TEORI SISTEMIK DALAM MENANGANI KONFLIK KELUARGA. Aileen P. Mamahit, Ph. D. KKKI Ke-13 Solo, Indonesia

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TEORI SISTEMIK DALAM MENANGANI KONFLIK KELUARGA. Aileen P. Mamahit, Ph. D. KKKI Ke-13 Solo, Indonesia"

Transkripsi

1 TEORI SISTEMIK DALAM MENANGANI KONFLIK KELUARGA Aileen P. Mamahit, Ph. D. KKKI Ke-13 Solo, Indonesia

2 SISTEM KELUARGA Satu set yang terdiri dari bagian-bagian atau beberapa subsistem yang saling terkait. Setiap bagian berfungsi sebagai satu kesatuan; seluruh sistem mendukung setiap bagian. Berusaha mencapai keseimbangan. Menolak perubahan yang tiba-tiba. Memiliki gol dan tujuan. Harus dianggap /ditangani secara utuh.

3 TIGA TIPE SISTEM Tertutup: Kaku Melekat Menekankan loyalitas, tanggungjawab Terbuka: Fleksibel Demokratis Menekankan pentingnya berbagi perasaan Acak: Kacau Individualis Menghindari interaksi yang asli Sedikit atau tidak ada peraturan

4 STRUKTUR KELUARGA Organisasi atau struktur yang mengatur interaksi-interaksi di dalam keluarga. Teori Struktur Keluarga meliputi beberapa konsep antara lain: Subsistem-subsistem Keluarga Batas-batas keluarga

5 KONSEP: SUBSISTEM Komponen struktur keluarga berfungsi untuk melakukan berbagai tugas yang diperlukan supaya sistem keluarga secara keseluruhan dapat berfungsi dengan baik. diatur oleh batas-batas interpersonal ada aturan keanggotaan dapat bersifat sementara maupun menetap.

6 Subsistem Suami-Istri Menaungi berbagai subsistem di dalam keluarga dan mengakui kebutuhan orangorang dewasa terhadap kasih sayang, keintiman, kerjasama dalam mengambil keputusan. dianggap sebagai penengah antara rumah tangga dan dunia luar.

7 Subsistem Orangtua Memiliki otoritas untuk pengasuhan dan keselamatan anak-anak. Memenuhi kebutuhan sosialisasi di dalam keluarga. Jika ada orang lain yang mengasuh anakanak, pendekatan struktural menekankan pentingnya kerja sama dan kemampuan untuk menyelesaikan kepentingankepentingan yang saling bertentangan.

8 Subsistem Orangtua-Anak Konteks untuk ikatan kasih, identifikasi gender, dan modeling. di mana anak-anak belajar untuk mengembangkan otonomi dalam relasi dengan kekuasaan tidak seimbang.

9 Subsistem Anak-anak / Bersaudara Kelompok sosial yang penting di mana anak-anak belajar untuk bekerjasama, bersaing, menyelesaikan masalah, mengatasi kecemburuan, dan dipersiapkan untuk relasi dengan temanteman sebaya seiring dengan perkembangan usia.

10 Hal penting tentang Subsistem Kekuatan dan daya tahan subsistem suami-istri dan orangtua adalah kunci stabilitas dan kesehatan keluarga. Kelahiran anak-anak akan memaksa subsistem pasutri berubah menjadi subsistem orangtua dengan tanggungjawab baru. o komplementaritas peran keduanya penting untuk dipertahankan.

11 KONSEP: BATAS-BATAS Ada dua macam batas antar subsistem: batas yang kaku batas yang kabur.

12 Batas yang kaku Keluarga Terlepas Batas yang sulit ditembus dan adanya kesenjangan antara subsistem-subsistem Saling membatasi dan tidak ada relasi yang baik dan mendukung bahkan pada saat-saat mereka sangat membutuhkannya. Menciptakan anak yang mandiri tetapi tidak ada keterlibatan, kehangatan dan pertukaran kasih sayang. Anak-anak merasa kesepian, terasingkan, dan tidak ada dukungan pada saat-saat mereka membutuhkannya.

13 Batas yang kabur Keluarga Terjerat Batas-batas sangat tidak jelas dan biasanya mudah ditembus atau diganggu oleh subsistem-subsistem yang lain. Orangtua terlalu menyediakan diri dan pengasuhan bersifat protektif yang kelewat batas, juga melanggar privasi anak. Anak-anak bertumbuh terlalu melekat pada orangtua dan tidak mengembangkan pemikiran dan perilaku yang mandiri atau gagal belajar ketrampilan bersosialisasi di luar keluarga. Tidak ada hirarki yang jelas antara orangtua dan anak

14 Pola Transaksi Terlepas: Kontrol orangtua kaku Sendiri-sendiri Sedikit komunikasi Lambat berreaksi Terjerat: Kontrol orangtua lemah Privasi kurang Masalah milik semua Cepat berreaksi

15 Pola Transaksi Di dalam keluarga yang berfungsi dengan baik, batas yang jelas namun fleksibel memberikan kepada setiap anggotanya identitas Aku sebagaimana identitas Kami atau Kita. oini berarti, setiap anggota keluarga mempertahankan individualitasnya tetapi tetap menjadi bagian yang penting dalam keluarganya.

16 KONSEP: AFILIASI, KUASA, KOALISI Afiliasi (alignment) adalah bagaimana anggota-anggota keluarga bersekutu bersama atau menentang satu dengan lain dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga sehari-hari. Kekuasaan (Power) berhubungan dengan otoritas (siapa yang mengambil keputusan) dan tanggungjawab (siapa yang menjalankan keputusan). Koalisi (Coalition) adalah usaha setiap anggota keluarga untuk bersekutu melawan anggota lainnya.

17 KONSEP: AFILIASI, KUASA, KOALISI Kuasa yang berasal dari afiliasi suami-istri sangat baik bagi kesehatan psikis anak. Pengasuhan anak, khususnya dalam hal disiplin dan pemberian batas lebih mudah dilakukan. Koalisi antara salah satu orangtua dan anak melawan orangtua yang satunya sangat melumpuhkan keluarga dan fungsi-fungsinya.

18 KONSEP: AFILIASI, KUASA, KOALISI Keluarga yang relatif sehat harus berusaha untuk: Memiliki batas yang jelas namun fleksibel antar-generasi Mempertahankan kuasa eksekutif subsistem orangtua. Mengembangkan afiliasi antara kedua orangtua. Mengingat bahwa interferensi orang lain dari luar sistem akan menganggu sistem itu.

19 Disfungsi Keluarga Konflik dan masalah keluarga berasal dari: Kesulitan atau kegagalan menyesuaikan dengan tahap atau krisis baru dalam perkembangan kehidupan. Anggota keluarga menjadi terlalu terjerat atau terlepas satu dengan lain. Subsistem pasutri gagal berafiliasi. Subsistem orangtua gagal mempertahankan peran pemimpin. Adanya interferensi dari luar sistem.

20 KONTEKS

21 1. Struktur keluarga dan subsistem-subsistem di Indonesia. Seharusnya seperti ini: IDEAL dan ALKITABIAH IBU AYAH P1 P2 P3

22 Konflik dan masalah keluarga terjadi karena struktur keluarga yang tidak seperti yang seharusnya. BANYAK MENJADI SEPERTI INI ATAU MENJADI SEPERTI INI: AYAH IBU P1 P2 P3 P1 IBU AYAH P2 P3

23 Konflik dan masalah keluarga berasal dari struktur keluarga yang menyimpang ADA JUGA SEPERTI INI: BAHKAN MENJADI SEPERTI INI: IBU Putra 1 AYAH P2 P3 Putra 1 AYAH IBU P2

24 2. Status ekonomi mempengaruhi keterbukaan orang Indonesia untuk terapi keluarga. Keluarga dari kalangan ekonomi menengah lebih terbuka untuk datang ke terapi jika diminta dari pada menengah ke atas dan menengah ke bawah.

25 3. Terapi keluarga dianggap konfrontatif. Membicarakan masalah adalah masalah! Bertemu dengan anggota-anggota keluarga secara terpisah lebih memungkinkan. Pertemuan pribadi dapat mempersiapkan mereka untuk pertemuan seluruh keluarga.

26 4. Keluarga Indonesia memilih mediasi. Masalah dan konflik diselesaikan melalui mediasi dari pada konfrontasi langsung atau kehadiran semua pihak. Mediator menjadi pengantar berita atau pesan.

27 5. Hamba Tuhan dipilih untuk menyelesaikan konflik. Hamba Tuhan dianggap otoritas sehingga dapat didekati untuk menyelesaikan masalah-masalah keluarga. Perlu memperlengkapi diri untuk menangani konflik dan masalah keluarga dengan lebih efektif.

28 Menangani Konflik dan Masalah Keluarga secara Sistemik/Struktural

29 Langkah 1 Joining dan Accommodating Konselor berusaha untuk bergabung menjadi bagian keluarga dan mengakomodasi gaya keluarga. Berafliasi dengan keluarga, konselor dapat memberikan afirmasi atau pujian pada setiap anggota keluarga. Pada dasarnya, langkah pertama ini adalah usaha dari konselor untuk bisa masuk ke dalam sistem keluarga.

30 Langkah 2 Assessing Family Interaction Tujuan utama dalam evaluasi keluarga adalah organisasi hirarkis, kemampuan subsistem-subsistem untuk menjalankan fungsinya, kesejajaran dan koalisi yang hadir, kelenturan batas-batas, fleksibilitas keluarga dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggotanya. Konselor melakukan diagram sederhana yaitu peta struktur keluarga (mirip genogram tetapi lebih sederhana).

31 Family Mapping _ Batas yang jelas Afiliasi Batas yang kabur Terlibat berlebihan Konflik Batas yang kaku } Koalisi Detouring (Pembengkokan)

32 Contoh: Family Mapping Peta di atas adalah contoh yang menunjukan Ayah (F) dan Ibu (M) keduanya mengalami stres dalam pekerjaan pulang ke rumah dan saling mengkritik kemudian membengkokan konflik mereka dengan menyerang anak (C) mereka. Peta di bawah menunjukan suami mengkritik istrinya yang berkoalisi dengan anak mereka melawan Ayah. Perhatikan batas yang kaku antar Ibu dan Anak; koalisi mereka eksklusif melawan Ayah. Minuchin menyebutnya sebagai pola disfungsi antargenerasi.

33 Struktur keluarga yang disfungsional Ibu Ayah Putri Garis titik menunjukan batas yang kabur antara kedua orangtua dan antara orangtua dan anak. Empat garis antara Ibu dan Putri mereka menunjukkan keterlibatan yang berlebihan, overprotectiveness, dan batas yang kabur antara mereka berdua. Putri sangat mungkin terlalu memperhatikan ibunya, dan ibu terhadap putrinya. Ayah tidak dilibatkan.

34 Langkah 3 Monitoring family dysfunctional sets Memonitor pola-pola disfungsional keluarga adalah inti dari seluruh proses terapi struktural. Teknik terapi untuk menyelidiki dan mengubah pola-pola transaksi keluarga Enactments (memperagakan) Boundary making (menciptakan batas) Unbalancing (menciptakan ketidakseimbangan)

35 Langkah 4 - Restructuring Membangun struktur baru, yaitu organisasi baru dalam keluarga Perubahan dalam peraturan-peraturan dan afiliasi; pola transaksi; dan batas-batas antar subsistem keluarga. Penguatan subsistem orangtua.

36 Video Keluarga Rielly

37 PENUTUP

38 Terima kasih!

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DEWASA DAN LANSIA PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL Oleh: Dr. Rita Eka Izzaty, M.Si Yulia Ayriza, Ph.D STABILITAS DAN PERUBAHAN ANAK-DEWASA TEMPERAMEN Stabilitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesuksesan yang dicapai seseorang tidak hanya berdasarkan kecerdasan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesuksesan yang dicapai seseorang tidak hanya berdasarkan kecerdasan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesuksesan yang dicapai seseorang tidak hanya berdasarkan kecerdasan akademik (kognitif) saja namun juga harus diseimbangkan dengan kecerdasan emosional, sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap

BAB I PENDAHULUAN. dan berfungsinya organ-organ tubuh sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Individu sejak dilahirkan akan berhadapan dengan lingkungan yang menuntutnya untuk menyesuaikan diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh individu diawali dengan penyesuaian

Lebih terperinci

Assalamualaikum.. Kelompok 4 Cahyati Tresna D Desi Wijayanti Feida Noor Laila Finsa M. Pratama Iklima Alhauda 07

Assalamualaikum.. Kelompok 4 Cahyati Tresna D Desi Wijayanti Feida Noor Laila Finsa M. Pratama Iklima Alhauda 07 Assalamualaikum.. Kelompok 4 Cahyati Tresna D 0704033 Desy Sri Lestari 0703 Desi Wijayanti 0700914 Feida Noor Laila 0705184 Finsa M. Pratama 0700915 Iklima Alhauda 07 Kerja Sama Sekolah dan program Klinik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Keluarga menjadi tempat pertama seseorang memulai

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Keluarga menjadi tempat pertama seseorang memulai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan. Keluarga menjadi tempat pertama seseorang memulai kehidupannya. Keluarga membentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang lain dan membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. orang lain dan membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Menurut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial, dimana manusia hidup bersama dengan orang lain dan membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Menurut Walgito (2001)

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Orang tua adalah komponen keluarga yang di dalamnya terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masa depan keluarga menjadi fenomena yang sudah lazim terjadi pada era

BAB 1 PENDAHULUAN. masa depan keluarga menjadi fenomena yang sudah lazim terjadi pada era 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Suami istri yang bersama-sama mencari nafkah (bekerja) untuk masa depan keluarga menjadi fenomena yang sudah lazim terjadi pada era globalisasi ini. Hal

Lebih terperinci

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dari ketiga subjek pada penelitian ini, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut :

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dari ketiga subjek pada penelitian ini, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut : BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian ini berdasarkan analisis hasil yang diperoleh dari ketiga subjek pada penelitian ini, maka ditarik kesimpulan sebagai

Lebih terperinci

S A N T I E. P U R N A M A S A R I U M B Y

S A N T I E. P U R N A M A S A R I U M B Y PERKEMBANGAN SOSIAL : KELUARGA S A N T I E. P U R N A M A S A R I U M B Y PENGANTAR Keluarga adalah tempat dan sumber perkembangan sosial awal pada anak Apabila interaksi yang terjadi bersifat intens maka

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998) BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dukungan Keluarga 1. Pengertian Keluarga Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah, potensi individu/siswa yang belum berkembang

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah, potensi individu/siswa yang belum berkembang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional mengharapkan upaya pendidikan formal di sekolah mampu membentuk pribadi peserta didik menjadi manusia yang sehat dan produktif. Pribadi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. A. Analisis Data tentang proses Family Therapy dalam menangani. Kesenjangan Komunikasi pada Kenakalan Remaja di Pepelegi Waru

BAB IV ANALISIS DATA. A. Analisis Data tentang proses Family Therapy dalam menangani. Kesenjangan Komunikasi pada Kenakalan Remaja di Pepelegi Waru BAB IV ANALISIS DATA A. Analisis Data tentang proses Family Therapy dalam menangani Kesenjangan Komunikasi pada Kenakalan Remaja di Pepelegi Waru Sidoarjo Pada bab ini analisis data ini berhubungan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat melepaskan diri dari jalinan sosial, dimana manusia selalu akan mengandalkan kontak sosial yang selalu berhubungan

Lebih terperinci

#### Selamat Mengerjakan ####

#### Selamat Mengerjakan #### Pekerjaan Istri = Bekerja / Tidak Bekerja Apa pekerjaan Istri Anda? = Berapa jam perhari Istri bekerja = Usia Anak =...Tahun Pembantu Rumah Tangga = Punya / Tidak Punya (Lingkari Salah Satu) Dengan hormat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan bagi beberapa individu dapat menjadi hal yang istimewa dan penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam kehidupan yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. (2003), work-family conflict (WFC) merupakan suatu bentuk konflik peran

BAB II LANDASAN TEORI. (2003), work-family conflict (WFC) merupakan suatu bentuk konflik peran 14 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Work-Family Conflict (WFC) Work-family conflict (WFC) memiliki beberapa definisi. Menurut Triaryati (2003), work-family conflict (WFC) merupakan suatu bentuk konflik peran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Wanita merupakan individu yang memiliki keterbukaan dalam membagi permasalahan kehidupan maupun penilaian mereka mengenai sesuatu ataupun tentang orang lain.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Coakley (dalam Lerner dkk, 1998) kadang menimbulkan terjadinya benturan antara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Coakley (dalam Lerner dkk, 1998) kadang menimbulkan terjadinya benturan antara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa terjadinya banyak perubahan. Remaja haus akan kebebasan dalam memutuskan dan menentukan pilihan hidupnya secara mandiri. Erikson (dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Keluarga merupakan sekumpulan orang yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Keluarga merupakan sekumpulan orang yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan unsur penentu pertama dan utama keberhasilan pembinaan anak sebagai generasi penerus. Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst

BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal (young adulthood) adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkat dan semakin kompleks. Seperti adanya tawuran antar pelajar, mencuri,

BAB I PENDAHULUAN. meningkat dan semakin kompleks. Seperti adanya tawuran antar pelajar, mencuri, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi ini permasalahan remaja dan kenakalan remaja semakin meningkat dan semakin kompleks. Seperti adanya tawuran antar pelajar, mencuri, merampas,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 KONTEKS MASALAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 KONTEKS MASALAH BAB I PENDAHULUAN 1.1 KONTEKS MASALAH Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia, baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keagamaan. Bahkan hubungan seksual yang sewajarnya dilakukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. keagamaan. Bahkan hubungan seksual yang sewajarnya dilakukan oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Zaman yang bertambah modern ini nilai-nilai yang bersifat baik atau nilai moral menjadi semakin berkurang didalam kehidupan bermasyarakat. Pergaulan yang salah dan terlalu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penjelasan Konsep Teoritis. menyenangkan terhadap pernikahannya secara menyeluruh.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penjelasan Konsep Teoritis. menyenangkan terhadap pernikahannya secara menyeluruh. 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penjelasan Konsep Teoritis 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan Menurut Olson dan Fower (1989), kepuasan pernikahan adalah perasaan yang bersifat subjektif dari pasangan suami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Anak adalah merupakan bagian dari keluarga yang secara sosial dan

BAB I PENDAHULUAN. Anak adalah merupakan bagian dari keluarga yang secara sosial dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak adalah merupakan bagian dari keluarga yang secara sosial dan psikolog tidak terlepas dari pembinaan dan pendidikan orangtua, masyarakat dan lembaga pendidikan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Dunia ini tidak pernah lepas dari kehidupan. Ketika lahir, sudah disambut

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Dunia ini tidak pernah lepas dari kehidupan. Ketika lahir, sudah disambut BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Dunia ini tidak pernah lepas dari kehidupan. Ketika lahir, sudah disambut oleh kasih sayang dan cinta orang tua yang siap berkorban apa saja agar bisa memberi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kasus perceraian di Indonesia saat ini bukanlah menjadi suatu hal yang asing

BAB I PENDAHULUAN. Kasus perceraian di Indonesia saat ini bukanlah menjadi suatu hal yang asing BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kasus perceraian di Indonesia saat ini bukanlah menjadi suatu hal yang asing lagi untuk diperbincangkan. Jumlah perceraian di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari manusia dihadapkan dengan berbagai konteks komunikasi yang berbeda-beda. Salah satu konteks komunikasi yang paling sering dihadapi

Lebih terperinci

KOMUNIKASI ADAPTASI KELUARGA DALAM REMARRIAGE SUMMARY SKRIPSI. Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1.

KOMUNIKASI ADAPTASI KELUARGA DALAM REMARRIAGE SUMMARY SKRIPSI. Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1. KOMUNIKASI ADAPTASI KELUARGA DALAM REMARRIAGE SUMMARY SKRIPSI Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1 Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah suatu unit emosional dan menggunakan sistem pemikiran untuk menjelaskan interaksi

BAB I PENDAHULUAN. adalah suatu unit emosional dan menggunakan sistem pemikiran untuk menjelaskan interaksi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu unit sosial terkecil dalam suatu masyarakat adalah keluarga. Keluarga adalah suatu unit emosional dan menggunakan sistem pemikiran untuk menjelaskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan

BAB I PENDAHULUAN. Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan sangat cepat. Perubahan yang terjadi dalam bidang teknologi, informasi dan juga ledakan populasi

Lebih terperinci

TERAPI KELUARGA STRUKTURAL

TERAPI KELUARGA STRUKTURAL 8 Stefanus Soejanto Sandjaja. TERAPI KELUARGA STRUKTURAL Dr. Stefanus Soejanto Sandjaja, M.Si., Kons. Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta ssandjaja@yahoo.com Pendahuluan Keluarga

Lebih terperinci

juga kelebihan yang dimiliki

juga kelebihan yang dimiliki 47 1. Pengertian Optimisme Seligman (2005) menjelaskan bahwa optimisme adalah suatu keadaan yang selalu berpengharapan baik. Optimisme merupakan hasil berpikir seseorang dalam menghadapi suatu kejadian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Undang-Undang No.1 Tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Undang-Undang No.1 Tahun BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS CINTA DAN KETERBUKAAN DIRI DENGAN KOMITMEN PERKAWINAN PADA PASANGAN SUAMI ISTRI

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS CINTA DAN KETERBUKAAN DIRI DENGAN KOMITMEN PERKAWINAN PADA PASANGAN SUAMI ISTRI HUBUNGAN ANTARA KUALITAS CINTA DAN KETERBUKAAN DIRI DENGAN KOMITMEN PERKAWINAN PADA PASANGAN SUAMI ISTRI SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal

BAB 1 PENDAHULUAN. membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai makhluk sosial manusia memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berperan bagi kehidupan seseorang dikarenakan intensitas dan frekuensinya yang

BAB I PENDAHULUAN. berperan bagi kehidupan seseorang dikarenakan intensitas dan frekuensinya yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya manusia sudah melakukan komunikasi sejak ia dilahirkan. Manusia melakukan proses komunikasi dengan lawan bicaranya baik dilingkungan masyarakat,

Lebih terperinci

MANAJEMEN KONFLIK ANTARPRIBADI PASANGAN SUAMI ISTRI BEDA AGAMA

MANAJEMEN KONFLIK ANTARPRIBADI PASANGAN SUAMI ISTRI BEDA AGAMA MANAJEMEN KONFLIK ANTARPRIBADI PASANGAN SUAMI ISTRI BEDA AGAMA Penyusun Nama : Asteria Agustin NIM : D2C 007 012 JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

TAHAP-TAHAP KEHIDUPAN / PERKEMBANGAN KELUARGA

TAHAP-TAHAP KEHIDUPAN / PERKEMBANGAN KELUARGA Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi pada sistem keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar anggota keluarga disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjukkan bahwa permasalahan prestasi tersebut disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjukkan bahwa permasalahan prestasi tersebut disebabkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan terbesar yang dihadapi siswa adalah masalah yang berkaitan dengan prestasi, baik akademis maupun non akademis. Hasil diskusi kelompok terarah yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berpacaran sebagai proses dua manusia lawan jenis untuk mengenal dan

BAB I PENDAHULUAN. Berpacaran sebagai proses dua manusia lawan jenis untuk mengenal dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Fenomena berpacaran sudah sangat umum terjadi dalam masyarakat. Berpacaran sebagai proses dua manusia lawan jenis untuk mengenal dan memahami lawan jenisnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maka diperlukan partisipasi penuh dari putra-putri bangsa Indonesia di berbagai

BAB I PENDAHULUAN. maka diperlukan partisipasi penuh dari putra-putri bangsa Indonesia di berbagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang giatgiatnya membangun. Agar pembangunan ini berhasil dan berjalan dengan baik, maka diperlukan partisipasi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. laku spesifik yang bekerja secara individu dan bersama sama untuk mengasuh

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. laku spesifik yang bekerja secara individu dan bersama sama untuk mengasuh BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Pola Asuh 1.1 Definisi Pengasuhan adalah kegiatan kompleks yang mencakup berbagai tingkah laku spesifik yang bekerja secara individu dan bersama sama untuk mengasuh anak (Darling,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan

Lebih terperinci

Santi E. Purnamasari, M.Si., Psikolog. Fakultas Psikologi UMBY 2013

Santi E. Purnamasari, M.Si., Psikolog. Fakultas Psikologi UMBY 2013 Santi E. Purnamasari, M.Si., Psikolog Fakultas Psikologi UMBY 2013 Faktor Penghambat Lingkungan Lingkungan yang buruk dapat menghambat atau mengganggu tumbuh kembang anak. Biasanya lingkungan yang buruk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membesarkan anak secara legal dan membangun suatu divisi pekerjaan dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membesarkan anak secara legal dan membangun suatu divisi pekerjaan dengan 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kepuasan Pernikahan Pernikahan didefinisikan sebagai hubungan yang diakui secara sosial antara pria dan wanita yang didalamnya terdapat hubungan seksual, hak membesarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada masa remaja, salah satunya adalah problematika seksual. Sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. pada masa remaja, salah satunya adalah problematika seksual. Sebagian besar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini, masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan remaja sering menimbulkan berbagai tantangan bagi para orang dewasa. Banyak hal yang timbul pada masa remaja,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari suami, istri, anak-anak, juga termasuk kakek dan nenek serta cucu-cucu dan

BAB I PENDAHULUAN. dari suami, istri, anak-anak, juga termasuk kakek dan nenek serta cucu-cucu dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga menurut para psikolog adalah sebuah ikatan sosial yang terdiri dari suami, istri, anak-anak, juga termasuk kakek dan nenek serta cucu-cucu dan beberapa kerabat

Lebih terperinci

Materi kuliah e-learning HUBUNGAN ORANG TUA DENGAN ANAK REMAJA oleh : Dr. Triana Noor Edwina DS, M.Si Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu

Materi kuliah e-learning HUBUNGAN ORANG TUA DENGAN ANAK REMAJA oleh : Dr. Triana Noor Edwina DS, M.Si Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Materi kuliah e-learning HUBUNGAN ORANG TUA DENGAN ANAK REMAJA oleh : Dr. Triana Noor Edwina DS, M.Si Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta Selamat membaca, mempelajari dan memahami

Lebih terperinci

Pekerjaan Suami : Bekerja / Tidak Bekerja Pendidikan Anak : SD / SMP Pembantu Rumah Tangga : Punya / Tidak Punya (Lingkari pilihan Anda)

Pekerjaan Suami : Bekerja / Tidak Bekerja Pendidikan Anak : SD / SMP Pembantu Rumah Tangga : Punya / Tidak Punya (Lingkari pilihan Anda) Pekerjaan Suami : Bekerja / Tidak Bekerja Pendidikan Anak : SD / SMP Pembantu Rumah Tangga : Punya / Tidak Punya (Lingkari pilihan Anda) Dengan hormat, Disela-sela kesibukan Anda, perkenankanlah saya mohon

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. (UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam Libertus, 2008). Keputusan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. (UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam Libertus, 2008). Keputusan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan dapat diartikan sebagai sebuah ikatan lahir batin seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1998). Potter & Perry. kelemahannya pada seluruh aspek kepribadiannya.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1998). Potter & Perry. kelemahannya pada seluruh aspek kepribadiannya. 7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep diri 2.1.1. Pengertian Konsep diri Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Keluarga adalah bagian penting setiap individu terutama anak-anak yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Keluarga adalah bagian penting setiap individu terutama anak-anak yang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keluarga adalah bagian penting setiap individu terutama anak-anak yang masih belia. Pada tahap ini anak-anak masih sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja dianggap sebagai masa labil yaitu di mana individu berusaha mencari jati dirinya dan mudah sekali menerima informasi dari luar dirinya tanpa ada pemikiran

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. perhatian penuh kasih sayang kepada anaknya (Soetjiningsih, 1995). Peran

BAB II LANDASAN TEORI. perhatian penuh kasih sayang kepada anaknya (Soetjiningsih, 1995). Peran BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Konsep Peran Orang Tua 2.1.1. Definisi Peran Orang Tua Qiami (2003) menjelaskan bahwa orangtua adalah unsur pokok dalam pendidikan dan memainkan peran penting dan terbesar dalam

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. proses penyesuaian diri seseorang dalam konteks interaksi dengan lingkungan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. proses penyesuaian diri seseorang dalam konteks interaksi dengan lingkungan 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. PENYESUAN SOSIAL 1. Pengertian Penyesuaian sosial merupakan suatu istilah yang banyak merujuk pada proses penyesuaian diri seseorang dalam konteks interaksi dengan lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahkan sampai merinding serta menggetarkan bahu ketika mendengarkan kata

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahkan sampai merinding serta menggetarkan bahu ketika mendengarkan kata 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekarang ini tidak sedikit kaum wanita yang mengerutkan kening, terkejut, bahkan sampai merinding serta menggetarkan bahu ketika mendengarkan kata poligami.

Lebih terperinci

KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR

KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR KONFLIK INTERPERSONAL ANTAR ANGGOTA KELUARGA BESAR Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi Diajukan oleh: SITI SOLIKAH F100040107 Kepada FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan dibutuhkan anak dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Keluarga

BAB I PENDAHULUAN. akan dibutuhkan anak dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Keluarga 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan yang pertama bagi setiap anak, di dalam keluarga terdapat ayah, ibu dan anak. Dimana semuanya memiliki peranan masing-masing,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga merupakan sekelompok manusia yang disatukan oleh jalinan perkawinan, darah atau adopsi yang membentuk sebuah rumah tangga berinteraksi dan berkomunikasi dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam masyarakat, seorang remaja merupakan calon penerus bangsa, yang memiliki potensi besar dengan tingkat produktivitas yang tinggi dalam bidang yang mereka geluti

Lebih terperinci

BAB II IBU DAN ANAK. Pengertian keluarga berarti nuclear family yaitu yang terdiri dari ayah,

BAB II IBU DAN ANAK. Pengertian keluarga berarti nuclear family yaitu yang terdiri dari ayah, BAB II IBU DAN ANAK 2.1 Arti Ibu Pengertian keluarga berarti nuclear family yaitu yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah dan ibu dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai orang tua dan mampu memenuhi

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. determinan perilaku sehat multidimensi remaja dan terbukti secara empiris

BAB VI PENUTUP. determinan perilaku sehat multidimensi remaja dan terbukti secara empiris 220 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Model perilaku sehat remaja ini memberikan pemahaman baru tentang determinan perilaku sehat multidimensi remaja dan terbukti secara empiris mampu memetakan perilaku sehat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Para teoritikus bersepakat bahwa keluarga merupakan unit terkecil dari sebuah masyarakat. Keluarga terbentuk dari sebuah perkawinan antara seorang laki-laki dan perempuan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan yang dialami oleh setiap individu, sebagai masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa

Lebih terperinci

Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel

Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel Hubungan antara Persepsi Anak Terhadap Perhatian Orang Tua dan Intensitas Komunikasi Interpersonal dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Difabel Thesis Diajukan kepada Program Studi Magister Sains Psikologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Akhir-akhir ini kenakalan pada remaja semakin meningkat. Kapolda

BAB I PENDAHULUAN. Akhir-akhir ini kenakalan pada remaja semakin meningkat. Kapolda BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Akhir-akhir ini kenakalan pada remaja semakin meningkat. Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Bayu Ajiseno mengatakan bahwa terjadi peningkatan kenakalan remaja sebanyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 KonteksMasalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 KonteksMasalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 KonteksMasalah Keluarga merupakan sebuah kelompok primer yang pertama kali kita masuki dimana didalamnya kita mendapatkan pembelajaran mengenai norma-norma, agama maupun proses sosial

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TERAPI BEHAVIOR DENGAN TEKNIK MODELLING. penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Pada dasarnya komunikasi

BAB IV ANALISIS TERAPI BEHAVIOR DENGAN TEKNIK MODELLING. penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Pada dasarnya komunikasi BAB IV ANALISIS TERAPI BEHAVIOR DENGAN TEKNIK MODELLING Pada bab ke empat ini peneliti akan menguraikan analisis dari data penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Pada dasarnya komunikasi interpersonal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertamatama masih sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Membentuk sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis adalah impian

BAB I PENDAHULUAN. Membentuk sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis adalah impian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membentuk sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis adalah impian setiap orang. Ketika menikah, tentunya orang berkeinginan untuk mempunyai sebuah keluarga yang

Lebih terperinci

ANAK MAS DI BIARA SEBAGAI UNGKAPAN SEKSUALITAS Rohani, April 2012, hal Paul Suparno, S.J.

ANAK MAS DI BIARA SEBAGAI UNGKAPAN SEKSUALITAS Rohani, April 2012, hal Paul Suparno, S.J. 1 ANAK MAS DI BIARA SEBAGAI UNGKAPAN SEKSUALITAS Rohani, April 2012, hal 28-31 Paul Suparno, S.J. Sr. Bundanita mensharingkan pengalamannya bagaimana ia pernah mempunyai anak mas waktu mengajar di Sekolah

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. melakukan proses komunikasi. Keluarga juga merupakan tempat awal dimana suatu

BAB I. Pendahuluan. melakukan proses komunikasi. Keluarga juga merupakan tempat awal dimana suatu BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Keluarga adalah tempat dimana seorang individu pertama kali belajar dan melakukan proses komunikasi. Keluarga juga merupakan tempat awal dimana suatu karakter individu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Status nutrisi adalah kondisi kesehatan yang dipengaruhi oleh asupan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Status nutrisi adalah kondisi kesehatan yang dipengaruhi oleh asupan dan 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Status nutrisi Status nutrisi adalah kondisi kesehatan yang dipengaruhi oleh asupan dan manfaat zat zat gizi. Perubahan pada dimensi tubuh mencerminkan keadaan kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah yang sering terjadi pada masa remaja yaitu kasus pengeroyokan

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah yang sering terjadi pada masa remaja yaitu kasus pengeroyokan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah yang sering terjadi pada masa remaja yaitu kasus pengeroyokan ataupun kasus tawuran dan keributan antara pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pada akhirnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makhluk sosial, individu di dalam menjalin hubungan dengan individu lain perlu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makhluk sosial, individu di dalam menjalin hubungan dengan individu lain perlu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial yang membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai makhluk sosial, individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dewasa (Frone et al,1992). Dalam beberapa dekade ini perkembangan dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dewasa (Frone et al,1992). Dalam beberapa dekade ini perkembangan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bekerja merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi sebagian orang dewasa (Frone et al,1992). Dalam beberapa dekade ini perkembangan dan pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. itu kebutuhan fisik maupun psikologis. Untuk kebutuhan fisik seperti makan,

BAB I PENDAHULUAN. itu kebutuhan fisik maupun psikologis. Untuk kebutuhan fisik seperti makan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia memiliki serangkaian kebutuhan yang harus dipenuhi baik itu kebutuhan fisik maupun psikologis. Untuk kebutuhan fisik seperti makan, minum, pakaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak, dalam keluarga terjadi proses pendidikan orang tua pada anak yang dapat membantu perkembangan anak.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membangun sebuah hubungan senantiasa menjadi kebutuhan bagi individu untuk mencapai kebahagiaan. Meskipun terkadang hubungan menjadi semakin kompleks saat

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan 1. Simpulan Umum Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa pola interaksi keluarga pada pasangan suami istri yang bertempat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. orangtua. Anak bukan hanya sekedar hadiah dari Allah SWT, anak adalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. orangtua. Anak bukan hanya sekedar hadiah dari Allah SWT, anak adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam suatu keluarga kehadiran anak adalah kebahagiaan tersendiri bagi orangtua. Anak bukan hanya sekedar hadiah dari Allah SWT, anak adalah amanah, titipan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan kemajuan zaman banyak dampak yang dialami manusia

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan kemajuan zaman banyak dampak yang dialami manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan kemajuan zaman banyak dampak yang dialami manusia dalam kehidupannya. Kemajuan zaman memiliki nilai yang positif dalam kehidupan manusia, dimana pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kekuatan seseorang dalam menghadapi kehidupan di dunia ini berawal dari keluarga. Keluarga merupakan masyarakat terkecil yang sangat penting dalam membentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya pernikahan dimulai pada masa dewasa, dimana individu akan

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya pernikahan dimulai pada masa dewasa, dimana individu akan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada umumnya pernikahan dimulai pada masa dewasa, dimana individu akan meninggalkan rumah orang tuanya, mulai bekerja, mandiri secara finansial, dan juga membentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 104).Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 104).Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keluarga merupakan suatu kelompok primer yang sangat erat. Yang dibentuk karena kebutuhan akan kasih sayang antara suami dan istri. (Khairuddin, 1985: 104).Secara historis

Lebih terperinci

TEORI HUBUNGAN INTERPERSONAL

TEORI HUBUNGAN INTERPERSONAL TEORI HUBUNGAN INTERPERSONAL Pertemuan ke 2 nadiasasmita@uny.ac.id 1 Teori pertukaran sosial Teori ini memandang bahwa pola hubungan antarmanusia menyerupai transaksi dagang. Berlangsung mengikuti kaidah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan Sumberdaya Manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan Indonesia kearah modernisasi maka semakin banyak peluang bagi perempuan untuk berperan dalam pembangunan. Tetapi berhubung masyarakat

Lebih terperinci

Materi Minggu 2. Kelompok Kerja (Teamwork)

Materi Minggu 2. Kelompok Kerja (Teamwork) T e o r i O r g a n i s a s i U m u m 2 7 Materi Minggu 2 Kelompok Kerja (Teamwork) 2.1 Pengertian dan Karakteristik Kelompok Kelompok dapat diartikan sejumlah orang yang terlibat dalam interaksi pada

Lebih terperinci

2015 PENGARUH PROGRAM BIMBINGAN INDIVIDUA TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA

2015 PENGARUH PROGRAM BIMBINGAN INDIVIDUA TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kasus kekerasan di dalam rumah tangga merupakan hal yang bersifat pribadi dan cenderung dirahasiakan dari dunia luar. Kasus ini dapat merugikan sebagian orang dan

Lebih terperinci

BERPIKIR POSITIF MINIMALKAN PARANOID Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si., psikolog*

BERPIKIR POSITIF MINIMALKAN PARANOID Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si., psikolog* BERPIKIR POSITIF MINIMALKAN PARANOID Oleh : L. Rini Sugiarti, M.Si., psikolog* Tidak ada yang benar bagi seorang paranoid. Melihat orang tersenyum; seolah mengejek dirinya, mendengar orang saling bercakap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mampu beradaptasi atau melakukan penyesuaian dengan lingkungan fisik maupun. sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya.

BAB I PENDAHULUAN. mampu beradaptasi atau melakukan penyesuaian dengan lingkungan fisik maupun. sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Agar hubungan terjalin dengan baik diharapkan manusia mampu beradaptasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. memprihatinkan. Kini telah banyak remaja yang terlibat dalam kasus kriminal baik itu

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. memprihatinkan. Kini telah banyak remaja yang terlibat dalam kasus kriminal baik itu BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dewasa ini bersamaan semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, perilaku dan karakter dari generasi bangsa khususnya remaja justru semakin memprihatinkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak bisa menangani masalahnya dapat mengakibatkan stres. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. tidak bisa menangani masalahnya dapat mengakibatkan stres. Menurut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang memiliki permasalahan dalam hidupnya, dan mereka memiliki caranya masing-masing untuk menangani masalah tersebut. Ada orang yang bisa menangani masalahnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berperilaku sesuai dengan moral dan cara hidup yang diharapkan oleh ajaran

BAB I PENDAHULUAN. berperilaku sesuai dengan moral dan cara hidup yang diharapkan oleh ajaran BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Agama merupakan faktor penting yang dapat membimbing manusia agar berperilaku sesuai dengan moral dan cara hidup yang diharapkan oleh ajaran agama yang dianut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah aset yang paling berharga dan memiliki kesempatan yang besar untuk

BAB I PENDAHULUAN. adalah aset yang paling berharga dan memiliki kesempatan yang besar untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan salah satu kelompok di dalam masyarakat. Kehidupan remaja sangat menarik untuk diperbincangkan. Remaja merupakan generasi penerus serta calon

Lebih terperinci