BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan nila merah (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas budidaya perikanan yang banyak dikonsumsi, karena dagingnya enak, juga merupakan sumber protein hewani, serta harganya terjangkau oleh masyarakat. Selain itu, ikan nila merah disukai oleh konsumen karena memiliki tekstur daging yang mirip dengan tekstur daging ikan kakap (Amri dan Khairuman 2008). Pada tahun 2008 permintaan pasar dalam negeri terhadap ikan nila merah sebesar 293.806, 83 ton dan pada tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi 325.042,44 ton. Namun yang sudah terpenuhi hanya sekitar 68.259 ton atau sekitar 21% dari total permintaan (Tanjung 2010). Nila merah telah lama pula dikembangkan sebagai komoditi ekspor baik dalam bentuk ikan utuh maupun dalam bentuk fillet. Permintaan ikan nila merah ini juga terus meningkat di pasar internasional terutama pasar Amerika dan Uni Eropa. Ekspor fillet nila dari Indonesia hingga saat ini hanya mampu memenuhi tidak lebih dari 0,1% dari permintaan pasar dunia (Caroko et al. 2008). Untuk meningkatkan produksi nila merah di dalam dan luar negeri sehingga mampu menghasilkan jumlah yang memenuhi permintaan pasar lokal dan dunia diperlukan ketersediaan benih yang mencukupi. Kondisi ini mendorong peningkatan jumlah pemeliharaan benih ikan nila merah dengan cara meningkatkan padat penebaran dan pemberian pakan dalam jumlah yang banyak (sistem intensif) sehingga dapat mengakibatkan penimbunan limbah kotoran di dasar perairan yang sangat cepat yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dan sisa metabolisme ikan (feses). Penumpukan sisa pakan yang tidak termakan dan sisa metabolisme ikan akan menyebabkan akumulasi bahan organik yang menyebabkan penurunan kualitas air sehingga memicu timbulnya berbagai jenis penyakit. Timbulnya penyakit pada organisme budidaya dapat menjadi penyebab kerugian karena kematian masal dan menyebabkan ditolaknya produk budidaya yang diekspor ke 1
2 luar negeri (Rahmadiarti 2009). Penurunan kualitas air dapat menyebabkan nafsu makan ikan berkurang, menghambat pertumbuhan, menimbulkan hama dan penyakit serta terjadi kematian (Weatherley 1972). Perawatan benih merupakan hal yang penting dalam proses produksi ikan karena tingkat kelangsungan hidupnya rendah. Benih sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air dibandingkan dengan ikan dewasa, sehingga kualitas maupun kuantitas air harus tetap terjaga. Salah satu metode untuk memperbaiki kualitas air adalah dengan menggunakan metode bioremidiasi. Bioremidiasi adalah suatu teknologi terapan melalui kemampuan proses biologi untuk memperbaiki kualitas lingkungan dari kontaminasi atau pencemaran bahan-bahan berbahaya di dalam lingkungan (Simbolon dan Juyana 2006). Metode bioremidiasi ini memanfaatkan lebih dari satu bakteri yang menguntungkan (probiotik) sebagai salah satu pengelolaan secara biologis (biological treatment) dan dapat digunakan untuk pengendalian penyakit serta mempertahankan kualitas air. Untuk memperbaiki kualitas air dengan menggunakan metode bioremidiasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan salah satu produk probiotik komersil yang di dalamnya terkandung bakteri pengurai. Bakteri pengurai sangat bermanfaat untuk memperbaiki kualitas air dan mengendalikan penyakit, bahkan secara signifikan dapat memperkecil sisa pakan di dasar kolam (Cholik et al. 1991 dalam Simbolon dan Juyana 2006). Kusuma Bioplus merupakan salah satu produk probiotik komersil yang di dalamnya terkandung bakteri menguntungkan seperti Bacillus sp, Lactobacillus sp, Pseudomonas sp, serta beberapa mikroba bermanfaat lainnya yang membantu memperbaiki kualitas air juga membantu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan benih ikan. Informasi penggunaan bakteri probiotik khususnya Kusuma Bioplus dalam bidang perikanan belum banyak diketahui. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian dalam mencari konsentrasi yang paling tepat dan efektif dari penggunaan Kusuma Bioplus dan bagaimana pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup, laju pertumbuhan dan kualitas air dalam media pemeliharaan benih ikan nila merah.
3 1.2 Identifikasi Masalah Kusuma Bioplus merupakan salah satu probiotik yang bermanfaat dalam proses bioremidiasi pada perairan dan metabolisme pada pencernaan ikan. Bakteri probiotik yang terkandung di dalamnya adalah Bacillus sp., Lactobacillus sp., dan Pseudomonas sp. sehingga dalam hal ini perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian probiotik komersil Kusuma Bioplus terhadap kelangsungan hidup, laju pertumbuhan dan kualitas air pada media pemeliharaan benih ikan nila merah. 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi probiotik komersial Kusuma Bioplus yang memberikan kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan tertinggi serta kualitas air yang layak bagi benih ikan nila merah pada media pemeliharaan. 1.4 Kegunaan Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi khususnya mengenai konsentrasi pemberian probiotik komersial Kusuma Bioplus yang tepat, sehingga dapat meningkatkan kelangsungan hidup, laju pertumbuhan, serta kualitas air yang mendukung bagi kehidupan benih nila merah dan umumnya dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas budidaya perikanan. 1.5 Kerangka Pemikiran Dalam pemeliharaan benih ikan nila merah secara intensif dengan padat penebaran yang tinggi dan pemberian pakan dalam jumlah yang banyak, kualitas air di dalam kolam harus dipertahankan sehingga benih ikan nila merah dapat hidup dan berkembang secara baik juga terhindar dari penyakit. Sisa pakan yang tidak termakan dan sisa metabolisme ikan yang menumpuk di dasar perairan kolam pemeliharaan benih ikan dapat menyebabkan penurunan kualitas air yang memicu timbulnya penyakit dan kematian pada benih ikan.
4 Salah satu alternatif untuk mempertahankan kualitas air secara efektif adalah dengan metode bioremidiasi. Bioremidiasi didefinisikan sebagai penggunaan organisme hidup, terutama mikroorganisme, untuk menguraikan bahan pencemar lingkungan yang merugikan ke tingkat atau bentuk yang lebih aman. Dalam metode ini digunakan lebih dari satu jenis bakteri yang menguntungkan (probiotik) sebagai salah satu pengelolaan secara biologis (biological treatment) dan dapat digunakan untuk pengendalian penyakit serta mempertahankan kualitas air. Aplikasi penggunaan bakteri probiotik pada organisme budidaya memiliki dua fungsi penting. Selain menyeimbangkan mikroorganisme dalam pencernaaan agar tingkat penyerapan zat-zat nutrisi menjadi lebih baik, probiotik juga bermanfaat mengurai senyawa-senyawa yang tidak menguntungkan dalam air pada medianya, sehingga probiotik dapat pula berfungsi sebagai bioremidiasi, biokontrol, immunostimulan (memicu daya tahan tubuh) serta pemacu pertumbuhan (Rahmadiarti 2009). Probiotik untuk akuakultur dapat diberikan melalui pakan, air maupun melalui perantaraan pakan hidup seperti rotifer atau artemia (Irianto 2007). Kusuma Bioplus merupakan salah satu probiotik komersil yang bermanfaat dalam proses bioremidiasi pada perairan dan metabolisme pada pencernaan ikan. Bakteri probiotik yang terkandung di dalamnya adalah Bacillus sp., Lactobacillus sp., dan Pseudomonas sp. Pada ekosistem akuatik alami bakteri memiliki peran sebagai pengurai yang mengendalikan proses komponen organik misalnya polimer protein atau karbohidrat menjadi senyawa yang lebih sederhana. Polimer tersebut berupa sisa pakan, kotoran (feses), organisme (plankton) yang telah mati (Boyd dan Gross 1998 dalam Effendi 2005). Keberadaan bakteri Bacillus sp. atau bakteri dekomposer lain tidak selalu dalam jumlah besar secara normal di dalam kolam air, sehingga penambahan bakteri probiotik diperlukan untuk meningkatkan pengelolaan polimer organik di kolam (Boyd et al. 1984 dalam Efendi 2005). Bacillus sp. selain menghasilkan antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang dominan, juga menghasilkan enzim yang mendegradasi
5 lendir dan biofilm yang dihasilkan bakteri patogen (Moriarty 1998 dalam Nurgana 2005). Bacillus sp. akan berkompetisi dengan bakteri patogen dalam mendapatkan nutrisi dan ruang permukaan dinding usus ikan atau udang. Dengan adanya persaingan ini, bakteri patogen terhambat pertumbuhannya tanpa sempat menghasilkan gen yang resisten (Nurgana 2005). Lactobacillus sp. dimanfaatkan sebagai probiotik karena mempunyai kemampuan untuk menekan pertumbuhan bakteri patogen dengan menghasilkan antibiotik alami dan substansi penghambat seperti asam laktat, asam asetat dan peroksida (Reswana 2008). Peranan Lactobacillus sp. dalam tubuh ikan berlangsung di dalam usus, bakteri ini mempunyai kemampuan untuk mengubah laktosa yang merupakan disakarida menjadi glukosa fosfat yang berfungsi sebagai energi untuk tumbuh pada ikan (Dwidjoseputro 1987). Lactobacillus sp. dapat mencapai saluran usus dan akan menetap, memperbanyak diri dan memproduksi komponen-komponen metabolit seperti asam laktat yang dapat mengusir bakteri patogen (Burrows 1955). Menurut Kompiang (2000), bakteri Lactobacillus sp. berperan untuk menghasilkan enzim-enzim pencernaan seperti laktase yang memanfaatkan karbohidrat yang tidak dapat dicerna menjadi dapat dicerna serta dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan bakteri Pseudomonas sp. mempunyai kemampuan sebagai agen denitrifikasi yang berperan dalam mengubah nitrat (NO 3 ) menjadi nitrogen (N 2 ) ke udara (Samuelsson 1985). Penambahan bakteri probiotik Bacillus sp., Lactobacillus sp., dan Pseudomonas sp. ini diharapkan dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup, laju pertumbuhan dan kualitas air pada media pemeliharaan benih ikan nila merah. Penelitian menggunakan probiotik komersil telah banyak dilakukan sebelumnya dengan merk dagang yang berbeda diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Rahmadiarti (2009) pada benih ikan nila dengan kepadatan 40 ekor/200 L dengan bobot rata-rata 5 gram/ekor menunjukkan bahwa penggunaan probiotik dengan merk dagang Epicin Pond Direct dengan dosis 3 mg/l pada media yang tidak disipon selama 40 hari memberikan laju pertumbuhan tertinggi sebesar 1,92%. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Nurgana (2005) terhadap benih gurami pada media yang tidak disipon selama 42 hari dengan padat penebaran 7
6 ekor/l menunjukkan bahwa pemberian probiotik komersil dengan merk dagang Aquasimba-D ke dalam air sebesar 15 mg/l dapat meningkatkan kelangsungan hidup benih gurami hingga 61,08%. Penelitian yang dilakukan oleh Surastini (2000) terhadap benih ikan bawal air tawar dengan media yang tidak disipon selama 28 hari dan padat penebaran 60 ekor/40 L menunjukkan bahwa pemberian probiotik EM 4 sebesar 5 ml/l memberikan penurunan ammonia tertinggi dari 0,0255 mg/l menjadi 0,0137 mg/l dengan tingkat kelangsungan hidup benih ikan bawal air tawar yang mencapai 94,58%. 1.6 Hipotesis Berdasarkan konsentrasi penambahan probiotik yang dianjurkan dalam kemasan, dapat diambil hipotesis bahwa pemberian probiotik komersil Kusuma Bioplus dengan konsentrasi 0,250 ml/l akan memberikan pengaruh yang paling tinggi terhadap kelangsungan hidup, laju pertumbuhan dan kualitas air pada media pemeliharaan benih ikan nila merah.