PENANGANAN PROSEDUR DARURAT PADA KAPAL ABSTRAK

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II JENIS-JENIS KEADAAN DARURAT

BAB VI TINDAKAN DALAM KEADAAN DARURAT

BAB 4 MENERAPKAN PROSEDUR PENYELAMATAN DIRI DARURAT DAN SAR

BAB V PENGENALAN ISYARAT BAHAYA. Tanda untuk mengingat anak buah kapal tentang adanya suatu keadaan darurat atau bahaya adalah dengan kode bahaya.

PROSEDUR DARURAT DAN SAR

PROSEDUR DARURAT DAN SAR

DESAIN AKSES OPTIMUM DAN SISTEM EVAKUASI SAAT KONDISI DARURAT PADA KM. SINAR BINTAN. Disusun Oleh: Nuke Maya Ardiana

BAB III KESELAMATAN PELAYARAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Seiring dengan perkembangan dunia yang menuntut kemajuan IPTEK

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH NUSA TENGGARA BARAT DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 1992 TENTANG PELAYARAN [LN 1992/98, TLN 3493]

No Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, Pasal 369 Undang- Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, dan Undang- Undang Nomor 22

BAB VIII PENUTUP. bahan bakar berasal dari gas berupa: LPG. generator, boiler dan peralatan masak di dapur.

ISYARAT BAHAYA DI KAPAL. TPL - Prod/C.01. Kompetensi : Prosedur Darurat dan Sar

BAB 1 : PENDAHULUAN. industri penyedia jasa angkutan laut seperti pelayaran kapal laut. (1)

BAB IV POLA PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PT. PELANGI NIAGA MITRA INTERNASIONAL EMERGENCY RESPONSE TEAM AHT. PELANGI ESCORT - YD. 4523

BAB III TINJAUAN UMUM UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN

MAKALAH PERLENGKAPAN KAPAL

RANCANGAN KRITERIA DI BIDANG TRANSPORTASI LAUT PENETAPAN KRITERIA PEMERIKSA DAN PENGUJI KESELAMATAN DAN KEAMANAN KAPAL

b. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut pada huruf a perlu diatur lebih lanjut mengenai perkapalan dengan Peraturan Pemerintah;

Perancangan Fire Control and Safety Plan pada Kapal Konversi LCT menjadi Kapal Small Tanker

Kata Pengantar. Daftar Isi

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM

INSTALASI PERMESINAN

PROSEDUR KEADAAN DARURAT KEBAKARAN B4T ( BALAI BESAR BAHAN & BARANG TEKNIK)

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN [LN 2008/64, TLN 4846]

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II KEBAKARAN. Untuk staf kamar mesin wajib :


PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2002 TENTANG PERKAPALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG K E P E L A U T A N PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2000 TENTANG KENAVIGASIAN

1. Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat SUBSTANSI MATERI

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN I-1 A. LATAR BELAKANG.

Secara harfiah berarti keteraturan, kebersihan, keselamatan dan ketertiban

5 HASIL 5.1 Potensi kejadian kebakaran di PPS Nizam Zachman Jakarta

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2002 TENTANG P E R K A P A L A N PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG INVESTIGASI KECELAKAAN TRANSPORTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2013, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negar

STANDARD OPERATING PROCHEDURE (SOP) KEDARURATAN DI TEKNIK KELAUTAN ITB

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN MARITIM, 1979 LAMPIRAN BAB 1 ISTILAH DAN DEFINISI

128 Universitas Indonesia

kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

SISTEM DETEKSI DAN PEMADAMAN KEBAKARAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI KEJURUAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

LEMBAR OBSERVASI HYGIENE SANITASI KAPAL

PROSEDUR KESIAPAN TANGGAP DARURAT

Reg. II/54.3/19.4 of SOLAS 1974

1998 Amandments to the International Convention on Maritime Search and Rescue, 1979 (Resolution MCS.70(69)) (Diadopsi pada tanggal 18 Mei 1998)


BAB III DENAH KEADAAN DARURAT

PERANCANGAN SISTEM EMERGENCY GENSET PADA KAPAL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG INVESTIGASI KECELAKAAN TRANSPORTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/VII/2010 TAHUN 2010 TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI

DAFTAR PERTANYAAN AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG PT. X JAKARTA

BAB 6 MENERAPKAN PROSEDUR PENYELAMATAN DIRI DI KAPAL

BAB III. Tindakan Olah Gerak menolong orang jatuh kelaut tergantung dan pada factor-factor sebagai berikut :

MANAJEMEN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KEBAKARAN PADA KAPAL PENUMPANG MELALUI UPAYA PERANCANGAN DETEKTOR

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2000 TENTANG KENAVIGASIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEDOMAN PENYELENGGARAAN DIKLAT KETERAMPILAN KHUSUS PELAUT ADVANCED FIRE FIGHTING (AFF)

FINAL KNKT KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI REPUBLIK INDONESIA

BAB II PERIHAL ORANG-ORANG. *Untuk pengurus kapal berkaitan erat dengan Badan Hukum atu orang seperti dibawah ini: PENGUSAHA KAPAL /PEMILIK KAPAL

KEADAAN DARURAT Keadaan darurat: lain dari keadaan normal

WAKTU EVAKUASI MAKSIMUM PENUMPANG PADA KAPAL PENYEBERANGAN ANTAR PULAU

HALAMAN JUDUL HALAMAN SURAT TUGAS

BAB V PEMBAHASAN. PT. INKA (Persero) yang terbagi atas dua divisi produksi telah

PROSEDUR PERLENGKAPAN PEMADAM KEBAKARAN. A. Perlengkapan Pemadam Kebakaran 1. Sifat api Bahan bakar, panas dan oksigen harus ada untuk menyalakan api.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAFTAR STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BIDANG BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL

DESKRIPSI PEMELAJARAN

2013, No Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negar

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2002 TENTANG PERKAPALAN

PENCEGAHAN KEBAKARAN. Pencegahan Kebakaran dilakukan melalui upaya dalam mendesain gedung dan upaya Desain untuk pencegahan Kebakaran.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pencemaran laut adalah perubahan pada lingkungan laut yang terjadi akibat

PERATURAN KESYAHBANDARAN DI PELABUHAN PERIKANAN

LAMPIRAN 2. LEMBAR OBSERVASI Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran Kapal Penumpang KM. Lambelu, PT. PELNI Tahun 2008

ROOT CAUSE ANALYSIS PADA KEBAKARAN KMP. NUSA BHAKTI

Keputusan Menteri Perhubungan No. 86 Tahun 1990 Tentang : Pencegahan Pencemaran Oleh Minyak Dari Kapal-Kapal

BAB II PERSIAPAN UNTUK MENGOLAH GERAK

#7 PENGELOLAAN OPERASI K3

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENGELOLAAN OPERASI K3 PERTEMUAN #6 TKT TAUFIQUR RACHMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2017 TENTANG OPERASI PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. badan usaha, tentulah diikuti dengan risiko. Apabila risiko tesebut datang

Materi 6. Oleh : Agus Triyono, M.Kes. td&penc. kebakaran/agust.doc 1

BAB 3 MELAKUKAN PENCEGAHAN & PEMADAMAN KEBAKARAN DI KAPAL

BAB I PENDAHULUAN. kerja yang dibutuhkan untuk pengoperasian dan pemeliharaan. Teknologi yang

STATUS REKOMENDASI KESELAMATAN SUB KOMITE INVESTIGASI KECELAKAAN PELAYARAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI. Penerima Receiver.

TUGAS AKHIR EVALUASI EMERGENCY RESPONSE PLAN DAN ALAT PEMADAM API RINGAN PADA PT. PHILIPS INDONESIA ADHITYA NUGROHO

KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR 300.K/38/M.pe/1997 TENTANG KESELAMATAN KERJA PIPA PENYALUR MINYAK DAN GAS BUMI

SKRIPSI EVALUASI SISTEM PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI KAPAL PENUMPANG KM. LAMBELU PT. PELAYARAN NASIONAL INDONESIA (PT.

BAB V PENUTUP. yang mengalami kecelakaan di perairan Indonesia koordinasi terhadap

KEPUTUSAN KEPALA, UPT KEAMANAN, KESEHATAN, KESELAMATAN KERJA DAN LINGKUNGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Nomor : 145/K01.2.6/SK/2010

KONDISI GEDUNG WET PAINT PRODUCTION

Transkripsi:

PENANGANAN PROSEDUR DARURAT PADA KAPAL Prasetya Sigit Santosa Staf Pengajar Akademi Maritim Yogyakarta ( AMY ) ABSTRAK Keadaan darurat adalah keadaan dari suatu kejadian kecelakaan tiba-tiba yang memerlukan tindakan pencegahan secara cepat, tepat dan terpadu dari beberapa kegiatan pada tempat kejadian tersebut. Tindakan tersebut meliputi : persiapan, yaitu langkah-langkah persiapan yang diperlukan dalam menangani keadaan tersebut berdasarkan jenis dari kejadian tersebut, prosedur praktis dari penanganan kejadian yang harus diikuti beberapa kegiatan / secara terpadu serta organisasi yang solid dengan garis-garis komunikasi dan tanggung jawabnya. Ada dua pembagian jenis prosedur darurat, yaitui prosedur intern (lokal) Ini merupakan pedoman pelaksanaan untuk masing-masing bagian/ departemen, dengan pengertian keadaan darurat yang terjadi masih dapat diatasi oleh bagian-bagian yang bersangkutan, tanpa melibatkan kapal-kapal atau usaha pelabuhan setempat, prosedur umum merupakan pedoman perusahaan secara keseluruhan dan telah menyangkut keadaan darurat yang cukup besar atau paling tidak dapat membahayakan kapal-kapal lain atau dermaga/terminal. Dari segi penanggulangannya diperlukan pengerahan tenaga yang banyak atau melibatkan kapal-kapal / penguasa pelabuhan setempat. A. PENDAHULUAN Pada umumnya semua jenis kapal baik kapal niaga maupun kapal tanker serta terminal atau pelabuhan harus ada prosedur yang siap untuk digunakan segera pada saat keadaan darurat. Prosedur ini harus meliputi segala macam keadaan darurat yang ditemui pada kegiatan kapal atau terminal. Walaupun kita tidak menghendaki adanya suatu insiden ataupun kecelakaan yang terjadi misalnya mengalami kebakaran di kapal, tapi kejadian-kejadian seperti pecahnya pipa-pipa, meluapnya muatan, tergenangnya kamar pompa, tabrakan kapal, termasuk kebakaran, alat pernafasan, alat Bantu pernapasan, alat-alat penanggulangan pencemaran, bila semua itu terjadi harus kita tanggulangi dan kita atasi dengan segera agar tidak banyak mengalami kerugian. Prosedur ini harus dipahami 31

betul oleh pelaksana yang secara teratur dilatih dan dapat dilaksanakan dengan baik. Keadaan darurat adalah keadaan dari suatu kejadian kecelakaan tiba-tiba yang memerlukan tindakan pencegahan secara cepat, tepat dan terpadu dari beberapa kegiatan pada tempat kejadian tersebut. Tindakan tersebut meliputi :persiapan, yaitu langkah-langkah persiapan yang diperlukan dalam menangani keadaan tersebut berdasarkan jenis dari kejadian tersebut, prosedur praktis dari penanganan kejadian yang harus diikuti beberapa kegiatan/secara terpadu serta organisasi yang solid dengan garisgaris komunikasi dan tanggung jawabnya. B. MAKSUD DARI PROSEDUR DARURAT Maksud dari prosedur darurat ini adalah mencegah/ menghindari meluasnya akibat kejadian terhadap penderitaan lingkungannya,memperkecil kerusakan materi dan lingkungan serta dapat menguasai keadaan. Sedangkan penanggung jawab tertinggi adalah penguasa pelabuhan setempat. Jadi apabila terdapat perubahan yang menyangkut kerjasama dalam pelaksanaan segera memberitahukan penguasa tersebut untuk diperbaharui. C. JENIS PROSEDUR DARURAT Jenis Prosedur Keadaan Darurat : 1. Prosedur intern ( lokal ) Ini merupakan pedoman pelaksanaan untuk masing-masing bagian/departemen, dengan pengertian keadaan darurat yang terjadi masih dapat diatasi oleh bagian-bagian yang bersangkutan, tanpa melibatkan kapal-kapal atau usaha pelabuhan setempat. 2. Prosedur umum Merupakan pedoman perusahaan secara keseluruhan dan telah menyangkut keadaan darurat yang cukup besar atau paling tidak dapat membahayakan kapal-kapal lain atau dermaga/terminal. Dari segi penanggulangannya diperlukan pengerahan tenaga yang banyak atau melibatkan kapal-kapal/penguasa pelabuhan setempat. 32

D. PENYEBAB DAN JENIS KEJADIAN Kapal laut sebagai bangunan terapung yang bergerak dengan daya dorong pada kecepatan bervariasi melintasi berbagai daerah pelayaran dalam kurun waktu tertentu, akan mengalami berbagai problematika yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti cuaca, keadaan alur pelayaran, manusia, kapal dan lain-lain yang belum dapat diduga oleh kemampuan manusia dan akhirnya menimbulkan gangguan pelayaran dari kapal. Gangguan pelayaran pada dasarnya dapat berupa gangguan yang dapat langsung diatasi, bahkan perlu mendapat bantuan langsung dari pihak tertentu, atau gangguan yang mengakibatkan Nahkoda dan seluruh anak buah kapal harus terlibat baik untuk mengatasi gangguan tersebut serta harus meninggalkan kapal. Keadaan gangguan pelayaran tersebut sesuai situasi dapat dikelompokan menjadi keadaan darurat yang didasarkan pada jenis kejadian itu sendiri, sehingga keadaan darurat ini dapat disusun sebagai berikut: Keadaan darurat di kapal dapat merugikan Nahkoda dan anak buah kapal serta pemilik kapal maupun lingkungan laut bahkan juga dapat menyebabkan terganggunya Ekosistem dasar laut, sehingga perlu untuk memahami kondisi keadaan darurat itu sebaik mungkin guna memiliki kemampuan dasar untuk dapat mengindetifikasi tanda-tanda keadaan darurat agar situasi tersebut dapat diatasi oleh Nahkoda dan anak buah kapal maupun kerjasama dengan pihak yang terkait. 1. Tubrukan Keadaan darurat karena tubrukan kapal dengan kapal atau kapal dengan dermaga maupun dengan benda tertentu akan mungkin terdapat situasi kerusakan pada kapal, korban manusia, tumpahan minyak ke laut (kapal tangki), pencemaran dan kebakaran. Situasi lainnya adalah kepanikan atau ketakutan petugas di kapal yang justru memperlambat tindakan, pengamanan, penyelamat an dan penanggulangan keadaan darurat tersebut. 2. Kebakaran/Ledakan Kebakaran di kapal dapat terjadi diberbagai lokasi yang rawan terhadap kebakaran, misalnya di kamar mesin, ruang 33

muatan, gudang penyimpanan perlengkapan kapal, instalasi listrik dan tempat akomodasi Nakhoda dan anak buah kapal. Sedangkan ledakan dapat terjadi karena kebakaran atau sebaliknya kebakaran terjadi karena ledakan, yang pasti keduaduanya dapat menimbulkan situasi darurat serta perlu untuk diatasi. Keadaan darurat pada situasi kebakaran dan ledakan tertentu sangat berbeda dengan keadaan darurat karena tubrukan, sebab pada situasi yang demikian terdapat kondisi yang panas dan ruang gerak terbatas dan kadang-kadang kepanikan atau ketidaksiapan petugas untuk bertindak mengatasi keadaan maupun peralatan yang digunakan sudah tidak layak atau tempat penyimpanan telah berubah. 3. Kapal Kandas Kapal kandas pada umumnya didahului dengan tandatanda putaran baling-baling terasa berat, asap di cerobong mendadak menghitam, badan kapal bergerak dan kecepatan kapal berubah kemudian berhenti mendadak. Pada saat kapal kandas tidak bergerak, posisi kapal akan sangat tergantung pada permukaan dasar laut atau sungai dan situasi di dalam kapal tentu akan tergantung juga pada keadaan kapal tersebut. Pada kapal kandas terdapat kemungkinan kapal bocor dan menimbulkan pencemaran atau bahaya tenggelam kalau air yang masuk ke dalam kapal tidak dapat diatasi, sedangkan bahaya kebakaran tentu akan dapat saja terjadi apabila bahan bakar atau minyak terkondisi dengan jaringan listrik yang rusak menimbulkan nyala api dan tidak terdeteksi sehingga menimbulkan kebakaran. Kemungkinan kecelakaan manusia akibat kapal kandas dapat saja terjadi karena situasi yang tidak terduga atau terjatuh saat terjadi perubahan posisi kapal. Kapal kandas sifatnya dapat permanen dan dapat pula bersifat sementara tergantung pada posisi permukaan dasar laut atau sungai, ataupun cara mengatasinya sehingga keadaan darurat seperti ini akan membuat situasi di lingkungan kapal akan terjadi rumit. 34

4. Kebocoran/Tenggelam Kebocoran pada kapal dapat terjadi karena kapal kandas, tetapi dapat juga terjadi karena tubrukan maupun kebakaran serta kulit pelat kapal karena korosi, sehingga kalau tidak segera diatasi kapal akan segera tenggelam. Air yang masuk dengan cepat sementara kemampuan mengatasi kebocoran terbatas, bahkan kapal menjadi miring membuat situasi sulit diatasi. Keadaan darurat ini akan menjadi rumit apabila pengambilan keputusan dan pelaksanaannya tidak didukung sepenuhnya oleh seluruh anak buah kapal, karena upaya untuk mengatasi keadaan tidak didasarkan pada azas keselamatan dan kebersamaan. 5. Orang Jatuh ke Laut Orang jatuh ke laut merupakan salah satu bentuk kecelakaan yang membuat situasi menjadi darurat dalam upaya melakukan penyelamatan. Pertolongan yang diberikan tidak mudah dilakukan karena akan sangat tergantung pada keadaan cuaca saat itu serta kemampuan yang akan memberi pertolongan, maupun fasilitas yang tersedia. 6. Pencemaran Pencemaran laut dapat terjadi karena buangan sampah dan tumpahan minyak saat bunkering, buangan limbah muatan kapal tangki, buangan limbah kamar mesin yang melebihi ambang 15 ppm dan karena muatan kapal tangki yang tertumpah akibat tubrukan atau kebocoran. E. TINDAKAN DALAM KEADAAN DARURAT Sijil Bahaya atau Darurat Dalam keadaan darurat atau bahaya, setiap awak kapal wajib bertindak sesuai ketentuan sijil darurat, oleh sebab itu sijil darurat senantiasa dibuat dan diinformasikan pada seluruh awak kapal. Sijil darurat di kapal perlu digantungkan di tempat yang setrategis, mudah dicapai, mudah dilihat dan mudah dibaca oleh seluruh pelayar dan memberikan perincian prosedur dalam keadaan darurat, seperti : 35

1. Tugas-tugas khusus yang harus ditanggulangi di dalam keadaan darurat oleh setiap anak buah kapal. 2. Sijil darurat selain menunjukkan tugas tugas khusus, juga tempat berkumpil ( kemana setiap awak kapal harus pergi) 3. Sijil darurat bagi setiap penumpang harus dibuat dalam bentuk yang ditetapkan oleh pemerintah. 4. Sebelum kapal berangkat, sijil darurat harus sudah dibuat dan salinannya digantungkan di beberapa tempat yang strategis di kapal, terutama di ruang ABK. 5. Di dalam sijil darurat juga diberikan pembagian tugas yang berlainan bagi setiap ABK, misalnya : 5.1 Menutup pintu kedap air, katup-katup, bagian mekanis dari lubang lubang pembuangan air di kapal. 5.2 Perlengkapan sekoci penolong termasuk radio jinjing maupun perlengkapan lainnya. 5.3 Menurunkan sekoci penolong 5.4 Persiapan umum alat-alat penolong / penyelamat lainnya. 5.5 Tempat berkumpul dalam keadaan darurat bagi penumpang. 5.6 Alat-alat pemadam kebakaran termasuk panel control kebakaran. 6. Selain itu dalam sijil darurat disebutkan tugas-tugas khusus yang dikerjakan oleh anak buah kapal bagi koki, pelayan, seperti : 6.1 Memberikan peringatan kepada penumpang 6.2 Memperhatikan apakah mereka memakai rompi renang secara semestinya. 6.3 Mengumpulkan para penumpang di tempat berkumpul darurat 6.4 Mengawasi gerakan dari para penumpang dan memberikan petunjuk di gang-gang atau di tangga. 6.5 Memastikan bahwa persediaan selimut telah dibawa sekoci / rakit penolong. Dalam hal yang menyangkut pemadam kebakaran, sijil darurat memberikan petunjuk-petunjuk cara yang biasa dikerjakan dalam kejadian kebakaran, serta tugas khusus yang harus dilaksanakan dalam hubungan dengan operasi pemadaman, peralatan-peralatan dan instansi pemadam kebakaran di kapal. Sijil darurat harus membedakan secara khusus semboyansemboyan panggilan bagi ABK untuk berkumpul di sekoci 36

penolong mereka masing-masing, di rakit penolong atau tempat berkumpul untuk memadamkan kebakaran.semboyan-semboyan tersebut diberikan dengan menggunakan suling kapal atau sirine, kecuali di kapalpenumpang untuk pelayaran internasional jarak pendek dan di kapal barng yang panjangnya kurang dari 150 kaki ( 45,7 m), yang harus dilengkapi dengan semboyan-semboyan yang dijalankan secara elektronis, semua anjungan ini dibunyikan dari anjungan.semboyan untuk berkumpul dalam keadaan darurat terdiri dari 7 atau lebih tiup pendek yang dikuti dengan 1 tiup panjang dengan menggunakan suling kapal atau sirine dan sebagai tambahan semboyan ini, boleh dilengkapi dengan bunyi bel atau gong secara terus menerus.jika semboyan ini berbunyi semua orang di atas kapal harus mengenakan pakaian hangat dan baju renang. Untuk mampu berindak dalam situasi darurat, maka setiap awak kapal harus mengetahui dan terampil menggunakan perlengkapan keselamatan jiwa di laut, dan mampu menggunakan sekoci dan peralatannya maupun cakap menggunakan peralatan pemadam kebakaran, adapun perlengkapan keselamatan jiwa dilaut meliputi : Life saving appliances ; life boat, life jacket, life raft, buoyant apparatus,life buoy,line throwing gun,life line.life fighting equipment ; emergency fire pump, fire hydrants, hose & nozzles, fire extinguishers, smoke detector and fire detector, CO2 Installation, Sprinkler system, Axes and crow bars, fireman outfits and breathing apparatus. F. CARA KHUSUS PENANGANAN PROSEDUR DARURAT 1. Kejadian Tubrukan (Imminent collision) 1.1 Membuyikan sirine bahaya (Emergency alarm sounded) 1.2 Menggerakkan kapal sedemikian rupa untuk mengurangi pengaruh tubrukan 1.3 Menutup pintu-pintu kedap air dan pintu-pintu kebakaran otomatis 1.4 Menyalakan lampu-lampu dek 1.5 Memberi tahu Nahkoda 1.6 Memberi tahu kamar mesin 1.7 Memindah VHF ke Chanel 16 1.8 Mengumpulkan awak kapal dan penumpang di stasiun darurat 37

1.9 Posisi kapal tersedia di ruangan radio dan diperbaharui bila ada perubahan 1.10 Mengukur got-got dan tangki - tangki di ukur. 2. Kandas, terdampar (Stranding) 2.1 Menyetop mesin 2.2 Membuyikan sirine bahaya 2.3 Menutup pintu-pintu kedap air 2.4 Memberi tahu nahkoda 2.5 Memberi tahu kamar mesin 2.6 Memindah VHF ke chanel 16 2.7 Tanda-tanda bunyi kapal kandas dibunyikan 2.8 Lampu dan sosok-sosok benda diperlihatkan 2.9 Menyalakan lampu dek 2.10 Mengukur tangki-tangki dan got 2.11 Mengukur kedalaman laut disekitar kapal 2.12 Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan. 3. Kebakaran / Fire 3.1 Membuyikan sirine bahaya ( Internal dan eksternal) 3.2 Menyiapkan regu-regu pemadam kebakaran yang dan mengetahui lokasi kebakaran 3.3 Menutup ventilasi, pintu-pintu kebakaran otomatis, pintupintu kedap air 3.4 Menyalakan lampu-lampu di dek 3.5 Memberi tahu Nahkoda 3.6 Memberitahu kamar mesin 3.7 Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan. 4. Air masuk ke dalam ruangan (Flooding) 4.1 Membuyikan sirine bahaya (internal dan eksternal) 4.2 Menyiapkan dalam keadaan darurat 4.3 Menutup pintu-pintu kedap air 4.4 Memberi tahu nahkoda 4.5 Memberi tahu kamar mesin 38

4.6 Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan. 5. Berkumpul di sekoci/rakit penolong (meninggalkan kapal) 5.1 Sirine tanda berkumpul untuk meninggalkan kapal, misalnya kapal akan tenggelam yang dibunyikan atas perintah Nahkoda 5.2 Awak kapal berkumpul di deck sekoci (tempat yang sudah ditentukan dalam sijil darurat) 6. Orang jatuh ke laut (Man overboard) 6.1 Melemparkan pelampung yang sudah dilengkapi dengan lampu apung dan asap sedekat orang yang jatuh 6.2 Mengusahakan orang yang jatuh terhindar dari benturan kapal dan baling-baling 6.3 Mengamati posisi dan letak pelampung 6.4 Mengatur gerak tubuh menolong (bila tempat untuk mengatur gerak cukup disarankan menggunakan metode Williamson Turn 6.5 Menugaskan seseorang untuk mengatasi orang yang jatuh agar tetap terlihat 6.6 Meunyikan tiga suling panjang dan diulang sesuai kebutuhan 6.7 Menyiapkan regu penolong di sekoci 6.8 Memberi tahu nahkoda 6.9 Memberi tahu kamar mesin 6.10 Letak atau posisi kapal relatif terhadap orang yang jatuh di plot 6.11 Posisi kapal tersedia di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan. 7. Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue) 7.1 Mengambil pesan bahaya dengan menggunakan radio pencari arah 7.2 Pesan bahaya atau S.O.S dipancarkan ulang 7.3 Mendengarkan pola semua frekuensi bahaya secara terus menerus 7.4 Mempelajari buku petunjuk terbitan SAR (MERSAR) 39

7.5 Mengadakan hubungan antar SAR laut dengan SAR udara pada frekwensi 2182 K dan atau chanel 16 7.6 Posisi, haluan dan kecepatan penolong yang lain di plot. G. SIMPULAN Keadaan darurat merupakan keadaan dari suatu kejadian kecelakaan tiba-tiba yang memerlukan tindakan pencegahan secara cepat, tepat dan terpadu dari beberapa kegiatan pada tempat kejadiannya. Tindakan tersebut meliputi :Persiapan, yaitu langkahlangkah persiapan yang diperlukan dalam menangani keadaan tersebut berdasarkan jenis dari kejadian tersebut, prosedur praktis dari penanganan kejadian yang harus diikuti beberapa kegiatan/secara terpadu serta organisasi yang solid dengan garisgaris komunikasi dan tanggung jawabnya. DAFTAR PUSTAKA Badan Diklat Perhubungan Laut,2000, Personal Safety And Social Responsibility International Maritime Organization,1994, Emergency Prosedures for ships Carrying Dangerous Goods Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran, 1986, Peraturan-Peraturan dan Keselamatan Kerja Peraturan Keselamatan, Amir, 1998 International Convention For The Safety Of Life at Sea (SOLAS), 1974.Jilid I, Jakarta. 40