Akomodasi dalam Refraksi

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. anak yang kedua orang tuanya menderita miopia. 11,12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Miopia (nearsightedness) adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar

TEKNIK PEMERIKSAAN REFRAKSI SUBYEKTIF MENGGUNAKAN TRIAL FRAME dan TRIAL LENS

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. depan atau belakang bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. 16

O P T I K dan REFRAKSI. SMF Ilmu Kesehatan Mata RSD Dr.Soebandi FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER

REFRAKSI. Oleh : Dr. Agus Supartoto, SpM(K) / dr. R. Haryo Yudono, SpM.MSc

PENDAHULUAN. beristirahat (tanpa akomodasi), semua sinar sejajar yang datang dari benda-benda

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dian Kemala Putri BAHAN AJAR PERANCANGAN SISTEM KERJA DAN ERGONOMI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA

Berdasarkan tingginya dioptri, miopia dibagi dalam(ilyas,2014).:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. refraksi dimana sinar-sinar sejajar yang berasal dari jarak tak

ALAT-ALAT OPTIK. Beberapa jenis alat optik yang akan kita pelajari dalam konteks ini adalah:

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEJADIAN HIPERMETROPIA DI POLIKLINIK MATA RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU PERIODE 1 JANUARI 31 DESEMBER 2009

BAB I PENDAHULUAN. kondisi pandangan yang tidak nyaman (Pheasant, 1997). kondisi kurang sempurna untuk memperoleh ketajaman penglihatan.

REFRAKSI dan KELAINAN REFRAKSI. Prof. Dr. H. Sidarta Ilyas SpM Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. 6/12/2012 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bola mata terletak di dalam kavum orbitae yang cukup terlindung (Mashudi,

Masalah Refraksi. I. Hyperopia (Rabun Jauh)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. sejajar yang berasal dari jarak tak terhingga masuk ke mata tanpa akomodasi dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1 Anatomi Mata (Sumber: Netter ed.5)

RETINOSKOPI NURCHALIZA HAZARIA SIREGAR NIP DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. dimana kedua mata terdapat perbedaan kekuatan refraksi. 1,2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1. Anatomi Mata

CLINICAL SCIENCE SESSION MIOPIA. Preseptor : Erwin Iskandar, dr., SpM(K)., Mkes.

15B08064_Kelas C TRI KURNIAWAN OPTIK GEOMETRI TRI KURNIAWAN STRUKTURISASI MATERI OPTIK GEOMETRI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ABSTRAK GAMBARAN KELAINAN REFRAKSI ANAK USIA 6-15 TAHUN DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2015

PEMERIKSAAN REFRAKSI SUBYEKTIF PADA PENDERITA PRESBYOPIA DENGAN STATUS REFRAKSI MYOPIA. Karya Tulis Ilmiah

BAGIAN-BAGIAN MATA DAN SISTEM VISUAL KELENJAR LACRIMAL, AIR MATA, SISTEM PENGERINGAN LACRIMAL DENGAN PEMBULUH NASOLACRIMAL

BAB I PENDAHULUAN. seperti terhadap otot-otot akomodasi pada pekerjaan yang perlu pengamatan

Alat optik adalah suatu alat yang bekerja berdasarkan prinsip cahaya yang. menggunakan cermin, lensa atau gabungan keduanya untuk melihat benda

Sumber : Tortora, 2009 Gambar 2.1. Anatomi Bola Mata

Keluhan Mata Silau pada Penderita Astigmatisma Dibandingkan dengan Miopia. Ambient Lighting on Astigmatisma Compared by Miopia Sufferer

Lectura Volume 01, Nomor 01, Februari 2010, hlm 72-80

maka dilakukan dengan carafinger counting yaitu menghitung jari pemeriksa pada jarak 1 meter sampai 6 meter dengan visus 1/60 sampai 6/60.

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat diatasi (American Academy of Ophthalmology, 2010).

BAB II. Kelainan refraksi disebut juga refraksi anomali, ada 4 macam kelainan refraksi. yang dapat mengganggu penglihatan dalam klinis, yaitu:

BAB III METODE PENELITIAN

2. Lup (Kaca Pembesar) Pembesaran bayangan saat mata berakomodasi maksimum

ALAT - ALAT OPTIK. Bintik Kuning. Pupil Lensa. Syaraf Optik

2. MATA DAN KACAMATA A. Bagian Bagian Mata Diagram mata manusia ditunjukkan pada gambar berikut.

BAB I PENDAHULUAN. dokter (Harsono, 2005). Nyeri kepala dideskripsikan sebagai rasa sakit atau rasa

REFRACTION. The change in speed as a. material to another causes the ray to deviate from its incident direction

PERANGKAT PENGUKUR RABUN JAUH DAN RABUN DEKAT PADA MATA BERBASIS MIKROKONTROLER

Tatalaksana Miopia 1. Koreksi Miopia Tinggi dengan Penggunaan Kacamata Penggunaan kacamata untuk pasien miopia tinggi masih sangat penting.

BAB III CARA PEMERIKSAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Phenomena dari sinar/cahaya yang dibelokan apabila melalui dua medium tranparan yang berbeda kepadatannya (density) dikenal sebagai refraksi

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA RPP OFTALMOLOGI RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK DI BLU RSU PROF. Dr. R.D. KANDOU

Mata Manusia. Eye Structure

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. dalam proses refraksi ini adalah kornea, lensa, aqueous. refraksi pada mata tidak dapat berjalan dengan

TINJAUAN PUSTAKA. tepat di retina (Mansjoer, 2002). sudah menyatu sebelum sampai ke retina (Schmid, 2010). Titik fokus

BAB II. Kelainan refraksi disebut juga refraksi anomali, ada 4 macam kelainan refraksi. yang dapat mengganggu penglihatan dalam klinis, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Nyeri kepala merupakan keluhan yang sering dijumpai di tempat

REFRAKSI ENAM PRINSIP REFRAKSI 3/28/2017. Status refraksi yang ideal : EMETROPIA. Jika tdk fokus pada satu titik disebut AMETROPIA ~ kelainan refraksi

BAHAN AJAR. 1. Mata. Diagram susunan mata dapat dilihat pada gambar berikut.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dimana tidak ditemukannya kelainan refraksi disebut emetropia. (Riordan-Eva,

Alat-Alat Optik. Bab. Peta Konsep. Gambar 18.1 Pengamatan dengan menggunakan mikroskop. Bagian-bagian mata. rusak Mata. Cacat mata dibantu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Media Refraksi Anatomi Media Refraksi Refraksi mata adalah perubahan jalannya cahaya yang diakibatkan oleh media

Anatomi Organ Mata. Anatomy Mata

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 6 HASIL PENELITIAN. Gambar 6.1 Sumber Pencahayaan di ruang Radar Controller

Pengkajian Sistem Penglihatan Mula Tarigan, SKp. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PELATIHAN KESEHATAN MATA UNTIJK GURU-GURU UKS SEKOLAH DASAR SE-KECA]W{TAN PADANG TIMUR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. utama, yaitu high contrast acuity atau tajam penglihatan, sensitivitas terhadap

fisika CAHAYA DAN OPTIK

kacamata lup mikroskop teropong 2. menerapkan prnsip kerja lup dalam menyelesaikan permasalahan yang berhubungan

HANG TUAH MEDICAL JOURNAL

BAB II LANDASAN TEORI. bagian depan orbita (Moore et al., 2010). Pada anak baru lahir, rata-rata. atau dewasa (Vaughan dan Asbury, 2009)

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasd fghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq

ALAT-ALAT OPTIK. Adalah alat-alat yang ada hubungannya dengan cahaya. Created by Ius 201

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia usaha dan dunia kerja, kesehatan kerja berkontribusi dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN TINGKAT PENGGUNAAN SMARTPHONE DENGAN KEJADIAN MIOPIA PADA MAHASISWA KEPERAWATAN ANGKATAN VII STIKES CITRA HUSADA MANDIRI KUPANG

10 cm. 168 cm e. 100 cm dan 79 cm

BIOFISIKA 3 FISIKA INDERA

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Katarak merupakan penyebab terbanyak kebutaan di dunia. Proses

ALAT-ALAT OPTIK B A B B A B

ALAT-ALAT OPTIK B A B B A B

Tujuan Praktikum Menentukan ketajaman penglihatan dan bitnik buta, serta memeriksa buta warna

R E F R A K S I PR P O R SE S S E S P E P N E G N L G IHA H TAN 1

OPTIKA CERMIN, LENSA ALAT, ALAT OPTIK. PAMUJI WASKITO R, S.Pd GURU MATA PELAJARAN FISIKA SMK N 4 PELAYARAN DAN PERIKANAN

Agia Dwi Nugraha Pembimbing : dr. H. Agam Gambiro Sp.M. KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSUD Cianjur FK UMJ

BAB I PENDAHULUAN. Miopia dapat terjadi karena ukuran aksis bola mata relatif panjang dan disebut

Pengukuran Tekanan Intraokular pada Mata Normal Dibandingkan dengan Mata Penderita Miop sebagai Faktor Risiko Glaukoma

Pengaruh Aktivitas Luar Ruangan Terhadap Prevalensi Myopia. di Desa dan di Kota Usia 9-12 Tahun

Transkripsi:

13 Tinjauan Pustaka Akomodasi dalam Refraksi Rinda Wati Abstrak Akomodasi merupakan mekanisme perubahan kekuatan refraksi mata dengan merubah bentuk dari kristalin lensa. Titik fokus posterior berpindah kedepan mata selama akomodasi. Dengan adanya proses tersebut, titik jauh lebih dekat ke mata. Kemampuan akomodasi ketika otot siliaris berkontraksi sebagai respon bagi stimulasi parasimpatetik dan relaksasi serabut zonular. Pergerakan dari respon akomodasi merupakan hasil dari peningkatan konveksitas lensa ( terutama pada permukaan anterior). Amplitudo akomodasi (dalam D) atau sebagai jarak dari akomodasi. Jarak antara titik jauh mata dan titik terdekat dimana mata dapat menjaga fokus (titik dekat). Lensa kehilangan elastisitasnya diakibatkan proses penuaan dan respon akomodasi berkurang dinamakan presbyopia. Kata kunci: Akomodasi, refraksi Abstract Accommodation is the mechanism by which the eye changes refractive power by altering the shape of its crystalline lens. The posterior focal point is moved forward in the eye during accommodation. Correspondingly, the far point moves closer to the eye.accommodative effort when the ciliary muscle contracts in response to parasympathetic stimulation and relaxation of zonular fibers. The movement of Accommodative response results from the increase in lens convexity (primarily the anterior surface). Amplitude of accommodation (in D)or as the range of accommodation. The distance between the far point of the eye and the nearest point at which the eye can maintain focus (near point). Lens loses elasticity due to aging process, andthe accommodative response wanes is call presbyopia. Keywords: Accomodation, refraction Affiliasi penulis : Bagian Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Korespondensi : Rinda Wati rindawatispm@yahoo.co.id Pendahuluan Akomodasi adalah suatu mekanisme dimana mata merubah kekuatan refraksinya dengan merubah ketajaman lensa kristalin. Ada banyak teori yang telah dikemukan tentang bagaimana proses akomodasi dapat terjadi pada mata. Teori yang paling tua dikenal yaitu teori vitreus oleh Cramers, lalu dikembangkan juga teori akomodasi relaksasi oleh Helmholtz, teori kontraksi zonula oleh Tscherning, dan masih banyak teori akomodasi lainnya. Sementara itu untuk memfokuskan benda yang berjarak dekat otot siliaris melakukan kontraksi sehingga membuat lensa mata menjadi tebal. Daya akomodasi mata dibatasi oleh dua titik yaitu titik dekat ( punctum proximum ), yaitu titik terdekat yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh mata. Titik jauh ( punctum remotum ), yaitu titik terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas oleh matakebanyakan dari masalah penglihatan berhubungan dengan kemampuan akomodasi, seperti akomodasi yang terlalu besar, terlalu kecil ataupun terlalu lambat. Untuk dapat menilai kemampuan akomodasi seseorang maka dapat dilakukan pemeriksaan akomodasi baik monokular maupun binokular dengan menggunakan metode metode Push Up ataupun metode Lensa Sferis. Yang dinilai yaitu akomodasi jarak dekat, amplitudo akomodasi dan range akomodasi sehingga dapat diidentifikasi kemampuan akomodasi mata. Helmholtz mengajukan teori relaksasi akomodasinya berdasarkan perubahan ukuran serat serat purkinje di permukaan anterior lensa kristalin (sama halnya dengan eksperimen yang telah dilakukan oleh Cramer) untuk mendukung gagasannya bahwa lensa kristalin sebenarnya berperan besar terhadap akomodasi. Dia mengamati saat mata tidak berakomodasi dan melihat jauh, maka otot otot siliaris akan berelaksasi dan serat serat zonula elastis jadi teregang, ini akan menarik lensa kristalin ke arah luar ke ekuator dan lensa menjadi datar Ini merupakan teori yang sangat berlawanan dengan teori Helmholtz s. Tscherning menggunakan sebuah

14 ophthalmophacometer yang telah ia rancang untuk mengamati gambar yang dibentuk oleh permukaan anterior dan posterior lensa kristalin. Dia berpendapat bahwa konstraksi otot siliaris akan meningkatkan ketegangan serat serat zonula, sehingga merubah ketajaman lensa tanpa merubah ketebalan ataupun diameter lensa. Posisi Tscherning merupakan suatu kondisi saat lensa kristalin dikeluarkan dari bola mata, dan ini tampak seperti kondisi penglihatan jauh dan tidak berakomodasi seperti teori yang diajukan oleh Helmholtz Pembahasan Akomodasi merupakan salah satu dari 3 komponen untuk melihat objek dalam jarak dekat yang disebut respon dekat atau refleks dekat. Komponen respon dekat meliputi akomodasi, konvergensi, dan miosis pupil yang normalnya bekerja bersamaan, namun masing masingnya dapat diuji secara terpisah. Misalnya akomodasi dapat distimulasi dengan lensa plus atau menguatkan stimulus akomodasi dengan lensa minus tanpa menstimulasi konvergensi atau miosis. Sementara itu dapat juga menggunakan prisma base out berkekuatan lemah untuk menstimulasi konvergensi tanpa merubah akomodasi. Terdapat 3 aspek akomodasi, yaitu: Akomodasi jarak dekat ( near point of akomodation / NPA ) NPA yaitu jarak objek terdekat dari mata yang dapat dilihat dengan jelas. Amplitudo akomodasi Amplitudo akomodasi yaitu kekuatan lensa yang memberikan visualisasi visual yang jelas. Kekuatan ini terukur dalam satuan dioptri ( D ) dan didapat dengan membagi 100 dengan NPA dalam satuan cm. Misalnya pasien dengan NPA 25 cm, maka amplitudo akomodasinya adalah 100/25= 4 D. Range akomodasi ( range accommodation ) Range akomodasi yaitu jarak antara objek terjauh dan terdekat yang masih dapat dilihat oleh mata dengan jelas. Gejala pasien dengan gangguan akomodasi tidaklah spesifik, tapi beberapa keluhan pasien mungkin dapat membantu mendeteksi gangguan akomodasi. Pasien pasien dengan penurunan kemampuan akomodasi biasanya mengeluhkan kabur saat melihat dekat, tetapi tidak saat melihat jauh. Pasien yang paling sering mengeluhkan masalah akomodasi yaitu pasien presbiopia, biasanya pasien ini akan mengeluhkan harus menjauhkan objek yang ingin dilihatnya. Beberapa pasien dengan penurunan akomodasi kadang dapat mengeluhkan diplopia monokular, tidak nyaman saat membaca jarak dekat, lambat saat merubah fokus fiksasi dari jarak jauh ke dekat ataupun dari jarak dekat ke jauh. Beberapa pasien dapat juga mengeluhkan sakit kepala, intoleransi terhadap cahaya, ataupun gejala astenopia lainnya. Akomodasi yang berlebihan atau spasme akomodasi ditandai dengan penglihatan yang baik saat melihat dekat dan visualisasi yang jelek saat melihat jauh. Objek visual dapat juga terlihat lebih besar ataupun lebih kecil (makropsia atau mikropsia) dari orang normal, dan sakit kepala di bagian depan. Pemeriksaan Akomodasi Pemeriksaan akomodasi dilakukan untuk menilai kemampuan akomodasi mata seseorang. Pemeriksaan ini juga termasuk dalam pemeriksaan mata rutin dan pemeriksaan amplitudo akomodasi dapat diperiksa monokular dan binokular. Teknik pemeriksaan akomodasi dilakukan untuk menilai renge dan amplitudo akomodasi. Kendala yang paling sering ditemui dalam aplikasi klinisnya yaitu nilai end point yang subjektif. Langkah pertama dalam menilai komponen akomodasi yaitu memperoleh nilai refraksi yang adekuat dari kedua jarak penglihatan jauh dan dekat. Pada anak anak dan beberapa orang dewasa, refraksi sikloplegik dengan menggunakan cyclopentolate dibutuhkan untuk mencegah pasien melakukan akomodasi dan ini dapat meningkatkan derajat miopia yang membutuhkan koreksi refraksi. AmplitudoAkomodasi Monokular Amplitudo akomodasi monokular yaitu limit dioptri dimana pasien dapat mengidentifikasi dengan

15 jelas organ target yang kecil (20/20) pada jarak terdekat dengan satu mata. Pemeriksaan akomodasi yang dapat dilakukan yaitu metode Push Up dan metode Lensa Sferis. Pemeriksaan monokular dilakukan pada satu mata dengan mata yang lainnya ditutup. Amplitudo Akomodasi Binokular Amplitudo akomodasi binokular yaitu limit dioptri dimana pasien dapat memfusikan dengan jelas organ target yang kecil dengan kedua mata. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah metode Push Up dan metode Lensa Sferis. Metode Push Up Near point of accomodation (NPA) merupakan salah satu komponen akomodasi yang paling mudah dinilai praktek sehari hari. Pemeriksaannya dapat dilakukan dengan menggunakan alat seperti penggaris yang berskala seperti : Prince, Krimsky, ataupun penggaris Berrens ( Gambar 1 dan gambar 2). Alat alat ini berupa penggaris sederhana dengan penanda dalam cm dan dioptri yang memiliki chart dengan huruf huruf snellen. Teknik untuk menilai akomodasi dengan alat ini disebut metode Push Up. Gambar 1. Penggaris Krimsky Gambar2. Penggaris Berrens Caranya dengan dengan menempatkan target kecil yang secara perlahan lahan digerakkan mendekati pasien hingga target dapat terlihat dengan jelas ( Gambar 2). Daya akomodasi terjadi karena target kecil pada jarak dekat digerakkan mendekati pasien. Konvergensi lensa juga berubah bersamaan dengan jarak target. Saat target digerakkan terjadi peningkatan konvergensi akomodasi, peningkatan vergensi fusional untuk mempertahankan fusi. Gb 3. Pemeriksaan akomodasi metode Push Up Prinsip pemeriksaan ini ialah jarak target yang dekat dapat meningkatkan daya akomodasi mata. Ukuran tulisan pada chart juga penting untuk diperhatikan karena tulisan yang paling kecil akan menimbulkan respon akomodasi yang paling kuat. Pada saat menggerakkan chart dari jarak jauh hingga menuju mata pasien dimana pasien dapat melihat dengan jelas sebelum target terlihat kabur kembali adalah nilai NPA dan dinilai dalam cm. Jika nilai NPA telah didapat, maka amplitudo akomodasi bisa diperoleh dengan membagi 100 dengan nilai NPA dalam cm. Saat mengintrepretasikan hasil pemeriksaan akomodasi dengan menggunakan metode push up, pasien haruslah kooperatif saat pemeriksaan. Pastikan juga pencahayaan ruangan pemeriksaan yang edekuat, karena pencahayaan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi hasil pemeriksaan. Range akomodasi dapat juga dinilai dengan pemeriksaan yang sama denga amplitudo akomodasi. Pasien diinstruksikan untuk memberitahukan saat objek target mulai kabur saat didekatkan dan kapan kabur kembali saat objek target di jauhkan. Range akomodasi lalu dihitung dengan menentukan titik jauh dan titik dekat dalam dioptri ( membagi 100 dengan masing masing jarak dalam cm ), lalu kurangi nilai titik jauh dengan titik dekat. Dengan menggunakan metode Push Up, Duane pada tahun 1994 mengembangkan data hubungan normatif berupa tabel antara usia dan amplitudo akomodasi yang masih digunakan hingga sekarang ( Tabel 1 ). Menurut Duane terdapat penurunan kemampuan akomodasi linear hingga usia 52 tahun, dan setelah itu daya akomodasi mata pun hilang.

16 akomodasi tanpa menggunakan lensa tapi secara farmakologi dengan menggunakan agonis muskarinik topikal, seperti pilokarpin lalu diukur respon akomodasinya dengan refraktometer. Tabel 1. Grafik Hubungan daya akomodasi terkait usia Metode Lensa Sferis Prinsipnya daya akomodasi terjadi karena melihat target kecil pada jarak yang dekat dengan menggunakan lensa sferis minus maksimal, lalu diberikan lensa sferis plus secara bertahap hingga target terlihat kabur kembali. Pada pemeriksaan ini mata pasien difiksasi dengan target baca pada jarak 40 cm, dan stimulasi dengan penambahan lensa minus secara bertahap hingga didapatkan visualisasi organ target yang kabur. Lalu akomodasi diistirahatkan dengan menambahkan lensa positif hingga target visual yang jelas kembali terlihat kabur. Jumlah lensa yang digunakan merupakan nilai amplitudo akomodasi. Sebagai contoh, jika pasien menerima sferis - 4,00 D sebelum organ target terlihat kabur, dan dapat menerima lagi + 2,5 D sebelum target yang jelas terlihat mulai kabur kembali, maka total sferis amplitudo akomodasi yaitu 4,00 D + 2,5 D = 6,50 D. Sama halnya dengan metode push up, untuk memperoleh nilai NPA dan amplitudo akomodasi, metode lensa sferis hanya dapat dilakukan pada pasien pasien yang kooperatif. Saat lensa minus dipasangkan terjadi peningkatan konvergensi akomodasi, dan peningkatan fusi divergen untuk menjaga fusi objek yang tidak bergerak Refraktometer Metode pemeriksaan yang paling objektif dalam menilai akomodasi yaitu menggunakan refraktometer (Gambar 8). Kebanyakan dari alat ini menggunakan lensa sferis minus yang ditingkatkan untuk menstimulasi akomodasi, lalu diukur respon akomodasinya. Alternatif lainnya yaitu menstimulasi Gambar 4. Refraktometer Tabel 2. Tabel amplitudo akomodasi populasi normal Disfungsi Akomodasi Disfungsi akomodasi pernah dilaporkan terjadi 60 80 % pasien dengan masalah penglihatan binokular. Pasien dengan insufisiensi akomodasi biasanya mengeluhkan penglihatan kabur, kabur membaca pada jarak dekat, susah berkonsentrasi dan kadang dapat disertai dengan sakit kepala. Faktor resiko terjadinya disfungsi akomodasi yaitu karena kebutuhan untuk mempertahankan peningkatan akomodasi saat melihat target visual pada jarak dekat, sehingga menyebabkan kelelahan sistem akomodasi. Terdapat klasifikasi tentang disfungsi akomodasi yang di populerkan oleh Duke Elder, dimana ada lima jenis disfungsi akomodasi yaitu 21 : 1. Insufisiensi Akomodasi Insufisiensi akomodasi terjadi saat amplitudo akomodasi (AA) lebih rendah dari normal sesuai usia

17 pasien, dan keadaan ini tidak terkait dengan sklerosis lensa kristalin. Gejalanya muncul saat pasien tidak mampu mempertahankan akomodasinya. 2. Ill Sustained Accommodation Kondisi ini terjadi pada kondisi dimana amplitudo akomodasi normal, tapi muncul kelelahan sistem akomodasi saat stimulus akomodasi diulangi. Gejala yang paling sering ditemui pada pasien ini yaitu penglihatan yang kabur setelah bekerja lama pada jarak dekat. 3. Accommodation Infacility Kondisi ini muncul saat sistem akomodasi bergerak lambat untuk berubah, atau saat terjadi keterlambatan respon akomodasi terhadap stimulus akomodasi. Pasien biasanya mengeluhakan kabur saat melihat jauh setelah mempertahankan akomodasi. Beberapa ahli berpendapat bahwa accommodation Infacility adalah prekursor untuk miopia. 4. Paralarisis of Accommodation Paralarisis of Accommodation merupakan kondisi yang cukup jarang terjadi dimana sistem akomodasi gagal untuk berespon terhadap stimulus. Kondisi dapat disebabkan oleh penggunaan obat obatan sikloplegik, trauma, penyakit okular atau sistemik dan keracunan. Keadaan ini dapat terjadi unilateral dan bilateral. 5. Spasme Akomodasi Spasme akomodasi terjadi akibat stimulus yang berlebihan dari sistem persarafan parasimpatis, dan spasme akomodasi dapat dikaitkan dengan kelelahan. Hal ini dapat disebabkan oleh penggunaan obat kolinergik topikal ataupun sistemik, trauma dan myastenia gravis. Kesimpulan Akomodasi adalah kemampuan mata untuk merubah kekuatan refraksinya dengan merubah ketajaman lensa kristalin agar bayangan objek visual dapat tepat jatuh di retina sehingga diperoleh visualisasi objek yang lebih jelas. Ada banyak teori yang berkembang untuk menjelaskan tentang bagaimana mata bisa melakukan akomodasi, namun teori yang paling banyak diterima yaitu teori akomodasi relaksasi oleh Helmholtz. Kebanyakan dari masalah penglihatan berkaitan dengan akomodasi yang tidak adekuat, sehingga disarankan untuk melakukan pemeriksaan akomodasi sebagai bagian dari pemeriksaan mata rutin. Yang dinilai dari pemeriksaan akomodasi yaitu tiga aspek akomodasi meliputi akomodasi jarak dekat (NPA), amplitudo akomodasi dan range akomodasi. Pemeriksaan akomodasi dapat dilakukan pada satu mata ataupun dua mata dengan menggunakan metode Lensa Sferis, metode Push Up secara subjektif dan dengan alat refraktometer secara objektif. Daftar Pustaka 1. Glasser Adrian, In: Hyperopia and Presbyopia, The Helmholttz Mechanism of Accommodation, Marcel Dekker, New York, 2003: p27-46 2. Liesegang TJ. Skuta GL. Cantor LB. Optic of the Human Eye In Clinical Optic. Chapter 3. American Academy of Ophthalmology. San Fransisco. 2014: pp.116-117 3. Kaufman Pl. Glasser A. Acomodation and Presbyopia, In : Adlers s Physiology of the Eye, 12 th edition, Mosby Inc. St. Louis Missouri. 2012 4. Ciuffreda KJ. Accommodation, the pupil and presbyopia. In: Benjamin WJ, editor. Borish s clinical refraction. Missouri: Butterworth- Heineman, 2006; p. 93 114. 5. SmolekMK, Klyce SD, in: Hyperopia and Presbyopia, Basic of hyperopia and Presbyopia, Marcel Dekker, New York, 2003: p27-46 6. Michaels DD. Accommodation, Vergences, and Heterophorias. In: Michaels DD, eds. Visual Optics and Refraction, 3rd ed. St. Louis: C.V. Mosby, 2005:Chap. XVIII 7. Duke-Elder S. Adjustments to the optical system: accommodation. In: DukeElder S, eds. System of Ophthalmology: Ophthalmic Optics and Refraction, St. Louis: C.V. Mosby, 2007; Vol.V, Chap. IV 8. Cooper S Jeffrey. Accommodation Dysfunction in Ophmetric Clinical Practise Guideline Care of the Patient with Accommodative and Vergence Dysfunction. Lindbergh. 2010: pp. 4-10

18 9. Glasser A, Campbell MCW. Presbyopia and the optical changes in the human crystalline lens with age. Vision Res 2008;38:19-29