BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. darah dan sel darah. Sel darah terdiri atas tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat penting bagi dokter yang bertugas di laboratorium, dokter

BAB I PENDAHULUAN. Semakin tingginya tingkat pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdiri dari sel darah. (Evelyn C. Pearce, 2006)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dinamakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transpor berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. trombosit. Darah merupakan bagian dari tubuh yang jumlahnya 6-8 % berat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari tubuh yang jumlahnya 6-8% dari berat badan total. a. Plasma darah, merupakan bagian yang cair

BAB I PENDAHULUAN. Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oksigen. Darah terdiri dari bagian cair dan padat, bagian cair yaitu berupa plasma

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indeks Eritrosit atau Mean Cospuscular Value adalah suatu nilai rata-rata

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tubuh, membawa nutrisi, membersihkan metabolisme dan membawa zat antibodi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah merupakan bagian penting dari sistem transportasi zat-zat. a. Plasma darah merupakan bagian cair.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. makhluk hidup. Sel eritrosit termasuk sel yang terbanyak di dalam tubuh manusia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH CARA WESTERGREN MENGGUNAKAN DARAH EDTA TANPA PENGENCERAN DENGAN CARA OTOMATIK

BAB I PENDAHULUAN. benar sehingga memberikan hasil yang teliti dan akurat dengan validasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengangkut oksigen. Kualitas darah dan warna merah darah ditentukan oleh kadar hemoglobin.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hemoglobin adalah suatu senyawa protein dengan besi yang. ternamakan protein terkonjugasi, sebagai inti besi dengan rangka

Disusun oleh : Jheniajeng Sekartaji A. NIM. G0C

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI PERHITUNGAN JUMLAH ERITROSIT DARAH

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan bagian padat. Bagian cair disebut plasma sedangkan bagian yang padat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ilmu Pengetahuan Alam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam system sirkulasi darah merupakan bagian penting yaitu dalam

ANFIS SISTEM HEMATOLOGI ERA DORIHI KALE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah terdiri atas 2 komponen utama yaitu plasma darah dan sel-sel darah.

BAB 1 PENDAHULUAN. mengetahui keadaan darah dan komponen-komponennya. Fungsi dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdiri dari sel darah. ( Evelyn C. Pearce, 2006 ) sedang keberadaannya dalam darah, hanya melintas saja.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Haemoglobin adalah senyawa protein dengan besi (Fe) yang dinamakan

BAB I PENDAHULUAN. darah rutin yang sering dilakukan di laboratorium( Dep Kes RI Th1995 ).

SISTEM PEMBULUH DARAH MANUSIA. OLEH: REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt

Sistem Transportasi Manusia L/O/G/O

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian Karya Tulis Ilmiah ini adalah penelitian analitik.

SISTEM PEREDARAN DARAH

B A B II TINJAUAN PUSTAKA. penting dari sistem transport dan bagian penting

Apa itu Darah? Plasma Vs. serum

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam pembuatan karya ilmiah adalah. Waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2009

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berwarna merah dan tidak transparan serta berada dalam suatu ruang. tertutup yang dinamakan pembuluh darah (Sadikin, 2001).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Central RSUP Dr. Kariadi

tumbuh tumbuhan, madu, sirup jagung, dan tetesan tebu. Pada manusia dan dan laktosa ( Hertog Nursanyoto, dkk, 1992 ).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat yang tidak berbahaya maupun yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Darah adalah suspensi dari partikel dalam larutan koloid cair yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA ACARA III MENGHITUNG JUMLAH SEL DARAH MERAH

Praktikum II UJI OKSIHEMOGLOBIN & DEOKSIHEMOGLOBIN

Indek Eritrosit (MCV, MCH, & MCHC)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berbentuk cakram dan mengandung granula. Terdapat keping

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. unggas air yang cocok untuk dikembangbiakkan di Indonesia. Sistem

Anti Koagulansia, pengawet dan. Dr.Ozar Sanuddin, SpPK

LAPORAN PRAKTIKUM 3 METABOLISME GLUKOSA TEKNIK SPEKTROFOTOMETRI SISKA MULYANI (NIM: ) HARI/TANGGAL PRAKTIKUM : KAMIS / 4 Agustus 2016

BAB I PENDAHULUAN. pemeriksaan hematologi. Pemeriksaan hematologi meliputi kadar hemoglobin,

Tujuan Pembelajaran. 1. Dapat menjelaskan 3 komponen penyusun sistem peredaran darah pada manusia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mengandung elektrolit. (Muttaqin Arif, 2009) trombosit, dan komponen lainnya. (A.V. Hoffbrand dan J.F. Pettit.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. primitive sampai manusia. Darah dalam keadaan fisiologik selalu berada dalam

BAB II TINJAUN PUSTAKA. 2013). Warna yang lebih merah cemerlang terdapat pada darah arteri yang

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yaitu menggambarkan perbedaan

Laporan Praktikum V Darah dan Peredaran

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Prosedur kerja Kemampuan puasa ikan Tingkat konsumsi oksigen Laju ekskresi amoniak

BAB I PENDAHULUAN. hemoglobin, jumlah lekosit, hitung jenis lekosit, Laju Endap Darah (LED).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semua bagian dari tubuh rusa dapat dimanfaatkan, antara lain daging, ranggah dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bagian-bagian darah yang berasal dari donor kepada seorang penderita (resipien).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS.

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2015 di kandang peternak di

UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan Copyright 2009

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Juni 2013.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah cairan yang disebut plasma yang di dalamnya terdapat unsur-unsur padat,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. rawat inap di RSU & Holistik Sejahtera Bhakti Kota Salatiga. kanker payudara positif dan di duga kanker payudara.

PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN, HEMATOKRIT DAN JUMLAH ERITROSIT PADA DARAH DENGAN EDTA 10%

III. METODOLOGI PERCOBAAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 sampai Juni 2015 di

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI PEMBUATAN DAN PEWARNAAN SEDIAAN APUSAN DARAH

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Darah merupakan salah satu komponen yang paling penting di dalam tubuh

BAB I PENDAHULUAN. anemia atau tidak. Keadaan anemia yang dapat disebabkan dari penyakit darah

BAB II TINJUAN PUSTAKA. Darah merupakan bagian dari tubuh yang jumlahnya 6 8% dari berat badan

BAB 1 PENDAHULUAN. masa kehamilan. Anemia fisiologis merupakan istilah yang sering. walaupun massa eritrosit sendiri meningkat sekitar 25%, ini tetap

PENGARUH KONSUMSI SUPLEMEN ZAT BESI TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU MENYUSUI

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Total Protein Darah Ayam Sentul

LAPORAN PRAKTIKUM METABOLISME GLUKOSA, UREA, DAN TRIGLISERIDA (TEKNIK SPEKTROFOTOMETRI)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. lain. Salah satu fungsi darah adalah sebagai media transport didalam tubuh, volume darah

SISTEM HEMATOLOGI MANUSIA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Viskositas darah didefinisikan sebagai kontribusi faktor reologik darah terhadap

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN

Transkripsi:

i BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Darah Darah merupakan bagian penting dari sistem transport tubuh. Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan (Dep kes RI, 1989). Darah diproduksi dalam sumsum tulang dan nodus limpa. Volume darah manusia sekitar 7% - 10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter, jumlah ini berbeda tiap-tiap orang. Darah terdiri dari 2 komponen yaitu plasma darah dan butir-butir darah. Plasma darah adalah bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah. Butir-butir darah (Blood corpuscles) terdiri atas 3 elemen yaitu eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (butir pembeku/platelet) (Wiwik Handayani dan Andi Sulistyo Haribowo, 2008). Plasma darah adalah sel darah yang tersuspensi didalam suatu cairan. Cairan plasma membentuk 45 sampai 60% dari volume darah total, sel darah merah (SDM) menempati sebagian besar volume sisanya. Sel darah putih dan trombosit, walaupun secara fungsional penting, menempati bagian yang relatif kecil dari massa darah total. Proporsi sel dan plasma diatur dan dijaga dengan relatif konstan. Protein plasma merupakan pengangkut utama zat gizi dan produk sampingan metabolik ke organ-organ tujuan untuk penyimpanan atau ekskresi. i 4

5 ii Eritrosit mengandung pigmen pengangkut oksigen yaitu hemoglobin. Untuk melakukan fungsi utamanya mengangkut oksigen ke jaringan, eritrosit harus memenuhi beberapa kriteria: pertama harus mempertahankan struktur bikonkaf untuk memaksimalkan pertukaran gas; kedua, harus dapat berubah bentuk (lentur) agar dapat masuk kedalam kapiler mikrosirkulasi yang halus; dan harus memilki lingkungan internal yang konstan agar hemoglobin tetap berada dalam bentuk tereduksi sehingga dapat mengangkut oksigen. Darah dalam sirkulasi mengandung sekitar 4000 sampai 11.000 sel darah putih per mikroliter. Sel darah putih bertanggung jawab terhadap pertahanan tubuh dan diangkut oleh darah ke berbagai jaringan tempat sel-sel tersebut melakukan fungsi fisiologiknya (Ronald A.Sacher, 2004). Dalam keadaan fisiologis, darah selalu berada dalam pembuluh darah, sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai berikut: 1. Sebagai alat pengangkut yang meliputi hal-hal berikut ini: a. Mengangkut gas oksigen (O 2 ) dan karbondioksida (CO 2 ). b. Mengangkut sisa-sisa atau ampas dari hasil metabolisme jaringan berupa urea, kreatinin dan asam urat. c. Mengangkut sari makanan yang diserap melalui usus untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh. d. Mengangkut hasil-hasil metabolisme jaringan. 2. Mengatur keseimbangan cairan tubuh. 3. Mengatur panas tubuh. 4. Berperan serta dalam mengatur ph cairan tubuh. ii

iii 6 5. Mempertahankan tubuh dari serangan penyakit infeksi. 6. Mencegah perdarahan. (Wiwik Handayani dan Andi Sulistyo Haribowo, 2008). B. Hemoglobin Hemoglobin merupakan zat protein yang ditemukan dalam SDM dan sebagai pengangkut oksigen (medlineplus) yang memberi warna merah pada darah (Joyce LeFever Kee, 2007). Hemoglobin merupakan komponen utama SDM. Fungsi utama hemoglobin adalah transport O 2 dan CO 2 (Sylvia Anderson Price, 2005). Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan protein globulin. Terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin dalam setiap SDM. Setiap molekul hemoglobin memiliki 4 tempat pengikatan untuk oksigen. Hemoglobin yang mengikat oksigen disebut oksihemoglobin. Hemoglobin dalam darah dapat mengikat oksigen secara parsial atau total di keempat tempatnya (Elizabeth J.Corwin, 2000). Dalam menjalankan fungsinya sebagai pengikat oksigen, 1 gram hemoglobin akan bergabung dengan 1,34 ml oksigen. Tugas akhir hemoglobin adalah menyerap karbondioksida dan ion hidrogen serta membawanya ke paru tempat zat-zat tersebut dilepaskan dari hemoglobin. Hemoglobin diproteksi oleh SDM dengan dibentuknya glutation tereduksi (GSH) yang dihasilkan dari nikotinamida adenin dinukleotida fosfat (NADPH) (James Isbister, 1990). Kadar hemoglobin adalah salah satu pengukuran tertua dalam laboratorium kedokteran dan tes darah yang paling sering dilakukan. Kisaran iii

iv 7 normal dari hemoglobin dipengaruhi oleh berbagai variabel dan kadar harus diinterpretasikan dalam hubungannya dengan beberapa faktor yaitu kehamilan, penduduk pada daerah dengan ketinggian yang tinggi, merokok, latihan jasmani, penyakit yang berkaitan (Anemia, polisitemia, dll). Konsentrasi hemoglobin darah diukur berdasarkan intensitas warnanya menggunakan fotometer dan dinyatakan dalam gram hemoglobin/seratus milliliter darah (g/100ml) atau gram/desiliter (g/dl) (Sylvia Anderson Price, 2005). Nilai normal kadar hemoglobin untuk laki-laki 13,5-17 g/dl sedangkan untuk perempuan adalah 12-15 g/dl (Joyce LeFever Kee, 2007). C. Manfaat Pemeriksaan Hemoglobin dalam Klinik Pemeriksaaan hemoglobin memiliki beberapa manfaat yaitu : 1. Untuk mengevaluasi kapasitas pengangkutan oksigen. 2. Menilai struktur dan fungsi eritrosit. 3. Memberikan pemahaman mengenai penyakit sel darah merah. 4. Memperkirakan ukuran rata-rata dan kandungan hemoglobin di masingmasing eritrosit (MCH dan MCHC). 5. Mengetahui penyebab umum hipoksia jaringan. (Ronald A.Sacher, 2004). iv

v 8 D. Penetapan Kadar Hemoglobin Banyak cara-cara yang ditemukan untuk menentukan nilai hemoglobin (Hb). Sampai sekarang belum ada satu carapun yang dapat dipercaya hasilnya 100%, mudah dikerjakan dan sederhana. Beberapa cara ini adalah: 1. Cara Tallquist Cara ini menentukan kadar Hb tidak teliti, kesalahan antara 25-50%. Prinsip kerja cara ini adalah dengan membandingkan darah asli dengan suatu skala warna yang bertingkat-tingkat mulai dari warna merah muda sampai warna merah tua (mulai 10% sampai 100%). Sebagai dasar diambil ialah 100% = 15,8 gram Hb per 100 ml darah (Dep kes RI, 1989). 2. Cara Sahli Cara sahli paling banyak dipakai di Indonesia dengan kesalahan ± 10%. Walaupun cara ini tidak tepat 100% akan tetapi masih dianggap cukup baik untuk mengetahui apakah seseorang kekurangan Hb (darah). Prinsip pemeriksaan Hb cara sahli yaitu hemoglobin oleh asam chlorida (0,1 N) diubah menjadi acid hematin yang warnanya sawo matang. Dengan air suling warna ini diencerkan sampai warnanya sama dengan warna standard pada hemometer. Kadar Hb dibaca pada tabung sahli (tabung pengencer). Tiap hemometer (sahli) terdiri dari alat pembanding warna, tabung pengencer, pipet darah (20µl), pipet pengencer darah (Dep kes RI, 1989). Kelemahan dari metode ini adalah kenyataan bahwa kolorimetri visual tidak teliti, bahwa hematin asam itu bukan merupakan v

vi 9 larutan sejati dan bahwa alat itu tidak dapat distandardkan. Cara ini juga kurang baik karena tidak semua macam hemoglobin diubah menjadi hematin asam, misalnya karboxyhemoglobin, methemoglobin dan sulfhemoglobin (R.Gandasoebrata, 2007) 3. Dengan CuSO 4 BJ 1,053 Cara ini hanya dipakai untuk menetapkan kadar Hb dari donor yang diperlukan untuk tranfusi darah. Untuk pemeriksaan klinik cara kupersulfat tidak dapat digunakan karena tidak mendapatkan kadar Hb dengan tepat. Hasil dari metode ini adalah persen Hb. Perlu diketahui bahwa kadar Hb seorang donor cukup kira-kira 80% Hb. Tes ini dilakukan dengan meneteskan darah kapiler 1 tetes diatas permukaan larutan CuSO 4 Bj 1,053 dengan volume 300 500 ml di dalam gelas takar. Hasil cara ini adalah darah terapung, melayang atau terbenam. Darah terapung menunjukkan bahwa kadar Hb kira-kira dibawah 80%. Darah melayang menunjukkan kadar Hb kira-kira berkisar 80%. Sedangkan darah terbenam menunjukkan kadar Hb diatas 80%. 4. Cara Photometrik Kolorimeter Dengan photo-elektrik kolorimeter didapatkan kadar Hb lebih teliti daripada cara visual (sahli). Kesalahan hanya berkisar ± 2%. Penetapan kadar Hb dengan cara ini ada berbagai macam cara, yaitu: a. Cara Sianmethemoglobin Cara ini berdasarkan bahwa semua bentuk Hb (methemoglobin, karboxyhemoglobin kecuali sulfhemoglobin) diubah menjadi vi

10 vii sianmethemoglobin dalam larutan yang berisi kalium sianida (KCN) dan kalium ferrisianida (K 3 Fe(CN) 6 ). b. Cara Oxihemoglobin Cara ini lebih singkat dan sederhana. Kelemahan metode ini ialah tidak ada larutan standard oxyhemoglobin yang stabil sehingga photometer sukar ditera. Maka untuk menera photometer dapat dipakai nilai hematokrit. Kadar Hb orang sehat dihitung dengan gram % sama dengan 1/3 nilai hematokritnya. Misalnya: nilai hematokrit 45% sesuai dengan kadar Hb 15 gram/100 ml darah. c. Cara Alkali Hematin Cara ini sebenarnya menetapkan total Hb baik dari carboxyhemoglobin, methemoglobin atau sulfhemoglobin. Cara ini kurang teliti bila dibandingkan dengan cara sianmethemoglobin dan oxyhemoglobin. Diantara ketiga metode ini yang paling tepat adalah menurut cara sianmethemoglobin (Dep kes RI, 1989). E. Penetapan Kadar Hemoglobin Metode Sianmethemoglobin Di laboratorium klinik, kadar hemoglobin dapat ditentukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan cara kolorimetrik seperti cara sianmethemoglobin (HiCN) dan cara oksihemoglobin (HbO 2 ). International Committee for Standardization in Haematology (ICSH) menganjurkan pemeriksaan kadar hemoglobin cara sianmethemoglobin (Riadi Wirawan dan Erwin Silman, 1996). Cara ini sangat bagus dan teliti untuk laboratorium vii

viii 11 rutin karena standard sianmethemoglobin yang ditanggung kadarnya bersifat stabil dan dapat dibeli. Ketelitian cara ini dapat mencapai ± 2%. Prinsip pemeriksaan hemoglobin dengan metode cyanmethemoglobin adalah hemoglobin darah diubah menjadi sianmethemoglobin (hemoglobin sianida) dalam larutan yang berisi kalium ferrisianida dan kalium sianida. Absorbansi larutan diukur pada gelombang 546 nm (filter hijau) dengan program C/F dan faktor 36,77. Larutan drabkin yang dipakai pada cara ini mengubah hemoglobin, oksihemoglobin, methemoglobin dan karboksihemoglobin menjadi sianmethemoglobin. Sulfhemoglobin tidak berubah dan karena itu tidak ikut diukur (R.Gandasoebrata, 2007). F. Sumber Kesalahan dalam Pemeriksaan Hemoglobin Metode Sianmethemoglobin 1. Stasis vena pada waktu pengambilan darah menyebabkan kadar hemoglobin lebih tinggi dari seharusnya, sebaliknya menggunakan darah kapiler menyebabkan kontaminasi cairan jaringan yang menyebabkan kadar hemoglobin lebih rendah dari seharusnya. 2. Tidak mengocok darah sewaktu mengambil bahan untuk pemeriksaan. 3. Terjadinya bekuan darah. 4. Menggunakan reagen atau larutan standar yang tidak baik lagi. 5. Menggunakan pipet 20 µl atau 5,0 ml yang tidak akurat, untuk itu perlu dilakukan kalibrasi pipet. 6. Cara memipet yang tidak tepat, baik sewaktu mengambil darah dengan pipet 20 µl maupun sewaktu mengambil reagen dengan pipet 5,0 ml. viii

ix 12 7. Spektrofotometer yang kurang baik, misalnya pengaturan panjang gelombang yang tidak tepat. Untuk itu perlu dilakukan kalibrasi panjang gelombang. 8. Perubahan tegangan listrik akan mempengaruhi pembacaan serapan. 9. Darah yang lipemik dapat menyebabkan hasil yang lebih tinggi dari seharusnya. 10. Adanya leukositosis berat (lebih dari 50.000/µl) menyebabkan hasil pengukuran kadar hemoglobin lebih tinggi dari seharusnya. (Riadi Wirawan dan Erwin Silman, 1996). G. Antikoagulan Antikoagulan ialah bahan yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah (Dep kes RI, 1989). Tidak semua macam antikoagulan dapat dipakai karena ada yang terlalu banyak berpengaruh terhadap bentuk eritrosit, atau leukosit yang akan diperiksa morfologinya (R.Gandasoebrata, 2007). Beberapa antikoagulan yang sering digunakan dalam pemeriksaan hematologi adalah: 1. Trisodium Citrate (Citras Natricus) Antikoagulan ini digunakan dalam bentuk 3,8 %. Dapat dipakai untuk penentuan laju endap darah (LED) metode westergren dalam perbandingan 4 volume darah dan 1 volume antikoagulan. ix

13 x 2. Double Oxalate Nama lainnya adalah balanced mixture karena terdiri dari campuran kalium dan ammonium oxalate dalam perbandingan 4 : 6. Ammonium oxalate menyebabkan eritrosit mengembang sedangkan kalium menyebabkan eritrosit mengkerut. Sehingga untuk menghindari hal ini dibuatlah campuran dari kedua garam oxalate tersebut. Antikoagulan ini digunakan dalam bentuk kering. 2 mg double oxalate digunakan untuk mencegah membekunya 1 ml darah. Antikoagulan ini dapat digunakan untuk penentuan kadar hemoglobin, PCV (Packed Cell Volume), penghitungan eritrosit dan leukosit. 3. EDTA (Ethylenediamine Tetra Acetic Acid) EDTA banyak digunakan untuk pemeriksaan hematologi, Sebagai garam natrium atau kaliumnya, garam-garam tersebut mengubah ion calcium dari darah menjadi bentuk yang bukan ion. Tiap 1 mg EDTA menghindarkan membekunya 1 ml darah. Bila pemakaian EDTA melampaui batas maka akan mengakibatkan eritrosit mengkerut sehingga nilai hematokrit lebih rendah, nilai MCV (Mean Corpuscular Volume) mengecil dan nilai MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) meningkat. 4. Heparin Heparin merupakan antikoagulan yang normal terdapat dalam tubuh tetapi di laboratorium heparin jarang digunakan pada pemeriksaan hematologi. Penggunaan heparin tidak berpengaruh pada bentuk eritrosit x

14 xi dan leukosit. Tiap 1 mg heparin menjaga membekunya 10 ml darah. Heparin boleh dipakai sebagai larutan atau dalam bentuk kering. 5. Na-oxalate Bekerja dengan mengikat ion Ca, sehingga terbentuk Ca-oxalate yang mengendap. Digunakan dalam bentuk larutan dari 0,1 N untuk pemeriksaan Plasma Protrombin Time (PPT) dengan perbandingan 9 bagian darah ditambah 1 bagian Na-oxalate. H. Darah EDTA Darah EDTA banyak dipakai untuk berbagi macam pemeriksaan hematologi yaitu penentuan kadar hemoglobin, hitung jumlah leukosit, eritrosit, trombosit, retikulosit, hematokrit, penetapan laju endap darah menurut westergren dan wintrobe, tetapi tidak dapat dipakai untuk percobaan hemoragik dan pemeriksaan faal trombosit. Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika menggunakan darah EDTA adalah lamanya penyimpanan spesimen, darah dan antikoagulan harus dicampur dengan baik karena EDTA kering.lambat melarut, pemberian antikoagulan tidak lebih atau kurang (sesuai dengan ketentuan penggunaannya). Pemeriksaan dengan menggunakan darah EDTA sebaiknya dilakukan segera, hanya kalau perlu boleh disimpan dalam lemari es dengan suhu 4 ºC selama 24 jam. Penyimpanan ini akan memberikan nilai hematokrit yang lebih tinggi. Untuk membuat sediaan apus darah tepi dapat dipakai darah EDTA yang disimpan paling lama 2 jam. Pada umumnya, darah EDTA xi

15 xii dapat disimpan 24 jam didalam lemari es tanpa mendatangkan penyimpangan yang bermakna kecuali untuk jumlah trombosit dan nilai hematokrit (R.Gandasoebrata, 2007). I. Syarat-syarat yang Harus Diperhatikan Sebelum Melakukan Pemeriksaan Hematologi 1. Tanggal kadaluarsa penampung (tabung vacutainer). 2. Label masih ada dan dalam kondisi baik. 3. Darah yang akan diperiksa masih dalam keadaan baik selama pengiriman (tidak rusak). 4. Darah mengalami hemolisa atau tidak. 5. Bila dipakai tabung yang mengandung antikoagulan EDTA, heparin dan sitrat terjadi bekuan atau tidak. 6. Pengiriman bahan memenuhi syarat suhu dan lamanya penundaan pemeriksaan. 7. Kesesuaian volume bahan yang akan diperiksa menurut prosedur yang digunakan. 8. Kesesuaian volume antikoagulan dengan prosedur pemeriksaan. 9. Bahan pemeriksaan tidak tercampur dengan bahan infus. (Riadi Wirawan dan Erwin Silman, 1996). xii

xiii 16 J. Kerangka Konsep Volume Antikoagulan EDTA 10% Kadar Hemoglobin Metode Cyanmethemoglobin K. Hipotesis H0 = tidak terdapat pengaruh perbedaan volume antikoagulan EDTA 10% terhadap hasil pemeriksaan kadar Hb metode cyanmethemoglobin. Ha = terdapat pengaruh perbedaan volume antikoagulan EDTA 10% terhadap hasil pemeriksaan kadar Hb metode cyanmethemoglobin. xiii

xiv xiv