TEORI SISTEMIK DALAM MENANGANI KONFLIK KELUARGA. Aileen P. Mamahit, Ph. D. KKKI Ke-13 Solo, Indonesia

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TEORI SISTEMIK DALAM MENANGANI KONFLIK KELUARGA. Aileen P. Mamahit, Ph. D. KKKI Ke-13 Solo, Indonesia"

Transkripsi

1 TEORI SISTEMIK DALAM MENANGANI KONFLIK KELUARGA Aileen P. Mamahit, Ph. D. KKKI Ke-13 Solo, Indonesia

2 SISTEM KELUARGA Satu set yang terdiri dari bagian-bagian atau beberapa subsistem yang saling terkait. Setiap bagian berfungsi sebagai satu kesatuan; seluruh sistem mendukung setiap bagian. Berusaha mencapai keseimbangan. Menolak perubahan yang tiba-tiba. Memiliki gol dan tujuan. Harus dianggap /ditangani secara utuh.

3 TIGA TIPE SISTEM Tertutup: Kaku Melekat Menekankan loyalitas, tanggungjawab Terbuka: Fleksibel Demokratis Menekankan pentingnya berbagi perasaan Acak: Kacau Individualis Menghindari interaksi yang asli Sedikit atau tidak ada peraturan

4 STRUKTUR KELUARGA Organisasi atau struktur yang mengatur interaksi-interaksi di dalam keluarga. Teori Struktur Keluarga meliputi beberapa konsep antara lain: Subsistem-subsistem Keluarga Batas-batas keluarga

5 KONSEP: SUBSISTEM Komponen struktur keluarga berfungsi untuk melakukan berbagai tugas yang diperlukan supaya sistem keluarga secara keseluruhan dapat berfungsi dengan baik. diatur oleh batas-batas interpersonal ada aturan keanggotaan dapat bersifat sementara maupun menetap.

6 Subsistem Suami-Istri Menaungi berbagai subsistem di dalam keluarga dan mengakui kebutuhan orangorang dewasa terhadap kasih sayang, keintiman, kerjasama dalam mengambil keputusan. dianggap sebagai penengah antara rumah tangga dan dunia luar.

7 Subsistem Orangtua Memiliki otoritas untuk pengasuhan dan keselamatan anak-anak. Memenuhi kebutuhan sosialisasi di dalam keluarga. Jika ada orang lain yang mengasuh anakanak, pendekatan struktural menekankan pentingnya kerja sama dan kemampuan untuk menyelesaikan kepentingankepentingan yang saling bertentangan.

8 Subsistem Orangtua-Anak Konteks untuk ikatan kasih, identifikasi gender, dan modeling. di mana anak-anak belajar untuk mengembangkan otonomi dalam relasi dengan kekuasaan tidak seimbang.

9 Subsistem Anak-anak / Bersaudara Kelompok sosial yang penting di mana anak-anak belajar untuk bekerjasama, bersaing, menyelesaikan masalah, mengatasi kecemburuan, dan dipersiapkan untuk relasi dengan temanteman sebaya seiring dengan perkembangan usia.

10 Hal penting tentang Subsistem Kekuatan dan daya tahan subsistem suami-istri dan orangtua adalah kunci stabilitas dan kesehatan keluarga. Kelahiran anak-anak akan memaksa subsistem pasutri berubah menjadi subsistem orangtua dengan tanggungjawab baru. o komplementaritas peran keduanya penting untuk dipertahankan.

11 KONSEP: BATAS-BATAS Ada dua macam batas antar subsistem: batas yang kaku batas yang kabur.

12 Batas yang kaku Keluarga Terlepas Batas yang sulit ditembus dan adanya kesenjangan antara subsistem-subsistem Saling membatasi dan tidak ada relasi yang baik dan mendukung bahkan pada saat-saat mereka sangat membutuhkannya. Menciptakan anak yang mandiri tetapi tidak ada keterlibatan, kehangatan dan pertukaran kasih sayang. Anak-anak merasa kesepian, terasingkan, dan tidak ada dukungan pada saat-saat mereka membutuhkannya.

13 Batas yang kabur Keluarga Terjerat Batas-batas sangat tidak jelas dan biasanya mudah ditembus atau diganggu oleh subsistem-subsistem yang lain. Orangtua terlalu menyediakan diri dan pengasuhan bersifat protektif yang kelewat batas, juga melanggar privasi anak. Anak-anak bertumbuh terlalu melekat pada orangtua dan tidak mengembangkan pemikiran dan perilaku yang mandiri atau gagal belajar ketrampilan bersosialisasi di luar keluarga. Tidak ada hirarki yang jelas antara orangtua dan anak

14 Pola Transaksi Terlepas: Kontrol orangtua kaku Sendiri-sendiri Sedikit komunikasi Lambat berreaksi Terjerat: Kontrol orangtua lemah Privasi kurang Masalah milik semua Cepat berreaksi

15 Pola Transaksi Di dalam keluarga yang berfungsi dengan baik, batas yang jelas namun fleksibel memberikan kepada setiap anggotanya identitas Aku sebagaimana identitas Kami atau Kita. oini berarti, setiap anggota keluarga mempertahankan individualitasnya tetapi tetap menjadi bagian yang penting dalam keluarganya.

16 KONSEP: AFILIASI, KUASA, KOALISI Afiliasi (alignment) adalah bagaimana anggota-anggota keluarga bersekutu bersama atau menentang satu dengan lain dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga sehari-hari. Kekuasaan (Power) berhubungan dengan otoritas (siapa yang mengambil keputusan) dan tanggungjawab (siapa yang menjalankan keputusan). Koalisi (Coalition) adalah usaha setiap anggota keluarga untuk bersekutu melawan anggota lainnya.

17 KONSEP: AFILIASI, KUASA, KOALISI Kuasa yang berasal dari afiliasi suami-istri sangat baik bagi kesehatan psikis anak. Pengasuhan anak, khususnya dalam hal disiplin dan pemberian batas lebih mudah dilakukan. Koalisi antara salah satu orangtua dan anak melawan orangtua yang satunya sangat melumpuhkan keluarga dan fungsi-fungsinya.

18 KONSEP: AFILIASI, KUASA, KOALISI Keluarga yang relatif sehat harus berusaha untuk: Memiliki batas yang jelas namun fleksibel antar-generasi Mempertahankan kuasa eksekutif subsistem orangtua. Mengembangkan afiliasi antara kedua orangtua. Mengingat bahwa interferensi orang lain dari luar sistem akan menganggu sistem itu.

19 Disfungsi Keluarga Konflik dan masalah keluarga berasal dari: Kesulitan atau kegagalan menyesuaikan dengan tahap atau krisis baru dalam perkembangan kehidupan. Anggota keluarga menjadi terlalu terjerat atau terlepas satu dengan lain. Subsistem pasutri gagal berafiliasi. Subsistem orangtua gagal mempertahankan peran pemimpin. Adanya interferensi dari luar sistem.

20 KONTEKS

21 1. Struktur keluarga dan subsistem-subsistem di Indonesia. Seharusnya seperti ini: IDEAL dan ALKITABIAH IBU AYAH P1 P2 P3

22 Konflik dan masalah keluarga terjadi karena struktur keluarga yang tidak seperti yang seharusnya. BANYAK MENJADI SEPERTI INI ATAU MENJADI SEPERTI INI: AYAH IBU P1 P2 P3 P1 IBU AYAH P2 P3

23 Konflik dan masalah keluarga berasal dari struktur keluarga yang menyimpang ADA JUGA SEPERTI INI: BAHKAN MENJADI SEPERTI INI: IBU Putra 1 AYAH P2 P3 Putra 1 AYAH IBU P2

24 2. Status ekonomi mempengaruhi keterbukaan orang Indonesia untuk terapi keluarga. Keluarga dari kalangan ekonomi menengah lebih terbuka untuk datang ke terapi jika diminta dari pada menengah ke atas dan menengah ke bawah.

25 3. Terapi keluarga dianggap konfrontatif. Membicarakan masalah adalah masalah! Bertemu dengan anggota-anggota keluarga secara terpisah lebih memungkinkan. Pertemuan pribadi dapat mempersiapkan mereka untuk pertemuan seluruh keluarga.

26 4. Keluarga Indonesia memilih mediasi. Masalah dan konflik diselesaikan melalui mediasi dari pada konfrontasi langsung atau kehadiran semua pihak. Mediator menjadi pengantar berita atau pesan.

27 5. Hamba Tuhan dipilih untuk menyelesaikan konflik. Hamba Tuhan dianggap otoritas sehingga dapat didekati untuk menyelesaikan masalah-masalah keluarga. Perlu memperlengkapi diri untuk menangani konflik dan masalah keluarga dengan lebih efektif.

28 Menangani Konflik dan Masalah Keluarga secara Sistemik/Struktural

29 Langkah 1 Joining dan Accommodating Konselor berusaha untuk bergabung menjadi bagian keluarga dan mengakomodasi gaya keluarga. Berafliasi dengan keluarga, konselor dapat memberikan afirmasi atau pujian pada setiap anggota keluarga. Pada dasarnya, langkah pertama ini adalah usaha dari konselor untuk bisa masuk ke dalam sistem keluarga.

30 Langkah 2 Assessing Family Interaction Tujuan utama dalam evaluasi keluarga adalah organisasi hirarkis, kemampuan subsistem-subsistem untuk menjalankan fungsinya, kesejajaran dan koalisi yang hadir, kelenturan batas-batas, fleksibilitas keluarga dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggotanya. Konselor melakukan diagram sederhana yaitu peta struktur keluarga (mirip genogram tetapi lebih sederhana).

31 Family Mapping _ Batas yang jelas Afiliasi Batas yang kabur Terlibat berlebihan Konflik Batas yang kaku } Koalisi Detouring (Pembengkokan)

32 Contoh: Family Mapping Peta di atas adalah contoh yang menunjukan Ayah (F) dan Ibu (M) keduanya mengalami stres dalam pekerjaan pulang ke rumah dan saling mengkritik kemudian membengkokan konflik mereka dengan menyerang anak (C) mereka. Peta di bawah menunjukan suami mengkritik istrinya yang berkoalisi dengan anak mereka melawan Ayah. Perhatikan batas yang kaku antar Ibu dan Anak; koalisi mereka eksklusif melawan Ayah. Minuchin menyebutnya sebagai pola disfungsi antargenerasi.

33 Struktur keluarga yang disfungsional Ibu Ayah Putri Garis titik menunjukan batas yang kabur antara kedua orangtua dan antara orangtua dan anak. Empat garis antara Ibu dan Putri mereka menunjukkan keterlibatan yang berlebihan, overprotectiveness, dan batas yang kabur antara mereka berdua. Putri sangat mungkin terlalu memperhatikan ibunya, dan ibu terhadap putrinya. Ayah tidak dilibatkan.

34 Langkah 3 Monitoring family dysfunctional sets Memonitor pola-pola disfungsional keluarga adalah inti dari seluruh proses terapi struktural. Teknik terapi untuk menyelidiki dan mengubah pola-pola transaksi keluarga Enactments (memperagakan) Boundary making (menciptakan batas) Unbalancing (menciptakan ketidakseimbangan)

35 Langkah 4 - Restructuring Membangun struktur baru, yaitu organisasi baru dalam keluarga Perubahan dalam peraturan-peraturan dan afiliasi; pola transaksi; dan batas-batas antar subsistem keluarga. Penguatan subsistem orangtua.

36 Video Keluarga Rielly

37 PENUTUP

38 Terima kasih!