KAJIAN NILAI TAMBAH PRODUK AGRIBISNIS KEDELAI PADA USAHA ANEKA TAHU MAJU LESTARI DI KECAMATAN LANDASAN ULIN, KOTA BANJARBARU

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KAJIAN NILAI TAMBAH PRODUK AGRIBISNIS KEDELAI PADA USAHA ANEKA TAHU MAJU LESTARI DI KECAMATAN LANDASAN ULIN, KOTA BANJARBARU"

Transkripsi

1 KAJIAN NILAI TAMBAH PRODUK AGRIBISNIS KEDELAI PADA USAHA ANEKA TAHU MAJU LESTARI DI KECAMATAN LANDASAN ULIN, KOTA BANJARBARU STUDY ON ADDED VALUE OF SOYBEAN AGRIBUSINESS PRODUCT AT MAJU LESTARI TOFU INDUSTRY IN LANDASAN ULIN DISTRICT, BANJARBARU CITY Emy Rahmawati Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian UNLAM Jl. Jend. A. Yani Km.36 PO Box 1028 Banjarbaru ABSTRACT The purposes of this research are to: 1 analyse costs, revenue, profit and feasibility of tofu industry, determine Break Even Point (BEP), and 3. analyse added value of processed soybean (tofu). The results showed that total costs, revenue and profit per year are Rp 1,031,633,850, Rp 1,171,118,000, and Rp 139,484,150. Revenue Cost Ratio (RCR) is 14. To attain BEP, the industry should produce 13,252 kg and minimum sales value is Rp 94,796,503. Total added value received per year is Rp 267,308,150, or Rp 1,302 per kg of soybean. Key words : costs, revenue, profit, RCR, BEP, Added Value ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk: 1 Menganalisis biaya, penerimaan, keuntungan, dan kelayakan dari usaha pengolahan tahu, Menghitung titik impas/break Even Point (BEP), serta 3. Menganalisis nilai tambah dari proses pengolahan tahu. Biaya total, penerimaan dan keuntungan selama masing-masing sebesar Rp , Rp , dan Rp , serta nilai RCR sebesar 1,14. Untuk mencapai titik impas, perusahaan harus memproduksi tahu sebesar kg dengan nilai penjualan minimal sebesar Rp Nilai tambah yang diperoleh selama sebesar Rp , dengan nilai tambah per kg kedelai sebesar 1302 /kg. Kata kunci : biaya, penerimaan, keuntungan, RCR, BEP, Nilai tambah PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan agribisnis memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia ke depan. Selain merupakan sektor ekonomi utama dalam pembangunan ekonomi daerah, pembangunan agribisnis juga merupakan cara mendayagunakan keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia sebagai negara agraris sehingga menjadi keunggulan kompetitif. Demi terciptanya percepatan pembangunan sektor pertanian sebagai basis kegiatan ekonomi utama rakyat dalam sistem ekonomi kerakyatan, maka pengembangannya tidak bisa lagi hanya mengandalkan kegiatan pada on-farm saja. Diperlukan adanya terobosan pengintegrasian sistem agribisnis yang memungkinkan terciptanya nilai tambah (value added) yang berarti bagi setiap komoditi sektor pertanian. 214 Agroindustri adalah salah satu cabang industri yang mempunyai kaitan erat dan langsung dengan pertanian. Apabila pertanian diartikan sebagai proses yang menghasilkan produk pertanian di tingkat primer, maka kaitannya dengan industri dapat berkaitan ke belakang maupun ke depan. Sebagai salah satu subsistem agribisnis, kegiatan agroindustri mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan di Indonesia, jika tindakan kebijakan terhadap komoditas ini dilakukan secara tepat. Salah satu contoh dari agroindustri yang sekarang berkembang adalah industri pengolahan kedelai. Pada umumnya kedelai dapat diolah menjadi berbagai macam produk agribisnis yakni produk pengolahan makanan, yang cukup dominan adalah dalam bentuk produk pengolahan tahu. Industri ini mempunyai prospek yang cukup cerah. Selain pembuatannya dapat dilakukan dengan cara

2 Kajian nilai tambah produk sederhana juga karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Industri pengolahan tahu banyak terdapat di kota Banjarbaru, dan jumlahnya relatif lebih banyak dibandingkan kota-kota lainnya di Kalimantan Selatan. Dengan melihat tersebarnya pabrik tahu di atas, dirasa perlu melakukan telaah atau penelitian tentang penyelenggaraan produk agribisnis tahu ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : Menganalisis nilai pembiayaan, penerimaan, keuntungannya serta kelayakan dari usaha pengolahan tahu, Menghitung titik impas/break Even Point (BEP) dari penyelenggaraan usaha pengolahan tahu, serta 3. Menganalisis nilai tambah dari proses pengolahan kedelai menjadi tahu. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kota Banjarbaru dengan menetapkan usaha pengolahan kedelai sebagai sampel yang dipilih. Dari pengolahan kedelai yang terdapat di Banjarbaru, paling banyak merupakan usaha pengolahan tahu, karena itu dipilih usaha pengolahan tahu dengan melakukan telaah pada Aneka Tahu Maju Lestari. Pabrik pengolahan tahu ini terletak di Kelurahan Landasan Ulin Kota Banjarbaru, sedangkan untuk melayani konsumen atau pembeli usaha ini memiliki toko yang terletak di Jalan. A. Yani. Km. 21 Landasan Ulin Banjarbaru. Waktu penelitian di mulai pada bulan April sampai dengan Juli Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Jenis data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari wawancara langsung dengan pemilik usaha pengolahan tahu dengan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Sedangkan data sekunder diperoleh dinas atau instansi yang terkait serta literatur-literatur yang relevan dengan penelitian ini. Analisis Data Untuk menjawab tujuan pertama yaitu menganalisis nilai pembiayaan, penerimaan, keuntungan serta kelayakan dari usaha pengolahan tahu selama terakhir maka diadakan analisis sebagai berikut: Untuk mengetahui besarnya biaya dari usaha pengolahan tahu maka secara sistematis dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut TC = FC + VC TC = Biaya Total / Total Cost selama FC = Biaya Tetap / Fixed Cost VC selama = Biaya Variabel / Variable Cost selama Besarnya penerimaan yang diperoleh oleh pengerajin tahu dapat dipengaruhi oleh besarnya produksi dan harga jual dari tahu yang dihasilkan. Untuk mengetahui besarnya penerimaan, maka secara sistematis dapat dituliskan sebagai berikut : TR = Y. P Y TR = Penerimaan Total / Total Revenue selama Y Py = Jumlah tahu (kg) selama = Harga rata-rata tahu (Rp/kg) selama Untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh maka secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut : = TR TC = Keuntungan / laba selama TR = Penerimaan Total / Total Revenue selama TC = Biaya Total / Total Cost selama Untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu usaha digunakan analisis RCR (Revenue Cost Ratio). Secara matematis dituliskan sebagai berikut : Total Revenue RCR = Total Cost RCR > 1 maka usaha tersebut menguntungkan RCR = 1 maka usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi RCR < 1 maka usaha tersebut tidak menguntungkan Untuk menjawab tujuan kedua yaitu menentukan titik impas (Break Even point) dari penyelenggaraan usaha tahu dapat di analisis dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Berdasarkan unit output: BEP (Q) = FC (P AVC) Agroscientiae Nomor 3 Volume 16 Desember

3 (Q) = Jumlah (kg) P = Harga jual (Rp/kg) AVC = Biaya Variabel Rata-rata/Average Variable Cost (Rp/kg) FC = Biaya Tetap/Fixed Cost Titik impas dalam satuan rupiah dapat ditunjukkan sebagai berikut : F C BEP = VC (1 ) S Rp = Rupiah S = Nilai dari Volume penjualan VC = Biaya Variabel/Variable Cost FC = Biaya Tetap/Fixed Cost Untuk menjawab tujuan ketiga yaitu menganalisis nilai tambah dapat dihitung dengan rumus : Nilai tambah = Nilai output - A - B Dimana: A = Bahan baku B = Sumbangan input lain HASIL DAN PEMBAHASAN Biaya, Penerimaam dan Keuntungan Komponen Biaya Biaya merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam penyelenggaraan suatu usaha. Faktor biaya ini akan menentukan berhasil atau tidaknya usaha yang kita lakukan karena biaya ini pula yang menentukan apakah suatu usaha itu menguntungkan atau merugikan. Komponen biaya dalam penyelenggaraan usaha ini meliputi biaya tetap dan biaya variabel. a. Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya yang senantiasa akan dikeluarkan dalam proses produksi, tanpa memandang besar kecilnya atau tinggi rendahnya output yang akan dihasilkan. Komponen biaya yang termasuk biaya tetap pada usaha pengolahan tahu ini terdiri dari : Biaya penyusutan aktiva tetap Biaya pembayaran pajak yang meliputi pajak Bumi dan Pembangunan (PBB). Perincian mengenai biaya tetap yang dikeluarkan perusahaan Aneka Tahu Maju Lestari dapat dilihat pada Tabel 216 Tabel Jumlah biaya tetap pada usaha pengolahan tahu Aneka Tahu Maju Lestari selama tahun 2006 Table Number of fixed costs at effort for processing topu " Aneka Tahu Maju Lestari " during the year 2006 No Komponen Biaya Total Biaya Persentase Biaya penyusutan aktiva tetap Biaya pajak bumi dan bangunan ,37 1,63 Total Biaya Tetap ,00 Pada Tabel 1 terlihat bahwa komponen biaya tetap yang terbesar adalah biaya penyusutan aktiva tetap atau sebesar 98,37 %, sedang biaya pajak bumi dan bangunan hanya sebesar 1,63 %. b. Biaya Variabel Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya mempunyai hubungan erat dengan besar kecilnya atau tinggi rendahnya output yang diperoleh. Komponen biaya yang termasuk biaya variabel usaha pengolahan tahu ini meliputi biaya untuk pembelian bahan baku yang berupa kedelai, cuka makan, kayu bakar, upah tenaga kerja, transportasi, pemeliharaan gudang, mobil, pembayaran listrik dan telepon. Untuk melihat jumlah dan persentase biaya variabel per komponen biaya dapat dilihat pada Tabel Tabel Jumlah dan persentase biaya variabel per komponen biaya pada usaha pengolahan tahu Aneka Tahu Maju Lestari selama tahun 2006 Table Number of and variable cost percentages per component expense of at effort for processing topu " Aneka Tahu Maju Lestari " during the year 2006 No Komponen Biaya Total Biaya Biaya bahan baku Biaya bahan penolong Kayu bakar Minyak tanah Biaya tenaga kerja Biaya listrik Persentase 80, ,22 0,04 12,52 1,68 Total ,00 Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa komponen biaya variabel yang terbesar adalah biaya pembelian bahan baku yaitu sebesar Rp atau mencapai 80,54 %. Sedangkan untuk biaya variabel yang terkecil adalah biaya pembelian minyak tanah yaitu sebesar Rp atau sebesar 0,04 % dari total biaya variabel.

4 Kajian nilai tambah produk c. Biaya Total Biaya total adalah penjumlahan dari total biaya tetap dengan total biaya variabel. Pada usaha pengolahan tahu ini biaya tetapnya sebesar Rp , sedangkan biaya variabel sebesar Rp , sehingga total biaya yang dapat dihitung sebagai beikut : TC = FC + VC = Rp Rp = Rp Penerimaan Penerimaan pada hakikatnya adalah hasil penjualan produk yang dihasilkan dikalikan dengan harga produk tersebut. Dari produk yang dihasilkan, perusahaan menjual dengan tiga kriteria yaitu 1) tahu dijual dengan ukuran tipis, 2) tahu dijual dengan ukuran tebal dalam bentuk papan, dan 3) tahu dengan ukuran tebal yang dijual dalam kemasan besek. Jumlah penerimaan dari usaha pengolahan tahu ini dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Jumlah penerimaan usaha pengolahan tahu Aneka Tahu Maju Lestari selama tahun 2006 Table 3 Number of acceptance receivings of effort for processing topu " Aneka Tahu Maju Lestari" during the year 2006 Keterangan Tahu Tipis Tahu Tebal Besek Total Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa penerimaan usaha pengolahan tahu ini selama yaitu sebesar Rp Untuk penerimaan yang paling besar pada bulan Januari sebesar Rp Penerimaan besar dikarenakan banyaknya penjualan yang cukup tinggi pada saat hari-hari libur pada bulan Januari. Sedangkan penerimaan yang terendah terjadi pada bulan Oktober sebesar Rp Penerimaan menurun diakibatkan karena pada saat itu bertepatan dengan bulan puasa, sehingga permintaan akan tahu menurun. 3. Keuntungan Keuntungan atau laba merupakan selisih antara nilai penerimaan total dengan biaya total yang dikeluarkan dalam penyelenggaraan kegiatan produksi. Untuk mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh dari usaha pengolahan tahu maka secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut : = TR - TC Dari hasil penelitian diperoleh total penerimaan sebesar Rp , dengan biaya variabel total sebesar Rp , dan biaya tetap total Rp , maka besarnya keuntungan perusahaan pengolahan tahu selama adalah : = Rp (Rp Rp ) = Rp = Rp Bila dirata-ratakan perbulannya keuntungan yang diperoleh adalah sebesar Rp Sedangkan jika keuntungannya dihitung berdasarkan per kg kedelai maupun per kg tahu, maka diperoleh keuntungan sebesar Rp 680 /kg kedelai dan sebesar Rp 463 /kg tahu. Analisis Titik Impas (Break Even Point) Perusahaan dikatakan dalam keadaan break even apabila usahanya pada periode tertentu jumlah antara biaya tetap dan biaya variabel sama dengan penerimaan totalnya. Keadaan ini mengartikan perusahaan tidak mengalami kerugian dan tidak pula memperoleh laba (dalam keadaan keseimbangan). Titik keseimbangan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik, karena tidak hanya menunjukkan dimana tidak untung atau tidak rugi, akan tetapi juga menunjukkan kemungkinan yang berhubungan dengan perubahan biaya atau hasil penjualan. Analisis Break Even Point dapat digunakan sebagai profit planning yaitu merencanakan keuntungan yang akan diperoleh dalam usaha produksi, atau dapat berfungsi sebagai controlling (pengawasan) dalam produksi yaitu pada jumlah produksi berapakah perusahaan akan mencapai break even. Titik impas tidak sebagai tujuan operasi perusahaan tetapi berusaha mencapai volume produksi/penjualan sebesar mungkin di atas titik impas. Analisis break even penting untuk mengetahui pada tingkat produksi/penjualan berapa jumlah biaya total sama dengan penerimaan total, sehingga memudahkan pimpinan untuk mengambil kebijaksanaan dalam menentukan tingkat produksi/volume penjualan agar keuntungan yang diharapkan dapat tercapai. Agroscientiae Nomor 3 Volume 16 Desember

5 Nilai dari volume penjualan berdasarkan hasil produksi, biaya tetap, biaya variabel, biaya per unit dan harga per unit tahu dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Table 4. No Volume penjualan berdasarkan hasil produksi, biaya tetap, biaya variabel, biaya variabel per unit dan harga per unit pada usaha pengolahan tahu Aneka Tahu Maju Lestari selama tahun 2006 Volume of trading based on result of production, fixed cost, variable cost, variable cost per unit and the price of per unit at effort for processing topu " Aneka Tahu Maju Lestari " during the year 2006 Uraian Nilai dari Volume penjualan Berdasarkan Hasil Produksi (S) Biaya Tetap (FC) Biaya Variabel (VC) Biaya per Kg (AVC) Harga per Kg (P) Jumlah Tahun Jumlah produksi minimal dan penjualan minimal agar pengusaha mencapai tingkat break even dapat ditentukan dengan 2 cara, yaitu : Berdasarkan jumlah produksi minimal yang harus dihasilkan Berdasarkan jumlah penjualan minimal dalam rupiah Tingkat break even yang terjadi pada usaha pengolahan tahu Aneka Tahu Maju Lestari selama tahun 2006, berdasarkan jumlah produksi minimal yang dihasilkan dan jumlah penjualan minimal dalam rupiah dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Tingkat break even pada usaha pengolahan tahu Aneka Tahu Maju Lestari selama tahun Table 5. Level of break even at effort for processing topu " Aneka Tahu Maju Lestari " during the year No Break Even Point (BEP) Nilai Tahun Berdasarkan jumlah produksi minimal (kg) Berdasarkan jumlah penjualan minimal Kelayakan Usaha Analisis Revenue Cost Ratio (RCR) dapat digunakan untuk mengetahui apakah usaha yang diselenggarakan memiliki tingkat keuntungan yang tinggi atau tidak, dan juga untuk mengetahui apakah usaha tersebut layak atau tidak.. RCR diperoleh dari perbandingan antara penerimaan total dengan biaya total yang meliputi biaya variabel dan biaya tetap. Perhitungan RCR dari usaha ini dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Table 6. Nilai revenue cost ratio dan usaha pengolahan tahu Aneka Tahu Maju Lestari selama tahun Value revenue cost ratio and effort for processing topu " Aneka Tahu Maju Lestari " during the year Keterangan Total Penerimaan Total Biaya Jumlah CR 1,14 Dari Tabel 6 diketahui bahwa usaha pengolahan tahu memiliki nilai RCR sebesar 1,14. Hal ini menggambarkan bahwa usaha pengolahan tahu memiliki keuntungan relatif, karena dalam setiap satu rupiah yang dikeluarkan untuk berproduksi satu satuan pengolahan tahu diperoleh imbalan sebesar 0,14 rupiah. Ini berarti usaha pengolahan tahu pada Aneka Tahu Maju Lestari dapat dikatakan menguntungkan dan layak. Dari nilai RCR tersebut dapat diketahui keuntungan yang diterima oleh pengusaha adalah senilai 14 % dari total biaya produksi Nilai Tambah Nilai tambah menyatakan besarnya nilai yang diperoleh dari proses pengolahan yang dilakukan oleh Aneka Tahu Maju Lestari yaitu dari bahan baku kedelai menjadi tahu. Besarnya nilai tambah ini tidak seluruhnya menyatakan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan, karena masih mengandung imbalan terhadap pemilik faktor produksi lain dalam proses pengolahan yaitu sumbangan input lain. Besarnya nilai output produk dipengaruhi oleh besarnya bahan baku, sumbangan input lain, dan keuntungan. Maka nilai tambah dapat dihitung sebagai berikut : Nilai tambah = Nilai Output Sumbangan Input Lain Bahan Baku Untuk lebih jelasnya nilai tambah yang diperoleh usaha pengolahan tahu ini selama tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 7.

6 Kajian nilai tambah produk Tabel 7. Nilai tambah pada usaha pengolahan tahu Aneka Tahu Maju Lestari selama tahun Table 7. Added value at effort for processing topu " Aneka Tahu Maju Lestari " during the year No Komponen Nilai Bahan Baku (Kedelai) ( kg) Sumbangan Input Lain Nilai Output Nilai Tambah Nilai Tambah per kg Kedelai 1302 Pada Tabel 7 menunjukkan bahwa nilai tambah yang diperoleh dari usaha pengolahan tahu pada Aneka Tahu Maju Lestari sebesar Rp Untuk nilai tambah per kg kedelai setelah mengalami pengolahan menjadi tahu diperoleh sebesar Rp 1302 /kg. SIMPULAN Biaya total, penerimaan dan keuntungan yang dikeluarkan usaha pengolahan tahu selama satu tahun masing-masing sebesar Rp , Rp , dan Rp , dan bila dianggap setiap hari berproduksi maka akan menghasilkan keuntungan rata-rata per hari sebesar Rp Jika keuntungannya dihitung berdasarkan per kg kedelai diperoleh sebesar Rp 680 /kg, sedangkan untuk per kg tahu diperoleh Rp 463 /kg. Nilai RCR sebesar 1,14. Ini berarti usaha pengolahan tahu pada Aneka tahu Maju Lestari dapat dikatakan menguntungkan dan layak. Untuk mencapai titik impas, usaha pengolahan tahuharus memproduksi tahu sebesar kg dengan nilai penjualan minimal sebesar Rp Nilai tambah yang diperoleh selama sebesar Rp Untuk nilai tambah per kg kedelai diperoleh sebesar 1302 /kg. (UKM) antara lain dengan membantu memberikan pinjaman kredit dengan tingkat bunga rendah. DAFTAR PUSTAKA BPS Provinsi Kalsel Indikator Industri Besar dan Sedang Kalimantan Selatan. BPS Banjarmasin. Downey, W. David., Steven P. Erickson. 199 Manajemen Agribisnis. Alih Bahasa oleh Rochidayat Ganda dan Alfonsus Sirait. Penerbit Erlangga. Jakarta. Febrianti, Santi Analisis Biaya dan Keuntungan Usaha Pengolahan Tahu Pada Perusahaan Adi Karya Kelurahan Keraton Kabupaten Banjar. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Sarwono, B dan Saragih Pieter Yan. 200 Membuat Aneka Tahu. Penerbit: Penebar Swadaya Jakarta. Saragih, Bungaran Agribisnis; Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Penerbit: PT. Surveyor Indonesia. Jakarta Sudaryanto, Tahlim., Effendi Pasandaran, dan Achmad Djauhari Perspektif Pengembangan Agribisnis di Indonesia. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. SARAN Melihat potensi pasar yang cukup mendukung maka perlu upaya untuk meningkatkan daya saing dengan tetap mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk tahu serta melakukan terobosan baru sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi lagi. Diperlukan dukungan pemerintah dalam mengembangkan Usaha Kecil Menengah Agroscientiae Nomor 3 Volume 16 Desember

7 220

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU Andi Ishak, Umi Pudji Astuti dan Bunaiyah Honorita Balai Pengkajian

Lebih terperinci

ANALISIS FINANSIAL USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT DAN NILAI TAMBAH TEPUNG KARAGINAN DI KECAMATAN KEI KECIL, KABUPATEN MALUKU TENGGARA

ANALISIS FINANSIAL USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT DAN NILAI TAMBAH TEPUNG KARAGINAN DI KECAMATAN KEI KECIL, KABUPATEN MALUKU TENGGARA ANALISIS FINANSIAL USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT DAN NILAI TAMBAH TEPUNG KARAGINAN DI KECAMATAN KEI KECIL, KABUPATEN MALUKU TENGGARA Oleh : Anna Kartika Ngamel Program Studi Agribisnis Perikanan, Politeknik

Lebih terperinci

Teori Harga Fungsi Linear

Teori Harga Fungsi Linear Teori Harga Fungsi Linear Matematika Ekonomi LOGO Osa Omar Sharif Teori Permintaan Teori permintaan Menerangkan tentang ciri hubungan antara jumlah permintaan (jumlah barang yang diminta pembeli) dan harga.

Lebih terperinci

BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN A. Arti Penting Analisis Laporan Keuangan Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengethaui tingkat profitabilitas (keuntungan)

Lebih terperinci

ANALISIS BREAK EVENT SEBAGAI DASAR KEBIJAKSANAAN PENETAPAN HARGA JUAL YANG TEPAT DALAM MENGOPTIMALKAN PROFITABILITAS PADA PT. MAYA MUNCAR BANYUWANGI

ANALISIS BREAK EVENT SEBAGAI DASAR KEBIJAKSANAAN PENETAPAN HARGA JUAL YANG TEPAT DALAM MENGOPTIMALKAN PROFITABILITAS PADA PT. MAYA MUNCAR BANYUWANGI ANALISIS BREAK EVENT SEBAGAI DASAR KEBIJAKSANAAN PENETAPAN HARGA JUAL YANG TEPAT DALAM MENGOPTIMALKAN PROFITABILITAS PADA PT. MAYA MUNCAR BANYUWANGI SKRIPSI diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi

Lebih terperinci

ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR DI KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN

ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR DI KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR DI KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN Boya Eviana 1), Budi Hartono 2), Zaenal Fanani 2) 1. Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. 2.

Lebih terperinci

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG (Studi Kasus di II Desa Gunungrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan) Ista Yuliati 1, Zaenal Fanani 2 dan Budi Hartono 2 1) Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

ANALISIS USAHA PEMBESARAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp) DI KOLAM AIR DERAS DI KABUPATEN KLATEN

ANALISIS USAHA PEMBESARAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp) DI KOLAM AIR DERAS DI KABUPATEN KLATEN 1 NASKAH PUBLIKASI ANALISIS USAHA PEMBESARAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp) DI KOLAM AIR DERAS DI KABUPATEN KLATEN JURUSAN/ PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PERTANIAN / AGROBISNIS Oleh : Ratih Ayu Dwi Ratnawati

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa)

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa) ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa) Ria Indriani Universitas Negeri Gorontalo Jl.Jend.Sudirman No.6 Kota Gorontalo Email :ria.s_imran@yahoomail.com

Lebih terperinci

Analisis Nilai Tambah Keripik Ubi Kayu di UKM Barokah Kabupaten Bone Bolango

Analisis Nilai Tambah Keripik Ubi Kayu di UKM Barokah Kabupaten Bone Bolango Jurnal Perspektif Pembiayaan dan Pembangunan Daerah Vol. 1 No. 4, April-Juni 2014 ISSN: 2338-4603 Analisis Nilai Tambah Keripik Ubi Kayu di UKM Barokah Kabupaten Bone Bolango Supriyo Imran, Amelia Murtisari,

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE Di Daerah Sanan, Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing, Kodya Malang Jawa Timur

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2014, Palembang 26-27 September 2014 ISBN : 979-587-529-9

Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2014, Palembang 26-27 September 2014 ISBN : 979-587-529-9 Analisis Keuntungan Dan Nilai Tambah (Added Value) Pengolahan Kerupuk Udang dan Pemasarannya Di Sungsang I Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan Advantages and Added Value Analysis

Lebih terperinci

PEMBAGIAN SHU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENYEJAHTERAKAN ANGGOTA KOPERASI BINTANG SAMUDRA

PEMBAGIAN SHU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENYEJAHTERAKAN ANGGOTA KOPERASI BINTANG SAMUDRA PEMBAGIAN SHU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENYEJAHTERAKAN ANGGOTA KOPERASI BINTANG SAMUDRA Oleh: RIANTO RITONGA Salah satu hal penting dalam upaya menyejahterakan anggota Koperasi Bintang Samudra, selain memberikan

Lebih terperinci

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI BAB II HARGA POKOK PRODUKSI Bab ini berisi teori yang akan digunakan sebagai dasar melakukan analisis data. Mencakup pengertian dan penggolongan biaya serta teori yang berkaitan dengan penentuan harga

Lebih terperinci

ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN NIRA LONTAR MENJADI PRODUK NATA Financial Analysis of Processing Nata Lontar (from lontar sap)

ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN NIRA LONTAR MENJADI PRODUK NATA Financial Analysis of Processing Nata Lontar (from lontar sap) ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN NIRA LONTAR MENJADI PRODUK NATA Financial Analysis of Processing Nata Lontar (from lontar sap) Oleh/ By: Abd. Kadir W. ABSTRACT Lontar sap has a great potential

Lebih terperinci

ANALISIS EKONOMI KOMODITI KACANG PANJANG DI KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN. Oleh : Chuzaimah Anwar, SP.M.Si

ANALISIS EKONOMI KOMODITI KACANG PANJANG DI KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN. Oleh : Chuzaimah Anwar, SP.M.Si ANALISIS EKONOMI KOMODITI KACANG PANJANG DI KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN Oleh : Chuzaimah Anwar, SP.M.Si Dosen Fakultas Pertanian Universitas IBA Palembang ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah

Lebih terperinci

PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENCATATAN USAHATANI PADI

PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENCATATAN USAHATANI PADI PETUNJUK LAPANGAN (PETLAP) PENCATATAN USAHATANI PADI A. DEFINISI Secara makro, suatu usaha dikatakan layak jika secara ekonomi/finansial menguntungkan, secara sosial mampu menjamin pemerataan hasil dan

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP. Prinsip Akuntansi => Aktiva Tetap harus dicatat sesuai dengan Harga Perolehannya.

AKTIVA TETAP. Prinsip Akuntansi => Aktiva Tetap harus dicatat sesuai dengan Harga Perolehannya. 1. Pengertian Aktiva Tetap AKTIVA TETAP Aktiva tetap adalah aktiva berujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan. (Haryono Jusup,

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian komparatif yakni penelitian yang dilakukan dengan maksud

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Produksi Untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam, manusia memerlukan barang dan jasa. Suatu kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa disebut produksi. Produksi

Lebih terperinci

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi Bab1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi manajemen, menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Produksi dalam hal ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Produksi dalam hal ini BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori dan Fungsi Produksi Produksi sering diartikan sebagai penciptaan guna, yaitu kemampuan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Produksi dalam hal ini mencakup

Lebih terperinci

ANALISIS DISTRIBUSI NILAI TAMBAH PENGOLAHAN KOPI PADA INDUSTRI KECIL KOPI BUBUK SAHATI (STUDI KASUS KECAMATAN GUGUK PANJANG, KOTA BUKITTINGGI)

ANALISIS DISTRIBUSI NILAI TAMBAH PENGOLAHAN KOPI PADA INDUSTRI KECIL KOPI BUBUK SAHATI (STUDI KASUS KECAMATAN GUGUK PANJANG, KOTA BUKITTINGGI) ANALISIS DISTRIBUSI NILAI TAMBAH PENGOLAHAN KOPI PADA INDUSTRI KECIL KOPI BUBUK SAHATI (STUDI KASUS KECAMATAN GUGUK PANJANG, KOTA BUKITTINGGI) OLEH: DENDY WAHYU 05114077 Dosen Pembimbing I Drs. Rusyja

Lebih terperinci

SURVEI LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI SIMPAN PINJAM 2010-2011

SURVEI LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI SIMPAN PINJAM 2010-2011 RAHASIA REPUBLIK INDONESIA SURVEI LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI SIMPAN PINJAM 2010-2011 PERHATIAN 1. Daftar isian ini digunakan untuk mencatat Keterangan dan Laporan Keuangan Usaha Koperasi Simpan Pinjam Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan yang siap untuk berkompetisi harus memiliki manajemen yang efektif dalam meningkatkan kinerja karyawan. Dalam hal ini diperlukan dukungan karyawan yang cakap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, yang tidak terlepas dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa keterbukaan perdagangan

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 tentang Persediaan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal

Lebih terperinci

MEMANFAATKAN TINGGINYA BEBAN TETAP UNTUK MEMPEROLEH KEUNTUNGAN YANG OPTIMAL (Use the high value of fixed cost to get the optimum profits)

MEMANFAATKAN TINGGINYA BEBAN TETAP UNTUK MEMPEROLEH KEUNTUNGAN YANG OPTIMAL (Use the high value of fixed cost to get the optimum profits) MEMANFAATKAN TINGGINYA BEBAN TETAP UNTUK MEMPEROLEH KEUNTUNGAN YANG OPTIMAL Lies Indriyatni *) Abstract Some companies, like PT. Telkom, PT. Garuda or some tourist object management companies, obviously

Lebih terperinci

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING II.1. Harga Jual Penentuan harga jual suatu produk atau jasa merupakan salah satu keputusan penting manajemen karena harga yang ditetapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktiva tetap merupakan sesuatu yang penting bagi perusahaan, selain digunakan sebagai modal kerja, aktiva tetap biasanya juga digunakan sebagai alat investasi

Lebih terperinci

AKUNTANSI BIAYA MODUL 3 HARGA POKOK PENJUALAN & IKHTISAR RUGI LABA

AKUNTANSI BIAYA MODUL 3 HARGA POKOK PENJUALAN & IKHTISAR RUGI LABA AKUNTANSI BIAYA MODUL 3 HARGA POKOK PENJUALAN & IKHTISAR RUGI LABA Oleh Ir. Betrianis, MSi Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Indonesia DEPOK 2006 TUJUAN PEMBELAJARAN Setelah mempelajari

Lebih terperinci

STRUKTUR PASAR I. Beberapa asumsi yang diperlukan dalam menganalisa struktur pasar : PRICE MAKERS

STRUKTUR PASAR I. Beberapa asumsi yang diperlukan dalam menganalisa struktur pasar : PRICE MAKERS Bentuk Bentuk asar erfect Competition Monopoly Monopolistic Competition Oligopoli STRUKTUR ASAR I Beberapa asumsi yang diperlukan dalam menganalisa struktur pasar : RICE TAKERS RICE MAKERS Asumsi erfect

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

ANALISA PENETAPAN HARGA JUAL UNIT RUMAH DI PERUMAHAN TAMAN TASIK MADU INDAH, MALANG

ANALISA PENETAPAN HARGA JUAL UNIT RUMAH DI PERUMAHAN TAMAN TASIK MADU INDAH, MALANG ANALISA PENETAPAN HARGA JUAL UNIT RUMAH DI PERUMAHAN TAMAN TASIK MADU INDAH, MALANG Presented by: Berlin Shelina Wardani 3107100011 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI

Lebih terperinci

I. U M U M. TATA CARA PANEN.

I. U M U M. TATA CARA PANEN. LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 17/Permentan/OT.140/2/2010 TANGGAL : 5 Pebruari 2010 TENTANG : PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDA BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN TATA

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI DALAM MENETAPKAN HARGA JUAL BETON PADA PT INDO BETON PALEMBANG

ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI DALAM MENETAPKAN HARGA JUAL BETON PADA PT INDO BETON PALEMBANG ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI DALAM MENETAPKAN HARGA JUAL BETON PADA PT INDO BETON PALEMBANG Nurul Isnani (Isnaninurul@gmail.com) Rizal Effendi (Rizaleffendi31@yahoo.co.id) Akuntansi S1 STIE

Lebih terperinci

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA Jenis : Tugas Akhir Tahun : 2008 Penulis : Soly Iman Santoso Pembimbing : Ir. Haryo

Lebih terperinci

RIKA PUSPITA SARI 02 114 054 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

RIKA PUSPITA SARI 02 114 054 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG PERANAN BANTUAN PROGRAM PENGUATAN MODAL USAHA TERHADAP USAHA PENGOLAHAN PISANG PADA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MAJU BERSAMA DI KECAMATAN TANJUNG BARU KABUPATEN TANAH DATAR Oleh : RIKA PUSPITA SARI 02 114

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. dengan aset tetaplah, hampir semua kegiatan operasional dapat dilakukan. Oleh karena

BAB IV PEMBAHASAN. dengan aset tetaplah, hampir semua kegiatan operasional dapat dilakukan. Oleh karena BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Analisis Aset Tetap pada PT Patra Jasa Aset tetap berperan sangat penting dalam kehidupan sebuah perusahaan, karena dengan aset tetaplah, hampir semua kegiatan operasional dapat

Lebih terperinci

BAB IV METODA PENELITIAN

BAB IV METODA PENELITIAN BAB IV METODA PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi dan kateristik obyek penelitian, maka penjelasan terhadap lokasi dan waktu penelitian

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR (ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN BEP PADA KEANU FARM, KENDAL)

KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR (ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN BEP PADA KEANU FARM, KENDAL) KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR (ANALISIS BIAYA MANFAAT DAN BEP PADA KEANU FARM, KENDAL) SKRIPSI Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Negeri Semarang Oleh Richo Dian Krisno.A 7450406053

Lebih terperinci

Latihan Kuliah IV & Kuliah V-Analisis Fungsi Produksi dan Biaya Produksi

Latihan Kuliah IV & Kuliah V-Analisis Fungsi Produksi dan Biaya Produksi Latihan Kuliah IV & Kuliah V-Analisis Fungsi Produksi dan Biaya Produksi DIE-FEUI October 4, 2012 1 Jawab 1.1 Jawab 1.2 Jawab 1.3 2 Jawab 2 3 Jawab 3 4 5 Jawab 4 Bacaan Pindyck Ch.6, Ch.7 Jawab 1.1 Jawab

Lebih terperinci

SILABUS OLIMPIADE EKONOMI. : 120 menit tingkat kabupaten/kota dan provinsi. 150 menit tingkat nasional

SILABUS OLIMPIADE EKONOMI. : 120 menit tingkat kabupaten/kota dan provinsi. 150 menit tingkat nasional SILABUS OLIMPIADE EKONOMI Bidang studi Jenjang Alokasi waktu : Ekonomi : SMA/MA : 120 menit tingkat kabupaten/kota dan provinsi 150 menit tingkat nasional Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran 1. Mengidentifikasi

Lebih terperinci

DATA MENCERDASKAN BANGSA

DATA MENCERDASKAN BANGSA PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI JANUARI 2014 TERJADI INFLASI SEBESAR 1,23 PERSEN Januari 2014 IHK Karawang mengalami kenaikan indeks. IHK dari 141,08 di Bulan Desember 2013 menjadi 142,82 di

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Beberapa tahun terakhir ini kurs tukar IDR/USD terus mengalami fluktuasi yang tidak dapat diprediksi. Akibatnya para pelaku pasar sulit untuk menentukan pada saat kapan mereka harus melakukan ekspor

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI SEBAGAI DASAR PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK FURNITURE

ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI SEBAGAI DASAR PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK FURNITURE ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI SEBAGAI DASAR PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK FURNITURE ( Studi kasus pada PT. Hanin Designs Indonesia - Indonesian Legal Wood) Oleh: Utcik Anita Fakultas Ekonomi

Lebih terperinci

HARGA TRANSFER KONSEP HT :

HARGA TRANSFER KONSEP HT : HARGA TRANSFER Istilah HT ini dijumpai pada perusahaan yang organisasinya disusun menurut pusat laba dan antar pusat laba tersebut terjadi transfer barang/jasa. Adanya transfer barang dan jasa dihubungkan

Lebih terperinci

Leasing. Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula

Leasing. Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Leasing Pendahuluan Salah satu cara untuk mengelola kepemilikan aktiva tetap dalam suatu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat

I. PENDAHULUAN. Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat menjamin pertumbuhan ekonomi, kesempatan lcerja dan memperbaiki kondisi kesenjangan yang ada. Keunggulan

Lebih terperinci

ANALISIS HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOM TERHADAP KEWIRAUSAHAAN PENGUSAHA INDUSTRI KECIL DI KECAMATAN KUOK KABUPATEN KAMPAR

ANALISIS HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOM TERHADAP KEWIRAUSAHAAN PENGUSAHA INDUSTRI KECIL DI KECAMATAN KUOK KABUPATEN KAMPAR ANALISIS HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOM TERHADAP KEWIRAUSAHAAN PENGUSAHA INDUSTRI KECIL DI KECAMATAN KUOK KABUPATEN KAMPAR ANALYSIS RELATIONSHIP OF SOCIOECONOMIC CHARACTERISTICS ON CHARACTERISTICS

Lebih terperinci

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1)

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1) KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU Trisna Anggreini 1) Abstract. The purpose of this research are acessing the correlation of attitudes

Lebih terperinci

PLN DAN ISAK 16 (ED) Electricity for a Better Life. Jakarta, Mei 2010

PLN DAN ISAK 16 (ED) Electricity for a Better Life. Jakarta, Mei 2010 PLN DAN ISAK 16 (ED) Electricity for a Better Life Jakarta, Mei 2010 Beberapa Regulasi yang Perlu Dipertimbangkan dalam Penentuan Jasa Konsesi UU No 30 2009 (Menggantikan UU 15 1985) Ketenagalistrikan

Lebih terperinci

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets)

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) Tujuan Pengajaran: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian aktiva tetap berwujud 2. Menerangkan penentuan harga

Lebih terperinci

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB Perusahaan ditinjau dari sisi Teori Ekonomi Tidak dibedakan atas kepemilikanya, jenis usahanya maupun skalanya. Terfokus pada bagaimana

Lebih terperinci

BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT

BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT Pendapatan masyarakat yang merata, sebagai suatu sasaran merupakan masalah yang sulit dicapai, namun jabatan pekerjaan, tingkat pendidikan umum, produktivitas, prospek

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 34 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Posyandu wilayah binaan Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat. Puskesmas ini terletak di Jalan Angsana Raya

Lebih terperinci

Jadwal Shalat Bulan Januari, 2015 M Denpasar, Bali, Indonesia

Jadwal Shalat Bulan Januari, 2015 M Denpasar, Bali, Indonesia Jadwal Shalat Bulan Januari, 2015 M 01 04:29 04:39 06:01 06:27 12:24 15:51 18:44 19:59 (9:16) 02 04:30 04:40 06:01 06:27 12:24 15:51 18:45 19:59 (9:18) 03 04:30 04:40 06:02 06:28 12:25 15:51 18:45 20:00

Lebih terperinci

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 Indonesia cukup beruntung, karena menjadi negara yang masih dapat mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif tahun 2009 sebesar 4,4 % di tengah krisis keuangan global

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP (FIXED ASSETS )

AKTIVA TETAP (FIXED ASSETS ) AKTIVA TETAP AKTIVA TETAP (FIXED ASSETS ) MEMPUNYAI MASA GUNA LEBIH DARI 1 PERIODE AKUNTANSI AKTIVA TETAP BERWUJUD (TANGIBLE FIXED ASSET) Mempunyai bentuk fisik, dpt dikenali melalui panca indra MEMPUNYAI

Lebih terperinci

PENENTUAN HARGA POKOK VARIABEL

PENENTUAN HARGA POKOK VARIABEL PENENTUAN HARGA POKOK VARIABEL PENGERTIAN PENENTUAN HP VARIABEL PENTINGNYA KONSEP HP VARIABEL ELEMEN BIAYA YG TERMASUK HARGA POKOK PRODUK TUJUAN PENENTUAN HP VARIABEL MANFAAT HP VARIABEL PERBEDAAN KONSEP

Lebih terperinci

Perancangan Sistem Penjualan Online pada Mebel Isti

Perancangan Sistem Penjualan Online pada Mebel Isti Perancangan Sistem Penjualan Online pada Mebel Isti Abstrak : Final report entitled " Online Sales System Design at Furniture Isti " was held in February and June aim of this thesis is to design a system

Lebih terperinci

TOTAL ASET 72,968,991

TOTAL ASET 72,968,991 LAPORAN POSISI KEUANGAN / NERACA BULANAN ASET 1. Kas 1,052,049 2. Penempatan pada Bank Indonesia 7,995,590 3. Penempatan pada bank lain 756,075 4. Tagihan spot dan derivatif - 5. Surat berharga: 5,151,518

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN RENCANA PENAMBAHAN AKTIVA TETAP PADA CV. AMANAH JAYA DI KARANGANYAR

ANALISIS KELAYAKAN RENCANA PENAMBAHAN AKTIVA TETAP PADA CV. AMANAH JAYA DI KARANGANYAR ANALISIS KELAYAKAN RENCANA PENAMBAHAN AKTIVA TETAP PADA CV. AMANAH JAYA DI KARANGANYAR SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat -syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan dikatakan memiliki tujuan yang bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa perusahaan berfokus pada pencapaian keuntungan atau laba maksimal atau laba yang

Lebih terperinci

BIAYA PRODUKSI ISLAMI : ALTERNATIF SOLUSI BAGI UKM MENGHADAPI ERA ACFTA. Hikmah Endraswati. STAIN Salatiga. Abstract

BIAYA PRODUKSI ISLAMI : ALTERNATIF SOLUSI BAGI UKM MENGHADAPI ERA ACFTA. Hikmah Endraswati. STAIN Salatiga. Abstract BIAYA PRODUKSI ISLAMI : ALTERNATIF SOLUSI BAGI UKM MENGHADAPI ERA ACFTA Hikmah Endraswati STAIN Salatiga Abstract The membership of Indonesia in ACFTA made the businessman primarly in UKM felt to worry.

Lebih terperinci

ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PAJAK DAERAH SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PAJAK DAERAH SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PAJAK DAERAH SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH Devy Octaviana S Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang

Lebih terperinci

LIABILITAS DAN EKUITAS LIABILITAS

LIABILITAS DAN EKUITAS LIABILITAS Laporan Keuangan Publikasi triwulanan Laporan Posisi Keuangan/Neraca PT BANK SINAR HARAPAN BALI JL MELATI NO 65 DENPASAR BALI 80233 Telp (0361) 227076 FAX (0361) 227783 per March 2014 dan 2013 (Dalam Jutaan

Lebih terperinci

No. POS - POS. 30 Apr 2015

No. POS - POS. 30 Apr 2015 LAPORAN POSISI KEUANGAN No. POS POS ASET 1. Kas 9,279 2. Penempatan pada Bank Indonesia 2,388,541 3. Penempatan pada bank lain 507,919 4. Tagihan spot dan derivatif 38,117 5. Surat berharga a. Diukur pada

Lebih terperinci

memerintahkan untuk merancang Banjarbaru sebagai alternatif ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

memerintahkan untuk merancang Banjarbaru sebagai alternatif ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Bab 2 Kantor Balai Kota Banjarbaru Cikal bakal lahirnya Kota Banjarbaru bermula pada tahun 1951 saat gubernur Dr. Murdjani memimpin apel di halaman kantor gubernur di Banjarmasin, saat itu hujan turun

Lebih terperinci

LAPORAN POSISI KEUANGAN PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO). Tbk Per 30 April 2015 (dalam jutaan rupiah)

LAPORAN POSISI KEUANGAN PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO). Tbk Per 30 April 2015 (dalam jutaan rupiah) LAPORAN POSISI KEUANGAN Per POS POS ASET 1. Kas 9,558,560 2. Penempatan pada Bank Indonesia 29,945,266 3. Penempatan pada bank lain 11,401,461 4. Tagihan spot dan derivatif 289,029 5. Surat berharga a.

Lebih terperinci

Bab IV PEMBAHASAN. perusahaan, sehingga perusahaan dapat menentukan harga jual yang kompetitif. Untuk

Bab IV PEMBAHASAN. perusahaan, sehingga perusahaan dapat menentukan harga jual yang kompetitif. Untuk Bab IV PEMBAHASAN Perhitungan harga pokok produksi yang akurat sangatlah penting bagi perusahaan, sehingga perusahaan dapat menentukan harga jual yang kompetitif. Untuk dapat menentukan harga pokok produksi

Lebih terperinci

Menurut Hanafi dan Halim (1996), pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan kedalam lima macam kategori, yaitu:

Menurut Hanafi dan Halim (1996), pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan kedalam lima macam kategori, yaitu: Definisi Analisa Rasio Untuk menganalisis laporan keuangan perusahaan, diperlukan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran yang sering digunakan adalah rasio. Rasio diperoleh dengan membandingkan satu pos atau elemen

Lebih terperinci

PT BANK DBS INDONESIA LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) BULANAN 30 APRIL 2015. (dalam jutaan rupiah) POS - POS 30 APRIL 2015

PT BANK DBS INDONESIA LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) BULANAN 30 APRIL 2015. (dalam jutaan rupiah) POS - POS 30 APRIL 2015 LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) BULANAN POS POS ASET 1. Kas 224,190 2. Penempatan pada Bank Indonesia 8,800,906 3. Penempatan pada bank lain 4,231,976 4. Tagihan spot dan derivatif 1,609,369 5. Surat

Lebih terperinci

PT BANK DBS INDONESIA LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) BULANAN 31 MEI 2015. (dalam jutaan rupiah) POS - POS. 31 Mei 2015

PT BANK DBS INDONESIA LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) BULANAN 31 MEI 2015. (dalam jutaan rupiah) POS - POS. 31 Mei 2015 LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) BULANAN POS POS ASET 1. Kas 237,020 2. Penempatan pada Bank Indonesia 6,908,323 3. Penempatan pada bank lain 1,921,142 4. Tagihan spot dan derivatif 1,739,857 5. Surat

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI Oleh : ADITYA RAHMAN HAKIM 2005210181 SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. 1 Dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian, Sumber, dan Jenis Modal 2.1.1 Pengertian Modal Dengan perkembangan teknologi dan makin jauhnya spesialisasi dalam perusahaan serta juga makin banyaknya perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG Etika Mela Sari Jurusan Akuntansi POLITEK PalComTech Palembang Abstrak

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN STRUKTUR MODAL

KEPUTUSAN STRUKTUR MODAL KEPUTUSAN STRUKTUR MODAL Risiko Bisnis dan Finansial Analisis Leverage Hamada Equation Pendekatan EBIT-EPS Pendekatan Biaya Modal Risiko Bisnis & Finansial Risiko bisnis: ketidakpastian pendapatan operasi

Lebih terperinci

Analisis Biaya Unit Pelayanan Otopsi dengan Metode Distribusi Ganda

Analisis Biaya Unit Pelayanan Otopsi dengan Metode Distribusi Ganda 65 Analisis Biaya Unit Pelayanan Otopsi dengan Metode Distribusi Ganda Nily Sulistyorini, Bendrong Moediarso Dept./Inst. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Unair RSUD Dr. Soetomo Surabaya Abstrak

Lebih terperinci

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG Yovita Vivianty Indriadewi Atmadjaja Dosen Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ABSTRAKSI Salah satu konsep

Lebih terperinci

STRATEGI PENETAPAN HARGA BISNIS RETAIL

STRATEGI PENETAPAN HARGA BISNIS RETAIL STRATEGI PENETAPAN HARGA BISNIS RETAIL 1. MEMAHAMI STRATEGI HARGA DALAM BISNIS RETAIL 2. PENDEKATAN DALAM MENETAPKAN STRATEGI HARGA 3. KOMPONEN DALAM MEMBANGUN REPUTASI HARGA 4. PENYESUAIAN HARGA 1 STRATEGI

Lebih terperinci

Jurnal Rat Vol.2.No.1.Des2012 ISSN : 2252-9606

Jurnal Rat Vol.2.No.1.Des2012 ISSN : 2252-9606 Jurnal Rat Vol.2.No.1.Des2012 ISSN : 2252-9606 ANALISIS USAHA DAN PEMASARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio L.) DAN NILA (Oreochromis niloticus) (Studi Kasus : di Sentra Budidaya Ikan Dalam Keramba Jaring Apung

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMILIH PRODUK PT. ASURANSI JIWA CENTRAL ASIA RAYA CABANG SURAKARTA

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMILIH PRODUK PT. ASURANSI JIWA CENTRAL ASIA RAYA CABANG SURAKARTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMILIH PRODUK PT. ASURANSI JIWA CENTRAL ASIA RAYA CABANG SURAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN TORTILLA CHIPS JAGUNG DI HOME INDUSTRY INSAN MANDIRI KLATEN

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN TORTILLA CHIPS JAGUNG DI HOME INDUSTRY INSAN MANDIRI KLATEN 1 ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN TORTILLA CHIPS JAGUNG DI HOME INDUSTRY INSAN MANDIRI KLATEN Nonik Desi Tri Lestari, Kusnandar, Nuning Setyowati Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 ST2013-SBK.S REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 RAHASIA Jenis tanaman kehutanan terpilih...... 6 1 I. PENGENALAN TEMPAT 101. Provinsi

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi

Lebih terperinci

LINGKUNGAN BISNIS : PERPAJAKAN DAN KEUANGAN

LINGKUNGAN BISNIS : PERPAJAKAN DAN KEUANGAN LINGKUNGAN BISNIS : PERPAJAKAN DAN KEUANGAN Bentuk Perusahaan : 1. Perusahaan perseorangan Perusahaan yang dimiliki perseorangan. Keuntungan : sederhana, mudah dibentuk dan dana relatif kecil 2. Perusahaan

Lebih terperinci

Analisis Perlakuan Akuntansi Pendapatan Jasa Konstruksi Dalam Rangka Penyajian Laporan Keuangan Pada PT. Martimbang Utama Palembang

Analisis Perlakuan Akuntansi Pendapatan Jasa Konstruksi Dalam Rangka Penyajian Laporan Keuangan Pada PT. Martimbang Utama Palembang Analisis Perlakuan Akuntansi Pendapatan Jasa Konstruksi Dalam Rangka Penyajian Laporan Keuangan Pada PT. Martimbang Utama Palembang Riyan Saputra (ian.spectrum@rocketmail.com) Rizal Effendi (Rizaleffendi31@yahoo.co.id)

Lebih terperinci

Q&A Suku Bunga Dasar Kredit/ Prime Lending Rate

Q&A Suku Bunga Dasar Kredit/ Prime Lending Rate Q&A Suku Bunga Dasar Kredit/ Prime Lending Rate Pertanyaan 1 Q : Apa tujuan dikeluarkannya aturan Transparansi Informasi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK)? A : Tujuan dari dikeluarkannya kebijakan ini adalah

Lebih terperinci

PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA MELALUI PENDEKATAN REGRESI SEDERHANA DALAM MENYUSUN ANGGARAN

PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA MELALUI PENDEKATAN REGRESI SEDERHANA DALAM MENYUSUN ANGGARAN PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA MELALUI PENDEKATAN REGRESI SEDERHANA DALAM MENYUSUN ANGGARAN Memen Suwandi Jurusan Akuntansi, UIN Alauddin, Jl. ST. Alauddin No. 36, Samata-Gowa msuwandi19@yahoo.com

Lebih terperinci

KUMPULAN SOAL KASUS Hal. 1

KUMPULAN SOAL KASUS Hal. 1 KUMPULAN SOAL KASUS Hal. 1 INFORMASI UMUM PT. BANGKA ELEKTRO didirikan pada tahun 2001 di Tangerang beralamat di Jalan Mahalona No.25 Tangerang, Telepon 021-59305132, Fax 021-59305135. Perusahaan bergerak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN IKHTISAR 2014 adalah tahun di mana Perseroan kembali mencapai rekor pertumbuhan dan proitabilitas. Perseroan mempertahankan posisinya sebagai Operator berskala terkemuka

Lebih terperinci

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat BABI PENDAHULU~ 1.1 Latar Belakang Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat transaksi penggerak perekonomian. Besar kecilnya jumlah uang beredar akan mempengaruhi daya beli riil

Lebih terperinci