian Otomatis pada Kendaraan Berroda dengan Model Pembelajaran On-line Menggunakan NN Sistem Pengemudian Otomatis pada Kendaraan Berroda dengan Model Pembelajaran On-line Menggunakan Eru Puspita Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS Keputih

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. melakukan kerja atau usaha. Daya memiliki satuan Watt, yang merupakan

BAB II LANDASAN TEORI. melakukan kerja atau usaha. Daya memiliki satuan Watt, yang merupakan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Daya Daya adalah energi yang dikeluarkan untuk melakukan usaha. Dalam sistem tenaga listrik, daya merupakan jumlah energi yang digunakan untuk melakukan kerja atau

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR TABEL... x. DAFTAR NOTASI... xi Rumusan Masalah...

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR TABEL... x. DAFTAR NOTASI... xi Rumusan Masalah... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i ABSTRAK... iii ABSTRACT... iv DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR TABEL... x DAFTAR NOTASI... xi BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Rumusan Masalah...

Lebih terperinci

BAB XI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB XI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kementerian Perindustrian Republik Indonesia 11-1 BAB XI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 11.1 KESIMPULAN Berdasarkan hasil pelaksanaan audit energi yang dilakukan dan kajian terhadap kebutuhan teknologi Konservasi

Lebih terperinci

PENGENDALIAN VALVE UNTUK MENGATUR KETINGGIAN AIR DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN B-SPLINE

PENGENDALIAN VALVE UNTUK MENGATUR KETINGGIAN AIR DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN B-SPLINE Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN: 1907-5022 Yogyakarta, 21 Juni 2008 PENGENDALIAN VALVE UNTUK MENGATUR KETINGGIAN AIR DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN B-SPLINE

Lebih terperinci

ANALISA UJI TRANSFORMATOR 350 V/20 A UNTUK CATU DAYA NITRIDASI PLASMA DOUBLE CHAMBER

ANALISA UJI TRANSFORMATOR 350 V/20 A UNTUK CATU DAYA NITRIDASI PLASMA DOUBLE CHAMBER 244 ISSN 0216-3128 Saefurrochman., dkk. ANALISA UJI TRANSFORMATOR 350 V/20 A UNTUK CATU DAYA NITRIDASI PLASMA DOUBLE CHAMBER Saefurrochman dan Suprapto Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan-BATAN,

Lebih terperinci

PERAMALAN HARGA SAHAM PERUSAHAAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DAN AKAIKE INFORMATION CRITERION

PERAMALAN HARGA SAHAM PERUSAHAAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DAN AKAIKE INFORMATION CRITERION Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 20 (SNATI 20) ISSN: 19-5022 Yogyakarta, 16 Juni 20 PERAMALAN HARGA SAHAM PERUSAHAAN MENGGUNAKAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DAN AKAIKE INFORMATION CRITERION

Lebih terperinci

GROUNDING SISTEM DALAM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 20 KV

GROUNDING SISTEM DALAM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 20 KV GROUNDING SISTEM DALAM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 20 KV Moediyono Program Diploma III Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Abstract Moediyono, in paper grounding system at 20 KV electrical

Lebih terperinci

PENGEREMAN DINAMIK PADA MOTOR INDUKSI TIGA FASA

PENGEREMAN DINAMIK PADA MOTOR INDUKSI TIGA FASA Pengereman Dinamik Pada Motor Induksi Tiga Fasa (A. Warsito, M. Facta, M Anantha BP) PENGEREMAN DINAMIK PADA MOTOR INDUKSI TIGA FASA Agung Warsito, Mochammad Facta, M Anantha B P a.warsito@elektro.ft.undip.ac.id,

Lebih terperinci

PENGENDALIAN POSISI MOBILE ROBOT MENGGUNAKAN METODE NEURAL NETWORK DENGAN UMPAN BALIK KAMERA PEMOSISIAN GLOBAL

PENGENDALIAN POSISI MOBILE ROBOT MENGGUNAKAN METODE NEURAL NETWORK DENGAN UMPAN BALIK KAMERA PEMOSISIAN GLOBAL PENGENDALIAN POSISI MOBILE ROBOT MENGGUNAKAN METODE NEURAL NETWORK DENGAN UMPAN BALIK KAMERA PEMOSISIAN GLOBAL Randy Reza Kautsar (1), Bima Sena Bayu D S.ST M.T (2), A.R. Anom Besari. S.ST, M.T (2) (1)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN I-1 BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah dari penelitian, perumusan masalah, tujuan dan manfaat, batasan masalah, asumsi yang yang diangkat dalam penelitian serta sistematika

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jaringan Syaraf Tiruan (artificial neural network), atau disingkat JST menurut Hermawan (2006, hlm.37) adalah sistem komputasi dimana arsitektur dan operasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metodologi yang digunakan dalam penelitian skripsi ini antara lain adalah: 1. Studi literatur, yaitu cara menelaah, menggali, serta mengkaji teoremateorema

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Angin Angin adalah udara yang bergerak akibat adanya perbedaan tekanan udara dengan arah aliran angin dari tempat yang memiliki tekanan tinggi ke tempat yang bertekanan

Lebih terperinci

Kata Kunci Pentanahan, Gardu Induk, Arus Gangguan Ketanah, Tegangan Sentuh, Tegangan Langkah, Tahanan Pengetanahan. I. PENDAHULUAN

Kata Kunci Pentanahan, Gardu Induk, Arus Gangguan Ketanah, Tegangan Sentuh, Tegangan Langkah, Tahanan Pengetanahan. I. PENDAHULUAN PERANCANGAN SISTEM PENGETANAHAN PERALATAN DI GARDU INDUK PLTU IPP (INDEPENDENT POWER PRODUCER) KALTIM 3 Jovie Trias Agung N¹, Drs. Ir. Moch. Dhofir, MT.², Ir. Soemarwanto, M.T.³ ¹Mahasiswa Teknik Elektro,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hasil yang diperoleh semakin baik dan sesuai dengan yang diinginkan.

BAB I PENDAHULUAN. hasil yang diperoleh semakin baik dan sesuai dengan yang diinginkan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inovasi didalam mesin mesin listrik khusus terus berkembang dengan cepat dan selaras dengan perkembangan karakteristik masyarakat modern yang memiliki mobilitas tinggi,

Lebih terperinci

Aplikasi Artificial Neural Network (ANN) untuk Memprediksi Perilaku Sumur Geotermal

Aplikasi Artificial Neural Network (ANN) untuk Memprediksi Perilaku Sumur Geotermal Aplikasi Artificial Neural Network (ANN) untuk Memprediksi Perilaku Sumur Geotermal Henny Dwi Bhakti 1,a), Acep Purqon 2,b) 1 Program Studi Sains Komputasi, FMIPA ITB Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA. Berdasarkan data mengenai kapasitas daya listrik dari PLN dan daya

BAB IV ANALISA DATA. Berdasarkan data mengenai kapasitas daya listrik dari PLN dan daya BAB IV ANALISA DATA Berdasarkan data mengenai kapasitas daya listrik dari PLN dan daya Genset di setiap area pada Project Ciputra World 1 Jakarta, maka dapat digunakan untuk menentukan parameter setting

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Proyek konstruksi merupakan kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu yang terbatas, dengan sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasaran

Lebih terperinci