Oleh : Cahyono Susetyo

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Oleh : Cahyono Susetyo"

Transkripsi

1 PENGEMBANGAN MASYARAKAT BERBASIS KELOMPOK Oleh : Cahyono Susetyo 1. PENDAHULUAN Perencanaan partisipatif yang saat ini ramai didengungkan merupakan suatu konsep yang dianggap mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan perencanaan di Indonesia. Hal ini disebabkan antara lain karena perencanaan di masa lalu sangat bersifat Top-Down, di mana keterlibatan masyarakat dan aspirasinya cenderung diabaikan. Dengan konsepsi perencanaan partisipatif, keterlibatan masyarakat mulai diperhatikan sehingga aspirasi masyarakat merupakan suatu komponen yang sangat penting dalam perencanaan Latar Belakang Salah satu pertanyaan yang muncul dalam penerapan perencanaan partisipatif adalah bagaimana kemampuan masyarakat untuk melaksanakannya, sebab praktek perencanaan partisipatif tanpa didukung oleh kemampuan masyarakat untuk terlibat aktif di dalamnya adalah merupakan suatu in-efisiensi, yang pada akhirnya akan menghambat proses perencanaan secara keseluruhan. Menurut Sumarto (2003), ada tiga hambatan utama dalam penerapan partisipasi masyarakat, yaitu: a. Hambatan struktural yang membuat iklim atau lingkungan menjadi kurang kondusif untuk terjadinya partisipasi. Di antaranya adalah kurangnya kesadaran berbagai pihak akan pentingnya partisipasi serta kebijakan atau aturan yang kurang mendukung partisipasi termasuk kebijakan desentralisasi fiskal. b. Hambatan internal masyarakat sendiri, diantaranya kurang inisiatif, tidak terorganisir, dan tidak memiliki kapasitas memadai untuk terlibat secara produktif dalam proses pengambilan keputusan. c. Hambatan akibat kurang terkuasainya metode dan teknik-teknik partisipasi. Adanya ketiga hambatan di atas mengakibatkan atmosfir partisipasi yang akhirakhir ini sangat terasa tidak termanfaatkan dengan baik. Meskipun semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat, telah menyadari betapa pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, akan tetapi proses penjaringan aspirasi masyarakat tersebut justru sering menjadi penghambat dalam proses pengambilan keputusan. Masyarakat yang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, seringkali tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk memahami persoalan, memahami alternatif-alternatif yang dapat ditempuh, dan tidak dapat mengerti sepenuhnya apa dampak dari kebijakan terhadap mereka, apakah merugikan, menguntungkan, atau tidak berpengaruh sama sekali. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam ikut terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan. Salah satunya adalah dengan mengembangkan masyarakat dengan cara mengembangkan kelompok di mana masyarakat tersebut terlibat. Pengembangan masyarakat berbasiskan kelompok ini tidak sama dengan mengembangkan masyarakat secara individu ataupun mengembangkan suatu kelompok secara keseluruhan. Untuk mengembangkan masyarakat kelompok diperlukan pemahaman khusus mengenai bagaimana keterkaitan antara anggota kelompok, dalam hal ini masyarakat, dengan kelompok yang dibentuk oleh individuindividu masyarakat.

2 1.2. Tujuan Makalah ini mencoba untuk membahas, bagaimana teknik-teknik pengembangan kemampuan masyarakat melalui pengembangan kelompok-kelompok masyarakat, baik kelompok yang sudah ada maupun kelompok yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan perencanaan partisipatif. Secara lebih spesifik, tujuan makalah ini adalah sebagai berikut: - Memberikan gambaran mengenai proses pembentukan suatu kelompok masyarakat, dan apa saja perubahan yang terjadi pada suatu kelompok masyarakat. - Menyusun alternatif teknik-teknik pengembangan masyarakat berbasis kelompok berdasarkan teori-teori yang ada. - Memberikan kesimpulan dan rekomendasi terhadap alternatif-alternatif pengembangan masyarakat berbasiskan kelompok. Dari pembahasan-pembahasan di atas, diharapkan dapat dipahami bagaimana suatu kelompok terbentuk, bagaimana proses kelompok tersebut menuju kedewasaan, dan bagaimana kita dapat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam pengambilan keputusan dengan menghimpun masyarakat melalui suatu kelompok ataupun dengan memanfaatkan kelompok-kelompok masyarakat yang telah terbentuk Lingkup Materi Tulisan ini dimulai dari pemahaman akan proses-proses pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, kemudian pembahasan mengenai karakteristik suatu kelompok sebagai kumpulan individu, dan yang terakhir menyusun alternatif-alternatif pengembangan masyarakat berbasiskan kelompok. Secara lebih spesifik, lingkup materi pembahasan Pengembangan Masyarakat Berbasis Kelompok adalah sebagai berikut: - Mengiventarisasi jenis-jenis pengembangan masyarakat yang saat ini sudah dipraktekkan oleh pemerintah maupun lembaga non-pemerintah. - Membahas bagaimana proses pembentukan kelompok, dan bagaimana dinamika di dalam suatu kelompok. - Menyusun alternatif-alternatif pengembangan masyarakat berbasiskan kelompok. 2. PROSES DAN PRAKTEK PENGEMBANGAN KELOMPOK Pembentukan suatu kelompok tidak terjadi begitu saja, akan tetapi melewati suatu proses tertentu. Dengan memahami proses pembentukan suatu kelompok, kita dapat memanfaatkan kelompok tersebut semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. Ada kelompok yang terbentuk secara alami, dan ada juga kelompok yang merupakan hasil bentukan pihak lain, seperti pemerintah dan organisasi non-pemerintah Peran Kelompok Dalam Perencanaan. Alasan yang terpenting mengapa kita perlu untuk mengembangkan masyarakat melalui kelompok adalah karena suatu kelompok dapat mewakili penerimaan, penolakan, maupun ketidakpedulian anggotanya terhadap kebijakan ataupun keputusan pemerintah. Suatu kelompok dimana anggotanya dapat menerima kebijakan akan bersifat aktif untuk ikut mendukung kebijakan tersebut. Di dalam suatu kelompok yang anggotanya dapat menerima kebijakan pemerintah dengan baik akan terdapat suatu proses yang dinamis untuk mendukung pemerintah.

3 Dalam suatu kelompok yang anggotanya menolak kebijakan pemerintah, akan terjadi suatu aktifitas yang menentang kebijakan tersebut. Hal ini dapat berbentuk baik kooperatif hingga anarkis.aktifitas-aktifitas yang terjadi di kelompok tersebut diarahkan untuk menentang dan bahkan menggagalkan kebijakan tersebut. Dampak negatif yang ditimbulkan suatu kelompok akan lebih besar bila dibandingkan dampak negatif dari penentangan individu. Sedangkan pada suatu kelompok yang anggotanya tidak peduli akan hasil-hasil kebijakan masyarakat akan bersifat pasif, hampir tidak terlihat aktifitas didalamnya yang diakibatkan kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Meskipun dampak negatifnya tidak terlalu besar, sebetulnya suatu kelompok masyarakat yang tidak peduli sebenarnya merupakan suatu potensi yang bila diarahkan dengan baik dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebijakan pemerintah. Di berbagai negara maju, pengalaman membuktikan bahwa kelompok-kelompok masyarakat telah berhasil mendorong pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, sehingga kebijakan yang diambil dapat mencerminkan aspirasi publik. Dengan demikian, kebijakan pemerintah dapat memperoleh dukungan secara luas, bukan penolakan. Peran kelompok-kelompok masyarakat, termasuk LSM dan Civil Society Organization telah mendorong proses pembangunan, bukan hanya dalam tataran kajian dan pengembangan konsep/teori, peningkatan kesadaran akan pentingnya partisipasi warga dalam pengambilan keputusan, advokasi untuk mereformasi kebijakan agar lebih kondusif terhadap partisipasi warga, akan tetapi juga dalam mempraktekkan pendekatan pembangunan yang bersifat partisipatoris (Sumarto,2003) Proses Pengembangan Kelompok Proses Pengembangan kelompok dapat dipahami melalui pemikiran Barry Tuckman, seorang psikolog, yang menyimpulkan bahwa suatu kelompok akan melalui tahapan-tahapan tertentu dalam proses perkembangannya. Tahapan-tahapan itu adalah; tahap pembentukan, tahap persaingan, tahap pengaturan, dan terakhir adalah tahap produktifitas. Pada proses pengembangan suatu kelompok, akan ada tahapan dimana para anggota kelompok tersebut mengidentifikasi dirinya, orang-orang lain yang ada di dalam kelompok tersebut, dan eksistensi dan jatid diri kelompok yang diikutinya. Selain itu, akan terbentuk kesepakatan di antara sesama anggota kelompok mengenai bagaimana mekanisme apabila ada individu lain yang ingin menjadi anggota kelompok, bagaimana cara individu tersebut agar dapat berinteraksi sepenuhnya sebagai anggota kelompok. Selain itu, para anggota kelompok mulai memikirkan bagaimana apabila anggota kelompok yang tidak sepaham lagi dengan anggota kelompok lainnya ataupun dengan tujuan utama kelompok. Setelah suatu kelompok memiliki jati diri dan eksistensi yang jelas, memiliki anggota dan mekanisme-mekanisme untuk mengatur anggotanya, dengan kata lain kelompok tersebut telah terbentuk, dimulailah tahapan berikutnya dari pengembangan kelompok.tahapan ini adalah tahap persaingan antar anggota, karena tiap-tiap anggota kelompok akan mulai memikirkan apa tugas yang harus dijalankannya dalam kelompok, atau siapa yang harus menjalankan tugas tersebut. Selain itu, para anggota kelompok memiliki keinginan agar pendapatnya didengar oleh anggota lain sehingga dapat mempengaruhi proses di dalamkelompok. Tahapan ini akan menimbulkan banyak pertentangan, bahkan dapat menyebabkan suatu kelompok terpecah menjadi beberapa kelompok, atau bahkan hancur sama sekali. Suatu kelompok yang berhasil melewati tahapan ini akan menempuh tahap selanjutnya, yaitu tahap pengaturan. Tahap pengaturan dalam proses pengembangan kelompok adalah tahapan di mana para anggota kelompok mulai sepakat akan tugas-tugas yang diemban oleh masing-

4 masing anggota kelompok, termasuk bagaimana pergantiannya dan mekanismenya. Pada tahap ini terbentuk proses dan prosedur pembagian kerja dan penilaian kinerja masingmasing anggota kelompok, termasuk sejauh mana penyimpangan perilaku anggota kelompok dapat diterima. Setelah melewati tahap ini, barulah kelompok tersebut dapat menghasilkan sesuatu, yang dapat memberikan pengakuan dari pihak-pihak lain akan eksistensi dan jatidiri kelompok tersebut. Dengan memahami proses pengembangan kelompok tersebut, kita dapat menemukan alternatif-alternatif untuk mengembangkan individu yang berada dalam suatu kelompok seiring dengan proses pengembangan kelompok. Individu pun dapat dianggap suatu kelompok yang paling kecil, dimana seseorang akan mengalami pembentukan jati diri, adanya pertentangan batin, maupun proses pembelajaran sehingga individu tersebut akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi lingkungan Praktek-praktek Pengembangan Masyarakat di Indonesia Dalam bukunya, Sumarto (2003) berpendapat bahwa ada beberapa praktek perencanaan partisipatif yang berkaitan dengan pengembangan masyarakat di Indonesia. Pada umumnya, kegiatan-kegiatan pengembangan masyarakat yang dilakukan bertujuan untuk mengembangankan Good Governance di Indonesia. Salah satu bentuk pengembangan masyarakat di Indonesia adalah kegiatan peningkatan kesadaran (Awareness Raising). Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kepedulian masyarakat akan permasalahan yang dihadapi secara kolektif, dan kemudian bersama-sama, baik melalui bantuan fasilitator maupun secara swadaya berusaha untuk memecahkan permasalahan tersebut. Peningkatan kesadaran ini bukan hanya ditujukan kepada masyarakat, akan tetapi juga ditujukan kepada pihak eksekutif dan legislatif agar lebih memperhatikan aspirasi masyarakat. Salah satu produk dari kegiatan peningkatan kesadaran ini antara lain program Pembangunan Perumahan yang Bertumpu Pada Kelompok (P2BPK). Kegiatan pengembangan atau pengembangan kelompok lainnya yang telah diterapkan di indonesia adalah pengembangan institusi (Institution Building). Kegiatan ini mendorong terbentuknya kelompok-kelompok masyarakat untuk mengumpulkan dan mengorganisasikan aspirasi masyarakat. Salah satu contoh produk ini adalah Forum Perkotaan/Dewan Kota. Pada forum-forum ini, kualitas partisipasi ditingkatkan, antara lain dengan cara menjamin keterlibatan anggota masyarakat marjinal maupun minoritas. Dalam menjalankan kegiatan ini, kelompok masyarakat didampingi oleh organisasi nonpemerintah untuk memberi bantuan pencarian sumber dana dan juga difasilitasi agar terjadi peningkatan kesadaran, pengembangan kekuatan, dan peningkatan keterampilan masyarakat untuk berpartisipasi secara efektif. Pengembangan Kapasitas (Community Building) adalah salah satu contoh kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga non-pemerintah di Indonesia dalam mengembangkan kelompok. Output kegiatan ini antara lain dibangunnya sistem informasi dan komunikasi berbasis kelompok. Dengan adanya media ini, para anggota kelompok memperoleh kemudahan untuk berinteraksi, memberikan pendapatnya, mengetahui pendapat orang lain,dan bersama-sama memikirkan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang dihadapi. 3. PENGEMBANGAN MASYARAKAT BERBASIS KELOMPOK Dalam praktek-praktek perencanaan partisipatif di Indonesia, yang menjadi tolok ukur keberhasilan suatu proses aktivitas kelompok adalah produk yang dihasilkan. Suatu aktivitas kelompok dianggap berhasil apabila dapat menghasilkan suatu produk, dan sebaliknya, dianggap gagal apabila tidak menghasilkan produk apapun. Hal ini merupakan suatu pandangan yang kurang tepat, karena kita perlu mengkaji lebih dalam, bagaimana proses internal kelompok tersebut tersebut.

5 3.1. Penilaian Terhadap Keberhasilan Kegiatan Kelompok Secara umum, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada suatu proses pengembangan masyarakat. Yang pertama, proses tersebut menghasilkan suatu produk, baik berupa kesepakatan antar warga, kebijakan lingkup internal, rekomendasi terhadap pemerintah, ataupun produk fisik seperti bangunan umum. Kemungkinan kedua adalah proses pengembangan masyarakat tersebut tidak menghasilkan produk apapun. Dalam pandangan sekilas, proses tersebut dapat dikatakan gagal. Akan tetapi, pertanyaan yang muncul sehubungan kegiatan masyarakat dalam bentuk kelompok, yaitu 1. Bagaimana proses internal di dalam kelompok tersebut, apakah semua anggota kelompok sudah terlibat secara aktif? 2. Apakah produk yang dihasilkan tersebut merupakan hasil pemikiran seluruh anggota? Ataukah hanya hasil pemikiran beberapa orang yang mendominasi proses diskusi? Dari kedua pertanyaan di atas kita dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa hal yang paling penting dalam suatu proses kegiatan kelompok adalah bukan pada ada atau tidaknya produk yang dihasilkan, meskipun memang hal ini merupakan suatu hal yang penting dalam menilai keberhasilan suatu kegiatan kelompok. Hal yang paling penting untuk mengukur berhasil atau tidaknya suatu aktivitas kelompok adalah bagaimana proses internal di kelompok tersebut. Meskipun suatu kelompok menghasilkan suatu produk, akan tetapi jika produk tersebut dihasilkan melalui suatu proses yang tidak melibatkan seluruh anggotanya, maka aktivitas kelompok tersebut tidak dapat dikatakan sepenuhnya berhasil. Bahkan, jika produk kelompok tersebut dapat diaplikasikan dengan baik dan bermanfaat untuk masyarakat banyak Mengembangkan Masyarakat Melalui Kelompok Berdasarkan uraian sebelumnya, penilaian akan berhasil atau tidaknya suatu kegiatan kelompok bukan hanya didasarkan pada ada atau tidaknya output yang dihasilkan, akan tetapi juga berdasarkan penilaian atas kualitas keterlibatan anggotanya dan proses diskusi yang ada di dalamnya. Menurut Megginson (2003), proses pengembangan masyarakat adalah suatu proses jangka panjang untuk meningkatkan potensi dan efektivitas anggota masyarakat untuk terlibat dan berperan aktif dalam aktivitas pembangunan. Pengembangan masyarakat ini berbeda dengan pelatihan, dimana pelatihan adalah usaha-usaha sistematis untuk mengalihkan pengetahuan atau keahlian dari seseorang yang tahu atau dapat melakukan sesuatu kepada orang yang tidak tahu atau tidak dapat melakukannya (Matthews, 2003). Dalam mengembangkan kelompok, kita juga harus memperhatikan peningkatan kemampuan anggota kelompok agar proses-proses diskusi di dalam suatu kelompok dapat berjalan secara efisien. Peningkatan kemampuan anggota kelompok ini diharapkan dapat berjalan seiring dengan proses pengembangan kelompok itu sendiri karena proses pengembangan kelompok merupakan suatu wahana untuk mengembangan masyarakat. Menurut Megginson (2003), Apabila suatu kelompok melakukan aktivitas tanpa melalui proses pengembangan kapasitas anggotanya, para anggota kelompok cenderung untuk terlibat dalam suatu pekerjaan yang terlihat, akan tetapi bukan pekerjaan yang sebenarnya. Pada kelompok ini, sebagian anggota kelompok menganggap bahwa ada sebagian kelompok yang betul-betul baik dan sebagian lagi betul-betul jelek. Hal ini

6 merupakan suatu in-efisensi dalam kegiatan kelompok, dan lebih jauh lagi, merupakan potensi terjadinya perpecahan antar anggota kelompok. Apabila dalam suatu kelompok terdapat proses pengembangan kapasitas anggotanya, maka seluruh anggota kelompok akan dapat melakukan pekerjaan yang sebenarnya, dan memiliki komitmen untuk melakukan sesuatu dan bukan menyesuaikan keadaannya atau menerima konflik yang tidak terselesaikan di antara anggota kelompok tersebut. Dalam kaitan antara pengembangan masyarakat dengan pengembangan kelompok, ada beberapa pertanyaan peningkatan kapasitas anggota yang perlu dilakukan agar anggota kelompok agar dapat terlibat secara aktif (Megginson, 2003), yaitu: a. Keahlian dan kompetensi apa yang diperlukan untuk memperbaiki kinerja setiap individu? b. Apa kekurangan tertentu dalam kinerja anggota yang perlu mendapat perhatian khusus? c. Kesempatan apa yang diberikan oleh kelompok untuk mempermudah anggota mempelajari hal-hal baru? d. Siapa yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kesempatan untuk berperan aktif dalam kelompok telah diberikan kepada tiap anggota? e. Apa perubahan perilaku yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja seorang anggota? f. Apa yang tidak berjalan; apa yang salah; kesalahan apa yang dilakukan oleh anggota dan kelompok? Pertanyaan-pertanyaan di atas diperlukan untuk mengarahkan proses-proses di dalam kelompok agar berjalan ke arah yang lebih baik, terutama berkaitan dengan kapasitas dan kemampuan kelompok dalam pengembangannya. Agar pertanyaanpertanyaan di atas dapat terjawab dengan baik, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan, salah satunya adalah dengan membentuk kelompok sesuai dengan kebutuhan. Dalam mengembangkan masyarakat berbasis kelompok, ada beberapa bentuk kelompok yang dapat digunakan untuk mengembangkan kelompok secara keseluruhan maupun mengembangkan individu-individu yang ada di dalam kelompok. Bentuk-bentuk kelompok tersebut meliputi (Burgoyne, 1988) : a. Pertemuan Tim Pertemuan tim adalah bentuk yang paling mendasar untuk mengumpulkan anggota kelompok. Bila pertemuan ini belum dapat berjalan dengan baik, lakukan secara berkala di mana frekuensinya tergantung pada tanggung jawab tiap anggota kelompok. Selain itu, lokasi tempat tinggal para anggota kelompok juga berpengaruh terhadap frekuensi pertemuan. Bila suatu kelompok telah menjalankan pertemuan tim dan tidak puas dengan apa yang telah dihasilkan, maka dapat digunakan kuesioner singkat untuk mengetahui bagaimana tanggapan anggota kelompok terhadap pertemuan yang telah dilaksanakan. Kuesioner tersebut kemudian dapat ditandatangani, kemudian dirangkum sebelum data tersebut disampaikan kembali ke kelompok. Setelah itu, pertemuan-pertemuan tim selanjutnya dapat dilaksanakan setelah hasil kuesioner tersebut diolah. Dengan mencari informasi tentang tanggapan anggota kelompok ini, diharapakan akan tercipta momentum dimana para anggota kelompok sepakat untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki kualitas pertemuan kelompok pada pertemuan berikutnya.

7 b. Pertemuan di Luar (away days) Away Days adalah pertemuan yang dilakukan di luar ruangan, dengan tujuan khusus untuk melihat permasalahan secara langsung. Pertemuan ini baik dilakukan untuk kelompok yang selalu mengalami gangguan bila melakukan pertemuan di dalam kantor, ataupun kelompok yang harus melihat secara langsung permasalahan apabila ingin menyelesaikannya. Pertemuan ini sangat baik dilakukan sepanjang hari untuk menyegarkan pikiran para anggota kelompok. Waktu untuk bersantai dan diskusi informal juga penting untuk dilaksanakan dalam pertemuan di luar. Hal ini bisa dikombinasikan dengan acara-acara formal lainnya. c. Pelatihan Seperti telah disebutkan sebelumnya, pelatihan adalah usaha sistematis untuk mengalihkan keahlian atau pengetahuan dari seseorang yang tahu dapat melakukan sesuatu ke orang lain yang tidak tahu atau tidak dapat melakukannya (Megginson, 2003). Dengan dilaksanakannya pelatihan, diharapkan anggota kelompok dapat memperoleh peningkatan kemampuan untuk terlibat secara aktif dalam proses diskusi di dalam kelompok. 4. KESIMPULAN Penilaian akan berhasil atau tidaknya suatu proses partisipasi masyarakat sebaiknya bukan hanya didasarkan pada ada tidaknya produk yang dihasilkan kegiatan tersebut ataupun bagaimana produk tersebut dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi. Proses diskusi dan peningkatan kapasitas anggota kelompok yang terlibat dalam suatu kegiatan juga harus dipertimbangkan, karena ada kemungkinan, meskipun kelompok tersebut tidak menghasilkan apapun, akan tetapi para anggotanya memperoleh pengalaman yang berharga dan dapat menerapkan pengalaman tersebut pada kesempatan lain. Pengembangan masyarakat melalui kegiatan kelompok adalah suatu alternatif untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan masyarakat. Ada banyak teknik-teknik pengembangan suatu kelompok yang bukan hanya mendorong kelompok tersebut agar dapat menghasilkan sesuatu, akan tetapi juga dapat meningkatkan kemampuan anggota kelompok tersebut agar dapat berperan secara aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh kelompok. Dibandingkan dengan mengembangkan masyarakat secara individual, misalnya dengan pelatihan, pengembangan masyarakat berbasis kelompok ini akan lebih efisien. Salah satu alasannya adalah karena kelompok dapat mewakili bagaimana penerimaan, penolakan, atau ketidakpedulian anggotanya akan suatu permasalahan.

8 Daftar Pustaka: 1. Megginson, David,et.al, Human Resource Development, Fast-Track MBA Series, Burgoyne, J, Management Development for the Individual and the Organization, Personal Management, Sumarto, Hetifah, Inovasi, Partisipasi, dan Good Governance, Yayasan Obor Indonesia, Blackburn, James and Holland, Institutionalising Participation in Development, ITP London, Revans, R, The ABC of Action Learning, Chatwell Bratt, Bromley.

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional.

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional. Definisi Global Profesi Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial adalah sebuah profesi yang berdasar pada praktik dan disiplin akademik yang memfasilitasi perubahan dan pembangunan sosial, kohesi sosial dan pemberdayaan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL Lingkungan alam Lingkungan Sosial Lingkungan Binaan/Buatan LINGKUNGAN HIDUP Manusia Sebagai Makhluk Sosial -Membentuk Pengelompokkan Sosial (Social Grouping) mempertahankan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI As of 14 November 2013 I. Pendahuluan 1. Salah satu tujuan ASEAN seperti yang diatur dalam Piagam ASEAN adalah untuk memajukan ASEAN

Lebih terperinci

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI SALINAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN STANDAR

Lebih terperinci

Pedoman Pelibatan Masyarakat dan Swasta dalam Pemanfaatan Ruang Perkotaan

Pedoman Pelibatan Masyarakat dan Swasta dalam Pemanfaatan Ruang Perkotaan Pedoman Pelibatan Masyarakat dan Swasta dalam Pemanfaatan Ruang Perkotaan DRAFT KEEMPAT JANUARI 2003 Subdit Peran Masyarakat Direktorat Penataan Ruang Nasional Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen

Lebih terperinci

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP)

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) Rencana strategis (Renstra) instansi pemerintah merupakan langkah awal

Lebih terperinci

Komitmen itu diperbaharui

Komitmen itu diperbaharui POS PEM8CRDAYAAH KELUARCA (POSDAYA) bangsa-bangsa lain di dunia. Rendahnya mutu penduduk itu juga disebabkan karena upaya melaksanakan wajib belajar sembilan tahun belum dapat dituntaskan. Buta aksara

Lebih terperinci

Catatan Informasi mengenai Proses Multi-Stakeholder

Catatan Informasi mengenai Proses Multi-Stakeholder Catatan Informasi mengenai Proses Multi-Stakeholder oleh The Proforest Initiative Catatan informasi ini merupakan pelengkap dari Pedoman Penggunaan SSL REDD+ di Tingkat Negara, yang mencakup pedoman wajib

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Kemiskinan menjadi salah satu alasan rendahnya Indeks Pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Kemiskinan menjadi salah satu alasan rendahnya Indeks Pembangunan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemiskinan terus menjadi masalah fenomenal sepanjang sejarah bangsa Indonesia. Kemiskinan menjadi salah satu alasan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia Indonesia

Lebih terperinci

KAJIAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG WILAYAH PESISIR STUDY KASUS : KAB. KLUNGKUNG, KAB. BULUKUMBA, KAB. BERAU

KAJIAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG WILAYAH PESISIR STUDY KASUS : KAB. KLUNGKUNG, KAB. BULUKUMBA, KAB. BERAU KAJIAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG WILAYAH PESISIR STUDY KASUS : KAB. KLUNGKUNG, KAB. BULUKUMBA, KAB. BERAU KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL Staf Ahli Menteri PPN Bidang Tata

Lebih terperinci

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi.

FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Oleh Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., MSi. Disampaikan Pada: DIKLAT KULIAH KERJA NYATA UNIVERSITAS SILIWANGI PERIODE II TAHUN AKADEMIK 2011/2012 FILOSOFI KULIAH KERJA NYATA Bagian

Lebih terperinci

MANAJEMEN KERJASAMA ANTAR PERPUSTAKAAN oleh : Arlinah I.R.

MANAJEMEN KERJASAMA ANTAR PERPUSTAKAAN oleh : Arlinah I.R. MANAJEMEN KERJASAMA ANTAR PERPUSTAKAAN oleh : Arlinah I.R. I. LATAR BELAKANG DAN LANDASAN PERLUNYA KERJASAMA Kerjasama bukan suatu hal yang baru di masyarakat, baik kerjasama di bidang ekonomi, pendidikan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap PDB nasional. Hal ini merupakan tantangan berat, mengingat perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. terhadap PDB nasional. Hal ini merupakan tantangan berat, mengingat perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor konstruksi adalah salah satu sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan selalu dituntut untuk tetap meningkatkan kontribusinya melalui tolak ukur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan bakat, kemampuan dan minat yang dimilikinya.

BAB I PENDAHULUAN. dengan bakat, kemampuan dan minat yang dimilikinya. 1 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Sekolah Dasar merupakan lembaga pendidikan formal yang bertanggung jawab mendidik dan mengajar agar tingkah laku siswa didik menjadi baik. Salah satu tugas

Lebih terperinci

PEDOMAN KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU

PEDOMAN KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU Revisi 2013 PEDOMAN KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU Jl. HR. Soebrantas No. 155 KM. 15 Simpang Baru Panam Pekanbaru Email: bppm_uinsuskariau@uin-suska.ac.id

Lebih terperinci

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG Dalam bagian ini akan disampaikan faktor yang mempengaruhi kapasitas kelompok yang dilihat dari faktor intern yakni: (1) motivasi

Lebih terperinci

MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN

MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN Oleh : Drs. Wiyoto, MT Tatang Rahmat, S.Pd Mengelola program pelatihan, secara sepintas tampaknya sesuatu hal yang sederhana. Namun bila dicermati, membutuhkan suatu penanganan

Lebih terperinci

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA I. VISI, MISI, DAN TUJUAN UNIVERSITAS A. VISI 1. Visi harus merupakan cita-cita bersama yang dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya perusahaan didirikan dengan maksud untuk memperoleh laba yang merupakan tujuan utama perusahaan. Tercapainya tujuan ini bukanlah merupakan sesuatu yang

Lebih terperinci

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI Bahwa kemiskinan adalah ancaman terhadap persatuan, kesatuan, dan martabat bangsa, karena itu harus dihapuskan dari bumi Indonesia. Menghapuskan kemiskinan merupakan

Lebih terperinci

POSISI MASYARAKAT SIPIL

POSISI MASYARAKAT SIPIL KOMITMEN JAKARTA DAN POSISI MASYARAKAT SIPIL Don K. Marut International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Overview: Dari Aid Effectiveness ke Development Effectiveness 1. Keprihatinan CSOs berkaitan

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Umum Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan), yang dalam Pedoman ini disebut BADAN, adalah badan hukum publik yang dibentuk dengan

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

Panduan untuk Fasilitator

Panduan untuk Fasilitator United Nations Development Programme (UNDP) The Office of UN Special Ambassador for Asia Pacific Partnership for Governance Reform Panduan untuk Fasilitator Kartu Penilaian Bersama untuk Tujuan Pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilaksanakan untuk mencapai

Lebih terperinci

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia MIGRANT WORKERS ACCESS TO JUSTICE SERIES Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia RINGKASAN EKSEKUTIF Bassina Farbenblum l Eleanor Taylor-Nicholson l Sarah Paoletti Akses

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 03 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) TAHUN 2013-2018

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 03 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) TAHUN 2013-2018 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 03 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) TAHUN 2013-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 A) Latar Belakang Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan 158 Profil Singkat BCA Laporan kepada Pemegang Saham Tinjauan Bisnis Pendukung Bisnis Sumber Daya Manusia Filosofi BCA membina pemimpin masa depan tercermin dalam berbagai program pelatihan dan pengembangan

Lebih terperinci

Mobilisasi Masyarakat

Mobilisasi Masyarakat Mobilisasi Masyarakat Dalam tulisan ini saya mencoba memadukan beberapa pengalaman dan pengamatan tentang Community Mobilization (Penggerakan Masyarakat), dengan tujuan agar masyarakat ikut melakukan kegiatankegiatan

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PSN 307 2006. Pedoman Standardisasi Nasional

PSN 307 2006. Pedoman Standardisasi Nasional Pedoman Standardisasi Nasional Penilaian kesesuaian - Pedoman bagi lembaga sertifikasi untuk melakukan tindakan koreksi terhadap penyalahgunaan tanda kesesuaian atau terhadap produk bertanda kesesuaian

Lebih terperinci

Kualitas informasi tergantung pada empat hal yaitu akurat, tepat waktu, relevan dan ekonomis, yaitu:

Kualitas informasi tergantung pada empat hal yaitu akurat, tepat waktu, relevan dan ekonomis, yaitu: Data dan Informasi Informasi tidak hanya sekedar produk sampingan, namun sebagai bahan yang menjadi faktor utama yang menentukan kesuksesan atau kegagalan, oleh karena itu informasi harus dikelola dengan

Lebih terperinci

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA -Tahun 2005- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pengurus Pusat PPNI, Sekretariat: Jl.Mandala Raya No.15 Patra Kuningan Jakarta Tlp: 62-21-8315069 Fax: 62-21-8315070

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR www.kas.de DAFTAR ISI 3 MUKADIMAH 3 KAIDAH- KAIDAH POKOK 1. Kerangka hukum...3 2. Kepemilikan properti dan lapangan kerja...3

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 73/KEP/UDN-01/VII/2007. tentang STANDAR PROSES PEMBELAJARAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 73/KEP/UDN-01/VII/2007. tentang STANDAR PROSES PEMBELAJARAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 73/KEP/UDN-01/VII/2007 tentang STANDAR PROSES PEMBELAJARAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Rektor Universitas Dian Nuswantoro Menimbang : 1. bahwa proses

Lebih terperinci

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 No. Urut 05 ASESMEN MANDIRI SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 Lembaga Sertifikasi Profesi Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat 2013 Nomor Registrasi Pendaftaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Suatu perusahaan, baik perusahaan dagang maupun perusahaan industri,

BAB I PENDAHULUAN. Suatu perusahaan, baik perusahaan dagang maupun perusahaan industri, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Suatu perusahaan, baik perusahaan dagang maupun perusahaan industri, didirikan dengan tujuan untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya dan disertai dengan

Lebih terperinci

B. Maksud dan Tujuan Maksud

B. Maksud dan Tujuan Maksud RINGKASAN EKSEKUTIF STUDI IDENTIFIKASI PERMASALAHAN OTONOMI DAERAH DAN PENANGANANNYA DI KOTA BANDUNG (Kantor Litbang dengan Pusat Kajian dan Diklat Aparatur I LAN-RI ) Tahun 2002 A. Latar belakang Hakekat

Lebih terperinci

Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial. Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id

Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial. Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id Social Responsibility Dimulai sejak era tahun 1970an, ketika muncul gerakan untuk menuntut tanggung jawab

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Pasal 107 ayat (1) huruf (a) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Pasal 107 ayat (1) huruf (a) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) 1. Pengertian BUMDes Menurut Pasal 107 ayat (1) huruf (a) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa sumber pendapatan Desa salah satunya

Lebih terperinci

Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011

Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011 Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011 Pak Muliadi S.E yang terhormat, Terima kasih atas surat Anda tertanggal 24 Februari 2011 mengenai Kalimantan Forests and Climate

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR 5 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

Lebih terperinci

BIMBINGAN BELAJAR 4/6/6

BIMBINGAN BELAJAR 4/6/6 BIMBINGAN BELAJAR OLEH : SETIAWATI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2008 4/6/6 Bimbingan Belajar Proses layanan bantuan kepada individu (mahasiswa) agar memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif,

Lebih terperinci

APLIKASI PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG KOTA SESUAI KEBIJAKAN PEMERINTAH. Budiman Arif 1

APLIKASI PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG KOTA SESUAI KEBIJAKAN PEMERINTAH. Budiman Arif 1 APLIKASI PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG KOTA SESUAI KEBIJAKAN PEMERINTAH Budiman Arif 1 PENDAHULUAN Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih menghadapi permasalahan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Upaya

Lebih terperinci

ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT

ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT Upaya memberi kesempatan belajar bagi masyarakat yang tidak berkesempatan untuk belajar dan bekerjasama mengembangkan komunitasnya di berbagai

Lebih terperinci

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 S T U D I K A S U S Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 F R A N C I S I A S S E S E D A TIDAK ADA RINTANGAN HUKUM FORMAL YANG MENGHALANGI PEREMPUAN untuk ambil bagian dalam

Lebih terperinci

R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA 1 R-197 Rekomendasi Mengenai Kerangka Promotional Untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN

BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN YANG BERSIH DAN BERWIBAWA Salah satu agenda pembangunan nasional adalah menciptakan tata pemerintahan yang bersih, dan berwibawa. Agenda tersebut merupakan upaya untuk

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN

- 1 - PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN - 1 - SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 86, 2012 KEMENTERIAN PERTAHANAN. Kebijakan. Sistem Informasi. Pertahanan Negara. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG KEBIJAKAN

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCA BENCANA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA Pedoman

Lebih terperinci

PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA CV. KAWAN KITA KLATEN SKRIPSI

PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA CV. KAWAN KITA KLATEN SKRIPSI PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA CV. KAWAN KITA KLATEN SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT. Bahan Serahan. Modul Coaching PPM untuk Fasilitator 18

PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT. Bahan Serahan. Modul Coaching PPM untuk Fasilitator 18 Bahan Serahan Modul Coaching PPM untuk Fasilitator 18 Apa itu PPM? PPM adalah singkatan dari Pengelolaan Pengaduan Masyarakat, adalah suatu kegiatan menampung dan menindaklanjuti aduan dari masyarakat

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LAMPIRAN II: Draft VIII Tgl.17-02-2005 Tgl.25-1-2005 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERAN SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN UPAYA KESEHATAN TRADISIONAL DAN KOMPLEMENTER

PERAN SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN UPAYA KESEHATAN TRADISIONAL DAN KOMPLEMENTER PERAN SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN UPAYA KESEHATAN TRADISIONAL DAN KOMPLEMENTER Agustin Kusumayati Ketua Badan Khusus Upaya Kesehatan Tradisional dan Komplementer Ikatan Ahli Kesehatan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA MEMPEROLEH INFORMASI KETENAGAKERJAAN DAN PENYUSUNAN SERTA PELAKSANAAN PERENCANAAN TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Evaluasi dari proyek IIED Ringkasan Eksekutif

Evaluasi dari proyek IIED Ringkasan Eksekutif Evaluasi dari proyek IIED Ringkasan Eksekutif 1. Proyek IIED mengenai Studi kebijakan dalam pengembangan mekanisme pembayaran jasa perlindungan DAS dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sini dimaksudkan

Lebih terperinci

PEMERINGKATAN (RATING) LPZ DI INDONESIA

PEMERINGKATAN (RATING) LPZ DI INDONESIA PEMERINGKATAN (RATING) LPZ DI INDONESIA Oleh Hertanto Widodo Sumber: BUKU KRITIK & OTOKRITIK LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia (Hamid Abidin & Mimin Rukmini)

Lebih terperinci

Bab I. Pendahuluan I.1. Latar Belakang

Bab I. Pendahuluan I.1. Latar Belakang Bab I. Pendahuluan I.1. Latar Belakang Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, tugas adalah kewajiban yang harus dikerjakan, pekerjaan yang merupakan tanggung jawab, pekerjaan yang dibebankan, maupun perintah

Lebih terperinci

MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Arif Surachman 1

MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Oleh Arif Surachman 1 MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH Oleh Arif Surachman 1 Pendahuluan Perpustakaan berkembang pesat dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan perkembangan pola kehidupan masyarakat, kebutuhan, pengetahuan, dan

Lebih terperinci

MANAJEMEN SITUASIONAL

MANAJEMEN SITUASIONAL MANAJEMEN SITUASIONAL Walaupun suatu organisasi bisnis telah memiliki seperangkat instrumen untuk mengendalikan perilaku sumber daya manusia di dalamnya - baik antara lain melalui deskripsi tugas (wewenang

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN BUDAYA MUTU DI SEKOLAH MENUJU SEKOLAH UNGGUL A. Pengertian Pengembangan budaya mutu yang dilakukan oleh sekolah unggul dalam rangka

PENGEMBANGAN BUDAYA MUTU DI SEKOLAH MENUJU SEKOLAH UNGGUL A. Pengertian Pengembangan budaya mutu yang dilakukan oleh sekolah unggul dalam rangka PENGEMBANGAN BUDAYA MUTU DI SEKOLAH MENUJU SEKOLAH UNGGUL A. Pengertian Pengembangan budaya mutu yang dilakukan oleh sekolah unggul dalam rangka mencapai keefektifan pendidikan di sekolah tentunya dijiwai

Lebih terperinci

Kata ORGANISASI, mengandung

Kata ORGANISASI, mengandung VIII. PENGORGANISASIAN DAN STRUKTUR ORGANISASI Kata ORGANISASI, mengandung dua pengertian, yaitu : menandakan suatu lembaga atau kelompok fungsional Proses pengorganisasian suatu cara dimana kegiatan organisasi

Lebih terperinci

DevelopmentCheck Questioner: BAHASA

DevelopmentCheck Questioner: BAHASA DevelopmentCheck Questioner: BAHASA Rincian Proyek Detail Nama proyek Referensi Proyek Status Proyek (pada saat monitoring) Uraian singkat tentang proyek Sektor Proyek Tanggapan (harus dilengkapi untuk

Lebih terperinci

FORUM RAKYAT BALI TOLAK REKLAMASI

FORUM RAKYAT BALI TOLAK REKLAMASI PERNYATAAN SIKAP Terbitnya Rekomendasi DPRD Provinsi Bali no: 900/2569/DPRD tertanggal 12 Agustus 2013 perihal: Peninjauan Ulang dan/atau Pencabutan SK Gubernur Bali nomor : 2138/02- C/HK/2012 dapat dipandang

Lebih terperinci

KOMUNITAS PEDULI DONOR DARAH SUKARELA ( KPDDS ) PEMBUKAAN

KOMUNITAS PEDULI DONOR DARAH SUKARELA ( KPDDS ) PEMBUKAAN KOMUNITAS PEDULI DONOR DARAH SUKARELA ( KPDDS ) PEMBUKAAN Dengan ijin serta rahmat Tuhan Yang Maha Esa Bahwasanya darah dalam tubuhh setiap manusia adalah anugerah dan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

Pilkada Langsung; Entry Point Dalam Menuju Good Governance

Pilkada Langsung; Entry Point Dalam Menuju Good Governance Pilkada Langsung; Entry Point Dalam Menuju Good Governance Akhir-akhir ini gaung reformasi dan atau demokrasi mulai ditabuh lagi dalam tataran strategis. Salah satu bentuknya adalah akan dilaksanakannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Secara umum penelitian ini telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu mengembangkan sebuah model pelatihan yang mampu memberdayakan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Dan salah satu hal yang menentukan kualitas pembelajaran adalah

Lebih terperinci

PROFIL Kelompok Penggagas Kasih Plus Jaringan Orang Dengan HIV dan AIDS Kediri - Jawa Timur

PROFIL Kelompok Penggagas Kasih Plus Jaringan Orang Dengan HIV dan AIDS Kediri - Jawa Timur PROFIL Kelompok Penggagas Kasih Plus Jaringan Orang Dengan HIV dan AIDS Kediri - Jawa Timur Kasih Plus... Merupakan sebuah Jaringan Orang Dengan HIV dan AIDS yang menjadi Penggagas untuk Kelompok Dukungan

Lebih terperinci

II. PASAL DEMI PASAL Pasal l Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas.

II. PASAL DEMI PASAL Pasal l Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2005 TENTANG BADAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI WILAYAH DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN PADA DINAS KEPENDUDUKAN DAN TAHUN 2013 6 DINAS KEPENDUDUKAN DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2000

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2000 PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI I. UMUM Dalam

Lebih terperinci

Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan

Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan I. PENDAHULUAN A. Latar belakang. Meningkatkan kualitas dan profesionalisme SDM kesehatan di wilayah kabupaten / kota merupakan salah satu wewenang daerah sesuai

Lebih terperinci

Mewujudkan Tata Pemerintahan Lokal yang Baik (Local Good Governance) dalam Era Otonomi Daerah 1

Mewujudkan Tata Pemerintahan Lokal yang Baik (Local Good Governance) dalam Era Otonomi Daerah 1 Mewujudkan Tata Pemerintahan Lokal yang Baik (Local Good Governance) dalam Era Otonomi Daerah 1 oleh: Max H. Pohan Kepala Biro Peningkatan Kapasitas Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User 2.1. PENDAHULUAN Tujuan dari fase definisi adalah untuk memahami dengan baik masalah-masalah yang dihadapi oleh user dalam memperkirakan biaya dan waktu penyelesaian

Lebih terperinci

KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA

KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN ACEH SINGKIL DAN TIM KOORDINASI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN ACEH TENTANG DUKUNGAN PROGRAM SEDIA UNTUK PENGUATAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN ACEH SINGKIL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019

RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019 KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL RANCANGAN TEKNOKRATIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL (RPJMN) 2015-2019 Oleh: Menteri PPN/Kepala Bappenas

Lebih terperinci

Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang

Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang Pemimpin : Lakukan NetWORK Bukan NetSit Atau NetEat Oleh: Egrita Buntara Widyaiswara Muda Balai Diklat Kepemimpinan www.bppk.depkeu.go.id/bdpimmagelang Dalam rangka meningkatkan nilai dan kualitas kehidupan,

Lebih terperinci

Hiryanto, M.Si Dosen PLS FIP UNY. Peningkatan Mutu PKBM.PPM

Hiryanto, M.Si Dosen PLS FIP UNY. Peningkatan Mutu PKBM.PPM MUTU ADMINISTRASI LEMBAGA PKBM (TATA KELOLA) Hiryanto, M.Si Dosen PLS FIP UNY 1 PERENCANAAN MUTU LEMBAGA PKBM Hakikat Perencanaan Mutu Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari

Lebih terperinci

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan. Civil Society

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan. Civil Society RINGKASAN EKSEKUTIF i Proyek HPEQ berupaya memadukan sumber daya pemerintah, usaha / industri dan civil society untuk memberdayakan masyarakat agar mampu menjawab tuntutan Globalisasi, Peraturan Perundang-undangan

Lebih terperinci

PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan

PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA Logo perusahaan DISETUJUI OLEH: PRESIDEN DIREKTUR Dokumen ini terkendali ditandai dengan stempel DOKUMEN TERKENDALI. Dilarang mengubah atau menggandakan dokumen tanpa seizing

Lebih terperinci

STANDAR INTERNASIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERNAL (STANDAR)

STANDAR INTERNASIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERNAL (STANDAR) STANDAR INTERNASIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERNAL (STANDAR) Direvisi: Oktober 2012 Halaman 1 DAFTAR ISI PENDAHULUAN... 4 STANDAR ATRIBUT... 7 1000 - Tujuan, Kewenangan, dan Tanggung Jawab... 7 1010

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN DAN KEMANDIRIAN SUATU LEMBAGA DAN ORGANISASI. Oleh M.Munandar Sulaeman 1

PENINGKATAN KEMAMPUAN DAN KEMANDIRIAN SUATU LEMBAGA DAN ORGANISASI. Oleh M.Munandar Sulaeman 1 1 PENINGKATAN KEMAMPUAN DAN KEMANDIRIAN SUATU LEMBAGA DAN ORGANISASI Pengantar Oleh M.Munandar Sulaeman 1 Dewasa ini masalah kemandirian suatu lembaga atau organisasi menjadi penting karena sering terjadi

Lebih terperinci

BAB III Tahapan Pendampingan KTH

BAB III Tahapan Pendampingan KTH BAB III Tahapan Pendampingan KTH Teknik Pendampingan KTH 15 Pelaksanaan kegiatan pendampingan KTH sangat tergantung pada kondisi KTH, kebutuhan dan permasalahan riil yang dihadapi oleh KTH dalam melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci