MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI LAJU REAKSI KELAS XI SMA NEGERI 1 GRESIK

dokumen-dokumen yang mirip
UNESA Journal of Chemistry Education ISSN: Vol. 6, No. 1, pp January 2017

KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA MATERI ASAM BASA KELAS XI DI SMAN PLOSO JOMBANG

UNESA Journal of Chemistry Education ISSN: Vol. 6, No. 1, pp January 2017

KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA KEMALA BHAYANGKARI 1 SURABAYA PADA MATERI LAJU REAKSI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol.4, No.3. pp , September 2015

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2 No.2 pp May 2013

UNESA Journal of Chemical Education Vol 6, No.2 pp , May 2017

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA MATERI LAJU REAKSI KELAS XI IPA MAN SUMENEP

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA MATERI LAJU REAKSI

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No. 2, pp , May 2015

Unesa Journal of Chemical Education ISSN Vol. 5, No. 2, pp May 2016

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No.2, pp , May 2015

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2 No.2 pp May 2013

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 2, pp , May 2014

Abstrak. Kata-Kata Kunci : Inkuiri, Self-Efficacy, Laju Reaksi. Abstract

Widhar Dwi Utami, I Wayan Dasna, Oktavia Sulistina Universitas Negeri Malang

FORMULATING PROBLEM AND MAKING HYPOTHESIS SKILLS THROUGH DEVELOPMENT WORKSHEET BASED INQUIRY ON ELECTROLYTE AND NONELECTROLYTE SUBJECT MATTER

Unesa Journal of Chemical Education ISSN Vol. 5 No. 3. pp , September 2016

Unesa Journal of Chemistry Education Vol. 2, No. 2, pp May 2013 ISSN:

Unesa Journal of Chemical Education ISSN Vol. 5 No. 3. pp , September 2016

UNESA Journal of Chemistry Education ISSN: Vol. 6, No. 1, pp January 2017

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol.3, No.03. pp. 8-12, September 2014

KETERAMPILAN BERPENDAPAT SISWA KELAS XI SMA MELALUI PENERAPAN METODE PROBLEM SOLVING PADA MATERI LAJU REAKSI

KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM KELAS XI SMAN 18 SURABAYA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI POKOK LARUTAN PENYANGGA UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN METAKOGNITIF SISWA KELAS XI SMA

KETERAMPILAN PROSES SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA MATERI LAJU REAKSI DI SMA MUHAMMADIYAH 3 SURABAYA

MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA MATERI FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI

UNESA Journal of Chemistry Education ISSN: Vol. 6 No. 1, pp January 2017

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMP KELAS VII

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 5, No.2, pp , May 2016

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2, No. 3, pp September 2013

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 05 No. 02, Mei 2016, 1-5 ISSN:

Harun Nasrudin 1, Choirun Nisa 2.

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 2, pp May 2014

KETERAMPILAN KERJA ILMIAH PADA MATERI INDIKATOR ASAM BASA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING

UNESA Journal of Chemical Education Vol.4, No.1, pp January 2015.

MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X IPA 1 SMA NEGERI 1 MARABAHAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED INQUIRY

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 1, pp Januari 2014

OLEH: SITI FATIMAH NIM. E1M

PENGARUH MODEL INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DI SMA NEGERI 3 SINGKAWANG

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No. 2, pp , May 2015

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 3, pp , September 2014

STUDENT ACADEMIC SKILLS THROUGH PROJECT BASED LEARNING IN CLASS XI SENIOR HIGH SCHOOL BABUSSALAM

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MELATIH KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA MATERI POKOK ASAM-BASA DI KELAS XI SMAN 1 BOJONEGORO

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2 No. 3 pp September 2013

Unesa Journal of Chemical Education Vol. 1, No. 1, pp Mei 2012 ISSN:

Ernita Vika Aulia dan Ismono Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, ISSN:

PENERAPAN METODE PRAKTIKUM BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA KELAS XI IPA SMA

Penerapan Perangkat Pembelajaran Materi Kalor melalui Pendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Guided Discovery Kelas X SMA

OLEH: MIA BUDI AROFA NIM. E1M

UNESA Journal of Chemistry Education ISSN: Vol. 6 No. 1, pp January 2017

CORRELATION BETWEEN STUDENT S INTERPRETATION GRAPH SKILL AND STUDENT LEARNING OUTCOMES

Aprilia Rasidah dan Muchlis Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya Hp: ,

JCAE, Journal of Chemistry And Education, Vol. 1, No.1, 2017,

PENERAPAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA

Laela Ngasarotur Risfiqi Khotimah Partono Pendidikan Fisika FKIP Universitas Muhammadiyah Metro

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol.4, No.2, pp , May 2015

Kata Kunci: metode inkuiri, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar, kegiatan ekonomi

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No.2, pp , May 2015

Millathina Puji Utami et al., Model Pembelajaran Children Learning in Science (CLIS)...

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERBASIS MIND MAPPING PADA MATERI LAJU REAKSI UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN BERFIKIR KREATIF SISWA KELAS XI SMA

Penerapan Model Pembelajaran Aktif Tipe Guided Teaching

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 7-E

ISSN : X Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia Vol. 1 No. 1 Mei 2013

ANALISIS KEMAMPUAN MENYIMPULKAN PADA MATERI HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA DENGAN INKUIRI TERBIMBING

Arifah Zurotunisa, Habiddin, Ida Bagus Suryadharma Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang

MODEL INKUIRI DENGAN TIPE INTEGRATED PADA PEMBELAJARAN IPA DI SMP ARTIKEL. Oleh. Etik Khoirun Nisa NIM

KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF MATERI ASAM BASA KELAS XI SMAN 8 SURABAYA

KAJIAN MUATAN KPS PADA LKS BIOLOGI SMA ABSTRAK

Wardah Fajar Hani, 2) Indrawati, 2) Subiki 1) Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika. Dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 03, pp , September 2014

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI POKOK LARUTAN PENYANGGA UNTUK MELATIH KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 MADIUN

PENGARUH PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING. Info Artikel. Abstrak.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 6 No. 1, pp January 2017

Kemampuan Keterampilan Proses Sains Siswa pada Materi Zat Aditif Pada Makanan dan Minuman. Ariska Yuniar Rahmawati (1),Evie Ratnasari (2)

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2 No. 3, pp September 2013

JIPFRI: Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmiah

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 (2009): PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD BERORIENTASI KETERAMPILAN PROSES

Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya, ISBN : Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya, 17 September 2016

Nuriah Habibah*, Erviyenni**, Susilawati*** No.

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA PEMBELAJARAN FISIKA MATERI KALOR TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PENERAPAN STRATEGI SNOWBALLING PADA MATERI ATOM, ION, MOLEKUL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS VIII SMPN 19 SURABAYA

KETERAMPILAN METAKOGNITIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI ASAM BASA DI SMAN 1 PACET KELAS XI

Santi Helmi et al., Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA (Fisika)...

UNESA Journal of Chemical Education Vol. 5, No. 3, pp , September 2016 ISSN:

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 3, No. 02, pp , May 2014

PENERAPAN METODE INKUIRI PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SISWA KELAS VII SMP KARTIKA 1-7 PADANG ARTIKEL OLEH: ZUMRATUN HASANAH

Prakoso et al., Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar IPA Biologi...ister

Jl. Ketintang, Surabaya 60231, Indonesia

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SIKLUS BELAJAR (LEARNING CYCLE) 5E

PENERAPAN CONSTRUCTIVE FEEDBACK PADA PEMBUATAN LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA SMA NEGERI 7 PONTIANAK

KETERAMPILAN METAKOGNITIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI POKOK LAJU REAKSI DI SMAN 1 MANYAR GRESIK KELAS XI

KETERAMPILAN BERPENDAPAT SISWA KELAS XI SMA IPIEM SURABAYA MELALUI MODEL PENGAJARAN LANGSUNG DAN METODE DISKUSI KELAS PADA MATERI POKOK ASAM BASA

Unnes Physics Education Journal

PENERAPAN STRATEGI MIND MAPPING PADA MATERI REAKSI OKSIDASI REDUKSI DI KELAS X SMA NEGERI 17 SURABAYA

Transkripsi:

MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI LAJU REAKSI KELAS XI SMA NEGERI 1 GRESIK EXERCISING SCIENCE PROCESS SKILLS THROUGH IMPLEMENTATION INQUIRY LEARNING MODEL ON REACTION RATES MATERIAL IN CLASS OF XI SMA NEGERI 1 GRESIK Alfanahdia Hanum dan Bertha Yonata Jurusan Kimia FMIPA Unesa Hp 083831750022, e-mail: alfaahdia@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gresik melalui penerapan model pembelajaran inkuiri. Desain penelitian yang digunakan adalah One-Group Pretest-Posttest Design dengan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan di kelas XI MIPA 5 SMA Negeri 1 Gresik. Instrumen yang digunakan adalah lembar tes keterampilan proses sains dan lembar tes hasil belajar ranah pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Hasil belajar ranah keterampilan proses sains siswa setelah penerapan model pembelajaran inkuiri pada materi laju reaksi telah mencapai skor 2,67 dan telah dilatihkan dengan baik yang dibuktikan dengan skor rata-rata siswa pada pertemuan pertama hingga ketiga berturut-turut sebesar 3,31; 3,52; dan 3;67 dan sebanyak 76% siswa dikatakan tuntas pada pertemuan pertama dan 97% siswa dikatakan tuntas pada pertemuan kedua dan ketiga. 2) Hasil belajar ranah pengetahuan siswa setelah penerapan model pembelajaran inkuiri pada materi laju reaksi telah mencapai skor ketuntasan yang diharapkan, yaitu 2,67 yang ditunjukkan dengan skor rata-rata pada tiap indikator adalah 3,22; 3,66; 3,32; dan 3,44. Sedangkan ketuntasan klasikal siswa pada tiap indikator tersebut berturut-turut adalah 85%, 94%, 85%, dan 85%. Kata Kunci: inkuiri, keterampilan proses sains, laju reaksi. Abstract The aim of this research is to know student s science process skills in class of XI SMA Negeri 1 Gresik through the implementation of inquiry learning model. This research used one- group pretest - posttest design with descriptive quantitative type. Implementation of research carried out in class XI MIPA 5 SMAN 1 Gresik. The instruments that used was test sheets of the science process skills and test sheets of cognitive product. The results showed that : 1 ) Student's science process skills after implementation inquiry learning model on reaction rates material has reached 2,67 and has exercised well that proved by the average score of students at the first to the third meeting respectively 3.31 ; 3.52 ; and 3 ; 67 and 76% of students thoroughly studied in the first meeting and 97 % of students thoroughly studied in the second and third meetings. 2 ) Cognitive product after implementation inquiry learning model on reaction rates material has reached 2,67 that proved by the average score of each indicator was 3.22; 3.66; 3.32; and 3.44. While the classical of cognitive product in each of these indicators are respectively 85 %, 94 %, 85 % and 85 %. Keywords: inquiry, science process skills, reaction rates. 107

PENDAHULUAN Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang tidak hanya menekankan pada aspek pengetahuan (kognitif), tetapi juga menekankan pada aspek sikap dan keterampilan. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik [1]. Kimia merupakan ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang zat yang meliputi komposisi, struktur dan sifat, transformasi, dinamika dan energetika zat yang melibatkan keterampilan dan penalaran [2]. Oleh sebab itu, pembelajaran kimia tidak hanya mencakup konsep perhitungan, melainkan bereksperimen dalam rangka pemberian pengalaman belajar secara langsung dan penerapan ilmu kimia dalam kehidupan sehari-hari. Munculnya kegiatan tersebut terdapat dalam beberapa materi kimia di sekolah, salah satunya laju reaksi. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia di SMA Negeri 1 Gresik bahwa sekitar 50% siswa tidak tuntas pada materi laju reaksi sehingga dapat dikatakan hasil belajar siswa pada materi laju reaksi masih rendah. Kompetensi dasar yang harus dicapai siswa pada materi laju reaksi yaitu siswa dapat menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan menentukan orde reaksi berdasarkan data hasil percobaan. Dari kompetensi dasar tersebut terlihat bahwa materi laju reaksi tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep, tetapi juga membutuhkan pembuktian melalui eksperimen dengan cara siswa mengamati, menganalisis dan meyimpulkan secara mandiri percobaaan tersebut. Dengan demikian, keterampilan proses sangat penting untuk dilatihkan kepada siswa SMA khususnya pada materi laju reaksi. Keterampilan proses sains adalah seperangkat kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan, dan menemukan ilmu pengetahuan [3]. Funk membagi keterampilan proses sains menjadi dua tingkatan, yaitu keterampilan proses sains tingkat dasar (basic science process skill) dan keterampilan proses sains terpadu (interarated science prscess skill). Keterampilan proses sains tingkat dasar meliputi observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, penarikan kesimpulan. Sedangkan keterampilan proses sains terpadu meliputi mengidentifikasi variabel, menyusun tabel data, menyusun grafik, menggambarkan hubungan di antara variabel-variabel, memproses data, menganalisis investigasi, menyusun hipotesis, merumuskan variabel secara operasional, merencanakan investigasi, dan melakukan eksperimen [4]. Berdasarkan hasil tes awal pada pra penelitian 40 siswa kelas XI yang dipilih secara acak di SMA Negeri 1 Gresik, kemampuan siswa dalam menyusun hipotesis mendapatkan skor rata-rata 2,22 dengan predikat C+, untuk komponen merencanakan investigasi mendapatkan skor rata-rata 1,82 dengan predikat C, untuk komponen memproses data mendapatkan skor rata-rata 2,60 dengan predikat B-, sedangkan dalam menganalisis investigasi mendapatkan skor rata-rata 2,02 dengan predikat C. Dari hasil pra penelitian tersebut, terlihat bahwa siswa masih kurang dilatihkan keterampilan proses sains dalam menyelesaikan permasalahan dan pembelajaran kimia hanya berpusat pada guru. Oleh karena itu, keterampilan proses 108

sains perlu dilatihkan pada siswa sekolah menengah atas. Model pembelajaran yang sesuai untuk melatihkan keterampilan proses adalah model pembelajaran inkuiri. Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya. Dalam proses pembelajaran inkuiri guru berlaku sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Utami bahwa rata-rata pencapaian keterampilan proses sains siswa dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing sebesar 94,3% dan termasuk dalam kategori sangat baik sedangkan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional sebesar 76,9% dan termasuk dalam kategori baik, sehingga keterampilan proses sains siswa yang diterapkan dengan model inkuiri terbimbing lebih baik daripada siswa yang diterapkan dengan model konvensional [5]. Keterampilan proses sains tersebut harus dilatihkan dalam proses kegiatan belajar mengajar melalui sintaks model pembelajaran inkuiri. Dengan melaksanakan proses belajar mengajar sesuai sintaks model pembelajaran inkuiri, diharapkan siswa dapat memiliki keterampilan proses sains baik dalam memecahkan permasalahan maupun mempelajari suatu materi dengan sempurna. Sebab, sintaks dalam model pembelajaran inkuiri menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran berkaitan dengan keterampilan proses sains siswa. Dengan demikian, diharapkan dengan keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri yang baik akan dapat melatihkan keterampilan proses sains siswa dengan baik pula. Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hasil belajar ranah keterampilan proses sains dan ranah pengetahuan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gresik melalui penerapan model pembelajaran inkuiri pada materi laju reaksi. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Sasaran penelitian satu kelas siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gresik, pemilihan kelas dilakukan secara acak (random). Penelitian dilakukan pada semester gasal tahun ajaran 2015-2016. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-Group Pretest-Posttest Design yang dapat digambarkan sebagai berikut [6]: O1 X O2 Keterangan : O 1 : Skor pretest hasil belajar siswa ranah pengetahuan dan hasil belajar siswa ranah keterampilan proses sains siswa sebelum diberi model pembelajaran inkuiri pada materi laju reaksi. O 2 : Skor posttest hasil belajar siswa ranah pengetahuan dan hasil belajar siswa ranah keterampilan proses sains siswa setetah diberi model pembelajaran inkuiri pada materi laju reaksi yang dilakukan di tiap pertemuan. X : Perlakuan (treatment) yang diberikan dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri berupa hasil belajar ranah keterampilan proses sains 109

siswa, dan hasil belajar ranah pengetahuan, dan aktivitas siswa. Untuk melihat hasil belajar ranah keterampilan proses sains siswa dan hasil belajar ranah pengetahuan siswa terlebih dahulu diberikan pretest. Setelah itu, siswa diberikan perlakuan dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri pada materi laju reaksi. Setelah diberikan perlakuan tesebut selanjutnya pada tiap pertemuan dilakukan posttest hasil belajar ranah keterampilan proses sains siswa dan hasil belajar ranah pengetahuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap konsep faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Adapun perangkat pembelajaran yang digunakan adalah silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS). Sedangkan instrumen yang digunakan untuk memperoleh data adalah lembar tes keterampilan proses sains siswa dan lembar tes hasil belajar ranah pengetahuan. Metode pengumpulan data menggunakan metode tes. Metode tes ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diberikan pada proses pembelajaran pada materi laju reaksi. Tes hasil belajar keterampilan proses berupa soal uraian yang berisi fenomena selanjutnya siswa menyusun hipotesis, merencanakan investigasi, memproses data, dan menganalisis investigasi. Tes hasil belajar ranah pengetahuan diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran di mana tes ini berisi 5 soal multiple choice. Data dari penelitian ini selanjutnya akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis data. Teknik analisis data untuk tiap instrumen penelitian akan diuraikan sebagai berikut: Analisis Data Hasil Belajar Keterampilan Proses Sains Skor penilaian yang digunakan untuk menilai keterampilan proses sains siswa adalah 1-4, untuk menentukan skor tersebut, menggunakan rubrik penilaian keterampilan proses sains siswa. Penilaian keterampilan proses sains siswa dinilai pada tiap komponen, yaitu: menyusun hipotesis, merencanakan investigasi, memproses data, dan menganalisis investigasi sesuai dengan penilaian kurikulum 2013 [7]. Skor keterampilan proses sains siswa yang diperoleh secara individu saat posttest telah mencapai 2,67. Untuk mengetahui ketuntasan keterampilan proses sains siswa pada satu kelas digunakan ketuntasan klasikal. Presentase ketuntasan klasikal yang diharapkan adalah 75%. Analisis Data Hasil Belajar Ranah Pengetahuan Siswa dikatakan tuntas belajar apabila telah mencapai skor 2,67 dan mencapai ketuntasan klasikal 75%. Perhitungan ketuntasan hasil belajar ranah pengetahuan sesuai dengan penilaian kurikulum 2013 [7]. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil belajar keterampilan proses sains siswa Keterampilan Proses Sains (KPS) adalah kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan [5]. Keterampilan proses sains siswa yang dinilai adalah keterampilan menyusun hipotesis, merencanakan investigasi, memproses data, dan menganalisis investigasi. Sebelum memasuki pertemuan pertama, siswa 110

mengerjakan soal pretest keterampilan proses sains siswa selama 20 menit. Pretest ini digunakan untuk mengetahui keterampilan proses sains awal siswa. Pretest dilaksanakan pada jam pelajaran sebelum pelajaran kimia. Untuk komponen menyusun hipotesis, skor yang diperoleh siswa adalah 2,52 dengan predikat B-; komponen merencanakan investigasi mendapatkan predikat D dengan skor 1,36 dan pada komponen memproses data skor yang diperoleh siswa adalah 1,61 dengan predikat D+; sedangkan pada komponen menganalisis investigasi, skor yang diperoleh siswa adalah 1,67 dengan predikat D+. Hasil pretest tersebut menunjukkan bahwasannya siswa kurang dilatihkan keterampilan proses sains dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, siswa harus dilatihkan keterampilan proses sains dengan model pembelajaran inkuiri. Pada saat proses pembelajaran pada pertemuan pertama, siswa dilatihkan keterampilan proses sains melalui LKS faktor konsentrasi mempengaruhi laju reaksi dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Di akhir pembelajaran dilaksanakan posttest. Skor yang diperoleh siswa saat posttest, untuk komponen menyusun hipotesis, merencanakan investigasi, memproses data, dan menganalisis investigasi berturut-turut yaitu sebesar 3,52 (B+); 2,73 (B-); 3,55 (B+); 3,45 (B+). Didukung pula dengan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada pertemuan pertama sangat baik. Selanjutnya setelah penilaian tiap komponen dapat diketahui pula penilaian keterampilan proses sains siswa tiap individu. Skor rata-rata hasil belajar keterampilan proses sains siswa secara klasikal pada pertemuan pertama adalah 3,31 dengan presentase ketuntasan klasikal yang diperoleh adalah 76,00%. Pada pertemuan kedua menggunakan model pembelajaran inkuiri bebas modifikasi untuk melatihkan keterampilan proses sains siswa dengan LKS. Materi yang diajarkan pada pertemuan kedua adalah faktor luas permukaan dan suhu mempengaruhi laju reaksi. Untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa dilaksanakan posttest. Dari hasil posttest tersebut, skor yang diperoleh siswa pada tiap komponen keterampilan proses sains yang dilatihkan pada materi faktor luas permukaan mempengaruhi laju reaksi berturut-turut adalah sebesar 3,82 (A-); 3,18 (B+); 3,70 (A-); 3,39 (B+) dan skor posttest pada materi faktor suhu mempengaruhi laju reaksi berturut-turut sebesar 3,91 (A); 2,85 (B); 3,79 (A-); 3,55 (A-). Skor rata-rata hasil belajar keterampilan proses sains siswa secara klasikal pada materi faktor luas permukaan dan suhu mempengaruhi laju reaksi adalah 3,52. Hasil presentase ketuntasan klasikal yang diperoleh adalah 97%. Hal tersebut didukung dengan presentase yang diperoleh guru dalam mengelola pembelajaran pada pertemuan kedua sangat baik. Pertemuan ketiga menggunakan model pembelajaran inkuiri bebas. Skor yang diperoleh siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan inkuiri bebas untuk tiap komponen menyusun hipotesis, merencanakan investigasi, memproses data, dan menganalisis investigasi berturut-turut adalah 3,73 (A-); 3,42 (B+); 3,85 (A); 3,70 (A-). Sedangkan skor rata-rata hasil belajar keterampilan proses sains siswa pada pertemuan ketiga secara klasikal adalah 3,67 dengan ketuntasan klasikal sebesar 97%. Hal tersebut didukung pula dengan 111

Skor Keterampilan Proses Sains UNESA Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454 kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan sangat baik. Dari pertemuan pertama hingga ketiga, dapat digambarkan melalui grafik skor hasil belajar keterampilan proses sains siswa tiap komponen pada Gambar 1. Skor keterampilan proses sains siswa tiap komponen mengalami perubahan setelah penerapan model pembelajaran inkuiri pada materi laju reaksi. Hal tersebut dibuktikan dengan skor yang diperoleh siswa telah mencapai lebih besar dari 2,67, di mana sebelum diberi perlakuan, skor yang diperoleh siswa masih kurang dari 2,67. 4 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 Menyusun hipotesis Merencanakan investigasi Memproses data Menganalisis investigasi Komponen Keterampilan Proses Sains Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Gambar 1. Grafik skor keterampilan proses sains siswa tiap komponen pada pertemuan pertama hingga ketiga 3), dimana pada pertemuan pertama adalah indikator 3.7.1, pertemuan kedua adalah indikator 3.7.2 dan 3.7.3, serta pada pertemuan ketiga adalah indikator 3.7.4. Sebelum proses pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri, terlebih dahulu dilaksanakan pretest. Dari pretest tersebut didapatkan skor rata-rata siswa secara klasikal sebesar 1,94; artinya siswa belum mencapai skor ketuntasan yang diharapkan. Sedangkan ketuntasan klasikal pada pretest ini adalah 18%. Kemudian diakhir pembelajaran pada pertemuan pertama ini dilakukan posttest faktor konsentrasi mempengaruhi laju reaksi sesuai dengan indikator 3.7.1. Skor rata-rata yang diperoleh siswa secara klasikal saat posttest adalah 3,22. Sebanyak 85% siswa telah tuntas pada indikator 3.7.1 dan sebanyak 15% siswa belum tuntas. Dengan demikian, ketuntasan hasil belajar siswa ranah pengetahuan secara klasikal sudah tercapai setelah penerapan model pembelajaran inkuiri. Didukung oleh kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri pada pertemuan pertama ini sudah sangat baik yang ditunjukkan dengan skor keterlaksanaan sebesar 88,98%. Pada pertemuan kedua, skor rata-rata Hasil belajar ranah pengetahuan yang diperoleh siswa untuk indikator 3.7.2 Hasil belajar siswa ranah pengetahuan dan 3.7.3 saat posttest adalah 3.66 dan diperoleh dari pretest dan posttest hasil 3,32. Dari kedua skor tersebut belajar ranah pengetahuan setelah menunjukkan bahwa skor rata-rata siswa penerapan model pembelajaran inkuiri pada kelas XI MIPA 5 SMA Negeri 1 Gresik materi laju reaksi. Jumlah soal yang telah mencapai skor minimal yang dikerjakan siswa tiap pretest dan posttest diharapkan yaitu 2,67. Sedangkan sebanyak lima soal dengan tipe multiple ketuntasan klasikal siswa pada indikator choice yang merujuk pada ranah kognitif 3.7.2 dan 3.7.3 adalah 94% dan 85%. Hal Taksonomi Bloom yang mewakili indikator tersebut didukung oleh kemampuan guru pada materi laju reaksi. Posttest ini dalam pengelolaan pembelajaran dengan dilakukan sesuai dengan indikator yang model pembelajaran inkuiri pada harus dicapai siswa pada ranah kognitif (KI 112

pertemuan kedua ini sudah sangat baik (91,96%). Indikator yang harus dicapai siswa pada pertemuan ketiga adalah 3.7.4. Skor ratarata posttest hasil belajar ranah pengetahuan yang diperoleh siswa adalah sebesar 3,44. Skor tersebut juga sudah mencapai skor minimal yang harus dicapai siswa, yaitu 2,67. Berdasarkan ketuntasan siswa secara klasikal, siswa yang tuntas sebanyak 85% dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 15%. Kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri pada pertemuan ketiga ini sudah sangat baik yang ditunjukkan dengan skor keterlaksanaan sebesar 95,24%. Dari perolehan skor hasil belajar ranah pengetahuan tiap pertemuan, skor rata-rata yang diperoleh siswa lebih besar daripada skor yang diharapkan yaitu 2,67 dan skor ketuntasan secara klasikal lebih besar dari 75%. Hasil belajar yang baik tersebut juga tidak terlepas dari peran guru dalam mengelola pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran inkuiri yang baik pula di tiap pertemuannya. Jadi, dengan penerapan model pembelajaran inkuiri yang baik maka hasil belajar ranah pengetahuan siswa akan baik pula. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan pembahasan dengan memperhatikan rumusan masalah, maka dapat dituliskan simpulan penelitian, yaitu model pembelajaran inkuiri dapat melatih keterampilan proses sains siswa kelas XI MIPA 5 pada materi laju reaksi. Adapun temuan-temuan sebagai berikut: 1. Hasil belajar ranah keterampilan proses sains siswa setelah penerapan model 113 pembelajaran inkuiri pada materi laju reaksi telah mencapai skor 2,67 dan telah dilatihkan dengan baik. Sebanyak 76% siswa dikatakan tuntas pada pertemuan pertama dan sebanyak 97% siswa dikatakan tuntas pada pertemuan kedua dan ketiga untuk hasil belajar keterampilan proses sains. Skor rata-rata siswa pada pertemuan pertama hingga ketiga berturut-turut sebesar 3,31; 3,52; dan 3;67. 2. Hasil belajar ranah pengetahuan siswa setelah penerapan model pembelajaran inkuiri pada materi laju reaksi telah mencapai skor ketuntasan yang diharapkan, yaitu 2,67. Skor rata-rata hasil belajar siswa ranah pengetahuan pada tiap indikator 3.7.1; 3.7.2; 3.7.3; dan 3.7.4 adalah 3,22; 3,66; 3,32; dan 3,44. Sedangkan ketuntasan klasikal siswa pada tiap indikator tersebut berturut-turut adalah 85%, 94%, 85%, dan 85%. Saran 1. Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran inkuiri pada penelitian ini dilakukan di dalam kelas karena keterbatasan fasilitas di laboratorium. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran inkuiri di laboratorium. 2. Pada saat melakukan percobaan, siswa membutuhkan waktu yang lama karena beberapa siswa kurang terampil dalam menggunakan alat. Oleh sebab itu, disarankan pada penelitian selanjutnya dipastikan siswa telah terampil menggunakan alat dan dilakukan penilaian keterampilan psikomotor. 3. Sebaiknya guru terus melatihkan keterampilan proses sains siswa pada proses pembelajaran sehingga siswa dapat memecahkan pemasalahan secara

mandiri, baik permasalahan di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA 1. Kemendikbud. 2013. Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2. Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 3. Dahar, R. W. 1996. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Penerbit Erlangga. 4. Subiyanto, 1988. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 5. Utami, Widhar Dwi, I Wayan Dasna, Oktavia Sulistina. 2013. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Proses Sains Siswa pada Materi Kelarutan Dan Hasil Kali Kelarutan. 6. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. 7. Kemendikbud. 2014. Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 114