BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. termasuk dalam bidang kesehatan. World Health Organization (WHO)

BAB I PENDAHULUAN. Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Menurunnya AKI dari 334

BAB I PENDAHULUAN. melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kehamilan, persalinan, dan menyusukan anak merupakan proses alamiah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dari 189 negara yang menyepakati

BAB I PENDAHULUAN. pencapaian Millenium Development Goals (MDGs). Dimana MDGs adalah. Millenium Summit NewYork, September 2000 (DKK Padang, 2012).

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL... LEMBAR PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih

BAB 1 PENDAHULUAN. Angka kematian ibu (AKI) mengacu pada jumlah wanita yang meninggal

BAB I PENDAHULUAN. seluruh kematian ibu terjadi di negara berkembang. Tingginya jumlah

BAB I PENDAHULUAN. di dunia untuk sepakat mencapai Universal Health Coverage (UHC) pada

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I. Pendahuluan. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. secara global dalam konstitusi WHO, pada dekade terakhir telah disepakati

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. masih cukup tinggi dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

PANDUAN PELAKSANAAN RUJUKAN PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK)

EVALUASI PELAKSANAAN PELAYANAN OBSTETRI DAN NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) DI PUSKESMAS KARANG MALANG SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional dan Millenium

DAFTAR ISI. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka B. Kerangka Teori C. Kerangka Konsep D. Pertanyaan Penelitian...

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah yang terjadi di dunia saat ini adalah menyangkut kemiskinan,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

EVALUASI PERSIAPAN PUSKESMAS PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) DI KABUPATEN BREBES TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. individu, keluarga, masyarakat, pemerintah dan swasta. Upaya untuk meningkatkan derajat

kesatuan yang tidak terpisahkan dari manajemen operasi RS. Manajemen operasi yang efisien (lean management) adalah manajemen operasi yang

BAB I PENDAHULUAN. yang terkait dengan kehamilan dan persalinan, dengan kata lain 1400 perempuan

BUPATI GARUT P E R A T U R A N B U P A T I G A R U T NOMOR 505 TAHUN 2011 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) masih merupakan masalah

BAB I PENDAHULUAN. eklampsia, sepsis, dan komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan adalah dengan memantapkan penjaminan kesehatan melalui. jaminan kesehatan. Permenkes No. 71 tahun 2013 tentang Pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data WHO UNICEF, UNFPA dan Bank Dunia menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. intervensi pemerintah dalam pembayaran. Dokter, klinik, dan rumah sakit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) masih menjadi masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KERANGKA ACUAN PELATIHAN PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF (PONEK)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. khususnya untuk indikator kesehatan ibu (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BAB I PENDAHULUAN. menentukan jumlah Perdarahan yang terjadi karena tercampur dengan air

panduan praktis Pelayanan Kebidanan & Neonatal

BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

suplemen Informasi Jampersal

BAB I PENDAHULUAN. paripurna yang menyediakan pelayanan rawat jalan, rawat inap dan. rawat darurat. Rustiyanto (2010), mengatakan bahwa pelayanan

BAB VI KESIMPULAN PENELITIAN. Pelaksanaan kendali biaya di RSUD Kota Yogyakarta; sebagaimana

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PEMANFAATAN DANA JAMINAN PERSALINAN PADA PUSKESMAS DI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Prawirohardjo (2010; h. 55) kehamilan, persalinan, nifas,dan

Alumni S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan UDINUS Staf Pengajar Fakultas Kesehatan UDINUS

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan tantangan yang lebih sulit dicapai dibandingkan dengan target Millenium

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Karakteristik Subjek Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya seperti Thailand hanya 44 per

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang. kompleks, padat pakar, dan padat modal. Kompleksitas ini muncul

BAB I PENDAHULUAN. millenium (MDG s) nomor 5 yaitu mengenai kesehatan ibu. Adapun yang menjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. kehamilan sebagai komplikasi persalinan atau nifas, dengan penyebab terkait atau

BAB I PENDAHULUAN. unsur penentu status kesehatan (Saifuddin, 2013). Keadaan fisiologis bisa

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. menjalani kehidupannya dengan baik. Maka dari itu untuk mencapai derajat kesehatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai dampak yang besar terhadap pembangunan di bidang kesehatan dan

PONED sebagai Strategi untuk Persalinan yang Aman

BAB I PENDAHULUAN. jantung. Prevalensi juga akan meningkat karena pertambahan umur baik lakilaki

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dengan melihat indikator yang tercantum dalam Milenium

BAB 1 : PENDAHULUAN. Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), sistem INA CBG s (Indonesia Case Base

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1 gambar Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun Sumber: Buku Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015 AKI

BAB I PENDAHULUAN. pula 1 lahir mati. Penyebab kematian bayi adalah asfiksia, trauma kelahiran,

BAB I PENDAHULUAN. yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk

BAB I PENDAHULUAN. khususnya mengenai jaminan social (Depkes RI, 2004). Penyempurna dari. bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan.

BAB 1 PENDAHULUAN. asuransi sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan

6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Tahun 2011 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indikator derajat kesehatan masyarakat, tercermin dalam kondisi angka kematian,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ajarmah dan Hashem (2015) mendefinisikan kepuasan pasien sebagai penilaian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam rangka mencapai cita-cita awal dari pembentukan Sistem

BAB 1 PENDAHULUAN. Kesehatan Nasional (SKN) yaitu suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN. kandungan, saat kelahiran dan masa balita (dibawah usia lima tahun).

BAB 1 PENDAHULUAN. ketika berobat ke rumah sakit. Apalagi, jika sakit yang dideritanya merupakan

BAB I PENDAHULUAN. waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab

BAB I PENDAHULUAN. oleh kualitas dari sumber daya manusia yang dimiliki oleh rumah sakit bersangkutan.

TENTANG BUPATI SERANG,

BAB I PENDAHULUAN. menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. 1

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang. Kesehatan ibu dan anak (KIA) merupakan salah satu upaya pelayanan

BAB III METODE PENELITIAN. desain penelitian deskriptif analitik. Pengambilan data dilakukan secara

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penurunan kematian maternal dan neonatal merupakan dua dari delapan kunci Millenium Development Goals (MDGs) (WHO, 2015). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) (2012) menunjukkan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berada pada angka 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup dan Angka tersebut tentu masih sangat jauh dari target kelima Millenium Development Goals, yaitu pada 2015 mencapai 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012). Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan jumlah kasus kematian ibu di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015 sebanyak 619 kasus, mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan jumlah kasus kematian ibu tahun 2014 yang mencapai 711 kasus. Dengan demikian Angka kematian ibu (AKI) Provinsi Jawa Tengah juga mengalami penurunan dari 126,55 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014 menjadi 111,16 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Data Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Banyumas menunjukkan jumlah AKI sejak 2010 selalu di angka 30 kasus lebih. Pada 2010 ada 33 kasus, 2011 (35), 2012 (32), pada 2013 (35), di 2014 (33). Data tersebut meperlihatkan belum tercapainya target MDG S tahun 2015 di Kabupaten Banyumas, yang mensyaratkan pencapaian AKI sebesar 102 per 100.000 KH. Goldie et al. (2010) menyatakan bahwa kematian maternal dapat diturunkan jika masyarakat mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan yang memadai termasuk terhadap pelayanan emergency obstetric and neonatal care (EmONC). Oleh karena itu, strategi penyediaan layanan EmONC merupakan salah satu strategi utama yang direkomendasikan oleh Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) melalui United Nations Populations Fund (UNFPA) untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi (UN Millenium Project, 2005).

2 Program EmONC telah diadaptasi di Indonesia dengan nama Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) yang telah dimulai pada tahun 2007. Ketersediaan tenaga kesehatan yang berkompeten, sarana dan prasarana yang memadai serta ditunjang oleh manajemen yang handal merupakan komponen utama keberhasilan Rumah Sakit PONEK. Guna mendukung keterjangkauan pelayanan PONEK untuk masyarakat, Pemerintah RI pada tahun 2011 meluncurkan program jaminan kesehatan bagi ibu hamil dan bersalin yaitu jaminan persalinan (Jampersal), kemudian pada tanggal 1 Januari 2014, program tersebut telah terintegrasi dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) untuk melayani jaminan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan pola pembayaran casemix yaitu INA-CBG s (Kususmaningtyas, 2014). Rumah sakit PONEK sebagai tempat rujukan akhir kasus kebidanan memegang peranan penting dalam upaya penyelamatan ibu, karena sekitar 5-15% kasus komplikasi membutuhkan tindakan yang hanya bisa dilakukan di rumah sakit seperti Sectio Caesarea (SC), Histerektomi, tatalaksana Pre Eklamsia Berat (PEB) - Eklamsia dan transfusi darah (Kemenkes, 2013). Salah satu upaya terminasi kehamilan dalam penyelamatan ibu dan janin adalah dengan melakukan tindakan SC sehingga kematian maternal dan neonatal dapat dihindari. PenelitianTaufiqy, et al (2015) menyebutkan analisis data menunjukkan proporsi SC di RSUD Tugurejo selama tahun 2011 hingga 2015 semakin meningkat. Pembilangnya merupakan jumlah operasi SC yang dilakukan di RS PONEK atas indikasi apapun dalam satuan waktu. Penyebutnya adalah jumlah persalinan hidup dalam satuan waktu yang sama. Standar nilai yang digunakan adalah 5-15% (WHO, 2009). Proporsi SC yang dihitung tidak hanya dari RS PONEK yang bersangkutan, tetapi juga di suatu lingkup wilayah tertentu, misalnya dalam suatu provinsi. Proporsi SC dipilih menjadi indikator tindakan yang dapat menyelamatkan ibu maupun janinnya, meskipun prosedur operasi lainnya (seperti histerektomi pada kasus ruptur uterus atau laparotomi dalam kasus kehamilan ektopik) juga dapat menyelamatkan hidup seorang ibu. Dari

3 semua prosedur yang dilakukan untuk menatalaksana komplikasi obstetri mayor, SC merupakan salah satu cara yang paling umum dan cukup dapat dipercaya (WHO, 2009). Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, meningkatknya proporsi SC berpotensi menimbulkan dampak ketidakcukupan klaim tarif INA-CG s dalam pelayanan kegawatdaruratan maternal dengan biaya riil pelayanan Rumah Sakit sehingga mengakibatkan RS mengalami kerugian (Nadjib, 2013). Salah satu penyebabnya adalah belum adanya informasi yang akurat berkaitan dengan Tarif RS. Ambariani (2015) menyebutkan permasalahan sistem informasi akuntansi dan keuangan masih menjadi isu yang kritis. Hal ini memperlebar jurang informasi diantara rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Selain itu, penyebab tarif klaim INA- CBG s tidak mampu menutup biaya pelayanan SC di RS adalah disebabkan Tarif SC yang cukup besar dan berbeda-beda di masing-masing RS. Kusumaningtyas (2014) menyebutkan perbandingan biaya perawatan di rumah sakit dengan tarif INA-CBG s untuk kasus persalinan dengan SC di RSUD Tugurejo Semarang tahun 2013 adalah sebesar 61% biaya riil rumah sakit melebihi tarif paket INA-CBGs 3.1 atau dengan total selisih biaya keseluruhan mencapai Rp 68.774.173 dan 39% biaya riil rumah sakit kurang dari tarif paket INA-CBGs 3.1. Ambariani et al (2015) melaporkan dari 30 kasus SC di RSUD Bajawa sebagian besar klaim Tarif INA CBG s untuk 30 prosedur SC lebih rendah daripada tarif, kecuali untuk kelas I. Hal ini mengindikasikan bahwa tarif INA CBG s belum cukup untuk menutup biaya prosedur SC. Potensi timbulnya kerugian mendorong RS untuk menjalankan strategi yang mungkin tergolong kecurangan (fraud). Namun demikian, penerapan strategi kendali mutu dan biaya yang bebas fraud sangat bergantung pada perilaku masing-masing RS dalam menyikapi klaim tarif INA-CBG s. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor meliputi kemampuan rumah sakit dalam mengkoding kode diagnosis dan prosedur di ICD IX dan ICD X, sistem kendali mutu dan biaya yang diterapkan contohnya penerapan Clinical Pathway (CP), dan tingkat severity level pada pasien.

4 Supaya dapat mengetahui apakah klaim (reimbursement) dari sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dapat menutup semua biaya pelayanan kesehatan di rumah sakit, maka perlu diketahui biaya yang dikeluarkan oleh RS secara cepat dan akurat. Hal ini mendorong seluruh elemen, baik pihak rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga dapat dijadikan sebagai dasar evaluasi dan advocacy dalam besaran pembiayaan pelayanan kesehatan. RSU Wiradadi Husada merupakan Rumah Sakit Umum dengan Izin Operasional Kelas C di Kabupaten Banyumas. RSU Wiradadi Husada memiliki kapasitas 103 Tempat Tidur (TT) dengan indikator Bed Occupancy Rate (BOR) sebesar 88,6 % pada tahun 2016. RSU Wiradadi Husada memiliki beberapa pelayanan spesialistik unggulan yang ditunjang dengan sarana dan prasarana terstandar seperti Pelayanan Maternal-Neonatal Terpadu, Ortopedi dan Trauma, Saraf dan Pelayanan Spesialistik lainnya. Ditunjuknya RSU Wiradadi Husada menjadi RS PONEK pada tahun 2017 menjadikan RSU Wiradadi Husada sebagai RS pusat rujukan kegawatan maternal dan neonatal di area Kabupaten Banyumas memberikan dampak pelayanan SC RSU Wiradadi Husada secara kuantitas dan kualitas meningkat secara signifikan. Pada periode Bulan Januari-Maret 2017 jumlah kasus SC 46 kasus lebih besar dari pada periode 3 bulan sebelumnya dengan selisih pendapatan sebesar Rp 322.425.846,-. Namun hal ini juga berpotensi meningkatkan Tarif melalui penambahan jumlah dan pengadaan alat kesehatan sesuai standar PONEK serta peningkatan Length Of Stay (LOS) sedangkan tarif INA-CBG s tidak berdasarkan hari rawat inap ataupun besaran Tarif RS melainkan dari group kemiripan kasus yang di input berdasarkan ICD IX dan ICD X sehingga berpotensi besar Tarif Klaim INA-CBG s tidak mencukupi Tarif RS. Tarif pelayanan SC di RSU Wiradadi Husada terdiri dari biaya administrasi, biaya kamar, biaya tindakan pelayanan, biaya tenaga kerja (dokter), biaya penggunaan alat dan biaya overhead RS. Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang diperoleh dengan menganalisa biaya klaim dari sepuluh pasien SC, sebanyak 6 pasien dengan

5 biaya perawatan lebih besar dari tarif INA-CBG s dan hanya 4 pasien yang biaya perawatannya dibawah tarif INA-CBG s. Sejak INA-DRG lisensinya berakhir pada tanggal 30 September 2010 lalu dan digantikan dengan INA- CBG s sampai sekarang belum pernah dilakukan penelitian tentang analisis kecukupan klaim INA CBG s BPJS dengan Tarif pasien maternal dan neonatal, sehingga berdasarkan hasil analisis tersebut pihak rumah sakit dapat menetapkan strategi kendali mutu dan biaya tanpa melakukan tindakan fraud. Adanya potensi ketidakcukupan klaim tarif INA-CBG s dalam pelayanan SC pada implementasi PONEK di RSU Wiradadi Husada dan adanya fenomena ketidakcukupan klaim tarif INA-CBG s yang terjadi pada studi pendahuluan dan di beberapa RS mewajibkan manajemen RSU Wiradadi Husada mempersiapkan sistem kendali mutu dan biaya yang lebih baik. Oleh karena itu peneliti tertarik mengambil tema penelitian tentang Analisis kecukupan klaim INA CBG s BPJS dengan Tarif Sectio Caesarea (SC) dengan implementasi PONEK di RSU Wiradadi Husada. B. Perumusan Masalah Apakah klaim INA CBG s pada pasien dengan SC di RSU Wiradadi Husada mencukupi Tarif SC setelah menjadi rumah sakit PONEK? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Menganalisis kecukupan klaim INA-CBG s dengan Tarif rumah sakit pada pasien dengan SC di RSU Wiradadi Husada 2. Tujuan Khusus: a. Untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan karakteristik kasus SC antara tarif INA CBG s yang cukup terhadap Tarif SC. b. Untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan karakteristik kasus SC antara tarif INA CBG s yang tidak cukup terhadap Tarif SC.

6 D. Manfaat Penelitian 1. Peneliti Sebagai wahana peningkatan ilmu pengetahuan Peneliti berkaitan dengan Tarif INA-CBG s dalam implementasi PONEK di RSU Wiradadi Husada. 2. Rumah Sakit Sebagai acuan manajemen rumah sakit untuk memutuskan kebijakan terkait pelayanan SC dalam implementasi PONEK yaitu: a. Menetapkan strategi kendali mutu dan biaya pelayanan SC berdasarkan penyusunan data informasi Tarif yang akurat. b. Untuk mendapatkan data dan hasil analisis sebagai acuan penyusunan clinical pathway section caesarea dalam implementasi PONEK. c. Untuk mengidentifikasi komponen Tarif SC dalam implementasi PONEK RSU Wiradadi Husada. 3. BPJS Sebagai bahan masukan ke BPJS dalam penyusunan tarif klaim INA CBG s. E. Keaslian Penelitian Penelitian ini menelaah tentang kecukupan klaim tarif INA-CBG s dengan Tarif rumah sakit pada pasien maternal dan neonatal. Beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang analisis klaim INA-CBG s diuraikan dalam Tabel berikut ini: Tabel 1. Penelitian-Penelitian yang serupa tentang tarif Klaim INA-CBG s No Peneliti Judul Perbedaan Hasil Penelitian 1 Maharani Persiapan Rumah 1. Sampel penelitian tarif INA-CBG s (2012) Sakit Swasta 2. Tempat dan lebih rendah dalam waktu penelitian daripada tarif dan menerapkan 3. Objek penelitian tarif, baik untuk Tarif Pelayanan 4. Jenis penelitian persalinan Jaminan normal maupun

7 Persalinan: Studi Kasus di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak di Kota Madya Malang dengan SC di RSIAM. Tarif dan tarif kelas III untuk persalinan normal di RSIAM adalah sebesar Rp1.633.704,00 dan Rp2.070.275,00 secara berturutan, lebih tinggi daripada tarif INA-CBG s sebesar Rp1.487.770,00. Demikian pula tarif INA-CBG s untuk SC (Rp 2.712.943,00) lebih rendah daripada Tarif dan tarif untuk kelas III (yaitu Rp 4.782.072,00 dan Rp5.110.500,00). Hasil FGD RSIAM masih mampu melayani pasien persalinan normal dengan tarif INA- CBG s dengan beberapa kebijakan dan penyesuaian

8 pelayanan, akan tetapi mengalami kendala dalam melayani pasien persalinan dengan SC. 2 Kusuman Analisa 1. Sampel penelitian Perbandingan biaya ingtyas Perbedaan Biaya 2. Tempat dan perawatan di rumah Riil Rumah Sakit waktu penelitian sakit dengan tarif dengan Tarif Ina- INA-CBG s untuk CBG S kasus persalinan 3.1 untuk Kasus dengan Sectio Persalinan Caesaria di RSUD Dengan Sectio Tugurejo Semarang Caesaria pada tahun Pasien 2013 adalah sebesar Jamkesmas di 61% biaya riil RSUD Tugurejo rumah sakit Semarang melebihi tarif paket Triwulan I Tahun INA-CBGs 2013 3.1 atau dengan total selisih biaya keseluruhan mencapai Rp68.774.173 dan 39% biaya riil rumah sakit kurang dari tarif paket INA- CBGs 3.1 atau dengan total keuntungan

9 sebesar Rp9.605.291. Sehingga hasil akhir penghitungan selisih biaya kerugian yang didapatkan adalah senilai Rp 59.168.882. 3 Ambaria Kajian Penentuan 1. Jenis penelitian, Besaran Tarif ni, dkk Besaran tarif, 2. Sampel berdasarkan Penyerapan penelitian, tindakan aktual di Klaim INA 3. tempat penelitian RS Bajawa lebih CBG s, dan 4. Teknik analisa besar dibandingkan Kebijakan data dengan Rumah Pemanfaatan Sakit Umbu Rara Dana Sisa dalam Meha. (2) Tarif Monitoring INA CBG s Penyelenggaraan prosedur Sectio Program JKN di caesaria lebih Provinsi Nusa rendah daripada Tenggara Timur Tarif, kecuali untuk kelas I di RS Bajawa. Hal ini mengindikasikan bahwa tarif INA CBG s tidak cukup untuk menutup biaya prosedur Sectio caesaria,

10 berbeda hal dengan tarif INA CBG s prosedur malaria yang lebih tinggi daripada Tarif yang mengindikasikan tarif INA CBG s dapat menutup biaya prosedur malaria; (3) Selama tahun 2014, pemanfaatan klaim INA CBG s mencapai Rp 7,68 miliar (RSUD Bajawa) dan Rp 14,37 miliar (RSUD Umbu Rara Meha). Perbedaan Penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu: 1. Penelitian pertama yaitu penelitian Maharani (2012), yang berjudul Persiapan Rumah Sakit Swasta dalam Menerapkan Tarif Pelayanan Jaminan Persalinan: Studi Kasus di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak di Kota Madia Malang. Perbedaan penelitian ini adalah populasi dalam penelitian adalah seluruh jenis persalinan yang dilayani, variabel penelitian yaitu tarif, tarif pelayanan, dan tarif INA CBGs. Selain itu, perbedaan lainnya adalah karakteristik tempat penelitian bukan sebagai RS PONEK dan waktu penelitian. 2. Penelitian kedua adalah penelitian Kusumaningtyas (2013), tentang Analisa Perbedaan Biaya Riil Rumah Sakit dengan Tarif Ina-CBG S 3.1 untuk Kasus Persalinan dengan Sectio Caesaria pada Pasien

11 Jamkesmas di RSUD Tugurejo Semarang Triwulan I Tahun 2013. Perbedaan dengan penelitian ini adalah penggunaan instrumen tarif SC INA CBGs 3.1 tahun 2010, jumlah sampel penelitian, tempat dan waktu penelitian. 3. Penelitian ketiga adalah penelitian Ambariani (2015), tentang Kajian Penentuan Besaran tarif, Penyerapan Klaim INA CBG s, dan Kebijakan Pemanfaatan Dana Sisa dalam Monitoring Penyelenggaraan Program JKN di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tujuan penelitian untuk melakukan kajian penentuan besaran tarif, penyerapan klaim INA CBG s. Selain itu perbedaan lainnya adalah jenis penelitian merupakan observasional dengan rancangan crossectional. Sampel penelitian berupa Sectio caesaria dan malaria, cara pengumpulan data melalui wawancara, tempat dan waktu penelitian.