BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Suparman Tanudjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Agensi (Agency Theory) Menurut Anthony dan Vijay (2005) teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham (shareholders) sebagai principal dan manajer sebagai agent, dimana principal mengontrak agent untuk bekerja demi kepentingan mereka. Sehingga agent memiliki tanggung jawab kepada principal atas pekerjaan mereka. Inti dari hubungan keagenan adalah pemisahan kepentingan antara principal sebagai pemilik dan agent sebagai pengendali perusahaan. Menurut Eisenhardt (1989) teori agensi menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu: a. Manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest) b. Manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality) c. Manusia selalu menghindari resiko (risk averse) Berdasarkan asumsi sifat manusia tersebut, manusia selalu bertindak untuk kepentingan pribadinya. Principal termotivasi terus mengadakan kontrak untuk memaksimalkan penerimaan returns untuk dirinya, sedangkan agent memaksimalkan penerimaan fee kontraktual untuk pemenuhan kebutuhan ekonominya. Hal tersebut dapat terjadi karena pihak principal tidak dapat memantau kegiatan agent secara terus-menerus, sehingga beberapa informasi penting perusahaan disembunyikan oleh agent dari principal. 2. Anggaran
2 12 Baridwan dalam Cinitya dan Asmara (2014) menyatakan bahwa anggaran merupakan rencana organisasi yang disusun secara sistematis yang dinyatakan dalam satuan moneter untuk menunjukkan kegiatan yang akan dilakukan organisasi dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang. Penyusunan anggaran memiliki beberapa manfaat, yaitu: a. Anggaran perusahaan digunakan sebagai alat manajemen untuk mengatur perencanaan dan pengendalian kegiatan perusahaan b. Sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan perusahaan c. Sebagai alat koordinasi kerja intern perusahaan d. Sebagai alat evaluasi kegiatan operasional perusahaan e. Sebagai alat pengawasan kerja Adapun tujuan dari penyusunan anggaran adalah: a. Untuk menyatakan sasaran perusahaan secara jelas dan formal b. Untuk mengomunisasikan harapan manajemen kepada pihak terkait c. Untuk mengoordinasi metode dalam upaya pencapaian tujuan 3. Kesenjangan Anggaran (Budgetary Slack) Siegel (1989) mengemukakan budgetary slack sebagai: Slack is difference between resources that are actually necessary to efficiently complete a tosk and the larger amount of resources thatare earmarked for the task.
3 13 Budgetary slack adalah suatu kesenjangan yang diciptakan oleh manajer bawahan ketika ia turut berpartisipasi dalam penyusunan anggaran dengan memberikan usulan dan estimasi anggaran yang tidak sesuai dengan kapasitas sumberdaya yang sebenarnya dibutuhkan, dengan maksud agar anggaran tersebut mudah direalisasikan. Manajer melakukan senjangan ini dengan cara meninggikan jumlah biaya yang dibutuhkan atau merendahkan pendapatan yang dicapai. Budgetary slack dapat terjadi oleh beberapa alasan, yaitu: a. Membuat kinerja manajer terlihat baik di mata pimpinan karena slack membantu manajer merealisasikan anggaran b. Membantu mengatasi masalah ketidakpastian masa depan c. Membuat pengalokasian sumber daya lebih fleksibel 4. Partisipasi Anggaran Partisipasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan peran serta dalam suatu kegiatan. Milani dalam Darwis (2012) mendefinisikan penyusunan anggaran partisipatif sebagai tingkat pengaruh dan keterlibatan yang dirasakan individu dalam proses perancangan anggaran. Partisipasi anggaran memiliki efek positif dari motivasi manajemen untuk 2 alasan: a. Penerimaan yang lebih besar dari tujuan anggaran jika mereka merasa berada dalam kontrol manajer, dibandingkan dengan adanya paksaan dari luar b. Adanya pertukaran informasi yang efektif antar pembuat anggaran Partisipasi manajer menengah dan bawah dalam penyusunan anggaran akan memberikan manfaat (Kren dalam Darwis 2012): a. Mengurangi ketimpangan informasi dalam organisasi
4 14 b. Menimbulkan komitmen kepada manajer untuk melaksanakan anggaran dan dapat menciptakan lingkungan yang mendorong perolehan dan penggunaan jobrelevant information. 5. Asimetri Informasi (Asymmetry Information) Asimetri informasi merupakan suatu informasi yang tidak seimbang yang disebabkan karena adanya distribusi informasi yang tidak sama antara principal dan agent. Dalam hal ini principal seharusnya memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk mengukur tingkat hasil yang diperoleh dari usaha agent, namun ternyata informasi tentang ukuran keberhasilan yang diperoleh oleh principal tidak seluruhnya disajikan oleh agent. Akibatnya informasi yang diperoleh principal kurang lengkap sehingga tidak dapat menjelaskan kinerja agent yang sesungguhnya dalam mengelola kekayaan principal. Akibat distribusi informasi yang tidak seimbang, timbul 2 permasalahan yang menyebabkan adanya kesulitan kontrol principal terhadap aktivitas agent. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan permasalahan tersebut adalah: a. Moral Hazard Permasalahan yang muncul karena agent tidak melaksanakan hal-hal sesuai kontrak kerja dengan principal. b. Adverse Selection Sebuah keadaan dimana principal tidak mengetahui apakah keputusan yang diambil agent sesuai kebutuhan perusahaan atau tidak. 6. Harga Diri (Self Esteem) Self esteem merupakan salah satu kepribadian yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia. Menurut Coopersmith (1967) self esteem adalah penilaian yang dibuat oleh individu dan biasanya bersangkutan dengan penghargaan terhadap dirinya
5 15 sendiri. Hal ini mengekspresikan sejauh mana individu meyakini kemampuan, rasa berharga, dan rasa penting dalam dirinya. Stuart dan Sundeen dalam O kelly (1998) mengatakan bahwa self esteem adalah penilaian individu terhadap capaian hasil dengan menganalisa seberapa jauh capaian tersebut dengan apa yang diidealkan. Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa self esteem adalah suatu sikap subyektif atas hasil evaluasi penilaian diri yang dicerminkan dengan sikap positif atau negatif. Self esteem memiliki tingkat dan karakteristik sebagai berikut: a. Karakteristik Self Esteem Tinggi Individu dengan self esteem tinggi cenderung puas dengan kemampuan diri. Adanya kepuasan diri ini membuat individu lebih mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Individu dengan self esteem tinggi lebih bahagia dan lebih mampu melaksanakan tuntutan yang dibebankan padanya. Dalam lingkungan, individu juga lebih senang mengambil peran untuk menyuarakan pendapatnya. b. Karakteristik Self Esteem Rendah Individu dengan self esteem rendah tidak puas dengan kemampuan dirinya. Hal ini membuat individu tidak dapat mengekspresikan kemampuan dan pendapatnya. Individu dengan self esteem rendah cenderung tidak dapat melawan tekanan dari lingkungan. Mereka cenderung menyendiri dan menjauh dari kelompok orang-orang. 7. Komitmen Organisasi Komitmen organisasi didefinisikan sebagai perpaduan antara perilaku dan sikap yang meliputi 3 sikap, yaitu mengidentifikasi tujuan organisasi, rasa kesetiaan
6 16 pada organisasi, dan rasa keterlibatan dengan tugas organisasi (Heriawan dan Gunawan, 2016). Komitmen organisasi juga diartikan sebagai dorongan dari dalam diri individu untuk mendukung keberhasilan tujuan dan sasaran organisasi yang sudah ditetapkan dan meletakkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadinya (Wiener dalam Endang, 2012). Individu dengan komitmen organisasi yang kuat akan berusaha mencapai tujuan organisasi. 8. Penekanan Anggaran (Budget Emphasis) Sivabalan et al. (2007) menyatakan budget emphasis sebagai alat yang digunakan manajer untuk mengontrol laporan keuangan perusahaan. Menurut Kung et al. (2013) budget emphasis dapat membantu pencapaian tujuan anggaran dalam organisasi dengan memperkuat hubungan antara atasan dengan manajer bawahan. B. Hipotesis 1. Pengaruh Partisipasi Anggaran terhadap Budgetary Slack Teori agensi menjelaskan fenomena yang terjadi apabila principal menyerahkan otoritasnya kepada agent. Jika agent berkontribusi dalam proses penyusunan anggaran, agent memiliki lebih banyak informasi dibandingkan principal, sehingga memungkinkan agent untuk memberikan informasnya kepada principal. Namun, sering terjadi perbedaan kepentingan antara agent dan principal. Contohnya pemberian rewards kepada agent berdasarkan pencapaian anggaran. Agent yang berkontribusi pada penyusunan anggaran memiliki wewenang, agent cenderung akan memberikan informasi yang bias agar anggaran mudah dicapai. Kondisi ini jelas akan menciptakan budgetary slack.
7 17 Penelitian yang dilakukan Sugianto (2012) serta Jaya dan Rahardjo (2013) memperoleh hasil bahwa semakin tinggi tingkat pasrtisipasi anggaran, maka semakin tinggi tingkat budgetary slack yang ditimbulkan. Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H 1 : Partisipasi anggaran berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap budgetary slack 2. Pengaruh Asimetri Informasi terhadap Budgetary Slack Asimetri informasi merupakan suatu keadaan yang tidak seimbang antara principal dan agent dalam hal kepemilikan informasi perusahaan. Hal ini disebabkan karena agent memiliki hubungan langsung dengan kegiatan perusahaan dibanding dengan principal yang hanya bertugas mengawasi dan mengontrol jalannya perusahaan. Berkaitan dengan asimetri informasi, agent memiliki informasi yang lebih banyak mengenai kegiatan perusahaan dibandingkan principal. Agent memanfaatkan ketidaktahuan principal mengenai kondisi perusahaan untuk menciptakan budgetary slack. Hal ini terjadi karena principal tidak selalu mengetahui apakah tindakan yang dilakukan agent sudah sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau belum, sehingga kontrol principal terhadap agent pun susah dilakukan. Semakin tinggi tingkat asimetri informasi yang ada dalam perusahaan, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya budgetary slack. Penelitian yang dilakukan Jaya dan Rahardjo (2013) membuktikan semakin tinggi asimetri informasi, tingkat budgetary slack yang diciptakan juga semakin tinggi. Penelitian serupa juga dilakukan Cinitya dan Asmara (2014) yang memperoleh hasil asimetri informasi berpengaruh positif terhadap budgetary slack. Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
8 18 H 2 : Asimetri informasi berpengaruh positif terhadap budgetary slack 3. Pengaruh Self Esteem terhadap Budgetary Slack Self esteem merupakan penilaian individu mengenai kemampuan, rasa berharga, dan rasa penting dalam dirinya sendiri. Individu mengukur kemampuannya dengan membandingkan seberapa jauh capaian hasilnya dengan apa yang dicitacitakan. Dalam penyusunan anggaran, manajer pasti memikirkan self esteemnya. Biasanya manajer dengan self esteem rendah berpeluang lebih besar dalam menciptakan budgetary slack. Sedangkan manajer dengan self esteem yang tinggi termotivasi untuk melakukan pekerjaanya dengan baik, sehingga manajer dengan self esteem tinggi memiliki kemungkinan yang lebih kecil dalam menciptakan budgetary slack. Hal ini disebabkan manajer dengan self esteem tinggi menilai dirinya sebagai individu yang memiliki kehormatan dan kompetensi, sehingga menciptakan slack dalam anggaran dianggap akan merusak citranya. Penelitian yang dilakukan Cinitya dan Asmara (2014) membuktikan bahwa self esteem berpengaruh negatif terhadap budgetary slack. Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H 3 : Self esteem berpengaruh negatif terhadap budgetary slack 4. Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Budgetary Slack Wiener dalam Endang (2012) menyebutkan bahwa komitmen organisasi sebagai dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan sesuatu dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Individu dengan komitmen organisasi tinggi memiliki motivasi untuk berbuat yang terbaik demi kepentingan organisasi dengan menciptakan budgetary slack. Dengan slack, perusahaan dapat merealisasikan anggarannya dengan
9 19 baik dan tepat. Hal ini dianggap manajer sebagai cara perusahaan agar memiliki citra yang baik dihadapan pihak luar. Penelitian yang dilakukan Sujana (2010) membuktikan semakin tinggi komitmen organisasi, tingkat budgetary slack yang diciptakan juga semakin tinggi. Penelitian serupa juga dilakukan Jaya dan Rahardjo (2013) yang memperoleh hasil komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap budgetary slack. Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H 4 : Komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap budgetary slack 5. Pengaruh Budget Emphasis terhadap Hubungan antara Partisipasi Anggaran dengan Budgetary Slack Budget emphasis merupakan alat kontrol yang digunakan manajer puncak untuk mengendalikan anggaran. Budget emphasis dapat membantu manajer puncak merealisasikan tujuan perusahaan, namun budget emphasis yang terlalu ketat dapat menyebabkan perilaku menyimpang pada bawahan karena tekanan kerja untuk mencapai target yang diharapkan. Dunk (1993) menyebutkan bahwa budget emphasis dapat memengaruhi hubungan antara partisipasi anggaran dengan budgetary slack. Partisipasi dalam proses penyusunan anggaran akan memberikan manajer bawah kesempatan untuk menetapkan isi anggaran. Adanya budget emphasis yang terlalu ketat dapat menciptakan perilaku menyimpang dari manajer untuk menciptakan slack. Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
10 20 H 5 : Budget emphasis memperkuat hubungan partisipasi anggaran terhadap budgetary slack 6. Pengaruh Budget Emphasis terhadap Hubungan antara Asimetri Informasi dengan Budgetary Slack Asimetri informasi seringkali dimanfaatkan oleh bawahan untuk memberikan informasi yang tidak tepat kepada atasan. Seperti memberikan estimasi pendapatan yang lebih rendah atau biaya yang lebih tinggi dari seharusnya. Dengan adanya budget emphasis yang ketat, penyelewengan yang dilakukan manajer bawah akan semakin tinggi, salah satunya dengan menciptakan slack. Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H 6 : Budget emphasis memperkuat hubungan asimetri informasi terhadap budgetary slack. 7. Pengaruh Budget Emphasis terhadap Hubungan antara Self Esteem dengan Budgetary Slack Seseorang dengan self esteem rendah cenderung tidak mampu bekerja dengan baik karena ia merasa tidak mampu dan tidak memiliki kepuasan diri. Dengan budget emphasis yang ketat, seseorang dengan self esteem rendah cenderung menciptakan slack untuk mendapatkan hasil yang baik. Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H 7 : Budget emphasis memperlemah hubungan self esteem terhadap budgetary slack. 8. Pengaruh Budget Emphasis terhadap Hubungan antara Komitmen Organisasi dengan Budgetary Slack Seseorang dengan komitmen organisasi yang tinggi cenderung menciptakan slack untuk membantu perusahaan mencapai tujuannya. Dengan budget emphasis
11 21 ketat yang diberikan atasan semakin mendorong manajer bawah untuk menciptakan slack. Berdasarkan penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H 8 : Budget emphasis memperkuat hubungan komitmen organisasi terhadap budgetary slack C. Model Penelitian Penelitian ini menguji 4 variabel independen yang meliputi: partisipasi anggaran, asimetri informasi, self esteem, dan komitmen organisasi. Variabel moderasi yang digunakan adalah budget emphasis, dan variabel dependen berupa budgetary slack. Model dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, model pertama menggambarkan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Model kedua menggambarkan pengaruh variabel moderasi terhadap hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Kedua model tersebut digambarkan sebagai berikut:
12 22 Partisipasi Anggaran + Asimetri Informasi + - Budgetary Slack Self Esteem + Komitmen Organisasi GAMBAR Model Penelitian GAMBAR 1
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Teori Keagenan Penjelasan konsep senjangan anggaran dapat dimulai dari pendekatan teori keagenan. Dalam teori keagengan, hubungan
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. digunakan sebagai acuan dalam pemecahan masalah yang sedang diteliti.
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori Bagian ini membahas mengenai teori-teori dan pendekatan yang menjelaskan pengertian anggaran, partisipasi penganggaran, ambiguitas peran,
BAB III METODE PENELITIAN
24 BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek/Subyek Penelitian Obyek penelitian menunjukkan lokasi atau tempat penelitian. Obyek dari penelitian ini adalah hotel berbintang yang berlokasi di Provinsi DIY. Sedangkan
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Bab ini mengkaji landasan teori, konsep-konsep yang digunakan, dan hasil
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN Bab ini mengkaji landasan teori, konsep-konsep yang digunakan, dan hasil penelitian sebelumnya yang diperlukan dalam menjawab masalah penelitian yang akah
BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan kegiatan organisasi secara lebih efektif dan efisien (Scief dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anggaran merupakan sebuah alat bantu manajemen dalam menjalankan fungsi perencanaan, koordinasi, komunikasi dan pengendalian. Anggaran merupakan alat manajemen yang
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Teori keagenan (agency theory) Teori keagenan menjelaskan hubungan antara atasan (prinsipal) dan bawahan (agen). Hubungan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kesenjangan anggaran dapat ditelusuri dari pengembangan agency theory
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendekatan Agency Theory Kesenjangan anggaran dapat ditelusuri dari pengembangan agency theory yang mencoba menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Keagenan Hubungan keagenan yakni dimana agent dan principal atau manajer dengan pemilik memiliki sebuah kontrak kerja sama atau sebagainya (Jensen dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Keagenan (Agency Theory) Menurut Jensen dan Mecking dalam Amertadewi dan Dwirandra (2013) menjelaskan teori keagenan merupakan kontrak antara satu orang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anggaran merupakan sebuah alat bantu manajemen dalam menjalankan fungsi perencanaan, koordinasi, komunikasi dan pengendalian. Anggaran merencanakan pembiayaan
1. Pengertian Agency Theory
1. Pengertian Agency Theory Agency theory (teori keagenan) merupakan mengasumsikan bahwa semua individu bertindak untuk kepentingannya sendiri. Pemegang saham sebagai diasumsikan hanya bertindak terhadap
DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... PERNYATAAN ORISINALITAS... KATA PENGANTAR... ABSTRAK...
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... PERNYATAAN ORISINALITAS... KATA PENGANTAR... ABSTRAK... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... i ii iii iv vii viii
PENGARUH PARTISIPASI PENGANGGARAN DAN TINGKAT KESULITAN TARGET ANGGARAN TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM REWARD
PENGARUH PARTISIPASI PENGANGGARAN DAN TINGKAT KESULITAN TARGET ANGGARAN TERHADAP KINERJA MANAJERIAL DENGAN SISTEM REWARD SEBAGAI VARIABEL MODERATING (Survey pada Perusahaan Manufaktur di Sukoharjo) SKRIPSI
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Penelitian ini menggunakan teori keagenan ( agency theory) sebagai teori
BAB II KAJIAN PUSTAKA Penelitian ini menggunakan teori keagenan ( agency theory) sebagai teori pemayung (grand theory) dan teori kontijensi ( contingency theory) sebagai teori pendukung (supporting theory).
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anggaran 2.1.1. Pengertian Anggaran Anggaran merupakan rencana kerja jangka pendek yang dinyatakan secara kuantitatif dan diukur dalam satuan moneter yang penyusunannya sesuai
BAB I PENDAHULUAN. Suatu rencana mengidentifikasi tujuan dan tindakan yang akan dilakukan untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penganggaran memegang peranan penting dalam perencanaan dan kontrol. Suatu rencana mengidentifikasi tujuan dan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapainya. Anggaran
BAB I PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian agar manajer dapat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anggaran merupakan elemen sistem pengendalian manajemen yang berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian agar manajer dapat melaksanakan kegiatan organisasi
BAB I PENDAHULUAN. yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pelaksanaan (actuating), dan fungsi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Anggaran adalah salah satu komponen penting dalam perencanaan organisasi. Anggaran merupakan rencana pendanaan kegiatan di masa depan dan dinyatakan secara
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Organisasi sektor publik pada dasarnya membutuhkan sebuah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Organisasi sektor publik pada dasarnya membutuhkan sebuah manajemen yang baik dalam melaksanakan tugasnya, sebab tanpa adanya manajemen suatu organisasi tidak
BAB II TEORI AGENSI, PERATURAN BAPEPAM VIII G.7, KEPEMILIKAN MANAJERIAL, KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, NILAI PERUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
14 BAB II TEORI AGENSI, PERATURAN BAPEPAM VIII G.7, KEPEMILIKAN MANAJERIAL, KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, NILAI PERUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1. Teori Agensi (Agency Theory) Jensen dan Meckling
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap hari kegiatan yang ada di perusahaan tidak lepas darikegiatandengan fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan
BAB I PENDAHULUAN. politik sangat dominan dalam proses pengambilan keputusan penetapan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengalokasian sumber daya merupakan permasalahan mendasar dalam penganggaran sektor publik. Seringkali alokasi sumber daya melibatkan berbagai institusi dengan kepentingannya
BAB 1 PENDAHULUAN. yang diambil dalam rangka proses penyusunan laporan keuangan akan. mempengaruhi penilaian kinerja perusahaan.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Laporan keuangan merupakan informasi yang dihasilkan perusahaan yang berguna untuk proses pengambilan keputusan, hal tersebut tidak terlepas dari proses penyusunannya.
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Teori agensi merupakan kondisi dimana prinsipal (pemilik atau manajemen
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Landasan Teori dan Konsep 2.1.1. Teori Keagenan Teori agensi merupakan kondisi dimana prinsipal (pemilik atau manajemen puncak) membawahi agen (karyawan
BAB I PENDAHULUAN. perencanaan yang baik karena merupakan proses penentuan kebijakan dalam rangka
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses perencanaan dan realisasi anggaran memerlukan partisipasi dan perencanaan yang baik karena merupakan proses penentuan kebijakan dalam rangka menyelenggarakan
SEMINAR AKUNTANSI. Teori Agensi (AgenCy Theory)
SEMINAR AKUNTANSI Teori Agensi (AgenCy Theory) ISU/ FENOMENA MASALAH TEORI UTAMA (GRAND THEORY) Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa agency theory menjelaskan hubungan keagenan yang terjadi antara
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anggaran merupakan elemen sistem pengendalian manajemen yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anggaran merupakan elemen sistem pengendalian manajemen yang berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian agar manajer dapat melaksanakan kegiatan organisasi
BAB II DASAR TEORI Anggaran Definisi Anggaran. Anggaran menurut Henry Simamora (1999) merupakan suatu
7 BAB II DASAR TEORI 2.1. Anggaran 2.1.1. Definisi Anggaran Anggaran menurut Henry Simamora (1999) merupakan suatu rencana rinci yang memperlihatkan bagaimana sumber-sumber daya diharapkan akan diperoleh
BAB II LANDASAN TEORI. principal dan agen. Pihak principal adalah pihak yang memberikan mandat
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Keagenan Teori keagenan merupakan konsep yang menjelaskan hubungan antara principal dan agen. Pihak principal adalah pihak yang memberikan mandat kepada pihak lain, yaitu
BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan suatu manajemen yang baik. Menurut Welsch (2000) misinya tanpa suatu manajemen yang baik.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam melaksanakan tugasnya organisasi sektor publik pasti membutuhkan suatu manajemen yang baik. Menurut Welsch (2000) mengartikan bahwa manajemen adalah suatu proses
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. (principal) yang mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Teori Agensi Hubungan keagenan merupakan sebuah kontrak antara satu orang atau lebih (principal) yang mempekerjakan orang lain
INTERAKSI BUDAYA ORGANISASI, INFORMASI ASIMETRI, DAN GROUP COHESIVENESS DALAM HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI PENGANGGARAN DAN BUDGETARY SLACK
INTERAKSI BUDAYA ORGANISASI, INFORMASI ASIMETRI, DAN GROUP COHESIVENESS DALAM HUBUNGAN ANTARA PARTISIPASI PENGANGGARAN DAN BUDGETARY SLACK ( Survey Pada Rumah Sakit Di Kabupaten Klaten) Skripsi Diajukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Nilai Tujuan utama perusahaan menurut theory of the firm adalah untuk memaksimumkan kekayaan atau nilai perusahaan (value of the firm). Memaksimalkan
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Teori keagenan adalah teori yang timbul dari adanya suatu hubungan
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory) Teori keagenan adalah teori yang timbul dari adanya suatu hubungan kontrak dimana satu atau lebih
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pihak atau lebih, dimana pihak tersebut disebut agent dan principal.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Keagenan (Agency Theory) Teori keagenan menjelaskan tentang adanya hubungan antara pemegang saham (shareholders) sebagai principal dan manajemen sebagai
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Teori keagenan mengungkapkan hubungan antara pemilik (principal) dan
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Keagenan (Theory Agency) Teori keagenan mengungkapkan hubungan antara pemilik (principal) dan manajemen (agen). Menurut
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. memahami hubungan tata kelola dalam suatu organisasi atau perusahaan. Pada
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory) Agency Theory merupakan suatu perspektif yang sering digunakan dalam memahami hubungan tata kelola dalam
BAB I PENDAHULUAN. dan kompleksitas tugas dapat berpengaruh terhadap slack anggaran.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anggaran merupakan komponen penting dalam perusahaan. Pentingnya fungsi anggaran sebagai perencana dan pengendali perusahaan menjadikan penganggaran sebagai masalah
BAB II LANDASAN TEORI. Anggaran adalah suatu rencana kuantitatif (satuan jumlah) periodic
BAB II LANDASAN TEORI A. Definisi Anggaran Anggaran adalah suatu rencana kuantitatif (satuan jumlah) periodic yang disusun berdasarkan program yang telah disahkan. Anggaran (budget) merupakan rencana tertulis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1999) dalam bentuk kinerja manajer berdasarkan pada fungsi manajemen klasik yang. penganggaran, pemprograman dan lainnya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kinerja Manajerial Penilaian kinerja manajerial menurut Mahoney, dkk (1963 dalam Zainul, 1999) dalam bentuk kinerja manajer berdasarkan pada fungsi manajemen klasik yang meliputi
PRESTASI VOL. 13 NO. 1 - JUNI 2014 ISSN
PENGARUH PARTISIPASI ANGGARAN TERHADAP KESENJANGAN ANGGARAN DENGAN BUDAYA ORGANISASI SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI (Studi Pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dan RSI Sultan Agung Di Kota Semarang) Listya
BAB II LANDASAN TEORI. (principal) yaitu investor dengan manajer (agent). Investor memberikan
9 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Agency Theory Teori Agensi merupakan teori yang menjelaskan hubungan antara pemilik modal (principal) yaitu investor dengan manajer (agent). Investor memberikan wewenang pada
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
7 BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Kecenderungan Kecurangan Akuntansi Ikatan akuntan publik Indonesia (IAI) (2011) menjelaskan kecurangan akuntansi sebagai: 1.
BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. sebagai principal dan pihak manajemen sebagai agent. Pihak principal selaku
BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. KAJIAN PUSTAKA 1. Teori Keagenan (Agency Theory) Teori keagenan menggambarkan mengenai hubungan antara pemegang saham sebagai principal dan pihak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori keagenan Teori keagenan merupakan hubungan antara pemilik (principal) dan manajer (agent) dalam suatu organisasi yang memiliki konflik kepentingan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kontrak yaitu pihak (principal) mengikat pihak lain (agent) untuk melalukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Keagenan (Agency Theory) Teori keagenan merupakan teori yang menjelaskan mengenai hubungan antara dua pihak yaitu manajer dengan pemilik modal dalam suatu
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. (principal) meminta pihak lainnya (agent) untuk melaksanakan sejumlah
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan Teori dan Konsep 2.1.1 Teori Keagenan Hubungan keagenan adalah suatu kontrak dimana satu orang atau lebih (principal) meminta pihak lainnya (agent)
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Penelitian xii
DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... i PRASAYARAT GELAR... ii LEMBAR PENGESAHAN... iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS... iv PERNYATAAN ORISINALITAS TESIS... v UCAPAN TERIMAKASIH... vi ABSTRAK... ix ABSTRACT...
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Teori agensi menjelaskan tentang pemisahan kepentingan atau
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Teori Agensi Teori agensi menjelaskan tentang pemisahan kepentingan atau pemisahan pengelolaan perusahaan. Pemilik ( principle)
BAB II TELAAH PUSTAKA
BAB II TELAAH PUSTAKA 2.1 Landasan Teori dan Telaah Pustaka 2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory) Sebuah perspektif teoretis yang penting pada desain insentif manajemen disediakan oleh konsep biaya agensi,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Keagenan (Agency Theory) Konsep Teori Keagenan (agency theory) menurut Anthony dan Govindarajan (2005) yaitu hubungan antara principal dan agen. Principal mempekerjakan
KUESIONER PENELITIAN
KUESIONER PENELITIAN Daftar pertanyaan berikut ini terdiri dari tipe isian dan tipe pilihan. Pada tipe isian, isilah pada tempat yang telah disediakan dengan singkat dan jelas. Sedangkan pada tipe pilihan
BAB 1 PENDAHULUAN. Pemikiran mengenai corporate governance berkembang dengan bertumpu pada teori
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pemikiran mengenai corporate governance berkembang dengan bertumpu pada teori keagenan dimana pengelolaan perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk memastikan
Peran Praktek Corporate Governance Sebagai Moderating Variable dari Pengaruh Earnings Management Terhadap Nilai Perusahaan
Tugas S2 matrikulasi: Ekonomi Bisnis & Financial Dosen: Dr. Prihantoro, SE., MM Peran Praktek Corporate Governance Sebagai Moderating Variable dari Pengaruh Earnings Management Terhadap Nilai Perusahaan
