Bab V Konsep Perancangan 5.1 Konsep Makro Pada SLB yang akan dirancang, yang merupakan sasaran pengguna utama untuk SLB tersebut adalah anak tunagrahita. Diketahui tunagrahita merupakan difabel dengan karakteristik khusus yang membutuhkan pendidikan khusus supaya kompetensi diri difabel semakin terlatih mandiri, dapat berinteraksi sosial dan dapat menjadi anggota masyarakat pada umumnya. Tunagrahita pada proses pembelajarannya tidak bisa dilakukan hanya dengan sekali ajar, dan pembelajaran tersebut membutuhkan keterampilan yang dapat dilatih secara berkala. Menjadikan anak tunagrahita sebagai target pengguna dalam SLB yang akan dirancang memiliki permasalahan yang muncul dalam proses mendesain. Permasalahan tersebut antara lain : 1. Karakteristik khusus tunagrahita, 2. Dampak karakteristik terhadap sikap dan sifat yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar, 3. Terdapat pengguna normal (contohnya guru dan orang tua murid) menjadikan tunagrahita bukan satu-satunya pengguna di dalam SLB. 4. Dampak sosial yang timbul, 5. Konfigurasi ruang, bentuk, suasana mempengaruhi sikap anak tunagrahita yang mudah terdistraksi dan sulit fokus dalam menggunakan fasilitas bangunan, serta kemampuan memahami yang terbatas dalam mengidentifikasi ruang. Selain permasalahan, terdapat potensi yang dapat dikembangkan menjadi suatu bentuk perancangan, yaitu ; 1. Adanya kegiatan tematik dan ekstrakulikuler yang mayoritas diikuti oleh setiap jenjang kelas anak tunagrahita memunculkan kegiatan positif yang menciptakan ruang komunal sebagai titik temu banyak pengguna dalam suatu bangunan dan tercipta suatu interaksi sosial sebagai bentuk pendekatan terhadap lingkungan sekolah dengan antar penggunanya. 2. Faktor ketunaan pengguna menimbulkan kemampuan adaptasi juga membentuk suatu tuntuan lingkugan binaan yang aksesibel bagi semua pengguna tanpa membeda-bedakan ketunaannya. Penyesuaian terhadap bentuk bangunan, pemilihan warna dan material, serta pentingnya zonasi dalam organisasi ruang 69
Dari permasalahan dan potensi yang muncul dalam analisis, konsep perancangan yang akan digunakan untuk perancangan SLB Tunarungu dan Tunagrahita di Bontang adalah Konsep Kompetensi Lingkungan dengan menggunakan kesebelas atribut lingkungan baik sebagai metode problem solving desain. 5.2 Konsep Mikro 5.2.1 Konsep Program Ruang Gambar 5.1 : Konsep Program Ruang Program ruang yang terbentuk hasil analisis dari pembagian zonasi sesuai fungsi ruang dan pengguna terkait, sekaligus menunjukan alur ruang di dalam SLB. Fungsi-fungsi ruang terbagi menjadi empat kelompok besar sesuai kode warna masing-masing yaitu Ruang Belajar, Administrasi, Penunjang Khusus, dan Penunjang Umum. Alur sirkulasi terbentuk dimulai dari area parkir menuju lobby yang kemudian dapat terhubung dengan fungsi-fungsri ruang yang lain sekaligus representasi alur radial terhadap ruang di dalam bangunan supaya semua pengguna dapat mengidentifikasi ruang dengan mudah. Kemudian, terdapat taman yang menjadi transisi antara pengguna umum yaitu tamu dan pengguna khusus yang privat yaitu murid tunagrahita. Dengan memberikan akses yang ditransisi oleh ruang berfungsi taman dapat meminimalisir gangguan dari luar kepada murid 70
tunagrahita. Selain itu, area administrasi yang terdapat kantor guru di dalamnya memiliki akses langsung pada ruang belajar, hal ini dimaksudkan agar peran guru untuk dapat selalu memonitor dan dapat meraih akses menuju ruang belajar dapat terwujud sehingga letaknya berseberangan langsung. Selain fungsi-fungsi tersebut, fungsi penunjang khusus berada di sisi kiri yang dapat diakses juga melalui taman sebagai ruang transisi menuju fungsi ruang lain. Penunjang umum sebagai penunjang yang esensial letaknya tersebar di titik-titik dimana fungsi ruang penunjang umum dibutuhkan sebagai penyeimbang fungsi ruang lain. 5.2.2 Konsep Tata Warna dan Material Konsep Warna Kegunaan Ruang Kelas, Administrasi, Fasilitas Penunjang Umum Fasilitas Penunjang Khusus, Ruang Bina diri Aksen sirkulasi dan simbol Vegetasi, aksen material, struktur Tabel 5.1: Konsep Warna Material Kegunaan Kayu/Bambu Struktur, kusen, furnitur, penutup lantai (dalam bentuk parket) Batu Bata Penutup dinding atau pembatas ruang, material pagar Beton Struktur dinding Batu Alam Pelapis elemen dinding atau pagar Baja Struktur atap Kaca Jendela, pembatas ruang Cermin Aksen furnitur Plastik Furnitur Spons Furnitur, pelapis dinding, penutup lantai Tabel 5.2: Konsep Material Konsep tata warna sebagai salah satu aksen kunci dalam perancangan SLB Tunagrahita. Sesuai analisis, warna-warna tersebut dapat secara tidak langsung mempengaruhi kualitas aktifitas dan kualitas guna ruang oleh pengguna. Warna-warna yang ditunjukkan dalam tabel sekaligus menunjukkan ruang mana yang paling sesuai digunakan dengan warna terkait. 71
Sedangkan konsep material menunjukkan mateial yang dinilai sesuai digunakan dalam SLB Tunagrahita baik itu sebagai struktur, pelapis dinding maupun aksen furnitur. 5.2.3 Konsep Ruang Berikut ini visualisasi konsep ruang yang dapat diaplikasikan dalam rancangan SLB Tunagrahita. Visualisasi terkait berasal dari Building Bulletin 102, Designing for Disabled Children and Children with Special Education Needs : Guidance for Mainstream and Special School. (2014) yang merupakan buletin yang memuat guideline design untuk sekolah-sekolah di Inggris (UK) sebagai acuan dalam mengembangkan sekolah luar biasa dan sekolah inklusi. Gambar 5.2: Contoh Ruang Sirkulasi Gambar 5.3: Contoh Transisi Ruang 72
Gambar 5.4: Contoh Ruang Kelas Gambar 5.5: Contoh Ruang Serbaguna Gambar 5.6: Contoh Ruang Makan 73
Gambar 5.7: Contoh Ruang Bermain Gambar 5.8: Contoh Ruang Koridor Gambar 5.9: Contoh Halaman 74
5.2.4 Konsep Tata Zonasi, Sirkulasi dan Massa Gambar 5.10: Skema Tata Zonasi, Sirkulasi dan Massa Skema di atas menunjukkan eksploda dari tata zonasi, sirkulasi dan tata massa yang ditata ke dalam bentuk tapak. Keempat fungsi utama dibagi sesuai dengan zonasi publik, semi publik dan privat, ditata sesuai dengan posisi zonasi terkait. Dari tatanan tersebut kemudian dapat terbentuk massa sesuai dengan zona dan fungsi ruang dan membentuk ruang transisi di tengah yang menjadi center yang juga berfungsi memudahkan orientasi arah dalam bangunan ke fungsi-fungsi ruang di dalam bangunan SLB Tunagrahita. Selain sirkulasi, bentuk koridor yang dipilih adalah single loaded corridor untuk akses langsung yang digunakan dalam ruang penunjang umum dan khusus, sedangkan ruang-ruang administrasi dan ruang belajar yang terdiri atas kombinasi jumlah ruang di dalamnya dapat menggunakan double loaded corridor yang juga untuk memaksimalkan efisiensi ruang. 75