1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Panggang adalah salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu yang memiliki berbagai ekosistem pesisir seperti ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Pulau Panggang merupakan pulau permukiman yang memiliki kepadatan penduduk paling tinggi diantara 10 pulau permukiman lainnya di Kepulauan Seribu. Pulau ini memiliki luas 9,0 Ha dengan jumlah penduduk pada tahun 2005 sebesar 3.411 jiwa dan kepadatan penduduk sebesar 379 jiwa/ha (Laporan Kelurahan Pulau Panggang Juli 2005). Perairan Pulau Panggang merupakan daerah yang dipenuhi berbagai aktivitas berupa permukiman, penangkapan ikan, pelabuhan, dan budidaya. Tingginya aktivitas kehidupan yang terdapat di Pulau Panggang ternyata telah menimbulkan bermacam-macam efek yang buruk bagi kehidupan manusia dan tatanan lingkungan hidupnya. Aktivitas yang dilakukan seringkali menghasilkan limbah bahan pencemar logam berat yang dapat membahayakan kehidupan perairan laut dan secara khusus dapat mengganggu pertumbuhan komunitas lamun yang ada di wilayah tersebut. Aktivitas pelabuhan merupakan salah satu sumber penyebab masuknya bahan pencemar logam berat ke dalam badan perairan. Dahuri (2003) mengungkapkan bahwa pencemaran di daerah pesisir dan laut dapat terjadi akibat frekuensi lalu lintas transportasi laut yang sangat tinggi. Menurut Anindita (2002), logam berat Cd dan Pb banyak ditemukan dalam cat, pigmen pada cat, pengawet kayu, minyak pelumas, komponen bensin, bahan bakar minyak yang banyak digunakan sebagai penunjang aktivitas pelabuhan. Secara alami beberapa jenis logam berat dalam jumlah yang sangat kecil dibutuhkan oleh organisme hidup untuk kelancaran proses hidupnya. Akan tetapi beberapa jenis logam berat, seperti Cd dan Pb tidak dibutuhkan oleh tubuh organisme hidup dan justru membahayakan (Phillips 1980). Logam berat yang masuk ke perairan tidak dapat diurai dan mempunyai waktu retensi yang lama sehingga dapat lama berada dalam perairan dan mengendap dalam sedimen (Fahruddin 2002). Logam berat dapat terakumulasi dalam sedimen dan dalam jaringan biota yang ada di
2 perairan (Effendi 2009). Apabila kadar logam berat tersebut telah melampaui batas maka akan mengganggu kehidupan biota yang hidup di perairan sehingga keseimbangan ekosistempun akan terganggu. Jenis lamun Thalassia hemprichii merupakan salah satu jenis lamun yang hidup di perairan Pulau Panggang. Lamun dan tumbuh dominan dibandingkan jenis lamun lainnya. Lamun melalui proses biologinya mampu mengakumulasi logamlogam berat yang terikat dalam senyawa-senyawa organo-metalik, sehingga kadar logam berat dalam lamun jauh lebih besar daripada kadarnya dalam air (Departemen Kelautan dan Perikanan 2008). Akumulasi logam berat oleh lamun yang terjadi secara alami dapat menunjukkan bahwa lamun dapat dipergunakan sebagai organisme indikator untuk kontaminasi logam berat (Nienhuis 1986). Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti akumulasi logam berat Cd dan Pb dalam lamun jenis Thalassia hemprichii di perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Kajian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk pengelolaan perairan Pulau Panggang terkait dengan kandungan logam berat di perairan tersebut. 1.2 Identifikasi Masalah Masalah yang mendasari penelitian ini adalah sejauhmana akumulasi logam berat Cd dan Pb pada lamun Thalassia hemprichii serta distribusi logam berat tersebut pada bagian akar dan daun lamun Thalassia hemprichii yang ada di Perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui akumulasi logam berat Cd dan Pb pada lamun Thalassia hemprichii serta distribusi logam berat tersebut pada bagian akar dan daun lamun Thalassia hemprichii yang ada di Perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.
3 1.4 Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa : 1. Lamun Thalassia hemprichii di Perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu dapat mengakumulasi logam berat Cd dan Pb. 2. Lamun Thalassia hemprichii berperan dalam mengurangi pencemaran logam berat di perairan sehingga dapat dijadikan sebagai referensi dalam pengelolaan perairan Pulau Panggang. 1.5 Pendekatan Masalah Pada kadar yang cukup rendah logam berat Cd dalam perairan sudah bersifat racun (Sanusi et al. 1984). Dibandingkan logam berat Cd, maka unsur Pb tidak terlalu beracun, akan tetapi senyawa Pb dalam bentuk organik lebih beracun daripada dalam bentuk anorganik (Pain 1995 dalam Kennish 1996). Menurut Palar (2008), logam cadmium (Cd) dan timbal (Pb) dapat menyebabkan toksin dan bersifat agak permanen dan mempunyai waktu paruh yang lama. Selain itu logam berat dalam jumlah melampaui batas akan menjadi racun bagi organisme (Phillips 1980). Unsur yang beracun dapat mempengaruhi fungsi fisiologis, seperti proses osmoregulasi yang tidak dapat berjalan dengan baik, pertumbuhan yang terhambat dan berkurangnya daya regenerasi maupun daya reproduksi (Anderson dan D aappolonia 1978). Babich dan Stotzky (1978), mengemukakan bahwa berbagai faktor lingkungan berpengaruh terhadap keberadaan logam berat pada sedimen diantaranya keasaman tanah, bahan organik, suhu, tekstur, mineral liat. ph adalah faktor penting yang menentukan transformasi logam. Penurunan ph secara umum meningkatkan ketersediaan logam berat kecuali Mo dan Se (Klein dan Trayer 1995). Menurut Saeni (1989) dalam Afrizal (2000), Pb masuk ke dalam perairan melalui pengendapan, jatuhan debu yang mengandung Pb yaitu dari hasil pembakaran bensin yang mengandung tetra etil, erosi dan limbah industri. Sedangkan Cd yang terdapat pada air laut dapat berasal dari komponen bahan bakar, minyak pelumas dan dari bahan cat antifouling yang digunakan sebagai pelapis kapal atau bangunan pantai lainnya (Selinger 1989 dalam Reichelt-Brushett & Harrison
4 1999). Logam berat yang berada di perairan akan diserap oleh organisme yang hidup pada lingkungan tersebut dan melalui proses biologis akan terakumulasi. Hal ini mengakibatkan kandungan logam berat dalam tubuh biota air akan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan lingkungannya. Akumulasi yang terjadi karena logam berat dalam tubuh organisme cenderung membentuk senyawa kompleks dengan zatzat organik yang terdapat dalam tubuh organisme, termasuk lamun (Wadichuk 1975). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ahmad (2009) menunjukkan bahwa di perairan Pulau Panggang-Pramuka terdapat kandungan logam berat jenis Hg, Cd, dan Pb pada air berturut-turut 0,0015 ppm, 0,0017 ppm, dan 0,0067 ppm, kandungan Hg dan Cd pada air telah melewati baku mutu air laut sedangkan kandungan logam berat Pb masih dibawah baku mutu berdasarkan KepMen LH No. 51 Tahun 2004. Baku mutu logam berat Hg, Cd dan Pb pada air laut berdasarkan KepMen LH No. 51 Tahun 2004 berturut-turut sebesar 0,001 ppm, 0,001 ppm dan 0,008 ppm. Rata-rata konsentrasi logam Hg, Cd, dan Pb tertinggi terdapat pada stasiun 1, 6, 9 dan 10. Stasiun tersebut berada pada daerah yang dekat dengan jalur transportasi, pelabuhan, tempat pelelangan ikan dan budidaya. Kandungan logam berat Hg, Cd, dan Pb diduga disebabkan oleh hasil buangan limbah budidaya, aktivitas pelabuhan dan tingginya frekuensi lalu lintas transportasi air. Hal ini dapat terjadi karena daerah Kepulauan Seribu adalah lalu lintas pelayaran nasional dan tujuan wisata khususnya daerah Ibu Kota Jakarta. Hasil survey pendahuluan pada ekosistem lamun di Pulau Panggang pada bulan Januari 2012 melalui pengamatan visual, terdapat lebih sedikit lamun Thalassia hemprichii yang hidup di wilayah Utara pulau Panggang dibandingkan lamun Thalassia hemprichii yang hidup di wilayah Timur pulau Panggang. Hal ini diduga karena pada wilayah Utara pulau Panggang terdapat pelabuhan kapal sebagai sumber masuknya logam berat ke dalam badan perairan yang kemudian mengendap pada sedimen dan terakumulasi pada lamun Thalassia hemprichii. Tumbuhan memiliki kemampuan untuk menyerap ion-ion dari lingkungannya ke dalam tubuh melalui membran sel. Dua sifat penyerapan ion oleh tumbuhan adalah faktor konsentrasi dan perbedaan kuantitatif (Fitter dan Hay 1991). Pengaruh polutan terhadap tumbuhan dapat berbeda tergantung pada macam polutan,
5 konsentrasinya dan lamanya polutan itu berada. Gejala adanya pencemaran pada tumbuhan sangat bervariasi dan tidak spesifik. Pada konsentrasi tinggi tumbuhan akan menderita kerusakan akut dengan menampakkan gejala seperti klorosis, perubahan warna, nekrosis dan kematian seluruh bagian tumbuhan. Di samping perubahan morfologi juga akan terjadi perubahan kimia, biokimia, fisiologi dan struktur tumbuhan (Luncang 2005). 1.6 Skema Alur Penelitian Studi Awal Penentuan Lokasi Penelitian Survey Lokasi Penelitian Pengambilan Data Data Tutupan Lamun T. hemprichii Data Logam Berat Cd dan Pb pada Lamun T. hemprichii, Air Laut dan Sedimen Data Fisika dan Kimia Perairan Analisis Data Analisis Tingkat Biokonsentrasi Faktor Kesimpulan Analisis Deskriptif