Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pengomposan dipandang lebih mampu. memberikan peluang kerja bagi masyarakat, lebih memiliki potensi konflik yang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pengomposan dipandang lebih mampu. memberikan peluang kerja bagi masyarakat, lebih memiliki potensi konflik yang"

Transkripsi

1 Gambar 16. Perbandingan Skala Prioritas antara Incenerator dan Pengomposan Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Sosial. Keterangan : TENAKER = Penyerapan tenaga kerja KONFLIK = Potensi konflik dengan masyarakat rendah USAHA = Menumbuhkan lapangan usaha FORMAL = Menumbuhkan sektor formal dan/atau informal PSM = Penguatan peran serta masyarakat Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pengomposan dipandang lebih mampu memberikan peluang kerja bagi masyarakat, lebih memiliki potensi konflik yang rendah jika diterapkan di lapangan, lebih mampu memberikan peluang usaha bagi masyarakat, lebih mampu membuka peluang bagi terciptanya sektor informal maupun formal, dan lebih memungkinkan untuk dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanganan masalah sampah dibandingkan dengan teknologi incenerator. D. Penentuan Skala Prioritas antara Incenerator dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Sosial Jika didasarkan atas kriteria membuka kesempatan kerja dan membuka sektor informal dan/atau formal, teknologi sanitary landfill dipandang lebih mampu untuk memenuhinya ketimbang teknologi incenerator. Sehingga jika dua kriteria 69

2 tersebut yang mendapat perhatian utama yang ingin ditekankan, maka sanitary landfill lebih diprioritaskan ketimbang incenerator. Namun jika didasarkan atas kriteria potensi konflik yang rendah, dapat membuka peluang usaha bagi sektor swasta, dan dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanganan sampah, maka incenerator merupakan prioritas utama dibandingkan dengan teknologi sanitary landfil, seperti dapat dilihat pada Gambar 17. Secara keseluruhan teknologi incenerator lebih diprioritaskan dibandingkan dengan sanitary landfill. Gambar 17. Perbandingan Skala Prioritas antara Incenerator dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Sosial. Keterangan : TENAKER = Penyerapan tenaga kerja KONFLIK = Potensi konflik dengan masyarakat rendah USAHA = Menumbuhkan lapangan usaha FORMAL = Menumbuhkan sektor formal dan/atau informal PSM = Penguatan peran serta masyarakat E. Penentuan Skala Prioritas antara Pengomposan dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Sosial Semua kriteria dalam aspek sosial menunjukkan bahwa teknologi pengomposan lebih merupakan prioritas utama untuk diterapkan di Jakarta Timur dibandingkan dengan sanitary landfill, sebagaimana terlihat pada Gambar 18. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pengomposan dipandang lebih mampu 70

3 memberikan peluang kerja bagi masyarakat, lebih memiliki potensi konflik yang rendah jika diterapkan di lapangan, lebih mampu memberikan peluang usaha bagi masyarakat, lebih mampu membuka peluang bagi terciptanya sektor informal maupun formal, dan lebih mungkin untuk dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanganan masalah sampah dibanding dengan teknologi sanitary landfill. Gambar 18. Perbandingan Skala Prioritas antara Pengomposan dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Sosial. Keterangan : TENAKER = Penyerapan tenaga kerja KONFLIK = Potensi konflik dengan masyarakat rendah USAHA = Menumbuhkan lapangan usaha FORMAL = Menumbuhkan sektor formal dan/atau informal PSM = Penguatan peran serta masyarakat F. Penentuan Skala Prioritas antara Incenerator dan Pengomposan Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Teknis Jika didasarkan atas kriteria efektifitas dalam mereduksi sampah, dapat mengatasi masalah keterbatasan lahan, dan banyaknya lokasi yang memungkinkan penerapan suatu teknologi, maka teknologi incenerator lebih diprioritaskan untuk diterapkan di Jakarta Timur dibandingkan dengan pengomposan. Sedangkan jika ditinjau dari aspek ketersediaan teknologi, kemudahan operasional, ketersediaan 71

4 SDM, dan pemanfaatan sampah maka teknologi pengomposan lebih diprioritaskan dibandingkan dengan incenerator. Namun jika setiap kriteria dalam aspek teknis dibobotkan, maka incenerator lebih diprioritaskan dibandingkan dengan pengomposan. Untuk lebih jelas berikut disajikan Gambar 19. Gambar 19. Perbandingan Skala Prioritas antara Incenerator dan Pengomposan Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Teknis. Keterangan : EFEKTIF = Tingkat efektifitas dalam mengurangi tumpukan sampah LAHAN = Dapat mengatasi masalah keterbatasan lahan LOKASI = Ketersediaan lokasi TEKNOLOGI = Ketersediaan teknologi MUDH-OPR = Kemudahan penerapan teknologi (kemudahan operasional) SDM = Ketersediaan SDM yang memahami teknologi MANFAAT = Pemanfaatan sumberdaya (dapat memanfaatkan sampah sebagai sebuah sumberdaya) G. Penentuan Skala Prioritas antara Incenerator dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Teknis Jika didasarkan atas kriteria efektifitas dalam mereduksi sampah, dapat mengatasi masalah keterbatasan lahan, dan banyaknya lokasi yang memungkinkan penerapan suatu teknologi, maka teknologi incenerator lebih diprioritaskan untuk diterapkan di Jakarta Timur daripada sanitary landfill. Sedangkan jika ditinjau dari aspek ketersediaan teknologi dan ketersediaan SDM yang memahami teknologi, 72

5 maka sanitary landfill lebih diprioritaskan. Namun jika didasarkan atas kriteria kemudahan operasional dan pemanfaatan sampah, maka kedua teknologi memiliki skala prioritas relatif sama. Jika seluruh kriteria dalam aspek teknis dibobotkan, maka incenerator lebih diprioritaskan dibandingkan dengan teknologi sanitary landfill. Untuk lebih jelas berikut disajikan Gambar 20. Gambar 20. Perbandingan Skala Prioritas antara Incenerator dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Teknis. Keterangan : EFEKTIF = Tingkat efektifitas dalam mengurangi tumpukan sampah LAHAN = Dapat mengatasi masalah keterbatasan lahan LOKASI = Ketersediaan lokasi TEKNOLOGI = Ketersediaan teknologi MUDH-OPR = Kemudahan penerapan teknologi (kemudahan operasional) SDM = Ketersediaan SDM yang memahami teknologi MANFAAT = Pemanfaatan sumberdaya (dapat memanfaatkan sampah sebagai sebuah sumberdaya) H. Penentuan Skala Prioritas antara Pengomposan dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Teknis Jika kriteria efektifitas dalam mereduksi sampah digunakan sebagai dasar penentuan skala prioritas teknologi antara pengomposan dengan sanitary landfill, maka sanitary landfill merupakan prioritas utama dibandingkan dengan pengomposan, karena dipandang lebih efektif dalam hal mereduksi sampah. Sedangkan jika didasarkan atas kriteria dapat mengatasi keterbatasan lahan, 73

6 ketersediaan lokasi yang memungkinkan teknologi bisa diterapkan, ketersediaan teknologi, kemudahan operasional, ketersediaan SDM yang memahami teknologi, dan pemanfaatan sampah, maka pengomposan lebih merupakan prioritas utama untuk diterapkan di Jakarta Timur dibandingkan dengan sanitary landfill. Secara keseluruhan, jika semua kriteria dalam aspek teknis dibobotkan, maka teknologi pengomposan lebih merupakan prioritas utama dibandingkan sanitary landfill. Untuk lebih memperjelas berikut disajikan Gambar 21. Gambar 21. Perbandingan Skala Prioritas antara Pengomposan dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Teknis. Keterangan : EFEKTIF = Tingkat efektifitas dalam mengurangi tumpukan sampah LAHAN = Dapat mengatasi masalah keterbatasan lahan LOKASI = Ketersediaan lokasi TEKNOLOGI = Ketersediaan teknologi MUDH-OPR = Kemudahan penerapan teknologi (kemudahan operasional) SDM = Ketersediaan SDM yang memahami teknologi MANFAAT = Pemanfaatan sumberdaya (dapat memanfaatkan sampah sebagai sebuah sumberdaya) I. Penentuan Skala Prioritas antara Incenerator dan Pengomposan Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Ekonomi Seluruh kriteria dalam aspek ekonomi mengarah kepada penetapan pengomposan sebagai prioritas utama untuk diterapkan dalam kegiatan 74

7 pengolahan sampah di Jakarta Timur dibandingkan dengan incenerator. Hal ini berarti teknologi pengomposan dipandang sebagai teknologi yang investasi pengadaannya lebih murah, biaya operasionalnya juga lebih murah, dan lebih memiliki kemungkinan untuk dapat menghasilkan PAD jika dibandingkan dengan teknologi incenerator. Untuk lebih memperjelas berikut ditampilkan Gambar 22. Gambar 22. Perbandingan Skala Prioritas antara Incenerator dan Pengomposan Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Ekonomi. Keterangan : INVEST = Investasi rendah BEA-OPRS = Biaya operasional rendah PAD = Menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) yang tinggi J. Penentuan Skala Prioritas antara Incenerator dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Ekonomi Jika didasarkan atas kriteria rendahnya investasi pengadaan teknologi dan kemungkinan menghasilkan PAD, maka teknologi incenerator dan sanitary landfill memiliki skala prioritas relatif sama. Sedangkan jika ditinjau dari kriteria rendahnya biaya operasional, maka sanitary landfill lebih diprioritaskan dibandingkan dengan incenerator. Secara keseluruhan dapat ditentukan bahwa berdasarkan pertimbangan semua kriteria dalam aspek ekonomi, incenerator dan 75

8 sanitary landfill memiliki skala prioritas relatif sama untuk diterapkan di Jakarta Timur, seperti dapat dilihat pada Gambar 23. Gambar 23. Perbandingan Skala Prioritas antara Incenerator dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Ekonomi. Keterangan : INVEST = Investasi rendah BEA-OPRS = Biaya operasional rendah PAD = Menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) yang tinggi K. Penentuan Skala Prioritas antara Pengomposan dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Ekonomi Semua kriteria dalam aspek ekonomi mengarah kepada penetapan teknologi pengomposan sebagai prioritas utama dibandingkan dengan sanitary landfill. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa jika dibandingkan antara pengomposan dan sanitary landfill, maka teknologi pengomposan dipandang lebih murah dalam hal investasi dan biaya operasional, serta lebih mungkin untuk menghasilkan PAD dibandingkan dengan sanitary landfill. Untuk lebih memperjelas, berikut disajikan Gambar

9 Gambar 24. Perbandingan Skala Prioritas antara Pengomposan dan Sanitary Landfill Berdasarkan Kriteria dalam Aspek Ekonomi. Keterangan : INVEST = Investasi rendah BEA-OPRS = Biaya operasional rendah PAD = Menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) yang tinggi Secara umum, hasil studi AHP yang dilakukan menunjukkan bahwa teknologi pengolahan sampah yang memiliki nilai bobot tertinggi adalah pengomposan dengan nilai bobot 0,449, kemudian incenerator dengan nilai bobot 0,402, dan sanitary landfill dengan nilai bobot 0,149, seperti dapat dilihat pada Gambar 25 berikut ini : Gambar 25. Nilai Bobot yang Menunjukkan Skala Prioritas Penerapan Teknologi Pengolahan Sampah di Jakarta Timur Hasil Studi AHP. Hasil analisis sidik ragam yang dilakukan pada taraf nyata 1% menunjukkan bahwa minimal ada satu nilai bobot teknologi yang berbeda sangat nyata. Hasil 77

10 perhitungan analisis sidik ragam hasil studi AHP selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2. Sebagai konsekuensi dari penerimaan H 1, maka dilakukan uji lanjut untuk mengetahui nilai bobot manakah yang sesungguhnya berbeda sangat nyata. Uji lanjut yang digunakan adalah uji wilayah berganda Duncan. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa pada taraf nyata 1% nilai bobot pengomposan tidak berbeda nyata dengan nilai bobot incenerator, dan nilai bobot kedua teknologi tersebut berbeda sangat nyata dengan nilai bobot sanitary landfill. Perhitungan uji Duncan dapat dilihat pada Lampiran 3. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam perspektif statistik sesungguhnya skala prioritas teknologi pengomposan dengan incenerator tidak berbeda nyata. Artinya pihak Pemerintah Kota Jakarta Timur dapat memprioritaskan penggunaan teknologi pengomposan dan incenerator dalam upaya pengolahan sampah di wilayahnya 3. Analisis Sensitivitas Hasil Studi AHP Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penentuan skala prioritas teknologi pengolahan sampah berkaitan dengan periode waktu adalah adanya faktor ketidakpastian dimasa depan. Dalam hal ini terdapat peluang untuk terjadinya perubahan preferensi para stakeholder terhadap titik berat aspek yang menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan suatu jenis teknologi. Perubahan preferensi ini dapat diakibatkan oleh perubahan kebijakan pemerintah, perubahan 78

11 kondisi yang terjadi di masyarakat, dan lain-lain. Untuk itu perlu dilihat sejauh mana skala prioritas (nilai bobot) teknologi pengolahan sampah yang telah ditentukan berdasarkan hasil penelitian ini dipengaruhi oleh perubahan preferensi setiap aspek, dengan cara melakukan analisis sensitivitas. Analisis sensitivitas dilakukan dengan cara meningkatkan preferensi aspek lingkungan, sosial, teknis, dan ekonomi hingga mencapai nilai bobot 50% dan 75%. Kenaikan nilai bobot salah satu aspek, secara otomatis akan menurunkan nilai bobot aspek yang lain. Setelah nilai bobot aspek yang dinaikkan mencapai nilai yang diharapkan, yaitu 50% dan 75%, maka dilihat perubahan nilai bobot setiap teknologi. Apakah teknologi pengomposan dan incenerator masih tetap merupakan prioritas utama dan teknologi sanitary landfill merupakan prioritas terakhir ataukah mengalami perubahan. Berikut diuraikan hasil analisis sensitivitas terhadap hasil studi AHP yang telah dilakukan. A. Sensitivitas Skala Prioritas Teknologi Terhadap Peningkatan Preferensi Aspek Lingkungan Jika diasumsikan dimasa depan terjadi peningkatan preferensi aspek lingkungan sedemkian rupa sehingga secara kuantitif nilai bobotnya mencapai 50%, ternyata pengomposan tetap memiliki nilai bobot tertinggi yaitu 44% walaupun lebih rendah dari nilai bobot sebelumnya (44,9% = 0,449) seperti disajkan pada Gambar

12 Gambar 26. Nilai Bobot Setiap Teknologi Jika Nilai Bobot Aspek Lingkungan Mencapai 50%. Jika preferensi terhadap aspek lingkungan meningkat lagi menjadi 75%, maka incenerator merupakan teknologi yang memiliki nilai bobot tertinggi (47,2% = 0,472), seperti disajikan Gambar 27. Gambar 27. Nilai Bobot Setiap Teknologi Jika Nilai Bobot Aspek Lingkungan Meningkat Menjadi 75%. Hal ini menunjukkan, jika pada suatu saat pertimbangan terpenting dalam menentukan jenis teknologi pengolahan sampah di Jakarta Timur adalah aspek lingkungan, yang berarti pula aspek sosial, ekonomi, dan teknis relatif tidak menjadi masalah, maka incenerator merupakan teknologi yang menjadi prioritas utama untuk diterapkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa skala prioritas teknologi yang dipilih relatif tidak sensitif terhadap perubahan preferensi aspek lingkungan karena masih tetap salah satu dari pengomposan dan incenerator yang menjadi prioritas utama. 80

13 B. Sensitivitas Skala Prioritas Teknologi Terhadap Peningkatan Preferensi Aspek Sosial Jika diasumsikan dimasa depan terjadi peningkatan preferensi terhadap aspek sosial sehingga nilai bobot aspek sosial mencapai 50%, yang berarti pula nilai bobot aspek lainnya mengalami penurunan, maka teknologi pengomposan merupakan prioritas utama yang sebaiknya diterapkan dalam kegiatan pengolahan sampah di Jakarta Timur dengan nilai bobot 47,6%. Gambaran selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 28. Gambar 28. Nilai Bobot Setiap Jenis Teknologi Jika Preferensi Terhadap Aspek Sosial Meningkat Hingga Memiliki Nilai Bobot 50%. Jika preferensi terhadap aspek sosial terus mengalami peningkatan sehingga nilai bobotnya mencapai 75% maka teknologi pengomposan tetap merupakan prioritas utama (nilai bobot 55,1%) seperti dapat dilihat pada Gambar 29. Gambar 29. Nilai Bobot Setiap Jenis Teknologi Jika Nilai Bobot Aspek Sosial Mencapai 75%. 81

14 Hal ini berarti bahwa jika kondisi yang dihadapi mengharuskan penentuan teknologi pengolahan sampah ditikberatkan kepada perhatian : membuka kesempatan kerja, meminimalkan potensi konflik yang mungkin terjadi, menciptakan peluang berusaha bagi masyarakat, membuka peluang kepada sektor informal dan formal untuk terlibat, serta dapat meningkatkan peran serta masyarakat, maka teknologi pengomposan adalah prioritas utama untuk diterapkan di Jakarta Timur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa skala prioritas teknologi yang telah ditetapkan tidak sensitif terhadap peningkatan preferensi aspek sosial karena prioritas utama teknologi yang dipilih tetap salah satu dari pengomposan dan incenerator. C. Sensitivitas Skala Prioritas Teknologi Terhadap Peningkatan Preferensi Aspek Teknis Analisis sensitivitas yang dilakukan terhadap aspek teknis menunjukkan bahwa jka nilai bobot aspek teknis meningkat hingga mencapai 50%, maka nilai bobot pengomposan akan mencapai 42,2% dan merupakan prioritas utama. Kemudian jika nilai bobot aspek teknis terus meningkat hingga mencapai 75%, ternyata nilai bobot teknologi incenerator mencapai 41,1% yang hampir sama dengan nilai bobot pengomposan (40,2%), seperti disajikan pada Gambar 30 dan Gambar

15 Gambar 30. Nilai Bobot Setiap Jenis Teknologi Jika Preferensi Terhadap Aspek Teknis Meningkat Hingga Memiliki Nilai Bobot 50%. Gambar 31. Nilai Bobot Setiap Jenis Teknologi Jika Preferensi Terhadap Aspek Teknis Meningkat Hingga Memiliki Nilai Bobot 75% Kondisi seperti ini mengindikasikan jika aspek teknis menjadi pertimbangan yang paling utama dalam menentukan teknologi, sedangkan ketiga aspek lainnya relatif tidak terlalu diutamakan, maka pengomposan dan incenerator merupakan teknologi yang mendapat prioritas utama untuk diterapkan dalam pengolahan sampah di Jakarta Timur. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penentuan skala prioritas teknologi pengolahan sampah di Jakarta Timur relatif tidak sensitif terhadap peningkatan preferensi aspek teknis. D. Sensitivitas Skala Prioritas Teknologi Terhadap Peningkatan Preferensi Aspek Ekonomi Analisis sensitivitas yang dilakukan terhadap aspek ekonomi menunjukkan bahwa jka nilai bobot aspek ekonomi meningkat hingga mencapai 50%, maka nilai 83

16 bobot pengomposan akan mencapai 53,4% dan merupakan prioritas utama. Kemudian jika nilai bobot aspek ekonomi terus meningkat hingga mencapai 75%, nilai bobot teknologi pengomposan tetap tertinggi yaitu 60%. Gambaran secara terperinci mengenai nilai bobot setiap teknologi akibat peningkatan nilai bobot aspek ekonomi hingga mencapai 50% dan 75% secara berturut-turut disajikan Gambar 32 dan 33. Gambar 32 Nilai Bobot Setiap Jenis Teknologi Jika Nilai Bobot Aspek Ekonomi Mencapai 50% Gambar 33. Nilai Bobot Setiap Jenis Teknologi Jika Preferensi Terhadap Aspek Ekonomi Meningkat Hingga Memiliki Nilai Bobot Sebesar 75% Hal ini menunjukkan bahwa pertimbangan ekonomi sangat kuat mendominasi keputusan penentuan teknologi pengolahan sampah. Meningkatnya preferensi aspek ekonomi akan meningkatkan nilai bobot pengomposan. Jika pertimbangan investasi yang rendah, biaya operasional yang rendah, dan kemungkinan menghasilkan PAD menjadi titik berat penentuan teknologi pengolahan sampah di Jakarta Timur, maka prioritas utama penggunaan teknologi jatuh pada 84

17 pengomposan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa skala prioritas penentuan teknologi pengolahan sampah di Jakarta Timur relatif tidak sensitif terhadap peningkatan preferensi aspek ekonomi karena salah satu dari pengomposan atau incenerator tetap menjadi prioritas utama. Mengingat skala prioritas teknologi pengolahan sampah yang terpilih relatif tidak sensitif terhadap perubahan preferensi aspek lingkungan, sosial, teknis, dan ekonomi, maka dapat disimpulkan bahwa teknologi yang sebaiknya diprioritaskan untuk kegiatan pengolahan sampah di Jakarta Timur adalah pengomposan dan incenerator. Keputusan tersebut sangat kuat dipengaruhi oleh pertimbangan aspek lingkungan, khususnya kriteria teknologi yang minimal dalam menimbulkan dampak terhadap pencemaran air. Dengan demikian, hipotesis yang mengatakan bahwa teknologi yang sebaiknya diterapkan dalam pengolahan sampah di Jakarta Timur adalah incenerator, tidak sepenuhnya dapat diterima. 85

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI A. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Beberapa permasalahan yang masih dihadapi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK 45 ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK Perilaku konsumen dalam mengkonsumsi dangke dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Konsumsi dangke sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan bersifat turun

Lebih terperinci

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah alokasi (transfer)

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah alokasi (transfer) RUMUS PERHITUNGAN DANA ALOKASI ASI UMUM I. PRINSIP DASAR Dana Alokasi Umum (DAU) adalah alokasi (transfer) pusat kepada daerah otonom dalam bentuk blok. Artinya, penggunaan dari DAU ditetapkan sendiri

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH

TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH Contoh Studi Tahapan Monitoring dan Evaluasi Kebijakan TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH Dalam studi kasus tersebut, langkah-langkah yang diambil dalam merumuskan masalah meliputi: 1. Memikirkan masalah yang

Lebih terperinci

ALTERNATIF BENTUK PENATAAN WILAYAH DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR

ALTERNATIF BENTUK PENATAAN WILAYAH DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR ALTERNATIF BENTUK PENATAAN WILAYAH DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR Oleh: JIHAN MARIA ULFA L2D 306 014 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 ABSTRAK

Lebih terperinci

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAVA MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 04 TAHUN 2012

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAVA MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 04 TAHUN 2012 MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAVA MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 04 TAHUN 2012 TENTANG HARGA PEMBELIAN TENAGA LISTRIK OLEH PT PLN (PERSERO)

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 5.1. Arah Pengelolaan Pendapatan Daerah Dalam pengelolaan anggaran pendapatan daerah harus diperhatikan upaya untuk peningkatan pendapatan pajak dan retribusi daerah

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

this file is downloaded from www.aphi-net.com

this file is downloaded from www.aphi-net.com - 3 - Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, telah dusun Peraturan Pemerintah tentang Pembagian Urusan Pemerintahan dibidang Kehutanan, agar diperoleh sinergitas

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE Di Daerah Sanan, Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing, Kodya Malang Jawa Timur

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL Lingkungan alam Lingkungan Sosial Lingkungan Binaan/Buatan LINGKUNGAN HIDUP Manusia Sebagai Makhluk Sosial -Membentuk Pengelompokkan Sosial (Social Grouping) mempertahankan

Lebih terperinci

KONDISI PELAYANAN FASILITAS SOSIAL KECAMATAN BANYUMANIK-SEMARANG BERDASARKAN PERSEPSI PENDUDUK TUGAS AKHIR

KONDISI PELAYANAN FASILITAS SOSIAL KECAMATAN BANYUMANIK-SEMARANG BERDASARKAN PERSEPSI PENDUDUK TUGAS AKHIR KONDISI PELAYANAN FASILITAS SOSIAL KECAMATAN BANYUMANIK-SEMARANG BERDASARKAN PERSEPSI PENDUDUK TUGAS AKHIR Oleh: ADHITA KUSUMA DWI CAHYANI L 2D 098 402 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

0.01 sebaran tidak normal. Tehnik uji yang digunakan adalah uji z dari. Uji ini untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel bebas dengan

0.01 sebaran tidak normal. Tehnik uji yang digunakan adalah uji z dari. Uji ini untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel bebas dengan 90 0.01 sebaran tidak normal. Tehnik uji yang digunakan adalah uji z dari Kolmogorov-Smirnov. b) Uji Linieritas hubungan. Uji ini untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel bebas dengan variabel

Lebih terperinci

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : ISI FORM D *Semua Informasi Wajib Diisi *Mengingat keterbatasan memory database, harap mengisi setiap isian dengan informasi secara general, singkat dan jelas. A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang

Lebih terperinci

EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG

EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG PROGRAM PASCA SARJANA TEKNIK PRASARANA LINGKUNGAN PERMUKIMAN JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG Disusun Oleh

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Pembangunan Daerah Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi pembangunan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

KAJIAN DAYA TAMPUNG RUANG UNTUK PEMANFAATAN LAHAN KOTA TARAKAN TUGAS AKHIR

KAJIAN DAYA TAMPUNG RUANG UNTUK PEMANFAATAN LAHAN KOTA TARAKAN TUGAS AKHIR KAJIAN DAYA TAMPUNG RUANG UNTUK PEMANFAATAN LAHAN KOTA TARAKAN TUGAS AKHIR Oleh : M. HELWIN SETIAWAN L2D 099 434 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2004

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Instrumen Data Validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur yang dipergunakan untuk mengukur apa yang diukur. Adapun caranya adalah dengan mengkorelasikan antara

Lebih terperinci

Kuesioner Variabel Independen

Kuesioner Variabel Independen Kuesioner Variabel Independen No Pertanyaan Ya Tidak 1 Apakah pengendalian perlu untuk dilakukan di dalam menjalankan suatu usaha? 2 Apakah pengendalian mudah untuk dilaksanakan/diterapkan? 3 Apakah perlu

Lebih terperinci

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Pendahuluan 0 Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting

Lebih terperinci

KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA

KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA KEMENTERIAN DALAM NEGERI IMPLEMENTASI UU NOMOR 23 TAHUN 2014 PEMBAGIAN PERAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI, DAN KABUPATEN/KOTA Tahapan RPJPN 2005-2025 RPJMN 4 (2020-2024) RPJMN 1 (2005-2009) Menata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Transportasi memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi berhubungan dengan kegiatan-kegiatan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN 6.1 Strategi Umum Strategi umum yang diambil dalam rangka mencapai visi, dan mewujudkan misi, tujuan dan sasaran pembangunan Kota Padangsidimpuan 2013-2018 yaitu meliputi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat Di Bidang Perbankan 2007 1. Pendahuluan Bank sebagai lembaga intermediasi dan pelaksana sistem pembayaran memiliki peranan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

SOP Penulisan Skripsi/Penelitian Mandiri

SOP Penulisan Skripsi/Penelitian Mandiri SOP Penulisan Skripsi/Penelitian Mandiri Jurusan : Manajemen A. Dasar Pemikiran Visi program studi Manajemen adalah Menjadi Program Studi Yang Unggul Di Bidang Manajemen Bisnis, diwujudkan dalam bentuk

Lebih terperinci

BAB III Tahapan Pendampingan KTH

BAB III Tahapan Pendampingan KTH BAB III Tahapan Pendampingan KTH Teknik Pendampingan KTH 15 Pelaksanaan kegiatan pendampingan KTH sangat tergantung pada kondisi KTH, kebutuhan dan permasalahan riil yang dihadapi oleh KTH dalam melaksanakan

Lebih terperinci

Tidak adanya metode khusus yang digunakan oleh Satuan Kerja Sementara Pemeliharaan Jalan Papua Barat dalam menentukan skala prioritas dalam

Tidak adanya metode khusus yang digunakan oleh Satuan Kerja Sementara Pemeliharaan Jalan Papua Barat dalam menentukan skala prioritas dalam Tidak adanya metode khusus yang digunakan oleh Satuan Kerja Sementara Pemeliharaan Jalan Papua Barat dalam menentukan skala prioritas dalam penyusunan usulan penanganan jaringan jalan Keterbatasan dana

Lebih terperinci

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki disampaikan oleh: DR. Dadang Rukmana Direktur Perkotaan 26 Oktober 2013 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG Outline Pentingnya Jalur Pejalan

Lebih terperinci

Tesis DOSEN PEMBIMBING : Ir. Soemino, M. MT. Oleh : Sigit Setyawan NRP. 3110 207 707

Tesis DOSEN PEMBIMBING : Ir. Soemino, M. MT. Oleh : Sigit Setyawan NRP. 3110 207 707 Tesis Strategi Pengelolaan Aset Alat Berat Pada Dinas PU Kabupaten Kapuas DOSEN PEMBIMBING : Ir. Wahju Herijanto, M.T Ir. Soemino, M. MT Oleh : Sigit Setyawan NRP. 3110 207 707 Isi BAB 1 Pendahuluan BAB

Lebih terperinci

3.1 KERANGKA ANALISIS KAJIAN

3.1 KERANGKA ANALISIS KAJIAN Metodologi kajian yang akan dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan yang akan dicapai dan ketersedian data dan informasi yang didapat serta beberapa pertimbangan lainnya, seprti pemenuhan tujuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1995 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1995 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1995 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dalam rangka mendorong terciptanya iklim usaha yang lebih baik di bidang

Lebih terperinci

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012 IKLIM ORGANISASI Sebuah mesin memiliki batas kapasitas yang tidak dapat dilampaui berapapun besaran jumlah energi yang diberikan pada alat itu. Mesin hanya dapat menghasilkan produk dalam batas yang telah

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. nasional yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil

1. PENDAHULUAN. nasional yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan perikanan merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil perikanan, baik untuk

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF. Oleh Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF. Oleh Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF Oleh Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. APA ITU PENELITIAN KUALITATIF? Penelitian Kualitatif adalah study yang meneliti kualitas hubungan, aktivitas, situasi, atau berbagai

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 191/PMK.09/2008 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KEUANGAN MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 191/PMK.09/2008 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KEUANGAN MENTERI KEUANGAN, MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 191/PMK.09/2008 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KEUANGAN MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Salah satu tolak ukur pembangunan nasional adalah pembangunan ekonomi dimana sektor ekonomi selalu menjadi fokus pemerintah dalam melaksanakan pembangunan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Upaya

Lebih terperinci

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT A. PENDAHULUAN Pembinaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah dengan melakukan perubahan bentuk perilaku yang didasarkan pada kebutuhan atas kondisi lingkungan yang bersih

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP TAHUN LALU. 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan Capaian Renstra Tahun 2013

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP TAHUN LALU. 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan Capaian Renstra Tahun 2013 BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP TAHUN LALU 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan Capaian Renstra Tahun 2013 1. Program Pelayanan administrasi perkantoran Program

Lebih terperinci

ANOVA SATU ARAH Nucke Widowati Kusumo Projo, S.Si, M.Sc

ANOVA SATU ARAH Nucke Widowati Kusumo Projo, S.Si, M.Sc ANOVA SATU ARAH Nucke Widowati Kusumo Proo, S.Si, M.Sc It s about: Ui rata-rata untuk lebih dari dua populasi Ui perbandingan ganda (ui Duncan & Tukey) Output SPSS PENDAHULUAN Ui hipotesis yang sudah kita

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula.

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. 40 BAB III METODE PENELITIAN Metodologi penelitian dalam suatu penelitian sangat penting, sebab dengan menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. Artinya apabila seseorang

Lebih terperinci

Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial. Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id

Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial. Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id Social Responsibility Dimulai sejak era tahun 1970an, ketika muncul gerakan untuk menuntut tanggung jawab

Lebih terperinci

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) Bagian I (dari 5 bagian) Oleh, Dadang Yunus L, S.Pd.

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI

IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI (Studi Kasus: PT Coca Cola Bottling Indonesia Divisi Jawa Tengah, PT. Leo Agung Raya, PT Djarum Kudus, dan Sentra Industri

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya perubahan yang

Lebih terperinci

ENOK ILA KARTILA SKRIPSI

ENOK ILA KARTILA SKRIPSI SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT BANTARAN SUNGAI CILIWUNG DALAM AKTIVITAS PEMBUANGAN SAMPAH RUMAH TANGGA (Kasus di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor) ENOK ILA KARTILA SKRIPSI PROGRAM

Lebih terperinci

BAB V Area Beresiko Sanitasi

BAB V Area Beresiko Sanitasi BAB V Area Beresiko Sanitasi 6 BAB 5 Area Beresiko Sanitasi Buku Putih Sanitasi sangat penting bagi kabupaten dalam menetapkan prioritas wilayah pengembangan sanitasi yang meliputi pengelolaan air limbah,

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN 6.1 Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Strategi pembangunan daerah adalah kebijakan dalam mengimplementasikan program Kepala Daerah, sebagai payung pada perumusan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan I. PENDAHULUAN A. Maksud dan Tujuan Rencana Kerja (Renja) Dinas Peternakan Kabupaten Bima disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut : 1) Untuk merencanakan berbagai kebijaksanaan dan strategi percepatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa

BAB I PENDAHULUAN. yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sekolah Dasar (selanjutnya disingkat menjadi SD) merupakan pendidikan yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa menyelesaikan pendidikan

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

Tabel 1. Perbedaan dasar antara proyek-proyek swasta dan proyek publik

Tabel 1. Perbedaan dasar antara proyek-proyek swasta dan proyek publik BAB 6 EVALUASI PROYEK DENGAN METODE RASIO MANFAAT/BIAYA Metode rasio manfaat/biaya (benefit/cost, B/C) biasanya digunakan untuk mengevaluasi proyekproyek umum (publik), karena sejumlah faktor khusus yang

Lebih terperinci

KOMUNIKASI EFEKTIF. Memudahkan dalam memenuhi kebutuhan kita dengan cara menumbuhkan rasa hormat, percaya dan harmoni.

KOMUNIKASI EFEKTIF. Memudahkan dalam memenuhi kebutuhan kita dengan cara menumbuhkan rasa hormat, percaya dan harmoni. KOMUNIKASI EFEKTIF Memudahkan dalam memenuhi kebutuhan kita dengan cara menumbuhkan rasa hormat, percaya dan harmoni Muhammad Hamdi Pokok bahasan Tentang kebutuhan manusia Apakah komunikasi itu? Mengapa

Lebih terperinci

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era

Lebih terperinci

Mengatasi diskriminasi etnis, agama dan asal muasal: Persoalan dan strategi penting

Mengatasi diskriminasi etnis, agama dan asal muasal: Persoalan dan strategi penting Mengatasi diskriminasi etnis, agama dan asal muasal: Persoalan dan strategi penting Kesetaraan dan non-diskriminasi di tempat kerja di Asia Timur dan Tenggara: Panduan 1 Tujuan belajar Menetapkan konsep

Lebih terperinci

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian,

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian, urusan perumahan rakyat, urusan komunikasi dan informatika, dan urusan kebudayaan. 5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) Pembangunan di tahun kelima diarahkan pada fokus pembangunan di urusan lingkungan

Lebih terperinci

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI Menimbang : Mengingat : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa jasa konstruksi mempunyai peranan

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN Pangkal Pinang 16-17 April 2014 BAGIAN DATA DAN INFORMASI BIRO PERENCANAAN KEMENHUT email: datin_rocan@dephut.go.id PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan pelaksanaan pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER24/MEN/VI/2006 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

APLIKASI PEWARNAAN SIMPUL GRAF UNTUK MENGATASI KONFLIK PENJADWALAN MATA KULIAH DI FMIPA UNY

APLIKASI PEWARNAAN SIMPUL GRAF UNTUK MENGATASI KONFLIK PENJADWALAN MATA KULIAH DI FMIPA UNY APLIKASI PEWARNAAN SIMPUL GRAF UNTUK MENGATASI KONFLIK PENJADWALAN MATA KULIAH DI FMIPA UNY Latar belakang Masalah Pada setiap awal semester bagian pendidikan fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

Pedoman Pengembangan Pusat Unggulan Iptek

Pedoman Pengembangan Pusat Unggulan Iptek ii SAMBUTAN MENRISTEK Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan perkenan-nya ini dapat diterbitkan. Pedoman ini merupakan panduan yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pelayanan Publik Pada Badan

KATA PENGANTAR. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pelayanan Publik Pada Badan LAMPIRAN 1 KATA PENGANTAR Kuesioner ini dibuat semata-mata untuk maksud penelitian dengan judul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pelayanan Publik Pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Tangerang

Lebih terperinci

PERANAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN GUNA MEMENUHI TUNTUTAN PENGGUNA

PERANAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN GUNA MEMENUHI TUNTUTAN PENGGUNA PERANAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN GUNA MEMENUHI TUNTUTAN PENGGUNA Sebagaimana telah diketahui, perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis di tengah-tengah masyarakatnya.

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 30 BAB III KERANGKA BERPIKIR, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir Adanya tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing dalam era globalisasi, maka

Lebih terperinci

MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN

MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN Oleh : Drs. Wiyoto, MT Tatang Rahmat, S.Pd Mengelola program pelatihan, secara sepintas tampaknya sesuatu hal yang sederhana. Namun bila dicermati, membutuhkan suatu penanganan

Lebih terperinci

Terta Ganda (0911899)

Terta Ganda (0911899) SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK MENENTUKAN PENERIMA BANTUAN SOSIAL TAHUNAN DARI PERUSAHAAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (Studi Kasus : Grand Palladium Medan) Terta Ganda (0911899) Mahasiswa

Lebih terperinci

Kami berfokus untuk membuat gambar gelap terlihat jelas. teknologi starlight

Kami berfokus untuk membuat gambar gelap terlihat jelas. teknologi starlight Kami berfokus untuk membuat gambar gelap terlihat jelas teknologi starlight Kamera 24/7 sesungguhnya Bukankah akan sangat membantu jika Anda dapat mengandalkan gambar jernih dan relevan, bagaimanapun kondisi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan. 52 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif.

Lebih terperinci

APLIKASI PENILAIAN PRESTASI KERJA PEGAWAI. Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. User : Administrator

APLIKASI PENILAIAN PRESTASI KERJA PEGAWAI. Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. User : Administrator APLIKASI PENILAIAN PRESTASI KERJA PEGAWAI Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral User : Administrator I. Pendahuluan Sistem informasi penilaian prestasi kerja pegawai merupakan suatu sistem informasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Diskripsi Data Kemampuan Awal 1. Data Kemampuan Awal Prestasi Belajar Matematika Data yang digunakan kemampuan awal adalah nilai UAN keltika masuk MTs mata pelajaran

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Belanja Daerah tahun sekarang pada kabupaten/kota di propinsi Sumatera Utara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Belanja Daerah tahun sekarang pada kabupaten/kota di propinsi Sumatera Utara 42 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menganalisis pengaruh DAU dan PAD tahun lalu terhadap Belanja Daerah tahun sekarang pada kabupaten/kota di propinsi Sumatera Utara tahun 2006 2008. Alat analisis

Lebih terperinci

Peluang Bersyarat dan Kejadian Bebas

Peluang Bersyarat dan Kejadian Bebas Bab 3 Peluang Bersyarat dan Kejadian Bebas 3.1 Peluang Bersyarat Misalkan ruang contoh berpeluang sama dari percobaan melempar sebuah dadu bersisi 6, maka S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}. Dan terdapat dua kejadian,

Lebih terperinci

4 Langkah Mudah Kemitraan SPBU Pertamina

4 Langkah Mudah Kemitraan SPBU Pertamina BAB JUDUL 1 4 Langkah Mudah Kemitraan SPBU Pertamina Application User Guideline OVERVIEW User Manual Aplikasi Management Registrasi Online SPBU ini disusun untuk memudahkan pengguna dalam mengisi Aplikasi

Lebih terperinci

cenderung terbuka dan menganut proses pembelajaran. Analisis lingkungan eksternal bisnis dari sebuah perusahaan sangat bagus

cenderung terbuka dan menganut proses pembelajaran. Analisis lingkungan eksternal bisnis dari sebuah perusahaan sangat bagus 24 cenderung terbuka dan menganut proses pembelajaran. 2.7 Analisis Lingkungan Eksternal Bisnis Analisis lingkungan eksternal bisnis dari sebuah perusahaan sangat bagus apabila digunakan untuk membantu

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. x xi xii xiii DAFTAR ISI... xiv DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR GAMBAR... xviii DAFTAR LAMPIRAN... xix

DAFTAR ISI. x xi xii xiii DAFTAR ISI... xiv DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR GAMBAR... xviii DAFTAR LAMPIRAN... xix DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL...... i LEMBAR PERNYATAAN...... ii ABSTRAK...... iii RINGKASAN EKSEKUTIF...... iv LEMBAR PENGESAHAN...... RIWAYAT HIDUP PENULIS...... LEMBAR PERSEMBAHAN...... KATA PENGANTAR......

Lebih terperinci

Aplikasi System Dynamic pada Model Perhitungan Indikator Millennium Development Goals (MDGs)

Aplikasi System Dynamic pada Model Perhitungan Indikator Millennium Development Goals (MDGs) 45 Aplikasi System Dynamic pada Model Perhitungan Indikator Millennium Development Goals (MDGs) A Mufti Kepala Bagian Data & Informasi Kantor Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Millennium

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana

PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana Wilayah pesisir dan laut memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah daratan. Karakteristik khusus

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN KOMPUTER

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN KOMPUTER STANDAR KOMPETENSI LULUSAN KOMPUTER DIREKTORAT PEMBINAAN KURSUS DAN PELATIHAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, NONFORMAL DAN INFORMAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011 A. LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR i UCAPAN TERIMA KASIH ii DAFTAR ISI iv DAFTAR TABEL vii DAFTAR GAMBAR ix BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah 24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian sebagai mana kita kenal sekarang, memberikan garisgaris yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah untuk

Lebih terperinci

ANALISIS RESIKO LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN LIMBAH PABRIK TAHU DENGAN KAYU APU (Pistia stratiotes L.)

ANALISIS RESIKO LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN LIMBAH PABRIK TAHU DENGAN KAYU APU (Pistia stratiotes L.) 151 ANALISIS RESIKO LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN LIMBAH PABRIK TAHU DENGAN KAYU APU (Pistia stratiotes L.) ENVIRONMENTAL ANALYSIS FROM TOFU WASTE WATER TREATMENT BY WATER LETTUCE (Pistia stratiotes L.) Alia

Lebih terperinci