STRATEGI GURU DALAM MEMBINA SISWA YANG BERTINGKAH LAKU MENYIMPANG

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "STRATEGI GURU DALAM MEMBINA SISWA YANG BERTINGKAH LAKU MENYIMPANG"

Transkripsi

1 1 STRATEGI GURU DALAM MEMBINA SISWA YANG BERTINGKAH LAKU MENYIMPANG Nasruddin AR Dosen FKIP Universitas Abulyatama Aceh ABSTRAK Tingkah laku menyimpang merupakan suatu masalah yang dapat mengakibatkan kesukaran-kesukaran atau kelainan-kelainan terhadap perkembangan kepribadian seseorang dan dapat menimbulkan keluhan bagi orang tua, sekolah serta masyarakat dalam mengatasinya. Dalam kehidupan sehari-hari penyimpangan tingkah laku yang dilakukan siswa di sekolah berupa melanggar peraturan sekolah atau norma-norma yang ada di sekolah. Penyimpangan tingkahlaku juga dilakukan dengan memakai minuman dan makanan terlarang seperti memakai nakoba dan perilakuku sek yang menyimpang. Guru dalam membina siswa yang berkelakuan menyimpang dengan cara prepentif dan koratif. Kata Kunci : Strategi, Guru, Membina dan Tingkah Laku Menyimpang PENDAHULUAN Setiap manusia selalu mempunyai bermacam kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan merupakan keharusan bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri. Jika individu berhasil memenuhi kebutuhannya, maka akan merasa puas dan sebaliknya merasa kegagalan dalam memenuhi kebutuhan akan banyak menimbulkan masalah bagi dirinya dan lingkungannya. Tidak jarang pula ditemukan tingkah laku yang tidak wajar yang dinampakkan sebagai akibat dari kegagalan dalam memenuhi kebutuhan, tingkah laku tersebut dapat digolongkan kepada tingkah laku yang menyimpang.

2 2 Tingkah laku menyimpang merupakan suatu masalah yang dapat mengakibatkan kesukaran-kesukaran atau kelainan-kelainan terhadap perkembangan kepribadian seseorang dan dapat menimbulkan keluhan bagi orang tua, sekolah serta masyarakat dalam mengatasinya. Dalam kehidupan sehari-hari penyimpangan tingkah laku yang dilakukan siswa di sekolah berupa melanggar peraturan sekolah atau norma-norma yang ada di sekolah. Zakiah Darajat (1985 : 10) dalam bukunya Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia mengatakan bahwa : Belakangan ini banyak terdengar keluhan-keluhan orang tua, ahli pendidik dan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang agama dan sosial, kebingungan dalam menghadapi anak-anak yang sedang berumur belasan tahun dan mulai remaja, mereka sukar untuk dikendalikan, nakal, keras kepala, berbuat keonaran, maksiat dan hal-hal yang mengganggu ketentraman umum. Penyimpangan tingkah laku yang ditunjukkan oleh siswa bisa relative berat ataupun ringan, adapula yang bisa menimbulkan kesukaran daya pikir dan bisa mempengaruhi keadaan jiwanya, gangguan gairah atau modivikasi, gerak gerik serta ucapan. Djumhur dan Mohd Surya (1975 : 22) menyebutkan beberapa gejala dari kelainan tingkah laku sering dinampakkan siswa di sekolah adalah : sikap agresif, rasa rendah diri, bersifat bandel, menentang guru, mengacau dalam kelas, menyendiri, menarik perhatian, mencuri dan membolos. Untuk memecahkan masalah penyimpangan tingkah laku yang dilakukan siswa sesuai dengan tingkatan berat atau ringan penyimpangan tersebut, maka guru atau konselor maupun orang tua mempunyai tugas untuk mengusahakan cara tertentu untuk mencegah dan menanggulanginya serta membina kearah yang lebih baik.

3 3 Hakekat Strategi Strategi adalah metode yang digunakan dalam melakukan sesuatu. Menurut Apriani Fitri (2004 : 63) bahwa strategi adalah cara yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan hasil yan telah ditetapkan. Menurut Harli Dawi (2008 : 84) bahwa strategi adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Jadi strategi adalah tenik, metode, cara dan pendekatan yang digunakan dalam melakukan kegitan untuk mecapai sesuatu yang diinginkan, dicita-citakan. Hakekat Guru Menurut Uzer Usman (1990:1) guru adalah : Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang tanpa memiliki keahlian sebagai guru. Menurut Ateng (1987:89) bahwa guru merupakan seseorang yang memiliki syarat-syarat khusus sebagai guru yang profesional yang harus menguasai seluk beluk pendidikan dengan berbagai pengetahuan yang perlu dikembangakan melalu masa pendidikan tertentu. Guru merupakan orang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan bidang keguruan terutama dalam bidang mendidik, mengajar dan melatih. Guru orang yang memiliki profesional keguruan yang diperoleh melalui masa tertentu dalam pendidikan keguruan. Guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru, maka tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih.

4 4 Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan meliputi bahwa guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Guru harus mampu menarik simpati sehingga guru menjadi idola para siswa. Pelajaran yang diberikan hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswa dalam belajar. Keberadaan guru bagi suatu bangsa amatlah penting, terutama bagi bangsa yang sedang membangun, terlebih-lebih bagi keberlangsungan hidup bangsa ditengah-tengah lintasan zaman dengan teknologi yang kian canggih dan segala perubahan yang dapat membawa manusia kearah yang lebih baik sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Hakekat Membina Menurut Arifin (1982:108) bahwa Membina adalah usaha, tindakan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Membina adalah serangkaian tindakan atau usaha yang sengaja dilakukan oleh seseorang untuk mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Membina adalah proses kegiatan atau tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam rangka mengembangkan membimbing dan menyempurnakan kemampuan anak yang belum dewasa sehingga pada akhirnya anak tersebut memiliki baik fisik maupun mental secara sempurna, sehingga mampu bertanggung jawab baik terhadap dirinya maupun kepada keluarga, masayarakat, bangsa dan negara serta agama.

5 5 Hakekat Tingkah Laku Menyimpang Tingkah laku menyimpang adalah tingkah laku yang dinilai menyimpang dari aturan-aturan normatif yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu. Tingkah laku menyimpang dapat pula didefinisikan sebagai keluhan atau keadaan pada umumnya tidak dapat diterima oleh masayarakat. Dalam penyimpangan tingkah laku, di sekolah sering terjadi hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan atau peraturan di sekolah, siswa dalam kehidupannya di sekolah selalu melakukan berbagai aktivitas yang mengarah kepada perubahan tingkah laku baik dalam belajar, bergaul sesama teman, penyusuaian dirinya dengan keadaan sekolah dan dalam melakukan aktivitas-aktivitas belajar. Namun demikian siswa dalam bertingkah laku tidak selalu mengarah kepada apa yang diinginkan oleh sekolah, melainkan adanya penyimpangan tingkah laku, baik penyimpangan terhadap ketentuan sekolah maupun dalam penyusaian diri dengan diri sendiri. Untuk lebih jelas tantang pengertian tingkah laku menyimpang dapat dilihat dari defenisi yang dikemukakan oleh para ahli. adalah : Cohen (Saparinah Sadli, 1997:16) mengemukakan pengertian tingkah laku menyimpang a. Tingkah laku yang menyimpang dari aturan-aturan normatif atau dari pengharapan masyarakat. b. Tingkah laku yang secara statistik abnormal.

6 6 c. Tingkah laku yang secara sosial dinilai tidak baik. Selain itu Saparinah Sadli (1977:35) mengatakan bahwa : Tingkah laku menyimpang adalah sebagai kelakuan atau keadaan pada umumnya tidak diinginkan seperti gangguan mental, cacat fisik, dipandang rendah dalam kelompok, kriminalitas. Dari kedua pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tingkah laku menyimpang adalah suatu tingkah laku atau sikap hidup yang tidak diterima oleh masyarakat. Dalam masyarakat selalu ada norma-norma sosial atau aturan normatif. Tingkah laku menyimpang juga dikatakan dengan tingkah laku yang abnormal, dalam hal ini Kartini Kartono (1981:16) mengatakan bahwa : Tingkah laku abnormal atau tingkah laku menyimpang dengan gangguan internal dan mengganggu kepribadian seseorang. Becker (Saparinah Sadli, 1977:52) mengatakan bahwa : Tingkah laku menyimpang bukanlah kwalitas tindakan yang dilakukan oleh seseorang, tetapi konsekwensi dari diterapkannya aturan-aturan atau sangsi terhadap mereka yang diberi label sebagai pelanggar atauran-aturan normatif yang berlaku. Setelah melihat beberapa pendapat para ahli tentang pengertian tingkah laku menyimpang, dapat diambil kesimpulan bahwa tingkah laku menyimpang adalah tingkah laku yang dinilai menyimpang dari aturan-aturan normatif yang berlaku. Aturan-aturan normatif selalu menetapkan bagi individu yang bersangkutan tentang apa yang harus dilakukan, apa yang diharapkan, apa yang baik dan apa yang diinginkan oleh masyarakat.

7 7 Kriteria Tingkah Laku Menyimpang Untuk mengetahui menyimpang tidaknya tingkah laku seseorang dapat didasarkan pada kriteria-kriteria. Norman Cameron (1972:10) mengatakan kriteria tingkah laku menyimpang yang digunakan adalah : a. Kriteria tingkah laku menyimpang secara statistik adalah untuk menemukan sesuatu patokan tentang normal tidaknya tingkah laku yang dilakukan seseorang. Tingkah laku yang dilakukan oleh banyak orang atau umumnya disebut tingkah normal, sedangkan tingkah laku abnormal atau tingkah laku menyimpang. b. Berdasarkan kriteria kenormalan dengan keseimbangan pribadi yang dirasakan seseorang. Seseorang merasa tertekan, tidak bahagia, tidak memiliki perasaan aman, tidak mampu menciptakan hubungan yang erat dan lama, tidak bahagia dan bingung atau diganggu oleh ketidakmampuannya mengontrol pikiran disebut abnormal atau menyimpang. Seseorang merasa dirinya aman, mampu menciptakan hubungan yang erat dan lama, merasa bahagia dan mampu mengontrol pikiran disebut normal. c. Berdasarkan kriteria social conformity adalah masyarakat mengharapkan manusia tumbuh dan berkembang serta bertingkah laku sesuai dengan norma-norma dan harapan masyarakat. Seseorang disebut normal bila perilakunya sesuai dengan norma-norma atau harapan masyarakat dan bila tidak sesuai dengan norma-norma atau harapan masyarakat disebut menyimpang. d. Dalam pendekatan normal pengertian normasisasi adalah adanya kesesuaian dari bermacam-macam elemen-elemen pada mental dan fungsi emosi, apabila tidak terdapat keharmonisan pada beberapa mental dan fungsi emosi disebut abnormal atau menyimpang. Kartini Kartono (1981:3-4) menyebutkan kriteria abnormal adalah : a. Abnormal dipandang dari segi pathologis b. Abnormal dipandang dari segi statistik c. Abnormal dipandang dari segi kulturil/kebudayaan.

8 8 Dari kutipan di atas jelaslah bahwa untuk melihat menyimpang tidaknya tingkah laku seseorang haruslah didasarkan pada beberapa kriteria yang menjadi batasan atau patokan daripada tingkah laku menyimpang. Jenis-jenis Tingkah Laku Menyimpang A. Psikhosa ialah suatu bentuk kekalutan mental yang dicirikan dengan adanya desintegresi kepribadian dan terputusnya hubungan diri dengan ralitas hidup. Adapun ciri-ciri dari pada psikhosa menurut Kartini Kartono (1983:76) adalah : a. Tingkah laku dan hubungan sosial selalu a-sosial, selalu menentang lingkungan kebudayaan serta norma moral. b. Sering berbuat kasar, sikapnya tidak menyenangkan orang lain. c. Pergi tanpa tujuan. d. Tidak mampu memahami arti kebaikan dan kesusilaan. e. Ada disorientasi terhadap lingkungannya. f. Tidak pernah bersikap loyal terhadap seseorang. g. Emosi tidak matang, tidak bisa bertanggung jawab. h. Penyimpangan seksual. yaitu : Selanjutnya Kartini Kartono (1981:116) membagi pskhosa dalam dua kelompok a. Psikhosa Organik, disebabkan oleh faktor fisik dan intern serta mengalami gangguan mental, maladjustment secara sosial dan tidak mampu bertanggung jawab. b. Psikhosa Fungsionil, disebabkan oleh faktor non organik sifatnya, sehingga terjadi kepecahan kepribadian dan maldjusment. Terdapat pula gangguan pada karakter dan fungsi intelektuil. c. Lebih lanjut Kartini Kartono (1981 : 118) kedua sifat tersebut memiliki ciri : 1. Neurosa yaitu gangguan jiwa. a. Neurasthenia. b. Hysteria. c. Psychastenia. d. Ngomol e. Kepribadian psychopathy.

9 9 f. Keabnormalan seksuil. 2. Psychosa yaitu sakit jiwa a. Schizophrenia. b. Paranoid. c. Manic-despressive. B. Jenis tingkah laku menyimpang yang diteliti, yang ditunjukkan siswa di sekolah adalah : a. Mencuri Mencuri adalah suatu bentuk tingkah laku yang tidak dapat diinginkan ataupun tingkah laku yang bersifat nakal dan tidak terpuji. Apabila sudah sering dilakukan individu akan membawa akibat buruk terhadap perkembangan kepribadiannya. b. Berbohong Siswa yang melakukan kebohongan biasanya hidup dalam suasana lingkungan yang tidak mempunyai sikap jujur baik dalam perkataan ataupun dalam perbuatan tidak ada batas kebenaran. c. Membolos Siswa yang tidak menemukan hal-hal yang bisa memuaskan keinginan di sekolah akan dicarikan di luar lingkungan sekolah. Siswa membolos karena tidak menguasai materi pelajaran, siswa merasa bosan berada terlalu lama di dalam kelas.

10 10 d. Negativisme Negativisme adalah suatu bentuk tingkah laku menentang guru, melanggar tata tertib sekolah, mengganggu teman serta membuat keributan dalam kelas. Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Tingkah Laku Menyimpang Tingkah laku terbaik akibat adanya pengaruh dari dalam dan dari luar. Dari kedua pengaruh baik pengaruh dari luar ataupun dari dalam tersebut dapat berpadu menjadi tingkah laku yang selaras dengan lingkungan, apabila tingkah laku yang terbentuk dapat diterima oleh lingkungan masyarakat. Sebaliknya tingkah laku yang terbentuk adalah tingkah laku yang menyimpang. Faktor-faktor penyebab timbulnya tingkah laku menyimpang dapat dikelompokkan atas faktor intern dan faktor ekstern. 1. Faktor Intern adalah dalam diri individu, yang terdiri dari dua gologngan : - Faktor Psikologis. a. Intelegensi b. Bakat c. Minat d. Motivasi e. Perasaan dan sikap -. Faktor Fisiologis yaitu cacat jasmani. Cacat jasmani pada diri individu yang bersangkutan pada umumnya tidak mampu menjaga dirinya. Itelegensinya menjadi sangat tidak bisa berkembang, individu tersebut tidak mengerti dan tidak diajari. Individu yang mempunyai cacat jasmani selalu diliput rasa malu, perasaan harga diri rendah.

11 11 Mengenai cacat jasmani Kartini Kartono (1983:61) mengatakan bahwa individu yang mempunyai cacat jasmani merasa malu dan sangat menderita batinnya. Hari depan mereka terasa gelap, dipenuhi rasa malu, ketakutan dan ragu-ragu. Kondisi sarafnya selalu dalam keadaan tegang individu merasa selalu gagal dalam segala hal karena menyangka orang lain melakukannya. Dari pengertian tersebut di atas bahwa individu yang mempunyai cacat jasmani tidak memiliki semua dalam mencapai prestasi. Hilang keberanian untuk melanjutkan perjalanan hidup karena dibayangi oleh perasaan diri tidak mampu dan rasa rendah diri. 2. Faktor Ekstern adalah faktor diluar diri individu yang termasuk dalam faktor ekstern adalah : a. Faktor Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan tempat yang pertama-tama individu belajar dan menyatakan dirinya sebagai makhluk sosial dalam hubungannya dengan kelompok keluarga. Keluarga dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap sikap dan tingkah laku seseorang dikemudian hari. Sikap dan tingkah laku individu dalam pergaulannya dalam masyarakat mencerminkan berbagai kehidupan keluarganya. Keluarga yang baik adalah merupakan tempat pendidikan yang baik pula bagi individu, sebaliknya individu yang hidup dalam satu keluarga yang tidak harmonis akan membawa pengaruh buruk terhadap perkembangan sikap dan tingkah laku individu sehari-hari. Romli Atmasasmita (1983:55) mengatakan bahwa : Keluarga sangat memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian si anak, maka tingkah laku dan pergaulan serta harmonisasi atau kerukunan orang tuanya selain menjadi perhatian dan teladan bagi anak. Dengan adanya kerukunan orang tua, anak merasa adanya keamanan dalam kehidupan.

12 12 b. Faktor Lingkungan Sekolah Kedaan sekolah yang tidak memenuhi persyaratan akan menimbulkan konflik bagi siswa, adapula guru-guru yang datangnya tidak teratur serta bersikap masa bodoh terhadap siswa, sehingga siswa banyak mengalami kesulitan atau frustasi dengan demikian hubungan yang baik antara guru dengan siswa dapat membekali siswa dengan norma-norma yang baik pula. Sedangkan adanya salah didik dari pihak guru akan membawa siswa kepada penyimpangan tingkah laku yang berbentuk siswa mulai membenci kepada guru dan tidak menyukai sekolah, tidak menyukai disiplin dan membangkang perintah guru. B. Simandjuntak (1981:120) mengatakan bahwa : Kondisi sekolah, sistim pengajaran disekolah tidak menguntungkan akan menjurus siswa kepada tingkah laku yang tidak baik. Siswa tidak mendapat kepuasan di sekolah, siswa merasa bosan akan pelajaran sehingga tidak mencapai hasil yang baik. Pelajaran tidak sesuai dengan kesanggupan dan minat siswa dan tidak mendapat bimbingan tentang pelajaran yang efektif. Ketidakpuasan tersebut mengakibatkan siswa sering meninggalkan sekolah. Perbuatan membolos akan mengarah kepada perbuatan tidak baik, sering pula tingkah laku yang dinampakkan bertentangan dengan harapan sekolah, sehingga sekolah sebagai lingkungan kedua dari siswa, mengalami kegagalan dalam membentuk kepribadian yang baik sebagaimana yang diharapkan oleh keluarga serta masyarakat. Siti Rahayu (Safiyuddin Sastrawijaya, 1977:31) menemukan berupa kemungkinan timbulnya tingkah laku menyimpang adalah :

13 13 f. Akibat dari pada frustasi yang bertumpuk-tumpuk. g. Untuk memenuhi kebutuhan atau dalam mengatasi masalah. h. Sebagai akibat dari pada adanya tekanan batin. Guru dalam Membina Siswa yang Bertingkah Laku Menyimpang Guru dalam membina dan pencegahan terhadap tingkah laku menyimpang yang dilakukan siswa adalah dilakukan oleh pendidik yaitu guru, dan guru pembimbing sekolah. Karena mereka yang memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian yang wajar dengan mental yang sehat. Usaha pendidik ini diarahkan kepada siswa dengan mengamati, memberikan perhatian dan mengawasi setiap gejala penyimpangan tingkah laku siswa di sekolah. Adapun usaha yang dilakukan wali kelas dalam membina, mencegah dan mengulangi siswa yang melakukan tingkah laku meyimpang ada dua cara yaitu usaha preventif dan usaha kuratif. 1. Usaha Preventif Usaha preventif yaitu usaha mencegah terjadinya pengaruh buruk yang dapat menimbulkan kesulitan bagi siswa, memelihara situasi yang baik dan menjaga situasi tersebut tetap baik dan terpelihara. Usaha guru yang bersifat preventif dapat ditempuh dengan usaha pembinaan yang terarah akan mengembangkan diri akan tercapai dan tercipta suatu hubungan yang serasi antara aspek rasio dan aspek emosi. Pikiran yang sehat akan mengarahkan siswa kepada perbuatan yang wajar, sopan dan bertanggung jawab.

14 14 Usaha preventif yang dilakukan konselor yang berupa bimbingan terhadap siswa yang melakukan tingkah laku menyimpang dengan tujuan untuk menambah pengertian mengenai : a. Pengenalan diri sendiri yaitu menilai diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain. b. Penyesuaian diri yaitu mengenali dan menerima tuntutan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut. c. Mengarahkan kepribadian siswa ke arah pembatas antara pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai sosial, normal dan etik. 2. Usaha Kuratif Usaha kuratif yang merupakan usaha wali kelas dalam penyembuhan, pembentukan terhadap siswa yang melakukan tingkah laku menyimpang dan merupakan suatu proses perubahan pada diri siswa, baik dalam bentuk pandangan, sikap agar dapat menerima dirinya sendiri secara optimal. Dalam usaha kuratif konselor ikut serta aktif dalam kegiatan bimbingan yang bertujuan untuk membantu siswa agar tercapai suatu kehidupan pribadi yang memuaskan dan secara sosial memuaskan. Usaha kuratif dapat ditempuh dengan : a. Pemahaman individu, yaitu konselor harus dapat memahami siswa bermasalah serta motif bertingkah laku.

15 15 b. Pengembangan diri, yaitu mengembangkan serta menumbuhkan cara berfikir dan bertingkah laku secara sehat dengan kemungkinan yang ada pada diri siswa serta lingkungan. c. Membantu siswa menyempurnakan cara-cara penyesuaiannya dan memberikan bimbingan serta bantuan kepada siswa untuk mengadakan pilihan, penyesuaian yang bijaksana dan mampu memecahkan masalah sendiri. B. Simanjuntak (1984:144) menyebutkan usaha untuk menanggulangi dan usaha bimbingan terhadap siswa yang melakukan tingkah laku menyimpang adalah : a. Usaha pencegahan adalah : - Usaha Pemerintah. - Usaha Swasta. b. Usaha bimbingan yang merupakan suatu usaha untuk menemukan, menganalisa dan mencegah kesulitan atau masalah yang dihadapi individu dengan cara : - Dapat mengerti pribadi individu dan minatnya. - Mencari hasil sebaik-baiknya dalam kehidupan sendiri. - Memberikan cinta kasih sepenuhnya. - Menanamkan nilai spiritual dan agama. - Membantu orang lain. B. Simanjutak (1984:151) mengatakan bahwa : Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri untuk melakukan penyelesaian diri secara maksimal kepada keluarga, sekolah dan masyarakat.

16 16 Adapun usaha bimbingan dan penyuluhan di sekolah oleh Koestoer Partowisastro (1985:82) antara lain : a. Usaha preventif yaitu pencegahan sebelum terjadinya atau timbulnya masalah-masalah dari anak didik. b. Usaha-usaha preventif yaitu memeliharan situasi yang baik dan menjaga supaya situasi tersebut tetap baik. c. Usaha kuratif yaitu berusaha atau penyembuhan dan pembetulan dalam mengatasi masalah-masalah. d. Usaha rehabilitasi yaitu berusaha mengembalikan anak didik ke dalam situasi yang baik pula. Berdasarkan kutipan di atas jelaslah bahwa usaha pencegahan dan usaha bimbingan di sekolah memegang peranan penting dalam usaha mengatasi kesulitan siswa. Karena bimbingan adalah suatu bantuan yang diberikan kepada siswa secara terus menerus supaya siswa dapat memahami diri sendiri. Sanggup mengarahkan diri dan bertingkah laku wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. PENUTUP Guru dalam membina anak yang bertingkah laku menyimpang dilakukan dengan cara menasehati anak agar jangan berbuat perbuatan yang tidak baik. Membimbing ke arah yang baik bagi siswa yang bertingkah laku menyimpang. Menegur siswa yang bertingkah laku menyimpang, sehingga anak tidak akan melakukan perbuatan yang menyimpang. Bekerjasama dengan guru yang lain dan dengan orang tua dalam membina siswa yang bertingkah laku

17 17 menyimpang di sekolah. Dalam membina anak yang melakukan perbuatan yang menyimpang dilakukan dengan penuh tanggungjawab. Lebih jelas bahwa dalam usaha bimbingan dan penyuluhan di sekolah ada empat usaha yaitu preventif, usaha presertatif, usaha kuratif dan usaha rehabilitas. DAFTAR KEPUSTAKAAN Afriani Fitri (2004). Strategi Guru Dalam Memotivasi Siswa Meningkatkan Prestasi Belajar. FKIP Universitas Abulyatama Aceh Besar Arikunto, Suharsimi, (1986). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : Bina Aksara. Ametembun, N. N, (1973). Guru dalam Administrasi Sekolah Pembangunan, IKIP : Bandung. Depdikbud, (1976). Kurikulum SPG Untuk Kelas I, II, III, Jakarta. Djumhur, I Moh. Surya, (1975). Bimbingan dan Penyuluhan Sekolah, CV. Ilmu Bandung. Hamalik, Oemar, (1983). Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar, Bandung : Tarsito. Harli Dawi (2008). Strategi Bidan dalam Memotivasi Ibu-Ibu membawa Anaknya Ke Posyandu Akademi Kebidanan Nadhirah Banda Aceh Hidayat, S. (1978). Pembinaan Generasi Muda, Surabaya : Studi. Natawijaya, Rachman, (1978). Penyuluhan di Sekolah, Bandung : Surabaya...., (1979). Ilmu Keguruan dan Pengembangan Alat Peraga dan Komunikasi Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nasution, S. (1973). Beberapa Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung : Jemmar. Nurhadi, A. Mulyani, (1982). Administrasi Pendidikan di Sekolah, Yogyakarta : Offeed. Rostiyah, N.K, (1982). Masalah-masalah Ilmu Keguruan, Jakarta : Bina Aksara. Soelaiman, Darwis A. (1979). Pengantar Kepada Teori dan Praktek Pengajaran, IKIP Semarang Press. Soemanto. Wasty, (1983). Psikologi Pendidikan, Malang : Bina Aksara. Surachmad, Winarno, (1984). Pengantar Interaksi Mengajar Belajar Dasar dan Teknik Metodologi Mengajar, Bandung : Tarsito.

18 18

BAB II LANDASAN TEORI. masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang. yang sangat penting baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan

BAB II LANDASAN TEORI. masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang. yang sangat penting baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan 15 BAB II LANDASAN TEORI A. Guru dan Orang Tua 1. Pengertian Guru dan Orang Tua a. Pengertian Guru Guru atau disebut juga dengan tenaga kependidikan adalah; anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan

Lebih terperinci

HUBUNGAN MOTIVASI ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SD TANGGEL WINONG PATI TAHUN AJARAN 2006/2007

HUBUNGAN MOTIVASI ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SD TANGGEL WINONG PATI TAHUN AJARAN 2006/2007 HUBUNGAN MOTIVASI ORANG TUA DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR IPA KELAS IV SD TANGGEL WINONG PATI TAHUN AJARAN 006/007 Skripsi Oleh AGUS P. ANDI W. NIM. K5103003 FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

MOTIVASI GURU TERHADAP PEMBELAJARAN ANAK TUNAGRAHITA MAMPU DIDIK DI SLB NEGERI 2 YOGYAKARTA SKRIPSI

MOTIVASI GURU TERHADAP PEMBELAJARAN ANAK TUNAGRAHITA MAMPU DIDIK DI SLB NEGERI 2 YOGYAKARTA SKRIPSI MOTIVASI GURU TERHADAP PEMBELAJARAN ANAK TUNAGRAHITA MAMPU DIDIK DI SLB NEGERI 2 YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI Oleh: RESSA ARSITA SARI NPM : A1G009038 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Pola Pembinaan NAPI Anak sebagai Salah Satu Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Anak

Pola Pembinaan NAPI Anak sebagai Salah Satu Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pola Pembinaan NAPI Anak sebagai Salah Satu Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Gasti Ratnawati PENDAHULUAN Dalam rangka mewujudkan SDM yang berkualitas, anak sebagai generasi

Lebih terperinci

STUDI TENTANG CARA BELAJAR SISWA DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS II DI SMK BATIK 2 SURAKARTA TAHUN DIKLAT 2005/2006

STUDI TENTANG CARA BELAJAR SISWA DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS II DI SMK BATIK 2 SURAKARTA TAHUN DIKLAT 2005/2006 1 STUDI TENTANG CARA BELAJAR SISWA DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS II DI SMK BATIK 2 SURAKARTA TAHUN DIKLAT 2005/2006 SKRIPSI OLEH: PUTRI ARUMINGTYAS NIM : K 2402529 Skripsi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Pengertian Tingkat Pendidikan Orang Tua. terlebih dahulu akan dijelaskan tentang apa pengertian dari pendidikan.

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Pengertian Tingkat Pendidikan Orang Tua. terlebih dahulu akan dijelaskan tentang apa pengertian dari pendidikan. BAB II KAJIAN TEORI A. TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA 1. Pengertian Tingkat Pendidikan Orang Tua Sebelum menjelaskan tentang pengertian tingkat pendidikan orang tua, terlebih dahulu akan dijelaskan tentang

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh SITI AMILATUL FADLILAH 11408151

SKRIPSI. Oleh SITI AMILATUL FADLILAH 11408151 PENGARUH KESIBUKAN KERJA ORANG TUA TERHADAP PRESTASI MATA PELAJARAN FIQIH PADA SISWA KELAS II MI KETAPANG KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SKRIPSI Oleh SITI AMILATUL FADLILAH

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: Nama NIM PGPAUD

SKRIPSI. Oleh: Nama NIM PGPAUD SKRIPSI UPAYA PENINGKATANN KEMANDIRIAN ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADAA KELOMPOK A TAMAN KANAK-KANAK PERTIWI JATIROKEH SONGGOM BREBES Di ajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Tinjauan Umum Tentang Peranan Orang Tua. terkait oleh kedudukannya dalam struktur sosial atau kelompok sosial di

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Tinjauan Umum Tentang Peranan Orang Tua. terkait oleh kedudukannya dalam struktur sosial atau kelompok sosial di 13 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis 1. Tinjauan Umum Tentang Peranan Orang Tua a. Pengertian Peranan Secara umum peranan adalah perilaku yang dilakukan oleh seseorang terkait oleh kedudukannya

Lebih terperinci

SKRIPSI PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN DORONGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS XI SMUN I SUTOJAYAN BLITAR

SKRIPSI PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN DORONGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS XI SMUN I SUTOJAYAN BLITAR SKRIPSI PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN DORONGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS XI SMUN I SUTOJAYAN BLITAR Oleh ESTI MUFIDATUL CHUSNA 05130029 JURUSAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut:

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hasil Belajar Akuntansi a. Pengertian Hasil Belajar Akuntansi Belajar merupakan suatu kebutuhan mutlak setiap manusia. Tanpa belajar manusia tidak dapat bertahan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. PENGERTIAN DAN LANDASAN KODE ETIK PESERTA DIDIK. Kode etik (ethical cade), adalah norma-norma yang mengatur tingkah

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. PENGERTIAN DAN LANDASAN KODE ETIK PESERTA DIDIK. Kode etik (ethical cade), adalah norma-norma yang mengatur tingkah 13 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. PENGERTIAN DAN LANDASAN KODE ETIK PESERTA DIDIK 1. Pengertian Kode Etik Peserta Peserta Didik Kode etik (ethical cade), adalah norma-norma yang mengatur tingkah laku seseorang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 28 BAB II KAJIAN PUSTAKA 3. Hasil Belajar Matematika 3. Hasil Belajar Kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan belajar semua diperoleh mengingat mula-mula kemampuan itu belum ada. Maka terjadilah proses

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa 100 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMK Muhammadiyah 03 Singosari Malang Motivasi belajar merupakan

Lebih terperinci

Setiap individu memiliki tingkatan usia yang berbeda-beda, usia merupakan

Setiap individu memiliki tingkatan usia yang berbeda-beda, usia merupakan 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Manusia Lanjut Usia Bekerja 1. Pengertian Manusia lanjut usia Manusia lanjut usia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan

Lebih terperinci

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN EMOSI SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN UMBULHARJO YOGYAKARTA SKRIPSI

PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN EMOSI SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN UMBULHARJO YOGYAKARTA SKRIPSI PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KECERDASAN EMOSI SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN UMBULHARJO YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam M. THOWIL NIM : 11410088. Oleh:

SKRIPSI. Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam M. THOWIL NIM : 11410088. Oleh: UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR AKIDAH AKHLAK MELALUI METODE TANYA JAWAB (PENELITIAN PADA SISWA KELAS I SD NEGERI GIRIMULYO KECAMATAN WINDUSARI KABUPATEN MAGELANG TAHUN AJARAN 2011 2012) SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

VI. PENGELOLAAN PESERTA DIDIK. A. Pengertian. B. Rekrutmen Peserta Didik. 1. Pendaftaran. 2. Syarat-syarat Pendaftaran

VI. PENGELOLAAN PESERTA DIDIK. A. Pengertian. B. Rekrutmen Peserta Didik. 1. Pendaftaran. 2. Syarat-syarat Pendaftaran VI. PENGELOLAAN PESERTA DIDIK A. Pengertian Dalam hal ini pengelolaan peserta didik menurut Hendayat Soetopo dan Wasty Soemanto (1982) adalah merupakan suatu penataan atau pengaturan segala aktivitas yang

Lebih terperinci

PENGARUH EFEKTIVITAS PROSES PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS VI DI MI YASPI LOSARI 1 PAKIS MAGELANG TAHUN 2012 SKRIPSI

PENGARUH EFEKTIVITAS PROSES PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS VI DI MI YASPI LOSARI 1 PAKIS MAGELANG TAHUN 2012 SKRIPSI PENGARUH EFEKTIVITAS PROSES PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS VI DI MI YASPI LOSARI 1 PAKIS MAGELANG TAHUN 2012 SKRIPSI DiajukanuntukMemperolehGelar SarjanaPendidikan Islam

Lebih terperinci

EN BANTUL SKRIPSI. Oleh

EN BANTUL SKRIPSI. Oleh HAMBATAN GURU PENDIDIKAN JASMANI DALAM PELAKSANAAN PEMBELAJARAN AKUATIKK DI SD N JIGUDANN DAN SD N GUMULAN KECAMATAN PANDAK KABUPATE EN BANTUL SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas

Lebih terperinci

HUBUNGAN HUKUMAN EDUKATIF DENGAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI 74 KOTA BENGKULU SKRIPSI. Oleh : RANDITA MAYASARI A1G009108

HUBUNGAN HUKUMAN EDUKATIF DENGAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI 74 KOTA BENGKULU SKRIPSI. Oleh : RANDITA MAYASARI A1G009108 i HUBUNGAN HUKUMAN EDUKATIF DENGAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SD NEGERI 74 KOTA BENGKULU SKRIPSI Oleh : RANDITA MAYASARI A1G009108 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN PROFESIONALISME GURU TERHADAP KINERJA GURU SEKOLAH DASAR NEGERI DI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES

PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN PROFESIONALISME GURU TERHADAP KINERJA GURU SEKOLAH DASAR NEGERI DI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN PROFESIONALISME GURU TERHADAP KINERJA GURU SEKOLAH DASAR NEGERI DI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES TESIS Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Pada Universitas

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Tingkah Laku Menyimpang. Tingkah laku menyimpang adalah tingkah laku tercela, yang dilakukan

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Tingkah Laku Menyimpang. Tingkah laku menyimpang adalah tingkah laku tercela, yang dilakukan 10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tingkah Laku Menyimpang 1. Pengertian Tingkah Laku Menyimpang Tingkah laku menyimpang adalah tingkah laku tercela, yang dilakukan oleh individu yang timbul akibat adannya faktor-faktor

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI)

KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) Oleh: Drs. Asmin, M. Pd Staf Pengajar Unimed Medan (Sedang mengikuti Program Doktor di PPS UNJ Jakarta) Abstrak. Membangun manusia pembangunan

Lebih terperinci

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN Masrinawatie AS Pendahuluan P endapat yang mengatakan bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau penerusan pengetahuan sudah ditinggalkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi terjadi dimana-mana; di rumah, di kampus, di kantor, dan

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi terjadi dimana-mana; di rumah, di kampus, di kantor, dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Komunikasi terjadi dimana-mana; di rumah, di kampus, di kantor, dan bahkan di masjid. Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Sebuah penelitian

Lebih terperinci

UNAAN MULTIMEDIA DASAR PENDIDIKAN. Skripsi. gelar. oleh

UNAAN MULTIMEDIA DASAR PENDIDIKAN. Skripsi. gelar. oleh KEEFEKTIFAN PENGGU UNAAN MULTIMEDIA MICROSOFT POWERP POINT TERHADAP HASIL BELAJAR IPS MATERI PERKEMBANGANTEKNOLOGI TRANSPORTASI PADA SISWA KELAS IV DI SEKOLAH DASAR NEGERI PESAYANGAN 01 KABUPATEN TEGAL

Lebih terperinci

PENGARUH HUKUMAN TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA

PENGARUH HUKUMAN TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA PENGARUH HUKUMAN TERHADAP TINGKAH LAKU SISWA Studi Kasus di Sekolah Dasar Islam Terpadu Meranti Senen Jakarta Pusat Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai

Lebih terperinci