BAB I PENDAHULUAN. (HIV/AIDS) merupakan salah satu penyakit yang hingga saat ini masih menjadi

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV)/ Accuired Immune Deficiency Syndrome (AIDS)

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut Profil Kesehatan Sumatera Utara Tahun 2013, salah satu penyakit

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodefficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 pasal 5 ayat 1, yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Imunnodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Imunne Deficiency

BAB I PENDAHULUAN. (HIV/AIDS) merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. World Health

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang awalnya

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala yang timbul akibat

BAB 1 : PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome atau yang lebih dikenal dengan

GLOBAL HEALTH SCIENCE, Volume 2 Issue 1, Maret 2017 ISSN

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dan masih sering timbul sebagai KLB yang menyebabkan kematian

BAB I PENDAHULUAN. Millennium Development Goals (MDGs), sebuah deklarasi global yang telah

BAB 1 PENDAHULUAN. kekebalan tubuh manusia, sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrom. penularan terjadi melalui hubungan seksual (Noviana, 2013).

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang mengakibatkan

Kegiatan Penanggulangan HIV/AIDS Melalui Serosurvey Di Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Sitti Fatimah 1, Hilmiyah 2

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV), merupakan suatu virus yang

BAB 1 PENDAHULUAN. menjalankan kebijakan dan program pembangunan kesehatan perlu

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini di berbagai belahan bumi mengalami masalah kesehatan

Situasi HIV & AIDS di Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di negara berkembang, dimana penyakit IMS membuat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus golongan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kesehatan masyarakat yang yang dialami Indonesia saat ini sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

BAB I PENDAHULUAN. Angka HIV/AIDS dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut laporan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan HIV/AIDS di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan karena

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan kasus-kasus baru yang muncul. Acquired Immuno Deficiency

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. masalah dunia karena melanda di seluruh negara di dunia (Widoyono, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. diselesaikan. Pada akhir abad ke-20 dunia dihadapkan dengan permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. hangat dibahas dalam masa sekarang ini adalah penyakit HIV/AIDS (Human

SKRIPSI. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun Oleh :

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. Pandemi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), saat ini merupakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Jumlah keseluruhan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau orang

BAB 1 PENDAHULUAN. kekebalan tubuh manusia. Acquired Immunodeficiency Syndrome atau AIDS. tubuh yang disebabkan infeksi oleh HIV (Kemenkes RI, 2014).

BAB 1 PENDAHULUAN. belum ditemukan, yang dapat mengakibatkan kerugian tidak hanya di bidang

BAB I PENDAHULUAN. masalah berkembangnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Masalah HIV/AIDS yang

BAB I PENDAHULUAN. menjadi prioritas dan menjadi isu global yaitu Infeksi HIV/AIDS.

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah HIV-AIDS, mulai dari penularan, dampak dan sampai

BAB 1 PENDAHULUAN. AIDS (Aquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. penyakit HIV/ AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acguired Immun Deficiency

Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS Pada Penduduk Usia Muda. Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional

BAB I PENDAHULUAN. yang diakibatkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus). Jalur transmisi

I. Identitas Informan No. Responden : Umur : tahun

BAB I PENDAHULUAN. suatu pendekatan untuk meningkatkan kemauan (willingness) dan. meningkatkan kesehatannya (Notoatdmodjo, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. macam pekerjaan rumah tangga. Sedangkan HIV (Human Immuno Virus)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

WALIKOTA GORONTALO PERATURAN DAERAH KOTA GORONTALO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. tinggal dalam darah atau cairan tubuh, bisa merupakan virus, mikoplasma, bakteri,

BAB 1 PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs)

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Angka morbiditas dan angka mortalitas yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB II TINJAUAN PUSTAKA sudah mencapai tahap terkonsentrasi pada beberapa sub-populasi berisiko

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Sejak kasus pertama dilaporkan pada tahun 1981, Acquired Immune

BAB I PENDAHULUAN. (2004), pelacuran bukan saja masalah kualitas moral, melainkan juga

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG

WALIKOTA DENPASAR PERATURAN WALIKOTA DENPASAR NOMOR 21 TAHUN 2011 T E N T A N G PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DI KOTA DENPASAR WALIKOTA DENPASAR,

BAB 1 PENDAHULUAN. AIDS (Aquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala

BAB 1 PENDAHULUAN. Di Indonesia pelaku transeksual atau disebut waria (Wanita-Pria) belum

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh menurunnya daya tubuh akibat infeksi oleh virus HIV

HIV/AIDS. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Indonesia tahun , BPS, BAPPENAS, UNFPA, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA penjamu. imun, hal ini terjadi karena virus HIV menggunakan DNA dari CD4 + dan

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) termasuk salah satu

BAB I PENDAHULUAN. masalah HIV/AIDS. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang

OLEH A A ISTRI YULAN PERMATASARI ( ) KADEK ENA SSPS ( ) WAYLON EDGAR LOPEZ ( )

2013 GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI KELAS XI SMA YADIKA CICALENGKA

BAB I PENDAHULUAN. STUDI ini secara garis besar memotret implementasi program LSM H2O (Human

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PENANGGULANGAN HIV/AIDS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV (Human Imunodeficiency Virus) merupakan penyebab penyakit yang di

I. PENDAHULUAN. pasangan yang sudah tertular, maupun mereka yang sering berganti-ganti

BAB I PENDAHULUAN. menunjukkan jumlah kasus Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah suatu. kumpulan gejala penyakit kerusakan sistem kekebalan tubuh, bukan

1 DESEMBER HARI AIDS SE-DUNIA Stop AIDS: Akses untuk Semua! Mardiya. Kondisi tersebut jauh meningkat dibanding tahun 1994 lalu yang menurut WHO baru

BAB 1 PENDAHULUAN. Pola penyakit yang masih banyak diderita oleh masyarakat adalah penyakit

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit HIV/AIDS merupakan suatu penyakit yang terus berkembang

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tubuh manusia dan akan menyerang sel-sel yang bekerja sebagai sistem kekebalan

BAB I PENDAHULUAN. sistem imun dan menghancurkannya (Kurniawati, 2007). Acquired

BAB I PENDAHULUAN. dalam kurun waktu adalah memerangi HIV/AIDS, dengan target

BAB 1 PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs)

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome,

Pelibatan Komunitas GWL dalam Pembuatan Kebijakan Penanggulangan HIV bagi GWL

BAB I PENDAHULUAN. Jumlah perempuan yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dari tahun

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) merupakan salah satu penyakit yang hingga saat ini masih menjadi penyakit yang epidemi. Penyebaran infeksi HIV terus berlangsung, dan merampas kekayaan setiap negara karena sumber daya manusia produktifnya menderita. Pada beberapa kawasan, ledakan HIV bersamaan dengan multikrisis lainnya sehingga menambah keterpurukan kawasan tersebut. United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) pada tahun 2013 melaporkan bahwa secara global hingga tahun 2012 tercatat sekitar 35,3 juta orang di dunia menderita HIV, yang terdiri dari 32,1 juta kasus orang dewasa, 17,7 juta wanita, dan sebanyak 3,3 juta kasus kelompok anak-anak yang berusia <15 tahun. Sementara itu untuk kasus yang hanya terjadi pada tahun 2012 saja, terdapat sekitar 2,3 juta orang yang terdiri dari 2,0 juta kasus orang dewasa, dan 260.000 kasus kelompok anak-anak berusia <15 tahun. Data UNAIDS tersebut juga menunjukkan bahwa tercatat kejadian kematian akibat AIDS sebanyak 1,6 juta orang yang terdiri dari sekitar 1,4 juta kasus orang dewasa, dan 210.000 kasus anak usia <15 tahun sepanjang tahun 2012. Angka kejadian HIV/AIDS di Asia Selatan dan Asia Tenggara menurut UNAIDS (2013) menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 3,9 juta penduduk yang menderita HIV sampai dengan tahun 2012, dan 270.000 penduduk yang baru 1

menderita HIV pada tahun 2012. Angka kejadian HIV/AIDS di Asia Bagian Selatan dan Asia Tenggara ini menempati urutan ketiga tertinggi setelah negara bagian Sub Sahara Afrika dan Afrika Utara (UNAIDS, 2013). Infeksi HIV adalah infeksi kronis yang dalam waktu panjang akan berkembang menjadi AIDS dan berakhir dengan kefatalan. Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Desember 2013, HIV/AIDS tersebar di 368 kabupaten/kota dari 497 kabupaten/kota (72%) di seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi pertama kali ditemukan adanya kasus HIV/AIDS adalah Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011 (Dirjen PP&PL Kemenkes RI, 2013). Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia berdasarkan laporan dari Dirjen PP&PL Kemenkes RI (2013) secara kumulatif yang dilaporkan sejak 1 Januari 1987 hingga 31 Desember 2013 terdiri dari 127.416 kasus HIV dan 52.348 kasus AIDS. Sementara itu, untuk kasus sepanjang tahun 2013 terhitung dari bulan Januari hingga Desember 2013 saja terdapat sebanyak 29.037 kasus HIV dan 5.608 kasus AIDS di Indonesia. Jumlah infeksi HIV tertinggi pada tahun 2013 yaitu di DKI Jakarta sebanyak 28.790 kasus, diikuti Jawa Timur 16.253 kasus, Papua 14.087 kasus, Jawa Barat 10.198 kasus dan Bali 8.059 kasus. Sementara itu Sumatera Utara dengan angka kasus HIV sebanyak 7.967 menduduki peringkat keenam tertinggi setelah Provinsi Bali. Sementara untuk kasus AIDS, tertinggi Papua sebanyak 10.116 kasus, menyusul Jawa Timur 8.725 kasus, DKI Jakarta 7.477 kasus, Jawa Barat 4.131 kasus, dan Bali 2

3.985 kasus. Sementara itu untuk di Sumatera Utara terdapat 1.301 kasus AIDS (Dirjen PP&PL Kemenkes RI, 2013). Data Dirjen PP&PL Kemenkes RI (2013) selama 5 tahun terakhir menunjukkan terjadi peningkatan kasus HIV dan AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun. Tahun 2009 sebanyak 9.793 kasus HIV dan 5.483 kasus AIDS, meningkat tahun 2010 menjadi 21.591 kasus HIV dan 6.845 kasus AIDS, tahun 2011 21.031 kasus HIV dan 7.004 kasus AIDS, terakhir tahun 2012 terdapat 21.511 kasus HIV. Situasi masalah AIDS sejak tahun 1987 hingga Desember 2013 di Indonesia mencatat bahwa secara kumulatif kasus AIDS tertinggi terjadi pada kelompok umur 20-29 tahun (34,2%), kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (29%), 40-49 tahun (10,8%), 15-19 (3,3%), dan 50-59 tahun (3,3%). Persentase AIDS pada lakilaki sebanyak 55,1% dan perempuan 29,7% sementara itu sebanyak 15,2 % tidak melaporkan jenis kelamin. Jumlah AIDS tertinggi adalah pada ibu rumah tangga (6.230), diikuti wiraswasta (5.892), tenaga non-profesional/karyawan (5.287), petani/peternak/nelayan (2.261), buruh kasar (2.047), penjaja seks (2.021), pegawai negeri sipil (1.601), dan anak sekolah/mahasiswa (1.268). Faktor risiko penularan AIDS terbanyak melalui heteroseksual (62.5%), penasun (16.1%), diikuti penularan melalui perinatal (2,7%), dan homoseksual (2,4%) (Dirjen P&PL Kemenkes RI, 2013). Dalam Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Utara tahun 2012 tercatat bahwa di Sumatera Utara dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan HIV/AIDS yang begitu tajam. Pada tahun 2010 jumlah kasus baru untuk HIV (+) di provinsi Sumatera Utara yaitu 171 kasus dan AIDS sebanyak 468 kasus. Penambahan kasus baru pada 3

tahun 2011 menyebabkan peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS secara keseluruhan menjadi 3.237 kasus. Pada tahun 2012, jumlah kasus HIV/AIDS meningkat tajam mejadi 6.430 kasus dengan rincian, 2.189 kasus HIV/AIDS. Berdasarkan karakteristik penderita diketahui penderita terbanyak adalah pria sekitar 75% dan wanita yaitu 25%. Tiga kabupaten/kota yang menduduki peringkat tertinggi di Sumatera Utara berturut-turut adalah kota Medan yaitu 506 kasus (34,56%), Kabupaten Karo 347 kasus (23,70%) dan Kabupaten Deli Serdang sebanyak 172 kasus (11,75%) dari total seluruh penderita baru. Sumber penularan terbanyak melalui hubungan heteroseksual 65% dan pengguna jarum suntik (IDUs) 26%. Persentase penularan dari ibu ke bayi (parenteral) meningkat dari 0,6% tahun 2007 menjadi 1,6% pada tahun 2012. Berdasarkan golongan umur yaitu 84% adalah kelompok usia 20-39 tahun. Berdasarkan kebangsaan diketahui 99,2% adalah Warga Negara Indonesia (WNI) (Dinkes Provinsi Sumatera Utara, 2012). Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), risiko penularan HIV tidak hanya terbatas pada sub-populasi yang berperilaku risiko tinggi, tetapi juga dapat menular pada pasangan atau istrinya, bahkan anaknya. Diperkirakan pada akhir tahun 2015 akan terjadi penularan HIV secara kumulatif pada lebih dari 38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV. Para ibu ini sebagian besar tertular dari suaminya (KPAN, 2007). UNAIDS (2006) mengungkapkan bahwa infeksi HIV/AIDS tidak terjadi pada golongan tertentu saja atau di wilayah tertentu saja, melainkan dapat terjadi pada semua golongan umur dan semua lokasi terutama mereka yang melakukan penyimpangan perilaku seksualnya, karena tertinggi 4

penularan terjadi melalu hubungan seks, diikuti dengan pemakaian alat suntik tercemar, dan juga melalui transfusi darah yang tercemar. Sejak pertama seseorang terinfeksi HIV, ia sudah berpotensi menularkan HIV kepada orang lain melalui cara-cara penularannya. Perjalanan HIV menjadi AIDS memerlukan waktu bertahun-tahun dan sebelum seseorang masuk dalam AIDS orang tersebut tampak sehat tanpa gejala. Maka, tanpa diwaspadai oleh yang bersangkutan dan orang lain, selama itu pula orang tersebut berpotensi menularkan pada orang lain. Menghadapi bertambahnya kasus baru HIV perlu dilakukan akselerasi program penganggulangan HIV/AIDS. Bersamaan dengan itu, perlu dibangun sistem penanggulangan HIV/AIDS jangka panjang yang komprehensif mencakup program pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan serta mitigasi. HIV adalah epidemi yang mengancam kesehatan dan kehidupan generasi penerus bangsa yang secara langsung membahayakan perkembangan sosial dan ekonomi, serta keamanan negara. Oleh karena itu, bentuk upaya penganggulangannya harus dianggap sebagai masalah yang penting dengan tingkat urgensi yang tinggi dan merupakan program jangka panjang yang membutuhkan koordinasi semua pihak yang terkait, serta mobilisasi sumber daya yang intensif dari seluruh lapisan masyarakat untuk mempercepat dan memperluas cakupan program (KPAN, 2008). Peningkatan kasus yang terjadi setelah tahun 2000 hingga saat sekarang merupakan upaya membongkar fenomena gunung es ice berg fenomenm yaitu jumlah kasus ditemukan lebih sedikit dari jumlah sebenarnya di dalam populasi. Dilihat dari segi geografisnya Sumatera Utara berdekatan dengan negara-negara seperti Thailand, Kamboja yang mempunyai kasus infeksi HIV/AIDS yang tinggi. 5

Kota Medan menjadi kota yang memiliki resiko tinggi terhadap penyebaran penyakit AIDS. Penyebaran virus ini sangat dipengaruhi dari perilaku individu berisiko tinggi terutama perilaku seks, narkoba khususnya pengguna jarum suntik. Pencegahan penyebaran infeksi dapat diupayakan melalui peningkatan akses perawatan dandukungan pada kelompok risiko HIV/AIDS dan keluarganya (Komisi Penanggulangan AIDS Daerah, SUMUT, 2005). Voluntary Counseling and Testing (VCT) adalah salah satu bentuk upaya pemerintah dalam menanggulangi angka kasus HIV/AIDS yang meningkat tersebut. VCT merupakan strategi efektif pencegahan dan perawatan HIV (Depkes RI, 2006). VCT terutama ditujukan bagi kelompok risiko tinggi HIV/AIDS dan keluarganya, meskipun demikian layanan ini juga dapat dilakukan masyarakat umum yang ingin mengetahui status HIV melalui tes. Keberhasilan penemuan penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara ini salah satunya disebabkan bertambahnya jumlah layanan VCT yang ada. Seseorang dengan infeksi HIV masih dapat dilakukan penanganan secara komprehensif sehingga masa produktif hidupnya dapat terus dipertahankan. Karena masa penularannya yang panjang dan untuk mengubah pola perilaku yang berisiko penularan, baik secara seksual maupun melalui penggunaan zat adiktif dengan jarum suntik juga adalah suatu proses yang panjang, maka dirasakan perlu strategi pencegahan penularan dan penanganannya. Strategi pendekatan kemasyarakatan ini berawal dari VCT yang dapat menjadi pintu masuk ke segala akses pelayanan kebutuhan seseorang yang menderita HIV/AIDS (Margarita M. Maramis, 2006). 6

Pelayanan VCT penting untuk penderita HIV/AIDS dan orang yang berisiko terinfeksi HIV/AIDS. Studi-studi menunjukkan bahwa VCT dapat mengubah perilaku seksual untuk mencegah penularan HIV. Dengan memberikan pelayanan VCT terdapat penurunan morbiditas Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). VCT juga dapat mengurangi stigma dan penyangkalan serta mempromosi normalisasi. Makin luas ketersediaan pelayanan VCT, maka makin meningkat orang yang sadar akan status HIV-nya, sehingga mengurangi penularan secara cepat (Depkes RI, 2006). Situasi yang dihadapi penderita HIV/AIDS sangat kompleks, selain harus menghadapi penyakitnya sendiri, mereka juga menghadapi stigma dan diskriminasi, sehingga mengalami masalah pada fisik, psikis dan sosial sehingga diperlukan intervensi komprehensif (medikamentosa, nutrisi, dukungan sosial maupun psikoterapi/konseling). VCT merupakan salah satu pilihan terapi untuk mereka yang merasa mendekati kematian, terisolasi, maupun mengalami masalah psikis lainnya sehingga akan mengalami keselarasan/harmoni internal maupun eksternal. Pada terapi ini penderita HIV/AIDS diarahkan untuk mengembangkan diri dengan perubahan kesadaran agar nantinya dapat mengelola emosinya secara mandiri sehingga dapat melakukan aktivitas seperti layaknya orang sehat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya (Panduan VCT, 2003). Pemanfaatan layanan VCT sebagai bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat tersebut dipengaruhi oleh pengambilan keputusan yang berkaitan dengan bagaimana karakteristik individu kelompok risiko HIV/AIDS itu sendiri dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan tersebut. 7

Salah satu model yang digunakan untuk menjelaskan perubahan perilaku kesehatan seseorang dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan adalah Health Belief Models (HBM). Health Belief Models (HBM) menjelaskan bahwa perilaku kesehatan seseorang akan dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal seperti persepsi kerentanan terhadap penyakit (percieved suspectibility), persepsi keseriusan terhadap ancaman penyakit (percieved seriousness), persepsi manfaat dan hambatan terhadap perubahan perilaku kesehatan (percieved benefit and barrier), serta faktor pendorong (cues to action) (Lewin, 1954; Becker, 1974). HBM merupakan teori yang digunakan sebagai upaya menjelaskan secara luas kegagalan partisipasi masyarakat dalam program pencegahan atau deteksi penyakit. HBM juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi beberapa faktor prioritas penting yang berdampak terhadap pengambilan keputusan secara rasional dalam situasi yang tidak menentu (Rosenstock, 1990) serta teori ini berpusat pada perilaku kesehatan individu (Maulana, 2009). Penelitian Abebe (2006) melaporkan bahwa responden (51,1%) yang memiliki persepsi kerentanan yang tinggi menyatakan niatnya untuk melakukan VCT daripada mereka yang memiliki persepsi yang rendah (48,9%), responden (52,6%) dengan persepsi yang tinggi terhadap keparahan HIV/AIDS menyatakan niatnya untuk VCT, responden yang memiliki persepsi hambatan yang tinggi menyatakan kurang ketersediannya untuk melakukan VCT daripada mereka yang memiliki persepsi rendah, dan responden yang merasakan manfaat dalam melakukan VCT akan menyatakan kesediannya untuk VCT daripada mereka dengan persepsi rendah. 8

Sejalan dengan itu, Alfridi et al (2008) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aksesibilitas dan akseptabilitas VCT pada kelompok risiko tinggi HIV antara lain 91% dari responden melaporkan bahwa mereka telah mendengar tentang HIV/AIDS (36% mendengar melalui media dan 33% dari teman), hampir 31% dari responden menyatakan bahwa mereka memiliki risiko tertular HIV, 46% responden mengetahui tempat dimana tes HIV (VCT) dilakukan dan 85% responden mengatakan bahwa tempat itu adalah rumah sakit. Tim monev Sekretariat KPAN pada tahun 2007 mencatat jumlah cakupan program populasi kelompok risiko tinggi seksual yang mendapat pelayanan VCT pada WPS 69,95%, waria 50%, lakilaki suka laki-laki (LSL) 53,64%. Kinik IMS dan VCT Veteran Medan merupakan klinik dibawah Dinas Kesehatan Propinsi yang khusus melayani pemeriksaan IMS dan VCT (Dinas Kesehatan Propinsi, 2008). Lokasi klinik ini juga strategis bagi kelompok-kelompok risiko HIV/AIDS tersebut untuk berkunjung dibandingkan dengan tempat pemeriksaan lainnya walaupun terdapat klinik IMS dan VCT lain yang tersebar di kota Medan. Dari hasil survei pendahuluan yang dilakukan di klinik IMS dan VCT Veteran Medan tercatat bahwa terdapat 1102 kunjungan kelompok risiko HIV/AIDS selama tahun 2012, yang terdiri dari 774 orang laki-laki dan 328 kunjungan perempuan. Jumlah kunjungan menurut golongan umur tertinggi yaitu pada kelompok umur 25-49 tahun yang terdiri dari 413 pengunjung laki-laki dan 249 pengunjung perempuan, menyusul kelompok umur 20-24 tahun yang terdiri dari 252 pengunjung laki-laki dan 42 orang pengunjung perempuan. Data Klinik IMS dan VCT Veteran Medan juga 9

menunjukkan bahwa terdapat 1238 kunjungan (823 laki-laki, 460 perempuan) dan sebanyak 1108 orang yang berkunjung (706 laki-laki, 402 perempuan) selama tahun 2013. Pada tahun 2014 tercatat jumlah kunjungan sebanyak 112 kunjungan (68 lakilaki, 44 perempuan) pada bulan Januari, dan sebanyak 134 kunjungan (94 laki-laki, 40 perempuan) pada bulan Februari. Masalah yang kemudian timbul adalah, tidak semua dari kelompok risiko HIV/AIDS yang berkunjung ke klinik IMS dan VCT Medan tersebut yang mau melakukan tes HIV. Dari total 1108 orang yang berkunjung selama tahun 2013 tersebut, hanya 393 orang saja yang mau melakukan tes darah untuk mengetahui status HIV-nya positif atau negatif. Pemanfaatan layanan VCT yang diberikan oleh Klinik IMS dan VCT Veteran Medan oleh kelompok risiko HIV/AIDS tersebut juga dipengaruhi oleh dorongan orang lain dan juga dari kemauan diri sendiri. Sebagian dari mereka hanya menerima konseling pra tes, dan butuh waktu yang cukup lama untuk memutuskan mau melakukan tes HIV. Kurang maksimalnya kelompok risiko HIV/AIDS yang berkunjung ke klinik IMS dan VCT Veteran Medan dalam memanfaatkan layanan VCT yang diberikan oleh petugas kesehatan/konselor tersebut menjadi alasan penulis melakukan penelitian ini. Penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok risiko HIV/AIDS tersebut dalam memanfaatkan pelayanan yang diberikan di Klinik IMS dan VCT Veteran Kota Medan. Penulis merasa bahwa model teori Health Belief Models (HBM) merupakan model teori yang cukup erat hubungannya dengan penelitian ini karena dapat menjelaskan perubahan perilaku kesehatan seseorang terkait dengan pengambilan keputusan dalam pemanfaatan layanan kesehatan yang diberikan. 10

Pendekatan teori HBM ini diharapkan dapat menjelaskan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan VCT, tenaga kesehatan dapat menentukan rencana dan strategi selanjutnya agar orang risiko tinggi HIV/AIDS dapat memanfaatkan layanan VCT secara maksimal dan meningkat. 1.2. Perumusan Masalah Layanan VCT merupakan bagian dari promosi kesehatan yang berfokus pada tindakan pencegahan laju epidemi HIV/AIDS. Kejadian HIV/AIDS pada kelompok risiko tinggi HIV/AIDS, salah satunya disebabkan kurangnya pemanfaatan layanan VCT secara maksimal yang mensyaratkan dilakukan tes HIV/AIDS. Belum diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) pada kelompok risiko tinggi HIV/AIDS di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan menjadi alasan penulis ingin mengangkat masalah penelitian ini. Berdasarkan uraian dan latar belakang diatas, dirumuskan masalah penelitian yakni faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan layanan VCT oleh kelompok risiko HIV/AIDS di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan. 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok risiko HIV/AIDS dalam memanfaatkan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Klinik IMS dan VCT Veteran Kota Medan. 11

1.3.2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan karakteristik kelompok risiko HIV/AIDS dalam pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan. b. Mendeskripsikan persepsi kerentanan kelompok risiko HIV/AIDS dalam pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan. c. Mendeskripsikan persepsi keseriusan kelompok risiko HIV/AIDS dalam pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan. d. Mendeskripsikan persepsi manfaat dan hambatan kelompok risiko HIV/AIDS dalam pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan. e. Mendeskripsikan faktor isyarat untuk bertindak/pendorong kelompok risiko HIV/AIDS dalam pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan. f. Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dan mempengaruhi pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan oleh kelompok risiko HIV/AIDS. 1.4. Hipotesis Penelitian Ada hubungan signifikan antara faktor persepsi kerentanan, faktor keseriusan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, serta faktor isyarat untuk bertindak/pendorong 12

responden terhadap pemanfaatan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) oleh kelompok risiko HIV/AIDS di Klinik IMS dan VCT Veteran Medan. 1.5. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah : 1. Dapat mengetahui bagaimana gambaran kelompok risiko dalam memanfaatkan layanan Voluntary and Counseling Testing (VCT) yang diberikan di klinik IMS dan VCT Veteran kota Medan. 2. Dapat mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan mempengaruhi kelompok risiko HIV/AIDS dalam memanfaatkan pelayanan Voluntary and Counseling Testing (VCT) yang diberikan di klinik IMS dan VCT Veteran kota Medan. 3. Dapat memberikan masukan kepada Klinik IMS dan VCT Veteran Medan berkaitan dengan pemanfaatan layanan oleh kelompok risiko tinggi HIV/AIDS. 4. Memberi pengalaman dan kesempatan untuk melaksanakan penulisan dengan metode yang benar, penulis mampu berfikir lebih baik dalam memahami masalah serta melakukan analisis secara ilmiah dan sistematis. 5. Dapat dijadikan sebagai sumber informasi untuk penelitian selanjutnya. 13