SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN AGRIBISNIS TERNAK RIMUNANSIA BAB XVI KEGIATAN AGRIBISNIS KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN 2017
16 KEGIATAN AGRIBISNIS A. Kompetensi Inti : Menguasai materi, stuktur konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran Agribisnis Ternak Ruminansia B. Kompetensi Dasar : Merencanakan kegiatan Agribisnis Pada Ternak Ruminansia C. Uraian Materi : 16.1 Deskripsi Sebelum memulai usaha penggemukan sapi potong, pengetahuan mengenai teknik memelihara sapi, pengetahuan akan pasar penting untuk diketahui. Teknik budidaya sudah dibahas pada Bab bab sebelumnya. Pengetahuan tentang pasar dibutuhkan agar peternak tidak tertipu dalam memasarkan sapi yang berhasil digemukkan. 16.2 Merencanakan Kegiatan Agribisnis Sapi Potong Beberapa hal yang berkaitan dengan usaha penggemukan sapi potong adalah : 16.2.1 Jenis Sapi untuk penggemukan Sapi Bali Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru. Sapi Ongole Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah. Sapi Brahman Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia. 1
Sapi Madura Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah. Sapi Limousin Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik. 1.2.2 Pemilihan Bakalan Dalam bisnis ternak sapi, bakalan merupakan faktor yang penting, karena sangat menentukan hasil akhir usaha penggemukan. Pemilihan bakalan memerlukan ketelitian, kejelian dan pengalaman. Ciri-ciri bakalan yang baik dapat dilihat pada Bab 8. 16.2.3 Tata Laksana Pemeliharaan 16.2.3.1 Perkandangan Untuk efisiensi usaha perlu dipertimbangkan ukuran dan model Kandang. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan. 16.2.3.2 Pakan Berdasarkan kondisi fisioloigis dan sistem pencernaannya, sapi digolongkan hewan ruminansia, karena pencernaannya melalui tiga proses, yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva), secara fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara enzimatis setelah melewati rumen. Penelitian menunjukkan bahwa penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan 2
konsentrat. Konsentrat yang digunakan dapat berasal dari campuran ampas bir, ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas atau konsentrat buatan pabrik pakan. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2,5% - 3% berat badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi. Penentuan kualitas pakan tersebut berdasarkan tinggi rendahnya kandungan nutrisi (zat pakan) dan kadar serat kasar. Pakan hijauan yang berkualitas rendah mengandung serat kasar tinggi yang sifatnya sukar dicerna karena terdapat lignin yang sukar larut oleh enzim pencernaan. Pakan dengan kualitas rendah, dapat ditingkatkan kualitasnya dengan teknologi fermentasi dan amoniase. Gambar 16.1 Kandang Penggemukan Sapi Potong 16.2.4 Menghitung kebutuhan sarana dan prasarana Untuk memberikan gambaran bagi calon peternak mengenai usaha penggemukan sapi potong, berikut kami tampilkan contoh analisis usahanya. Asumsi yang digunakan dalam analisis ini antara lain: 3
Lahan yang digunakan merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya Sapi bakalan yang dipelihara: 10 ekor sapi PO Harga sapi bakalan: Rp 8.000.000,-/ekor Bobot badan awal sapi bakalan: 250 kg/ekor Sapi dipelihara selama 4 bulan dengan pertambahan bobot badan (PBB) sekitar 0,8 kg/ekor/hari, sehingga: PBB selama 4 bulan = 0,8 kg x 120 hari = 96 kg/ekor Bobot akhir sapi = 250 kg + 96 kg = 346 kg Bobot seluruh sapi = 346 kg x 10 ekor = 3.460 kg Hasil penjualan sapi = 3.460 kg x Rp. 44.000/kg bobot hidup sapi = Rp. 152.240.000 Luas kandang: 45 m 2 Biaya pembuatan kandang: Rp 400.000/m 2 Penyusutan kandang 20% per tahun Gaji tenaga kerja (2 orang): @ Rp 500.000,-/bulan Biaya listrik: Rp. 180.000 /bulan Biaya air: Rp. 225.000 Biaya peralatan: Rp 500.000,-/tahun, Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 5.000 kg dengan harga Rp 300,-/kg Biaya pakan untuk satu periode: Hijauan : 40 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 100 Konsentrat : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 1.500 Suplemen pakan : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 200 Biaya vitamin B kompleks (1 kali pemberian selama periode pemeliharaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh): Rp. 13.000 untuk 10 ekor sapi Biaya obat cacing (1 kali pemberian selama periode pemeliharaan sebagai upaya mencegah cacingan): Rp. 50.000 untuk 10 ekor sapi 4
16.2.5 Menghitung Biaya Produksi 1. Biaya Produksi A. Biaya Tetap/fixed cost Kandang Penyusutan kandang 0.67 x 45 x 400.000 1.200.000 Peralatan 500.000/3 167.000 Total A 1.367.000 B. Biaya tidak tetap/variable cost Sapi 8.000.000 x 10 ekor 80.000.000 Pakan Hijauan : 40 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 100 Konsentrat : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 1.500 Suplemen pakan : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 200 4.800.000 5.400.000 720.000 Vitamin 13.000 13.000 Obat-obatan Obat cacing 50.000 Gaji tenaga kerja 2 x 500.000 x 4 4.000.000 Listrik 18.000 x 4 bulan 72.000 air 225.000 Total B 95.280.000 A + B 96.647.000 2. Pendapatan Penjualan Sapi 10 x 346 kg x 44.000 152.240.000 Kotoran 5.000 x 300 1.500.000 Total 2 153.740.000 3. Keuntungan 153.740.000-96.647.000-1.200.000 55.893.000 4. B/C 1,59 5. BEP harga (A + B)/ berat sapi total 27.932/kg 6. BEP Produksi (A +B)/44.000 2.196,5 kg 16.3 Evaluasi Kegiatan Agribisnis Berdasarkan hasil perhitungan di atas, diperoleh : 1) nilai rasio pendapatan : biaya = 1,59. Ini artinya dalam satu periode penggemukan, dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 159. 2) titik impas (Break Even Point/BEP) BEP harga = total biaya : berat sapi total = Rp. 96.647.000 : 3.460 kg = Rp.27.932 /kg BEP produksi = total biaya : harga jual sapi (per kg) = Rp. 96.647.000 : 44.000 = 2.196,5 kg 5
Dari nilai BEP dapat disimpulkan bahwa usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 10 ekor sapi mencapai bobot badan 2.196,5 kg atau harga jual Rp 27.932/kg. 16.4 Istilah dan Perhitungan Profitabilitas 16.4.1 Beberapa istilah 1. Biaya Produksi Biaya produksi merupakan penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel atau biaya tidak tetap, dihitung dengan menggunakan rumus: (Rasyaf, 1996). 2. Penerimaan Riyanto (2001), menyatakan bahwa jumlah penerimaan akan diperoleh dari suatu proses produksi dengan mengalikan jumlah hasil produksi dengan harga produk yang berlaku pada saat itu. TR = P x Q Keterangan: TR = Total Revenue atau total penerimaan P = Price of Quantity atau harga per liter (per kg) Q = Quantity atau jumlah produk 3. Keuntungan Wasis (1997), menyatakan bahwa perhitungan keuntungan dapat dihitung dengan menggunakan rumus: π = TR TC Keterangan: π = Keuntungan TR = Total Revenue atau total penerimaan TC = Total Cost atau total biaya 4. Net Present Value (NPV) Analisis NPV adalah analisis yang mempertimbangkan selisih antara penerimaan dengan biaya terhadap besarnya bunga atau lebih dikenal dengan istilah yang mempertimbangkan faktor diskonto pada waktu-waktu tertentu. Manalu (2007) menyatakan bahwa Net Present Value suatu usaha adalah selisih Present Value arus benefit (manfaat) dengan Present Value arus cost (biaya), yang dapat ditulis dengan rumus: 6
NPV = Ket: Bt = Economic Benefit (penerimaan) pada tahun ke t Ct = Cost (pengeluaran untuk unit penampungan susu) pada tahun ke t t = Tahun Investasi (Jangka Waktu) n = Umur Investasi (1,2,3,,n) i = Social Discount Rate (Tingkat Suku Bunga) Kriteria nilai NPV: NPV > 0 Usaha tersebut layak untuk dijalankan NPV = 0 Investasi dapat mengembalikan modal sebesar yang dikeluarkan NPV < 0 Usaha tersebut tidak layak untuk dijalankan 5. Internal Rate of Return (IRR) Analisis IRR digunakan untuk melihat kemampuan investasi yang dikeluarkan pada keuntungan dalam kegiatan unit usaha dengan perhitungan secara finansial serta mengukur tingkat bunga bank. Prawirokusumo (1990), menyatakan bahwa cara untuk dapat memperoleh IRR yaitu: IRR = i + x (i2 i1) Keterangan: i1 = Nilai Social Discount Rate pertama i2 = Nilai Social Discount Rate kedua NPV1 = NPV dengan nilai Social Discount Rate I NPV2 = NPV dengan nilai Social Discount Rate II Kriteria nilai IRR: Bila IRR tingkat suku bunga yang berlaku, maka usaha tersebut layak untuk dijalankan. Bila IRR < tingkat suku bunga yang berlaku, maka usaha tersebut tidak layak untuk dijalankan. 6. Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) B/C ratio merupakan ukuran berdiskonto manfaat proyek yang pertama dikenal. Nilai mutlak B/C ratio akan berbeda tergantung pada tingkat bunga, semakin tinggi tingkat bunga semakin rendah B/C ratio yang dihasilkan. Jika tingkat bunga yang dipilih cukup tinggi maka B/C ratio akan kurang dari satu (Adalina, 2008). 16.4 2 Perhitungan Profitabilitas 7
1. Gross Profit Margin (GPM), (Munawir, 2004) GPM = (Laba Kotor : Penjualan Bersih) x 100 % 2 Net Profit Margin NPM = (Laba Bersih : Penjualan Bersih) x 100 % 3 Total Assets Turnover (TAT) TAT = (Penjualan : Total Modal) x 100 % 4 Return on Investment (ROI) ROI = (Laba Bersih : Total Modal) x 100 % 5 Return on Equity (ROE) ROE = (Laba Bersih : Total Ekuitas) x 100 % 8