BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
PERBANDINGAN PEMBERIAN BRODIFAKUM LD50 DAN LD100 TERHADAP PERUBAHAN GAMBARAN PATOLOGI ANATOMI GASTER TIKUS WISTAR

BAB I PENDAHULUAN. yang dilakukan oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)

BAB 1 PENDAHULUAN. pewarna sintesis yang digunakan dalam makanan adalah aman. bahan yang diwarnai berwarna merah. Penyalahgunaan Rhodamine B pada

PERBANDINGAN PEMBERIAN BRODIFAKUM DOSIS LD 50 DAN LD 100 TERHADAP RESIDU BRODIFAKUM PADA HEPAR TIKUS WISTAR

BAB I PENDAHULUAN. Berbagai usaha dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Misalnya

BAB I PENDAHULUAN. beberapa jenis makan yang kita konsumsi, boraks sering digunakan dalam campuran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenika) atau campuran dari bahanbahan

BRODIFAKUM BRODIFACOUM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Annual Report 2013 Program Pengkajian dan Penerapan TeknologiLingkungan

Analisis Hayati UJI TOKSISITAS. Oleh : Dr. Harmita

PERBANDINGAN PEMBERIAN BRODIFAKUM DOSIS LD 50 DAN LD 100 TERHADAP RESIDU BRODIFAKUM PADA HEPAR TIKUS WISTAR LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah. kurang lebih 5000 tahun yang lalu. Sampai saat ini

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan meliputi pemeliharaan hewan coba di

BAB I PENDAHULUAN. yang dikenal sebagai penghasil buah dan sayuran yang dikonsumsi oleh sebagian

BAB 1 PENDAHULUAN. banyak ditemukan di lingkungan (WHO, 2010). Logam plumbum disebut non

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Obat tradisional telah dikenal dan banyak digunakan secara turun. temurun oleh masyarakat. Penggunaan obat tradisional dalam upaya

DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL DEPAN... i. HALAMAN JUDUL... ii. HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... iii. HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... iv

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terpadat di

I. PENDAHULUAN. penyakit jantung koroner (Rahayu, 2005). Hiperkolesterolemia adalah suatu

BAB I PENDAHULUAN. 50% dari jumlah korban sengatan listrik akan mengalami kematian. 1 Banyaknya

BAB I PENDAHULUAN. yaitu radiasi UV-A ( nm), radiasi UV-B ( nm), dan radiasi UV-C


UJI TOKSISITAS AKUT (LD50)

BAB I PENDAHULUAN. Keracunan adalah suatu kejadian apabila substansi. yang berasal dari alam ataupun buatan yang pada dosis

BAB 1 PENDAHULUAN. produsen makanan sering menambahkan pewarna dalam produknya. penambahan

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pestisida

LEMBAR DATA KESELAMATAN

BAB I PENDAHULUAN. Monosodium glutamate (MSG) adalah garam natrium dari asam. glutamat (glutamic acid). MSG telah dikonsumsi secara luas di seluruh

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Racun merupakan substansi ( kimia maupun fisik) yang dapat menimbulkan cidera atau kerusakan pada

LEMBAR DATA KESELAMATAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat bersifat racun, menghambat pertumbuhan/perkembangan, tingkah

TOKSIKOMETRIK. Studi yang mempelajari dosis dan respon yang dihasilkan. Efek toksik. lethal dosis 50

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pestisida adalah bahan racun yang disamping memberikan manfaat di bidang

BAB I PENDAHULUAN. Asam format yang terakumulasi inilah yang menyebabkan toksik. 2. Manifestasi klinis yang paling umum yaitu pada organ mata, sistem

Material Safety Data Sheet MAXFORCE Forte Gel0,05 20X(4X30GR) BOX 4 Nopember 2012

BAB 1 PENDAHULUAN. Luka adalah terjadinya diskontinuitas kulit akibat trauma baik trauma

BAB I PEDAHULUAN. banyak terdapat ternak sapi adalah di TPA Suwung Denpasar. Sekitar 300 ekor sapi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Lalat adalah salah satu jenis serangga, yang mendekomposisi komponen

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 033 tahun 2012 tentang Bahan

BAB I PENDAHULUAN. Warna merupakan salah satu sifat yang penting dari makanan, di samping juga

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SELENIUM ASPARTAT SELENIUM ASPRATATE

I. PENDAHULUAN. Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok penduduk Indonesia

Lembaran Data Keselamatan Bahan

LEMBARAN DATA KESELAMATAN BAHAN menurut Peraturan (UE) No. 1907/2006

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskular yang diakibatkan karena penyempitan pembuluh darah

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN (Sari, 2007). Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara termasuk

BAB I PENDAHULUAN. (FAO, 2003). Penggunaan pestisida dalam mengatasi organisme pengganggu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Ringkasan Uji Toksisitas Akut. e-assignment

Lembaran Data Keselamatan Bahan

LEMBAR DATA KESELAMATAN

PENDAHULUAN. Toksikologi : ilmu tentang racun-racun

Kepada Yth. MENTERI PERTANIAN u.p.direktorat JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN Jl. HARSONO R.M. No. 3 JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL

BAB 1 PENDAHULUAN. dan kunyit untuk warna kuning. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dalam proses memasak. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar

BAB 1 PENDAHULUAN. Zat pewarna makanan alami sejak dulu telah dikenal dalam. industri makanan untuk meningkatkan daya tarik produk makanan

Lembaran Data Keselamatan Bahan

BAB 5 HASIL PENELITIAN

Lembaran Data Keselamatan Bahan

LEMBAR DATA KESELAMATAN

LEMBAR DATA KESELAMATAN

Uji Toksisitas UJI TOKSISITAS AKUT. Macam Uji Toksisitas. Beda antara jenis uji toksisitas umum

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

Lembaran Data Keselamatan Bahan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Hiperlipidemia adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan kadar kolesterol dan

Lembaran Data Keselamatan Bahan

EFEK TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG SINTOK PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR* Intisari

SAFETY DATA SHEET (according to EC directive 93/112/EC) Update : Version: 2.7 Date : MIRACLE S240

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Teh merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia.

LEMBAR DATA KESELAMATAN

Lembaran Data Keselamatan Bahan

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 2000 di New Zealand terjadi keracunan sekunder akibat penggunaan brodifakum untuk membasmi hama tikus. Berdasarkan penelitian "Laboratory and Field Studies of Brodifacum Residues in Relation to Risk Exposure to Wildlife and People" terjadi keracunan sekunder akibat babi yang memakan bangkai tikus yang mati karena konsumsi brodifakum yang berlebihan dan ketika mati bangkai tikus tersebut masih memiliki residu brodifakum. 1 Beberapa kasus mengenai paparan brodifakum juga terus meningkat beberapa tahun terakhir. 2 Hal ini mungkin terjadi karena brodifakum merupakan senyawa yang paling banyak ditemukan pada rodentisida yang dijual di pasaran di Amerika Serikat. 3 Sebuah jurnal Amerika melaporkan seorang pria dengan umur 36 tahun dilaporkan telah didiagnosa dengan penyakit koagulopati akut dan diberikan terapi dengan phytonadione secara oral sebesar 40mg/hari. Seminggu kemudian pria tersebut pria tersebut kembali ke rumah sakit dan dilakukan pemeriksaan hematologi. Hasil tes tersebut menunjukkan terdapat brodifakum pada darah pria tersebut. 4 Brodifakum (4-hydroxy-3-(3-(4'-bromo-4-biphenylyl)-1,2,3,4- tetrahydro-1-naphthyl)coumarin ) adalah senyawa derivat dari bromylated hydroxycoumarin. Merupakan komponen yang masuk dalam klasifikasi bahan kimia berbahaya karena memiliki LD 50 kurang dari 1mg/kg untuk bermacam macam spesies. Keracunan brodifakum melalui jalur lain seperti topikal maupun respiratori juga menunjukkan tingkat toksisitas yang tinggi. Brodifakum merupakan komponen yang diketahui sebagai antikoagulan rodentisida. Brodifakum berwarna putih sedikit pudar dan biasanya berbentuk 1

acetone. 5 Brodifakum diserap melalui traktus gastrointestinal, kulit dan 2 padat. Brodifakum memiliki tingkat kelarutan yang rendah pada air namun brodifakum sedikit larut pada benzene dan chloroform dan larut pada traktus respiratorius. Setelah pemberian secara oral biasanya brodifakum menunjukkan gejala gejala seperti darah sukar membeku dan perdarahan internal yang hebat. 1 Brodifakum bekerja dengan cara mengahambat enzim vitamin K epoxide reductase yang berfungsi merekostruksi vitamin K epoxide, sehingga mengurangi tingkat vitamin K yang terdapat pada aliran darah. Vitamin K digunakan dalam sintesis substansi yang penting, sebagai contoh prothrombin yang digunakan dalam pembekuan darah. Efek ini menjadi semakin parah ketika darah kehilangan kemampuannya dalam pembekuan darah. 2 Brodifakum juga meningkatkan permeabilitas kapiler. Sehingga menyebabkan darah keluar dari pembuluh darah. hewan yang keracunan brodifakum akan mengalami perdarahan dalam yang hebat yang mengakibatkan syok, kehilangan kesadaran dan pada akhirnya mengakibatkan kematian. 1 Brodifakum sering digunakan sebagai racun tikus karena beberapa kriteria yaitu bentuknya yang relatif kecil karena sangat toksik, kemungkinan menguap yang kecil dan kemungkinan mengkontaminasi air yang relatif kecil karena brodifakum tidak larut dalam air. 1 Brodifakum memiliki waktu paruh yang relatif lama. Setelah pemberian secara per oral biasanya residu brodifakum pada hepar bertahan selama 96 jam dan mulai menurun setelah 2 sampai 8 hari kemudian. Bangkai hewan yang mati karena brodifakum pada umumnya masih memiliki residu brodifakum pada hepar mereka. Binatang yang memakan bangkai tikus yang memiliki residu brodifakum yang masih cukup tinggi dapat terkena efek dari brodifakum itu sendiri. 1

3 Sedangkan, potensi penyalahgunaan brodifakum pada manusia dapat terjadi dengan mencampurkan komponen brodifakum ke dalam makanan atau minuman. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka dilakukan penelitian mengenai perbandingan pemberian brodifakum dosis LD50 dan LD100 terhadap residu brodifakum pada hepar tikus wistar. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan High Performance Liquid Chromatography. Tema tersebut dipilih karena dapat digunakan sebagai identifikasi keracunan yang terjadi akibat brodifakum. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: Berapa besar perbandingan pemberian brodifakum dosis LD 50 dan LD 100 dengan jumlah residu brodifakum pada hepar tikus wistar? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum: Mengetahui perbandingan pemberian brodifakum dosis LD 50 dan LD 100 terhadap jumlah residu brodifakum pada hepar tikus wistar. 2. Tujuan khusus: Mengetahui jumlah residu brodifakum pada kelompok kontrol. Mengetahui jumlah residu brodifakum pada kelompok LD 50. Mengetahui jumlah residu brodifakum pada kelompol LD 100. Mengetahui perbandingan residu brodifakum pada kelompok kontrol dengan LD 50.

4 Mengetahui perbandingan residu brodifakum pada kelompok kontrol dan LD 100. Mengetahui perbandingan residu brodifakum pada kelompok LD 50 dan LD 100. 1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat bagi peneliti: Menambah referensi data untuk brodifakum. 2. Manfaat bagi Ilmu Pengetahuan: Memperluas dan memperdalam bidang kajian ilmu kedokteran forensik khususnya toksikologi tentang brodifakum. 3. Manfaat pada bidang kesehatan: Apabila pemberian brodifakum dosis bertingkat memang dapat mempengaruhi jumlah residu brodifakum pada hepar tikus wistar maka penelitian ini dapat menjadi pertimbangan untuk penatalaksanaan kasus dengan brodifakum. 4. Manfaat pada masyarakat Dapat dijadikan sebagai bahan identifikasi keracunan oleh brodifakum.

5 1.5 Keaslian penelitian Tabel 1. Matriks penelitian tentang brodifakum Peneliti dan Nama Metode Kesimpulan Keterangan Jurnal J.R Dowding, E.C Eksperimental Dalam waktu 3 Data yang di murphy, and C.R Veitch minggu setelah dapat merupakan pemberian racun ke- hasil dari hewan Brodifacoum Residues in 2. dari lima kelinci yang ditangkap di Target and Non-Target yang diteliti alam liar yang Species Following an menunjukan hasil terkena efek dari Aerial Poisoning 0.54, 0.69, 0.05, 0.93 pemberian racun Operation on Motuihe dan 2.01 µg g -1 secara aerial. Island, Hauraki Gulf, New Zealand (New Zealand Journal of ecology, vol. 23, no. 2, 1999 ; 207-210) C.T Eason, L. Milne, M. Eksperimental Konsentrasi 16 sampel dan Potts, G. Morriss, G.R.G brodifakum pada dibagi menjadi 4 Wright dan O.R.W hepar hewan coba grup, masing- SutherlandSecondary and meningkat masing grup Tertiary Poisoning Risks berdasarkan jumlah terdapat 4 sampel. Associated With umpan yang Brodifacoum (New dimakan. namun Zealand Journal Of peningkatan tersebut Ecology, Vol.23 tidaklah signifikan.

6 Orisinalitas pada penelitian ini adalah pada penelitian ini hewan coba di kontrol dengan dipilih mulai dari jenis kelamin, usia dan berat badan. Serta perlakuan hewan yaitu pemberian brodifakum dosis nya di kontrol dan diberikan secara bertingkat. Yang tidak dilakukan pada penelitian sebelumnya.