BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
HISTOLOGI URINARIA dr d.. K a K r a ti t k i a a R at a n t a n a P e P r e ti t w i i

2. Sumsum Ginjal (Medula)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Fluorida adalah anion monovalen. 13. secara cepat saat lambung kosong dan fluorida sudah mencair. Adanya

a) memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun, c) mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan

M.Biomed. Kelompok keilmuan DKKD

Struktur bagian dalam ginjal

Struktur Ginjal: nefron. kapsul cortex. medula. arteri renalis vena renalis pelvis renalis. ureter

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. struktur parenkhim masih normal. Corpusculum renalis malpighi disusun oleh komponen

Histologi Sistem Urinarius

SISTEM URIN (GINJAL)

11/28/2011 SISTEM URINARIA. By. Paryono

GINJAL KEDUDUKAN GINJAL DI BELAKANG DARI KAVUM ABDOMINALIS DI BELAKANG PERITONEUM PADA KEDUA SISI VERTEBRA LUMBALIS III MELEKAT LANGSUNG PADA DINDING

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Tanaman Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.)

Sistem Ekskresi Manusia

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Bangsa-bangsa itik lokal yang ada umumnya diberi nama berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. Umumnya anti nyamuk digunakan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi

Sistem Ekskresi. Drs. Refli, MSc Diberikan pada Pelatihan Penguatan UN bagi Guru SMP/MTS se Provinsi NTT September 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLATIHAN SOAL BAB 1

M.Nuralamsyah,S.Kep.Ns

biologi SET 15 SISTEM EKSKRESI DAN LATIHAN SOAL SBMPTN ADVANCE AND TOP LEVEL A. ORGAN EKSKRESI

Sistem Eksresi> Kelas XI IPA 3 SMA Santa Maria Pekanbaru

EMBRIOLOGI SISTEM URINARIUS. dr. Al-Muqsith, M.Si

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 11. SISTEM EKSKRESI MANUSIALatihan Soal 11.1

SISTEM EKSKRESI MANUSIA 1: REN. by Ms. Evy Anggraeny SMA Regina Pacis Jakarta

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Rhodamine B merupakan zat warna golongan xanthenes dyes. Pewarna

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT berfirman dalam Al-qur an yang berbunyi:

SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA

Created by Mr. E. D, S.Pd, S.Si LOGO

BAB 1 PENDAHULUAN. Senyawa kimia sangat banyak digunakan untuk mengendalikan hama. Di

Anatomi & Fisiologi Sistem Urinaria II Pertemuan 11 Trisia Lusiana Amir, S. Pd., M. Biomed PRODI MIK FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya stres oksidatif pada tikus (Senturk et al., 2001) dan manusia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Manusia dapat terpapar logam berat di lingkungan kehidupannya seharihari.

Mahasiswa dapat menjelaskan alat ekskresi dan prosesnya dari hasil percobaan

- - SISTEM EKSKRESI MANUSIA - - sbl1ekskresi

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLatihan Soal 1.1

Menjelaskan struktur dan fungsi sistem ekskresi pada manusia dan penerapannya dalam menjaga kesehatan diri

11/27/2011 SISTEM URINARIA. By. Paryono

SISTEM LIMFOID. Organ Linfoid : Limfonodus, Limpa, dan Timus

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Rata-rata penurunan jumlah glomerulus ginjal pada mencit jantan (Mus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kandungan produk X yang akan dilihat pada penelitian ini adalah :

FISIOLOGI PEMBULUH DARAH. Kuntarti, SKp

BAB 1 PENDAHULUAN. membunuh serangga (Heller, 2010). Sebanyak dua juta ton pestisida telah

bagian dalam yang rapuh (Guyton & Hall, 2008).

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLatihan Soal 1.2

HISTOLOGI SISTEM LIMFATIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. berkhasiat obat ini adalah Kersen. Di beberapa daerah, seperti di Jakarta, buah ini

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Telaah Pustaka Sirih merah Menurut Sudewo (2010), sirih merah (Piper crocatum) memiliki klasifikasi ilmiah sebagai

SISTEM EKSKRESI SISTEM EKSKRESI PADA VERTEBRATA

STRUKTUR DAN FUNGSI HEWAN (SISTEM EKSRESI)

BAB I PENDAHULUAN. 1.3 Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. Deksametason merupakan salah satu obat golongan glukokortikoid sintetik

BAB I PENDAHULUAN. (FAO, 2003). Penggunaan pestisida dalam mengatasi organisme pengganggu

I. PENDAHULUAN. Parasetamol merupakan obat antipiretik dan analgetik yang telah lama

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Tanaman alpukat.

Hubungan Hipertensi dan Diabetes Melitus terhadap Gagal Ginjal Kronik

BAB VII SISTEM UROGENITALIA

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Jaringan Tubuh. 1. Jaringan Epitel. 2. Jaringan Otot. 3. Jaringan ikat/penghubung. 4. Jaringan Saraf

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLatihan Soal 1.3. Air. Asam amino. Urea. Protein

Sistem Peredaran Darah Manusia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PEMERIKSAAN PROTEIN DAN GLUKOSA URINE LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN : ERICA PUSPA NINGRUM : J1C111208

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Herbisida Golongan Paraquat Diklorida

SISTEM PEMBULUH DARAH MANUSIA. OLEH: REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt

PENGATURAN JANGKA PENDEK. perannya sebagian besar dilakukan oleh pembuluh darah itu sendiri dan hanya berpengaruh di daerah sekitarnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mencit laboratorium merupakan turunan dari mencit liar yang telah

Reabsorpsi dan eksresi cairan, elektrolit dan non-elektrolit (Biokimia) Prof.dr.H.Fadil Oenzil,PhD.,SpGK Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

MODUL MATA PELAJARAN IPA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu penyakit, kelainan fisik atau gejala lain. Obat digolongkan menjadi 4 golongan yaitu:

Pemeriksaan Urine Metode Carik Celup

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupannya sehari-hari. Pada lingkungan yang kadar logam beratnya cukup

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tawas dan fungsinya dalam industri makanan

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Ilmu Pengetahuan Alam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Bahan pewarna saat ini memang sudah tidak bisa dipisahkan dari

BAB 1 PENDAHULUAN (Sari, 2007). Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara termasuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Sistem vaskuler darah. Sistem Sistem sirkulasi: sirkulasi: Sistem vaskuler darah. System vaskuler limfe System vaskuler limfe. Sistem vaskuler darah

Bab. Sistem Ekskresi. A. Sistem Ekskresi pada Manusia B. Sistem Ekskresi pada Hewan

1 Universitas Kristen Maranatha

SISTEM PEREDARAN DARAH PADA MANUSIA

1 Universitas Kristen Maranatha

Ginjal merupakan organ yang sangat penting

TINJAUAN PUSTAKA. Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Sistem Ekskresi Pada Hewan Vertebrata

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Anatomi fisiologi ginjal Dua ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, di luar rongga peritoneum. Sisi medial setiap ginjal merupakan daerah lekukan yang disebut hilum tempat lewatnya arteri dan vena renalis, pembuluh limfatik, saraf, dan ureter yang membawa urin akhir dari ginjal ke kandung kemih, tempat urine disimpan hingga dikeluarkan. Jika ginjal dibelah dua dari atas ke bawah, dua daerah utama yaitu daerah korteks di bagian luar dan medulla di bagian dalam. Medulla ginjal terbagi menjadi 8 sampai 10 massa jaringan berbentuk kerucut yang disebut piramida ginjal. Dasar dari setiap piramida dimulai pada perbatasan antara korteks dan medulla serta berakhir di papilla, yang menonjol ke dalam ruang pelvis ginjal. (Sloane, 2012) 2. Histologi ginjal Setiap ginjal dilapisi oleh kapsul jaringan ikat padat tidak teratur. Irisan sagital ginjal menunjukkan korteks yang lebih gelap di bagian luar dan medulla yang lebih terang di bagian dalam, yang terdiri atas banyak piramid ginjal. Basis dari setiap piramid menghadap kearah korteks dan membentuk batas antara korteks dan medulla yang disebut sebagai kortikomedularis. Apeks dari setiap piramid yang bulat yang meluas ke arah pelvis renalis membentuk papilla renalis. Sebagian korteks juga 8

9 meluas ke masing-masing sisi piramid ginjal untuk membentuk kolumna renalis. Setiap papilla renalis dikelilingi oleh kaliks minor yang mengumpulkan urin dari papilla. Kaliks minor bergabung di sinus renalis membentuk kaliks mayor. a. Unit fungsional ginjal Unit fungsional setiap ginjal adalah tubulus uriniferus mikroskopik. Tubulus ini terdiri dari nefron dan duktus koligens. Duktus koligens ini berfungsi untuk menampung curahan dari nefron. Jutaan nefron terdapat pada korteks. Nefron selanjutnya, terbagi menjadi dua komponen yaitu korpuskulum ginjal (corpusculum renal) dan tubulus ginjal (tubulus renalis). Terdapat dua jenis nefron yaitu nefron kortikal terletak pada korteks ginjal sedangkan nefron juksta medularis terdapat pada perbatasan antara korteks dan medulla ginjal. Meskipun semua nefron berfungsi untuk pembentukan urin namun nefron jukstamedularis dapat menyebabkan kondisi hipertonik sehingga urin menjadi pekat. b. Ginjal ( Korteks, Medulla, Piramid, dan Kaliks Minor) Dalam potongan sagital, ginjal dibagi menjadi korteks bagian gelap di sebelah luar dan medulla bagian terang di sebelah dalam. Korteks di lindungi oleh kapsul ginjal berupa jaringan ikat tidak teratur. Korteks mengandung tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, glomerulus, dan radius medularis. Arteri interlobularis dan vena interlobularis juga terdapat pada korteks. Radius medullaris

10 dibentuk oleh bagian nefron yang lurus, pembuluh darah, dan tubulus koligens yang menyatu di medulla untuk membentuk duktus koligens yang lebih besar. Medulla terdiri atas piramid-piramid ginjal. Basis setiap piramid berbatasan dengan korteks dan apeksnya membentuk papilla renalis yang menonjol ke dalam struktur bentuk corong, kaliks minor yang menggambarkan bagian ureter yang lebar. Area kribosa di tembus oleh lubang kecil yang merupakan muara duktus koligens ke dalam kaliks minor. Ujung papilla renalis biasanya di lapisi oleh epitel selapis slindris. Saat epitel slindris papilla renalis berlanjut ke dinding luar kaliks minor, epitel ini menjadi epitel transisional. Lapisan tipis jaringan ikat dan otot polos di bawah epitel ini selanjutnya menyatu dengan jaringan ikat sinus renalis. Di dalam sinus renalis terdapat cabang-cabang arteri dan vena renalis yaitu arteri interlobularis dan vena interlobularis. Pembuluh interlobularis masuk ke ginjal dan melengkung di basis piramid. Gambar 1. Ginjal: korteks, medula, piramid, dan papila renalis (Difiore,2013)

11 c. Korteks Ginjal dan Medulla Bagian Atas Korpuskulum ginjal terdiri dari glomerulus dan kapsula glomerulus (bowman). Glomerulus adalah sekumpulan kapiler yang dibentuk dari arteriol glomerulus aferen, dan ditunjang oleh jaringan ikat halus serta dikelilingi oleh kapsul glomerulus. Stratum viscerale atau lapisan dalam kapsul glomerulus mengelilingi kapsul glomerulus dengan sel epitel modifikasi yaitu podosit. Di polus vascularis korpuskulum ginjal, epitel stratum viscerale membentuk epitel selapis gepeng di stratum parietale kapsul glomerulus. Ruang di antara stratum viscerale dan stratum parietale korpuskulum ginjal disebut juga spatium capsulare. Kospuskulum ginjal dikelilingi oleh dua jenis tubulus kontortus. Kedua tubulus ini adalah tubulus kontortus proksimal dan tubulus kontortus distal. Tubulus kontortus proksimal lebih panjang dari tubulus kontortus distal. Tubulus kontortus proksimal memperlihatkan lumen kecil tidak rata dan satu lapisan sel kuboid dengan sitoplasma bergranula dan eosinofilik. Spatium capsulare urinarium di kosrpuskulum ginjal bersambungan dengan lumen tubulus kontortus proksimal di polus urinarius. Di polus urinarius, epitel gepeng di stratum parietale kapsul glomerulus berubah menjadi epitel kuboid di tubulus kontortus proksimal. Tubulus kontortus distal lebih pendek dan jumlahnya lebih sedikit di korteks. Tubulus kontortus distal juga memperlihatkan lumen yang lebih besar dengan sel kuboid yang lebih kecil. Di korteks

12 juga di temukan radius medullaris. Radius medullaris mencakup tiga jenis tubulus yaitu: segmen lurus (desendens) tubulus proksimal (tubulus proksimal pars recta), segmen lurus (asendens) tubulus distal (tubulus distalis pars recta) dan tubulus koligens. Tubulus koligens di korteks tampak jelas karena sel-sel kuboid dan membran sel terpulas pucat. Medulla hanya mengandung bagian lurus tubulus dan segmen ansa henle. Segmen tipis ansa henle dilapisi oleh epitel selapis gepeng dan menyerupai kapiler. Ciri yang membedakan ansa henle yang tipis adalah lapisan epitel yang lebih tebal dan tidak adanya sel darah di lumennya. Sebaliknya, kebanyakan kapiler mengandung sel darah di lumen. Gambar 2. Korteks ginjal dan medula bagian atas (Difiore,2013)

13 d. Korteks Ginjal (Aparatus Jukstaglomerular) Korpuskulum ginjal memperlihatkan kapiler glomerulus, epitel parietale, dan viscerale kapsul glomerulus (Bowman) dan spatium capsulare. Sel kuboid di tubulus koligens memperlihatkan batas sel dan sitoplasma pucat. Membran basalis yang jelas mengelilingi tubulus ini. Setiap kospuskulum ginjal memiliki polus vascularis tempat arteriol glomerulus aferen masuk dan arteriol glomerulus eferen keluar. Di sisi berlawanan pada korpuskulum ginjal adalah polus urinarius. Di sini, spatium capsulare bersambungan dengan lumen tubulus kontortus proksimal. Di polus vascularis, sel otot polos di tunika media arteriol glomerulus aferen diganti oleh sel epiteloid modifikasi dengan granula sitoplasma. Sel ini adalah sel jukstaglomerular. Di tubulus slindris. Daerah dengan sel-sel yang lebih padat dan lebih gelap disebut makula densa. Sel jukstaglomerular di arteriol glomerulus aferen dan sel makula densa di tubulus kontortus distal membentuk aparatus jukstaglomerular.

14 Gambar 3, apparatus jukstaglomerular (Difiore, 2013) e. Ginjal ( Korpuskulum Ginjal, Aparatus Jukstaglomerular, dan Tubulus Kontortus) Korpuskulum ginjal terdiri dari glomerulus dan kapsula glomerulus dengan stratum parietale dan stratum viscerale. Di antara kedua lapisan ini terdapat spatium capsulare dengan podosit terletak di permukaan stratum viscerale. Di polus vaskularis korpuskulum ginjal, pembuluh darah masuk dan keluar dari korpuskulum ginjal. Di dekat polus vaskularis terdapat aparatus jukstaglomerular. Aparatus jukstaglomerular terdiri dari sel otot polos arteriol aferen yang mengalami modifikasi di polus vaskularis, sel jukstaglomerular dan makula densa di tubulus kontortus distal. Korpuskulum ginjal dikelilingi oleh tubulus kontortus proksimal yang terpulas-gelap dan tubulus kontortus distal.

15 Gambar 4. Korpuskulum ginjal, apparatus jukstaglomerular dan tubulus kontortus (Difiore,2013) 3. Suplai pembuluh darah ginjal Ginjal mendapat suplai darah dari arteri renalis yang berasal dari aorta abdominalis kira-kira setinggi vertebra lumbalis II. Menurut Mescher (2012:417) arteri renalis akan bercabang menjadi arteri segmentalis di hilus kemudian di sinus renalis akan bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan sepanjang piramid ginjal menuju ke perbatasan antara korteks dan medula. Arteri interlobularis akan bercabang menjadi arteri arkuata di daerah ini dan kemudian berjalan sepanjang dasar piramid ginjal. Arteri arkuata akan bercabang menjadi arteri interlobularis dan kemudian berjalan menuju korteks. Arteri interlobularis bercabang menjadi arteriol aferen yang menuju ke glomerulus. Darah dari glomerulus menuju ke arteriol eferen yang kemudian menuju ke kapiler peritubuler yang berfungsi dalam membawa zat-zat yang direabsorbsi serta memberikan nutrisi di sel-sel tubulus kontortus proksimal dan distal. Selain itu ada juga arteriol eferen yang menuju ke medula dan

16 memberikan nutrisi ke medula kemudian kembali ke korteks dalam bentuk venula. Pembuluh darah medula kecil dan pleksus kapiler membentuk vasa rekta. (Price, 2005) Gambar 5. Suplai pembuluh darah ginjal (Junqueira, 1998) 4. Histopatologi ginjal Ginjal merupakan salah satu organ tubuh yang sangat penting bagi manusia oleh karena organ ini bekerja sebagai alat ekskresi utama untuk zat-zat yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh. Dalam melaksanakan fungsi ekskresi ini maka ginjal mendapat tugas yang berat mengngat hampir 25 % dari seluruh aliran darah mengalir ke kedua ginjal. Besarnya aliran darah yang menuju ke ginjal ini menyebabkan keterpaparan ginjal terhadap bahan/zat-zat yang beredar dalam sirkulasi cukup tinggi. Akibatnya bahan-bahan yang bersifat toksik akan mudah menyebabkan kerusakan jaringan ginjal dalam bentuk perubahan struktur dan fungsi ginjal (Sweni 2012). Keadaan inilah yang disebut sebagai nefropati toksik

17 dan dapat mengenai glomerulus, tubulus, jaringan vaskuler, maupun jaringan interstitial ginjal. (Rodrigo, 2001) Nefropati toksik penting diperhatikan, mengingat penyakit ini merupakan penyakit yang dapat dicegah dan bersifat reversibel sehingga penggunaan berbagai prosedur diagnostik seperti arteriografi, pielografi retrograd atau biopsi ginjal dapat dihindarkan. Ginjal merupakan organ tubuh yang paling sering terpapar zat kimia dan metabolitnya terutama obat yang dipakai secara meluas di masyarakat. Salah satu akibat dari zat kimia ini adalah timbulnya endapan kristal pada ginjal akibat kerusakan sel, endapan kristal ini juga dapat menyebabkan peradangan dan hemoragik. Selain itu juga dapat menyebabkan edema dan nekrosis. Nekrosis terjadi akibat degenerasi sel yaitu degenerasi hidropis. Degenarasi hidropis ditandai dengan kondisi inti sel yang berwarna lebih cerah dan memudar. Edema ditunjukan dengan kondisi lumen glomerulus melebar sehingga jarak antara lumen glomerulus dengan kapsula bowman menyempit (Suhita, 2013). Selain itu, efek dari zat toksik seperti yang terkandung dalam teh kombucha yaitu vit B1, B2, B6, B12, asam folat, dan vitamin C dapat menutup lumen tubulus proksimal (Yuanita, 2008). Zat kimia dapat merusak ginjal diakibatkan oleh sifat-sifat khusus ginjal, yaitu : a. Ginjal menerima 25 %, curah jantung sedangkan beratnya hanya kira-kira 0,4% dari berat badan.

18 b. Untuk menampung curah jantung yang begitu besar, ginjal mempunyai permukaan endotel kapiler yang relatif luas diantara organ tubuh yang lain. c. Permukaan endotel kapiler yang sangat luas ini menyebabkan bahan yang bersifat imunologik sering terpapar didaerah kapiler glomerulus dan tubulus. d. Fungsi transportasi melalui sel-sel tubulus dapat menyebabkan terkonsentrasinya zat-zat toksin di tubulus sendiri. e. Mekanisme counter current sehingga medulla dan papil ginjal menjadi hipertonik dapat menyebabkan konsentrasi zat toksik sangat meningkat di kedua daerah tersebut. Sifat-sifat khas yang disebut di atas inilah yang memudahkan terjadinya gangguan struktur dan fungsi ginjal, bila didalam darah terdapat zat yang bersifat nefrotoksik. (Price, 2005) 5. Obat Nyamuk Spray Obat nyamuk spray adalah obat nyamuk dalam bentuk cairan. Cara penggunaan obat nyamuk ini yaitu dengan cara disemprotkan pada ruangan. Obat nyamuk ini mengandung tiga zat aktif yaitu praletrin 0.10%, siflutrin 0.05%, dan d-aletrin 0.57%. (Fumakila, 2015) 6. Obat nyamuk one push Obat nyamuk one push merupakan obat nyamuk dengan sediaan berupa botol kecil yang berisikan 10 ml. penggunaan obat nyamuk ini dengan cara hanya menyemprot satu kali saja pada ruangan. Pada iklan

19 memberi kesan bahwa dengan 1 kali semprot dapat menyebar ke seluruh ruangan dan ruangan bisa terbebas dari nyamuk dalam waktu 10 jam. Obat nyamuk ini hanya mengandung satu zat aktif yaitu transfultrin 21.3%. (Fumakila, 2015) 7. Zat-zat yang terkandung dalam obat nyamuk. Insektisida dapat kita bagi menurut sifat dasar senyawa kimianya yaitu dalam Insektisida Anorganik yang tidak mengandung unsur karbon dan Insektisida Organik yang mengandung unsur karbon. Insektisida lama yang digunakan sebelum tahun 1945 umumnya merupakan insektisida anorganik sedangkan insektisida modern setelah DDT ditemukan umumnya merupakan insektisida organik. Insektisida organik masih dapat dibagi menjadi insektisida organik alami dan insektisida organik sintetik. Insektisida organik alami merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman (insektisida botanik) dan bahan alami lainnya. Sedangkan insektisida sintetik merupakan hasil buatan pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi. Insektisida modern pada umumnya merupakan insektisida organik sintetik. Pembagian menurut sifat kimia yang lebih tepat adalah menurut komposisi atau susunan senyawa kimianya. Pembagian insektisida organik sintetik menurut susunan kimia bahan aktif (senyawa yang memiliki sifat racun) terdiri dari 4 kelompok besar yaitu Organoklorin (OC), Organophosphat (OP), Karbamat, dan Pirethroid Sintetik (SP). Kecuali 4 kelompok besar tersebut masih ada beberapa kelompok insektisida yang

20 kurang banyak digunakan dalam praktek pengendalian hama. (Raini, 2009) 8. Piretroid Sintetik (sp) Setiap pestisida pastilah mengandung racun, karena racun inilah yang dapat membunuh nyamuk dan serangga lainnya, yang perlu dicermati adalah proses penggunaan dan jenis bahan aktifnya. Karena bahan aktif yang terkandung dalam setiap pestisida berbeda, jenis bahan aktif tersebutlah yang menentukan kandungan atau kadar racun dalam obat nyamuk. WHO sebagai badan kesehatan dunia membagi bahan aktif yang terkandung dalam pestisida kedalam beberapa kelas berdasarkan tingkat racunnya. Kelas IA (extremely hazardous) dan kelas IB (highly hazardous) umumnya telah dilarang penggunaannya. Hal ini dilakukan karena bahan aktif tersebut memiliki efek negatif yang dapat merugikan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Pestisida yang tergolong kelas II (moderately hazardous) umumnya masih dapat digunakan (Miadokova, 1992). Pestisida yang termasuk kelas II ini antara lain pralletrhin dan permethrin. Berdasarkan WHO grade class, bahan aktif aerosol yang beredar di Indonesia, seperti prallethrin dan permethrin, termasuk pestisida kelas menengah yaitu golongan kelas II masih diizinkan untuk digunakan oleh Departemen Pertanian dan tidak termasuk Daftar Bahan Aktif Pestisida yang dilarang dan pestisida terbatas, yang diatur oleh Departemen Pertanian melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 01/Permentan/OT.140/1/2007 tertanggal 05 januari 2007. Bahan aktif

21 permethrin dan pralethrin tergolong dalam bahan aktif synthetic pyrethroids. Bahan aktif ini dikembangkan berdasarkan konsep pyrethrum, sebuah pestisida alami yang dapat ditemui dari bunga chrusanthemum. Bahan aktif synthetic pyethroids ini relatif lebih mudah dinetralisir oleh udara dan sinar matahari, sehingga relatif lebih ramah terhadap lingkungan. Menurut USEPA (United States Eviromental Protection Agency), jika digunakan sesuai dengan label, insektisida dengan bahan aktif synthetic pyrethroids, seperti permethrin dan pralethrin, terbukti memiliki resiko kecil terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Hal ini disebabkan karena bahan aktif pyrethroid yang masuk ke dalam tubuh akan dengan cepat keluar melalui pernapasan, urin dan feses. (Anwar, 2014) Piretroid, jenis insektisida ini yang paling banyak digunakan dalam insektisida rumah tangga terutama pada insektisida koil/bakar dan semprot. Berdasarkan produknya piretroid dibedakan dengan piretroid yang berasal dari alam yang diperoleh dari bunga Chrysanthemum cinerariae folium dan piretroid sintetis yang merupakan sintesa dari piretrin. Piretroid mempunyai toksisitas rendah pada manusia karena piretroid tidak terabsorpsi dengan baik oleh kulit. Walaupun demikian insektisida ini dapat menimbulkan alergi pada orang yang peka. Piretroid jenis transfultrin, dalletrin, permetrin dan sipermetrin banyak digunakan sebagai insektisida rumah tangga baik dalam bentuk semprot non aerosol

22 (manual) maupun aerosol (dengan gas pendorong), elektrik maupun koil/bakar. (Raini, 2009) Sampai saat ini sudah dikenal 4 generasi SP. Salah satu anggota generasi pertama adalah Allethrin. Generasi kedua adalah Resmethrin. Generasi ketiga adalah Fenvalerate dan Permethrin. Generasi keempat adalah cypermethrin, fluvalinat dan Deltamethrin dan lain-lain. (Gupta, 2005) Transfultrin adalah hasil pengembangan piretrin, merupakan senyawa asam dan alkohol turunan senyawa alami piretrium yang diekstrak dari bunga chrysanthemum cineriaefolium. Transfultrin berbentuk kristal dan tidak berwarna, mempunyai daya bunuh yang cepat pada nyamuk, lalat dan lipas dengan konsentrasi yang rendah. Awlanya transfultrin ditunjukan untuk pertanian, lebih stabil terhadap cahaya matahari. Pada perkembangan selanjutnya, bahan-bahan aktif tersebut juga digunakan dalam industry pengendalian hama pemukiman. Menurut World Health Organization (2005) transfultrin merupakan salah satu insektisida yang terbaik dan telah berbadan hukum dalam produk obat nyamuk untuk melawan serangga sejak tahun 1996. Transfultrin satu dari family piretroid dengan dosis rendah dan juga bersifat selektif serta banyak digunakan dalam lingkungan rumah tangga, produk kebersihan dan bahan pestisida. Hal ini juga sependapat dengan keputusan Menteri Pertanian No.401/Kpts/Sr140/6/2004 tentang pendaftaran pestisida untuk ekspor,

23 telah diijinkan penggunaan pestisida dengan kadar kandungan bahan aktif transfultrin sebesar 0.04%. (Raini, 2009) Alletrin diumumkan pada tahun 1949 dan merupakan piretroid sintetik pertama yang dikembangkan. Alletrin merupakan insektisida non sistemik yang bekerja sebagai racun perut, racun kontak, dan racun inhalasi. Alletrin digunakan terutama untuk mengendalikan serangga rumah tangga dan untuk kepentingan kesehatan masyarakat. Dalam pengendalian hama pertanian, alletrin sering ditambah piperonil butoksida sebagai synergist untuk menaikkan efikasinya. (Raini, 2009) Siflutrin di publikasikan pertama kali tahun 1981, merupakan insektisida non sistemik, bekerja cepat (memiliki knock down effect) serta bekerja sebagai racun kontak dan racun perut. (Mehmet, 2015) Zat aktif golongan piretroid yang terkandung dalam obat nyamuk ini dapat menyebabkan perubahan histologi pada ginjal. Salah satu zat aktif ini adalah allethrin. Zat ini dapat menyebabkan terjadinya stress oksidatif karena metabolit allethrin potensial toksik dan bersifat radikal bebas. Radikal bebas terbentuk di dalam tubuh akibat produk sampingan proses metabolisme ataupun karena tubuh terpapar radikal bebas melalui pernapasan. Adanya akumulasi metabolit-metabolit yang bersifat radikal bebas dalam tubuh akan menyebabkan stress oksidatif. (Ogoma, 2014) Secara fisiologis radikal bebas dalam jumlah berlebih di dalam tubuh sangat berbahaya karena menyebabkan kerusakan sel pada ginjal, yaitu kerusakan asam nukleat dan protein. Kerusakan sel yang dikarenakan oleh

24 radikal bebas reaktif didahului oleh kerusakan membran sel antara lain mengubah fluiditas, struktur, dan fungsi membran. Terjadinya stress oksidatif di dalam tubuh akan membentuk radikal bebas berikutnya, apabila radikal bebas yang bersifat reaktif tidak dihentikan maka akan merusak membran sel dan terjadi peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid merupakan reaksi berantai yang terus menghasilkan pasokan radikal bebas sehingga terjadi reaksi-reaksi peroksidasi berikutnya. Peroksidasi lipid pada membran sel dapat mengakibatkan hilangnya fluiditas membran yang selanjutnya mengakibatkan sel akan mudah pecah dan lisis. Hasil peroksidasi lipid membran oleh radikal bebas berefek langsung terhadap kerusakan membran sel, antara lain dengan mengubah fluiditas, struktur, dan fungsi membran sel. Pada kematian sel atau nekrosis sel ditandai dengan inti sel yang mati mengalami penyusutan dan lisis yang diawali dengan kerusakan membran plasma menjadi ruptur, batas tidak teratur dan warna gelap(fetoui, 2010). Ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan kemampuan pertukaran antioksidan yang akan menimbulkan stress oksidatif dapat menimbulkan kerusakan sel termasuk sel ginjal. Apabila tidak ada asupan antioksidan dalam tubuh, maka akan terjadi kerusakan sel meningkat dan semakin tinggi sehingga sel mengalami nekrosis. Akibat adanya zat aktif allethrin ini dapat menyebabkan penurunan jumlah sel pada jaringan glomerulus yang mengalami nekrosis. (Wresdiyati, 2003).

25 Lambda cyhalothrin meupakan pestisida yang termasuk dalam golongan piretroid sintetis, zat ini termasuk zat toksik yang dapat menyebabkan berbagai kerusakan pada organ dan salah satunya adalah ginjal. Dimana LCT ini dapat menyebabkan pelebaran pada lumen glomerulus sehingga dapat terjadi penyempitan jarak antara kapsula bowman dan lumen glomerulus atau disebut sebagai space bowman. Hal ini dikarenakan LCT dapat menyebabkan terjadinya nekrosis dan edema pada glomerulus renal. (Oularbi, 2014) Sedangkan efek toksik tersebut dapat dicegah dengan penggunaan vitamin E sebagai antioksidan. (Yousef, 2010)

26 B. Kerangka Teori Obat nyamuk One Push (transfultrin 21.3%) Obat nyamuk Spray (praletrin 0.10%, siflutrin 0.05%, d-aletrin 0.57%) Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian No.401/Kpts/Sr140/6/200 4 tentang pendaftaran pestisida untuk ekspor, telah diijinkan penggunaan pestisida dengan kadar kandungan bahan aktif transfultrin sebesar 0.04%. (Raini, 2009) Menyebabkan pelebaran pada lumen glomerulus dan penyempitan space bowman Piretroid sintetis kelas II (moderately hazardous) Saluran nafas Jantung Ginjal Aliran Darah Aorta Aorta Abdominalis Arteri Renalis Stress oksidatif Akumulasi metabolit radikal bebas

27 C. Kerangka Konsep Variabel Bebas Variabel Terikat Obat nyamuk spray (praletrin 0.10%, siflutrin 0.05%, d- aletrin 0.57%) Perubahan gambaran histologi Renal tikus Rattus norvegicus Obat nyamuk one push(transfultrin 21.3%) Perubahan gambaran histologi Renal tikus Rattus norvegicus D. Hipotesis 1. Pemberian obat nyamuk one push dan obat nyamuk spray berpengaruh terhadap kerusakan gambaran histologi korteks renal tikus Rattus norvegicus 2. Pengaruh obat nyamuk one push lebih buruk terhadap kerusakan gambaran histologi korteks renal tikus Rattus norvegicus