PEMBUATAN JAMBAN KELUARGA

dokumen-dokumen yang mirip
JAMBAN SISTEM LEHER ANGSA

KAKUS/JAMBAN SISTEM CEMPLUNG ATAU GALIAN

JAMBAN SEPTIK TANK GANDA

KAKUS SOPA SANDAS 1. PENDAHULUAN

KAKUS VIETNAM 1. PENDAHULUAN

PEMBUATAN TOILET KERING

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENJERNIHAN AIR DENGAN MEDIA TUMBUHAN

HEALTH PROMOTION DI WILAYAH C DESA 8, 9, DAN 10

ANALISIS POTENSI KESEHATAN LINGKUNGAN

PEMBUATAN SALURAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH (SPAL) SEDERHANA

PENGELOLAAN AIR LIMBAH KAKUS I

PENGELOLAAN AIR LIMBAH

PENGELOLAAN AIR LIMBAH RUMAH TANGGA I

PEMBUATAN SALURAN AIR BEKAS MANDI DAN CUCI

PEMANFAATAN DRUM PLASTIK BEKAS SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN SEPTIC TANK

PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI RUMAH TANGGA

FIELD BOOK SANITATION LADDER (TANGGA SANITASI)

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia

LOKAKARYA KESLING DESA

No. Kriteria Ya Tidak Keterangan 1 Terdapat kloset didalam atau diluar. Kloset bisa rumah.

BAK PENAMPUNGAN AIR BAMBU SEMEN (KAPASITAS LITER)

Semi Permanen. Semi Permanen

KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT

BUKU SAKU VERIFIKASI SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM)

MODUL STBM SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

GENTONG PENAMPUNGAN CARA CETAKAN (KAPASITAS 250 LITER)

BAK PENAMPUNGAN SUMBER AIR/ MATA AIR

BAB V KONSEP. mengasah keterampilan yaitu mengambil dari prinsip-prinsip Eko Arsitektur,

TATA CARA PERENCANAAN BANGUNAN MCK UMUM

TATA CARA PEMANFAATAN AIR HUJAN

Berapa penghasilan rata-rata keluarga perbulan? a. < Rp b. Rp Rp c. > Rp

PANDUAN PELAKSANAAN VERIFIKASI

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018

PETUNJUK UMUM UNTUK MERAWAT SISTEM SEPTIK TANK

PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM

LEMBAR OBSERVASI PENELTIAN PENYELENGHGARAAN KESEHATAN LINGKUNGANSEKOLAH DASAR (SD) NEGERI DAN SD SWASTA AL-AZHAR DI KECAMATAN MEDAN JOHOR TAHUN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. secara langsung maupun tidak langsung oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

SANITASI DAN KEAMANAN

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah

Dasar-Dasar Rumah Sehat KATA PENGANTAR

Tata cara perencanaan bangunan MCK umum

PENJERNIHAN AIR DENGAN METODE SEDIMENTASI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI

TEKNOLOGI TEPAT GUNA Mentri Negara Riset dan Teknologi

UMY. Sistem Sanitasi dan Drainase Pada Bangunan. Dr. SUKAMTA, S.T., M.T. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKUKTAS

B. Bangunan 1. Umum Bangunan harus dibuat sesuai dengan peraturan perundangundangan

1 Membangun Rumah 2 Lantai. Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii\ Tugas Struktur Utilitas II PSDIII-Desain Arsitektur Undip

kotak turun 4. Berapa persen air tawar (freshwater) dari seluruh total air di bumi? Jawaban : Kurang lebih 4%.

Ular Tangga Air Minum dan Sanitasi merupakan permainan yang disusun untuk meningkatkan kepedulian tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Sanitasi Penyedia Makanan

BAK PENAMPUNGAN AIR BAMBU SEMEN (KAPASITAS LITER)

DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA... PENGAWASAN KUALITAS AIR BERSIH FORMULIR INSPEKSI SANITASI : : : : : :

WALIKOTA PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR

KUESIONER PENELITIAN

-1- KETENTUAN TEKNIS SPAM BJP

Jarak Ideal Septic Tank Dengan Sumber Air Bersih. terkontaminasi dengan air tangki septic oleh bakteri patogen yang dapat mengganggu

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

: 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA. Anonimous, Mengenal Jenis-jenis Restoran. Diakses tanggal 13 Januari jttcugm.wordpress.com/2008/12/16/restoran/

Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan

Arang Tempurung Kelapa

KLASIFIKASI SISTEM PEMBUANGAN

Tata cara Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah

Pengelolaan Limbah Rumah Tangga (Upaya Pendekatan Dalam Arsitektur)

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

MATERI KESEHATAN LINGKUNGAN

Lampiran 1. Aspek Penilaian GMP dalam Restoran

UJI KUALITAS FISIK DAN BAKTERIOLOGIS AIR SUMUR GALI BERDASARKAN KONSTRUKSI SUMUR DI DESA DILONIYOHU KECAMATAN BOLIYOHUTO KABUPATEN GORONTALO.

ANALISA HARGA SATUAN KEGIATAN KONSTRUKSI PEMERINTAH KOTA MADIUN TAHUN ANGGARAN 2016

KONSEP PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN DI KAMPUNG HIJAU KELURAHAN TLOGOMAS KOTA MALANG

CHECKLIST PEMBINAAN KANTIN SEKOLAH SEHAT SDN 04 LEBAK BULUS

LAPORAN PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN (PBL) SURVEY JAMBAN KELUARGA DAN SPAL PUSKESMAS PAAL V

PENDAHULUAN. waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran

DAFTAR ISI. Halaman. Daftar Isi... BAB I DESKRIPSI Maksud dan Tujuan Maksud Tujuan Ruang Lingkup...

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAMPIRAN 1 PERAN ENERGI DALAM ARSITEKTUR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

septic tank Septic tank

II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI

SOLUSI MENGATASI BANJIR DAN MENURUNNYA PERMUKAAN AIR TANAH PADA KAWASAN PERUMAHAN

KATA PENGANTAR. Dengan modul ini peserta diklat dapat melaksanakan praktik tanpa harus banyak dibantu oleh instruktur.

PANDUAN WAWANCARA PENDERITA TB PARU DI KLINIK SANITASI

CHECK LIST SANITASI PEMUKIMAN

PRAKARYA. by F. Denie Wahana

BAB. Kesehatan Lingkungan

BAB 1 PENDAHULUAN. Dari berbagai masalah yang timbul di masyarakat, sering adanya keluhankeluhan

LAMPIRAN II : KEPUTUSAN WALIKOTA MADIUN NOMOR : / 279 /2017 TANGGAL : 18 Desember 2017

POMPA TALI 1. PENDAHULUAN 2. URAIAN SINGKAT 3. BAHAN 4. PERALATAN

KONSTRUKSI PONDASI Pondasi Dangkal Pasangan Batu bata/batu kali

KLASIFIKASI SISTEM PEMBUANGAN. Klasifikasi berdasarkan jenis air buangan:

POMPA BAMBU 1. PENDAHULUAN 2. URAIAN SINGKAT 3. BAHAN

3. Pengelolaan air kotor dan kotoran manusia (Sawage and Exreta Disposal) 4. Hygiene dan sanitasi makanan (Food Hygiene and Sanitation)

Bertindak tepat untuk sehat dengan menjaga lingkungan dan kebersihan

Lampiran A. Koefisien tenaga kerja dan koefisien bahan

Transkripsi:

MODUL: PEMBUATAN JAMBAN KELUARGA I. DESKRIPSI SINGKAT J amban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup yang sehat. Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin harus diusahakan agar jemban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, kontruksi yang kokoh dan biaya yang terjangkau perlu dipikirkan dalam membuat jamban. Untuk itu menangani persoalan-persoalan diatas, setidaknya untuk mengurangi dampak negatif bagi kesehatan manusia, dibidang penyediaan air bersih, sarana jamban keluarga dan pengelolaan sampah, Bapelkes Lemahabang sebagai Centra Diklat Kesling berupaya mencoba memberikan solusi dengan menerapkan Teknologi Tepat Guna. 1 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

II. TUJUAN PEMBELAJARAN A. Tujuan Pembelajaran Umum: Setelah mengikuti materi pelatihan ini, peserta mampu mempraktikkan metode pembuatan jamban keluarga tepat guna sesuai dengan kondisi wilayah. B. Tujuan Pembelajaran Khusus : Setelah mengikuti materi pelatihan ini, peserta mampu : 1. Menjelaskan metode pembuatan jamban keluarga (JAGA) sesuai dengan kondisi wilayah. 2. Mempraktikan metode pembuatan jamban keluarga (JAGA) sesuai dengan kondisi wilayah. III. POKOK BAHASAN Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan dan sub pokok bahasan, dengan uraian sebagai berikut: Pokok Bahasan 1. JAGA sederhana metode Kakus Cemplung Sub Pokok Bahasan: a. Pendahuluan b. Uraian Singkat c. Bahan d. Peralatan e. Pembuatan f. Penggunaan g. Pemeliharaan h. Keuntungan i. Kerugian 2 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

Pokok Bahasan 2. JAGA sederhana metode Kakus Leher Angsa Sub Pokok Bahasan: a. Uraian Singkat b. Bahan c. Peralatan d. Pembuatan e. Penggunaan f. Pemeliharaan g. Keuntungan i. Kerugian Pokok Bahasan 3. JAGA sederhana metode Kakus dengan Septik Tank Ganda Sub Pokok Bahasan: a. Uraian Singkat b. Bahan c. Peralatan d. Pembuatan e. Penggunaan f. Pemeliharaan g. Keuntungan h. Kerugian IV. BAHAN BELAJAR 1. Kepmenkes no. 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 2. Power point materi Pembuatan Jamban Keluarga 3. Alat peraga Jamban Keluarga 4. Modul Pembuatan Jamban Keluarga 5. Alat dan bahan praktik 3 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

V. LANGKAH LANGKAH PEMBELAJARAN Berikut disampaikan langkah-langkah kegiatan dalam proses pembelajaran materi ini. Langkah 1 Pengkondisian 1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hanga. Apabila belum pernah menyampaikan sesi di kelas ini, mulailah dengan perkenalan. Perkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap, instansi tempat bekerja, dan materi yang akan disampaikan. 2. Sampaikan tujuan pembelajaran materi ini dan pokok bahasan yang akan disampaikan, sebaiknya menggunakan bahan tayang. Langkah 2 Diskusi Singkat tentang Topik (brain storming) Fasilitator berusaha menggali pendapat/pemahaman peserta dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta terkait dengan materi yang akan disampaikan, sehingga dapat diketahui sejauh mana pengetahuan peserta terhadap materi yang akan disampaikan. Sebaiknya tuliskan kata kunci pendapat mereka pada kertas flipchart atau metaplan. Langkah 3 Penyampaina Materi 1. Fasilitator menyampaikan paparan materi sesuai urutan pokok bahasan dan sub pokok bahasan dengan menggunakan bahan tayang. Kaitkan juga dengan pendapat atau pemahaman yang dikemukakan oleh peserta agar mereka merasa dihargai. 2. Sebelum melanjutkan pokok bahasan berikutnya, fasilitator akan menanyakan apakah peserta memahami pokok bahasan yang baru saja disampaikan dan memberi kesempatan untuk tanya jawab. 4 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

3. Memberi demonstrasi peralatan dan bahan yang akan digunakan. Langkah 4 Praktek 1. Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk melakukan praktek pembuatan JAGA sederhana ini di ruang workshop yang telah disediakan oleh Bapelkes Lemahabang. 2. Peserta akan dibimbing dalam melakukan praktek sesuai dengan materi yang di praktekkan di workshop. Langkah 5 Implementasi 1. Fasilitator atau Tim Pembimbing akan mengajak seluruh peserta ke Lapangan untuk mengimplementasikan JAGA sederhana yang sudah dibuat dan dipraktekkan dalam materi pelatihan. 2. Peserta akan dipandu oleh Tim dalam melakukan implementasi di lapangan sesuai dengan pengaturan jadwal dan lokasi oleh Tim Korlap. Langkah 6 Refleksi dan Rangkuman 1. Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk melakukan refleksi bersama tentang pembahasan materi ini. Apakah tujuan pembelajaran yang ditetapkan sudah tercapai? 2. Dilanjutkan dengan menutup sesi ini dengan memberikan apresiasi keterlibatan aktif seluruh peserta. 5 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

VI. URAIAN MATERI Pokok Bahasan 1. JAGA sederhana metode Kakus Cemplung. a. Pendahuluan Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup yang sehat. Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin harus diusahakan agar jemban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, kontruksi yang kokoh dan biaya yang terjangkau perlu dipikirkan dalam membuat jamban. Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jamban adalah sabagai berikut: 1) Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum, dan permukaan tanah yang ada disekitar jamban; 2) Menghindarkan berkembangbiaknya/tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah; 3) Tidak memungkinkan berkembang biaknya lalat dan serangga lain; 4) Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang tidak menyedapkan; 5) Mengusahakan kontruksi yang sederhana, kuat dan murah; 6) Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat setempat. Dalam penentuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu jarak terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada : 1) Keadaan daerah datar atau lereng; 2) Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam; 3) Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur. 6 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter. Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan : 1) Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di atasnya, maka jarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari letak sumur. 2) Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai jamban (diatas lobang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi pada waktu banjir. 3) Mudah dan tidaknya memperoleh air. Dalam bab ini ada 5 cara pembuatan jamban/kakus yang memenuhi persyaratan tersebut di atas, yaitu : 1) kakus/jamban sistem cemplung atau galian 2) Jamban sistem leher angsa 3) Jamban septik tank ganda 4) Kakus Vietnam 5) Kakus sopa sandas b. Uraian Singkat Kakus atau jamban jemplung sesuai untuk daerah yang tanahnya mudah menyerap air serta sulit dalam pengadaan air bersih. Kontruksinya cukup sederhana. Kakus dibuat dengan cara menggali tanah sebagai lubang penampungan. Lalu diperkuat dengan bahan penguat, biasanya bronjong atau anyaman bambu, serta diatasnya dibuat bangunan penutup yang dapat dipindahkan bila lubang telah penuh. Untuk 7 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

menghindari bau yang timbul, lubang pembuangan ditutup serta dilengkapi pipa pembuangan gas. c. Bahan 1) Bambu 2) Kayu 3) Bahan atap atau genteng 4) Bahan dinding/penutup 5) Paku d. Peralatan 1) Cangkul/alat penggali tanah 2) Gergaji 3) Golok 4) Palu Alat pertukangan lain e. Pembuatan 1) Gali tanah selebar 1-1,5 m, dalam 3 m atau lebih, tergantung kebutuhan. 2) Paku bronjong (anyaman bambu) tau bahan penguat lainnya pada dinding lobang untuk menahan longsor. 3) Tutup lubang dengan lantai yang berlubang dan bangunan penutup seperti pada Gambar. 4) Lubang khusus pembuangan kotoran perlu ditutup dengan penutup yang dapat diangkat. 5) Untuk menghindari bau yang tidak sedap, lubang septik tank perlu dilengkapi dengan saluran pembuangan gas. 6) Bangunan jambang perlu diusahakan agar cukup ventilasi udara dan sinar masuk. 7) Bangunan diusahakan dari bahan yang ringan agar mudah dipindahkan. 8) Lokasi dianjurkan agak jauh dari tempat kediaman atau perumahan. 8 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

Konstruksi secara lengkap lihat Gambar : Gambar 1. Konstruksi Kakus 9 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

f. Penggunaan Pemakai langsung membuang kotorannya dari atas lubang yang telah disediakan pada banguan penutup dengan tata cara : 1) Tutup lubang dibuka 2) Jongkok tepat diatas lubang 3) Diusahakan kotoran tidak menyentuh dinding lubang Setelah selesai lubang ditutup kembali g. Pemeliharaan 1) Untuk mencegah penyebaran penyakit atau bau, lantai perlu dibersihkan secara teratur. 2) Untuk menjaga agar bangunan tahan lama, bahan-bahan harus diresidu atau dikapur lebih dahulu sebelum dipasang. h. Keuntungan 1) Kontruksi bangunan cukup sederhana dan mudah dilaksanakan sendiri tanpa memerlukan persyaratan khusus. 2) Biaya yang diperlukan tidak terlalu tinggi atau cukup terjangkau oleh masyarakat. 3) Daerah bekas lokasi jamban menjadi subur 4) Bangunan bisa dipindahkan i. Kerugian 1) Lubang tinja bila penuh tidak bisa dimanfaatkan kembali karena kontruksinya tidak tetap. 2) Sulit untuk memperhitungkan ketahanan kekuatan kontruksi penguat lubang dan bangunan jamban. 3) Kurang nyaman 4) Dari segi kesehatan, jamban sistem ini dianggap kurang higinis karena berbau serta memungkinkan timbulnya lalt dan serangga lain. 5) Kurang aman untuk anak-anak. 10 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

Pokok Bahasan 2. JAGA sederhana metode Kakus Leher Angsa. a. Pendahuluan Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup yang sehat. Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin harus diusahakan agar jemban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, kontruksi yang kokoh dan biaya yang terjangkau perlu dipikirkan dalam membuat jamban. Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jamban adalah sabagai berikut : 1) Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum, dan permukaan tanah yang ada disekitar jamban; 2) Menghindarkan berkembangbiaknya/tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah; 3) Tidak memungkinkan berkembang biaknya lalat dan serangga lain; 4) Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang tidak menyedapkan; 5) Mengusahakan kontruksi yang sederhana, kuat dan murah; 6) Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat setempat. Dalam penetuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu jarak terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada : 1) Keadaan daerah datar atau lereng; 2) Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam; 3) Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur. 11 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter. Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan : 1) Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di atasnya, maka jarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari letak sumur. 2) Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai jamban (diatas lobang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi pada waktu banjir. 3) Mudah dan tidaknya memperoleh air. Dalam bab ini ada 5 cara pembuatan jamban/kakus yang memenuhi persyaratan tersebut di atas, yaitu : 1) kakus/jamban sistem cemplung atau galian 2) Jamban sistem leher angsa 3) Jamban septik tank ganda 4) Kakus Vietnam 5) Kakus sopa sandas b. Uraian Singkat Sistem ini sesuai untuk daerah yang mudah mendapatkan air bersih. Pada jamban leher angsa tinja tidak langsung jatuh ke lubang penampungan kotoran. Lubang pembuangan kotoran dilengkapi dengan mangkokan seprti leher angsa. Bila pada mangkokan tersebut dituangi air, pada bagian leher angsa akan tertinggal air yang menggenang yang berfungsi sebagai penutup lubang. 12 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

c. Bahan 1) Batako/batu bata 2) Mangkokan leher angsa atau kloset pasir 3) Bahan atap 4) Semen 5) Kayu 6) Papan atau bahan dinding batu kali dan kerikil 7) Pipa pralon besar dan kecil 8) Ijuk d. Peralatan 1) Gergaji 2) Alat pertukangan kayu dan batu e. Pembuatan Kontruksi kakus sistem leher angsa ada 3 macam : 1) Bak penampungan kotoran langsung di bawah lubang pembuangan. 2) Bak penampungan kotoran di samping bawah lubang pembuangan dengan penghubung pipa saluran dan bak reapan. 3) Seperti 2 dimana bak resapan sebagai penyaring. Bentuk kloset yang dipakai dapat dipilih sistem jongkok atau sistem duduk. 13 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

Ketiga kontruksi jamban tipe ini dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 1. Tipe Langsung 14 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

Gambar 2. Tipe tidak langsung. 15 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

Gambar 3. Tipe Tidak Langsung dengan Penyaring f. Penggunaan 1) Siramkan air pada mangkokan leher angsa supaya tidak lengket 2) Jongkok atau duduk diatas kloset untuk melaksanakan hajat. 3) Setelah selesai guyur dengan air secukupnya sampai kotoran bersih g. Pemeliharaan 1) Pakailah karbol pada saat membersihkan lantai agar bebas penyakit. 2) Hindarkan menyiram air sabun ke dalam bak pembuangan/atau ke dalam kloset agar bakteri pembusuk tetap berperan aktif. 3) Lantai, kloset jamban harus selalu dalam keadaan bersih. 4) Jangan menggunakan alat pembersih yang keras agar kloset tidak cepat rusak. 5) Jangan membuang kotoran yang tidak mudah larut ke dalam air misal : kertas, kain bekas, dll. 16 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

h. Keuntungan 1) Lebih sehat, bersih dan punya nilai keleluasaan pribadi yang tinggi. 2) Karena proses pembusukan dan sistem resapan, bak tidak cepat penuh. 3) Timbulnya bau dapat dicegah oleh genangan air dalam leher angsa. 4) Dapat dipasang di luar atau di dalam rumah. 5) Dapat dipakai secara aman bagi anak-anak. 6) Bila penuh dapat dikuras/dikosongkan. i. Kerugian 1) Selalu menguras bila bak penampung penuh lumpur. 2) Biayanya cukup mahal dan perlu keahlian teknis. 3) Bagi masyarakat yang belum biasa menggunakan perlu bimbingan. Pokok Bahasan 3. JAGA sederhana metode Septic Tank Ganda. a. Pendahuluan Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup yang sehat. Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin harus diusahakan agar jemban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, kontruksi yang kokoh dan biaya yang terjangkau perlu dipikirkan dalam membuat jamban. Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jamban adalah sabagai berikut : 1) Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum, dan permukaan tanah yang ada disekitar jamban; 2) Menghindarkan berkembangbiaknya/tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah; 17 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

3) Tidak memungkinkan berkembang biaknya lalat dan serangga lain; 4) Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang tidak menyedapkan; 5) Mengusahakan kontruksi yang sederhana, kuat dan murah; 6) Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat setempat. Dalam penetuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu jarak terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada : 1) Keadaan daerah datar atau lereng; 2) Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam; 3) Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur. Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter. Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan : 1) Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di atasnya, maka jarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari letak sumur. 2) Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai jamban (diatas lobang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi pada waktu banjir. 3) Mudah dan tidaknya memperoleh air. Dalam bab ini ada 5 cara pembuatan jamban/kakus yang memenuhi persyaratan tersebut di atas, yaitu : 18 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

1) kakus/jamban sistem cemplung atau galian 2) Jamban sistem leher angsa 3) Jamban septik tank ganda 4) Kakus Vietnam 5) Kakus sopa sandas b. Uraian Singkat Jamban ini sama dengan jamban sistem resapan. Perbedaanya terletak pada jumlah septik tank dan cara pembuangannya. Jumlah septik tank ganda mempunyai dua atau lebih lubang penampung kotoran. Cara pemakaian dilakukan bergilir setelah salah satu bak penampung terisi penuh. Bak penampung yang telah penuh ditutup dan didiamkan beberapa lama supaya kotoran dapat dijadikan kompos atau pupuk. Saluran pembuangan dapat dipindahkan dengan menutup/membuka lubang saluran yang dikehendaki pada bak pengontrol. Ukuran lubang dan bangunan jamban tergantung pada kebutuhan dan persediaan lahan. Kotoran yang telah berubah menjadi kompos dapat diambil dan dimanfaatkan sebagai pupuk. Bak penampung yang telah dikosongkan dapat dimanfaatkan kembali. c. Bahan 1) Batako/batu bata 2) Kayu/bambu 3) Papan atau bahan dinding 4) Pasir 5) Bahan atap (seng, genteng) 6) Semen 7) Pipa plastik/ pralon besar dan kecil 8) Batu kali dan kerikil 9) Kawat 10) Tali 11) Kloset atau mangkokan leher angsa. 19 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

d. Peralatan 1) Cangkul/alat penggali 2) Alat pertukangan kayu dan batu e. Pembuatan 1) Pilih satu model bak penampung pada Gambar 1. Gambar 1. Model Bak Penampung 2) Tentukan jarak dari sumber air menurut kondisi tanah seperti dalam gambar 2. Gambar 2. Jarak Sumber Air dan Kakus 20 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

3) Bangunlah konstruksi seperti Gambar 3. Gambar 3. Konstruksi Kakus. 4) Isilah sekeliling bak dengan bahan porous (kerikil, ijuk, batu, dll) seperti Gambar 4. Gambar 4. Pengisian Bahan Proses 21 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

5) Buat penutup bak dan letakkan di atas bak seperti Gambar 5. Gambar 5. Penutup bak 6) Jamban siap dipakai, apabila sudah penuh arah pembuangan kotoran diubahmelalui bak kontrol (Gambar 6) Gambar 6. Jamban Siap Pakai 7) Kotoran yang sudah menjadi kompos dimanfaatkan menjadi pupuk (Gambar 7) 22 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

Gambar 7. Pemanfaatan Kotoran f. Penggunaan 1) Tutup lubang pembuangan dibuka 2) Jongkok/duduk diatas kloset untuk melaksanakan hajat besar 3) Setelah selesai membuang kotoran diguyur dengan air secukupnya. g. Pemeliharaan 1) Jangan menggunakan benda keras pada waktu membongkar pupuk (untuk menghindari dinding bak). 2) Selalu diperbaiki apabila ada konstruksi yang rusak. 3) Lubang-lubang kotoran perlu ditutup rapat guna menghindari serangga dan bau. h. Keuntungan 1) Tak perlu membuat bak penampung berpindah-pindah 2) Kotoran dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos (setelah 2 tahun) tanpa efek kesehatan. 3) Tanah di sekitar bak penampung menjadi subur. 4) Lebih rapi, aman bila dibandingkan kakus cemplung (gangguan, serangga, bau). i. Kerugian 1) Kurang sesuai untuk daerah yang sumber airnya dangkal. 2) Relatif lebih mahal biaya konstruksinya. 23 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti

VII. REFERENSI LIPI (1991), Buku Panduan Air dan Sanitasi. Pusat Informasi wanita dalam pembangunan PDII LIPI, Jakarta. Udin Jabu, Dkk. Pedoman Bidang Studi Pembuangan Tinja Dan Air Limbah Pada Institusi Pendidikan Sanitasi/Kesehatan Lingkungan, Pusdiknakes, Jakarta Warsito, Sidik (1988) Kakus Sederhana Bagi Masyarakat Desa, Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung. 24 / MI-2B Pelatihan Tepat Guna Kesehatan Lingkungan Materi Inti