'rl. ,,l L57 METODE UNTUK MENGHITUNG GANGGUAN KILAT PADA KAWAT TRANSMISI TIGANGAN TINGGI. 'ill. T.S. Hutauruk

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "'rl. ,,l L57 METODE UNTUK MENGHITUNG GANGGUAN KILAT PADA KAWAT TRANSMISI TIGANGAN TINGGI. 'ill. T.S. Hutauruk"

Transkripsi

1 i, I Elecrntcel ENGTNEERTNG L57 METODE UNTUK MENGHITUNG GANGGUAN KILAT PADA KAWAT TRANSMISI TIGANGAN TINGGI T.S. Hutauruk Bagian Elektroteknik, Dept. Mesin-Elektro. (Diterima : Septctnber 1964) ICHTISAR Metode AIEET jang lebih dttri sepuluh tahun terachir ini clipakai untuk tnenghitung gongguon kilot pala kaxot transmisi, ternjata tidak dapat logi dipakai rrntuk kavot tnrn.stnisi tegangqil tinggi (15 Kv atuu Iebih). foietode ini rnemltei ikan hnsil juttg terlantpcru rendah. h[etode2 jang Iain (T'eori Gelont;ang Berdjulorf, Teori ll'iedatts,a durt trfetotle Computer l)fonte Carloi') telah ditjoba lun nenbcrikan hasil jang lebih memuaskan. Berdasarlian teori! jang disehut tliatas penulis nrcntjoha nrenguraikan salu nretode analitis jang titpat dipergunakon untuli computer qtau detgan perloloilgail ntislor hitililg,,],l i. 'rl,,l 'ill r ABSTRACT. AIEE metlnclt for calculatitig the lightnittg outages of tran.rmission lines hos been accepted and applied for more than a decade, It is realized that for e.\trq higlt rcltoges (15 Kv and higlrcr) tlils ntethod can no Ionger be oppliad. It gires Ioo lot ralues contparad to obseryation.r. Some otlrer rnetlutds (Trareling lvave Tlrcory2, Field Theory\,t and Morrte Carlo Coriipuier Ntethod1) lraye been tried and gire nnre satisfactorily rentlts. Busei ott the theorics nicrrlioned abore the vriter ties to outlitrc uil etrctl)tit'al tnetltod tlnt cun be oppliel to cither computell 6y hy meutt o.f :lide rules. PFNDAHULUAN: Kilat adalah pclepasan ldischarge) rnuata.ll listrik di udara: antara gumpalanz embun, alltnra gurnpalau enrbun dan bumi, atau alttara gumpalan embun dan sesuatu benda di bumi. Sering kilat lnendatangkan kerugian karena merusakkan bendtrz bahkan mengambil banjak korban manusia. Sampai sekarang belurl ada sardjriruz jang menurrcijukkan kegunaan kilat bagi kehidirpan. Apa jang kita ketahui hanjalah kerusakan2 jang ditinrbulkan olelrnja. Kilat itu tidak dapat sebeiuntnja diramalkan akan besarnja, waktu, frekwensi, da"n tempat dimaria ia akan melepaskan muatannja ciipcrmukaan l\:;'rii{ t tli\\(ll-oci ll_\\rjt \(;

2 159.r.. s. 1rr,f,\L:Rari bumi. Sardjana2 belum mendapat djalan untrrk mentjegahnja. walarrpun demikia.n dengan alat pengaman dapat dikontrol besar enersi kilat jang niengenai sesuatu alat. Salah satu alat pengamarl ialah kaw:rt tanah (static rvire) untuk melindungi kau'at fasa dari kawat trarrsmisi. Karena kilat itu se- Ia.lu mentjari djalan jang terpendek untuk pelepasan mrratan listriknja maka kawat tanah itu hanrs diburt lebih tinggi dari kawat fasa. Tulisan ini bermaksud me'rberikan suirtu tjara rnenghitung gr.ngguan kilat pada kawat transmisi berdasarkan teori2 jang telah e.ja. Jang dimaksud dengan gangguarl kilat pada kawat tra'smisi ialah gangguan kirrena kilat menjambar ka-rvat transrnisi, baik pada. kawat tanah maupun pada kawat fasa, dan mcnjebabkan terganggunja kawat trerrsmisi itu menghantarkan daja listrik. Satuan gangguan biasanja dipakai djumlah gangguan per 1 km per tahun. Garrgguan karena kilat ini biasanja dibagi menurut tempat dimana kilat itu mengena.i kav'a.t transmisi. pembagian jang umum dipakr.i ialah: a. gangguan kilat pada kawat ta.nah, c:lu b. gangguan ftilat pada kawat fasa (: shielding failures). Untuk keperluan perhitungan, ganggran kilat pada kaivat tanah dibegi legi dalam tiga matjarn gangguan, jaitu: dimana l. gangguan kilat pada llletlara tran.srlisi (stroke to towers), 2' gangguan kilat pada seperempat djarak dari menara transmisi (stroke to quarter-span), dan 3. gangguan kilat pada pertengahan antara dua menara transmisi (stroke to mid-span). Djadi dengan mmus djumlah gangguan itu dapat clinjatakan sebagai O:SF+O,+Oq+O., SF : djumlah gangguan kilat pada kawat firsa, O, : djumlah gangguan kilat pada menara transmisi, Oo : djumlah gangguan kilat pada seperempat djarak dari menara, dan O* : djumlah gangguan kilat pada pertengaharr antara dua menara transmisi. Tidak semua kilat jang mengenai kawat tanah meninrbulkan gangguan, tetapi kilat jang mengenai kawat fasa dapat dianggap selalu menimbulkan gangguan. (l) \-ol. 3. NO. 3. procf:edr\cs 1965

3 ill:frfdlr L-\'rt. ii \IFl-\(inI'1 1 \(; 159 Sampai saat ini telah banjak tjara ditjoba untuk menghitung djumlah gangguan padr kawat transmisi jang ditimbulkan oich kilat. Disini disebut empa.t metode jang dikenal oleh pemrlis, jaitu Metode AIEET, Teori Gelombang Berdjalan2, Teori Medan3,a, dau Metode Computer Monte Carlos. Dengan bertambah besarnja tegangan kerdja telah terbukti behwa Metode AIEE tidak dapat dipakai lagi. Metode ini membcrikan djumlah gangguan ja.ng djaulr terlalu rendah dibandingka.tr dengirn gangguan jang sesungguhnja terdjadi untuk kawat transmisi tcgangan tinggi (dengan tegangan kerdja lebih dari l3b KV). Hauja untuk tegangan kerda jr.ng lebih rendr,h dari 138 KV rnetode ini masih dapat dian-egap memberikan haiil jang memuaskan. Metodee Gelornbang Bcrdjalan dan Teori Medan mcmpunjai persama.an d"alam ba.njak hal. Teori Medan rnemberikan hrsii jang lebih teliti dibandingkan dengan Teori Gelomba.ng Berda.lan, tetapi perbedaan persentase anta.ra kedua teori itri berkurang denga.n bertambahnja besar permukr.an2 gelornba.ng (: wavefronts) dari arus (tegangan) kilat, dan ketjuali dalam ha.l wavefronts persegi (rectangular wavefronts) kedua teori itu memberi hrsil ja-ng hampir sama. Kesulitan d.ari baik Teori Gelomba.ng Berdalan maupun Teori Medrn timbul karena kekurr.ngan pengetahuan kita akan sifatz d:rri anrs kilat, a-ntara lain bentuk gelombang kiiat, seringnja terdjadi (freqrrency of occurrence), dan harga puntjak (peak vaiues) dari kilat itu. Metode Computer Monte Carlo ja.ng d.ikerr,rrkakan oleh Anderson telah mulai dipakai sedjak- tahun 196 di Amerika Serikat. Metode ini sunggrrh2 mend.orong para tekrdsi kawat transmisi. Kesulitannja ialah karena metode ini memerlukan model dari kawat transmisi, sebuah surge generator, d"a.n sebuah digital, complrter. Lagi pula kadang2 hasilnja masih merupakan tarrda tanja, karena hasilnja terlalu tinggi.6 Menumt pengalamant hampir senua,,flashovers" terdadi pada kawat fa.sa jang paling atas. Hal ini sesuai dengan teori gelombang berdjalan, karena gelornbang refleksi negatip jang datang dari dasar nenara telah terlebih dahulu memperketjil gelombang pada temp-at kawat fasa jang paling barvah. (IMenurut teoril jang selama ini diterima umumnja isoiatorz jang palirrg bawahlr'h jang selalu rusak). Oleh karena itu dalan'r trrlisan ini penulis menganggap hanja. isolator jang paling atas jang mun-ekin akan rusak karena sambaran kilat pada menara. Sebagai tjontoh pemakaian metode ini penulis telah menghitung djum- Iah gangguarl kilat pada salah satu kawat transmisi 345 KV dari,,illinois Power Company", suatu perusahaan listrik di Amerika Serikat. ljontch ini diberikan dalam Appendix. I){S'I'ITUT TEK\CLOGI B,\NDU\G

4 1.64 J. Iir r'-\l'iit I\ Penrilis bernaksud djrrga menghitung djurniah ga.ngguan kilat pada kawa-t transmisi beltegrlirgan tinggi jang telah ada di tanah air kita (Djatiluhur --'Ijigareleng, 15 KV), tctapi oleh karena sampai saat ini penulis belnm rnempunjai data jai,-e ier:gkap maksud tcrsebut bciuin dapat dilaksauakan. SHIELDING FAILUR.ES. Mrilai tr',lir'rr ciirairiririlr*r'l tclali barrjak teori2, pertjobaanz, dan pengalaman2 dikemrrkrkan nteitsen;ri fungsi ka.,rat tiureh untuk meliirdungi kawat fa.sa. dari kawr-t transntisi. Pacia tahun 196 PLovotrsts mengemukakan suatu rdsum6 jang sangat b:ri1< n-rcngenai perirrian kr.u'at ta.nah. Berdasarkan tec'ri itu Prcvoost nienalill ke sinil-,ulan b;.liwa: l. rintuk sudut irroteksi L18" ;rerlindungirn karv;rt transmisi itu 6aift, 2. untuk sud.r;t proteksi,,_ -43" kurctitg buth, dait 3. untuk suci-ut ploteksi ljcick. Kernudian Kostenko, Polor,'oy, dan Rosenfelcle dalam tahun 1961 mengemuk-akan ka.ra-tgelr jang lebih menarik lagi. Mereka menundjukkan bahwa djrrmlalt ga.r1ggu...i1 kilat pa.da kari.:it fr.sa r.delah sebagai fungsi dari sudut proteksi dan tin-egi mellara li, sep.erti teriihat dari relasi empiris dibau,alr ini r ''h. log,l: (2) 9"-4 qrmana tj : hasil bi._ei drri cijumb'h kil:,t (strokes) jar,g mengene.i kawat fasa dan djurni:jr kikit jairg nrcngciiai i-:r.rvatrairsmisi, : suciut pi'oteksi pa.ca mei'iara, dera.djet, It, : tinggi karrat tanair pa.da menai&, nleter. Persatnaan (2) diatas dir.ng-eap oleh sebagiail besar teknisie karvat transrnisi Iebih ruiggul dari tja.ra2 jan_e li,in. Achirs ini Yorrng, Clal'ton, dan Iliiernanll ntenrrlis karar,gan dengan tuduan serupa. Keuntungan tjara jatrg tclr.chir ir,i ialah ka.rera tjarii ini mentperhitungkan perlgiiruli dari clja-rak vertikai dirn horizontal d"ari kawat fasa terhadap ka.r'at t.r.nah sepandjang kau'at antara dua meuara. Tetapi tjara menghitungrrja saugat susah clan r,emerhikan digital computer. Untuk krrwa-tra.nsinisi di Ind.or'.esiii cl.er.igrln te-qangall kerdj a jang sampa.i sekarang birru mentjapai i5 KV n-liika pa.da hetlat penulis tjara Kostenkolah jang paling praktis. Djuga pemrlis akan memaka-i pel'samaan (2) diatas untul( merlgiritung djumlah gan-aguan kilat pada karvat frrsa.

5 litrtodl L:\TUK \fi.]ngfiitltnc 161 Dja.di bila L menjatakan djumlah kilat jang mungkin mengenai kawat tra.nsmisi ma.ka djumla.h gangguan kilat pada kawat fasa iala.h SF:oL gangguan per 1 km per tahun. ltjara rnenghitung L dapat dilihat pada le.ngkah 13, 14, dan 15 dibarvah titel,,gangguan Kilat Pada Menara"). GANGGUAN KILAT P.4.DA KAWAT TANATI. Didalam br.b penda.huluan telah C.isebut bahiva metode AIEE itu tidek dapat lagi dipergunakan uirtuk nengiitung g?.ngguan kilat pada kawat transmisi teganga.n tinggi, ja-itu d-engan te-cangan kerdja lebih besa-r dari 138 KV. Djadi perlu kira.nja ditja.ri sua.tu tjara. jang tjotjok untuk keadaan Indonesia, dimana digital cclnputer untu.k keperlua.n teknik dr.n ilnru pengetahuan eksakta belum a.d.a, u-ntuk menggautikan tj.".ra jang larna itu. Djuga telah disebut bahwa gangguan kilat pada kawat ta.na.h dibr.gi d".lirm tiga matjam gangguan berdasarkr.n padl tempat dimr.ira kilat nengena.i karvat tanah. Dalam tulisan ini pcn',rlis mengusulkan urrtrtk mema.kai teori gelomba.ng berdja.lan nntuk merglriturrg djumla.h gangguan kiiat pa.da menara transmisi dan rnemakai metode AIEE untuk rnenghitung gangguan kilat pada seperempat djarak dan setenga.h djarak da.ri menara. Menurut Andersons perbandinga.n djumlah kilat ja.ng mengenai menara, seperempat djarak dari menara, dan setengah djarak dari menara berturutturut adalah sebagai 6,/o, 3Ao1'o, dan 11/o. Dari "frequency histogram"ll arus kilat dapat diba.gi dalam beberapa kategori. Didalan Tabel 1 arus kilat itu dibagi dalam 5 kategori. Tabel 1 ini memberikan hubungan antara besar arus kilat dan seringnja terdjadi. Tabel 2 memberikan hubungan antata waktn untuk mentjapai ha-rga puntjak (pandjangnja wavefronts) dan seringnja terdjadi. Da.lam tulisa.n ini bentuk gelombang kilat itu dianggap sebagai berikut: mula2 besa.rnje- nailc dari noi sampsi harga tertentu, jaitu harga puntjak, setjara linier dan kemudia.n mendatar. TABHL I. Hubungan antara arus kilirt darr serirrgnja terdjadi. Arus Kilat (ka) Scringrla Terdjadi (9i) JZ+ 2 () 2 INS'rIl'Llr''l',t.iiNi)LcoI l).\l\i)i \c

6 162.T. S. TIUf',\URUK TABEL 2. Hubunga.' ant']ra wa-ktu untuk mentjapai harga puntjak dan seri'gnja terdiadi. Waktu untuk mentjapai harga puntjak (ms),5 1, ' l5 rr to ) 2, Seringnja terdjadi (%) GANGGUAN KILAT PADA MENARA. Untuk menghitung ganggunn kilat pa.da mcnara dip2ftai tecri gelomjang paling bang berdja.lan dan urutannja adalah sebagai berikut: 1. Hitung kopeling, K, antara karvat tanah dan kawat fasa atas. (Untuk kawat tra.nsmisi jang tersusuu horizontal antarekawat tanah dan ka.wat fasa jang paling pin_egir). Gambar 1. t : ln a,'la, U;1rn-;g untuk satu kawat tanah (3) dimana K: 1/1a.r' t""1r(a, a) ln 12h*1riaJ untuk dua kawat tanah a1 : djarak antara kawat tanah-l dan kawat fasa, meter, ar' : djarak alltara kawat tanah-l dan kawat fasa bajangan limage), meter, ^z : djarak antara kawat tanah -2 dan kawat fasa, meter, ar' : djarak antara karvat tanah-2 dan kawat fasa bajangau, meter. hg : tin-sgi rata2 karvat tz.n,ah diatas tanah, meter, r : radirrs karva.t tanah, meter,?.12: djarak antara kawat tanah-l dan kawat tanah_2, meter. 'ringgi rata2 kawat tanah, h*, iei*h tinggi kawat pad.a menara, h,, dikura'gi dua-pertiga. dari sa.g. \-or,. 3. No. 3. procr,:ldtngs 1965

7 IIEf OIIE UnSTUK IIENGIIITUNG 163 kawat tanatr kawat fasa bidang troferensi a1 lcawat2 tral angan Camb. l. Garnbar kawat transmisi. Sebelum menghitung a, da.n a, harus terlebih dahulu dihitung tinggi rata2 kawat tanah dan kawat fasa cl.iatas tanah. 2, Hitung,,surge impedance" kawat tanah, 2,,: zr: Eot" (?) untuk satukawat tanah dan t 2h- >. Z":6 tr (l-_./ untuk dua kawat tanah (4 INSTITT'T'I JIK\IOI-OGI BA\DL\G

8 '164 HUT.q.URUK 3. Hitung djari-djari ekivalen dari menara menurut rumus Anderson dan Hagenguthlz. (Lihat Gambar 2). r^l,l ipr l Gamb. 2. Penanpang menara transurisi untuk menghitung djari2 ekivalen, r1. ln r,. : h'g-- -, {xu (ln xo -,37) -- xu (ln x, -,87) } * h,(xu _ X,). " h'- rt' ln 1r, 14 x") (5) h, dimana r., ho, h,, x6, dan x, dalam feet. 4. Flitnng surge impedance n1enzral, Zri z,:6r" (v; tf) (6) dimana h, dnn r, haius dinjatakan dalam satuan jang slma. 5. Hiturrg koefisien transmisi, a, pada puntjak menara untuk gelombang2 jang datang dari dasar menara: 2Z* (7) o:,;rr, vor,. 3. xo. 3. rrocledincs 1965

9 }I}i:I'ODE UNl'UK \1I1\(;iII I'L':J(; "t65 6. Hitung koefisien refleksi, b, pad.a puntjak mcnara untuk gelombangs jang datang dari dasar menara: b:a-l (8) 7. Hitung tegangan pada puntjak menara, e : Z. Z, c---rkv " - Z*+22,'" (e) dimana dan I" : arus kiiat, I(a, I": IotKauntukO<t I. : I Ka untuk t I : harga puntjak dari menara, Ka, <T >T arus kilat jang melalui T : wa.klu untrrk mentjapai harga puntjak atau pandja.ng wavefront dari kilat, mikrodetik. 8. Pilih harga tahanan tanah (torver footing resistance), R' dan hitung koefisien refleksi, d, pada dasar menr.ra untuk gelombangz jang datang dari puntjak fir r,at&r d: Rt-Z, Rf -l Zt (1) Bila tahanan tanah, R' pada daerah itu berbeda-beda pada tiap tempat, perhitungan hanrs dilakukan untuk tiap harga R, ata.u setjara pendekatan dapat diambil harga rata2 tahanan untuk daerah itu. 9. Pilih salah satu harga wavefront, T, dari Tabel2 dan hitung waktu kritik, t", jaitu waktu pada saat mana tegangan pada puntjak berkurang setjara mendadak karena gelombang refleksi negatip dari dasar menara: dimana t" : T * xi/c (mikrodetik) (l 1) xr : djarak vertikal antara prrntjak menara dan kawat fasa pada menara, meter c : ketjepatan merambat tjalraja : 3 meter per mikrodetik. 1. Pilih salah satu harga arus kilat, I, dari Tabel I, dan hitung tegangan pada isolator, V,, (Lihat djuga diagran tangga pada Gambar 3.) INSTITUT TEKNOLOGI B^4.NDUNG

10 166 T. S. HUTAURUK 2T'r c Gamb. 3. Diagram Tangga untuk Menghitung Tegangan Isolator. VoL. 3, No. 3. PROCE,E,DINGS 1965

11 }fl,tode UNTL I{ TiIiNGIIITT-'NG 167 Vi:e.(1 - c "" (,. K)(t"-xrc)+ _,+) + d e, (b- K.) (r"- 4+") - crzbeo(,"-9f). d2b - Ka) (,. * g+a) t: rl _rd3bz eo (,. - \a) _,- d,bz eo tu - Ka) (," - S+a) _r (12) dengan sjarat bahwa: t. - xl,c t^-- t-- "c 2h. ; x, U 4h. ' ; x, - dst. >o >o Didalarn persamaan (12): Zn Z, e,: fifi,r, Karena b biasanja sangat ketjil maka b2 sangat ketjil, djadi suku ke-6 dan sukuz setelah itu dapat diabaikan. 11. Bandingkanlah V, jang diperoleh dari langkah 1 dengan BIL (Basic Insulation Level) isolator2 jang dipakai. Bila BIL lebih besar dari Vt tidak ada gangguan, tetapi bila BIL lebih ketjil dari Vt terdadi gangguan. 12. Ulangi lagi langkah 9 dan l sampai semua harga2 dalam Tabel 1 dan Tabel 2 telah dipergunakan. Setelah itu hitunglah djumlah persentase kemungkinan, P, jang mungkin menimbulkan gangguan. 13. Hitung daerah, A, jang dilindungi kawat tanah untuk tiap span S dengan rumus Hagenguth.l3 INSTITLII' I'EKNOLOGI B.{NDt'\iG

12 168 1'. S. IILII'.\tilt'rrii A : (2r + l) h,2 * 4 h*(s -h,) ( 13) dimana S: A: span rataz, lneter, daerah dilindungi, meter persegi. 14. Hitung kepadatan kilat (stroke density), D: D :,23 IKL kilat per mil persegi per tahun5. :8,875 )' 1-8 IKL kilet per metei persegi per ta.hun. (14) IKL ialah djumlah hari gunrh per tal'urn; di Ba.nd.rrng IKL aclalah kiraz Hitur,g djrrmlah kiiat, L, jang mungkin mengenai kawat trrrnsmisi per 1 km pandjang kawat per tal'tun: L:1(km) x ry " A r D kilat per 1 kn.r per tahun dimana S dalam meter. (15) 16. Hitung djumlah gangguan kilat pada menara., O,:,:6;1o x I- x P :6", z 1 \ I (too lt<ml v A.' o/ S.< P ganggurn per 1 km per tahun. (16) Tjatatan: Pengaruh dari tegangan kerdja., tinggi tempat, da.n kea-daan atmosfir setempat dapat digabungkan dalam perhituu-uan dengan mengadakan koreksi pada BIL isolator2. GANGGUAN KILAT PADA StrPEREMPAT DJARAK D,{N SETENGAH DJARAK DARI MENARA TRANSMISI: Untuk menghitung gan,sguan kilat pada- seperempat dan setengah djarak dari menara dipakai metod.e AIEE, djr.di dengart mernbandingkan kekuatan isolasi dari djarak antara kav;at tanrih dan karvr.t fasa terhadap tegangan jang timbul oleh karena arus (tegangan) kilat pada tempat jang diinginkan' Kekuatan isolasi diterttukan olch djarak auta.ra kedua kawa.t. Djarak vertikal antara kawat tanah dan kawat fasa diperoleh dengan memisalkan lengkung kawat itu mememrli persamaan parabola. (Gamblr 4.) \-ol. 3. No. 3. PROC]TEDINGS 1965

13 ilfil ODL, LiN.fL'K I 1l-NGHll'LN(i 169 -'" -- T ) Ganrb. 4. Gambar kurvatanah dan kasat fusa dari katvatransnrisi. i Djadi bila: maka J- d,: d;: b: h: "nl bu: J- tinggi karvat tanah diatas tanah, meter, tinggi kawat fasa diatas tanah, meter, denjut maksimum kawa.t tanah, meter, denjut rnaksimum kar.vat fasa, meter, djarak vcrtikal anta.ra kawat tanah dan kawat fasa, meter, djarak vertikal antara kawat tanah dan kawat fasa pada pertengah.an afltara dua menara, meter, djarak vertikal antara karvat tanah dan kawat fasa pada scpcrempat c{jarak dari menara, meter, d,, h, --,rt xe (17) J_ b: b: q h- d'. I n' - t- is,t v (n,-?)-('' -v -T) (h,-d")-(h;-dj ( l8) (le) (2) (21) Bila p : dja.rak horizonta.l anta.ra. kawat tana.h clan kawat fasa, meter maka djarak antara kau'irt tanah dan kau'at fasa: INS'r'Il',(;1' ]'ltkn()lo(;i u \Nt)tiN(;

14 17 1'.5. lil_'r',\{'llt;k d : r'h,--;., ttlara, (22) l d,,,, : 1.,'6, - n: meter Q3) Djarakz d,, d.an d,,, menerr-tu1..atr berapa ganggualt pi1il3 sepet'ellloat dan setengah djarak dari nrenara. Banjak gangguc.n jang ciiperoleh hrirts lagi dika.likan dengatl,3 untuk memperoleh ga.r-egurln pada seperempa.t djarak d.a.ri t:rena.ra, o, dan dengan,1 urlttrk nleml.reroleh garl-qgu?-n pada setengah djr'rak dari menala, On,. Teta.pi da.lam metode ja.r"tg dirrsulkan oleh penrriis ini, kemungkinan gangguan pada seperenipat dan setcn-qah djalak dari menara dapat dipcroleh dari Gamba.r 4, Ref. 14, halaman 582. KESINIPUI,AN2: 1. Metod.e AIEE tid.ak d.rrpat lagi ciipa.ka,i untuk rnenghitung gangguan kilat pada k-arvat tra.nsmisi tegangan tinggi ekstra. 2. Teoli gelomba.ng berdjalan diserta.i teori2 lain d.a.pat dipa.kai untuk mlrnghitung gangguan kila.t pa.d.a ka.wat trettstnisi d.an dian-egap lebih unggrrl dari metod.e AIEE. 3. Untuk mempcroleh, h...sil jarrg lebih teliti perln dipeladjari lebih nendalarn sifa."2 arus (tegan-tan) kilat d.a.n kenaikan (increment) pada Tabel I d.an Tabel 2 perlu diperketjil. 4. Gangguan kilat pa.d.a karva.t fa.sa tidak dapat lagi diabaikan seperti dikemukakan metode AIEE. Ba.hkan un'ruk beberapa kawat ttansmisi gangguan kila.t pa.da. kau'r.t fa.sa lebih besa.r dari gangguan kilat padl kawa.t tanah.l APPENDIX. Dalam Appeniix ini diberikan satu tjontoh perhitrtngan gangguan kilat pad.a ka.rvat transmisi 345 KV dari "lllincis Power Cornparry" di Arnerika Serikat dengan menpergr(n:r.k'.rntetode dalirrl tuiisan ini. Garnbar 5 tnenggambarkan kawat tralrslnisi jang dipakai. Gangguan Kilat Paila Menara: L Koppeling K: ln(a, r a, ) K ==,-:a lirtjn fj lii( ,5) '= 1t,(26{'ild,{) : 1r1 (3) \-ol. 3. -'ro. 3. plioctlldi\(is 1955

15 VETODE UNTUK \IENGFIIf'UN. i; 171 4a,21' ( 6,l.7qr) Kerat tanah: %h tr6 3,16?5 do 3 11r' t-i 8 ( la2m) Kanat laga: il do'29 S,an E la!3fgtg' 2 buah lo-j 1/!y eiropenslon lnd'.datoi's t I 1 I II I +I \ do ( 2lr, tun t 29,8' 9 r1q) Gamb. 5. Girnrbar Kawat Transmisi untuk rjontoh perhitungrn dalam Appendix. INSI'ITUT T'EKNOLOGI ]],\NDL1\G

16 172 T. S. Hr'r-\t_'Rr;K 2. Surge Impedance kalva-t 'fanah 2,,: zs -- 6,"(+) (4) -- 6 ln(26,66 x 64) :'gg.: 3. Djariz Ekivalcn McnaLa r,: ln r' : [d:\' {xorln r'' - o'87) - x, (ln xo -,87)) -j- -+ln(1,14 h -h 11, x.) 8 /14,9(ln 1,1,9 - l3g (14,9-,87) 3,75) r^ - 3,15 (ln 3,75 -,87)) i- ln (1,14 x 3,75),:* -'1,9'+5 '+-:!L r:! (s) 4. Surge Impcdance Meuara Z,:./ al \ Z,: 6 f"(r z,i.) (6) / - 276\ 6 hr(r2_--l \ o, l:/ :'_gjg 5, Koefisien Transmisi a: 2Zu Zs-r2Zl 2 )< :1,9 (7) vor,. 3, xc. 3. procr.trir)rnris 1965

17 V 6. Koefisien Refleksi b: '-i:ul, \IirTODt'l Ll-\l L K \1ll\(lFIIrU-\ (; li3 (8) 7. Tegangan Puntjak Menara e: z- z, '-=I=,1" dimana en : : 583 >< 244 : I' 581.' n" :133 I. : 133 I.J - ut 133 I' 8. Pilih harga tahanan tanah, R1, drn hitung koefisien refleksi d: o : \_2, Rf+2, *' I ;3:lil Xffl isii ;;;'firy fffi: Harga tahanan untuk daerah itu adalrrh sebagai berikut: Djadi : 3 ohm untrrk 3()o pandjang kawat Rf : 5 ohm untuk 11,, pmdjang kawat. _l (l:- 9. Waktu kritik t.: - ---,92 untuk R, : l ohn --- '85 untuk R'. : 2 ohn"r --,78 urrtrtk Rt : 3 ohm -,66 untuk R, - 5 ohm. (e) (1),l il t.:t*j -c : T -r,2 :,52 nntuk T -,5 : 1,2 untuk T - 1, untuk T : 1,5-2,2 unttrk T -. 2, (l l) INSTiTL-r TI:Ii lc)locti lja\di'nc

18 174 r. s. HUr-luRuK 1. Tegangan Isolator V,: v, - e,,(t - K) - {r "t) / 2h, --- r,\ dc,.\t---, ) / 21t., - x,\ cle,.iir -- l(r) (t" --t;=) clst. Untuk T.:,5 n'rikrodetik: a) Ri : l ohnr, d. : -.,92 =-, 492 Kv urrtuk I :. 1 Ka Kv untuk 8 Ka : 295 Kv untuk 6 Ka : 196 Kv unluk 4O Ka 98 Kv untuk 2 Ka b)ri:2ohm,d.:-,85: Vi : 53e Kv untuk I : 1 Ka - 43 Kv uirtrtk 8 Ka -: 322 Kv urrtuk 6 Ka : zlq Kv ur,tuk 4O Ka : 17 I(r' untuk 2 Ka c) Rr --= 3 ohm, d - -,78: 5E Kv untnk I 463 Kv untuk 348 Kv rrntuk 232 Kv untuk I16 Kv urrtuk 1 Ka 8 Ka 6 Ka 4 Ka 2 Ka ci) R' =- 5 ohi-n, d -. - o 66. I 655 Kv uniuk I 524O I(r'untuk 393 K.^v rrrrtul: 262 Kv urrtuk l3l Kv untuli 1 Ka E Ka 6 Ka 4O Ka 2 Ka t-ot.. 3- NO. 3. t)roclif.dt\g:i 1965

19 \rufildl L'Nf'.lK \lencli'ltt \G t 1:) Untuk gelombang2 d.engan T : 1,; 1,5; dan 2, mikro*etik telah dihituug dan hasilrrja. dikumprrlka.n dalam Ta'bel 3' Gelombang2 d.engan T jang lebih besar daii 2 uriklodetik d.apat dianggap hanja d.ala.m hal Rr: 5 ohrn dan I : l Ka akan menimbulkan ga'ngguan' karena pada saat ini gelombang refleksi ne-eatip cl.ari tnenara jang berd'ekatan tela.h sampa.i pada lnenara jang d:sambar kilat. Gelombang ini akan memperketjil tegangan puntjak mellara. (Span rata.e ad.al;,h 1 ft jang sama dengan waktu I mikrodetik.) il. Bandingkal V, d.engan BiL isolaior2. Untrtk memperoleh BIL isolatorz dipakai "volt-time-c1rves" jang did.a.sarka.l a.ta.s gelombalg pcsitip 1,5 x 4 mikrodetik. Dari Gambar 8.3, ha.lzrman2-12, bukrt "The Protectionof Transrnission Systems Against Lightning", W.W. Lewis, BIL ini dapat dipcroleh BIL jang cl-imaksnd telah cliberikan dr.latn l'abel 3' 12. Persentase kemungkinan, P: Dari Tabel 3 diperolel''. P --7 x,68 +23',<, >',2l- 18 )l, x '2o-'o :r!!l 13. Daerah jang dilindungi karvat tanah A: ;: (2r + l)hi :- 4h,(S -- h,) 6: (hr + 1) 138'z,- 4 ): 13,33 (1 _- 138) : 58,9 )< 11 ft2 -,21I mil persegi 14. Kepadatan kilat D: D :,23 IKL :,23 x 6-13,8 kilat permil-1-'ersegi. 15. Djrrmiahkilat j al-rg rr,ltirgkin ilrcllqe!',41 tra;;stlt;si 1(rn) L:1.( =--, ,8 35(nt) : 95,4kilat i-.s1 1 km iler ialrtln I6 Djumla.h gangguall kilat pada lttc'll:tra O,: O,:6o//oxL)(P :,6 >'. 95,4 >1,253 : l,1l gangguall per' 1 km Per taltrrr t-#'i: f l1) (14) (l 5) (16) l:isr I l i.'l' I irl.-na)l(.ltji il.!'l''l)i -\(;

20 176 'r.5. rn:r',\r'rul.: Gangguan Kilat Pada Seperempat Djarak Dari Menara: / d't -- d'n' 9t\ b,:(h'-i) \", t/ / ll.5\ / 2e\ (138,-4) \"7'is 4) : 24,6 ft p:13ft d": r/6; -p p, :\t,6,i+13: : 21,9 ft O.:,3 x,8 x 613 >t 1/1,61 :,3 gangguan per ico krn per tabun (2) \22) Gangguan Kilat Pada Perteugahan Dua Menara O_: b_ :. (h,. d,)._ (h,- d;) : (138._ I1,5) * (111,5_ 29) :38ft (21) cl- : r/332 -; 3: :4ft O,"-. 1% x,3 x 6/3 x l/l ;< 1/1,61 :,[;37 gangcquan per 1 krn pcr tahurr Gangguan Kilat Pada Kawat Fasa:, n1lir' log rj : -9 4 (2) e:)6q' 26,9 \/42 losc)= - - -,1 9() - 1,94 4 A -- 8,71 >( i-3 SF >( 1-'] x L -- 8,71 )( 1-3 x 95,4 :,83 ganggutn per 1 km per tahun VoL. 3. } o. 3. proci,i..i)i\cs 1965

21 * -1 *l c: Ft FJ c rt o 'P o,'/ o T (ms).5 1n I (Ka) t Scringnja terdjadi (')'") tt) io 1, )o ?- TABEL 3. Hasil2 perhitul-tgan ilntuk menentukan gangguan kilat pada menara. I Iiv )5 l97t! tl92a i I 32 I R.,..lohm 4o i, karvat BIT-* Kv s3 titng- guan o/ /o Ganggulrn.E l{v I 7 2t4c 3?-2{) 4.r 53(r 638 I l ,:1 54, I i2 I _5 r I Rr 2o ohrn I R,. - = 3o ohm.1 ', kirivrrt I lo',, kawlt Bll_'1 Kv 4c grllrn u,r11ggllan % o 1A.5 c,ir o IJ,6 I Kv I 16 23?.4 -r48 4(i3 5E E I 6C r7 2As l I,6./+ t,6,4.4 n.4 l]r l9;i 29i ',) s 441 I R, 5 ohnl 1'){, kawat BII-* Iiv 41.s,2 o {) t,8,2 (.,,8 )A )n,8 o,2 Djuirleh GanggLlir-n ( ",,) tr'jatatan: I K :, Akibat dari t:,c:lcui kerdja, tinegi tempat, dan keadaan atmosfir belurn dimasukkan dalan.r perhitungan. * BIL diperoleh dari buku "The Protection of Transmisti.r Svri"-i Aguinri rigntning", W.W. Lewis, Gambir 8.3 hilaman C 425 4,S 2. (, 1,1 l') o,8 1) 2.,O,8,6 Djumlah Gang- ('l i, ) nt U rl - './. n(: ii '/, -l.'l 7

22 178 r. s. r{l:i \url.k Djumlah gangguan kilat seluruhnja: O:SF+O,--Oq-:O,., : O,83 + 7,17 +,3 +,37 a ltt (1) Djadi gangguan kilat urrtuk karvat transrlisi ini seluruhnja ialah,:2,34 gangguan kilat pcr 1 km pertahun. REFERENSI2: L A mcthod of Estimating Lightning Pcrformarce of Transrnission Lines. AIEE Committee Report, AIEE Transactions, pt. II, r'ol. 69, 195, pp Traveling Waves on Transmission Systems (book), L.V. Bewley, John Wiley & Soirs, Inc., Nerv York, N.Y., second editions Calculation of Ti'ansmission Liue Lightning Voltages by Field Concepts. R. Lundholm, R.B. Finn, Jr., W.S. Price, AIEE Transactions, pt. li, vol. 76, 1957, pp. l21l A new Approach to the Crrlculation cf tbe Lightning Performance of Transmission Lines, C.F. Wagner, A.R. Hileman, AIEE Transactions, pt. III, ysl.79, 196, pp Monte Carlo Cornputer Ca.lculation of Transrnission-Line Lightning Performance, J.G. Anderson, AIEE Transactionsr pt. IlI, vol. 8, 1961, pp Lightning Outage Investigr.tion on Tra.rlsnlission-l.ines of tire Illincis Porver Company. Report 62 PT 135, General Electric Compan5', Au-sust Anal5,tic.l Studies of Ligir.tnirg Perforn.iance of l- and 2- Ground-wire 138 KV Dorrble-Circuit Lines of the Commonwealth Edison Company. R.W. Caswell, E.T.B. Gross, E.F. Koncel, Jr., AIEE Transacticns, pt. III, vol.77, 1958, pp Report on the Work of Study Committee No. 8 (Lightning and Surges). Appcndix li. Tlre Shielaing Effect of Overhead Earth Wire, P.G. Provost. Paper No. 314, CIGRE, Paris, France, The Role of t.ightning Strikes to the Conductors Bypassing the Ground Wires in thc Protcction of High-\/oltage Cla.ss Lines, M.V. Kostenko, I.F. Polovoy, A.I.l. Rosenfeld. Elektrichcstvo, Mosco\r,, USSR, r.o. 4, 1961, pp \-ol. 3. \o. 3. procr,ldri.cs 1965

23 }IETODE L'NTT-]K ),JTNGFIII'U\G Shield.ing of Transmission Lines, F.S. young, J.M. Clayton, A.R. Hilleman, IEEE Conference Paper, April lt. The Frequency of occurrence and the Distribution of Lightning Flashes to Transmission Lines, R.H. Golde, AIEE Transactions, pt. I, vol. 64, 1945, pp Magnetic Fields Around a Transmission Line Tower, J.G. Anderson, J.H. Hagengrrth, AIEE Transactions, pt, III, vol.77, 1958, pp Lightning Field Investigation on the ovec 345-KV System, R.H. Schlomann, W.S. Price, I.B. Johnson, J.G. Anderson, AIEE Transactions, pt. III, vol. 76, 1957, pp Discussion by J.H. Hagenguth, pp Electric Transmission and Distribution Reference Book (buku), central station Engineers, westinghouse Electric corporation, pittsburgh, pa I\S'iITLrl' T I.:\OLOGI ji_\t\dt-\c

ANALISIS GANGGUAN PETIR AKIBAT SAMBARAN LANGSUNG PADA SALURAN TRANSMISI TEGANGAN EKSTRA TINGGI 500 kv

ANALISIS GANGGUAN PETIR AKIBAT SAMBARAN LANGSUNG PADA SALURAN TRANSMISI TEGANGAN EKSTRA TINGGI 500 kv JETri, Volume 8, Nomor, Februari 009, Halaman 1-0, ISSN 141-037 ANALISIS GANGGUAN PETIR AKIBAT SAMBARAN LANGSUNG PADA SALURAN TRANSMISI TEGANGAN EKSTRA TINGGI 500 kv Syamsir Abduh & Angga Septian* Dosen

Lebih terperinci

Studi Analisa Keandalan Isolator Pada Saluran Transmisi 150 kv Sirkit Ganda Waru-Bangil TUGAS AKHIR. oleh : Nama : Nifta Faturochman NIM : 00530031

Studi Analisa Keandalan Isolator Pada Saluran Transmisi 150 kv Sirkit Ganda Waru-Bangil TUGAS AKHIR. oleh : Nama : Nifta Faturochman NIM : 00530031 Studi Analisa Keandalan Isolator Pada Saluran Transmisi 150 kv Sirkit Ganda Waru-Bangil TUGAS AKHIR oleh : Nama : Nifta Faturochman NIM : 00530031 Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI AKIBAT KETIDAKEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARU NETRAL DAN LOE PADA TRANFORMATOR DITRIBUI Moh. Dahlan 1 email : dahlan_kds@yahoo.com surat_dahlan@yahoo.com IN : 1979-6870 ABTRAK Ketidakseimbangan beban pada

Lebih terperinci

MEDIA ELEKTRIK, Volume 3 Nomor 1, Juni 2008

MEDIA ELEKTRIK, Volume 3 Nomor 1, Juni 2008 40 MEDIA ELEKTRIK, Volume 3 Nomor 1, Juni 2008 Riana TM, Estimasi Lokasi Hubung Singkat Berdasarkan Tegangan dan Arus ESTIMASI LOKASI HUBUNG SINGKAT BERDASARKAN TEGANGAN DAN ARUS Riana T. M Jurusan Pendidikan

Lebih terperinci

BAB II PERHITUNGAN ARUS HUBUNGAN SINGKAT

BAB II PERHITUNGAN ARUS HUBUNGAN SINGKAT 13 BAB II PERHITUNGAN ARUS HUBUNGAN SINGKAT 2.1. Pendahuluan Sistem tenaga listrik pada umumnya terdiri dari pembangkit, gardu induk, jaringan transmisi dan distribusi. Berdasarkan konfigurasi jaringan,

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI : ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK LANJUT

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI : ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK LANJUT DISUSUN OLEH : HALAMAN DARI Ir. Maula Sukmawidjaja, MS Koordinator Mata Kuliah FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI DIPERIKSA OLEH : UNIVERSITAS TRISAKTI NO. DOKUMEN : Management Representative DISETUJUI OLEH :

Lebih terperinci

STUDI HUBUNG SINGKAT UNTUK GANGGUAN SIMETRIS DAN TIDAK SIMETRIS PADA SISTEM TENAGA LISTRIK PT. PLN P3B SUMATERA

STUDI HUBUNG SINGKAT UNTUK GANGGUAN SIMETRIS DAN TIDAK SIMETRIS PADA SISTEM TENAGA LISTRIK PT. PLN P3B SUMATERA STUDI HUBUNG SINGKAT UNTUK GANGGUAN SIMETRIS DAN TIDAK SIMETRIS PADA SISTEM TENAGA LISTRIK PT. PLN P3B SUMATERA TUGAS AKHIR Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program strata-1 pada Jurusan Teknik

Lebih terperinci

KOMPONEN SIMETRIS DAN IMPEDANSI URUTAN. toto_sukisno@uny.ac.id

KOMPONEN SIMETRIS DAN IMPEDANSI URUTAN. toto_sukisno@uny.ac.id KOMPONEN SIMETRIS DAN IMPEDANSI URUTAN A. Sintesis Fasor Tak Simetris dari Komponen-Komponen Simetrisnya Menurut teorema Fortescue, tiga fasor tak seimbang dari sistem tiga-fasa dapat diuraikan menjadi

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS NASKAH PUBLIKASI ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7.0 Diajukan oleh: FAJAR WIDIANTO D 400 100 060 JURUSAN

Lebih terperinci

ANALISIS HUBUNG SINGKAT 3 FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 18 BUS DENGAN ADANYA PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION (DG)

ANALISIS HUBUNG SINGKAT 3 FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 18 BUS DENGAN ADANYA PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION (DG) ANALISIS HUBUNG SINGKAT 3 FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 18 BUS DENGAN ADANYA PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION (DG) Agus Supardi 1, Tulus Wahyu Wibowo 2, Supriyadi 3 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro,

Lebih terperinci

FEEDER PROTECTION. Penyaji : Ir. Yanuar Hakim, MSc.

FEEDER PROTECTION. Penyaji : Ir. Yanuar Hakim, MSc. FEEDER PROTECTION Penyaji : Ir. Yanuar Hakim, MSc. DIAGRAM SATU GARIS PEMBANGKIT TRAFO UNIT TRANSMISI SISTEM GENERATOR BUS HV TRAFO P.S BUS TM GARDU INDUK PERLU DIKOORDINASIKAN RELAI PENGAMAN OC + GF ANTARA

Lebih terperinci

PENENTUAN LOKASI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN TRANSMISI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET. Oleh : RHOBI ROZIEANSHAH NIM : 13203054

PENENTUAN LOKASI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN TRANSMISI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET. Oleh : RHOBI ROZIEANSHAH NIM : 13203054 PENENTUAN LOKASI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN TRANSMISI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET LAPORAN TUGAS AKHIR Dibuat sebagai Syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Teknik Elektro dari Institut Teknologi

Lebih terperinci

Robot Cerdas Pemadam Api Dan Robot Cerdas Pemain Bola

Robot Cerdas Pemadam Api Dan Robot Cerdas Pemain Bola Uivt Mdiy Ml Lt Bl ci200..c.id Id tl d bb li Kt Rbt Id (KRI), di y bi wil Id t iti t bt tit itl y dil di bb A ti J, Tild, K Slt, Ci, Mly, Vit d li-li. B l t t y wili Id d t 200 yit ti B-C di PENS (Pliti

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7.

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7. ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7.0 Fajar Widianto, Agus Supardi, Aris Budiman Jurusan TeknikElektro

Lebih terperinci

dan instansi-instansi lain jang berketjimpung dalam bidang pembangunan.

dan instansi-instansi lain jang berketjimpung dalam bidang pembangunan. KATA PENGANTAR Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 telah terbentuk melalui proses jang pandjang. Penjusunannja telah menghabiskan waktu tiada kurang dari 21 bulan sedjak dibentuknja Panitia Pembaharuan

Lebih terperinci

Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah

Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah Vokasi Volume 8, Nomor 2, Juni 2012 ISSN 1693 9085 hal 121-132 Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah MANAGAM RAJAGUKGUK Jurusan Teknik Elektro Fakultas

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA PHASA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK DENGAN METODE THEVENIN

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA PHASA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK DENGAN METODE THEVENIN AALISIS GAGGUA HUBUG SIGKAT TIGA PHASA PADA SISTEM TEAGA LISTRIK DEGA METODE THEVEI Jurusan Teknik Elektro T USU Abstrak: Analisis gangguan hubung singkat tiga phasa pada sistem tenaga listrik yang memnyai

Lebih terperinci

Makalah Seminar Tugas Akhir. Judul

Makalah Seminar Tugas Akhir. Judul 1 Judul ANALISA PENGGUNAAN ECLOSE 3 PHASA 20 KV UNTUK PENGAMAN AUS LEBIH PADA SUTM 20 KV SISTEM 3 PHASA 4 KAWAT DI PT. PLN (PESEO) APJ SEMAANG Disusun oleh : Kunto Herwin Bono NIM : L2F 303513 Jurusan

Lebih terperinci

STUDI ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT MENGGUNAKAN PEMODELAN ATP/EMTP PADA JARINGAN TRANSMISI 150 KV DI SULAWESI SELATAN

STUDI ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT MENGGUNAKAN PEMODELAN ATP/EMTP PADA JARINGAN TRANSMISI 150 KV DI SULAWESI SELATAN Presentasi Seminar Tugas Akhir Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro ITS STUDI ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT MENGGUNAKAN PEMODELAN ATP/EMTP PADA JARINGAN TRANSMISI 15 KV DI SULAWESI SELATAN Franky

Lebih terperinci

Analisis Kecepatan Terminal Benda Jatuh Bebas

Analisis Kecepatan Terminal Benda Jatuh Bebas Analisis Kecepatan Terminal Benda Jatuh Bebas Ahmad Dien Warits 1206240101 Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia Depok Abstrak : Selama ini kita melakukan analisis kecepatan benda

Lebih terperinci

BAB III METODE & DATA PENELITIAN

BAB III METODE & DATA PENELITIAN BAB III METODE & DATA PENELITIAN 3.1 Distribusi Jaringan Tegangan Rendah Pada dasarnya memilih kontruksi jaringan diharapkan memiliki harga yang efisien dan handal. Distribusi jaringan tegangan rendah

Lebih terperinci

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80 1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). Apabila koefisien kondutivitas Q, logam P kali koefisien konduktivitas logam Q, serta AC = 2 CB, maka suhu di C

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA TRANSFORMATOR TIGA BELITAN SEBAGAI GENERATOR STEP-UP TRANSFORMER

ANALISIS KINERJA TRANSFORMATOR TIGA BELITAN SEBAGAI GENERATOR STEP-UP TRANSFORMER Harrij Mukti K, Analisis Kinerja Transformator, Hal 71-82 ANALISIS KINERJA TRANSFORMATOR TIGA BELITAN SEBAGAI GENERATOR STEP-UP TRANSFORMER Harrij Mukti K 6 Pada pusat pembangkit tenaga listrik, generator

Lebih terperinci

Transistor Dwi Kutub. Laila Katriani. laila_katriani@uny.ac.id

Transistor Dwi Kutub. Laila Katriani. laila_katriani@uny.ac.id Transistor Dwi Kutub Laila Katriani laila_katriani@uny.ac.id Transistor adalah komponen elektronika semikonduktor yang memiliki 3 kaki elektroda, yaitu Basis (Dasar), Kolektor (Pengumpul) dan Emitor (Pemancar).

Lebih terperinci

4.6 Perhitungan Debit Perhitungan hidrograf debit banjir periode ulang 100 tahun dengan metode Nakayasu, ditabelkan dalam tabel 4.

4.6 Perhitungan Debit Perhitungan hidrograf debit banjir periode ulang 100 tahun dengan metode Nakayasu, ditabelkan dalam tabel 4. Sebelumnya perlu Dari perhitungan tabel.1 di atas, curah hujan periode ulang yang akan digunakan dalam perhitungan distribusi curah hujan daerah adalah curah hujan dengan periode ulang 100 tahunan yaitu

Lebih terperinci

PENGARUH BEBAN TIDAK SEIMBANG TERHADAP EFISIENSI TRANSFORMATOR TIGA FASA PADA HUBUNGAN OPEN-DELTA

PENGARUH BEBAN TIDAK SEIMBANG TERHADAP EFISIENSI TRANSFORMATOR TIGA FASA PADA HUBUNGAN OPEN-DELTA PENGARUH BEBAN TIDAK SEIMBANG TERHADAP EFISIENSI TRANSFORMATOR TIGA FASA PADA HUBUNGAN OPEN-DELTA Sumantri, Titiek Suheta 1, dan Joao Filomeno Dos Santos Teknik-Elektro ITATS 1, Jl. Arief Rahman Hakim

Lebih terperinci

ANALISIS ALAT PENGHEMAT LISTRIK TERHADAP INSTALASI ALAT RUMAH TANGGA

ANALISIS ALAT PENGHEMAT LISTRIK TERHADAP INSTALASI ALAT RUMAH TANGGA ANALISIS ALAT PENGHEMAT LISTRIK TERHADAP INSTALASI ALAT RUMAH TANGGA Bidayatul Armynah*, Syahir Mahmud *, Nur Aina * Jurusan Fisika, Fakultas Mipa, Universitas Hasanuddin Makassar ABSTRAK Telah dilakukan

Lebih terperinci

Tabel 3.5 Kapasitas Aliran Air Q rata-rata setiap hari dari jam 00 sampai dengan jam05[pdam].

Tabel 3.5 Kapasitas Aliran Air Q rata-rata setiap hari dari jam 00 sampai dengan jam05[pdam]. Tabel 3.5 Kapasitas Aliran Air Q rata-rata setiap hari dari jam 00 sampai dengan jam05[pdam]. Gambar 3.2 Panel Kontrol Pompa Air PDAM Karang Pilang II Surabaya. Formulasi Matematika Optimisasi Konsumsi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI AGRARIA NOMOR 14 TAHUN 1961 PERMINTAAN DAN PEMBERIAN IZIN PEMINDAHAN HAK ATAS TANAH

PERATURAN MENTERI AGRARIA NOMOR 14 TAHUN 1961 PERMINTAAN DAN PEMBERIAN IZIN PEMINDAHAN HAK ATAS TANAH PERATURAN MENTERI AGRARIA NOMOR 14 TAHUN 1961 PERMINTAAN DAN PEMBERIAN IZIN PEMINDAHAN HAK ATAS TANAH Mengingat: Ketentuan-ketentuan Undang-undang Pokok Agraria (Undang-undang No. 5 tahun 1960; L.N. 1960-104)

Lebih terperinci

Keliling segitiga ABC pada gambar adalah 8 cm. Panjang sisi AB =... A. 4

Keliling segitiga ABC pada gambar adalah 8 cm. Panjang sisi AB =... A. 4 1. Keliling segitiga ABC pada gambar adalah 8 cm. Panjang sisi AB =... A. 4 D. (8-2 ) cm B. (4 - ) cm E. (8-4 ) cm C. (4-2 ) cm Jawaban : E Diketahui segitiga sama kaki = AB = AC Misalkan : AB = AC = a

Lebih terperinci

KEPUTUSAN-KEPUTUSAN KONGRES NASIONAL LEKRA I

KEPUTUSAN-KEPUTUSAN KONGRES NASIONAL LEKRA I KEPUTUSAN-KEPUTUSAN KONGRES NASIONAL LEKRA I I Resolusi atas Lapiran Umum Setelah bersidang 5 hari lamanja dan mempertimbangkan setjara mendalam dan seksama Laporan Umum Pimpinan Pusat Lekra jang disampaikan

Lebih terperinci

GELOMBANG MEKANIK. (Rumus) www.aidianet.co.cc

GELOMBANG MEKANIK. (Rumus) www.aidianet.co.cc GELOMBANG MEKANIK (Rumus) Gelombang adalah gejala perambatan energi. Gelombang Mekanik adalah gelombang yang memerlukan medium untuk merambat. A = amplitudo gelombang (m) = = = panjang gelombang (m) v

Lebih terperinci

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls 1. TURBIN AIR Dalam suatu sistim PLTA, turbin air merupakan salah satu peralatan utama selain generator. Turbin air adalah alat untuk mengubah energi air menjadi energi puntir. Energi puntir ini kemudian

Lebih terperinci

Antena Dipole Oleh YC0PE Ridwan Lesmana

Antena Dipole Oleh YC0PE Ridwan Lesmana Hal 1 dari 5 halaman Antena Dipole Oleh YC0PE Ridwan Lesmana Untuk LEMLOKTA Edisi pertama ini, sengaja Penulis menurunkan artikel tentang Antena Dipole. Mengapa???. Jika Anda adalah seorang anggota ORARI

Lebih terperinci

Analisa Setting Mho Rele Sebagai Proteksi Hilang Penguat Generator

Analisa Setting Mho Rele Sebagai Proteksi Hilang Penguat Generator Makalah Seminar TA Edi Subeno L2F 097 629 1 Makalah Seminar Tugas Akhir Analisa Setting Mho Rele Sebagai Proteksi Hilang Penguat Generator Oleh : Edi Subeno NIM : L2F097629 Jurusan Teknik Elektro Fakultas

Lebih terperinci

B A B. Dalam operasi sehari-hari, dituntut. untuk mengadakan pengaturan. tegangan, stabilitas dan bahkan optimisasi sistam.

B A B. Dalam operasi sehari-hari, dituntut. untuk mengadakan pengaturan. tegangan, stabilitas dan bahkan optimisasi sistam. B A B I P E N. D A H U L U A N A. U M U M. Studi aliran daya me~upakan st.udi panting dalam. proses perencanaan maupun pengatu~n operasi suatu sist.em t.enaga listrik. Pembangkitan daya yang sangat. besar

Lebih terperinci

ÜUBAKAR ATJEH. (Ilmu Kalam) Tittotw-ea DJAKARTA PENERBIT!

ÜUBAKAR ATJEH. (Ilmu Kalam) Tittotw-ea DJAKARTA PENERBIT! 3g 145 ÜUBAKAR ATJEH N V (Ilmu Kalam) PENERBIT! Tittotw-ea DJAKARTA BIBLIOTHEEK KITLV 0027 8406 Wsitqyzt ILMU KETUHANAN Tjetakan pertama D januari 1966 Je /Lf 5* A/ (Ilmu Kalam) Oleh: H. Aboebakar Atjeh

Lebih terperinci

TEORI SIPAT DATAR (LEVELLING)

TEORI SIPAT DATAR (LEVELLING) POKOK BAHASAN : TEORI SIPAT DATAR (LEVELLING) Prinsip penentuan beda tinggi; Jenis Peralatan Sipat Datar: Dumpy Level, Tilting level, Automatic Level; Bagian Alat; Mengatur Alat : garis arah niveau, garis

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASA SIMETRI PADA CIRCUIT BREAKER DENGAN TEGANGAN 4360 V

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASA SIMETRI PADA CIRCUIT BREAKER DENGAN TEGANGAN 4360 V NLISIS GNGGUN HUUNG SINGKT TIG FS SIMTRI PD CIRCUIT RKR DNGN TGNGN 4360 nggakara Syahbi S., Ir. Sulasno 2 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan Teknik lektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof.

Lebih terperinci

makalah seminar tugas akhir 1 ANALISIS PENYEARAH JEMBATAN TERKONTROL PENUH SATU FASA DENGAN BEBAN INDUKTIF Bagus Setiawan NIM : L2F096570

makalah seminar tugas akhir 1 ANALISIS PENYEARAH JEMBATAN TERKONTROL PENUH SATU FASA DENGAN BEBAN INDUKTIF Bagus Setiawan NIM : L2F096570 makalah seminar tugas akhir 1 ANALISIS PENYEARAH JEMBATAN TERKONTROL PENUH SATU FASA DENGAN BEBAN INDUKTIF Bagus Setiawan NIM : L2F9657 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

PEMILIHAN MOTOR LISTRIK SEBAGAI PENGGERAK MULA RUMAH CRANE PADA FLOATING DOCK DI PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD GRESIK

PEMILIHAN MOTOR LISTRIK SEBAGAI PENGGERAK MULA RUMAH CRANE PADA FLOATING DOCK DI PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD GRESIK LAPORAN FIELD PROJECT PEMILIHAN MOTOR LISTRIK SEBAGAI PENGGERAK MULA RUMAH CRANE PADA FLOATING DOCK DI PT. INDONESIA MARINA SHIPYARD GRESIK POTOT SUGIARTO NRP. 6308030007 DOSEN PEMBIMBING IR. EKO JULIANTO,

Lebih terperinci

SPMB/Fisika/UMPTN Tahun 1992

SPMB/Fisika/UMPTN Tahun 1992 1. Akibat rotasi bumi, keadaan Ida yang bermassa a dan ada di Bandung, dan David yang bermassa a dan ada di London, akan sama dalam hal... A. laju linearnya B. kecepatan linearnya C. gaya gravitasi buminya

Lebih terperinci

TES TERTULIS LEVEL : JUDUL UNIT : Memelihara Instalasi Listrik Tegangan Rendah (1) NAMA : JABATAN : UNIT KERJA : TANDA TANGAN :

TES TERTULIS LEVEL : JUDUL UNIT : Memelihara Instalasi Listrik Tegangan Rendah (1) NAMA : JABATAN : UNIT KERJA : TANDA TANGAN : TES TERTULIS LEVEL : KODE UNIT : KTL.PH.20.121.02 JUDUL UNIT : Memelihara Instalasi Listrik Tegangan Rendah (1) NAMA : JABATAN : UNIT KERJA : TANDA TANGAN : Tes tertulis ini berkaitan dengan ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

SIMULASI DAN ANALISIS ALIRAN DAYA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK ELECTRICAL TRANSIENT ANALYSER PROGRAM (ETAP) VERSI 4.

SIMULASI DAN ANALISIS ALIRAN DAYA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK ELECTRICAL TRANSIENT ANALYSER PROGRAM (ETAP) VERSI 4. SIMULASI DAN ANALISIS ALIRAN DAYA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK ELECTRICAL TRANSIENT ANALYSER PROGRAM (ETAP) VERSI 4.0 Rudi Salman 1) Mustamam 2) Arwadi Sinuraya 3) mustamam1965@gmail.com

Lebih terperinci

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8.

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. DIAGRAM FASA WUJUD ZAT: GAS CAIRAN PADATAN PERMEN (sukrosa) C 12

Lebih terperinci

B A B I V H A S I L P E N E L I T I A N D A N P E M B A H A S A N

B A B I V H A S I L P E N E L I T I A N D A N P E M B A H A S A N B A B I V H A S I L P E N E L I T I A N D A N P E M B A H A S A N 4. 1 D e s k r i p s i H a s i l P e n e l i t i a n P r e T e s t d a n P o s t T e s t D a r i h a s i l p e n g u j i a n d i p e r

Lebih terperinci

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik V. Medan Magnet Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik Di tempat tersebut ada batu-batu yang saling tarik menarik. Magnet besar Bumi [sudah dari dahulu dimanfaatkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1950 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN DALAM LINGKUNGAN PROPINSI DJAWA BARAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1950 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN DALAM LINGKUNGAN PROPINSI DJAWA BARAT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1950 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN DALAM LINGKUNGAN PROPINSI DJAWA BARAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa telah tiba saatnja untuk membentuk

Lebih terperinci

PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23%

PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23% PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23% Jemmy NRP : 0021122 Pembimbing : Herianto Wibowo, Ir,

Lebih terperinci

Mahasiswa memahami konsep gerak parabola, jenis gerak parabola, emnganalisa dan membuktikan secara matematis gerak parabola

Mahasiswa memahami konsep gerak parabola, jenis gerak parabola, emnganalisa dan membuktikan secara matematis gerak parabola BAB 6. Gerak Parabola Tujuan Umum Mahasiswa memahami konsep gerak parabola, jenis gerak parabola, emnganalisa dan membuktikan secara matematis gerak parabola Tujuan Khusus Mahasiswa dapat memahami tentang

Lebih terperinci

RANCANGAN ACAK LENGKAP (RAL)

RANCANGAN ACAK LENGKAP (RAL) RANCANGAN ACAK LENGKAP (RAL) Oleh: Ir. Sri Nurhatika M.P Jurusan Biologi Fakultas MAtematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2010 RANCANGAN ACAK LENGKAP (RAL) Penggunaan

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH Pengaruh Media.. Baja Karbon Rendah PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Janabadra INTISARI Las TIG adalah

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI PERTANAHAN

Lebih terperinci

UNJUK KERJA ANTENA MIKROSTRIP SEGI EMPAT MENGGUNAKAN KONSEP FRACTAL KOCH ITERASI SATU

UNJUK KERJA ANTENA MIKROSTRIP SEGI EMPAT MENGGUNAKAN KONSEP FRACTAL KOCH ITERASI SATU UNJUK KERJA ANTENA MIKROSTRIP SEGI EMPAT MENGGUNAKAN KONSEP FRACTAL KOCH ITERASI SATU Hendro Darmono 12 Abstrak Antena dengan ukuran kecil dan berkinerja tinggi merupakan tren pada perangkat komunikasi

Lebih terperinci

Oleh : Bambang Dwinanto, ST.,MT Debi Kurniawan ABSTRAKSI. Kata Kunci : Perangkat, Inverter, Frekuensi, Motor Induksi, Generator.

Oleh : Bambang Dwinanto, ST.,MT Debi Kurniawan ABSTRAKSI. Kata Kunci : Perangkat, Inverter, Frekuensi, Motor Induksi, Generator. ANALISA GENERATOR LISTRIK MENGGUNAKAN MESIN INDUKSI PADA BEBAN HUBUNG BINTANG (Y) DELTA ( ) PADA LABORATORIUM TEKNIK ELEKTRO DASAR UNIVERSITAS GUNADARMA Oleh : Bambang Dwinanto, ST.,MT Debi Kurniawan ABSTRAKSI

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010 UJIN NSIONL THUN 00 Pilihlah satu jawaban yang paling benar. Seorang anak berjalan lurus 0 meter ke barat, kemudian belok ke selatan sejauh meter, dan belok lagi ke timur sejauh meter. Perpindahan yang

Lebih terperinci

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik Kimia dalam AIR Dr. Yuni K. Krisnandi KBI Kimia Anorganik Sifat fisika dan kimia AIR Air memiliki rumus kimia H2O Cairan tidak berwarna, tidak berasa TAPI air biasanya mengandung sejumlah kecil CO2 dalm

Lebih terperinci

PERCOBAAN 6 RESONANSI

PERCOBAAN 6 RESONANSI PERCOBAAN 6 RESONANSI TUJUAN Mempelajari sifat rangkaian RLC Mempelajari resonansi seri, resonansi paralel, resonansi seri paralel PERSIAPAN Pelajari keseluruhan petunjuk praktikum untuk modul rangkaian

Lebih terperinci

LEMBAR KERJA V KOMPARATOR

LEMBAR KERJA V KOMPARATOR LEMBAR KERJA V KOMPARATOR 5.1. Tujuan 1. Mahasiswa mampu mengoperasikan op amp sebagai rangkaian komparator inverting dan non inverting 2. Mahasiswa mampu membandingkan dan menganalisis keluaran dari rangkaian

Lebih terperinci

STUDI ALIRAN DAYA UNTUK BEBAN TAK SEIMBANG (Studi kasus Sistem Tenaga Listrik 150 kv Jawa Tengah dan DIY) Yasin Mohamad 1 ABSTRAK

STUDI ALIRAN DAYA UNTUK BEBAN TAK SEIMBANG (Studi kasus Sistem Tenaga Listrik 150 kv Jawa Tengah dan DIY) Yasin Mohamad 1 ABSTRAK STUDI ALIRAN DAYA UNTUK BEBAN TAK SEIMBANG (Studi kasus Sistem Tenaga Listrik 150 kv Jawa Tengah dan DIY) Yasin Mohamad 1 ABSTRAK Tujuan dari studi Aliran daya untuk Beban Tak Seimbang ini adalah untuk

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM SISTEM TENAGA LISTRIK

MODUL PRAKTIKUM SISTEM TENAGA LISTRIK MODUL PRAKTIKUM SISTEM TENAGA LISTRIK LABORATORIUM SISTEM TENAGA LISTRIK DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA 2011 PERCOBAAN I PENGENALAN ETAP I. Tujuan Percobaan 1. Mempelajari

Lebih terperinci

SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK DAMAN SUSWANTO SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK UNTUK MAHASISWA TEKNIK ELEKTRO Edisi Pertama, 2009 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG i ii Kata Pengantar Puji syukur penulis

Lebih terperinci

PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA

PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 2 Hal. 26 34 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA NADIA UTIKA PUTRI, MAIYASTRI, HAZMIRA

Lebih terperinci

Untuk terang ke 3 maka Maka diperoleh : adalah

Untuk terang ke 3 maka Maka diperoleh : adalah JAWABAN LATIHAN UAS 1. INTERFERENSI CELAH GANDA YOUNG Dua buah celah terpisah sejauh 0,08 mm. Sebuah berkas cahaya datang tegak lurus padanya dan membentuk pola gelap terang pada layar yang berjarak 120

Lebih terperinci

TKS-4101: Fisika. KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA

TKS-4101: Fisika. KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA TKS-4101: Fisika KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi Dosen: Tim Dosen Fisika Jurusan Teknik Sipil FT-UB 1 Gerak 2 dimensi lintasan berada dalam

Lebih terperinci

1. Cara Memilih dan Memasang Antena TV yang Efektif.

1. Cara Memilih dan Memasang Antena TV yang Efektif. 1. Cara Memilih dan Memasang Antena TV yang Efektif. Gambar 1. Antena Televisi Sering kita dibuat jengkel bila suatu saat sedang melihat suatu siaran TV tiba-tiba terganggu karena gambar atau suara siaran

Lebih terperinci

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG Yovita Vivianty Indriadewi Atmadjaja Dosen Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ABSTRAKSI Salah satu konsep

Lebih terperinci

M ( R A M ) 3 2 M B. 3. M

M ( R A M ) 3 2 M B. 3. M PANDUAN 1. T e la h m e n d a fta rka n d iri k e K S E I 2. M e m ilik i P C d e n g a n k u a lifik a s i m in im u m In te l P e n tiu m M e m o ry (R A M ) 3 2 M B. 3. M e m ilik i ja rin g a n in

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN INTERNAL

LAPORAN PENELITIAN INTERNAL LAPORAN PENELITIAN INTERNAL PENGARUH KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRAFO DISTRIBUSI PROYEK RUSUNAMI GADING ICON PENELITI : IR. BADARUDDIN, MT PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO

Lebih terperinci

TEKNIK PENGUKURAN LISTRIK

TEKNIK PENGUKURAN LISTRIK TEKNIK PENGUKURAN LISTRIK ELK-DAS.16 20 JAM Penyusun : TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAHDEPARTEMEN

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA

IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA JURNAL TEKNIK INDUSTRI VOL. 3, NO. 1, JUNI 001: 18-5 IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA Tanti Octavia Ronald E. Stok Dosen Fakultas Teknologi Industri,

Lebih terperinci

PROGRAM VISUALISASI ALINYEMEN JALAN SECARA TIGA DIMENSI BERDASARKAN PERHITUNGAN ALINYEMEN HORISONTAL DAN ALINYEMEN VERTIKAL.

PROGRAM VISUALISASI ALINYEMEN JALAN SECARA TIGA DIMENSI BERDASARKAN PERHITUNGAN ALINYEMEN HORISONTAL DAN ALINYEMEN VERTIKAL. 1 PROGRAM VISUALISASI ALINYEMEN JALAN SECARA TIGA DIMENSI BERDASARKAN PERHITUNGAN ALINYEMEN HORISONTAL DAN ALINYEMEN VERTIKAL Rudy Setiawan, ST., MT. Liliana, ST. A. Arif Dwi N. Staf Pengajar Fakultas

Lebih terperinci

RESOLUSI KONFERNAS II LEKRA. Laksanakan Tavip, djebol terus jang lama, bangun terus jang baru.

RESOLUSI KONFERNAS II LEKRA. Laksanakan Tavip, djebol terus jang lama, bangun terus jang baru. RESOLUSI KONFERNAS II LEKRA Laksanakan Tavip, djebol terus jang lama, bangun terus jang baru. Konfernas ke-ii LEKRA jang bersidang di Djakarta pada 24 dan 25 Agustus 1964, telah mempeladjari dan mendiskusikan

Lebih terperinci

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor Bab 5 Sumber: www.in.gr Setelah mempelajari bab ini, Anda harus mampu menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi komposisi dalam pemecahan masalah; menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi invers

Lebih terperinci

UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L

UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L SNTMUT - 1 ISBN: 97--71-- UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L Syamsul Bahri W 1), Taufan Arif Adlie 1), Hamdani ) 1) Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Samudra

Lebih terperinci

ANALISIS SIFAT HIDROFOBIK PERMUKAAN HDPE BERDASARKAN NILAI TOTAL HARMONIC DISTORTION

ANALISIS SIFAT HIDROFOBIK PERMUKAAN HDPE BERDASARKAN NILAI TOTAL HARMONIC DISTORTION ISSN: 1693-6930 109 ANALISIS SIFAT HIDROFOBIK PERMUKAAN HDPE BERDASARKAN NILAI TOTAL HARMONIC DISTORTION Abdul Syakur 1, Hermawan 2, Sarjiya 3, Hamzah Berahim 4 1,2 Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik

Lebih terperinci

Information Systems KOMUNIKASI DATA. Dosen Pengampu : Drs. Daliyo, Dipl. Comp. DISUSUN OLEH:

Information Systems KOMUNIKASI DATA. Dosen Pengampu : Drs. Daliyo, Dipl. Comp. DISUSUN OLEH: Information Systems KOMUNIKASI DATA Dosen Pengampu : Drs. Daliyo, Dipl. Comp. DISUSUN OLEH: Nama : Muh. Zaki Riyanto Nim : 02/156792/PA/08944 Program Studi : Matematika JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA

Lebih terperinci

EVALUASI PENGARUH KELEMBABAN UDARA TERHADAP TEGANGAN GAGAL IMPULS PADA ISOLATOR GANTUNG 150 KV

EVALUASI PENGARUH KELEMBABAN UDARA TERHADAP TEGANGAN GAGAL IMPULS PADA ISOLATOR GANTUNG 150 KV TUGAS AKHIR EVALUASI PENGARUH KELEMBABAN UDARA TERHADAP TEGANGAN GAGAL IMPULS PADA ISOLATOR GANTUNG 150 KV Disusun guna memenuhi persyaratan akademis dan untuk mencapai gelar sarjana S-1 pada jurusan Teknik

Lebih terperinci

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data Angka penting dan Pengolahan data Pendahuluan Pengamatan merupakan hal yang penting dan biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Seperti ilmu pengetahuan lain, fisika berdasar pada pengamatan eksperimen

Lebih terperinci

PERBAIKAN KUALITAS CITRA BERWARNA DENGAN METODE DISCRETE WAVELET TRANSFORM (DWT)

PERBAIKAN KUALITAS CITRA BERWARNA DENGAN METODE DISCRETE WAVELET TRANSFORM (DWT) PERBAIKAN KUALITAS CITRA BERWARNA DENGAN METODE DISCRETE WAVELET TRANSFORM (DWT) ABSTRAK Silvester Tena Jurusan Teknik Elektro Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana Jl. Adisucipto- Penfui

Lebih terperinci

Makalah Tugas Akhir. ANALISA GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA JARINGAN SUTT 150 kv JALUR KEBASEN BALAPULANG BUMIAYU MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP

Makalah Tugas Akhir. ANALISA GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA JARINGAN SUTT 150 kv JALUR KEBASEN BALAPULANG BUMIAYU MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP Makalah Tugas Akhir ANALISA GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA JARINGAN SUTT 150 kv JALUR KEBASEN BALAPULANG BUMIAYU MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP Rachmad Hidayatulloh 1, Juningtyastuti 2, Karnoto 2 Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Prediksi Beban Listrik Pulau Bali Dengan Menggunakan Metode Backpropagasi

Prediksi Beban Listrik Pulau Bali Dengan Menggunakan Metode Backpropagasi Prediksi Beban Listrik Pulau Bali Dengan Menggunakan Metode Backpropagasi Qoriatul Fitriyah 1),Didi Istardi 2) 1) Jurusan Teknik Elektro Politeknik Batam, Batam 29461, email: fitriyah@polibatam.ac.id Jurusan

Lebih terperinci

ANALISIS KEANDALAN SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV DI PT PLN DISTRIBUSI JAWA TIMUR KEDIRI DENGAN METODE SIMULASI SECTION TECHNIQUE

ANALISIS KEANDALAN SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV DI PT PLN DISTRIBUSI JAWA TIMUR KEDIRI DENGAN METODE SIMULASI SECTION TECHNIQUE JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6 1 ANALISIS KEANDALAN SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI 20 KV DI PT PLN DISTRIBUSI JAWA TIMUR KEDIRI DENGAN METODE SIMULASI SECTION TECHNIQUE Chandra Goenadi, I.G.N

Lebih terperinci

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014 Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 Pencemaran Udara Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia

Lebih terperinci

Surat Permintaan Harga (SPH) / Request For Quotation (RFQ)

Surat Permintaan Harga (SPH) / Request For Quotation (RFQ) Harga Gross Price 0000000001 12000984 CABLE, POWER, ELECTRICAL: MGCG 2X1.5 MM M 1.000 2X1.5 MM2; 0.6/1 KV; STRANDED TINNED COPPER POLYCHLOROPRENE RUBBER OUTER SHEATED FOR SHIP WIRING; SPECIFICATION;DIN

Lebih terperinci

Klasifikasi dan Manfaat RAID (Redundant Array of Inexpensive Disks)

Klasifikasi dan Manfaat RAID (Redundant Array of Inexpensive Disks) Klasifikasi dan Manfaat (Redundant Array of Inexpensive Disks) Basuki Winoto, Agus Fatulloh Politeknik Negeri Batam Parkway, Batam Centre, Batam 29461, Indonesia bas@polibatam.ac.id, agus@polibatam.ac.id

Lebih terperinci

IKATAN KIMIA DAN GEOMETRI MOLEKUL

IKATAN KIMIA DAN GEOMETRI MOLEKUL IKATAN KIMIA DAN GEOMETRI MOLEKUL Sebagian besar unsur di alam tidak pernah dijumpai dalam atom bebas (kecuali gas mulia), namun dalam bentuk berikatan dengan atom yang sejenis maupun atom-atom yang lain.

Lebih terperinci

Bagian 3 Proteksi untuk keselamatan

Bagian 3 Proteksi untuk keselamatan Bagian 3 Proteksi untuk keselamatan 3.1 Pendahuluan 3.1.1 Proteksi untuk keselamatan menentukan persyaratan terpenting untuk melindungi manusia, ternak dan harta benda. Proteksi untuk keselamatan selengkapnya

Lebih terperinci

Modul Pelatihan etap 6.0.0 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhamadiyah Yogyakarta. by Lukita Wahyu P, Reza Bakhtiar

Modul Pelatihan etap 6.0.0 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhamadiyah Yogyakarta. by Lukita Wahyu P, Reza Bakhtiar Modul Pelatihan etap 6.0.0 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhamadiyah Yogyakarta by Lukita Wahyu P, Reza Bakhtiar UNIT 1 PENGENALAN ETAP 1. TUJUAN PRAKTIKUM a. Mengetahui fungsi software ETAP 6.0.0

Lebih terperinci

Sistem Informasi Pemasaran Produk pada PT. Prima Dina Lestari

Sistem Informasi Pemasaran Produk pada PT. Prima Dina Lestari Sistem Informasi Pemasaran Produk pada PT. Prima Dina Lestari Meriana STMIK IBBI Jl. Sei Deli No. 18 Medan, telp. 061-4567111, fax. 061-4527548 email : meriana@yahoo.com Abstrak PT. Pima Dina Lestari adalah

Lebih terperinci

Proteksi Kabel Saluran Bawah Tanah 150 kv dari GI Jajar ke GIS Mangkunegaran

Proteksi Kabel Saluran Bawah Tanah 150 kv dari GI Jajar ke GIS Mangkunegaran Hasyim Asy ari et al, Proteksi Kabel Saluran Bawah Tanah 150 kv dari GI Jajar ke GIS Mangkunegaran Proteksi Kabel Saluran Bawah Tanah 150 kv dari GI Jajar ke GIS Mangkunegaran Hasyim Asy ari, Jatmiko Teknik

Lebih terperinci

Teliti dalam menerap kan sistem satuan dalam mengukur suatu besaran fisis.

Teliti dalam menerap kan sistem satuan dalam mengukur suatu besaran fisis. DESKRIPSI PEMELAJARAN MATA DIKLAT TUJUAN : FISIKA : 1. Mengembangkan pengetahuan,pemahaman dan kemampuan analisis peserta didik terhadap lingkungan alam dan sekitarnya. 2. Memberikan pemahaman dan kemampuan

Lebih terperinci

Evaluasi Desain Antar Muka (Interface) dengan Menggunakan Pendekatan Kemudahan Penggunaan (Studi Kasus Portal Mahasiswa Universitas X)

Evaluasi Desain Antar Muka (Interface) dengan Menggunakan Pendekatan Kemudahan Penggunaan (Studi Kasus Portal Mahasiswa Universitas X) Evaluasi Desain Antar Muka (Interface) dengan Menggunakan Pendekatan Kemudahan Penggunaan (Studi Kasus Portal Mahasiswa Universitas X) Dino Caesaron 1, Andrian, Cyndy Chandra Program Studi Teknik Industri,

Lebih terperinci

SOAL MATEMATIKA, SMP OLIMPIADE SAINS NASIONAL TAHUN 2014

SOAL MATEMATIKA, SMP OLIMPIADE SAINS NASIONAL TAHUN 2014 SOAL MATEMATIKA, SMP OLIMPIADE SAINS NASIONAL TAHUN 2014 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TAHUN 2013 SOAL MATEMATIKA,

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF

RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF RANCANG BANGUN MEKANISME PENGHASIL GERAK AYUN PENDULUM SINGLE DOF LATAR BELAKANG Penyebab gerakan adalah gaya. Gaya merupakan pembangkit gerakan. Objek bergerak karena adanya gaya yang bekerja padanya.

Lebih terperinci

Analisis Perpindahan (displacement) dan Kecepatan Sudut (angular velocity) Mekanisme Empat Batang Secara Analitik Dengan Bantuan Komputer

Analisis Perpindahan (displacement) dan Kecepatan Sudut (angular velocity) Mekanisme Empat Batang Secara Analitik Dengan Bantuan Komputer Analisis Perpindahan (displacement) dan Kecepatan Sudut (angular velocity) Mekanisme Empat Batang Secara Analitik Dengan Bantuan Komputer Oegik Soegihardjo Dosen Fakultas Teknologi Industri Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Uji Hipotesis. Atina Ahdika, S.Si, M.Si. Universitas Islam Indonesia 2015

Uji Hipotesis. Atina Ahdika, S.Si, M.Si. Universitas Islam Indonesia 2015 Uji Hipotesis Atina Ahdika, S.Si, M.Si Universitas Islam Indonesia 015 Definisi Hipotesis Suatu pernyataan tentang besarnya nilai parameter populasi yang akan diuji. Pernyataan tersebut masih lemah kebenarannya

Lebih terperinci

KONSEP FREKUENSI SINYAL WAKTU KUNTINYU & WAKTU DISKRIT

KONSEP FREKUENSI SINYAL WAKTU KUNTINYU & WAKTU DISKRIT KONSEP FREKUENSI SINYAL WAKTU KUNTINYU & WAKTU DISKRIT Sinyal Sinusoidal Waktu Kontinyu T=/F A A cos X Acos Ft a 0 t t Sinyal dasar Eksponensial dng α imajiner X Ae a j t Ω = πf adalah frekuensi dalam

Lebih terperinci