BAB II DASAR TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. berdasarkan program-program yang telah disahkan. Anggaran (budget)

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penggunaan sumber-sumber suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham

PENGARUH PARTISIPASI PENGANGGARAN TERHADAP SENJANGAN ANGGARAN DENGAN KOMITMEN ORGANISASI DAN KETIDAKPASTIAN LINGKUNGAN SEBAGAI VARIABEL MODERATING

BAB I PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian agar manajer dapat

BAB I PENDAHULUAN. alat untuk melaksanakan strategi organisasi, oleh sebab itu anggaran harus

BAB I PENDAHULUAN. anggaran. Anggaran merupakan sebuah rencana tentang kegiatan di masa datang yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. digunakan sebagai acuan dalam pemecahan masalah yang sedang diteliti.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. Hubungan agensi muncul ketika salah satu pihak (prinsipal) menyewa pihak

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Bab ini akan memaparkan teori-teori yang digunakan dalam penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan mutu, dan peningkatan kinerja perusahaan yang mampu

BAB II DASAR TEORI Anggaran Definisi Anggaran. Anggaran menurut Henry Simamora (1999) merupakan suatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berdasarkan rencana jangka panjang yang ditetapkan dalam proses

BAB I PENDAHULUAN. disfungisional terhadap sikap dan perilaku anggota organisasi (Indriantoro dan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang, rumusan masalah,

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat pesat. Pertumbuhan yang pesat tersebut mengakibatkan terjadinya

BAB I PENDAHULUAN. Hal tersebut akan berdampak pada pelanggan, persaingan, dan perubahan.

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. Suatu rencana mengidentifikasi tujuan dan tindakan yang akan dilakukan untuk

BAB I PENDAHULUAN. yang dibiayai dari uang publik. Melalui anggaran, akan diketahui

BAB I PENDAHULUAN. persaingan global akan menyebabkan suatu ketidakpastian dalam lingkungan bisnis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. standar dan satuan lain yang mencakup jangka waktu satu tahun. Anggaran

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. sebuah hubungan kontraktual antara dua pihak, yaitu antara pemilik perusahaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan teori yang menjelaskan mengenai hubungan antara principal dan

BAB I PENDAHULUAN. negeri, dan obligasi pemerintah, serta sumber dana lain yang sah dan tidak

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BABI PENDAHULUAN. Anggaran dalam dunia bisnis merupakan unsur utama dalam perencanan dan

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut (Hansen dan Mowen [1997]). Proses

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SLACK ANGGARAN PADA PT. BRI DI KOTA JAMBI

BAB I PENDAHULUAN. persaingan dunia usaha yang berkembang akhir-akhir ini. Persaingan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Disamping itu, dalam menghadapi pesaing-pesaingnya perusahaan harus

BAB I PENDAHULUAN UKDW. waktu yang akan datang dapat diukur (Handoko, 1997). berdasarkan rencana kegiatan jangka panjang yang ditetapkan dalam proses

PENGARUH PENGANGGARAN PARTISIPATIF TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN STRUKTUR ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL MODERATING

BAB I PENDAHULUAN. publik terkait dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap-tiap

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Penjelasan mengenai konsep budgetary slack dimulai dari pendekatan agency

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan mutu, dan peningkatan kinerja perusahaan yang mampu. mempertahankan kelangsungan hidup serta mampu untuk maju dan terus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kesenjangan anggaran dapat ditelusuri dari pengembangan agency theory

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengelolaan dana publik dan pelaksanaan program-program yang dibiayai. secara sistematis untuk satu periode.

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. disusun manajemen dalam jangka waktu satu tahun untuk membawa perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan aspek transparansi dan akuntabilitas menjadi hal penting dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. masalah, menyeleksi serta mengimplementasikan proses adaptasi dengan

BAB II LANDASAN TEORI. Anggaran adalah suatu rencana kuantitatif (satuan jumlah) periodic

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat perencanaan dan pengendalian agar manajer dapat melaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pelaksanaan (actuating), dan fungsi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh Argyris (1957) (dikutip dari Brownell dan McInnes (1983). Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. tujuan dan sasaran, penjabaran secara terperinci dalam bentuk rencana-rencana

Rina Ismawati B

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Bank Perkreditan Rakyat berbeda dengan bank umum lainnya

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. Bagian ini membahas mengenai teori-teori dan pendekatan yang

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan kegiatan organisasi secara lebih efektif dan efisien (Scief dan

Kata Kunci :partisipasi penyusunan anggaran, budgetary slack, komitmen organisasi, etika

BAB II ANGGARAN, PARTISIPASI ANGGARAN, KAPASITAS INDIVIDU, BUDGETARY SLACK, SELF ESTEEM

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini memuat latar belakang masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan

BAB 1 PENDAHULUAN. finansial, sedangkan penganggaran adalah proses atau metode untuk

BAB I PENDAHULUAN. peraturan organisasi yang berlaku. Pada organisasi pemerintahan di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. untuk beroperasi seefisien mungkin. Untuk itu pihak manajemen harus mampu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Persaingan usaha yang semakin ketat dewasa ini menuntut

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... PERNYATAAN ORISINALITAS... KATA PENGANTAR... ABSTRAK...

BAB II LANDASAN TEORI. principal dan agen. Pihak principal adalah pihak yang memberikan mandat

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Bab ini mengkaji landasan teori, konsep-konsep yang digunakan, dan hasil

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Anggaran sektor publik merupakan suatu instrumen perencanaan,

BAB 1 PENDAHULUAN. rencanakan, baik itu tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam dunia

BAB I PENDAHULUAN. Pada era globalisasi ini, perusahaan profit oriented maupun non-profit

BAB II LANDASAN TEORI. atupun mata uang lainnya yang meliputi seluruh kegiatan untuk jangka waktu. Definisi anggaran menurut M. Nafirin ( 2000:9 )

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Abstrak. Kata kunci: senjangan anggaran, partisipasi penganggaran, kepercayaan diri, komitmen organisasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anggaran merupakan elemen sistem pengendalian manajemen yang

BAB I PENDAHULUAN. peluang baru bagi negara-negara berkembang, seperti di Indonesia. Persaingan antar

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan perusahaan dalam jangka pendek yang dinyatakan dalam unit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Organisasi sektor publik pada dasarnya membutuhkan sebuah

BAB II FUNGSI ANGGARAN DALAM PERUSAHAAN. satuan kuantitatif. Penyusunan anggaran sering diartikan sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan

BAB II BAHAN RUJUKAN

CHRISTINE PRAMITA W.

BAB I PENDAHULUAN. kebangkrutan suatu perusahaan (Adrianto, 2008). Agar dapat bersaing, perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. Dunia bisnis makin berkembang dan persaingan antar perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. direvisi menjadi Undang-Undang No. 32 tahun 2004 serta Undang-Undang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. mungkin. Untuk mewujudkan efektivitas dan efisiensi operasional maka

BAB I PENDAHULUAN. secara mandiri. Masing-masing daerah telah diberikan kekuasaan dan

BAB II PENGARUH PARTISIPASI PENYUSUNAN ANGGARAN, GOAL COMMITMENT, DAN KEADILAN PROSEDURAL TERHADAP KINERJA MANAJERIAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1999) dalam bentuk kinerja manajer berdasarkan pada fungsi manajemen klasik yang. penganggaran, pemprograman dan lainnya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Teori keagenan menjelaskan hubungan antara agent (manajemen suatu

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan timbulnya suatu ketidakpastian lingkungan bisnis. Hal ini akan

PENGARUH ASIMETRI INFORMASI DAN PELIMPAHAN WEWENANG TERHADAP HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI DALAM PENYUSUNAN ANGGARAN DAN KINERJA MANAJER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. organisasi secara efektif dan efisien (Schief dan Lewin,1970; Welsch, Hilton, dan

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan untuk mencapai tujuannya, yaitu memperoleh laba.

(Survey Pada Rumah Sakit Di Wilayah Kabupaten Klaten)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perbedaan yang telah mendukung penelitian ini: 1. Lassaad Ben Mahjoub dan Khamoussi Hali (2012)

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan yang baik karena merupakan proses penentuan kebijakan dalam rangka

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. situasi atau organisasi (perusahaan) tertentu. Dalam partisipasi penyusunan anggaran,

Pratama Ilham Safitrie B

DESENTRALISASI DAN GAYA KEPEMIMPINAN SEBAGAI VARIABEL MODERATING DALAM HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI PENYUSUNAN ANGGARAN DAN KINERJA MANAJERIAL

Judul : Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran pada Kinerja Manajerial Dengan Self Efficacy dan Motivasi Kerja Sebagai Variabel Moderating

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

BAB II DASAR TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1. Anggaran Anggaran adalah suatu rencana keuangan periodik yang disusun berdasarkan program-program yang telah disahkan. Anggaran (budget) merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu. Anggaran merupakan alat manajemen dalam mencapai tujuan. Jadi anggaran bukan tujuan dan tidak dapat menggantikan manajemen (Nafarin, 2000). Anggaran adalah rencana terinci yang dinyatakan secara formal dalam ukuran-ukuran kuantitatif, keuangan maupun nonkeuangan, mengenai perolehan dan penggunaan sumber-sumber organisasi beserta pusat-pusat pertanggungjawaban untuk melaksanakan aktivitas-aktivitasnya dalam jangka waktu tertentu, umumnya satu tahun, untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi (Supriyono, 2005). Dalam penyusunan anggaran perlu dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini (Nafarin, 2000): 1. Pengetahuan tentang tujuan dan kebijakan umum perusahaan. 2. Data masa lalu. 3. Kemungkinan perkembangan kondisi ekonomi. 4. Pengetahuan tentang taktik, strategi pesaing, dan gerak-gerik pesaing. 5. Kemungkinan adanya perubahan kebijakan pemerintah. 7

8 6. Penelitian untuk pengembangan perusahaan Dalam penyusunan anggaran perlu diperhatikan perilaku para pelaksana anggaran dengan cara mempertimbangkan hal-hal berikut (Nafarin, 2000): 1. Anggaran harus dibuat serealistis mungkin dan secermat mungkin sehingga tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi. Anggaran yang dibuat terlalu rendah tidak menggambarkan kedinamisan, sedangkan anggaran yang dibuat terlalu tinggi hanyalah angan-angan. 2. Untuk memotivasi manajer pelaksana diperlukan partisipasi manajemen puncak (direksi). 3. Anggaran yang dibuat harus mencerminkan keadilan, sehingga pelaksana tidak merasa tertekan tetapi justru termotivasi. 4. Untuk membuat laporan realisasi anggaran diperlukan laporan yang akurat dan tepat waktu, sehingga apabila terjadi penyimpangan yang merugikan dapat segera diantisipasi lebih dini. Anggaran yang dibuat akan mengalami kegagalan bila hal-hal berikut ini tidak diperhatikan (Nafarin, 2000): 1. Pembuatan anggaran tidak cakap, tidak mampu berpikir ke depan, dan tidak memiliki wawasan yang luas. 2. Wewenang dalam membuat anggaran tidak tegas. 3. Tidak didukung oleh masyarakat. 4. Dana tidak cukup.

9 Manfaat anggaran menurut Polimeni dan Cashin dalam Suparwati (2005) adalah: 1. Adanya anggaran dapat mempermudah koordinasi antara segala macam tugas di dalam organisasi. 2. Anggaran dapat memberikan pedoman secara garis besar dalam mencapai tujuan-tujuan perusahaan. 3. Anggaran sangat berguna di dalam menganalisis operasi-operasi yang sudah direncanakan. 4. Karena di dalam anggaran sudah resmi disebutkan apa saja yang diperkirakan akan bisa dicapai maka anggaran bisa dijadikan ukuran untuk menilai pelaksanaan operasi mencapai tujuan itu. 5. Karena anggaran menjadi indikator tentang kejadian-kejadian yang akan dihadapi maka manajemen bisa meramalkan masalah yang akan muncul dan dapat membuat tindakan koreksi. Anggaran disamping mempunyai banyak manfaat, namun juga mempunyai beberapa keterbatasan, antara lain (Supriyono, 2005): 1. Anggaran dibuat berdasarkan taksiran dan anggapan sehingga mengandung unsur ketidakpastian. 2. Menyusun anggaran yang cermat memerlukan waktu, uang, dan tenaga yang tidak sedikit sehingga tidak semua perusahaan mampu menyusun anggaran secara lengkap (komprehensif) dan akurat.

10 2.2. Proses Penganggaran Proses penganggaran menurut Siegel dan Marconi dalam Pusparini (2003) mempunyai 3 tahap yaitu: 1. Tahap Penetapan Sasaran Tujuan perusahaan yang telah ditetapkan, selanjutnya dirinci lebih lanjut ke dalam sasaran (goal) dan dibebankan pencapaiannya kepada manajer tertentu dalam proses penyusunan Sasaran merupakan target tertentu yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Penyusunan anggaran pada hakekatnya merupakan goal setting process dan sekaligus merupakan role setting process. Untuk dapat memerankan pencapaian sasaran yang ditetapkan dalam penyusunan anggaran, manajer diberi tanggungjawab menentukan sumber daya yang diperlukan. 2. Tahap Implementasi Tahap implementasi merupakan tahap berikutnya setelah tahap penetapan sasaran. Setelah sasaran ditetapkan dan manajer yang harus bertanggungjawab atas pencapaian sasaran tersebut sudah ditunjuk, manajer tersebut diberi alokasi sumber daya. Selanjutnya komisi anggaran menyusun anggaran secara komprehensif untuk disahkan oleh direksi dan pemegang saham. Anggaran untuk selanjutnya diimplementasikan dan berfungsi sebagai blueprint berbagai tindakan yang akan dilaksanakan selam satu tahun Dalam tahap implementasi ini, manajer bertanggungjawab untuk mengkomunikasikan anggaran yang telah disahkan tersebut kepada manajer tingkat menengah dan bawah. Hal ini

11 dimaksudkan agar manajer menengah dan bawah tahu dan bersedia dengan penuh kesadaran untuk mencapai standar yang sudah ditetapkan dalam Dalam tahap implementasi ini, juga diperlukan kerjasama dan koordinasi agar anggaran dapat diimplementasikan dengan baik. 3. Tahap Pengendalian dan Evaluasi Dalam tahap ini, kinerja yang sesungguhnya dibandingkan dengan standar yang sudah tercantum dalam Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bagian organisasi yang mempunyai kinerja dibawah standar dan untuk mengambil tindakan koreksi bagi bagian tersebut. 2.3. Pendekatan Penyusunan Anggaran Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam penyusunan anggaran yaitu (Wirjono dan Raharjono, 2007): 1. Pendekatan top-down: dalam pendekatan ini, proses penyusunan anggaran dimulai dari manajer puncak. Anggaran diturunkan dari manajer puncak kepada bawahannya dan bawahan tersebut dituntut untuk melaksanakan anggaran tanpa ada keterlibatan dalam proses penyusunannya. Pada umumnya pendekatan ini diterapkan oleh perusahaan yang memiliki struktur organisasi sentralisasi. Kelemahan dari pendekatan ini adalah bawahan menjadi tertekan oleh pekerjaannya dan akan berperilaku tidak semestinya. Keunggulan pendekatan ini yaitu adanya dukungan yang kuat dari manajer puncak dalam pengembangan anggaran dan proses penyusunan menjadi lebih mudah dikendalikan oleh manajer puncak.

12 2. Pendekatan bottom-up: anggaran disusun sepenuhnya oleh bawahan dan disahkan oleh manajer puncak sebagai anggaran perusahaan. Hal yang menonjol dari pendekatan ini adalah adanya negosiasi usulan anggaran antara penyusun anggaran dengan komite Tujuan negosiasi adalah menyatukan dua kepentingan yang berbeda. Di satu pihak, manajer puncak menginginkan anggaran yang ketat untuk menjamin perusahaan memperoleh laba yang maksimal. Di lain pihak, manajer pusat pertanggungjawaban (manajer operasi) ingin agar anggaran yang disetujui mendapat kelonggaran yang cukup dan adanya tanggapan atas masalahmasalah tak terduga atau perubahan kegiatan. Perusahaan yang memiliki struktur organisasi desentralisasi biasanya menggunakan pendekatan ini. Kelemahan dari pendekatan ini adalah dengan partisipasi yang terlalu luas sering menimbulkan konflik dan memakan waktu yang panjang dalam proses penyusunan Sedangkan keunggulan pendekatan ini terletak pada mekanisme negosiasi yang ada antara penyusun anggaran dan komite 3. Gabungan pendekatan top-down dan bottom-up: kerja sama dan interaksi manajer puncak dan manajer pusat pertanggungjawaban dalam menetapkan anggaran merupakan cara terbaik bagi perusahaan. Anggaran disusun oleh setiap manajer pusat pertanggungjawaban yang ada dalam perusahaan dengan berpedoman pada tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian, kelemahan dari kedua pendekatan terdahulu dapat dikurangi

13 sampai sekecil-kecilnya sehingga bawahan merasakan bahwa dirinya diperhitungkan dan efektivitas pelaksanaan anggaran dapat terjamin. 2.4. Partisipasi Penganggaran Perusahaan dalam melakukan kegiatan usaha tentu membuat suatu perencanaan, perencanaan tersebut akan dituangkan dalam suatu Anggaran yang telah disusun memiliki peranan sebagai perencanaan dan sebagai kriteria kinerja, yaitu anggaran dipakai sebagai suatu sistem pengendalian untuk mengukur kinerja manajer. Untuk mencegah dampak fungsional atau disfungsionalnya, sikap dan perilaku anggota organisasi dalam penyusunan anggaran, perlu melibatkan manajemen pada level yang lebih rendah sehingga anggaran partisipatif dapat dinilai sebagai pendekatan manajerial yang dapat meningkatkan kinerja setiap anggota organisasi (Sardjito dan Muthaher, 2007). Partisipasi secara luas pada dasarnya merupakan proses dalam suatu organisasi, dimana para individu terlibat dan mempunyai pengaruh dalam proses pembuatan keputusan. Seperti yang dikemukakan Milani dalam Tintri (2002), tingkat keterlibatan dan pengaruh bawahan dalam proses penyusunan anggaran merupakan faktor utama yang membedakan antara anggaran partisipatif dengan anggaran nonpartisipatif. Partisipasi bawahan dalam penyusunan anggaran kemungkinan dapat mempengaruhi kinerja manajerial, karena dengan adanya partisipasi bawahan dalam menyusun anggaran, maka bawahan merasa terlibat dan harus bertanggung jawab pada pelaksanaan anggaran sehingga diharapkan bawahan dapat melaksanakan anggaran dengan lebih baik.

14 Penerapan partsipasi dalam penyusunan anggaran memberikan banyak manfaat antara lain (Siegel dan Marconi dalam Puspaningsih, 2002): 1. Partisipan (orang yang terlibat dalam proses penyusunan anggaran) menjadi ego-involved tidak hanya task-involved dalam kerja mereka. 2. Partisipasi akan menaikkan rasa kebersamaan dalam kelompok, yang akibatnya akan menaikkan kerja sama anggota kelompok di dalam penetapan sasaran. 3. Partisipasi dapat mengurangi rasa tertekan akibat adanya 4. Partisipasi dapat mengurangi rasa ketidaksamaan di dalam alokasi sumber daya di antara bagian-bagaian organisasi. Partisipasi penyusunan anggaran juga dapat menimbulkan beberapa masalah antara lain (Hansen dan Mowen, 2009): 1. Atasan atau bawahan akan menetapkan standar anggaran yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. 2. Jika keterlibatan bawahan dalam penyusunan anggaran tersebut disalahgunakan maka akan menimbulkan slack. Hal ini terjadi ketika bawahan melaporkan informasi yang bias demi kepentingan pribadinya. Dalam keadaan terjadinya budgetary slack, bawahan cenderung mengajukan anggaran dengan merendahkan pendapatan dan menaikkan biaya dibandingkan dengan estimasi terbaik yang diajukan, sehingga target akan mudah dicapai. 3. Terdapat partisipasi semu. Para manajer ini (sebagai bawahan) ikut berpartisipasi, tetapi tidak diberi wewenang atau pendapat untuk

15 menentukan dan menetapkan isi anggaran Padahal para manajer bawah ini sebenarnya memiliki informasi yang lebih baik dibandingkan yang dipunyai manajer atas. Pada sebagian besar organisasi, para manajer di tingkat menengah kebawah ini lebih banyak memiliki informasi yang akurat dibandingkan dengan atasannya. Sementara pada sisi lain, manajemen tingkat atas yang lebih dominan dalam posisinya akan merasa lebih mampu menyusun Karena adanya perbedaan status ini memunculkan kendala partisipasi. 2.5. Komitmen Organisasi Mowday et al dalam Desianty (2005) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai kekuatan relatif dari identifikasi individu dan keterlibatan dalam organisasi khusu, meliputi keperayaan, dukungan terhadap tujuan dan nilai-nilai organisasi, kemauan untuk menggunakan upaya yang sungguh-sungguh untuk kepentingan organisasi, dan keinginan yang kuat untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi. Meyer dan Allen dalam Desianty (2005) mengajukan tiga komponen model komitmen organisasi: 1. Affective Commitment Affective commitment adalah keinginan untuk bekerja pada perusahaan karena kesepakatan terhadap tujuan organisasi dan ada keinginan untuk menjalankannya.

16 2. Continuance Commitment Continuance commitment adalah keinginan untuk tetap bekerja pada perusahaan karena tidak ingin kehilangan sesuatu yang terkait dengan pekerjaannya. 3. Normative Commitment Normative commitment adalah keinginan untuk tetap bekerja pada perusahaan karena adanya tekanan dari pihak lain. Meninggalkan perusahaan dianggap bertentangan dengan pendapat umum yang berlaku. Komitmen organisasional bisa tumbuh disebabkan karena individu memiliki ikatan emosional terhadap organisasi yang meliputi dukungan moral dan menerima nilai yang ada serta tekad dari dalam diri untuk mengabdi pada organisasi, (Porter et al. dalam Tanpaty dan Radianto, 2007). Bagi individu dengan komitmen organisasi tinggi, pencapaian tujuan organisasi merupakan hal penting. Sebaliknya, bagi individu dengan komitmen organisasi rendah akan mempunyai perhatian yang rendah pula pada pencapaian tujuan organisasi, dan cenderung berusaha memenuhi kepentingan pribadi. Dari penelitian Nouri dan Parker dalam Tanpaty dan Radianto (2007) diketahui bahwa, tingkat komitmen organisasional seseorang dapat mempengaruhi keinginan mereka untuk menciptakan senjangan Komitmen organisasi yang tinggi akan mengurangi individu untuk melakukan senjangan

17 2.6. Ketidakpastian Lingkungan Ketidakpastian lingkungan adalah situasi seseorang yang terkendala untuk memprediksi situasi disekitarnya sehingga mencoba untuk melakukan sesuatu untuk menghadapi ketidakpastian tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa ketidakpastian lingkungan yang tinggi akan meningkatkan pengaruh partisipasi anggaran Dalam kondisi ketidakpastian yang rendah, partisipasi anggaran memiliki hubungan yang positif dengan senjangan anggaran, dan sebaliknya akan berhubungan negatif bila kondisi ketidakpastian lingkungan tinggi (Govindarajan dalam Tanpati dan Radianto, 2007). Dalam kondisi ketidakpastian lingkungan rendah, partisipasi bawahan yang tinggi akan mampu menciptakan senjangan Kondisi ketidakpastian lingkungan yang tinggi, partisipasi anggaran akan mengurangi senjangan Pada kondisi ini bawahan sulit memprediksi masa depan sehingga tidak mampu memperoleh informasi akurat untuk memprediksi kejadian masa depan, sehingga sulit pula baginya untuk menciptakan senjangan anggaran (Tanpati dan Radianto, 2007). Gerloff et al. dalam Imron (2004) mendefinisikan ketidakpastian lingkungan sebagai (1) ketidaktersediaan informasi tentang faktor-faktor lingkungan yang berhubungan dengan situasi pengambilan keputusan, (2) tidak diketahuinya hasil (outcome) dari keputusan tertentu tentang seberapa besar perusahaan akan mengalami kerugian jika keputusan yang diambil ternyata salah, dan (3) ketidakmampuan untuk menilai kemungkinan, pada berbagai tingkat kenyakinan, tentang bagaimana faktor-faktor lingkungan dapat mempengaruhi

18 berhasil atau tidaknya suatu keputusan. Lebih lanjut, Gregso et al. dalam Imron (2004) menyatakan ketidakpastian merupakan rasa ketidakmampuan individu dalam meramalkan sesuatu secara tepat, dan persepsi ketidakpastian lingkungan didefinisikan sebagai persepsi individu atas ketidakpastian yang berasal dari lingkungan organisasi. 2.7. Senjangan Anggaran Ketika prinsipal menyewa agen untuk melaksanakan suatu jasa, prinsipal akan memberikan tugas dan mendelegasikan wewenang kepada agen untuk membuat keputusan. Hal inilah yang akan menimbulkan partisipasi manajemen. Partisipasi manajemen merupakan partisipasi manajer dalam proses manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Salah satu bentuk dari partisipasi manajemen adalah partisipasi peng Partisipasi penganggaran merupakan proses di mana individu-individu, baik atasan maupun bawahan, terlibat dan mempunyai pengaruh dalam menentukan target anggaran (Sujana, 2009a). Partisipasi dalam penyusunan anggaran memberikan kewenangan kepada para manajer pusat pertanggungjawaban untuk menetapkan isi anggaran mereka. Kewenangan ini disalahgunakan oleh para partisipan sehingga dapat merugikan organisasi. Penyalahgunaan ini dilakukan dengan pembuatan slack (Sujana, 2009a). Berikut ini beberapa pengertian senjangan anggaran:

19 1. Senjangan anggaran didefinisikan sebagai tindakan bawahan yang mengecilkan kapabilitas produktifnya ketika dia diberi kesempatan untuk menentukan standar kerjanya (Young dalam Latuheru, 2005). 2. Budgetary slack adalah perbedaan jumlah anggaran yang diajukan oleh bawahan dengan jumlah estimasi yang terbaik dari organisasi (Anthony dan Govindradjan dalam Falikhatun, 2007). Dalam keadaan terjadinya budgetary slack, bawahan cenderung mengajukan anggaran dengan merendahkan pendapatan dan menaikkan biaya dibandingkan dengan estimasi terbaik yang diajukan, sehingga target akan mudah dicapai. 3. Senjangan anggaran didefinisikan sebagai perbedaan antara kinerja yang diharapkan dengan yang dilaporkan pada anggaran (Chow et al dalam Fitri, 2004). 4. Senjangan anggaran merupakan perbedaan antara ramalan yang tidak akurat dengan senjangan Ia menyatakan bahwa ramalan yang tidak akurat itu merupakan hal yang tidak disengaja, sedangkan senjangan anggaran merupakan hal yang disengaja (Onsi dalam Fitri, 2004). Eisenhardt dan Stevens dalam Fitri (2004) menyebutkan lima kondisi penting sehingga senjangan anggaran dapat terjadi, yaitu : 1. Terdapat informasi asimetri antara manajer (bawahan) dengan atasan mereka. Sebaliknya jika atasan mampu untuk memprediksi kinerja potensial manajer, maka manajer tidak dapat mengusulkan sasaran budget yang berbeda.

20 2. Kinerja manajer tidak pasti. Jika terdapat kepastian dalam kinerja, maka artinya atasan dapat menduga usaha manajer melalui output mereka, sehingga senjangan anggaran akan sulit dilakukan. 3. Manajer mempunyai kepentingan pribadi. 4. Adanya konflik tujuan antara manajer dengan atasan mereka. 5. Pentingnya peranan manajer dalam partisipasinya terhadap proses peng Artinya, manajer mampu mempengaruhi hasil dan proses penganggaran untuk dapat menciptakan senjangan Schiff dan Lewin dalam Falikhatun (2007) menyatakan bahwa bawahan menciptakan budgetary slack karena dipengaruhi oleh keinginan dan kepentingan pribadi sehingga akan memudahkan pencapaian target anggaran, terutama jika penilaian prestasi manajer ditentukan berdasarkan pencapaian Upaya ini dilakukan dengan menentukan pendapatan yang terlalu rendah (understated) dan biaya yang terlalu tinggi (overstated). Nouri & Parker dalam Fitri (2004) mengungkapkan bahwa terjadinya senjagan anggaran dalam partisipasi penganggaran akan tergantung pada individu, apakah lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kepentingan organisasi. Jika individu mengejar kepentingan pribadi, maka individu tersebut dalam partisipasi penganggaran akan berusaha melakukan senjangan anggaran untuk mempertinggi evaluasi kinerja. Hal ini sesuai dengan berbagai penelitian yang menyatakan bahwa individu mencoba untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya melalui partisipasi peng

21 2.8. Penelitian Terdahulu Berikut ini hasil penelitian terdahulu mengenai partisipasi penyusunan anggaran, senjangan anggaran, komitmen organisasi dan ketidakpastian lingkungan. 1. Penelitian yang dilakukan Fitri (2004) mengenai pengaruh informasi asimetri, partisipasi penganggaran dan komitmen organisasi terhadap timbulnya senjangan Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel informasi asimetri tidak berpengaruh secara signifikan terhadap timbulnya senjangan anggaran, variabel partisipasi penganggaran berpengaruh negatif yang signifikan anggaran dan variabel komitmen organisasi berpengaruh negatif yang signifikan terhadap senjangan 2. Hasil penelitian Latuheru (2006) mengenai pengaruh partisipasi anggaran anggaran dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating menunjukkan bahwa interaksi antara variabel komitmen organisasi dengan partisipasi anggaran akan menurunkan kecenderungan manajer dalam menciptakan senjangan Hal ini mungkin disebabkan karena manajer yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk berbuat sesuatu agar dapat menunjang keberhasilan organisasi. 3. Tanpaty dan Radianto (2007) melakukan penelitian mengenai pengaruh komitmen organisasi dan ketidakpastian lingkungan terhadap hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan senjangan

22 Penelitian dilakukan pada perusahaan manufaktur di kota Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi anggaran secara parsial memiliki pengaruh yang positif dan signifikan Komitmen organisasi secara parsial tidak memiliki pengaruh yang negatif Ketidakpastian lingkungan secara parsial memiliki pengaruh yang positif dan signifikan Interaksi antara partisipasi anggaran dengan komitmen organisasi secara parsial tidak memiliki pengaruh yang negatif Interaksi antara partisipasi anggaran dengan ketidakpastian lingkungan secara parsial memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap senjangan 4. Ikhsan dan Ane (2007) melakukan penelitian mengenai pengaruh partisipasi anggaran anggaran dengan menggunakan lima variabel pemoderasi. Variabel pemoderasi yang digunakan adalah gaya kepemimpinan, komitmen organisasi, ketidakpastian lingkungan, ketidakpastian strategik dan kecukupan Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi anggaran berpengaruh positif terhadap senjangan anggaran serta gaya kepemimpinan, komitmen organisasi, ketidakpastian lingkungan, ketidakpastian strategik dan kecukupan anggaran memoderasi pengaruh partisipasi anggaran 5. Sujana (2009a) melakukan penelitian mengenai pengaruh partisipasi penganggaran, penekanan anggaran, asimetri informasi dan komitmen organisasi terhadap slack anggaran pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di

23 Kabupaten Gianyar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi penganggaran, penekanan anggaran dan komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap slack anggaran sedangkan asimetri informasi tidak berpengaruh terhadap slack 6. Sujana (2009b) melakukan penelitian mengenai pengaruh partisipasi penganggaran, penekanan anggaran, komitmen organisasi, asimetri informasi dan ketidakpastian lingkungan terhadap budgetary slack pada hotel-hotel berbintang di Kota Denpasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi penganggaran, penekanan anggaran, komitmen organisasi, dan ketidakpastian lingkungan tidak berpengaruh terhadap budgetary slack sedangkan asimetri informasi berpengaruh positif terhadap budgetary slack. 7. Kartika (2010) melakukan penelitian mengenai pengaruh komitmen organisasi dan ketidakpastian lingkungan dalam hubungan antara partisipasi anggaran dengan senjangan Penelitian dilakukan pada Rumah Sakit Swasta di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi anggaran mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan anggaran pada Rumah Sakit Umum Swasta di Kota Semarang. Komitmen organisasi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hubungan antara partisipasi anggaran dengan senjangan Ketidakpastian lingkungan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hubungan antara partisipasi anggaran dengan senjangan anggaran dan mempunyai nilai koefisien regresi yang menunjukkan hasil yang bernilai negatif.

24 8. Hasil penelitian Husain (2011) mengenai pengaruh partisipasi anggaran anggaran dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating menunjukkan bahwa partisipasi anggaran berpengaruh negatif Interaksi partisipasi anggaran dengan komitmen organisasi sebagai variabel moderating berpengaruh negatif signifikan Berikut ini ringkasan hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya: Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu Peneliti Obyek dan Variabel Hasil Fitri (2004) Obyek: Pembantu Dekan - Informasi asimetri II (PD II) pada fakultas yang ada di universitas swasta di Kota Bandung Variabel: - Informasi asimetri - Partisipasi penganggaran - Senjangan anggaran tidak berpengaruh secara signifikan terhadap timbulnya senjangan anggaran - Partisipasi penganggaran berpengaruh negatif yang signifikan anggaran berpengaruh negatif yang signifikan Husain (2011) Obyek: Satuan kerja perangkat daerah (SKPD) pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo Variabel: - Partisipasi penganggaran anggaran - Partisipasi penganggaran berpengaruh negatif berpengaruh psoitif

25 Ikhsan dan Ane (2007) Kartika (2010) - Senjangan anggaran - Interaksi partisipasi penganggaran dan komitmen organisasi berpengaruh negatif Obyek: Seluruh manajer perusahaan manufaktur yang berada pada Kawasan Industri Medan (KIM), yang ikut serta dan bertanggungjawab dalam proses penyusunan anggaran bagi departemen atau divisi yang dipimpinnya Variabel: - Partisipasi penganggaran - Gaya kepemimpinan - Ketidakpastian lingkungan - Ketidakpastian strategik - Kecukupan anggaran Obyek: Manajer atau setingkat manajer Rumah Sakit Swasta Umum di Kota Semarang yang terlibat dalam penyusunan anggaran Variabel: - Partisipasi penganggaran - Partisipasi anggaran berpengaruh positif - Gaya kepemimpinan, memoderasi pengaruh partisipasi anggaran memoderasi pengaruh partisipasi anggaran - Ketidakpastian lingkungan memoderasi pengaruh partisipasi anggaran - Ketidakpastian strategik memoderasi pengaruh partisipasi anggaran terhadap senjangan - Kecukupan anggaran memoderasi pengaruh partisipasi anggaran anggaran - Partisipasi penganggaran berpengaruh positif tidak berpengaruh terhadap hubungan antara partisipasi penganggaran dengan

26 Latuheru (2006) Sujana (2009a) Sujana (2009b) - Ketidakpastian lingkungan - Senjangan anggaran Obyek: Manajer level atas dan menengah perusahaan manufaktur yang berada pada kawasan industri Maluku Variabel: - Partisipasi penganggan - Senjangan anggaran Obyek: manajer menengah yang terlibat dalam penyusunan dan pelaksanaan anggaran hotel berbintang tiga keatas dan telah beroperasi lebih dari dua tahun. Variabel: - Partisipasi penganggaran - Penekanan anggaran - Asimetri informasi - Ketidakpastian lingkungan Obyek: Direksi dan kepala bagian yang berpartisipasi dalam penyusunan anggaran pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Gianyar Variabel: - Partisipasi senjangan - Ketidakpastian lingkungan berpengaruh negatif terhadap hubungan antara partisipasi penganggaran dengan senjangan mempunyai pengaruh negatif terhadap hubungan antara partisipasi penganggaran dan senjangan - Partisipasi penganggaran tidak berpengaruh terhadap senjangan - Penekanan anggaran tidak berpengaruh tidak berpengaruh - Asimetri informasi berpengaruh positif - Ketidakpastian lingkungan tidak berpengaruh terhadap senjangan - Partisipasi penganggaran berpengaruh positif - Penekanan anggaran berpengaruh positif

27 Tanpaty dan Radianto (2007) penganggaran - Penekanan anggaran - Asimetri informasi Obyek: Manajer perusahaan manufaktr di kota Yogyakarta Variabel: - Partisipasi penganggaran - Senjangan anggaran - Ketidakpastian lingkungan - Asimetri informasi tidak berpengaruh berpengaruh positif - Partisipasi penganggaran berpengaruh positif - Ketidakpastian lingkungan berpengaruh positif berpengaruh negatif - Interaksi antara partisipasi penganggaran dan ketidakpastian lingkungan berpengaruh negatif - Interaksi antara partisipasi penganggaran dan komitmen organisasi tidak berpengaruh 2.9. Pengembangan Hipotesis 1. Pengaruh Partisipasi Penganggaran Terhadap Senjangan Anggaran Partisipasi penganggaran melibatkan semua tingkatan manajemen untuk mengembangkan rencana Partisipasi penganggaran

28 diperlukan karena bawahan yang lebih mengetahui kondisi langsung bagiannya (Sujana, 2009a). Manfaat yang diperoleh dari partisipasi anggaran adalah membuat para pelaksana anggaran lebih memahami masalah-masalah yang mungkin timbul pada saat pelaksanaan anggaran, sehingga partisipasi anggaran diharapkan menimbulkan efisiensi dan dapat meningkatkan kualitas komunikasi antar sesama manajer dan antara manajer dengan atasannya (Husain, 2011). Partisipasi bawahan memberikan peluang bagi partisipan untuk menyalahgunakan kewenangan yang mereka peroleh dengan mempermudah pencapaian anggaran sehingga dapat merugikan organisasi. Para manajer cenderung akan menganggarkan pendapatan yang lebih rendah dan menganggarkan biaya yang lebih tinggi. Penyalahgunaan ini dapat dilakukan dengan pembuatan budgetary slack atau senjangan anggaran (Sujana, 2009a). Kartika (2010) menyatakan bahwa tingginya partisipasi penyusunan anggaran membuat karyawan bawahan mengecilkan kapabilitas produktifnya, hal ini menyebabkan terjadinya suatu senjangan anggaran yang semakin besar antara bawahan dan atasan. Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan adalah: H1: Partisipasi penganggaran berpengaruh positif

29 2. Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Senjangan Anggaran Ikhsan dan Ane (2007) menyatakan bahwa peningkatan atau penurunan senjangan anggaran tergantung pada sejauh mana individu lebih mementingkan diri sendiri atau bekerja demi kepentingan organisasi yang merupakan aktualisasi dari tingkat komitmen yang dimilikinya. Adanya komitmen yang tinggi kemungkinan terjadinya senjangan anggaran dapat dihindari. Sebaliknya, individu dengan komitmen rendah akan mementingkan dirinya sendiri atau kelompoknya. Individu tersebut tidak memiliki keinginan untuk menjadikan organisasi kearah yang lebih baik, sehingga kemungkinan terjadinya senjangan anggaran apabila dia terlibat dalam penyusunan anggaran akan lebih besar. Sujana (2009b) juga menyatakan bahwa komitmen yang tinggi akan membuat individu berusaha lebih mengutamakan kepentingan organisasi daripada kepentingan pribadi sehingga dapat menghindari slack. Sebaliknya, komitmen organisasi yang rendah cenderung menjadikan individu tidak bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuan organisasi sehingga melakukan slack untuk tujuan pribadinya. Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan adalah: H2: Komitmen organisasi berpengaruh negatif anggaran

30 3. Pengaruh Ketidakpastian LingkunganTerhadap Senjangan Anggaran Ketidakpastian lingkungan merupakan salah satu faktor yang sering menyebabkan organisasi melakukan penyesuaian terhadap kondisi organisasi dengan lingkungan. Ketidakpastian merupakan persepsi dari anggota organisasi. Seseorang mengalami ketidakpastian karena dia merasa tidak memiliki informasi yang cukup untuk memprediksi masa depan secara akurat (Kartika, 2010). Tanpaty dan Radianto (2007) memperoleh bukti bahwa faktor ketidakpastian lingkungan berpengaruh secara signifikan Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi keterbatasan individu dalam menilai probabilitas kegagalan atau keberhasilan keputusan yang dibuatnya maka ia akan cenderung melakukan atau meningkatkan senjangan anggaran menjadi lebih besar. Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan adalah: H3: Ketidakpastian lingkungan berpengaruh positif anggaran 4. Pengaruh Komitmen Organisasi Terhadap Hubungan Antara Partisipasi Penganggaran dengan Senjangan Anggaran Pada dasarnya komitmen karyawan (individu) akan mendorong terciptanya komitmen organisasi. Komitmen organisasi menyangkut tiga sikap, yaitu rasa mengidentifikasi dengan tujuan organisasi, rasa keterlibatan dengan tugas organisasi, dan rasa kesetiaan kepada organisasi. Komitmen organisasi merupakan tindakan sampai sejauh mana seorang

31 karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya serta berminat untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi itu (Sujana, 2009a). Komitmen yang tinggi menjadikan individu akan peduli dengan masa depan organisasi dan senantiasa berusaha menjadikan organisasi ke arah yang lebih baik. Melalui komitmen yang tinggi kemungkinan terjadinya senjangan anggaran dapat dihindari. Keadaan ini bertolak belakangkan dengan individu yang memiliki komitmen organisasi rendah (Tanpaty dan Radianto, 2007). Fitri (2004) menyatakan bahwa semakin tinggi komitmen organisasi yang dimiliki, maka senjangan anggaran dapat dikurangi, begitu sebaliknya. Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan adalah: H4: Komitmen organisasi berpengaruh negatif terhadap hubungan antara partisipasi penganggaran dengan senjangan 5. Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan Terhadap Hubungan Antara Partisipasi Penganggaran dengan Senjangan Anggaran Ketidakpastian lingkungan merupakan salah satu faktor yang sering menyebabkan organisasi melakukan penyesuaian terhadap kondisi organisasi dengan lingkungan. Seseorang mengalami ketidakpastian karena merasa tidak memiliki informasi yang cukup untuk memprediksi keadaan pada masa yang akan datang (Sujana, 2009a). Pada saat kondisi ketidakpastian lingkungan rendah, partisipasi bawahan yang tinggi akan

32 mampu menciptakan senjangan Kondisi ketidakpastian lingkungan yang tinggi, partisipasi anggaran akan mengurangi senjangan Pada kondisi ini bawahan sulit memprediksi masa depan sehingga tidak mampu memperoleh informasi akurat untuk memprediksi kejadian masa depan, sehingga sulit pula baginya untuk menciptakan senjangan anggaran (Tanpaty dan Radianto, 2007). Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan adalah: H5: Ketidakpastian lingkungan berpengaruh negatif terhadap hubungan antara partisipasi penganggaran dengan senjangan